Tuesday, May 17, 2022

Dostoyevsky, Antara Kemuraman Jiwa, Kejahatan Dan Hukuman

Raskolnikov ingin menjadi manusia-Napoleon dan ketika itu terjadi dia yakin, dia akan dapat membantu orang-orang fakir. Akan tetapi dia sendiri tidak tahu, apakah dia mampu menjadi manusia-Napoleon ataukah tidak. Raskolnikov yakin, bahwa tujuan secara pasti membenarkan segala cara dan memungkinkan penggunaan kekerasan, pembunuhan manusia, terlebih lagi manusia dengan sifat busuk seperti perempuan tua-lintah darat, demi tujuan mulia menciptakan keadilan. Akan tetapi Dostoyevsky menunjukkan, bahwa kekerasan akan melahirkan hanya kekerasan, hasilnya adalah korban yang tidak berdosa seperti Lizaveta.

Oleh: Ladinata
Associate Writer Galeri Buku Jakarta, Dosen Unpad.

Fyodor Mikhailovich Dostoyevsky (1821-1881) merupakan sastrawan Rusia yang selalu memaparkan pengekplorasian jiwa rumit manusia melalui karya-karyanya. Tokoh-tokoh tulisan Dostoyevsky sangat variatif, antara lain: manusia altruistik, kriminal, kaum ningrat pembegal, manusia sangat berdosa dan bahkan manusia gila. Suatu kewajaran, jika kemudian karya-karyanya banyak dipelajari oleh para psikolog, sosiolog, filsuf dan orang-orang yang bergerak dalam pendeteksian tindak kejahatan.

Salah satu karya terbesar Dostoyevsky adalah roman ‘Kejahatan dan Hukuman’, yang ditulisnya pada tahun 1864-1865 dan dipublikasikan untuk pertama kalinya di Russian Herald pada tahun 1866. Di dalam roman ini dia menggambarkan kehidupan kaum miskin Petersburg, yang dikenalnya dengan baik, pengungkapan kritik sosial terhadap masyarakat modern, pemertahanan hak kaum terhina dan tersakiti. Meski di dalam ‘Kejahatan dan Hukuman’ diperikan mengenai perbuatan kriminal, Dostoyevsky, dalam hal ini, bukan hanya menulis roman sosial dan bukan kisah detektif, tetapi (juga) menulis mengenai masalah perkembangan psikologis dan filosofis dari setiap persona dan juga masyarakat yang melingkupi.

Teori Raskolnikov

Tokoh pokok roman ‘Kejahatan dan Hukuman’ adalah Rodion Raskolnikov, seorang manusia muda dengan penuh rasa harga diri, good looking, tetapi fakir, yang tinggal di Saint Petersburg pada pertengahan abad XIX. Lantaran kemiskinannya dia tidak dapat menuntaskan pendidikan universitas. Raskolnikov menderita karena ketidaksederajatan, penghinaan dan penyakitan hati. Raskolnikov memiliki seorang kawan, Razumikhin, juga seorang mahasiswa, yang sama miskinnya. Razumikhin yakin, kefakiran akan dikalahkan oleh kerja keras dan kesabaran. Akan tetapi Raskolnikov tidak memiliki kemauan bersabar.

Raskolnikov seorang filsuf. Dia menciptakan teori, yang menjelaskan mengenai eksistensi di dalam masyarakat yang tidak adil, dan memuat teori tersebut di surat kabar. Raskolnikov berpendapat, bahwa manusia terpilah dua. Pilahan pertama adalah manusia yang memiliki karakter kuat, yang kedudukannya lebih tinggi dari moral dan hukum, dan memiliki hak berbuat apa pun untuk merealisasikan tujuan. Raskolnikov menamakan manusia tipe ini dengan sebutan kaum Napoleon. Pilahan kedua adalah manusia lemah, yang terhina dan tersakiti. Manusia tipe ini dikuasai oleh manusia pilahan pertama.    

He was born 1821 and grew up on the outskirts of Moscow. His family were comfortably off – his father was a successful doctor, though he happened to work at a charitable hospital that provided medical services for the very poor. The family had a house in the hospital complex, so the young Dostoevsky was from the very beginning powerfully exposed to experiences from which other children of his background were usually carefully sheltered. Like almost everyone in Tsarist Russia his parents were devout Orthodox Christians – and Dostoevsky’s own religious faith got deeper and stronger all his life.  

Raskolnikov ingin menjadi manusia-Napoleon dan ketika itu terjadi dia yakin, dia akan dapat membantu orang-orang fakir. Akan tetapi dia sendiri tidak tahu, apakah dia mampu menjadi manusia-Napoleon ataukah tidak. Oleh karenanya Raskolnikov memutuskan untuk melakukan pembunuhan terhadap Alena Ivanovna, perempuan tua keji, seorang lintah darat, yang merampok kaum miskin. Raskolnikov yakin, bahwa dia memiliki hak untuk membunuh perempuan tua itu, lantaran dia berniat melakukan perbuatan baik – membebaskan manusia dari kejahatan. Raskolnikov ingin membagikan semua uang perempuan lintah darat tersebut kepada para fakir.

Faktor Perealisasian Teori

Secara kebetulan Raskolnikov berkenalan dengan Marmeladov, seorang bekas pekerja negara, yang mengisahkan keseluruhan hidupnya. Marmeladov seorang pemabuk, yang berkarakter lemah dan lantaran itu dia tidak mampu menghentikan kebiasaan minum. Istrinya sakit keras, anak-anaknya yang masih kecil menderita karena kedinginan dan kelaparan. Marmeladov memiliki anak tertua – Sonya – seorang perempuan pendiam dan sederhana, yang untuk menyelamatkan keluarga ayahnya, mengorbankan diri menjadi seorang pelacur. Pertemuan dengan Marmeladov meyakinkan Raskolnikov untuk membunuh sang perempuan tua, lantaran, jika dia tidak menjadi manusia-Napoleon, maka dia telah ditunggu oleh takdir-takdir jelek, seperti takdir jelek Marmeladov.

Raskolnikov memiliki ibu dan saudara perempuan bernama Dunya, yang tinggal di kota kecil dengan penuh kemiskinan. Tujuan hidup mereka adalah membantu Raskolnikov untuk menyelesaikan pendidikan universitas. Dunya adalah perempuan cantik, yang mempunyai harga diri yang tinggi – sama halnya dengan Raskolnikov – yang bekerja pada Svidrigailov, seorang tuan tanah. Raskolnikov menerima sepucuk surat dari ibunya, yang di dalamnya dijelaskan, bahwa Svidrigailov mengejar-ngejar Dunya dan menawarkan untuk menjadi perempuan simpanan. Dunya merasa takut dan membenci laki-laki tua kaya tersebut. Tanpa diduga istri Svidrigailov meninggal dan orang-orang mengatakan, bahwa Svidrigailov telah membunuh istrinya. Akan tetapi polisi tidak mencari tahu sebab kematian istri Svidrigailov. Seorang laki-laki lain, Luzhin, pemilik usaha, meminta Dunya untuk menikah dengannya. Dunya tidak mencintai laki-laki tersebut, tetapi dia setuju melakukan pernikahan untuk menyelamatkan ibu dan saudara laki-lakinya dari kefakiran. Ibunya meminta persetujuan Raskolnikov atas perkawinan Dunya. Setelah selesai membaca surat ibunya, Raskolnikov menyadari, bahwa Dunya, sebagaimana Sonya, ingin mengorbankan dirinya. Lantaran hal itu Raskolnikov menentang dengan keras perkawinan tersebut.

Raskolnikov pun mulai memikirkan strategi pembunuhan. Alena Ivanovna tinggal bersama saudara perempuannya Lizaveta, seorang perempuan yang baik. Raskolnikov tidak ingin membunuh Lizaveta, oleh karena itu dia memilih waktu, ketika Lizaveta tidak ada di rumah. Raskolnikov membunuh Alena Ivanovna dengan sebuah kapak dan menjarah uang sang perempuan tua-lintah darat tersebut. Ketika itu tanpa diduga Lizaveta kembali ke rumah dan melihat pembunuhan tersebut dan Raskolnikov, yang menyadari, bahwa dia tidak punya pilihan lain, pun membunuh Lizaveta

Masa Penderaan

Pada hari berikutnya Raskolnikov mulai sangat mengalami krisis kejiwaan. Hati nurani menyiksa perasaannya. Dia menyadari, bahwa dia tidak mampu menjadi manusia-Napoleon, tidak dapat secara tenang melihat penderitaan dan kematian, tidak mampu membunuh. Pada saat yang demikian ibunya dan Dunya datang. Akan tetapi Raskolnikov merasakan dirinya sendiri dan secara moral menjadi manusia yang tercerabut. Bukantah sekarang dia telah menjadi seorang kriminal? Baik sang ibu, maupun Dunya tidak dapat memahami Raskolnikov.

Porfiry Petrovich, inspektur yang mencari sang pembunuh, memeriksa semua orang dan mencari tahu, siapa yang mengambil uang Alena Ivanovna. Ketika dia bertemu dengan Raskolnikov, dia jadi diingatkan, bahwa dia pernah membaca artikel Raskolnikov mengenai kaum Napoleon, yang memiliki hak melakukan apa pun demi pencapaian tujuan besar. Porfiry Petrovich melihat, bahwa Raskolnikov secara psikis sakit dan melalui itu dia mengetahui, bahwa Raskolnikov-lah sang pembunuh tersebut. Akan tetapi Porfiry Petrovich tidak menangkapnya. Dia ingin, agar Raskolnikov sendiri yang mengakui pembunuhan itu dan menyangkal teorinya sendiri.

Ketika itu Marmeladov meninggal karena kecelakaan. Raskolnikov bertemu dengan Sonya. Dia berpikir, bahwa hanya Sonya yang mampu memahami dirinya, lantaran Sonya juga tercerabut dari masyarakat. Sonya mengatakan kepada Raskolnikov, bahwa secara moral dia menderita, tetapi penderitaan itu membantunya untuk menyimpan jiwa bersihnya. Sonya tidak merasakan dirinya sendiri, lantaran semua orang juga menderita. Sonya meyakini, bahwa penyelamatan jiwa manusia ada di dalam cinta, kedamaian dan penderitaan. Akan tetapi Raskolnikov tidak bersetuju dengan perkataan Sonya tersebut. Sonya mencintai Raskolnikov, tetapi Raskolnikov sendiri tidak memberikan jawab atas perasaan Sonya. Raskolnikov berpendapat, bahwa dirinya secara kejiwaan lebih tinggi kedudukannya dari Sonya.

Ke Petersburg untuk menjumpai Raskolnikov datang berkunjung Svidrigailov dan Luzhin. Setelah berkenalan dengan keduanya, Raskolnikov mengerti, bahwa prinsip hidup Svidrigailov dan Luzhin sangat dekat dengan teorinya.

Luzhin adalah manusia dingin, rakus dan tanpa belas kasih. Dia ingin menikahi Dunya bukan atas dasar cinta, tetapi berdasar atas perhitungan, bahwa seorang istri yang fakir akan selalu ada di dalam kekuasaannya. Svidrigailov adalah seorang manusia egois yang licik dan pintar, yang berpendapat, bahwa bagi dirinya tidak ada moral dan hukum dan bahwa semua manusia hidup hanya untuk memenuhi semua keinginannya.

Porfiry Petrovich memberitahukan kepada Raskolnikov, bahwa seorang pekerja bernama Mikolka mengakui sebagai pembunuh Alena Ivanovna. Dia kemudian mengatur pertemuan Raskolnikov dengan Mikolka. Porfiry Petrovich tidak yakin, bahwa sang pembunuh itu adalah Mikolka, maka dia pun bertanya, untuk apa dia menanggung kesalahan orang lain. Mikolka menjawab, bahwa dia ingin menderita, lantaran penderitaan moral akan membersihkan jiwa. Raskolnikov menyadari, bahwa jika dia tidak mengaku, maka Mikolka akan dikirim untuk kerja paksa. Dia tidak ingin ada orang lain yang menderita karena kejahatannya. Akan tetapi jika dia pergi ke kantor polisi, itu artinya dia mengakui, bahwa teorinya salah. Raskolnikov tidak dapat menemukan jalan keluar dari situasi tersebut dan pergi menjumpai Sonya.

Raskolnikov menceritakan semuanya kepada Sonya dan meminta saran. Sonya terpana dengan pengakuan Raskolnikov. Dia mengatakan, bahwa alasan kejahatan Raskolnikov adalah harga diri. Raskolnikov menganggap dirinya lebih tinggi dari masyarakat, lebih tinggi dari moral dan dia tidak ingin berdamai dan menderita. Dia membunuh bukan hanya sang perempuan tua, tetapi dia membunuh jiwanya sendiri. Dia bersalah di depan masyarakat dan hanya penyesalan dan penderitaan moral yang dapat menebus kesalahannya dan melahirkan kembali jiwanya. Sonya mengatakan, bahwa Raskolnikov harus pergi ke Sennaya square[1], berlutut di depan masyarakat, mengakui dan menyesali pembunuhan tersebut. Masyarakat mesti memaafkannya. Sonya berjanji akan menyertai Raskolnikov menjalani hukuman kerja paksa. Raskolnikov setuju mengaku dosa, tetapi dia tidak yakin, bahwa penghinaan akan menyelamatkannya.

Svidrigailov mendengar perbincangan Raskolnikov dan Sonya. Dia menemui Dunya dan memberitahukan kepadanya, bahwa Raskolnikov adalah seorang pembunuh. Svidrigailov siap membantu Raskolnikov pergi menuju negeri-wilayah lain, jika Dunya mau menjadi istrinya. Akan tetapi Dunya menolak, dia membenci Svidrigailov. Dia menganggap, bahwa, jika saudaranya melakukan kejahatan, maka dia harus menebusnya dengan penderitaan. Svidrigailov tiba-tiba memahami, bahwa perasaannya terhadap Dunya merupakan cinta, tetapi dia menyadari, bahwa Dunya tidak akan pernah mencintainya. Dia mengerti, bahwa moral, hati nurani, hukum, belas kasih, yang dia sangkal, benar-benar memang ada. Dia merasakan, bahwa dia tidak dapat hidup seperti dulu lagi, tetapi mengubah hidupnya, dia tidak sanggup. Svidrigailov mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri.

Pada pagi harinya Raskolnikov menuju ke Sennaya square untuk mengaku dosa, tetapi seorang pun tidak ada yang mempercayainya, bahkan dia ditertawakan. Saat itu juga dia menuju ke kantor polisi, tetapi dia tidak dapat mengakui pembunuhan tersebut. Manakala dia ingin pergi, tiba-tiba dia mendengar berita kematian Svidrigailov dan dia melihat Sonya. Dia pun akhirnya mengakui pembunuhan tersebut.

Perjalanan di Siberia

Selama 7 tahun Raskolnikov dijatuhi hukuman kerja paksa. Dunya menikah dengan Razumikhin. Sang ibu tidak mampu menanggung perpisahan selama itu dengan anaknya dan meninggal dengan segera. Svidrigailov menjelang kematiannya meninggalkan semua uangnya kepada Sonya, yang kemudian memberikannya kepada semua saudara, yang telah menjadi yatim piatu, setelah ibu mereka meninggal.  Sonya berangkat ke Siberia menemui dan menyertai Raskolnikov. Dia bekerja sebagai perempuan penjahit. Raskolnikov merasa sendiri. Para pekerja paksa tidak menyukainya, karena dia menganggap dirinya lebih tinggi dari mereka. Raskolnikov membunuh bukan karena uang, tetapi karena ide. Para pekerja paksa menyukai dan menghormati Sonya dan itu sangat mengherankan Raskolnikov.

Beberapa hari Raskolnikov jatuh sakit dan pada suatu malam dia melihat mimpi yang tidak biasa: semua orang sakit lantaran penyakit kebencian terhadap satu sama lainnya yang mengerikan. Setiap orang menganggap dirinyalah yang paling pintar dan benar. Konstruksi keluarga dan konstruksi negara menjadi puing. Pembunuhan dan peperangan terpicu di mana-mana. Untuk menyelamatkan semuanya dari penyakit tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia-manusia dengan jiwa yang bersih. Selang beberapa hari setelah dia melihat mimpi itu, Raskolnikov bertemu dengan Sonya dan menyadari, bahwa dia mencintainya, bahwa Sonya lebih baik dan secara kejiwaan lebih tinggi kedudukannya dari dirinya. Keduanya, mereka ini, melahirkan diri mereka kembali untuk kehidupan yang baru.          

Para Pelaku Tindak Kejahatan

Hakikat dan dasar dari roman ‘Kejahatan dan Hukuman’ adalah peluluhan teori Raskolnikov. Ketidakberalasan teori mulai tampak ketika tindak kejahatan direalisasikan. Hidup tidaklah dapat ditempatkan pada skema logika, dan kalkulasi skenario yang telah disusun secara baik oleh Raskolnikov-pun tercerabik, ketika pada momen yang tidak sesuai muncul Lizaveta – yang pada dasarnya merupakan faktor perintang tindak kejahatan Raskolnikov – dan dia mesti membunuhnya. Tindak kejahatan Raskolnikov ini memangkas pisah dirinya dari masa lalu, dari manusia lain: ini terlihat ketika ibunya dan saudara perempuannya datang dan dia mundur ke belakang lantaran tidak sanggup memeluk mereka. Raskolnikov juga menyembunyikan uang hasil jarahan di bawah batu di sebuah jalan pulang, bukan karena dia takut terhadap penggeledahan, tetapi lebih pada ketidakmampuan mempergunakan uang dari buah tindak kejahatan.

Pada figur Luzhin dan Svidrigailov, Dostoyevsky menampakkan dua ambilan jalan, yang juga ditempuh oleh Raskolnikov. Luzhin adalah seorang bedebah yang berperilaku menurut keyakinan diri pribadi, yang demi keyakinan itu dia menempatkan keuntungan sendiri lebih tinggi dari segalanya, yang bahkan tidak dipikir panjang, untuk melakukan sesuatu yang keji atau tidak. Cara yang dipakai Luzhin adalah seperti cara yang dipakai Raskolnikov, meski tujuan mereka berbeda, namun demikian tetap juga merupakan a litlle Napoleon, yang dengan tidak berpikir ulang selalu menuju ke depan, melangkahi bangkai-manusia lain yang tak berdaya.

Svidrigailov adalah modifikasi yang lain. Manusia ini, yang demi penegasan kepentingan pribadi, secara sadar menyanggah, memungkiri norma etis dan moral. Svidrigailov juga melakukan tindak kejahatan, tetapi bukan untuk memberikan manfaat atau kegembiraan bagi orang lain, melainkan untuk menguatkan kehendak sendiri, merasakan dalam ukuran yang penuh kebebasan dirinya untuk mengkreasikan baik kemuliaan, maupun kejahatan dan dia secara mandiri menciptakan bagi dirinya sendiri norma etis dan moral.

Pertemuan Raskolnikov dengan Luzhin dan Svidrigailov memberikan konklusi, bahwa jalan yang ditempuh Raskolnikov merupakan jalan buntu. Bagi Raskolnikov jalan yang demikian adalah jalan yang tidak dapat diterima. Bukan tanpa alasan Dostoyevsky membandingkan tindak kejahatan yang dipilih Raskolnikov dengan kematian: “aku bukan membunuh perempuan tua itu, aku membunuh diriku sendiri.”

Percepatan kelahiran kembali Raskolnikov terjadi, ketika dia memberikan uang kepada janda Marmeladov untuk penguburan dan perbuatan baik lain, yang sejenis. Titik akhir keraguan Raskolnikov terjadi, ketika dia mendengar kematian Svidrigailov, yang mengakui kekalahan di depan wajah kehidupan dan di depan kematian. Dia berusaha menebus dosa-dosanya dengan membebaskan Dunya dari jerat kuasanya, mengemis timpalan cinta, mewariskan uangnya, sambil mengakui, bahwa dia memerlukan sisi manusianya. Proses kelahiran kembali Raskolnikov dari kesendirian yang penuh harga diri terjadi melalui penderitaan moral yang luar biasa terhadap cinta dan penyatuan dengan masyarakat. Peranan pokok atas kelahirannya kembali dimainkan oleh Sonya. Dia mengatakan kepada Raskolnikov mengenai pengorbanan diri, penderitaan, yang membersihkan jiwa, kerendahan hati dan pengakuan dosa, yang secara moral menyempurnakan manusia. Sonya secara batiniah menyatu dengan masyarakat. Bahkan para pekerja paksa menyukai dan menghormatinya. Ide Sonya adalah ide masyarakat itu sendiri. Pada diri Sonya secara jelas terwujud ide Dostoyevsky mengenai kotor fisik dan kotor moral. Dengan tidak memandang , bahwa Sonya hidup dalam kekotoran fisik – dia terpaksa menjual tubuh – secara moral dia bersih. Jika Raskolnikov melakukan tindak kejahatan melalui orang lain untuk dirinya sendiri, maka Sonya melakukan tindak kesalahan melalui dirinya untuk orang lain. Penderitaan yang dialami Sonya justru menguatkan jiwanya dan ketika dunia moral terbuka bagi Raskolnikov, melalui cintanya kepada Sonya, dia akhirnya kembali ke dalam kehidupan yang baru.

Epilog

Teori Raskolnikov, yang didasarkan pada ide populer tahun enam puluhan di antara kaum muda, membawa masyarakat menjadi terpecah, karena memilah manusia menjadi dua pilahan, tidak sama menurut hak-haknya. Teori ini menempatkan kaum Napoleon lebih tinggi dari moral dan hukum dan dengan demikian teori ini menyangkal keuniversalan moral dan hukum. Dostoyevsky menganggap teori tersebut sebagai kejahatan, karena individu yang memiliki harga diri ditempatkan lebih tinggi dari masyarakat kebanyakan dan teori itu bertentangan dengan ide penebusan dosa sendiri dan orang lain melalui penderitaan, seperti yang dilakukan oleh Dunya dan Sonya, yang mengorbankan diri demi orang-orang kandung, serta Mikolka yang berusaha memikul bukan dosa sendiri dan menderita bagi manusia lain.

Raskolnikov yakin, bahwa tujuan secara pasti membenarkan segala cara dan memungkinkan penggunaan kekerasan, pembunuhan manusia, terlebih lagi manusia dengan sifat busuk seperti perempuan tua-lintah darat, demi tujuan mulia menciptakan keadilan. Akan tetapi Dostoyevsky menunjukkan, bahwa kekerasan akan melahirkan hanya kekerasan, resultatnya adalah korban yang tidak berdosa seperti Lizaveta. Raskolnikov ingin menjadi manusia Napoleon, tetapi Dostoyevsky menunjukkan, bahwa Raskolnikov tidak sanggup menjadi seperti itu. Raskolnikov bukan manusia keji dan bukan seorang egois yang tidak bermoral, sebagaimana Luzhin dan Svidrigailov. Dia adalah manusia baik, manusia bernurani, yang mampu merasakan penderitaan manusia lain. Oleh karena itu, ketika dia membunuh perempuan tua-lintah darat dan secara terpaksa Lizaveta, dia juga membunuh kebersihan jiwanya sendiri. Itulah sebabnya, mengapa dia berbeda dari Luzhin dan Svidrigailov, dia disiksa oleh hati nurani. Dostoyevsky menunjukkan, bahwa hasil kejahatan yang mengerikan adalah tercerabut dari masyarakat, siksaan hati nurani. Pada keduanya terdapat hukuman bagi sang pencipta kejahatan.

Selain itu diperlihatkan juga mengenai paparan pertempuran antara dua sudut pandang yang berbeda: pandangan Raskolnikov dan Sonya. Seluruh tokoh di dalam roman ini ikut serta di dalam pertempuran ide tersebut, yang diselesaikan dengan kemenangan pandangan Sonya dan mimpi, yang dilihat Raskolnikov pada saat menjalani hukuman kerja paksa, memperlihatkan kepada dirinya skala kosmik tragedi, yang akan menimpa kemanusiaan, jika teorinya direalisasikan. Semua dunia akan mati karena kebencian dan kekerasan. Menyelamatkan manusia dari penyakit moral tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia-manusia berjiwa bersih. Dostoyevsky percaya, bahwa keindahan akan menyelamatkan dunia dari kehancuran.


[1] Sennaya berasal dari kata Seno, yang artinya jerami, karena pada akhir abad 18 di tempat tersebut banyak dijual jerami. Dari tahun 1952-1992 Sennaya Square diubah namanya menjadi  Peace Square. Sennaya Square terletak di interseksi Moscow Avenue dan Garden Street, di Saint Pertersburg
Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares