Connect with us

Buku

Usaha Mematahkan Warisan Kolonial

mm

Published

on

Seorang sejarawan dan ahli hukum keturunan Belanda membantah kalau Indonesia mengalami penjajahan selama 350 tahun lamanya. Berbekal sejumlah sumber dan fakta hukum, Resink mematahkan konstruksi politik kolonial itu.

Sungguh nyeri hati dan batin kita jika mengenang masa penjajahan di bumi pertiwi ini. Sejak belia hingga dewasa, kita disuguhkan cerita sejarah kelam bangsa ini yang harus tunduk selama ratusan tahun di bawah laras senjata penjajah kolonial Belanda. Kisah penjajahan selama tiga setengah abad itu diwariskan selama turun temurun, baik dari mulut ke mulut maupun lewat kurikulum pelajaran di sekolah hingga universitas. Tak heran,  jika mental bangsa terjajah begitu tertanam dalam sebagai kebenaran absolut di masyarakat.

Namun, siapa sangka jika kisah itu ternyata memang sengaja didesain sebagai salah satu pemahaman ilmiah guna merusak mental generasi penerus bangsa ini. Tak bisa dipungkiri, kolonialisme butuh pengetahuan memadai tentang masyarakat jajahan untuk melanggengkan kekuasaannya. Indologi, atau kajian tentang penduduk dan masyarakat di Nusantara  bisa dibilang sebagai salah satu pemahaman ilmiah yang sangat rapih dan sistematis untuk membentuk negara kolonial Hindia Belanda, sebutan bagi Indonesia oleh pemerintah kolonial.

Kebanyakan pencetus dan pengembang indologi adalah para birokrat yang bekerjasama dengan intelektual-intelektual Belanda. Para indolog ini mencitrakan Hindia dan penghuninya sebagai sesuatu yang inferior, yang berkebalikan dengan Belanda dan Eropa Barat. Bisa dibilang, Indologi ini berakar dari Orientalisme abad ke-18 dimana intelektual negara-negara penjajah membentuk suatu kajian tentang bagaimana memandang negara-negara terjajah di Timur Jauh alias non Eropa.

Di Indonesia, kita bisa menemukan ideologi itu dari karya-karya dan rekomendasi kebijakan para indolog Belanda; seperti Snouck Hurgronje, Boeke, dan indolog-indolog  terkemuka lainnya. Konsepsi tentang Hindia Belanda/Indonesia dimata penjajah itu begitu sakti hingga langgeng hingga sekarang. Paling gampang dilihat sekaligus sangat sulit untuk dipungkiri perihal berapa tahun sebenarnya kita dijajah oleh Belanda?

Benarkah tiga setengah abad seperti yang selama ini dicekoki oleh guru-guru sejarah kita melalui buku teks sejarah, atau jangan-jangan tak selama itu? G.J Resink pun mencoba menghapus semua keraguan itu. Bahkan, sejarawan blasteran Belanda-Jawa yang juga guru besar hukum di Universitas Indonesia itu berani menyebut 350 tahun dijajah sebagai mitos. Mitos yang hampir bisa disamakan seperti Holocaust Yahudi, seperti kata Presiden Iran Ahmadinejad.

Jika memang benar itu mitos, seperti yang dikatakan Resink, mengapa bisa bertahan hingga puluhan tahun lamanya dan apa yang coba ditawarkan Resink lewat penelitiannya? Tesis yang diketengahkan oleh penulis buku ini tentunya tak bisa lepas dari disiplin ilmu yang ditekuni, ilmu hukum. Berdasarkan data dari dunia perundang-undangan dan penjelasan para ahli hukum sebagai dasar, penelitiannya telah berhasil mengubah pandangan tentang masa lalu. Khususnya keadaaan Indonesia  pada abad ke 19 dan awal abad ke-20.

Dalam penelitiannya, Resink menemukan sifat hukum internasional di Nusantara antara pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan negeri-negeri Pribumi di Nusantara. Dari situ, Resink pun menilai kalau generalisasi 300 tahun lebih penjajahan Belanda di Nusantara perlu dilihat secara kritis. Resink mencatat secara jelas pernyataan Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C de Jonge yang pada tahun 1936 berkata, “ Kami orang Belanda sudah berada di sini selama 300 tahun, dan akan terus berada di sini hingga 300 tahun lagi.”

