Connect with us

Classic Prose

William Faulkner: Matahari Petang

mm

Published

on

SENIN tak beda dengan hari-hari lainnya dalam sepekan di Jefferson sekarang. Jalan-jalan sudah dikeraskan, dan perusahaan-perusahaan listrik dan telepon makin banyak, dan semakin banyak saja menebangi pohon-pohon perindang—water oak, maple, locust, dan elm—menyediakan ruang bagi tonggak-tonggak besi yang buahnya adalah gerombol-gerombol anggur yang melepuh dan tak sedap dipandang dan tak mengandung air; dan sekarang ada usaha jasa cuci dan bina ……… keliling kota tiap Senin pagi menjemput buntalan-buntalan ……… kotor dan menghimpunnya di mobil-bomil berwarna mencolok, yang khusus dibikin untuk keperluan ini; debu dan daki sepekan ini kabur bagai hantu, melesat membuntuti klakson yang selalu siap-siaga dan cepat naik darah itu, diiringi bising berkepanjangan dari karet ban beradu dengan aspal jalan yang bunyinya seperti kain sutra dirobek; dan bahkan perempuan-perempuan negro, yang masih tetap terkait dengan tugas membikin bersih pakaian orang-orang kulit putih—sebagai peninggalan kebiasaan lama—kini menjemput pakaian kotor itu dari rumah-rumah dan menyetorkannya pada mobil servis cuci.

Tapi lima belas tahun yang lalu, pada hari Senin pagi, jalan-jalan yang sunyi, berdebu dan teduh akan penuh dengan perempuan-perempuan kulit hitam yang membawa tumpukan pakaian kotor yang dibuntal dalam sprai di atas kepalanya yang kukuh dan bersorban itu, yang hampir sama besar dengan buntalan kapas yang barusan dipetik dari perkebunan; dan buntalan-buntalan itu mereka taruh di atas kepala dan tanpa memegangnya lagi, mereka membawanya dari pintu dapur orang kulit putih ke bak pencucian yang kusam-jorok dekat pintu gubuk di Negro Hollow, yakni kawasan lembah kumuh tempat tinggal para kulit hitam.

Nancy menyunggi buntalan pakaian kotor,dan di atas seonggok cucian kami serumah itu akan dia taruh topi pandan hitamnya, yang dia pakai di segala musim dan cuaca. Dia jangkung, seajahnya panjang dan muram, dan agak melesak di tempat-tempat gigi ompongnya. Kadang-kadang kami ikut dia beberapa jurus menyusuri jalan dan melintasi padang rumput, asyik mengagumi buntalan dan topi di atas kepalanya yang begitu mantap seimbang tanpa pernah bergeming, bahkan ketika dia menuruni parit lalu mendaki di seberang sana serta membungkuk menerobos pagar. Nancy merangkak menerobos celah pagar itu; kepalanya kukuh-tegar, tegak, dan buntalan itu pun kukuh bertengger bagai karang atau balon, kemudian bangkit berdiri lagi dan jalan terus.

Kadang-kadang suami-suami para perempuan inilah yang datang mengambil dan mengantarkan kembali cucian, tetapi Jesus tak pernah melakukannya untuk Nancy, juga sebelum Ayah menyuruh lelaki itu untuk tidak datang-datang lagi ke rumah kami, sungguhpun waktu itu Dilsey sedang sakit dan Nancy-lah yang memasak untuk kami.

Maka kami terkasa berjalan menuruni lorong ke pondok Nancy dan menyruhnya datang menyiapkan sarapan. Kami akan berhenti di parit, karena Ayah menyuruh kami tidak berhubungan dengan Jesus—dia ini orang hitam bertubuh pendek, dengan ciri bekas sayatan pisau di wajahnya—dan kami akan melempari rumah Nancy dengan kerikil sampai dia nongol di pintu, tanpa pakaian selembar pun, menyenderkan kepalanya di sana.

“Mau apa kalian melempari rumahku?” tanya Nancy. “Apa maumun, setan-setan cilik!”

“Ayah menyuruh beri tahu kau supaya datang memasak,” kata Caddy. “Ayah bilang ini sudah telat setengah jam, dan kau harus ke sana sekarang juga.”

“Aku tak tahu soal masak-memasak,” jawab Nancy. “Aku mau tidur sampai puas.”

“Kamu pasti mabuk,” sahut Jason. “Ayah bilang kau suka mabuk. Kamu sedang mabuk, Nancy?”

“Siapa bilang aku mabuk?” sergah Nancy. “Aku mesti tidur. Tak tahu-menahu soal masak-memasak!”

Maka setelah beberapa lama, kami berhenti menggedor rumahnya dan pulang. Ketika akhirnya Nancy datang, aku sudah kesiangan untuk sekolah. Kami pikir ini semua gara-gara wiski, sampai suatu hari Nancy ditangkap dan dibawa ke bui, dan dalam perjalanan ke sana ia bertemu Tuan Stovall. Dia ini kasir bank dan juga diskon[1] Gereja Baptis, dan Nancy pun mulai meracau:

“Kapan kau mau bayar aku, orang putih? Kapan kau mau bayar aku, orang putih? Sudah tiga kali kau belum bayar sejak kau kasih aku satu sen dulu.” Tuan Stovall menggamparnya sampai jatuh, tetapi Nancy terus saja mengatakan, “Kapan kau mau bayar aku, oran putih? Sudah tiga kali kau…,” sampai Tuan Stovall menendang mulutnya dengan tumit sepatu dan marshall mencegah Tuan Stovall, sementara Nancy terkapar di tanah ketawa-tawa. Dia mengibaskan kepala dan meludahkan  darah serta beberapa gigi dan berkata, “sudah tiga kali dan dia belum bayar sepeser pun.”

Itulah asal mulanya dia kehilangan gigi, dan sepanjang hari itu orang-orang bercerita tentang Nancy dan Tuan Stovall, dan sepanjang malam orang-orang yang melintas dekat bui mendengar Nancy bernyanyi-nyanyi dan memekik. Mereka dapat melihat tangan Nancy mencengkeram jeruji jendela, dan banyak di antara mereka berhenti di sepanjang pagar, mendengarkan Nancy dan sipir yang mencoba menghentikannya. Dia tidak diam sampai nyaris pagi, ketika sipir mulai mendengar suara gedebam dan suara mencakar-cakar di tingkat atas, dan dia naik ke sana dan menemukan Nancy tergantung-gantung pada jeruji. Kata sipir itu, biang keladinya adalah kokain dan bukan wiski, karena tak ada negro yang akan mencoba bunuh diri kecuali kalau ia dipenuhi kokain, karena seorang negro yang penuh kokain bukanlah negro lagi.

Sipir itu memotong ikatan untuk melepaskan Nancy dan menolongnya supaya tidak mati; kemudian ia memukulinya, mencambuknya. Dia menggantung diri dengan gaunnya sendiri. Sebetulnya semua rapi dan beres,  tetapi ketika ia ditangkap ia tak mengenakan apa-apa kecuali gaun; dengan demikian dia tak punya sesuatu untuk mengikat tangannya, dan dia tak sanggup menyuruh kedua tangannya melepaskan genggaman dari bingkai jendela. Maka sipir mendengar kegaduhan itu dan lari naik, serta mendapatkan Nancy berkelantung pada jendela, telanjang bulat, perutnya agak membuncit seperti balon kecil.

 

II

KETIKA Dilsey sedang sakit di gubuknya dan Nancy yang datang memasak untuk kami, dapat kami lihat apron Nancy terdorong ke muka karena buncit di pertunya. Ini terjadi sebelum Ayah melarang Jesus menginjakkan kakinya di rumah kami. Ketika itu Jesus di dapur, duduk di belakang kompor, dengan bekas luka sayatan pisau cukur di wajahnya yang hitam, yang tampak seperti seutas tali kecil yang kotor. Dia katakan yang dibawah Nancy di balik gaunnya itu semangka.

“Toh tidak dari batangmu,” kata Nancy.

“Batang apa?” tanya Caddy.

“Aku bisa babat batang jahanam itu,” sahut Jesus.

“He, kenapa kamu ngomong seperti itu di muka anak-anak kecil ini?” kata Nancy. “Kenapa kau tidak pergi kerja? Payah kamu ini! Kamu kepingin Tuan Jason memergoki kamu main-main di dapurnya dan bicara seperti itu di depan anak-anak ini?”

“Bicara seperti apa?” sambugn Caddy. “Batang apa?”

“Aku tidak boleh main-main mendekati dapur orang putih,” kata Jesus. “Tapi orang-orang putih boleh main-main seenaknya di dapurku. Orang putih bisa masuk ke rumahku, tapi aku tak bisa mencegahnya. Kalau orang putih mau masuk ke rumahku, dia bisa saja seenaknya. Aku tidak bisa mencegahnya, tapi dia tak bisa menendangku keluar. Tidak bisa.”

Dilsey masih sakit di gubuknya. Ayah menyuruh Jesus menjauhkan diri dari rumah kami. Dilsey masih sakit. Sampai lama. Ketika itu kami sedang di kamar baca sehabis makan malam.

“Apa Nancy belum selesai di dapur?” kata Ibu. “Sepertinya sudah lama dia di sana mencuci piring.”

“Biar Quentin pergi lihat dulu,” kata Ayah. “Lihatlah, apa Nancy sudah selesai kerja, Quentin. Katakan dia boleh pulang.”

Aku pergi ke dapur. Kerja Nancy sudah rampung. Piring-piring sudah disimpan dan api dipadamkan. Nancy duduk di kursi, berdekatan dengan tungku yang dingin. Dia memandangi aku.

“Ibu ingin tahu apakah kau sudah selesai,” kataku.

“Ya,” sahut Nancy. Dia memandangi aku. “Aku sudah selesai.”

“Ada apa?” tanyaku. “Ada apa?”

“Aku ini Cuma negro. Budak!” kata Nancy. “Dan itu bukan salahku.”

Dia memandangi aku, duduk di kursi di muka tungku yang dingin, dengan topi kelasi bertengger di kepalanya. Aku balik ke ruang baca. Hanya ada tungku dingin, di dapur yang biasa kita bayangkan sebagai tempat yang hangat dan sibuk dan meriah itu. Tungku yang dingin dan piring-piring tersimpan, dan tak seoran pun kepingin makan pada saat demikian.

“Sudah selesai dia?” tanya Ibu.

“Ya, Bu,” sahutku.

“Sedang apa dia sekarang?” Ibu bertanya.

“Tidak sedang apa-apa. Semua sudah beres.”

“Barangkali dia menunggu Jesus mengantarnya pulang,” kata Caddy.

“Jesus pergi,” sahutku. Nancy telah memberi tahu aku, bahwa suatu pagi ia bangun dan Jesus sudah lenyap.

“Dia meninggalkan aku,” kata Nancy. “Sudah minggat ke Mamphis kukira. Kucing-kucingan sebentar dengan politi kota kukira.”

“Baguslah kalau dia minggat ke sana,” kata Ayah. “Kuharap dia tinggal terus di sana.”

“Nancy takut sama gelap,” Jason bersuara.

“Kamu juga,” kata Caddy.

“tidak bisa,” sahut Jason.

“Kucing pengecut!” kata Caddy.

“Tidak bisa,” ucap Jason.

“Diam kau, Candace!” sergah Ibu, Ayah muncul lagi.

“Aku mau menemani Nancy jalan di lorong itu,” katanya. “Dia bilang Jesus kembali.”

“Dia pernah melihatnya?” tanya Ibu.

“Tidak. Ada negro lain yang mengatakan pada Nancy bahwa Jesus muncul kembali di sekitar sini. Aku tidak lama.”

“Kau akan meninggalkan aku sendirian untuk mengantar Nancy pulang?” kata Ibu. “Apakah bagimu keskelamatan dia lebih berharga daripada keselamatanku?”

“Aku tidak akan lama,” sahut Ayah.

“Kau akan tinggalkan anak-anak ini tanpa perlindungan, sementara si negero itu berkeliaran di sekitar sini?”

“Aku ikut,” kata Caddy. “Boleh ya, Pa?”

“Kalaupun dia memergoki anak-anak ini, lantas mau dia apakah mereka?” kata Ayah.

“Aku juga mau ikut,” kata Jason.

“Jason!” kata Ibu. Yang dimaksud adalah Ayah. Ini ketahuan dari cara Ibu mengucapkan nama itu. Sepertinya Ibu berpikiran, sepanjang hari ini Ayah mencoba berpikri untuk menemukan suatu tindakan yang paling tidak disukai Ibu, dan seolah Ibu tahu bahwa Ayah selalu saja berangan-angan tentang hal itu. Aku tinggal diam, karena Ayah dan aku sama-sama tahu bahwa Ibu akan memintanya menyuruhku menemani Ibu, jika saja Ibu sempat memikirkannya sebelum terlambat. Maka Ayah tak memandangi aku. Aku anak sulung. Aku sembilan tahun dan Caddy tujuh dan Jason lima.

“Alaaa,” kata Ayah. “Kami tidak akan lama.”

Nancy mengenakan topinya. Kami menapaki lorong.

“Jesus selalu baik padaku,” Nancy berkata. “Dulu tiap kali dia punya duit dua dolar, yang satu dolar untukku.”

Kami menapaki lorong itu.

“Asal sudah sampai di ujung jalan itu,” kata Nancy, “aku sudah lega.”

Jalan tanah itu selalu gelao. “Di sini Jason ketakutan pada hari Halloween[2],” ujar Caddy.

“Tidak,” sahut Jason.

“Apa Bibi Rachel tidak bisa berbuat sesuatu terhadap dia?” Ayah berkata. Bibi Rachel lsudah tua. Dia tinggal seoran diri di sebuah gubuk agak jauhd dari Nancy.

Rambutnya putih dan dia terus mengisap pipa di ambang pintu seharian; dia tidak lagi bekerja. Kata orang dia ibu Jesus. Kadang-kadang dia berkata memang dia itu Jesus dan kadang-kadang dia bilang tak ada hubungan apa-apa dengannya.

“Iya saja,” kata Caddy. “Kau lebih ketakutan dari Frony. Kau lebih takut dari si TP malah. Lebih ketakutan dari negro.”

“Tak seorang pun bisa berbuat sesuatu pada Jesus,” sahut Nancy. “Dia bilang aku telah membangunkan iblis dalamd irinya, dan tak ada yang dapat meredakannya lagi.”

“Yah, toh dia sudah pergi sekarang,” kata Ayah. “sekarang tak ada yang perlu kautakutkan lagi. Kalau saja kau tidak main-main dengan orang kulit putih.”

“Main-main dengan orang putih apa?” Caddy bersuara. “Tidak main-main bagaimana?”

“Dia tidak pergi ke mana-mana,” Nancy berkata. “Aku dapat merasakan kehadirannya. Aku dapat merasakan dia sekarang, di jalan ini. Dia mendenger kita bicara, tiap patah kata; sembunyi di suatu tempat, menunggu-nunggu. Aku tidak melihat dia, dan aku tak akan melihatnya kecuali, sekali lagi, dengan bekas pisau cukur di mulutnya itu. Pisau yang diikatkan dengan tali di punggu bawah, di balik baju. Lalu untuk kaget pun aku tak akan sempat lagi.”

“Aku tidak takut,” Jason berkata.

“Seandainya kau baik-baik membawa diri, katu tak akan mendapat kesulitan semacam ini,” kata Ayah. “Tapi sekarang sudah tidak apa-apa. Barangkali dia di Saint Louis sekarang. Barangkali dia sudah punya istri lagi dan meupakan segalanya tentang kau.”

“Kalau memang dia begitu, sebaiknya jangan sampai aku tahu,” sahut Nancy. “Aku akan tegak menghadang mereka, dan tiap kali dia merangkul perempuan itu, akan kutebas tangannya. Akan kupancung kepalanya dan kubelah pertunya dan kucungkil…..”

“Huuss!” potong Ayah.

“Membelah pertu siapa, Nancy?” ucap Caddy.

“Aku tidak takut,” kata Jason. “Aku berani jalan di lorong ini sendirian.”

“Hah,” kata Caddy. “Kamu tidak akan berani menginjakkan kakimu kalau tidak bersama kami.”

 

III

DILSEY masih sakit juta, jadi kami menemani Nancy pulang setiap malam Ibu berkata, “Sampai berapa lama lagi dia? Aku ditinggal sendirian di rumah besar ini, sementara kalian mengantar pulang seorang perempuan negro yang ketakutan.”

Kami pasang sebuah balai-balai di dapur untuk Nancy. Suatu malam kami terbangun mendengar suara itu. Itu bukan nyanyian dan bukan tangis, datand ari tangga yang gelap. Lampu di kamar itu menyala dan kami dengar Ayah melangkah turun ke ruang besar, menuruni tangga belakang, dan Caddy dan aku menuju ke ruang besar itu. Lantai ruangan itu dingin. Jari-jari kaki kami mengerut kedinginan, sementara kami menyimak suara itu. Itu bukan nyanyian dan bukan pula tangis, seperti layaknya suara orang negro.

Lalu suara itu berhenti dan kami dengar Ayah menuruni tangga belakang, dan kami bergerak menuju ke kepala tangga. Kemudian suara itu mulai lagi, di tangga, tidak keras, dan dapat kami lihat mata Nancy di setengah perjalanan menaiki tangga, berlatar belakang tembok. Mata itu tampak bagaikan mata kucing, seperti seekor kucing besar melekat di tembok, mengamati kami. Ketika kami menuruni anak tangga mendatanginya, dia berhenti membuat suara itu, dan kami tegak di sana sampai Ayah kembali dari dapur, dengan pistol di genggaman. Dia turun tangga lagi bersama Nancy dan mereka balik lagi menggotong balai-balai Nancy.

Kami letakkan balai-balai itu di kamar kami. Setelah lampu di kamar Ibu padam, kami melihat lagi mata Nancy. “Nancy,” bisik Caddy, “kau tidur, Nancy?”

Nancy membisikkan sesuatu. Barangkali “tidak” atau “aaah”, aku tidak tahu. Seolah suara itu tidak keluar dari mulut siapa pun, seolah suara itu tidak datang dari mana pun dan tidak pergi kemana pun, sampai seolah-olah Nancy sama sekali tak ada di sana; seolah-olah aku telah menatap kuat-kuat mata Nancy, begitu kuatnya kutatap di tangga hingga mata itu membekas di bola mataku, seperti bekas yang ditinggalkan matahari bila kita mengatupkan mata dan matahari itu tidak ada.

“Jesus,” bisik Nancy, “Jesus.”

“Itu tadi Jesus?” kata Caddy. “Dia mencoba masuk ke dapur?”

“Jesus,” kata Nancy. Lalu seperti ini: Jeeeeeesus, sampai suara itu melirih lenyap, seperti batang korek api atau sebatang lilin.

“Itu Jesus lain yang dia maksud,” kataku.

“Kau bisa lihat kami, Nancy?” Caddy berbisik. “Kau bisa melihat mata kami juga?”

“Aku ini cuma negro. Budak!” kata Nancy. “Entahlah. Entahlah.”

“Apa yang kaulihat di dapur tadi?” bisik Caddy. “Ada yang mau masuk ke sana?”

“Entahlah,” sahut Nancy. Dapat k ami lihat matanya. “Entahlah.”

“Apa yang kaulihat di dapur tadi?” bisik Caddy. “Ada yang mau masuk ke sana?”

“Entahlah, “ sahut Nancy. Dapat kami lihat matanya. “Entahlah.”

Dilsey sembuh. Dia memasak untuk kami sore itu. “Sebaik-baiknya kau istriahat di tempat tidur sehari-dua hari lagi,’ kata Ayah.

Buat apa?” sahut Dilsey. “Sehari lagi saya tak kemari, tempat ini akan berantakan tak kektulungan. Silakan keluar, dan biarkan saya bereskan dapur saya ini.”

Dilsey memasak makan malam untuk kami. Dan petang itu, sebelum gelap benar, Nancy masuk ke dapur.

“Bagaimana kautahu dia kembali?” ucap Dilssey. “Kau tidak lihat dia.”

“Jesus itu negro tengik,” kata Jason.

“Aku dapat merasakannya,” sahut Nancy. “aku dapat merasakan dia sedang baring-baring di parit sana.”

“Malam ini?” tanya Dilsey. “Dia di sana malam ini?”

“Dilsey itu budak negro juga,” kata Jason.

“Ayo, makanlah!” kata dilsey.

“Aku tidak ingin makan apa-apa,” sahut Nancy.

“Aku bukan ngero,” kata Jason

“Minum kopi, ya,” kata Dilsey. Dia menuang secangkir kopi untuk Nancy. “Kautahu dia di sana malam ini? Bagaimana kau bisa tahu malam inilah saatnya?”

“Aku tahu,” kata Nancy. “Dia di sana, menunggu-nunggu. Aku tahu. Sudah lama aku hidup bersama dia. Aku tahu apa yang direncanakannya sebelum dia sendiri menyadarinya.”

“Ayolah! Minum kopi dulu,” kata Dilsey. Nancy memegang cangkir itu dan mendekatkan pada mulutnya, lalu meniup-niup ke dalam cankir. Mulutnya dimonyongkan seperti ular berbisa, seperti mulut karet, seolah-olah telah dia embuskan seluruh warna dari bibirnya bersamaan denganmeniup-niup kopi itu.

“Aku bukan negro,” kata Jason. “Apa kau ini negro, Nancy?”

“Aku ini kerak neraka, Nak,” sahut Nancy. “Dan sebentar lagi aku bukan apa-apa. Sebentar lagi aku kembali ke asalku.”

 

IV

DIA mulai meminum kopinya. Sembari minum—menggenggam cangkir itu dengan kedua tangan—mulailah ia mengeluarkan suara itu lagi. Dia mengarahkan suara itu ke dalam cangkir, dan kopi jadi terkocok muncrat keluar mengenai tangan dan gaunnya. Matanya menatap kami dan  dia duduk di sana, sikunya bertelekan pada lutut, mencengkeram cangkir di kedua telapak tangannya, menatap kami menyeberang cangkir yang berleleran, menyuarakan gumam itu.

“Kasihan Nancy,” kata Jason. “Nancy tidak bsia memasak buat kami sekarang. Dilsey sudah sembuh.”

“Hsss. Diamlah!” kata dilsey. Nancy menggenggam cangkir itu dengan kedua tangannya, memandangi kami, membuat suara itu, seolah-olah dia ada dua; yang satu memandangi kami, yang satunya lagi membaut suara itu.

“Mengapa kau tidak minta Tuan Jason menelpon marshall?” tanya Dilsey.

Nancy berhenti, memegangi cangkir dengan tangannya yang cokelat panjang. Dia mencoba meneguk kopinya lagi, teapi kopi itu muncrat dari cangkir ke tangan dan gaunnya, dan dia letakkan cangkir itu. Jason memperhatikannya.

“Aku tidak bisa menelannya,” kata Nancy. “Kuteguk tapi tak mau turun.”

“Pergilah ke pondok,” ujar Dilsey. “Frony akan siapkan balai-balai buat kau dan aku segera menyusul ke sana.”

“Tak ada seorang negro pun yang bisa mencegah dia,” kata Nancy.

“Aku bukan negro,” ucap Jason. “Bukan kan, Dilsey?”

“Kukira bukan,” sahut Dilsey. Dia memandang Nancy. “Kukira tidak begitu. Lalu apa yang akan kaulakukan?”

Nancy memandangi kami. Matanya cepat melompat-lompat seakan-akan dia cemas tak ada waktu untuk memadnang, tanpa bergerak sama sekali. Dia memandangi kami, memandangi kami bertiga sekaligus. “Kalian ingat malam itu waktu aku  menginap di kamar kalian?” dia bertanya. Dia ngomong bagaimana kami bangun pagi-lagi keesokan harinya dan bermain-main. Kami harus bermain diam-diam, di balai-balainya, sampai saat Ayah bangun dan waktu sarapan menjelang.

“Pergilah ngomong pada Ibu supaya aku boleh menginap di sini malam ini,” kata Nancy. “Aku tidak perlu balai-balai. Kita dapat bermain-main lagi.

“Pergilah ngomong pada Ibu supaya aku boleh menginap di sini malam ini,” kata Nancy. “Aku tidak perlu balai-balai. Kita dapat bermain-main lagi.

Caddy minta izin pada Ibu, Jason ikut.

“Aku tak bisa mengizinkan negro tidur di kamar tidur kita,” kata ibu. Jason nangis. Jason menangis terus sampai Ibu berkata bahwa dia tak akan diberi penganan selama tiga hari kalau tidak berhenti. Lalu Jason bilang dia akan berhenti menangis kalau Dilsey membuatkan kue cokelat. Waktu itu Ayah ada.

“Mengapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengatasi soal ini?” tanya Ibu. “Buat apa kita punya petugas keamanan?”

“Mengapa kau tidak berbuat sesuatu untuk mengatasi soal ini? Tanya Ibu. “Buat apa kita punya petugas keamanan?”

“Mengapa Nancy takut sama Jesus?” ujar Caddy. “Apa Ibu takut sama Ayah?”

“Aparat keamanan bisa apa?” sahut Ayah. “Kalau Nancy tak pernah melihat dia, bagaimana para petugas itu dapat menemukannya.

“Lantas mengapa dia takut?” tanya Ibu.

“Dia bilang orangnya ada di sana. Dia bilang dia tahu orangnya ada di sekitar sini malam ini.”

“Kok aku yang kena getahnya,” sambung Ibu. “Aku harus menunggu sendirian di rumah besar ini, sementara kalian mengantar perempuan negro itu pulang.”

“Kau kan tahu, aku tak akan berbaring semalaman di luar sambil membawa-bawa pisau,” kata Ayah.

“Aku mau berhenti nangis asal Dilsey bikin kue cokelat,” rengek Jason. Ibu menyuruh kami keluar dan Ayah berkata, entah Jason akan mendapat kue cokelat atau tidak, tapi dia tahu apa yang akan didapat Jason dalam satu menit berikutnya jika tidak diam. Kami pergi ke dapur lagi dan menyampaikan jawaban Ibu pada Nancy.

“Ayah bilang supaya kamu pulang dan menggerendel pintu, dan kau akan aman,” kata Caddy. “Aman dari apa, Nancy? Apa Jesus marah padamu?” Nancy menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya lagi, sikunya bertelekan pada lutut dan cangkir itu dijepitnya di antara dua lututnya. Dia menatap ke dalam cangkir.

“Apa yang kaulakukan sampai Jesus marah?” tanya Caddy. Cangkir itu merucut. Tidak pecah berderai di lantai, tapi kopinya tumpah dan Nancy tetap saja duduk dengan kedua tangan masih membentuk cangkir. Dia mulai memperdengarkan suara itu lagi, tidak keras. Tidak menyanyi, dan bukan pula tidak menyanyi. Kami perhatikan dia.

“Sudah,” ujar Dilsey. “Berhentilah begitu. Kuasai diri. Kau tunggu di sini. Aku panggilkan Versh untuk mengantarmu pulang,” Dilsey keluar.

Kami pandangi Nancy. Pundaknya m asih berguncang-guncang, tetapi dia tak bersuara lagi. Kami berdiri dan memperhatikan dia.

“Apa yang akan dilakukan Jesus padamu?” tanya Caddy. “Dia kan sudah minggat/”

Nancy menatap kami. “Malam itu kita bersenang-senang waktu aku menginap di kamarnmu, ya kan?”

“Aku tidak,” sahut Jason. “Aku tidak bersenang-senang.”

“Kamu tidur di kamar Ibu,” Caddy bilang. “Waktu itu kamu tidak bersama-sama kami.”

“Yuk, kita sama-sama ke rumahku dan bersenang-senang lagi!” kata Nancy.

“Ibu tak akan memeprbolehkan,” kataku. “Sudah kemalaman sekarang.”

“A\Tak usah hiraukan Ibu,” sahut Nancy. “Besok pagi saja baru kita beri tahu dia. Dia tak akan marah.”

“Tidak akan boleh,” kataku.

“Jangan minta izin sekarang,” sahut Nancy. “Tak usah kita ganggu dia sekarang.”

“Ibu tidak bilang kita dilarang pergi,” ujar Caddy.

“Kita tidak bilang kita mau pergi,” sahutku.

“Kalau kalian bergi, kuberi tahu Ibu nanti,” kata Jason.

“Kita akan bermain-main dan bersenang-senang,” ucap Nancy. “Mereka tak akan marah. Cuma ke rumahku. Aku sudah lama bekerja untuk kalian di sini. Ayah dan ibu tidak akan marah.”

“Aku tidak takut pergi,” kata Caddy. “Jason itu satu-satunya yang takut. Dia tentu lapor.”

“Tidak,” sahut Jason.

“Ya saja,: kata Caddy, “Kau tentu takut.”

“Jason tidak takut pergi bersamaku,” Nancy berkata. “Tidak kan, Jason?”

“Jason tentu bilang,” kata Caddy. Jalan itu gelap. Kami lewati gerbang padang rumput. “berani bertaruh, kalau ada sesuatu yang melompat dari balik gerbang itu, Jason pasti nangis meraung-raung.”

“Tidak bisa,” sahut Jason. Kami menuruni jalan gelap itu. Nancy bicara keras-keras.

“Buat apa kau ngomong keras-keras begitu, Nancy?” kata Caddy.

“Siapa? Aku?” sahut Nancy. “dengarlah itu! Quentin dan Caddy dan Jason berkata aku bicara keras-keras.”

“Kau bicara seolah kita sedang berlima,” Caddy berkata.

“Kau bicara seolah-olah Ayah juga ada di sini.”

“Siapa? Saya bicara keras-keras, tuan Jason?” kata Nancy.

“Nancy memanggil Jason ‘Tuan’,” ujar Caddy.

“Dengarlah omongan Caddy dan Quentin dan Jason iani,” Nancy berkata.

“Kami tidak bicara keras-keras,” sahut Caddy. “Kaulah yang bicara seolah Ayah …..”

“Ssstt,” potong Nancy, “diamlah, Tuan Jason.”

“Nancy memanggil ‘Tuan’ lagi pada Jason.”

“Diamlah,” sahut Nancy. Dia berbicara dengan suara keras ketika kami menyebarangi parit dan merunduk menerobos pagar yang biasa dan tembus dengan buntalan pakaian yang disunggi di atas kepalanya. Lalu sampailah kami di rumahnya. Kami lalu bersicepat. Dia buka pintu. Baru rumah itu seperti lampu minyak dan bau Nancy seperti sumbu, seolah keduanya saling tunggu untuk mulai menerpa. Dia menyalakan lampu dan menutup pintu dan memasang palangnya. Kemudian dia tak lagi bicara keras-keras, memandangi kami.

“Kita mau apa?” tanya Caddy.

“Kalian mau apa?” kata Nancy.

“Kau bilang kita akan bersenang-senang,” kata Caddy.

Ada sesuatu pada rumah Nancy ini; sesuatu yang dapat kita cium di samping bau Nancy dan baru rumah itu sendiri. Bahkan Jason pun menciumnya. “Aku tak mau di sini,” katanya. “Aku mau pulang.”

“Ya, pulanglah sana,” sahut Caddy.

“Aku tak mau pulang sendirian,” kata Jason.

“Kita akan bermain-main, bersenang-senang,” Nancy berkata.

“Bagaimana?” ujar Caddy.

Nancy tegak dekat pintu. Dia memandangi kami, Cuma saja seolah dia telah mengosongkan matanya; seolah-olah dia tidak lagi menggunakan mata itu. “Apa yang kalian ingin lakukan?” ujarnya.

“Mendongenglah,” sahut Caddy. “Kau bisa mendonengeng?”

“Ya,” jawab Nancy. “Bisa.”

Dia beranjak dan duduk di kursi di muka tungu. Ada sisa bara di sanal. Nancy menghidupkannya sampai berkobar cukup besar. Dia mendongeng. Caranya berbicara seperti caranya memandang, seolah matanya yang menatap kami dan suaranya yang berbicara pada kami bukanlah miliknya. Seolah-olah dia berada di tempat yang lain, menungu-nunggu di suatu tempat lain. Dia di luar pondok itu. Suaranya memang di dalam, dan juga sosok tubuhnya—sosok si Nancy yang dapat merangkak menerobos kawat duri dengan buntalan pakaian, mantap dan seimbang seolah tanpa bobot bagaikan balon di atas kepalanya—memang berada dalam gubuk itu. Tetapi Cuma itu. “Dan begitulah sang ratu melangkah ke parit, di mana orang jahat itu bersembunyi. Dia berjalan tegak ke parit dan berkata, ‘Kalau saja aku bisa melewati parit ini,’ itulah yang dia katakan…..”

“Parit apa?” Caddy bertana. “Parit seperti yang di luar itu? Mengapa seorang ratu mesti masuk-masuk ke parit?”

“Ya, untuk sampai ke rumahnya,” kata Nancy. Dia memandangi kami. “Dia harus menyeberangi parit itu untuk masuk cepat-cepat ke rumahnya dan memasang palang pintu.”

“Mengapa dia kepingin pulang dan memasang palang pintu?” Caddy berkata.

Bersambung..

____

*) WILLIAM FAULKNER

Lahir di New Albany, Mississipi, Amerika Serikat tahun 1897 dan meninggal tahun 1962. Faulkner adalahs alah satu pengarang besar Amerika, yang pengaruhnya sangat luas pada generasi pengarang sesudahnya. Bahkan Ernest Hemingway dan John Steinbeck, dua pemenang Novel Sastra yang lain, menganggapnya sebagai “pendahulu” dalam sastra Amerika modern.

Faulkner terutama dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis cerita pendek. Karya-karyanya meliputi sejumlah novel, di antaranya Sanctuary (1931) dan Intruder in The Dust (1948) yang meraih sukses. Dalam novel-novelnya, ia menciptakan lokasi imajinatif Yoknapatawpha Country yang sangat terkenal, di mana ia menemukan orisinalitas dalam mengekspresikan pengalaman seninya. Faulkner menulis delapan novel dengan latar lokasi imajinatif tersebut,di antaranya Sartoris (1929), As I Lay Dying (1930), dan Lightin August (1932), selain Intruder in The Dust.

Faulkner adalah sastrawan keempat Amerika Serikat (sesudah Sinclair Lewis tahun 1930, Eugene O’Neil tahun 1936, dan Pearl S. Buck tahun 1938) yang memperoleh penghargaan tersebut, atau sastrawan kelima setelah T.S. Elion (tahun 1948) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

 

[1] Diskon: pembantu pastor/pendeta saat kebaktian/misa.

[2] Halloween: tanggal 13 Oktober malam, ketika anak-anak berdandan dan merias muka aneh-aneh.

Cerpen

Leo Tolstoy: Seusai Pesta Dansa

mm

Published

on

Seusai Pesta Dansa

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

Oleh: Leo Tolstoy | Penerjemah: Ladinata

_____

“Jadi kalian berpendapat, bahwa manusia tidak dapat secara mandiri mampu memahami, apa yang baik, apa yang buruk, bahwa segalanya adalah soal lingkungan, bahwa lingkungan mencengkram manusia. Tetapi saya berpikir, bahwa semua itu adalah masalah terjadinya suatu peristiwa. Saya akan bercerita mengenai diri saya sendiri.”

Demikianlah kata Ivan Vasilyevich, laki-laki terhormat, selepas perbincangan yang berlangsung di antara kami tentang, bahwa untuk penyempurnaan diri harus terlebih dulu mengubah keadaan-keadaan, yang di dalamnya manusia hidup. Pada hakikatnya, tidak satu orang pun yang berkata, bahwa tidak mungkin untuk memahami, apa yang baik, apa yang buruk, tetapi Ivan Vasilyevich, mempunyai kebiasaan menjawab atas pikiran-pikirannya sendiri, yang muncul sebagai akibat perbincangan dan dengan alasan pikiran-pikiran tersebut dia memaparkan peristiwa-peristiwa dari dalam hidupnya. Dia sering lupa pada dalih, ketika dia terpikat oleh sebuah kisah, yang membuat dia benar-benar bercerita, apalagi dia bercerita dengan begitu sungguh hati dan berterus terang.

Begitulah, sekarang dia melakukannya.

“Saya akan menceritakan mengenai diri sendiri. Seluruh hidup saya jadi seperti ini, bukan melalui cara lain, bukan lantaran lingkungan, tetapi karena sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Karena apatah itu?” tanya kami.

“Ya, ini adalah cerita yang panjang. Untuk memahami, harus banyak yang diceritakan.”

Ivan Vasilyevich mulai berpikir, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya,” katanya. “Seluruh hidup saya berubah pada suatu malam, atau lebih ke arah pagi.”

“Apatah yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

“Perian yang bukan main, Ivan Vasilyevich.”

“Memerikan tidak boleh demikian, tetapi bagaimana pun juga perikanlah; itu agar kalian mengerti, bagaimana dia dulu. Tetapi bukan dalam hal itu masalahnya: apa yang akan saya ceritakan, terjadi pada tahun empat puluhan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa di universitas, di suatu provinsi. Saya tidak tahu, baikkah itu atau buruk, tetapi ketika itu kami tidak memiliki kelompok studi, tidak juga teori, di universitas, kami hanyalah manusia muda dan hidup, seperti biasanya orang-orang muda: belajar dan riang gembira. Saya orang muda yang riang dan enerjik dan juga berada. Saya punya seekor kuda kereta yang gesit, saya mengendarainya dari atas gunung dengan para perempuan muda (seluncur ketika itu masih belum jadi kebiasaan), saya pergi melakukan pesta-pesta minum dengan kawan-kawan universitas (saat itu kami tidak minum apa-apa, kecuali sampanye; uang tidak ada, kami tidak minum sesuatu pun, tetapi kami tidak minum, seperti galibnya sekarang, vodka). Kesenangan saya yang utama adalah pesta-pesta dan pesta dansa. Saya menari dengan baik dan tentu saja saya tidaklah jelek.”

“Ayo, jangan terlalu rendah hati,” seorang wanita, dari orang-orang yang mendengarkan, menyelanya. “Kami mengetahui potret daguerrotype[1]Anda. Tidak, Anda tidaklah jelek. Anda adalah seorang laki-laki rupawan.”

“Rupawan, boleh jadi dulunya. Tetapi soalnya bukan itu. Soalnya adalah pada saat cinta yang paling kuat saya kepadanya, saat hari terakhir Shrovetide[2], saya berada di pesta dansa Marshal of Nobility[3], seorang laki-laki tua baik hati, manusia berharta yang murah hati dan seorang kamerger[4]. Sebagaimana sang suami, istrinya juga sangat baik hati, menerima kami, para tamu, mengenakan gaun panjang beludru berwarna merah kecoklatan, di kepalanya ada tiara berlian, bahu dan lehernya yang terbuka, tampak tua, putih dan padat, seperti potret Elizaveta Petrovna[5]. Pesta dansa begitu menakjubkan: ruang dansanya mentereng, dengan paduan suara dan para pemain musik dari kaum hamba sahaya, yang ketika itu terkenal, merupakan milik tuan tanah, pecinta musik, makanan berlimpah dan lautan sampanye mengalir. Meski saya pemburu sampanye, saya tidaklah minum, karena tanpa anggur, saya telah mabuk cinta, meski demikian saya menari sampai saya jatuh, saya berdansa quadrille[6],waltz[7],polonaise[8],dan tanpa perlu dikatakan, sejauh ada kemungkinan, saya ingin melakukan semua itu dengan Varenka. Dia mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, sarung tangan halus putih, yang tidak begitu menjangkau siku tangannya yang kurus dan menonjol, dan sepatu satin warna putih. Mazurka[9] saya dirampas: seorang insinyur yang menyedihkan bernama Anisimov, sampai sekarang saya tidak pernah dapat memaafkannya, meminta Varenka untuk berdansa dengannya, saat Varenka baru masuk ke dalam ruang dansa, sedangkan saya ketika itu pergi dulu ke tukang pangkas rambut serta membeli sarung tangan dan saya terlambat. Karena itulah saya tidak menari mazurka dengannya, tetapi dengan seorang perempuan Jerman, yang sebelumnya saya pernah agak kerajingan. Tetapi saya khawatir, pada malam itu, saya sangat tidak santun kepadanya, tetapi saya hanya memandang pada seseorang bertubuh tinggi, ramping, yang mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, wajahnya yang berlesung pipi bersinar-sinar, kemerah-merahan, sorot matanya lembut dan sejuk. Bukan hanya saya sendiri, tetapi semua orang melihat kepadanya dan mengaguminya, baik itu laki-laki, maupun perempuan, mengagumi, dengan tidak memandang pada, bahwa dia membelakangi mereka semua. Sangat tidak mungkin untuk tidak mengaguminya.

Menurut aturan, demikianlah yang dilisankan, saya tidak menari mazurka dengannya. Dia, dengan tanpa tersipu, berjalan langsung ke arah saya melewati panjangnya ruang dansa dan saya bangkit, tidak menanti permintaan dan dia berterima kasih melalui senyuman kepada saya atas perkiraan saya tersebut. Ketika kami, para lelaki, diarahkan kepadanya, dia tidak dapat menebak karakter pokok saya[10], dia, seraya mengulurkan tangan bukan kepada saya, tetapi kepada orang lain, mengangkat bahunya yang kurus, sebagai tanda penyesalan dan pelipur lara dan dia memberikan senyuman kepada saya.

Ketika mazurka diganti dengan waltz, begitu lama saya menari waltz dengannya dan dia, sambil sering menghela nafas, tersenyum dan berkata kepada saya: “Encore[11]”. Dan saya terus-menerus menari waltz dan tidak merasakan tubuh sendiri.”

“Mana bisa Anda tidak merasakannya, saya pikir, Anda sangat merasakannya, ketika Anda merengkuh pinggangnya, bukan hanya badan Anda sendiri, tetapi juga tubuhnya,” kata salah seorang dari para tamu.

Ivan Vasilyevich tiba-tiba memerah dan dia dengan marah hampir berteriak:

“Ya, begitulah kalian, orang muda zaman sekarang. Kalian itu, kecuali tubuh, tidak ada sesuatu pun yang dilihat. Pada zaman kami tidaklah demikian. Semakin kuat saya jatuh cinta, semakin dia bagi saya jadi tidak bersifat badaniah. Kalian sekarang hanya melihat kaki, pergelangan kaki dan juga yang lainnya, kalian menelanjangi perempuan, yang kalian cintai, buat saya, seperti yang dikatakan Alphonse Karr[12], seorang penulis yang bagus, selalu ada baju zirah dari perunggu pada objek cinta saya. Kami tidak menanggalkan pakaian, tetapi kami berusaha menyembunyikan ketelanjangan, seperti anak nabi Nuh yang baik hati[13]. Tetapi sudahlah kalian tidak akan memahami hal ini.”

“Jangan dengarkan dia. Selanjutnya bagaimana?” kata seorang dari kami.

“Ya. Begitulah, saya terus berdansa dengannya dan tidak memperhatikan, bagaimana waktu berlalu. Para pemain musik dengan kelelahan yang sangat, kalian tahu, itu selalu terjadi pada setiap akhir pesta dansa, terus memainkan motif mazurka, dari meja kartu di ruang tamu para orang tua beranjak, mempersiapkan diri untuk makan malam, secara lebih kerap pelayan-pelayan berlarian, sambil membawa sesuatu. Sudah pukul tiga; menit-menit yang penghabisan, mestilah, dipergunakan. Sekali lagi saya memintanya untuk berdansa dan kami untuk yang keseratus kalinya melalui panjangnya ruang dansa.”

“Selepas makan malam, bolehkan saya menjadi partner Anda untuk quadrille?” kata saya kepadanya, sambil membawanya kembali ke tempatnya.

“Tentu saja, jika saya tidak dibawa pulang,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak akan saya biarkan,” kata saya.

“Kipas tangan saya, tolong berikan,” katanya.

“Menyesal saya harus mengembalikannya,” kata saya, seraya memberikan kepadanya kipas tangan putih yang tidaklah mahal.

“Kalau begitu ini untuk Anda, agar Anda tidak merasa menyesal,” katanya, seraya melepaskan selembar bulu kipas tangan dan memberikannya kepada saya.

“Saya mengambilnya dan hanya dengan tatapan saya mengungkapkan rasa terpaku dan rasa terima kasih. Saya bukan saja riang dan senang, saya bahagia, terberkati, saya dipenuhi kebajikan, saya sudah bukan saya, tetapi saya adalah mahluk di luar bumi, yang tidak mengenal kejahatan dan hanya dapat melakukan kebaikan. Saya menyimpan selembar bulu itu ke dalam sarung tangan dan saya berdiri saja, tidak memiliki kekuatan untuk menjauh darinya.”

“Lihat, ayah diminta untuk berdansa,” katanya kepada saya, sambil menunjuk pada sosok ayahnya yang tinggi dan agung, seorang kolonel dengan tanda pangkatperak[14], yang berdiri di pintu dengan sang nyonya rumah dan beberapa wanita lainnya.

“Varenka, kemarilah,” kami mendengar suara keras sang nyonya rumah, yang memakai tiara berlian dengan bahu bergaya Elizaveta Petrovna.

Varenka mendekat ke arah pintu dan saya berjalan di belakangnya.

Ma chere[15], berbicaralah pada ayahmu, agar dia berdansa denganmu. Pyotr Vladislavich, ayolah berdansa,” kata sang nyonya rumah kepada kolonel tersebut.

Ayah Varenka adalah laki-laki tua yang sangat tampan, agung, tinggi dan terpelihara kesehatannya. Wajahnya begitu kemerah-merahan dengan kumis putih melengkung, seperti Nikolai I[16], jambangnya yang juga putih, menyentuh kumis dan dengan rambut yang disisir ke depan, di atas pelipis; senyumannya yang lembut, yang gembira, seperti yang dimiliki anaknya, tampak pada matanya yang bercahaya dan pada kedua bibirnya. Tubuhnya sangat sempurna dengan dada yang lebar, membusung, khas militer, dihiasi, secara sederhana, oleh tanda jasa; bahunya kekar, kedua kakinya tampak sangat baik dan panjang. Dia adalah seorang perwira dari tipe lama dengan karakter militer akademi Nikolai.

Ketika kami sampai di pintu, sang kolonel menampik seraya mengatakan, bahwa dia telah lupa bagaimana caranya berdansa, tetapi meskipun demikian, sambil tersenyum, setelah mengulurkan tangan ke arah kiri, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, menyerahkannya kepada seorang laki-laki muda yang membantunya dan setelah meletakkan sarung tangan kulit ke tangan kanan, dia berkata, “semua harus menurut aturan,” seraya tersenyum, dia meraih tangan putrinya dan mengambil kedudukan seperempat putaran, sambil menunggu ketukan irama yang tepat.

Setelah permulaan motif mazurka terdengar, dengan tangkas sang kolonel menghentakan salah satu kakinya dan mengayunkan kakinya yang kedua dan kemudian sosoknya yang tinggi besar, kadang senyap dan lembut, kadang berisik dan bergolak, dengan bunyi derap sepatu dan hentakan satu kaki terhadap kaki yang lain, mengarungi sekeliling ruangan dansa, sosok Varenka yang lemah gemulai melayang di samping sang kolonel, dengan tanpa terlihat dan selalu tepat waktu dia terus memendekkan atau memperpanjang langkah kaki mungilnya yang diselimuti sepatu satin warna putih untuk mematutkan gerakan dengan ayahnya.

Semua orang mengikuti setiap gerakan dari pasangan tersebut. Saya bukan hanya mengagumi, tetapi dengan sentuhan kegembiraan memandangi keduanya, saya, terutama, tersentuh oleh sepatu sang kolonel, yang diikat dengan tali pengikat; sepatu dari kulit sapi yang baik, sepatu tersebut tidak fashionable dan tidak lancip, tetapi bergaya lama dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut dan tanpa hak. Tak pelak lagi, sepatu itu dibuat oleh tukang sepatu batalyon. “Dia tidak membeli sepatu yang fashionable, mengenakan sepatu buatan rumah, agar dapat memakaikan dan membawa putri kecintaannya ke dalam pergaulan masyarakat,” pikir saya dan begitulah utamanya, mengapa saya tersentuh oleh sepatu dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut tersebut. Semua orang melihat, bahwa sebelumnya sang kolonel berdansa dengan baik sekali, tetapi sekarang dia tampak berat dan kaki-kakinya tidak lagi cukup fleksibel untuk melakukan semua langkah indah dan cepat, yang dia ingin lakukan. Tetapi dia, biarpun demikian, dengan cekatan melewati dua kali putaran ruang dansa. Saat dia dengan cepat melebarkan kakinya, kemudian merapatkannya lagi dan meskipun agak susah, menjatuhkan dirinya dengan bertumpu pada satu lutut, dan Varenka, sambil tersenyum dan memperbaiki gaun bagianbawah, yang dipegang oleh ayahnya, secara anggun melayang menyeputari sang kolonel; semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh. Melalui beberapa kekuatan sisa sang kolonel berusaha untuk bangkit sedikit, dengan lembut, halus, merengkuh putrinya lewat kedua tangan yang menyentuh telinga Varenka dan setelah mencium keningnya, kolonel itu membimbingnya ke arahku, karena berpikiran, bahwa saya berdansa dengan anaknya; saya pun mengatakan, bahwa saya bukan partner Varenka dalam berdansa.

“Sama saja, sekarang berdansalah Anda dengannya,” katanya, sambil tersenyum dengan hangat dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Seperti biasa terjadi, bahwa tetesan pertama yang keluar dari dalam botol, pada kesudahannya mengalirkan isinya menjadi curahan-curahan yang besar, begitu juga di dalam jiwa saya, cinta terhadap Varenka membebaskan seluruh kemampuan cinta saya yang terselubung. Saya merangkul, pada ketika itu, segenap dunia dengan cinta. Saya menyukai nyonya rumah yang mengenakan tiara berlian dengan gaya potret sedada Elizaveta, suaminya, para tamunya, para pelayannya, dan bahkan pada insinyur Anisimov, yang jelas-jelas marah pada saya. Terhadap ayah Varenka, yang mengenakan sepatu buatan rumah dengan senyum lembut, yang mirip benar dengan senyumnya, saya saat itu menjalani sesuatu rasa kagum yang mempesona.

Mazurka berakhir, tuan dan nyonya rumah meminta para tamu untuk makan malam, tetapi kolonel B menolak, mengatakan, bahwa dia besoknya harus bangun pagi-pagi sekali dan dia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah. Saya ketakutan, Varenka akan dibawa serta. Akan tetapi dia tetap tinggal bersama ibunya.

Setelah makan malam saya menari quadrille, yang telah terjanjikan, dengannya, dan tanpa berpijak pada hal, bahwa, tampaknya, saya tak akan dapat sangat gembira, kebahagiaan saya terus tumbuh dan berkembang. Kami tidak mengatakan apa-apa mengenai cinta. Saya tidak bertanya baik kepadanya, maupun kepada diri sendiri, bahkan mengenai: cintakah dia kepada saya. Bagi saya sudah cukup, saya mencintai dia. Dan saya mencemaskan hanya pada satu hal, akan ada sesuatu yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Ketika sampai di rumah, saya menanggalkan pakaian dan memikirkan mengenai tidur nyenyak, tetapi saya melihat, bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Pada genggaman tangan saya ada selembar bulu dari kipas tangannya dan sebelah sarung tangan, yang dia berikan kepada saya, saat dia duduk di dalam kereta kuda dan saya ketika itu membimbing ibunya, kemudian Varenka untuk naik ke dalam kereta tersebut. Saya menatapi barang-barang itu dan, karena tidak dapat memejamkan mata, saya melihat Varenka ada di hadapan saya lagi sesaat, ketika dia, memilih salah satu dari dua partner, memperkirakan karakter saya dan saya mendengar suara lembutnya, manakala dia berkata: “Rasa bangga? Benar?” Dan dengan gembira dia mengulurkan tangannya kepada saya atau ketika makan malam dia mereguk sedikit demi sedikit segelas kecil sampanye dan menatap saya sambil mengernyitkan kening dengan mata yang menawan. Tetapi dari semuanya yang terbaik, ketika saya melihat Varenka berpasangan dengan ayahnya, dia melayang dengan anggun di samping sang kolonel dan dengan bangga dan gembira dia melihat pada para penonton yang terkagum-kagum terhadap dirinya dan ayahnya. Dan tanpa disadari saya menggabungkan keduanya di dalam satu perasaan yang lembut dan mengharukan.

Ketika itu saya tinggal dengan saudara laki-laki yang pendiam. Saudara saya itu benar-benar tidak menyukai pergaulan masyarakat dan tidak pernah pergi ke pesta dansa, sekarang dia sedang mempersiapkan ujian kandidat[17] dan menjalani kehidupan yang sangat lurus. Dia tertidur. Saya memandang pada bagian kepalanya yang terpendam bantal dan setengahnya tertutup dengan selimut flanel, dan saya, dengan rasa sayang, mulai jadi kasihan terhadapnya, kasihan karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat berbagi kebahagiaan, yang saya alami. Petrusha[18], pembantu saya, menemui saya dengan lilin di tangan dan dia ingin membantu saya melepaskan pakaian, tetapi saya menyuruhnya pergi. Rupa wajah saudara saya yang tertidur dengan rambut tidak karuan membuat saya jadi iba. Dengan berupaya untuk tidak membuat gaduh, saya masuk ke dalam kamar sendiri dengan bersijingkat dan duduk di atas tempat tidur. Tidak, lantaran begitu bahagia, saya tidak dapat tidur. Lain daripada itu, saya merasa kepanasan di dalam kamar, dan saya, dengan tidak menanggalkan pakaian seragam, pelan-pelan keluar ke ruang depan, memakai mantel, membuka pintu masuk dan pergi keluar ke arah jalan.

Saya pulang dari pesta dansa pada pukul lima, ketika saya sampai di rumah, saya duduk di sana, kira-kira dua jam, jadi saat saya keluar, langit sudah terang. Demikianlah udara Shrovetide: berkabut, salju yang dijenuhi oleh air bercairan di jalanan dan dari semua atap rumah bertetesan. Ketika itu keluarga B tinggal di ujung kota dan di dekatnya terdapat lahan luas terbuka, yang pada salah satu sisinya ada ruang untuk berjalan-jalan, sedang pada sisi kedua berdiri sebuah institut untukkaum perempuan[19]. Saya melewati jalanan kecil yang kosong dan keluar menuju ke jalan besar, di sana saya bertemu dengan para pejalan kaki dan para penarik kereta yang membawa kayu di atas kereta luncur, yang berusaha dikeluarkan dari hamparan salju ke jalanan beraspal oleh kuda-kuda penariknya. Dan kuda-kuda tersebut secara berirama mengayun-ayunkan kepalanya yang basah di bawah kayu berbentuk melengkung yang disampang[20] dan ditempatkan pada bagian lehernya, dan para penarik kereta yang mengenakan baju dari kain kasar berjalan lambat melewati lumpur salju dengan sepatunya yang besar di samping kereta kudanya dan rumah-rumah pada sisi jalan yang lain, di dalam cuaca berkabut, tampak sangat tinggi: bagi saya, terutama sekali, segalanya itu begitu memiliki nilai dan sangat signifikan.

Ketika saya keluar menuju ke lahan, yang di atasnya berdiri rumah keluarga B, saya melihat sesuatu yang besar dan hitam di ujung lahan, pada arah ruang untuk berjalan-jalan dan saya mendengar suara flute dan genderang dari sana. Jiwa saya sepanjang waktu berdendang dan terkadang terdengar motif mazurka. Akan tetapi ini adalah irama musik yang lain, parau dan menakutkan.

“Apakah itu?” Saya merasa ingin tahu dan mulai melangkah melalui jalanan licin di tengah tengah lahan ke arah suara tersebut berasal. Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, saya mulai melihat dengan jelas, dari balik kabut, sekumpulan orang yang tampak hitam, agaknya itu para serdadu. “Benar, mereka sedang latihan berbaris,” pikir saya dan bersama seorang tukang tempa besi yang mengenakan pakaian kerja yang terkotori minyak dan mantel dari bulu domba, yang membawa sesuatu dan berjalan di depan saya, melangkah lebih mendekat. Para serdadu dengan seragam hitam berdiri membentuk dua barisan, berhadap-hadapan seraya memegang senjata selurus dengan kaki dan sama sekali tidak bergerak. Di belakang mereka berdiri para penabuh genderang dan peniup flute, yang selalu mengulang, tanpa henti-hentinya, irama yang tidak menyenangkan dan melengking.

“Apakah yang mereka perbuat?” tanya saya pada sang penempa, yang berdiri di samping saya.

“Mereka menggiring seorang Tartar karena berusaha melarikan diri,” kata sang penempa dengan marah, sambil memandang ke ujung jauh barisan.

Saya mulai menatap ke sana juga dan melihat sesuatu yang mengerikan di tengah-tengah barisan, berjalan ke arah saya. Sesuatu yang mendekat kepada saya itu adalah seorang laki-laki bertelanjang dada, yang dihimpit senapan oleh dua orang serdadu, yang mengawalnya. Di samping laki-laki tersebut berjalan seorang perwira bertubuh tinggi, mengenakan mantel dan penutup kepala dinas, sosok tersebut tampaknya saya kenal. Sang pesakitan bergerak maju ke arah saya di bawah hujan pukulan yang menghajarnya dari dua sisi, seluruh badannya tersentak dan kakinya menginjak keras-keras salju yang meleleh, kadang dia tersungkur ke belakang dan saat itu serdadu yang mengawalnya dengan senapan, mendorongnya ke depan, kadang dia jatuh menyorong ke depan dan saat itu serdadu tersebut, sambil menahannya agar tidak jatuh, menarik sang pesakitan ke belakang. Dan di sampingnya, perwira yang bertubuh tinggi tak pernah sedikit pun melangkah di belakang, berjalan dengan tegap. Dia adalah ayah Varenka, dengan wajahnya yang merah, jambang pipi dan kumis warna putih.

Pada setiap pukulan, sang pesakitan, seperti orang yang keheranan, memalingkan wajahnya yang meringis karena kesakitan ke arah, dari mana datangnya pukulan dan sambil menyeringaikan gigi-gigi putihnya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama. Hanya pada saat dia sangat dekat, saya mendengar kata-kata tersebut. Dia tidak mengatakannya, tetapi lebih kepada melenguh: “Tolonglah, ampuni. Ampunilah saya.” Akan tetapi orang-orang itu tidak mengampuninya dan manakala prosesi itu benar-benar tepat di depan saya, saya melihat, bagaimana serdadu yang berdiri di depan saya tanpa ragu-ragu melangkah maju ke depan dan setelah mengibaskan tongkat pemukul ke udara, hingga terdengar bunyi mendesing, dia memukulkannya keras-keras pada punggung orang Tartar tersebut. Sang pesakitan jatuh ke depan, tetapi serdadu-serdadu itu menahannya dan pukulan yang seperti tadi menghajarnya dari arah yang lain, dan sekali lagi dari arah yang tadi, dan sekali lagi dari arah yang lain. Sang kolonel berjalan di samping orang Tartar, kadang dia melemparkan pandangan ke arah kakinya sendiri, kadang ke arah sang pesakitan, dia menghirup udara, kemudian menggelembungkan pipinya dan pelan-pelan mengeluarkannya melalui bibirnya. Ketika prosesi tersebut melewati tempat, yang di atasnya saya berdiri, selintasan saya melihat, di tengah-tengah barisan serdadu, punggung sang pesakitan, tampak sesuatu yang sulit digambarkan: berbilur-bilur, basah, merah, mengejutkan. Saya hampir tak percaya, jika itu bagian tubuh manusia.

“Ya, Tuhan!” gumam sang penempa, yang berdiri di samping saya.

Prosesi bergerak menjauh. Pukulan-pukulan dari dua arah tetap menghajar mahluk yang terhuyung-huyung dan menggelepar, genderang juga tetap ditabuh, flute pun tetap melengking, dan sosok sang kolonel yang jangkung dan perbawa berjalan di samping orang Tartar dengan langkah yang tegap. Tiba-tiba kolonel tersebut berhenti dan dengan cepat menghampiri salah seorang serdadu.

“Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana melalaikan perintah,” saya mendengar suaranya yang murka. “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?”

Dan saya melihat, bagaimana dia memukul serdadu yang berbadan pendek dan lemah tersebut dengan tangannya yang kuat, yang terbungkus sarung tangan kulit, lantaran serdadu itu tidak cukup kuat menghajarkan tongkat pemukulnya ke punggung orang Tartar yang terlihat sangat merah.

“Berikan tongkat pemukul yang baru!” teriaknya dan berpaling: dia melihat saya. Seraya berpura-pura tidak mengenal saya, dia mengernyitkan dahi dengan keji dan mengerikan, kemudian secepat-cepatnya memalingkan wajah. Sampai pada tingkat ini saya merasa malu, saya tidak tahu harus ke mana melemparkan pandangan, seolah-olah saya tertangkap dalam perbuatan yang mendatangkan malu. Saya jatuhkan pandangan ke bawah dan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, di telinga saya terngiang kadang tabuhan genderang dan lengkingan flute, kadang terdengar kata-kata: “Ampunilah saya”, kadang saya mendengar suara murka, yang terlalu percaya diri dari sang kolonel, yang berteriak: “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?” Dan pada ketika itu di dalam hati saya ada penderitaan yang hampir-hampir bersifat jasmani, yang membuat saya muak, sehingga untuk beberapa kali saya berhenti, dan kelihatannya, saya harus membuang semua hal yang mengerikan, yang masuk kepada saya melalui tunjukkan yang tadi. Saya tak lagi ingat, bagaimana saya sampai ke rumah dan berbaring. Akan tetapi saya hanya tidur barang sebentar, kemudian mendengar dan melihat lagi segalanya itu dan saya terlonjak bangun.

“Tampaknya, dia mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui,” saya berpikir mengenai sang kolonel. “Sekiranya saya mengetahui, apa yang dia ketahui, saya akan memahami, dan apa yang saya lihat, tidak akan menyiksa saya.” Akan tetapi beberapa kali pun saya berpikir, saya tidak dapat mengerti, apa yang diketahui oleh sang kolonel dan saya pun jatuh tertidur menjelang malam. Dan setelah itu, saya kemudian berkunjung ke rumah seorang kenalan dan di sana saya minum-minum dengannya sampai saya benar-benar mabuk, untuk melupakan.”

“Apakah kalian mengira, bahwa apa yang saya simpulkan saat itu mengenai apa yang saya lihat adalah sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Jikalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan diterima oleh setiap orang sebagai sesuatu yang diperlukan, maka itu artinya mereka mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui, saya berpikir begitu dan berupaya untuk mengetahui hal tersebut. Akan tetapi seberapa pun saya berusaha, saya kemudian tetap tidak mampu mengetahuinya. Dan karena saya tidak dapat mengetahui, saya pun tidak mampu masuk ke dalam dinas militer, sebagaimana yang saya inginkan dulu. Dan bukan hanya di dalam kedinasan militer, tetapi di mana-mana saya tidak sanggup masuk ke dalam dinas apa pun dan ke manapun, sebagaimana yang kalian lihat, saya telah berubah menjadi seorang manusia yang tak berguna.”

“Ya, kami mengetahui, bagaimana Anda telah berubah menjadi orang yang kehilangan guna,” kata salah seorang tamu. “Lebih baik dikatakan demikian saja: jadi sebelum ada Anda, betapa banyaknya orang, yang telah berubah menjadi manusia yang tidak berguna.”

“Itu adalah sesuatu yang bodoh untuk dikatakan,” kata Ivan Vasilyevich dengan nada yang sangat kesal.

“Baiklah, bagaimanakah dengan cinta Anda?” tanya kami.

“Cinta saya? Sejak hari itu cinta saya jadi meluruh. Ketika Varenka, ini sering terjadi terhadapnya, dengan senyuman di wajah memikirkan sesuatu secara mendalam, dan saya, dengan secepatnya, teringat pada sang kolonel, yang ketika itu berada di atas lahan, dan saya, tidak tahu bagaimana, merasa jadi tidak nyaman dan tidak bahagia, saya pun kemudian jadi lebih jarang bertemu dengannya. Dan cinta saya menghilang menuju pada tidak ada. Begitulah kadang-kadang sesuatu terjadi dan karena apa seluruh hidup manusia bisa berubah dan memiliki tujuan. Sedangkan kalian di sini hanya memperbincangkan mengenai lingkungan,” kata Ivan Vasilyevich mengakhiri. (*)

1903

____
*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin.

[1] Merupakan foto yang dikerjakan di atas piring perak. Namanya disesuaikan dengan nama penemu metode ini, L.J.M Daguerre (1787-1851). Pada tahun 1851 diketahui ada daguerreotype Tolstoy

[2] Seminggu sebelum puasa masehi; festival Slavia Kuno untuk mengucapkan selamat jalan pada musim dingin, yang ditandai oleh pekerjaan musim semi di ladang

[3] Dipilih oleh kaum bangsawan di suatu Uyezd atau Guberniya di dalam badan pemilihan kepemerintahan lokal

[4] Gelar senior hukum di Rusia

[5] Anak Peter I. Ratu Rusia (1709-1761), yang memerintah sejak tahun 1741. Di dalam potret resminya terpampang jelas bahunya yang putih dan lembut

[6] Aslinya adalah nama permainan kartu. Pada tahun 1740 diberikan untuk penamaan tarian. Quadrille diperkenalkan di Perancis sekitar tahun 1760. Quadrille dibawakan oleh dua pasang penari; pertama-tama di Perancis hanya diperlukan 4 orang, kemudian dua pasang penari ditambahkan pada masing-masing sisi untuk menggantikan pasangan yang lelah. Tarian ini sangat enerjik

[7] Tarian ini muncul di Wina, Austria pada awal abad 17. Tarian ini berirama ¾, pun musiknya

[8] Tarian rakyat Polandia. Pasangan penari membawakan tarian ini dengan berkeliling ruang dansa. Tempo tarian ini cepat

[9] Tarian nasional Polandia yang dibawakan sejak abad 16. Musiknya berirama ¾. Tarian ini dikarakterisasikan dengan hentakan kaki dan sentakan tumit, saat ada gerakan membalik

[10] Untuk tarian mazurka ada aturan khusus. Para penari pria memilih kualitas konvensional, misalkan rendah hati, rasa bangga, riang, sedih. Seorang penari pria akan memilih dua orang penari lainnya dan meminta sang penari wanita untuk menebak kualitas mereka. Penari wanita akan menari dengan laki-laki yang kualitasnya dapat diterka

[11] Maksudnya’lagi’ (bahasa Perancis)

[12] Penulis Perancis (1808-1890), yang mendirikan majalah satir ‘Wasps’

[13] Di dalam kitab Injil dikisahkan nabi Nuh jatuh tertidur, setelah banyak minum. Ham, anaknya, menertawakan, tetapi Sim dan Japhet, anak lainnya, dengan rasa respek menyelimuti ketelanjangan ayahnya

[14] Tanda pangkat untuk masa seremonial, yang disulam secara khusus pada bagian ujung pundak

[15] Maksudnya ‘sayangku’ (bahasa Perancis)

[16] Kaum militer pada masa Nikolai I (1825-1855) meniru tsar mereka, yang di dalam potret resminya memakai kumis dan jambang

[17] Ujian akhir di universitas dan mahasiswa yang berhasil diberi gelar: kandidat akademik

[18] Nama diminutif Pyotr atau Peter

[19] Institusi pendidikan eksklusif untuk putri-putri kaum bangsawan, yang didirikan oleh Marya Fyodorovna (1759-1828), istri tsar Pavel I

[20] Dipernis, agar kayu jadi berkilat

Continue Reading

Classic Prose

Truman Capote: Miriam

mm

Published

on

Miriam by Truman Capote | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

____

Selama beberapa tahun, Bu H. T. Miller tinggal sendirian di sebuah apartemen yang nyaman (dua kamar dengan dapur kecil) di sebuah gedung berbahan batu bata yang sudah direnovasi di dekat East River. Ia adalah seorang janda: Pak H. T. Miller meninggalkan sejumlah asuransi yang layak. Hanya sedikit hal yang menarik minatnya, ia tidak memiliki teman untuk diajak bicara dan jarang berjalan-jalan lebih jauh daripada ke toko kelontong. Para penghuni lain di gedung itu sepertinya tidak pernah memperhatikannya: pakaiannya bernuansa kelabu, rambutnya abu-abu, dijepit dan bergelombang; ia tidak menggunakan kosmetik, wajahnya polos dan tidak mencolok, dan pada hari ulang tahunnya yang terakhir, ia berusia enam puluh satu tahun. Aktivitasnya jarang spontan: ia menjaga kedua kamar itu tak bernoda, merokok sesekali, menyiapkan makanannya sendiri dan merawat burung kenari.

Lalu ia bertemu Miriam. Malam itu turun salju. Bu Miller telah selesai mengeringkan piring-piring usai makan malam dan membolak-balik koran sore saat ia melihat sebuah iklan berisi poster film yang diputar di bioskop setempat. Judulnya terdengar seru, jadi ia berjuang memakai mantel berbulunya, mengikat tali sepatu karetnya, dan meninggalkan apartemen, membiarkan satu cahaya menyala di selasar: tidak ada yang lebih mengganggu daripada sensasi kegelapan.

Salju turun dengan lembut, belum menghiasi trotoar. Angin yang berhembus dari sungai terbelah di persimpangan jalan. Bu Miller bergegas, kepalanya menunduk, tak sadar seperti tikus yang menyusuri jalan dalam kegelapan. Ia berhenti di apotek dan membeli sebungkus pepermin.

Antrean panjang membentang di depan box office; ia mengantre paling belakang. Harus menunggu sebentar (suara kelelahan mengerang) untuk semua kursi. Bu Miller mengaduk-aduk tas kulitnya sampai ia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk tiket masuk. Antrean itu tampak mamakan waktu, dan, ketika sedang melihat sekeliling untuk distraksi, ia tiba-tiba sadar ada seorang gadis kecil berdiri di bawah tenda.

Bu Miller tidak pernah melihat rambut sepanjang dan seaneh itu: benar-benar putih perak, seperti rambut albino. Rambut itu menjulur sepanjang pinggang dengan garis-garis halus dan lentur. Dia kurus dan terlihat rapuh. Ada keanggunan yang sederhana dan spesial dalam cara dia berdiri dengan jempolnya di saku mantel beludru prem yang dibuat penjahit.

Bu Miller merasa sangat senang, dan saat gadis kecil itu melirik ke arahnya, ia tersenyum hangat. Gadis kecil itu berjalan mendekat dan berkata, “Maukah Anda membantuku?”

“Aku akan senang melakukannya,” kata Bu Miller.

“Oh, cukup mudah kok. Aku cuma ingin Anda membelikanku tiket; kalau tidak, mereka tidak akan membiarkanku masuk. Ini, aku ada uangnya.” Dan dia menyerahkan dua koin 10 sen dan 1 koin 5 sen.

Mereka pergi ke bioskop bersama-sama. Petugas mengarahkan mereka ke sebuah ruang duduk; dalam dua puluh menit filmnya akan berakhir.

“Aku merasa seperti penjahat sejati,” kata Bu Miller riang, saat ia duduk. “Maksudku, hal semacam itu melanggar hukum, bukan? Aku berharap aku tidak melakukan hal yang salah. Ibumu tahu kamu di mana, sayang? Maksudku, dia tahu, kan?”

Gadis kecil itu diam saja. Dia membuka kancing mantelnya dan melipatnya di pangkuannya. Gaunnya rapih, berwarna biru tua. Rantai emas menggantung di lehernya, dan jari-jarinya, terlihat sensitif dan seperti jari pemusik, memainkan rantai itu. Memeriksanya saksama, Bu Miller memutuskan bahwa ciri khasnya sebenarnya bukan rambutnya, tapi matanya; mata coklat kekuningan, mantap, tidak seperti mata anak kecil dan, karena ukurannya, seperti mengonsumsi wajah kecilnya.

Bu Miller manawari pepermin. “Siapa namamu, sayang?”

“Miriam,” katanya, seakan, dengan anehnya, nama itu informasi yang sudah familiar.

“Mengapa, lucu sekali- namaku juga Miriam. Dan nama itu bukan nama yang pasaran. Jangan bilang nama belakangmu pun Miller!”

“Cuma Miriam.”

“Tapi, tidakkah itu lucu?”

“Biasa saja,” balas Miriam, dan memainkan pepermin di lidahnya.

Bu Miller merona dan bergerak tak nyaman. “Kosakatamu luas sekali untuk anak perempuan seusiamu.”

“Iya kah?”

“Hm, ya,” kata Bu Miller, dengan tergesa-gesa mengubah topik: “Kamu suka filmnya?”

“Aku tak tahu,” jawab Miriam. “Aku belum pernah menontonnya.”

Para perempuan mulai memenuhi ruangan; gemuruh cuplikan berita meledak di kejauhan. Bu Miller berdiri, menyempilkan dompetnya ke bawah lengan. “Kurasa aku sebaiknya lari sekarang kalau ingin dapat tempat duduk,” katanya. “Senang bertemu denganmu.”

Miriam mengangguk sedikit.

Selama seminggu salju turun.  Roda dan langkah kaki bergerak tanpa suara di jalan, seolah urusan hidup berlangsung diam-diam di balik tirai yang pucat namun tak tertembus. Di tempat yang sunyi sepi tidak ada langit atau bumi, hanya salju yang terangkat angin, membekukan kaca jendela, mendinginkan ruangan, mematikan dan mendiamkan kota. Penting untuk membiarkan lampu menyala di sepanjang jam, dan Bu Miller kehilangan jejak hari-hari: Jumat tidak ada bedanya dengan hari Sabtu, dan di hari Minggu, dia pergi belanja, tentu saja tutup.

Malam itu ia memasak telur dadar dan menyiapkan semangkuk sup tomat. Lalu, setelah mengenakan jubah flanel dan mengoleskan krim dingin di wajahnya, ia menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sebotol air panas di bawah kaki. Ia sedang membaca Times saat bel pintu berdering. Mula-mula ia mengira itu pasti sebuah kesalahan dan siapa pun itu akan pergi nantinya. Tapi, bel terus berdering dan berdering dan semakin menuntut. Ia melihat jam: pukul sebelas lewat sedikit; sepertinya tidak mungkin, ia selalu sudah tertidur pukul sepuluh.

Beranjak dari kasur, ia berderap tanpa alas kaki melintasi ruang tamu. “Aku ke sana, mohon bersabar.” Grendel pintu itu tersangkut; ia mengutak-atiknya begini dan begitu dan bel tidak berhenti barang sebentar saja. “Berhenti,” teriaknya. Bautnya membuka jalan dan ia membuka pintu selebar satu inci. “Siapa gerangan di sana?”

“Halo,” sapa Miriam.

“Oh … kenapa, halo,” jawab Bu Miller, ragu-ragu melangkah ke aula. “Kamu gadis kecil kemarin.”

“Kukira Anda tidak akan menjawab, tapi aku terus memencet bel; aku tahu Anda di rumah. Bukankah Anda senang melihatku?”

Bu Miller kehilangan kata-kata. Miriam, ia lihat, mengenakan mantel beludru prem yang sama dan sekarang dia memakai topi baret melengkapi mantelnya; rambut putihnya dikepang dua lapis dan dililitkan di ujungnya dengan pita putih yang sangat besar.

“Karena aku sudah lama menunggu, Anda setidaknya bisa membiarkanku masuk,” katanya.

“Tapi ini sudah malam sekali …”

Miriam menatapnya kosong. “Apa bedanya? Biarkan aku masuk. Di sini dingin dan aku memakai gaun sutra.” Kemudian, dengan gerakan lembut, dia mendesak Bu Miller ke samping dan masuk ke apartemen.

Dia menjatuhkan mantel dan baretnya di kursi. Dia memang mengenakan gaun sutra. Sutra putih di bulan Februari. Rok itu memiliki lipit yang indah dan panjang; membuat gemersik samar saat dia melangkah memasuki ruangan. “Aku suka tempat Anda,” katanya. “Aku suka permadaninya, warna biru favoritku.” Dia menyentuh sebuah mawar kertas di vas bunga di atas meja kopi. “Imitasi,” komentarnya lemah. “Betapa menyedihkan. Bukankah imitasi itu menyedihkan?” Dia duduk di sofa, dengan lembut melebarkan roknya.

“Apa maumu?” tanya Bu Miller.

“Duduk,” kata Miriam. “Melihat orang berdiri membuatku gugup.”

Bu Miller tenggelam di sebuah kursi kecil. “Apa yang kamu inginkan?” ia mengulangi.

“Kurasa Anda tidak senang aku datang.”

Untuk kedua kalinya Bu Miller tidak menjawab; tangannya bergerak samar. Miriam terkikik dan kembali menekanan dirinya ke tumpukan bantal katun berbunga. Bu Miller memperhatikan bahwa gadis itu tidak sepucat yang ia ingat; pipinya memerah.

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

Miriam mengernyit. “Itu bukan pertanyaan. Siapa namamu? Siapa namaku?”

“Tapi aku tidak terdaftar di buku telepon.”

“Oh, ayo kita bicarakan hal lain.”

Bu Miller berkata, “Ibumu pasti sudah gila karena membiarkan anak sepertimu berkeliaran di malam hari – dan dengan pakaian yang tidak masuk akal. Pasti dia sudah gila.”

Miriam berdiri dan pindah ke ujung ruangan di mana ada sangkar burung yang tertutup kain tergantung dari rantai langit-langit. Dia mengintip ke balik kain. “Burung kenari,” katanya. “Anda keberatan kalau kubangunkan dia? Aku ingin dengar dia bernyanyi.”

“Tinggalkan Tommy sendiri,” jawab Bu Miller, cemas. “Awas kalau kau bangunkan dia.”

“Tentu saja,” kata Miriam. “Tapi aku tak mengerti kenapa aku tidak boleh mendengarnya bernyanyi.” Dan juga, “Anda punya sesuatu yang bisa kumakan? Aku kelaparan! Bahkan susu dan roti lapis selai juga tak apa.”

“Dengar,” kata Bu Miller, bangkit dari bantal, “Dengar – kalau kubuatkan kau roti lapis, maukah kau jadi anak baik dan lari ke rumah? Sudah lewat tengah malam, aku yakin.”

“Di luar bersalju,” bujuk Miriam. “Juga dingin dan gelap.”

“Yah, dari awal kau harusnya tidak ke sini,” balas Bu Miller, berjuang mengontrol suaranya. “Aku kan tidak bisa mengatur cuaca. Kalau mau makanan, kau harus berjanji akan pulang.”

Miriam menyapukan kepangan ke pipinya. Matanya berpikir, seolah menimbang proposisi itu. Dia berbalik ke arah sangkar burung. “Baiklah,” dia berkata. “Aku janji.”

Berapa usianya? Sepuluh? Sebelas? Bu Miller, di dapur, membuka sekaleng stroberi fermentasi dan mengiris empat potongan roti. Dia menuangkan segelas susu dan berhenti sejenak untuk menyalakan rokok. Dan kenapa dia datang? Tangannya terkejut saat memegang korek, tercengang, hingga membakar jarinya. Burung kenari bernyanyi; bernyanyi seperti saat pagi hari dan tidak di waktu lainnya. “Miriam,” panggilnya, “Miriam, sudah kubilang jangan ganggu Tommy.” Tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi; yang terdengar hanya suara kenari. Ia menghisap rokok dan menyadari ia membakar ujung gabus penutup anggur dan – oh, sungguh, harusnya ia tidak kehilangan emosi.

Ia menaruh makanan di nampan dan mengaturnya di meja kopi. Yang pertama dilihatnya ialah sangkar burung masih mengenakan kain penutupnya. Dan Tommy sedang bernyayi. Hal itu memberikan sensasi aneh. Dan tidak ada seorang pun di ruangan. Bu Miller melewati sebuah ceruk yang menuju ke kamarnya; di pintu, ia menahan napas.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Miriam.

Miriam melirik ke atas dan matanya memancarkan pandangan yang tidak biasa. Dia sedang berdiri di samping meja tulis, sebuah kotak perhiasan terbuka di depannya. Sejenak dia mengamati Bu Miller, memaksa mata mereka bertemu, dan dia tersenyum. “Tidak ada yang bagus di sini,” katanya. “Tapi aku suka ini,” tangannya memegang bros ukiran. “Menarik sekali.”

“Seandainya-mungkin kau sebaiknya mengembalikannya,” kata Bu Miller, tiba-tiba merasa perlu mendapat dukungan. Ia bersandar pada kusen pintu; kepalanya terasa berat tak tertahankan; sebuah tekanan memberatkan irama detak jantungnya. Cahaya lampu seakan bergetar seperti lampu rusak. “Kumohon, Nak … hadiah dari suamiku.”

“Tapi itu cantik dan aku mau itu,” kata Miriam. “Berikan padaku.”

Selagi ia berdiri, berjuang keras untuk membentuk kalimat yang akan menyelamatkan bros itu, Bu Miller tersadar tidak ada seorang pun yang bisa ia andalkan; ia sendirian; suatu kenyataan yang sudah lama tidak ada di pikirannya. Penegasan itu sungguh menakjubkan. Tapi di sini, di kamarnya sendiri, di kota penuh pertunjukan yang sunyi itu, adalah bukti yang tidak bisa ia abaikan, atau, ia tahu dengan kejelasan yang mencengangkan, tolak.

Miriam makan dengan rakus, dan saat roti lapis dan susunya hilang, jari-jarinya menyisir di atas piring, mengumpulkan remah-remah. Bros itu berkilau pada blusnya, sosok pirang itu seperti bayangan belaka pada pemakainya. “Enak sekali,” dia menghela napas, “Meskipun kue almon atau ceri pasti terasa enak juga. Makanan manis itu menyenangkan, bukan?”

Bu Miller bertengger di atas meja makan, mengisap sebatang rokok. Ikat rambutnya terlepas sebelah dan helai-helai longgar melintang di wajahnya. Tatapannya kosong dan pipinya berbintik-bintik merah, seolah tamparan sengit telah meninggalkan bekas permanen.

“Ada permen – kue?”

Bu Miller menepuk debu di karpet. Kepalanya terayun sedikit saat ia mencoba memusatkan perhatian ke matanya. “Kau berjanji akan pulang kalau kubuatkan roti lapis,” katanya.

“Ya ampun aku ini, masa sih?”

“Kau berjanji dan aku capek dan aku merasa kurang sehat.”

“Jangan jengkel,” kata Miriam. “Aku kan cuma bercanda.”

Dia mengambil jaketnya, menggantungkannya di tangan, dan mengatur topi baretnya di depan kaca. Sekarang dia menunduk mendekat ke Bu Miller dan berbisik, “Berikan aku ciuman perpisahan.”

“Oh – aku tidak mau,” kata Bu Miller.

Miriam mengangkat bahu, melengkungkan alis. “Terserah dirimu,” katanya, dan langsung pergi ke meja kopi, mengambil vas berisi kertas mawar, membawanya ke tempat yang permukaan lantainya keras dan telanjang, dan melemparkannya ke bawah. Kaca tersebar ke segala arah dan dia menancapkan kakinya di atas buket bunga.

Lalu perlahan dia berjalan ke pintu, tapi sebelum menutupnya, dia kembali menatap Bu Miller dengan rasa penasaran yang nampak polos namun licik.

Bu Miller menghabiskan hari berikutnya di tempat tidur, bangun sekali untuk memberi makan burung kenari dan minum secangkir teh; ia mengukur suhu tubuh dan tidak demam, namun mimpinya menggelisahkan; suasana mimpi yang tidak mengenakkan itu tetap bertahan meski ia terbaring menatap lebar ke langit-langit. Satu mimpi beriringan melalui yang lain seperti tema misterius dalam simfoni yang rumit, dan adegan yang ditunjukkan digambarkan dengan tajam, seolah digambar oleh tangan dengan intensitas berbakat: seorang gadis kecil, mengenakan gaun pengantin dan karangan bunga, memimpin sebuah prosesi kelabu ke jalan setapak, dan di antara mereka ada keheningan yang tidak biasa sampai seorang wanita di belakang bertanya, “Ke mana dia membawa kita?” “Tidak ada yang tahu,” kata seorang pria tua yang berbaris di depan. “Tapi, bukankah dia cantik?” balas suara ketiga. “Bukankah dia seperti bunga yang beku … sangat bersinar dan putih?”

Selasa pagi, ia terbangun dengan perasaan lebih baik; sinar matahari yang terang, menembus miring melalui tirai Venesia, melepaskan cahaya yang mengganggu pada mimpi buruknya. Ia membuka jendela dan melihat hari yang mencair dan ringan seperti musim semi; sapuan awan baru yang bersih menggumpal di langit yang sangat biru, langit yang tidak pada musimnya; dan di seberang deretan atap rendah, ia bisa melihat sungai dan asap melengkung dari tumpukan kapal tugboat yang berbaris di antara angin yang hangat. Sebuah truk perak besar menaiki jalan bersalju, suara mesinnya berdengung di udara.

Setelah merapikan apartemen, ia pergi ke toko kelontong, menguangkan cek dan melanjutkan ke Schrafft’s, tempat ia sarapan dan mengobrol gembira dengan pelayannya. Oh, ini adalah hari yang indah, lebih seperti liburan dan bodoh sekali kalau pulang ke rumah.

Ia menaiki bis Lexington Avenue dan pergi ke Eighty-sixth Street; di sinilah ia memutuskan untuk sedikit belanja.

Ia tidak tahu apa yang ia inginkan atau butuhkan, tapi ia terus berjalan, memperhatikan orang yang lewat, bergegas dan sibuk dengan pikirannya sendiri, yang memberinya rasa keterpisahan yang mengganggu.

Saat sedang menunggu di sudut Third Avenue, ia melihat pria itu: seorang pria tua, dengan kaki yang pengkar dan membungkuk ke bawah bungkusan yang menggembung; dia mengenakan mantel cokelat lusuh dan topi kotak-kotak. Tiba-tiba, ia menyadari mereka bertukar senyuman: tidak ada yang ramah tentang senyuman ini, hanya dua emosi dingin. Tapi, ia yakin ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ia berdiri di samping pilar El, dan saat ia menyeberang jalan, dia berbalik dan mengikuti. Dia terus mendekat; dari sudut matanya, ia melihat bayangan pria itu bergelombang di jendela toko.

Lalu di tengah blok ia berhenti dan menghadap le pria itu. Dia juga berhenti dan memiringkan kepalanya, menyeringai. Tapi apa yang bisa ia katakan? Lakukan? Di sini, di siang bolong, di Eighty-sixth Street? Tidak ada gunanya, dan, membenci ketidakberdayaannya sendiri, ia mempercepat langkahnya.

Sekarang Second Avenue adalah jalan yang suram, terbuat dari sisa-sisa bahan bangunan dan jalan buntu; sebagian jalanan setapak dari batu, sebagian aspal, sebagian semen; dan atmosfer desersinya bersifat permanen. Bu Miller berjalan sejauh lima blok tanpa menemui siapa pun, dan sementara itu, jejak langkah kaki pria tadi di salju tetap dekat. Dan saat ia datang ke toko bunga, suara itu masih bersamanya. Ia bergegas masuk dan melihat melalui pintu kaca saat pria tua itu lewat; dia terus menatap lurus ke depan dan tidak memperlambat langkahnya, tapi dia melakukan hal aneh: dia memiringkan topinya.

“Enam bunga putih, kan?” tanya si penjual bunga. “Ya,” Bu Miller berkata pada pria penjual bunga, “Mawar putih.” Dari sana, ia pergi ke toko barang pecah belah dan memilih vas bunga, mungkin pengganti yang sudah Miriam rusak, meski harganya tidak dapat ditolerir dan vas itu sendiri (menurutnya) tidak istimewa. Tapi, serangkaian pembelian yang tidak masuk akal telah dimulai, seolah-olah dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya: rencana yang tidak ia ketahui atau kontrol sedikit pun.

Ia membeli sekantong ceri, dan di tempat yang disebut Knickerbocker Bakery, ia membayar empat puluh sen untuk enam kue almon.

Dalam satu jam terakhir, cuaca berubah menjadi dingin lagi; seperti lensa yang kabur, awan musim dingin menyinari bayangan matahari, dan kerangka senja dini mewarnai langit; kabut lembap bercampur angin dan suara beberapa anak yang berlarian di atas tumpukan salju terasa sepi dan tak ceria. Tak lama, serpihan pertama jatuh, dan saat Bu Miller sampai di gedung berbatu bata, salju turun dengan cepat dan jejak kaki yang tercetak jadi lenyap.

Mawar putih diatur secara dekoratif di dalam vas bunga. Ceri bersinar di piring keramik. Kue almon, ditaburi gula, menunggu dijamah. Burung kenari bergerak-gerak di ayunannya dan mengambil sebatang biji buah.

Tepat pukul lima, bel berbunyi. Miller tahu siapa orang itu. Ujung mantel rumahannya mengikuti langkahnya saat ia melintasi ruangan. “Apakah kau di dalam?” Dia memanggil.

“Sewajarnya,” kata Miriam, kata itu menggema keras dari aula. “Buka pintunya.”

“Pergi sana,” kata Bu Miller.

“Cepatlah … aku bawa bungkusan berat.”

“Sana pergi,” kata Bu Miller. Ia kembali ke ruang tamu, menyalakan rokok, duduk, dan dengan santai mendengarkan bel; terus-terusan. “Kau harusnya pergi saja. Aku tak berniat membiarkanmu masuk.”

Tak lama, bel berhenti berbunyi. Sekitar sepuluh menit Bu Miller tidak bergerak. Lalu, mendengar tidak ada suara, ia mengira Miriam sudah pulang. Ia berjingkat ke pintu dan membuka pintu sedikit; Miriam setengah berbaring di atas kotak kardus dengan boneka Prancis yang indah di pelukannya.

“Sungguh, kukira Anda tidak akan buka pintunya,” katanya, kesal. “Ini, bantu aku membawanya ke dalam, berat sekali.”

Bukan suatu paksaan serupa mantra yang Bu Miller rasakan, namun lebih seperti kepasifan yang aneh; ia membawa masuk kotak itu, Miriam si boneka. Miriam meringkuk di sofa, tidak repot-repot melepas mantel atau baretnya, dan mengawasi dengan tidak acuh ketika Bu Miller menjatuhkan kotak itu dan berdiri gemetar, berusaha menarik napas.

“Terima kasih,” katanya. Di siang hari dia tampak kurus dan letih, rambutnya kurang bercahaya. Boneka Prancis yang dia cintai itu mengenakan wig indah dan mata kacanya yang konyol nampak mencari hiburan di mata Miriam. “Aku punya kejutan,” lanjutnya. “Lihatlah ke dalam kotakku.”

Berlutut, Bu Miller membuka tutupnya dan mengangkat boneka lain; kemudian gaun biru yang ia ingat pernah dikenakan Miriam pada malam pertama di teater; dan ia berkata, “Semuanya pakaian. Kenapa?”

“Karena aku datang untuk tinggal bersama Anda,” kata Miriam, memutar batang ceri. “Bukankah Anda baik sekali sudah membelikanku ceri …?”

“Tapi kau tidak boleh tinggal di sini! Demi Tuhan, pergilah – pergi dan tinggalkan aku sendiri!”

“… dan mawar dan kue almon? Benar-benar luar biasa murah hati. Anda tahu, ceri ini lezat. Tempat terakhir yang kutinggali adalah rumah seorang lelaki tua; dia sangat miskin dan kami tidak pernah makan enak. Tapi aku pikir aku akan senang di sini.” Dia berhenti sejenak untuk merengkuh bonekanya. “Sekarang, kalau Anda tunjukkan di mana aku bisa menaruh barang-barangku …”

Wajah Bu Miller berubah serupa topeng dengan guratan-guratan merah yang jelek; ia mulai menangis, semacam tangisan yang tidak alami, seolah-olah lama tidak menangis dan ia lupa bagaimana caranya. Dengan hati-hati, ia mundur ke belakang sampai menyentuh pintu.

Ia meraba-raba lorong dan menuruni tangga ke bawah. Ia memukul dengan panik pintu apartemen pertama yang ia datangi; seorang pria pendek berambut merah menjawab dan ia mendorong melewatinya. “Apa-apaan ini?” kata pria itu. “Ada yang salah, sayangku?” tanya seorang wanita muda yang muncul dari dapur, mengeringkan tangannya. Dan Bu Miller menghadap wanita itu.

“Dengar,” serunya, “Saya malu berperilaku seperti ini tapi — yah, saya Bu H. T. Miller dan saya tinggal di lantai atas dan …” Ia menekankan tangannya ke wajahnya. “Kedengarannya sangat tidak masuk akal …”

Wanita itu membimbingnya ke kursi, sementara pria itu dengan penuh semangat memainkan uang receh di kantongnya. “Ya?”

“Saya tinggal di lantai atas dan ada seorang gadis kecil yang mengunjungi saya, dan saya kira saya takut padanya. Dia tidak kunjung pergi dan saya tidak bisa membuatnya pergi dan — dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia sudah mencuri bros ukiran milik saya, tetapi dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk — lebih buruk.”

Pria itu bertanya, “Dia kerabatmu?”

Bu Miller menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu siapa dia. Namanya Miriam, tapi saya tidak tahu pasti dia siapa.”

“Tenanglah, sayang,” kata wanita itu, sambil mengelus lengan Bu Miller. “Harry lah yang akan mengamankan anak itu. Ayo, sayangku.” Dan Bu Miller berkata, “Pintunya sudah terbuka — 5A.”

Setelah pria itu pergi, wanita itu membawa handuk dan mengelap wajah Bu Miller. “Anda baik sekali,” kata Bu Miller. “Maaf saya berperilaku seperti orang bodoh, hanya saja anak jahat ini …”

“Tentu, sayang,” menghibur wanita itu. “Sekarang, lebih baik santai saja.”

Bu Miller mengistirahatkan kepalanya di lekuk lengannya; dia cukup tenang untuk tidur. Wanita itu memutar radio; piano dan suara serak mengisi keheningan dan wanita itu mengetukkan kakinya, memberi jeda waktu yang sangat baik. “Mungkin kita harus naik juga,” katanya.

“Saya tidak ingin melihatnya lagi. Saya tidak ingin berada di dekatnya.”

“Uh-huh, tapi yang seharusnya Anda lakukan, Anda seharusnya memanggil polisi.”

Saat ini mereka mendengar pria tadi di tangga. Dia melangkah ke ruangan sambil mengerutkan dahi dan menggaruk bagian belakang lehernya. “Tidak ada orang di sana,” katanya, dengan jujur merasa malu. “Dia pasti menghabisi anak itu.”

“Harry, kamu keterlaluan,” kata wanita itu. “Kita duduk di sini sepanjang waktu dan kita pasti sudah melihat kalau …” Dia berhenti tiba-tiba, karena pandangan pria itu tajam.

“Saya mencari ke semua tempat,” katanya, “Dan tidak ada orang di sana. Tidak ada orang, mengerti?”

“Katakan pada saya,” kata Bu Miller, sambil berdiri, “Katakan pada saya, apakah Anda melihat kotak besar? Atau boneka?”

“Tidak, Bu, saya tidak lihat.”

Dan wanita itu, seolah memberikan vonis, berkata, “Yah, setelah menangis tersedu-sedu begitu …”

Bu Miller masuk ke apartemennya dengan lembut; ia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri diam. Tidak, dalam arti tidak ada yang berubah: mawar, kue, dan ceri berada di tempat masing-masing. Tapi, ini ruang kosong, lebih kosong daripada ketika perabotan belum ada di sini, tak bernyawa dan membatu layaknya pemakaman. Sofa membayang di hadapannya dengan keanehan baru: kekosongannya memiliki makna yang kurang tajam dan mengerikan seandainya saja Miriam pernah meringkuk di atasnya. Ia menatap lekat-lekat ruangan di mana ia ingat pernah mengatur boks, dan, untuk sesaat, bantal kakinya berputar putus asa. Dan ia melihat melalui jendela; tentu saja sungai itu nyata, tentu saja salju turun — tetapi kemudian, seseorang tidak bisa menjadi saksi tertentu untuk hal apa pun: Miriam, begitu jelas di sana — namun, di mana dia? Di mana? Di mana?

Seolah bergerak dalam mimpi, ia tenggelam di kursi. Ruangan itu kehilangan bentuk; hari sudah gelap dan semakin gelap dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu; ia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyalakan lampu.

Tiba-tiba, menutup matanya, ia merasakan lonjakan ke atas, seperti penyelam yang muncul dari kedalaman yang sangat dalam dan hijau. Pada masa penuh kesulitan atau teror, ada saat-saat ketika pikiran menunggu, seolah-olah untuk mendapatkan sebuah wahyu, sementara gumpalan ketenangan ditenun dari pikiran; seperti tidur, atau hipnotis supernatural; dan di masa ini kita menyadari kekuatan penalaran yang tenang: bagaimana jika ia tidak pernah benar-benar mengenal seorang gadis bernama Miriam? Bahwa ia dengan bodohnya ketakutan di jalan? Pada akhirnya, seperti yang lainnya, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang hilang dari dirinya untuk Miriam adalah identitasnya, tetapi sekarang ia tahu ia telah menemukan lagi orang yang tinggal di ruangan ini, yang memasak makanannya sendiri, yang memiliki burung kenari, yang merupakan seseorang yang dapat dipercayainya: Bu H. T. Miller.

Sambil mendengarkan dengan perasaan senang, ia sadar ada suara ganda: laci meja terbuka dan tertutup; ia sepertinya mendengarnya lama setelah laci itu selesai — terbuka dan tertutup. Kemudian secara bertahap, suara lantang itu digantikan oleh desiran gaun sutra dan, sesuatu ini, yang gerakannya halus dan lemah, bergerak lebih dekat dan semakin intens hingga dinding gemetar hebat dan ruangan itu runtuh di bawah gelombang bisikan. Bu Miller menegang dan membuka mata dan berpandangan langsung dengan tatapan membosankan itu.

“Halo,” kata Miriam.

 

___

Sumber teks: Literary Fictions

Continue Reading

Cerpen

Maxim Gorky: Karena Tidak Ada Sesuatu yang Lebih Baik Untuk Dilakukan

mm

Published

on

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada.

Oleh: Maxim Gorky | Penerjemah: Ladinata

____

Kereta penumpang, seperti seekor ular yang sangat besar, yang mengeluarkan kumpulan asap tebal berwarna abu-abu, hilang ditelan padang stepa yang tidak ada batasnya, hilang di lautan gandum berwarna kuning. Ketika asap tebal abu-abu larut di dalam udara yang terik, hentakan suara gaduh yang murka untuk beberapa saat mengusik keheningan yang tenang di dataran luas dan kosong, yang di tengah-tengahnya berdiri sebuah stasiun kereta kecil, yang kelengangannya membangkitkan perasaan yang sangat memilukan.

Dan ketika suara gaduh kereta yang terdengar parau, tetapi setidak-tidaknya dipenuhi sentuhan rasa semangat, hilang dari pendengaran, kemudian senyap jadi di bawah kubah langit yang tanpa awan dan keheningan yang menekan datang sekali lagi menyelimuti stasiun kereta tersebut.

Padang stepa tampak berwarna kuning keemasan dan langit terlihat biru nilakandi. Dan kedua warna itu sangat tidak memiliki batas. Di tengah keleluasan yang begitu rupa bangunan kecil stasiun berwarna coklat itu memberikan impresi adanya kemungkinan gambar melankolis yang rusak karena sapuan kuas, yang dilakukan oleh seorang seniman yang tanpa imajinasi.

Setiap hari pada jam dua belas siang dan pada jam empat sore kereta-kereta keluar dari padang stepa dan berhenti di stasiun, tepatnya untuk dua menit. Keseluruhan empat menit tersebut merupakan hiburan pokok dan satu-satunya di stasiun: para penumpang kereta akan membawa kesan-kesannya sendiri terhadap orang-orang yang bekerja di sana.

Di dalam setiap kereta terdapat beraneka ragam manusia dengan berjenis-jenis pakaian. Mereka adalah kesejenakkan; dari balik jendela kereta terlintas wajah-wajah yang lelah, tidak sabaran dan tidak peduli – dan kemudian terdengar suara lonceng, bunyi peluit; dan dengan suara gaduh mereka akan bergerak cepat ke dalam padang stepa, maju ke depan, ke dalam kota-kota, yang memiliki kehidupan yang sibuk dan pikuk.

Para pekerja stasiun memandang pada wajah-wajah tersebut dengan rasa mau tahu dan kemudian setelah melepaskan kereta pergi, mereka akan berbagi terhadap satu sama lainnya pengamatan-pengamatan, yang dengan cepat mampu difahami. Di sekitar mereka padang stepa yang bisu membentang, di atas tampak langit yang tidak mau ambil peduli,dan di dalam hati mereka ada rasa cemburu yang samar-samar pada orang-orang tersebut, yang dengan cepat, melalui mereka, pergi ke tujuan, yang tidak diketahui dari hari ke hari, dan mereka tetap tinggal, terpenjara di dalam padang belantara, seolah-olah hidup di luar batas kehidupan.

Dan demikianlah, setelah mengantarkan kereta, mereka berdiri di peron, sambil memperhatikan lajur hitam keberangkatan, yang menghilang di lautan gandum keemasan. Dan mereka terdiam dengan kesan-kesan kehidupan, yang berlalu melewati mereka.

Hampir setiap orang ada di sini: kepala stasiun, seorang lelaki yang berjiwa baik, tambun, memiliki rambut pirang keemasan dengan jambang pria Kosak yang gembal; asistennya, laki-laki muda berambut merah dan berjanggut kambing. Luka, penjaga stasiun, seorang laki-laki kecil, tetapi cekatan dan terampil; dan salah seorang dari para pelangsir bernama Gomozov, seorang laki-laki pendiam, pendek gemuk dengan janggut tebal.

Istri kepala stasiun duduk di atas bangku yang ada di samping pintu stasiun. Dia adalah perempuan yang kecil dan gemuk, dan begitu menderita karena kepanasan. Bayinya tertidur di dalam pangkuannya dan wajah bayi tersebut sebulat dan semerah wajah ibunya.

Kereta menghilang di bawah landaian dan menghilang, seolah-olah, ditelan bumi.

Dan ketika itu kepala stasiun berpaling ke arah istrinya dan berkata:

Samovar[1] sudah siap, Sonya[2]?”

“Tentu saja,” jawab sang istri dengan suara yang lemah dan pelan.

“Luka! Taruh tanda di sini, bersihkan peron dan rel. Lihat kotoran-kotoran, yang mereka tinggalkan.”

“Saya mengerti, Matvei Yegorovich.”

“Bagus, ingin minum teh, Nikolai Petrovich?”

“Seperti biasanya,” jawab sang asisten.

Dan jika itu terjadi pada siang hari, ketika kereta sudah lewat, Matvei Yegorovich akan mengatakan kepada istrinya:

“Makan siang sudah siap, Sonya?”

Kemudian dia akan memberikan Luka instruksi yang selalu sama dan dia akan berkata kepada asistennya, yang tinggal menumpang dengan mereka:

“Bagus, kau ingin makan siang?”

Dan sang asisten akan menjawab dengan cukup layak:

“Seperti biasanya…”

Dan mereka meninggalkan peron, masuk ke dalam ruangan, yang mempunyai banyak tanaman dan sedikit furniture; ruangan itu berbau masakan dan popok bayi dan yang di dalamnya,di sekitar meja, mereka berbincang-bincang mengenai apa yang telah mereka lewati.

“Kau memperhatikan wanita berambut coklat yang mengenakan pakaian warna kuning di dalam kereta kelas dua, Nikolai Petrovich? Jika kau bertanya kepadaku, dia itu seperti sekerat makanan yang menggiurkan!”

“Tidak buruk, tetapi dia tidak mempunyai selera dalam berpakaian,” kata asistennya.

Kata-katanya selalu ringkas dan diucapkan dengan penuh percaya diri, karena dia menganggap dirinya manusia, yang mengetahui kehidupan dan berpendidikan. Dia menamatkan gimnasium[3]. Dia memiliki buku catatan dengan sampul depan hitam, yang di dalamnya dia menuliskan kata-kata mutiara dari orang-orang terkenal, yang dia dapatkan dari artikel surat kabar dan buku-buku, yang secara kebetulan jatuh ke tangannya. Kepala stasiun mengakui kewenangannya dalam semua hal, yang tidak berkaitan dengan pekerjaan mereka dan dia dengan penuh perhatian mendengarkan kata-kata sang asisten. Dia, terutama, tertarik dengan mutiara-mutiara bijak, yang ada di dalam buku catatan Nikolai Petrovich dan dia selalu terkesan pada mutiara-mutiara bijak tersebut dengan jalan hati yang sederhana. Pengamatan asistennya pada selera wanita berambut coklat dalam cara berpakaian memunculkan satu pertanyaan pada diri Matvei Yegorovich:

“Apakah pakaian warna kuning tidak mesti untuk wanita-wanita dengan rambut coklat?”

“Saya tidak berbicara mengenai warna, tetapi potongannya,” jelas Nikolai Petrovich, sambil memindahkan selai dengan akurat dari pinggan kaca ke piringnya sendiri.

“Potongannya? Itu masalah lain..!” kata kepala stasiun setuju.

Istrinya bergabung dalam percakapan tersebut, karena subjek percakapan ini dekat dengan hatinya dan dapat dimengerti olehnya. Akan tetapi lantaran pikiran orang-orang ini tidak begitu terasah, maka perbincangan mereka bergerak jadi perlahan dan jarang menyentuh perasaan mereka.

Dan lewat jendela tampak terlihat padang stepa, yang diselimuti pesona kesunyian; dan langit, yang megah ada di dalam ketentramanyangluar biasa.

Hampir setiap jam, kereta barang lewat. Para pekerja, yang mengiringi kereta tersebut, adalah orang-orang yang sudah lama saling kenal. Awak-awaknya merupakan mahluk-mahluk pengantuk, mahluk-mahluk yang ditindas oleh perjalanan yang menjemukan di padang stepa. Namun demikian, terkadang mereka menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang jalan: di suatu jarak verst[4] tertentu, seorang laki-laki tergilas; atau mereka memperbincangkan mengenai masalah-masalah, yang bertalian dengan pekerjaan sendiri: si pulan dikenai hukuman denda, seseorang yang lain telah dimutasikan. Seluruh berita-berita itu tidak didiskusikan, tetapi ditelan, seperti penganan lezat, seperti mereka melahap makanan yang enak dan jarang diperoleh.

Perlahan-lahan dari langit matahari terbenam di batas padang stepa dan kadangkala matahari tersebut hampir menyentuh bumi, yang memperjadi warna merah tua. Di atas padang stepa terbentang sinar kemerah-merahan, yang memunculkan perasaan yang membosankan, membangunkan kecenderungan hati yang samar untuk pergi jauh ke depan, meninggalkan kehampaan. Kemudian matahari menyentuh kaki langit dan jatuh dengan tanpa gairah ke dalam atau ke balik kaki langit. Dalam jangka waktu yang masih lama, setelah itu, musik dari warna-warna yang terang di langit dengan lembut dimainkan, tetapi senandung musik ini semakin meredup, ketika jelang malam yang hangat dan tanpa suara datang menyelimuti. Bintang-bintang bersinaran, semuanya bergetar, seperti ditakut-takuti oleh rasa jemu di atas bumi.

Padang stepa kelihatannya jadi makin kabur di dalam jelang malam; dengan diam-diam bayangan malam merangkak ke stasiun dari semua sudut. Dan malam itu sendiri kemudian datang, gelap dan muram.

Di stasiun kereta api itu sinar-sinar bercahayaan; ada sinar hijaudari tiang sinyal, yang diliputi oleh kegelapan dan kesunyian, tampak lebih terang dan tinggi dibandingkan dengan semua yang lain. Kadang-kadang terdengar bunyi lonceng – suara peringatan akan datangnya kereta api; bunyi lonceng yang tergesa-gesa itu terbawa ke padang stepa, yang dengan cepat di tempat tersebut kemudian hilang tertelan.

Segera setelah bunyi gemerincing lonceng dari kejauhan yang pekat sinar warna merah yang sebentar-sebentar menyala berlarian dan keheningan di padang stepa dipecahkan oleh raungan kereta yang meredam, yang bergerak ke depan menuju ke stasiun yang lengang dan dibelit oleh kegelapan.

Manusia-manusia kecil ‘kelas bawah’ di stasiun kecil ini hidup sedikit berbeda dibandingkan dengan kaum aristokrat. Luka, sang penjaga stasiun, selalu melakukan perjuangan yang konstan dengan hasratnya untuk lari menuju ke istrinya dan saudara laki-lakinya, yang tinggal di desa, tujuh verst jauhnya dari stasiun. Dia mempunyai ‘tanah pertanian’ di sana, seperti yang dikatakannya kepada Gomozov, ketika dia meminta pelangsir yang tenang dan pendiam ini untuk mengerjakan tugas-tugasnya di stasiun.

Mendengar kata ‘tanah pertanian’ Gomozov selalu dengan berat menarik helaan nafas dan dia berkata kepada Luka:

“Bagus sekali, pergilah,” katanya. “Tanah pertanian memang harus diurus, tidak ada keraguan mengenai hal itu…”

Akan tetapi pelangsir yang lain, Afanasy Yagodka, seorang serdadu berumur dengan wajah bulat dan merah, yang ditumbuhi oleh janggut abu-abu; seorang manusia yang memiliki pembawaan mengejek dan senang marah, tidak mempercayai Luka.

“Tanah pertanian!” teriaknya dengan menyeringai. “Seorang istri!.. Saya mengerti betul, tanah pertanian ya tanah pertanian… Dan istrimu itu – apakah dia janda? Ataukah suaminya seorang serdadu?”

“Ah, kau ini memang gubernur burung!” Luka mendengus dengan menghina.

Dia menyebut Yagodka gubernur burung, karena serdadu tua itu sangat senang memelihara burung. Di rumahnya yang kecil, baik di dalam maupun di luar, tergantung sangkar-sangkar dan tempat burung bertengger; sepanjang hari terdengar suara ramai burung-burung di dalam rumahnya dan di sekitarnya. Burung puyuh, yang ditangkap oleh sang serdadu, terus-terusan mengeluarkan bunyi ciap-ciap yang membosankan dan tak berjeda, burung jalak membunyikan suara-suara yang panjang, seperti berkomat-kamit, burung-burung kecil dengan ragam warna mencericit, menciap dan bersenandung tanpa lelah, mengisi kehidupan kosong sang serdadu dengan kesukaan. Dia mencurahkan semua waktu luangnya untuk burung-burung peliharaannya; dan ketika dia bertalian dengan burung- burung tersebut dengan lemah-lembut dan penuh peduli, sedikit pun dia tidak menaruh perhatian pada kawan-kawannya di stasiun. Dia menyebut Luka – ular dan Gomozov – tukang jagal, dan dengan tanpa sungkan langsung mengatakan kepada mereka, bahwa keduanya adalah pengekor kaum perempuan, dalam hal ini, menurut pendapatnya, mereka layak dihajar.

Luka, terhadap kata-kata itu, tidak begitu ambil peduli, tetapi jika sang serdadu sudah terlalu jauh mengejeknya, Luka secara panjang lebar dan dengan pedas akan memaki-maki sang serdadu:

“Kau itu garnisun tidak berpendidikan, remah sisa makanan tikus! Kau mengerti apa, bekas tukang tabuh tambur kambing? Kau mengejar katak dengan acungan bedil dan menjaga kubis seorang kolonel… Apa yang dapat diperdebatkan dari pekerjaanmu? Pergi kau ke burung-burung puyuhmu, kau itu hanya komandan burung!”

 

Lukisan Karya Patrick Wowor (2014)

Yagodka, setelah dengan tenang mendengarkan begitu banyak semburan kata-kata marah sang pelangsir, akan pergi untuk menyampaikan keluhan kepada kepala stasiun, yang akan berteriak, agar jangan datang membawa urusan-urusan sepele kepadanya dan kepala stasiun akan mengusir Yagodka keluar. Oleh karena itu Yagodka akan menemui Luka dan dia sendiri yang memarahi Luka – dengan tenang, tanpa kehilangan kesabarannya, dengan memakai kosa kata cabul yang demikian berbobot, yang membuat Luka segera akan lari menjauh, sambil meludah dengan jijik.

Gomozov terhadap kata-kata cela sang serdadu menjawab dengan tarikan nafas dan dengan rasa malu melakukan dalih untuk membela diri.

“Apa yang harus diperbuat? Tidak ada yang dapat dilakukan dengan hal itu…Tentu saja…itu tidak berbahaya…tetapi, omong-omong, ini sambil lalu saja, jika tidak menilai orang lain, maka kau pun akan tidak dicela.”

Suatu hari sang serdadu memberikan jawaban pada hal tersebut dengan sedikit tertawa:

“Itu resep lama untuk semua jenis penyakit! Janganlah menilai, janganlah menilai…Dan jika tidak diperbolehkan untuk menilai, maka manusia tidak akan memperbincangkan apapun juga…”

Di sana, di stasiun masih ada seorang perempuan lagi, selain dari istri sang kepala stasiun. Dia adalah Arina, seorang tukang masak. Dia berumur di bawahempat puluh tahun dan sangat jelek rupa – tubuhnya gemuk pendek, dengan payudara terjuntai, dengan pakaian yang koyak-moyak dan selalu kotor. Ketika dia berjalan, dia terkedek-kedek dan mata kecilnya yang menakutkan, yang diseputari kerutan-kerutan, berkilatan di wajahnya yang bopeng. Dan ada sesuatu yang tampaknya seperti pembawaan budak dan terasa terintimidasi di dalam sosok tubuhnya yang canggung, bibir tebalnya secara permanen mengkerut, seolah-olah dia ingin minta maaf pada setiap orang – seakan-akan dia ingin berlutut di depan orang-orang dan dia takut untuk menangis. Selama delapan bulan Gomozov hidup di stasiun tersebut, dia tidak memberikan perhatian khusus terhadap perempuan itu; ketika dia bertemu dengan Arina, dia akan mengatakan salam. Sang perempuan akan membalas dengan mengembalikan salam itu, mereka saling bertukar dua-tiga frasa dan kemudian saling berpisah, setiap orang akan melanjutkan langkahnya menuju ke masing-masing tujuan. Akan tetapi suatu hari Gomozov datang ke dapur kepala stasiun dan meminta Arina untuk menjahitkan beberapa kemeja. Arina setuju dan jika kemeja-kemeja itu sudah jadi, dia sendiri yang akan membawanya kepada Gomozov.

“Terima kasih,” kata Gomozov. “Tiga kemeja; masing-masing kemeja – satu grivennik[5], jadi tiga puluh kopek aku berhutang kepadamu, bukan begitu?”

“Saya pikir demikian,” kata Arina.

Gomozov mulai berpikir-pikir dan cukup lama berdiam diri.

“Kau datang dari guberniya[6]mana?” Akhirnya dia bertanya kepada perempuan tersebut, yang di sepanjang waktu matanya terpancang pada janggut Gomozov.

“Ryazan[7],” katanya.

“Itu jauh! Bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

“Ya, begitulah… Saya selalu sendiri. Tidak punya siapa-siapa.”

“Hal yang begitu, cukup membuat orang pergi, bahkan lebih jauh,” Gomozov menarik nafas panjang.

Dan keduanya diam lagi.

“Demikian juga aku. Asalku dari Nizhny Novgorod[8]. Sergachev Uyezd[9]…” kata Gomozov beberapa saat kemudian. “Aku sendiri juga. Begitulah. Dulu aku memiliki keluarga, istri dan anak-anak. Dua orang anak. Istriku meninggal karena kolera, anak-anakku meninggal, karena memang meninggal. Dan aku – aku menjadikan diriku terlalu lelah karena duka cita. Kemudian sekali lagi aku berusaha untuk menyusun segalanya, tetapi malah sebaliknya. Mesin-mesin rusak, tidak jalan. Jadi, sebagai konsekuensinya, aku pergi dari tempat sendiri …ke tempat yang lain. Sudah tahun ketiga aku bersusah payah begini.”

“Tidaklah baik,ketika kau tidak memiliki tempat, yang akan memanggilmu kembali,” kata Arina dengan lembut.

“Ya, tentu saja. Kau seorang janda?”

“Bukan, saya seorang gadis.”

“Bagaimana mungkin bisa begitu!” kata Gomozov dengan tidak berusaha menyembunyikan kekurangpercayaannya.

“Begitulah adanya, seorang gadis” Arina meyakinkan Gomozov.

“Mengapa kau tidak pernah kawin?”

“Saya ini, siapakah yang akan mengawini? Saya tidak punya apa-apa. Lelaki menginginkan sesuatu. Dan lagi pula rupa saya amat jelek.”

“Be-nar…” kata Gomozov dengan lafal yang panjang, sambil melihat pada Arina secara cermat dengan perasaan ingin tahu, seraya mengusap-usap janggutnya. Gomozov bertanya pada Arina, berapakah jumlah upahnya.

“Dua setengah.”

“Baiklah, aku mengerti. Jadi aku berhutang kepadamu tiga puluh kopek, heh? Begini, datang dan ambillah malam ini. Kira-kira jam sepuluh, kau mau? Aku akan membayarmu dan kita akan meminum teh bersama-sama, kita akan berbincang-bincang, karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Kita ini orang-orang yang kesepian, kita berdua. Jadi datanglah.”

“Saya akan datang,” katanya dengan bersahaja dan pergi keluar.

Kemudian Arina datang tepat jam sepuluh dan pergi ketika fajar datang.

Gomozov tidak mengundangnya untuk datang lagi dan tidak memberikan tiga puluh kopek miliknya. Arina datang kembali atas kemauannya sendiri. Dia, perempuan bodoh dan patuh ini, datang kembali dan berdiri dengan membisu di depan Gomozov. Seraya berbaring di atas ranjang, lelaki itu memandangi Arina, dan setelah bergeser ke arah dinding, dia berkata:

“Duduklah.”

Ketika perempuan tersebut telah duduk, Gomozov berkata kepadanya:

“Dengar, simpanlah ini di dalam rahasia. Jangan biarkan orang mengetahui hal ini, kau dengar? Aku akan mendapatkan masalah, jika kau melakukannya. Aku tidak muda lagi, begitu juga denganmu… Mengerti kau?”

Perempuan itu menganggukkan kepala, bersetuju.

Ketika Gomozov mengantarkannya keluar, dia menyerahkan beberapa pakaian kepada Arina untuk ditisik dan dia mengingatkannya lagi:

“Jangan biarkan orang mengetahui hal ini!”

Dan demikianlah, mereka memulai hidup secarademikian, menyembunyikan dengan hati-hati hubungan mereka dari yang lain.

Pada setiap malam Arina akan menyelinap hampir seperti merayap-rayap ke kamar Gomozov. Laki-laki itu menerimanya dengan sikap jumawa, dengan raut wajah seorang majikan, dan kadang-kadang secara terus-terang dia berkata kepada Arina:

“Ah, dari rupamu itu, kau memang jelek!”

Perempuan tersebut dengan terdiam hanya tersenyum dengan senyuman pucat dan bersalah, dan ketika pergi, dia akan membawa sesuatu kerja, yang diberikan oleh Gomozov.

Mereka sering saling tidak melihat. Akan tetapi kadang-kadang, ketika mereka bertemu di halaman stasiun, Gomozov akan berbisik:

“Singgahlah malam ini…”

Dan perempuan tersebut secara patuh akan datang dengan raut yang sangat serius, seperti yang terlihat pada wajah bopengnya, seakan-akan dia datang untuk menyelesaikan sesuatu kewajiban, sesuatu yang maha penting, yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

Akan tetapi sekali lagi muncul, dalam perjalanan pulang ke rumah, raut wajah bersalah, raut wajah takut yang beku dan biasanya terhadap Gomozov.

Kadang-kadang perempuan itu berhenti di suatu sudut tersendiri atau di balik pohon untuk berlama-lama memandang ke arah padang stepa. Malam di sana berkuasa dan lantaran keheningan yang suram, hatinya dipenuhi dengan kengerian.

Suatu hari, setelah mengantarkan kereta api sore, para pekerja stasiun duduk untuk minum teh di halaman, di depan jendela rumah Matvei Yegorovich, di bawah rimbunnya beberapa pohon topol[10].

Mereka sering minum teh di sana, ketika hari terasa panas – mereka memasukkan selingan yang khusus ke dalam kemonotonan hidup sendiri.

Setelah memperbincangkan kesan-kesan yang dapat dikatakan mengenai kereta terakhir, mereka meminum teh dan terdiam.

“Hari ini lebih panas dari hari kemarin,” kata kepala stasiun, sambil mengulurkan sebelah tangannya dan memberikan gelas kosong kepada istrinya dan menyeka keringat dari dahinya dengan tangan yang lainnya.

Istrinya, seraya mengambil gelas, berkata:

“Tampaknya, itu karena kau kebosanan, jadi terasa lebih panas…”

“Hm, mungkin kau memang benar…Dalam keadaan seperti ini, baik juga bermain kartu. Akan tetapi kita hanya bertiga.”

Asistennya mengangkat bahu dan setelah memicingkan matanya, dengan saksama dia berkata:

“Permainan kartu, menurut Schopenhauer[11], menunjukkan adanya kebangkrutan pikiran.”

“Pandai sekali!” Matvei Yegorovich tersentuh. “Apakah itu tadi? Kebangkrutan pikiran, hm. Siapa yang mengatakannya?”

“Schopenhauer, orang Jerman, Filsuf.”

“Seorang filsuf? Hm…”

“Filsuf-filsuf itu – apakah mereka bekerja di universitas?” tanya Sofia Ivanovna ingin tahu.

“Bagaimana saya menjelaskannya kepada Anda? Menjadi filsuf bukanlah pekerjaan, tetapi kemampuan natural, begitulah yang dapat dikatakan. Siapa saja dapat menjadi seorang filsuf – siapa pun yang dilahirkan dengan kecenderungan berpikir dan mencari awal dan akhir dalam segala hal. Tentu saja, para filsuf kadang-kadang dapat dijumpai di universitas, tetapi mereka bisa ditemui di mana saja – bahkan di tempat kerja rel kereta.”

“Dan apakah mereka banyak menghasilkan uang – filsuf-filsuf yang ada di universitas itu?”

“Bergantung pada kemampuan mereka.”

“Kalau saja kita punya partner keempat, kita bisa menghabiskan beberapa jam yang menyenangkan,” kepala stasiun menghela nafas panjang.

Dan perbincangan terhenti lagi.

Tinggi di atas langit biru burung-burung djavoronok[12]bernyanyi, burung-burung murai berlompatan dari satu cabang ke cabang pohon topol yang lain, bersiul dengan lembut. Dari dalam rumah terdengar tangisan bayi.

“Arina di sana?” tanya kepala stasiun.

“Tentu saja,” jawab istrinya dengan ringkas.

“Ada sesuatu yang sangat orisinal dari perempuan itu, kau memperhatikannya, Nikolai Petrovich?”

“Keorisinalan adalah impresi pertama dari kebanalan[13],” Nikolai Petrovich berkata, seolah-olah mengenai diri sendiri, dengan rupa terpekur dan berpikir.

“Apatah itu?” kepala stasiun merasa jadi lebih gembira.

Dan ketika Nikolai Petrovich mengulang kembali kata-kata mutiara tersebut agar dengan jelas dapat difahami, dengan penuh kenikmatan sang kepala stasiun sedikit agak memejamkan matanya, sementara Sofia Ivanovna mengucapkan kata-kata dengan nada yang tenang:

“Anda dengan baik mengingat, apa yang Anda baca…sedangkan saya, saya membaca dan di hari berikutnya, ini di sepanjang hidup saya, saya tidak ingat apapun juga. Bahkan belum lama ini saya baru saja membaca sesuatu yang menarik, yang menghibur di Niva,[14] tetapi apa? Tidak ada satu kata pun yang saya ingat!”

“Semua hanya masalah kebiasaan,” jelas Nikolai Petrovich dengan singkat.

“Tidak, itu bahkan lebih baik dari yang tadi – siapa nama dia? Schopenhauer…” kata kepala stasiun dengan tersenyum. “Dengan kata lain, segala sesuatu yang baru akan menjadi tua!”

“Atau bahkan sebaliknya, karena, seorang sastrawan mengatakan: ‘Dan, kebijaksanaan eksistensi sederhana: semua yang baru di dalamnya dijadikan dari yang lama’.”

“Ah kau ini, brengsek betul! Dari mana kau peroleh kata-kata begitu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu, seperti keluar dari penapis[15]!”

Kepala stasiun tertawa dengan rasa senang, istrinya tersenyum manis dan Nikolai Petrovich merasa tersanjung dan berusaha dengan percuma untuk menyembunyikan rasa puasnya.

“Siapa yang berbicara mengenai kebanalan?”

“Baratinsky[16], sastrawan.”

“Dan yang satunya lagi?”

“Sastrawan juga, Fofanov[17].”

“Orang-orang pintar,” kata kepala stasiun dengan penerimaannya yang baik terhadap para sastrawan tersebut dan dengan suara menembang dia mengulangi kembali petikan itu, senyum puas tampak terlihat di wajahnya.

Rasa jemu terhadap hidup sendiri menyebabkan mereka melakukan semacam permainan; itu, barang sebentar, akan melepaskan mereka dari genggaman jenuh, tetapi setelahnya kejenuhan tersebut akan mencengkram mereka lebih keras lagi. Kemudian mereka akan kembali jadi bisu dan duduk di sana dengan diterpa panas, yang hanya mempertambah minum teh mereka.

Tidak ada apa-apa di sana, kecuali matahari di atas padang stepa.

“Seperti yang aku katakan mengenai Arina,” kepala stasiun mengingatkan. “Dia perempuan yang aneh. Aku memandangnya dan merasa heran. Seakan-akan dia itu sangat terpukul oleh sesuatu apa,– tak pernah tertawa, tak pernah menyenandung, hampir tak pernah bicara…seperti tunggul pohon di atas tanah. Akan tetapi dia memang bekerja dengan sangat baik dan begitulah, Anda sendiri tahu, bagaimana dia menjaga Lolya,[18] sang bayi, bagaimana dia sangat perhatian terhadapnya.”

Kepala stasiun berbicara dengan suara yang pelan, dia tidak ingin Arina mendengar kata-katanya lewat jendela. Dia sadar betul, jika tidak mau para pembantu jadi besar kepala, jangan memberikan pujian kepada mereka. Sonya menginterupsinya dan mengerutkan seluruh dahinya dengan penuh isyarat:

“Cukupkan untuk bicara terlalu banyak. Ada banyak hal yang tidak kau ketahui mengenai dia.”

Cinta seorang budak,

            Aku begitu lemah,

            Dalam peperangan denganmu,

O, iblisku!

Senandung Nikolai Petrovich dengan perlahan, seraya memukul-mukulkan, dengan irama yang teratur, sendoknya ke atas meja. Dia kemudian tersenyum.

“Apa? Apatah itu maksudnya? Dia? Arina? Kalian pasti berolok-olok, kalian berdua!”

Dan kepala stasiun tiba-tiba tertawa keras. Pipinya berguncang-guncang dan butiran keringat menetes dengan cepat dari keningnya.

“Ini sama sekali tidak lucu!” kata Sonya mencoba menghentikan tingkah laku suaminya. “Pertama, dialah yang bekerja menjaga sang bayi, dan kedua – lihatlah bagaimana roti ini? Hangus dan rasanya jadi agak masam. Dan sebabnya apa?”

“Ya, roti itu memang tidak boleh seperti itu. Kau harus menegur dia karena hal ini! Akan tetapi, demi Tuhan! Aku tak pernah mengira! Perempuan itu sendiri kan hanya seperti racikan gumpalan terigu! Ah, brengsek betul, Dan laki-laki itu, siapa dia? Luka? Aku akan ejek dia, laki-laki bajingan! Atau Yagodka – si tua kelimis?”

“Gomozov,” kata Nikolai Petrovich, ringkas.

“Dia? Laki-laki pendiam itu? Ayolah, kau pasti mengada-ada, benar?”

Kepala stasiun sangat senang terhadap kejadian yang sangat menggelikan tersebut. Kadang dia terbahak-bahak sampai matanya basah, kadang dengan serius dia mengatakan tentang keharusan untuk menegur secara keras orang-orang yang tengah mencinta itu, kemudian dia membayangkan percakapan-percakapan yang mesra di antara keduanya dan sekali lagi dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Akhirnya dia merasa tertarik untuk mengetahui rincinya. Wajah Nikolai Petrovich seketika itu juga, tak pelak lagi jadi menegang dan Sofia Ivanovna berusaha menghentikan kemauan suaminya secara keras.

“Dasar bajingan! Aku akan memperolok-olok mereka! Ini sangat menarik,” kata kepala stasiun, yang merasa sudah tidak sabar lagi.

Pada saat itu Luka datang dan dia memberitahukan:

“Telegrap berbunyi,”

“Aku akan datang. Berikan sinyal nomor 42.”

Dengan segera dia dan asistennya berjalan ke stasiun dan di sana Luka sedang menarik-narik lonceng dengan sekeras-kerasnya untuk memberikan sinyal kedatangan kereta. Nikolai Petrovich duduk, mendekati peralatan dan mengirimkan kawat ke stasiun berikutnya: ‘Dapatkah saya berangkatkan kereta nomor 42’, sedang kepala stasiun berjalan ke sana kemari di atas lantai kantor tersebut, seraya tersenyum sendiri dan berkata:

“Kau dan aku akan menggoda mereka, orang-orang brengsek itu…Karena tidak ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan. Setidak-tidaknya kita akan sedikit tertawa.”

“Ya, itu diperbolehkan,” kata Nikolai Petrovich, sambil menggerakkan kunci telegrap.

Dia tahu, bahwa kaum filsuf harus bertindak secara ringkas dan padat.

Sesegeranya, setelah itu, datang kesempatan kepada mereka untuk tertawa.

Pada suatu ketika, di malam hari, Gomozov datang menemui Arina di gudang bawah tanah dan di sana, atas permintaan Gomozov dan dengan persetujuan istri kepala stasiun, Arina membuat tempat tidur untuk dirinya sendiri, yang ada di antara berbagai macam barangrongsokan rumah tangga. Di tempat ini terasa lembabdan dingin; dan bangku-bangku rusak, tong-tong kayu, papan-papan dan semua barang bekas lainnya membentuk wujud-wujud yang menakutkan di dalam gelap; ketika Arina sendirian, dia begitu ketakutan, sampai-sampai dia tidak dapat tidur dan hanya akan berbaring di atas jerami dengan mata terbuka lebar, sambil menggumamkan doa-doa, yang dia ketahui.

Gomozov yang telah datang itu, dalam waktu yang lama mengkusutkan pikirannyadan menekannyadengan tidak mengatakan sepatah kata pun, kemudian jadi lelah dan jatuh tertidur. Akan tetapi dengan segera Arina membangunkannya dengan bisikan yang penuh rasa khawatir:

“Timofei Petrovich![19] Timofei Petrovich!”

“Ada apa?” jawab Gomozov, setengah tersadar.

“Mereka mengunci kita.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanyanya, seraya melompat bangun.

“Mereka mendekati pintu dan…mengunci gemboknya.”

“Kau berbohong!” Dia berbisik dengan ketakutan dan penuh amarah, sambil mendorong Arina menjauh dari dirinya.

“Lihatlah sendiri,” jawab perempuan itu dengan rasa tunduk.

Gomozov bangun, berjalan terhuyung-huyung, menabrak semua barang-barang, yang dia jumpai, ketika melangkah, mendekati pintu dan berusaha mendorongnya; dan setelah agak terdiam, dia berkata dengan murung:

“Semua ini pekerjaan si serdadu.”

Ledakan tawa terdengar dari balik pintu.

“Keluarkan kami!” pinta Gomozov dengan suara yang keras.

“Apa?” terdengar suara sang serdadu.

“Keluarkan kami, kataku…”

“Besok pagi,” kata sang serdadu, sambil pergi menjauh.

“Brengsek, aku harus mengerjakan semua pekerjaanku!” Gomozov berteriak dengan marah dan memohon.

“Aku akan mengerjakan semua tugasmu. Diamlah baik-baik di sini.”

Dan serdadu itu pun pergi.

“Kau anjing buduk!” geram sang pelangsir dengan perasaan tidak karuan. “Tunggu…kau tidak boleh mengurung aku di sini seperti ini. Itu kepala stasiun. Apa yang kau katakan kepada kepala stasiun? Dia akan bertanya: di mana Gomozov kan? Kalau begitu kau jawablah…”

“Saya takut, kepala stasiunlah yang memerintahkan si serdadu untuk melakukan hal ini,” kata Arina dengan lirih dan tanpa harapan.

“Kepala stasiun?” ulang Gomozov dengan takut. “Mengapa dia mesti memerintahkan si serdadu melakukan hal seperti ini?” Dan, setelah beberapa saat terdiam, dia kemudian berteriak kepada perempuan tersebut: “Kau berbohong!”

Arina menjawab hanya dengan helaan nafas yang dalam.

“Ya, Tuhan, apa yang akan terjadi sekarang?” kata sang pelangsir dan dia duduk di atas tong kayu di dekat pintu. “Cemarlahaku ini. Dan semuanya salahmu, monster jelek!”

Dan setelah mengepalkan tangan, Gomozov mengacung-acungkan kepalan tangan tersebut ke arah terdengarnya helaan nafas Arina. Perempuan itu tidak mengatakan apa-apa.

Mereka diselubungi bayangan-bayangan kelabu – bayangan yang dipenuhi oleh bau acar kubis dan jamur serta bau sengit lainnya, yang menggelitik cuping hidung. Berkas-berkas tipis sinar bulan masuk melewati celah pintu. Dari luar terdengar suara gemuruh kereta barang, meninggalkan stasiun.

“Hei, kau, perempuan kuntilanak! Mengapa kau tak bicara apa-apa?” kata Gomozov, dengan marah dan memandang rendah. “Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kau menyurukkan aku ke dalam kesulitan ini dan sekarang kau tak mengatakan apa-apa? Pikirkan jalan keluarnya, brengsek, apa yang akan kita lakukan? Kemana aku harus sembunyi dari rasa malu ini? Ya, Tuhan! Bagaimana aku bisa berhubungan dengan mahluk yang seperti ini!”

“Maafkanlah saya,” kata Arina dengan pelan.

“Heh?”

“Mungkin saya akan dimaafkan.”

“Apa artinya untukku? Baiklah, kau akan dimaafkan; lantas hasilnya apa? Kecemaran itu akan tetap ada padaku atau tidak? Sama saja, aku akan ditertawakan .”

Setelah dalam beberapa saat terdiam, Gomozov mulai memaki-maki dan mencerca-cerca perempuan itu lagi. Waktu bergerak dengan berat dan pelan. Akhirnya perempuan tersebut berkata kepada Gomozov dengan suara gemetar:

“Maafkanlah saya, Timofei Petrovich.”

“Dengan kapak di kepalamu itu, baru kau aku maafkan!” bentak Gomozov.

Dan kembali muncul keheningan, kesuraman dan ketertekanan, keterpenuhan rasa sakit yang hampa bagi dua orang, yang terpenjara di dalam kegelapan.

“Ya, Tuhan! Sekiranya saja segera datang benderang,” dengan keterpiluan Arina memohon.

“Diamlah kau… Aku yang akan menunjukkan kepadamu bagaimana terang!” Gomozov mengancam dan sekali lagi mulai melontarkan rentetan-rentetan makian terhadap perempuan itu. Kemudian datang lagi siksaan karena keheningan dan kebisuan. Dan kebengisan waktu semakin bertambah dengan mendekatnya fajar, seakan-akan setiap menit itu menghilang dengan berlambat-lambat, seperti disenangkan oleh situasi yang menggelikan dari dua orang tersebut.

Beberapa waktu kemudian Gomozov tertidur dan dibangunkan oleh kokok ayam jantan, yang ada di luar gudang.

“Hei, nenek penyihir! Kau tidur?” tanya Gomozov dengan meredam.

“Tidak,” jawab Arina, dengan helaan nafas.

“Kalau begitu kau tidur saja!” Gomozov dengan mengejek menawarkan. “Ah, kau ini!”

“Timofei Petrovich!” kata Arina, hampir seperti menjerit. “Jangan marah dengan saya! Kasihanilah saya! Atas nama Kristus, saya memohon – kasihanilah saya! Saya betul-betul sendiri, tanpa seorang pun di dunia ini. Kau – kau satu-satunya yang aku miliki. Betapapun, kita…”

“Berhentilah meratap! Jangan membuat orang tertawa!” Gomozov memotong dengan kasar lenguhan histeris dari sang perempuan, yang meski demikian sedikit melunakkan hatinya. “Diamlah, kau – perempuan bodoh.”

Dan kemudian, tanpa berkata sepatah pun, mereka menunggui jalannya setiap menit yang berurutan. Akan tetapi lintasan menit tersebut tidak membawakan mereka apa-apa. Akhirnya sinar matahari datang melewati celah pintu, saling bersilang melalui kegelapan dalam bentuk berkas-berkas cahaya. Suara langkah terdengar dari luar gudang. Seseorang datang mendekati pintu, berdiri sebentar di sana dan kemudian pergi menjauh.

“Hei, setan!” Gomozov meraung, sambil meludah penuh kemarahan. Sekali lagi mereka menanti di dalam keheningan yang menegangkan.

“Ya, Tuhan, kasihanilah…” Arina berbisik.

Suara langkah yang diam-diam, rasa-rasanya, terdengar. Tiba-tiba ada bunyi gembok dibuka dan suara keras kepala stasiun terdengar.

“Gomozov!” teriaknya. “Pegang tangan Arina dan keluarlah kalian! Penuh rasa semangat, Gomozov! Semangat!”

“Ke sini, kau,” gumam Gomozov. Arina menghampiri dan berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

Pintu terbuka dan di sana berdiri kepala stasiun. Dia menundukkan kepala, tanda takzim dan berkata:

“Selamat atas perkawinan kalian! Ayo, mainkan musik!”

Gomozov melangkah keluar melalui ambang pintu dan dia dihentikan oleh gemuruh suara, yang memekakkan telinga. Luka, Yagodka dan Nikolai Petrovich berdiri di depan pintu. Luka memukul-mukul bagian bawah ember dengan kepalan tangannya dan berteriak dengan sekuat-kuatnya dalam suara tenor yang melengking; sang serdadu meniup horn dari kaleng; Nikolai Petrovich, yang pipinya menggelembung, menggerak-gerakkan tangannya seperti ombak dan melalui bibirnya, seolah-olah, dia meniup sebuah terompet:

“Pom! Pom! Pom-pom-pom!”

Dari ember dihasilkan bunyi berdetam; suara yang melengking dan meraung keluar dari horn. Kepala stasiun tergelak, sampai terbungkuk-bungkuk memegangi bagian rusuknya. Asistennya juga terbahak-bahak, sambil melihat pada Gomozov, yang tampak ternganga dengan wajah pucat pasi dan bibir bergetar, yang tergurat di dalam senyum karena malu. Di belakangnya Arina berdiri, kepalanya tertunduk sampai ke dada, dia seperti tak bergerak dan seolah-olah telah berubah menjadi sebongkah batu.

Arina mengatakan kepada Timofei

            Kata-kata yang manis

 

            Luka menyanyikan hal-hal yang sepele dan menunjukkan wajahnya tampaktidak menyenangkan terhadap Gomozov. Sedangkan sang serdadu berjalan ke arah tempat Gomozov berdiri dan membunyikan horn-nya di telinga Gomozov, dia terus memainkannya, terus memainkan.

“Ayo, jalan, ayo…pegang tangan Arina!” teriak kepala stasiun, agak tertahan karena bahak tawanya. Tubuh Sonya, sang istri, yang duduk di serambi, terguncang-guncang karena gelak tawa dan dia berteriak histeris:

“Oh, oh! Hentikanlah! Aku bisa mati!”

Lantaran momen bahagia ini

Aku benar-benar sabar menderita

 

Nikolai Petrovich bersenandung, tepat di depan wajah Gomozov.

“Hore! Kepada pengantin baru, selamat!” teriak kepala stasiun, ketika Gomozov melangkah ke depan. Dan semuanya, keempat orang tersebut berteriak dengan serempak hore, tambahan lagi sang serdadu berteriak dengan suara bas yang menderam.

Arina melangkah di belakang Gomozov. Kepalanya sekarang terangkat, mulutnya ternganga dan tangannya terjuntai lemah di kedua belah pinggangnya. Matanya sayu menatap apa, yang ada di hadapannya, tetapi, bahwa kedua mata tersebut melihat sesuatu, itu diragukan.

“Buatlah mereka saling mencium! Ha…ha…ha!”

“Sebuah ciuman saja, pengantin baru!” teriak Nikolai Petrovich, sedang Matvei Yegorevich bahkan bersandar dengan lemah pada sebatang pohon dan karena tertawa kedua kakinya tidak lagi dapat menopang dirinya. Dan ember terus bersuara, horn berbunyi, menjerit, menggoda, dan Luka agak sedikit menari, ketika dia bernyanyi:

Dan kau, Arina, untuk kami

            Membuatkan sup kubis yang terlalu kental!

            Nikolai Petrovich sekali lagi mengeluarkan udara dari pipinya, yang digelembungkan:

“Pom-pom-pom! Toot-toot-toot! Pom-pom! Toot-toot-toot!”

Ketika Gomozov telah sampai di pintu barak, dia menghilang. Tinggal Arina berdiri di halaman dengan di kelilingi oleh sekelompok manusia liar, yang berteriak, tertawa dan bersuit-suit di telinganya; dan berjingkrak-jingkrak di sekitarnya dalam keriangan yang sangat gila. Dia berdiri di sana, di hadapan mereka dengan wajah yang tak bereaksi – kotor, tidak rapi, menyedihkan, dan absurd.

“Pengantin lelaki pergi menghilang dan meninggalkannya di belakang,” kata kepala stasiun kepada istrinya, sambil menunjukkan jari ke arah Arina dan tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

Arina menolehkan kepalanya ke arah kepala stasiun dan kemudian dia berjalan melewati barak, keluar menuju ke padang stepa. Kepergiannya disertai oleh teriakan, siulan dan gelak tawa.

“Cukup! Jangan usik dia lagi!” teriak Sofia Ivanovna. “Biarkan dia sendiri. Nanti dia harus meyiapkan makan siang.”

Arina pergi keluar menuju ke padang stepa; keluar melewati garis pemisah ke ladang gandum, yang berbulu kasar. Dia berjalan dengan pelan, seperti orang yang tenggelam dalam tafakur.

“Bagaimana, bagaimana?” berkali-kali kepala stasiun bertanya kepada mereka-mereka, yang ikut dalam percandaan yang tadi, yang menceritakan kepada satu sama lainnya detil-detil kecil dari rincian perilaku sang pengantin baru. Mereka semuanya tertawa terbahak-bahak. Dan bahkan, di dalam hal ini, Nikolai Petrovich mendapatkan kesempatan untuk memasukkan salah satu mutiara bijaknya:

Tertawa, pada apa, yang tampaknya jenaka

Benar-benar, bukanlah dosa

 

Hal ini dia katakan kepada Sofia Ivanovna, seraya menambahkan secara meyakinkan, “tetapi jika tertawa terlalu banyak, itu berbahaya.”

Pada hari itu, di sana, di stasiun telah terjadi gelak tawa yang riuhnya bukan main, tetapi makan siang jadi sangat buruk, karena Arina tidak datang untuk memasak dan pekerjaan tersebut terlimpah kepada istri kepala stasiun. Bahkan makan siang yang jelek itu tidak mampu menghancurkan suasana hati yang cerah. Gomozov tidak keluar dari barak sampai datang waktu, ketika dia harus mengerjakan tugasnya. Saat dia keluar, dia dipanggil ke kantor kepala stasiun dan di sana Nikolai Petrovich, dengan disertai kekehan Matvei Yegorovich dan Luka, menanyai Gomozov mengenai, bagaimana dia dapat memikat hatiperempuan cantiknya.

“Berdasarkan keorisinalannya – ini adalah kejatuhan laki-laki nomor wahid,” kata Nikolai Petrovich kepada kepala stasiun.

“Ya kejatuhan itu ada,” kata Gomozov yang tampak tenang dan serius dengan senyum kecutnya. Dia menyadari, bahwa seandainya dia dapat memberikan cerita, yang akan membuat Arina tampak menggelikan, maka dia sendiri akan sedikit terhindar dari terpaan gelak tawa. Dan dia bercerita:

“Mulanya perempuan itu berkali-kali mengedipkan matanya kepadaku.”

“Mengedipkan mata? Ha, ha, ha! Bayangkan itu, Nikolai Petrovich, bagaimana dia, Arina, dengan raut yang begitu, mengedipkan matanya kepada Gomozov? Itulah dia daya pikat!”

“Jadi, dia mengedipkan mata, sedang saya hanya memandang dan berpikir mengenai diri sendiri – kau nakal, perempuanku! Kemudian, akhirnya, dia berkata: kau mau, dia berkata begini, saya akan jahitkan kau beberapa kemeja.”

“Tetapi ‘di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya’,” kata Nikolai Petrovich memperhatikan, seraya menambahkan kepada kepala stasiun dengan penjelasan: “Itu, Anda tahu, dari Nekrasov[20]– dari salah satu sajaknya yang berjudul ‘Ubogaya i Naryadnaya’.[21] Teruskan, Gomozov.”

Dan Gomozov melanjutkan, pertama-tama dengan memaksa-maksa, tetapi sedikit demi sedikit dia memperoleh inspirasi dari dusta-dustanya, karena dia melihat, bahwa kebohongan-kebohongan itu berfaedah bagi dirinya.

Sementaraitu perempuan yang sedang dibicarakan Gomozov, berbaring di atas padang stepa. Dia sudah berjalan jauh ke luar, masuk ke dalam lautan gandum dan di sana dia membenamkan diri dengan susah hati ke atas tanah dan berbaring tanpa bergerak. Ketika dia tidak sanggup lebih lama lagi menahan panasnya sinar matahari, yang mendera punggungnya, dia berbalik dan melindungi wajahnya dengan tangan untuk menghalangi pandangan ke langit yang terlalu terang, ke arah matahari yang sangat menyilaukan.

Pohon-pohon gandum yang ada di seputaran perempuan, yang telah diremukkan oleh perasaan malu itu, berdesir lembut; belalang-belalang yang tak terkira jumlahnya, mengerik secara kontinyu dan teratur. Hari, rasanya, panas. Perempuan tersebut berusaha untuk berdoa, tetapi dia tidak dapat mengingat kata-kata doa. Wajah-wajah yang penuh ejekan menari-nari di depan matanya. Telinganya dipenuhi oleh suara gelak tawa, horn yang menjerit dan lengkingan dari Luka. Karena itu, atau karena panas yang membuat dadanya terkerut; dan dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya ke arah matahari, sambil berharap akan menjadikannya lebih mudah bernafas. Sinar matahari membakar kulitnya; sesuatu yang terasa panas tampaknya menggurdi[22]di dalam dadanya; nafasnya menjadi tersengal-sengal.

“Tuhan, kasihanilah…” bisik lirih Arina dari waktu ke waktu.

Akan tetapi jawaban yang datang hanyalah dari desiran pohon gandum dan suara belalang yang mengerik. Sambil mengangkat kepalanya lebih tinggi dari pohon gandum yang berombak, dia melihat kilauan pohon gandum yang keemasan, menara air berwarna hitam yang menjulang ke udara terbuka, di luar stasiun, dan atap dari bangunan stasiun. Tidak ada sesuatu yang lain di atas dataran berwarna kuning yang tak bertepi, yang diselubungi oleh lengkung langit biru; dan tampaklah pada Arina, bahwa dia sendirian di seluruh dunia ini dan dia berbaring di tengah-tengahnya, seorang pun tidak ada yang pernah datang untuk membebaskannya dari beban rasa sepi. Seorang pun, tidak pernah…

Menjelang malam perempuan itu mendengar teriakan:

“Arina-a! Arina, kau dengar!”

Suara yang satu itu milik Luka, sedang yang kedua milik sang serdadu. Perempuan tersebut berharap mendengar suara yang ketiga, tetapi laki-laki itu tidak memanggilnya dan oleh karena itulah dia meneteskan limpahan airmata, yang mengalir deras di atas pipi bopengnya. Dan ketika dia menangis, dia menggosok-gosokkan dada telanjangnya pada tanah yang kering dan hangat untuk menghentikan perasaan membaranya, yang akan menjadikan dirinya semakin lama, semakin disengsarakan. Perempuan itu menangis, dan kemudian menghentikan tangisnya, sambil menahan isakannya, seakan dia takut seseorang akan mendengar dan melarangnya menangis.

Ketika malam sudah datang, dia bangun dan dengan perlahan dia berjalan pulang menuju ke stasiun.

Saat dia sudah sampai di bangunan tersebut, dia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gudang, untuk waktu yang cukup lama dia memandangi padang stepa. Kereta barang datang dan pergi, dan perempuan itu mendengar, ketika sang serdadu menceritakan kisah malu dirinya kepada para awak kereta, yang tertawa terbahak-bahak. Tawa mereka dibawa jauh keluar, menuju ke padang stepa dan di sana marmut-marmut bersuara dengan lirih.

“Tuhan, kasihanilah,” perempuan itu menghela nafas, sambil menekan tubuhnya pada dinding gudang. Akan tetapi   helaan nafasnya tidak mampu mengurangi beban hatinya.

Menjelang pagi dia naik ke atas, masuk ke dalam loteng stasiun dan menggantung dirinya dengan tali pakaiannya.

Dua hari kemudian bau mayat Arina menuntun orang-orang untuk menemukannya. Mula-mula mereka takut, tetapi kemudian mereka mulai membicarakan, siapa yang mungkin bersalah atas apa, yang terjadi. Nikolai Petrovich, tanpa bisa dibantah, memperlihatkan, bahwa Gomozov-lah yang bersalah. Kepala stasiun memberikan kepada pelangsir tersebut sebuah pukulan ke bagian rahang dan memerintahkan Gomozov untuk tetap diam.

Orang yang berwenang datang dan melakukan investigasi. Akhirnya diketahui, bahwa Arina mengalami derita hati karena melankolia – kemurungan jiwa. Beberapa pekerja rel kereta api diperintahkan untuk membawa mayat Arina keluar, ke padang stepa dan menguburkannya di sana. Semua telah terjadi, kedamaian dan ketentraman sekali lagi berkuasa di stasiun kereta tersebut.

Dan sekali lagi orang-orang yang tinggal di sana hidup selama empat menit dalam sehari, merana karena rasa sepi dan jenuh, karena panas terik dan ketiadaan pekerjaan, memandang dengan rasa iri, kereta-kereta yang cepat pergi, meninggalkan mereka.

Dan pada musim dingin, ketika badai datang menderu dan meraung dari padang stepa, seraya menghujani stasiun kecil itu dengan salju dan suara-suara yang menakutkan, menjadikan hidup di sana lebih lengang dari yang pernah ada. (*)

____

*Cerita karya Maxim Gorky ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti adalah penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Leo Tolstoy, Maxim Gorky, Anton Chekov dan sebagian penulis besar Rusia lainnya. Setelah menamatkan studi di Rusia penulis kini tercatat sebagai pengajar di Jurusan Sastra FIB UNPAD.

 

 Catatan Kaki:

[1] Ketel teh khas Rusia

[2] Nama diminutif Sofia

[3] Sebutan untuk lembaga pendidikan menengah umum

[4] Ukuran panjang Rusia kuno, setara 1,06 km

[5] Sepuluh kopek

[6] Provinsi, divisi teritorial dan administratif utama di Rusia (1708-1929). Sekarang diubah menjadi oblast (region) dan kray (territory)

[7] Nama kota, letaknya 196 kilometer dari sebelah tenggara kota Moskow

[8] Kota terbesar keempat setelah kota Moskow, Saint Petersburg dan Novosibirsk. Dari tahun 1932 sampai tahun 1990 kota ini dikenal dengan nama Gorky, karena Maxim Gorky dilahirkan di Nizhny Novgorod

[9] Divisi teritorial dan administratif terendah di Rusia tahun 1708-1929, sekarang rayon

[10] Poplar, sejenis pohon dari kelas pohon willow

[11] Arthur Schopenhauer (22 Pebruari 1788-21 September 1860) termasyur dengan karyanya ‘the World as Will and Representation’. Schopenhauer memformulasikan filsafat yang pesimistik, yang memandang hidup, pada dasarnya, menjadi jahat, gagal dan penuh derita. Filsafatnya ini memperoleh sandaran yang kuat setelah kegagalan revolusi Jerman dan Austria tahun 1848. Akan tetapi melalui pemikiran Timur, dia melihat adanya penyelamatan, pembebasan atau lari dari derita dalam renungan estetis, rasa simpati pada orang lain dan perikehidupan menyepi

[12] Lark, burung yang gemar bernyanyi dari kelas burung gereja atau burung pipit

[13] Hal yang bersifat biasa sekali, dangkal, atau umum

[14] Majalah mingguan untuk bacaan keluarga, terbit di Saint Petersburg (1870-1918)

[15] Saringan

[16] Penulis Rusia Evgeny Baratinsky (1800-1844) merupakan penulis elegi, epigram, filsafat, lirik, sajak, prosa dan prosa liris.

[17] Penulis Rusia Konstantin Fofanov (1862-1911) merupakan penulis lirik, sajak, prosa liris dan epigram

[18] Nama diminutif Elena

[19] Timofei Petrovich Gomozov

[20] Nikolai Nekrasov (1821-1877/1878) merupakan penulis puisi, puisi satiris, prosa liris, prosa dan drama. Penulis Rusia yang melanjutkan tradisi Pushkin dan Lermontov. Karya-karyanya sangat berpengaruh pada perkembangan puisi-puisi demokratis paruh kedua abad 19

[21] Beggarly and Smart, petikan di sini kekuatan ada bukan pada jahitannya diambil dari baris terakhir bagian 1 ‘Karangan dalam Tiga Jilid’ Nekrasov. Sajak ini ditulis pada tahun 1859

[22] Men-drill atau mengebor

Continue Reading

Trending