Friday, August 12, 2022

Date:

VIEWER

Adania Shibli Mengisahkan Palestina dari Dalam

Sebuah wawancara dengan pengarang We Are All Equally Far from Love

Related Articles

Gaya khas Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema. Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.

We Are All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas berlebih-lebihan.

Kepelikan yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

Jose Garcia: Apakah itu merupakan keputusan yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu? Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?

Adania Shibli: Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi oleh liputan media yang terus-menerus.

Sebagai contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya, peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.

Kemudian di dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu. Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain, kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.

JG: Bagaimana tanah air dan kebangsaan membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?

AS: Sebagai orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.

JG: Touch dan We Are All Equally Far from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat. Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen. Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela. Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter perempuan-dalam karya Anda?

AS: Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.

Di dalam novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya. Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi, tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu, berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di wajahnya.

Saya tidak mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.

JG: Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan kesunyian yang pekat itu dengan aksi?

AS: Anda bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.

JG: Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?

AS: Kita terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.

JG: Ini membawa saya pada karya cerita pendek Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?

As: itu sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat kemudian hari.

JG: Saya menduga panggilan telpon itu sangat mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi biasa saja” itu?

AS: Adakah yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.

Saya selalu menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki, trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.

Tahun ini saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5. Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci. Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.

JG: Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja” itu sebagai mekanisme pertahanan diri?

AS: Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri. Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.

JG: Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model “jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah sama saja?

As: Bagi saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi. Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini. Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh oleh pemilu. (*)


Dterjemahkan dari “Adania Shibli on Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017. | Penerjemah: Marlina Sopiana | editor: Sabiq Carebesth.
Share This Story!
Shares
SIAPAKAH JAKARTA | Advertisement spot_img

Popular Articles

Shares