Tuesday, May 17, 2022

Egoisme

Dalam diri setiap manusia, ada berbagai kebutuhan yang mendorongnya untuk mendapat kepenuhan. Abraham Maslow menyebut lima buah kebutuhan yang memotivasi hidup dan perilaku manusia. Salah satu kebutuhan itu adalah kebutuhan ego dan penghargaan. Termasuk ke dalam kebutuhan itu adalah kepercayaan, penghargaan, pengakuan diri, dan status. Bagi semua manusia pemenuhan kebutuhan ego dan penghargaan itu diperlukan agar mampu menghargai diri sendiri, tidak menderita penyakit “minder”, berpenampilan mantap dan wjar, dan berprestasi normal seesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Dalam kaitan dengan kebutuhan  ego itu, kita bicara tentang egoisme.

Egoisme merupakan kata bentukan dari kata Latin ego, yang berarti ‘aku’, ‘saya’. Karena itu, egoisme adalah ajaran atau sikap hidup yang berhubungan dengan ego. Ada egoisme yang sehat, dan ada egoisme yang tidak sehat. Egoisme yang sehat adalah pandangan dan sikap hidup yang melihat pemenuhan kebutuhan ego dan penghargaan. Untuk seterusnya dalam uraian ini, kita mempergunakan istilah egoisme dalam arti yang tidak sehat.

Sebagai ajaran egoisme berpendirian bahwa kepentingan diri perorangan, ego, menjadi daya dorong, motif, dalam segala perbuatan yang sadar dan menjadi tujuan utamanya. Sebagai sikap, egoisme adalah sikap yang berpusat pada diri sendiri, mementingkan diri sendiri, dan mencari kepentingan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, bahkan cenderung meniadakannya. Egoisme dibedakan dari egotisme. Pada egoisme, sikap mementingkan diri tidak disertai perasaan berlebihan tentang pentingnya diri. Adapun pada egotisme, sikap mementingkan diri disertai rasa berlebihan tentang pentingya diri sendiri. Sikap egoisme tak terbatas pada orang perorangan secara pribadi tetapi dapat juga menghinggapi kelompok. Dalam egoisme kelompok, egoisme merupakan usaha untuk mengejar kepentingan kelompok berdasarkan keluarga, suku, ras, golongan, agama tanpa memperhatikan kerugian bagi orang atau kelompok lain dan ketidakadilan yang mereka derita. Jika kelompok yang terkena sikap egoistis ini besarnya melebihi kelompok-kelompok lain, oleh sikapnya tercipta kelompok-kelompok minoritas. Pada kelompok egoistis itulah nasib kelompok minoritas tergantung.

Egoisme yang dijadikan ajaran, yaitu bahwa kepentingan diri menjadi satu-satunya motif dan tujuan dalam segala perbuatan, berlawanan dengan fakta kehidupan. Perbuatan yang bersih dari motif dan tujuan kepentingan pribadi memang merupakan hal yang jarang. Bahkan, orang yang hidupnya berasaskan dan berporos pada Tuhan, macam kaum biarawan/wati dari berbagai agama, tidak tentu motif dan tujuan perilakunya demi Tuhan melulu. Dalam kata demi Tuhan itu termasuk juga demi “hadiah” di akhirat, apa pun gambarannya. Meskipun demikian, kepentingan diri bukanlah satu-satunya motif dan tujuan pada waktu orang berbuat sesuatu. Dalam kenyataan, tidak sedikit orang berbuat demi orang lain: suami, istri, anak, sanak saudara, handai taulan, orang lain. Banyak pula orang melibatkan diri dalam berbagai kegiatan sosial: pendidikan, kesehatan, sosial ekonomis, karena motif kemanusiaan sebagai ungkapan dari kehendak membaktikan hidup bagi Tuhan. Oleh karena itu, tidak mungkinlah dan sulit diterima bahwa kepentingan diri merupakan motif segala perbuatan sadar dan satu-satunya tujuannya. Motivasi manusia, sebagaimana telah terbukti dari penelitian para ahli sejak Freud, Jung, sampai Maslow, bukanlah sesederhana sebagaimana diajarkan oleh ajaran egoisme.

Dengan menyatakan  bahwa kepentingan diri merupakan motif yang sebenarnya dari segala perbuatan sadar manusia, egoisme menyajikan gambaran manusia sebagai makhluk yang berdiri sendiri-sendiri. Manusia sebagaimana digambarkan oleh egoisme itu memang berada dan hidup dengan orang lain di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar, tetapi keberadaannya bukanlah kebersamaan, melainkan sekadar berdampingan. Manusia saling berhubungan satu sama lain, hanyalah secara kebetulan, entah karena hubungan kepentingan atau kedaerahan, bukan secara hakiki. Pendirian egoisme ini juga tidak mengungkapkan makna terdalam hubungan antarmanusia. Dalam hubungan dengan orang lain, relasi antarmanusia bukanlah bersifat kebetulan, aksidental, melainkan hakiki, esensial. Manusia pada hakikatnya adalah berhubungan dengan sesamanya. Namun, hubungan ini bukan hanya demi saling manfaat seperti saling meringankan beban hidup, saling menolong, saling melindungi dan membentuk kekuatan untuk menghadapi serta melawan tentangan dan “musuh” bersama. Hubungan itu bersifat pokok, melekat pada inti pribadinya sendiri yang paling dalam. Hubungan dengan orang lain merupakan hal yang mutlak bagi perkembangan manusia sebagai manusia. Manusia tak mungkin menjadi manusia tanpa manusia lain. Manusia mampu berpikir, berbahasa, berbicara, berbudaya, berkesenian, dan lain-lain, itu semua berkat dan akibat hubungan dengan orang lain. Singkat kata, manusia menjadi manusia dan memiliki sifat, kemampuan, perilaku, cara hidup sebagai manusia, berkat manusia lain. Demikian egoisme mempersempit hakikat manusia sebagai makhluk sosial menjadi manusia individual dan membatasi arah hidupnya hanya bertumpu pada kepentingan pribadi.

Karena hanya berpedoman kepada kepentingan pribadi, egoisme sebagai sikap membawa dampak negatif baik bagi para penganut maupun bagi orang lain. Bagi para penganut sendiri, oleh egoisme mereka menggiring diri sendiri menjadi manusia berpandangan sempit. Bagi mereka hidup hanya berisi kepentingan pribadi. Isi bumi yang lain hanyalah alat untuk mencapai pemenuhan pribadi. Egoisme mendorong para penganutnya menjadi manusia rakus dan serakah karena kepentingan diri tak memiliki “plafon” dan batas.

Bagi orang lain, egoisme membawa dampak negatif yang tidak terperikan. Egoisme menjadikan orang lain sebagai alat dan objek untuk memenuhi kepentingan pribadi. Egoisme membuat para penganutnya menjadi kehilangan penghargaan terhadap orang lain, tidak peka terhadap kebutuhannya, dan membawa berbagai kerugian baginya. Bagi egoisme manusia tidak berharga sebagai pribadi, tetapi sebagai barang yang nilainya dan baik-buruknya ditentukan dari sudut pandang berguna-tidaknya untuk memenuhi kepentingan pribadi. Dari sudut pandang egoisme membuat orang menjadi terlalu sibuk dengan diri sendiri dan kepentingannya. Oleh karena itu, mereka menjadi tidak peka, bahkan mungkin buta, terhadap kebutuhan orang lain. Lebih dari itu, bila kepentingan orang lain yang ditiadakan dapat berupa kepentingan materiil, finansial, mental, dan rohani. Oleh peniadaan kepentingan itu orang-orang lain dianggap tidak ada.

Dilihat dalam lingkup masyarakat secara luas, egoisme mengganggu kerukunan, persatuan, dan kesatuan. Egoisme mengganggu kerukunan kerena selalu mementingkan diri sendiri dan kepentingan pribadi mudah menciptakan ketegangan, pertentangan, dan perselisihan dengan para anggota masyarakat. Masyarakat bersatu karena kesepakatan akan kepentingan bersama. Egoisme memegang dan memperjuangkan kepentingan pribadi. Dalam hubungan kepentingan semacam itu, persatuan dan kesatuan sulit dicapai.

Egoisme yang sehat membantu orang untuk mempertahankan hak-hak mereka yang wajar, memberi waktu cukup untuk mengurus diri dan kepentingan mereka. Egoisme yang sehat membuat hubungan orang dengan sesamanya, dan dengan masyarakatnya, menjadi lebih seimbang, sejajar, dan berdasarkan kenyataan. Namun, egoisme yang tidak sehat merusak diri para penganutnya, sesama, dan masyarakat. (*)

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares