Tuesday, May 17, 2022

Membaca) Selama di Rumah Saja

Oleh Setyaningsih—Esais

Di tengah pandemi Covid-19, orang-orang semakin serius dianjurkan berada di rumah. Selama itu pula, pubik menerima tindak altruisme global berupa rekomendasi buku apa yang bisa “menemani” selama di rumah saja, diskon belanja buku tanpa perlu keluar selangkah pun, pembagian buku elektronik gratis,danakses bebas ke laman-laman milik lembaga keilmuan bertaraf internasional. Solidaritas bersifat intelektual ini seolah meyakini bahwa keharusan berada di rumah adalah penebusan dari kekosongan besar membaca yang terenggut oleh kesibukan di luar rumah.

Membaca “mumpung” di rumah saja, tentu tidak sesederhana kelihatannya. Apalagi jika membaca tidak dipersepsikan setara dengan hal-hal rutin dikerjakan di rumah; makan, minum, masak, mandi, menonton televisi, atau belajar ala doktrin sekolahan. Bahkan beban kerja-sekolah dari luar yang dialihkan ke rumah, bisa membikin tindakan seenak rebahan sambil baca buku atau nongkrong santai berbuku ditemani kudapan serta secangkir teh, kelihatan teramat mewah di tengah keprihatinan pandemi.

Barangkali, hal yang belum tentu siap dialami setiap orang, seperti dengan tepat dibabarkan oleh Ignas Kleden (1999) bahwa membaca buku membutuhkan ketangguhan menyendiri untuk bertarung menghadapi keresahan dan kegelisahan yang sangat personal. Di Indonesia yang cenderung hidup dalam komunalitas, sesuatu terasa “dikerjakan” karena dilakukan bersama. Peristiwa yang mengharuskan ada kerumunan dan kebersamaan, misalnya nonton film, makan, pengajian, menghadapi televisi, piknik, arisan, atau bergosip lebih bisa dialami sebagai peristiwa.  

Sebaliknya saat sedang membaca, seseorang kelihatan tidak melakukan apa-apa, bahkan tampak egoistik. Apa yang dilakukan tidak berimbas secara komunal ataupun personal, dianggap menghabiskan waktu, kurang kerjaan, atau malas. Ada orang yang benar-benar merasa risih, kesal, atau gemas melihat orang lain bisa begitu hening terbenam dalam kedalaman buku. Di tengah pandemi Covid-19, membaca berarti butuh keberanian berlipat. Pengucilan secara fisik dari dunia luar sekaligus pengucilan batin ke dunia di dalam buku. Aduh!

Buku Sebagai Penyembuh

Kita mungkin sempat menduga buku jenis apa atau siapa paling bersuka cita menyambut altruisme intelektual dari jagat perbukuan ini. Penerbit buku independen Marjin Kiri membagikan buku gratis berbobot yang bisa diunduh dalam format pdf berjudulLingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, 2018) dan Mengukur Kesejahteraan: Mengapa Produk Domestik Bruto Bukan Tolok Ukur yang Tepat untuk Menilai Kemajuan? (Joseph E. Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi, 2011). Dua buku menuntut “mikir” dan menyasar ke kalangan muda, mahasiswa, akademisi, aktivis, atau memang pembelajar-pembaca buku segala.

Bandingkan dengan kabar yang dikirim toko buku dari penerbit mayor Mizan, Mizanstore.com, melalui surel pada 27 Maret 2020. Mizanstore.com menawarkan dengan genit dan akrab, “Nah, buat kamu yang sudah #dirumahaja, inilah apresiasi untukmu! #Mizan37hadir untuk menemanimu menghadapi situasi sekarang ini. Kamu bisa dapatkan produk-produk terbaik Mizan Grup di tahun ke-37 ini dengan diskon 30-70%! […] promo #Mizan37 akan hadir tanggal 1-2 April 2020 hanya di Mizanstore.com. Tentunya, #dirumahaja dan tak perlu kemana-mana. Cukup siapkan gadget kamu, order, dan tunggu di rumah sambil rebahan.” Ah, terima kasih teknologi!

Mengingat sedang menghadapi pandemi, Mizanstore.com tentu lebih menawarkan buku yang menyokong jiwa, romantis, populer, dan ringan. Buku membuat perasaan merasa lebih baik daripada menuntut mikir, di antaranya novel kisah cinta dari wattpad berjudul Kudasai garapan Brian Khrisna dan nonfiksi dari pengalaman luka hati berbumbu parodi I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki garapan Baek Se He yang laku keras di Korea Selatan. Mizanstore.com bahkan memprovokasi buku garapan Baek Se Hee adalah buku favorit selebritas Korea, RM BTS. Referensi bacaan selebritas, apalagi dari Korea, dianggap cara jitu memasarkan buku.

Di tengah pandemi, cukup berisiko menawarkan bacaan yang berpotensi melipatkan kecemasan, seperti kembali mengingat kegawatan Kota Oran di Aljazair saat diserang wabah sampar lewat novel Albert Camus berjudul Sampar (YOI, 2013) atau ikut berkubang dalam wabah kebutaan putih mencekam seperti dengan ngeri-realis ditulis oleh Jose Saramago dalam Blindness (Matahari, 2015). Tentu sempat ada kelakar seandainya novelis Amerika Latin Gabriel Garcia Marquez masih hidup hari ini, tentu dia akan menjuduli novelnya Love in the Time of Corona, bukan Love in the Time of Cholera.

Buku sebagai teman dan penyembuh yang baik saat kita mengingat novel bertema buku Toko Buku Kecil di Paris (2017) garapan Nina George. Jean Perdu, pemilik toko buku dalam kapal dinamai Literary Apothecary, lebih berperan sebagai pembaca dan peresep bacaan berdosis tepat daripada penjual buku yang berorientasi pada laba. Meski menyebut diri apoteker literatur, Perdu justru bukan orang yang benar-benar sehat dan masih menyimpan luka hati selama 21 tahun.

Karena luka inilah, Perdu jitu menandai siapa paling tepat mendapat buku apa, “Kadang-kadang lusinan kolektor datang berebut demi sebuah buku, tapi Perdu akan memilih orang yang menurutnya merupakan teman, kekasih, atau pasien ideal buku itu; uang urusan kedua,” Misalnya untuk orang-orang yang menganggap buku sebagai udara segar di tengah kepenatan hidup, Perdu meresepkan novel. Perdu sadar tidak semua pengunjung benar-benar menginginkan bacaan yang sehat. Di sana juga kedatangan tipe pelancong yang suka memotret dan keranjingan segala pernik berbau literer. Ada juga yang memegang buku sembarangan tanpa perasaan apa pun. Buku memang penyembuh di tangan seorang peresep yang tepat, “Perdu berpikir bahwa orang salah menganggap tugas penjual buku semata menjaga buku. Mereka menjaga orang-orang.”

Setelah dua minggu pengucilan panjang dan masih akan diperpanjang, muncul spekulasi penuh harapan semacam “apa yang ingin anda lakukan setelah wabah ini berakhir?” Membaca atau lebih keranjingan membaca buku barangkali tidak ada dalam daftar, setidaknya 10 daftar teratas. Begitu pengucilan fisik sekaligus batin bisa diakhiri, peristiwa berkerumun tentu yang paling didamba dan dirindukan.

Sebelum spekulasi penuh harap benar-benar terjadi, buku di tengah pandemi turut mengisi keprihatinan sekaligus pernyataan siapa pun tidak didiskriminasi sebagai pembaca. Sokongan teknologi membuat setiap orang semakin mudah turut arus kebudayaan modern sejak penemuan mesin cetak di abad ke-15. Meski jelas, kita tetap butuh duit untuk membeli buku. Apalagi saat ini, semakin terasa buku bukan kebutuhan pokok sama mendesak dengan bahan pangan. Meski budaya berbuku telah tersebar, buku memang masih cenderung jadi konsumsi masyarakat menengah ke atas.

Selamat berani membaca selama #dirumahaja. Tetap kalem dan pastikan juga gawai cukup kuota. (*)

Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares