Connect with us

Article

Voluntarisme

mm

Published

on

Kehendak merupakan kemampuan makhluk rohani, spiritual. Karena itu, manusia berkehendak, malaikat berkehendak, Tuhan berkehendak. Dalam bahasa Latin ada kata voluntas, yang berarti ‘kehendak, kemauan, keinginan’. Dari kata itu istilah voluntarisme diturunkan. Voluntarisme berpendirian bahwa kehendak merupakan faktor terpenting dalam hidup. Dalam etika, voluntarisme berpandangan bahwa hal, perbuatan, perilaku itu baik karena dikehendaki Tuhan. Kehendak Tuhan sendiri dapat ditemukan dalam wahyu-Nya. Dalam wahyu itu ditemukan segala keputusan dan perintah Tuhan. Orang yang mau hidup baik cukup memperhatikan dan menaati keputusan dan perintah Tuhan itu. Tak perlu orang berfilsafat dan berusaha menemukan hakikat perkara dan “mendengarkan” tuntutannya. Cara itu mubazir, pertama, karena keputusan dan perintah Tuhan jelas tertulis dalam kitab Suci, dan kedua, pikiran mansuia itu terbatas sehingga tak mampu menemukan sendiri hakikat kebaikan dan kejahatan. Sebagai aliran etis, voluntarisme bersandar pada perintah ilahi dan bukan pada hukum kodrat. Yang baik ada karena perintah Tuhan, bukan pada hakikat perkara.

Etika voluntarisme memberi kesan kuat landasannya dan pasti pelaksanaannya. Yang baik sudah ditetapkan Tuhan. Tuhan mahabijak. Jadi, tak mungkin salah atau keliru. Akan tetapi, dalam kenyataannya, bila dipraktekkan, menimbulkan banyak ketidakpastian karena perintah Tuhan seperti termaktub dalam wahyu belum mencakup segala hal dan masalah hidup. Banyak hal dan perkara baru yang belum ada petunjuk untuk menghadapinya. Etika voluntarisme juga memberi kesan canggih karena agar hidup baik sesuai dengan wahyu Tuhan, orang harus hapal segala perintah Tuhan dan cara pelaksanaannya, namun secara logis, sederhana. Orang hanya harus memperhatikan perintah yang ada dan berusaha melaksanakannya. Orang tidak perlu memikirkan sendiri perkara, situasi, dan orang-orang yang terlibat, tetapi cukup berpegang pada perintah yang ada. Jika bisa, baik; jika tidak bisa, keadaan, perkara orang hanya harus menyesuaikan diri dengan perintah. Bila dengan berbagai cara perintah tak dapat dilaksanakan, dibuat dispensasi.

Akan tetapi, lebih parah lagi, voluntarisme memupuk semangat irasionalistis dan melepas tanggung jawab manusia. Irasionalisme memandang hal atau perbuatan baik, hanya karena diperintahkan Tuhan. Dengan demikian, pada dasarnya segala perbuatan dari segi etis netral: tidak baik, tidak buruk. Karena itu, mencuri pun, misalnya, adalah netral. Jika dikehendaki Tuhan, mencuri itu dapat menjadi baik. Membunuh orang itu, misalnya lagi, pada dirinya sendiri netral. Akan tetapi, seandainya Tuhan menghendakinya, membunuh orang itu dapat menjadi baik. Inilah irasional. Yang rasional, bila Tuhan menghendaki suatu hal, perbuatan, atau perilaku, semua itu harus ada dasar kebaikannya. Juga sebaliknya, jika Tuhan tidak menghendaki sesuatu, hal itu pada dasarnya harus jahat. Rasanya aneh jika Tuhan itu semena-mena.

Berkaitan dengan unsur irasionalitas itu, tanggung jawab manusia dalam melaksanakan perintah atau kehendak Tuhan juga menjadi persoalan. Tanggung jawab berhubungan dengan akibat dari perbuatan. Orang yang melakukan suatu hal, hanya karena itu dikehendaki Tuhan dan tidak berpikir sendiri makna dan akibatnya, jelas tak bertanggung jawab atas perbuatannya. Apa pun akibat perbuatan dari pelaksanaan perintah atau kehendak Tuhan itu, orang tak bersedia menanggung. Dia cuci dan lepas tangan sebab dia hanya pelaksana, bukan yang punya kehendak. Karena itu, seandainya dituntut tanggung jawab hanyalah sebatas sebagai pelaksana, bukan sebagai otak atau agens intellectualisnya.

Masalah mendasar dari voluntarisme terletak pada ketidaksediaannya untuk menggali kehendak Tuhan. Tuhan memang mahabijaksana. Akan tetapi, bila kebijakan atau kehendak-Nya yang bijaksana itu disampaikan kepada manusia, kehendak itu menjadi terbatas. Artinya, kehendak Tuhan dibatasi oleh orang yang menerimanya, oleh masalah-masalah yang dihadapi  waktu kehendak itu disampaikan, oleh ruang dan waktu serta kesempatan ketika kehendak itu disampaikan. Karena itu, kehendak sebagaimana adanya tidak tak terbatas dan berlaku untuk segala tempat dan zaman. Untuk menjadi tak terbatas, kehendak itu mesti dicari intinya dengan menganalisis orang, masalah, tempat, waktu, dan kesempatan pada saat kehendak itu diwahyukan. Hasil analisis itu, bila benar dilakukan, merupakan inti kehendak Tuhan. Itulah kehendak yang benar, kekal, dan berlaku pada setiap tempat, waktu, dan kesempatan. Akan tetapi, inti kehendak itu tidak dengan sendirinya dapat diterapkan di segala tempat, waktu dan kesempatan. Untuk melaksanakan dengan tepat, orang yang bersangkutan, situasi, dan kondisi yang ada harus diperhitungkan.

Karena tak bersedia menggali inti kehendak Tuhan, voluntarisme mendorong sikap obskurantisme dan menghidupkan sikap konservatisme. Obskurantisme berarti sikap lebih suka berada dalam kegelapan, tidak tahu, dan taat. Konservatisme berarti lebih suka tak maju karena para penganut voluntarisme dalam hidup hanya berpegang pada kehendak Tuhan yang jelas tertulis dalam Kitab Suci. Padahal kehendak Tuhan dalam Kitab Suci itu belum menampung masalah-masalah hidup baru yang muncul. Daripada menggali kenyataan hidup yang ada dan menyoroti dengan inti kehendak Tuhan, para penganut volutarisme malah menyempitkan kenyataan itu menjadi sejauh dapat ditampung dalam kerangka kehendak Tuhan yang eksplisit. Secara tak langsung kaum voluntarisme berusaha membuat kenyataan hidup sesuai dengan kehendak eksplisit Tuhan sehingga kehendak Tuhan tadi berperan dalam kenyataan hidup yang ada. Akibatnya, kaum voluntarisme lebih suka melihat ke masa lalu daripada ke masa depan serta mempertahankan yang ada daripada memperkembangkannya menjadi lebih maju dan lebih kaya.

Volunterisme bernada saleh religius dan penuh keyakinan iman karena berpegang pada kehendak eksplisit Tuhan sebagaimana diwahyukan dalam Kitab Suci. Akan tetapi, kesalehan itu terlalu naif. Voluntarisme, dengan demikian, tak memajukan hidup, tetapi malah memupuk irasionalitas, meniadakan tanggung jawab, dan berakibat pada obskurantisme dan konservatisme. (*)

Continue Reading
Advertisement

Milenia

#BooksForSulteng | 10.000 Buku Untuk Sulteng

mm

Published

on

by by Rumah Kreasi Global | Galeri Buku Jakarta

Hari itu warga di Sulawesi Tengah hanya punya waktu 10 menit, dari saat gempa mengguncang sampai tsunami menerpa, untuk melarikan diri ke tempat tinggi.

Kini kita punya waktu sepuluh tahun atau berpuluh tahun lagi untuk membuat anak-anak di Sulteng berlari ke tempat tinggi—meraih impian mereka yang lebih tinggi lagi. Kita bisa memberi mereka bekal dengan memberi mereka buku-buku, membangun jiwa dan pikiran mereka dengan pengetahuan. Impian dan cita-cita anak -anak di Sulteng tak boleh ikut terkubur !

__

Jumat 28 September 2018, pada pukul 18.02 WITA, bencana terjadi. Tanah yang mereka injak tiba-tiba berguncang kuat, jalan-jalan terbelah seperti ombak, dan bangunan-bangunan ambruk. Gempa berkekuatan 7,4 pada skala Richter telah melanda Palu di Sulawesi Tengah. Gempa ini bukanlah yang pertama, tapi inilah yang terkuat.

Di Kelurahan Petobo, anak-anak tengah bermain, tanah seketika berubah seperti lumpur hisap. Yang lain menyeru dan menarik tangan anak-anak itu dan mereka langsung berlari. Di kawasan lain, sejumlah penyintas mengatakan mereka dikejar gelombang lumpur yang melahap bangunan dan menyeret manusia ke dalamnya.

Masjid bergeser beberapa saat kemudian seperti mengapung di laut. Gereja tempat lebih dari 80 pelajar sedang mengikuti kajian Alkitab, bergerak sejauh 2 kilometer dari tempat asalnya. Lebih dari 2.000 jenazah telah ditemukan. Namun, tak ada yang persis tahu jumlah pasti korban meninggal dunia mengingat sejumlah daerah permukiman tersapu tsunami dan likuifaksi sehingga mengubur banyak orang.

Anak-Anak dan Pendidikan

Klik gambar untuk mengunduh essay, info lengkap dan Agenda Kerja #BooksForSulteng

Aktivitas belajar-mengajar di sekolah di Kota Palu, Sulawesi Tengah, hingga kini belum berjalan normal pasca bencana melanda. Pantauan dari beberapa media di sejumlah sekolah di Palu dua bulan paska bencana, melaporkan rata-rata sekolah belum ada kegiatan belajar-mengajar. Siswa yang datang sangat sedikit dan mereka masih trauma untuk masuk kelas.

Seperti yang terlihat di Sekolah Dasar (SD) Tatura II dan SD Tatura III di bilangan jalan Igusti Ngurah Rai, Kecamatan Palu Selatan, siswa yang hadir tidak sampai 10 orang. “Bagaimana mau belajar pak, jika murid yang datang saja tidak sampai 10 orang,” kata Kepala Sekolah SD Inpres II Tatura, Nirwana Novitasari, kepada CNN Indonesia.

Dia mengatakan, jumlah murid di sekolah itu sekitar 300 orang, namun yang datang ke sekolah tidak sampai 10 orang. Kendati belum belajar, siswa yang datang diberi motivasi dan semangat agar mereka tetap tabah dan mau sekolah lagi.

“Kami tidak paksakan mereka untuk belajar normal seperti biasa, sebab pascagempa dan tsunami membuat orang termasuk anak-anak trauma berat dan perlu pemulihan.” ucapnya.

Suasana serupa juga terlihat di SD Inpres II dan SD Inpres VI Lolu, kecamatan Palu Timur. Di dua sekolah itu juga belum ada aktivitas belajar-mengajar.  “Memang butuh waktu lama, sebab anak-anak pasti belum mau sekolah karena masih trauma,” ucap Basri, seorang guru di SD Inpres VI Lolu.

Membangun Dunia Literasi Sulteng Pasca Bencana Gempa dan Tsunami

Bulan Oktober ketika terakhir kali Galeri Buku Jakarta Berkunjung ke Palu dan berdiskusi dengan warga tentang situasi terkini, menuturkan bahwa kondisi sudah jauh lebih baik. Bantuan dan kehadiran para relawan telah membantu warga melewati masa-masa emergency. Pasokan pangan mencukupi dan geliat ekonomi mulai terasa. Tapi tidak dengan kondisi anak-anak, khususnya mereka yang masih sekolah dasar.

This slideshow requires JavaScript.

“Anak-anak mulai jenuh, dan itu membuat mereka sulit melepaskan diri dari trauama. Lebih-lebih mereka yang kehilangan orang tua atau saudaranya.” Ujar Pak Thomas, Warga yang tinggal di Posko Pengungsian di Palu.

Kepada Tim Galeri Buku Jakarta ia menyebut kehadiran relawan sangat dibutuhkan khususnya bagi anak-anak.

“Kami sudah tidak lagi trauma, kami memang terbatas materi dan pangan karena masih mengandalkan uluran bantuan, tapi bukan kami yang terpenting, melainkan anak-anak kami. Anak-anak kami didera perasaan jenuh, trauma dan bimbang. Mereka paling rentan psikisnya, juga bisa menjadi lemah hati dan semangatnya. Dan mereka pula yang sebenarnya paling terabaikan dalam semua proses bantuan paska bencana. Jadi kami berharap orang-orang untuk datang ke sini, meski tidak selalu membawa materi tapi datang saja temani anak-anak kami bermain, pulihkan jiwa mereka, kuatkan hatinya, dan bangun dunia kanak-kanak mereka dengan impian dan ilmu pengetahuan yang melimpah… “ ujarnya.

Data dari Kemendikbud menyebut ada 2736 sekolah di Sulawesi Tengah  yang rusak, serta 20.000 guru dan 100.000 pelajar yang terdampak karena bencana gempa dan tsunami ini. Juga akan ada relokasi sekitar 80% sekolah di Palu. Mengingat ada 9 unit sekolah yang amblas, dari mulai TK sampai SMA. Total jumlah peserta didik Kabupaten Donggala, Sigi, Parigi Moutong, dan Palu adalah 256.836. Namun, untuk jumlah keseluruhan peserta didik yang terdampak masih dalam penghitungan. Ada 422 sekolah terdampak berdasarkan data per 6 Oktober 2018 yakni lima sekolah PAUD, 161 SD, 45 SMP, 89 SMA, 74 SMK, dan empat sekolah luar biasa (SLB).

Kondisi tersebut membuat proses belajar anak-anak akan membutuhkan waktu untuk benar-benar kembali pulih. Semantara mereka saat ini memiliki tantangan untuk merawat hati dan pikiran anak-anak mereka dari trauama dan rasa jenuh tinggal di Posko. Bagaimana pun jauh dari rumah di mana mereka bisa merasakan kehadiran dan kebebasan bukanlah hal mudah.

Kehidupan di Posko membuat mereka harus membiasakan diri dengan hari-hari yang hampir sama saban waktunya. Lebih-lebih orang-orang datang umumnya dengan urusan dunia dewasa—mengantar makanan, mengurus administrasi, hunian sementara dan upaya memulai roda ekonomi—sementara anak-anak hampir jarang tersentuh, dunia mereka sedikit banyak tidak menjadi fokus utama sampai 4 bulan berlalu paska bencana.

#BooksForSulteng; 10.000 buku untuk anak-anak Sulteng

Relawan Galeri Buku Jakarta tengah mengumpulkan puing untuk membuat rak buku, kelak semoga di tanah ini bisa berdiri perpustkaan untuk anak-anak sulteng…

Melihat kondisi demikian Galeri Buku Jakarta ingin hadir ke dalam dunia mereka, dunia anak-anak, dengan menghadirkan buku-buku, menemani mereka dan perlahan menguatkan hati dan pikiran mereka melaui penggalan donasi buku, gerakan #BooksForSulteng; 10.000 buku untuk anak-anak Sulteng.

Kami telah memulai dengan mengumpulkan anak-anak SMP dan SMA di beberapa posko dan memberi mereka pamahaman untuk menjadi relawan bagi adik-adik mereka di usia kanak-kanak sampai Sekolah Dasar, mereka akan bekerjasama dengan Tim Galeri Buku Jakarta di Palu untuk menjadi relawan utama bagi anak-anak di sana. Kami menyediakan media bermain, para relawan telah mulai aktivitas membacakan dongen dan cerita pada malam harinya.

Saat ini kami telah bermimpi lebih jauh; Mendirikan Perspustakaan! Di mana akan menjadi pusat pengetahuan, pelatihan-pendidikan, kreatifitas dan diharapkan bisa melahirkan generasi muda yang cemerlang.

Sejalan dengan fakta rendahnya minat baca di Indonesia tak terkecuali di Palu, langkah dan gerak literasi kami rasa menjadi penting untuk menjadi pondasi membicarakan Palu, Sulawesi Tengah dan Indonesia pada masa depan yang lebih gemilang. Kami berharap Anda membantu kami, membantu dunaia mereka, anak-anak di Sulawesi Tengah…

 

Salam Hormat Kami

Sabiq Carebesth

Founder of Galeri Buku Jakarta

________________________________________________________________________________________________________________________

Di mana donasi buku bisa dikirimkan?

Donasi Buku bisa dikirim Ke :

Kepada : Galeri Buku Jakarta

a/n. Sabiq Carebesth

C 1-2 No. 30 Jl. Damai Rt. 003 Rw. 05 | Kelurahan Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan | Kontak 082111450777 (Sabiq)

_

Atau dikirim langsung ke posko:

Kepada: Galeri Buku Jakarta

a/n: Bapak Yusri

Kelurahan Pantoloan Tongge, RT 03 dan RT 04 Kec. Tawali, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Kontak: Yusri / 0823 2457 6629

Getty Image/ Cnn Indonesia

Continue Reading

Blog Pembaca

Virdika: Buku-Buku Mempertajam Rasa Kemanusian Kita

mm

Published

on

Membaca buku-buku membuat kita bertemu dan mengalami banyak kisah, cerita, perasaan manusia dalam beragam bentuknya. Kita mengetahui penderitaan, penindasan dan peminggiran atau tentang jiwa manusia yang kalut—hal itu secara konstan membuat kita memiliki kemampuan untuk melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia.

Paling tidak itulah salah satu makna dan arti mendalam dari buku dan membaca buku-buku menurut Virdika Rizky Utama. Pekerjaannya sebagai wartawan Majalah GATRA membuatnya terus memiliki kesempatan menggali lebih dalam makna-makna yang bisa ia dapat dari interaksi dengan buku dan tentu saja, banyak ragam manusia.

Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat, adalah buku penting yang membuatnya benar-benar menjadi pembaca buku. LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) DIDAKTIKA di UNJ yang memeng terkenal menjadi ruang diskursus dan penjaman naluri kemanusiaan mahasiswa di UNJ membuatnya kian memiliki dunia yang mendekatkannya dengan buku-buku dan akhirnya, menjadi penulis, sebagai seorang wartawan.

Buku apa yang paling penting dan telah merubah cara berpikir dan menentukan dalam kehidupannya kini? Jawabannya: buku “Di bawah bendera revolusi” dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat. Dia memiliki alasan kuat atas jawaban itu. Simak kisah menarik selengkapnya dari Virdika dan dunia buku dalam wawancara Galeri Buku Jakarta dengannya berikut ini:

INTERVIEWER

Apa arti buku buat anda? Beri kami kata bijak paling otentik berdasar perkenalan anda dengan buku-buku?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Bagi saya, Buku merupakan kawan paling setia yang sangat mudah ditemui. Buku melapangkan cakrawala pengetahuan dan mempertajam perasaan terhadap sesama manusia

INTERVIEWER

Ceritakan bagaimana anda pertama kali berkenalan dengan (dunia membaca) buku? Moment perkenalan dengan sebuah buku yang membuat anda menjadi pembaca buku? Hal itu pasti sangat berkesan, jadi beri tahu kami dan lebih banyak orang betapa unik dan berharga moment itu?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Momen pertama kali bertemu dengan dunia membaca (buku) terutama saat belajar membaca yang diajarkan oleh ibu dan ayah saya. Pertama dibacakan cerita, belajar membaca apa pun bukan hanya buku, termasuk papan reklame saat saat saya dan keluarga saya bepergian di akhir pekan.

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Minat membaca saya semakin menguat dan akhirnya menjadi seorang pembaca adalah pada saat ikut dalam Lembaga Pers Mahasiswa Didaktika, Universitas Negeri Jakarta. Di didaktika punya kegiatan acara bedah buku—seminggu biasanya 3 kali—momen bedah buku pertama saya sangat berkesan. Buku pertama yang saya bedah adalah Otobiografi Soekarno penyambung Lidah Rakyat—kebetulan saya sangat hobi baca buku sejarah dan politik.

Ketika membedah buku itu, saya kaget bukan main, karena saya pikir hanya akan membahas aspek apa, siapa, dan kapan, layaknya pelajaran sejarah di SMA. Namun nyatanya, segala aspek sosial, politik, ekonomi, dan kontekstualisasi ke masa kini juga jadi pembahasan. Kita harus bisa membaca konteks dalam setiap teks. Saat itu, saya merasa gagal dalam hal membaca buku. Tapi, itu bukan jadi satu alasan untuk saya tidak membaca buku, justru sebaliknya. Saya semakin giat membaca. Membaca buku membuat kita peka dengan permasalahan kehidupan.

INTERVIEWER

Beri tahu kami di mana tempat paling menyenangkan untuk anda membaca buku favorit—yang barangkali tak pernah kami duga sebelumnya? Mungkin di bawah selimut, atau di meja dapur, di toilet, di pantai yang dipenuhi sinar matahari atau duduk di bangku taman? Membenamkan diri Anda dalam buku yang bagus di kereta atau bus ke tempat kerja di mana anda mendapat cara bagus mengangkut pikiran anda ke “tempat lain”? Ceritakan pada kami bagaimana hal itu sangat menyenangkan…

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Selama ini, tempat paling nyaman saya membaca buku adalah rumah, terurama ruang keluarga. Biasanya baca buku sambil tengkurap, ditemani bantal seebagai penyangga, dan teh hangat yang tak terlalu manis—sebab saya tidak suka kopi, hehe.

Saya pikir di bus dan kereta sama saja. saya pernah membaca di kedua tempat tersebut. Tapi jangan harap anda bisa membaca saat jam sibuk—berangkat atau pulang kerja. Bisa menjejakkan kaki seutuhnya di dalam bus atau kereta saja sudah sebuah kebanggan, hehe. Saya biasanya butuh bantuan musik, saat membaca di dalam transportasi umum. Ketika tangan mulai membuka tiap halaman dan telinga disumbat oleh suara musik, saya bisa langsung bisa fokus.

Tapi itu hanya bisa saya lakukan pada buku berbahasa Indonesia. Saat membaca buku bahasa inggris saya sangat butuh suasana tenang. Sebab saya perlu mempelajari tata bahasa, arti kalimat, kosa kata, dan konteks bacaan.

INTERVIEWER

Satu buku yang mengubah hidup Anda? Beritahu kami kenapa? dan ceritakan bagaimana hal itu terjadi?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang sangat sulit. Selama ini, setiap buku yang saya baca selalu memengaruhi pola pikir dan hidup saya. Saya rasa buku tersebut adalah buku Soekarno. Di bawah bendera revolusi dan otobiografinya Bung Karno penyambung Lidah Rakyat.

Alasannya, siapa yang tak bergetar mendengar nama Soekarno? Apalagi saat menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya langsung terbayang Soekarno memperjuangkan sebuah bangsa baru bernama Indonesia—bukan berarti saya mendeskreditkan perjuangan pendiri bangsa yang lain.

Di kedua buku itu, kita diajak menyelami pemikiran, ide tentang bagaiamana Indonesia akan dibentuk, dengan cara apa, dan tentu tujuannya seperti apa. Soekarno sangat paham kondisi Indonesia. Oleh sebab itu, ia tidak menelan mentah-mentah teori atau pemikiran dari Eropa atau negara mana pun.

Ia tahu kondisi rakyatnya, ia merumuskan keadaan sendiri rakyatnya, ia tidak mabuk teori dan metode, baginya semua pengethauan yang ia miliki harus bisa menjawab segala persoalan kehidupan rakyat Indonesia. Akibatnya, pemikirannya selalu kontekstual dengan zaman, tak lekang oleh waktu.

INTERVIEWER

Menurut Anda 5 buku sastra apa saja yang wajib dibaca setiap orang indonesia? Kenapa?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Tetralogi Pulau Buru—Pramoedya Ananta Toer dan Dan Damai di Bumi! (Karl May). Untuk tetralogi Pulau Buru, kita tak hanya disuguhkan dengan cerita yang luar biasa. Sosok Minke yang menjadi pembaru gerakan perlawanan Indonesia terhadap pemerintah kolonial melalui tulisan. Cerita di balik penulisan tetralogi Pulau Buru pun sangat menggetarkan dunia.

Buku Karl May yang satu ini, lebih mengedepankan sisi psikologis dibandingkan fisik seperti dalam buku Karl May lainnya. Di sini juga ide Karl May tentang konsep humanismenya. Ada satu sajak yang tak akan pernah saya lupa dalam novel tersebut:

“Bawalah warta gembira ke seantero dunia

Tetapi tanpa mengangkat pedang tombak,

Dan jika engkau bertemu rumah-ibadah,

Jadikanlah ia perlambang damai antarumat.

Berilah yang engkau bawa, tetapi bawalah hanya cinta,

Segala lainnya tinggalkan di rumah.

Justru karena ia pernah berkorban nyawa,

Dalam dirim, kini ia hidup selamanya”.

INTERVIEWER

Bisakah anda ceritakan 3 buku paling favorit sepanjang hidup anda, bisa berupa buku fiksi atau non fiksi dan beri kami alasannya?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Saya sudah sebutkan ini berikut jawabannya di pertanyaan sebelumnya, hehe. Otobiografi Soekarno, Bumi Manusia, dan Dan Damai Di Bumi!

INTERVIEWER

Misalnya Anda diwajibkan menulis minimal 1 buku selama hidup, buku tentang apa yang ingin anda tulis? dan coba beri tahu kami apa judul yang akan Anda berikan untuk buku tersebut? Hal itu pasti akan terdengar menyenangkan dan barangkali memang anda akan memulai menulisnya!

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Menulis fiksi itu sangat sulit. Bagi saya, penulis fiksi—novelis atau apapun sebutannya— merupakan sebuah tahap tertinggi bagi seorang penulis. Saya tidak mau main-main dalam menulis.

Oleh sebab itu, saya akan menulis nonfiksi. Ya, tentang sejarah pastinya. Menulis tentang perjalanan demokrasi di Indonesia. Sebab, demokrasi di Indonesia sedang berkembang dan mencari format terbaik.

INTERVIEWER

Bagaimana sebaiknya indonesia dalam hal ini khususnya pemerintah, juga kita dan masyarakat lain, berbuat dan hadir untuk mengatasi ‘krisis’ literasi di indonesia?

VIRDIKA RIZKY UTAMA

Ini pertanyaan yang maha dahsyat, haha. Saya kira, kita harus melibatkan semua pihak dalam mengatasi krisis literasi. Tidak bisa parsial, satu lembaga misalnya Kementerian Pendidikan Budayaan (kemendikbud). Pun kalau ini hanya menjadi tugas kemendikbud, tidak bisa hanya satu pihak yang membaca.

Kita ambil contoh, Saya pernah PKL di SMAN 30 Jakarta. Ada jam literasi bagi siswa. Pada saat itu, siswa diharuskan membaca buku—genre nya bebas. Sayangnya, ini hanya buat siswa saja. gurunya tidak membaca. Ini kan jadi semacam bentuk hipokrit. Menyuruh siswa membaca, tapi gurunya tidak membaca.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah serius ingin mengatasi krisis literasi. Maka, kebijakan harus tersruktur, masif, dan melibatkan semua pihak. (*)

Virdika Rizky Utama, lahir di Jakarta, 10 September 1993. Saat ini adalah Wartawan Majalah GATRA dan Pegiat Komunitas Sejarah Kita

| chief editor: sabiq carebesth | editor bahasa: marlina sophiana | galeribukujakarta@gmail.com | #MencintaiBuku

Continue Reading

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Trending