Connect with us
Wanita di Antara Dua Poci Kopi Wanita di Antara Dua Poci Kopi

Cerpen

Wanita di Antara Dua Poci Kopi

mm

Published

on

Oleh Veronica Gabriella*

Ketika kamu memulai cerita tentang ‘rahasia terdalam’-mu, aku menghabiskan poci kopi dengan sekali tegukkan yang penuh sergapan ketakutan. Tanganku bahkan bergetar. Aku tak ingat, tapi kurasakan perutku bergejolak, memuntahkan sesuatu…

Kamu datang terlambat. Selalu paling akhir di antara kita berlima. Seperti biasanya. Kamu kebalikkan dariku yang kerap kali sampai di kafe SepociKopi ini paling awal. Donna, Agnes, dan Miranda sudah duduk melingkari sebuah meja bundar di teras kafe. Donna telat lima menit, Agnes sepuluh menit dan Miranda lima belas menit. Kamu pasti berpikir aku tidak ada kerjaan, menghitung waktu kertelambatan mereka. Tapi, apalah hal berarti yang kita berlima kerjakan pada sebuah klub kebersamaan wanita hamil tanpa suami ini?

Kamu pernah terkekeh pahit mendengar nama klub yang kuberikan secara terang-terangan ini. Kamu bilang, aku menyebut klub ini seakan tidak ada yang gunanya klub ini dibentuk. Tapi bukankah memang begitu? Klub ini hanya menguak luka lama dan aib yang seharusnya dikunci rapat-rapat. Pertemuan di tiap akhir pekan di kafe yang sama, di meja teras kafe yang sama pula, saling bertukar kisah akan bayang lelaki yang meninggalkan kita tanpa kabar. Hanya menyisa malu, beban dan kelebat kelam.

“Maaf aku telat,” ujarmu sembari menyinggahi tatap matamu pada tiap kawan kita dan juga padaku. Ketika kerlingan matamu sampai padaku, kamu tersenyum seolah tak ada cerita suram yang memberat di pundakmu. Kadang aku kagum padamu, ingin selalu sama sepertimu.

Donna, salah satu anggota terlama klub ini dan berumur tiga puluh lima, yang juga mempertemukan kita semua dan sepakat membuat klub ini, mulai memanggil pelayan. Memesankan kita semua sepiring donat manis. Kamu terlihat tidak peduli dengan jenis baby donuts yang dipesan dan dipilih Donna, kamu lebih suka membalas tatap mataku yang memandang lurus ke arahmu; karena kamu duduk tepat di hadapanku.

“Sebelum mulai cerita-ceritanya, aku dengar kandunganmu sempat mengalami kontraksi?” tanya Donna pada Miranda yang tengah memerhatikan tiap lelaki berstelan jas yang keluar-masuk pintu utama kafe. Agnes sampai harus menyenggol lengan Miranda untuk membuat wanita yang hamil lima bulan itu sadar kembali.

“Oh? Ya, benar. Bukan apa-apa, hanya kecapekan,” jawab Miranda tergagap. Kamu menghembuskan nafas panjang, sudah rahasia umum jika sikap Miranda selalu seperti itu. Menampakkan ‘muka pengen’-nya pada tiap lelaki yang bertubuh atletis dan potensial kaya.

“Aku juga baik-baik saja,” celetuk Agnes ketika Donna memutar pandang padanya. Inilah salah satu kebiasaan klub ini, menanyai satu persatu anggotanya tentang kesehatan janin yang dikandungnya, sebelum memulai cerita-cerita. Menurutmu, itu suatu hal yang patut diberi ‘tepuk tangan’. Kamu tahu jikalau aku langsung membantah. Bagaimana janin kita semua bisa dinyatakan baik-baik saja jikalau sehabis ini, kita justru menceritakan kisah-kisah buruk yang menekan kita?

***

Ini sekitar sebulan lalu, ketika kamu baru masuk klub ini. Kala itu, kita sedang masuk sesi menelanjangi masa lampau. Donna sedang bercerita tentang sosok lelaki yang hadir dalam hidupnya, memandikannya dengan air madu lantas meninggalkannya membusuk bersama sengatan lebah.

“Rey adalah lelaki yang romantis. Ia paling tahu cara menyiapkan makan malam romantis di bawah remang rembulan dan nyala lilin. Hingga aku tak bisa menolaknya ketika ia meminta kita berdua tenggelam dalam tubuh malam yang menggoda,” cerita Donna dengan gaya puitisnya. Kamu mendengar Donna dengan diam, sembari menyeruput sepoci kopimu dalam hening. Dan, itu kali pertama aku tahu kamu suka poci kopi.

“Dan, malam-malam manis lewat begitu saja ketika … aku hamil. Hal pertama yang dilakukannya adalah membawaku ke dukun, ‘menghadiahi’ku obat-obat. Sampai akhirnya aku kabur karena tak tahan recokkannya untuk menggugurkan kandunganku ini.”

Pada bagian ini, Donna menangis. Kamu merengkuhnya dalam pelukan.

“Brengsek,” umpat Miranda yang memang paling ‘kasar’ di antara kita. Miranda bahkan sampai melempar puntung tembakaunya ke sembarang arah, tak peduli ada banyak pejalan kaki yang lalu lalang di depan teras kafe.

“Gantian aku yang cerita? Gak banyak yang bisa aku ceritain ke kalian semua. Aku hamil karena perkosaan. Aku bahkan gak inget muka bapak bayi ini. Semuanya gelap, dan … sakit.”

Semuanya diam – termasuk isak kecil Donna tadi. Miranda, yang umurnya paling muda di antara kita berlima; tiga puluh tahun, terasa santai saja ketika mengatakannya. Tak ada ringisan karena luka atau mata berkaca-kaca. Hening sesaat sebelum akhirnya ‘bola pahit’ cerita dipegang Agnes. Agnes yang berumur tiga tujuh, dan paling dewasa, menuturkan kisahnya dengan tenang. Walau kamu bisa melihat jika Agnes sedikit mengontrol tangisnya yang juga ingin pecah.

“Awalnya manis layaknya cerita Donna. Pas aku hamil, lelaki itu bahkan terlihat bahagia dan berjanji untuk menikahiku. Tapi nyatanya, semakin hari lelaki itu semakin sibuk, berkelit tengah mempersiapkan pernikahanku dengannya. Namun, ia justru sedang bersiap libur bersama … istri dan dua anaknya.”

Kita semua menahan nafas; terkesiap. Senja itu terlihat cerah menghinggapi kaki langit, tapi di meja bundar tempat kita melingkarinya, seolah ada awan mendung. Matamu berkaca-kaca. Mungkin bukan hanya kamu, tapi juga kita berlima – dirundung kabut duka akan masa lalu dan dicengkeram habis oleh luka-luka. Rasanya semakin diceritakan, cerita yang diutarakan semakin dirasa basah lukanya.

Kali ini giliranmu. Seluruh pasang mata meluncur ke arahmu. Termasuk aku.

“Aku punya suami. Aku hamil dan bersuami. Tapi, di kandunganku yang berusia tiga bulan, suamiku menghilang. Sampai sekarang, tak tahu ke mana. Hanya itu,” katamu sesekali menunduk. Tapi sudut matamu tak bisa membohongiku, kamu masih melirik ke arahku diam-diam.

“Hampir sama. Aku nikah siri dengan lelaki yang menghamiliku. Kandunganku baru satu setengah bulan ketika lelaki itu pergi meninggalkanku,” ujarku langsung memotong ceritamu begitu saja. Kamu tampak terkejut, tapi langsung mengendalikannya dengan menyeruput sepoci kopi macchiato hangatmu. Tahukah kamu jika kopi tidak terlalu ramah dengan perkembangan janin kita karena kafein yang dikandungnya? Kamu sadar aku ingin memberitahumu tentang fakta itu, tapi aku urung. Aku justru mengikuti kebiasaanmu, bedanya, aku lebih suka sepoci Espresso.

***

Sepiring baby donuts dengan tiga poci cappuccino mampir di meja. Masing-masing untuk Miranda, Donna dan Agnes. Mereka selalu memesan poci kopi yang sama, awalnya kukira kamu juga begitu. Tapi untuk senja ini, tidak. Kamu meminta pelayan membuatkan poci espresso favoritku. Sebagai gantinya, aku pun memesan poci macchiato untukku. Kita seakan saling bertukar poci kopi. Aku hendak tersenyum, tapi sore itu, wajahmu sedikit kaku. Ada semburat tegang di tulang mukamu.

“Aku ke toilet dulu ya,” ujar Donna buru-buru sambil meraih tasnya, masuk ke dalam kafe. Tanpa disadarinya, sebuah plastik yang terselip beberapa lembar foto jatuh dari dalam tasnya. Menggelitik Miranda untuk memungutnya, tapi Donna cepat-cepat menyambarnya. Terjadilah keributan kecil yang membuatmu memasang wajah datar.

“Itu foto apa?” paksa Miranda. Donna menarik plastik itu dengan kasar, Miranda semakin tak mau kalah. Dan, lembar-lembar foto itu pun berterbangan. Potret foto berdarah. Potongan kepala, tangan dan kaki yang telah terpisah dari tubuhnya. Kamu bergidik ngeri, hampir memejamkan mata.

“Puas? Kamu sudah berhasil membuka aibku! Lebih baik kubilang sekarang saja ya. Kamu tak pernah diperkosa. Kamu sendirian sekarang karena tak tahu lelaki mana yang menghamilimu bukan? Karena kamu kerja di tempat remang-remang itu!”

Kamu terperanjat dari bangkumu. Donna menunjuk ke arah Miranda dengan kasar, memberi tatapan jijik layaknya pada seorang pekerja seks yang terjangkit penyakit menular. Miranda menggeram, kamu bisa melihat bagaimana Miranda menerjang Donna dengan liar. Kita berdua memekik ngeri.

“Setidaknya aku lebih baik dari seorang wanita pembunuh. Kamu bunuh Rey! Kamu mutilasi dia. Dan, aku mengerti sekarang kenapa kamu tiba-tiba kabur ke toilet. Dengar sirene polisi? Takut mereka bakal nangkap kamu? Bagus. Bakal aku laporin. Aku justru heran, sampai sekarang kamu belum diterungku.”

“Sudahlah, ini akan berdampak buruk dengan kandungan kita,” ujarmu mencoba menenangkan keributan mereka yang mulai membesar.

Di sebelahmu, Agnes mulai memucat. Baru kamu ketahui mengapa kawanmu yang satu itu membeku di tempatnya. Salah serang wanita yang usianya sekitar empat puluhan, tiba-tiba berjalan mencak-mencak ke arah Agnes. Di belakang wanita berkuncir itu, ada seorang lelaki paruh baya.

“Akhinya bertemu juga dengan kau! Terakhir kita bertemu, aku belum sempat mengatakan pada kau, begitu hinanya kau menggoda suami saya! Dan anak kau itu, jangan ngaku punya suami saya! Dasar wanita jalang,” pekik wanita berkuncir itu dengan api amarah yang meluap.

Kamu melongo ke arah Agnes. Agnes bukan dibohongi olek lelaki, tapi dia yang mencoba bermain hati dengan lelaki bersuami. Kamu yang sedari tadi berdiri dan mencoba melerai aksi cakar dan jambaknya Miranda-Donna, akhirnya menyerah juga. Kamu duduk dan tidak bisa berkata apa-apa.

Sedangkan aku hanya duduk sembari menyeruput sepoci macchiato. Sejak awal aku sudah tahu, ada yang salah dengan klub ini. Tak mungkin masing-masing dari kita membongkar aib kita begitu saja. Pasti ada rahasia lain yang digunakan untuk menutupi rahasia terdalam. Tak ada seorang pun di antara kita yang mau disalahkan oleh rahasia.

Keributan semakin merebak. Pelayan dalam kafe mulai keluar, pengunjung-pengunjung menyinggahi matanya pada kita semua, sirene polisi yang meraung di kejauhan terdengar mendekat. Kepanikkan ada dimana-mana. Kamu menekan kepalamu dengan kedua tanganmu, aku masih diam memerhatikanmu. Andai kamu tahu …

“Tahukah kamu, rahasia itu berlapis-lapis. Aku masuk klub ini karena ada kamu,” ucapmu tiba-tiba dengan memamerkan cengiranmu. Aku terkejut, aku hampir saja ingin mengatakan hal yang sama. Aku bertahan dalam klub konyol ini juga karenamu.

“Karena tak ada lagi lapisan rahasia pada senja hari ini, aku juga ingin mengakui rahasia terdalam yang kupunya. Tanpa harus terbongkar dengan cara mereka,” katamu sembari melirik pada orang-orang sekitar, juga kawan kita yang masih berteriak. Aku mengunci tatapku padamu sambil terus meneguk kafein dari poci kopiku. Aku gelisah, karena hanya aku yang meminum poci kopiku, kamu tidak. Padahal aku sudah menunggumu merasakan rasa poci kopi favoritku.

“Aku ditinggal suamiku pada masa kehamilan dua bulan. Bukan tanpa kabar, suamiku sebelumnya meminta izin agar aku dimadu. Aku tak mau. Dia kabur. Menurut kabar burung, suamiku menikah siri dengan seorang wanita…”

Ketika kamu memulai cerita tentang ‘rahasia terdalam’-mu, aku menghabiskan poci kopi dengan sekali tegukkan yang penuh sergapan ketakutan. Tanganku bahkan bergetar. Aku tak ingat, tapi kurasakan perutku bergejolak, memuntahkan sesuatu seperti busa yang keluar dari mulutku.

“Wanita itu akhirnya hamil satu bulan ketika usia kandunganku tiga bulan. Dan kalau dihitung sekarang…”

Aku tak lagi mendengarmu bercerita. Pandanganku sudah menggelap. Kurasakan darah hangat mengalir melewati selangkanganku menuju kedua kakiku. Otot-ototku melemas hingga tubuhku akhirnya tumbang. Potret terakhir yang kulihat hanya cengiran lebarmu sembari meminum habis poci kopi favoritku dengan sekali tegukkan. Beberapa detik kemudian, kamu ikut tumbang bersamaku dengan mata yang terbeliak seakan tak menyangka ajalmu akan sama denganku.

Aku tersenyum.

Kita sama, akhirnya kita saling meneguk poci kopi masing-masing. Biar kuulang sekali lagi, kita memang selalu sama; termasuk lelaki kita. (*)

*Tangerang, 8 September 2014, 20.58 pm. Twitter: @VerooGabriel

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Gao Xingjian: Bayangan Kematian

mm

Published

on

Getty Images/ google

Kau tak lagi hidup dalam bayang-bayang orang lain dan tak lagi menganggapnya sebagai musuh khayalan. Kau meninggalkan bayangan itu, berhenti berkhayal dan melamunkan hal-hal aneh, dan kini terpuruk dalam kehampaan yang damai. Kau datang ke dunia dengan telanjang, tiada yang membutuhkanmu dan andaikan kau menginginkan sesuatu, kau tak akan mampu melakukannya. Satu-satunya rasa takutmu hanyalah pada maut yang datang tiba-tiba.

Kau ingat rasa takutmu pada maut berawal di masa kecil. Saat itu rasa takut itu lebih besar dari kini. Kesedihan sepele membuatmu begitu cemas, seolah-olah itu adalah penyakit tak terobati dan saat kau jatuh sakit kau akan mengigau ketakutan.

Kau telah bertahan melalui berbagai penyakit dan bencana yang kau lewati dengan kemujuran. Kehidupan itu sendiri adalah keajaiban yang tak bisa dijelaskan dan hidup di dalamnya adalah perwujudan sebuah keajaiban. Tak cukupkah bahwa sesosok tubuh yang sadar bisa merasakan sakit dan senang dalam hidup ini? Apalagi yang mesti dicari?

Ketakutanmu pada kematian muncul saat kau rapuh jiwa dan raga. Kau merasa sesak dan cemas, khawatir keburu mati sebelum sempat menghela napas berikutnya. Seolah-olah kau terlempar ke dasar jurang, perasaan keterpurukan ini sering muncul dalam mimpi-mimpi masa kecilmu dank au akan terbangun dengan napas terengah-engah, ketakutan. Saat itu ibumu akan membawamuke rumah sakit, namun kini, sebuah permintaan dokter untuk melakukan pemeriksaan pun kau tunda berkali-kali.

