Tuesday, May 17, 2022

Date:

VIEWER

Jean Paul Sartre: Muak

Related Articles

“Madeleine, jika kau tak keberatan, mainkan sesuatu pada piringan hitam. Yang kusukai, kau tahu: Some of These Days.”

“Ya, tapi itu mungkin akan menganggu tuan-tuan ini; mereka tak menyukai musik saat bermain kartu. Tapi aku akan bertanya dulu.”

Aku menengokkan kepala.Mereka ada empat orang.Madeleine menunduk pada seorang lelaki tua yang mengenakan kacamata bergagang hitam di ujung hidungnya.Ia menyembunyikan kartunya di dekat dada dan melirik padaku dari balik kaca matanya.

“Silakan, Monsieur.”

Tersenyum.Giginya kotor.Tangan kemerahan itu bukan miliknya, itu milik tetangganya, seorang kawan berkumis hitam.Kawan berkumis ini memiliki lubang hidung yang amat besar sehingga bisa mengisap udara untuk sebuah keluarga dan menghabiskan separo wajahnya, namun dia bernapas dengan mulut, terengah-engah sekejap.Masih ada seorang anak muda berwajah mirip seekor anjing.Aku tak bisa menggambarkan pemain keempat.

Kartu jatuh di atas taplak meja dari kain wol, berputar.Tangan-tangan dengan jemari bercincin mendekat dan mengambilnya, menggaruk kain dengan kuku mereka.Tangan-tangan itu menyisakan bekas keputihan pada kain, kelihatan kotor dan berdebu.Kartu lainnya jatuh, tangan-tangan datang dan pergi. Sebuah pekerjaan yang aneh: tak seperti permainan, upacara, atau kebiasaan. Kukira mereka melakukannya hanya untuk melewatkan waktu, tak lebih.Tapi waktu terlalu panjang. Segala yang kita cemplungkan ke dalamnya akan rusak dan terpisahkan. Gerakan itu, dengan tiba-tiba tangan kemerahan itu mengambil kartu dan terlepas: begitu lentur.

Madeleine menyetel jarum piringan hitam. Kuharap ia tak melakukan kesalahan; misalnya memainkan Cavalleria Rusticana seperti yang dilakukannya suatu kali. Tapi tidak, memang ini, aku mengenali iramanya sejak bait pertama.Sebuah lagu lama dengan vokali tinggi.Ak mendengar serdadu Amerika menyiulkannya pada tahun 1917 di jalanan La Rochelle. Pasti sebelum perang.Tapi baru direkam belakagan.Biar begitu, tetap merupakan rekaman tertua dari koleksi yang ada, sebuah rekaman Pathe untuk jarum safir.

Paduan suara terdengar bernyanyi singkat: aku menyukai bagian itu dan pada saat musik terlonjak ke depan, seperti palung di tengah laut. Sejenak irama jazz dimainkan; tak ada melodi, hanya nada-nada, sekumpulan sentakan lembut.Mereka tak tahu sisanya, sebuah aturan kaku terlahir bagi mereka dan menghancurkannya tanpa memberi waktu untuk menguatkan diri dan mengada bagi diri mereka sendiri.Mereka berlomba, mereka menekan ke depan, mereka menyerangku dengan sentakan tajam dan menghilang. Aku ingin menangkap mereka kembali, namun aku tahu jika aku berhasil menghentikan salah satunya, ia akan tetap berada di antara jemariku sebagai suara yang merana. Aku mesti menerima kematian mereka; aku bahkan harus menghendakinya.Aku mengenali beberapa kesan yang lebih kuat dan kasar.

Tubuhku menghangat, aku mulai merasa gembira. Tak ada yang luar biasa dengan hal ini, inilah kesenangan kecil dari rasa muak: ia menyebar dari dasar sebuah kubangan kental, dasar zaman kita – zaman kursi-kursi patah dan tali pengait baju berwarna ungu; ia melebar, halus, namun tiba-tiba menyebar hingga ke ujung, seperti setitik noda minyak. Tak lama setelah lahir, ia sudah menua, seolah-olah aku telah mengenalnya selama dua puluh tahun.

“Monsieur Randu memainkan hati… dan Anda memainkan as.

Suara itu berhenti dan lenyap. Tiada yang berdetak pada pita baja, tak ada juga yang membuka pintu, bahkan tak ada suara udara dingin yang melintasi bagian atas dengkulku, juga tak ada kedatangan dokter bedah dan anak perempuannya; musik itu memindahkan sosok-sosok sama ini dan melewatinya. Terduduk diam, Madeleine terserap olehnya: gadis itu memeluk dirinya sendiri dengan kaku, sepasang matanya terpentang lebar; dia mendengarkan lagu, menggesek meja dengan tinjunya.

Beberapa detik lagi perempuan negro akan bernyanyi. Tak terelakkan, begitu kuat kebutuhan akan musik ini: tak ada yang bisa menghentikan, tak ada yang datang dari saat di mana dunia jatuh; ia akan berhenti dengan sendirinya, seolah-olah oleh perintah. Jika aku mencintai suara indah ini terutama karena hal itu: bukan karena kepadatannya atau kesedihannya, lebih karena ini merupakan saat di mana nada-nada telah disiapkan, dari jarak begitu jauh, mungkin mati pada saat dilahirkan. Dan aku terlibat masalah; ada satu hal kecil yang membuat reaman itu berhenti: tibanya musim semi, tingkah sepupuku Adolphe. Betap anehnya, betapa mengharukan, kekerasannya bisa begitu rapuh.Tapi tak ada yang bisa menghentikannya.

Bait terakhir telah habis. Dalam keheningan sekejap yang mengikutinya aku merasakan hal itu, sesuatu telah terjadi.

Hening.

Some of these days, you’ll miss me honey…

Apa yang baru saja terjadi adalah bahwa kemuakan itu telah lenyap. Saat suata itu terdengar dalam keheningan, kurasakan tubuhku mengeras dan rasa muak itu hilang. Tiba-tiba saja: nyaris tak tertahankan. Aku merasakan tubuhku begitu keras, begitu berkilau.Pada saat bersamaan music menjadi berlarut-larut, melebar, membengkak seperti pipa penyemprot air.Ia memenuhi ruangan dengan transparansu logam, membenturkan kepedihan kita pada dinding. Aku berada dalam music. Bola api bergulir dalam cermin; dilingkari oleh cincin asap, menudungi dan membuka selubung senyum bercahaya. Gelas birku kini telah tandas, seakan mengonggok di atas meja, tampak padat dan amat berarti. Aku ingin mengangkatnya dan merasakan bobotnya, aku kuulurkan tanganku… Tuhan! Itulah yang berubah, gerakanku. Gerakan tanganku ini telah terbangun seperti gaya ningrat, meluncur sepanjang lagu yang dinyanyikan perempuan negro itu; aku merasa sedang menari.

Wajah sepupuku Adolphe ada di sana, terpampang di dinding berwarna coklat; dia tampak begitu dekat. Saat tanganku mendekat, kulihat wajah itu; saksi atas perlunya sebuah kesimpulan. Kutekan jemariku pada gelas, aku melihat Adolphe: aku merasa bahagia.

“Voila!”

Sebuah suara muncul dari hiruk-pikuk.Tetanggaku sedang berbicara, orang tua berwajah kemerahan itu.Pipinya membuat noda keunguan pada kulit sandaran kursi berwarna coklat.Dia membanting sehelai kartu ke atas meja. Tempe. Tetapi lelaki muda berwajah tersenyum.Musuh yang merah padam itu bersandar pada meja, menyaksikannya seperti seekor kucing siap melompat.

“Et voila!”

Tangan anak muda itu muncul dari bayang-bayang, meluncur tiba-tiba, putih, lamban, lalu sekonyong-konyong jatuh seperti seekor elang, dan membanting sehelai kartu di atas kain pelapis meja.Lelaki berwajah kemerahan terlompat, “Sialan!Truf.”

Gambar raja hati muncul di antara jemarinya, lalu beralih ke wajahnya, dan permainan berlanjut.Raja yang berkuasa datang dari jauh, dipersiapkan oleh berbagai rangkaian, oleh berbagai gerak tipuan.Ia lenyap agar rangkaian lain bisa dilahirkan, begitu pun gerakan lainnya, serangan-serangan balik, berbaliknya keberuntungan, sekumpulan petualangan kecil-kecilan.

Aku tersentuh, kurasakan tubuhku saat beristirahat bagaikan sebuah mesin yang cermat.Aku telah mengalami petualangan-petualangan sungguhan.Aku tak bisa mengingat secara rinci, namun aku merasakan peralihan suasana yang keras. Aku telah melintasi lautan, meninggalkan kota-kota di belakangku, mengikuti aliran sungai, dan berkelana menjelajahi hutan, selalu menempuh perjalanan ke kota lain. Aku telah mengenal banyak perempuan, aku telah berkelahi dengan banyak lelaki; dan tak pernah aku bisa kembali, lebih daripada sebuah rekaman yang bisa diputar ulang.Dan semua itu membawaku – ke mana?

Dengan amat tiba-tiba, di kursi ini semuanya bergema oleh music.

And when you leave me…

Ya, aku amat menyukai duduk di pinggir sungai Tiber di Roma, atau di senja hari di Barcelona, bolak-balik di Rambla ratusan kali, aku, yang di dekat Angkor, di pulau Baray Prah-Kan, menyaksikan sebatang pohon beringin merambatkan akarnya dekat sebuah kuil Naga, aku di sini, hidup di detik yang sama dengan para pemain kartu itu, mendengarkan seorang perempuan negro menyanyi, sementara di luar malam yang suram merajalela. Rekaman lagu itu berhenti berbunyi. (*)

Share This Story!
Shares
SIAPAKAH JAKARTA | Advertisement spot_img

Popular Articles

Shares