Tuesday, May 17, 2022

Jhumpa Lahiri, Penafsir Duka Kontemporer dan Pelajaran untuk Kita Semua

Baru kali ini saya menyiapkan tuliskan untuk ulang tahun ke-20 sebuah buku. Merayakan kelahiran “bayi”—anak kandung Jhumpa Lahiri—Interpreter of Maladies. Karya yang diganjar hadiah Pulitzer.

…Saya membeli sebuah buku seharga satu euro di Roma, mengambilnya dari setumpuk buku bekas yang berdebu dan langsung membacanya di tengah siang bolong dan sore yang panjang. Saya pikir, tidak ada cara yang lebih baik untuk menghormati sebuah buku.

Dulu saya belum mengetahui apapun tentang penulisnya. Buku tersebut adalah buku yang menggoda saya, yang mengkhianati tanda-tanda sebuah kehidupan yang penuh semangat: sampul yang mulai rusak, kalimat yang digarisbawahi dengan tanda seru di bagian marjin halaman.

Namun faktor penentunya adalah pada judul. Saya tahu saya akan memberi buku kumpulan cerita, dan sebagaimana yang kita ketahui tentang cerita, mereka tidak perlu berdampingan satu sama lain. Setiap cerita dapat menunjukkan sebuah kehidupan yang tunggal dan bebas. Mengurung cerita dalam sebuah buku kadang dapat terasa ‘memaksa’, kecuali ada sesuatu yang memberi kita pertanda pada kenyataan bahwa keberadaan mereka yang berdampingan itu menyempurmakan rasa. Hal itu langsung menyadarkan saya bahwa Interpreter of Maladies adalah pertandanya, bahkan dalam terjemahan bahasa Italia oleh Claudia Tarolo yang cakap, seluruhnya cocok dengan versi aslinya, berkat akar bahasa Greco-Latin dari “penafsir” dan “rasa sakit”.

Seorang penafsir memiliki peran yang banyak: menjadi mediator antara berbagai bahasa; pembaca yang siap dan mampu secara penuh menangkap kerumitan sebuah naskah dan menyampaikan maknanya; seseorang yang menampilkan sebuah musik atau adegan dalam sebuah pertunjukkan dengan penuh penghayatan dan kemewahan. Namun, Jhumpa Lahiri memberikan penafsirnya sesuatu yang agak aneh untuk ditafsirkan: rasa sakit pada laki-laki dan perempuan. Sebuah gagasan bahwa seseorang harus menemukan kata yang tepat dan pas untuk rasa sakit menarik bagi saya. Saya pulang dengan rasa puas dengan buku yang saya beli. Namun saya sudah yakin, bahkan sejak sebelum saya mulai membaca, saya sudah menemukan sebuah definisi yang luar biasa untuk seseorang yang pada dunia global saat ini, memutuskan untuk menyampaikan cerita. Untuk apa keberadaan seorang penulis jika bukan untuk menerjemahkan rasa sakit?

Kesembilan cerita menyampaikan dengan cara yang kaya akan ragam sisi, hidup anak dan cucu bangsa Bengalis yang bermacam-macam taraf, bangsa Amerika. Pada dua kasus, wilayah Bengal menguasai/memimpin/menonjolkan hingga pada titik yang digambarkan tanpa memiliki kaitan dengan Amerika Serikat  (“Durwan Sejati” dan “Pengasuhan Bibi Haldar”). Namun lainnya bercerita tentang para imigran yang asal muasalnya telah menipis, dimana anak-anak mereka tumbuh menjadi bangsa Amerika. Namun cangkokan ini bertahan hingga sampai pada titik mereka merasa tidak betah di Calcutta daripada di Boston, meskipun keduanya tetap terpatri dalam diri mereka. Ini berarti bahwa definisi apapun tentang diri dalam mencari kaitan sementara, hendaknya selalu terdapat faktor pada sebuah kejemuan yang pedih dan menyedihkan.

Kini, tema ini semakin relevan, dan cerita bagaimana sulitnya mempertahankan potongan 3 benua bersama-sama (“Benua Ketiga dan Terakhir” adalah cerita indah yang mengakhiri seluruh buku) menjadi cerita yang lazim di masa ini. Untungnya, masing-masing dari sembilan cerita di dalam buku ini menggambarkan semangat dari sebuah keadaan yang sulit dan kurangnya resolusi. Pada karya pertamanya, Jhumpa Lahiri sudah menjadi pencerita yang luar biasa, dan tokoh-tokoh Anglo-Bengali miliknya memiliki kehidupan yang nyata dalam struktur naratif yang sempurna dengan identitas yang terpecah-belah.

Jhumpa Lahiri memberikan penafsirnya sesuatu yang agak aneh untuk ditafsirkan: rasa sakit pada laki-laki dan perempuan.

Mereka adalah anak-anak yang hilang arah disebabkan oleh misteri kedewasaan (“Ketika Mr.Pirzada Datang untuk Makan” dan “Seksi”). Mereka adalah pasangan suami-istri yang bertahan pada krisis dramatis, persahabatan yang ambigu, perselingkuhan dalam pernikahan, percobaan yang pedih pada asimilasi dalam sebuah pengasingan dunia (“Milik Mrs. Sen” yang luar biasa). Namun yang terpenting, apa yang menjadikan cerita-cerita ini sangat penting 20 tahun kemudian adalah cara mereka diceritakan. Jhumpa Lahiri membangun prolog yang cukup dan sarat dengan detil-detil yang menarik, dijalin dengan beragam benang-benang naratif. Pembacanya semakin awas dengan setiap kalimatnya, tahu betul bahwa pada beberapa bagian akan muncul sebuah peristiwa penting, dan mencari tanda-tanda peringatan. Pengembangan baru ini akan mengubah kehidupan para tokoh dan perasaan para pembaca itu sendiri. Namun saat peristiwa tersebut muncul, hal itu membuktikan bahwa untuk menjadi seperti yang diperkirakan dan yang sama sekali tidak terduga, sebagaimana kesimpulan terhadapnya dimana cerita tersebut mengalir.

“Interpreter of Maladies” adalah bukti bahwa sebuah buku layak mendapatkan sebuah perayaan ulang tahun yang menyenangkan, bukan hanya karena ia sudah sejak lama menyaksikan keadaan sentral manusia, namun karena ia sudah melakukannya dengan kepekaan, kecerdasan, dan sebuah karya seni yang sangat halus.

Saya membaca buku dalam bahasa Itali dan menyadari bahwa bahasa tersebut adalah perhiasan bagi bahasa Inggris. Sebagaimana saya membaca dalam bahasa saya, saya tidak pernah kehilangan pandangan terhadap fakta bahwa itu ditulis dalam bahasa Inggris, bahwa asal muasal para tokoh bangsa Bengali telah menyebar, terbelit, dan membusuk. Tertulis dalam bahasa Inggris bahwa rasa sakit seseorang yang mengikuti cara hidup bangsa Amerika namun menangkap ketidakacuhan pada perbedaan—sangat penuh dengan dirinya sendiri sebagaimana kurang sedikit rasa ingin tahu terhadap sejarah atau geografi bangsa lainnya—menjadikannya puisi. Ini merupakan hal yang penting. Jika dibaca dengan seksama, cerita-cerita ini berlimpah dengan kenikmatan mengekspresikan diri dengan cekatan dalam sebuah bahasa yang sudah digunakan oleh penulis sejak masa kecilnya (metafora dan simile memang selalu mengejutkan). Namun ketika dibaca dengan seksama, mereka juga dipenuhi dengan tanda-tanda ketidaknyamanan linguistik, yang menekankan kebutuhan untuk menumpahkan dan melewatkan kata “istri”. “suami”, “nasional”, “asing”, “seksi”.

Sang Jhumpa Lahiri, yang tidak lebih memilih untuk merasa cukup dengan apa yang sudah ia capai di dunia sastra, sudah mulai memperluas dan memperumit identitas dan perannya sebagai penafsir duka cita kontemporer, melangkah berdasarkan pertanda-pertanda ini. Penulis ini telah menanamkan bahasa Italia ke dalam sifat Anglo-Bengali-nya. Ia telah mempelajarinya dan meleburkan diri pada tradisi sastra sebuah negara yang telah membuat sumbangan besar terhadap lahirnya cerita pendek di Barat. Ia telah melakukan terjemahan sastra Itali, dan untuk menafsirkan tradisi tersebut dengan caranya sendiri. Namun tidak hanya itu. Sebagai hasil dari sebuah penyimpangan yang bermakna dan tidak terduga, ia kini menceritakan penyakit di dunia tidak dalam bahasa Inggris—sebuah bahasa yang sangat kuat—namun dalam bahasa Italia, sebuah bahasa yang indah dengan jangkauan yang terbatas.

Hal ini merupakan Tindakan empatik terhadap politik budaya, sesuatu yang berenang dengan tegas melawan arus. Mr. Kapasi, tokoh yang dikenang dari cerita berjudul besar dalam kumpulannya, mencari nafkah dengan menerjemahkan gejala-gejala yang dialami para pasien Gujarat untuk seorang dokter yang tidak memahami Bahasa Gujarat. Jhumpa Lahiri tampaknya ingin menyampaikan kepada orang-orang berpengaruh di dunia: perhatikan orang-orang Gujarat di muka bumi, kenali mereka, selami keindahan dan sejarahnya, dan hargai perbedaan mereka. Penyakit yang tidak dapat ditafsirkan tidak dapat disembuhkan.

___

Dari pengantar edisi ulang tahun ke-20 Interpreter of Maladies oleh Jhumpa Lahiri, tersedia pada Oktober 2019 dari Houghton Mifflin Harcourt. Hak cipta terjemahan © oleh Jhumpa Lahiri.

*) Domenico Starnone adalah seorang penulis asal Italia, penulis skenario dan jurnalis. Ia lahir di Naples dan tinggal di Roma. Ia merupakan penulis dari 13 karya fiksi, termasuk Trick (Europa, 2018), Ties (Europa, 2017), First Execution (Europa, 2009), dan Via Gemito, pemenang hadiah sastra paling bergengsi Italia, Strega.

Share This Story!
Shares
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Shares