Tuesday, May 17, 2022

Bagaimana Caranya Puisi dapat Meningkatkan Keahlian Menulismu

Seorang copywriter periklanan seringkali diberitahu bahwa mereka butuh bersentuhan dengan puisi. Bagaimanapun, kemampuan untuk mengekspresikan kesan-kesan dan emosi-emosi kompleks dengan hanya beberapa baris adalah hal yang menjadikan seorang copywriter hebat.

Sebenarnya, puisi dapat membantu para penulis dari semua lini, baik seorang penulis novel atau penulis non-fiksi untuk meningkatkan keahlian mereka. Kemampuan untuk memainkan musik kepada pembaca melalui kata-kata atau menimbulkan beberapa kesan tak terlupakan  adalah hal yang semua penulis cita-citakan untuk dicapai.

Jadi untuk merayakan National Poetry Writing Month (NaPoWriMo)iUniverse memeriksa tentang bagaimana kamu dapat menggunakan puisi untuk meningkatkan tulisanmu.

Membaca banyak sajak

Tentu saja tempat terbaik untuk memulai mengembangkan keahlian menulismu adalah dengan membaca sajak-sajak, dan sebanyak mungkin dari mereka. Puisi mempunyai keuntungan dengan bentuk yang pendek, yang mana mengizinkanmu untuk bereksperimen dengan banyak gaya penulisan yang berbeda-beda. Cobalah baca beberapa dan lihat persaan-perasaan dan kesan-kesan apa yang menginspirasimu. Jika mereka meninggalkan sebuah jejak pada dirimu, tanyakan pada dirimu sendiri mengapa, apakah puisi ini yang memengaruhimu demikian?

Untuk permulaan, cobalah membaca “The Raven” karya Edgar Alan Poe, “The Diameter of the Bomb” karya Yehuda Amichai, dan “Hope is the Thing of Feathers” karya Emily Dickinson.

Belajarlah untuk menstimulasi indera-indera

Penyair melukis gambar melalui kata-kata, tetapi lukisan itu tidak terbatas pada penggambaran visual; penyair harus menstimulasi indera penglihatan kita, penciuman, pendengaran, dan indera perasa kita sebagaimana sebuah lukisan dapat melakukannya. Sang penyair menjadi semacam kamera yang menghasilkan gambar-gambar mengejutkan, segar yang menetap terus-menerus di dalam mata pikiran. Baris ini, sebagai contoh, menawarkan kesan yang kuat: “Cahaya matahari mempernis pohon oak menjadi merah tua.”

Cobalah bermain-main dengan gambaran-gambaran dalam tulisanmu sendiri, atau berlatihlah menulis satu dua sajak. Lihat kesan-kesan apa yang dapat kamu timbulkan, dan cobalah memahami mengapa perumpamaan berhasil menstimulasi indera-indera.

Belajarlah menggunakan kata-kata konkrit

Puisi juga mengajarkan kita bahwa lebih baik menggunakan sebuah kata konkrit untuk menggantikan kata yang abstrak. Sebuah contoh untuk kata yang konkrit adalah “hangat”. Ia konkrit karena kamu bisa merasakan kehangatan dengan indera-inderamu-ia adalah hal yang nyata. Sebuah term yang abstrak misalnya “kebebasan” atau “kebahagiaan”, karena kamu tidak bisa melihat atau menyentuhnya.

Menggunakan kata-kata abstrak dalam puisi melompati indera-indera pembaca, berarti mereka tidak merasakan idemu secara utuh. Sebagai contoh: “dia merasa bahagia,” tidak sekuat seperti “pipi merah tomatnya berseri hangat.” Gambaran tentang sebuah tomat, mungkin terlihat aneh, akan bertahan lebih lama di ingatan pembaca karena ia konkrit.

Belajarlah untuk mengkonversi klise

Gaya penulisan apapun yang bertumpu pada hal-hal klise kehilangan dampaknya. Frase-frase yang digunakan secara berlebihan menyerupai roti basi-tidak ada orang yang ingin memakannya. Dia mungkin buta seperti kelelawar, atau sesibuk lebah, akan tetapi hal-hal klise itu compang-camping dan usang dan kehilangan semua kekuatannya.

Sebaliknya, kamu dapat mengkonversi hal-hal klisemu. Sebagai contoh, coba daftarkan semua kata-kata yang kamu asosiasikan dengan keadaan sibuk dan ciptakan sebuah frase baru. Contohnya; “Sibuk seperti seorang perempuan tua yang sedang merajut.” Menemukan frase-frase yang orisinil akan membangkitkan tulisanmu dengan hidup yang baru.

Belajarlah menaklukkan hal-hal yang biasa

Kekuatan puisi terletak pada kemampuan sang penyair untuk melihat objek-objek, tempat-tempat, atau ide-ide biasa dengan cara yang sama sekali baru. Kamu mungkin melihat seorang anak kecil berdiri dalam antrian dengan ibunya, tetapi seorang penyair akan membayangkan seorang anak laki-laki melukis dinding dengan menggunakan cat kuku dan ibunya berjuang untuk tidak marah. Cobalah saja melihat hal-hal biasa dan berusaha untuk melihatnya dengan cara yang sama sekali baru, dan tulisanmu akan menyukaimu untuk itu.

Belajarlah memikirkan tentang tema

Penyair munyukai tema-tema, dan tulisanmu sendiri harus melibatkannya juga. Meskipun begitu, banyak penulis-penulis baru mendapati bahwa sulit untuk berpegang dengan tema-tema. Sebuah tema bukan hanya ide. Kamu tidak bisa mengatakan bahwa bukumu mencakup tema perang karena itu adalah sebuah topik, bukan tema. Kamu dapat mendefinisikan tema sebagai sebuah ide dengan sebuah opini yang menempel. Oleh karena itu, temamu mungkin; “meskipun kita mengklaim sebagai orang-orang yang mencintai kedamaian, perang adalah sebuah aspek alami dari umat manusia.” Ini adalah opini sang penyair.

Tentu saja, masih ada jauh lebih banyak hal terkait puisi daripada hal-hal ini. Saran terbaik untuk membaca sajak adalah membaca setidaknya satu dalam sehari dan menginternalisasi kesan-kesannya, ritmenya, dan perasaan-perasaannya. Pelajari hal-hal seperti metafora, kiasan, dan perangkat-perangkat literatur lain yang dipergunakan oleh penyair. Sekali kamu berpegangan pada puisi, keahlian menulismu pasti sudah berkembang.

Share This Story!
Shares

Check out our other content

Check out other tags:

Most Popular Articles

Shares