Tuesday, May 17, 2022

Date:

VIEWER

Orhan Pamuktentang “A Strangeness in My Mind”

Related Articles

Orhan Pamuk adalah salah satu novelis paling terkenal di dunia. Peraih Nobel Kesusastraan yang berfokus pada kehidupan, masa, dan orang-orang dari Istanbul. Novel terakhirnya, A Strangeness in My Mind, telah memasuki masa penulisan tahun keenam yang menggambarkan tentang kehidupan salah seorang penjual keliling di sebuah kota (di Istanbul). Richard Abowitz, Editor utama “The Smart Set”—majalah yang terbit dengan dukungan dari Drexel University, Philadelphia, menghubungi Pamuk melalui telepon di New York tampatnya mengajar di Columbia University.

INTERVIEWER

Judul Novel Anda,A Strangeness in My Mind, datang dari, tentu saja, syair Wordsworth—pekerjaan besar-besaran, The Prelude—tapi aku terhenyak dari caramu melihat itu, karena, kau tahu, kita berpikir bahwa Wordsworth sebagai penyair yang mencintai alam dan ketika ia hidup dalam masa sebelum revolusi industri, dia bukan benar-benar penggemar tentang hal yang ia lihat akan segera datang. Kau melihatnya, dalam buku barumu: “Di sebuah kota, kau bisa saja sendirian di tengah keramaian, dan pada faktanya yang membuat sebuah kota menjadi kota ialah karena hal itu mengizinkanmu untuk menyembunyikan keanehan pikiranmu yang rumit tentang banyak hal.” Bagaimana pendapatmu tentang penerapan Wordsworth pada sebuah kota dan sebagai judul untuk bukumu?

ORHAN PAMUK

Hal yang sangat menyenangkan tentang persajakan dan kesusastraan adalah bahwa kita tidak hanya membacanya dalam konteks yang tertulis. Wordsworth dan teman-temannya membuat apa yang kita sebut secara berelebihan sebagai “sajak romantis”. Jika yang kita maksud adalah imajinasi—kapasitas untuk melihat hal yang aneh yang berarti lebih dari jasmani—melampaui apa yang diberikan pada kita, melampaui realitas saat ini, aku setuju dengan Wordsworth. Sebenarnya, karakterku, Mevlut Karatas, bukanlah anak yang kaya, melainkan seorang penjual keliling yang menjajakan boza, minuman fermentasi khas Ottoman, di jalan-jalan Istanbul antara tahun 1970 dan hari ini, tapi imajinasinyatajam. Aku memerlukan waktu enam tahun untuk membentuk kemanusiaan dari seorang tokoh kelas menengah ke bawah yang memiliki imajinasi yang sangat bagus. Meskipun dari kelas dan budaya semacam itu karakterku tidak menyerupaiku, namun dia memiliki sebagian dari imaji dan pemikiranku. Saat masa kecilku, bahkan saat usia awal 20-an, teman-temanku sering memberi tahuku, “Orhan, kau memiliki pemikiran yang aneh.” Kemudian, beberapa tahun setelahnya, ketika aku sedang membaca karya Wordsworth, aku tiba pada sebuah kesadaran dan aku berkata pada diriku sendiri, “Suatu hari nanti, aku akan menulis sebuah novel yang berjudul A Strangeness in My Mind.” Bertahun-tahun kemudian, aku menulis Mevlut Karatas, tokoh kelas menengah ke bawah yang aku kenal sebaik mungkin, yang berhak sedikit menerima, dan juga untuk berbicara. Kedua hal itu menyinggung imajinasi tokoh dan juga kota tempatnya berjalan, bekerja, mengulang hal itu sebagai keseharian; bekerja, berjalan, berjalan, bekerja, setiap waktu.

INTERVIEWER

Aku berpikir tentang Dickens atau aku berpikir tentang Horatio Alger Jr., ketika kau bertemu dengan penjual keliling yang miskin dan kau berharap agar dia membangkitkan dunia—bildungsroman, sebuah novel coming-of-age. Penjual kelilingmu tidak memiliki kesungguhan akan hal itu; itu bukan tentang cerita mengenai peningkatan ekonominya yang mungkin diinginkan pembaca.

ORHAN PAMUK

A Strangeness in My Mind dengan sengaja tokoh Dickensian, tetapi tidak melodramatis. Aku mencintai Dickens. Aku menyukai bahasa dan humornya, namun kemudian aku tidak suka melodrama, dan sesekali aku juga kecewa dari caranya membuat tokoh-tokohnya jenaka dengan membuatnya aliteratif dan berat sebelah. Novel Dickensian atau yang lebih menyerupai novel picaresque yang dalam catatan sejarahnya: berbagai petualangan, Mevlut ikut kemiliteran, Mevlut sekolah di sekolah menengah atas, Mevlut menjual yogurt, Mevlut menjual nasi dan ayam di jalanan. Dari sudut pandang lain, ini bukan tentang cerita Mevlut yang mempelajari sesuatu dari beberapa pengalaman dan ini merupakan akhir dari pendewasaannya. Ini bukanlah novel bildungsroman seperti itu. Ini adalah novel yang epic dengan tokoh protagonisnya yang sibuk membawa kita ke berbagai sudut Istanbul. Dengan suatu cara, sisi petualangnya menunjukkan perkembangan kota tersebut pada kita. Modernitas datang dan mengubah banyak hal dalam keseharian orang-orang yang tinggal di Istanbul. Maksudnya di sini ialah untuk melihat secara menyeluruh, perubahan komplet yang terjadi pada kotanya. Bukan perubahan politik yang besar, melainkan perubahan kecil pada hal-hal yang lebih mendetail: pola makan, pola kerja, cara komunikasi, cara berjalan di jalanan, cara melihat-lihat di toko—hal kecil yang mengangkat perubahan besar pada waktu kita dalam sebuah kota, di mana seumur hidupku, aku tumbuh dari sejuta menjadi lima belas juta.

Mevlut tidak memiliki gagasan politik yang kuat karena ia dekat dengan sepupu sayap ultrakanan, dekat dengan temannya, Ferhat, yang seorang kiri dan Shia loyal, dan ia juga bergaul dengan seorang darwis modern, sufi, dan syekh. Dari semua hal tersebut, ia selalu mendapat beberapa nasihat, bantuan finansial, dan juga beberapa kebijaksanaan, sementara ia tidak mendebat atau terikat secara ideologi. Mevlut tidak memiliki opini politik yang kuat karena ia ingin bertahan hidup di kota yang mempunyai garis divisive yang kuat, tetapi di samping itu, fakta bahwa ia tidak memiliki pendapat, pandangan politik, dan ikatan moral yang kuat, membuatnya lebih mudah untuk mengarahkan antara lingkaran-lingkaran ini dan poin-poin kepentingan lain di Istanbul.

INTERVIEWER

Hal yang luar biasa untuk melihat bagaimana perjalanan hidup seorang penjual kelilingdi Istanbul saling silang dengan sejarah dan politik, meski seperti yang kau bilang, ia bukan merupakan orang yang istimewa dalam politik. Meski bersekolah, rambutnya dipotong karena darurat militer.

ORHAN PAMUK

Terima kasih telah mengatakan demikian, tetapi aktivitas Melvut, pada akhirnya, tidak mengubah sejarah. Dia, dalam pengertian itu, setiap orang, dan dalam novel ini aku ingin menulis cerita dari setiap orang. Kau tahu, aku mengajar Art of the Novel di Columbia University, dan hal pertama yang kita perhatikan adalah jika kau melihat sejarah pada novel, bahwa semua cerita, bahkan yang paling politis sekalipun, telah dikatakan oleh kelas menengah, kelas menengah ke atas, atau bahkan tokoh aristokrat. Dari Steinbeck hingga Garcia Marquez, dari Zola hingga penulis realis, kelas yang lebih rendah digambarkan dalam novel, tapi mereka selalu dianggap sebagai kelas menengah atau kelas menengah atas atau bahkan kalangan aristokrat, seperti dalam Anna Karenina-nya Tolstoy.

Tantanganku dalam menulis novel ini ialah saat membuat rasa kemanusiaan penuh pada Mevlut, dan sebab itulah aku memerlukan waktu enam tahun untuk novel ini—yaitu untuk membuatnya seperti seorang pahlawan Dostoyevsky atau pahlawan Tolstoy atau seorang yang menyerupai tokoh Proust yang berkembang sepenuhnya, tetapi juga tidak begitu penting dalam maksud juga dalam kata, karena kata “pahlawan” datangdi akhir dari etika klasik yang kesemuanya itu berisi tentang prajurit hebat atau wanita yang luar biasa atau tokoh legenda sejarah.

Mevlut berada dalam diri semua orang, tetapi imajinasinya—“keanehan dalam pikiran”—setiap detail tentang hidupnya, kugaris bawahi, sangat menarik. Aku menulis novel ini untuk memberi tahu bahwa semua orang bisa berubah cukup menarik. Kelas menengah, kesalahan intelektual untuk membuat sebuah narasi yang terlalu dangkal, melodramatis, dan sentimentil.  Ini adalah seorang laki-laki biasa, sama seperti aku dan kalian, yang juga sangat miskin. Tinggalkan dia, dan kau akan menemukan hal yang menarik, barangkali aku berbisik pada diriku sendiri.

Share This Story!
Shares
SIAPAKAH JAKARTA | Advertisement spot_img

Popular Articles

Shares