Connect with us

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending