Tuesday, May 17, 2022

Konservatisme

Previous articleEgoisme
Next articleVoluntarisme

Nilai etis yang terkandung dalam sistem dan praktek hidup yang ada merupakan hal yang berharga. Nilai itu merupakan hasil pemahaman dan pengalaman hidup, sudah lama dihayati oleh para pemeluknya, dan berperan besar sebagai pedoman dan arah hidup. Di bawah bimbingan nilai etis itu, para penganutnya mempunyai semacam pegangan dan menghayati hidup secara berarti. Berkat nilai etis itu, para penganutnya merasa terlindungi, aman, dan mantap. Dalam rangka mempertahankan nilai hidup dan etis yang sudah ditemukan, dihayati, dan dijadikan pegangan serta pedoman hidup itu, kita berbicara tentang konservatisme. Konservatisme berasal dari kata Latin conservare, yang berarti ‘memelihara’, ‘menjaga’, ‘mempertahankan’. Secara umum konservatisme merupakan pandangan dan sikap yang mau mempertahankan struktur dan sistem sosial, ekonomi, politik, budaya, etika, moral, atau keagamaan yang ada, dan melawan perubahan, terutama yang bersifat mendadak dan radikal. Dalam bidang etis, konservatisme berarti sikap untuk mempertahankan sistem dan praktek etis yang ada dan melawan pandangan dan bentuk kehidupan etis yang baru.

Nilai etis merupakan hasil perjuangan hidup yang kadang-kadang berat dan menuntut pengorbanan besar. Dengan berpegang padanya, hidup dapat dihayati, menjadi berarti, dan dapat diarahkan. Manfaat dan jasa nilai etis tak dapat diragukan lagi. Nilai etis menjadi sumber kepastian hidup yang dapat diandalkan. Karena itu, dapat dimengerti bahwa muncul pandangan, usaha, malah gerakan untuk memelihara, menjaga, dan mempertahankan, yaitu konservatisme. Para penganut konservatisme merasa amat aman dengan nilai etis yang sudah dimiliki. Karena merasa aman, setiap kali muncul pertanyan, peristiwa dan masalah etis baru dan orang-orang lain bingung mencari pegangan, kaum konservatis merasa berdiri tegak dan bertanya, “Mengapa bingung?” Jawabnya tegas, “Tidak!” karena dari satu pihak mereka telah memiliki pengangan kokoh, dan dari lain pihak perkara yang baru, yang barang kali menghebohkan, dapat mereka tempatkan dalam kerangka etis yang ada. Para penganut konservatisme amat yakin dengan nilai etis mereka. Jika mereka melawan perubahan pendangan dan praktek etis baru, hal itu tidak melulu karena mereka takut kehilangan nilai etis mereka, tetapi terutama karena tidak yakin bahwa nilai etis yang baru dapat menggantikan yang ada. Mereka tak mau berubah dalam pandangan dan praktek etis mereka sebelum melihat nilai etis yang sekurang-kurangnya sama dapat diandalkan seperti yang mereka miliki. Dalam arti tertentu, konservatisme dapat berperan sebagai penyeimbang. Kemajuan dalam hal etis boleh saja terjadi, tetapi kemajuan itu janganlah sekedar maju dengan melepaskan nilai etis lama tanpa menggantinya, atau maju secara liar tanpa bertitik tolak, sekurang-kurangnya, memperhitungkan nilai etis yang ada.

Konservatisme, sebagai ajaran, usaha, dan gerakan mempertahankan nilai etis yang baik dan membuang nilai etis yang buruk, dapat positif dan negatif. Konservatisme positif tahu nilai etis yang dipertahankannya dan nilai etis yang dibuangnya. Dia tahu apa yang dipertahankan dalam nilai itu dan apa yang dibuangnya. Karena itu, nilai etis yang dipertahankan bukan hanya wadah atau ungkapannya, melainkan sungguh-sungguh nilai etis yang mempunyai wadah dan ungkapan tertentu. Nilai etis yang dibuang bukan hanya wadah dan ungkapannya, sementara isi nilai sendiri dipertahankan, tetapi sungguh-sungguh nilai etis dalam wadah dan ungkapannya yang ada. Ketika mempertahankan dan membuang nilai etis, konservatisme positif tahu alasannya. Karena itu, dia tidak hanya mempertahankan asal mempertahankan, atau membuang asal membuang. Dia tahu mengapa dan untuk apa nilai etis itu dipertahankan dan tahu pula prospek, arah, dan harapan ke masa depannya. Dia tahu mengapa dan untuk apa nilai etis dibuang dan bagaimana kemungkinannya ke masa depan. Tambahan pula, meskipun tahu bahwa suatu nilai etis harus dibuang, konservatisme positif tak akan membuangnya bila belum ada pengganti sehingga menimbulkan kekosongan nilai etis. Oleh karena itu, sebelum mempertahankan atau membuat nilai etis, konservatisme mengadakan studi mendalam tentang nilai etis yang bersangkutan, membuat pertimbangan atasnya, dan membulatkan tekadnya sehingga sungguh bersedia mempertahankan yang dipertahankan dan rela membuang nilai yang dibuangnya. Dengan demikian, konservatisme positif merupakan suatu sikap bijak dan pembela nilai etis yang gigih dan bertanggung jawab.

Konservatisme negatif mempertahankan dan membuang nilai etis tanpa tahu apa yang dipertahankan dan dibuang, alasan mempertahankan dan membuang, dan akibat-akibat membuang dan mempertahankannya. Karena itu, yang dipertahankan bukanlah nilai etis yang sebenarnya, tetapi hanya wadah dan ungkapannya. Misalnya, mempertahankan adat istiadat dan budaya tertentu tanpa tahu intinya. Demikian juga yang dibuang, bukan nilai etis yang sebenarnya, melainkan hanya wadah dan ungkapannya. Misalnya, wadah dan ungkapan budaya tertentu seperti cara pemerintahan feodal ditinggalkan, tetapi mentalnya tetap dipertahankan. Nilai etis yang dipertahankan sebetulnya nilai etis yang sudah tidak berarti dan bermakna lagi. Adapun nilai yang dibuang adalah nilai yang sebetulnya pantas dipertahankan, atau nilai etis yang walaupun sudah kehilangan makna tetapi masih perlu dipertahankan sebab belum ada pengggantinya. Dengan demikian, konservatisme negatif merupakan sikap yang tidak bijaksana dan berbuat mempertahankan dan membuang nilai etis tanpa studi, membuat pertimbangan, dan tanggung jawab yang semestinya.

Tanpa menyangkal segi baik konservatisme positif dan terutama melihat segi buruk konservatisme negatif, baik konservatisme positif maupun konservatisme negatif mengandung kelemahan mendasar. Kelemahan konservatisme yang utama adalah menolak terjadinya perkembangan, perubahan, dan kemajuan yang merupakan hakikat kehidupan. Entah kita mau atau tidak, tahu atau tidak, sadar atau tidak, hidup ini berkembang, berubah, dan maju secara terus-menerus. Dengan kemajuan itu diciptakan situasi hidup baru, lengkap dengan tantangan-tantangannya yang baru juga. Di dalam situasi baru itu, tanpa melepaskan inti dan pokoknya, pandangan, sistem, dan praktek etis perlu disesuaikan. Bersamaan dengan itu tantangan hidup baru membawa serta tantangan etis baru yang menuntut jawaban. Untuk ini nilai etis lama tidak memadai lagi. Tantangan etis baru perlu juga dijawab dengan nilai etis baru yang lebih segar dan pas. Hidup berlangsung dari masa lampau, lewat masa kini, dan mengarah ke masa depan. Ibarat orang berjalan dalam kehidupan, konservatisme hanya melihat ke belakang, ke  masa lampau, dan menolak melihat ke depan, ke masa akan datang. Karena itu, berat sebelah. Cara pandang ini berbahaya. Ibaratnya, ada di tengah lalu lintas jalan raya. Konservatisme itu benar. Namun, karena tidak bergerak, dia tertabrak dan terlindas arus kehidupan. Akhirnya, dia diabaikan dan ditinggalkan karena nilai yang dipertahankan dan diperjuangkan tak berarti lagi bagi dunia yang sudah berubah. Ini yang akan terjadi pada konservatisme positif. Sebaliknya konservatisme negatif. Dengan mempertahankan nilai etis yang sudah tidak pantas dipertahankan, konservatisme negatif menghambat kehidupan dan membuatnya macet dan mandek. Dengan membuang nilai etis yang sebenarnya masih perlu dipertahankan, konservatisme negatif merusak tatanan nilai etis dan mengacaukan tata hidup sebab membuang nilai etis tanpa menggantinya. Konservatisme, baik yang positif maupun yang negatif, tidak mampu menanggapi hdiup serta tata nilai etis yang ada. Karena itu, konservatisme tak mampu mengikuti dan menanggapi jalannya sejarah. Itulah cacat pokoknya. (*)      

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares