Connect with us

COLUMN & IDEAS

Uraian Singkat Mengenai Belajar

mm

Published

on

Oleh: Jimmy Ph Paat

APA yang disebut belajar, bagi saya sebagai orang yang sehari-harinya bekerja sebagai guru, merupakan topik yang menarik. Per definisi bisa dikatakan guru adalah orang yang tugasnya, salah satu dari sekian tugas yang dimilikinya, mengajak peserta didik untuk belajar (lihat Reboul, 1983).

Mendiskusikan apa yang disebut belajar merupakan hal yang menarik karena topik ini familiar bagi siapapun. Hampir dapat dikatakan tak satu pun orang dari usia sekolah hingga akhir hayat yang tidak mengenal belajar sebagai kata maupun sebagai tindakan, atau lebih khusus, kata belajar.

Meski tema ini familiar, tetapi belajar sesungguhnya merupakan konsep yang sangat kompleks, untuk tidak mengatakan topik yang sulit untuk dibahas (untuk sekedar menunjukkan kompleksitas konsep belajar, kita cukup melihat teori belajar yang beragam itu).

Catatan ringkas tentang belajar ini saya bagi tiga bagian. Pertama, penguraian singkat pengertian belajar dari sisi semantik. Kedua, dengan deskripsi singkat teori belajar yang umum dipakai oleh mereka yang mengantar anak didik atau peserta didik untuk belajar. Dan terakhir, pengertian belajar di luar dua teori dominan tetang belajar.

Apa itu belajar?

Seperti telah saya kemukakan di atas, tidak saja kata belajar tetapi juga tindakan dari belajar telah ada bersama kita sejak usia dini atau paling tidak sejak memasuki dunia sekolah. Saya percaya kita tidak saja mampu mendefinisikan konsep belajar secara verbal, tetapi telah menjalankan pengertian belajar dalam kehidupannya masing-masing. Seperti saya kemukakan di atas bahwa konsep belajar telah bersama kita sejak masuk sekolah. Jadi secara dini kita telah bersentuhan dengan yang disebut belajar. Dengan demikian tidaklah mengherankan jika pengertian belajar bisa beragam.

Ada beberapa pengertian konsep belajar yang saya ambil dari Olivier Reboul. Untuk sekedar pengingat dan sekeligus pendorong diskusi, saya mengajak untuk melihat pengertian bahasa dari sisi kata atau makna kata (Reboul, 1983: 9-17):

  1. “Saya belajar gitar, belajar menari, belajar (berbicara) bahasa Perancis.”

Kata belajar dalam susunan kalimat ini, bermakna bahwa tindak belajar (l’acte d’apprendre) yang saya lakukan adalah suatu kegiatan belajar yang mengantar saya untuk memperoleh suatu keterampilan (acquerir un savoir-faire), artinya memperoleh suatu perilaku yang berguna bagi yang belajar dan dapat mereproduksi perilaku tersebut sekehendaknya jika keadan mendukung (Oliver Reboul, 1983:. 41).

Ciri atau salah satu bentuk belajar pertama ini di antaranya adalah “belajar tubian” (drill), yaitu bentuk belajar yang sebagian orang beranggapan sebagai bentuk belajar yang paling rendah. Belajar berdasarkan atau bertumpu pada pengkondisian. Salah satu bentuk belajar tubian yang terkenal adalah belajar dengan pengkondisian Pavlov. Belajar dengan model Pavlov, jika merujuk pada Reboul, ini perlu digarisbawahi, anak memperoleh sesuatu, tetapi tidak belajar sesuatu.

  1. Belajar yang dikaitkan dengan sekolah, misalnya, “Saya belajar linguistik”.

Saya belajar linguistik dengan tujuan atau hasil dari belajar linguistik tersebut adalah pemahaman tentang linguistik atau kebahasaan. Karakteristik dari belajar jenis kedua ini adalah adanya ‘rasa heran” (Reboul, 1983: 82) Dengan demikian tujuan atau hasil dari belajar dalam pengertian kedua adalah pemahaman atas sesuatu, atau pemerolehan pengetahuan yang objektif (Reboul, 1983: 40).

Dari uraian singkat mengenai pengertian kata atau konsep belajar di atas, kita bisa melontarkan beberapa pertanyaan dalam kaitannya dengan penggunaan konsep kata belajar di sekolah kita. Ambil contoh, belajar bahasa asing di sekolah-sekolah. Apakah belajar bahasa Inggeris atau bahasa Perancis sebagai bahasa asing di sekolah-sekolah kita mengacu pada makna pertama, yaitu belajar yang hasilnya adalah keterampilan berbahasa Inggeris atau Perancis atau pada makna kedua, yaitu hasilnya adalah pemahaman tentang bahasa Inggeris atau Perancis. Pengertian kata “belajar” di atas, baik yang hasilnya menujuk pada “keterampilan’ atau “pemahaman”. Atau menggunakan kedua makna belajar tersebut. Nampaknya, jika kita perhatikan yang terjadi di sekolah, boleh dikatakan para guru memakai kedua makan belajar tersebut di atas.

Apprendre à être (belajar untuk menjadi atau mengada), menurut Olivier Reboul, adalah bentuk belajar yang paling penting, dan belajar bentuk ini terjadi atau dilakukan di “dalam kehidupan”. “Belajar menjadi atau mengada” ini, bagi Reboul, merupakan syarat mutlak yang mendasar bagi manusia (une exigence humaine fondamentale). Tanpa bentuk belajar semacam itu, apa yang kita pelajari tidak ada artinya, begitu ungkap Reboul. Jika belajar, seperti yang dikemukakan di atas, mengacu pada memperoleh keterampilan sesuatu atau (dan) memperoleh pemahaman tentang sesuatu, sedangkan “belajar mengada, menjadi” bertujuan bukan menjadikan kita lebih ahli atau lebih pandai, tetapi berbahagia dan merdeka. Sifat kemerdekaan dalam bentuk “belajar mengada, menjadi” tampak jelas, karena, seperti diujarkan Olivier Reboul, être ne s’apprend jamais sur commande… (mengada tidak pernah diajarkan melalui perintah atau terpaksa). Dalam pengertian kata belajar ini (pengertian ketiga), Olivier Reboul menunjukkan bahwa kata kerja belajar merujuk pada kata pendidikan. Dalam pengertian ini juga, saya berpendapat kata kerja belajar yang merujuk pada atau berkarakteristik konsep merdeka merupakan bentuk belajar yang jarang atau bahkan dapat dikatakan belum hadir di dunia persekolahan kita. Padahal belajar yang bertujuan menjadikan kita merdeka merupakan belajar yang sesungguhnya.

Belajar Merdeka

Untuk membahas apa yang disebut belajar merdeka, tentu tidak bisa tidak, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan merdeka itu sendiri. Sesungguhnya konsep merdeka dalam dunia pendidikan kita, telah hadir jauh sebelum bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya. Yang saya maksud adalah konsep kemerdekaan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara (selanjutnya disebut KHD). Tidak berlebihan jika KHD dikelompokkan sebagai salah satu orang pertama di Indonesia yang mendefinisikan makna merdeka dalam konteks pendidikan atau lebih sempit dalam konteks persekolahan.

Mari kita perhatikan apa yang dimaksud dengan merdeka menurut sang perintis perjuangan kemerdekaan bangsa ini: “… perkataan merdeka itu diartikan: a. tidak hidup terperintah, b. berdiri tegak karena kekuatan sendiri dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib” (Dewantara: 1962: 400)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa manusia merdeka adalah manusia yang hidup baik secara lahir maupun batin tidak tergantung pada manusia lain tetapi berlandaskan pada kekuatan diri sendiri. Sekalipun manusia merdeka selalu bersandar pada kemampuan diri sendiri, tidak berarti dia mengabaikan orang lain karena manusia selalu berada bersama manusia lain. Manusia merdeka, dia hidup tidak bisa tidak harus bersama orang lain.

Kemerdekaannya tidak dibenarkan untuk mengganggu diri orang lain, atau bahkan menghambat kemerdekaan orang lain. Untuk menjaga kemerdekaan dirinya dan juga orang lain, manusia merdeka harus pandai mengatur hidupnya dengan tertib.  Dari pengertian kata merdeka menurut KHD, belajar merdeka adalah belajar yang tujuannya atau hasilnya adalah manusia yang memiliki tiga unsur kemerdekaan di atas.

Bagi KHD, tiga unsur kemerdekaan tersebut harus selalu bersama. Tanpa satu unsur kemerdekaan tersebut, hilanglah kemerdekaan pada manusia. Misalnya peserta didik yang belajar merdeka hanya menggarisbawahi atau mengejar “ketidakterperintahan”, artinya mengabaikan belajar untuk “cakap mengatur hidup dengan tertib”, maka anak didik tersebut tidak dapat dikatakan anak yang telah belajar merdeka atau anak yang merdeka. Anak yang belajar secara merdeka adalah anak yang belajar tetapi tidak mengganggu ketertiban orang lain.

Setiap manusia memiliki potensi kemerdekaan. Karena itu potensi itu tidak saja harus dimunculkan tetapi lebih dari itu, yaitu diasah, dipertajam, diperkuat. Pengasahan, penguatan potensi kemerdekaan yang dimiliki peserta didik adalah melalui belajar merdeka. Tanpa hadirnya belajar merdeka, potensi kemerdekaan yang dimiliki setiap peserta didik tidak akan muncul, atau bahkan akan lenyap. Pendidiklah yang bertugas memperkuat potensi kemerdekaan peserta didik.

Pendidik atau sekolah yang menjalankan belajar merdeka atau yang memperkuat potensi kemerdekaan yang dimiliki setiap peserta didik, atau mengacu kepada Tilaar , untuk menghormati kemerdekaan yang dimiliki anak, adalah pendidik yang memperhatikan perkembangan anak dan bukan kemauan orang tua; memperhatikan perkembangan anak itu sendiri yang penting, dan bukan perkembangan anak yang diinginkan lembaga, negara, dan keinginan dunia asing atau ideologi dominan baik di dalam bangsa maupun dari luar bangsa.

Hubungan Pendidik Dan Peserta Didik

Bagaimana hubungan antara peserta didik dan pendidik dalam belajar merdeka? Tentu tidak seperti yang kita lihat atau alami sebagai peserta didik, yaitu posisi pendidik diletakkan jauh di atas peserta didik. Artinya posisi yang tidak simetris antara pendidik dan anak didik. Karena diasumsikan baik peserta didik maupun pendidik, kedua-duanya memiliki potensi kemerdekaan, posisi mereka sesungguhnya sama atau setara. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah kaitannya dalam belajar merdeka. Mereka, sebagai manusia yang menjadi, tetap harus mengasah, mempertajam, memperkuat potensi kemerdekaan yang mereka miliki.

Dialog

Pada diskusi ini pembahasan konsep belajar berada dalam konteks sekolah, atau tepatnya dalam pengertian pendidik mengantar anak atau peserta didik untuk belajar. Jadi dalam kegiatan atau tindak belajar muncul tidak selalu hasil kerja sang peserta didik sendiri tetapi dapat juga karena hasil peserta didik dan juga pendidik. Dengan kata lain belajar, dalam konteks ini muncul karena adanya dua manusia yang berhubungan. Hubungan dua manusia itu “diikat” dengan apa yang disebut dialog. Sesungguhnya dialog terjadi tidak harus antara peserta didik dengan pendidik tetapi bisa juga peserta didik “berdialog” dengan dirinya sendiri. Yang dimaksud dengan dialog adalah munculnya aliran makna yang datang dari kedua peserta dialog . Dan tujuan dialog adalah tidak hanya mengalirkan makna tetapi peserta dialog sepatutnya menjelajahi, mempertanyakan, membongkar apa yang ada di balik asumsi-asumsi peserta dialog. Dalam dialog, tetap mengacu pada David Bohm , tidak ada peserta dialog yang mencoba untuk menang, tetapi setiap peserta dialog menang.

Belajar merdeka bukanlah hal yang mudah. Mengapa? Tidak sedikit orang yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya orang berpotensi merdeka seperti yang dikemukakan di atas. Potensi merdeka itu ditutupi oleh pikiran-pikiran yang menunjukkan bahwa hakekat manusia yang merdeka itu bukan miliknya. Di sinilah kesulitan yang dihadapi pendidik yang akan mengajak peserta didiknya untuk belajar merdeka. Satu alternatif untuk memecahkan persoalan itu adalah dialog. Untuk itu pendidik harus mampu berdialog dengan peserta didik yang diajak untuk belajar merdeka. Salah satu syarat agar dialog berjalan adalah hadirnya rasa percaya antara peserta dialog, dalam hal ini antara pendidik dan peserta didik.

Berpikir Kritis

Belajar tidak hanya untuk memperoleh keterampilan, tidak juga hanya untuk memperoleh pemahaman atas sesuatu, sekalipun dengan pemahaman kita dapat menganalisa sesuatu. Itu semua belum cukup. Pendidik harus merealisasikan apa yang disebut belajar untuk mengada (apprendre à être) dan belajar merdeka. Selain itu belajar harus juga membentuk peserta didik yang berpikir kritis. Dengan berpikir kritis atau belajar yang mengantar peserta didik berpikir kritis, mereka akan terhindar dari indoktrinasi, dan terlepas dari pengajaran yang menjinakkan , yaitu pengajaran yang mengabaikan martabat dan kemerdekaan manusia Dalam konteks ini berpikir kritis yang merupakan bagian dari belajar merdeka, bertujuan mengantar peserta didik bukan saja untuk mempertanyakan persoalan-persoalan ketidakadilan di sekelilingnya tetapi lebih dari itu, yaitu mengubah masyarakat yang tidak adil.

Bagi saya pendefinisian semacam itu tidak perlu dimasalahkan. Karena saya pun dalam diskusi ini akan lebih banyak mengutarakan apa yang dimaksud dengan belajar menurut apa yang saya alami, artinya apa yang saya peroleh dari hasil bacaan dan juga hasil kerja saya sebagai guru.

Seperti saya katakan di atas, kita masing-masing, berdasarkan pengalaman hidup, kalau boleh dikatakan seperti itu, tidak saja mampu mendefinisikan secara verbal apa yang disebut belajar tetapi lebih dari itu, yaitu telah menjalankan dalam kehidupan apa yang disebut belajar.(*)

Jimmy Ph Paat: Aktivis Sekolah Tanpa Batas dan Pengajar di Universitas Negeri Jakarta

————
Catatan:

Pernyataan bahwa guru adalah orang yang tugasnya –salah satu dari sekian tugas yang dimilikinya – mengajak peserta didik untuk belajar saya ambil dari Olivier Reboul yang mengutarakan bahwa “l’intention de faire apprendre est inhérente à l’activité d’enseigner”, yang dalam bahasa Indonesia dapat dikatakan “tujuan pengajaran adalah mengantar anak didik untuk belajar.”

Tindak mengajar (activité d’enseigner) yang dilakukan guru tidak bisa tidak harus berisi “niatan” membuat anak belajar, jika tidak kita hanya akan melihat tindak mengajar yang sekedar menyampaikan pengetahuan atau sekedar menginformasikan sesuatu. Dan ini berarti mengajar tidak lain hanya kegiatan merekam dan bukan memuat anak bertindak, berbuat sesuatu yang lebih dari sekedar mengingat apa yang disampaikan guru. Lihat Olivier Reboul, Qu’est-ce q’apprendre. Pour une philosophie de l’enseignement (Apakah Belajar itu? Sebuah filsafat pengajaran), Paris, PUF, 1983, cetakan kedua.

Buku Reboul ini menjadi acuan utama dalam catatan singkat mengenai Belajar yang didiskusikan dalam diskusi Rabuan. Olivier Reboul adalah seorang filosof pendidikan Perancis, (professeur de philosophie l’éducation) yang mengajar sampai tahun 1992 di l’Université des Sciences Humaine de Strasbourg, Perancis. (*)
Referensi:

Oliver Reboul, Qu’est-ce q’apprendre. Pour une philosophie de l’enseignement (Apakah Belajar itu? Sebuah filsafat pengajaran), Paris, PUF, 1983, cetakan kedua.

Ki Hadjar Dewantara, Karja Ki Hadjar Dewantara. Bagian Pertama: Pendidikan, Jogjakarta, Pertjetakan Taman Siswa, 1962.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Lapangan Menteng ke Taman Menteng: Pengingatan dan Pelupaan

mm

Published

on

Pengalihan Lapangan Menteng menjadi taman tentu mengubah ingatan publik, terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan Lapangan Menteng—yang juga berarti terhadap Jakarta di masa lalu—seperti pada Pak Paijan dan Pak Yusuf. Proses ini berlangsung melalui pengingatan dan pelupaan (Kusno, 2009); suatu peristiwa diseleksi untuk diingat; peristiwa lain diseleksi untuk dilupakan. Pak Paijan mengingat Lapangan Menteng, tetapi tentang kekumuhannya, lalu secara tidak langsung mengusulkan taman saat ini sebagai ingatan baru, sebagai tempat bermain.

Moh Alie Rahangiar *)

Minggu sore, 21 Oktober 2018, Taman Menteng telah ramai pengunjung sebelum kami tiba. Saya langsung mengitari taman, bermaksud lakukan scanning agar dapat gambaran umum taman ini. Baru setengah jalan, saya bertemu Ayu (19) dan Rudi (19), sepasang kekasih yang sedang menikmati leasure time. Ayu tampak malu-malu saat saya meminta izin untuk memotret mereka berdua. Sambil tertawa, kedua tangannya diangkat menutupi wajahnya lalu menolah ke kiri, menghindari kamera. Rudi duduk tenang menatap kamera. Senyumnya sedikit mengembang, seolah tak terganggu. Keduanya duduk di atas kursi besi berwarna hijau tua berukuran tiga orang dewasa yang dibuat mengelilingi lapangan berlantai semen. Jarak satu kursi dengan kursi berikutnya kira-kira empat atau lima meter.

Di hadapan mereka penggunjung lain sedang sibuk berolahraga. Ada anak-anak yang bermain futsal, orang dewasa yang sedang bermain voli, dan beberapa remaja perempuan yang berlatih tarian modern (dance) diiringi musik disko. “Ini pertama kali kami ke sini, mas” kata Ayu. “Ya ke taman kan gratis, nggak perlu keluar duit, paling buat bensin di motor sama jajan di sini”, jelas Ayu. Keduanya menempuh jarak kira-kira 6,1 km dari Pejompongan, tempat tinggal mereka, ke Taman Menteng. Jarak yang tidak terlalu jauh untuk ukuran Jakarta. “Kadang ke Monas juga, tapi kan agak jauh kalau Monas, makanya ke sini aja. Taman ini bagus, rame, lumayanlah buat refresing”, kata Rudi ketika diminta berkomentar.

Selang dua kursi dari tempat duduk Rudi dan Ayu, duduk Pak Paijan (42) bersama tiga anak perempuannya yang masih kecil-kecil. Usia anak-anaknya kira-kira usia TK nol besar atau kelas satu SD. Pak Paijan sering ke Taman Menteng bersama anak-anaknya itu. “Kalau di rumah paling mereka nonton tivi, makanya sengaja dibawa ke sini biar bisa leluasa bermain”, jelas Pak Paijan. “Kadang saya ajak ke museum, ke Lapangan Banteng juga kadang-kadang, kalau nggak ya ke Monas”, kata Pak Paijan.

Di seberang lapangan, seorang bapak tua sedang memikul beberapa tikar anyaman daun pandan yang diikat jadi satu. Ia berjalan menuju air mancur di sisi lapangan, dekat jalan Jl. Prof Moh Yamin, lalu duduk di atas tembok yang mengelilingi air mancur. Namanya Yusuf (61). Ia penjual tikar keliling yang tiap seminggu sekali mampir ke Taman Menteng. Selain Taman Menteng, Taman Suropati dan Masjid Tangkuban Perahu adalah tempat yang kerap ia sambangi. Keramaian adalah hal yang membuatnya mampir ke tempat-tempat tersebut. Bagi Pak Yusuf, di mana ada keramaian, ke situlah langkahnya ditujukan. Tak peduli mereka yang datang tujuannya beda-beada. “Yang penting kan kita usaha, laku nggaknya tergantung rejeki”, kata Pak Yusuf. Harga satu tikar yang ia tawarkan antara Rp 120.000 Rp sampai 150.000. “Ya kadang laku kadang enggak, kadang laku satu atau dua, kadang kosong”, katanya lagi.

Saat saya sedang ngobrol bersama Pak Yusuf, seorang pedagang kopi bersepada mendekat lalu menawarkan minum. Dia adalah Zaeni (37), sehari-hari pekerjaannya bolak-balik Taman Menteng dan Taman Suropati, mejajakan minumannya. “Kopi pak, kopi, mau yang dingin, panas?” Tanya Pak Zaeni. Bagian depan sepedanya dipenuhi minuman instant sachet (kopi, nutrisari dsb) yang bergelantungan. Bagian belakang (sadel) dibuat kotak segi empat. Dua termos air panas, beberapa botol air mineral ukuran satu liter dan beberapa bungkus pop mie ditempatkan di kotak segi empat itu. Orang Jakarta menyebut pedagang keliling seperti Pak Zaeni sebagai starling, akronim dari starbuck keliling. Plesetan kreatif ini agaknya mengandung sentilan terhadap raksasa bisnis kopi asal Amerika, Starbucks co.

Pak Zaeni tak sendiri. Ia bersama enam rekan lainnya mondar-mandir menghampiri pengunjung taman, seolah sedang berkompetisi. Setelah Pak Zaeni pergi, kawannya yang lain datang menawarkan minuman, seperti tak mau tahu bahwa kawannya baru saja pergi dari sini. “Sudah, pak, sudah”, kata saya sambil mengangkat gelas plastik berisi minuman dingin.

***

Taman Menteng diresmikan pada tahun 2007 oleh Gubernur DKI Jakarta ketika itu, Fauzi Bowo. Pengerjaannya telah dimulai sejak tahun 2004 melalui suatu sayembara di bawah Gubernur DKI, Sutioyoso. Sebelum diubah jadi taman, tanah seluas  3,4 ha tersebut merupakan lapangan sekaligus markas klub Persatuan Sepak Bola Jakarta (PERSIJA). Lapangan tersebut telah berdiri sejak Hindia Belanda, dibangun tahun 1921 oleh dua arsitek Belanda, F.J Kubatz dan P.A.J Moojen. Desain lapangan dibuat mengikuti desain pemukiman Menteng yang diperuntukan bagi pembesar kolonial.

Lapangan bernama Voetbalbon Indische Omstreken Sport itu pada mulanya dimaksudkan sebagai tempat bermain bola orang-orang Belanda kala itu (Yunanto, 2008). Di masa Presiden Sukarno, lapangan tersebut diubah namanya menjadi Stadion Menteng (ibid), lalu diserahakan kepada PERSIJA. Dari lapangan inilah, beberapa nama besar seperti Yudo Hadiyanto, Surya Lesmana, Djamiat Kaldar, Iswadi Idris, Oyong Lisa, Sofyan Hadi, Ronny Pattinasarani hingga Bambang Pamungkas lahir (Yunanto, 2008; jakonline.asia, 2015).

Pada tahun 2006, ketika lapangan tersebut akan dialihfungsikan menjadi taman, protes pun berdatangan. Berbagai alasan dikemukakan, mulai dari alasan hukum, lingkungan, hingga alasan sejarah lapangan. Meski diprotes, pemerintah DKI tetap mengalihfungsikan. Pemprov DKI ketika itu berdalih, Lapangan Menteng kumuh! Kata “kumuh” memang menjadi musuh sebagian besar pemerintah daerah di Indonesia. Karena itu harus dihindari. Jadilah lapangan tersebut apa yang saat ini kita kenal sebagai Taman Menteng.

Terletak di persimpangan Jl. HOS Cokroamonito dan Jl. Prof. Moch Yamin, taman ini ramai dikunjungi warga tiap akhir pekan. Pengalaman saya beberapa kali datang ke taman ini di akhir pekan memang tidak pernah sepih. Aktivitas warga di Taman Menteng dapat dibagi dalam empat kategori: menikmati leasure time, bermain, olah raga dan aktivitas ekonomi.

Jika taman bagi pasangan muda-mudi seperti Ayu dan Rudi adalah tempat menikmati leasure time, buat Pak Paijan, taman adalah ruang bermain alternatif bagi anak-anaknya di belantara metropolitan yang kian padat. “Taman ini penting buat anak-anak, mereka bisa main, lari ke sana-ke mari, itu perlu buat mereka, apalagi di Jakarta yang begini padat kan, tempat beramain paling di mall”, urai Pak Paijan. Sedangkan di mata Pak Yusuf dan Pak Zaeni cs, Taman Menteng adalah tempat mencari nafkah. Pak Yusuf, misalnya, meski dagangannya anakronis, keramaian baginya adalah kemungkinan yang harus ia sambut. Dibeli atau tidak, usaha adalah kunci.

***

Ayu dan Rudi tak pernah tahu bahwa taman yang sedang mereka sambangi adalah bekas markas PERSIJA. Mereka mungkin tidak memiliki keterikatan khusus dengan tempat ini sebelum menjadi taman. Berbeda dengan Ayu dan Rudi, Pak Paijan, Pak Yusuf dan Pak Zaeni tahu bahwa taman tersebut adalah bekas lapangan PERSIJA. Tapi hal itu telah menjadi masa lalu. “Iya, dulu taman ini memang lapangan PERSIJA, terus diubah jadi taman”, kata Pak Paijan. “Tapi sekarang ini juga bagus lah, daripada dulu itu kan kumuh juga, nggak terurus. Ini kan lebih bagus, jadi taman, anak-anak bisa main juga di sini”, kata Pak Paijan, menerangkan. Sedangkan Pak Yusuf maupun Pak Zaeni seperti tidak peduli dengan perubahan dari lapangan menjadi taman. “Itu sih urusan pemerintah, mereka mau ngapain ya bisa aja. Yang penting tidak menyusahkan kita di bawah”, kata Pak Yusuf saat diminta pandangannya.

Pengalihan Lapangan Menteng menjadi taman tentu mengubah ingatan publik, terutama bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan Lapangan Menteng—yang juga berarti terhadap Jakarta di masa lalu—seperti pada Pak Paijan dan Pak Yusuf. Proses ini berlangsung melalui pengingatan dan pelupaan (Kusno, 2009); suatu peristiwa diseleksi untuk diingat; peristiwa lain diseleksi untuk dilupakan. Pak Paijan mengingat Lapangan Menteng, tetapi tentang kekumuhannya, lalu secara tidak langsung mengusulkan taman saat ini sebagai ingatan baru, sebagai tempat bermain.

Taman ini kelihatanya memang terbuka bagi semua kalangan, termasuk bagi Kantor KORAMIL yang entah untuk alasan apa ditetempatkan di taman ini. (*)

*) Moh Alie Rahangiar Mahasiswa sebuah Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta; peminat studi perkotaan. 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Golput Otonom Dan Tantangan Demokratisasi

mm

Published

on

Golput (Golongan Putih) di Indonesia bukanlah hal baru. Ia adalah gerakan sosial dalam artinya yang paling populis (kerakayatan) sekaligus politik (demokrasi) warga dalam upaya kritisisme dan upaya memajukan demokratisasi di indonesia berhadapan dengan ancaman politik totalitarianisme dan fasisme sebagai bentuk monopoli kapitalisme atas keadilan ekonomi .

Dalam sejarah pesta demokrasi di indonesia, Golongan Putih (Golput) telah berlangsung sejak pemilu pertama era Orde Baru pada pemilu tahun 1971. Gerakan Golput pada masa itu terorganisir sebagai bentuk perlawanan yang dimotori mahasiswa dan pemuda dalam rangka melawan “Golongan Karya”.

Gerakan Golput sebagai alternatif kembali mengemuka sebagai sikap politik kritis mahasiswa dan pemuda pada periode paska reformasi 1998. Pada era reformasi 98 Golput dimotori oleh organisasi mahasiswa-pemuda dalam mengusung isu kerakyatan sebagai alternatif wacana politik kekuasaan yang oligarkis.

Golput sendiri adalah hak politik warga dan sifatnya konstitusional. UU No 39/1999 tentang HAM Pasal 43, selanjutnya UU No 12/2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil Politik yaitu di Pasal 25 dan dalam UU No 10/2008 tentang Pemilu disebutkan di Pasal 19 ayat 1 bahwa “WNI yang pada hari pemungutan suara telah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin mempunyai hak memilih.

Moralitas Politik

Golput dalam sejarah gerakannya merupakan gerakan moral. Dalam arti tidak ada maksud politis terkait memenangkan salah satu pasangan tertentu dalam suatu momen Pemilihan Umum (Pemiu). Ketimbang sebagai gerakan politik dengan tujuan kekuasaan, golput sejatinya adalah sikap politis masyarakat sipil yang ingin mendorong supaya kekuasaan yang dihasilkan oleh suatu Pemilu pada akhirnya benar-benar ditujukan guna politik kerakyatan di mana hak-hak rakyat yang terabaikan mendapat perhatian dan dipenuhi.

Dalam pemahaman semacam itu, Golput bisa dikatakan memiliki sifat-sifat umum: Pertama: Golput adalah gerakan kritik. Sebagai gerakan ia tidak dilangsungkan otonom oleh individu-individu melainkan suatu konsolidasi yang organis, memiliki bentuk dan tujuan politik berupa daya tawar masyarakat di hadapan politik kekuasaan—siapa pun penguasanya.

Kedua: Golput mengandaikan suatu organisasi massa yang ideologis dalam arti memiliki nilai gerakan yang melampaui suka dan atau tidak suka, kecewa dan atau tidak kecewa yang sifatnya personal belaka. Nilai yang dibangun dalam gerakan ini adalah nilai kerakyatan di mana golput diharapkan mampu mendorong isu-isu kerakyatan seperti soal agraria dan HAM supaya menjadi isu politik kalangan elit.

Ketiga: Golput merupakan langkah taktis dari suatu gerakan politik yang sifatnya strategis. Tujuan akhirnya memang bertaut dengan politik kekuasaan tetapi ia diandaikan sebagai jalan panjang pendidikan politik masyarakat agar tidak tergerus arus politik lima tahunan di mana masyarakat hanya dijadikan pundi suara tanpa kepastian terpenuhi hak dan makin baiknya pemenuhan hak-hak sosial politiknya.

Melampaui Individualitas Politis 

Penulis berharap, dalam situasi di mana proses evolusi nilai kebangsaan indonesia yang Bhineka Tunggal Ika nyata tengah diuji kematangannya, partisipasi dan kontribusi terutama mereka yang hari ini berpotensi memilih untuk tidak memilih (golput), di mana umumnya merupakan kalangan melek politik bahkan intelektual, untuk merenungkan kembali manfaat kolektif sikap politiknya bagi bangsa ini ketimbang sekedar mengedepankan otonomi politik masing-masing atas nama kekecewaan individual.

Pun jika kedua pasangan Capres dan Cawapres dianggap tidak cukup memberi harapan bagi perbaikan kewargaan kita, alangkah lebih baik untuk mengambil sikap aktif dalam mengawal proses demokrasi—yang bagaimana pun sedang dalam proses menjadi lebih baik meski masih banyak kekurangan di sana sini.

Justeru inilah waktu yang menentukan, apakah kebaikan yang tengah berlangsung akan digantungkan hanya sebagai prestasi pada suatu momen lima tahunan, atau disorongkan menjadi pondasi kokoh bagi keberlanjutan pembangunan dan demokrasi indonesia di masa depan.

Lagi pula, kondisi dan prasyarat perubahan hari ini telah berbeda dari abad 20 lalu, kita berada dalam komunitas dunia abad 21 dengan peta demografis yang berbeda, juga bentuk-bentuk gerakan yang telah lain pula, seperti di katakan Noam Chomsky dalam bukunya “Optimism Over Despair” akan selalu ada ruang untuk “optimisme kehendak” (hlm.133) di tengah terus berkembangnya hegemoni kapitalisme dalam merampas hak-hak warga.

Optimisme yang dimaksud Chomsky adalah persekutuan warga dalam jejaring komunitas yang memiliki kekuatan dalam menekan negara guna memenuhi hak-hak warga. Sebab, kata Chomsky, kita masih kekurangan asosiasi dan organisasi yang memungkinkan publik untuk berpartisipasi dalam hal yang berarti seperti diskursus politik, sosial, dan ekonomi (hlm165).

Saya kira optimisme lebih dibutuhkan dalam dunia kita hari ini ketimbang suatu sikap pesimistis dan menyerah seperti halnya Golput yang tidak terorganisir sebagai alat pendidikan politik untuk tujuan politik kerakyatan.

Sebab apa yang kita perjuangkan melalui partisipasi aktif politik kewargaan kita bukanlah semata-mata untuk memenangkan salah satu pasangan calon Capres dan Cawapres, melainkan lebih jauh dari itu adalah terbebasnya kehendak nasional indonesia dari jerat dan ancaman sistem ekonomi politik global yang kapitalistik dan mengabaikan kewarganegaraan dan nasionalisme apalagi peduli dengan kepentingan rakyat.

Sebagai penutup penulis ingin mengajak semua pihak merenungkan bahwa politik hari ini bukan sama sekali soal individu-individu semata, melainkan seperti disebut Martin Luther King Jr: “There comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must take it because conscience tells him it is right”.

Bagi penulis inilah momentum seluruh elemen rakyat indonesia untuk “berpolitik”!. Politik berbasis kesadaran untuk memastikan kian majunya praktik kebudayaan dari kebhinekaan indonesia dan politik mendorong agenda “keadilan sosial” menjadi lebih mengejewantah dalam praktik mau wacana politik kekuasaan khususnya di kalangan elit. (*)
_____________

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Memantapkan Niatan Nasional Kita

mm

Published

on

Niatan nasional kita untuk Indonesia harus kembali diikhtisarkan. Pertamakarena kian menguatnya gejala gagap kebangsaan. Ditandai oleh kian merumitnya cara pandang sebagian rakyat atas Indonesia, baik dalam ideologinya dalam hal ini Pancasila, mau pun dalam ihwal kebudayaannya dalam hal ini kebhinekaan nusantara dan realitas ekonomi politik kepulauan yang kerap dianggap sederhana.

Kedua, situasi politik yang kian menampakkan diri sebagai politik elitis, dalam arti diktum dan rasionalitas politik didikte oleh kecenderungan para elit politik khususnya dari Jakarta. Politik elitis merugikan terutama karena ia tak memiliki kecenderungan pada cita-cita politik nasional, hanya berorientasi pada keuntungan material dan politis tapi mengabaikan spritulitas dan solidartias kerakyatan dan kebangsaan.

Gagap kebangsaan dan politik elitis menjadi tantangan kultural yang berakibat pada kekaburan dan kemunduran terhadap paling tidak tiga hal: (1) ketidakjelasan cita-cita dan niatan politik (kekuasaan) dalam pembangunan Indonesia. (2) kosongnya kepemimpinan kultural yang berfungsi memandu spiritualitas bangsa dalam upaya membangun dan menuju Indonesia yang modern dan berkemajuan dalam prinsip kekeluargaan dan gotong-royong. (3) Lazimnya Praktik pengaburan agenda kesejahteraan rakyat menjadi seluruhnya agenda politik kekuasaan.

Hal tersebut menjadi persoalan yang tidak sepele, lantaran masih banyak masalah ekonomi politik seperti masalah agraria, kemiskinan dan ketimpangan lamban penanganannya. Masalah tersebut justeru kalah gegap gempita oleh semata-mata bagaima berkuasa; menjadi legislatif, mendukung capres ini dan capres itu.

Selain masalah di atas ada hal krusial yang meminta kita semua—yang sadar dan peduli pada Indonesia, untuk mengingatkan dan memantapkan kembali “niatan nasional” kita. Jika penulis boleh mencatatkan untuk dijadikan bahan permenungan bersama, maka niatan nasional itu dapat dinyatakan dan ditujukan pada lapangan sosial politik dan ekonomi politik berikut:

Di lapangan sosial politik, niatan nasional kita adalah, pertama: kita bersama meniatkan diri untuk menjadi warga bangsa Indonesia dengan kesadaran kebhinekaan dan kebangsaan luhur berupa perasaan sebangsa dan setanah air. Dalam konteks tersebut berarti, kita bersedia menjadi masyarakat yang bertanggung jawab pada nasionalisme Indonesia, tanggung jawab untuk tidak melemahkan dan membuat bangsa ini rugi dan tidak mandiri.

Semua itu dilandasi kesedian untuk menerima perbedaan baik dalam paham ideologi, politik mau pun identitas lainnya selagi tidak bertentangan dengan Pancasila dan konstitusi. Maka kedua: kita  bertekad dan meniatkan untuk tidak korupsi, kolusi dan melakukan nepotisme.

Ketiga: Kita bertekad bersikap toleran dan tidak rasial. Sebab toleransi dan kesadaran kebhinekaan merupakan pondasi kokoh solidaritas sosial dan akhirnya kedaulatan bangsa dalam sistem yang demokratis. Keempat: Kita memantapkan diri kembali, untuk menjadi warga beragama yang berketuhanaan yang maha esa dan menjamin-melindungi seluruh umat beragama dalam melangsungkan ibadah dan beramal baik sesuai dengan takaran dan ajaran keyakinan agamanya masing-masing.

Sementara itu dilapangan ekonomi politik kita sudah seharusnya memantapkan kembali “niat nasional” kita untuk (1) Kita meniatkan diri untuk menuju kemandirian dan kedaulatan Indonesia secara politik dan dalam ekonomi. Kunci dari kemandirian dan kedaulatan sekali lagi adalah menguatnya solidaritas sosial dan bukan sebaliknya, meruncingnya perselisihan.

(2) Kita meniatkan diri untuk menyambut persaingan global dalam ranah kemajuan teknologi. Dalam hal ini keunggulan demografis harus bersama didorong dengan penguatan sumber daya manusia Indonesia khususnya bagi alangan muda milenial dan perempuan melalui reforma (perubahan mendasar) khususnya di ranah pendidikan dan literasi.

(3) kita memantapkan niat untuk menjadi bagian dari warga dunia dengan menjunjung tinggi pesan moral perdamaian dunia dan keadilan bagi semua dengan prinsip dasar meniadakan kemiskinan dalam segala rupa bentuknya di mana saja di dunia ini. (4) Kita harus bersama meniatkan diri untuk menjamin proses ekonomi rakyat, melindungi dari sistem kapitalisme global yang semata mengedepankan kompetisi tapi sekaligus mengabaikan prinsip keadilan.

Niatan nasional ini akan menolong bangsa ini dari potensi “geger” terutama akibat panggung politik yang akhir-akhir lebih tegak berdiri di atas kubangan kesadaran alienatif—yang ironisnya justeru kerap dijadikan bahan bakar utama sandiwara. (*)

*) Sabiq Carebesth, Penyair dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

**) Tulisan ini sebelumnya dimuat di kolom Geotimes (27/9)

 

Continue Reading

Trending