Pernyataan itu kata Resink tentunya sangat bermuatan politis, bercirikan kolonial juga sangat sesumbar mengingat beberapa tahun kemudian penguasaan Belanda atas Indonesia pun rontok dan tak bisa diteruskan. Selain itu, jelas Resink, yang perlu dilihat secara kritis ialah pendudukan VOC atas Jayakarta/Batavia/Jakarta saat ini tak bisa diklaim sebagai bentuk penguasaan Nusantara secara keseluruhan.

Pertama, Jayakarta atau Batavia saat itu bukanlah ibukota dari Nusantara, yang masih terpecah dengan kerajaan-kerajaan di tiap daerah atau pulaunya. Kedua, wilayah Jayakarta saat dikuasai oleh VOC juga hanya sebagian saja dari wilayah yang disebut sebagai Jakarta Utara saat ini, seperti Sunda Kelapa.

Sumber lain yang memperkuat pernyataan Resink soal tak semuanya kerajaan-kerajaan tunduk dan dikuasai oleh Belanda adalah soal pernyataan Pemerintah tertinggi di Belanda dalam Regeeringsreglement pada tahun 1854, pasal 44, memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengumumkan peperangan dan perjanjian perdamaian dengan raja-raja dari bangsa-bangsa di Kepulauan Nusantara.

Bukan hanya itu saja, Resink mendapatkan bukti dalam kasus pengadilan di mana hakim dan Mahkamah Agung (MA) Hindia Belanda pernah tak bisa mengadili seorang pribumi dari Kutai yang mempunyai perkara, pasalnya orang itu saat disidangkan di pengadilan Surabaya pada tahun 1904  ditolak oleh MA karena berasal dari kerajaan Kutai yang tidak termasuk dalam kekuasaan Hindia Belanda.

Dua hal itu semakin mengukuhkan tesis Resink soal masih adanya pengakuan pemerintah Hindia Belanda terhadap negeri negeri merdeka di Kepulauan Nusantara. Resink pun menyayangkan, masih kuatnya pengaruh kolonial terutama dalam soal sejarah nasional bangsa ini.

Terkait hal ini, almarhum A.B Lapian, sejarawan maritim Indonesia dalam pengantarnya di buku ini mengatakan kalau studi sejarah di Indonesia masih belum bisa dilepaskan dari pengaruh Belandasentris atau Eropasentris, yang selalu menempatkan pribumi sebagai bangsa inferior dan terbelakang. Jadi jangan heran kalau mitos-mitos yang lahir masih tetap hidup, karena memang masih dilestarikan dalam kurikulum pendidikan sejarahnya. Bagi Resink, banyak ilmuwan muda Indonesia yang terjebak dalam mitos masa kolonial, sehingga sangat pesimistis dengan masa depan Indonesia.

Sayangnya, buku yang disusun atas empat belas esai hasil penelitian Resink ini masih dipenuhi oleh kesalahan-kesalahan teknis seperti penggunaan tanda baca dan typo yang luput dari pengamatan penyeleras aksaranya. Namun diluar permasalahan teknis itu, buku Resink ini memberikan jasa penting dalam studi sejarah nasional di Indonesia. Selama ini sejarah memang selalu ditulis dalam persepektif kelas yang berkuasa, dan Resink berusaha menjungkirbalikannya. (*)

 

Judul Buku          : Bukan 350 Tahun Dijajah

Penulis                 : G. J Resink

Penerbit              : Komunitas Bambu, Jakarta

Cetakan               : Pertama, 2012

Tebal                     : xxxiv+366 hal

 

Wahyu Arifin—Wartawan dan Pecinta Buku.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Matinya Demokrasi dan Alternatifnya

mm

Published

on

David Runciman/ getty image/ Trinity Hall, Cambridge

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang kian tak terjembatani di banyak negara demokrasi. Bagaimana jika Demokrasi mati, adakah alternatif?

By Virdika Rizky Utama

Pegiat Literasi di Galeri Buku Jakarta

___________

Tak dapat dimungkiri bahwa politik identitas sedang marak digunakan oleh para politisi hampir di seluruh dunia. Masifnya gerakan politik identitas disinyalir akan membawa dampak buruk bagi kelangsungan hidup demokrasi di suatu negara. Pertanyannya, salahkah politik identitas hadir di tengah demokrasi? Apakah politik identitas merupakan faktor utama akan matinya demokrasi? Lantas, apakah kita harus khawatir kalau demokrasi benar-benar berakhir?

David Runciman mengungkapkan bahwa politik identitas merupakan sebuah konsekuensi yang tak dapat dihindari dalam demokrasi. Dosen Oxford University ini menyebut, politik identitas sesungguhnya merupakan suatu upaya pengakuan akan eksistensi sebuah kelompok yang frustrasi dalam suatu negara.

Kenapa frustrasi? Karena demokrasi dianggap gagal mewujudkan dua fase tujuannya. Pertama, fase jangka pendek yaitu pengakuan martabat atau hak-hak individu. Kedua, fase jangka panjang yaitu memiliki kesempatan untuk berbagi stabilitas, kemakmuran, dan kedamaian atau disebut martabat kolektif (hlm. 169-170).

Politik identitas menjadi kekuatan politik riil karena hak-hak pribadinya sebagai warga negara, tergerus oleh tujuan kolektif kelompok dominan yang berkuasa. Dalam politik identitas, sebenarnya individu-individu hanya mencari pengakuan atas eksistensi keberadaannya. Padahal, politik pengakuan merupakan perpanjangan dari daya tarik demokrasi dan bukan sebagai antitesisnya (hlm.175). Mestinya, ini dapat diwadahi dan diselesaikan dengan demokratis, tapi urung terjadi.

Musababnya, negara adalah representasi kelas dominan baik secara ekonomi maupun politik dalam masyarakat (Antonio Gramsci: 1971). Akibatnya, sistem demokrasi yang representatif suatu negara dianggap tak efektif karena mewadahi kelompok dominan. Kebutuhan mayoritas rakyat tak pernah benar-benar terwakili oleh para politisi dan penyelenggara negara. Kendati sudah mengadakan pemilihan umum (pemilu) untuk memilih politisi yang mewakili aspirasi rakyat dari berabagai macam golongan.

Pemilu pun, akhirnya, dianggap sekadar bagi-bagi kue kelas dominan di suatu negara. Terlebih pemilu hanya menjadikan rakyat sebagai objek. Runciman meyakini, meningkatnya politik identitas adalah sebuah indikasi bahwa terlibat dalam sebuah pemilihan umum tak lagi memuaskan (hlm.177).

Kenapa hal itu dapat terjadi? Runciman meyakini arus politik modern yang terjadi di dunia saat ini sangat mekanis dan artifisial. Akibatnya, kita sangat bergantung pada kesenangan-kesenangan dan kenyamanan artifisial yang menandai gagalnya sebuah peradaban politik.

Runciman mengutip Mahatma Gandhi yang mengungkapkan kecemasannya akan teknologi yang mengambil alih kehidupan seluruh kehidupan, khususnya politik. Gandhi mengkhawatirkan kesalahan yang terjadi pada sistem demokrasi representatif modern yang amat mirip cara kerjanya dengan mesin.

Men will not need the use of their hands and feet. They will press a button and they will have their clothing by their side.  They will press another and they will have their newspaper. A third and a motorcar will be waiting for them. They will have a variety of delicately dished up food. Everything will be done by machinery (hlm.121).

Ini layaknya sebuah sistem yang mempasrahkan diri pada sebuah pemerintahan terpilih yang akan mengambil keputusan atas nama rakyat, tapi tak pernah bisa menyelamatkan rakyat dari eksistensi artifisial. Rakyat tak ubahnya penghamba dihadapan mesin.

Politik dijalankan melalui mesin partai, mesin birokrasi, dan mesin uang. Rakyat hanya menjadi konsumen pasif dari cita-cita atau harapan politiknya. Rakyat hanya mencoblos atau layaknya menekan tombol dan rakyat berharap pemerintah akan merespons. Sebenarnya jika pemerintah tak merespons, maka demokrasi sungguh memungkinkan bagi rakyat untuk mengganti politisi atau pemerintah. Namun, cara itu juga tak membuat demokrasi menjadi lebih baik.

Judul Buku : How Democracy Ends Penulis : David Runciman Penerbit : Profile Book Ltd Tahun Terbit : Cetakan I, Desember 2018 Tebal : 249 Halaman, ISBN 978 1-78125-9740

Ada jarak antara pemerintah dan rakyat yang tak terjembatani. Selain itu, terdapat ketidakadilan akses untuk mendapatkan informasi antara rakyat dan politisi. Semakin rakyat menginginkan keterbukaan, semakin banyak juga informasi yang coba ditutupi oleh politisi.

Sebaliknya, politisi dapat dengan mudah “bertemu” dan mencari tahu apa yang sedang digemari oleh rakyat. Politisi dapat dengan mudah membeli dan mengakses seluruh data-data manusia. Contohnya nyata penjualan data manusia dalam sebuah pemilu adalah kemenangan Donald Trump pada pemilu 2016 dan Referendum Brexit (hlm.159).

Itu semua dapat terpenuhi dengan cepat dan mudah melalui perusahaan teknologi seperti Facebook. Facebook dan perusahaan sejenisnya merekam semua kegiatan dan perhatian rakyat termasuk apa yang disukai dan tidak disukai. Disadari atau tidak, hal itu menunjukkan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data.

Data menjadi komoditas penting dalam kapitalisme abad ke-21. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dngan data yang terkumpul, Facebook akan tahu apa keinginan penggunanya, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh pengguna, dan terus mengulangi fase itu. Jadi, tak salah kalau saat ini demokrasi layaknya sebuah kompetisi di antara tim sales untuk mendapatkan pemilih untuk membeli produk mereka (hlm.158).

Hal-hal artifisial dalam demokrasi dan didukung dengan kuasa teknologi diyakini Runciman sebagai penyebab dan cara bagaimana demokrasi mati. Namun, bukan kematian demokrasi dan bukan pula kematian manusia. Sebab, demokrasi hanya alat bagi manusia untuk merealisasikan harapan-harapannya.

Adakah alternatif?

Runciman mengungkapkan setidaknya ada tiga alternatif sistem politik yang dapat digunakan apabila demokrasi benar-benar mati. Pertama, adalah otoritariansime representatif. Sistem ini merupakan sebuah sistem antara otoriter dan demokrasi representatif. Sistem ini dianggap berhasil dijalankan oleh Tiongkok. Mereka terbukti berhasil menurunkan angka kemiskinan, memajukan pendidikan, dan menjadi raksasa ekonomi dunia. Konsekuensinya, hak-hak rakyatnya dibatasi dan diawasi. Sistem ini jauh lebih baik daripada India yang menjamin hak rakyat, tapi gagal membangun martabat kolektif (hlm. 172).

Kedua, epistokrasi. Ini adalah sebuah sistem oleh orang-orang tahu yang terbaik, tapi bukan teknokrasi. Dasarnya adalah tak menyetujui one man, one vote untuk seluruh kalangan masyarakat. Mesti ada perbedaan jumlah hak suara antara seorang ahli atau professional dan orang awam. (hlm.181).

Ketiga, anarkisme. Terkesan aneh karena dianggap sangat utopis akan gagasannya tentang kesetaraan yang ingin tak ada subjek dan objek sesama manusia. Tapi, gagasan ini berkembang kembali di abad ke-21 karena sistem masyarakat saat ini dinilai tak lagi menawarkan harapan baru (hlm.193).

Buku yang terdiri dari empat bagian ini sangat penting untuk siapa saja yang tertarik dengan politik. Runciman berhasil menawarkan sudut pandang baru tentang perkembangan demokrasi dunia. Tak hanya itu, risetnya pun lebih mengglobal daripada yang dilakukan dan ditulis oleh dan Steven Levitsky dalam bukunya How Democracy Dies (2018) yang sangat Amerika-sentris.

Kematian demokrasi bukan kematian manusia. Analogi antara kehidupan manusia dan kehidupan sebuah sistem politik merupakan sebuah kekeliruan. Kita tak bisa untuk terus menyibukkan diri tentang kematian demokrasi. Politik demokratis sedang dihambat oleh kepalsuan-kepalsuan yang sudah mulai terdeteksi.

Merasa percaya diri akan masa depan mungkin akan terlihat konyol pada tahap krisis demokrasi saat ini. Sebab, kita memiliki lebih banyak rasa takut daripada rasa takut itu sendiri. Tetapi kita juga harus mengakui, selagi demokrasi masih berkutat pada masalah-masalahnya, ia tetap harus dijalani. Jika pada sampai tahap akhir kita masih habiskan untuk mengkhawatirkan akhir demokrasi, maka waktu hanya akan berlalu dengan sia-sia.

Kita hanya memiliki dua pilihan. Kita bisa pesimis, menyerah, dan membantu keberlangsungan yang terburuk akan terjadi. Kita juga bisa optimis, menangkap kesempatan yang masih ada, dan mungkin dapat membuat dunia menjadi lebih baik. Dengan atau pun tanpa demokrasi. (*)

 

Continue Reading

Buku

Kerajaan Nusantara dan Monumen Ingatan Bersama

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

Dalam buku dan pelajaran sejarah yang sudah saya tempuh dari jenjang SD hingga SMA, tidak pernah saya dengar apa yang sudah ditulis Linda Christanty. Buku berjudul “Para Raja dan Revolusi” mengatarkan saya pada: ada banyak peran dan bantuan yang diberikan para raja kerajaan kecil untuk kemerdekan Indonesia. Kerajaan dan nama rajanya sulit sekali kita temui di buku pelajaran sejarah, lebih-lebih perannya.

Dalam buku pelajaran sejarah yang ada hanya periodesasi kerajaan nusantara. Itu pun kerajan-kerajaan besar. Isinya hanya hafalan-hafalan kosong tanpa analisa sejarah yang bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi kini untuk menata Indonesia dikemudian hari.

Misalnya, siapa saja raja kerajaan Sriwijaya, bercorak kerajaan Hindu atau Budha kerajaan Majapahit, atau pada tahun kapan kerajaan Kutai Kartanegara berdiri dan berakhir. Semua itu penting jika kemudian diimbangi dengan analisa sejarah. Lebih-lebih ada banyak analisis sejarah yang ditawarkan. Sehingga tidak ada narasi tunggal atas sejarah kita.

Buku ini dikerjakan atas dasar tersebut. Menjadi wacana tanding atas sejarah yang sudah mapan. Sejarah yang ditulis oleh sang pemenang menihilkan yang kalah.

Linda Christanty menuliskan wacana tanding atas sejarah dengan sederhana tetapi mengasikan sekali untuk disimak. Jauh lebih menyenangkan dari buku pelajaran sejarah sekolah kita. Ia menjadikan peristiwa sejarah sepertihalnya kisah yang menyenangkan untuk disimak terus hingga selesai. Barangkali ini karena ia juga seorang cerpenis.

Dimulai dari yang paling dekat dengan dirinya, Linda Christanty memulai wacana tandingnya. Yaitu keluarga, perempuan kelahiran Pulau Bangka, 18 Maret 1970 dalam buku ini banyak menyingung keluarganya. Bagaimana sewaktu ia kecil banyak dikisahkan soal perjuangan kemerdekaan  masyarakat Bangka oleh pamannya yang juga guru mengajinya. Orang itu adalah Usataz Zakaria yang kerap dipanggil Linda dengan Pak We.

Dalam esai berjudul “Panglima Hasan Badi dan Haji Mahmud”, Linda Christanty menjelaskan bagaimana Bangka sewaktu meghadapi penjajah Belanda. Terutama peran dari kakek buyutnya, Hasan Badi. Cerita itu ia dengar dari Pak We yang merupakan cucu Hasan Badi. Seseorang panglima rakyat Bangka yang dengan berani—juga kekuatan mistiknya—melawan Belanda.

Linda Christanty menulis sejarah Bangka melalui tokoh Hasan Badi dari sumber primer dengan sangat mengesankan. Ia membumbui cerita sejarah tersebut dengan kisah mistik. Kisah yang didengarnya dari kesehariannya sewaktu kecil. Hingga ia meyakini kisah tersebut nyata dan barangkali berkat hal tersebut ingatannya tentang bagaimana Bangka melawan Belanda tetap hidup.

Dokumen sejarah keluarga Linda Christanty tersebut ada di Universitas Leiden. Sebagian lainnya ditulis oleh seorang peneliti LIPI. Dari situ kita dapat belajar bahwa sejarah keluarga adalah sejarah lokal tertentu. Bahkan juga bagian dari sejarah nasional.

Sejarah Keluarga Sejarah Politik

Judul: Para Raja dan Revolusi Penerbit: IRCiSoD Tahun Terbit: 2016 Tebal: 212 halaman Bahasa: Indonesia ISBN: 978-602-769-618-1

Dalam buku ini dibuka dengan sebuah esai berjudul “Sejarah Keluarga adalah Sejarah Politik”. Esai yang menceritakan usaha Reggie Baay mencari kebenaran atas keluarga masing-masing. Reggie Baay adalah seorang Belanda yang mencari tahu siapa sebenarnya nenek kandungnya.

Selama hidupnya, ia tidak pernah mengetahui nenaknya karena ditutup-tutupi oleh keluarganya sendiri. Lantaran kakek Raggie adalah pegawai pemerintahan Belanda di Nusantara dan mengawini seorang pribumi. Menjadi sebuah aib di Belanda bila mempertontonkan seorang pribumi sebagai bagian keluarga.

Tidak mendapatkan apa yang diinginkannya karena hanya berbekal foto lusuh dan keterangan alamat yang sebatas nama kota, yaitu Solo. Reggie cukup berbahagia karena menemukan tempat yang dianggapnya sebagai rumah. Tidak hanya itu ia juga membawa pulang hasil petualangannya di Indonesia. Oleh-oleh tersebut adalah cerita pendek dan novel. Cerita pendeknya tentang orang-orang di Solo. Novelnya tentang nyai, seorang gundik simpanan para pejabat kolonial yang barangkali novelnya tersebut menampar Belanda

Linda Christanty juga membuka wacana baru soal sejarah pemberontakan PRRI-Permesta pimpinan Kahar Muzakar dengan silsilah keluarga. Melalui tokoh Kolonel Zulkifli Lubis. Seorang tokoh militer dalam bidang intelejen.

Zulkifli yang menikahi Ratu Jainab, adik dari Sultan Nurus Cirebon. Lewat Zulkifli dan hubungannya dengan Kasultanan Cirebon, Linda membawa satu pemahaman bahwa pemberontakan  PRRI-Permesta dipicu oleh kekecewaan. Adalah Rekonstruksi dan Rasionalisasi Angkatan Perang Republik Indonesia sebuah program yang diinisiasi Mohamad Hatta dan AH Nasution. Untuk merampikan angkatan perang hanya dengan tentara profesional.

Zulkifli kecewa lantaran banyak pasukannya dimasa genting menghadapi kembalinya Belanda di Indonesia harus diistirahatkan. Tidak hanya Zulkifli, tetapi pasukannya yang masih bergelora melawan penjajah Belanda dipaksa harus lepas senjata. Kekecewaan dan ketidakpercayaan masa-laskar tersebut masuk akal menjadi pemantik pemberontakan di beberapa daerah.

Padahal mereka loyal membela kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Termasuk Zulkifli yang setia sekali dengan Presiden Sukarno. Hal ini dibuktikannya dengan membuat, yang kini disebut: Paspampres untuk Sukarno kala itu. Bahkan Zulkifli sendiri meminta ijin Sukarno ketika ia ingin menikahi Ratu Jainab.

Sultan Nurus dan Kasultanan Cirebon sendiri banyak berperan atas terwujudnya persatuan Nusantara dalam Indonesia. Dimana kala itu banyak bermunculan kerajaan-kerajaan nusantara memprokamirkan wilayahnya sebagai negara merdeka. Bumi pasundan misalnya, dimana mayoritas kesultanannya menginginkan mendirikan negara pasundan, kecuali Cirebon. Dan Sultan Nurus merelakan keselamatan nyawanya agar bumi pasundan tetap masuk dalam Indonesia.

Hal-hal semacam itu yang jarang kita temui di buku sejarah arus utama. Linda Christanty berhasil membangun monumen ingatan bersama kita, betapa ada banyak orang di masa lalu yang berperan untuk hari ini. Namun, nama mereka jarang sekali disebut. (*)

Continue Reading

Buku

Bagaimana Bisa Menulis Itu Indah

mm

Published

on

Bagi Umberto Eco, penulis akan selalu mengambil bagian-bagian yang bertentangan. Kontrdiksi dalam kata akan selalu ditempuh untuk mencapai kata sepakat. Kemudian dalam perkembangan peradaban, Virginia Wolf menyatakan bahwa tugas setiap penulis pada setiap zaman berbeda-beda.

Oleh: Triyo Handoko

Buku “Menulis Itu Indah: Penglaman Para Penulis Dunia” menjawab beberapa perkara yang menjadi pertanyaan saya soal menulis. Namun juga membuka banyak pertanyaan atas jawaban yang sudah diberikan. Dari pertanyaan: apakah menulis itu sepertihalnya aktivitas maturbasi, sampai pertanyaan teknis: apakah buku-buku terjemahan para penulis dunia dalam bahasa Indonesia tidak mengubah maksud penulisnya.

Pertanyaan tersebut terjawab namun juga membuka banyak pertanyaan lagi. Pertanyaan bagaimana hasil terjemahan par penulis dunia yang dialahkian dalam bahasa lain dijawab oleh tulisan Edward Said dan Milan Kundera. Edward Said mengomentari karya Naguib Mahfouz yang diterjemahkan dalam berbagai bahaa. Milan Kundera menulis kekecewaanya atas karyanya yang diterjemakan secara serampangan.

Milan Kundera menyayangkan terjemahan karyanya yang menurutnya mengubah makna yang ingin ia sampaikan. Selain itu, banyak karya terjemahannya mengandung kaya kepenulisan yang tidak digunakannya. Dari kekecewaan tersebut, ia memberikan penjelasan kunci bagi sapa saja yang ingin menerjemahkan karyanya.

Edward Said, orang yang membangun orientalisme, menilai karya  Naguib Mahfouz dalam bahasa Arab mempunyai nilai estitika ketimuran. Kemudian setelah diterjemahkan nilai estitikanya hilang. Nilai sastrawi Arab, bagi Edward dalam karya  Naguib Mahfouz, tergantikan oleh nilai komersil.

Hal yang sama juga saya dapati dibeberapa karya terjemahan bahasa Indonesia. Selain tidak mudah, proses penerjemahaan adalah proses yang bisa digolongkan politis. Memainan kata, sependapat dengan Subcomandante Marcos, adalah tindakan politik.

Buku ini sendiri adalah buku terjemahan esai pengalaman menulis 23 penulis dunia. Adhe Maruf, penerjemah esai tersebut, memilih 23 penulis dunia dan tindakan tersebut boleh dikatakan politis. Ia ingin mengenalkan bagaimana pengalaman 23 penulis, yang menurut saya banyak penulis pembangkang, pada pembaca Indonesia. Bagaimana ia menolak kekuasaan dan membuat wacana tanding dengan menulis.

Gao Xingjian adalah contohnya. Rezim totalitarian komunis di China, negeri kelahiran Gao Xingjian, memaksanya menjadi warga negara dunia. Tidak diberi tempat di tempat kelhirannya. Hal ini disampaikannya dalam esainya dalam buku ini. Gao Xingjian juga menyampaikan bahwa proses penulisan Soul Mountain, ia maksudkan sebagai bentuk eksplorasi bahasa di mana individu mengekspresikan dirinya dengan kebebasan menyeluruh.

Umberto Eco bahkan dalam esainya di buku ini mengganjar seorang penulis kewajiban. Kewajiban itu ialah kewajiban moral. Bukan karena klaim atas keilmiahan, kata Umberto Eco, tetapi karena moralnya sebagai bagian dari masyarakat.

Umberto Eco menambahkan bahwa penulis akan selalu mengambil bagian-bagian yang bertentangan. Kontrdiksi dalam kata akan selalu ditempuh untuk mencapai kata sepakat. Kemudian dalam perkembangan peradaban, Virginia Wolf menyatakan bahwa tugas setiap penulis pada setiap zaman berbeda-beda.

Bagian yang Indah

Judul Buku : Menulis Itu Indah—Pengalaman Para Penulis Dunia Penulis : Albert Camus, dkk. Penyunting dan Penerjemah : Adhe Tahun Terbit : 2016 Jumlah Halaman : xiv + 258 Penerbit : Octopus

Menurut Virginia Wolf, penulis sekarang harus meninggalkan harapan bisa membuat pernyataan lengkap yang kita sebut mahakarya. Ia harus puas menjadi penerus “catatan-catatan” yang telah ditinggalkan pendahulunya. Tentu saja dengan mempertanyakan ulang atas peninggalan tersebut dengan penyelidikan-penyelidikan mendalam. Untuk kemudian diwariskan pada generasi berikutnya.

Serupa dengan pertnyataan Virginia Wolf, Salman Rushdie seorang penulis timur tengah yang difatwa halal darahnya oleh otoritas Iran. Menyatakan dalam esainya dibuku ini bahwa, penulis sepertihalnya seniman. Ia menangkap realitas yang diubahnya dalam karya. Sedangkan realitas itu terus bergerak.  Sehingga tak ada yang berakhir dan sempurna, semuanya berbicara tentang perubahan dan perkembangan.

Sastra sebagai salah satu bentuk laporan, menurut Salman Rushdie, dibuat pada batas antara diri dan dunia. Juga pada tindakan kreasi sang penulis sehingga batasan itu melemah dan dapat ditembus. Konekuensinya adalah mempersilahkan dunia mengaliri sang penulis dan sang penulis mengaliri dunia.

Buku ini tidak melulu soal bagaimana 23 penulis mengartikulasi bagaimana tugas dan seharusnya penulis menulis. Banyak juga soal bagaimana memulai menulis. Carlos Fuentes, misalnya, memulai menulis dengan membuat terbitan majalah yang semua prosesnya ia kerjakan sendirian. Pada usia yang masih dini tersebut, Carlos Fuentes mendapati kekecewaan dari kerja-kerja penerbitannya. Majalahnya tidak dibaca oleh siapapun.

Lain hal pengalaman Bertrand Russell memulai menulis. Awalnya ia berharap gaya tulisannya bisa seperti John Stuart Mill, sorang filsuf empiris dari Inggris. Ia menyukai struktur kalimat dan cara mengembangkan pokok permasalahannya. Dalam proses pencariannya, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari cara menulis kalimat terpendek untuk mengatakan sesuatu tanpa ambiguitas.

Pada akhirnya Bertrand Russell lebih tertarik dengan gaya penulisan kakak iparnya sendiri, Logan Pearsall Smith. Gabriel Garcia Marquez dalam proses pencariannya juga berguru dengan dua pengarang besar: William Faulkner dan Ernest Hemingway. Dua gurunya mengajarkan hal yang berbeda satu sama lain. Kebingungan jelas mengawali proses pencarian gaya kepenulisan  Marquez.

George Orwel juga melakukan pengakuan atas pengalamannya memulai menulis. Hingga ia menemukan bahwa seiring dengan berjalannya waktu, maka kita dapat menyempurnakan berbagai gaya menulis, kita selalu bisa menguasainya. Kegagalan itu wajar. Setiap buku adalah kegagalan.

Nama-nama diatas, kecuali dua nama, sudah tiada tetapi namanya masih terus diperbincangkan. Dua nama yang masih hidup adalah Salman Rushdie dan  Gao Xingjian, pun masih hidup mereka tetap diburu kematian oleh otoritas.

Mereka yang menulis dengan berani saya kira akan terus abadi. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending