Tuesday, May 17, 2022

Pengantar A Room of One’s Own

Date:

By Rachel Bowlby (British Library—2016) (p) Regina N. Helnaz (ed) Sabiq Carebesth

Profesor Rachel Bowlby menelaah A Room of One’s Own sebagai karya penting kritik feminis, mengungkap bagaimana Virginia Woolf sendiri berada di luar topik resmi esai tersebut—yang berkisar soal perempuan dan fiksi untuk mempertanyakan isu-isu seputar pendidikan, seksualitas, dan nilai-nilai gender.

Buku seperti apa sebenarnya A Room of One’s Own karya Woolf itu? Dibuka dengan deskripsi sajian makanan di dua perguruan tinggi di Oxbridge, Anda mungkin berpikir ini semacam ulasan eksentrik ala TripAdvisor: makan malam kampus ala para laki-laki, setengah jalan menuju surga; makan malam kampus ala para perempuan, bintang satu. Di titik lain, Anda juga bisa memasukkan bahasan tadi ke dalam daftar rekomendasi untuk penelitian berikutnya di waktu mendatang, tentang topik yang tidak pernah diperdebatkan sebelumnya untuk studi yang serius: kehidupan sehari-hari perempuan kelas menengah di masa yang berbeda, atau sejarah penentangan laki-laki terhadap emansipasi perempuan, atau nilai yang laki-laki tempatkan pada keperawanan perempuan. Terkadang saran Woolf untuk sebuah studi terdengar seperti laporan preliminer tentang hal ini dan subjek lainnya, dengan informasi (dan kejengkelan) hasil membaca di pagi hari karya laki-laki dengan subjek perempuan. (Pembacaan ini berlangsung di British Library, lokasi terdahulunya di British Museum).

Ada banyak bahasan sastra di A Room of One’s Own – tentang apa yang dikatakan di dalamnya perihal perempuan (ketika ditulis oleh laki-laki), tentang jenis tulisan seperti apa yang pernah atau belum mampu ditulis penulis perempuan, dan tentang apakah menulis itu terbantu atau terhalang oleh kesadaran penulis, apakah menempatkan diri sebagai seorang laki-laki atau perempuan saat ia menulis. Pada saat yang sama – dan ini terkait dengan semua saran untuk penelitian – ada penekanan pada bagaimana penulis dengan jenis kelamin apa pun, namun perempuan pada khususnya, membutuhkan dukungan materi minimum yang memadai untuk melakukan pekerjaan mereka (atau menciptakan kreasi mereka): untuk berpikir tanpa gangguan (atau ‘rintangan’, jika menggunakan kata yang disukai Woolf). Woolf menetapkan persyaratan materi yang cukup tinggi. Setiap perempuan, idealnya, harus memiliki pendapatan tahunan sebesar £500 (yang merupakan gaji laki-laki kelas menengah yang mapan saat itu). Dan perempuan juga harus memiliki ruang yang sekarang terkenal itu, ruangan miliknya sendiri, a room of one’s own.

Teks landasan kritik feminis

Jika menyatukan berbagai hal ini, kita mungkin berpikir kita dapat mengatakan dengan percaya diri bahwa apa yang kita hadapi di A Room of One’s Own adalah bagian dari kritik feminis. Tetapi, pada akhir 1920-an, ketika karya itu ditulis, tidak ada hal seperti itu – atau setidaknya, tidak ada praktik atau nama yang sudah ditetapkan untuk memberikan legitimasi pada gagasan semacam itu. Faktanya, A Room of One’s Own lah yang memulai aksi – atau menyoroti bongkahan pemikiran-pemikiran proto-feminis yang nyaris tidak diperhatikan sampai Woolf mengangkat dan memberi dorongan atas pemikiran-pemikiran itu di dalam jalur feminis. Ini akan mengarah, pada akhir abad ke-20, pada kritik feminis sebagai praktik berpikir tentang sastra dan kehidupan sehari-hari yang tidak memerlukan justifikasi khusus (dan yang sekarang menjadi bagian dari silabus sekolah dan universitas dalam pembelajaran sejarah dan sastra, kedua disiplin ilmu yang Woolf memiliki kepedulian besar atasnya). Membaca, seperti yang kita lakukan hampir seabad setelah Woolf menulis dua ceramah yang menjadi dasar A Room of One’s Own, hampir tidak mungkin jika kita berpikir kembali ke dunia di mana dia menulis, di mana gadis dan perempuan, seperti yang dia sebutkan, hampir seluruhnya tidak dilibatkan dalam pendidikan akademik yang serius di tingkat manapun, dan baru saja (dalam 10 tahun terakhir) memperoleh suara dan hak untuk menjalankan suatu profesi.

Sebenarnya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa A Room of One’s Own adalah teks landasan kritik feminis. Memang ia bukan buku pertama feminis Inggris (terlebih, ada A Vindication of the Rights of Woman karya Mary Wollstonecraft yang sudah ada sejak 1792), atau karya pertama kritik sastra feminis oleh laki-laki atau perempuan (untuk contoh cerdas pada pertengahan abad ke-19, ada esai George Eliot, ‘Silly Novels by Lady Novelists’). Subjek resmi buku ini adalah perempuan dan kepenulisan: itulah topik di mana, seperti dikatakan Woolf, dia diminta untuk memberikan ceramah. Dan A Room of One’s Own berhasil, dalam ruang terkecil, di antara dua sampulnya jika bukan empat dindingnya, mendobrak hampir semua pertanyaan filosofis dan historis dan khususnya sastrawi, tentang topik yang telah hadir dalam beberapa dekade sejak publikasi awalnya. Apakah tulisan perempuan secara inheren berbeda dari tulisan laki-laki? Dan jika demikian, apakah laki-laki secara inheren – secara psikologis maupun fisik – berbeda dari perempuan? Atau apakah tulisan perempuan berbeda hanya karena situasi sosial atau ekonomi perempuan sangat berbeda dari laki-laki? Berapa banyak teritori pengalaman perempuan yang tidak terwakili, yang belum pernah ditampilkan dalam literatur? Dan mungkinkah beberapa di antaranya tidak dapat terwakilkan melalui kalimat-kalimat dalam bahasa kita saat ini?

Misalnya, Woolf bertanya, pernahkah ada penulis, laki-laki atau perempuan, yang pernah menulis tentang hubungan antar perempuan, terlepas dari keterikatan mereka pada laki-laki? Di sini Woolf bersenang-senang menggoda audiensnya yang semuanya perempuan: ‘Jangan mulai. Jangan tersipu. Mari kita akui dalam privasi masyarakat kita sendiri bahwa hal-hal ini kadang terjadi. Terkadang perempuan menyukai perempuan’ (bab 5). Atau mengapa tidak ada lagi buku tentang kehidupan perempuan biasa? Mengapa perempuan dihormati – atau direndahkan – atau keduanya, dalam literatur, dan hampir tidak ada dalam catatan sejarah? Apakah alasannya adalah bahwa perempuan belum menulis literatur yang bagus, dan oleh sebab itu mereka tidak memperoleh pengalaman yang cukup luas yang laki-laki (mapan) tidak hargai? (Terus terang, laki-laki berkeliling dunia, sementara perempuan terjebak di rumah). Atau apakah ini bukan masalah ruang sosial dan geografis, dan lebih merupakan masalah dari kata-kata itu sendiri: bahwa bahasa yang tersedia bagi perempuan untuk ditulis lebih sesuai dengan nilai laki-laki dan bukan perempuan? Sehingga, perlu untuk merenggut atau membuat kembali bentuk kata-kata untuk berbicara dalam suara perempuan, atau untuk merepresentasikan pengalaman perempuan.

Karena jika bahasa mungkin sudah membelokkan pemahaman berbagai hal ke arah maskulin, maka itu pasti akan mendistorsi cara perempuan merumuskan pemikiran mereka sendiri. Terkait erat dengan ini adalah apa yang Woolf sebut ‘perbedaan nilai’, secara epigramatis terilustrasikan lewat kasus sepak bola vs belanja. ‘Kasarnya’, Woolf mengatakan, ‘sepak bola dan olahraga itu “penting”; memuja mode, membeli pakaian “sepele”. Dan nilai-nilai ini secara tak terelakkan berpindah dari kehidupan ke fiksi’ (bab 4). Kelak, dia mulai menumbangkan nilai-nilai ini sendiri, dengan mengajak pembacanya berbelanja: ‘Karena dalam imajinasi saya pergi ke toko; toko itu ada di atas aspal hitam dan putih; dihias dengan sangat indah dengan pita berwarna’ (bab 5). Setelah menunjukkan dan berbagi kesenangan sensual dan estetik dari ruang feminin ini, ruang publik milik sendiri yang lebih besar, dia kemudian berbalik dan melihat sudut lain selain dari konsumen yang menikmati kesenangan:

Dan ada gadis di belakang meja juga – segera saya akan tahu sejarahnya yang sebenarnya, seperti kehidupan Napoleon yang keseratus lima puluh atau studi Keats yang ketujuh puluh dan penggunaan inversi Miltonic-nya, yang oleh Profesor Z dan sejenisnya sekarang sedang tuliskan. (bab 5)

Ini adalah subversi lain dari nilai-nilai (kehidupan perempuan pekerja yang tidak dikenal, ketimbang berbagai kehidupan laki-laki terkenal dan pengaruh mereka untuk satu sama lain), tetapi cara itu disajikan, melalui tampilan yang menarik dan mengejutkan dari toko yang indah, adalah karakteristik dari metode Woolf yang tampak berpindah ke sana ke mari di seluruh teks ini. Dia tampaknya memberi Anda pemikiran sederhana saat pemikiran itu sendiri menghampirinya, satu per satu dan tempat demi tempat. Pada kenyataannya, dia mengubah semua arah dan ekspektasi untuk apa yang dianggap sebagai cara yang valid untuk menyajikan opini tentang subjek perempuan dan fiksi yang tidak menentu, sulit dipahami, dan sukar dipecahkan. (*)

*) Rachel Bowlby adalah profesor Comparative Literature di University College London. Buku-bukunya antara lain Feminist Destinations and Further Essays on Virginia Woolf (Edinburgh, 1997). Buku terbarunya adalah A Child of One’s Own: Parental Stories (2013), dan Everyday Stories (2016). Dia juga telah menulis beberapa buku tentang sejarah berbelanja, termasuk Carried Away dan Shopping with Freud.

Share This Story!
Shares

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Related articles

Orang-Orang Aneh dalam Sastra Rusia

Kehidupan pribadi dan kebiasaan sehari-hari para penulis besar Rusia membuatku takjub. Mereka sering dicitrakan sebagai para genius lantaran...

Puisi Kontemporer dan Fragamen Duka “si Aku”

Relasi Long Soldier yang tipis dan penuh kerinduan terhadap bahasa yang dipakai ayah dan kerabatnya yang lebih tua...

The Divine Comedy: Karya Terbesar dalam Sastra Barat

By Ian Thomson Laiknya yang diketahui tiap anak sekolah di Italia, The Divine Comedy (Komedi Ilahi) dimulai dengan ‘hutan...

Yuval Noah Harari: Manusia dalam Belenggu Kecanggihan Teknologi

Dalam sejarah, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan hadir dari interaksi atau konflik yang terjadi antar manusia. Oleh sebab...
Shares