Jelas sekali bagimu kehidupan berakhir dengan sendirinya dan saat akhir itu tiba rasa takutmu memudar, karena rasa takut itu sendiri adalah perwujudan kehidupan. Saat kehilangan kesadaran dan keinsyafan, hidup tiba-tiba berakhir tanpa menyisakan makna dan pemikiran.

Penderitaanmu adalah pencarian makna bagimu. Saat kau mulai membincangkan arti kesejatian hidup manusia dengan teman-teman masa mudamu, kau hidup dengan susah payah, seolah-olah kini kau telah menikmati segala kesemuan hidup dank au menertawakan kesia-siaanmu dalam pencarian makna. Yang terbaik adalah mengalami keberadaan dan menjaganya.

Kau merasa melihat makna hidup dalam kehampaan, cahaya samar yang muncul dari antah berantah. Ia tak berdiri di tempat tertentu di atas bumi. Ia seperti dahan pohon tanpa bayangan, sementara ufuk yang memisahkan langit dan bumi telah lenyap. Atau, ia bagaikan seekor burung di sebuah tempat berselimut salju yang memandang berkeliling. Terkadang, ia menatap ke depan, menghunjam dalam pikiranmu, walaupun tak jelas benar apa yang ia renungi. Itu hanyalah isyarat tubuh sederhana, isyarat tubuh yang indah. Keberadaan pun senyatanya adalah sebuah isyarat tubuh, mencoba mencari rasa nyaman, merentangkan lengan, menekuk lutut, berbalik, memandang ke belakang di atas relung kesadaran. Dari situ ia mampu menggapai kebahagiaan sekejap. Tragedi, komedi, dan lelucon. Penghakiman atas keindahan hidup manusia yang berbeda bagi masing-masing orang, waktu, dan tempat. Perasaan pun mungkin seperti ini. Kesedihan yang timbul di saat ini di waktu yang lain bisa jadi sebuah kekonyolan dan penyucian diri. Hanya isyarat tubuh yang tenang bisa memperpanjang hidup ini dan bersusah payah menyimpulkan misteri kekinian di saat kebebasan tercapai. Menyendiri, meneliti pendapat diri melalui kekalahan-kekalahan orang lain.

Kau tak tahu apa lagi yang akan dilakuan, apa pun yang bisa kau lakukan tak penting lagi. Jika kau ingin melakukan sesuatu, lakukanlah. Tapi tak kau lakukan pun tak jadi soal. Dan kau tak perlu ngotot melakukan sesuatu jika kau merasa lapar dan haus, lebih baik kau makan dan minum. Tentu saja kau bebas berpendapat, menafsir apapun, punya keinginan, dan bahkan marah, biarpun kau telah sampai pada usia di mana tenagamu tak cukup lagi untuk marah. Secara alamiah, kau bisa naik darah, namun tanpa gairah amarah. Perasaan dan inderamu tetap bekerja, namun tak seperti dulu. Tak akan ada lagi penyesalan. Penyesalan itu sia-sia dan merusak diri.

Bagimu hanyalah kehidupan yang bernilai. Kau telah melekat dan terserap padanya seolah-olah masih ada hal menakjubkanyang bisa kau temukan di dalamnya. Seolah-olah hanya kehidupan yang bisa membuatmu senang. Bukankah itu yang kau rasakan? (*)

Gao Xingjian (高行健, pinyin: Gāo Xíngjiàn, lahir di Ganzhou, Jiangxi, Republik Rakyat Tiongkok, 4 Januari 1940; umur 77 tahun), ialah penulis seorang novelis, dramawan, dan kritikus Tiongkok seberang lautan. Ia juga seorang penerjemah, sutradara, dan pelukis terkenal.

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Cerpen

Chingiz Aitmatov: Mankurt

mm

Published

on

Ini terjadi pada berabad-abad yang lalu. Di antara suku-suku nomaden, yang hidup di tanah Kazakhstan, berlangsung perang yang permanen. Para pemenang perang mengubah orang-orang taklukan menjadi budak. Zhuanzhuan, yang pada suatu waktu menguasai sebagian besar tanah Kazakhstan, merupakan orang-orang yang terutama sangat keji. Mereka mengubah para tawanan menjadi mankurt, manusia yang kehilangan ingatan. Untuk itu ke kepala para tawanan dilekatkan kulit unta yang lembab dan mereka ditinggal  tanpa air, tanpa roti, dalam beberapa hari di atas tanah lapang terbuka. Matahari memanaskan kulit unta yang lembab dan kulit itu pun menjadi mengkerut, dan manusia bisa mati lantaran rasa sakit atau bisa menjadi gila, kehilangan ingatan. Baru pada hari ke lima Zhuanzhuan datang melihat, siapakah di antara tawanan yang bertahan hidup. Biasanya yang bertahan hidup hanyalah 1-2 orang dari lima. Mereka merupakan budak-mankurt, yang harganya sangat mahal, karena mereka adalah manusia tanpa ingatan, manusia, yang melupakan ayah dan ibunya dan hanya mengetahui tuannya. Budak yang demikian tidak memimpikan kebebasan, dia mampu mengerjakan pekerjaan yang paling hitam dan berat, dan tidak menginginkan apa-apa. Dan tidak ada seorang dari para kerabat atau kawan yang berupaya membebaskan mankurt, manusia, yang melupakan segala.

Tetapi ada seorang ibu, bernama Naiman-Ana, tidak mampu berdamai dengan hal tersebut. Anak laki-lakinya, yang ikut di dalam pertempuran dengan Zhuanzhuan, jatuh ke dalam tawanan. Naiman-Ana ingin menemukan anaknya. Dia memimpikan hanya satu hal: semoga anaknya masih hidup, meskipun menjadi seorang mankurt, yang kehilangan ingatan, tetapi anaknya tetap hidup, tetap hidup! Naiman-Ana mengambil selembar selendang putih dan mulai berjalan ke padang stepa. Begitu lama dia berjalan di atas padang stepa dan akhirnya dia bertemu dengan seorang pemuda rupawan dan dia mengetahui, bahwa itu adalah anaknya.

“Anakku, anak kandungku! Aku mencarimu!” teriaknya, “aku ibumu!” Dan dengan seketika Naiman-Ana memahami semuanya dan dia pun mulai menangis, dan dia memandangi wajah anaknya yang beku, yang berdiri di sampingnya. Tetapi anaknya bahkan tidak bertanya, siapakah dia dan mengapa juga dia menangis. Kedua mata anaknya tampak kosong dan wajahnya tidak pedulian.

“Kau tidak mengenalku?” tanya sang ibu, akhirnya.

“Tidak,” jawab mankurt.

“Siapakah namamu?”

“Mankurt.”

“Begitulah sekarang kau dipanggil. Dan bagaimanakah dulunya kau dipanggil? Ingatlah namamu sendiri!”

Mankurt terdiam.

“Dan siapakah nama ayahmu? Dan kau sendiri siapa, dari mana, di manakah kau dilahirkan? Kau ingatkah?”

Tidak, anaknya tidak ingat apa-apa dan dia tidak mengenali.

“Apakah yang mereka lakukan terhadapmu!” kata sang ibu dengan lirih. “Kau dengar? Namamu Zholaman. Ayahmu bernama Donenbai. Kau ingat ayahmu? Dialah yang mengajari kau memanah. Dan aku adalah ibumu, kau dengar?”

Akan tetapi semua, apa yang dikatakan sang ibu, tidaklah menarik baginya.

“Marilah aku lihat, apa yang mereka lakukan dengan kepalamu?” kata Naiman-Ana.

“Tidak,” jawab mankurt dan dia tidak ingin lebih jauh lagi berbicara dengan Naiman-Ana. Dan Naiman-Ana memutuskan untuk membawa pulang anaknya. Lebih baik anaknya tinggal di rumah sendiri, dibandingkan di padang stepa, menjadi budak Zhuanzhuan.

Naiman-Ana dengan begitu lama meminta anaknya untuk pulang ke rumah, tetapi anaknya tidak memahami, bagaimanakah harus pergi, jika sang tuan tidak mengijinkan. Dan kembali, dan kembali lagi Naiman-Ana mengulangi:

“Ayahmu Donenbai, dan namamu bukan Mankurt, tetapi Zholaman. Ketika kau dilahirkan di dalam keluarga kita ada perayaan yang demikian besar.”

Dan tiba-tiba saja Naiman-Ana melihat seseorang, yang berjalan ke arah mereka di atas seekor unta.

“Siapakah dia?” tanyanya.

“Itu sang tuan.”

Naiman-Ana mestilah pergi.

“Jangan katakan apa-apa kepadanya, aku akan segera datang kembali.” Kata Naiman-Ana. Anaknya tidak menjawab. Baginya semua sama saja.

Tetapi sang tuan telah melihat sang perempuan tersebut. “Siapakah dia?” tanyanya kepada mankurt.

“Dia berkata, bahwa dia adalah ibuku.”

“Dia bukan ibumu! Kau tidak punya ibu! Kau tahu, apa yang dia inginkan? Dia ingin mengambil kepalamu!” teriak Zhuanzhuan.

Mankurt ketakutan. Wajahnya menjadi suram.

“Jangan khawatir!” kata sang tuan, “bukankah kau bisa memanah? Nah, ambillah!” Dan dia memberikan mankurt busur beserta anak panahnya.

Ketika Zhuanzhuan pergi, Naiman-Ana menghampiri anaknya. Dia tidak melihat, bahwa anaknya, mankurt, telah bersiap-siap memanah. Sinar matahari mengganggu mankurt, dan dia menantikan momen yang tepat.

“Zholaman, anakku!” panggil Naiman-Ana kepada anaknya. Tetapi terlambat: anak panah telah menghantam tepat di jantung Naiman-Ana. Itu adalah hantaman yang mematikan. Naiman-Ana pelan-pelan terjatuh, tetapi dari bagian kepalanya selendang putih terlebih dulu jatuh, berubah menjadi seekor burung dan terbang dengan teriakan: “Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai! Donenbai!”

Orang-orang mengatakan, bahwa sekarang pejalan yang berjalan di padang stepa masih bisa mendengar, bagaimana burung tersebut berteriak:

“Ingatlah, kau milik siapa! Siapa namamu! Ayahmu Donenbai!” (*)

 

*Biografi Chingiz Aitmatov

Chingiz Torekulovich Aitmatov lahir pada tanggal 12 Desember 1928, di Sheker, Kyrgyzstan dan meninggal pada tanggal  10 Juni 2008, di Nürnberg, Jerman. Karyanya antara lain: “Jamila” (1958), “Farewell, Gulsary” (1966), “The White Ship” (1970), “The Day Last More Than a Hundred Years” (1980), “Mother Earth and Other Stories” (2011). Chingiz Aitmatov juga pernah berkaris sebagai ambassador Uni Soviet dan kemudian Kyrgyzstan untuk European Union, NATO, UNESCO dan negara-negara Benelux. Karya-karya Chingiz Aitmatov memiliki elemen-elemen yang unik, khususnya pada proses kreatifnya dan karya-karyanya menggambarkan folklore, bukan dalam cita  rasa kuno, tetapi Chingiz berupaya mengkreasi kembali dan mensintesiskan karya-karya lisan ke dalam kehidupan kontemporer.

Dalam arti kiasan, kata mankurt digunakan untuk merujuk kepada seseorang yang telah kehilangan kontak dengan akar sejarah dan kenasionalan mereka, dan melupakan hubungan mereka. Kata mankurt telah menjadi identik dan telah digunakan di dalam jurnalisme. Di Rusia muncul neologisme: mankurtismmankurtizatsiya, dan  demankurtizatsiya.

Kata mankurt bisa jadi diderivasi dari bahasa Mongolia мангуурах (manguurah, yang bermakna bodoh), atau mungkin bahasa Turki mengirt (manusia yang memorinya dirampas) atau man kort (suku yang jelek, buruk atau jahat).

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Trending