Tuesday, May 17, 2022

Bagaimana Ray Bradbury Menjadi Penulis?

Oleh Setyaningsih—Esais

Ia sudah menakdirkan diri pada seribu kata sehari sejak usia 12 tahun, menjadi penulis sebagai keputusan hidup penting kedua setelah pada usia 11 tahun memutuskan menjadi tukang sulap dan pelancong segala penjuru dunia dengan ilusi dan imajinasi. Ia adalah penulis Amerika, Ray Bradbury, yang tidak menutup diri pernah picisan dan melawan segala persepsi buruk tentang fiksi sains. Bradbury menulis seiyanya satu cerita pendek setiap pekan karena hadiah kecil Natal di tahun ke-12: mesin ketik mainan. Ia telah bertarung dalam belantara kata dengan keras kepala, gairah, kegembiraan, dan kegilaan sampai usia 90 tahun. Maka, bagi dirimu sekalian yang ingin menjadi penulis atau baru berencana banting haluan hidup ke penulisan, jangan berharap banyak mendapatkan tip-tip jitu menulis dalam kumpulan esai otobiografis kocak-memukau garapan Ray Bradbury, Zen dalam Seni Menulis (2018).

Buku ini barangkali akan gagal membikin merinding atau bergidik orang-orang yang belum pernah merasa menulis itu sudah nyaris separuh lebih nyawa hidup, resah karena sering gagal menerbitkan kata-kata kala pagi, atau dikalahkan bertubi-tubi oleh istilah mengerikan “miskin” dan “tidak punya waktu.” Kita bisa menyimak “kesombongan bersahaja” Bradbury sejak dari pengantar, “Dalam perjalananku, aku telah belajar bahwa jika aku membiarkan sehari saja lewat tanpa menulis, aku menjadi gelisah. Dua hari lewat dan aku akan menggigil. Tiga hari lewat dan aku menderita kegilaan. Empat hari lewat dan aku menjadi seperti babi yang terjebak dalam pusaran air. Menulis satu jam saja sudah menjadi tonik. Aku berdiri lagi, berlari berputar-putar, dan berseru-seru.”

Bradbury berhak mengatakan kepada kita tanpa nada pelatihan atau workshop, “Kau harus tetap mabuk dalam menulis sehingga kenyatan tidak mampu menghancurkanmu.” Buku kumpulan esai ini memuat tulisan-tulisan yang digarap dalam pelbagai masa dalam periode sepuluh tahun yang dianggap sebagai penemuan diri dan ketakjuban. Esai-esainya mendokumentasikan secara kronik apa yang terjadi dalam masa-masa memunculkan ide dan tulisan yang selalu dikatakan selalu bisa menyelesaikan diri mereka sendiri. Pembaca bisa menduga Bradbudry masih mengandalkan coretan-coretan di atas kertas yang jadi medium penyimpanan sekaligus pengingatan. Bradbury tidak menciptakan trik atau tip menulis yang bisa hilang karena soal mood, tapi ritme yang terkalender secara biologis dalam tahun-tahun panjang untuk diceritakan ke publik.

Kita cerap salah satunya ketika masih remaja, Bradbury sudah semacam sanggup mengidentifikasi “kekeliruan” yang sangat mungkin menjadi masalah para penulis pemula secara umum. Dia mengatakan, “Aku tumbuh dengan membaca dan mencintai cerita-cerita hantu tradisional karya Dickens, Lovecraft, Poe, dan kemudian Kuttner, Bloch, dan Clark Ashton Smith. Aku mencoba menulis cerita-cerita yang sangat dipengaruhi oleh para penulis yang beragam ini, dan berhasil menciptakan hantu putih berlapis empat, dengan semua bahasa dan gayanya, yang tidak mau mengambang, dan menghilang tanpa jejak. Aku terlalu muda untuk mengidentifikasi masalahku itu karena terlalu sibuk meniru.” Sejak usia 20, Bradbury masih mengakui godaan menjadi imitatif dari para penulis yang terasa seperti menungguinya menulis. Ia pun memulai membuat barisan panjang kata benda untuk menguji dan memprovokasi diri. Danau, jangkrik, malam, jurang, loteng, karnaval, kurcaci, komidi putar, dan segala benda lain diujikan dalam penulis prosa, puisi, dan esai.

Narsis

Tulisan Bradbury, terutama sering dalam bentuk fiksi, tidak lahir dari sekadar aktivitas berkhayal. Menulis mengharuskan bergerak mengamati tata kehidupan sehari-hari, bahkan untuk cerita-cerita yang ingin meramalkan masa depan. Tindakan berpikir dan mengamati bisa dianggap kejahatan. Inilah yang juga menjadikan dirinya terlibat masalah dengan polisi. “Kapan terakhir kali kau diberhentikan oleh polisi di lingkunganmu karena kau suka berjalan, dan mungkin juga berpikir, pada malam hari? Kebetulan hal ini terjadi cukup sering sehingga aku, karena jengkel, menulis “The Pedestrian”, sebuah cerita tentang suatu masa, lima puluh tahun dari sekarang, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi, ketika seorang laki-laki ditangkap dan diperiksa untuk studi klinis karena ia bersikeras untuk melihat realitas yang tak ditayangkan televisi, dan menghirup udara yang tak diembuskan pendingin ruangan.”

Seteru dan sekutu Bradbury mengarah pada waktu, ide-ide, dan proses. Gairah dan semangat menjadi dua istilah pembuka yang sakral, menjadikan menulis berjalan gila-gilaan. Bradbury pun sempat bertaruh dengan ruang dan keluarga yang rentan membuat orang-orang yang dulu menyukai menulis tidak menulis lagi. Ruang penyelamatan menulis itu salah satunya perpustakaan yang kocaknya menjadi tempat paling satire untuk menciptakan kisah tentang pembakaran buku di masa depan, Fahrenheit 451.

Nobody Could Paint With Words Like Ray Bradbury / Via Ladelano

Novel ini sepertinya novel yang cukup dekat dengan pembaca Indonesia karena sempat diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 2013 oleh penerbit Elex Media Komputindo dan juga difilmkan. Tahun 2018, Gramedia menyusul menerbitkan. Bradbury mengakui novel sebagai investasi recehan dan masuk kategori picisan! Sekitar 1950, Bradbury miskin, menulis, bertekad menghidupi keluarga kecilnya di California. Ia mengetik di garasi, tapi sering tergoda atau terusir oleh anak-anaknya yang mengajak bermain. Sampai akhirnya, perpustakaan merekam kejaran diri dengan ruang dan waktu. Bradbury menulis dengan kocak, “Akhirnya, aku menemukan tempat itu, yaitu ruang mengetik di ruang bawah tanah perpustakaan di University of California di Los Angeles. Di sana, berbaris rapi, ada delapan atau lebih mesin ketik Remington atau Underwood tua yang disewakan satu sen untuk setengah jam. Kau masukkan koinmu, dan jam berdetik dengan gila, dan kau mengetik dengan gila, agar selesai sebelum waktu setengah jam itu habis.”   

Berpamit dari dunia pada usia sekitar 92 tahun, Bradbury memulai persekutuan dengan kata dari keisengan menguyupi komik. Bradbury sepertinya bukan seorang pak tua memberi nasihat bijak kepada kaum pemula penulis yang tidak berminat pada ketelatenan dan kekeraskepalaan untuk menulis, menulis, menulis, dan menerjang segala hambatan yang jitu jadi alasan. Memang untuk esai-esai penuh “kesombongan yang bersahaja” soal menulis ini, kita pantas menerimanya dengan merinding dan takjub. Benar-benar tidak ada dosanya kalau Bradbury memang harus narsis. Narsis karena nulis! (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares