Tuesday, May 17, 2022

Chimamanda Ngozi Adichie Melawan Dominasi Cerita Tunggal

“The single story creates stereotypes, and the problem with stereotypes is not that they are untrue, but that they are incomplete. They make one story become the only story.”

Chimamanda Ngozi Adichie pernah mendapat kritikan pedas dari profesornya di Amerika. Pasalnya, novel karangan perempuan asal Nigeria ini mengilustrasikan karakter utama yang dianggap berbeda dari ciri khas orang Afrika. Sang profesor menilai karakter pria kelas menengah terdidik seperti apa yang dilukiskan Adichie bukanlah representasi dari Afrika. Dalam kacamata sang Profesor, Afrika identik dengan kemiskinan, kelaparan, penyakitan, keterbelakangan, dan sederet kutukan. Jangankan untuk mengenyam pendidikan tinggi, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan. Lantaran karakter yang tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, karya Adichie dicap tidak orisinal sebagai karya sastra Afrika.

Padahal, Adichie hanya terinspirasi dari pengalaman hidupnya. Lahir dan besar di Kota Enugbu, Nigeria, Adichie tumbuh dari keluarga mapan. Bisa dikatakan jauh lebih beruntung dari mayoritas penduduk Afrika. Ayahnya, James Nwoye Adichie merupakan profesor bidang statistik di University of Nigeria. Sedangkan ibunya, Grace Ifeoma adalah perempuan Afrika pertama yang lulus dari universitas yang berada di bagian Tenggara Afrika tersebut. Adichie sendiri memutuskan hijrah ke Negeri Paman Sam saat berusia 19 tahun untuk melanjutkan studinya. Adichie meraih gelar sarjana dari Eastern Connecticut State University dan mendapatkan gelar master di bidang creative writing dari John Hopkins University. Untuk memperkuat basis pengetahuannya, Adichie kembali menempuh studi master bidang African Studies di Yale University. Ia menamatkan studi master keduanya tersebut pada 2008. Di tahun yang sama, Adichie bahkan meraih MacArthur Genius Grant atas dedikasi dan orisinalitas karya-karyanya yang luar biasa.

Penulis Perempuan dalam Sastra Afrika Kontemporer

Dalam sebuah forum di Oxford, Inggris, sekitar enam tahun silam, Adichie mengkritisi pandangan penulis Barat yang cenderung merendahkan Afrika. Adichie secera tegas berpendapat bahwa karya sastra Barat menimbulkan kesalahpahaman mengenai budaya dan tradisi Afrika. Sebagai contoh, seorang filsuf Inggris, John Locke yang menggambarkan orang kulit hitam Afrika sebagai “makhluk buas yang tidak punya rumah”.

Lain lagi dengan tulisan penyair terkemuka Rudyard Kipling yang mengasosiasikan Afrika sebagai tempat penuh kegelapan atau tempat untuk makhluk semacam “setengah iblis, setengah manusia”. Tentu saja mitos-mitos yang digulirkan secara kontinu itu memengaruhi perspektif dunia terhadap orang kulit hitam. Sebab, kala itu belum ada kisah tandingan yang menceritakan sisi lain ras negroid.

Adichie mengaku sempat terjebak dalam imajinasi-imajinasi para pencerita Barat. Perempuan yang gemar menulis semenjak berusia tujuh tahun ini awalnya selalu melukiskan karakter utama berkulit putih dan bermata biru. Tak lupa Adichie menyisipkan kultur atau kondisi a la Barat seperti minuman Ginger Beer yang bahkan ia tak tahu rasanya seperti apa. Begitu pula dengan hamparan salju yang rasa-rasanya hampir tidak mungkin apabila turun di Nigeria nan terik. Hal ini menyadarkan Adichie yang mulai belajar membaca sejak usia tiga tahun itu, tentang betapa kuatnya pengaruh dari cerita-cerita tunggal. Cerita tunggal telah menyebabkan kesalahpahaman yang esensial. Bahkan sampai sekarang cerita tunggal itu masih membekas di pikiran banyak orang. Terbukti ketika berkuliah, teman sekamar Adichie yang notabene berkulit putih menaruh “belas kasihan”  kepadanya yang berasal dari Afrika.

Peraih nominasi Booker Prize (2004) dan Baileys Women’s Prize (2014) ini, tidak pernah menyalahkan kisah-kisah yang digencarkan penulis Barat. Dari satu sisi, fakta bahwa kelaparan, kemiskinan, peperangan, wabah HIV/AIDS atau Ebola dan penyakit menular lainnya, diskriminasi gender, memang benar terjadi di Afrika.

Namun, ada sisi lain dari kisan-kisah mengerikan itu. Tidak semua orang Afrika itu miskin dan bodoh. Di Nigeria misalnya, ada juga kalangan kelas menengah yang berleha-leha, mereka punya kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kariernya. Ada banyak orang Afrika yang berjuang mati-matian menggapai mimpinya.

Mereka tidak hidup dalam keputusasaan dan kepasrahan. Sampai akhirnya, Ia berjumpa dengan karya-karya sastra pendahulunya, Chinua Achebe dan Camara Laye. Ia baru benar-benar yakin bahwa tokoh kulit hitam layak untuk diceritakan dan menjadi pemeran utama.

Half of a Yellow Sun is a novel by Nigerian author Chimamanda Ngozi Adichie. Published in 2006 by 4th Estate in London, the novel tells the story of the Biafran War through the perspective of the characters Olanna, Ugwu, and Richard.

Sejak itulah, Adichie mulai menyuarakan budaya dan perspektifnya sendiri, yang kemudian memberikan sisi lain Afrika. Karya Adichie seperti Purple Hibiscus (2003), Half of A Yellow Sun (2007), The Thing Around Your Neck (2009), dan Americanah (2013) menyentuh isu diskriminasi gender, ras, agama, dan identitas. Menariknya, Adichie selalu menyisipkan karakter kelas menengah atas dalam karyanya. Misalnya dalam Purple Hibiscus, Adichie mengisahkan Kambili Achikie, gadis 15 tahun yang dibesarkan dari keluarga pebisnis sukses yang juga fanatik Katolik. Kemudian Adichie menuliskan tentang karakteristik perempuan Afrika terpelajar seperti Olanna dalam Half of A Yellow Sun. Paling baru dalam Americanah, Adichie bercerita tentang Ifemelu, gadis tangguh yang melanjutkan kuliahnya di Amerika. Melalui karya-karyanya, Adichie dengan lantang menandingi stereotip perempuan Afrika yang terpuruk dan lemah.

Melawan Dominasi


Sebagai perempuan Nigeria yang menetap di Negeri Paman Sam, Adichie memahami betapa besar legitimasi Barat (terutama Amerika Serikat) dalam dunia sastra. Tentu sangat mudah membaca Amerika dan Eropa dalam aneka sudut pandang. Namun, lain halnya dengan sastra Afrika. Beberapa dekade silam, tidak banyak penulis Afrika yang bisa banyak berbicara. Walaupun sejatinya topik-topik Afrika telah banyak diperbincangkan. Sayangnya, narasi-narasi tentang Afrika itu lebih banyak dikisahkan oleh para penulis Barat. Ada kesan bahwa karya sastra bernuansa Afrika akan mendapat pengakuan ketika ditulis oleh penulis berkulit putih. Sedangkan penulis Afrika yang juga menulis tentang kehidupan mereka sendiri harus puas berada di ujung rak buku. Barangkali mereka disembunyikan, sampai nyaris usang, dan hampir tak pernah dijamah. Oleh karena itu, kemunculan Adichie dengan segala kelihaiannya merangkai cerita disebut-sebut menjadi titik balik perkembangan sastra kontemporer Afrika.

Pada akhirnya, Adichie yakin dengan kekuatan story telling. Ia tidak berharap tulisannya akan mengubah pandangan dunia tentang apa yang terjadi di Afrika. Namun, perempuan yang masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time ini hanya ingin melengkapi cerita tunggal yang sudah ada. Ia percaya bahwa stereotip yang diciptakan itu tidak salah melainkan tidak lengkap. Cerita dapat merusak martabat seseorang, namun dengan cerita pula martabat seseorang bisa dipulihkan. (*)

*Fikri Angga Reksa: Penulis, Penikmat Sastra dan Peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Jakarta. 

Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares