Connect with us

Cerpen

12.15.22.5

mm

Published

on

Seseorang yang menyalakan rokok harus menghabiskannya

“Bagaimanapun caranya, sayang. Kau mencintaiku kan?”

“Kau sengaja menghadiaiku rasa pahit ini untuk menghilangkan jejak bibirmu di bibirku.”

Ia tersenyum kecil. Senang, karena berhasil mengerjaiku dengan tembakau yang diberikannya.

“Ayo, habiskan sayang. Kau tidak ingin membuat pemberian nenekku sia-sia kan?”

“Kau terlalu senang mengaturku.”

“Ayolah habiskan. Aku ingin lihat seberapa kuat kamu menerjemahkan rasa pahit yang ada menjadi ritus cinta.”

“Kau harus berikan cintamu sepenuhnya padaku untuk bisa mengaturku. Kalau kau tidak memberikannya secara penuh, yang terjadi dengan cintaku cuma ketidakberdayaan. Dan aku tidak bisa menurutimu.”

“Baiklah akan kuberikan apa yang kau mau. Tapi sekarang habiskan rokok di jarimu itu sebelum baranya memakan habis semua tembakau di dalamnya.”

“Kalau kau ingin aku menghabiskannya, kita harus habiskan berdua.”

Kedua bola matanya yang indah seperti ada lapisan air di bawah permukaan membulat. Warna coklat keemasan pupilnya semakin terlihat jelas dan jernih. Keningnya membentuk lapisan kerutan. Ia tampak sangat mengemaskan.

Aku menyesap dalam-dalam rokok lintingan di sela jari telunjuk dan tengah tangan kanan. Lalu dengan tangan kiriku yang dapat bergerak bebas, aku menggapai tengkuk leher perempuan di depanku ini. Aku menangkupkan bibirku dan bibirnya. Membuat jalur kecil yang menghubungkan ruang mulutku dan ruang mulutnya. Ia mengisap bibirku, sekaligus mengisap udara yang ada di paru-paru hingga mulutku. Memindahkan asap rokok ke dalam ruang mulutnya, menjalankannya keseluruh bagian alat pernafasan sebelum menghembuskannya perlahan keluar melalui lubang hidung. Ia tidak tersedak ataupun terbatuk sedikitpun. Kami sudah biasa melakukan hal semacam ini sebelumnya dengan anggur.

“Akan lebih baik jika nenekmu memberimu marijuana.”

“Sebelum daun-daun itu sampai dimulutmu, nenekku sudah sampai dulu di penjara.”

“Tapi ayahmu jaksanya. Dia tidak mungkin menjebloskan nenekmu di balik jeruji besi.”

“Sayang, papaku seorang yang setia pada pekerjaanya. Dia tidak bakal ambil pusing dengan siapa saja yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Menurutnya, kitab hukum lebih penting di dunia ini daripada kita penuh cerita moral yang tersebar luas dengan penulis anonim itu.”

“Apa anak-anaknya diajari dengan cara yang keras semanjak kecil?”

“Tidak. Papa hanya selalu mengingatkan anak-anaknya agar tidak melewati batas yang telah ditulis dalam kitab hukum. Dia tidak ingin anak-anaknya menjadi penganggu hukum. Makanya, dari dulu papa sering mengajak anak-anaknya datang ke persidangannya buat menonton bagaimana dia menuntut pada terdakwa dengan hukuman yang berat.”

“Lantas apa kau menjadi orang yang takut dengan hukum?”

“Malah sebaliknya. Aku sering bermain-main di batasan hukum itu, meskipun kami memang tidak pernah melangkahinya. Tapi, Aniel…”

“Jangan mengulangi lagi. Kau sudah menceritakannya tadi waktu datang.”

Bahkan, meski tidak menggunakan ganja, aku dan ia sudah tidak waras. Ia terus tersenyum-senyum selama satu menit. Menampakan lesung pipitnya yang selalu tersembunyi jika ia tidak berekspresi. Aku mengelus cekungan itu.

“Tinggal rintik-rintik,” katanya. “Ayo keluar, sayang. Kita cari pelangi. Mungkin kita bisa menemukan emas.”

“Sayang…,” aku pura-pura manja. “Di matamu sudah ada pelangi. Sayangnya dengan warna yang berbeda.”

“Warna seperti apa itu sayang?” ia membalas manjaku.

“Mungkin berwarna diriku? Atau cinta? Atau coklat. Aku kurang yakin. Mendekatlah biar kulihat.”

Ia mendekat juga. Walau aku bisa menebak ia tahu maksudku. Wajahnya berjarak satu buku jari dengan wajahku. Hidung kami bersentuhan. Aku memagut bibirnya. Kami berciuman.

“Bagunlah!” Ia sudah berdiri mengenakan mantel panjangnya yang tadi tergantung dibalik daun pintu. Ia mengucir rambut panjangnya.

“Aku bahkan belum mandi.”

“Momen yang pas, bukan? Kau belum mandi, dan langit pengertian untuk memandikanmu. Bangunlah. Aku mau menunjukan sesuatu padamu.”

Aku bangkit dengan kemalasan yang luar biasa berat. Kulempar sebuah gulungan koran yang kutemukan di bawah selimut ke tengah ruangan. Aku memakai celana panjang dan mantel. Kemudian kami keluar dari apartemen, turun ke bawah melalui tangga.

“Aku titip selai, roti, sama keju,” seru Kakek Hola menghentikan langkah kami. Ia duduk di kursi goyang yang ada di depan pintu apartemennya.

“Baiklah. Nanti aku bawakan,” jawabku sekenanya saja. Aku malas berurusan dengan kakek brengsek yang tak siapapun mau mengurusinya.

“Kau, gadis kecil. Jaga dirimu baik-baik dengan laki-laki ini. Dia tidak sebaik yang kau kira. Dia anjing berbulu kelinci.”

Aranda tersenyum kecil. Membalas: “Bulunya bukan hanya kelinci. Lebih halus dan lembut. Pesona yang mengelabui, Kek.”

“Sudahlah. Jangan dengarkan kakek ini.” Aku menariknya turun. “Apa kau pikir, aku yang tidak mandi ini, halus dan lembut? Kalau itu pikiranmu, aku berterimakasih sekali.” Aku tersenyum lebar.

Ia mencubit pinggangku. Kami tiba di lantai dasar.

“Apa yang mau kau tunjukan padaku?” aku bertanya. Sejujurnya aku sedang tidak ingin keluar bersamanya hari ini. Mungkin tidak, sampai seminggu kedepan. Tapi ia telah datang ke tempatku. Artinya memang ada sesuatu hal yang ingin sekali dilakukannya denganku. Aku menyukai sifat kenesnya. Kekanak-kanakan yang membuatku betah berada di dekatnya.

Sekarang sudah mendekati malam. Ia menarikku, berjalan ke arah balai kota. Kami melangkah beriringan seperti sepasang sepatu. Kami sepasang manusia yang diguyur asmara. Diguyur rintik hujan sebagai mandiku. Hanya satu dua orang yang kami temui sepanjang trotoar. Orang-orang lebih nyaman berada di dalam mobilnya yang hangat untuk pergi kemanapun. Toko-toko yang biasanya memajang jualan hingga mempersempit pejalan kaki, memilih mengurung diri di balik dinding kaca. Berharap ada orang yang berhenti berjalan, lalu masuk membeli. Kurasai tanganku semakin dingin. Apa Aranda juga kedinginan? ia tidak kuat dengan hawa dingin. Pertamakali aku menemukannya setahun yang lalu, ia mengigil seperti habis melihat neraka di lantai dasar apartemen. Mungkin dengan setengah sadar, ia kubawa naik dan pingsan di atas ranjang. Ia begitu cantik waktu itu meski dalam kondisinya yang sakit. Ia terbangun keesokan harinya dengan ingatan yang sedikit hilang. Yang pertama dikatakanya begitu sadar adalah, apakah kau memperkosaku? Itulah pertanyaan paling melecut emosi dengan cepat. Aku langsung keluar kamar dan meninggalkannya seharian. Berharap ia pergi dengan sendirinya. Sore harinya, begitu aku balik ke apartemen, ia masih ada di sana. Hanya mengenakan dalaman saja. Bukan emosi seperti tadi pagi, aku malah ingin mengajaknya tidur bersama. Bukan bercinta. Aku belum pernah bercinta dengan perempuan manapun. Perempuan biasanya hanya kuajak tidur bersama untuk saling berbagi kehangatan. Itu bukan sebuah nafsu. Seminggu penuh ia berada di apartemenku. Tidak kunjung pulang ke rumahnya atau setidaknya keluar dari dalam apartemen. Ia hanya tiduran dan bangkit melakukan peregangan otot-ototnya. Selama itulah aku mulai menyukainya. Perempuan yang bahkan namanya baru kuketahui sebulan kemudian ketika menonton pertunjukan teater yang diadakan kakaknya.

“Naikan kerah mantelmu. Kau kedinginan,” ujarku.

Aranda meliriku. Dan melakukan yang barusan kukatan.

“Apa salah satu dari kedua laki-laki yang menuju ke sini itu Aniel?” tanyaku. Mataku agak mulai rusak juga gara-gara menulis hanya diterangi lilin beberapa minggu yang lalu.

“Kau tahu, kakakku itu kayaknya berorientasi gay.”

Aniel dan lelaki yang bersamanya semakin mendekat dari arah depan. Berjarak sepuluh gedung lagi. Brengsek! Ternyata memang Aniel.

“Sayang, aku mau buang air kecil sebentar. Kau tunggu disini. Jika nanti Aniel datang, bilang saja kau sedang berjalan-jalan sendirian.”

“Cepat. Aku tidak suka menunggu lama.”

Sepertinya ia tidak memperhatikan kalimat terakhirku. Masa bodoh dengan hal itu. Yang penting aku harus menghindari Aniel dulu sekarang. Aku menyelinap masuk ke dalam toko pakaian tempat kami berdiri. Aku langsung meminta sama penjaganya untuk  mengizinkanku menggunakan kamar mandi yang ada. Ia menunjukan keberadaannya di bagian belakang. Di dalam kamar mandi, aku tetap membuang air seni. Setidaknya, aku tidak berbohong. Lima menit, terlewat atau belum? Kurasa aku sudah terlalu lama di sini. Mungkin Aniel dan temannya sudah berlalu. Aku keluar, kembali ke depan. Brengsek! Aniel masih berdiri dengan Aranda di trotoar. Karena tidak mungkin kembali masuk lagi, akhirnya aku berdiri di balik bagian tembok yang tidak berkaca. Mendengarkan pembicaraan kakak beradik itu.

“Kakak carilah pasangan yang benar,” kata Aranda. Ia dan kakaknya menjauh dari temannya Aneil.

“Apanya yang benar. Sekarang, dimana kekasihmu itu?”

“Kau mengalihkan pembicaraan, kak. Apa kau benar-benar seorang homoseksual?” Pertanyaan yang dilontarkan Aranda sungguh gila. Apa mungkin ia sudah tidak tahan melihat sikap kakaknya? Aku hanya bisa menebak-nebak saja. Aku belum menjadi bagian dari keluarga itu.

“Dimana kekasihmu itu? dia punya utang padaku belum dilunasi.”

Brengsek! Kenapa ia harus mengatakannya kepada Aranda. Padahal  aku sudah mendoakan semoga teaternya diminati agar ia punya uang dan melupakan utangku, tapi sekarang ia malah mempermalukan aku dihadapan adiknya. Bregsek kau!

Aranda terhenyak sejenak, sebelum kembali meluap. “Aku akan adukan kau kepada ayah agar kau digantung!”

“Adikku yang baik,” Aniel meletakan kedua tangannya di pundak Aranda. “Cinta adalah cinta. Batas cakrawala tidak bisa membentenginya. Biar kutentukan cintaku dan kau tentukan cintamu. Kau boleh dengan kolumnis kere itu. Asal, suruh dia bayar utangnya.” Semua katanya ia katakan dengan nada penuh penekanan. Dan Aranda hanya bisa terpana dengan kemampuan akting kakaknya.

Sementara Aranda berdiri terpaku, Aneil kembali meneruskan jalannya dengan temannya itu. Atau boleh kubilang kekasihnya. Dasar homo. Brengsek!

Aku keluar dengan pura-pura merasa lega. Namun, Aranda tidak bisa dikecoh.

“Kenapa kau tidak minta bantuanku.” Ia menatapku.

“Lihat.” Aku memandang Aneil dan kekasihnya dari belakang. “Mereka bermesraan di tempat umum tanpa malu.”

“Aku tahu, aku tahu, aku tahu Aneil seorang gay.” Merengek. Ia mulai tidak beres. Aku meraih tubuhnya. Memeluknya. Mengusap rambutnya. Ia pernah bilang padaku, bahwa ia sangat suka rambutnya diusap-usap. Itu bisa membuatnya merasa disayangi.

“Ayo.” Ia melepaskan diri. Kami kembali berjalan. Intensitas rintik hujan bertambah.

“Dulu aku pernah hanya memakai dalaman di kamarnya. Tapi ia tidak bereaksi apapun. Sejak itu aku mulai curiga ia tidak berniat pada perempuan. Apalagi setelah adanya teater itu. Ia selalu menulis drama yang banyak diperankan laki-laki. Ia mengambil kesempatan sebagai penulis sekaligus pemain.”

“Kau sangat peduli terhadap semua orang.” Hanya itu komentarku?

“Aku akan membayar utangmu padanya. Juga nanti gunakan uangku dulu untuk titipan si kakek tadi.”

“Jangan.” Aduh, ia benar-benar peduli. “Aku bisa melunasinya. Kau jangan terlalu mengaturku.”

“Kau meminjam dariku. Aku tahu kau pasti tidak pernah mau dibantu, meski sudah kuberikan cintaku sepenuhnya padamu.”

“Listrik di apartemenku diputus dua minggu lalu. Baru tiga hari lalu hidup lagi setelah pinjam dari Aniel. Aku sedang mengalami masa kebuntuan.”

“Kenapa kau tidak mencoba menulis puisi? Atau naskah drama? Kau bisa menjualnya kepada Aneil untuk membayar utang.”

“Akan kucoba nanti.” Aku merangkulnya.

Hujan semakin deras. Toko-toko menutup pintunya rapat-rapat. Kami bingung harus berteduh dimana.

“Kotak telepon.” Ia menarikku masuk ke dalam. Kami saling menempel. Saling menghangatkan. Kotak telepon yang nyaman. Sempit dan cukup bagi kami berdua untuk berbagi ruang dan tatapan.

“Kita akan di sini terus?”

Ia mengambil gagang telepon dan menjulurkannya padaku. Aku menerima.”Siapa?”

“Dua belas, Lima belas, dua-dua, lima.”

“Pelan-pelan.”

Ia mengulangi lagi. Ia bicara dan aku menekan tombol nomor yang dimaksud. Kudengarkan baik-baik. “Nomornya salah.”

“Tidak akan pernah bisa.” Ia mengambil gagang teleponnya, dan menaruhnya kembali. Ia menatapku.

“Kemarin Anile menerima sebuah surat yang isinya angka-angka tidak berututan. Ia menunjukan padaku bermaksud meminta bantuan memahami maksudnya. Aku tahu maksud dari isinya, tapi aku tidak memberitahukan yang sebenarnya. Aku hanya mengatakan mungkin dari orang yang iseng.”

“Apa isinya?”

“Isinya adalah pesan cinta dari laki-laki yang tadi jalan bersama Anile. Angka-angka itu merupakan semacam sandi. Kurasa itu sandi caesar. Transkripsi angka-angka itu sangat mudah. Yaitu urutan huruf secara alafabe. Kukira, laki-laki tadi sengaja tidak menunjukan maksudnya secara langsung. Tapi, mungkin Aneil sudah mengetahuinya sendiri hal itu. Ia tadi begitu senang jalan bareng laki-laki itu.”

“Jadi, dua belas, lima belas, .…”

“Dua belas, lima belas, dua-dua, lima.” Ia membantuku. “Apa cinta bisa melampaui cakrawala? Seberapa jauh kekuatan cinta bisa melampaui batas cakrawala?”

Aku menghitung dengan jari huruf ke Dua belas, lima belas, dua-dua, dan lima. Aku menatapnya. “Love.” Ia menatapku. Aku menciumnya. Ciuman panjang yang tidak memengal nafas. (*)

 

____________

*) FARRAS PRADANA lahir pada 26 Mei 2001 di Lombok Timur karena ayahnya yang menjadi guru di tempatkan di sana. Pada 2003, dia sekeluarga pindah ke tempat asal orang tuanya di Kulon Progo. Dia menempuh seluruh jenjang pendidikannya dari TK, SD, SMP, dan SMK di kabupaten itu. Saat kelas dua SMK dia mulai menekuni dunia tulis-menulis. Akhir Januari 2019, untuk pertama kalinya, cerita pendeknya  yang berjudul “Menerbitkan” berhasil dipublikasikan secara luas di media daring Basabasi.co.

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Panggilan Masuk Untuk Orang Mati

mm

Published

on

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang.

Oleh: Inas Pramoda *)

Bapak mati. Tak perlu aku memperhalus kata. Meninggal, wafat, berpulang, jasadnya sama-sama terkubur satu depa di bawah tanah. Seribu hari lagi juga bakalan menyusul jadi tanah. Dan kalau pusaranya ditanami rumput teki, bakalan tumbuh subur, sebab tanahnya peroleh nutrisi dari daging bapak hingga jadi humus. Dua kali ibu menelepon dari rumah selepas bapak mati. Pertama buat mengabari kalau bapak mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati. Kali keduanya panggilan masuk dari ibu, untuk sebuah pertanyaan singkat, “Marian, kamu ingat pin ATM Bapak?”

Untung saja aku ingat. Tak lain tanggal lahir Ras, adik bontotku. Sementara pin ATM ibu juga aku hafal betul, yang merupakan tanggal lahirku. Mengapa juga mereka berdua senang sekali bikin pin pakai tanggal lahir anaknya? Padahal seumur-umur aku buat pin, dan Ras juga sepertinya, tak pernah kepikiran pakai tanggal lahir mereka.

Bapak mati tanggal 14 bulan 5. Mungkin satu hari nanti ini bisa kugunakan jadi pin, atau kode gembok koper. Hari itu, aku tak bisa mengantar keranda bapak sampai ke San Diego Hills. Dan stok baju setelan hitamku tertinggal di rumah semua. Jadi saat hari berkabung, aku tetap mengenakan jaket hodie hijauku. Foto terakhir bapak saat masih terbaring di ICU tampak kurus, pipinya agak cekung, dan garis tulang rahangnya terlihat tegas. Yang di pikiranku adalah, itu bakal mengurangi beban bagi para penggotong kerandanya, juga orang-orang yang ikut menurunkan badan kaku bapak ke lantai tanah.

Om Hendra, adik bapak, ia yang meluruskan mayat bapak dan melepas ikatan kafannya mulai kepala. Sebelum lahadnya bakal ditutupi papan kayu yang hanya berjarak sekilan dari badannya yang lambat-lambat membusuk. Om Hendra jadi kerabat bapak paling dekat hari itu, sebab om-om yang lain sudah lebih dulu mati. Sementara Ras, putra kandung bapak, tak ada di rumah. Mungkin juga nanti kalau aku mati, dan suamiku sedang dinas keluar kota, maka Ras yang bakal turun merebahkan jasadku ke lubang kubur.

Berita bapak mati bisa jadi kabar buruk, tapi ada juga baiknya. Sewaktu bapak masih dirawat, aku masygul untuk ikut wisuda. Sebab khawatir kalau nunggu sampai wisuda keburu bapak mangkat. Kalau terlanjur begini, sudah barang tentu toga yang masih anteng di lemari itu bakalan kupakai. Setidaknya setelah bapak mati, ada beberapa hal yang jadi terang, ada beberapa keputusan yang bisa segera diputuskan. Hanya ada satu yang sempat kepikiran, bagaimana sebetulnya prosesi salat gaib yang layak?

Aku cukup rajin salat lima waktu, kubilang cukup karena ada yang terpotong libur bulanan. Namun salat gaib, kukira ini yang perdana. Aku mesti cari tahu dulu keterangannya di internet, dan karena dulu bapak pernah berpesan jangan percaya bulat-bulat apa yang terpampang di situ, aku meminjam buku yasin tahlil milik teman. Dan dari temanku itu, berita kematian bapak merembes dari kuping ke kuping. Hingga akhirnya banyak temanku merasa iba. Sebagian lagi kikuk bagaimana menghadapi orang yang sedang berduka. Kebanyakan adalah orang-orang golongan kedua ini.

Gambar kuburan bapak yang masih basah lalu beredar di media sosial, sambil beberapa menandai nama bapak, juga menyebut namaku dan Ras. Kebanyakan diunggah oleh sepupu dan tante yang datang melayat. Satu yang kusadari ketika orang yang kamu sayangi mati adalah, teleponmu akan lebih ramai dari hari-hari yang lain. Seperti euforia yang sesaat. Sebelum kemudian ingatan orang-orang disibukkan dengan perkara kecil lain yang tak boleh mereka luputkan. Dan perkara kecil itu tak termasuk kematian bapak.

Bagiku setelah bapak mati, itu hanya akan menambah alasan untuk melawat San Diego Hills. Aku bisa sekalian gelar tikar dan mengadakan piknik kecil-kecilan di sana. Pemakaman swasta itu memang dipermak sedemikian rupa hingga para peziarah tak perlu merasa takut, walau harus datang menjelang malam, atau malam sekali pun. Kalau saja tak ada tanda pengenal orang mati, tempat itu serupa taman kota, atau alun-alun. Sepertinya memang bagus kalau pemakaman jadi tempat yang menyenangkan. Meski di bawah tanah tetap dingin, dan cacing berkelindan dengan belulang. Dan bapak mungkin berbagi daging dengan cacing-cacing yang menggemburkan tanah di peraduan Om Rupawan. Toh nisan mereka bersebelahan.

Ternyata sepetak tanah itu sudah dibeli bapak jauh-jauh hari. Sejak kanker mulai menggerayangi tubuh kecilnya yang kian musim kian ceking. Bahkan orang mati masih ingin dikumpulkan bersama orang-orang terdekatnya, aku membatin. Dan sempat terpikir di tempurung kepalaku, apa perlunya begitu? Walau kubur berdempetan juga, kalau sudah jadi mayat tak mungkin kelayapan. Namun ibu potong, “Biar yang ziarah bisa sekalian ngunjungin kerabat.” Itu alasan yang bagus, dan tak perlu ditampik-tampik lagi. Aku harus belajar untuk mengarang alasan semacam itu, agar tak melulu diteror dengan pesan masuk berpuluh-puluh dari seorang lelaki yang menyangka kita pernah demikian dekatnya, dulu.

Ibu baru saja mendarat tadi sore. Hanya menenteng satu koper kecil yang isinya kastangel dan putri salju, juga rok batik yang ia pesan untuk kukenakan saat wisuda besok. Namun sial betul, hingga menjelang tengah malam, hujan tak kelar. Yang berarti esok bakal becek-becekan. Itu masih mending kalau bukan hujan lagi. Kampus pintar sekali menjadwalkan wisuda saat minggu basah begini, dan lebih pintar lagi karena menyiapkan tempat di lapangan. Serampungnya cari makan malam tadi, ibu langsung lemas terlelap. Kalau ada bapak, semestinya ia ikut terlelap di samping ibu sekarang. Karena bapak sudah mangkat, ia hanya datang lewat cerita-cerita ibu seharian tadi. Meski tanpa air mata, cerita ibu malah terdengar lebih menyayat lagi. Bisa kudengar getir kesepiannya saat mulai bercerita Kartu Keluarga yang baru telah dicetak, dan ibu kini jadi kepala keluarganya.

“Sekarang anak-anak gak boleh pulang malem-malem lagi, nanti ibu kunci dari dalem. Tidur di luar.”

Aku susah sekali tidur, padahal tujuh menit ke depan sudah bakal jam tiga. Dan nanti sebelum genap jam delapan kudu berkumpul di kampus. Mataku bergantian melirik layar hpku, lalu layar hp bapak. Itu dibawa ibu dari rumah, dan dibiarkan menyala. Sengaja kata ibu hp bapak tak dimatikan, bukan karena alasan sentimental misalnya banyak tertimbun foto mereka berdua di sana, tapi karena banyaknya langganan dan tagihan yang memakai akun bapak, nomor bapak. Jadi nomor hp bapak dibiarkan aktif, meski itu berarti pesan-pesan masuk ke nomor tadi terus berdatangan, dan terus mengganggu.

Ibu menepuk-nepuk pahaku, tak sampai menyakiti tapi cukup untuk membangunkan. Kelopak mataku rasanya berat, seperti ada kepompong yang memaksa bergelantungan di sana dan enggan jatuh, jadi aku hanya bisa membukanya perlahan, demikian pelannya. “Marian, kamu mau terus tidur apa wisuda?” begitu saja tanya ibu.

Wisuda itu aku membopong sepatu cantikku alih-alih mengenakannya seperti tuan putri. Dan terlihat jelas sendi-sendi jemari kakiku yang bulat-bulat. Sandal jepitku anggun sekali diapit dua jari yang biasa kugunakan untuk menyubit paha temanku saat bermain-main itu. Hari ini tepat 40 hari bapak mati. Kalau langit hujan karena menangisi bapak, akan lebih baik kalau ia diam saja, dan aku tak perlu menenteng-nenteng sepatu sambil menunggu rangkaian acara wisuda kelar. Belum lagi pakai jas hujan tembus pandang yang disiapkan kampus, agar toganya masih kelihatan. Sempurna.

Seharian yang melelahkan, dan menyenangkan, melihat orang-orang di sekitarku merayakan hari ini. Bagiku, dua perayaan. Perayaan kelulusan, dan 40 hari bapak mati. Dipikir-pikir, dengan matinya bapak, itu juga mengurangi biaya tiket pulang-pergi. Mungkin yang satu itu harus disyukuri. Namun tetap saja, semua jadi sepi. Ibu mengumpulkan aku dan Ras untuk membaca doa selepas isya. Bukan artinya kami hanya berdoa sekali waktu itu, tapi ini sedikit istimewa saja. Aku lelah. Ibu dan Ras juga mungkin lelah, tapi Ras habis dapat sepatu baru, dan ibu beli termos tenteng baru. Kedua-duanya itu, sepatu dan termos, bisa dibeli di rumah, kenapa mesti jauh-jauh ke China, protesku.

“Yang di rumah juga made in China Mar, sama aja toh,” tungkas ibu.

Malam itu aku habiskan dengan merapikan ponsel bapak. Aku meninggalkan obrolan-obrolan grup tak penting biar tak bikin ribut. Mungkin menurut bapak itu penting, tapi menurutku tidak, dan tak ada sangkut-pautnya dengan tagihan, jadi aku keluarkan. Aku membuka email-email masuk yang belum sempat dibaca, membalasnya bila perlu dibalas, dan memastikan tak ada sisa dari kotak masuk yang belum terjamah. Aku rasanya berperan menjadi bapak, sedikit. Ibu sudah jadi kepala keluarga baru. Ras? Anak yatim. Kalau dipikir seperti ini, makin yakin aku bapak betul-betul telah mati.

Lalu sesaat saja setelah aku menggeletakkan ponsel bapak di samping lampu meja, ia berdering. Panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal. Padahal lampu sudah kumatikan, dan tinggal aku yang terjaga.

“Halo, malam.”

“Malam.” Suara wanita.

“Ini dengan siapa ya?”

“Betul ini nomornya Pak Nugros?”

“Iya, betul, dengan siapa ya?”

“Baik kalau begitu, Bapak ada?”

“Ini dengan siapa ya?”

“Bilang saja, ini dengan istrinya.”

Aku melihat ibu agak menggigil di sebelah. Kunaikkan sedikit selimut hingga ke tengkuknya. Lalu kumeraba-raba meja di samping kasur buat menggapai remot ac, dan menaikkan suhu di kamar. Selama jeda itu panggilan belum terputus. Untunglah.

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang. “Dan mohon, setelah ini, jangan menghubungi nomor Bapak lagi. Bapak sudah mati.” Baru kemudian aku yang menutup panggilan duluan. Aku mengelus kepala ibu, dengan alasan yang sentimental. Ibu sudah jadi kepala keluarga, Ras anak yatim, dan aku baru saja menerima panggilan atas nama bapak. Jadi benar, bapak sungguh-sungguh telah mati. (*)

Rabat, 8 Juli 2019

_______

*) Inas Pramoda lahir di Jakarta, 11 Agustus 1996. Merantau ke Singosari—bekas kerajaan yang menyisakan candi-candi—selepas sd. Bergabung dengan teater Sajadah Senja sewaktu sma, memilih jurusan bahasa dan sastra. Kuliah di Maroko sejak 2014, terhitung sampai 2019 ini sedang menempuh master perbandingan agama di Univ. Hassan II Casablanca. Inas Pramoda—meminjam istilah Seno—seorang Homo Jakartensis. Penulis antologi puisi “Purnama Merah” dan “Kasus Rindu”. Bisa disapa di ig: @inaspramoda

 

Continue Reading

Cerpen

Christin, dan Senja yang Hilang

mm

Published

on

Senja selalu memungut hal-hal yang berbeda tentang orang-orang yang berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda. Senja kali ini mengisah sekaligus mencatat kisah tentang umat Tuhan di sebuah kampung. Dia, nama kampung itu. Silvano sedang duduk dengar kisah om Anselmus, Om Lazarus, om Bone, om Matius, dan om Don di sebuah Compang (Mesbah) di tengah kampung Dia. Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan…

by Melki Deni *) 

Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan dalam agama, umat kampung Dia sangat antusias terhadap kegiatan-kegiatan gereja. Entah bagaimana sampai umat kampung Dia berikan sebidang tanah untuk bangun tempat ibadat. Itu kurang terlalu penting. Sekitar tahun 1970-an mereka mendirikan kapela kecil, rumah Tuhan di dekat jalan raya dan kali besar, sumber batu dan pasir. Ekskavator dan truk belum tampak. Apalagi gerobak. Umat harus pikul batu dan pasir dari kali menuju tempat dirikan kapela kecil. Umat abaikan kesibukan di kebun masing-masing demi Tuhan dan kemudahan bagi pelayan Tuhan melayani umat Tuhan di satu tempat saja. Tak terhitung jumlah babi, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain mati karena tak terurus baik selama berminggu-minggu. Ibu-ibu dan nenek-nenek hanya mengurusi anak-anak yang terbaring lemah karena gizi buruk, penyakit kulit dan serangan dukun santet di rumah bergubuk bambu reyot.

Malam selalu tuli bisu. Terang pelita bermerah tua dan tidak meluas. Kakus belum terbayang-bayang. Jika mau buang air malam-malam, bawa obor bersumbu besar dan ditemani dua atau lebih orang. Sebab, setan-setan berkeliaran menari-nari di bawah kolong dan di sekeliling rumah. Malam-malam terdengar suara bayi-bayi setan menangis di atas atap rumah, setan tua menghantui lewat jendela, dan seringkali mencekik manusia dalam mimpi. Iya, malam memang telanjur mati rasa.

Subuh pun seringkali gagap kata. Tak jarang subuh memberitakan orang-orang kerasukan setan yang tinggal di hulu air. Sebab waktu itu semua warga di kampung Dia harus timba air, mandi, dan cuci di satu pancuran. Itulah alasan mereka membutuhkan dan mencari Tuhan di dalam agama. “Manusia sekarang memang tidak percaya akan adanya setan dan kekuatan destruktifnya. Sekarang setan hadir berupa rupa-rupa teknologi.” Lanjut om Lazarus. Memang sebelumnya mereka bertuhan dalam agama Islam. Namun entah mengapa sejak sekitar tahun 1990-an mereka beriman kepada Yesus Kristus dalam agama Katolik. Om Anselmus bertutur bahwa sebelum nenek moyang mereka beragama Islam, mereka beragama Katolik. “Pokoknya mereka selalu pindah masuk agama.” katanya. “Tapi ‘kan Tuhan tetap satu?” tanya om Bone sambil membuang asap rokok.

Dua tahun kemudian.

Senja membalikkan kisah damai yang menteramkan relasi mesrah antara Tuhan dan umat kampung Dia. Senja itu seorang anak kecil menangis di sudut tempat tidur. Namanya Chirstin. Ia tak mau makan seusai pulang sekolah, tidak belajar dan tidak bantu orangtuanya. Ibu mulai pikir yang tidak-tidak menimpa anak yang manis itu.  Sedangkan sang ayah sedang berpikir tentang anggaran dana syukuran atas Penerimaan Komuni Pertama anaknya. Biasanya bulan Oktober itu masih musim panen jambu mete. Namun kali ini jambu mete tidak berbuah banyak seperti setahun lalu. Malam terus berlarut mereka bertanya mengapa anaknya menangis sejak pulang sekolah. Dia menangis karena dengar berita pastor paroki sudah keluarkan surat sanksi pastoral terhadap umat kampung Dia bahwa tidak akan ada pelayanan pastoral, tentu termasuk Sakramen sakramentali. Padahal mereka sudah siapkan semuanya, termasuk penagakuan dosa sudah dijalankan sehari sebelumnya. Mereka tentu mau seperti umat yang sudah terima Komuni Suci, bisa masuk seminari setelah tamat SD, jadi frater, pastor, bruder, suster, dan bisa mendapat status beragama.

Apa masalahnya sampai keluarkan surat sanksi pastoral seperti itu?

Kapela dan tanah di sekitarnya!

Ada apa dengan tanah itu?

Saya dengar samar-samar saja, masalahnya kita umat kampung Dia sudah bongkar kapela dan rebut kembali tanah di sekitar kapela.”

Memangnya kamu lihat kapela sudah dibongkar?

Tidak!”

Christin ketiduran seusai ceritakan masalah itu, sedangkan orangtuanya sibuk memikirkan masalah itu. Mereka juga bingung mengapa diadakan sanksi tanpa ada permasalahan.

Tuhan kita sedang lumpuh?

Christin mengigau. Orangtaunya sadarkan dia.

Kata siapa? Kau jangan omong seperti itu! Cukup kali ini berkata begitu. Itu penistaan agama.

Kata seorang kakek di dalam mimpi tadi. Kakek itu tinggal di sebuah gua kumal yang saya tidak pernah kenal sebelumnya di dunia nyata.”

Mustahil Tuhan lumpuh, nak! Itu takkan pernah terjadi. Jika itu benar, cakrawala dan bumi lenyap serentak. Dan kita pun tentu musnah sebelum cakrwala dan bumi runtuh total.”

Itu tidak berlebihan, ma pa.”

Sekali lagi, jangan katakan itu, nak. Awas orang-orang dengar dan viralkan itu melalui media. Lalu engkau akan melanjutkan sekolahmu di dalam penjara.”

Terserah. Lebih baik tinggal di penjara daripada hidup di luar, pa. Tapi di manakah Tuhan lumpuh ketika masalah ini sedang terjadi ? Saya mau mengobati Tuhan di mana saja. Tuhan tidak adil betul.

Tuhan tidak lumpuh. Hanya pikiran, sikap iman dan penghyatan iman kita yang lumpuh, nak!” sahut ibunya.

Oh iya. Kakek itu bilang Tuhan dilumpuhkan di mimbar-mimbar, ma. Tuhan dilumpuhkan demi kepentingan-kepentingan para pengkhotbah, ma.”

Tidak nak. Tuhan menghindar saat mau dilumpuhkan.”

Terus, di mana Tuhan sekarang, ma?

Ibunya mulai menjelaskan dengan peunuh kesabaran. Mengkin saja Tuhan sedang pesiar di Roma, Israel, Jerman atau Rusia. Tidak mustahil Tuhan sedang mendengar pengakuan dosa para perampok, koruptor, penculik, pemerkosa, investor kapitalis, cendikiawan idealis dan para pengobral murah gadis-gadis di pasar-pasar. Dapat terjadi Tuhan sedang mendengar baca mazmur para nabi sekuler materialis. Boleh saja jadi Tuhan sedang menangisi para imam feodalis yang sedang meraup tanah-tanah para petani miskin lagi melarat di kampung. Atau Tuhan sedang hitung jumlah oknum-oknum mati karena bunuh diri, obesitas, keracunan, stunting, kelaparan, perubahan iklim, dan penyakitan di dunia yang bisu. Barangkali Tuhan sedang jalan-jalan ke rumah-rumah para wakil rakyat, mencatat jumlah perut yang terlampau buncit akibat menelan mentah-mentah uang pajak tanah rakyat yang tak mampu dikelola. Tidak menutup kemungkinan Tuhan sedang melawati umat yang menderita sakit, miskin papa, tersingkirkan, terbuang, pengemis, gelandangan, tawanan, dan kaum buruh kasar.

Tapi, kok selalu mungkin, ma. Tuhan tinggal dalam kemungkinan begitu, ma?

Sudahlah. Itu kurang penting. Yang terpenting, nanti kita kerja sama dengan semua umat,  tanyakan ke pihak keuskupan tentang masalah apa saja yang dapat diberikan sanksi pastoral terhadap umat. Lalu kita coba laporkan masalah ini ke pihak pemerintah, karena ini termasuk pencemaran nama baik umat.

Sudah satu tahun masalah pelik nan sedih ini tidak kunjung usai. Pihak paroki (baca: pihak keuskupan) tidak bertanggung jawab terhadap sensus fidelium umatnya. Pemerintah setempat juga memalingkan diri dari antusias religiositas masyarakat. Setahun umat Tuhan tak bertemu Tuhan dalam Misa Kudus, Ibabat, Pengakuan Dosa, anak-anak tidak menerima Permandian Suci, tidak diberi kesempatan menerima Komuni Pertama, dan  pernikahan umat tidak direstui secara gereja. Dosa-dosa umat menumpuk dan mau tumpah di atas tanah yang gersang. Tuhan, Engkau di mana? Semoga Tuhan tidak dipasungkan di dalam gulungan uang merah. Semoga Tuhan tidak dilumpuhkan di dalam khotbah- khotbah panjang para nabi modern yang kapitalis-materlis. Tuhan. (*)

Catatan: Mohon maaf bila ada persamaan nama dan kisah.

___
*) Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, berasall dari Reo-Manggarai. Ia bergabung dalam kelompok sastra ALTHEIA, KMK-L, dan penyair lepas pada beberapa media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Pasung

mm

Published

on

Perempuan yang memasung kaki di rumahnya sendiri itu memberikan anda keberanian untuk menjadi penjaga. Ibu anda pernah meninggalkan pesan sebelum berpulang, bahwa ia tidak pernah menyesal duduk di sisi ayah anda—Oh. Lelaki yang pandai menyanyikan lagu – lagu moyang dan itu jadi bahan komedi seantero negeri. Apakah anda ingin meneruskan cerita? Apakah keberanian yang selama ini anda cari sudah anda temukan?

By; Dee Hwang *)

Kekasih anda datang dengan ancaman yang satu. Katanya, kalau anda pergi, ia akan memutuskan hubungan. Anda tidak tahu apakah ia takut kehilangan anda atau ia takut menyandang predikat gadis tua atau ia cuma takut kehilangan tambang uangnya saja. Gampang nian keputusan itu meluncur, sampai – sampai sudah kebal anda dengan penyakit jenis ini. Anda bahkan tidak menggubris ketika terakhir kali ia melakukan hal yang sama—ia menolak gagasannya tentang konsep berumah tangga dan ia merusak akuarium anda.

Ia tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam rumah anda. Di tangannya, sebuah koran yang beritanya baru saja anda tunjukkan ada di sana. Kekasih anda menolak ikut serta. Ia tak mau miskin. Ia pun sudah mengakarkan dirinya pada hal – hal baru, termasuk pada yang kian hari kian melancipkan bulu mata dan meruncingkan dagunya. Anda mengangkat tangan—sekat antara anda dan kekasih anda jadi jelas. Oh. Kekasih anda jadi punya banyak waktu untuk mencercah keputusan anda. Anda sudah bisa menebak apa yang ada di kepalanya. Meski berulang kali anda menjelaskan bahwa anda punya alasan untuk kembali ke tanah kelahiran anda, di akhir perbincangan nanti, ia akan merusak koran itu jadi beberapa bagian.

***

Anda menemukan berita itu pagi ini. Judulnya, seorang perempuan dari dusun anda sedang memasung dirinya sendiri. Anda yakin ia tidak gila, tapi orang – orang menganggapnya gila. Ia tentu tidak miskin, meski orang – orang menganggapnya tak punya apa – apa. Dunia menertawakannya, sementara anda tahu betul apa yang membekukan garis senyum anda. Hati anda terluka, meski anda yakin perasaan tak seimbang apapun di dunia ini tak akan menggoyahkan keputusan si punya berita.

Anda mengemas satu koper pakaian. Cukup. Anda berencana kembali ke tanah kelahiran anda, menemui perempuan itu, mengajaknya berbincang – bincang, mungkin tinggal dalam waktu lama. Kekasih anda uring-uringan. Ia merasa punya alasan mengapa harus memutuskan hubungan. Katanya, anda bisa saja selingkuh. Siapa menjamin? Lagi, apakah anda tahu apa yang membuat seseorang berlaku tidak maju? Mereka cenderung kolot. Apakah anda tahu apa yang membuat orang-orang itu kolot? Mereka tidak tahu apa-apa tentang dunia. Apakah anda mau diletakkan di belakang?

Kata Ibu anda, setiap manusia diciptakan berpasang – pasangan, namun setiap manusia diciptakan dengan pasungnya sendiri – sendiri. Tidak semua orang memahaminya apa yang harus mereka lakukan dengan pasung pasangannya, kecuali, bila sudah berbagi pikiran dan bisa menerima.  Apakah kisah dari Ibu anda—yang menyatakan bahwa ia juga orang yang memahami bagaimana menjadikan pasung menjadi pasang—akan sama dengan masa depan anda? Anda tidak tahu. Anda hendak melakukan perjalanan dengan hati lapang bukan karena anda menginginkan sesuatu. Mungkin, karena perempuan yang memasung kakinya itu, maksud saya, ia yang mau menanamkan kaki ke dasar rumahnya sendiri, mencintai asalnya. Orang lain menganggapnya bodoh. Mengapa perempuan itu mau meninggalkan peluang di bidang yang lebih maju, lebih mentereng gaulnya, lebih lagi duitnya?

Mana yang lebih berlian ketimbang melakukan sesuatu yang dicintai?

Perempuan itu menetap dengan kesederhanaan dan terus menjaga apa yang jadi identitasnya sebagai—

Ayah anda pernah memasung kakinya sendiri. Dengan kesukarelaan, ia berikan tubuh dan pikirannya untuk meneruskan tanggung jawab sebagai putra daerah. Ayah anda adalah pohon yang sedang membesarkan daun pertamanya. Sambil mengedarkan pandang ke rumah – rumah tetangga yang mengilap tapi gersang, kata Ibu anda, apa yang ayah anda sedang lakukan akan memberikan kerindangan dan buah manis. Nanti bukan hanya anda yang akan merasakannya, tapi semua orang. Buah dari rasa cinta ayah anda pada tanah kelahirannya itu cukup untuk mengobati rasa rindu pada kebersamaan.

Sayangnya, harapan itu tidak pernah tercapai. Orang-orang jaman sekarang pandai merubuhkan pohon ayah anda. Rasa sia-sia yang mereka pupuk mengeringkan dahannya, memendekkan akarnya, menggugurkan daunnya. Ayah anda rubuh, orang-orang melunturkan identitas dan berlomba mempercantik rumahnya dengan segala pembaharuan di sana – sini.

Perempuan yang memasung kaki di rumahnya sendiri itu memberikan anda keberanian untuk menjadi penjaga. Ibu anda pernah meninggalkan pesan sebelum berpulang, bahwa ia tidak pernah menyesal duduk di sisi ayah anda—Oh. Lelaki yang pandai menyanyikan lagu – lagu moyang dan itu jadi bahan komedi seantero negeri. Apakah anda ingin meneruskan cerita? Apakah keberanian yang selama ini anda cari sudah anda temukan?

Rasa rindu akan kerindangan yang anda miliki sewaktu kecil membuat anda bergegas menuju pintu depan. Anda menyudahi pertengkaran. Anda mengatakan bahwa anda tak masalah menjadi seniman kampung atau jadi orang miskin, ketimbang hidup dengan kekasih yang tidak tahu apa – apa karena tidak pernah mau selesai membaca sesuatu. Kekasih anda memutar kepalanya. Ia mencari barang pecah belah buat dihancurkan. Tidak ketemu. Maka ketika anda meninggalkannya, kekasih anda merobek kertas koran menjadi beberapa bagian. (*)

____ 

*) Dee Hwang, Kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 9 September 1991. Lulusan Universitas Sriwijaya. Terakhir ini aktif sebagai deklamatris dalam kanal youtube “Secarik Pesan di Saku Bajumu”.

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending