Connect with us

Buku

Usaha Mematahkan Warisan Kolonial

mm

Published

on

Seorang sejarawan dan ahli hukum keturunan Belanda membantah kalau Indonesia mengalami penjajahan selama 350 tahun lamanya. Berbekal sejumlah sumber dan fakta hukum, Resink mematahkan konstruksi politik kolonial itu.

Sungguh nyeri hati dan batin kita jika mengenang masa penjajahan di bumi pertiwi ini. Sejak belia hingga dewasa, kita disuguhkan cerita sejarah kelam bangsa ini yang harus tunduk selama ratusan tahun di bawah laras senjata penjajah kolonial Belanda. Kisah penjajahan selama tiga setengah abad itu diwariskan selama turun temurun, baik dari mulut ke mulut maupun lewat kurikulum pelajaran di sekolah hingga universitas. Tak heran,  jika mental bangsa terjajah begitu tertanam dalam sebagai kebenaran absolut di masyarakat.

Namun, siapa sangka jika kisah itu ternyata memang sengaja didesain sebagai salah satu pemahaman ilmiah guna merusak mental generasi penerus bangsa ini. Tak bisa dipungkiri, kolonialisme butuh pengetahuan memadai tentang masyarakat jajahan untuk melanggengkan kekuasaannya. Indologi, atau kajian tentang penduduk dan masyarakat di Nusantara  bisa dibilang sebagai salah satu pemahaman ilmiah yang sangat rapih dan sistematis untuk membentuk negara kolonial Hindia Belanda, sebutan bagi Indonesia oleh pemerintah kolonial.

Kebanyakan pencetus dan pengembang indologi adalah para birokrat yang bekerjasama dengan intelektual-intelektual Belanda. Para indolog ini mencitrakan Hindia dan penghuninya sebagai sesuatu yang inferior, yang berkebalikan dengan Belanda dan Eropa Barat. Bisa dibilang, Indologi ini berakar dari Orientalisme abad ke-18 dimana intelektual negara-negara penjajah membentuk suatu kajian tentang bagaimana memandang negara-negara terjajah di Timur Jauh alias non Eropa.

Di Indonesia, kita bisa menemukan ideologi itu dari karya-karya dan rekomendasi kebijakan para indolog Belanda; seperti Snouck Hurgronje, Boeke, dan indolog-indolog  terkemuka lainnya. Konsepsi tentang Hindia Belanda/Indonesia dimata penjajah itu begitu sakti hingga langgeng hingga sekarang. Paling gampang dilihat sekaligus sangat sulit untuk dipungkiri perihal berapa tahun sebenarnya kita dijajah oleh Belanda?

Benarkah tiga setengah abad seperti yang selama ini dicekoki oleh guru-guru sejarah kita melalui buku teks sejarah, atau jangan-jangan tak selama itu? G.J Resink pun mencoba menghapus semua keraguan itu. Bahkan, sejarawan blasteran Belanda-Jawa yang juga guru besar hukum di Universitas Indonesia itu berani menyebut 350 tahun dijajah sebagai mitos. Mitos yang hampir bisa disamakan seperti Holocaust Yahudi, seperti kata Presiden Iran Ahmadinejad.

Jika memang benar itu mitos, seperti yang dikatakan Resink, mengapa bisa bertahan hingga puluhan tahun lamanya dan apa yang coba ditawarkan Resink lewat penelitiannya? Tesis yang diketengahkan oleh penulis buku ini tentunya tak bisa lepas dari disiplin ilmu yang ditekuni, ilmu hukum. Berdasarkan data dari dunia perundang-undangan dan penjelasan para ahli hukum sebagai dasar, penelitiannya telah berhasil mengubah pandangan tentang masa lalu. Khususnya keadaaan Indonesia  pada abad ke 19 dan awal abad ke-20.

Dalam penelitiannya, Resink menemukan sifat hukum internasional di Nusantara antara pemerintah kolonial Hindia Belanda dengan negeri-negeri Pribumi di Nusantara. Dari situ, Resink pun menilai kalau generalisasi 300 tahun lebih penjajahan Belanda di Nusantara perlu dilihat secara kritis. Resink mencatat secara jelas pernyataan Gubernur Jenderal Hindia Belanda B.C de Jonge yang pada tahun 1936 berkata, “ Kami orang Belanda sudah berada di sini selama 300 tahun, dan akan terus berada di sini hingga 300 tahun lagi.”

Pernyataan itu kata Resink tentunya sangat bermuatan politis, bercirikan kolonial juga sangat sesumbar mengingat beberapa tahun kemudian penguasaan Belanda atas Indonesia pun rontok dan tak bisa diteruskan. Selain itu, jelas Resink, yang perlu dilihat secara kritis ialah pendudukan VOC atas Jayakarta/Batavia/Jakarta saat ini tak bisa diklaim sebagai bentuk penguasaan Nusantara secara keseluruhan.

Pertama, Jayakarta atau Batavia saat itu bukanlah ibukota dari Nusantara, yang masih terpecah dengan kerajaan-kerajaan di tiap daerah atau pulaunya. Kedua, wilayah Jayakarta saat dikuasai oleh VOC juga hanya sebagian saja dari wilayah yang disebut sebagai Jakarta Utara saat ini, seperti Sunda Kelapa.

Sumber lain yang memperkuat pernyataan Resink soal tak semuanya kerajaan-kerajaan tunduk dan dikuasai oleh Belanda adalah soal pernyataan Pemerintah tertinggi di Belanda dalam Regeeringsreglement pada tahun 1854, pasal 44, memberi wewenang kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk mengumumkan peperangan dan perjanjian perdamaian dengan raja-raja dari bangsa-bangsa di Kepulauan Nusantara.

Bukan hanya itu saja, Resink mendapatkan bukti dalam kasus pengadilan di mana hakim dan Mahkamah Agung (MA) Hindia Belanda pernah tak bisa mengadili seorang pribumi dari Kutai yang mempunyai perkara, pasalnya orang itu saat disidangkan di pengadilan Surabaya pada tahun 1904  ditolak oleh MA karena berasal dari kerajaan Kutai yang tidak termasuk dalam kekuasaan Hindia Belanda.

Dua hal itu semakin mengukuhkan tesis Resink soal masih adanya pengakuan pemerintah Hindia Belanda terhadap negeri negeri merdeka di Kepulauan Nusantara. Resink pun menyayangkan, masih kuatnya pengaruh kolonial terutama dalam soal sejarah nasional bangsa ini.

Terkait hal ini, almarhum A.B Lapian, sejarawan maritim Indonesia dalam pengantarnya di buku ini mengatakan kalau studi sejarah di Indonesia masih belum bisa dilepaskan dari pengaruh Belandasentris atau Eropasentris, yang selalu menempatkan pribumi sebagai bangsa inferior dan terbelakang. Jadi jangan heran kalau mitos-mitos yang lahir masih tetap hidup, karena memang masih dilestarikan dalam kurikulum pendidikan sejarahnya. Bagi Resink, banyak ilmuwan muda Indonesia yang terjebak dalam mitos masa kolonial, sehingga sangat pesimistis dengan masa depan Indonesia.

Sayangnya, buku yang disusun atas empat belas esai hasil penelitian Resink ini masih dipenuhi oleh kesalahan-kesalahan teknis seperti penggunaan tanda baca dan typo yang luput dari pengamatan penyeleras aksaranya. Namun diluar permasalahan teknis itu, buku Resink ini memberikan jasa penting dalam studi sejarah nasional di Indonesia. Selama ini sejarah memang selalu ditulis dalam persepektif kelas yang berkuasa, dan Resink berusaha menjungkirbalikannya. (*)

 

Judul Buku          : Bukan 350 Tahun Dijajah

Penulis                 : G. J Resink

Penerbit              : Komunitas Bambu, Jakarta

Cetakan               : Pertama, 2012

Tebal                     : xxxiv+366 hal

 

Wahyu Arifin—Wartawan dan Pecinta Buku.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Elit vs Massa: Pandangan Sejarah W.F. Wertheim

mm

Published

on

Getty Images/ Google

Wertheim Stichting adalah sebuah Yayassan Belanda yang didirikan 4 Oktober 1998 melalui suatu akte notaris dan sejak itu menjadikan emansipasi bangsa Indonesia sebagai usahanya dengan memberikan Wertheim Award bagi karya emansipatoris teladan bagi orang-orang Indonesia yang masih hidup.

Orang-orang Indonesia yang telah menerima Wertheim Award adalah penyair Rendra dan Widji Thukul, penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Joesoef Isak, jurnalis Goenawan Mohamad dan penulis Benny G. Setiono.

Dengan emansipasi yang kami maksudkan ialah proses sejarah kememrdekaan negeri-negeri oleh warganegara mereka, dari ketidaksetaraan, keterbelakangan pendidikan dan penindasan, dari partisipasi yang tak mencukupi di bidang pengadaan hukum dan dalam pengambilan keputusan.

Rekan lama dan sahabat-sahabat professor Wertheim hadir pada lahirnya stichting, seperti a.l. Profesor Jan Breman dan professor Jan Pluvier. Bahwa di Indonesia terdapat lebih banyak karya ilmiah Profesor Wertheim, merupakan pertanda baik. Penulis erat hubungannya dengan revolusi Indonesia dan mengenal banyak tokoh-tokoh terkemuka dari masa sebelum peran dan dari generasi 1945 yang telah ambil bagian dalam pembangunan negeri. Beliau juga mencurahkan tenaga dan fikiran untuk dieksposnya rezim Suharto sebagai suatu system penindasan yang tak berperikemanusiaan.  Kami tegaskan bahwa Wertheim Stichting sendiri pada prinsipnya tidak menerbitkan buku dan juta tidak memberikan sokongan dana.

Diterbitkannya Elite versus Massa bagi orang-orang dan kaum muda di negeri-negeri yang  sedang berkembang dan bagi Indonesia khususnya, begitu menarik kakrena ia bersangkutan dengan dua periode sejarah yang sedang berjuang, yang dua-duanya berasal dari sumber Eropa dan melalui kolonisasi telah sampai di negeri-negeri yang sedang berkembang.

Yang dimaksudkan disini ialah gerakan elite yang mempeeroleh sumbernya terutama dari filsuf Yunani  Plato dan terutama sesudah Revolusi Perancis memperoleh pengikut yang semakin bertambah dari kalangan aristokrasi Eropa dan gereja Katolik yang amat menderita oleh revolusi dan dari peperangan Napoleonistis yang menyusul kemudian.

Mereka kehilangan posisi berhak-istimewa melalui cara berdarah serta ingin memulihkannya dengan seruan tentang keharusan adanya suatu elite bagi masyarakat dan kehidupan bersama.

Bukankah, berhadapan dengan elite terdapat massa yang bodoh, yang memberikan reaksi dari bawah dan menantikan kesempatan untuk menyingkirkan elite. Pendeknya, tanpa elite tak ada kehadiran manusiawi. Gerakan massa berkembang di bawah pengaruh kapitalisme industridi abad ke-19 serta menemukan didalam karya Karl Marx dan Friederich Engels protagonist-protagonis penting.

Buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book

Bagi mereka analisa mengenai hubungan massa dengan elite kapitalis kaum industrialis, mereka mengembangkan pengertian klas dan teori perjuangan klas, dan teori perjuangan klas, yang harus menggantikan pertentangan antara industry dengan massa buruh yang tak berpendidikan dan masa buruh tak berpunya, dengan suatu masyarakat samarata-samarasa yang damai. Membangun terus atas karya filsuf Pencerahan Perancis Comte de Saint Simon mereka melihat berakhirnya orde lama dan dimulainya orde baru sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari pekerja yang berpendidikan yang sesuai dengan pendidikan dan prestasinya akan mendapatkan kedudukan yang adil.

Sampai dewasa ini proses pembentukan kenegaraan komunis dan sosialis gagal karena pada prinsipnya mereka punya dasar kelas, dimana hubungan hubungan lama dengan sederhana dijungkir-balikkan. Perjuangan kelas dan revolusi, komunisme dan sosialisme di dalam sejarah mutakhir Eropa dan Asia merupakan sumber dari alat kesewenang-wenangan dan kekerasan Negara, dan dari pertumpahan darah dan genosida, sebagaimana halnya elitisme dalam fasisme, nasionalisme dan naziisme.

Poin terpenting Wertheim dalam diskusi ini ialah bahwa emansipasi sebagai suatu proses sejarah masyarakat dapat menghilangkan pertentangan antara elite dan gerakan massa, dengan prasyarat konteks masyarakat memberikan syarat-syarat yang diperlukan. Untuk itu diperlukan sejarah pembentukan sosial dan politik, dari suatu pembentukan kepengurusan yang partisipatif dan dari suatu pendidikan sekolah yang tinggi. Demokrasi bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya merupakan  pilihan. Semata-mata adalah demokrasi dimana kepentingan umum dan pribadi selalu dipertimbangkan di parlemen dan publisitas tanpa membedakan mengenai siapa pun, satu sama lainnya dipertimbangkan, adalah suatu emansipasi yang merupakan bentuk yang dapat diterima.

Sentralisme demokratis sebagaimana yang dimiliki oleh sosialisme dan komunisme, dan demokrasi terpimpin yang dikelola oleh Sukarno dan Suharto sewaktu diberlakukannya rezim keadaan darurat, tidak lain dari pada suatu politik survival, suatu kontigensi yang ditujukan untuk bisa selamat dari kekacauan (chaos).

Masalahnya juga ialah bahwa pengertian emansipasi tidak hanya interesan bagi banyak aliran politik yang memperjuangkan emansipasi bagi elektoratnya sendiri, tapi juga bagi negera yang punya tujuannya sendiri. Setiap dari partai-partai ini dapat secara implisit menggunakan konsep emansipasi sebagai instrument bagi tujuannya sendiri, dengan melampaui kepentingan umum, yang menyebabkan emansipasi menjadi alat perjuangan pribadi dan sebagai alat untuk saling menyisihkan.

Jadi ada kemunduran juga pengembangan hal-hal yang dicapai dan ada kemajuan. Dinamika yang terdapat menurut Wertheim adalah dialektis dan maju menurut spiral dari kepentingan pribat menuju ke kepentingan Negara dan kembali lagi. Warga yang teremansipasi yang menjadi buah fikiran Wertheim Stichting bila hal itu menyangkut penganugrahan Wertheim Award, merupakan figure yang tak dapat ditiadakan.

Di dalam bukunya Third World Whence and Wither, yang dalam pada itu, juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Wertheim mendalami hubungan antara Negara dan emansipasi, sejak praktek Eropa sesudah perang dari negara kepentingan bersama yang beramal dan dilindungi. Dengan itu ia mencoba untuk memastikan sampai dimana konsep tersebut palsu atau benar sebagai permulaan untuk spiral emansipasi berikutnya.

Adalah harapan Wertheim Stichting bahwa Elite versus massa di Indonesia dapat membantu kembali menempatkannya di dalam agenda dan pada suatu penelitian baru menuju pada kondisi yang terdapat di Indonesia pada jalan-jalan emansipasi yang bebas ideology. Dan dimana selalu dicurahkan perhatian terhadap dampak noda-noda buta (blinde vlekken) yang selalu mengikuti setiap kebijakan. Demikianlah, elite versus Massa mempunyai noda-noda hitamnya sendiri, tetapi hal itu juga terdapat di dalam emansipasi, sebagaimana halnya bahaya pada sukses emansipatoris, dimana ketidak adilan tak dihiraukan, seperti umpamanya toleransi terhadap penguapan etnis dan religious. Selalu diperlukan keseimbangan antara perjuangan hal-hal yang diinginkan, dengan menghapuskan apa yang tak diinginkan, dan bagi cara-cara damai berpartisipasi, pengembangan dan stimulasi rohaniah yang cocok untuk itu atau yang harus dikembangkan. (*)

Amsterdam, Juni 2009. | Coen Hltzappel (Ketua Wertheim Stichting) | Ibrahim Isa (Sekretaris)

*Tulisan ini adalah pengantar untuk penterjemahan buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book.

Continue Reading

Buku

The Plague karya Albert Camus: Sebuah Kisah Untuk Kita Semua

mm

Published

on

“Sampar” fasis yang menjadi inspirasi novel ini mungkin sudah menghilang, akan tetapi 55 tahun setelah kematiannya, banyak jenis wabah lain yang menjadikan buku ini sangat relevan.

Sedikit sekali penulis yang menjadikan karyanya begitu dekat dengan kematian seperti yang dilakukan Albert Camus, salah satu penulis novel dan penulis esai terbesar abad 20, yang menemui ajalnya sendiri dalam kecelakaan lalu lintas pada minggu ini 55 tahun yang lalu, di rute Nasionale 6 dari Lyon-Paris.

Dari semua novel karya Camus, tak ada yang mendeskripsikan konfrontasi-dan kohabitasi manusia-dengan kematian secara begitu jelas dan pada skala luar biasa seperti Le Peste, diterjemahkan menjadi The Plague. Kebanyakan dari kita membaca The Plague saat remaja, dan kita semua harus membacanya lagi. Dan lagi: bukan hanya karena segala respon manusia tentang kematian direpresentasikan di dalamnya, tetapi sekarang-dengan berkembangnya Ebola-buku ini berfungsi dalam tataran harfiah dan juga metaforis.

