Tuesday, May 17, 2022

Mendengar | Eudora Welty (1909-2001)

Saya belajar sejak usia dua atau tiga tahun di kamar mana saja di rumah kami, di waktu kapan saja setiap hari, dan di rumah kami saya membaca atau ada sesuatu yang dibacakan kepada saya.

Ibu saya membacakan buku kepada saya. Beliau membaca di dalam kamar tidur yang besar pada pagi hari, ketika kami bersama-sama berada di atas kursi goyangnya, yang menderitkan irama saat kami mengayun, seolah kami memiliki seekor jangkrik. Ibu saya juga membacakan buku kepada saya di ruang makan pada senja musim dingin di depan perapian, yang apinya berbahan batu bara, dengan jam kukuk, yang  mengakhiri cerita lewat kata “cuckoo,” dan juga pada malam hari ketika saya telah ada di atas tempat tidur saya sendiri.

Saya ingat bagaimana merepotkannya saya. Kadang ibu membacakan buku kepada saya di dapur saat beliau duduk seraya mengaduk adonan dan bunyi pengadonan tersebut tersendat-sendat bersamaan dengan pembacaan cerita apa pun. Hasrat saya adalah membuat beliau membacakan cerita kepada saya ketika membuat adonan; sekali ibu pernah mengabulkan keinginan saya, tetapi beliau membacakan cerita saya sebelum saya membawakannya mentega. Ibu adalah seorang pembaca yang ekspresif. Ketika membacakan cerita “Puss in Boots,” misalnya, sangatlah tidak mungkin untuk tidak mengetahui bahwa beliau tidak percaya pada semua kucing. 

Sesuatu yang menakjubkan dan mengecewakan bagi saya datang ketika mengetahui bahwa buku cerita ditulis oleh manusia, bahwa buku-buku itu bukanlah keajaiban alam, yang datang sendiri seperti batang-batang rumput. Akan tetapi tanpa menghiraukan dari mana buku-buku itu berasal, saya tidak dapat mengingat waktunya kapan, dimana saya tidak jatuh hati dengannya—dengan buku-buku itu sendiri, sampul dan jilidannya; kertas-kertas yang jadi cetakannya, dengan bau dan beratnya dan dengan keposesifannya di dalam genggaman tangan saya, buku-buku tersebut ditawan dan dibawa ke dalam diri saya. Semasih buta aksara, saya telah menyiapkan diri bagi buku-buku itu dan berkomitmen terhadap seluruh pembacaan, yang bisa saya berikan terhadap buku-buku tersebut. 

Kedua orang tua saya pada dasarnya tak mampu membelikan saya banyak buku. Membeli banyak buku-buku untuk saya merupakan suatu tekanan terhadap pendapatan ayah yang hanya seorang pegawai paling muda di perusahaan asuransi yang masih belia, tetapi ayah saya selama itu dengan kehati-hatian menyeleksi dan memesan buku-buku, yang beliau dan ibu pikir, kami anak-anaknya akan berkembang. Kedua orangtua saya membelikan kami buku-buku pertama bagi keperluan masa depan. 

Selain lemari buku di kamar tamu, yang selalu disebut sebagai “perpustakaan,” ada juga di sana meja untuk ensiklopedia dan kamus tersimpan di bawah jendela di dalam kamar makan. Di dalam kamar makan ini kami dibantu untuk belajar berdebat di seputaran meja makan, yang di atasnya tergeletak the Unabridged Webster, the Columbia Encyclopedia, Compton’s Pictured Encyclopedia, the Lincoln Library of Information, dan kemudian the Book of Knowledge. Dan pada tahun ketika kami pindah ke rumah baru, kami mempunyai ruangan untuk merayakan kejadian tersebut dengan memiliki edisi the Britannica teranyar tahun 1925, yang ayah saya, wajah ayah selalu dengan sengaja menoleh ke masa mendatang, secara pasti cenderung berpikir bahwa edisi tersebut merupakan edisi yang lebih baik dibanding dengan edisi-edisi sebelumnya. 

Di “perpustakaan,” di dalam lemari buku bergaya mission[1], dengan tiga pintu kaca bergaris-corak berlian, dengan kursi Morris ayah dan lampu kaca yang teduh di atas meja, yang ada di samping lemari, terdapat buku-buku, yang dapat segera saya mulai baca—dan saya telah membacanya, membaca semua buku dengan cara serupa ketika buku-buku itu datang, lurus ke bawah deretan buku, dari papan rak bagian atas ke bawah. Di situlah juga tersimpan satu set buku Stoddard’s Lectures, dalam semua kosa kata abad 19 terakhir dengan sketsa kehidupan para petani, kepercayaan kuno, kebiasaan-kebiasaan dengan penyesuaian ilustrasi halftone[2]: erupsi gunung Vesuvius, Venesia yang disirami sinar bulan, orang-orang gipsi yang sepintas lalu terlihat lewat cahaya api unggun. Saya tidak tahu kala itu petunjuk apa yang membuat buku-buku tersebut menjadi kemauan kuat ayah untuk melihat seluruh dunia. Saya membaca langsung melalui jatuh hatinya beliau dari jauh: the Victoria Book of the Opera, dengan setiap sinopsis opera demi opera, dengan potret-potret kostum Melba, Caruso, Galli-Curci dan Geraldine Farrar, yang beberapa suaranya bisa kita dengar melalui Red Seal Records.

Ibu membaca informasi secara sekunder; beliau tenggelam di dalam novel-novel seperti seorang hedonis. Beliau membaca Dickens dengan spirit, seolah ingin kawin lari dengan sang sastrawan. Novel-novel masa mudanya masih bersemayam di dalam imajinasinya, selain Dickens, Scott dan Robert Louis Stevenson, ada juga Jane Eyre, Trilby, the Woman in White, Green Mansion, dan King’s Solomon Mines. Nama Marie Correlli telah dikeluarkan tetapi saya mengerti mengapa namanya menjauh dari kegemaran ibu saya, yang hanya tetap memendam Ardath sebagai bentuk keloyalan. Pada saatnya ibu pun menyerap dirinya di dalam karya-karya Galsworthy, Edith Wharton, paling utama adalah Joseph-nya Thomas Mann.

St. Elmo tidak ada di rumah kami; saya kerap melihatnya di rumah orang lain. Novel populer-liar Southern ini, di dalamnya diceritakan mengenai nama Edna Earl dan nama tersebut merupakan asal dari perkembangannya di dalam seluruh populasi kami. Nama-nama tersebut merupakan nama seorang tokoh perempuan, yang berhasil membuat seorang laki-laki tidak bermoral, yang mesum, berdosa dan seorang atheis-kekasih, St. Elmo, untuk bersimpuh. Ibu saya mampu melupakan novel ini. Tetapi beliau ingat saran klasik yang diberikan kepada para tukang tanam pohon mawar tentang bagaimana caranya menyirami tanaman mereka tersebut dengan lumayan lama: “Take a chair and St. Elmo!”   

Kepada kedua orangtua saya, saya berhutang dengan perkenalan dini saya dengan Mark Twain. Kami memiliki satu set penuh karya Mark Twain dan satu set karya Ring Lardner di dalam lemari buku dan karya-karya itulah yang kala itu menyatukan kami semua: orangtua dan anak-anaknya.

Membaca apa pun yang ada di depan saya terjadi ketika saya menemukan buku tua kumal tanpa bagian belakang, yang merupakan milik ayah saya semasa beliau masih kanak-kanak. Buku itu bertajuk Sanford and Merton. Apakah masih ada orang yang mengenalinya, saya jadi ingin tahu? Buku tersebut merupakan hikayat mengenai moral yang tersohor, yang ditulis Thomas Day pada tahun 1780-an, tetapi namanya tidak disebutkan pada halaman judul buku tersebut; hanya kemudian ada buku Sanford and Merton in Words of One Syllable, yang ditulis Mary Godolphin. Hikayat tersebut mengisahkan seorang bocah laki kaya raya dan seorang lagi miskin serta tuan Barlow, guru kedua bocah tersebut dan seorang kawan bicara, yang di dalam wacana panjangnya memiliki pergantian adegan dramatis—mara bahaya dan penyelamatan menimpa bocah kaya dan bocah miskin secara berurutan. Hikayat tersebut mungkin saja hanya memiliki kata-kata dari satu suku kata, tetapi salah satu dari kata-kata itu adalah “berkata”. Hikayat ini diakhiri dengan bukan satu, tetapi dua moral dan keduanya diulir di atas cincin: “Apa pun yang terjadi, lakukanlah apa yang seharusnya kau lakukan” dan “jika kita ingin menjadi manusia hebat, pertama-tama kita harus belajar menjadi manusia baik terlebih dulu.”

Buku Sanford and Merton tidak memiliki sampul depan, bagian belakangnya direkat dengan lembar-lembar kertas sisipan, yang kini berubah menjadi berwarna keemasan dalam beberapa lapisan, dan halaman-halamannya berbercak, berkerut dan menggeripis di sekitar pinggirannya; ilustrasinya yang mencolok telah terlepas tetapi disimpan dan diletakkan di bagian dalam. Saya memiliki perasaan bahkan ketika di masa kanak-kanak saya yang lalai bahwa buku tersebut merupakan satu-satunya buku yang ayah miliki ketika beliau masih seorang bocah. Ayah selalu memegang buku tersebut dan bolehlah jadi ayah tertidur di atas buku, yang wajahnya tidak tertutup itu: ayah kehilangan ibundanya ketika masih berumur tujuh tahun. Ayah saya tidak pernah menandai buku miliknya, tetapi beliau membawa serta buku itu dari Ohio ke rumah kami dan menyimpannya di dalam lemari buku.

Ibu saya membawa dari West Virginia satu set karya Dickens; buku-buku itu juga kelihatan begitu menyedihkan—buku-buku itu telah melewati bencana api dan air ketika saya masih belum dilahirkan, dan beliau mengatakan kepada saya, buku-buku tersebut berderetan di dalam lemari—sebagaimana yang kemudian saya sadari, buku-buku itu menunggu saya.

Saya dihadiahi, sejak dini dan tentu saya ingat, dengan buku-buku yang kemudian menjadi milik saya, yang datang di hari ulang tahun atau di pagi hari perayaan Christmas. Sebenarnya, kedua orangtua saya tidak mampu memberikan saya buku yang cukup. Mereka mesti banyak berkorban untuk memberikan saya pada hari ulang tahun saya yang keenam dan ketujuh—Itu sesudah saya menjadi seorang pembaca mandiri—satu set Our Wonder World, yang terdiri dari sepuluh jilid. Buku-buku tersebut adalah buku-buku yang dibuat dengan indah, buku-buku berat, yang dengannya saya akan berbaring di atas lantai di depan perapian di dalam kamar makan, dan lebih sering lagi, jika dibandingkan dengan yang lainnya, adalah jilid kelima: Every Child’s Story Book, yang selalu saya pandang. Di dalam Every Child’s Story Book tertera cerita dongeng – Grimm, Andersen, the English, the French, “Ali Baba and the Forty Thieves”; Aesop dan Reynard the Fox; mitos dan legenda, Robin Hood, King Arthur, dan St. George and the Dragon, bahkan cerita sejarah Joan of Arc; keeksentrikan the Pilgrim’s Progress, dan potongan panjang Gulliver. Seluruh kisah-kisah tersebut membawa ilustrasi klasiknya masing-masing.

Saya melokasikan diri saya sendiri di halaman-halaman buku itu dan saya bisa langsung mengarah pada cerita dan gambar-gambar yang saya sukai; sangat seringnya tentu “The Yellow Dwarf,” yang menjadi pilihan pertama, dengan ilustrasi Yellow Dwarf, yang dibuat oleh Walter Crane, yang penuh warna dan membuat tampilan Yellow Dwarf, yang dihimpit oleh ayam-ayam kalkun, jadi menakutkan. Sekarang buku jilid lima itu telah usang, tanpa bagian belakang, dan berantakan seperti buku ayah saya yang tidak beruntung Sanford and Merton. Lembaran halaman “Jumblies” karya Edward Lear yang memang berharga terancam terlepas selama bertahun-tahun ini. Satu ukuran kecintaan saya kepada Our Wonder World bahwa untuk waktu yang lama saya ingin mengetahui jika saya mampu melewati bencana api dan air sebagaimana yang ibu saya lakukan terhadap Charles Dickens; dan hanya ada satu kenyamanan untuk memikirkan bahwa saya dapat saja meminta ibu saya untuk melakukannya demi saya, anaknya.

Saya meyakini, sayalah satu-satunya anak, yang mengetahui bahwa saya tumbuh dengan harta berlimpah seperti itu di dalam rumah kami. Saya biasanya bertanya kepada anak-anak lain: punyakah kalian Our Wonder World? Dan saya mesti mengatakan kepada mereka bahwa memiliki The Book of Knowledge masih belumlah cukup untuk dapat menggenggam sebatang lilin. 

Saya hidup penuh dengan rasa terima kasih kepada kedua orangtua saya lantaran mereka telah mengenalkan kepada saya—dan sedini-dininya saya telah meminta hal yang demikian, tanpa perlu membuat saya menunggu—ke dalam pengetahuan tentang kata, ke dalam pembacaan dan pengejaan, melalui pengenalan aksara. Kedua orangtua saya mengajarkannya kepada saya di rumah ketika saya belajar membaca, sebelum saya mulai masuk sekolah. Saya juga meyakini bahwa aksara tidak lama lagi akan dianggap sebagai bagian yang esensial dari perangkat untuk melakukan perjalanan kehidupan. Pada zaman saya hal yang demikian menjadi dasar bagi ilmu pengetahuan. Kalian belajar aksara seperti kalian belajar menghitung sampai sepuluh, seperti kalian belajar kalimat “Now I lay me,”[3] the Lord’s Prayer serta nama ayah dan ibu kalian, alamat dan nomor telepon, dalam semua hal itu, berkaitan jika kalian tersesat.  

Kegemaran saya terhadap aksara, bertahan dan berkembang karena pembacaannya, tetapi, sebelumnya, dari melihat huruf-huruf itu sendiri di atas lembaran-lembaran halaman. Di dalam buku-buku cerita milik saya, sebelum saya membacanya, saya sudah merasa jatuh hati dengan huruf pertama yang memiliki ragam lekuk dan terlihat memukau, yang digambar oleh Walter Crane di bagian kepala pada setiap cerita dongeng. Di dalam frasa “Once upon in time,” aksara “O” di awal dihiasi dengan seekor kelinci yang menggerakkan aksara tersebut seperti sebuah alat jentera dan kaki kelinci tersebut ada di atas kembang-kembang. Ketika harinya datang kepada saya, bertahun-tahun kemudian, tentunya, saya melihat Book of Kells, yang semua keimpresifan aksaranya, huruf awalnya, dan kata-katanya memukau saya lebih dari ribuan kali dan pencahayaan manuskripnya, warna keemasannya, memperlihatkan bagian dari keindahan kata-katanya dan kekudusannya memang sudah tersemat sejak dari bagian awal manuskrip. (*)

Dalam buku Memikirkan Kata (p) Ladinata (ed) Sabiq Carebesth


[1] Desain yang  menekankan pada bentuk horisontal dan vertikal yang  simpel dan papan-papan datarnya menonjolkan urat kayu.

[2] Reproduksi foto atau gambar , yang  memiliki variasi warna kelabu atau warna, yang dihasilkan oleh titik-titik tinta terukur dengan berbagai corak

[3] Kalimat doa klasik ketika anak-anak ingin tidur, sejak abad 18

Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares