© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

11 Penggambaran Paling Realistis tentang Gangguan Jiwa dalam Novel

Terdapat tradisi besar tentang gangguan jiwa dalam karya fiksi. Penulis era Victoria senang menyembunyikan perempuan gila di atas sebuah Menara atau loteng, dimana dia dapat perlahan-lahan mengupas wallpaper dari dindingnya atau merintih dan mengerang dengan tidak terkendali sehingga membuat takut para governess muda yang berusaha tidur di lantai bawah. Kemudian, buku-buku akan memperkenalkan pembaca pada perawat-perawat jahat, pemaksaan lobotomi, dan upaya yang ceroboh dalam terapi kejut listrik. Tak perlu dijelaskan, gangguan jiwa memang lebih tidak dipahami pada masa lampau dibandingkan dengan saat ini.

Beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan dalam cara pengobatan gangguan jiwa dan bagaimana hal itu digambarkan dalam literatur. Karakter diizinkan untuk turun dari loteng dan menceritakan kisah mereka sendiri. Dalam memoar, pengarang membagi pengalaman-pengalaman mereka dalam catatan-catatan kasar dari sudut pandang orang pertama. Girl, Interrupted, Prozac Nation, dan Running with Scissors hanyalah beberapa contoh – lihatlah daftar dalam link ini 20 Greatest Memoirs of Mental Illness untuk mendapatkan lebih banyak rujukan.

11 novel yang tercantum dibawah ini juga berbicara dengan sangat jujur mengenai gangguan jiwa. Terkadang selubung fiksi mengizinkan para pengarang untuk mencerikan kisah-kisah yang bahkan lebih nyata-mereka dapat menulis tanpa mengkhawatirkan reputasinya sendiri atau reaksi-reaksi dari anggota keluarga. Buku-buku mereka memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang gangguan jiwa dan cara kita berhadapan dengan gangguan jiwa dalam kebudayaan kita. Mereka juga melakukan apa yang semua literatur besar harus lalkukjan-membiarkan kita untuk mengenal dan peduli pada karakter-karakter selayaknya manusia.

Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf (1925)

Satu hari dalam hidup Clarrisa Dalloway, seorang wanita kelas atas Inggris. Melalui karakter Septimus, seorang veteran perang dunia pertama yang mengalami gangguan paska trauma perang, buku ini mengkritisi perlakuan terhadap penyakit kejiwaan. Woolf menggunakan perjuangannya sendiri dengan gangguan bipolar untuk mengisi karakter Septimus.

Tender is the Night karya F. Scott Fitzgerald (1934)

Scott Fitzgerald menulis novel ini ketika istrinya, Zelda, sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan skizofrenia. Dikisahkan di Riviera Prancis pada tahun 1920an, Tender is the Night adalah sebuah cerita tentang psikoanalis Dick Diver dan istrinya Nicole…. Yang kebetulan juga menjadi pasiennya.

The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger (1951)

Hikayat yang jujur tentang ketidakpuasan masa muda, The Catcher in the Rye masih laku terjual sekitar 250.000 kopi per tahun. Holden Caulfield, pahlawan muda kita, pertama kali muncul dalam sebuah cerita pendek tahun 1945 dalam majalah Collier dengan judul “I;m Crazy.”

The Bell Jar karya Sylvia Plath (1963)

Awalnya dipublikasikan dibawah nama samaran, The Bell Jar merupakan catatan semi-autobiografi dari depresi klinis yang dialami sendiri oleh Plath, sebuah sensasi yang ia deskripsikan sebagai berikut: “Dimanapun aku duduk-di atas dek sebuah kapal atau di kafe di jalan-jalan Paris atau Bangkok-aku akna duduk dibawah tudung gelas yang sama, terkukus dalam udaraku sendiri yang masam.”

I Never Promised You a Rose Garden karya Joanne Greenberg (nama pena: Hannah Green) (1964)

Deborah Blau didiagnosa dengan skizofenia paranoid, menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa. Kisahnya selaras dengan pengalaman-pengalaman pengarangnya, dan dokter dalam ceritanya didasarkan pada dokternya di dunia nyata, seorang psikiater German, Frieda Fromm-Reichmann.

Disturbing the Peace karya Richard Yates (1975)

Novel semi-autobiografi ini menceritakan kisah John C. Wilder, seorang perkerja periklanan berubah menjadi penulis skenario yang menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa dan menderita (seperti halnya Yates) delusi-delusi dikarenakan allkohol.

Ordinary People karya Judith Guest (1976)

Conrad mencoba bunuh diri setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, sehingga orangtuanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dengan bantuan dari psikiater, Conrad memeriksa depresinya dan mencoba untuk memahami kebekuan hubungannya dengan ibunya. Film adaptasi dari Ordinary People, diperankan oleh Mary Tyler Moore memenangkan Academy Award untuk film terbaik tahun 1980.

She’s Come Undone karya Wally Lamb (1992)

Delores Price perlahan-lahan menguraikan kekusutannya setelah berurusan dengan kejadian traumatis sebagai seorang remaja. Sebagai seorang perempuan berusia 20an, dia menghabiskan bertahun-tahun di sebuah institusi setelah sebuah upaya bunuh diri. Dia pada akhirnya berhenti terapi dan berusaha untuk membangun kembali hidupnya dengan caranya sendiri. Lamb kembali menulis tentang gangguan jiwa dalam buku selanjutnya, I Know This Much is True.

 The Hours karya Michael Cunning (1998)

Terinspirasi dari buku pertama dalam daftar kita, Mrs. Dalloway, kisahnya menampakkan satu hari di dalam hidup tiga wanita berbeda zaman, termasuk Virginia Woolf sendiri. The Hours memenangkan Pullitzer Prize untuk karya fiksi di tahun 1999.

The Passion of Alice karya Stephanie Grant (1998)

Salah satu novel yang kurang dikenal dari daftar ini, The Passion of Alice merupakan sebuah potret tangguh yang menyentuh tentang seorang perempuan berusia 25 tahun yang dimasukkan ke sebuah klinik gangguan makan setelah dia hampir mati dikarenakan gagal jantung.

The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides (2011)

Leonard, salah satu karakter utama dalam novel ini, hidup dengan depresi manik yang mempengaruhi pekerjaannya, persahabatannya, dan hubungan percintaannya. Di dalam sebuah wawancara dengan Slate, Eugenides membungkam rumor bahwa Leonard dibuat berdasarkan David Foster Wallace.

——————————————-

Diterjemahkan editor bahasa Galeri Buku Jakarta, Marlina Sophiana, dari 11 of the Most Realistic Portrayals of Mental Illness in Novels by Rebecca Kelley. Pertama kali ditayangkan di www.bustle.com, 13 May 2014.

 

Share Post
Written by

Marlina Sopiana is a philosophy graduate. Loves to write very short stories. Enjoy any kind of literature and find amusement in reading. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Social media twitter only @marlinnfish

No comments

LEAVE A COMMENT