Connect with us

Buku

Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar Romo Rahadi

mm

Published

on

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Mangunwijaya adalah seorang pastor yang banyak menulis di berbagai dia penerbitan umum, baik surat kabar maupun majalah. Mula-mula dikenal sebagai kolumnis masalah sosial dan budaya di harian Kompas. Kumpulan esei-eseinya itu sudah dikumpulkan menjadi buku berjudul Puntung-Puntung Roro Gendut. Pengetahuannya yang luas dan penguasaannya atas beberapa bahasa berat mempengaruhi tulis-tulisannya. Esei-eseinya menunjukkan kepadatan namun diungkapkan dengan nada senda gurau yang ringan.

Kepengarangan Awal Mangunwijaya bisa dilihat dari dua novelnya yaitu Burung-Burung Manyar dan Romo Rahadi. Novelnya yang kedua ini sebenarnya justru ditulis pertama kali. Romo Rahadi mengisahkan problematik kejiwaan seorang pastor muda dalam menghadapi naluri-naluri kelaki-lakiannya dengan kekuatan panggilan manatannya.

Novel ini, lebih sedikit diketahui pembaca hari ini, walau begitu lebih menarik lagi karena bersetting di pedalaman Jaya. Gaya bahasa Mangun tak bisa dibedakan dengan kebanyakan eseinya. Justru dalam novel-novelnya nampak sekali adanya unsur esei yang selalu ingin memberi penjelasan secara argumentative. Dalam novel Romo Rahadi gaya sudah mulai berkurang. Romo Mangun sendiri menamakan romannya Burung Burung Manyar sebagai roman esei. Dalam kematangan visi dan luas pengetahuannya ia boleh disejajarkan dengan tokoh semacam Sutan Takdir Alisjahbana yang juga mengisi roman-romannya yang tebal dengan penjelasan-penjelasan yang eseis.

Burung-Burung Manyar.

Tentang revolusi Indonesia dan patriotisme telah banyak ditulis dalam sastra Indonesia. Tetapi point of view dan sikap melihat revolusi itu masih tetap dari segi Indonesia. Setelah revolusi itu berlalu 35 tahun rupanya orang mulai melihatnya secara kritis dan obyektif. Cara melihat demikian dimungkinkan oleh banyak peristiwa yang sudah cukup menyejarah dank arena banyak dari generasi jarang yang tidak mengenal revolusi itu secara langsung.

Kolumnis Y.B. Mangunwijaya adalah orang pertama yang mencoba melihat revolusi itu dari segi yang boleh dikatakan obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda. Kalau sejak novel Keluarga Gerilya sampai dengan Maut dan Cinta nasionalisme dan patriotisme selalu menonjol menjadi tema dan suasana cerita, dengan protagonis orang-orang Indonesia yang bersedia mati buat tanah air, maka Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya (dia menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar ini memasang protagonis orang Indonesia yang anti Republik, yakni seorang KNIL, dengan pandangan yang mencemooh perjuangan dan dibawakan dengan nada ejekan yang humoristis sesuai dengan gaya dia dalam menulis esei-eseinya di koran. Barangkali segi inilah yang menarik dari novel pertama Mangunwijaya ini.

Novel ini bercerita tentang Setadewa seorang anak tunggal dari ibu Indo-Belanda dengan seorang bangsawan keraton Solo. Sang ayah yang lulusan Akademi Militer Breda inilah yang mendorong Setadewa masuk tentara KNIL waktu revolusi meletus. Tetapi alasan utamanya adalah lantaran kedua orang tuanya menjadi korban keganasan Jepang, dan Sukarno Hatta waktu itu bekerja sama dengan Jepang. Juga pemerintahan R.I. yang kemudian terbentuk dinilainya sebagai bikinan atau meniru Jepang. Ia membenci Indonesia karena alasan-alasan pribadi saja dan bukan prinsipiil ideologis. Motivasi ini barangkali cukup masuk akal. Sebab pemuda ini dididik oleh seorang militer yang dinas dalam KNIL dan masa mudanya terpuruk kebanggaan militer Belanda. Namun alasan Seta untuk tidak menyukai Indonesia bahkan memusuhinya karena Sukarno Hatta yang mendirikan R.I. bekas pegawai Jepang, rasanya merupakan alasan psikologis yang kurang dijelaskan secara baik. Terlalu sedikit penggambaran kejiwaan atau konflik kejiwaan dalam hal ini. Kalau orang tua mereka binasa akibat kekejaman Jepang mengapa ia membenci dan melampiaskan dendamnya pada bangsa Indonesia yang sebenarnya juga menjadi korban keganasan?

Tetapi konflik kejiwaan Seta ini hanyalah sampingan belaka. Penggarapan pengarang terutama pada masalah percintaan Seta dengan gadis bangsawan teman sekolahnya yang juga berdarah bangsawan, yakni Atik Larasati. Diam-diam kedua remaja ini saling menaruh hati (episode tahun 1934-1942) sampai pecahnya perang dunia dan kedatangan Jepang di Indonesia. Setelah proklamasi Seta memutuskan untuk bekerja sebagai tentara KNIL, sedang Atik justru bekerja sebagai penterjemah pada staf perdana menteri Syahrir. Rupanya hambatan inilah yang merupakan problem utama novel. Seorang KNIL mencintai seorang gadis Republik. Meskipun Seta berusaha tetap menjalin hubungan namun cinta tak mungkin diteruskan. Tetapi rupanya cinta terpendam ini begitu mendalam sehingga pada tahun 1978 Seta yang sudah berumah tangga (dan gagal) mencoba mengadakan “sentimental journey” ke Jawa dan menemui bekas kekasihnya di zaman Belanda dulu. Ternyata Atik juga tak melupakan.

Kelemahan konflik utama cerita ini adalah penggambaran cinta yang begitu platonic. Seta dan Atik sebenarnya tidak pernah menjalin hubungan cinta secara mesra betul. Peristiwa-peristiwa pacaran tak pernah terjadi, tetapi keduanya begitu memendam cinta yang begitu dalam. Dalam sejarah barangkali karakter begini bisa dikembalikan pada penyair Dante Alighieri. Bahkan waktu kedua asyik masyuk ini bertemu berdua saja di rumah kosong tak terjadi peristiwa cinta yang cukup sederhana. Meteka hanya berpelukan. Dan keduanya memendam cinta membara. Dan Seta adalah seorang prajurit KNIL yang tergolong bersih dalam urusan dengan seks. Masak tidak lebih hanya berpelukan saja? Toh persitiwa ini sanggup membuat kedua orang yang kelak sudah dewasa dan berkeluarga ini masih tetap saling mengharap akan bertemu dan menjalin hubungan asmara lagi. Dalam takaran ini jelaslah bahwa Mangunwijaya mentrapkan “mawar berduri” dalam kisah cinta novel Indonesia.

Meskipun tema sentral ini agak lemah, tetapi saya justru menaruh perhatian pada sikap-sikap Seta yang anti Indonesia ini. Di samping itu informasi kehidupan tentara KNIL dari dalam baru kali ini ditulis dalam sastra Indonesia. Penilaian Seta yang sinis dan merendahkan pemimpin-pemimpin Indonesia pada masa gawatnya revolusi sesuai betul dengan gaya pengarangnya yang secara intelektual suka mengejek keterpelajaran itu. Inilah pelopor fiksi yang mencoba melihat sejarah secara obyektif. Tidak ada lagi sentimental rendah yang selalu menggambarkan setiap memihak perjuangan adalah otomatis luhur dan suci. Mangunwijaya menyadarkan pembacanya bahwa kedua belah fihak adalah manusia. Mereka mendukung kebenarannya sendiri-sendiri. Dan penilaian terserah pada pembacanya. Saya kira dengan melihat secara obyektif dan tidak memihak ini justru makin jelaslah “kebenaran” dan nilai perjuangan revolusi Indonesia. Yang kita inginkan sekarang bukan lagi kecengengan dan sentimentalitas, tetapi hakekat. Dan jalan menuju ke sana tidak bisa ditempuh hanya dengan melihat dari satu segi pandangan saja, yakni segi Indonesia yang selalu bertindak sebagai protagonis. Patriotisme dan nasionalisme yang lebih murni mungkin akan lebih terpatri kalau kita juga diajak masuk dalam pikiran antagonis kita, Belanda pada waktu itu. Dan Mangunwijaya mencoba menyuguhkan sekelumit pikiran antagonis kita itu.

Gaya bercerita pengarang untuk novel yang begini panjang cukup melelahkan. Ini disebabkan karena Mangunwijaya terlalu banyak memakai tehnik narasi. Semua kejadian dituturkan dan dikomentari secara panjang lebar. Novel yang begini tebal perlu penceritaan dramatic yang dapat menimbulkan suasana cerita sehingga pembaca larut dalam pengalaman konkrit pelaku utamanya. Juga point of view yang diambil pengarang pengarang dengan tehnik “akuan” ternyata tidak mampu mendukung semua informasi kejadian, dan untuk itu dipakai tehnik Omniscient (kejadian dilihat dari atas). Akibatnya pengarang harus bolak balik antara dua tehnik tersebut. Dan celakanya dua tehnik ini memiliki gaya yang sama. Dengan demikian jelas sekali bahwa pribadi pengarang larut atau menjelma dalam pribadi tokoh ciptaannya, Setadewa. Suara dan gaya Mangunwijaya menjadi gaya Setadewa.

Mangunwijaya juga terlalu banyak memasang “ gambar mati” buat melukiskan kejadian cerita. Rentetan kejadian yang menggambarkan perjalanan konflik tidak dipasang dalam kisah yang mengalir dan “hidup” (gambar hidup) tetapi dalam bentuk slide. Adalah khas Mangunwijaya untuk menghentikan sebuah peristiwa dalam cerita dan memberi komentar inilah yang membuat novel berjalan sangat lamban. Namun tetap harus diakui bahwa komentar-komentarnya tetap punya nilai intelektual yang tinggi dan menunjukkan keluasan pengetahuan pengarang. Tetapi novel adalah novel bukan esei yang menerangjelaskan.

Akhirnya nilai buku ini terutama terletak kepada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti-republik semasa revolusi, sebagai informasinya tentang kehidupan tentara Knil dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan. Hanya tehnik penyajian saya kira yang membuat novel ini nampak sebagai bacaan yang berat. Novel ini miskin peristiwa, terlalu banyak renungan.

Romo Rahadi

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Keistimewaan novel ini adalah pada tema yang digarapnya. Ia membicarakan jabatan pastor dan segala konsekwensinya. Istimewa sekali menyorot pribadi room atau pastor sebagai manusia dan lelaki. Jabatan dalam agama ini bukan sekedar jabatan. Ia adalah “panggilan” Tuhan. Memang ada kebebasan bagi pejabatnya untuk langsung menerima tugas dan jabatan pastor atau meninggalkannya, dan justru karena itu sifat panggilannya akan menonjol, seperti dibuktikan oleh novel tebal ini.

Albertus Rahadi adalah pemuda Jawa yang disambut gembira oleh keluarganya waktu ia menyatakan diri masuk sekolah pastor (seminari). Ini anugerah Tuhan bagi keluarga Katolik yang taat itu. Namun Rahadi adalah pemuda sehat jiwa raga. Setelah menjadi imam atau room ia datangi gadis Indo – Veitnam, waktu di Jerman, bernama Hildegrad. Gadis yang secara budaya tidak mampu lagi hidup di Barat mencari pegangan baru dan memperolehnya pada figur Rahadi. Hanya sayang pemuda sehat ini adalah pastor. Tetapi keduanya sudah saling cocok dan bersahabat untuk tidak mengatakan cinta mencintai. Perkenalan ini untuk sementara terputus ketika Rahadi harus kembali ke Indonesia. Dan dalam perjalanan Rahadi ke Irian, untuk berlibur dan sekaligus merefleksi dirinya apakah ia akan terus memantapkan dirinya sebagai romo atau tidak, secara diluar dugaan ia sepesawat dengan Hilde yang dalam perjalanan petualangannya ke Irian atas undangan pamannya seorang anthropolog. Kenangan-kenangan lama muncul kembali, dan rasa saling membutuhkan sebagai manusia “lengkap” hidup kembali. Di Irian Rahadi berpisah dengan Hilde, tetapi bertemu kembali dengan Rosi kawan dan “pacar” sebelum menjadi pastor. Dalam suatu peristiwa balas dendam sesuatu suku, Hilde bersama beberapa lelaki asing diculik dan dibawa masuk ke dalam hutan rimba. Pertolongan yang diberikan Rahadi untuk menyelamatkan Hilde adalah masuk ke dalam rombongan militer yang dipimpin oleh abang iparnya. Sayang, Hilde tak tertolong dan menjadi korban satu-satunya. Rahadi mendapat pukulan berat, bukan karena Hilde sebagai wanita saja tetapi juga kawatir Hilde kecewa terhadap pencarian ketenangan batinnya yang diburu-buru selama ini. Pukulan jiwa ini dapat dipulihkan oleh dokter Rosi yang janda kembang. Keduanya tergoda begitu hebat untuk saling melengkapi diri sebagai layaknya orang awam. Hampir saja Rahadi siap meninggalkan jubahnya, tetapi si wanita justru yang paling kuat menolak mengingat kehidupan mereka kelak di masyarakat. Bagaimana bisa tenang hidup bersama “bekas pastor” di tengah bekas domba-dombanya? Novel diakhiri dengan tekad bulat Rahadi untuk kembali ke Jakarta, kepada kehidupan nyata penggembalaannya sebagai pastor.

Nampak bahwa jabatan pastor dalam novel ini menyangkut masalah rohani dan iman. Ia bukan sekedar pemimpin umat dalam arti sosial. Godaan-godaan deras terhadap wanita dan kehangatan cintanya yang nyata membuat Rahadi berkali-kali goncang. Namun justru dalam tempaan-tempaan godaan ini Rahadi sanggup menyelami dasar samodra panggilannya. Kegagalan-kegagalan percintaannya bukan lantaran kemauan dirinya. Ia cenderung mau. Tetapi kedua wanitanya menolak dengan turun tangannya takdir dan kesadaran berkorban. Hilde meninggal dan Rosi memang tidak mampu hidup dengan “bekas pastornya” meskipun cintanya hanya pada dia.

Gambaran figure Rahadi sebagai lelaki dan manusia normal amat mengesankan. Potret kehidupan jiwa seorang romo amat jelas tergambar. Mangunwijaya mampu menghadirkan godaan-godaan sensualitas secara hidup sekali. Penilaian-penilaian Rahadi sebagai pastor terhadap wanita muda sama hidupnya dengan lelaki normal mana pun. Dibalik jubah itu berdetak naluri-naluri alami yang biologis. Ia mengalir disana secara deras dan sehat. Namun jabatan sebagai pastor yang dilandasi aturan keras dalam selibat (tidak boleh menikah selama hidup), yang lebih merupakan perjanjian pribadi, membatasi aliran hidup itu. Konflik jiwa Rahadi antara memetik dan terus takwa kepada perjanjian, membawa dia masuk ke dalam hakekat kebebasan manusia dalam menentukan pilhan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia diberi rumusan yang jitu. Kebebasan mengandung mengandung resiko gagal, sedang kepastian dala keimanan yang kalau dibrikan mesti selamat tanpa resiko kegagalan, lebih disukai Rahadi. Ketenangan dalam kegelisahan. Konflik-konflik jiwa Hilde, Rahadi, Rosi semuanya membawa pembaca ke dalam pemikiran-pemikiran mendalam dan mendasar. Untuk ini dengan sendirinya pembaca berhak menolak atau menerimanya tergantung dari falsafah hidup masing-masing. Tetapi pengarang berusaha untuk mendudukkannya dalam taraf pemikiran yang rasional saja, meskipun tak bisa dielakkan juga dasar pandangan hidup pengarangnya yang pastor itu. Itu nampak dalam pandangannya tentang kebebasan tadi.

Keistimewaan lain dari novel ini adalah setting Irian yang digambarkan dengan sangat otentik. Penggambaran hutan rimba dan topografinya yang teliti nampaknya berdasarkan pengalaman yang nyata. Juga kebudayaan mereka dan tempatnya dalam peta kebudayaan manusia serta maknanya yang masih tetap aktual digambarkan dengan takaran intelektual dan pengetahuan yang luas. Dan memang inilah gaya Mangunwijaya yang menonjol kaya referensi budayanya, tangkas daya pikirnya, humoritis dalam menanggapi kehidupan dan kepekaannya dalam rasa bahasa yang amat beragam itu. Namun gaya ini juga bisa membawa bahaya kalau lepas control. Dalam novel ini nampak dalam bagian penggambaran kehidupan keluarga Swantaji yang terlalu bertele-tele, semata-mata hanya untuk adegan-adegan kelucuan anak-anak yang kurang memberikan aksentuasi pada pokok cerita. Bahkan bagian ini agak mengganggu kelangsungan cerita.

Suatu masalah yang kini ramai diperbincangkan tentang masuknya sastra lesan dalam penulisan, kiranya amat menonjol dalam karya-karya Mangunwijaya. Membaca humor-humor Mangunwijaya orang cepat sekali ingat bagaimana kata-kata semacam itu diucapkan. Artinya kita baru bisa menikmati nilainya secara lengkap kalau diperagakan, sebab hal itu dipungut dari kenyataan lesan. Dengan sendirinya referensi budaya bahasa itu harus dimiliki oleh si pembaca. Dalam masalah bahasa lesan ini apakah merupakan unsur yang memperkaya sastra atau justru malah memerosotkannya, bisa melahirkan banyak pendapat. Dalam hal ini jelas sekali bahwa unsur bahasa lesan (yang dituliskan) hanya bisa dinikmati oleh pemiliki bahasa yang bersangkutan saja, meskipun dalam bahasa Mangunwijaya ini  jauh lebih tertib misalnya dengan sajak-sajak Darmanto, atau Umar Kayam.

Novel ini menunjukkan bahwa karya sastra seharusnya merupakan kerja intelektual dan bukan sekedar tukang cerita. Ia merupakan pemikiran yang otentik dan baru. Dalam hal ini jelas bahwa Mangunwijaya lebih dahulu muncul sebagai seorang intelektual yang kemudian memakai media sastra buat berkomunikasi. Dengan sendirinya takaran intelektual seorang sastrawan harus seimbang dengan ketrampilan tehnis keseniannya. Dan dalam hal ini kiranya Mangunwijaya telah mendekati idealisme demikian. Novelnya ini cukup hidup, lancar, sugestif, meskipun ada cacad terlalu lepas rem dalam humornya yang bertele-tele dalam bab tiga. (*)

*Dari berbagai sumber, dikaji oleh Tim Editorial Galeri Buku Jakarta

Continue Reading
Advertisement

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending