Connect with us

Editor's Choice

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

mm

Published

on

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

(Pidato Rendra Pada Penerimaan Penghargaan

Dari Akademi Jakarta)

 

HARI ini Akademi Jakarta telah memberikan hadiah penghargaan kepada saya sebagai seorang seniman.

Hadiah penghargaan itu saya terima dengan baik. Terima kasih. Selanjutnya perkenankan saya mengutarakan kegirangan hati saya karena mendapatkan penghargaan ini.

Pepatah mengatakan: “Di dalam ilmu silat tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu”.

Tentu saja: di dalam persaingan di rimba persilatan, yang tinggal jaya hanyalah juara nomor satu, sebab yang nomor dua sudah terbunuh di dalam pertarungan; sedangkan di dalam ilmu surat, ukuran apa yang akan dipakai untuk menetapkan juara nomor satu? Bukankah ilmu surat itu cermin kehidupan? Maka kehidupan itu banyak seginya. Dan semua segi kehidupan itu penting. Jadi, para ahli ilmu surat itu, yang masing-masing mencerminkan segi berbeda dari kehidupan, tidak mungkin dipertandingkan. Semuanya nomor satu. Tidak ada yang lebih unggul dari lainnya.

Jadi mustahil bila saya menganggap bahwa penghargaan dari Akademi Jakarta ini bisa menjadi ukuran mutu bagi kesenian saya, di dalam perbandingannya dengan karya seniman-seniman lain yang  tidak mendapatkan hadiah pada tahun ini.

Maka kegembiraan saya hari ini tidak ada hubungannya dengan rasa unggul.

Lalu apakah dasar kegembiraan saya yang sangat besar hari ini?

            Di kota di mana saya tinggal, di Yogya, sejak pementasan drama saya Mastodon dan Burung Kondor, saya belum pernah diizinkan untuk melakukan pementasan sandiwara lagi. Alasan pelarangan-pelarangan terhadap pementasan saya itu tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Oidipus Berpulang dan Lysistrata yang sudah diizinkan di Jakarta itu, tidak diizinkan untuk dimainkan di Yogya.

Naskah Oidipus Berpulang itu dilarang karena dinilai tidak sesuai dengan naskah Sophocles yang asli. – Tetapi apakah ada undang-undang yang melarang penyaduran?

Sedang Lysistrata dilarang berdasarkan pertimbangan atasan, serta mengingat “situasi dan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta saat itu”. – Astaga, jadi rupa-rupanya saat ini, menurut keterangan di dalam surat polisi ini, Yogya dalam keadaan sedemikian rupa sehingga pementasan sebuah sandiwara semacam Lysistrata saja dianggap akan bisa membahayakan suasana. Kalau begitu secara tidak langsung diakui bahwa Yogya penuh dengan keadaan yang tidak normal. Ataukah keadaan Yogya diakui selalu tegang dan gawat terus-menerus? – Bagaimanakah sebenarnya? Sebagai penduduk Yogya saya kurang tahu duduk perkara keadaan aneh semacam itu. Pemerintah Pusat, para wakil rakyat, dan para wartawan harus menyelidiki “situasi yang dikuatirkan oleh polisi Yogya tersebut di atas. Apakah para atasan yang disebut oleh polisi itu benar sudah tidak bisa menguasai suasana sehingga mereka menjadi repot hanya oleh sebuah sandiwara? Ini harus benar-benar diselidiki. Apakah mereka takut menghadapi sindiran dan kritikan? Kalau begitu apakah kewibawaan mereka sudah sedemikian tipis sehingga gentar menghadapi kritikan?

            Syahdan, para ksatria dan raja-raja bijaksana didalam wayang tidak pernah mengamuk karena kritikan-kritikan dari Semar, Bagong dan Petruk. Mereka selalu menanggapi kritikan-kritikan itu dengan baik. Mereka adalah ksatria dan raja-raja yang bijaksana yang bisa diajak bicara. Karena itu mereka mendapatkan wibawa. – Lain daripada para raja raksasa.

Mereka tidak punya Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk yang memberikan kritikan-kritikannya. Mereka penuh gairah angkara murka, adigang-adigung-adiguna, penuh roso risi = rasa bersalah, sehingga mereka tidak tahan terhadap kritikan. Mereka kasar. Mereka hanya bisa menekan dan melarang. Mereka tidak bisa diajak bicara.

Mereka hanya punya kekuasaan, tetapi mereka tidak punya wibawa, oleh karena itu mereka tidak tahan terhadap kritikan yang dilancarkan dalam goro-goro atau adegan banyolan yang penuh sindiran.

Setelah wayang mencapai saat: goro-goro itu, hanya para ksatria yang bisa tinggal jaya, para raksasa tak bisa jaya sesudah itu. Ya, bagaimana cara penguasa menghadapi goro-goro itulah ukuran mutunya. Kita akan segera bisa melihat apakah ia termasuk ksatria atau raksasa.

Adapun sandiwara-sandiwara saya tak lebih dari sebuah goro-goro. Di Dalam goro-goro Semar, Bagong, Gareng dan Petruk memang melancarkan kritikan yang menginginkan keadilan yang merata, namun tidak menyarankan perubahan kekuasaan. Goro-goro yang sudah saya mainkan di Jakarta tidak pernah menimbulkan anarki, karena pada hakikatnya saya antianarki. Jadi kenapa para atasan yang disebut oleh polisi di Yogya itu melarang goro-goro saya yang menentang anarki itu? Ini menimbulkan keprihatinan saya yang dalam.

Rendra tengah beraltih teater bersama rekan-rekannya di halaman rumahnya yang jadi markas Bengkel Teater di Kampung Ketanggungan, Yogya, 1970. (Photo: Arsip Rumah Budaya Tembi)

 

Tiba-tiba di dalam keprihatinan saya itu, datanglah keputusan Akademi Jakarta  untuk memberikan penghargaan kepada saya. Inilah suatu keseimbangan di dalam masyarakat yang menjadi rahmat bagi saya.

Itulah sebabnya kenapa hari ini saya benar-benar bergembira dan bersyukur sedalam-dalamnya.

Ah, sekarang saya ingin gantian berbuat sesuatu untuk Akademi Jakarta. Saudara-saudara telah berkenan untuk memberi penghargaan kepada saya, maka kini saya pun berkenan untuk memberikan tanda mata kepada Saudara-saudara. Tanda mata saya ini bernama goro-goro.

Orang-orang di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, dan juga orang tua saya, tidak bisa membayangkan apakah Akademi Jakarta itu. Sesungguhnya banyak orang yang belum pernah mendengar tentang adanya Akademi ini, dan baru sekarang mereka membicarakannya.

Banyak di antara mereka menyangka bahwa Akademi Jakarta ini semacam Akademi Bank, atau Akademi Bahasa Asing, atau Akademi Kesenian, atau semacam itu.

Salah tampa rakyat banyak yang semacam ini wajar sekali, sebab sampai sekarang Akademi Jakarta belum berbuat sesuatu yang dengan kuat menyangkut kepentingan mereka, dan belum pernah pula Akademi Jakarta mempunyai bahasa yang kuat untuk menjelaskan kehadirannya.

Saya sendiri juga susah dalam memberikan jawaban kepada mereka perihal lembaga Saudara-saudara ini.

Nama “Akademi” selalu mengingatkan saya kepada pabrik pengangguran, sekolah-sekolah yang miskin metoda dan serba melahap kesimpulan-kesimpulan pemikiran asing tanpa mengolah daya pencernaan yang baik!

Beberapa hari sebelum saya datang kemari untuk menerima penghargaan ini, sering kali, sambil mengasuh anak bungsu saya di bawah pohon-pohon nangka, di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, saya merenung, mencoba mencari-cari kaitan Akademi Saudara-saudara dengan dunia saya. – Ya, bagi orang kampung seperti saya, apakah artinya Akademi semacam itu?

Di Prancis memang ada Akademi Prancis, didirikan oleh Richelieu. Maksudnya untuk setiap kali membuat takaran resmi bagi kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Ini penting bagi Prancis waktu itu, karena merupakan tuntutan dari bentuk politik monarki absolut. Waktu itu, disesuaikan dengan kebutuhan politis Raja Louis kebudayaan harus bercorak neoklasik. Satu per satu, seniman Prancis waktu itu, dipaksa bertekuk lutut terhadap aliran neoklasik. Corneille menderita, mencoba bertahan, tetapi akhirnya bertekuk lutut juga. Hanya Moliere yang sanggup bertahan terhadap tekanan dari Akademi Prancis.

Dan kini Akademi Jakarta.

Apakah saya sekadar melahap ataukah saya akan mencernakannya? Ini suatu laku yang penting untuk menentukan kelangsungan hidup saya.

Nama Akademi Jakarta memang mengingatkan saya kepada Akademi Prancis, lalu terlintas pula di dalam renungan saya bagan-bagan masyarakat yang merupakan kesimpulan pikiran dan pengalaman orang Barat. Apakah saya harus mengaitkan kedudukan Akademi Jakarta ke sana?

Wah, ini tidak sesuai dengan alat pencernaan orang kampung seperti saya.

Selera bisa dibina, pencernaan selalu berkiblat kepada lingkungan.

Jadi saya akan mencoba mengaitkan Akademi Jakarta dengan alam pikiran dan pengalaman lingkungan saya.

Bencana dan keberuntungan manusia ialah bahwa ia terdiri dari roh dan badan. Modern atau tidak modern, manusia harus mempertahankan keseimbangan antara roh dan badannya, demi kesehatan.

Di dalam masyarakat modern atau bukan modern, pembagian roh dan badan itu tetap ada. Lembaga hukum, adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan itulah badan. Naluri dan mimpi, itulah roh. Adalah tugas para ulama, cendekiawan, dan seniman untuk menjaga peranan roh masyarakat. Kerja sama dengan badan harus dilakukan. Keseimbangan harus dijaga.

Kesepuluh anggota Akademi Jakarta adalah cendekiawan-cendekiawan dan seniman-seniman yang terpandang, dan masing-masing sudah nyata jasanya. Di zaman dulu orang-orang seperti mereka disebut empu-empu. Dan kedudukan mereka masing-masing di dalam mata masyarakat, adalah penjaga nilai-nilai rohani.

            Maka, raja berumah di keraton dan empu berumah di angin. Begitu kata pepatah yang tersangkut di rantang pohon.

Jadi kenapa kesepuluh empu ini mesti dilembagakan? Bukankah sejauh-jauhnya empu berkelembaga, pasti hanya menjadi lembaga setengah badan?

Rupa-rupanya di dalam saat perubahan masyarakat diperlukan secara mengakar, maka raja atau pengatur lembaga selalu berusaha untuk setengah melembagakan empu-empu itu. Maksud saya bukannya mengubah cendekiawan itu menjadi teknokrat, sebab itu artinya membadankan mereka sama sekali, tetapi hanya sekadar setengah membadankan saja.

Maksudnya tentulah untuk mengatur ketangkasan masyarakat di dalam mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan bersama.

Maka apabila empu-empu ini seluruhnya dibadankan menjadi patih atau teknokrat, akan hilanglah kemampuan mereka untuk dipakai sebagai imbangan rohani oleh raja. Tetapi apabila setengah dibadankan saja, maka mereka akan lebih bisa dirapikan untuk kepentngan ketangkasan kerja sama, sementara itu mereka masih mampu memiliki kewibawaan rohani.

Dahulu di zaman kehinduan akan ditanamkan di Indonesia, dan masyarakat memerlukan perubahan tata kemasyarakatan serta tata pertanian yang mengakar, maka empu-empu juga diusahakan oleh raja untuk setengah dilembagakan. Pada saat itu empu-empu dipindahkan dari padepokan-padepokan dan mulai berumah di keraton. Banyak pujangga menjadi pujangga keraton. Dukun menjadi dukun keraton semacam Empu Lohgawe, meskipun saat itu empu-empu pembuat keris tetap sukar untuk dikeratonkan dan banyak di antara mereka, tetap tinggal di angin, seperti Empu Gandring, Empu Supo Pertama, dan lain-lain.

Kejadian ini berulang lagi waktu agama Islam mula-mula masuk ke Jawa. Waktu itu Islam memberikan kesegaran kepada kemacetan masyarakat yang terlalu dijuruskan oleh Gajah Mda kepada kebudayaan pertanian, sehingga sangat lemah kebudayaan perdagangannya; apalagi setelah Syahbandar Tuban hijrah ke Malaka dengan segenap kapal dan modal-modalnya. Islam yang masuk waktu itu juga berarti tambahnya kembali kekuatan perdagangan. Raja Islam yang mengganti kekuasaan Majapahit sanggup menghadapi kekuatan perdagangan bangsa Portugis. Sultan Trenggono dengan gilang-gemilang bisa merebut kembali Sunda Kelapa dari tangan orang-orang Portugis. Ia adalah raja yang membawa pembaruan kepada masyarakat. Empu-empu, ya, ulama-ulama, yang penting  disetengah-lembagakan menjadi wali, sehingga menjadi Wali Sembilan. Ada juga empu yang tidak mau disetengah-lembagakan, ia ingin tetap berumah di angin, yaitu Syekh Siti Jenar.

Sekarang di zaman kita ini, perubahan masyarakat perlu diadakan secara mengakar, sebab kebudayaan Jawa Baru yang kepriayian, yang sudah kehilangan kerakyatannya itu, serta juga sisa-sisa kebudayaan penjajahan yang sok barat tetapi tidak ilmiah itu, perlu diganti dengan kebudayaan baru yang lebih memberi kesempatan kepada nilai-nilai analitis dan logis, serta juga mengutamakan keadilan kerakyatan, tanpa melupakan dasar agama yang kuat tertanam di dalam naluri bangsa.

Tentu saja, demi ketangkasan kerja sama di dalam masyarakat dalam memperjuangkan perubahan itu, para empu, yah, maksud saya cendekiawan-cendekiawan, ulama dan seniman perlu juga disetengah-badankan. Jadi akhirnya saya bisa menerima dan mengatakan kedudukan Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Majelis Ulama, dan lain sebagainya kepada kebutuhan masyarakat.

Meskipun tentu saja akan tetap ada cendekiawan atau seniman yang tidak mau disetengah-badankan, misalnya saya, dan banyak lagi yang lain. Yah, saya ingin tetap tinggal di angin.

Begitulah memang seharusnya keseimbangan di dalam masa-masa perubahan. Badan + setengah roh, setengah badan + roh. Salah satu ditiadakan, keseimbangan akan terguncang. Tugas penjaga roh, yaitu mereka yang berumah di angin, adalah untuk mencari imspirasi dan daya hidup. Tugas penjaga badan, yaitu yang berumah di keraton adalah untuk menjalankan pelaksanaan, menjaga setengah badan = adalah mereka yang berumah di dewan, untuk menyebarkan nilai roh dan nilai badan sehingga menjelma menjadi perumusan yang bisa dilaksanakan. Inilah tugas yang berat dan gawat, karena menurut kebijaksanaan dan kematangan jiwa.

Rendra (tengah) bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo. (photo koleksi http://sidomi.com)

Saya percaya bahwa orang-orang yang berkualitas semacam itu ada di dalam masyarakat kita. Tetapi saya tidak percaya bahwa orang itu bisa bersifat dewa. Saya tidak bisa percaya bahwa ada orang bisa maju penuh sementara ia berumah di angin dan sekaligus berumah di keraton atau di dewan. Disiplin bekerja antara ketiga golongan itu sungguh-sungguh berbeda.

Orang yang tinggal di keraton harus bekerja dengan rencana: rencana pelaksanaan, rencana tempat, rencana waktu, rencana keamanan. Orang yang tinggal di angin tidak punya rencana ruang karena ia meruang: ia tidak punya rencana waktu karena didalam alam; kemarin dan esok adalah hari ini; ia tidak punya perhitungan untung rugi karena di mata alam: bencana dan keberuntugnan sama saja; ia tidak mencari ketika  di luar dirinya karena begitu ia mengalami langit di luar dan langit di badan bersatu dalam jiwanya:  … itulah ketikanya!

Maka, orang yang berumah di dewan, lain lagi disiplinnya: mereka harus menjaga agar selalu ada ruang dalam pikiran, perasaan, dan perkataannya untuk diplomasi. Merekalah yang bertugas untuk menjaga agar pertentangan roh dan badan tidak menjelma menjadi perang, tetapi menjadi diplomasi. Segala persaolan harus mereka  hadapi dengan disiplin ilmu silat pedang. Adapun menggenggam pedang itu seperti menggenggam burung: terlalu longgar dipegang ia terbang, terlalu erat dipegang ia mati.

Begitulah besarnya perbedaan disiplin antara ketiga golongan itu. Sehingga tidak mungkin satu golongan merangkap menjadi golongan lain pula.

Orang yang berumah di angin harus mendapat keadilan di dalam keseimbangan masyarakat di dalam alam semesta.

Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak usah dibunuh. Sebab nilai rohani yang menghalalkan pembunuhan semacam itu sudah menjadi budak dari badan. Itulah kesalahan Sunan Kudus, wali yang terlalu membudak kepada badan. Ia lah yang memulai timbulnya keguncangan keseimbangan antara roh dan badan.

Kerajaan Demak jatuh diganti Kerajaan Pajang yang cuma singkat usianya, lalu jatuh pula, lalu diganti oleh kekusaan Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram II.

Orang-orang priayi Jawa Baru menganggap Panembahan Senopati adalah teladan utama. Tetapi sebenarnya ia adalah raja yang buruk dan liar. Salah seorang putranya disuruh membunuh ibunya. Salah seorang putrinya disuruh menjadi ronggeng, memikat hati seorang pemberontak, menjadi isterinya dan akhirnya lalu menjadi jalan kematiannya. Sesudah itu hampir pula putrinya itu ia bunuh juga karena sudah terlanjur mengandung anak dari benih pemberontak itu. Untung bisa dicegah oleh salah seorang putranya. Dan terhadap raja yang sewenang-wenang ini tak ada suara roh yang berani menentangnya. Suara-suara roh sudah disirnakan oleh Sunan Kudus dengan bantuan wali-wali lainnya.

Akhirnya Sultan Agung, cucu Panembahan Senopati, menambah parah kegawatan imbangan itu.

Ia merasa mendapat wahyu cakraningrat, yaitu wahyu untuk menjadi raja dan pendeta sekaligus, roh dan badan sekaligus. Suara roh makin tak ada  jadinya. Ia bergerak tanpa imbangan dan aturan.

Lalu mulailah Mataram mewarisi kepriayian yang bertele-tele itu. Daya cipta yang segar parah. Kebudayaan Jawa Baru hanyalah kebudayaan gincu dan rendah-renda, roh yang polos lemah suaranya, diganti dengan kecerdikan yang gemerlapan.

Sungguh besar ongkos yang harus dibayar karena menyingkirkan orang-orang yang berumah di angin.

Orde Lama jatuh karena mencap orang-orang yang berumah di angin sebagai golongan antirevolusi, sehingga tak ada lagi imbangan kontrol yang bisa memberi tanda bahaya.

Dan sekarang bagaimanakah keadaan orang-orang yang berumah di dewan saat sekarang?

Rakyat ingin melihat dan membuktikan, apakah orang-orang yang berumah di dewan sanggup membela orang yang berumah di angin? Apakah mereka sanggup merapikan orang yang berumah di keraton? Apakah mereka sanggup membela keadilan kerakyatan dengan lebih mendorong agar bisa tercapai demokratis politik yang lebih bijaksana? Apakah mereka sanggup lebih mendorong terlaksananya demokrasi ekonomi? Apakah mereka sanggup mendorong tercapainya demokrasi pendidikan? Sebab inilah semua alur perubahan yang diperlukan untuk membela rakyat.

Tetapi juga ini: apakah orang-orang yang berumah di dewan akan sanggup mendorong agar nilai ilmiah benar-benar bisa diterapkan di dalam melaksanakan kemajuan? Yang saya maksud, agar urutan 5 disiplin ilmiah: mengumpulkan fakta, menyusun fakta, menganalisa fakta, membuat kesimpulan dan membuktikan kesimpulan, benar-benar bisa diterapkan di Indonesia. Tanpa salah satu dari kelima disiplin itu tidak akan mungkin bisa ada penghayatan ilmiah. Jadi sangat penting agar penghayatan ilmiah bisa dilaksanakan rakyat bahwa semua fakta bisa terbuka untuk mereka, dan mereka pun harus dibebaskan untuk mengumpulkan fakta apa saja.

            Selanjutnya harus pula ada kesempatan untuk membuktikan kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Tanpa kesempatan-kesempatan semacam itu sikap ilmiah adalah omong kosong.

Dalam hubunganya dengan renungan saya di kampung Ketanggungan, itulah kaitan Akademi Jakarta dengan kepentingan rakyat.

Nama “Akademi” memang asing, tetapi dalam takaran soal ini, tak perlu menjadi masalah lagi. Kata “wali” toh juga kata asing tadinya.

Yang penting tantangan kepada mereka sudah saya ucapkan. Sudah terang tantangan serupa itu tidak cukup bisa dijawab dengan memberikan hadiah-hadiah semacam ini. Saya masih menunggu kapan lagi Akademi Jakarta akan bisa mengundang orang-orang yang berumah di angin untuk berpidato di masyarakat terbuka yang diselenggarakan oleh Akademi. Saya masih ingin melihat buku-buku apa yang akan diterbitkan. Dan juga ingin menyaksikan bagaimana pelaksanan-pelaksanaan lain yang lebih nyata.

Sekarang saya ambil hadiah dari Akademi Jakarta. Terima kasih.

Saya akan kembali ke angin.

Kemarin dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan

sama saja

Langit di luar

langit di badan

bersatu dalam jiwa

1975

***

 

*Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan  drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56); Empat Kumpulan Sajak (1961); Blues untuk Bonnie (1971); Sajak-sajak Sepatu Tua (1972); Potret Pembangunan dalam Puisi (1983); Disebabkan oleh Angin (1993); Orang-orang Rangkasbitung (1993); Perjalanan Bu Aminah (1997); Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesia Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.); Rendra Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, e.al.); Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling), ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976); Odipus di Kolonus (1976); Antigone (1976); Ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertoit Brecht); SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni dan lima tahun setelah itu ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

**Sumber: Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, PT Gramedia, Jakarta, 1984.

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Membangun (Kembali) Republik

mm

Published

on

Judul Buku: Membangun Republik
Editor: Baskara T. Wardaya
Penerbit: Galang Press
Tahun Terbit: Juli 2017
Tebal: xxviii+286 halaman,

ISBN 978-602-8174-19-0
Harga: Rp.80.000,-

 

Meningkatnya gerakan intoleransi dan sentimen Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)  di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, membuat kita mesti menghidupkan kembali tentang diskursus keindonesiaan kita. Setidaknya ada beberapa pertanyaan untuk menghidupkan kembali diskursus tersebut. Pertama, apa raison d’etre Indonesia? Kedua, apakah konsensus berdirinya Republik ini sebagai sebuah negara bangsa benar-benar sudah final? Ketiga, Quo Vadis Indonesia?

Melalui buku yang disunting oleh Baskara T. Wardaya ini, pembaca diajak kembali untuk berdialog mengenai jalannya Republik Indonesia sejak masa prakemerdekaan hingga akhir 1990-an. Buku yang sejatinya kumpulan wawanacara dengan enam indonesianis dan dua intelektual Indonesia yakni Takashi Shiraishi, Bennedict Anderson, George Kahin, Clifford Geertz, Daniel Lev, Bill Liddle, Sartono Kartodirdjo dan Goenawan Mohammad ini setidaknya menyoroti tiga poin penting dalam perjalanan Indonesia yakni politik, budaya, dan hukum.

Dalam konteks politik, setiap kekuasaan memiliki dinamikanya sendiri yang cukup menarik. Selalu ada patahan sejarah di dalam proses menjadi Indonesia, mulai dari kekuasaan Hindu, Budha, Islam, Kolonialisme, hingga menjadi Republik (Parakitri Simbolon: 1995). Sayangnya, tiap fase kekuasaan tersebut dianggap tidak memiliki hubungan satu sama lain.

Salah satunya contohnya adalah ketika para pendiri bangsa bermufakat bahwa bentuk negara Indonesia adalah republik. Padahal, dalam geneaologi kekuasaan di nusantara, tidak pernah ada sekali pun yang memakai bentuk republik. Bahkan, Belanda yang menjajah Indonesia pun merupakan sebuah negara monarki. Semua kepemimpinan di nusantara tidak dibentuk atas kehendak rakyat atau wakil-wakilnya, melainkan hampir selalu berada di tangan sang penguasa tunggal beserta para kerabat dan pendukungnya (hlm.xvii-xviii). Hal ini yang terus terjadi hingga masa kepresidenan Soeharto.

Pemilihan bentuk negara republik merupakan hasil pergulatan intelektual para pendiri bangsa, bukan dari pengalaman empiris seperti yang dituliskan oleh Tan Malaka dalam Naar de Republiek (1925). Konsekuensi dari tidak adanya pengalaman empiris tersebut, sudah pasti memiliki banyak kendala dalam upaya membangun republik. Sebab, Indonesia tidak memiliki preseden yang baik dalam membangun sebuah negara dan bagaimana cara menghadapi masalah.

Hal lain yang tidak dapat dikesampingkan dalam proses politik Indonesia adalah pemuda. Ben Anderson dalam buku Revolusi Pemuda (1988), “Saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda.” Hal itu terus berlanjut saat mengakhir kekuasaan Soekarno pada 1966 dan Soeharto pada 1998. Sayangnya, pemuda sering kali dijadikan alat politik tertentu oleh pimpinan politik dalam pergulatan untuk berkuasa (hlm.57).

Dalam konteks budaya, Indonesia merupakan salah satu negara dan paling masyarakat yang paling kompleks di dunia. Banyaknya perbedaan dalam sebuah masyarakat, memerlukan persatuan untuk mengelolanya. Hal itu berhasil dibuktikan pada 1945, persatuan menjadi alat ampuh untuk meraih kemerdekaan.

Menurut Clifford Geertz, kemajemukan tersebut bisa melebur hanya dalam konteks tertentu, misalnya revolusi 1945. Lantas, setelah bersatu, ikatan-ikatan pengelompokan dan primordial kembali terjadi. Sebab, sifat-sifat primordial merupakan hasil sebuah proses sejarah, bukan sebuah nasib (hlm.147).

Oleh sebab itu setelah kemerdekaan, di dalam masyarakat, sifat-sifat primordial tersebut tetap ada dan kadang saling bersinggungan, hanya saja memerlukan waktu lama untuk menghasilkan gejolak. Dalam masyarakat, kata Geertz, kita akan selalu memikirkan: apa tujuan negara itu? Siapa yang mendapatkan untung dari negara itu? Untuk apa masyarakat berkumpul membuat negara itu?

Dengan demikian, Geertz melihat banyaknya peristiwa politik di Indonesia yang sekaligus merupakan persoalan budaya. Termasuk masalah agama dan sentimen ras (hlm.159). Baik menjelang runtuhnya Soekarno maupun saat menjelang lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan.

Berkenaan dengan budaya, sifat-sifat feodal seperti pola kekerabatan— membangun oligarki politik dalam sebuah daerah atau partai politik—masih berlaku hingga saat ini menjadi penghambat dalam proses membangun. Ini tentu sebuah paradoks ketika para pendiri bangsa memutuskan membangun republik dan meninggalkan bentuk kekuasaan monarki, tapi tidak bisa menghilangkan sifat-sifat feodal yang kontra produktif dengan demokrasi. Soekarno dalam Sarinah (1947) menyatakan Indonesia merupakan sebuah negara yang dijajah oleh dua kekuatan yakni kolonial dan feodal. Oleh karenanya, setelah revolusi nasional, diperlukan revolusi sosial untuk membentuk sebuah tatanan masyarakat yang baru.

Di ranah hukum, Indonesia masih belum bisa menjadikan hukum sebagai panglima. Hal ini ditambah buruk dengan banyaknya korupsi yang melibatkan lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Hal tersebut semakin mempersulit republik untuk mewujudkan cita-citanya yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Terkait hukum dengan membangun republik mestinya, menurut Daniel Lev, membangun lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga masyarakat. Dalam sebuah republik yang baik, lembaga pemerintahan mesti dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat. Elite-elite dalam setiap lembaga memiliki kecenderungan untuk mempertahankan diri dan ini pun harus dikontrol (hlm.156).

Sebenarnya, tidak ada masalah dan atau kesalahan yang baru dalam membangun republik. Hanya saja, kita selalu mengulangi kesalahan yang sama. Seolah-seolah kesalahan itu menjadi sebuah preseden yang layak ditiru. Pengalaman masa lalu tersebut semestinya bisa jadi pijakan dalam membangun republik di masa depan, itulah sebabnya sejarah menjadi penting. Bukankah hanya keledai yang mengulangi kesalahan yang sama?

Peristiwa atau pengalaman dari setiap periode perjalanan bangsa Indonesia selalu terputus. Seolah-olah setiap fase sejarah Indonesia tidak memiliki hubungan dengan fase sebelumnya. Maraknya aksi intoleransi dan sentimen antargolongan pun sudah terjadi sejak 1960-an dan 1990-an. Tinggal bagaimana kita memahami pemahaman sejarah yang baik untuk melalui proses tersebut dengan baik.

Oleh sebab itu, pewarisan ingatan sejarah menjadi sangat penting bagi generasi muda. Sebab, tonggak estafet membangun Indonesia terletak di tangan pemuda. Seperti Ben Andrson katakan, pemuda adalah penggerak sejarah. Namun, tentu dengan cara yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Sebab, semangat zamannya pasti berbeda.

Buku ini menarik untuk dibaca sebagai pengantar untuk memahami persoalan Indonesia dari berbagai sudut pandang. Selain itu, buku ini juga dapat menjadi pengantar untuk memahami karya-karya utuh para tokoh yang terlibat dalam wawancara ini.

Indonesia memang bangsa yang belum selesai, ia masih dalam tahap proses menjadi sebuah bangsa yang kokoh. Namun, bukan berarti Indonesia tidak akan bisa menyelesaikan masalah dan mewujudkan cita-citanya menjadi sebuah bangsa. Apa pun masalahnya, bila dalam upayanya menyelesaikan masalah-masalah besar pascarevolusi rakyat Indonesia mampu menunjukkan yang sama seperti yang telah mereka perlihatkan dalam perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan politik, peluang sukses mereka tampak kuat (Kahin: 2013). (*)

| Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

 

Continue Reading

Blog Pembaca

Suraji: Buku-Buku Melapangkan Jiwa

mm

Published

on

Buku-buku melapangkan jiwa, tidak hanya karena ia memberi pengetahuan dan banyak kisah, tapi buku dan pembacanya sendiri sudah menyimpan kisah. Satu orang dengan yang lain memiliki keunikan kisahnya sendiri karena pengalaman dan ceritanya berbeda-beda. Kisah Suraji dengan buku-buku, adalah salah satu yang layak kita simak. Suraji adalah aktivis gerakan sosial yang punya benyak pengalaman perlawanan; memperjuangkan kebebasan dan demokrasi sejak era 90-2000an. Bagaimana buku-buku merubah hidupnya adalah cerita yang unik dan menginspirasi sebagaimana Anda tentu juga memiliki kisah Anda sendiri.

“Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati. Suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu. Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku lagi.” Tutur Suraji yang kini menjadi Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW) dan aktif di komunitas Jaringan Gusdurian.

Suraji, Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW)

“Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto yang dibacanya ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah buku yang menurutnya merubah hidupnya—buku itu memberinya keberanian untuk menulis dan hal itu membuatnya memiliki banyak gagasan, mimpi, dan dengan cara keras menggali inspirasi untuk ditungkan dalam bentuk tulisan.

Ketika kuliah di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN Sunan Kalijaga) bekal itu membawanya menjadi Pemimpin Redaksi Majalah ARENA, majalah mahasiswa yang sempat dalam waktu lama disebut sebagai “anak kandung majalah TEMPO” karena liputannya yang cerdas dan berani. Ketika kantor ARENA diserang terkait penerbitan edisi majalah yang mengkritik keras Orde Baru, Suraji adalah pemimpin redaksi dan salah satu aktor utamanya.

Kami berkesempatan mengajukan beberapa pertanyaan seputar buku dan dunia membaca kepadanya, percayalah wawancara pertama dalam program #MencintaiBuku—Merayakan Indahnya Membaca Buku—yang digagas Galeri Buku Jakarta ini memberi kita begitu banyak memoar dan inspirasi. Seperti kata Suraji, berkah terbesarnya adalah buku-buku melapangkan jiwa kita melewati begitu banyak pengalaman kehidupan. Selamat membaca…

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

SURAJI

Buku adalah teman bijak yang selalu mengajak kita memandang cakrawala, memandu kita melewati lorong-lorong ruang dan waktu dengan jiwa yang selalu lapang.

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

SURAJI

Perkenalan saya dengan buku sejak tahu kosakata “perpustakaan”. Waktu kelas 1 SD, saya diajar Ibu Sumiati, suatu ketika beliau mengajak saya ke ruangan guru, dan di situ ditunjukkan rak dan lemari berisi buku yang disekat terpisah dengan ruangan lain. “Ini perpustakaan,” kata Bu Sum. Saya pun mendekat dan membuka-buka isi rak buku itu.

Dari situ saya mulai kenal buku-buku bacaan, dan terpikat untuk  membaca lebih banyak buku. Biasanya, saya memanfaatkan waktu istirahat kelas, atau kalau ada jam kosong, saya manfaatkan untuk membaca di perpus. Banyak buku-buku cerita rakyat seperti: cerita Bawang Putih dan Bawang Merah, Legenda Rawa Pening, Malin Kundang, Tangkuban Parahu, Legenda Banyuwangi. Ada juga cerita kepahlawanan seperti: Hikayat Hang Tuah, Untung Suropati, Gajahmada, dan masih banyak lagi.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

SURAJI

Saya termasuk orang yang bisa baca di mana saja dan kapan saja. Tapi selama yang pernah saya alami, saya merasakan paling nikmat membaca buku itu sewaktu kecil di sawah. Biasanya kalau musim kemarau, tak ada tanaman di sawah-sawah kampung kami. Hamparan sawah dibiarkan membera. Saat itulah, biasanya di sore hari kami menggiring sapi-sapi piaraan kami ke sawah untuk makan rerumputan. Kami yang masih anak-anak menunggui gembalaan di bawah pohon atau di balik semak-semak, hingga matahari tenggelam dan mengajak pulang sapi-sapi ke kandang. Saya biasanya menyelipkan buku pinjaman dari sekolah, di celana, untuk dibaca sambil menunggu sapi-sapi itu kenyang.

Jika musim penghujan, anak-anak di kampung kami biasanya menyabit rumput di pematang-pematang sawah, atau agak jauhan lagi ke hutan-hutan jati terdekat, tempat rumput-rumput itu tumbuh bebas, lalu kami memasukkannya ke keranjang untuk di bawa pulang. Saya pun biasanya membawa buku di sawah atau hutan, meskipun hanya sempat membacanya beberapa halaman.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

SURAJI

Buku yang mengubah hidup saya, salah satunya adalah buku yang berjudul “Menulis itu Gampang” karangan Arswendo Atmowiloto. Saya membacanya ketika saya sudah usia SMP tahun 1991, juga saya baca waktu di sawah. Buku itu tentang kiat-kiat membuat karangan yang dikemas dalam model tanya-jawab. Buku ini yang menggugah saya untuk berani belajar menulis, mengeksplorasi ide-ide, berimajinasi, dan berpikir bebas. Setelah membacanya saya mulai membuat catatan harian, menuliskan pengalaman, dan memberanikan diri untuk ikut lomba membuat karangan di sekolah, dan juara. Membaca buku itu semakin membuat asyik lagi untuk membaca buku-buku yang lebih tebal; novel atau roman seperti “Siti Nurbaya” dan “Salah Asuhan”. Saya juga jadi gemar memburu majalah-majalah loakan untuk mengenal model tulisan bentuk laporan atau berita. Dari dulu sampai sekarang, di kampung kami belum pernah masuk koran atau majalah. Saya biasanya menabung untuk beli majalah atau tabloid bekas, ketika ada kesempatan pergi ke kota. Majalah seperti Tempo dan Intisari saya dapatkan di warung kertas bekas, yang biasanya dipakai untuk bungkus belanjaan bumbu dapur di pasar, dan itu dijual kiloan. Biasanya majalah-majalah yang sudah tahunan lalu terbitnya. Tapi saya merasa dapat informasi banyak. Jadi buku Arswendo ini membuat saya lebih banyak mencintai buku.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

SURAJI

Naskah epik Bugis, “La Galigo”, ini termasuk sastra kuno yang layak kita kenal. Naskah ini penting untuk dibaca, agar kita juga mengenali mitologi yang berkembang di masyarakat lokal Nusantara sebagai sumber pengetahuan dan peradaban. Jadi, sumber pengetahuan tidak hanya science yang bersumber akal saja, tapi juga rasa. Seperti di Barat, Yunani itu juga mengenal mitologi tentang dewa-dewa yang turut mempengaruhi lahirnya pengetahuan-pengetahuan baru.

“Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer. Novel ini sangat kuat dalam membangkitkan imajinasi tentang manusia dalam peradaban maritim yang terbuka, egaliter, mendukung kemajuan, dan tidak mudah ditaklukkan. Kita sekarang ini perlu membangun mental bangsa maritim seperti itu.

Novel “Harimau-harimau” karya Mochtar Lubis, mewakili karya sastra dengan tema kebebasan, kemerdekaan, dan keberanian. Novel ini perlu dibaca bagi anak muda, supaya tidak gampang takut atau tunduk karena tekanan situasi.

Novel karya AA. Navis, “Robohnya Surau Kami”. Novel ini sangat sarkastik tapi elegan, sangat kuat melakukan kritik sosial terhadap pandangan keagamaan yang mendukung kemapanan dan melanggengkan penindasan atau ketidak-adilan. Penting untuk dibaca bagi orang Indonesia, yang kebanyakan menganut agama, agar nilai-nilai universal agama seperti kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan tidak semakin tergerus oleh sistem sosial yang koruptif dan manipulatif.

Novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari. Novel ini menampilkan sisi humanisme dari masyarakat Indonesia, dengan setting masyarakat pedesaan. Latar cerita dalam novel adalah prahara konflik yang disebabkan oleh pergolakan politik setengah abad yang lalu, yang memakan korban jutaan manusia tidak berdosa. Novel ini mengajak kita kembali merenung, bahwa di atas politik masih ada kemanusiaan.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

SURAJI

Buku berjudul “Waras di Zaman Edan” karangan Mas Supriyanto (Prie GS). Saya membacanya dengan penuh perenungan sambil tersenyum-senyum. Ini buku kumpulan kolom, setiap kolom biasanya mengangkat tema hal-hal yang sepele, remeh-temeh, tapi renungannya dalam. Dan di setiap akhir tulisan kita tersenyum puas karena mendapatkan pencerahan. Buku ini membantu mengurai keruwetan dan kerumitan yang diciptakan sendiri oleh manusia akibat cenderung menganut rutinitas tertentu, atau pola pikir tertentu yang membelenggu.

Novel “Crime and Punishment” karya Vyodor Dostoyevski, sudah diterjemahkan penerbit Obor dengan Judul “Kejahatan dan Hukuman”. Buku ini sangat kuat pesan sosialnya, bahwa kemiskinan atau kesenjangan ekonomi yang sangat lebar dapat menyuburkan tindak kejahatan atau situasi anomali dalam masyarakat. Cerita ini mengetengahkan dilema antara penegakan hukum, moralitas, dan kemanusiaan dalam meghadapi situasi kejahatan akibat kemiskinan akut. Novel ini merupakan kombinasi yang kokoh antara jenis novel yang menyelami sisi kejiwaan (psikologis) dan jenis novel tentang perburuan seorang kriminal (detektif).

Buku kumpulan esai-esainya Gus Dur yang berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Buku ini sering saya buka, dan saya baca bagian-bagian yang saya pilih. Banyak topik tentang demokrasi, dan keagamaan diulas. Ulasan Gus Dur membantu mencairkan ketegangan hubungan antara agama dan negara. Intinya, Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas warga Indonesia bukan hanya kompatibel terhadap demokrasi, namun prinsip demokrasi itu sendiri merupakan bagian dari ajaran agama. Tema-tema yang pernah ditulis Gus Dur dalam buku ini masih sangat kuat relevansinya dan tetap aktual.

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

SURAJI

Saya akan menulis tentang kampung tempat saya dilahirkan. Kampung ini termasuk prototipe desa yang miskin, masyarakatnya hidup bercocok tanam di lahan tadah hujan, dan itu satu-satunya sumber penghasilan utama. Kampung yang susah air. Ibarat penduduk yang tinggal hanya berjuang untuk bertahan hidup sambil menunggu usia tua atau datangnya kematian. Layaknya masyarakat kampung, hubungan kekerabatan masih dijaga, masih mengamalkan ritual-ritual slametan dan kenduri. Tantangan yang dihadapi sekarang adalah degradasi lingkungan pertanian dan makin bertambahnya penduduk. Motivasi menulis buku ini hanya untuk memotret dan mendokumentasikan perikehidupannya saja agar jadi pengetahuan generasi baru nanti. Saya akan menulis layaknya sebuah laporan antropologi atau etnografi yang melihat perubahan budaya masyarakatnya. Saya akan kasih judul buku itu: “Yang Beranjak dan Bertahan” Dari judul buku ini saya ingin menggambarkan bahwa ada perubahan di kampung saya, baik lambat atau cepat, tapi juga ada yang seperti tidak berubah atau bertahan dalam kurun waktu yang lama.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

SURAJI

Di setiap kampung musti ada ruang atau tempat bagi anak-anak untuk membaca dan berdiskusi, belajar menulis dan mengembangkan nalar kritis. Idealnya ada perpustakaan di kelurahan-kelurahan yang itu bisa diakses oleh warga, petani bisa berkumpul mengembangkan pengetahuannya melalui sumber-sumber literatur buku. Di taman-taman kota bagus sekali kalau ada tempat nongkrong buat remaja sekaligus ada perpustakaannya. Di sekolah-sekolah, siswa-siswi difasilitasi untuk membentuk dan mengembangkan klub membaca (reading club). Tersedia buku-buku di kedai dan warung-warung. Perlu menciptakan budaya baca dan menulis dari mulai lingkungan keluarga. Membaca itu termasuk ibadah, sedangkan menulis adalah sedekah. (*)

SURAJI Lahir di Rembang, Agustus 1980. Minat di bidang jurnalisme dan sosial keagamaan. Sekarang aktif di komunitas Jaringan Gusdurian. Ia juga Program Manager di Yayasan Bani KH. Abdurrahman Wahid (YBAW). Menyukai kopi dan wayang kulit.

__________________________________________________________________________________________________________________________

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

 

Continue Reading

Cerpen

Valentin Rasputin: Pelajaran Bahasa Perancis

mm

Published

on

Kejadian ini berlangsung pada tahun 1948. Perang[1] belum lama usai, orang-orang ketika itu hidup dengan penuh kesulitan dan kelaparan.

Pada  tahun itu saya pergi dari  desa ke kota untuk melanjutkan pendidikan, lantaran sekolah di desa kami hanya sampai kelas 4.[2]

Di kota saya masuk ke kelas 5. Saya belajar dengan begitu baiknya, di semua mata pelajaran saya memperoleh nilai pyatyorka,[3] kecuali bahasa Perancis.

Dengan bahasa Perancis persoalan yang terjadi pada saya adalah karena pelafalan yang buruk. Untuk membenarkan pelafalan itu, Lidia Mikhailovna, guru bahasa Perancis, kerap menjelaskan, di manakah harusnya menempatkan lidah untuk mendapatkan bunyi yang benar. Tetapi semua kelihatannya sia-sia, lidah saya tidak mematuhi saya. Dan ada sedih yang lain. Ketika saya pulang dari sekolah dan tinggal sendirian, saya berpikiran mengenai rumah di desa. Saya merindukan ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan saya, juga kawan-kawan. Saya sangatlah kurus, dan ibu, ketika datang melihat, dengan penuh kesulitan mengenali saya.

Akan tetapi saya kurus bukan hanya lantaran rindu kepada rumah. Saya pada sepanjang waktu merasa kelaparan. Ibu kadang-kadang mengirimkan roti dan kentang lewat orang-orang, yang pergi ke kota, tetapi itu tidaklah banyak. Dan saya tidak mampu meminta lebih kepada ibu, karena di rumah masih ada saudara laki-laki dan saudara perempuan saya. Kira-kira ada dua kali ibu mengirimkan kepada saya 50 kopek,[4] agar saya dapat membeli susu. Saya membeli susu di tetangga.

Dan pada suatu hari, pemuda sebelah, bernama Fedka[5] bertanya kepada saya:

“Kau main uang?”

“Apa? Main uang?”

“Ya, kalau kau punya uang, mari kita pergi untuk main.”

“Tidak, saya tak punya uang.”

“Ya, kalau begitu mari kita pergi untuk melihat, bagaimana mereka bermain.”

Kami pergi menuju ke sekolah. Di belakang sekolah semua anak-anak berdiri.

“Buat apa kau bawa dia?” seorang yang paling tua di antara kami bertanya kepada Fedka.

“Tidak apa-apa, Vadik,[6] biarkan dia melihat, dia orang kita sendiri,” jawab Fedka.

“Kau akan main?” tanya Vadik kepada saya.

“Saya tidak punya uang.”

“Baiklah, kalau begitu kau lihatlah, jangan bilang kepada siapapun juga, kalau kami main di sini.”

Lebih jauh lagi tidak ada yang memperhatikan saya dan saya mulai melihat. Memahami permainan tersebut tidaklah sukar. Anak-anak menggambar kuadrat[7]di atas tanah yang tidak begitu besar dan meletakkan uang di dalam kuadrat, setiap orang 10 kopek. Kemudian mereka menjauh kira-kira dua meter dan mulai melemparkan koin. Kalau koin jatuh di dalam kuadrat, maka orang yang melempar tersebut mengambil semua, yang ada di dalam kuadrat.

Kelihatannya bagi saya, jika saya ikut main, saya juga akan mampu memenangkannya. Dan demikianlah ketika ibu mengirimkan 50 kopek kepada saya untuk kali ketiga, saya tidak pergi untuk membeli susu. Saya pergi untuk ikut bermain. Mula-mulanya saya kalah 30 kopek, kemudian menang 20 kopek, kemudian menang lagi 50 kopek. Hari tampak sudah malam, saya ingin pulang, tetapi Vadik berkata:

“Main!”

Dia melemparkan koin dan koin tersebut agak tidak sampai ke dalam kuadrat. Dan saya melihat bagaimana Vadik mendorong koin tersebut.

“Kau mendorong koinnya!” kata saya.

“Apa? Coba, kau ulangi!” teriaknya.

“Kau mendorong koinnya!”

Vadik memukul saya. Saya pun terjatuh dan dari hidung saya keluar darah.

“Kau mendorongnya, kau mendorongnya!”

Vadik memukul saya dan saya ketika itu tidak menangis. Kemudian dia meninggalkan saya sendirian. Dengan susah payah saya bangun dan pulang ke rumah.

Di pagi hari saya dengan rasa khawatir melihat diri sendiri di  dalam cermin: hidung jadi membesar, di bawah mata kiri terlihat lebam kebiru-biruan.

“Hari ini di kelas kita ada yang terluka,” kata Lidia Mikhailovna, ketika saya masuk ke dalam kelas. “Apakah yang terjadi?”

“Tidak ada yang terjadi,” jawab saya.

“Hah, tidak ada yang terjadi!” teriak Fedka secara tiba-tiba. “Kemaren dia dipukul Vadik. Mereka main uang!”

Saya tidak tahu, apa yang harus dikatakan. Kami semua tahu dengan jelas, bahwa karena main uang, orang bisa dikeluarkan dari sekolah dan Fedka mengatakan semuanya kepada Lidia Mikhailovna!

“Saya tidak bertanya kepadamu, tetapi jika kau ingin menceritakan mengenai sesuatu, mendekatlah ke papan tulis dan ceritakanlah suatu teks pelajaran.” Lidia Mikhailovna menghentikan kata-kata Fedka. Dan kepada saya, dia berkata: “Kau tunggulah setelah mata pelajaran.”

Setelah mata pelajaran Lidia Mikhailovna menghampiri saya.

“Itu benar, bahwa kau main uang?” tanyanya.

“Benar.”

“Dan bagaimana, kau menang atau kalah?”

“Menang.”

“Berapakah?”

“40 kopek.”

“Dan apa yang akan kau lakukan dengan uang itu?”

“Saya akan membeli susu.”

“Susu?” Lidia Mikhailovna dengan penuh perhatian memandangi saya. “Tetapi tetap saja tidak boleh bermain uang. Kau tahu mengapa? Kita mesti belajar bahasa Perancis. Datanglah ke rumah saya nanti malam,” katanya mengakhiri percakapan.

Begitulah pelajaran bahasa Perancis dimulai untuk saya. Hampir setiap malam saya datang ke rumah Lidia Mikhailovna untuk belajar. Dan setelah belajar, dia mengundang saya untuk makan malam. Tetapi saya seketika itu juga bangun, berkata, bahwa saya tidaklah lapar dan dengan sesegeranya saya berlari pulang. Begitulah berulang beberapa kali, dan kemudian Lidia Mikhailovna berhenti mengundang saya untuk makan.

Pada suatu hari saya diberitahu untuk datang ke sekolah mengambil bingkisan. Saya berpikir, bahwa ibu sekali lagi mengirimkan saya kentang melalui seseorang, tetapi di dalam bingkisan tersebut terdapat makaroni. Makaroni! Di manakah ibu membeli makaroni? Di desa kami makaroni tidak pernah dijual. Surat di dalam bingkisan juga tidak ada. Jika ibu yang mengirimkan bingkisan, maka ibu pasti akan menggeletakkan surat di dalamnya dan di  dalam surat tersebut ibu akan mengisahkan, dari mana kekayaan tersebut bermuasal. Artinya, ini bukanlah ibu. Saya mengambil bingkisan tersebut dan menuju kepada Lidia Mikhailovna.

“Apakah yang  kau bawa itu? Untuk apa?” tanyanya, manakala dia melihat bingkisan.

“Ibu guru yang melakukan ini, ibulah yang mengirimkan ini kepada saya,” kata saya.

“Mengapa kau berpikir, bahwa sayalah yang melakukannya?’

“Karena di desa kami makaroni tidak ada, ibu harusnya  tahu itu.”

Dengan seketika Lidia Mikhailovna tertawa: “Ya, seharusnya lebih dulu saya tahu. Dan apakah yang kalian punya di desa?”

“Kentang.”

“Kami di Ukraina memiliki apel. Di sana sekarang banyak apel. Yah, baiklah, ambillah makaroni tersebut. Kau harus banyak makan, agar bisa belajar.”

Tetapi saya sudah lari menjauh.

Di dalam perkara yang demikian, pelajaran belumlah berakhir, saya masih melanjutkan untuk pergi ke rumah Lidia Mikhailovna. Patutlah diceritakan, bahwa saya telah melakukan keberhasilan dan oleh karenanya saya belajar bahasa Perancis dengan senang hati. Mengenai bingkisan kami tidaklah lagi mengingatnya.

Suatu hari Lidia Mikhailovna berkata kepada saya: “Nah, bagaimana, kau tidak lagi bermain uang?”

“Tidak,” jawab saya.

“Dan bagaimanakah permainan tersebut? Ceritakanlah!”

“Buat ibu, untuk apakah?”

“Itu menarik! Di dalam masa kanak-kanak saya juga bermain-main. Ceritakanlah, tidak perlu takut!”

“Untuk apa saya takut!”

Saya pun menjelaskan aturan permainan kepada Lidia Mikhailovna.

“Mari kita bermain,” tiba-tiba dia menawarkan.

Saya tidak mempercayai pendengaran saya sendiri. “Ibu kan seorang guru!”

“Lantas apa? Guru – mahluk lainkah? Hanya jangan sampai direktur sekolah tahu, bahwa kita main. Nah, mari kita mulai, jika tidak tertarik, kita tidak akan main.”

“Baiklah,” kata saya dengan penuh keraguan.

Kami mulai main. Lidia Mikhailovna tidak beruntung, dan tiba-tiba saya jadi faham, bahwasanya  dia memang tidak ingin memenangkan! Dia sengaja membuang koin, agar koin tersebut sejauh-jauhnya jatuh dari titik tujuan.

“Sudahlah,” kata saya, “kalau caranya demikian saya tidak bermain. Untuk apa ibu justru mengalah?”

“Sama sekali tidak, lihatlah!” kata Lidia Mikhailovna dan dia melemparkan koin. Sekali lagi koin jatuh cukup jauh dan pada ketika itu juga saya melihat, bahwa Lidia Mikhailovna mendorong koin!

“Apa yang ibu lakukan?” teriak saya.

“Apa?”

“Buat apa ibu mendorong koinnya?”

“Tidak, koinnya memang tergeletak di sini,” dengan riang Lidia Mikhailovna menjawab.

Saya langsung tidak ingat, bahwa dia secara khusus memang mengalah pada saya. Saya memandang dengan hati-hati, agar dia tidak mengelabui saya.

Semenjak itu kami bermain hampir pada setiap sore. Sekali lagi saya memiliki uang dan sekali lagi saya membeli susu.

Akan tetapi pada suatu hari segalanya berakhir. Seperti biasanya, pada setiap sore kami bermain dan berbantahan dengan kencang.

“Apakah yang sedang terjadi di sini?” tiba-tiba saja kami mendengar suara yang berat. Di depan kami berdiri direktur sekolah.

“Saya pikir, Anda akan mengetuk pintu terlebih dulu sebelum masuk,” dengan perlahan Lidia Mikhailovna berkata.

“Saya sudah mengetuknya, tetapi tidak seorang pun yang menjawab. Apakah yang sedang terjadi di sini? Saya punya hak untuk mengetahui sebagai direktur sekolah.”

“Kami main uang,” dengan tenang Lidia Mikhailova menjelaskan.

“Anda main uang?…Dengan murid sendiri?!”

“Benar.”

“Anda tahu, saya…saya telah dua puluh tahun mengajar di sekolah, tetapi yang demikian ini…Ini perbuatan kriminal!”

“Selang tiga hari Lidia Mikhailovna pergi. Menjelang keberangkatannya dia berkata kepada saya: “Saya akan pergi ke Ukraina, ke tempat saya sendiri. Dan kau belajarlah dengan tenang. Tidak seorang pun yang akan mengeluarkanmu dari sekolah. Di sini sayalah yang bersalah. Belajarlah.”

Dia pun pergi dan saya tidak pernah melihatnya lagi.

Pada musim dingin, selepas waktu liburan, saya menerima bingkisan. Di dalamnya ada makaroni dan tiga buah apel merah yang besar-besar. Dulu kala saya hanya melihat apel di dalam gambar-gambar, tetapi sekarang saya langsung mengerti, beginilah apel-apel itu.

 

*Biografi Valentin Rasputin

Valentin Grigorevich Rasputin (15 Maret 1937-14 Maret 2015) lahir di desa Atalanka, Rusia dan wafat di Moskow, Rusia. Valentin Rasputin menamatkan Universitas Irkutsk pada tahun 1959 dan dalam beberapa tahun beliau bekerja di surat kabar di Irkutsk dan Krasnoyarsk. Buku pertamanya “The Edge Near The Sky” dipublikasikan tahun 1966 di Irkutsk dan “Man from This World” dikeluarkan tahun 1967 di Krasnoyarsk. Pada tahun yang sama “Money for Maria” dimuat di Angara No. 4 dan pada tahun 1968 “Money for Maria” diterbitkan sebagai buku terpisah di Moskow. Karya-karyanya yang lain: The Last Term (1970), Live and Remember (1974), Farewell to Matyora (1976), You Live and Love (1982), Ivan’s daughter, Ivan’s mother (2004).

Valentin Rasputin sangat dekat dikaitkan dengan gerakan kesusastraan Soviet Pasca Perang yang disebut dengan village prose atau rural prose. Karya village prose biasanya berfokus pada kesulitan kaum tani Soviet, pada gambaran ideal tentang kehidupan desa tradisional, dan secara implisit atau eksplisit mengkritik proyek modernisasi.

**Penerjemah Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

 

[1] Великая Отечественная Война (Velikaya Otechestvennaya Voina) atau Great Patriotic War adalah perang  antara Rusia dan Republik-republik yang tergabung di dalam Uni Soviet (kecuali negara-negara Baltik, Georgia, Azerbaijan dan Ukraina) melawan invasi Jerman dengan aliansinya Hungaria, Italia, Rumania, Slovakia, Finlandia, dan Kroasia. Perang berlangsung dari tanggal 22 Juni 1941 sampai tanggal 9 Mei 1945

[2] Primary general education merupakan tingkatan pertama dan berlangsung  selama 4 tahun, basic general education adalah tingkatan kedua berlangsung selama 5 tahun, dari kelas 5 sampai kelas  9, dan secondary (complete) general education yang merupakan tingkatan terakhir, berlangsung selama 2 tahun, dari kelas 10 sampai kelas 11

[3] Sistem penilaian di dalam pendidikan Rusia: единица yedinitsa = 1, двойка dvoika = 2, тройка troika = 3, четвёркa chetvorka = 4 dan пятёрка pyatyorka = 5

[4] Satuan terkecil mata uang Rusia

[5] Berasal dari nama Fyodor

[6] Beberapa sumber  menyebutkan berasal dari nama Vadim

[7] Persegi

Continue Reading

Trending