Connect with us

This Week Reading

Yap Thiam Hien: Membaca Hukum Melalui Hidup

mm

Published

on

♦ Judul  : No Concessions. The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer
♦ Penulis    : Daniel S Lev
♦ Penerbit  : University of Washington Press, Seattle, USA
♦ Cetakan  : I, 2011
♦ Tebal  : 466 halaman
♦ ISBN   : 978-0-295-99114-6

Seorang penjual kecap yang menjajakan dagangannya dari sepeda ditangkap dan dipukuli di kantor polisi. Yap Thiam Hien segera melaporkan pelanggaran ini kepada kepala kantor polisi, yang ketika itu masih dijabat oleh orang Belanda. Kepala kantor polisi langsung menyangkalnya dan mengatakan, kalau memang hal itu terjadi, ia akan membebaskan si penjual kecap itu.

Sewaktu Yap meninggalkan kantor polisi tersebut, sebuah mobil datang dari klinik membawa para tahanan yang sakit dan terluka. Di antara para penumpang, ada si penjual kecap dengan kepala dibebat karena luka pukul. Kepala kantor polisi kontan terkejut dan malu melihat kenyataan ini dan segera melepaskan si penjual kecap tanpa prosedur apa-apa (hlm 118).

Cerita di atas terjadi pada awal 1950-an. Namun, cerita mengenai penyalahgunaan kekuasaan oleh penegak hukum saat ini masih biasa kita dengar. Misalnya, pengakuan yang didapat dari penyiksaan dan pemerasan oleh penegak hukum. Yang tak biasa adalah bagaimana seorang advokat merespons kejadian seperti ini. Sangat sedikit advokat yang berani menyatakan praktik ini salah. Bahkan, kini tak jarang advokat justru melanggengkan penyalahgunaan kekuasaan dengan menjadi calo transaksi ”jual-beli” hukum.

Yap Thiam Hien berbeda. Ia berani berhadapan dengan penegak hukum lainnya untuk menyatakan apa yang dianggapnya salah. Ia mengambil risiko kalah dalam kasusnya, bahkan ancaman.

Yap Thiam Hien (1913-1989) memang bukan advokat biasa. Ia dikenal sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM) dan negara hukum yang sangat gigih serta advokat yang cerdas dan berintegritas. Namanya diabadikan dalam bentuk penghargaan bagi pejuang HAM. Dalam kurun waktu 1992-2012, sudah 24 orang dan organisasi mendapat Yap Thiam Hien Award.

Advokat-reformis

Biografi yang ditulis oleh Daniel S Lev ini banyak bercerita mengenai kegairahan (passion) Yap Thiam Hien mengenai dunia advokasi. Namun, dalam pengamatan Lev, hal yang sangat memengaruhi hidup Yap sebenarnya bukan advokasi itu sendiri, melainkan pelayanan bagi prinsip-prinsip sosial dan politik yang diyakininya. Advokasi, bagi Yap, adalah cara untuk menegakkan prinsip-prinsip sosial dan politik. Karakter inilah yang membedakan Yap dengan banyak advokat lainnya sehingga Lev melihat Yap sebagai bagian dari kelompok kecil yang disebutnya sebagai advokat-reformis (advocate-reformers) yang mulai muncul setelah 1965 (hlm 119).

Selain Yap Thiam Hien, yang disebut sebagai advokat-reformis oleh Lev adalah Lukman Wiriadinata, Hasjim Mahdan, AZ Abidin, Suardi Tasrif, Soemarno P Wirjanto, dan Ani Abas Manopo. Kelompok ini mempunyai kesamaan dalam pandangan mereka mengenai negara hukum. Dengan latar belakang pendidikan hukum ditambah dengan pengalaman bersekolah di Belanda, mereka memaknai negara hukum dalam konteks lahir dan bekerjanya ”rechtsstaat” di daratan Eropa, yang sarat dengan soal-soal pembatasan kekuasaan dan keadilan. Kesewenang-wenangan dalam hukum yang ditunjukkan oleh Soekarno dalam masa Demokrasi Terpimpin amat jauh dari gagasan mereka tentang negara hukum. Begitu pula ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi yang dipertontonkan pasca-1965 membuat mereka tergugah.

Dengan semangat itu, Yap Thiam Hien bersama para advokat-reformis lainnya mendirikan dua organisasi yang penting dalam perkembangan negara hukum Indonesia, Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Peradin adalah organisasi advokat profesional Indonesia bersifat nasional dan multietnis yang pertama setelah kemerdekaan. Sementara LBH awalnya merupakan bagian dari kerja Peradin yang membawa misi bantuan hukum bagi anggotanya. LBH kemudian berkembang menjadi sebuah organisasi non-pemerintah berbentuk yayasan (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, YLBHI) dengan 15 kantor di sejumlah provinsi di Indonesia. LBH dikenal sebagai ”lokomotif demokrasi” karena kerja-kerjanya dalam menegakkan prinsip-prinsip demokrasi selama masa Orde Baru.

Arena politik

Yap Thiam Hien dikenal karena argumentasinya di ruang pengadilan yang berbobot dan disampaikan dengan gaya yang mengesankan. Yang membuat namanya mencuat adalah kasus-kasus bernuansa politik yang ditanganinya sebagai bagian dari kerja LBH. Misalnya, kasus-kasus yang terkait dengan Gerakan 30 September 1965 dan Kasus Tanjung Priok. Sebagian besar dari mereka didakwa dengan Undang-Undang Nomor 11/PNPS/1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi. Undang-undang yang telah dicabut pada 1999 ini dikenal sebagai ”undang-undang karet” karena pasal-pasalnya yang multi-interpretatif. Rezim Orde Baru banyak menggunakan undang-undang ini untuk memadamkan berbagai gejolak politik yang mengganggu stabilitas.

Dengan situasi politik pada masa Orde Baru, membela kasus-kasus tersebut ibarat menggantang asap alias melakukan perbuatan yang sia-sia. Yap Thiam Hien tahu kliennya tidak akan menang di pengadilan. Namun, baginya bukanlah menang atau kalah. Pengadilan adalah soal politik hukum. Seorang penguasa memiliki kesempatan untuk mengungkapkan secara terbuka dan tercatat mengenai penyalahgunaan hukum.

Biografi ini terdiri dari 13 bab yang disusun secara kronologis ditambah sebuah epilog dan catatan tambahan (postscript). Lev tutup usia ketika buku ini belum sepenuhnya usai. Buku ini unik karena beberapa bagiannya dibuat oleh orang-orang yang dekat dengan Lev. Benedict O Anderson menuliskan sebuah kata pengantar berupa ulasan mendalam mengenai buku ini, yang disertai dengan catatan yang terasa hangat mengenai penulisnya. Arlene Lev, istri Dan Lev, menulis epilog yang memberikan konteks pasca-Orde Baru. Sebastiaan Pompe dan Ibrahim Assegaf menulis bab catatan tambahan mengenai kasus-kasus yang ditangani Yap pada awal Orde Baru.

Daniel S Lev (1933-2006) dikenal sebagai ”Indonesianis” yang berfokus pada politik dan institusi hukum. Kisah hidup Yap dipaparkannya dengan penjelasan yang mendalam mengenai politik Indonesia masa kemerdekaan, gejolak politik seputar 1965, dan masa Orde Baru. Dengan begitu, Lev membuat biografi Yap Thiam Hien bukan hanya sebagai sebuah biografi seorang advokat dan pembela HAM, melainkan juga sebuah catatan dan analisis politik mengenai institusi-institusi hukum Indonesia yang penting untuk dibaca oleh pengamat dan pemerhati hukum. (BIVITRI SUSANTI )

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Editor's Choice

Membaca Ulang ‘A Temporary Matter’ Karya Jhumpa Lahiri

mm

Published

on

Saya masih mengingat kalau Selasa itu saya datang ke kos seorang teman untuk menumpang istirahat ketika saya melihat buku berwarna oranye; Interpreter of Maladies di kamarnya. Warna seperti itu selalu saja merisak mata. Membuat ingin mengambil. Nama yang tertulis di sana, sungguh, saya tidak pernah mendengar sebelumnya. Jhumpa Lahiri. Sekali baca, saya tahu kalau penulis ini, perempuan ini, kemungkinan besar orang India atau daerah sekitar sana. Yang saya tidak tahu berikutnya; dia memberikan pengaruh besar pada apa dan bagaimana saya menulis. Yang saya syukuri berikutnya; saya mengambil buku oranye itu dan bukan buku yang ada di sebelahnya; Twilight Saga.

Tentang Twilight Saga, saya membeli juga keempat bukunya beberapa bulan kemudian, membaca semuanya sampai habis dalam waktu kurang satu pekan, dan sampai sekarang, sepuluh tahun kemudian, saya masih tidak punya apapun yang menarik untuk ditulis tentang buku itu.

Saya sudah menikah ketika itu, di tahun pertama—ketika semuanya masih indah dan saya masih tergila-gila. Masuk ke cerita pertama di buku itu, A Temporary Matter, membuat saya sedikit bertanya—sedikit saja karena sebagian besar dari apa yang terpikir ketika membacanya; pernikahan saya tidak akan pernah jadi seperti ini—tentang lawan dari jatuh cinta. Apa benar bahwa seiring waktu pernikahan akan hambar dan hubungan suami-istri itu lebih mirip teman yang berbagi rumah yang saling menghindari kecuali ketika di awal bulan dan harus duduk di satu meja untuk menghitung pengeluaran?

Saya bukan penggemar cerita tentang pernikahan. Sampai hari ini pun, saya menghindari menulis tentang hal itu karena, setelah sepuluh tahun lebih menikah, saya masih juga belum bisa memastikan bahwa saya menceritakan hal yang benar tentang itu semua. Jatuh cinta lebih mudah diceritakan. Pernikahan, tidak. Bagaimana caranya menjelaskan bahwa di suatu pagi, ketika suamimu duduk di depanmu dengan cangkir kopi dan jari-jarinya mengetuk tepian luar cangkir itu dengan ujung jarinya beberapa kali, dan kamu merasa bahwa akan ada pertengkaran setelahnya? Yang besar—yang membuatmu mempertanyakan keputusan untuk menikah. Lalu malam harinya, ketika dia berkata padamu bahwa semua bisa diperbaiki, kamu melihat kerusakan dan juga menatap harapan di antaranya, kalian kemudian berbaikan lalu kamu seolah kembali jatuh cinta padanya. Hanya beberapa hari ke depan, memang. Tergila-gila seperti jatuh cinta pertama kali, tapi kali ini lebih rasional—rasanya. Bagaimana hal semacam itu dijelaskan?

Semalam, saya membaca ulang A Temporary Matter. Mengunjunginya kembali. Mencoba melihat apa kali ini saya membacanya dengan cara yang beda. Ternyata, benar. Saya menjadi lebih terhubung dengan cerita ini. Lebih dalam, lebih merasuk. Seperti judulnya, A Temporary Matter, semua dalam pernikahan itu sementara; cinta, nafsu, pertengkaran, bahkan mungkin pernikahan itu sendiri.

* * *

THE NOTICE INFORMED THEM that it was a temporary matter: for five days their electricity would be cut off for one hour, beginning at eight P.M. A line had gone down in the last snowstorm, and the repairmen were going to take advantage of the milder evenings to set it right. The work would affect only the houses on the quiet tree-lined street, within walking distance of a row of brick-faced stores and a trolley stop, where Shoba and Shukumar had lived for three years.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 1). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Cerpen ini dibuka dengan pemberitahuan bahwa akan ada pemadaman sementara di daerah rumah Shoba dan Shukumar karena kabel di sekitar sana perlu perbaikan setelah badai salju. Tidak lama, hanya lima hari. Sekarang saya baru melihat betapa pintarnya cerpen ini dibuka; dengan memberikan peringatan pada pembaca bahwa setelah tiga tahun pasangan itu tinggal di sana, akan ada hari di mana mereka mengalami sesuatu yang sementara. Saya kemudian membacanya seperti ini; bahwa setelah tiga tahun menikah, akan ada masa di mana pasangan ini terpaksa melewati gelap bersama. Mereka terpaksa karena tidak ada pasangan manapun yang ingin masa gelap dalam pernikahannya—kebanyakan lebih ingin benderang yang pura-pura.

Saya teringat lagi kalau dua hari lalu, saya menonton Big Little Lies, serial yang diangkat dari novel berjudul serupa karya Liane Moriarty. Eddie, salah satu karakter di sana bilang semacam; pernikahan itu akan bahagia kalau pasangan punya kemampuan berpura-pura. Berpura-pura baik-baik saja, berpura-pura—masih—saling mencintai, dan berpura-pura bahagia. Setengah dari pernyataan itu saya setuju. Lihatlah sosial media pasangan yang menikah kalau tidak percaya. Semua kelihatan bahagia. Sebagian dari itu, mungkin hanya pura-pura.

Shoba dan Shukumar pun demikian. Mereka bahagia. Tapi ada beberapa hal yang mereka sapu ke bawah karpet dan coba lupakan. Tidak pernah dibicarakan. Setelah anak mereka terlahir dalam keadaan mati, Shoba menjauh dari Shukumar. Shukumar pun demikian. Mereka jadi sangat ahli untuk saling menghindari di apartemen mereka. Mencoba mencari ruang di sama yang lainnya—mungkin—tidak akan ke sana. Lalu bicara dengan pasif-agresif yang sengaja ditekan tapi masih juga terasa.

“But they should do this sort of thing during the day.” “When I’m here, you mean,” Shukumar said.

Shukumar memperhatikan istrinya dan dia tahu bahwa Shoba selalu menyiapkan apapun. Dia bukan tipe perempuan yang spontan. Dia punya satu boks sikat gigi baru yang disimpan untuk tamu kalau tamu itu ingin menginap di saat-saat terakhir. Shoba tidak suka kejutan. Shukumar pun tahu itu.

She used to put her coat on a hanger, her sneakers in the closet, and she paid bills as soon as they came. But now she treated the house as if it were a hotel.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Beberapa tahun lalu, saya mendengar salah satu episod podcast Tyler Oakley, Psychobabble, dan di sana dia menjelaskan pendapatnya bahwa hubungan—apapun itu bentuknya—bisa diumpakan seperti tinggal di satu tempat yang sama dengan orang itu—siapapun orangnya. Dua orang yang punya hubungan seperti memindahkan barang-barang mereka ke rumah baru ketika mereka memulai hubungan. Ini bagian yang mudah. Semua orang antusias dengan rumah baru dan suasana baru. Tapi seriring dengan berjalannya waktu, rumah itu—bisa jadi—akan terasa sesak, suasana baru itu—bisa jadi—akan terlihat membosankan. Ketika itu, salah satu dari mereka mungkin mulai memindahkan satu-persatu boks berisi barang-barang ke tempat baru tanpa sepengatahuan yang satunya. Ini harusnya kelihatan. Banyak pertanda. Misalnya, ketika pembicaraan lebih banyak dijadikan sekedar tuntutan bertanya dan menjawab pertanyaan, bukan untuk saling mengerti isi hati satu dan lainnya. Karena itu, menjadi yang ditinggalkan di rumah yang sebagian barang-barangnya sudah dipindahkan, menjadi hal yang paling menyedihkan. Menjadi yang ditinggalkan tanpa pertanda. Yang harus keluar dari rumah itu sendirian. Yang terakhir menutup pintu dan pergi.

Ini yang terjadi di hubungan Shoba dan Shukumar. Shoba mulai memindahkan ‘boks barang-barangnya’ satu-persatu tanpa sepengetahuan Shukumar. Mungkin Shukumar merasakan hal itu, mungkin dia membaca pertanda, tapi dia tidak juga menjadikan itu bahan pembicaraan karena menghindar lebih mudah—lebih tidak menyakitkan untuk sementara waktu. Ketika datang hari di mana listri dimatikan, Shukumar heran karena dia tidak menemukan lilin di apartemen mereka. Dia heran Shoba yang penuh perhitungan dan persiapan tidak menyiapkan hal yang biasa terjadi seperti itu; Shoba tidak menyiapkan bahwa akan ada hari di mana pernikahan mereka tidak baik-baik saja—dan ini hal yang biasa, seharusnya.

It was typical of her. She was the type to prepare for surprises, good and bad.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 6). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Lalu mereka pun terpaksa duduk berhadapan, di depan lilin kecil yang biasa dipakai untuk ulang tahun. Terpaksa bicara. Sulit, sayangnya. Shoba lalu mulai bercerita tentang hal yang tidak pernah Shukumar tahu tentangnya. Lalu dia menawarkan permainan—sekadar untuk menghindari perasaan tidak nyaman duduk berhadapan selama makan malam—untuk menceritakan apa yang tidak diketahui masing-masing tentang salah satunya. Sesuatu yang jujur dan tersembunyi. Awalnya, permainan ini terasa tidak akan berbahaya sama sekali. Tapi di hari kedua, ketiga, dan keempat, mereka pun jadi mengetahui hal paling gelap dari pasangan mereka. Selama ini mereka saling menyembunyikan karena, sekali lagi, perlu kemampuan untuk berpura-pura dalam hubungan.

Somehow, without saying anything, it had turned into this. Into an exchange of confessions— the little ways they’d hurt or disappointed each other, and themselves. The following day Shukumar thought for hours about what to say to her.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 18). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

Di dalam gelap, mereka bisa bercerita. Mencari tahu tentang apa tang hilang dalam hubungan mereka. Rasanya lebih mudah memang, untuk bicara tanpa melihat wajah orang yang kita ajak bicara—karena itu menyakiti orang lewat sosial media lebih ringan untuk tangan dan hati, kan?

Di hari kelima, ada pemberitahuan lagi bahwa listrik sudah selesai diperbaiki lebih cepat dari jadwal. Malam itu, yang seharusnya mereka masih makan malam dalam gelap, jadi tidak seperti yang direncanakan Shukumar. Dia pun dengan tidak bersemangat menyiapkan makan malam. Tapi malam itu, mereka tetap makan dalam gelap, dengan lilin. Shoba yang menganjurkan begitu. Lalu setelah makan malam itu berakhir, dia menyalakan lampu dan mengatakan pada Shukumar bahwa dia ingin Shukumar melihat dengan jelas wajahnya ketika dia mengatakan hal ini; dia sudah mendapat apartemen baru, membayar depositnya, dan akan pindah. Shukumar yang terluka, membalas dengan mengatakan bahwa dia tahu jenis kelamin anak mereka yang terlahir mati. Dia sempat menggendongnya—tidak seperti cerita yang selama ini dikatakan pada Shoba bahwa dia tidak sempat menemui jasad anak mereka. Hal itu membuat Shoba terluka.

Cerpen ini pun ditutup dengan mereka berdua duduk di meja makan, dalam gelap—setelah lampu di matikan kembali oleh Shoba—dan menangis. Menangis untuk sesuatu yang, pada akhirnya, mereka tahu.

Lebih mudah untuk berpura-pura, memang. Lebih tidak menyakitkan untuk tidak mengetahui apapun.

Saya pun mencari pertanda di sepanjang cerpen ini. Saya ingin tahu apakah mereka benar akan berpisah atau setelah gelap ini, mereka memperbarui hubungan mereka. Saya tidak punya jawabannya—penulisnya pun meninggalkan ruang untuk interpretasi. Tapi saya tahu bahwa Shoba benar ingin pergi dan Shukumar ingin mempertahankan. Shoba yang mulai memindahkan boks satu-persatu dan Shukumar yang akan terakhir menutup pintu.

They wept together, for the things they now knew.

Lahiri, Jhumpa (2000-05-22). Interpreter of Maladies (p. 22). Houghton Mifflin Harcourt. Kindle Edition.

* * *

Seperti yang saya tulis di awal; menuliskan tentang jatuh cinta dan tergila-gila itu mudah. Menuliskan tentang pernikahan dan segala ketidakpastian di dalamnya, itu sulit. Pernikahan lebih banyak punya warna. Jatuh cinta sama saja; pelangi dari permen dan gulali.

Saya makin menyukai cerpen ini setelah membaca ulang. Saya suka dengan betapa elegan Lahiri menceritakan pernikahan Shoba dan Shukumar. Mereka menjauh dari satu dan lainnya tapi masih beradab dengan makan di meja makan yang sama dan masih juga santun—walaupun pasif-agresif. Mereka mencoba mencari apa yang bisa diselamatkan karena tidak ada pilihan lain. Gelap tentu saja membantu karena tidak perlu melihat bagaimana satu dan lainnya mengunyah pengakuan masing-masing. Bahwa jatuh cinta itu mudah dan tidak ada lawan dari jatuh cinta. Kebalikannya hanya tidak peduli. Kamu cuma perlu untuk tidak peduli sampai di satu titik, keberadaan orang itu tidak lagi menyakitimu.

Cerpen ini belum sampai ke sana karena semua ini, seperti judulnya, hanya a temporary matter, keadaan sementara. Sebelum akhirnya keputusan lebih permanen diambil, kemudian. (*)

—————-

Octaviani Nurhasanah: Freelance writer. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Twitter: @OctaNH / octavianinurhasanah.net

 

 

 

Continue Reading

Editor's Choice

Genealogi Korupsi Indonesia

mm

Published

on

Terutama di Indonesia, korupsi menjadi musuh nyata dalam usaha mewujudkan kesejahteraan rakyat. Sebab, korupsi merupakan tindakan sistematis yang memiliki efek ke seluruh lapisan rakyat.

Saat ini di Indonesia, korupsi menjadi gejala endemik. Hampir setiap minggu, kita disuguhkan kasus korupsi yang dilakukan kepala daerah, pegawai negeri sipil, dan politisi. Bahkan sepanjang 2015, Indonesian Corruption Watch (ICW) menyebutkan ada 550 tindak pidana korupsi dan merugikan negara Rp.31,077 Triliun.

Lantas muncul pertanyaan, apa penyebab orang dengan sangat mudah melakukan korupsi? Beberapa orang menganggap bahwa korupsi dilakukan karena kurangnya iman, sehingga dalam melakukan korupsi, ia tidak lagi mempertimbangkan dosa. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, begitu pula sebaliknya. Hanya saja pandangan tersebut terkesan naif, karena mengedepankan determinisme agama.

Peter Carey dalam buku ini mencoba membahas akar permasalahan korupsi. Pertanyaan yang diajukan oleh mereka adalah kenapa ada korupsi dan bagaimana korupsi dipraktikkan?

Tesis awal Peter Carey mengenai korupsi di Indonesia yaitu terjadi akibat adanya peraturan yang justru mendorong seseorang untuk melakukan tindak korupsi (hlm.xiv).

Pater Carey menggunakan teori fungsionalis dan strukturalis ala Emile Durkheim sebagai pisau analisis. Dalam teori tersebut, Durkheim menyebut rakyat merupakan sebuah kesatuan yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang dibedakan. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem (George Ritzer dan Douglas J. Goodman:2010). Oleh sebab itu, penulis mencari genealogi struktur rakyat Indonesia—terutama Jawa— sebagai dasar untuk menguatkan tesisnya.

Penulis berpendapat semua sistem pemerintahan, hukum, dan sosial masayarakat dibentuk oleh Herman William Daendels yang menguasai Jawa pada 1808—1811. Daendels mereorganisasi pemerintahan kolonial menjadi terpusat di Batavia dan membagi wilayah Jawa menjadi beberapa residen (hlm.12). Sistem sentralistik ini terus bertahan hingga lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan pada 1998.

Di bidang kepegawaian, Daendels mengubah sistem keturunan menjadi keterampilan ditambah dengan pakaian dan bahasa khusus untuk pegawai pemerintahan. Selain sistem pemerintahan dan struktur birokrasi, sistem hukum Indonesia juga mengalami perubahan. Sistem hukum Indonesia yang sebelumnya berdasarkan hukum adat tradisional digantikan oleh sistem hukum barat modern (hlm.38).

Celakanya, sistem yang dibuat Daendels sebagai koreksi atas sistem Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang hancur karena korupsi ini, justru tidak lepas dari korupsi sendiri. Dalam buku ini memang tidak dijelaskan secara rinci bagaimana sistem yang dibuat Daendles ini ternyata juga tetap menjadi sarang korupsi—terutama di tataran residen. Sebab, hubungan antara pihak kolonial dan penguasa Jawa (residen) menjadi sangat patron-klien. Pihak kolonial sebagai patron dan residen menjadi klien.

Cara kerjanya ialah residen meminta pajak yang sangat tinggi kepada rakyat, hasil pajak tersebut sebagaian dijadikannya sebagai penghasilan pribadi dan sebagai upeti untuk pihak kolonial. Tujuannya agar posisi jabatan Residen aman, tidak digantikan oleh orang lain. Jika ada tawaran posisi lain, maka posisi tersebut diisi oleh kerabatnya—bahkan cenderung menjadi oligarki. Dengan kata lain, Indonesia ditindas oleh dua kekuatan sekaligus yakni kolonialisme dan feodalisme (Soekarno:1947). Kebiasaan tersebut terus berlanjut dan menginternalisasi menjadi mental birokrat dan politisi hingga saat ini—terutama masih masih maraknya oligarki kekuasaan di suatu wilayah.

Pertanyaan terakhir, bisakah Indonesia lepas dari korupsi? Peter Carey sangat optimis Indonesia dapat keluar dari masalah korupsi. Ia mencontohkan perjuangan Inggris yang butuh waktu lebih dari 150 tahun (1660—1830) untuk lepas dari korupsi (hlm.51-93). Perbandingan ini merupakan unsur subjektivitas Peter Carey, sebab Inggris merupakan asal negara Peter Carey. Menurut Peter Carey, faktor penting korupsi di Inggris bisa hilang karena adanya ketakutan dari seluruh rakyat, jika Inggris akan menjadi negara gagal (hlm.94). Alhasil, rakyat dapat memaksa seluruh penyelenggara pemerintahan bertindak transparan.

Meski kondisi sosial, budaya, dan ekonomi Indonesia berbeda dengan Inggris. Tapi setidaknya, kita dapat meniru rasa ketakutan rakyat Inggris untuk mendesak penyelenggara pemerintahan tidak lagi bertindak korup. Dengan begitu, bukan tidak mungkin sila kelima pancasila bisa terwujud. Sebab, terkadang kita tidak bisa menjadi baik hanya demi kebaikan, tetapi kita harus menjadi baik karena keadaan mengharuskan.

Buku yang terdiri dari empat bab ini dapat dikatakan sebuah kumpulan esai sejarah tentang korupsi dibandingkan buku tentang sejarah korupsi. Sebab, dalam buku ini tidak ada pembahasan menyeluruh tentang korupsi di setiap periode sejarah Indonesia. Kendati demikian, buku ini sangat layak dibaca untuk mengetahui akar masalah korupsi. Bukankah kita akan dengan mudah memberantas benalu, jika kita mengetahui akarnya? (*)

| Virdika Rizky Utama

———————

Judul Buku      : Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia (dari Daendels hingga  Reformasi)
Penulis : Peter Carey dan Suhardiyoto Haryadi
Penerbit           : Komunitas Bambu
Tahun Terbit    : Desember 2016
Tebal               : liv + 208 halaman, ISBN 979-979-9542-32-4
Harga              : Rp.125.000
Peresensi        :  Virdika Rizky Utama

Continue Reading

Trending