Connect with us

Tabloids

Virginia Woolf lebih dari Sekadar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari

mm

Published

on

Virginia Woolf, seorang pencinta bahasa yang hebat, pemikir bahasa—Dia pasti akan geli mengetahui bahwa, sekitar tujuh dekade setelah kematiannya, ia ditempatkan dan bertahan dengan sangat jelas dalam budaya populer—lebih sebagai pemain kata-kata—dalam judul drama Edward Albee yang cukup terkenal, “ Who’s Afraid of Virginia Woolf?”, Albee, seorang profesor perguruan tinggi yang bermasalah dan istrinya yang sama-sama bersedih, mencela satu sama lain dengan menyanyikan “Siapa Takut Besar, Bad Wolf?”

Danny Heitman, From HUMANITIES, May/June 2015, Volume 36, Number 3

Penerjemah: Susan Gui |  Editor: Sabiq Carebesth

____

Reputasi Woolf menempatkan dirinya sebagai “Penulis Perempuan” paling sering menjadi subjek teori sastra: penulis buku yang lebih menarik untuk dipelajari teorinya ketimbang menikmati tulisannya. Tapi, dalam prosa yang ditulis oleh Woolf, ia adalah satu penulis yang dapat memberikan kepuasan kepada para pembaca literatur modern, daya tariknya melampaui gender. Tanyakan saja kepada Michael Cunningham, penulis buku The Hours, pengarang yang mendapat pujian kritis dari karya yang diilhami oleh karya fiksi klasik milik Woolf, Ny. Dalloway.

“Saya membaca Mrs Dalloway untuk pertama kalinya ketika masih menjadi seorang pelajar Sekolah Menengah Atas di tahun kedua,” Cunningham mengatakan kepada pembaca surat kabar Guardian pada tahun 2011. “Saya sedikit pemalas, sama sekali bukan tipe anak yang akan mengambil buku seperti Mrs Dalloway. Saya membacanya karena alasan ingin membuat seorang gadis terkesan kepada saya setelah membaca buku itu. Saya berharap, tentu ini tujuannya soal asmara, agar saya terlihat lebih sastrawi daripada diri saya sebenarnya di depan gadis itu.”

Cunningham tidak benar-benar memahami semua tema Dalloway ketika pertama kali membacanya, dan dia, sayangnya, pada akhirnya juga tidak mendapatkan gadis yang mengilhami dia untuk mengambil novel Woolf. Tapi dia jatuh cinta dengan gaya Woolf.

“Saya bisa melihat, bahkan sebagai anak yang tidak terlatih dan malas, kepadatan dan simetri serta kekakuan kalimat Woolf,” kenang Cunningham. “Saya pikir, wow, dia melakukan sesuatu dengan bahasa seperti apa yang dilakukan Jimi Hendrix dengan gitar. Maksud saya dia berjalan di garis antara kekacauan dan ketertiban, dia riff, dan dia mengambil waktu yang tepat untuk merubah kalimat menjadi acak, lalu Woolf membawanya kembali dan menyatukannya dengan melodi. ”

Woolf membantu mendorong Cunningham menjadi seorang penulis. Novelnya The Hours pada dasarnya menceritakan kembali buku Mrs Dalloway sebagai sebuah cerita di dalam sebuah cerita, berganti-ganti antara variasi narasi asli Woolf dan spekulasi fiksi tentang Woolf sendiri. Novel Cunningham pada tahun 1998 memenangkan Hadiah Pulitzer untuk fiksi, kemudian diadaptasi menjadi film 2002 dengan nama yang sama, dibintangi oleh Nicole Kidman sebagai Woolf.

Artikel Lengkap ““Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

“Saya yakin dia tidak akan menyukai buku itu—dia adalah seorang kritikus yang ganas,” kata Cunningham tentang Woolf, yang meninggal pada tahun 1941. “Dia mungkin akan merasa ragu dengan film ini, meskipun saya suka berpikir bahwa Woolf akan senang melihat dirinya diperankan oleh seorang bintang Hollywood yang cantik.”

Nicole Kidman menciptakan gebrakan untuk film tersebut dengan mengenakan hidung palsu untuk membuat wajahnya sedikit kaku seperti Woolf, membangkitkan Woolf sebagai seorang perempuan yang pernah digambarkan oleh teman keluarga Nigel Nicolson sebagai sosok “selalu cantik tetapi tidak pernah cantik.”

Woolf, seorang tokoh penulis feminis, mungkin tidak akan terkejut jika layar lebar tentang hidupnya akan memicu banyak pembicaraan tentang bagaimana dia ‘terlihat’ daripada apa yang dia lakukan. Tapi Woolf juga sangat ingin membumikan tema sastranya dalam dunia sensasi dan fisik, jadi mungkin ada beberapa nilai yang mempertimbangkan gagasannya, juga mengingat bagaimana rasanya melihat dan mendengarnya.

Kita tahu mana foto profil terbaik dari seorang Woolf. Banyak gambar Woolf menunjukkan pandangannya ke samping, seperti gambar di koin. Namun ada pengecualian yang paling berbeda dan menunjukkan sosok lain dari Woolf,l yaitu foto yang diambil pada tahun1939 oleh Gisele Freund di mana Woolf mengintip langsung ke kamera. Woolf membenci foto itu— mungkin karena, pada tingkat tertentu, dia tahu betapa tangkas Freund menangkap subjeknya. “Aku benci diangkat di atas tongkat untuk ditatap siapa pun,” keluh Woolf, yang mengeluh bahwa Freund telah melanggar janjinya untuk tidak mengedarkan foto itu.

Aspek yang paling mencolok dari foto adalah intensitas pandangan Woolf. Baik dalam percakapan dan tulisannya, Woolf memiliki kejeniusan untuk tidak hanya melihat subjek, tetapi melihat melalui itu, menggali kesimpulan dan implikasi di berbagai tingkatan. Mungkin itulah sebabnya mengapa laut begitu menonjol dalam fiksinya, sebagai metafora untuk dunia di mana arus cerah yang kita lihat di permukaan realitas terungkap, namun setelah dilihat lebih dekat, kedalaman laut ternyata turun ke bawah sejauh bermil-mil.

Contohnya, esai Woolf yang secara luas di-antologikan,” The Death of the Moth,” di mana  Woolf memperhatikan saat-saat terakhir dari kehidupan seekor ngengat, lalu ia mencatat pengalaman itu sebagai jendela menuju kerapuhan dari segala eksistensi. “Makhluk kecil yang tidak penting itu sekarang tahu kematian,” tulis Woolf.

Ketika saya melihat ngengat yang mati, pada menit ini kemenangan atas kekuatan yang begitu besar berarti bagi seorang antagonis dan proses ini membuat saya heran. .  Ngengat yang telah memperbaiki dirinya sekarang berbaring dengan sopan dan tanpa komplain. Oh ya, dia sepertinya berkata, kematian lebih kuat dari saya.

Woolf mengambil taktik miniatur yang sama dalam “The Mark on the Wall,” sebuah sketsa di mana narator mempelajari tanda di dinding yang akhirnya terungkap sebagai seekor siput. Meskipun premisnya terdengar sangat membosankan—padanan sastra menonton cat kering —tanda di dinding berfungsi sebagai lokus konsentrasi, seperti arloji penghipnotis, memungkinkan narator mempertimbangkan segala hal mulai dari Shakespeare hingga Perang Dunia I. Dalam penelusurannya yang halus tentang bagaimana pikiran bebas bergaul dan penggunaan monolog interior yang banyak, sketsa tersebut berfungsi sebagai semacam kunci bagi gerakan sastra modernis yang membuat Woolf bekerja tanpa lelah untuk maju.

Penetrasi sensitif ala Woolf mulai mencari bentuknya, karena dia berharap orang-orang di sekitarnya untuk melihat dunia yang sama tanpa berkedip. Dia tampaknya tidak memiliki banyak kesabaran untuk obrolan ringan. Seorang sarjana terkenal, Hermione Lee, menulis biografi lengkap Woolf pada tahun 1997, Lee mengakui beberapa kecemasan tentang prospek, apakah mungkin, untuk menyapa Woolf secara langsung. “Saya pikir saya akan takut bertemu dengannya,” tulis Lee. “Aku takut tidak cukup pintar untuknya.”

Nicolson, putra teman dekat Woolf dan kekasihnya yang dulu, Vita Sackville-West, memiliki kenangan indah berburu kupu-kupu dengan Woolf ketika dia masih kecil—suatu acara yang membuat Woolf menikmati hiburan yang pernah ia nikmati di masa kecil. “Virginia dapat mentolerir untuk bermain dengan anak-anak di waktu yang singkat, tetapi Woolf akan melarikan diri dari bayi,” kenangnya. Nicolson juga ingat ketidaksukaan Woolf kepada generalisasi yang hambar, bahkan ketika diucapkan oleh anak-anak muda. Dia pernah meminta Nicolson muda untuk mengirimkan laporan rinci di pagi hari, termasuk kualitas matahari yang telah membangunkannya, dan apakah dia mengenakan kaus kaki kanan terlebih dulu atau kirinya saat berpakaian.

“Hal tersebut adalah pelajaran dalam pengamatan, tetapi juga merupakan petunjuk, ”tulisnya bertahun-tahun kemudian. “‘Kecuali kamu menangkap gagasan pada sayap-sayap dan menancapkannya, kamu akan segera berhenti memilikinya.’ Adalah nasihat bahwa aku harus mengingat sepanjang hidupku. ”

Bersyukur berkat dokumentasi Woolf yang dilakukan untuk BBC, kami tidak perlu menebak seperti apa suaranya. Dalam rekaman 1937, tersedia secara online, Woolf merefleksikan bagaimana bahasa Inggris melakukan penyerbukan dan berkembang menjadi bentuk-bentuk baru. “Kata-kata kerajaan kawin dengan rakyat jelata,” katanya kepada pendengar dalam referensi subversif untuk turun tahta Raja Edward VIII baru-baru ini, yang telah kehilangan tahtanya untuk dapan menikahi seorang perempuan berkebangsaan Amerika, Wallis Simpson. Suara Woolf terdengar syahdu dan ningrat, seperti Eleanor Roosevelt versi bahasa Inggris. Tidak mengherankan, mungkin, mengingat asal Woolf di salah satu keluarga paling terkemuka di Inggris.

Adeline Virginia Stephen atau lebih dikenal dengan Virginia Woolf lahir pada 25 Januari 1882. Virginia adalah putri dari Sir Leslie Stephen, seorang penulis esai, editor, dan intelektual publik, dan Julia Prinsep Duckworth Stephen. Julia, menurut Panthea Reid penulis biografi Woolf, “dipuja karena kecantikan dan kecerdasannya, pengorbanan dirinya dalam merawat orang sakit, dan keberaniannya ketika harus menjadi janda muda.”

Orang tuanya, Leslie dan Julia Stephen, keduanya duda sebelumnya, memulai pernikahan mereka pada tahun 1878 dengan empat anak kecil: Laura (1870-1945), putri Leslie Stephen dan istri pertamanya, Harriet Thackery (1840-1875); dan George (1868-1934), Gerald (1870-1937), dan Stella Duckworth (1869-1897), anak-anak Julia Prinsep (1846-1895) dan Herbert Duckworth (1833-1870).

Leslie dan Julia memiliki empat anak lagi: Virginia, Vanessa (1879-1961), dan anak laki-laki Thoby (1880-1906) dan Adrian (1883-1948). Mereka semua tinggal di 22 Hyde Park Gate di London.

Meskipun saudara lelaki kandung dan tiri dari Virginia mendapatkan pendidikan universitas, Woolf diajar sebagian besar di rumah. Pengalaman inilah membentuk pemikiran Woolf tentang bagaimana lingkungan sekitarnya dan masyarakat kala itu memperlakukan perempuan. Latar belakang keluarga Woolf, membawanya ke dalam lingkaran tertinggi kehidupan budaya Inggris. “Orang tua Woolf mengenal banyak tokoh intelektual dari era Victoria akhir dengan baik,” Hussey mencatat, “menghitung di antara teman-teman dekat mereka seperti George Meredith, Thomas Hardy, dan Henry James. Bibi buyut Woolf, Julia Margaret Cameron adalah seorang fotografer perintis yang membuat potret penyair Alfred Tennyson dan Robert Browning, naturalis Charles Darwin, dan filsuf serta sejarawan Thomas Carlyle, dan masih banyak lainnya. ”

Woolf memiliki akses bebas di perpustakaan ‘mammoth’milik ayahnya dan memanfaatkannya sebaik mungkin. Membaca adalah hasratnya—dan tindakannya, seperti hasrat apa pun, untuk terlibat secara aktif, bukan menjadi sampel secara pasif. Dalam sebuah esai tentang ayahnya, Woolf mengingat kebiasaan ayahnya melantunkan puisi ketika berjalan atau menaiki tangga, dan pelajaran yang diambil darinya tampaknya tak terhindarkan. Pada awalnya, ia belajar untuk memasangkan sastra dengan vitalitas dan gerakan, dan bahwa kepekaan mengalir sepanjang esai-esainya yang kritis, berkumpul dalam banyak volume, termasuk koleksinya pada tahun 1925, The Common Reader. Judul ini mengambil isyarat dari daya tarik Woolf untuk jenis pembaca yang, seperti dia, berpendidikan tanpa sekolah, bukan seperti seorang sarjana profesional. Bersambung….(*)

*)Danny Heitman, adalah kolomnis untuk Baton Rouge, Louisiana, daily The Advocate and esais tetap untuk banyak media lain. Heitman adalah pengarang “A Summer of Birds: John James Audubon at Oakley House”.

___

Artikel Lengkap “Virginia Woolf lebih dari Sekedar Penulis Perempuan; Dia adalah pengamat kehidupan sehari-hari” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan buku.

Tabloids

Bagaimana Perpustakaan Dapat Meredam Populisme?

mm

Published

on

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.” Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama.

 

Oleh: Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana *)
(Redaktur dan Editor Utama Galeri Buku Jakarta)

Dunia abad kita hari ini membutuhkan infrastruktur sosial jika ingin kemanusiaan dan perdamaian dunia terus bisa dijaga dan dimajukan. Infrastruk sosial yang nyata, difasilitasi oleh instrumen penentu kebijakan pubik dan pada saat sama sedikit mengabaikan utopia maya tentang komunitas bersama seperti di janjian sosial media. Kenapa?

Di tengah gejala bahkan telah faktual berkembangnya populisme di banyak negara di dunia dan telah menyebabkan dampak-dampak mengerikan yang nyata, dunia membutuhkan infrastruktur sosial untuk menampung kohesi bersama dan mewujudkan kemanusiaan yang diimpikan seluruh manusia. Ketika banyak pemimpin pemerintah di dunia membangunan insfrastruktur dalam logika pembangunanisme, infrastruktur sosial kerap kali terabaikan, sementara dunia digital terutama sosial media yang diklaim mampu menghubungkan semua dan berbagi kebaikan untuk semua terbukti gagal memenuhi janji kemanusiaanya. Infrastruktur pembangunan dan sosial media justeru berkontribusi paling besar pada makin tinggi dan kokohnya tembok pembatas yang kian memisahkan manusia dari sesamanya dan dari kemanusiaan. Sementara dalam keterasingan yang terus memuncak itu, populisme merebak seperti jamur di musim pancaroba keadilan ekonomi dan politik.

Itulah pesan menarik dari buku terbaru karya Eric Klinenberg, seorang sosiolog di New York University dan pengarang “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) mengungkapkan gagasan menarik tentang sosiologi kenapa populisme khususnya di barat menjadi begitu mengerikan. Buku itu memulai wacananya dengan fakta di mana tahun-tahun ini beragam gagasan telah dikemukakan untuk menjelaskan bangkitnya populisme di Barat: dari mulai ketidakamanan ekonomi, reaksi negatif dari persoalan imigran dan berita palsu. Hal lain yang masuk daftar itu mungkin kurangnya ruang-ruang bersama di mana orang dari berbagai dimensi kehidupan dapat bertemu dan bergaul.

Secara spesifik Eric Klinenberg juga menyatakan jika politik menuju semangat kesukuan, mungkin hal itu akibatnya jika orang-orang diberikan tembok pemisah satu sama lain-dalam beberapa kasus tembok betulan-mengikis perasaan kesamaan dan komunitas.

Krisis infrastruktur sosial dinilai menjadi salah satu pemicu utama krisis global yang melanda dunia saat ini. Bagi Klinenberg, infrastruktur sosial merupakan ruang-ruang publik yang membawa orang-orang bersama sehingga dapat terbentuk suatu ikatan. Dalam bukunya, dia mencatatkan bagaimana hal tersebut memberikan manfaat mulai dari pertumbuhan ekonomi hingga laku pemerintahan yang lebih baik, di masa di mana sosial media tampak mendorong orang untuk saling menjauh.

Sosial Media dan Kesemuannnya

Perkembangan dunia digital terutama ditandai oleh lahirnya era sosial media pernah menjanjikan kemajuan global sekaligus perdamaian umat manusia yang cemerlang. Tetapi kenyataanya justeru sebailiknya.

Melalui Program Inisiatif Open Future, The Economist, Eric Klinenberg dalam satu sesi wawancara bahkan menuding sosial media menjadi perkakas utama masifnya kebencian dan populisme menyebar seperti virus mematikan yang endemik.

“Setelah pemilihan umum tahun 2016, Mark Zuckerberg menulis sebuah surat publik yang mengklaim bahwa Facebook akan menjadi sebuah infrastruktur sosial yang penting yang menghidupkan kembali demokrasi. Akan tetapi sejak saat itu, kita telah melihat bahwa sosial media lebih banyak mempromosikan kebencian, propaganda dan perpecahan daripada menghasilkan “komunitas penuh makna” yang dijanjikan Zuckerberg.”

Ia membuka sebuah rahasia dan inilah faktanya: “Jika Anda ingin tahu jenis infrastruktur sosial yang benar-benar dihargai oleh para pemimpin industri teknologi, lihatlah dengan seksama bangunan-bangunan yang didirikan di Silicon Valley: Kantor-kantor yang didesain untuk pertemuan-pertemuan tak sengaja antara anggota dari tim-tim yang berbeda. Kafetaria-kafetaria dengan meja bersama dan makanan gratis. Lapangan-lapangan olahraga, jalan-jalan setapak, taman-taman di atap bangunan, ruang-ruang untuk pesta. Mengapa? Karena mereka ingin pekerjanya merasa begitu senang di kantor hingga mereka tak ingin pergi. Dan, seperti yang Mr Zuckerberg ketahui lebih dari siapa pun, cara untuk melakukannnya bukanlah dengan membiarkan para pekerja menghabiskan waktu dengan sosial media lebih lama. Caranya adalah dengan mendesain dan membangun infratruktur sosial terbaik yang dapat disediakan.”

Peran Pemerintah dan “Minus”nya Philantropi

Pemerintah dinilai tetap menjadi aktor kunci yang harus memfasilitasi dan membangun infrastruktur sosial. Klinenberg meragukan hal semacam itu bisa diatasi sendirian oleh misalnya gerakan philantropi yang memiliki beban watak dasarnya untuk memiliki kecenderungan untuk tidak adil pada semua komunitas. Philantropi selalu memihak, pilih-pilih, dan tidak terdistribusi secara merata. Satu-satunya cara kita mendapatkkan infrastruktur sosial yang komprehensif adalah jika sarana publik itu disediakan oleh pemerintah.

Perpustakaan Modern Aleksandria di kota Aleksandria, Mesir. | Perpustakaan ini dalam sejarahnya merupakan salah satu perpustakaan terbesar dan terpenting pada zaman kuno. Perpustakaan ini merupakan bagian dari sebuah lembaga penelitian yang lebih besar, Mouseion, yang dipersembahkan untuk para Musai.

Sebagai gantinya ia menandaskan kerjasama pemerintah-swasta sealu memainkan peran penting dalam pembangunan infrastruktur sosial—menggaris bawahi peran pemerintah dalam hal inisitif politik dan dana pengelolaan-perawatannya.

Sebagai contoh, untuk kasus Amerika. Andrew Carnegie, bagaimanapun, menyumbangkan uang untuk membangun hampir 1700 perpustakaan umum di Amerika, dengan syarat bahwa pemerintah lokal menanggung semua biaya untuk operasional dan perawatannya. Kemurah hatian Carnegie muncul di saat tidak ada pajak penghasilan negara bagian. Bayangkan berapa banyak “palaces for the people” yang dapat dibangun di Amerika jika negara membebankan pajak yang adil padanya dan para pelaku industri sukses lainnya.

Jadi tidak efektif sama sekali untuk misalnya memberikan kebijakan memotong pajak bagi orang-orang yang paling kaya dan berharap kedermawanan mereka dapat meolong persoalan-persoalan pubik, apakah itu berkaitan dengan keadilan ekonomi dan kesejahteraan atau pun infratruktur sosial.

Infrastuktur Sosial dan Perpustakaan

Kesadaran pembangunan infrastrutur fisik pada saat bersaa harus diimbangi dengan investasi sama besar pada infrastruktur sosial menjadi hajat kesadaran kita bersama dan menyorongkannya terutama pada pengambil kebijakan publik.

Untuk dijadikan contoh, beberapa negara telah mengembangan porsi adil akan hal itu dan terbukti mampu menyelamatkaan kota dan generasinya dengan lebih baik.

Belanda disebut Klinenberg sebagai pelopor dan merupakan rujukan utama dalam pengintegrasian infrastuktur sosial ke dalam strategi-strategi  adaptasi dan mitigasi iklim. Orang Belanda telah belajar membangun taman-taman, plaza dan taman bermain yang berfungsi ganda sebagai sistem manajemen banjir, jadi investitasi keamanan ekologis juga menigkatkan kulaitas kehidupan sosial sehari-hari.

Jepang telah memasukkan infrastruktur sosial ke dalam infrastruktur sistem transitnya. Stasiun-stasiun di Tokyo berupa bangunan bawah tanah yang luas dan terlindungi dari bahaya banjir yang dialami kota New York selama badai Sandy. Stasiun-stasiun di sana juga bersih, dirawat dengan baik dan dihidupkan dengan berbagai aktivitas komersil. Beberapa stasiun kini menjadi destinasi sosial-sangat jauh dibandingkan dengan apa yang kita alami di New York, di mana kegiatan transit menjadi perang antar semua.

Dalam kasus yang lebih umum infrastruktur sosial sangat terkait dengan ruang bersama untuk memajukan penalaran dan pikiran kritis publik dengan pada saat bersamaan kohesi dan empati kemanusiaan ditumbuhkan. Ruang publik semcam itu paling mungkin dan mudah dibayangkan dalam bentuk perpustakaan.

Perpustakaan

Ketika The Economist menanyakan apa relasi langsung dan lebih mendalam infratruktur sosial dalam menjawab persoalan populisme, otoritarianisme, post-truth dan masyarakat terbuka—bukan sekadar kohesi sosial, yang merupakan efek langsung… –wujud paling konkrit yang bisa diterapkan dengan konstan, Klinenberg menjawab lugas: Perpustakaan.

Baginya, perpustakaan memainkan peran yang begitu penting dalam mempromosikan budaya demokrasi-dan menantang otoritarianisme-karena cara mereka diisi oleh pegawai-pegawai, dikelola, dan deprogram. Mereka sangat inklusif. Mereka diatur oleh professional yang patuh pada norma-norma kejuruan: mengejar pengetahuan dengan peralatan terbaik yang kita punya; tak menghakimi; menghargai martabat setiap orang; menjaga privasi; memperlakukan semua orang secara setara, tak peduli kelas sosial, ras, etnsitas, usia, kemampuan atau pun status kependudukan. Jika di sisi lain peperangan ini, para demagog dan jawara teknologi mendorong kita kepada era post-truth, di sisi lain, para pustakawan menarik kita kembali.

This slideshow requires JavaScript.

[Photos: Identity is celebrated at Katikati’s new library in its sculptural building design and the vibrant colours woven through its double-height interior. Serving a population of just over 4600, the Katikati library and adjacent community hub must cater for a wide range of age groups and interests. With a vibrant local artistic community and the Kaimai Range nearby, First Principles Architects has developed an architectural and interior design language to celebrate local identity.]

Sebaliknya, penelantaran persputakaan bisa menjadi preseden buruk tidak hanya tampaknya tapi juga dalam relasi ekonomi dan sosial politik yang lebih luas.

Kenyataanya justeru menyedihkan bahwa abad kita sekarang justeru cenderung menelantarkan perpustakaan-perpustakaan justru di saat kita sangat membutuhkannya.

Di New York, mayor Bill De Blasio yang dikenal “progresif” ingin memotong jutaan dolar dari anggaran perpustakaan, yang berarti dapat menutup beberapa cabang penting di akhir pekan. Di Ontario, Kanada, pemerintahan kota Doug Ford memotong anggaran layanan perpustakaan hingga setengahnya. Jika kamu tak menganggap hal ini penting, coba kunjungi perpustakaan lokalmu minggu ini dan lihat hal-hal luar biasa yang terjadi di sana. Tiap kali perpustakaan ditutup masyarakat kita menjadi agak kurang terbuka, demokrasi kita sedikit lebih rapuh. Jika kita tidak berinvestasi ulang pada perpustakaan, dan pada infrastruktur sosial secara umum, apa yang akan menjaga kita dari zaman kegelapan yang ditakuti banyak orang itu?

Kita tidak perlu menalar dan membayangkan rumit bagaimana hal itu bisa dilangsungkan. Dalam buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018) Klinenberg telah memberikan laporan pandanan matanya:

“Saya sudah melihatnya, dalam kunjungan saya ke Oodi Library di Helsinki. Itu merupakan perpustakaan yang terasa seperti sebuah kapal luar angkasa di tengah-tengah kesibukan metropolis. Perpustakaan itu punya ruang-ruang yang terbuka, terang, dan berangin untuk membaca dan menulis. Perpustakaan itu punya ruangan untuk berbagai jenis kegiatan kolaborasi, dari video gaming hingga pembuatan podcast dan menjahit. Tempat itu punya ruangan untuk pertemuan-pertemuan komunitas, sebuah teater, makanan terjangkau dan beragam program. Lebih hebat lagi, tempat itu buka setiap hari, dari jam 8 pagi hingga 10 malam di hari kerja, dan hampir dengan jam kerja yang sama di akhir pekan.

Tapi tempat seerti Oodi ada juga di luar negara-negara Skandinavia. Kota-kota di penjuru bumi telah berinvestasi pada perpustakaan-perpustakaan modern baru yang didesain sesusai kebutuhan abad 21. Lihatlah perpustakaan baru di Austin, Texas, yang menyediakan ruang khusus bagi pelaku teknologi lokal dan banyak sekali ruang terbuka untuk anak-anak dan orang dewasa. Atau yang lebih kecil, perpustakaan di sururban Cuyahoga County, Ohio yang disibukkan dengan aktivitas siang dan malam-pembacaan buku oleh pengarang, 3D printing, waktu bercerita untuk keluarga, pertemuan-pertemua komunitas terkait isu-isu lokal yang perlu disiarkan. Sementara di Kanada, deskripsi tersebut mungkin mengingatkanmu dengan perpustakaan baru di Calgary. Di tiap-tiap kota itu, penduduk secara kolektif memutuskan bahwa investasi publik pada infrastruktur sosial akan membawa beragam manfaat. Di Columbus, Ohio, voter memutuskan untuk membebani diri dengan pajak untuk mendapatkan keistimewaan dari perpustakaan yang lebih baik.”

Begitulah dunia di sana mengabarkan pentinganya infrastruktur sosial khususnya perpustakaan, bahkan orang-orang, kelompok milenial, membebani dirinya sendiri untuk pajak demi terbangunnya ruang perpustakaan yang lebih baik. Di sini? Perpustakaan yang lebih megah di bangun, di pusat kota sementara di kota-kota lain yang lebih kecil? Peran pemerintah daerah?

Di sisi lain komunitas-komunitas baca tumbuh meski malah terlihat menyedihkan dengan tidak adanya dukungan dari lebih banyak orang sekitar bahkan pemerintah sendiri, kegiatan mereka kerap dilarang dan dicurigai. Bisa kita bayangkan sendiri situasinya, anggaran yang… pelarangan.. pembiaran terhadap aksi-aksi brutal terhadap buku dan komunitas baca. Tidakkah itu hal mengerikan yang seharusnya meminta perhatian lebih dari kita semua? (*)

_________
*) Ditulis oleh Sabiq Carebesth & Marlina Sophiana: disarikan dari interview Eric Klinenberg dengan The Economist dalam program Open Future dan ihtisar dari Buku “Palaces for the People: How Social Infrastructure Can Help Fight Inequality, Polarization, and the Decline of Civic Life” (Crown, 2018)

 

Continue Reading

Inspirasi

Etos Kepengarangan Pramoedya Ananta Toer

mm

Published

on

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

Oleh Hasan Aspahani *)

TIAP pengarang punya cara kerja sendiri. Tapi ada etos dasar yang harus dimiliki oleh siapa saja yang ingin menjadi pengarang yang bersungguh-sungguh. Kita bisa menemukan teladan itu pada Pramoedya Ananta Toer (1925-2006).

Sebagian masa hidupnya dihabiskan di dalam penjara. Tapi ia tak pernah berhenti mengarang. Banyak pengarang dibuang bersamanya dan 800 tapol lain yang dibawa ke Pulau Buru, tapi sepertinya hanya dari Pramoedya kita mendapatkan karya yang monumental.

Banyak tapol yang jatuh dan rusak mentalnya, sakit fisiknya, bahkan meninggal di Pulau Buru. Tapi Pram tidak. Ia bertahan sebagai manusia. Saya yakin kepengarangannyalah yang mengguatkan dia. Dia tegar karena dia – sesulit apapun – masih bisa menulis.

Bagaimanakah etos kepengarangan seorang Pram? Banyak sisi yang bisa kita teladani. Saya membaca “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (Hasta Mitra, 2000), dan dari situ, saya butirkan empat hal yang menurut saya adalah yang terpokok dan terpenting:

  • Menulis dalam Keadaan Apapun

Ketika rombongan wartawan datang ke Pulau Buru, pada 1973, dan diberi kesempatan mewawancarai para tahanan politik, Rosihan Anwar dan sejumlah sastrawan lain bertanya jawab dengan Pramoedya Ananta Toer. Rosihan bertanya, “Pram, Jij masih menulis?”

Jawab Pram, “Ya, baru-baru ini hampir separoh dari roman tentang periode kebangkitan nasional telah aku selesaikan.”

Dalam tahanan, dalam buangan dan pengasingan, dengan harga diri yang direndahkan, dengan akses pada bacaan bahkan alat tulis yang terbats, serta diperlakukan dengan tak manusiawi, Pram tetap menulis.

  • Tulis Hanya Apa yang Ingin Kita Tulis

Dalam kesempatan yang sama, Gayus Siagian bertanya pada Pram. Ia menanggapi jawaban Pram atas pertanyaan Mochtar Lubis tentang kenapa Pram menulis cerita berlatar sejarah. Pram bilang ia muak dengan hal-hal yang tidak menyenangkan kala itu.

“Bukankah justru yang memuakkan itu yang harus ditulis?” tanya Gayus.

Pramoedya menjawab, “Saya punya hak untuk menentukan apa yang saya tulis, yang dapat memberikan kepuasan individual pada saya. Dalam hal ini saya tidak peduli apa orang lain suka atau tidak.”

  • Bertekadlah untuk Menghasilkan Karya Besar

Roman Tetralogi Pulau Buru adalah karya yang lahir dari tekad itu. Pram menuliskannya dengan hasrat untuk menghasilkan karya yang abadi. Tak pernah berhenti dibaca, tak pernah kehilangan relevansi.

Ia menulis: … Aku ingin menulis roman besar dalam hidupku, dan setiap pengarang bercita-cita menghasilkan karya abadi, dibaca sepanjang abad, dan lebih baik lagi: dibaca oleh umat manusia di seluruh dunia sepanjang zaman.

  • Bangun Dokumentasi dan Arsip Pribadi

Pramoedya adalah penulis yang mengandalkan riset. Ia percaya bahwa inspirasi adalah produk dari pemikiran, bacaan, serta pengalaman. Karena itu baginya sumber bacaan itu sangat penting.

Rangkaian roman Bumi Manusia dan tiga serialnya, sudah ia rancang sebelum ia ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, 1965. Ia memulai dengan riset dan mengumpulkan bahan sejarah.

Ia menghimpun data-data otentik, wawancara, membaca buku, dan menyiarkan bahan-bahan yang didapat itu sedikit demi sedikit, untuk memancing masukan.

Ia juga menyalin bahan dari perpustakaan museum. Ia membayar tenaga pembantu untuk pekerjaan itu. Memang, perlu biaya dan kerja keras untuk menghasilkan karya besar.

Dokumentasi adalah tulang punggung bagu kerja seorang pengarang. Juga “…kekuatan, pedoman kenyataan di tangan, yang dengannya suatu kerja cipta dibangun.”

  • Kesempurnaan Dicapai dengan “Rasa Tidak Puas”

Pram adalah pengarang yang kritis pada diri dan karyanya sendiri. Ia melayani idenya. Ketika ia merasa harus berhenti dahulu menulis “Bumi Manusia”, roman tentang kebangkitan nasional itu, ia merasa perlu  menulis tentang masa-masa “kejatuhn Nusantara”, agar pemahamannya tentang kebangkitan nasional lebih utuh.

Maka ia pun menulis roman lain, yaitu “Arus Balik”.  Ia selesaikan karya itu dengan perasaan tak puas. Karena tak tersedi pustaka yang cukup.  Kalaupun roman itu akhirnya selesai, dia menganggap itu sebagai “naskah belum sempurna”.

__

CTI, Depok, 2019 

Hasan Aspahani
Lahir, di Handil Baru, Samboja Kutai Kartanegara, 1971. Jurnalis di grup Jawa Pos, penyair dengan sejumlah buku dan penghargaan, penulis nonfiksi dan fiksi antara lain ‘Biografi Chairil Anwar” (Gagasmedia, 2016), “Ya, Aku Lari” (DivaPress, 2018).
Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Trending