Connect with us

Kolom

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

mm

Published

on

W.S. Rendra: Mempertimbangkan Tradisi

(Pidato Rendra Pada Penerimaan Penghargaan

Dari Akademi Jakarta)

 

HARI ini Akademi Jakarta telah memberikan hadiah penghargaan kepada saya sebagai seorang seniman.

Hadiah penghargaan itu saya terima dengan baik. Terima kasih. Selanjutnya perkenankan saya mengutarakan kegirangan hati saya karena mendapatkan penghargaan ini.

Pepatah mengatakan: “Di dalam ilmu silat tidak ada juara nomor dua, di dalam ilmu surat tidak ada juara nomor satu”.

Tentu saja: di dalam persaingan di rimba persilatan, yang tinggal jaya hanyalah juara nomor satu, sebab yang nomor dua sudah terbunuh di dalam pertarungan; sedangkan di dalam ilmu surat, ukuran apa yang akan dipakai untuk menetapkan juara nomor satu? Bukankah ilmu surat itu cermin kehidupan? Maka kehidupan itu banyak seginya. Dan semua segi kehidupan itu penting. Jadi, para ahli ilmu surat itu, yang masing-masing mencerminkan segi berbeda dari kehidupan, tidak mungkin dipertandingkan. Semuanya nomor satu. Tidak ada yang lebih unggul dari lainnya.

Jadi mustahil bila saya menganggap bahwa penghargaan dari Akademi Jakarta ini bisa menjadi ukuran mutu bagi kesenian saya, di dalam perbandingannya dengan karya seniman-seniman lain yang  tidak mendapatkan hadiah pada tahun ini.

Maka kegembiraan saya hari ini tidak ada hubungannya dengan rasa unggul.

Lalu apakah dasar kegembiraan saya yang sangat besar hari ini?

            Di kota di mana saya tinggal, di Yogya, sejak pementasan drama saya Mastodon dan Burung Kondor, saya belum pernah diizinkan untuk melakukan pementasan sandiwara lagi. Alasan pelarangan-pelarangan terhadap pementasan saya itu tidak bisa diterima oleh akal sehat.

Oidipus Berpulang dan Lysistrata yang sudah diizinkan di Jakarta itu, tidak diizinkan untuk dimainkan di Yogya.

Naskah Oidipus Berpulang itu dilarang karena dinilai tidak sesuai dengan naskah Sophocles yang asli. – Tetapi apakah ada undang-undang yang melarang penyaduran?

Sedang Lysistrata dilarang berdasarkan pertimbangan atasan, serta mengingat “situasi dan kondisi di Daerah Istimewa Yogyakarta saat itu”. – Astaga, jadi rupa-rupanya saat ini, menurut keterangan di dalam surat polisi ini, Yogya dalam keadaan sedemikian rupa sehingga pementasan sebuah sandiwara semacam Lysistrata saja dianggap akan bisa membahayakan suasana. Kalau begitu secara tidak langsung diakui bahwa Yogya penuh dengan keadaan yang tidak normal. Ataukah keadaan Yogya diakui selalu tegang dan gawat terus-menerus? – Bagaimanakah sebenarnya? Sebagai penduduk Yogya saya kurang tahu duduk perkara keadaan aneh semacam itu. Pemerintah Pusat, para wakil rakyat, dan para wartawan harus menyelidiki “situasi yang dikuatirkan oleh polisi Yogya tersebut di atas. Apakah para atasan yang disebut oleh polisi itu benar sudah tidak bisa menguasai suasana sehingga mereka menjadi repot hanya oleh sebuah sandiwara? Ini harus benar-benar diselidiki. Apakah mereka takut menghadapi sindiran dan kritikan? Kalau begitu apakah kewibawaan mereka sudah sedemikian tipis sehingga gentar menghadapi kritikan?

            Syahdan, para ksatria dan raja-raja bijaksana didalam wayang tidak pernah mengamuk karena kritikan-kritikan dari Semar, Bagong dan Petruk. Mereka selalu menanggapi kritikan-kritikan itu dengan baik. Mereka adalah ksatria dan raja-raja yang bijaksana yang bisa diajak bicara. Karena itu mereka mendapatkan wibawa. – Lain daripada para raja raksasa.

Mereka tidak punya Semar, Bagong, Gareng, dan Petruk yang memberikan kritikan-kritikannya. Mereka penuh gairah angkara murka, adigang-adigung-adiguna, penuh roso risi = rasa bersalah, sehingga mereka tidak tahan terhadap kritikan. Mereka kasar. Mereka hanya bisa menekan dan melarang. Mereka tidak bisa diajak bicara.

Mereka hanya punya kekuasaan, tetapi mereka tidak punya wibawa, oleh karena itu mereka tidak tahan terhadap kritikan yang dilancarkan dalam goro-goro atau adegan banyolan yang penuh sindiran.

Setelah wayang mencapai saat: goro-goro itu, hanya para ksatria yang bisa tinggal jaya, para raksasa tak bisa jaya sesudah itu. Ya, bagaimana cara penguasa menghadapi goro-goro itulah ukuran mutunya. Kita akan segera bisa melihat apakah ia termasuk ksatria atau raksasa.

Adapun sandiwara-sandiwara saya tak lebih dari sebuah goro-goro. Di Dalam goro-goro Semar, Bagong, Gareng dan Petruk memang melancarkan kritikan yang menginginkan keadilan yang merata, namun tidak menyarankan perubahan kekuasaan. Goro-goro yang sudah saya mainkan di Jakarta tidak pernah menimbulkan anarki, karena pada hakikatnya saya antianarki. Jadi kenapa para atasan yang disebut oleh polisi di Yogya itu melarang goro-goro saya yang menentang anarki itu? Ini menimbulkan keprihatinan saya yang dalam.

Rendra tengah beraltih teater bersama rekan-rekannya di halaman rumahnya yang jadi markas Bengkel Teater di Kampung Ketanggungan, Yogya, 1970. (Photo: Arsip Rumah Budaya Tembi)

 

Tiba-tiba di dalam keprihatinan saya itu, datanglah keputusan Akademi Jakarta  untuk memberikan penghargaan kepada saya. Inilah suatu keseimbangan di dalam masyarakat yang menjadi rahmat bagi saya.

Itulah sebabnya kenapa hari ini saya benar-benar bergembira dan bersyukur sedalam-dalamnya.

Ah, sekarang saya ingin gantian berbuat sesuatu untuk Akademi Jakarta. Saudara-saudara telah berkenan untuk memberi penghargaan kepada saya, maka kini saya pun berkenan untuk memberikan tanda mata kepada Saudara-saudara. Tanda mata saya ini bernama goro-goro.

Orang-orang di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, dan juga orang tua saya, tidak bisa membayangkan apakah Akademi Jakarta itu. Sesungguhnya banyak orang yang belum pernah mendengar tentang adanya Akademi ini, dan baru sekarang mereka membicarakannya.

Banyak di antara mereka menyangka bahwa Akademi Jakarta ini semacam Akademi Bank, atau Akademi Bahasa Asing, atau Akademi Kesenian, atau semacam itu.

Salah tampa rakyat banyak yang semacam ini wajar sekali, sebab sampai sekarang Akademi Jakarta belum berbuat sesuatu yang dengan kuat menyangkut kepentingan mereka, dan belum pernah pula Akademi Jakarta mempunyai bahasa yang kuat untuk menjelaskan kehadirannya.

Saya sendiri juga susah dalam memberikan jawaban kepada mereka perihal lembaga Saudara-saudara ini.

Nama “Akademi” selalu mengingatkan saya kepada pabrik pengangguran, sekolah-sekolah yang miskin metoda dan serba melahap kesimpulan-kesimpulan pemikiran asing tanpa mengolah daya pencernaan yang baik!

Beberapa hari sebelum saya datang kemari untuk menerima penghargaan ini, sering kali, sambil mengasuh anak bungsu saya di bawah pohon-pohon nangka, di kampung saya, di Ketanggungan, Yogya, saya merenung, mencoba mencari-cari kaitan Akademi Saudara-saudara dengan dunia saya. – Ya, bagi orang kampung seperti saya, apakah artinya Akademi semacam itu?

Di Prancis memang ada Akademi Prancis, didirikan oleh Richelieu. Maksudnya untuk setiap kali membuat takaran resmi bagi kebudayaan yang berkembang di masyarakat. Ini penting bagi Prancis waktu itu, karena merupakan tuntutan dari bentuk politik monarki absolut. Waktu itu, disesuaikan dengan kebutuhan politis Raja Louis kebudayaan harus bercorak neoklasik. Satu per satu, seniman Prancis waktu itu, dipaksa bertekuk lutut terhadap aliran neoklasik. Corneille menderita, mencoba bertahan, tetapi akhirnya bertekuk lutut juga. Hanya Moliere yang sanggup bertahan terhadap tekanan dari Akademi Prancis.

Dan kini Akademi Jakarta.

Apakah saya sekadar melahap ataukah saya akan mencernakannya? Ini suatu laku yang penting untuk menentukan kelangsungan hidup saya.

Nama Akademi Jakarta memang mengingatkan saya kepada Akademi Prancis, lalu terlintas pula di dalam renungan saya bagan-bagan masyarakat yang merupakan kesimpulan pikiran dan pengalaman orang Barat. Apakah saya harus mengaitkan kedudukan Akademi Jakarta ke sana?

Wah, ini tidak sesuai dengan alat pencernaan orang kampung seperti saya.

Selera bisa dibina, pencernaan selalu berkiblat kepada lingkungan.

Jadi saya akan mencoba mengaitkan Akademi Jakarta dengan alam pikiran dan pengalaman lingkungan saya.

Bencana dan keberuntungan manusia ialah bahwa ia terdiri dari roh dan badan. Modern atau tidak modern, manusia harus mempertahankan keseimbangan antara roh dan badannya, demi kesehatan.

Di dalam masyarakat modern atau bukan modern, pembagian roh dan badan itu tetap ada. Lembaga hukum, adat-istiadat, kebiasaan-kebiasaan itulah badan. Naluri dan mimpi, itulah roh. Adalah tugas para ulama, cendekiawan, dan seniman untuk menjaga peranan roh masyarakat. Kerja sama dengan badan harus dilakukan. Keseimbangan harus dijaga.

Kesepuluh anggota Akademi Jakarta adalah cendekiawan-cendekiawan dan seniman-seniman yang terpandang, dan masing-masing sudah nyata jasanya. Di zaman dulu orang-orang seperti mereka disebut empu-empu. Dan kedudukan mereka masing-masing di dalam mata masyarakat, adalah penjaga nilai-nilai rohani.

            Maka, raja berumah di keraton dan empu berumah di angin. Begitu kata pepatah yang tersangkut di rantang pohon.

Jadi kenapa kesepuluh empu ini mesti dilembagakan? Bukankah sejauh-jauhnya empu berkelembaga, pasti hanya menjadi lembaga setengah badan?

Rupa-rupanya di dalam saat perubahan masyarakat diperlukan secara mengakar, maka raja atau pengatur lembaga selalu berusaha untuk setengah melembagakan empu-empu itu. Maksud saya bukannya mengubah cendekiawan itu menjadi teknokrat, sebab itu artinya membadankan mereka sama sekali, tetapi hanya sekadar setengah membadankan saja.

Maksudnya tentulah untuk mengatur ketangkasan masyarakat di dalam mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan, sesuai dengan kebutuhan bersama.

Maka apabila empu-empu ini seluruhnya dibadankan menjadi patih atau teknokrat, akan hilanglah kemampuan mereka untuk dipakai sebagai imbangan rohani oleh raja. Tetapi apabila setengah dibadankan saja, maka mereka akan lebih bisa dirapikan untuk kepentngan ketangkasan kerja sama, sementara itu mereka masih mampu memiliki kewibawaan rohani.

Dahulu di zaman kehinduan akan ditanamkan di Indonesia, dan masyarakat memerlukan perubahan tata kemasyarakatan serta tata pertanian yang mengakar, maka empu-empu juga diusahakan oleh raja untuk setengah dilembagakan. Pada saat itu empu-empu dipindahkan dari padepokan-padepokan dan mulai berumah di keraton. Banyak pujangga menjadi pujangga keraton. Dukun menjadi dukun keraton semacam Empu Lohgawe, meskipun saat itu empu-empu pembuat keris tetap sukar untuk dikeratonkan dan banyak di antara mereka, tetap tinggal di angin, seperti Empu Gandring, Empu Supo Pertama, dan lain-lain.

Kejadian ini berulang lagi waktu agama Islam mula-mula masuk ke Jawa. Waktu itu Islam memberikan kesegaran kepada kemacetan masyarakat yang terlalu dijuruskan oleh Gajah Mda kepada kebudayaan pertanian, sehingga sangat lemah kebudayaan perdagangannya; apalagi setelah Syahbandar Tuban hijrah ke Malaka dengan segenap kapal dan modal-modalnya. Islam yang masuk waktu itu juga berarti tambahnya kembali kekuatan perdagangan. Raja Islam yang mengganti kekuasaan Majapahit sanggup menghadapi kekuatan perdagangan bangsa Portugis. Sultan Trenggono dengan gilang-gemilang bisa merebut kembali Sunda Kelapa dari tangan orang-orang Portugis. Ia adalah raja yang membawa pembaruan kepada masyarakat. Empu-empu, ya, ulama-ulama, yang penting  disetengah-lembagakan menjadi wali, sehingga menjadi Wali Sembilan. Ada juga empu yang tidak mau disetengah-lembagakan, ia ingin tetap berumah di angin, yaitu Syekh Siti Jenar.

Sekarang di zaman kita ini, perubahan masyarakat perlu diadakan secara mengakar, sebab kebudayaan Jawa Baru yang kepriayian, yang sudah kehilangan kerakyatannya itu, serta juga sisa-sisa kebudayaan penjajahan yang sok barat tetapi tidak ilmiah itu, perlu diganti dengan kebudayaan baru yang lebih memberi kesempatan kepada nilai-nilai analitis dan logis, serta juga mengutamakan keadilan kerakyatan, tanpa melupakan dasar agama yang kuat tertanam di dalam naluri bangsa.

Tentu saja, demi ketangkasan kerja sama di dalam masyarakat dalam memperjuangkan perubahan itu, para empu, yah, maksud saya cendekiawan-cendekiawan, ulama dan seniman perlu juga disetengah-badankan. Jadi akhirnya saya bisa menerima dan mengatakan kedudukan Akademi Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Majelis Ulama, dan lain sebagainya kepada kebutuhan masyarakat.

Meskipun tentu saja akan tetap ada cendekiawan atau seniman yang tidak mau disetengah-badankan, misalnya saya, dan banyak lagi yang lain. Yah, saya ingin tetap tinggal di angin.

Begitulah memang seharusnya keseimbangan di dalam masa-masa perubahan. Badan + setengah roh, setengah badan + roh. Salah satu ditiadakan, keseimbangan akan terguncang. Tugas penjaga roh, yaitu mereka yang berumah di angin, adalah untuk mencari imspirasi dan daya hidup. Tugas penjaga badan, yaitu yang berumah di keraton adalah untuk menjalankan pelaksanaan, menjaga setengah badan = adalah mereka yang berumah di dewan, untuk menyebarkan nilai roh dan nilai badan sehingga menjelma menjadi perumusan yang bisa dilaksanakan. Inilah tugas yang berat dan gawat, karena menurut kebijaksanaan dan kematangan jiwa.

Rendra (tengah) bersama Iwan Fals dan Sawung Jabo. (photo koleksi http://sidomi.com)

Saya percaya bahwa orang-orang yang berkualitas semacam itu ada di dalam masyarakat kita. Tetapi saya tidak percaya bahwa orang itu bisa bersifat dewa. Saya tidak bisa percaya bahwa ada orang bisa maju penuh sementara ia berumah di angin dan sekaligus berumah di keraton atau di dewan. Disiplin bekerja antara ketiga golongan itu sungguh-sungguh berbeda.

Orang yang tinggal di keraton harus bekerja dengan rencana: rencana pelaksanaan, rencana tempat, rencana waktu, rencana keamanan. Orang yang tinggal di angin tidak punya rencana ruang karena ia meruang: ia tidak punya rencana waktu karena didalam alam; kemarin dan esok adalah hari ini; ia tidak punya perhitungan untung rugi karena di mata alam: bencana dan keberuntugnan sama saja; ia tidak mencari ketika  di luar dirinya karena begitu ia mengalami langit di luar dan langit di badan bersatu dalam jiwanya:  … itulah ketikanya!

Maka, orang yang berumah di dewan, lain lagi disiplinnya: mereka harus menjaga agar selalu ada ruang dalam pikiran, perasaan, dan perkataannya untuk diplomasi. Merekalah yang bertugas untuk menjaga agar pertentangan roh dan badan tidak menjelma menjadi perang, tetapi menjadi diplomasi. Segala persaolan harus mereka  hadapi dengan disiplin ilmu silat pedang. Adapun menggenggam pedang itu seperti menggenggam burung: terlalu longgar dipegang ia terbang, terlalu erat dipegang ia mati.

Begitulah besarnya perbedaan disiplin antara ketiga golongan itu. Sehingga tidak mungkin satu golongan merangkap menjadi golongan lain pula.

Orang yang berumah di angin harus mendapat keadilan di dalam keseimbangan masyarakat di dalam alam semesta.

Syekh Siti Jenar sesungguhnya tak usah dibunuh. Sebab nilai rohani yang menghalalkan pembunuhan semacam itu sudah menjadi budak dari badan. Itulah kesalahan Sunan Kudus, wali yang terlalu membudak kepada badan. Ia lah yang memulai timbulnya keguncangan keseimbangan antara roh dan badan.

Kerajaan Demak jatuh diganti Kerajaan Pajang yang cuma singkat usianya, lalu jatuh pula, lalu diganti oleh kekusaan Panembahan Senopati pendiri Kerajaan Mataram II.

Orang-orang priayi Jawa Baru menganggap Panembahan Senopati adalah teladan utama. Tetapi sebenarnya ia adalah raja yang buruk dan liar. Salah seorang putranya disuruh membunuh ibunya. Salah seorang putrinya disuruh menjadi ronggeng, memikat hati seorang pemberontak, menjadi isterinya dan akhirnya lalu menjadi jalan kematiannya. Sesudah itu hampir pula putrinya itu ia bunuh juga karena sudah terlanjur mengandung anak dari benih pemberontak itu. Untung bisa dicegah oleh salah seorang putranya. Dan terhadap raja yang sewenang-wenang ini tak ada suara roh yang berani menentangnya. Suara-suara roh sudah disirnakan oleh Sunan Kudus dengan bantuan wali-wali lainnya.

Akhirnya Sultan Agung, cucu Panembahan Senopati, menambah parah kegawatan imbangan itu.

Ia merasa mendapat wahyu cakraningrat, yaitu wahyu untuk menjadi raja dan pendeta sekaligus, roh dan badan sekaligus. Suara roh makin tak ada  jadinya. Ia bergerak tanpa imbangan dan aturan.

Lalu mulailah Mataram mewarisi kepriayian yang bertele-tele itu. Daya cipta yang segar parah. Kebudayaan Jawa Baru hanyalah kebudayaan gincu dan rendah-renda, roh yang polos lemah suaranya, diganti dengan kecerdikan yang gemerlapan.

Sungguh besar ongkos yang harus dibayar karena menyingkirkan orang-orang yang berumah di angin.

Orde Lama jatuh karena mencap orang-orang yang berumah di angin sebagai golongan antirevolusi, sehingga tak ada lagi imbangan kontrol yang bisa memberi tanda bahaya.

Dan sekarang bagaimanakah keadaan orang-orang yang berumah di dewan saat sekarang?

Rakyat ingin melihat dan membuktikan, apakah orang-orang yang berumah di dewan sanggup membela orang yang berumah di angin? Apakah mereka sanggup merapikan orang yang berumah di keraton? Apakah mereka sanggup membela keadilan kerakyatan dengan lebih mendorong agar bisa tercapai demokratis politik yang lebih bijaksana? Apakah mereka sanggup lebih mendorong terlaksananya demokrasi ekonomi? Apakah mereka sanggup mendorong tercapainya demokrasi pendidikan? Sebab inilah semua alur perubahan yang diperlukan untuk membela rakyat.

Tetapi juga ini: apakah orang-orang yang berumah di dewan akan sanggup mendorong agar nilai ilmiah benar-benar bisa diterapkan di dalam melaksanakan kemajuan? Yang saya maksud, agar urutan 5 disiplin ilmiah: mengumpulkan fakta, menyusun fakta, menganalisa fakta, membuat kesimpulan dan membuktikan kesimpulan, benar-benar bisa diterapkan di Indonesia. Tanpa salah satu dari kelima disiplin itu tidak akan mungkin bisa ada penghayatan ilmiah. Jadi sangat penting agar penghayatan ilmiah bisa dilaksanakan rakyat bahwa semua fakta bisa terbuka untuk mereka, dan mereka pun harus dibebaskan untuk mengumpulkan fakta apa saja.

            Selanjutnya harus pula ada kesempatan untuk membuktikan kesimpulan-kesimpulan yang sudah ada. Tanpa kesempatan-kesempatan semacam itu sikap ilmiah adalah omong kosong.

Dalam hubunganya dengan renungan saya di kampung Ketanggungan, itulah kaitan Akademi Jakarta dengan kepentingan rakyat.

Nama “Akademi” memang asing, tetapi dalam takaran soal ini, tak perlu menjadi masalah lagi. Kata “wali” toh juga kata asing tadinya.

Yang penting tantangan kepada mereka sudah saya ucapkan. Sudah terang tantangan serupa itu tidak cukup bisa dijawab dengan memberikan hadiah-hadiah semacam ini. Saya masih menunggu kapan lagi Akademi Jakarta akan bisa mengundang orang-orang yang berumah di angin untuk berpidato di masyarakat terbuka yang diselenggarakan oleh Akademi. Saya masih ingin melihat buku-buku apa yang akan diterbitkan. Dan juga ingin menyaksikan bagaimana pelaksanan-pelaksanaan lain yang lebih nyata.

Sekarang saya ambil hadiah dari Akademi Jakarta. Terima kasih.

Saya akan kembali ke angin.

Kemarin dan esok

adalah hari ini

Bencana dan keberuntungan

sama saja

Langit di luar

langit di badan

bersatu dalam jiwa

1975

***

 

*Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Sepulang memperdalam pengetahuan  drama di American Academy of Dramatical Arts, ia mendirikan Bengkel Teater. Sajak-sajaknya mulai dikenal luas sejak tahun 1950-an. Antara April-Oktober 1978 ditahan Pemerintah Orde Baru karena pembacaan sajak-sajak protes sosialnya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kumpulan puisinya: Balada Orang Tercinta (1956; meraih Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-56); Empat Kumpulan Sajak (1961); Blues untuk Bonnie (1971); Sajak-sajak Sepatu Tua (1972); Potret Pembangunan dalam Puisi (1983); Disebabkan oleh Angin (1993); Orang-orang Rangkasbitung (1993); Perjalanan Bu Aminah (1997); Mencari Bapak (1997). Buku-buku puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Indonesia Poet in New York (1971; diterjemahkan Harry Aveling, et.al.); Rendra Ballads and Blues (1974; Harry Aveling, e.al.); Contemporary Indonesian Poetry (1975; diterjemahkan Harry Aveling), ia pun menerjemahkan karya-karya drama klasik dunia, yaitu: Oidipus Sang Raja (1976); Odipus di Kolonus (1976); Antigone (1976); Ketiganya karya Sophocles, Informan (1968; Bertoit Brecht); SLA (1970; Arnold Pearl). Pada 1970, Pemerintah RI memberinya Anugerah Seni dan lima tahun setelah itu ia memperoleh penghargaan dari Akademi Jakarta.

**Sumber: Rendra, Mempertimbangkan Tradisi, PT Gramedia, Jakarta, 1984.

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kolom

Potret Membaca Kita

mm

Published

on

Persoalan membaca kini mulai diresahkan oleh pemerintah. Pemerintah pun bergeliat membuat gerakan literasi. Ini sudah dimulai dari artikel Kemendikbud Rintis Gerakan Literasi di Sekolah (Republika, 8/8/ 2015),  menyatakan bahwa terdapat kegiatan membaca buku 15 menit sebelum belajar, maka gerakan literasi ini perlu dilakukan. Sekolah mulai mencoba mengawali gerakan ini. Sayang, aturan pemerintah ini memasygulkan murid dan gurunya. Boleh jadi, ini dikarenakan kita tidak terbiasa membaca sastra. Kita bisa berprasangka, kita hanya melek huruf, tidak melek membaca. Wajar bila yang terjadi sekolah ogah-ogahan dengan gerakan literasi.

Mungkin kita dapat membanding dulu dan sekarang. Dulu, adanya perasaan membaca dan menulis merupakan kebutuhan utama. Kita dapat melihatnya dari majalah kuncung, bobo, majalah teen, dan lain sebagainya. Dalam majalah, terlihatnya antusias anak-anak sampai orang tua gemar merangkai kata. Melalui surat-menyurat, kata digunakan untuk menuangkan semua keluh kesah. Biasanya surat di muat di rubrik surat pembaca.

Entah surat berisikan pemikirannya tentang politik, ekonomi, atau kehidupan rumah tangganya dituliskan. Barangkali surat juga menyuguhkan kata-kata heroik, pembangkit minat baca. Layaknya Asrul Sani, dalam buku Surat-surat Kepercayaan yang menyatakan bahwa buku memberi pengetahuan mengenai peninggalan dan pemikiran seluruh pelosok dunia. Dari ungkapan ini Asrul mengisyaratkan bahwa kegiatan membaca membuat jarak tidak berarti. Kita bahkan bisa membaca pemikiran apa pun di dunia, cukup dengan berhadapan dengan buku.

Mungkin, ini juga membuat orang akrab dengan perpustakaan.  Buku-buku seolah dianggap  teman. Bahkan, saat menjalani hukuman pengasingan ataupun di penjarakan orang lebih bisa membangkitkan dunia literasinya. Syahrir, Soekarno, Tan Malaka, Moh. Hatta,   atau Pramoedya, merupakan tokoh yang doyan membaca. Pemikiran dan kisah mereka pun, bisa kita ketahui dengan buku-buku sejarah dan cerita-cerita pendek.

Bukan hanya itu, beberapa dari mereka, mencontohkan untuk lebih mencintai buku. Boleh jadi kita dapat tengok Gerson Poyk di buku Nostalgia Flobamora, ia mewariskan buku-buku untuk anaknya. Dengan harapan buku dapat dijadikan harta yang paling berharga. Sebab, buku seolah menjadi identitas diri dalam membentuk pemikiran si pembaca. Refleksi dari kehidupan yang sudah tidak nyaman. Ketika segala hal terlihat buruk dalam keadaan yang sebenarnya, buku membawa mereka pada kisah-kisah nan menarik.

Bila kita kembali lagi ke masa kanak-kanak di tahun ‘90an, mungkin kita dapat disajikan majalah Bobo. Di dalamnya memuat rubrik kisah Nurmala dan Boni si gajah panjang. Cerita itu penuh peran moral yang disajikan. Tidak lupa soal-soal sekolah dasar diselipkan untuk mengasah kepandaian anak. Di majalah itu anak bebas membaca, bebas memilih, bahkan berkarya. Anak-anak pun bisa mengirim puisi, cerita pendek atau gambar kepada redaksi bobo. Sayang, kini majalah Bobo yang tidak lagi terlalu tenar dan diminati. Ia kini telah digantikan google, anak cukup mengasah bacaan dan bertanya lewat internet.

Saat teknologi seperti televisi dan gawai pintar belum ditemukan, satu-satunya hiburan adalah membaca. Membaca membuat imajinasi kita bermain dan bebas untuk menjelajah. Tak ayal, dunia literasi yang terbangun membicarakan pergaulannya dengan buku. Buku yang menjadi sahabat dalam mencurahan segala kepelikan hidup. Seolah dengan membaca kita dapat merefleksikan kembali pemikiran yang ada dalam kata.

Pembaca seolah dapat terbius dengan rangkaian kata dari penulis. Turut serta merasakan pemikiran yang tertuang dalam buku. Kita dapat mengetahui alurnya hingga dengan membaca seseorang makin terbebas dari dunia realitas. Sayangnya, ingatan tentang buku sebagai alat yang menyenangkan mulai hilang. Pelbagai tantangan hadir dalam menurunkan minat membaca buku.

Seiring dengan zaman yang serba canggih, kita malah sibuk dengan dunia maya. Semua mulai tenggelam dengan kegiatan di dunia media sosial. Kebanyakan remaja yang makin ketagihan dengan media sosial. Dikutip dari data kominfo di kominfo.go.id menuliskan bahwa pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Mirisnya, kita hanya aktif berselancar di dunia maya sambil memposting segala kegiatan. Bak artis yang ingin selalu diperhatikan penggemarnya. Waktu pun dibuang untuk berselancar di dunia maya. Seolah melupakan waktu untuk kegiatan yang lebih menggali ilmu pengetahuan. Cita-cita yang terbangun pun dapat menjadi viral dan artis di dunia maya. Atau lebih parahnya kita menjadi komentator untuk persoalan orang lain, yang belum tentu kebenarannya.

Kegiatan menjadi komentator ini memudahkan kita terbawa arus dan kurang mengontrol kometar. Bahkan, sering kali kita memberikan komentar suatu persoalan remeh temeh. Apalagi disokong dengan menjadi komentator yang miskin bacaan. Alhasil, komentar yang terlontar di media sosial kebanyakan bukan komentar yang berbobot. Hanya sekedar komentar yang ditulis dari kefanatikan. Tidak heran bila kemudian komentar hanya seputar memuji atau mencela. Kadang mencaci, saling menghujat dan menuding.

Tentu bila komentar masih seputar itu, akan berdampak pada daya nalar. Bila kita masih menjadi komentator yang miskin bacaan, tentu mudah tergiring dengan opini orang lain. Lebih dikhawatirkan lagi menjadi partisipan yang dimanfaatkan oleh kaum tidak bertanggung jawab. Maka dari itu, penting bagi kita untuk membaca dan mengkritisi pemikiran orang lain. Tidak hanya menuangkan komentar yang tidak berbobot.

Penting bagi kita untuk kembali berkaca diri dalam memanfaatkan teknologi. Dengan media sosial kita memang dimudahkan untuk dapat berkenalan dengan seluruh manusia di bumi. Ini dapat dimanfaatkan untuk bertukar pikiran. Mengenai persoalan politik, budaya atau lainnya. Bukan hanya curahan hati ungkapan kekesalan atau kesenangan. Kemudian batasi pemakaian media sosial dan manfaatkan waktu senggang.

Boleh jadi kita dapat menggugat diri sendiri, untuk menggunakan waktu senggang dengan lebih banyak membaca. Membaca membuat kita memahami pelbagai hal. Selain itu, segala perubahan dapat kita ikuti bila kita terus membaca. Laiknya Manusia memiliki otak yang setiap harinya harus diperbaharui pengetahuannya. Untuk itulah membaca menjadi perlu dan penting. (*)

*) Ayu Rahayu: Mahasiswi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

 

 

Continue Reading

Kolom

Bahasa di Tangan Komentator Bola

mm

Published

on

Pertandingan sepak bola yang ditayangkan di televisi selalu menyisakan keseruan yang menarik dibahas. Salah satunya adalah lontaran sang komentator. Komentator yang biasanya ditemani pemandu acara hadir di studio untuk memberikan ulasannya seputar pertandingan yang baru berlangsung. Komentar-komentar tersebut bisa juga disiarkan usai pertandingan berakhir. Kemunculan komentator bola kian meramaikan kompetisi di lapangan. Penonton di rumah pun pasti menantikan celoteh-celoteh yang lahir dari mulut komentator.

Publik yang menyenangi tayangan liga sepak bola tentu ingat dengan salah satu kata yang meluncur dari komentator bola, yakni kata jebret. Kata tersebut menjadi fenomenal dan melekat di telinga para pemirsa yang setia menyaksikan tayangan perlombaan antar tim sepak bola. Jebret pun seolah masuk dalam daftar kosakata baru.

Valentino Simanjutak, adalah pria yang secara spontan meneriakkan kata tersebut saat timnas U-19 bertarung melawan timnas Vietnam pada 22 September 2013. Kala itu, pria jebolan abang-none DKI Jakarta tersebut belum menjadi komentator, ia bertugas sebagai pembawa acara. Komentator yang berpasangan dengannya kala itu adalah Abdul Harris.

Kata jebret keluar saat Valentino memerhatikan pergerakan bola yang dibawa pemain Indonesia mengarah ke gawang Vietnam yang dijaga Le van Truong. Jagad media sosial pun langsung penuh dengan tagar jebret saat itu. Kata jebret kian menghiasi percakapan sehari-hari. Masyarakat menjadi akrab dengan kata hasil eksplorasi Valentino itu.

Seiring waktu, Valentino pun didapuk menjadi komentator bola. Ia tidak henti-hentinya menciptakan istilah-istilah baru untuk merujuk makna tertentu. Ia tidak bosan-bosannya menyegarkan pertandingan sepak bola lewat ujaran-ujaran komentar, yang kebanyakan justru membikin pemirsa yang mendengarnya terpingkal. Pembawaannya selama mengampu acara bola meninggalkan jejak baru dalam dunia kebahasaan.

Valentino mungkin tidak merencanakan kata-kata unik yang ia pakai untuk menyebut gerakan tertentu dalam pertandingan bola yang ia komentari. Pasalnya, perputaran bola di kaki pemain tidak bisa ditebak. Perpindahan bola dari satu posisi ke posisi lain sangat cepat. Tentu butuh kejelian dari komentator untuk mengamati setiap detil kejadian dalam pertandingan. Inilah yang membuat Valentino refleks mengeluarkan komentar unik.

Kamus Sepak Bola

Keunikan komentar bola tidak berhenti di jebret saja. Penggemar bola pasti familiar dengan kata-kata berikut; tendangan LDR, tendangan SLJJ, umpan manja, rumah tangga, umpan antar benua, umpan membelah lautan, Messi kelok 9, harmonisasi rumah tangga, gerakan 362, blusukan, peluang 24 karat, tendangan depresi, umpan membelai, aksi tipu daya, gocek keliling dunia, tendangan PHP, tendangan menepati janji, membuat retak hati, gerakan 378, bon jovi, menjaga koordinasi keutuhan rumah tangga, umpan cuek, umpan mubazir, gratifikasi umpan, umpan tega, dan gelandang penimba sumur. Pertandingan bola yang menegangkan berubah kendur dan kaya humor setelah mendengarkan komentar semacam itu. Penonton dibikin berkerut sekali menahan tawa ketika memikirkan arti dari komentar unik kreasi para komentator.

Kata yang digunakan para komentator sebagai perumpamaan gerakan para pemain adalah buah dari proses skema. Skema menurut Chaplin (1981) merupakan kumpulan ide yang tertata rapi dalam sebuah peta kognitif. Manusia menempatkan skema sebagai model. Peristiwa yang dialami manusia diolah untuk dijadikan acuan dalam melihat kejadian serupa pada lain kesempatan. Sebab skema merupakan kerangka dasar yang mengandung respon yang pernah disampaikan. Respon tersebut dirancang sebagai landasan dalam memberikan standar bagi respon selanjutnya. Chaplin menjabarkan definisi skema dalam Dictionary of Psychology.

Proses skema berlangsung ketika komentator bola menghubungkan konsep hubungan jarak jauh atau long distance relationship (LDR) yang pernah ia dapatkan untuk mengibaratkan tendangan jarak jauh. Maka tercetuslah ungkapan tendangan LDR. Skema terancang karena adanya asosiasi yang terjadi. Kata unik yang diteriakan oleh komentator bola merepresentasikan pengalaman yang dipunyai.

Skema juga mempengaruhi penangkapan pesan yang disampaikan. Apabila pemirsa tidak memiliki latar pengalaman yang sejalan dengan yang dianut komentator bola, maka kata-kata unik tersebut sulit dipahami. Rekayasa dibutuhkan untuk mengecoh skema lama yang dipegang penonton. Tujuannya adalah memasukkan skema baru sesuai dengan yang diinginkan komentator. Ini bisa dilakukan lewat penjabaran setelah kata-kata unik terpekikan. Pemandu acara yang mendampingi juga bisa mengarahkan pertanyaan ke komentator untuk mengorek jawaban atas makna dari kata-kata baru yang unik buah kreasi.

Kamus bola perlu disusun supaya skema antara penonton dan komentator tidak saling tumpang tindih. Penonton yang minim pengalaman hanya akan merasakan hambarnya pertandingan bola karena terbebani dengan meraba-raba mencari definisi kata unik. Masing-masing pihak sebaiknya saling memperkaya skema supaya komunikasi terjalin dua arah. Skema yang kurang menjadi penghalang dalam membaca pemahaman.

Keraf menyebutkan, usaha untuk menemukan makna yang sesuai dengan konteks dari ujaran membutuhkan komunikasi. Tuturan kehilangan maknanya tatkala para pembaca atau pendengarnya tidak mampu menerjemahkan maksud yang ada. Makna dianggap penting sebab ia merupakan arti yang melekat pada sebuah kata. Interaksi antara kata dengan makna leksem lain dalam sebuah aturan memunculkan makna itu sendiri. Penjabaran ini memuat deskripsi yang bisa dipergunakan untuk mengkaji kata-kata unik komentar bola.

Kata dan bahasa yang dipilih komentator bola melibatkan emosi penonton. Rasa yang terbangun dibiarkan terus hidup supaya pertandingan tidak monoton. Kata unik yang melejit berkat komentator bola harus ditinjau dari makna konotatif, bukan makna denotatif. Landasan utama makna konotatif adalah perasaan atau pikiran yang tercipta atau diciptakan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Selanjutnya dimanfaatkan sebagai pijakan untuk memaknai kata. Rasa yang tersemat dalam kata unik menjadi syarat kata tersebut digolongkan makna konotatif. Makna konotatif mengandung tambahan makna. Dengan demikian, makna yang sebenarnya tertutupi.

Makna kiasan dan majas turut melengkapi pemaknaan komentar dari komentator bola. Pergeseran dan perbedaan makna tak terhindarkan dari ujaran komentator bola. Metafora melingkupi setiap ujaran yang disampaikan komentator bola. Metafora membantu komentator mengkomparasi hal yang ingin dikatakan dengan objek lain. Metafora adalah cara untuk mengutarakan pesan secara terselubung dengan membandingkan topik abstrak dengan hal yang konkret. Komentator bola menyebut pemain jangkar atau gelandang bertahan dengan frasa gelandang penimba sumur. Penautan ini mempertimbangkan dengan analogi yang seimbang menurut komentator.

Kata-kata unik yang dipakai komentator bola turut menerapkan disfemia. Komentator bola mengubah kata yang bermakna biasa dengan kata yang bermakna kasar. Disfemia yang dilakukan komentator bola diklasifikasi dalam kata, frasa, dan ungkapan. Masing-masing merupakan bentuk satuan gramatik. Komentator bola memainkan nilai rasa dari sebuah makna kata. Disfemia terbentuk akibat membuncahnya rasa kecewa, frustasi, kesal, dan tidak suka yang diluapkan melalui kata-kata. Pangkal dari semua itu bisa ditelusuri dari konteks kejadian atau kalimat yang mendahului. (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Classic Prose

Trending