Tuesday, May 17, 2022

Voluntarisme

Kehendak merupakan kemampuan makhluk rohani, spiritual. Karena itu, manusia berkehendak, malaikat berkehendak, Tuhan berkehendak. Dalam bahasa Latin ada kata voluntas, yang berarti ‘kehendak, kemauan, keinginan’. Dari kata itu istilah voluntarisme diturunkan. Voluntarisme berpendirian bahwa kehendak merupakan faktor terpenting dalam hidup. Dalam etika, voluntarisme berpandangan bahwa hal, perbuatan, perilaku itu baik karena dikehendaki Tuhan. Kehendak Tuhan sendiri dapat ditemukan dalam wahyu-Nya. Dalam wahyu itu ditemukan segala keputusan dan perintah Tuhan.

Orang yang mau hidup baik cukup memperhatikan dan menaati keputusan dan perintah Tuhan itu. Tak perlu orang berfilsafat dan berusaha menemukan hakikat perkara dan “mendengarkan” tuntutannya. Cara itu mubazir, pertama, karena keputusan dan perintah Tuhan jelas tertulis dalam kitab Suci, dan kedua, pikiran mansuia itu terbatas sehingga tak mampu menemukan sendiri hakikat kebaikan dan kejahatan. Sebagai aliran etis, voluntarisme bersandar pada perintah ilahi dan bukan pada hukum kodrat. Yang baik ada karena perintah Tuhan, bukan pada hakikat perkara.

Etika voluntarisme memberi kesan kuat landasannya dan pasti pelaksanaannya. Yang baik sudah ditetapkan Tuhan. Tuhan mahabijak. Jadi, tak mungkin salah atau keliru. Akan tetapi, dalam kenyataannya, bila dipraktekkan, menimbulkan banyak ketidakpastian karena perintah Tuhan seperti termaktub dalam wahyu belum mencakup segala hal dan masalah hidup.

Banyak hal dan perkara baru yang belum ada petunjuk untuk menghadapinya. Etika voluntarisme juga memberi kesan canggih karena agar hidup baik sesuai dengan wahyu Tuhan, orang harus hapal segala perintah Tuhan dan cara pelaksanaannya, namun secara logis, sederhana. Orang hanya harus memperhatikan perintah yang ada dan berusaha melaksanakannya. Orang tidak perlu memikirkan sendiri perkara, situasi, dan orang-orang yang terlibat, tetapi cukup berpegang pada perintah yang ada. Jika bisa, baik; jika tidak bisa, keadaan, perkara orang hanya harus menyesuaikan diri dengan perintah. Bila dengan berbagai cara perintah tak dapat dilaksanakan, dibuat dispensasi.

Akan tetapi, lebih parah lagi, voluntarisme memupuk semangat irasionalistis dan melepas tanggung jawab manusia. Irasionalisme memandang hal atau perbuatan baik, hanya karena diperintahkan Tuhan. Dengan demikian, pada dasarnya segala perbuatan dari segi etis netral: tidak baik, tidak buruk. Karena itu, mencuri pun, misalnya, adalah netral. Jika dikehendaki Tuhan, mencuri itu dapat menjadi baik. Membunuh orang itu, misalnya lagi, pada dirinya sendiri netral. Akan tetapi, seandainya Tuhan menghendakinya, membunuh orang itu dapat menjadi baik. Inilah irasional. Yang rasional, bila Tuhan menghendaki suatu hal, perbuatan, atau perilaku, semua itu harus ada dasar kebaikannya. Juga sebaliknya, jika Tuhan tidak menghendaki sesuatu, hal itu pada dasarnya harus jahat. Rasanya aneh jika Tuhan itu semena-mena.

Berkaitan dengan unsur irasionalitas itu, tanggung jawab manusia dalam melaksanakan perintah atau kehendak Tuhan juga menjadi persoalan. Tanggung jawab berhubungan dengan akibat dari perbuatan. Orang yang melakukan suatu hal, hanya karena itu dikehendaki Tuhan dan tidak berpikir sendiri makna dan akibatnya, jelas tak bertanggung jawab atas perbuatannya. Apa pun akibat perbuatan dari pelaksanaan perintah atau kehendak Tuhan itu, orang tak bersedia menanggung. Dia cuci dan lepas tangan sebab dia hanya pelaksana, bukan yang punya kehendak. Karena itu, seandainya dituntut tanggung jawab hanyalah sebatas sebagai pelaksana, bukan sebagai otak atau agens intellectualisnya.

Masalah mendasar dari voluntarisme terletak pada ketidaksediaannya untuk menggali kehendak Tuhan. Tuhan memang mahabijaksana. Akan tetapi, bila kebijakan atau kehendak-Nya yang bijaksana itu disampaikan kepada manusia, kehendak itu menjadi terbatas. Artinya, kehendak Tuhan dibatasi oleh orang yang menerimanya, oleh masalah-masalah yang dihadapi  waktu kehendak itu disampaikan, oleh ruang dan waktu serta kesempatan ketika kehendak itu disampaikan.

Karena itu, kehendak sebagaimana adanya tidak tak terbatas dan berlaku untuk segala tempat dan zaman. Untuk menjadi tak terbatas, kehendak itu mesti dicari intinya dengan menganalisis orang, masalah, tempat, waktu, dan kesempatan pada saat kehendak itu diwahyukan. Hasil analisis itu, bila benar dilakukan, merupakan inti kehendak Tuhan. Itulah kehendak yang benar, kekal, dan berlaku pada setiap tempat, waktu, dan kesempatan. Akan tetapi, inti kehendak itu tidak dengan sendirinya dapat diterapkan di segala tempat, waktu dan kesempatan. Untuk melaksanakan dengan tepat, orang yang bersangkutan, situasi, dan kondisi yang ada harus diperhitungkan.

Karena tak bersedia menggali inti kehendak Tuhan, voluntarisme mendorong sikap obskurantisme dan menghidupkan sikap konservatisme. Obskurantisme berarti sikap lebih suka berada dalam kegelapan, tidak tahu, dan taat. Konservatisme berarti lebih suka tak maju karena para penganut voluntarisme dalam hidup hanya berpegang pada kehendak Tuhan yang jelas tertulis dalam Kitab Suci. Padahal kehendak Tuhan dalam Kitab Suci itu belum menampung masalah-masalah hidup baru yang muncul.

Daripada menggali kenyataan hidup yang ada dan menyoroti dengan inti kehendak Tuhan, para penganut volutarisme malah menyempitkan kenyataan itu menjadi sejauh dapat ditampung dalam kerangka kehendak Tuhan yang eksplisit. Secara tak langsung kaum voluntarisme berusaha membuat kenyataan hidup sesuai dengan kehendak eksplisit Tuhan sehingga kehendak Tuhan tadi berperan dalam kenyataan hidup yang ada. Akibatnya, kaum voluntarisme lebih suka melihat ke masa lalu daripada ke masa depan serta mempertahankan yang ada daripada memperkembangkannya menjadi lebih maju dan lebih kaya.

Volunterisme bernada saleh religius dan penuh keyakinan iman karena berpegang pada kehendak eksplisit Tuhan sebagaimana diwahyukan dalam Kitab Suci. Akan tetapi, kesalehan itu terlalu naif. Voluntarisme, dengan demikian, tak memajukan hidup, tetapi malah memupuk irasionalitas, meniadakan tanggung jawab, dan berakibat pada obskurantisme dan konservatisme. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares