Connect with us

Pemikiran

Watak “Habitus” Pierre Bourdieu

mm

Published

on

Oleh karena karya-karya Pierre Bourdieu cukup rumit, maka selalu ada risiko salah tafsir terhadap pemikirannya. Upaya membaca oeuvre ini perlu dibarengi dengan sikap hati-hati – kehati-hatian yang sama dengan yang dituangkan Bourdieu dalam tulisan-tulisannya.

Berdasarkan itu, muncullah hal-hal penting sebagai berikut: keinginan untuk melakukan analisis terhadap ketidaksamaan dan perbedaan kelas pada tingkatan struktural, bukannya pada tingkatan ideologis, tetapi tanpa menyerah pada ilus “objektivis” dari strukturalisme (seperti kata Bourdieu); keinginan untuk memberi kesempatan pada sains agar tidak terlalu bersandar pada model dalam upaya memahami kehidupan sosial, dan kemudian agar bisa berhadapan dengan praktek. Ini adalah suatu keinginan untuk melepaskan diri dari klise, stereotipe, dan klasifikasi doxa yang tidak dipertanyakan lagi secara universal, dan dari sini memperjelas hubungan-hubungan kekuatan yang ada dalam realitas sosial. Sejak melakukan kerja lapangan di Aljazair pada tahun 1960-an, Bourdieu mengabdikan dirinya untuk menyingkapkan cara-cara dominasi kelas dalam masyarakat kapitalis seperti yang tampak dalam aspek-aspek pendidikan dan seni. Tesis yang terus dipakainya adalah bahwa kelas dominan tidak mendominasi secara berlebihan: ia tidak memaksa yang didominasi untuk mengikuti kehendaknya. Ia juga tidak mendominasi masyarakat kapitalis melalui suatu persekongkolan di mana secara sadar kaum yang diistimewakan akan memanipulasi kenyataan sesuai dengan kepentingan mereka. Akan tetapi, secara statistik kelas dominan yang ada dalam masyarakat kapitalis merupakan pewaris dari kekuasaan ekonomi, sosial, dan simbolik, kekuasaan yang tampil dalam modal ekonomi kultural, dan saling bertelingkah dalam seluruh praktek dan kelembagaan masyarakat, serta direproduksikan oleh semua kelembagaan dan praktek tersebut.

Pierre Bourdieu lahir di Dengvin, Prancis bagian selatan pada tahun 1930. Ia menempuh pendidikannya di lembaga bergengsi Parisian Lycee, Louis-le-Grand pada tahun 1950-1951, dan menyelesaikan agregation-nya dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure. Saat mengikuti dinas militer, Bourdieu mengajar di Aljazair dan secara langsung mengalami kolonialisme Prancis. Pengalaman ini sangat berpengaruh padanya, dan upaya untuk memahami pengalaman tersebut mengarahkannya pada jalur antropologi dan sosiologi. Kemudian, antara tahun 1959 dan 1962, Bourdieu mengajar filsafat di Universitas Sorbonne, dan pada pertengahan 1960-an ia menjadi direktur akademik di Ecole des Hautes Etudes, dan menjadi ketua jurusan Sosiologi Eropa. Pada tahun 1982 ia diangkat menjadi dosen Sosiologi di College de France.

Dalam bukunya yang berjudul Homo Academicus, Bourdieu mengatakan bahwa Ecole des Hautes Etudes merupakan salah satu lembaga pinggiran tetapi bergengsi dalam sistem akademik Prancis, sebuah lembaga yang memupuk pemikiran dan penelitian orisinal. Hal ini cukup penting dalam karier awal Bourdieu, karena pada waktu itu pendidikan tinggi di Prancis cenderung terstruktur di sekitar para individu dan lembaga yang menonjol (seperti Ecole Normale Superieure – rue d’Ulm). “Bergengsi secara akademis” tidak harus berarti menantang secara intelektual. Akan tetapi, ini berarti bahwa keterkenalan akademis akan datang pada orang-orang yang tahu – baik sadar maupun tidak – bagaimana memanfaatkan sistem patronase, dan mempergunakan kemudahan-kemudahan warisan, atau modal kultural, yang mereka miliki. Bourdieu mempertentangkan kemudahan akademis dan kekuasaan institusional yang berjalan bersamanya dengan keterkenalan intelektual. Bila yang terakhir ini mensyaratkan imajinasi, orisinalitas, dan kecerdasan kritis tertentu, yang pertama memerlukan “bukti obsequium yang paling autentik, penghargaan tanpa syarat bagi prinsip-prinsip tatanan yang mapan”.[1]

Pandangan yang mengatakan bahwa lingkungan akademik itu bersifat “adil” dan “kompetitif” dan dianggap selalu berusaha “mengejar ilmu pengetahuan sampai ke garis depannya”, serta memilih “pikiran-pikiran terbaik” dalam upaya ini, adalah jenis ortodoksi umum yang ingin dihapuskan Bourdieu melalui penelitian sosiologi dan perenungannya. Bagi Bourdieu, sesuatu yang jelas, yang dianggap sudah ada dari sananya, dan yang sudah umum (yaitu gagasan akal sehat kita, atau bahasa tak ilmiah kita yang kurang tepat), sebenarnya dilandasi pada suatu kesalahpahaman (meconaissance) tentang hubungan kekuasaan yang tidak setara serta reproduksi hak-hak istimewa yang terkait dengannya.

Secara umum, pemikiran yang mendasari sikap Bourdieu muncul dalam esai awalnya yang dibuat dalam tahun 1970-an yaitu An outline of a Theory of Practice. Dalam konteks telaah etnografis ia menjelaskan adanya suatu kerangka kerja pengetahuan teoretis yang bertingkat tiga, dan yang paling bersifat refleksif akhirnya dilakukan untuk mengklasifikasikan “pengklasifikasi”, untuk “mengobjekkan subjek yang melakukan pengobjekan”, dan menilai penilai selera itu sendiri. Unsur pertama dari kerangka ini adalah “pengalaman awal”, atau yang juga disebut oleh Bourdieu sebagai tingkatan “fenomenologis”. Tingkatan ini dikenal oleh semua peneliti dalam bidang ini karena merupakan sumber dari semua data deskriptif dasar tentang dunia sehari-hari yang tidak asing bagi mereka – baik dalam masyarakat mereka sendiri maupun dalam masyarakat lain. Tingkatan kedua, yang tidak terlalu asing juga, adalah tataran pengetahuan “model” atau “objectivis”. Di sini pengetahuan “membangun hubungan ekonomi atau linguistik yang menstrukturkan praktek dan representasi praktek”. Oleh sebab itu, pada tingkatan “primer” seorang peneliti akan melihat bahwa pada setiap upacara perkawinan, ulang tahun, dan perayaan Natal orang-orang tukar-menukar hadiah. Meskipun akal sehat menyarankan lain, dalam tataran seorang objektivis, sang peneliti bisa saja berteori bahwa pertukaran hadiah adalah salah satu cara untuk mempertahankan prestise dan mengakui adanya suatu hierarki sosial, dan mungkin juga sebagai cara untuk mempertahankan kohesi sosial. Pengetahuan semacam ini, sebagaimana ditekankan oleh Bourdieu, pada dasarnya merupakan pengetahuan dari pengamat yang berjarak dan netral, yang berupaya mengembangkan suatu teori tentang praktek yang ada dalam data primer. Bila pengetahuan hanya sampai pada upaya mempelajari bahasa atau pertukaran hadiah, maka pengetahuan peneliti ini akan cukup terbatas. Jelas bahwa jika bahasa itu dipelajari hanya dari posisi pendengar (sering dalam keadaan berjarak) dan tidak dalam posisi pembicara, maka yang muncul adalah pengetahuan yang kurang sempurna. Oleh sebab itu, Bourdieu berpendapat bahwa pada teori tentang praktek yang memadai pasti terdapat suatu teori tentang kekurangan pada pedekatan objektivis terhadap praktek, yaitu bahwa ia (objectivis) terlalu berjarak dari praktek. Dengan demikian, ia tidak mampu untuk memikirkan unsur-unsur yang secara integral terdapat dalam praktek seperti “gaya”, “keanggunan”, “ketrampilan”, “savoir-faire”, dan khususnya “improvisasi”. Dengan cara yang sama, dalam membentuk suatu model praktek (misalnya pertukaran hadiah) pengetahuan objektivis tidak bisa memasukkan “kesalahan” atau “strategi” yang bisa mengurangi keuniversalan model. Dengan kata lain, bersama dengan pengertian “strategi”, waktu diberikan kepada model. Menurut Bourdieu, “strategi memungkinkan agar individu melakukan intervensi pada model”. Ini adalah sikap strukturalis, sebagaimana pernah diungkapkan Levi-Strauss, yang gagal dilakukan. Tegasnya, sebagaimana ditunjukkan dalam teori bahasa Saussure, yang mencirikan kehidupan sosial dan kultural adalah hubungan, bukan substansinya. Walaupun begitu, agar tetap ada dalam tingkatan ini, seperti yang cenderung dilakukan, demikian kata Bourdieu oleh kaum strukturalis gelombang pertama, kita harus berusaha untuk berada dalam tingkatan pengetahuan model atau objektivis.

Oleh sebab itu, Bourdieu mengemukakan bahwa pada saat yang sama suatu teori pengetahuan objektivis akan menjadi suatu teori tentang praktek yang lebih ketat dan mencerahkan. Ia mengklaim bahwa suatu teori tentang praktek yang benar-benar ketat dilaksanakan dengan mengambil posisi sebagai pelaksana realisasi praktek. Beranjak dari sikap teoretis dalam Outline, ia kemudian menghasilkan tiga karya penting tentang pendidikan dan selera yaitu Homo Academicus, Distinction, dan La Noblesse d’etat: les Grandes Ecoles esprit de corps. Karya-karya ini memuat konsep-konsep pokok Bordieu seperti “Habitus”, “medan” dan “modal kultural”.

Meskipun kadang-kadang disalahartikan sebagai kerutinan khusus dalam kehidupan sehari-hari, atau sebagai sinonim dari sosialisasi, habitus sebenarnya merupakan bagian dari teori Bourdieu tentang praktek pengungkapan perwatakan dalam ruang sosial. Ruang ini juga merupakan suatu medan sosial yang didalamnya setiap anggota membentuk sustu sistem hubungan yang didasarkan atas pertaruhan (kekuasaan) yang bermakna dan diinginkan oleh anggota ruang sosial. Habitus merupakan sejenis ungkapan penanaman (tak sadar) dari orang-orang yang  berkepentingan dalam ruang sosial ini. Ia adalah sejenis tatanan tingkah laku yang dipakai untuk membedakan satu kelas (yang didominasi) dalam medan sosial. Dalam Distinction, Bourdieu melihat habitus sebagai suatu sistem skema pembentukan praktek-praktek tertentu. Jadi, jika “selera bagus” menunjukkan bahwa seorang profesor perguruan tinggi lebih menyukai karya Bach, Well Tempered Clavier, sedangkan para pekerja manual dan administrasi “kelas menengah” akan menyukai The Blue Danube, maka validitas selera bagus sang profesor tadi sangat diragukan atau tidak murni lagi jika ia sendiri (khususnya jika ia adalah profesor dalam bidang hukum atau kedokteran) adalah anak seorang profesor yang memiliki koleksi seni pribadi dan yang isterinya adalah seorang pemusik amatir yang baik. Hal ini karena profesor tersebut dianggap bukan hanya sudah “mencapai” satu tingkat tertentu dalam bidang pendidikan, melainkan juga telah mewarisi modal kultural. Yang dimaksud disini adalah bahwa lingkungan keluarga bisa memberikan pendidikan dalam jumlah tertentu, pemahaman dan “selera” yang tidak diajarkan secara formal, tetapi diperoleh secara tidak sadar.

Satu habitus tentu tampak saat beberapa variabel (pekerjaan, pendidikan, pendapatan, minat artistik, selera makanan, dan sebagainya) terkait satu sama lain secara statistik. Maka dari itu, berlawanan dengan pekerja manual, sang profesor hukum cenderung mendapatkan pendidikannya di sekolah-sekolah swasta, lebih menyukai Bach (dan umumnya lebih pada bentuk daripada isi seni), memiliki pendapatan yang tinggi, dan akan lebih menyukai makanan sederhana yang terdiri atas daging tanpa lemak, buah segar, dan sayuran. Korelasi ini terkait dengan yang disebutkan Bourdieu sebagai sekumpulan perwatakan khusus (dalam hal ini kaum borjuis atau dominan) atau suatu habitus. Suatu habitus menjadi pembentuk sekumpulan perwatakan yang bersifat umum dalam satu kelas. Pengetahuan akan habitus suatu kelas tidak memberi kita kesempatan untuk mengetahui apa yang akan dilakukan oleh anggota kelas yang dominan atau didominasi dalam situasi dan saat tertentu. Supaya hal itu bisa dilakukan maka waktu dan pelaku harus disingkirkan dan mengakui kembali keunggulan model terhadap praktek, yang diungkapkan dalam Outline pada awal tahun 1970-an. Bourdieu juga mengatakan bahwa habitus ada kaitannya dengan “rasa tentang kedudukan seseorang” yang muncul melalui proses diferensiasi ruang sosial, dan ini juga merupakan sistem skema produksi praktek, seperti juga ia merupakan suatu sistem skema persepsi dan apersepsi praktek-praktek ini. Perbatasan antar-habitus selalu mengalir, tidak pernah tetap.

Bourdieu berupaya keras memperbaiki konsep pokok oeuvre-nya, karena ini menjadi landasan orisinalitasnya sebagai seorang ahli sosiologi. Karena pendekatan ekonomistik Marxisme terlalu reduksionistik, dan karena strukturalisme awal terlalu objektivis, serta karena teori persekongkolan dominasi kelas terlalu menitikberatkan pada pengalaman awal – khususnya seperti yang terlihat pada perilaku sehari-hari yang mencerminkan kepentingan diri sepenuhnya – Bourdieu berupaya memperbaiki teori tentang praktek agar bisa bersifat ilmiah sekaligus bisa diamati dalam praktek. Ilmiah di sini berarti ikut mempertimbangkan aspek-aspek  kekontingenan, pelaku, dan waktu.

Apakah Bourdieu berhasil, itu lain perkara. Karena bisa dikatakan bahwa kaitan dengan teori mana pun akan mengikat praktek dalam jalurnya. Habitus mungkin sebuah perwatakan, namun, bagaimana tepatnya hubungan perwatakan ini dengan tindakan yang bersifat kontingen? Menurut Bourdieu, ini adalah keteraturan statistik, atau dengan kata lain, pengetahuan ilmiah. Namun, apakah kegunaan pengetahuan kultural, politik, sosial, dan sebagainya ini? Jika dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu demi tujuan-tujuan politik maka pengetahuan berisiko menjadi ideologis sepenuhnya, suatu dimensi kekuasaan simbolik yakni kekuatan untuk mewakili.

Bila benar bahwa pengertian Bourdieu tentang upaya memasuki medan pertarungan praktek tanpa terseret di dalamnya itu cukup menarik, dan jika pandangan tragisnya tentang ilmu sebagai suatu kebebasan nyata di mana “pengetahuan tentang keperluan”-lah yang melandasi pemahaman tentang upaya ilmiah (dan dengan demikian bersifat sosiologi), juga menggairahkan, maka karya Bourdieu masih mengandalkan pembagian mendasar antara  teori dan praktek, atau antara teori dan realitas. Pembagian ini perlu dikaji ulang jika diinginkan agar karya Bourdieu ini bisa melingkup karya Freud.

Selain itu, dalam karya menumentalnya yaitu Distinction, Bourdieu berupaya mengambil perwatakan “yang dikembangkan” para filsuf, seperti yang dicontohkan Jacques Derrida dalam wacana “tak ortodoks” mengenai teori estetika Kant. Menurut Bourdieu, upaya menentang filsafat secara filosofis sebenarnya justru memperkuat status “medan filosofis” dari kaum terpilih. Di sini masih ada upaya untuk memuja sekumpulan naskah kanonik yang relatif kurang bisa dijangkau oleh orang di luar sistem. Di sini masih ada upaya untuk melupakan “kondisi objektif” filsafat, di mana kaum terpelajar mendapatkan penghargaan dan yang kurang terpelajar tidak dihargai. Lebih lanjut, masih menjadi ciri kaum intelektuallah untuk mendapatkan habitus sebagai kaum terpilih atau golongan istimewa, sekalipun mereka berada dalam posisi yang didominasi.

Sampai pada satu titik semua ini benar. Pentingnya upaya untuk menyadari kondisi sosial, filsafat (dan seni) haruslah meniadakan pernyataan menyesatkan tentang otonominya. Meskipun demikian, Bourdieu sendiri jelas merupakan produk dari suatu pendidikan filsafat, seperti juga inspirasi dalam karyanya berdasarkan pada sekumpulan naskah terpilih. Oleh karena itu, Bourdieu secara diam-diam menyadari bahwa kumpulan wacana ini adalah satu-satunya yang kita miliki pada saat ini, dan kita mau tidak mau diminta untuk mencari ilham pada wacana-wacana ini, meskipun kebenaran dan keabsahannya yang mutlak tidak bisa diperoleh. Dengan melihat pada kondisi objektif dari berbagai macam dikursus, jelas bahwa sumbangan terbesar Bourdieu adalah pada pemikiran sosiologis. Namun, sosiologi ini memiliki risiko mengalami kemandekan jika ia (sosiologi) tidak mengembangkan wawasan teoretis baru yang terkait dengan sumbangan pemikiran Bourdieu di atas. (John Lechte, FIlsuf).

[1] Pierre Bourdieu. Homo Academicus, terjemahan peter Collier, Cambridge, polity press, 1988, hlm. 87.

Continue Reading

Pemikiran

Wirid Dawam Rahardjo

mm

Published

on

Oleh M. Dawam Rahardjo *)

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke Pabelan saja. Ya, mengapa kok sulit-sulit memilih pesantren? Bukankah aku sudah demikian akrab dengan pondok yang terletak di Muntilan itu? Kiainya sahabatku. Barangkali di antara para kiai yang kukenal, dialah, Kiai Hamam Dja’far, yang paling dekat, dalam pikiran maupun perasaan. Lagi pula itulah pondok yang paling indah bagiku. Aku berkenalan dengan pondok ini kira-kira pada tahun 1973 ketika aku mula pertama mengunjunginya, atas anjuran Pak Ud.

Kukira aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dalam romantisasiku, pesantren itu mestilah rindang. Tapi jarang aku melihat pesantren yang halamannya masih ditanami pohon-pohon yang lebat. Dulu mungkin. Namun kini telah banyak ditebangi untuk memberi tempat pada bangunan baru yang umumnya ceroboh itu. Pabelan, sangat berbeda. Pohon-pohon di desa itu masih lebat. Malah Pak Kiai menambahnya dengan tanaman-tanaman baru. Ketika itu sedang musim menanam jeruk. Buah jeruknya besar-besar, tidak seperti biasa. Tapi ada juga ditanam pohon melinjo dan kemudian flamboyan.

Sebelum kuputuskan pergi ke Pabelan saja, aku sudah mempertimbangkan pesantren lain, terutama di Jawa Timur. Pernah kupertimbangkan untuk memilih Tebuireng. Pak Ud pasti mengizinkan. Suasana peribadatannya pun enak. Dalam lima waktu, masjid utamanya pasti penuh jamaahnya. Tapi aku pakewuh dengan Pak Ud. Jangan-jangan kedatanganku merepotkannya. Karena aku, maksudku istriku, pasti tak akan diizinkan untuk bisa memasak sendiri.

Aku juga pernah berpikir, alangkah indahnya bisa tinggal untuk beberapa hari di Gontor, Ponorogo. Tapi sudah lama aku di persona non grata-kan Kiai Zarkasi, gara-gara aku pernah mengritik pondok modern ini, karena sikap isolatifnya terhadap masyarakat sekelilingnya. Padahal sahabat-sahabat mudaku banyak yang alumni Gontor. Cocok aku dengan kebanyakan mereka itu, dengan pola akidahnya, akhlaknya yang manis-manis dan kepandaian mereka umumnya dalam bahasa Arab.

Lalu, oleh Pak Malik Fadjar, aku pernah dianjurkan pula untuk menengok sebuah pesantren di pantai utara Jawa. “Kiainya Muhammadiyah lho!” katanya. Dia pikir aku pasti cocok dengan cara berpikir kiai ini. “Kiainya gemar qira’ah dan tafsir,” ujarnya lagi sambil mengacungkan jempolnya. Pak Malik mungkin menyadari bahwa aku senang dengan qira’ah dan tafsir. “Cobalah ditengok dulu,” ia menganjurkan.

Sebuah mobil dengan sopirnya membawaku dan istriku menyusuri pantai utara Jawa. Sebelumnya, karena ingin menempuh jalan pintas, mobil sedan kecil itu menembus jalan-jalan kecil di antara bentangan tambak yang gemerlapan ditimpa sinar mentari pagi. Di sebuah kota kecil di tepi pantai yang panas tapi juga cukup rindang itu, bercokol pesantren itu. Di situ aku bisa “menghilang” untuk sementara waktu yang telah kurencanakan, pikirku. Tak mungkin bisa orang menghubungiku. Ketika orang mencariku, mungkin aku sedang berjalan-jalan dengan istriku di sampingku, menatap tongkang-tongkang mengapung di perairan. Kami berdua bisa menghafal wirid sambil menikmati debur ombak.

Karena aku tidak begitu sreg dengan situasi pondok yang kurang bersih itu, aku mengurungkan niatku. Dan tiba-tiba aku berpikir, mengapa tidak ke Pabelan saja?

Kurundingkan ideku dengan Hawariah, istriku. Ia tampak begitu senang. “Ke mana saja Mas pergi dan membawaku, aku akan senang. Kebahagiaanku adalah bila bersamamu Mas,” katanya mendukung dan membesarkan hatiku. Kata-kata inilah yang sering dikatakan kepadaku, hampir klise. Maka kulayangkan sepucuk surat kepada Kiai Hamam, mohon untuk bisa diterima. “Saya bersama istri mau nyantri barang sebulan, bila diterima,” kataku dalam surat.

*

Dari jalan raya Yogya-Magelang, aku naik dokar. Istriku memakai kebaya dan kerudung yang berenda kembang. Kerudung tradisional yang masih dipakai ibuku dan perempuan-perempuan desa. Wajahnya yang putih dan bulat seperti rembulan itu selalu tersenyum. Hatiku selalu hangat bersamanya.

Kami disambut dengan tawa lepas, khas Kiai Hamam.

“Mau belajar wirid? Ha, ha, ha,” tawanya berderai.

“Apa mau jadi sufi?” tanyanya lagi dengan nada senda gurau. Walaupun begitu tanggapan formalnya, tetapi Kiai Hamam penuh pengertian.

“Saya membutuhkan guru yang bisa membimbing, Kiai,” kataku.

“Siapa yang bisa jadi guru Mas Dawam?” jawabnya penuh keyakinan. Kami, dalam waktu-waktu sebelumnya, memang sering bicara mengenai tasauf dan filsafat, sebuah pembicaraan “tingkat tinggi”. Kalau berbincang-bincang, tentu sampai larut malam. Yang tadinya menemani kami, biasanya mundur satu per satu. Akhirnya tinggal kami berdua, hingga subuh.

“Saya ingin bisa wirid yang agak panjang,” kataku. “Juga ingin bisa membaca doa iftitah untuk pidato atau ceramah.” Kalau diminta ceramah keagamaan, aku sebenarnya malu jika hanya bisa membaca yang itu-itu saja. Syukur kepada Allah dan salawat untuk nabi, itu saja. Aku juga sering diminta untuk memberi khotbah Jumat. Bahkan juga khotbah Idul Fitri atau Idul Adha. Dan aku selalu menolak. Mereka tidak tahu bahwa aku tak bisa mengucapkan bacaan-bacaan yang diperlukan itu di luar kepala. Tahu mereka, aku adalah “tokoh Islam”, atau “cendekiawan Muslim”.

Akhirnya Kiai Hamam maklum juga. Tapi guru-guru muda yang pintar-pintar di situ, tak seorang pun bersedia menjadi guru mursyid-ku. Mereka hanya menuliskan doa-doa untukku. Malah mereka memberiku doa wirid bikinan Pondok Gontor yang ditulis sendiri oleh Kiai Imam Zarkasyi. Ternyata doa ala Gontor itulah yang paling bisa kuterima.

Ingin bisa baca wirid yang agak panjang. Itulah obsesiku. Dengan wirid itu aku akan merasa tak perlu lagi berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan secara verbal. Kupikir, Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Mendengar suara batin sekalipun. “Berzikirlah kalian akan Daku, niscaya Aku akan mengingatmu,” demikian tertulis dalam surat Al Baqarah ayat 152.

Karena tak ada yang bersedia menjadi guruku, akhirnya aku belajar sendiri saja. Tentu saja aku mengalami kesulitan, karena aku sudah tidak lagi lancar membaca huruf-huruf Arab. Tapi aku ini memang tolol benar. Mengapa aku tak melihat potensi istriku? Bukankah ia lulusan Mu’alimat Muhammadiyah Yogya yang terkenal itu? K.H. Yunus Anis dan K.H. Ahmad Badawi, keduanya pernah menjadi Ketua Umum Muhammadiyah, termasuk guru-gurunya.

Sungguh keterlaluan aku ini. Tidak pernah berpikir bahwa seorang perempuan itu bisa menjadi guru mengaji lelakinya. Maklum, aku selalu menjadi imam waktu shalat.

“Dengar baik-baik ya Mas! Aku baca pelan-pelan, Mas menirukanku,” katanya mulai menjadi guru mursyid-ku. Kalau ia membimbing doa wirid habis shalat, kedengarannya biasa saja. Tetapi kalau doa-doa untuk khotbah, memang agak janggal. Mungkin karena adanya persepsi bahwa perempuan itu tidak pernah jadi khatib.

Kalau shalat, tentu saja aku yang menjadi imam. Aku bangga sekali bisa menjadi imam istriku. Seolah-olah itulah tanda kelaki-lakianku yang sejati. Ketika berdoa, kami berdoa bersama. Kadang-kadang bacaanku dikoreksi. Ada kalanya aku jengkel dikoreksi. Apa ini karena pengaruh alam patriarki? Hawariah hanya tersenyum sabar dan terus membimbingku.

Di waktu magrib, isya dan subuh, kami selalu pergi berjamaah ke masjid. Tapi kami sering bepergian kala siang. Jadi tak bisa pergi ke masjid di waktu lohor dan isya, kecuali salat dhuha. Kami selalu menjalankannya. Sehabis subuh kami menderas Alquran bersama-sama. Hanya saja mengajiku terputus-putus, karena aku sering membaca terjemahannya. Aku bawa The Holy Quran, terjemahan dan catatan kaki Maulana Muhammad Ali. Aku paling matuk (cocok) dengan tafsir ini, rasional dan optimis.

Ketika matahari sudah terbit, ia mulai memasak sarapan. Aku keluar jogging yang sudah menjadi kebiasaanku itu. Lalu kami makan bersama. Sesudah masak, langsung ia mencuci piring. Dan aku menimba air sumur. Air dari pompa dragon bukan air yang baik. Jadi aku ngangsu sumur tetangga yang jernih, mengisi kolah dan ember persediaan untuk dimasak menjadi air minum. Setelah itu kami membersihkan halaman yang setiap pagi bertabur dedaunan yang rontok. Sambil menyapu, aku melatih hapalanku keras-keras agar bisa dikoreksi kalau salah.

*

Sayang sekali, aku datang ke Pabelan pada saat liburan. Jadi kampus kosong, tak ada santrinya, kecuali beberapa yang tinggal, mungkin untuk mengikuti kursus khusus. Tapi justru karena itulah kami seperti diberi kesempatan untuk bisa mandi di Kali Pabelan. Kali sepi dari santri yang biasa mandi di situ.

Air sungai itu mengalir bening. Batu-batuan besar kecil yang bertebaran membuat suara gemercik dialiri arus. Hawariah, seperti orang desa lainnya, memakai kain dan mandi di pancuran dan kali yang dangkal. Bagi orang yang biasa hidup di Jakarta, ini adalah suatu kemewahan. Ketika mandi, Hawariah seperti bidadari yang turun dari kayangan. Kain batik melilit ketat di tubuhnya yang basah. Rambutnya tergerai.

Di jalan pulang kami berbelanja di warung desa. Hawariah selalu berbicara renyah waktu membeli bahan-bahan kebutuhan. Karena itu ia memang lekas dikenal. Menurut perasaanku yang subyektif, istriku itu mungil, putih dan bersih. Posturnya seperti putri bangsawan atau mungkin berwajah “elitis” dalam bahasa masyarakat kota. Tapi penampilannya sederhana, seolah-olah ia tak sadar akan kecantikannya sendiri. Tak usah berusaha menampilkan diri, kehadirannya di desa itu sudah sangat terasa. Orang-orang melihat kami, waktu kami berjalan. Kadang-kadang mereka menegur. Orang lelaki tentu melihat kepadanya. Yang perempuan juga melihatnya, lalu menengok kepadaku seolah-olah ingin tahu siapa lelaki yang beruntung di sampingnya itu.

Ia rajin datang ke pengajian di rumah tetangga sebelah. Suatu ketika pengajian memutuskan untuk memperbarui tikar yang telah banyak rusak itu. Uang yang terkumpul agaknya masih jauh dari mencukupi. Istriku langsung bilang, ialah yang menutupnya. Baginya, uang itu tidak seberapa. Tapi bagi ibu-ibu di desa itu nilainya masih lumayan besar.

Di waktu malam sering terdengar suara berzanji. Inilah yang khas di desa itu. Penduduk desa umumnya memang jamaahnya NU. Tetapi pesantrennya beraliran reformis. Santrinya mengikuti wirid Gontor. Tapi imam masjidnya tetap berada di tangan kiai desa. Masjid pondok itu tetap dibiarkan seperti aslinya. Ini cocok dengan suasana desa yang rindang.

Kami sering ingin mengejar dari mana datangnya suara berzanji itu. Ada kalanya dari perhelatan perkawinan. Di waktu sore, menjelang magrib, kami mengejar suara salawat nabi yang dikumandangkan itu. Kalau tidak hujan kami jalan-jalan. Yang kami jumpai adalah langgar-langgar atau masjid-masjid kecil. Pohon-pohon kelapa meneduhi halaman masjid.

“Mas, bangun Mas, sudah subuh lho,” kata istriku membangunkan. Aku sebenarnya sudah mendengar suara azan. Malah sudah kudengar suara orang mengaji atau membaca sesuatu, dengan irama khas. Aku pun bangun, bergegas ke kamar mandi, mengambil air wudhu.

Tapi di luar masih sangat gelapnya. Tak ada lampu. Apalagi gerimis agak lebat turun. Kami pergi pakai lampu senter. Untung di Pabelan, tanahnya berpasir, jadi tak begitu becek. Kalau berjalan, tangannya pasti menggandengku, agak di belakang. Terasa benar aku menjadi lelaki, sandaran hidupnya. Memang sulit benar berjalan berdua dengan satu payung. Air pun tak bisa kami hindari. Aku seperti sedang berpacaran, dalam beribadah.

Aku bersyukur punya istri yang cocok. Coba bayangkan, jika istriku itu bukan “ahli ibadah”, repot. Aku tidak pernah menjelaskan maksudku nyantri seperti itu. Ia sudah tahu dengan sendirinya. Malah itu menjadi keinginannya juga. “Mondok” seperti itu lebih memberi kebahagiaan daripada piknik. Dengan beribadah berdua seperti itu kami sekaligus berpacaran, menunjukkan rasa cinta. Kami tidak pernah merasa sedang bertapa.

Sebelum meninggalkan Pabelan, Hawariah pamit. Para ibu pada semedot, dengan berat hati menerima pamitan itu. Beberapa waktu kemudian bu nyai menceriterakan betapa tetangga-tetangga di sekitar rumah tempat kami menginap itu, semacam “guest house” pesantren, sangat gelo kami meninggalkan Pabelan. Sangka mereka kami adalah penghuni baru. Mereka senang mendengar suara-suara yang terdengar dari pondokan kami. Suara orang mengaji atau kaset salawat dan doa yang dilagukan oleh Ustadz H. Salahuddin Benyamin dengan paduan suara perempuan-perempuan yang mengiringi atau alunan suara ustadz Umar Said yang merdu. Tapi yang paling terkesan pada mereka agaknya adalah pasangan kami berdua yang tampak runtang-runtung, seorang perempuan berkebaya dan lelaki yang selalu berkopiah.

*

Empat tahun kemudian, tak kusangka, istriku di panggil Allah. Kini, kurasakan dalam kenangan, itulah sepotong kenangan yang begitu indah dalam hidupku.

(alm) M Dawam Rahardjo

Istriku pergi untuk selamanya di kamar kami, di suatu subuh. Ketika itu istriku tak berdaya, sakit. Ia hanya bisa terbaring miring. Setelah salat sunat koblal subuh, aku pun bersalat subuh. Kubaca Al Fathihah, surat Al-Tin dan surat Al-Qadr seperti yang selalu dibaca imam di Masjid Pabelan, agar dia mendengarkan, seolah-olah kami sedang berjamaah. Aku yakin ia sedang ma’mum kepadaku. Belum sempat wirid, Hawariah telah memintaku mengelus-elus dengkulnya yang sakit. Ia seperti menikmatinya, karena aku mengelus-elusnya dengan mesra sambil membaca wirid.

Ketika aku kemudian keluar dari kamar, Yu Jum, pembantu yang merawat istriku, berganti masuk ke kamar. Beberapa saat kemudian ia berteriak-teriak dan meminta agar aku masuk ke kamar. Aku lihat istriku seperti telah tiada. Anakku lelaki yang memeriksanya merasakan bahwa mamaknya tak lagi bernapas. Nadinya pun tak lagi berdenyut. Tangis dua anak pun berderai bersama dengan tangisku dan orang-orang rumah.

Di hari kedua, sesudah kematian itu aku salat subuh di tempat yang sama. Aku pun membaca wirid yang dulu pernah kupelajari di Pabelan. Tangisku meledak. Wiridku tersendat-sendat di sela-sela sedu tangis yang berat. Terkenang olehku ketika aku sedang dibimbing olehnya, membaca wirid di Pondok Pabelan. Mungkinkah rohnya mencari jalan keluar lewat wirid dan elusanku di dengkulnya itu.

Masih segar dalam ingatanku kami berjalan bergandengan, sambil membawa payung dan lampu senter, sarimbit ke masjid, dalam hujan gerimis di waktu malam dan subuh, yang menyebabkan pakaian kami basah. Terkenang olehku kami bercinta dalam salat berjamaah berdua yang sudah menjadi kebiasaan yang indah itu. Sehabis salat dan wirid, ia selalu mengajakku bersalaman dan menciumi tanganku berulang-ulang. Dan aku pun mengecup keningnya.

Aku mengecup kedua mata-istriku yang terakhir kalinya ketika jenazahnya hendak digotong ke masjid sebelah, hendak disalatkan. Bulu matanya terasa dibibirku, seolah ia masih hidup. (*)

Jakarta, 10 Oktober 1994

*) Tulisan ini ditulis M Dawam Rahardjo, pernah dimuat di harian Kompas. Ditayangkan kembali oleh redaksi sebagai upaya mengenangkan dan ucapan selamat jalan atas wafatnya guru bangsa M Dawam Rahardjo pada Rabu (30/5/2018).

Continue Reading

Pemikiran

Saya dan Gus Dur: Perseteruan dan Persahabatan

mm

Published

on

Dawam Rahardjo *)

Saya bukanlah orang yang pada awalnya berseteru dengan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bahkan, pertama kali mengenal namanya yang asli, Abdurrahman adDakhil, Abdurrahman Sang Pendobrak-dari buku biografi dan dokumentasi K.H. Wahid Hasyim, karya seorang cendekiawan sekaligus ulama, H. Abubakar Aceh-saya sudah menaruh perhatian dan harapan terhadap putra berdarah biru pesantren itu. Ketika itu saya berharap, orang muda itu kelak menjadi pemimpin Islam yang besar. Dalam jangka waktu yang cukup lama, saya tidak pernah berjumpa dengan orang muda itu, sampai pada suatu hari namanya saya kenal melalui tulisannya di halaman 3 Harian Kompas tentang peta kesusasteraan Arab modern, dunia sastra yang saya ingin mengenal lebih banyak, sebagai seorang peminat sastra.

Saya baru berkenalan secara pribadi dengan Gus Dur, melalui Abdullah Sarwani, ketika saya menjadi Wakil Direktur LP3ES proyek pengembangan pesantren. Ketika itu Gus Dur masih tinggal di Pondok Tebuireng sebagai Sekretaris Pondok dan saya memintanya untuk mengusulkan daftar nama para kiai yang bisa diundang untuk ikut serta dalam musyawarah besar pesantren di Hotel Tugu, Puncak. Dari forum itulah saya berkenalan dengan para kiai besar, misalnya Kiai Ilyas Ruchyat, Kiai Sahal Mahfudz, Kiai Maimun Zubair, atau kiai penggemar keroncong, Kiai Najih Ahmad dari Pesantren Maskumambang.

Dari forum itulah lahir proyek-proyek pengembangan pesantren yang di era 70-an rawan dicurigai, baik dari kalangan pesantren maupun pemerintah. Ketika itu NU yang berbasis pesantren adalah sebuah kekuatan oposisi dalam Pemilu 1971, terutama karena tokohnya Pak Ud atau Yusuf Hasyim, paman Gus Dur, berasal dari dunia pesantren dan menjadi tokoh PPP (Partai Persatuan Pembangunan). Program ini dicurigai bukan saja oleh pihak pesantren sebagai proyek kooptasi Orde Baru, begitu pun pemerintah mencurigainya sebagai alat PPP dalam melakukan oposisi, karena ternyata PPP dalam Pemilu 1971 memperoleh dukungan yang cukup kuat dari umat Islam dan keluar sebagai pemenang kedua dalam Pemilu sesudah Golkar.

Padahal, saya menempatkan diri sebagai agen pembaru mengikuti Cak Nur yang mencanangkan pembaruan pemikiran keagamaan dalam Islam pada tahun 1970, walaupun dalam program pesantren saya mengutamakan pembaruan sosial dan bukan keagamaan. Dalam kaitan ini, Gus Dur dan Pak Ud menjembatani saya dengan dunia pesantren.

Gur Dur maupun Pak Ud tampaknya percaya pada saya karena secara konkret saya turut mendidik kader-kader pesantren dalam pengembangan masyarakat. Metode yang saya pilih adalah membiarkan pesantren dikembangkan oleh orang-orang pesantren sendiri, saya tidak peduli bahwa mereka itu adalah kader-kader NU. Saya sebagai orang Muhammadiyah justru secara sengaja membina kader-kader NU agar NU menjadi organisasi kemasyarakatan yang kuat dalam melakukan modernisasi dunia pesantren yang dikenal tradisional dan konservatif itu. Salah satu cara yang saya tempuh adalah membangun perpustakaan dan pusat informasi dengan mendidik para pustakawan. Pengembangannya dikoordinasi oleh Perpustakaan Wahid Hasyim. Perpustakaan ini didirikan di lingkungan Pesantren Tebuireng. Sementara, nama Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur, saya usulkan sebagai nama perpustakaan karena ia adalah simbol ulama intelektual di kalangan pesantren. Di samping itu, ia pernah memimpin Pesantren Tebuireng itu sendiri.

Namun, pada suatu ketika timbul masalah antara saya dan Gus Dur. Pada saat itu ia dikabarkan melakukan konspirasi mendongkel Pak Ud sebagai pemimpin pesantren dan ia sendiri berambisi untuk menggantikan kedudukan pamannya itu dengan bantuan ibunya, Bu Wahid, kakak ipar Pak Ud yang sangat disegani, politisi perempuan anggota DPRGR yang fasih berbahasa Belanda. Sampai-sampai saya mendapat kabar, Pak Ud yang terkenal tokoh politik yang tegar itu menangis karena kena marah kakak iparnya. Tetapi celakanya, Pak Ud menuduh saya ikut membantu Gus Dur mendongkelnya, karena itu saya ditegur oleh Direktur LP3ES Tawangalun. Tentu saja saya membantah tuduhan itu walaupun saya memang bersahabat dan mendukung usaha-usaha Gus Dur mengembangkan pesantren. Tetapi untuk membuktikan kebenaran bantahan itu saya diminta untuk menarik Gus Dur ke Jakarta sehingga tidak mengganggu kestabilan kepemimpinan pesantren.

Saya pada waktu itu menyadari bahwa jika Pak Ud kehilangan kedudukan sebagai pemimpin pesantren, maka peran dan pengaruh politiknya di PPP akan goyah, tanpa basis. Saya sendiri mendudukkan diri saya dalam posisi yang netral politik, karena itulah saya juga tidak dicurigai oleh pemerintah. Sebaliknya, saya dipercaya sebagai mediator antara pemerintah dan pesantren. Saya pernah diundang oleh Pangkomkamtib Laksamana Sudomo ke rumahnya untuk mendiskusikan hal ini. Pak Domo waktu itu dikenal sebagai tokoh yang ditakuti banyak orang, sehingga saya terkejut hampir tidak percaya ketika mendapat telepon langsung darinya.

Dengan persetujuan Direktrur LP3ES, saya kemudian merekrut Gus Dur sebagai staf LP3ES menjadi penasihat dalam program pengembangan pesantren. Dalam persepsi Mas Tawang berdasarkan informasi dari pamannya sendiri, Gus Dur ini adalah seorang politisi yang ambisius dan lihai. Ketika menjadi Direktur LP3ES saya membina hubungan internasional di kalangan LSM internasional Asia Tenggara dan Asia Selatan. Saya banyak menyelenggarakan pertemuan-pertemuan dengan para aktivis LSM yang kebanyakan adalah tokoh-tokoh kiri, seperti Randy David, Jomo K. Sundaram, Martin Khor, Surichai, Suthi Prasechat, atau Sayed Husain Ali. Saya tentu tidak lupa melibatkan Gus Dur dalam pertemuan-pertemuan. Ternyata Gus Dur tidak canggung bergaul dengan orang-orang Marxis secara personal maupun intelektual. Karena itulah maka Gus Dur, selain Adi Sasono dan Arief Budiman dari Indonesia, berada dalam lingkaran kiri internasional. Saya melihat Gus Dur cepat beradaptasi bergaul dengan orang-orang kiri yang menjadi lingkungan intelektual saya. Padahal Gus Dur adalah tokoh Muslim. Karena itu Gus Dur di mata saya bukanlah seteru secara intelektual. Ketika kami, Sritua Arief, Tawangalun, Adi Sasono, dan saya sendiri, mendirikan Lembaga Studi Pembangunan (LSP), dengan dukungan Bang Ali Sadikin, maka saya juga merekrut Gus Dur menjadi salah seorang staf, antara lain mengasuh jurnal ilmiah “Wawasan” bersama-sama dengan Nirwono yang berpikiran kiri. Di jurnal itu Gus Dur menulis profil Prof. Widjojo Nitisasatro, Ketua Bappenas saat itu. Dari tulisan itu terlihat Gus Dur memahami masalah-masalah pembangunan. Ia bukan hanya menuliskan profil tokoh, tetapi juga profil pemikirannya. Dalam bekerja, Gus Dur memanfaatkan sumber daya LSP untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan karangannya mengenai pesantren, yang dokumen penerbitannya perlu dicari dalam rangka penelitian arkeologi pemikiran Gus Dur.

Sebagai penasihat saya selaku Direktur LP3ES, Gus Dur selalu melakukan perjalanan dari pesantren ke pesantren lainnya, menemui para kiai, ustad muda, dan para santri. Di sinilah terbangun kekuatan Gus Dur dalam memperoleh simpati dan dukungan, karena ketokohannya pada waktu muda. Pengembaraan silaturahmi yang dilakukannya tidak tertandingi oleh siapa pun di antara para kiai pesantren.

Dalam seminar internasional Indonesia-Timur Tengah yang saya organisasikan bersama Adi Sasono, saya juga memberi kesempatan pada Gus Dur untuk tampil sebagai pembicara bersama-sama dengan Pak Natsir mewakili Indonesia. Ia berbicara dengan bahasa Arab yang fasih, sedangkan Pak Natsir sendiri berbicara dalam bahasa Inggris, padahal Pak Natsir dikenal sebagai tokoh ulama. Inilah kelebihan ulama NU dalam penguasaannya terhadap bahasa Arab literer, terlebih Gus Dur adalah seorang pemerhati sastra Arab modern. Perhatiannya terhadap sastra ini ikut menunjang penghargaan saya terhadapnya, karena pemerhati sastra Arab Islam ketika itu hanyalah Ali Audah yang telah menerjemahkan berbagai karya sastra Arab Islam kontemporer.

Ketika masih duduk sebagai staf LP3ES itulah lahir rencana Gus Dur untuk menggantikan kedudukan K.H. Idham Khalid selaku Ketua PBNU. Saya sendiri tidak begitu memperhatikan ambisi dan kemampuan Gus Dur. Yang melihat potensi Gus Dur sebagai pemimpin NU yang baru adalah Aswab Mahasin, yang demikian mengagumi dan mengenal Gus Dur. Sebagai seorang yang punya pengetahuan mendalam mengenai agama, Aswab Mahasin mengetahui potensi Gus Dur sebagai pemikir Islam. Dialah yang banyak bercerita kepada saya mengenai rencana-rencana politik Gus Dur. Termasuk gagasannya mengenai “kembali kepada khittah” sebagai kendaraan ideologinya untuk mencapai jenjang kepemimpinannya di PBNU. Salah satu kecerdikan Gus Dur sebagai politikus adalah membawa Prof. Nakamura dari Jepang ke dunia NU. Padahal, Nakamura adalah ahli soal Muhammadiyah dan menulis disertasi yang terkenal mengenai organisasi ini yang ditulisnya di rumah K.H. Abdul Kahar Muzakkir, seorang tokoh Muhammadiyah dari Kota Gede pencetus gagasan tujuh kata dalam Piagam Jakarta.

Saya sangat bersimpati dan mendukung gagasan kembali kepada khittah yang menempatkan NU sebagai organisasi sosial-keagamaan. Sebaliknya, saya tidak bersimpati kepada NU sebagai organisasi dan partai politik. Saya menginginkan agar NU menjadi kekuatan civil society. Karena itulah saya terlibat dalam pembinaan pesantren sebagai agen perubahan sosial. Namun demikian, saya merasakan bahwa justru ketika sudah kembali kepada khittah itulah warna politik NU makin kentara, karena dibawakan oleh Gus Dur sebagai politikus. Melihat minatnya di bidang politik, saya terus-terang kurang yakin tentang ketepatan Gus Dur sebagai Ketua PBNU. Ia lebih mencerminkan keintelektualan dan politik daripada keulamaan. Karena itu, ketika NU berada di bawah Gus Dur, NU berkembang menjadi kekuatan politik informal. Sementara itu saya lebih mendukung Gus Dur sebagai budayawan dan cendekiawan. Selain itu, saya banyak melibatkan kawan-kawan Indonesia dalam forum dialog INCI (International Non-government Group on Indonesia), sebagai tantangan dan tandingan IGGI (Inter-Governmental Group on Indonesia) yang merupakan organ penyaluran utang Indonesia kepada lembaga keuangan dalam konferensi-konferensi internasional di Eropa Barat. Di situ Gus Dur berkenalan dengan dua kelompok yang agak berseberangan, di satu pihak NOVIB sebagai organ Partai Buruh Belanda dan Friedrich Naumann Stiftung dari Jerman yang berhaluan liberal organ Partai Liberal Jerman. Dalam forum itulah kami berjuang melawan kemiskinan dalam rangka menegakkan hak-hak asasi manusia, hak-hak ekonomi dan hak-hak sipil. Sebagai Direktur LP3ES saya memegang posisi koordidator di antara LSM-LSM Indonesia maupun Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dari forum-forum itulah maka Gus Dur mengembangkan peranannya sebagai intelektual organik, meminjam istilah Gramsci.

Saya mulai berseberangan dengan Gus Dur ketika ia mulai memainkan peranannya sebagai politisi. Di sini saya melihat Gus Dur dalam kepribadian ganda. Di satu pihak ia meletakkan posisinya sebagai budayawan dan cendekiawan organik, tetapi di lain pihak ia memerankan diri sebagai shrewd politician. Perseteruan itu mulai serius ketika ia menantang dan mengkritik pendirian ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang saya adalah salah seorang pendirinya yang paling awal bersama 4 orang mahasiswa fakultas teknik Universitas Brawijaya dan Bang Imad (Immaduddin Abdurrahim).

Saya sangat tersinggung ketika ia menuduh ICMI sebagai organisasi sektarian, padahal saya merasakan justru, secara politis, Gus Dur-lah yang sangat sectarian NU. Ia menyusup ke mana-mana dan menempatkan orang-orang NU dalam berbagai organisasi dan pemerintahan dengan kegiatan-kegiatannya sangat berorientasi kepada kepentingan NU. Sementara itu dalam persepsi saya ICMI justru melakukan integrasi, yaitu antara santri dan abangan, orang pemerintah dan masyarakat, ulama dan cendekiawan, dan antara umaro dan ulama. Oleh Pak Habibie saya ditugaskan untuk membina kerukunan dan kerjasama antara organisasi keagamaan. Karena itulah saya secara rutin memimpin diskusi-diskusi tokoh lintas agama dengan meminjam ruang diskusi BKKBN. ICMI juga berusaha mengarusutamakan gerakan Islam dalam pembangunan dan kebangsaan. Pak Habibie sendiri adalah seorang nasionalis pengagum berat Bung Karno.

Perseteruan saya dengan Gus Dur memuncak ketika ia bersama-sama dengan Amien Rais dan Akbar Tandjung berkonspirasi menjatuhkan Pak Habibie dari kursi kepresidenan. Waktu itu saya mendapat informasi bahwa Gus Dur selalu menteror Pak Habibie dan menuduh ICMI sebagai organisasi monster yang sektarian dan anti Kristen. Sementara itu saya sejak SMP sudah banyak bergaul dengan orang-orang Katolik dan Kristen melalui perkumpulan peminat sastra muda. Secara kepribadian saya adalah seorang pluralis. Waktu sekolah di AS, saya ikut giat dalam organisasi kegerejaan Presbiterian dan punya banyak kawan di lingkungan Mormon.

Sejak mahasiswa saya sudah aktif di PP Muhammadiyah di Yogyakarta bersama Syafii Ma’arif. Namun demikian saya bergaul akrab dengan orang-orang Ahmadiyah dan banyak membaca literatur Ahmadiyah. Agaknya yang mempertemukan kembali saya dan Gus Dur adalah sikap terhadap Ahmadiyah. Ternyata Gus Dur juga menjadi pembela Ahmadiyah ketika komunitas ini dianiaya. Saya kemudian juga membela umat Kristen dari penganiayaan orang-orang Islam. Saya sendiri sama sekali tidak ragu dalam membela umat Kristen yang rumah ibadahnya banyak diserang. Gus Dur ternyata juga sudah lama membela umat Kristen dan kelompok minoritas. Dari situlah saya mulai merenung kembali jejak langkah Gus Dur yang tampak di mata saya tidak konsisten dan bagi banyak orang membingungkan.

Sekarang ini timbul jawaban, pemikiran Gus Dur itu visioner melampaui zamannya, sehingga tidak mudah dipahami. Saya sendiri berusaha mencari jawaban mengenai tiga hal. Pertama, mengapa Gus Dur menuduh kelompok lain sektarian, sementara ia sendiri sangat menonjolkan identitastnya sebagai orang NU? Kedua, mengapa ia begitu kuat membangun NU sebagai kekuatan politik, dengan mendhikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), sementara itu menggiring NU kembali kepada khittah-nya sebagai organisasi sosial keagamaan dalam kerangka civil society? Ketiga, mengapa mencitrakan dirinya sebagai budayawan dan cendekiawan, tetapi dalam realitas ia memainkan peranannya sebagai insan politik dan begitu berambisi menjadi presiden RI?

Pertama, Gus Dur memang sangat menonjolkan identitas NU dalam arena pergaulan kemasyarakatan dankeagamaan, tetapi ia memperhatikan dart menghargai identitas kelompok lain dari agama lain. Bayangkan jika Gus Dur hanya menonjolkan pluralisrne dan multikulturalisme, maka ia akan terkena tuduhan yang berdasarkan fatwa MUI, bahwa pluralisrne itu merupakan sikap yang memandang semua agama itu sama, dan karena itu agama akan kehilangan identitasnya. Tetapi, ia pun tampak tidak suka dengan penonjolan identitas keislaman, karena akan rawan terhadap tuduhan fanatisme dan sektarianisme. Sehingga, ia iebih mernilih menonjolkan ke-NU-an sebagai salah satu saja dari simbol keislaman dalam konteks kebudayaan dan kemajemukan. Ikhtiar tersebut ia lakukan supaya tidak dituduh mengklaim monopoli keislaman. Karena itu, di lain pihak ia juga mengajak hargai kelompok lain, baik di lingkungan Islam maupun di luar Islam.

Gus Dur juga membesarkan NU dengan pengaruh kuat, karena dengan itu ia akan memperoleh dukungan dari kalangannya sendiri. Dengan kuatnya NU, maka ia bisa menjadi kekuatan pendobrak, melakukan terobosan terobosan dan mengambil sikap yang bisa kontroversi misalnya ketika ia atas nama NU meminta maaf atas Peristiwa pembunuhan besar-besaran terhadap warga PKI dan mereka yang dituduh PKI, di mana warga NU punya peranan besar.

Kedua, Gus Dur memang pelopor kembali kepada khittah dalam Muktamar NU Situbondo 1984. Langkah ini memang diperlukan agar NU tetap bisa menjaga jati dirinya dan tidak terombang-ambing oleh godaan politik, sehingga NU tetap akan menjadi orginasi sosial-keagamaan di arena civil society. Namun dalam perjalanan sejarahnya, NU juga merupakan komunitas yang memiliki aspirasi politik. Agar aspirasi ini tidak mengganggu NU-di masa lalu banyak kiai yang meninggalkan pesantren karena aktif di bidang politik-maka oleh Gus Dur disalurkannya melalui suatu wadah partai politik. Selain itu, ia juga ingin menunjukkan bahwa PKB merupakan partai terbuka dan bukan penganut ideologi Islamisme yang mencita-citakan Negara Islam dan ingin memberlakukan hukum agama sebagai hukum positif.

Ketiga, Gus Dur memang menginginkan kekuasaan politik. Sebab dengan kekuasaan politik ia bisa berbuat banyak, misalnya mengambil keputusan untuk mengakui Kong Hu Cu sebagai agama dan menjamin hak dan kebebasan mereka menjalankan ajarannya. Jika mereka tidak diakui sebagai agama, misalnya sebagai aliran kepercayaan atau filsafat, maka orang-orang Tionghoa bisa meninggalkan agama leluhumya dan terpaksa masuk agama lain. Dengan kekuasaan politik yang dia punyai, Gus Dur dapat menjalankan politik multikulturalisme. Jika ia memegang kekuasaan, maka kejadian yang menimpa Ahmadiyah, komunitas Eden, atau penutupan rumah-rumah ibadah umat Kristen tidak akan terjadi. Dengan kekuasaannya ia juga bisa mendobrak TNI melakukan reformasi internal. Ia bahkan berani mengeluarkan dekrit pembubaran parlemen walaupun tindakan ini menjadi sebab kejatuhannya karena dianggap melanggar konstitusi, tetapi ia menuduh balik bahwa justru penjatuhannya itu justru yang melanggar konstitusi.

Sebenarnya saya sudah tidak lagi berseteru dengan Gus Dur sejak ia membela Ahmadiyah dan umat Kristen yang teraniaya. Saya juga mengakui sisi positif kepemimpinan Gus Dur dengan menyaksikan perkembangan NU dan lahirnya generasi muda NU progresif seperti Ulil Abshar-Abdalla, A Moqsith Ghazali, Zuhairi Misrawi, M. Guntur Romli, Kiai muda Maman Imanulhaq Faqieh, dan lainnya yang tampil berani dengan mengusung symbol liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Mereka itu saya pandang sebagai Gus Dur-Gus Dur muda yang mewarisi dan meneruskan perjuangan Gus Dur.

Saya mengakui Gus Dur sebagai seorang pembaru pemikiran dalam Islam, selain Cak Nur. Dan saya sudah merumuskan 10 poin pemikiran Gus Dur mengenai Islam dan kebangsaan sebagai dasar alasan saya menganggapnya sebagai orang yang memiliki konsep mengenai pemikiran Islam dan kenegaraaan serta kemasyarakatan.

Saya menyatakan perubahan sikap saya itu ketika saya diminta untuk memberi sambutan dalam acara Ulang Tahun Gus Dur di Ciganjur. Saya juga menyatakan bahwa saya memahami mengapa sebagian generasi muda NU menganggap Gus Dur sebagai seorang wali.

Namun saya memiliki kriteria tersendiri mengenai siapa di antara pemimpin Muslim yang dapat disebut wali. Pertama, orang banyak merasakan bahwa kehadirannya membawa rahmat atau kasih sayang kepada sesama manusia dan makhluk Tuhan. Kedua, orang lain bisa melihai bahwa dirinya adalah wali, orang yang dikasihi Tuhan. Sedangkan kasih Tuhan itu tampak pada kasih orang banyak kepada orang itu. Ketiga, terdapat kesepakatan umat Islam maupun penganut agama lainyang mengakui bahwa ia adalah seorang pemimpin atau guru bangsa. Penilaian itu tentu berbeda dari satu orang ke orang lain. Tetapi tanda seorang wali adalah bila itu diperolehnya dari hampir semua orang.

Mengenai anggapan bahwa Gus Dur adalah seorang wali, saya mendapat informasi bahwa Gus Dur sangat marah mendengar orang menganggap dirinya sebagai seorang wali, sejajar dengan Walisongo. Ia tidak menyetujui sikap kultus terhadap seseorang, sekalipun kepada orang besar atau dirinya sendiri. Walau bagaimanapun juga, tetap saja ada yang menganggap Gus Dur sebagai wali, misalnya orang dekat Gus Dur sendiri, Gus Nuril, seorang kiai sekaligus pendekar pluralis yang sedang mengembangkan pesantren antaragama.

Ketika Gus Dur meninggal, pemerintah memutuskan hari berkabung dengan mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari. Selama tujuh hari itu pula berbagai pesantren menyelanggarakan tahlilan dengan pengunjung puluhan ribu orang. Selama tujuh hari tidak habis-habisnya pemberitaan mengenai dan keistimewaan Gus Dur sebagai pendekar ‘hak-hak asasi manusia, dan pluralisme.

Mungkin di masa mendatang akan lahir tradisi haul Gus Dur setiap tahun di akhir tahun, dengan pengajian akbar memperingati Gus Dur yang dihadiri oleh anggota masyarakat dan para pemimpin dari semua kalangan yang berbeda agama dan kepercayaan. Ini akan menunjukkan kecintaan umat dan rakyat kepada Gus Dur yang merupakan tanda-tanda kasih Tuhan kepada Gus Dur. Di sini bisa terbukti sendiri bahwa Gus Dur adalah seorang wali Tuhan, seorang yang sangat dikasihi Tuhan. Semua orang akan memanggil dia “ya habibi” Vox Populi Vox Dei, suara rakyat suara Tuhan. (*)

Jakarta, 15 Januari 2010

*) Tulisan ini ditulis M Dawam Rahardjo, pernah dimuat di harian Kompas pada 2010. Ditayangkan kembali oleh redaksi sebagai upaya mengenangkan dan ucapan selamat jalan atas wafatnya guru bangsa M Dawam Rahardjo pada Rabu (30/5/2018).

Continue Reading

Editor's Choice

Soekarno: Laki-laki dan Perempuan

mm

Published

on

Allah telah berfirman, bahwa Ia membuat segala hal berpasang-pasangan. Firman ini tertulis dalam surat Yasin ayat 36:”Mahamulialah surat Az-Zukhruf ayat 12: “Dan Dia yang menjadikan segala hal berpasang-pasangan dan membuat bagimu perahu-perahu dan ternak, yang kamu tunggangi”; dalam surat Adz-Dzariyat ayat 49: “Dan dari tiap-tiap barang kita membuat pasang-pasangan agar supaya kamu ingat.” Perhatikan: Segala barang, segala hal! Jadi bukan saja manusia berpasang-pasangan, bukan saja kita ada lelakinya dan ada wanitanya. Binatang ada jantannya, bunga-bunga pun ada lelakinya dan perempuannya, alam ada malamnya dan siangnya, barang-barang ada kohesinya dan adhesinya, tenaga-tenaga ada aksinya dan reaksinya, elektron-elektron ada positifnya dan negatifnya, segala kedudukan ada tese dan antitesenya. Ilmu yang maha-hebat, yang maha-mengagumkan ini telah keluar dari mulutnya Muhammad S.A.W. di tengah-tengah padang pasir, beratus-ratus tahun sebelum di Eropa ada maha-guru-maha-guru sebagai Maxwel Pharaday, Nicola Tesla, Descartes, Hegel, Spencer, atau William Thompson. Maha-bijaksanalah mulut yang mengikrarkan perkataan-perkataan itu, maha-hikmalah isi yang tercantum di dalam perkataan-perkataan itu! Sebab di dalam beberapa perkatan itu saja termaktublah segala sifat dan hakekatnya alam!

Alam membuat manusia berpasang-pasangan. Laki-laki tak dapat ada jika tak ada perempuan, perempuan tak dapat ada jika tak ada laki-laki. Laki-laki tak dapat hidup normal dan subur jika tak dengan perempuan, perempuan tak dapat hidup normal dan subur jika tak dengan laki-laki. Olive Schreiner, seorang idealis perempuan bangsa Eropa. Di dalam bukunya “Drie dromen in de Woestijn,” pernah memperlambangkan lelaki dan perempuan itu sebagai dua mahkluk yang terikat satu kepada yang lain oleh satu tali-gaib, satu “tali-hidup,” – begitu terikat yang satu dengan yang lain, sehingga yang satu tak dapat mendahului selangkah pun kepada yang lain, tak dapat maju setapak pun dengan tidak membawa juga kepada yang lain. Olive Schreiner adalah benar: memang begitulah keadaan manusia! Bukan saja laki dan perempuan tak dapat terpisah satu dari pada yang lain, tetapi juga tiada masyarakat manusia satu pun dapat berkemajuan, kalau laki-perempuan yang satu tidak membawa yang lain. Karenanya, janganlah masyarakat laki-laki mengira, bahwa ia dapat maju dan subur, kalau tidak dibarengi oleh kemajuan masyarakat perempuan pula.

Janganlah laki-laki mengira, bahwa bisa ditanam sesuatu kultura yang sewajar-wajarnya kultur, kalau perempuan dihinakan di dalam kultur itu. Setengah ahli tarih menetapkan, bahwa kultur Yunani jatuh, karena perempuan dihinakan di dalam kultur Yunani itu. Bnazi-Jerman jatuh, oleh karena di Nazi-Jerman perempuan dianggap hanya baik buat Kirche-Kuche-Kleider-Kinder. Dan semenjak kultur masyarakat Islam (bukan agama Islam!) kurang menempatkan kaum perempuan pula ditempatnya yang seharusnya, maka matahari kultur Islam terbenam, sedikit-sedikitnya suram!

Sesungguhnya benarlah perkataan Charles Fourrier kalau ia mengatakan, bahwa tinggi-rendahnya tingkat kemajuan sesuatu masyarakat, adalah ditetapkan oleh tinggi-rendahnya tingkat-kedudukan perempuan di dalam masyarakat itu. Atau, benarlah pula perkataan Baba Olllah, yang menulis, bahwa “laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung.” Jika sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai puncak udara yang setinggi-tingginya; jika satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.

Perkataan Baba O’lllah ini sudah sering kali kita baca. Tetapi walaupun perkataanya itu hampir basis, – kebenarannya akan tinggal ada, buat selama-lamanya.

Jadi: laki-laki dan perempuan menetapkan sifat-hakekatnya masing-masing. Tali-hidup yang ditamsilkan oleh Olive Schreiner itu, bukanlah tali-hidup sosial saja, bukan tali-hidup yang karena bersatu-rumah atau bersatu-piring nasi saja. Lebih asli daripada pertalian perumahan-yang-satu dan piring-nasi-yang-satu, adalah talihidupnya kodrat alam sendiri. Tali-hidup “sekse!” Laki-laki tak dapat subur jika tak ada tali-sekse ini, perempuan pun tak dapat subur jika tak ada tali sekse ini. Dan bukan tali-sekse yang tali-seksenya fungsi biologis saja, tapi juga tali-seksenya jiwa. Tiap-tiap sundal yang setiap hari barang kali menjual tubuhnya lima atau sepuluh kali, mengetahui, bahwa “tubuh” masih lain daripada “jiwa”. Dengan menjual tubuh yang sampai sekian kali setiap hari hari itu, masih banyak sekali sundal yang dahaga kepada cinta. Tali-sekse jasmani dan tali sekse rohani, – itulah satu bagian dari “tali-hidup” yang dimaksukan oleh Olive Schreiner, yang mempertalikan laki-laki dan perempuan itu. Memang tali-sekse jasmani dan rohani inilah kodrat tiap-tiap makhluk, dus juga kodrat tiap-tiap manusia. Manakala tali-sekse rohani dihilangkan dan hanya tali-sekse jasmani saja yang dipuaskan, maka tidak puaslah kodrat alam itu. Pada permulaan diadakan kultur-baru di sovyet-Rusia, maka ekses perhubungan anatara laki-laki dan perempuan adalah keliwat. “Tali-sekse” dianggap sebagai suatu keperluan tubuh saja, sebagai misalnya tubuh perlu kepada segelas air kalau tubuh itu dahaga. “teori air segelas” ini di tahun-tahun yang mula-mula sangat laku di kalangan pemuda-pemuda di Rusia. Madame Kollontay menjadi salah seorang penganjurnya. Siapa merasa dahaga seksuil, ia mengambil air yang segelas itu, – “habis minum,” sudahlah pula. Beberapa tahun lamanya teori air segelas ini laku. Tetapi kemudian … kemudian kondrat alam bicara. Kodrat alam tidak puas dengan segelas air saja, kodrat alam minta pada minuman jiwa. Kodrat alam minta “cinta” uang lebih memuaskan “cita,” “cinta” yang lebih suci. Lenin sendiri gasak teori air segelas ini habis-habisan dari semulanya ia muncul. Dan sekarang orang di sana telah meninggalkan sama sekali teori itu, orang telah mendapat pengalaman bahwa Alam tak dapat didurhakakan oleh suatu teori.

Semua ahli-ahli filsafat dan ahli biologi seia-sekata bahwa tali-sekse itu adalah salah satu faktor yang terpenting, salah satu motor yang terpenting dari perikehidupan manusia. Di sampingnya nafsu makan dan minum, ia adalah motor yang kuat. Di samping nafsu makan dan minum, ia menentukan perikehidupan manusia. Malahan ahli filsafat Schopenhauer ada berkata: “Syahwat adalah penjelmaan yang paling keras dariapda kemauan akan hidup. Keinsyafan kemauan-akan-hidup ini memusatkan kepada fi’il membuat turunan,” begitulah ia berkata.

Kalau tali-sekse diputuskan buat beberapa tahun saja, maka manusia umumnya menjadi abnormal. Lihatlah keadaan di dalam penjara, baik penjara buat orang laki-laki, maupun penjara buat orang perempuan. Dua kali saya pernah meringkuk agak lama dalam penjara, dan tiap-tiap kali yang paling mendirikan bulu saya ialah ke-abnormalan manusia-manusia di dalam penjara, yang seperti seperempat gila! Laki-laki mencari kepuasan kepada laki-laki dan direksi terpaksa memberi hukuman yang berat-berat.

Pembaca barangkali tersenyum akan pemandangan saya yang “mentah” ini, dan barangkali malahan menyesali kementahannya. Nabi Isa, nama Gandhi, nama Mazzini, yang menjadi besar, antara lain karena tidak mempunyai isteri atau tidak mencampuri isteri. Ah, … beberapa nama! Apakah artinya beberapa nama itu, jika dibandingkan dengan ratusan juta manusia biasa di muka bumi ini, yang semuanya hidup menurut kodrat alam? Kita di sini membicarakan kodrat alam, kita tidak membawa-bawa moral. Alam tidak mengenal moral, – begitulah Luther berkata. Beliau berkata lagi: “siapa hendak menghalangi perlaki-isterian, dan tidak mau memberikan haknya kepadanya, sebagai yang dihendaki dan dimustikan oleh alam, – ia sama saja dengan menghendaki yang alam jangan alam, yang api jangan menyala, yang air jangan basah, yang manusia jangan makan, jangan minum, jangan tidur!” Tali-sekse itu adalah menurut kodrat, sebagai lapar adalah menurut kodrat, dan sebagai dahaga adalah menurut kodrat pula!

Apakah maksud saya dengan uraian tentang tali-sekse in? Pembaca, nyatalah bahwa baik laki-laki, maupun perempuan tak dapat normal, tak dapat hidup sebagai manusia normal, kalau tidak ada tali-sekse ini. Tetapi bagaimanakah pergaulan hidup di zaman sekarang ini? Masyarakat sekarang di dalam ini pun, – kita belum membicarakan hal lain-lain! – tidak adil kepada perempuan. Perempuan di dalam hal ini pun suatu makhluk yang tertindas. Perempuan bukan saja makhluk yang tertindas kemasyarakatannya, tetapi juga makhluk yang tertindas ke-sekse-annya. Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat, yang membuat permungkinan. Pencaharian nafkah, – struggle for life – di dalam masyarakat sekarang adalah begitu berat, sehingga banyak pemuda karena kekurangan nafkah tak berani kawin, dan tak dapat kawin. Perkawinan hanyalah menjadi privilegenya (hak lebihnya) pemuda-pemuda yang ada kemampuan rezeki saja. Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh. Kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun. Pada waktu ke-sekse-an sedang sekeras-kerasnya. Pada waktu ke-sekse-an itu menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak-puncaknya jiwa, maka perkawinan buat sebagian dari kemanusiaan adalah suatu kesukaran, suatu hal yang tak mungkin. Tetapi … api yang menyala-nyala di dalam jiwa laki-laki dapat mencari jalan keluar, – melewati satu “pintu belakang” yang hina -, menuju kepada perzinahan dengan sundal dan perbuatan-perbuatan lain-lain yang keji-keji. Dunia biasanya tidak akan menunjuk laki-laki yang demikian dengan jari tunjuk, dan berkata: cih, engkau telah berbuat dosa yang amat besar! Dunia akan anggap hal itu sebagai satu “hal biasa,” yang “boleh juga diampuni.” Tetapi bagi perempuan “pintu belakang” ini tidak ada, atau lebih benar: tidak dapat dibuka, dengan tak (alhamdulillah) bertabrakan dengan moral, dengan tak berhantaman dengan kesusilaan, – dengan tak meninggalkan cap-kehinaan di atas ahi perempuan itu buat selama-lamanya. Jari-tunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja, tidak menunjuk kepada laki-laki, tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Keseksean laki-laki setiap waktu dapat merebut haknya dengan leluasa, – kendati masyarakat tak memudahkan perkawinan -, tetapi keseksean kalbu. Perempuan banyak yang menjadi “terpelanting mizan” oleh karenanya, banyak yang menjadi putus asa, oleh karenanya. Bunuhdiri kadang-kadang menjadi ujungnya. Statistik Eropa menunjukkan, bahwa di kalangan kaum pemuda, antara umur 15 tahun dan 30 tahun, yakni waktu keseksean sedang sehebat-hebatnya mengamuk di kalbu manusia, lebih banyak perempuan yang bunuh diri, daripada kaum laki-laki. Jikalau diambil prosen dari semua pembunuhan-diri, maka buat empat negeri di Eropa pada permulaan abad ke 20, statistik itu adalah begini:

 

 

Nama Negeri

Umur 15-20 tahun Umur 21-30 tahun
Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan
Jerman

Denemarken

Suis

Prancis

5,3%

4,6%

3,3%

3,5%

10,7%

8,3%

6,7%

8,2%

16%

12,4%

16,1%

10,9%

20,2%

14,8%

21%

14%

 

Ternyatalah, bahwa di semua negeri ini lebih banyak perempuan muda bunuh diri daripada laki-laki muda. Sebabnya! Sebabnya tak sukar kita dapatkan. Keseksean yang terhalang, cinta yang tak sampai, kehamilan yang rahasia, itulah biasanya yang menjadi sebab.

Adakah keadaan di negeri kita berlainan! Di sini tidak ada statistik bunuh-diri, tapi saya jaminkan kepada tuan; enam atau tujuh daripada sepuluh kali tuan membaca kabar seorang pemuda bunuh-diri di surat-surat kabar, adalah dikerjakan oleh pemuda perempuan. Di dalam masyarakat sekarang, perempuan yang mau hidup menurut kodrat alam tak selamanya dapat, karena masyarakat itu tak mengasih kemungkinannya. Di beberapa tempat di Sumatera Selatan saya melihat “gadis-gadis tua,” yang tak dapat perjodohan, karena adat memasang banyak-banyak rintangan, misalnya uang-antaran yang selalu terlalu mahal, kadang-kadang sampai ribuan rupiah. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25 tahun, 30 tahun, 35 tahun. Di daerah Indonesia yang lain-lain, saya melihat perempuan-perempuan yang sudah berumur 40 atau 45 tahun, tetapi yang roman-mukanya masih seperti muda-muda. Adakah ini oleh karena perempuan-perempuan di lain-lain tempat itu barangkali lebih cakap: make-up”-nya daripada perempuan di beberapa tempat di Sumatera Selatan itu? Lebih cakap memakai bedak, menyisir rambut, memotong baju, mengikatkan sarung? Tidak, sebab perempuan di tempat-tempat yang sama maksudkan itu pun tahu betul rahasianya bedak, menyisir rambut, memotong baju dan mengikatkan kain. Tetapi sebabnya “muka tua”, – tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alam. Di dalam bukunya tentang soal-perempuan, August Bebel mengutip perkataan Dr. H. Plosz yang mengatakan, bahwa sering ia melihat, betapa perempuan-perempuan yang sudah hampir peyot lantas seakan-akan menjadi muda kembali, kalau mereka itu mendapat suami. “Tidak jarang orang melihat bahwa gadis-gadis yang sudah layu atau yang hampir-hampir peyot, kalau mereka mendapat kesempatan bersuami, tidak lama sesudah perkawinannya itu lantas menjadi sedap kembali bentuk-bentuk badannya, merah kembali pipinya, bersinar lagi sorot matanya. Maka oleh karena itu, perkawinan boleh dinamakan sumber-kemudahan yang sejati bagi kaum perempuan,” begitulah kata Dr. Plosz itu.

Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali strugle for life bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara lain laki-laki dan perempuan. Alangkah baiknya suatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah! Orang pernah tanya kepada saya “Bagaimanakah rupanya masyarakat yang tuan cita-citakan?” Saya menjwab: “Di dalam masyarakat yang saya cita-citakan itu, tiap-tiap orang lelaki bisa mendapat isteri, tiap-tiap orang perempuan bisa mendapat suami.” Ini terdengarnya mentah sekali, tuan barangkali akan tertawa atau mengangkat pundak tuan, tetapi renungkanlah hal itu sebentar dengan mengingat keterangan saya di atas tadi, dan kemudian katakanlah, apa saya tidak benar? Di dalam masyarakat yang struggle for life tidak seberat sekarang ini, dan dimana pernikahan selalu mungkin, di dalam masyarakat yang demikian itu, niscaya persundalan boleh dikatakan lenyap, prostitusi menjadi “luar biasa” dan bukan satu kanker sosial permanen yang banyak korbannya. Professor Rudolf Eisler di dalam buku-kecilnya tentang sosiologi pernah menulis tentang persundalan ini: “Keadaan sekarang ini hanyalah dapat menjadi baik kalau perikehidupan ekonomi menjadi baik, dan mengasih kesempatan kepada laki-laki akan menikah pada umur yang lebih muda, dan mengasih kepada perempuan-perempuan yang tidak nikah, buat mencari nafkah Sonder pencaharian-pencaharian-tambahan yang merusak kehormatan.”

Pendek-kata: pada hakekatnya yang sedalam-dalamnya, soal perhubungan antar laki-laki dan perempuan, jadi sebagian daripada “soal perempuan” pula, bolehlah kita kembalikan kepada pokok yang saya sebutkan tadi: yakni soal dapat atau tidak dapat haknya keseksean, soal dapat atau tidak dapat alam bertindak sebagai alam. Di mana alam ini mendapat kesukaran, di mana alam ini dikurangi haknya, di situlah soal ini menjadi genting. Saya tidak ingin kebiadaban, saya tidak ingin tiap-tiap manusia mengumbar hantam-kromo saja meliwat-bataskan kesekseannya, saya cinta kepada ketertiban dan peraturan, saya cinta kepada hukum, yang mengatur perhubungan laki-perempuan di dalam pernikahan menjadi satu hal yang luhur dan suci, tetapi saya kata, bahwa masyarakat yang sekarang ini di dalam hal ini tidak adil antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki minta haknya menurut kodrat alam, perempuan minta haknya menurut kodranya alam, ditentang haknya menurut kodrat alam ini tidak ada perbedaan antara lelaki dan perempuan. Tetapi, dari masyarakat sekarang, lelaki nyata mendapat hak yang lebih, nyata mendapat kedudukan yang lebih menguntungkan. Sebagai makhluk-perseksean, sebagai geslacbtswezen,  perempuan nyata terjepit, sebagaimana ia sebagai makhluk masyarakat atau makhluksosial juga terjepit. Laki-laki hanya terjepit sebagai makhluk sosial saja di dalam masyarakat ini, tapi perempuan adalah terjepit sebagai makhluk-sosial dan sebagai makhluk perseksean.

Alangkah baiknya masyarakat yang sama adil di dalam hal ini. Yang sama adil pula di dalam segala hal yang lain-lain. Saya akui, adalah perbedaan yang frundamentil antara lelaki dan perempuan. Perempuan tidak sama dengan laki-laki, laki-laki tidak sama dengan perempuan. Itu tiap-tiap hidung mengetahuinya. Lihatlah perbedaan antara tubuh perempuan dengan laki-laki, anggota-anggota lainnya, susunan anggotanya lain, fungsi-fungsi anggotanya (pekerjaannya) lain. Tetapi perbedaan bentuk tubuh dan susunan tubuh ini hanyalah untuk kesempurnaan tercapainya tujuan alam ini, maka alam mengasih anggota-anggota tubuh yang spesial untuk fungsi masing-masing. Dan hanya untuk kesempurnaan tercapainya tujuan kodrat alam ini, alam mengasih fungsi dan alat-alat ke-“lelaki-lakian” kepada perempuan. Buat laki-laki: memberi zat anak; buat perempuan: menerima zat anak, mengandung anak, melahirkan anak, menyusui anak, memelihara anak. Tetapi tidaklah perbedaan-perbedaan ini harus membawa perbedaan-perbedaan pula di dalam perikehidupan perempuan dan laki-laki sebagai makhluk-masyarakat.

Sekali lagi: ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Tetapi sekali lagi pula saya ulangi di sini, bahwa perbedaan-perbedaan itu hanyalah karena dan untuk tujuan kodrat alam, yakni hanyalah karena dan untuk tujuan perlaki-isterian dan peribuan saja. Dan sebagai tadi saya katakan, kecuali perbedaan tubuh, untuk hal ini adalah perbedaan psikis pula antara laki-laki dan perempuan yakni perbedaan jiwa. Professor Heymans, itu ahli jiwa yang kesohor, yang mempelajari jiwa-perempuan dalam-dalam, mengatakan, bahwa perempuan itu, untuk terlaksananya tujuan kodrat alam itu, adalah melebihi laki-laki di lapangan “emotionaliteit” (rasa terharu), “activiteit” (kegiatan), dan “chariteit” (kedermawanan). Perempuan lebih lekas tergoyang jiwanya daripada laki-laki, lebih lekas marah tetapi juga lebih lekas cinta-lagi daripada laki-laki, lebih lekas kasihan, lebih lekas “termakan” oleh kepercayaan, lebih ikhlas dan kurang serakah, lebih lekas terharu, lebih lekas mengidealisirkan orang lain, lebih boleh dipercaya, lebih gemar kepada anak-anak dan perhiasan, dan lain sebagainya. Semuanya ini mengenai jiwa. Tetapi anggapan orang, bahwa perempuan itu akalnya kalah dengan laki-laki, anggapan orang demikian itu dibantah oleh Professor Heymans itu dengan tegas dan jitu: “Menurut pendapat saya, kita tidak mempunyai hak sedikit pun buat mengatakan, bahwa akal perempuan kalah dengan akal laki-laki.”

Tiap-tiap guru dapat membenarkan perkataan Professor Heymans ini. Saya sendiri waktu menjadi murid di H.B.S. mengalami, bahwa seringkali murid lelaki “payah” berlomba-kepandaian dengan teman-teman perempuan dan malahan pula sering-sering “terpaku;” oleh teman-teman perempuan itu. Pada waktu saya menjadi guru di sekolah menengah pun saya mendapat pengalaman, bahwa murid-murid saya yang perempuan umumnya tak kalah dengan murid-murid saya yang laki-laki. Professor Freundlich, itu tangan-kanannya Professor Einstein di dalam ilmu bintang yang maha-guru di sekolah tnggi Istambul di dalam mata pelajaran itu kalah dengan studen-studen laki-laki. “Mereka selamanya boleh diajak memutarkan otaknya di atas soal—soal yang maha-sukar.” Professor O’Conroy yang dulu menjadi mahaguru di Keio Universiteit di Tokyo, menceritakan di dalam bukunya tentang negeri Nippon, bahwa di Nippon selalu diadakan ujian-ujian-perbandingan (vergelijkende excamens) antara lelaki dan perempuan oleh kantor-kantor-gubermen atau kantor-kantor-dagang yang besar-besar, dan bahwa selamanya kaum perempuan nyata lebih unggul daripada kaum laki-laki.

Ada-ada saja alasan orang cari buat “membuktikan,” bahwa kaum perempuan “tak mungkin” menyamai (jangan lagi melebihi) kaum perempuan kalah banyaknya dengan otak. Orang katakan, bahwa otak perempuan kalah banyaknya dengan otak laki-laki! Orang lantas keluarkan angka-angka hasil penyelidikan ahli-ahli, seperti Bischoff, seperti Boyd, seperti Marchand, seperti Retzius, seperti Grosser. Orang lantas membuat daftar sebagai dibawah ini:

Berat otak rata-rata:

Menurut Penyelidikan

Laki-laki

Perempuan
Bischoff

Boyd

Marchand

Retzius

Grossser

1362 gr

1325 gr

1399 gr

1388 gr

1388 gr

1219 gr

1183 gr

1248 gr

1252 gr

1252 gr

            Nah, kata mereka, mau apa lagi? Kalau ambil angka-angka Retzius dan Grosser, maka otak laki-laki rata-rata beratnya 1388 gram, dan otak perempuan rata-rata 1252 gram! Mau apa lagi? Tidakkah ternyata laki-laki lebih banyak otaknya daripada perempuan?

            Ini jago-jago kaum laki-laki lupa, bahwa tubuh laki-laki juga lebih berat dan lebih besar daripada tubuh perempuan! Berhubungan dengan lebih besarnya tubuh laki-laki itu, maka Charles Darwin yang termasyur itu berkata: “Otak laki-laki memang lebih banyak dari otak perempuan. Tetapi, jika dihitung dalam bandingan dengan lebih besarnya badan laki-laki, apakah otak laki-laki itu benar lebih besar?” Kalau dihitung di dalam perbandingan dengan beratnya tubuh, maka ternyatalah (demikianlah dihitung) bahwa otak perempuan adalah rata-rata 23,6 gr, per kg tubuh, tetapi otak laki-laki hanya … 21,6 gram per kg tubuh! Jadi kalau betul ketajaman akal itu tergantung dari banyak atau sedikitnya otak, kalau betul banyak-sedikitnya otak menjadi ukuran buat tajam atau tidak tajamnya pikiran maka perempuan musti selalu lebih pandai dari kaum laki-laki!

            Ya, kalau betul ketajaman akal tergantung dari banyak-sedikitnya otak! Tetapi bagaimana kenyataan? Bagaimana hasil penyelidikan otaknya orang-orang yang termasyur sesudah mereka mati? Ada ahli-ahli pikir yang banyak otaknya, tetapi ada pula harimau-harimau pikir yang tidak begitu banyak otaknya! Cuvier, itu ahli-pikir, otaknya 1830 gr. Byron itu penyair-besar, 1807 gr, Mommsen 1429,4 gr, ahli-falsafah Herman hanya 1358 gr, (di bawah “normal!”), gajah falsafah dan ilmu hitung Leibniz hanya 1300 gr, (dibawah “normal!”) jago fisika Bunsen hanya 1295 gr (di bawah “nomor!”), kampiun politik Prancis Gambetta hanya 1180 gr (malahan di bawah “nomor perempuan” sama sekali!). Sebaliknya Broca, itu ahli fisiologi Paris yang termasyur pernah mengukur isi tengkorak-tengkorak manusia dari Zaman Batu, – dari zaman tatkala manusia masih biadab dan bodoh! – dan ia mendapat hasil rata-rata 1606 cm3, satu angka yang jauh lebih tinggi daripada angka-angka isi tengkorak dari zaman sekarang. Malahan teori “lebih banyak otak lebih pandai” ini ternyata pula menggelikan, sebab Bischoff pernah menimbang otak mayat seorang kuli biasa, – tentu seorang yang bodoh! – dan ia mendapat record 2222 gr!, sedang Kohlbrugge berkata, bahwa “otak orang-orang yang gila atau idiot sering sekali sangat berat!” Dari mana orang masih mau tetap menuduh bahwa orang perempuan kurang tajam pikiran, karena orang perempuan kurang banyak otaknya kalau dibandingkan dengan orang laki-laki?

            Tidak “alasan otak” ini adalah alasan kosong. “Alasan otak” ini sudah lama dibantah, dihantam, dibinaskan oleh ilmu pengetahuan! Bebel di dalam bukunya mengumpulkan ucapan-ucapan ahli wetenschap tentang “alasan otak” ini. Raymond Pearl berkata: “Tidak da satu buku, bahwa antara ketajaman akal dan beratnya otak ada perhubungan satu dengan yang lain;” dan Kohlbrugge menulis pula: “antara ketajaman akal dan beratnya otak tidak ada pertalian apa-apa.” Dan tidakkah ada cukup bukti, bahwa perempuan sama tajam pikirannya dengan kaum laki-laki, sebagai dikatakan oleh Prof. Hemans, Prof, Freundlich, Prof. O’Conroy itu tadi, dan boleh ditambah lagi dengan berpuluh-puluh lagi keterangan ahli-ahli lain yang mengakui hal ini, kalau kita mau? Tidakkah kita sering mendengar nama perempuan-perempuan yang menjadi bintang ilmu pengetahuan atau politik, sebagai Madame Curie, Eva Curie, Clara Zetkin, Henriette Roland Holst, Sarojini Naidu, dll?

            Tuan barangkali akan membantah, bahwa jumlah perempuan-perempuan kenamaan itu belum banyak, dan bahwa di dalam masyarakat sekarang kebanyakannya kaum laki-lakilah yang memegang obor ilmu pengetahuan dan falsafah dan politik. Benar sekali, tuan-tuan; Di dalam masyarakat sekarang! Benar sekali: di mana laki-laki mendapat lebih banyak kesempatan buat menggeladi akal-pikirannya, maka kaum laki-lakilah yang kebanyakan menduduki tempat-tempat kemegahan ilmu dan pengetahuan. Di Dalam masyarakat sekarang ini, di mana kaum perempuan banyak yang masih dikurung, banyak yang tidak dikasih kesempatan maju ke muka di lapangan masyarakat, banyak yang baginya diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banyak kaum perempuan yang ilmu dan pengetahuannya membubung ke udara. Tapi ini tidak menjadi bukti bahwa dus kualitas otak perempuan itu kurang dari kualitas otak kaum lelaki, atau ketajaman otak perempuan kalah dengan ketajaman otak laki-laki. Kualitasnya sama, ketajamannya sama, kemampuannya sama, hanya kesempatan-bekerjanya yang tidak sama, kesempatan-berkembangnya tidak sama. Maka oleh karena itu, justru dengan alasan kurang dikasihnya kesempatan oleh masyarakat sekarang kepada kaum perempuan, maka kita wajib berikhtiar membongkar ke-tidak-adilan masyarakat terhadap kaum perempuan itu! (*)

_________________

Soekarno (Bung Karno) Presiden Pertama Republik Indonesia, 1945-1966, menganut ideologis pembangunan ‘berdiri di atas kaki sendiri’. Proklamator yang lahir di Blitar, Jatim, 6 Juni 1901 ini dengan gagah mengejek Amerika Serikat dan negera kapitalis lainnya: “Go to hell with your aid.” Namun, akhirnya ia lebih condong ke Blok Timur yang dikendalikan Uni Soviet dan RRC. Pemimpin Besar Revolusi ini berhasil menggelorakan semangat revolusi bagi bangsanya, serta menjaga keutuhan NKRI. Kendati ia belum berhasil dalam bidang pembangunan ekonomi untuk membawa rakyatnya dalam kehidupan sejahtera, adil makmur. Ideologi pembangunan yang dianut pria yang berasal dari keturunan bangsawan Jawa (Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, suku Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai, Suku Bali), ini bila dilihat dari buku Pioneers in Development, kira-kira condong menganut ideologi pembangunan yang dilahirkan kaum ekonomi kerakyatan. Masa kecil Bung Karno sudah diisi semangat kemandirian. Ia hanya beberapa tahun hidup bersama orang tua di Blitar. Semasa SD hingga tamat, ia tinggal di Surabaya, indekos di rumah Haji Oemar Said Tjokroaminoto, politisi kawakan pendiri Syarikat Islam. Kemudian melanjut di HBS (Hoogere Burger School). Saat belajar di HBS itu ia pun telah menggembleng jiwa nasionalismenya. Selepas lulus HBS tahun 1920, ia pindah ke Bandung dan melanjut ke THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Tekhnik Tinggi yang sekarang menjadi ITB). Ia berhasi meraih gelar “Ir” pada 25 Mei 1926. Kemudian, ia merumuskan ajaran Marhaenisme dan mendirikan PNI (Partai Nasional Indonesia) pada 4 Juli 1927, dengan tujuan Indonesia Merdeka. Akibatnya, pemerintah kolonial Belanda menjebloskannya ke penjara Sukamiskin, Bandung pada 29 Desember 1929. Delapan bulan kemudian baru disidangkan.

            Dalam pembelaannya berujudul Indonesia Menggugat, ia menelanjangi kebusukan Belanda. Pembelaannya itu membuat Belanda makin marah sehingga pada Juli 1930, PNI pun dibubarkan. Setelah bebas (1931), Bung Karno bergabung dengan Partindo dan sekaligus memimpinnya. Akibatnya, ia kembali ditangkap Belanda dan dibuang ke Ende, Flores, tahun 1933. Empat tahun kemudian dipindahkan ke Bengkulu. Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Sebelumnya, ia juga berhasil merumuskan Pancasila yang kemudian menjadi dasar (ideologi) Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berupaya mempersatukan nusantara. Bahkan ia berusaha menghimpun bangsa-bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin degnan Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Non Blok.

Sumber: Dr. I. Sukarno, Kewajiban Wanita dalam Perjuangan Republik Indonesia, Panitia Penerbit Buku-buku Karangan Presiden Sukarno, 1963.

Continue Reading

Classic Prose

Trending