Connect with us

Buku

Y.B. Mangunwijaya, Burung-Burung Manyar Romo Rahadi

mm

Published

on

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Mangunwijaya adalah seorang pastor yang banyak menulis di berbagai dia penerbitan umum, baik surat kabar maupun majalah. Mula-mula dikenal sebagai kolumnis masalah sosial dan budaya di harian Kompas. Kumpulan esei-eseinya itu sudah dikumpulkan menjadi buku berjudul Puntung-Puntung Roro Gendut. Pengetahuannya yang luas dan penguasaannya atas beberapa bahasa berat mempengaruhi tulis-tulisannya. Esei-eseinya menunjukkan kepadatan namun diungkapkan dengan nada senda gurau yang ringan.

Kepengarangan Awal Mangunwijaya bisa dilihat dari dua novelnya yaitu Burung-Burung Manyar dan Romo Rahadi. Novelnya yang kedua ini sebenarnya justru ditulis pertama kali. Romo Rahadi mengisahkan problematik kejiwaan seorang pastor muda dalam menghadapi naluri-naluri kelaki-lakiannya dengan kekuatan panggilan manatannya.

Novel ini, lebih sedikit diketahui pembaca hari ini, walau begitu lebih menarik lagi karena bersetting di pedalaman Jaya. Gaya bahasa Mangun tak bisa dibedakan dengan kebanyakan eseinya. Justru dalam novel-novelnya nampak sekali adanya unsur esei yang selalu ingin memberi penjelasan secara argumentative. Dalam novel Romo Rahadi gaya sudah mulai berkurang. Romo Mangun sendiri menamakan romannya Burung Burung Manyar sebagai roman esei. Dalam kematangan visi dan luas pengetahuannya ia boleh disejajarkan dengan tokoh semacam Sutan Takdir Alisjahbana yang juga mengisi roman-romannya yang tebal dengan penjelasan-penjelasan yang eseis.

Burung-Burung Manyar.

Tentang revolusi Indonesia dan patriotisme telah banyak ditulis dalam sastra Indonesia. Tetapi point of view dan sikap melihat revolusi itu masih tetap dari segi Indonesia. Setelah revolusi itu berlalu 35 tahun rupanya orang mulai melihatnya secara kritis dan obyektif. Cara melihat demikian dimungkinkan oleh banyak peristiwa yang sudah cukup menyejarah dank arena banyak dari generasi jarang yang tidak mengenal revolusi itu secara langsung.

Kolumnis Y.B. Mangunwijaya adalah orang pertama yang mencoba melihat revolusi itu dari segi yang boleh dikatakan obyektif, bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda. Kalau sejak novel Keluarga Gerilya sampai dengan Maut dan Cinta nasionalisme dan patriotisme selalu menonjol menjadi tema dan suasana cerita, dengan protagonis orang-orang Indonesia yang bersedia mati buat tanah air, maka Y.B. Mangunwijaya dengan novelnya (dia menyebutnya roman) Burung-Burung Manyar ini memasang protagonis orang Indonesia yang anti Republik, yakni seorang KNIL, dengan pandangan yang mencemooh perjuangan dan dibawakan dengan nada ejekan yang humoristis sesuai dengan gaya dia dalam menulis esei-eseinya di koran. Barangkali segi inilah yang menarik dari novel pertama Mangunwijaya ini.

Novel ini bercerita tentang Setadewa seorang anak tunggal dari ibu Indo-Belanda dengan seorang bangsawan keraton Solo. Sang ayah yang lulusan Akademi Militer Breda inilah yang mendorong Setadewa masuk tentara KNIL waktu revolusi meletus. Tetapi alasan utamanya adalah lantaran kedua orang tuanya menjadi korban keganasan Jepang, dan Sukarno Hatta waktu itu bekerja sama dengan Jepang. Juga pemerintahan R.I. yang kemudian terbentuk dinilainya sebagai bikinan atau meniru Jepang. Ia membenci Indonesia karena alasan-alasan pribadi saja dan bukan prinsipiil ideologis. Motivasi ini barangkali cukup masuk akal. Sebab pemuda ini dididik oleh seorang militer yang dinas dalam KNIL dan masa mudanya terpuruk kebanggaan militer Belanda. Namun alasan Seta untuk tidak menyukai Indonesia bahkan memusuhinya karena Sukarno Hatta yang mendirikan R.I. bekas pegawai Jepang, rasanya merupakan alasan psikologis yang kurang dijelaskan secara baik. Terlalu sedikit penggambaran kejiwaan atau konflik kejiwaan dalam hal ini. Kalau orang tua mereka binasa akibat kekejaman Jepang mengapa ia membenci dan melampiaskan dendamnya pada bangsa Indonesia yang sebenarnya juga menjadi korban keganasan?

Tetapi konflik kejiwaan Seta ini hanyalah sampingan belaka. Penggarapan pengarang terutama pada masalah percintaan Seta dengan gadis bangsawan teman sekolahnya yang juga berdarah bangsawan, yakni Atik Larasati. Diam-diam kedua remaja ini saling menaruh hati (episode tahun 1934-1942) sampai pecahnya perang dunia dan kedatangan Jepang di Indonesia. Setelah proklamasi Seta memutuskan untuk bekerja sebagai tentara KNIL, sedang Atik justru bekerja sebagai penterjemah pada staf perdana menteri Syahrir. Rupanya hambatan inilah yang merupakan problem utama novel. Seorang KNIL mencintai seorang gadis Republik. Meskipun Seta berusaha tetap menjalin hubungan namun cinta tak mungkin diteruskan. Tetapi rupanya cinta terpendam ini begitu mendalam sehingga pada tahun 1978 Seta yang sudah berumah tangga (dan gagal) mencoba mengadakan “sentimental journey” ke Jawa dan menemui bekas kekasihnya di zaman Belanda dulu. Ternyata Atik juga tak melupakan.

Kelemahan konflik utama cerita ini adalah penggambaran cinta yang begitu platonic. Seta dan Atik sebenarnya tidak pernah menjalin hubungan cinta secara mesra betul. Peristiwa-peristiwa pacaran tak pernah terjadi, tetapi keduanya begitu memendam cinta yang begitu dalam. Dalam sejarah barangkali karakter begini bisa dikembalikan pada penyair Dante Alighieri. Bahkan waktu kedua asyik masyuk ini bertemu berdua saja di rumah kosong tak terjadi peristiwa cinta yang cukup sederhana. Meteka hanya berpelukan. Dan keduanya memendam cinta membara. Dan Seta adalah seorang prajurit KNIL yang tergolong bersih dalam urusan dengan seks. Masak tidak lebih hanya berpelukan saja? Toh persitiwa ini sanggup membuat kedua orang yang kelak sudah dewasa dan berkeluarga ini masih tetap saling mengharap akan bertemu dan menjalin hubungan asmara lagi. Dalam takaran ini jelaslah bahwa Mangunwijaya mentrapkan “mawar berduri” dalam kisah cinta novel Indonesia.

Meskipun tema sentral ini agak lemah, tetapi saya justru menaruh perhatian pada sikap-sikap Seta yang anti Indonesia ini. Di samping itu informasi kehidupan tentara KNIL dari dalam baru kali ini ditulis dalam sastra Indonesia. Penilaian Seta yang sinis dan merendahkan pemimpin-pemimpin Indonesia pada masa gawatnya revolusi sesuai betul dengan gaya pengarangnya yang secara intelektual suka mengejek keterpelajaran itu. Inilah pelopor fiksi yang mencoba melihat sejarah secara obyektif. Tidak ada lagi sentimental rendah yang selalu menggambarkan setiap memihak perjuangan adalah otomatis luhur dan suci. Mangunwijaya menyadarkan pembacanya bahwa kedua belah fihak adalah manusia. Mereka mendukung kebenarannya sendiri-sendiri. Dan penilaian terserah pada pembacanya. Saya kira dengan melihat secara obyektif dan tidak memihak ini justru makin jelaslah “kebenaran” dan nilai perjuangan revolusi Indonesia. Yang kita inginkan sekarang bukan lagi kecengengan dan sentimentalitas, tetapi hakekat. Dan jalan menuju ke sana tidak bisa ditempuh hanya dengan melihat dari satu segi pandangan saja, yakni segi Indonesia yang selalu bertindak sebagai protagonis. Patriotisme dan nasionalisme yang lebih murni mungkin akan lebih terpatri kalau kita juga diajak masuk dalam pikiran antagonis kita, Belanda pada waktu itu. Dan Mangunwijaya mencoba menyuguhkan sekelumit pikiran antagonis kita itu.

Gaya bercerita pengarang untuk novel yang begini panjang cukup melelahkan. Ini disebabkan karena Mangunwijaya terlalu banyak memakai tehnik narasi. Semua kejadian dituturkan dan dikomentari secara panjang lebar. Novel yang begini tebal perlu penceritaan dramatic yang dapat menimbulkan suasana cerita sehingga pembaca larut dalam pengalaman konkrit pelaku utamanya. Juga point of view yang diambil pengarang pengarang dengan tehnik “akuan” ternyata tidak mampu mendukung semua informasi kejadian, dan untuk itu dipakai tehnik Omniscient (kejadian dilihat dari atas). Akibatnya pengarang harus bolak balik antara dua tehnik tersebut. Dan celakanya dua tehnik ini memiliki gaya yang sama. Dengan demikian jelas sekali bahwa pribadi pengarang larut atau menjelma dalam pribadi tokoh ciptaannya, Setadewa. Suara dan gaya Mangunwijaya menjadi gaya Setadewa.

Mangunwijaya juga terlalu banyak memasang “ gambar mati” buat melukiskan kejadian cerita. Rentetan kejadian yang menggambarkan perjalanan konflik tidak dipasang dalam kisah yang mengalir dan “hidup” (gambar hidup) tetapi dalam bentuk slide. Adalah khas Mangunwijaya untuk menghentikan sebuah peristiwa dalam cerita dan memberi komentar inilah yang membuat novel berjalan sangat lamban. Namun tetap harus diakui bahwa komentar-komentarnya tetap punya nilai intelektual yang tinggi dan menunjukkan keluasan pengetahuan pengarang. Tetapi novel adalah novel bukan esei yang menerangjelaskan.

Akhirnya nilai buku ini terutama terletak kepada keberanian pengarang untuk mengisahkan konflik jiwa seorang anti-republik semasa revolusi, sebagai informasinya tentang kehidupan tentara Knil dan gaya humor pengarang yang kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan. Hanya tehnik penyajian saya kira yang membuat novel ini nampak sebagai bacaan yang berat. Novel ini miskin peristiwa, terlalu banyak renungan.

Romo Rahadi

Novel ini justru lebih kuat dan lebih utuh sebagai novel dibanding dengan Burung-Burung Manyar. Novelnya yang satu ini terlalu sara dengan renungan dan pemikiran. Dan dalam hal ini Mangunwijaya memang sudah membuktikan mampu dan berbobot lewat esei dan artikel-artikelnya. Romo Rahadi adalah novel yang penuh dengan emosi tetapi sekaligus tidak lepas dari tinjauan-tinjauan logisnya. Justru karena unsur inilah novel Romo Rahadi lebih utuh sebagai rumusan pengalaman manusia. Burung-burung Manyar yang banyak memuat refleksi-refleksi jiwa itu justru kurang mampu membawa pembacanya ke dalam suasana pengalaman yang beraneka aspek itu.

Keistimewaan novel ini adalah pada tema yang digarapnya. Ia membicarakan jabatan pastor dan segala konsekwensinya. Istimewa sekali menyorot pribadi room atau pastor sebagai manusia dan lelaki. Jabatan dalam agama ini bukan sekedar jabatan. Ia adalah “panggilan” Tuhan. Memang ada kebebasan bagi pejabatnya untuk langsung menerima tugas dan jabatan pastor atau meninggalkannya, dan justru karena itu sifat panggilannya akan menonjol, seperti dibuktikan oleh novel tebal ini.

Albertus Rahadi adalah pemuda Jawa yang disambut gembira oleh keluarganya waktu ia menyatakan diri masuk sekolah pastor (seminari). Ini anugerah Tuhan bagi keluarga Katolik yang taat itu. Namun Rahadi adalah pemuda sehat jiwa raga. Setelah menjadi imam atau room ia datangi gadis Indo – Veitnam, waktu di Jerman, bernama Hildegrad. Gadis yang secara budaya tidak mampu lagi hidup di Barat mencari pegangan baru dan memperolehnya pada figur Rahadi. Hanya sayang pemuda sehat ini adalah pastor. Tetapi keduanya sudah saling cocok dan bersahabat untuk tidak mengatakan cinta mencintai. Perkenalan ini untuk sementara terputus ketika Rahadi harus kembali ke Indonesia. Dan dalam perjalanan Rahadi ke Irian, untuk berlibur dan sekaligus merefleksi dirinya apakah ia akan terus memantapkan dirinya sebagai romo atau tidak, secara diluar dugaan ia sepesawat dengan Hilde yang dalam perjalanan petualangannya ke Irian atas undangan pamannya seorang anthropolog. Kenangan-kenangan lama muncul kembali, dan rasa saling membutuhkan sebagai manusia “lengkap” hidup kembali. Di Irian Rahadi berpisah dengan Hilde, tetapi bertemu kembali dengan Rosi kawan dan “pacar” sebelum menjadi pastor. Dalam suatu peristiwa balas dendam sesuatu suku, Hilde bersama beberapa lelaki asing diculik dan dibawa masuk ke dalam hutan rimba. Pertolongan yang diberikan Rahadi untuk menyelamatkan Hilde adalah masuk ke dalam rombongan militer yang dipimpin oleh abang iparnya. Sayang, Hilde tak tertolong dan menjadi korban satu-satunya. Rahadi mendapat pukulan berat, bukan karena Hilde sebagai wanita saja tetapi juga kawatir Hilde kecewa terhadap pencarian ketenangan batinnya yang diburu-buru selama ini. Pukulan jiwa ini dapat dipulihkan oleh dokter Rosi yang janda kembang. Keduanya tergoda begitu hebat untuk saling melengkapi diri sebagai layaknya orang awam. Hampir saja Rahadi siap meninggalkan jubahnya, tetapi si wanita justru yang paling kuat menolak mengingat kehidupan mereka kelak di masyarakat. Bagaimana bisa tenang hidup bersama “bekas pastor” di tengah bekas domba-dombanya? Novel diakhiri dengan tekad bulat Rahadi untuk kembali ke Jakarta, kepada kehidupan nyata penggembalaannya sebagai pastor.

Nampak bahwa jabatan pastor dalam novel ini menyangkut masalah rohani dan iman. Ia bukan sekedar pemimpin umat dalam arti sosial. Godaan-godaan deras terhadap wanita dan kehangatan cintanya yang nyata membuat Rahadi berkali-kali goncang. Namun justru dalam tempaan-tempaan godaan ini Rahadi sanggup menyelami dasar samodra panggilannya. Kegagalan-kegagalan percintaannya bukan lantaran kemauan dirinya. Ia cenderung mau. Tetapi kedua wanitanya menolak dengan turun tangannya takdir dan kesadaran berkorban. Hilde meninggal dan Rosi memang tidak mampu hidup dengan “bekas pastornya” meskipun cintanya hanya pada dia.

Gambaran figure Rahadi sebagai lelaki dan manusia normal amat mengesankan. Potret kehidupan jiwa seorang romo amat jelas tergambar. Mangunwijaya mampu menghadirkan godaan-godaan sensualitas secara hidup sekali. Penilaian-penilaian Rahadi sebagai pastor terhadap wanita muda sama hidupnya dengan lelaki normal mana pun. Dibalik jubah itu berdetak naluri-naluri alami yang biologis. Ia mengalir disana secara deras dan sehat. Namun jabatan sebagai pastor yang dilandasi aturan keras dalam selibat (tidak boleh menikah selama hidup), yang lebih merupakan perjanjian pribadi, membatasi aliran hidup itu. Konflik jiwa Rahadi antara memetik dan terus takwa kepada perjanjian, membawa dia masuk ke dalam hakekat kebebasan manusia dalam menentukan pilhan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya dalam hidup ini. Dan arti kebebasan manusia diberi rumusan yang jitu. Kebebasan mengandung mengandung resiko gagal, sedang kepastian dala keimanan yang kalau dibrikan mesti selamat tanpa resiko kegagalan, lebih disukai Rahadi. Ketenangan dalam kegelisahan. Konflik-konflik jiwa Hilde, Rahadi, Rosi semuanya membawa pembaca ke dalam pemikiran-pemikiran mendalam dan mendasar. Untuk ini dengan sendirinya pembaca berhak menolak atau menerimanya tergantung dari falsafah hidup masing-masing. Tetapi pengarang berusaha untuk mendudukkannya dalam taraf pemikiran yang rasional saja, meskipun tak bisa dielakkan juga dasar pandangan hidup pengarangnya yang pastor itu. Itu nampak dalam pandangannya tentang kebebasan tadi.

Keistimewaan lain dari novel ini adalah setting Irian yang digambarkan dengan sangat otentik. Penggambaran hutan rimba dan topografinya yang teliti nampaknya berdasarkan pengalaman yang nyata. Juga kebudayaan mereka dan tempatnya dalam peta kebudayaan manusia serta maknanya yang masih tetap aktual digambarkan dengan takaran intelektual dan pengetahuan yang luas. Dan memang inilah gaya Mangunwijaya yang menonjol kaya referensi budayanya, tangkas daya pikirnya, humoritis dalam menanggapi kehidupan dan kepekaannya dalam rasa bahasa yang amat beragam itu. Namun gaya ini juga bisa membawa bahaya kalau lepas control. Dalam novel ini nampak dalam bagian penggambaran kehidupan keluarga Swantaji yang terlalu bertele-tele, semata-mata hanya untuk adegan-adegan kelucuan anak-anak yang kurang memberikan aksentuasi pada pokok cerita. Bahkan bagian ini agak mengganggu kelangsungan cerita.

Suatu masalah yang kini ramai diperbincangkan tentang masuknya sastra lesan dalam penulisan, kiranya amat menonjol dalam karya-karya Mangunwijaya. Membaca humor-humor Mangunwijaya orang cepat sekali ingat bagaimana kata-kata semacam itu diucapkan. Artinya kita baru bisa menikmati nilainya secara lengkap kalau diperagakan, sebab hal itu dipungut dari kenyataan lesan. Dengan sendirinya referensi budaya bahasa itu harus dimiliki oleh si pembaca. Dalam masalah bahasa lesan ini apakah merupakan unsur yang memperkaya sastra atau justru malah memerosotkannya, bisa melahirkan banyak pendapat. Dalam hal ini jelas sekali bahwa unsur bahasa lesan (yang dituliskan) hanya bisa dinikmati oleh pemiliki bahasa yang bersangkutan saja, meskipun dalam bahasa Mangunwijaya ini  jauh lebih tertib misalnya dengan sajak-sajak Darmanto, atau Umar Kayam.

Novel ini menunjukkan bahwa karya sastra seharusnya merupakan kerja intelektual dan bukan sekedar tukang cerita. Ia merupakan pemikiran yang otentik dan baru. Dalam hal ini jelas bahwa Mangunwijaya lebih dahulu muncul sebagai seorang intelektual yang kemudian memakai media sastra buat berkomunikasi. Dengan sendirinya takaran intelektual seorang sastrawan harus seimbang dengan ketrampilan tehnis keseniannya. Dan dalam hal ini kiranya Mangunwijaya telah mendekati idealisme demikian. Novelnya ini cukup hidup, lancar, sugestif, meskipun ada cacad terlalu lepas rem dalam humornya yang bertele-tele dalam bab tiga. (*)

*Dari berbagai sumber, dikaji oleh Tim Editorial Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Forum Demokrasi dan Perannya Dalam Transisi Menuju Reformasi Sistem Politik di Indonesia

mm

Published

on

Reformasi sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun. Sejak itu pula, Indonesia memutuskan untuk menganut sistem demokrasi. Untuk bangsa sebesar Indonesia, perjalanan waktu dua dekade masih terbilang cukup muda. Karena itu, dibutuhkan diskursus maupun penelitian sejarah, sosial, politik, maupun ekonomi terkait arah dan relevansi keutuhan bangsa.

Virdika Rizky Utama, Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam satu karyanya, yang tadinya berasal  dari skripsinya, namun dengan kegigihannya dapat membukan suatu diskursus pemikiran yang segar terkait sejarah demokrasi Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul Demokrasi dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru; Penulis menjelaskan kronologis sejak jatuhnya Soekarno hingga tumbangnya pemerintahan Soeharto, dan Indonesia memasuki era demokrasi yang substansinya adalah kedaulatan ada ditangan rakyat. Karena rakyat dapat memilih pemimpinnya secara langsung, melalui mekanisme Pemilu.

Dalam buku ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa Indonesia bisa sampai pada sistem demokrasi seperti saat ini – yang dianggap sebagian ilmuwan politik merupakan sistem yang paling adil, adalah karena adanya peran Forum Demokrasi (FD) yang diprakarsai oleh sekelompok intelektual pada waktu itu, yang tergugah hatinya melihat pemerintahan Orde Baru yang semakin hari semakin menyudutkan kebebasan berpendapat atas nama stabilitas.

Untuk menghindari kesan otoriter, pemerintah Orde Baru pada waktu itu membentuk kelompok yang bernama ICMI. Tujuannya, untuk mengakomodir para birokrat dan para cerdik pandai ke dalam satu frame yang bercirikan Islam. Pasalnya, hingga memasuki tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru menyadari betul akan pentingnya peran entitas Islam, terutama dalam menaikan elektoral Pemerintah dimata rakyat, atau minimal pemerintah terhindar dari label “anti muslim”.

Akan tetapi, aktivis sekaligus juga Intelektual Islam yakni Abdulrahman Wahid atau dikenal Gusdur, menganggap ICMI yang tujuannya untuk merubah paradigma tentang Islam, malah dianggap terlalu sektoral. Buktinya, Gusdur berpendapat, ICMI lebih banyak di isi oleh kalangan elite birokrat, sehingga terkesan hanya sekedar mengakomodir kepentingan kelompok politik tertentu pada waktu itu. Terutama, menurut Gusdur, berasal dari keinginan kelompok militer “merah putih”.

Menimbang kondisi tersebut, Gusdur berserta tokoh intelektual lainnya, terutama yang berlatar belakang dari akademisi, hingga aktivis kampus maupun LSM berikrar untuk membentuk yang namanya Forum Demokrasi (FD). Gusdur dipilih sebagai Ketua-nya, pertimbangan selain dianggap kompeten dan konsisten dalam memperjuangan nilai-nilai pluralisme di Indonesia, namun terpenting, Gusdur adalah Ketua Umum Nadhatul Ulama pada waktu itu, yang merupakan Ormas Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia. Sehingga menempatkan Gusdur di Ketua Umum FD, adalah pilihan stategis politik untuk minimal membuat ‘panik’ pemerintah.

Judul Buku: Demokrasi Dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru | Tahun Buku: 2018 | Penulis: Virdika Rizky Utama | Penerbit: Penerbit PT Kanisius | Jumlah Halaman; 184

Menariknya, penulis melihat adanya FD juga dapat dibaca sebagai anti tesis dari kehadiran ICMI yang dibentuk oleh restu pemerintah. Maka, tidak heran, pengurus teras FD adalah para tokoh dari lintas golongan. Sehingga, adanya FD dianggap dapat ‘mengkerdilkan’ pamor ICMI. Padahal, di samping itu juga, FD substansinya adalah bertujuan mengeritik manajemen pengelolaan negara oleh pemerintah Orde Baru pada waktu itu.

Bahkan, redaksi media massa waktu itu juga, banyak mengaitkan, kehadiran FD sebagai bentuk ‘tandingan’ dari adanya ICMI. Meski begitu, dalam berbagai keterangan pers-nya, anggota FD juga berbeda pandangan satu sama lain dalam menyikapi tujuan dibentuknya FD. Di titik ini, mulai terlihat tidak adanya blue print yang matang dari FD.

Hal ini terbukti, peran FD hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. Menjelang detik-detik masa akhir Orde Baru, bahkan FD perannya sudah tidak signifikan. Terlebih, FD dalam kehadirannya hanya sebatas diskursus di kota Jakarta saja, tidak menyebar ke pelosok daerah. Walaupun ada beberapa kota juga yang siap membuka cabang perwakilannya.  Untuk ekspansi, FD terbentur oleh  sikap pemerintah Orde Baru yang keras pada para tokoh FD. Hingga membatasi ruang-ruang geraknya, seperti tidak boleh terlalu banyak diskusi, hingga pelarangan seminar di berbagai kesempatan. Di dalam buku ini juga mengatakan, setelah Pemilu 1992 tidak ada lagi peran-peran FD yang krusial.

Hingga akhirnya, setelah Soeharto lengser. Indonesia pun memasuki era baru, yang mana kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya.  Dan sistem pemilu pun menjadi lebih demokratis, karena rakyat yang langsung memilih. Sementara itu, para tokoh FK berjuang masing-masing, seperti dengan ada yang mendirikan partai – karena dalam iklim demokratis, partai merupakan kendaraan yang paling tepat untuk memperoleh kuaasaan.

Meskipun demikian, adanya buku ini memberikan khazanah baru dan membuka ruang-ruang diskursus baru, terutama perihal perubahan sosial dari berbagai dimensi disiplin ilmu menjelang keruntuhan Orde Baru. Walaupun, penulis pun mengakui, keterbatasan sumber primer maupun sekunder masih menjadi kendala untuk mengamati perubahan sosial dari sudut yang lebih mikro.

Dengan begitu, sejarah mencatat, FD memberikan andil yang cukup besar dalam mempersiapkan masa transisi menuju sistem politik yang demokratis.  Terlebih, FD didominasi oleh para intelektual yang bertujuan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Karena, sistem demokrasi harus ditopang oleh pemahaman politik warganya, agar ketika memilih pemimpin tidak seperti membeli kucing dalam karung. (*)

*) Peresensi: Muchammad Egi

Continue Reading

Buku

Pencapaian Sains dan Penghambatnya

mm

Published

on

Abad ke-21 sesungguhnya merupakan abad yang tak pernah terkirakan akan terjadi pada masa sebelumnya. Pasalnya, paling tidak hingga tiga perempat abad ke-20 banyak sekali peperangan, wabah penyakit, dan kelaparan yang membuat matinya harapan sebagian besar penduduk bumi. Kala itu, bumi layaknya memasuki abad kegelapan yang sesungguhnya dibandingkan istilah abad kegelapan yang dipakai pada abad ke-5 hingga ke-15 di Eropa.

Di tengah keputusasaan dan kegelapan, ada satu bidang kehidupan yang dapat membuat manusia memiliki harapan dan pencerahan. Bidang itu adalah sains atau ilmu pengetahuan. Tak tanggung-tanggung, Steven Pinker dalam buku ini menyebut hanya kepada sains dunia bisa berharap dan sekaligus berhutang budi.

Bukan tanpa sebab Pinker memiliki argumentasi tersebut. Ia membuktikan argumentasinya dengan menyediakan data di setiap babnya, untuk membandingkan masalah yang dihadapi manusia seperti wabah penyakit, kemiskinan, dan angka kematian akibat kejahatan atau perang semakin menurun dari abad ke-18.

Sebaliknya, tingkat kebahagiaan, jaminan sosial, pendidikan, dan kemananan  justru sangat jauh meningkat dibandingkan abad sebelumnya. Sains menyediakan obat, teknologi, dan informasi untuk terus menaikan taraf hidup umat manusia.

Membaiknya dunia karena majunya sains, menurut Pinker, sejalan dengan kemajuan demokrasi, liberalisasi, dan kapitalisme yang menjunjung tinggi hak individu. Bahkan Pinker menyebut demokrasi liberal yang memuat kapitalisme di dalamnya merupakan pencapaian tertinggi umat manusia (hlm.343).

Pinker jmendasari argumennya dengan menggunakan teori rasionalitas milik Max Webber. Menurut Weber (1905) kapitalisme hanya salah satu aspek dari rasionalitas. Ia juga menganggap bahwa modernisasi merupakan perluasan rasionalitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Steven Pinker

Penghambat Sains

Meletakkan dasar pemikirannya pada modernitas dan kapitalisme yang terdapat kompetisi di dalamnya tentu memiliki konsekuensi. Konsekuensinya, selalu ada pihak yang kalah dari setiap kemajuan yang dicapai dunia oleh sains. Pihak-pihak itu kemudian yang berpotensi menjadi penghambat sains.

Bila menggunakan teori analisis kelas sosial yang diungkapkan Karl Marx, maka pihak yang kalah jelas adalah kelas sosial rendah—Marx menyebutnya proletar. Namun, Pinker tidak ingin mendeterminiskan masalah hanya pada satu bidang yakni ekonomi.

Pinker berpendapat bahwa ketidaksetaraan ekonomi “bukan merupakan dimensi kesejahteraan manusia” dan mengutip sebuah studi yang menemukan ketidaksetaraan tidak terkait dengan ketidakbahagiaan, setidaknya dalam masyarakat yang lebih miskin (hlm.102). Dia juga menunjukkan bahwa dunia secara keseluruhan menjadi lebih setara dan menyatakan bahwa bahkan dalam area yang semakin tidak setara, orang miskin masih mendapatkan kekayaan dan mendapat manfaat dari inovasi teknologi (hlm.101).

Pinker berpendapat justru yang berpotensi menjadi penghambat sains adalah intelektual dan politisi. Sejujurnya, tidak ada satu pun intelektual yang menyukai perubahan. Bukan intelektual tidak menyukai hasil dari perubahan, melainkan Pinker tidak suka dengan sikap intelektual dalam menghadapi perubahan.

Intelektual cenderung kerap berupaya mempertahankan argumen dan perspektifnya dengan cara merendahkan argumen lain. Lantas, peran intelektual di masyarakat hanya berkompetisi untuk meraih prestise dan berebut pengaruh, dibandingkan bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pengetahuan yang dimilikinya (hlm.49).

Dalam hal ini pula, Pinker mengkritik sikap pemikiran intelektual yang justru sangat jauh dari nilai-nilai sains yang sarat akan kritik. Alhasil, yang terjadi dalam diri intelektual adalah sikap dogmatis dan otoriter. Mereka dengan sekuat tenaga akan selalu melakukan pembenaran untuk dirinya dengan beragam argumen yang ia susun dan seolah-olah dirinya yang paling benar.

Penghambat berikutnya adalah politisi. Politisi acap kali menggunakan berbagai macam cara untuk menarik suara dengan beragam janji-janji politik yang tak sesuai dengan perkembangan sains. Contohnya adalah populisme, baik populisme kanan maupun populisme kiri. Politisi-politisi populisme selalu membuat argumen untuk kembali melihat sejarah kejayaan suatu bangsa atau ras pada masa lalu dan juga memiliki kebenaran menurut versinya sendiri (hlm.333). Tak peduli seberapa banyak fakta yang diungkap, mereka tak akan mengubah kebenaran yang diyakininya—biasa dikenal dengan  post truth atau pascakebenaran.

Pinker mencontohkan bagaimana Trump melalui kampanyenya yang menekankan kejayaan warga kulit putih yang sebenarnya juga tidak jelas di periode mana kejayaan kulit putih di Amerika Serikat berlangsung. Begitu juga dengan politisi populisme agama di berbagai negara di Eropa dan Asia. Di Eropa para politisi populis menekankan kejayaan Kristen. Sedangkan, bagi yang populisme Islam akan membawa kembali klaim kejayaan kekhalifahan.

Hasilnya, meski hidup sudah di zaman kecerdasan buatan, pemikiran mereka berada di masa lalu yang penuh dengan mitos. Dengan demikian, pemikiran manusia justru akan tertutup, antikritik, dan seolah hanya memiliki satu dimensi. Melalui hal-hal itu, kata Pinker, otoritariansime akan hidup kembali dan mengubur kemajuan sains yang membutuhkan prasayarat kebebasan berpikir.

 

Lawan Penghambat Sains

Lalu, bagaimana melawan penghambat sains? Pinker meyakini sains akan terus dapat berkembang dan mengalahkan musuhnya melalui pendidikan dan pers. Di ranah pendidikan, pendidikan mesti mengembangkan kemampuan berpikir kritis (hlm.378). Dengan cara ini, murid dan guru mesti memiliki banyak referensi dalam pembelajaran dan terbiasa terbuka dengan beragam pendapat serta kritik.

Lalu kenapa pers dapat menjadi salah satu lawan untuk menghadapi sains? Bukankah saat ini pers sering menjadi kepentingan politik kelompok tertentu dan juga sedang mewabah fenomena pascakebenaran di masyarakat?

Pers memiliki peran untuk menguji semua informasi yang beredar di masyarakat dan men

Judul Buku : Enlightenment Now The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress Penulis : Steven Pinker Penerbit : Penguin Books Limited Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2018 Tebal : 556 halaman, ISBN 978-0-525-42757-5 Harga : Rp.235.000

dorong masyarakat untuk terbuka dengan berbagai macam sudut pandang. Bahkan, pers juga dapat menjadi sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyebarkan kecanggihan ilmiah seperti jurnalisme data  (hlm.403).

Melihat realitas dua hal tersebut di Indonesia memang terasa cukup berat. Akan tetapi, menyerah dan berkompromi dengan keadaan bukan hal baik untuk kemajuan sains dan kelangsungan hidup umat manusia.

Buku yang terdiri dari 23 bab ini cukup layak untuk dijadikan referensi bagi siapapun yang tertarik pada perkembangan terbaru sains dunia, meski kita juga perlu kritisi sudut pandang dan keberpihakan Pinker yang sangat “barat”. Kendati demikian, dua hal tersebut dapat dijadikan tantangan bagi perkembangan sains di Indonesia untuk menyebarkan fungsi sains sesungguhnya yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagian seluruh manusia.

Kita tidak akan pernah memiliki dunia yang sempurna dan akan berbahaya bila kita mencari kesempurnaan. Namun, tidak ada batasan untuk terus melakukan perbaikan dari  hal yang telah kita capai, jika kita terus menerapkan sains untuk meningkatkan perkembangan hidup manusia. (*)

*) Virdika Rizky Utama | Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Ivan Illich dan Pendidikan Bebas

mm

Published

on

Dewasa ini, Lembaga Pendidikan makin berkembang, termasuk perkembangan jumlah sekolah. Menurut Illich, bertambah banyaknya jumlah sekolah seperti sama buruknya dengan bertambah banyaknya senjata, walaupun tidak begitu kelihatan. Biaya sekolah meningkat jauh lebih cepat daripada jumlah murid baru dan jauh lebih cepat dari pendapatan bruto. Pengeluaran sekolah tetap tidak mencukupi dan tidak seperti yang diharapkan oleh orang tua, guru, dan murid. Situasi ini melemahkan motivasi dan membuat orang tidak bergairah untuk membiayai perencanaan berskala luas untuk pendidikan diluar sekolah. Padahal kebanyakan orang memperoleh sebagian besar pengetahuan mereka diluar sekolah.

Kegiatan belajar adalah hasil dari kegiatan mengajar menurut kurikulum. Kurikulum selalu digunakan untuk menentukan rangking sosial. Sekolah menyebabkan banyak orang bunuh diri secara spiritual. Sekolah dan pendidikan telah dimonopoli oleh negara. Membuat semua orang percaya bahwa pengetahuan hanya bisa di dapat dari sekolah. Tetapi sekolah seringkali dimonopoli oleh mereka yang punya uang sehingga kesempatan bagi orang miskin jadi terbatas.

Tujuan pendidikan menurut Illich adalah terjaminnya kebebasan seseorang untuk memberikan ilmu dan mendapat ilmu. Sehingga para pelajar tidak boleh dipaksa untuk tunduk pada kurikulum wajib atau tunduk pada diskriminasi yang didasarkan pada apakah mereka mempunyai ijazah atau sertifikat. Melalui kacamata Illich, kurikulum baginya selalu digunakan untuk menentukan rangking sosial. Melalui mode latihan kepekaan, guru diberi kuasa untuk mengajar diluar sekolah, membawa anak-anak didiknya ke sebuah kawasan kumuh, atau rawan kejahatan dengan harapan anak-anak didiknya belajar tentang kenyataan, dengan demikian pendidikan tidak antirealitas.

Menurut Illich, proses pembelajaran diluar sekolah jauh lebih baik ketimbang disekolah. Artinya, pengetahuan bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja (dijalan, rumah, dimasyarakat, organisasi, di partai politik) dan lainnya. Tidak benar apabila lembaga sekolah dipercayai sebagai satu-satunya tempat untuk memperoleh pengetahuan.

Guru dan masyarakat miskin di pedesaan dan dimanapun berada dapat berkomunikasi dengan baik dengan cara menggunakan bahasa, contoh, dan praktik yang sesuai dengan masalah yang dialami masyarakat pedesaan. Disini, ditekankan sikap yang fleksibel, akomodatif, dan adaptif dalam melakukan proses belajar-mengajar, dengan cara menyesuaikan dengan kebiasaan, budaya atau tradisi yang berkembang dimasyarakat. Sekolah dengan segala macam komponen serta perangkatnya (materi, guru, metode pengajaran, biaya) dan sebagainya harus bertolah dari kebutuhan masyarakat.

Memang ada benarnya apa yang di utarakan Illich, bahwa sekolah itu sangat membelenggu atau mengurung kebebasan dan kreativitas seorang murid. Sangat relevan dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Sekarang, karena memang mindset sebagian masyarakat memaknai belajar hanya dengan sekolah formal saja-aktivitas diluar sekolah sering dikatakan sebagai bukan proses belajar.

Fungsi sekolah adalah sarana mencapai kemandirian bangsa, tapi malah berfungsi untuk meningkatkan status sosial-sesuai dengan kondisi pendidikan di Indonesia. Kurikulum tak lepas dari kepentingan banyak kaum-kaum elite-diarahkan pada kepentingan tertentu yang terkadang kurang berpihak pada rakyat. Praktik pendidikan yang kacau dan rusak, karena mental para elite pendidikan sendiri. Kelemahannya pada aplikasinya, karena sebagian besar kebijakan yang terkait dengan pendidikan itu sudah bagus. Disini kita jangan menganggap sekolah sebagai institusi yang superior, pendidikan dikombinasikan dengan pendidikan informal atau nonformal tidak hanya lembaga pendidikan formal (sekolah) yang bisa saling melengkapi dalam membangun pendidikan di Indonesia. Belajar dengan enjoy atau santai, tanpa tekanan akan melahirkan daya kreativitas yang tinggi dan luar biasa.

Relevansi Teori Illich dengan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi gerbang terdepan dalam membentuk kesadaran bangsa dan masyarakatnya. Dalam pendidikan terjadi proses pembelajaran yang mengantarkan siswa menemukan jati diri. Siswa harus diberi ruang dan waktu yang seluas-luasnya agar bisa leluasa berimajinasi, berekspresi, bereksplorasi, dan mengenali potensinya. Siswa benar-benar sebagai subjek yang berkepentingan untuk belajar dan terus belajar. Pola pikir siswa satu dengan siswa yang lainnya tentu tidak sama. Mereka akan memiliki kesenangan, ketertarikan, dan lain sebagainya yang berbeda walaupun ada beberapa hal yang sama diantara mereka. Proses pendidikan di Indonesia menerapkan penyeragaman pendidikan disemua daerah-hingga yang terpencil sekalipun. Penyeragaman pendidikan untuk semua daerah itu adalah suatu kemustahilan yang diciptakan kaum elite pendidikan. Pada Indonesia sendiri, proses penyeragaman pendidikan ini tentu memiliki kontroversial bahkan penyeragaman ini berarti pelembagaan yang berarti pemaksaan dan setiap pemaksaan merupakan potensi yang memicu munculnya konflik.

Setiap siswa dimasing-masing daerah memiliki potensi, intelektual yang berbeda dengan daerah lainnya. Apalagi siswa yang terdapat di daerah pedalaman yang mungkin saja fasilitas atau sarana pendukung belajar mereka tidak mendukung dalam proses pendidikan penyeragaman yang dilakukan pemerintah. Tentu ini memunculkan konflik batin yang memicu pada stress diri siswa pribadi. Standarisasi malah bisa menjebak kita menjadi bangsa yang tertinggal ketika dunia telah mengglobal. Hal ini relevan dengan pendapat Illich dalam salah satu karya bukunya “Deschooling Society” dalam buku tersebut ia mengatakan bahwa menyeragamkan pendidikan sangat tidak mungkin.

Sebaiknya metode pendidikan penyeragaman ini lebih dikaji ulang oleh kaum-kaum elite pendidikan yang terlibat di dalamnya. Karena tantangan pendidikan bukan pada penyeragaman, tetapi bagaimana anak-anak bisa menggunakan potensi uniknya dalam sebuah kerja sama dalam mencapai tujuan yang lebih besar diluar dirinya. Ijazah bukan tujuan belajar, berprestasi sepenuhnya tidak dilihat pada sederatan angka-angka yang tertera pada ijazah. Dibilang “berprestasi”, saat anak berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan persoalan dalam realitas kehidupannya yang diekspresikan dalam tindakan dan karya nyata.  Pendidikan sebaiknya diarahkan pada tindakan rasio komunikatif (pemahaman) serta pemerintah tidak hanya memfokuskan pendidikan pada formal (sekolah) tetapi juga mensinergikan dengan lembaga pendidikan informal dan nonformal.

Biarkan orang (baca:siswa) belajar sendiri sesuai dengan kemampuan serta minat masing-masing. Mau belajar musik, seni lukis, kuliner, dan lain sebagainya tetapi didampingi oleh pendamping yang bertugas mendampingi bukan menggurui. (*)

*) Bagus Ardiansyah adalah jebolan Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Udayana yang mengisi waktu luangnya dengan menulis. Beberapa karyanya dimuat dalam media cetak dan online. Aktif sebagai pegiat Sanglah Institute. Baginya, sajak merupakan obat segala luka.

Continue Reading

Classic Prose

Trending