Tuesday, May 17, 2022

Langit, Angin, Bintang, dan Puisi—Suara untuk Tanah Air nan Jauh

Oleh Setyaningsih

Lawatan Korea ke kita berjalan dengan amat cepat dan menggebu sejak hiburan pop memasuki hampir setiap mata, telinga, dan lidah. Korea telah beranjak dari masa lalu yang pahit, menantang dunia lewat sebaran lagu, musik, tari, kuliner, fesyen, sampai drama selalu menguras melankolia.Korea juga rentetan puisi saat kita mengingat penerbitan buku puisi garapan Moon Chung Hee,Perempuan yang Membuat Air (KPG, 2014). Moon Chung Hee lebih membicarakan tentang modernitas melanda Korea usai kemerdekaan dengan bahasa liris dan metafora mengiris. Seperti banyak terjadi di negara-negara Asia, Korea pun turut dalam pusaran industrialisasi dan emansipasi sejak 1970-an.

Kita pun dibawa ke Korealebih lampau lewat kumpulan puisi dan prosa berjudul Langit, Angin, Bintang, dan Puisi (2018) garapan sastrawan Korea, Yun Dong Ju. Puisi-puisi bertanda tahun antara 1935-1942 saat nasib belum ditentukan Konferensi Jenewa 1954 yang menetapkan tetap ada dua Korea: Utara dan Selatan. Penerbitan dan penerjemahan buku Yun Dong Ju(ternyata) disamakan dengan riwayat Indonesia yang memiliki penyair “paling” penyair masa 40-an, Chairil Anwar. Sama-sama merasakan pergolakan oleh pendudukan Jepang dan mati muda, dua penerjemah memberikan alasan di kalam pengantar, “Kedua penyair ini memiliki banyak kesamaan: hidup di masa dan di bawah tekanan penjajah Jepang, meninggal dalam usia yang tidak terpaut jauh (Dong Ju dalam usia 28 tahun dan Chairil Anwar dalam usia 27 tahun), dan sama-sama telah menjadi penyair melegenda, yang membekas dalam kenangan kolektif negerinya.”

Selain menyuarakan kerinduan, romantisme, dan harapan, Yun Dong Ju memang memberi perlawanan sebagai bangsa Korea yang dijajah Jepang selama 35 tahun (1910-1945).Namun, puisi-puisi Yun Dong Ju memang terkesan menjarakkan raga dari tanah kelahiran secara ragawi.Riwayat Yun Dong Ju disinggung oleh penerjemah masih di kalam pengantar. Yun Dong Ju lahir pada 1917 di Manchuria, Cina, yang masih dianggap sebagai bagian dari Semenanjung Korea. Tempat inilah salah satu wilayah pengungsian luka dan kekalahan rakyat Korea saat Jepang menancapkan bendera imperialis. Pada 1942, Yun Dong Ju pergi ke Jepang dan berkuliah Sastra Inggris di Universitas Rikkyo dan pindah ke Universitas Doshisha.

Masa-masa ini memuat ketekunan Yun Dong Ju menulis, tapi berimbas pada penangkapan pada 1943 atas “penjahat pemikiran”. Pemerintah Jepang menuduhnya memberontak dan terlibat menyuarakan kemerdekaan Korea. Yun Dong Ju dipenjara di Fukuoka Jepang, lalu meninggal di sana. Nasib mengingatkan dua bait Yun Dong Ju di puisi “Sajak yang Mudah Digubah”, Aku tahu, penyair adalah takdir yang getir/ Namun tetap akan kutorehkan sebaris syair,.

Kehilangan Kolektif

Puisi dan cerita Yun Dong Ju justru tidak melenggang dengan diksi-diksi patriotik nan angkuh. Dia banyak menyinggung soal keberadaan manusia, pencarian makna religiusitas, romantisme pada tanah air dan peristiwa sekitar. Kita cerap puisi berjudul “Ladang Cabai”, Di balik daun yang melayu/ Merah menyembul malu/ Gadis yang merekah itu/ Perlahan matang oleh teriknya siang/ Wanita tua menjinjing keranjang/ Melenggang di tepi pematang/ Anak kecil dengan jari di mulut/ Di belakang mengiring ikut.

Di puisi “Pada Malam Saat Aku Menghitung Bintang”, Yun Dong Ju menyelubungkan rasa kekaburan bertanah air dalam peristiwa keluarga. Tokoh orang terdekat bernama ibu, justru semakin menguatkan rasa kehilangan kolektif suatu bangsa. Yun Dong JuIbu, kucoba memanggil satu per satu bintang itu dengan/ nama-nama yang/ indah. Nama teman-tema sebangku saat sekolah, nama/ gadis-gadis/ asing seperti Pae, Kyeong, atau Ok, nama gadis-gadis yang/ kini telah menjadi/ seorang ibu, nama tetangga-tetangga kita yang miskin,/ merpati, anak anjing/ yang lucu, kelinci, keledai, rusa, serta nama penyair-penyair/ ternama seperti/ Francis Jammes dan Rainer Maria Rilke/ Namun, Ibu, mereka semua kini begitu jauh/ Seperti bintang-bintang yang perlahan menjauh/ Ibu, bahkan engkau juga/ menjauh hingga ke Jiandao Utara./ Aku rindu sesuatu yang entah/ Di atas bukit yang bermandikan cahaya bintang itu/ kutuliskan namaku/ lalu kutimbun dengan tanah.

Yun Dong Ju beberapa kali menggunakan burung sebagai entitas dari kebebasan. Burung menampakkan gerak raya yang memetaforakan kerinduan diri pada keluarga ataupun tanah halaman, seperti di puisi “Langit Selatan bertanda 1935”. Puisi ditulis pada usia 18 tahun dan masih berada di tanah pengungsian. Kita cerap, Burung layang-layang memiliki sepasang sayap./ Pada suatu hari di musim gugur yang suram/ Rindu akan dada ibu/ Pada malam yang beku/ Jiwamuda mengepak/ Mengembarai langit selatan/ Menyerap kenangan kampung halaman.

Puisi dan cerita Yu Dong Ju memang seperti melaju tanpa menjejakkan kaki badani di negerinya. Yu Dong Ju kemungkinan tidak mengalami penjajah secara raga-geografis karena dia berada di luar Korea. Dia melihat Korea sebagai tanah air tercinta nan jauh. Hal ini tampak juga dalam cerita “Awal dan Akhir”. Cara Yu Dong Ju memilih “aku”sebagai narator, membuat cerita ini memang pengalaman personal atau permenungan yang amat pribadi. Tokoh “aku” berada di Namdaemun, Seoul, tapi tetap merasa tercengkeram oleh pembangunan tata ruang dan transportasi oleh pemerintah Jepang. Cerita berakhir dengan pengandaian penuh kemuraman, “Atas nama kampung halamanku, seandainya aku punya kampung halaman yang sebenarnya. Lebih baik lagi jika ada masa sebagai pemberhentianku selajutnya.”

Yun Dong Ju menahan kekecewaan atau kemarahan yang besar dengan tidak melemparkan pernyataan bombastis sok aktivis. Sebelum usia muda berakhir dengan cepat, Yun Dong Ju telah menunaikan tugas bersuara dan menulis bagi diri serta bangsa. Ketika hari ini rakyat Korea masih begitu mencintai Yun Dong Ju, kata-kata telah menuahkan diri bersama laju waktu meski raga telah dijemput oleh maut. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares