Connect with us

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Cerpen

Layar Sebelah

mm

Published

on

Galeh Pramudianto *)

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini terjadi. Tiga hari yang lalu sebelum ia dimaki-maki dan dinasihati Bang Nide, Pentol mendapat telepon dari salah satu rumah produksi film.

“Ini dengan Mas Pentol? Bisa ke kantor Layar Sebelah sekarang? Kami sedang butuh penulis skenario horror.”

Tanpa pikir panjang Pentol langsung menuju kantor Layar Sebelah. Ini awal yang bagus untuk masuk ke industri film di Indonesia, Pentol meyakini. Maka bergegaslah ia ke kantor Layar Sebelah. Pentol duduk di ruang tunggu, ketika satpam sedang memanggil salah seorang kru. Ia perhatikan benar-benar kantornya. Dinding dengan balutan warna kuning gading, dibubuhi banyak kata-kata motivasi dan penyemangat hidup. Ia mendelik. Merasa belum mendapatkan atmosfer rumah produksi yang bergerak di bidang sinematografi, ia melihat ke sudut dinding lainnya.

Terpampang poster-poster film berjudulkan ajaib: Hantu Terbang Tanpa Hati, Setan Asem Manis, Jenglot Jengkol, Kuntilanak Kekanak-kanakan dan lain sebagainya. Pentol menelan ludah. Awalnya ia ingin mengabadikan gambar-gambar tersebut lewat telepon genggamnya, namun urung ia lakukan karena sudah keburu dipanggil oleh salah satu kru Layar Sebelah. Masuklah ia ke dalam suatu ruangan.

“Dengan Mas Pentol?” tanya salah seorang kru perempuan dengan tatapan sedikit heran.

“Iya Mbak, betul.”

“Mas selama ini sudah pernah nulis apa aja?”

Langsung dihujam dengan pertanyaan oportunis, Pentol langsung menjawab diplomatis.

“Sejauh ini satu film televisi (FTV) dan serial horor, Mbak. Tergantung kebutuhan dari

pihak Layar Sebelah, saya siap untuk menulis genre apapun.”

“FTV dan horor? Judulnya apa? Pol skenario atau hanya sinopsis?”

“Ehm, satu skenario dan satu sinopsis mbak.”

Pentol seperti tidak siap menerima jawaban. Ia sedikit terbata menjawab. Mbak-mbak yang belum memperkenalkan nama tersebut, memandang wajah Pentol dengan terukur. Dari kening sampai dagu. Seolah kualitas penulis skenario dapat dilihat dari tampangnya.

“Oke, jadi begini. Saya dapat kontakmu dari Mas Jae. Kenal kan?” Pentol kembali

kebingungan.

“Saya kenalnya bang Nide mbak.”

“Oalah Nide. Iya, Jae dapet kontakmu dari Nide. Jadi gini mas, kenalin saya Okta. Layar

Sebelah lagi ada proyek untuk film layar lebar. Mas sudah sering bikin horor?”

“Sering sih nggak mbak Okta, tapi saya orangnya mau belajar dan terus terpacu

menghasilkan karya-karya terbaik unuk belantika film Indonesia.” Dengan sok gagah

Pentol menjawab.

“Oke, film horor terakhir apa yang kamu tonton? Terus kenapa kamu suka itu?”

“Lokal atau luar?”

“Terserah.”

“Saya suka film Rekah. Manifestasi horor yang begitu kuat lewat atmosfer dan

pembangunan karakter. Premis kuat dengan mengambil mitos kebudayan di Indonesia. Dicampur dengan realisme magis ala prosa latin, membuat Rekah begitu manis dalam mise en scène—”

“Oke, oke cukup. Kalau sutradara favorit?” Mbak Okta memotong.

“Tapi yang luar negeri belum Mbak?”

“Udah, udah. Nggak masalah.”

“Kalau untuk dalam negeri saya suka sama mas Girang Negeri. Karya-karyanya begitu

berisi dengan konten yang artistik dan kedalaman cerita. Ia sering kali mengangkat nuansa lokal diimbangi dengan kebudayaan populer. Mas Girang bisa mengimbangi antara estetika dan komersil. Antara film sebagai seni dan sebagai bisnis, lalu—”

“Oh oke, cukup. Cukup.”

Mbak Okta kembali memotong penjelasan Pentol. Kemudian ia menelpon atasannya. Produser yang dimaksud.

“Ayo ikut saya ke atas. Kita ketemu Pak Kapur.”

**

“Sebelum kita masuk ke konsep cerita, deal di awal dulu deh ya mas. Nanti udah sepakat, malah harganya yang nggak cocok lagi.” Ujarnya terkekeh.

Pentol kembali belum siap langsung ditembak harga. Ia berpura-pura memasang wajah sok tahu dan berpengalaman. Ia yakin bahwa harga ini langsung cocok dan kesempatan dia untuk menulis skenario layar lebar dapat terwujud.

“Empat, Pak Kapur.”

“Wah gila kamu. 40? Memang kau sebelumnya sudah pernah nulis layar lebar?”

“Empat juta Pak.”

Raut muka Pak Kapur langsung berubah. Pria keturunan India ini nampak menyunggingkan senyum. Kemenangan seperti berada di kubu Layar Sebelah. Pentol nampak merasa menyesal. Ia begitu lugu dan tidak mengetahui industri film seperti apa dan berapa upah yang layak untuk dibayarkan.

“Oke kalau begitu Pak. Jadi saya ada proyek film layar lebar. Bapak belum pernah nulis untuk layar lebar kan? ini kesempatan bapak untuk masuk ke industri. Kalau film ini meledak, yang untung jelas bapak. Bapak akan dicari ke mana-mana dan dapat banyak tawaran,” Pak Kapur tersenyum.

“Nah sekarang kita lihat cuplikan film ini dulu. Setelah itu saya jelaskan.”

Pak Kapur pun menjelaskan dengan rinci. Ia mengatakan akan membuat film horor berjudul Vila Berhantu. Pentol awalnya ragu, karena Pak Kapur menyomot alur di film yang telah ditonton sebelumnya untuk kepentingan film yang ia inisiasi. Tapi Pentol berpikir lebih jauh. Ia menganggap ini sebagai batu loncatan untuk karir menulisnya. Selama ini, sebagai mahasiswa prestasi menulisnya hanya sampai tingkat universitas. Label medioker erat dengannya. Maka ia terima lah film hantu yang aji mumpung itu.

“Bagaimana Pak? Sepakat? Saya tunggu 3 hari dari sekarang sudah jadi draf 1 ya?”

“Nggak kerangka dulu pak? Outline?”

“Wah saya maunya langsung skenario. Orang yang kerja sama dengan saya semua

langsung skenario. Saya nggak mau capek-capek dan buang-buang waktu banyak baca. Ya, you tau sendiri kan, I sibuknya kaya apa? pendanaan, pemasaran, pengawasan dan lain-lain. Yah, you tau lah kayak beginian.”

Keduanya pun bersalaman dan sepakat. Pentol keluar Layar Sebelah dengan perasaan berkecamuk. Senang karena mendapat kesempatan nulis film layar lebar, dan bingung karena masih belum tau birokrasi dan ritme kerja dari industri ini.

**

Saat mengendarai motor untuk sampai rumah, Pentol tersenyum-senyum sendiri. Ia kilas balik dengan pengalamannya saat ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang sinematografi. Dari mulai pertama kali ia menjadi boom man ketika produksi bersama seniornya di UKM, sampai menulis dan menyutradarai film pendek pertamanya sendiri. Meski prestasi terbaiknya di bidang audio visual hanya sampai tingkat nominasi di sebuah kompetisi film pendek, namun ia yakin dengan semua pelajaran itu.

Vila Berhantu sekali lagi baginya bisa menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh. Ia kesampingkan egonya ketika berhadapan dengan film festival art-house yang semua orang awam tidak mengerti. Ia singkirkan pandangan bahwa long shot dengan objek yang statis adalah manifestasi semiotik gambar yang luhur. Ia sekarang fokus pada permukaan saja: jam weker menandakan pagi hari, kokok ayam, matahari terbit, adegan berlari dengan latar musik kencang, dialog-dialog klise dan lain sebagainya. Pentol mulai mendalami itu semua. Hal yang sebenarnya ia jauhi saat bergiat di UKM-nya terdahulu.

Tiga hari telah berlalu. Beberapa kali ponsel Pentol berdering. Pak Kapur menagih janji yang sudah disepakati: Draf 1 Villa Berhantu. Namun, Pentol panik. Naskahnya belum selesai. Tinggal beberapa adegan untuk mencapai garis finis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pentol, karena ketika mendapat mandat ia langsung mengejar hal yang tidak ia ketahui secara mendalam. Ia riset tentang berbagai formula film horor. Jump scare yang tidak kacangan. Membangun atmosfer ketakutan dengan logika. Semua ia bangun dengan presisi. Ia tidak mau namanya buruk di kalangan kritikus ketika lagi-lagi film horor yang keluar berbau seks dan cacat logika. Namun, hal tersebut malah menyita waktunya. Ia riset selama seharian penuh, dan dua hari ia kebut untuk adegan serta dialog.

“Pentol! Kau jangan malu-maluin saya! Sudah benar namamu saya rekomendasikan.

Kredibilitas saya yang hancur, bukannya kau!”

Pentol pun menjelaskan dengan panjang lebar ke bang Nide lewat telepon. Bang Nide adalah guru teater dan filmnya ketika masa SMA. Ia mengatakan tidak bisa mengatur ritme kerja ketika ditawarkan nulis layar lebar namun hanya dengan 3 hari harus sudah selesai. Mendengar 3 hari tenggatnya, bang Nide pelan-pelan mulai memahami masalahnya.

“Ya, harusnya kau kabarkan ke Pak Kapur dong kalau belum selesai. Jangan hilang

ditelan bumi begini. Kan yang kena semprot saya juga.”

“Iya bang. Saya takut kalau bilang belum selesai nanti saya dicoret dari proyek ini. Masalahnya saya belum tekan kontrak.”

“Memangnya kau pasang tarifmu berapa—3 hari bisa selesai?”

“4 juta bang.”

“Tolol kau Tol! Masak bikin layar lebar dihargain 4 juta. Merendahkan penulis skenario

itu namanya. Merendahkan saya juga. Layar lebar tuh minimal 10 juta.”

Pentol makin tersudut ketika mengetahui fakta langsung dari praktisi. Ia arahkan kursor untuk menyimpan hasil ketikannya selama 3 hari belakangan. 3 hari yang membuatnya tak beranjak dari manapun kecuali kamar mandi dan dapur.

“Oke begini deh. Sebenernya keterlaluan juga 3 hari jadi draf 1. Tidak ada itu di industri.

Minimal skenario layar lebar itu 2 bulan. Revisi sana-sini. Itu pun kalau kita ngomongin kualitas. Nah sekarang coba kita kerjain bareng-bareng. Kau besok ke rumahku, deh ya.”

**

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini. Tidak secepat ini menerima kenyataan pahit bahwa skenario yang ditulisnya dengan susah payah belum ada kabar sampai setengah tahun lebih. Setelah bang Nide dan Pentol sepakat untuk menawarkan harga 20 juta kepada Pak Kapur, maka dari itu pula Pentol belum mendapat kabar lanjutan dari bang Nide dan Pak Kapur.

Ia menyadari bahwa batas antara reel life dan real life itu memang begitu tipis. Setipis harapannya saat ini yang terbentur dengan realita. Dari kejadian tersebut Pentoel jadi teringat salah satu cerpen yang ia pernah baca saat awal kuliah. Cerpen tersebut berjudul What is Really Good Picture for Me karya Misbach Yusa Biran. Sambil telentang di atas kasur, Pentol membaca kalimat akhir cerpen tersebut, begini bunyinya: Mereka menuntut betul adanya film Indonesia yang bermutu, masa tidak mau sedikit mempertaruhkan uangnya demi kemajuan seni film Indonesia? Siapa tahu!

*) Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017 (DKJ) Karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional. Beberapa cerpennya termaktub di antologi bersama Kelas Melamun (2017). Buku puisi perdananya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

Continue Reading

Classic Prose

Trending