Cerita milik Camus adalah tentang sekelompok laki-laki, digambarkan dengan persinggungan dan perlawanan mereka terhadap wabah sampar itu. Di dalamnya kita menemukan keberanian, ketakutan dan perhitungan yang kita baca dan dengar dari setiap cerita tentang upaya-upaya Afrika Barat untuk mengurangi dan menghadapi Ebola; melalui naratornya, Dr Rieux, kita dapat identikkan dengan ratusan dokter Kuba yang terjun langsung ke pusat penyebaran wabah itu, dan begitu pula dengan seorang perawat Skotlandia yang saat ini sedang berjuang untuk hidupnya di Royal Hospital di kota London.

Kukira Camus menginginkan pembacaan yang harfiah-juga alegoris semacam itu. Telah diakui secara luas bahwa wabah yang ia deskripsikan menandai Third Reich. Ditulis pada tahun 1947, selagi dunia meneriakkan kemenangan dan “Tak Akan Terulang Lagi”, Camus berkeyakinan bahwa sampar berikutnya “akan membangunkan tikus-tikusnya lagi” demi “kutukan dan pencerahan manusia”.

Namun, Camus juga mengetahui terjadinya epidemik hebat kolera di Oran, Aljazair-dimana novel itu mengambil latar-pada tahun 1849, dan di tempat lainnya di distrik tempatnya berasal di Mondovi dalam wilayah Aljazair.

Tetapi ada alasan lain mengapa kita perlu membaca kembali La Peste (lebih baik dalam bahasa Prancis atau dalam terjemahan bahasa Inggris karya Stuart Gilbert, sebuah karya literatur tersendiri). Seperti semua karya metaforis atau karya alegoris yang baik, ia dapat merepresentasikan hal-hal diluar yang dimaksudkan; termasuk wabah-wabah baik moral dan metaforis yang terjadi setelah masa kehidupan Camus sendiri. Kritik dari John Cruikshank yang bersikeras bahwa La Peste juga merupakan sebuah refleksi atas “kelalaian metafisis manusia di dunia”, yang mana penggunaannya tak berhingga, dan terserah pada kita. Jadi layak direfleksikan pada hari peringatan kematiannya ini: apa yang akan ditandai sampar itu sekarang?

Sekarang ini, kukira, La Peste dapat menceritakan kisah tentang satu jenis wabah yang berbeda: yaitu tindakan destruktif, terlalu materialis, kapitalisme-turbo; dan dapat berlaku sebagaimana penjelasan-penjelasan kontemporer yang diterima sekarang. Sebetulnya, sangat bisa begitu, karena satu alasan ini: Keabsurdan. Masyarakat kita adalah kelompok yang absurd, dan novel Camus memeriksa-diantara banyak hal lainnya, dan untuk semua upaya moralnya-relasi kita dengan absurditas cara keberadaan modern. Buku ini dapat mendeskripsikan dengan sangat baik sampar di dalam masyarakat yang menggaungkan fantasmagorianya ke penjuru dunia sehingga jutaan orang datang, menaiki kapal-kapal kuburan atau menyebrangi gurun-gurun mematikan, dalam pencarian janji-janji palsunya; dan yang bahkan menghancurkan konstanta yang dihadapkan Camus untuk mengukur mortalitas manusia: alam.

Sangat penting bagi isolasi eksistensial Camus yaitu ketegangan antara kekuatan dan keindahan dari alam, dan kesedihan hidup manusia. Sejak masa mudanya, dia menyukai laut dan gurun-gurun, dan memahami mortalitas manusia melalui keluasannya yang acuh tak acuh.

Sang ahli keabsurdan abad 20, Samuel Beckett, lahir tujuh tahun sebelum Camus, tetapi aktif dalam perlawanan Prancis pada kurun waktu yang sama. Dalam Happy Days karya Beckett, Winnie merenungkan bahwa “Terkadang semuanya berakhir pada hari itu, semuanya terselesaikan, semuanya sudah dikatakan, semua siap untuk menyambut malam, dan hari itu belum berakhir, jauh dari berakhir, malam belum siap, jauh dari siap”. Di tempat ini, seperti sedang menunggu Godot (sesuatu atau seseorang yang tidak akan pernah terjadi atau tidak akan pernah datang. pener), tak ada agen manusia yang memiliki tujuan.

Di dalam La Peste, bagaimanapun, absurditas merupakan sumber nilai, nilai-nilai dan bahkan tindakan. Sekelompok orang yang berkumpul dalam narasi itu merepresentasikan, ia merasakan, semua respon manusia terhadap bencana. Setiap orang mengambil bagiannya untuk menceritakan hal itu, meskipun sebenarnya dokter itu, Rieux-narator tersembunyi-yang melawan wabah dengan karyanya, yaitu obat, seperti Camus mencoba melawan pertama-tama ketidakadilan, lalu fasisme, dengan kerja kerasnya melalui kata-kata.

Perbedaannya dengan Beckett adalah: sebagaimana pemburu karakter Molloy dalam buku Beckett menyimpulkan:”Lalu aku kembali ke rumah dan menulis. Saat itu tengah malam. Hujan menghujam jendela. Itu bukan tengah malam. Saat itu tidak turun hujan”-jadi, bahkan narasinya saling menegasikan. Namun, karakter-karakter Camus dalam La Peste mengilustrasikan bahwa, meskipun mereka tahu bahwa mereka tak berdaya melawan sampar, mereka mampu menjadi saksi atas peristiwa itu, dan hal ini dengan sendirinya bernilai. Ketika dia menerima hadiah Nobel dalam bidang literatur pada tahun 1957, pidato mengagumkan Camus menyampaikan bahwa hal itu merupakan kehormatan dan beban bagi penulis “untuk melakukan hal yang lebih besar dari sekadar menulis”.

Camus tidak melihat adanya dikotomi antara kekosongan yang menjadi pusat dalam L’Etranger, dan upaya-upaya keras dalam La Peste. Dia pernah sekali menulis tentang “anggur dari keabsurdan dan roti dari ketidakacuhan yang akan menutrisi keagungan (manusia)”. Fakta atas ketidakberdayaan yang absurd bukanlah alasan untuk tidak bertindak; Camus, dengan segala kesan mendalamnya tentang keabsurdan, mendorong kita untuk mengambil tindakan.

Akan tetapi tak ada posisi moral bagi manusia di alam. Jarak antara kekuatan dan keindahan alam hampir merupakan sebuah siksaan: di dalam novel hebat pertama Camus, La Mort Heureuse, Mersault memenungkan “keindahan pagi hari di bulan April yang tidak manusiawi”. Hanya satu huruf yang membedakan nama Mersault dengan penggantinya yang lebih kompleks dan ambigu, Meursault, kebalikan pahlawan dalam L‘Etranger: dia adalah seorang lelaki yang mempunyai begitu banyak pertanyaan tapi tak mempunyai jawaban. Tapi bahkan Meursault menyimpulkannya saat membunuh seorang Arab di pantai: “Aku tahu bahwa aku telah merusak harmoni di hari ini”.

Tapi mengapa La Peste berbicara begitu keras pada kita saat ini? Camus dulu pernah menulis, dalam sebuah esai yang diberi judul Le Desert, tentang “materialisme yang menjijikan”. Dia menjejakkan makna yang vital bagi kita saat ini, di dalam dunia dimana materialisme begitu menjijikan ia telah menjadi sebentuk sampar. Semua yang umat manusia lakukan di era kapitalis-turbo, dengan pembinasaannya terhadap alam, “menghancurkan harmoni pada hari ini”.

Tiap embikan dari para politikus senada dengan penguasa pada era sampar khayalan Camus di Oran: “Tidak ada tikus di dalam gedungnya”, seru penjaga gedung selagi tikus-tikus itu mati di sekelilingnya. Surat kabar-surat kabar mengumpulkan massa dengan berita bahwa wabah telah terkendali padahal tidak.

Camus menawarkan kita sebuah cara untuk menanggalkan pencarian tanpa tujuan atas “keutuhan” dengan diri kita sendiri, tetapi tetap berjalan bagaimanapun keadaannya, berjuang: demi sejumlah keadilan moral yang didefinisikan dengan buruk, meskipun kita sudah tidak mampu mendefinisikannya. Pada kesimpulan dalam La Peste, Rieux-yang istrinya telah meninggal karena sakit di tempat yang lain, tak berhubungan dengan wabahnya-menyaksikan keluarga-keluarga dan para kekasih bersatu kembali ketika gerbang Oran akhirnya dibuka. Dia merasa heran-dalam keadaan begitu banyak penderitaan dan perjuangan yang tanpa tujuan-akankah ada kedamaian jiwa ataupun pemenuhan tanpa harapan, dan menyimpulkannya ya, mungkin saja bisa, bagi mereka “yang sekarang mengetahui bahwa bila ada satu hal yang bisa seseorang dambakan selalu, dan terkadang mereka capai, adalah kasih sayang manusia”.

Mereka adalah orang-orang “yang hasrat-hasratnya terbatas pada manusia, dan kasih sayangnya yang sederhana namun begitu hebat” dan mereka yang “harus masuk, sekarang dan seterusnya, ke dalam hadiah mereka”. Tetapi Rieux telah mengualifikasikan kata-kata itu sebelum dia menuliskannya, beberapa baris sebelumnya. “Tetapi untuk mereka yang lain”, dia mengatakan, “yang mencitakan hal melampaui dan di atas individu manusia menuju sesuatu yang bahkan tak bisa mereka bayangkan, tidak ada jawaban untuk itu”.

Tidak ada jawaban. Tidak ada deskripsi, bahkan, atas kemungkinan seperti apa “sesuatu” yang lain itu. Dan meski begitu ia mengomel, ia membuat tuntutan-tuntutan pada kita, dan mereka yang mengenal Rieux tahu tentangnya, meskipun kita telah menanggalkan sebuah definisi. Tanpa tujuan, tetapi imperatif; politis hingga taraf tertentu, tetapi tak sabar dengan politik; bermoral tentu saja, tetapi dengan gelisah-dan dengan penghormatan yang serius terhadap keluasan alam tempat mortalitas kita mengukur dirinya sendiri, tetapi yang kali ini kita bunuh.

Satu hal untuk dipertimbangkan lebih jauh, kemudian-sebagaimana yang kulakukan selagi aku mengemudi pada hari Minggu ke jalan yang sekarang bernama Autoroute 6 antara Lyon dan Paris dengan sedikit kegentaran atas hari peringatan itu sendiri, melewati Villeblevin, tempat dimana mobil sport Facel Vega yang dikendarai oleh teman Camus, Michel Gallimard menubrukkan kedua lelaki itu hingga mati. (*)

Diterjemahkan dari Albert Camus’ The Plague: a story for our, and all, times karya Ed Vulliamy dalam theguardian.com, 5 Januari 2015.
__________________________________________________________________________________________________________________

Penterjemah:  Marlina Sophiana | Editor: Sabiq Carebesth | Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com

Continue Reading

Buku

Huruf-Huruf Yang Tenggelam di Jerman

mm

Published

on

Getty Images/ Frankfurt Book Fair

Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

By: Miranti Hirschmann*

Tak terasa, hampir dua tahun berlalu sejak Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair pada 14 – 18 Oktober 2015 lalu di Jerman.  Saat itu,  media Indonesia maupun Jerman terfokus pada hadirnya para penulis Indonesia, buku-buku, juga beragam pementasan seni budaya Indonesia di kota Frankfurt am Main.

Ada beberapa hal yang nampaknya terlewat—yang tak kalah menarik dengan buku-buku yang dipamerkan di hall hall utama. Dalam tulisan ini saya ingin membagikannya untuk Anda.

Buku Antik

Saya menggunakan kesempatan di hari hari terakhir expo buku akbar sejagad itu untuk blusukan di hall-hall yang kurang mendapat perhatian, seperti halnya di Hall 4. Di hall 4 lantai 1 ini, disebut menampilkan buku-buku antik dari berbagai belahan dunia. Selain itu, hall ini juga menampilkan karya  juara juara lomba poster buat Frankfurt Book Fair. Semuanya bertema Indonesia dan kebanyakan pemenangnya adalah siswa-siswa sekolah menengah.  Poster-poster ini, sebagian dijadikan kartu pos,  dibagikan pada stand tamu kehormatan.

Tapi, siapa yang mau melihat buku tua dan karya di hall 4? Toh, ada 600 event dari Indonesia yang berlangsung di berbagai venue di pekan yang luar biasa itu. Dari wawancara dengan penulis Indonesia oleh stasiun TV Jerman, bedah buku, diskusi politik hingga demo masak, yang tentunya menampilkan buku-buku masakan khas Indoesia. Persekutuan masakan, buku-buku terbaru dan diskusi politik memang gampang membuat hal antik terlewatkan kan?

Makin dalam saya blusukan, makin menarik apa yang saya dapatkan.  Saya menemukan sebuah stand kecil, berukuran tak lebih dari 2×1 meter persegi.

Diatas satu-satunya meja pamer, dipajang sebuah buku berukuran A4 berjudul “Ertrunkene Buchstaben“ (dalam bahasa Indonesia artinya Huruf huruf yang tenggelam).

Saya terhenti di stand itu. Yang menarik buat saya, entah mengapa,  adalah gambar ilustrasinya yang menggunakan litografi nukilan kayu. Kepala manusia dengan mata besar nanar, hidung yang bulat dan juga besar,  kuping yang kecil, namun bermahkota. Buku apa ini?

Saya bolak balik buku itu. Hard cover, buatannya sangat rapi.  Buku ini hanya terdiri dari 4 lembar halaman. Kertasnya mungkin 160 gram. Isinya tak lebih dari  5 ilustrasi kepala manusia bermahkota dan 1 puisi yang terdiri dari 3 bait dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris.  Puisi berjudul Ertrunkene Buchstaben ini merupakan karya budayawan Jerman, yang lahir di pedalaman Bavaria, Ingo Cesaro.

Cover depan dan cover belakang menampilkan ilustrasi kepala manusia. Pada halaman pertama, puisi asli berbahasa Jerman ini diberi ilustrasi litografi bernuansa  hijau.  Halaman keduanya istimewa karena memiliki extra wing sehingga bila dibuka ada 3 halaman. Di halaman ini ditampilkan berbagai style huruf yang bila di padukan berbunyi Huruf huruf yang tenggelam.  Halaman berikutnya puisi tersebut yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

Huruf huruf yang tenggelam

Agak terlampau lembap

mungkin

nyaris tenggelam sang huruf

opaya penghidupan kembali

di ujung lidah

 

mengipas- ngipas udara sejuk

sayap sayap setinggi manusia

terhindar dari kematian

kata kata menari nari

diatas temali tinggi

menarik riang tak kenal kabut

 

suara malaikat sepatutnya dipuji

namun malaikat manakah

pada masa kini yang masih

bersedia jadi

pembawa  berita kematian

 

Penterjemahan  dari bahasa Jerman kedalam bahasa Indonesia tersebut dilkerjakan oleh seorang penterjemah yang tinggal di Jerman, ibu Hedy Holzwarth.

Berharganya Indonesia

Pada halaman terakhir, puisi yang sama,  ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Dr. Lawrence Guntner.  Ilustrasinya tak berubah: kepala manusia juga dengan mata, hidung dan mulut yang besar, seram. Mirip tokoh Buto dalam pewayangan.

Kebetulan saya sempat berbincang dengan kakak beradik Guido dan Johannes Haefner, seniman dan juga pemilik penerbitan buku itu. Rupanya buku itu adalah proyek mereka bersama. Mereka hanya mencetak 150 eksemplar. Keduanya menerangkan bahwa mereka bertekad mencetak buku itu dan ikut FBF,  setelah mendengar Indonesia menjadi Tamu Kehormatan.  Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

Mereka mengakui bahwa ilustrasi kepala manusia bermahkota disitu didapat dari buku buku seni budaya Indonesia , “Ya, ilustrasi itu memang  mengambil ide dari wayang,“ aku Guido.

Keduanya adalah pemilik percetakan ICHverlag Häfner und Häfner, yang kebetulan lagi, berlokasi di kota yang sama dimana saya tinggal, Nürnberg, Jerman.

150 buku ini mereka kerjakan dengan cara manual. Dari nukil kayu, mencetak hingga menjilid buku buku itu dikerjakan dengan tangan. Hand made. Sementara diluar sana jutaan buku yang dipamerkan di expo itu dikerjakan oleh mesin. Luar biasa bukan? Sungguh saya terharu.

Keduanya sebetulnya berharap mereka dapat bertemu langsung dengan para penulis dan budayawan Indonesia yang saat itu hadir di Frankfurt dan menghadiahkan buku itu pada delegasi  Indonesia . Harapan mereka,  masa-masa buruk itu tidak akan kembali. Namun sayang sekali dengan padatnya acara, mereka tidak sempat bertemu dengan  delegasi Indonesia, tidak seorangpun.

Karena sudah mendekati waktu berakhirnya pameran (dimana dari pengeras suara sudah beberapa kali diumumkan bahwa sebentar lagi hall itu harus tutup),  kami pun terpaksa mengakhiri bincang bincang itu.  Mereka menghadiahi saya satu exemplar buku itu dengan nomer 61/150.

Sampai sekarang, tiap kali saya melihat buku itu, tiap kali saya tersentuh, begitu besarkah perhatian orang-orang di negara lain atas sejarah dan sastra Indonesia? Bagaimana dengan kita sendiri terhadap sastra Indonesia?

Selamat Hari Literasi Sedunia. Tahukah Anda betapa berharganya sejarah dan literasi indonesia di mata dunia? Semoga kita semua memahami ini. (*)

8 September 2017

*Miranti HirschmannNürnberg, Germany.  Koresponden di Jerman untuk Salah Satu TV Swasta Nasional.

Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending