Connect with us

Buku

Upacara Korrie Layun Rampan—Nikmat, Indah, dan Mencerdaskan

mm

Published

on

Kita harus percaya, sastra tidak hanya sekadar rentetan kata-kata kosong belaka, tetapi lebih dari itu, sastra mampu memberikan kenikmatan (batin), membangun keindahan (hidup), juga menambah kecerdasan (otak). Di tangan orang biasa, kata-kata (bahasa) boleh jadi hanya sekadar piranti komunikasi biasa, tapi tak demikian di tangan pengarang. Oleh pengarang, kata-kata (bahasa) telah dipilih, dikemas, dan diberi kekuatan yang luar biasa sehingga kata-kata (di dalam sastra) itu mencerminkan sesuatu yang memiliki empat sifat (angin, air, api, dan tanah) yang tak seorang pun pernah lepas darinya. Baiklah, barangkali itu hanya teori. Sekarang, mari kita coba buktikan. Dan untuk membuktikan, bacalah novel Upacara karya Korrie Layun Rampan yang nukilannya (bab lima, bagian terakhir) dikutip di depan. Kalau kita membaca novel itu secara utuh dan seksama, segera kita akan menangkap beberapa hal.

Pertama, cobalah kita telusuri lebih dahulu kisah perjalanan hidup tokohnya. Tokoh “aku” dalam novel ini digambarkan hidup di sebuah masyarakat (suku Benuaq, Dayak) di pedalaman Kalimantan; dan masyarakat itu masih menjunjung tinggi tradisi budaya setempat yang terwujud dalam bentuk upacara-upacara (kebaktian/religi). Setidaknya ada empat upacara besar yang dilukiskan dalam novel ini, yakni balian (upacara yang dilakukan oleh dukun dalam hubungannya dengan nasuq juus atau pencarian jiwa yang hilang); kewangkey (upacara penguburan tulang-tulang manusia); nalin taun (pesta tahunan yang berupa upacara persembahan kepada para dewa untuk menghindarkan kampung dari dosa dan malapetaka); dan pelulung (upacara perkawinan).

Selain itu, masih ada beberapa upacara kecil-kecil, di antaranya ompong (upacara adat atau gengsi), sentean (mencari sebab penyakit), ngejakat (saat bayi lahir), tempong pusong (saat pusar bayi tanggal); dan lain sebagainya. Dan setiap diselenggarakan upacara, pengarang melukiskan secara detail/meyakinkan, sehingga kita (pembaca) larut ke dalamnya dan sampai pada sebuah anggapan bahwa upacara merupakan bagian dari kehidupan nyata dari kebaktian yang tak dapat dihindarkan dari kehidupan masyarakat suku itu (Benuaq, Dayak). Dan dalam kaitan ini, karena si aku lahir dan besar di masyarakat tersebut, mau tidak mau, ia pun harus menerima sebagaimana adanya. Maka, ia pun tak kuasa menolak setiap diselenggarakan upacara baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keperluan (orang) lain.

Akan tetapi, ketika ia dewasa dan telah mengenal cinta, yang bukan suatu kebetulan dibarengi oleh perkembangan zaman, lebih-lebih ketika orang-orang luar (Barat) mulai berdatangan dengan membawa misi yang dilandasi pikiran modern dan rasional, dalam diri si aku pun berubah. Sehingga ia mulai bertanya, apa yang dinamakan kehidupan itu harus dilalui dengan upacara? Atau memang hidup itu upacara? Lalu apa tujuan hidup itu? Dan di tengah berbagai upacara itu, bagaimana sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa seperti yang sering dikatakan oleh orang Barat (Tuan Smith)?

Berangkat dari sekian banyak pertanyaan itulah pikiran si aku kemudian goyah, bingung, dan bahkan menyangsikan keberadaan/kebenaran upacara-upacara tersebut. Kesangsian itu pula yang membuat ia kemudian tak percaya pada balian (dukun) yang mengatakan bahwa gadis-gadis yang dicintai si aku dan hendak diperistri (Waning, Rei) akan selalu mati muda akibat terkena kutukan. Itulah sebabnya, di akhir cerita, si aku kemudian memiliki keyakinan penuh, bahwa tak seorang pun bisa meramalkan kematian seseorang (kecuali Tuhan Yang Maha Esa), sehingga ia berani menikahi Ifing (adik Waning). Si aku berpikir bahwa ia akan hidup bahagia sampai tua bersama Ifing istrinya dan tidak lagi takut pada ramalan balian.

Nah, dengan menelusuri sejarah hidup dan lukisan pengalaman batin si aku tatkala menyaksikan sekaligus menjalani berbagai upacara itu, diakui atau tidak, kita merasa mendapatkan kenikmatan tertentu. Kenikmatan itu timbul tidak hanya karena dalam batin kita juga muncul sekian banyak pertanyaan seperti yang ada di dalam pikiran si aku, tetapi juga seolah kita dibawa serta menghayati alam pikiran dan kehidupan orang Benuaq (Dayak), bahkan seakan kita sendiri merasa terjun ke dalam dunia gaib mereka, ke dalam kosmos dan kepercayaan mereka. Kita tak dapat membayangkan (ini akan menimbulkan kenikmatan tertentu), bagaimana seandainya kita adalah si aku dan bagaimana menghadapi upacara-upacara itu? Nah, lintasan dan bayangan itulah, yang, dalam tataran tertentu, membawa kita pada suatu suasana yang menikmatkan. Dan kenikmatan serupa juga akan kita rasakan tatkala kita mengandaikan diri sebagai si aku yang “dipermainkan” nasib dalam bertualang cinta.

Kedua, ketika kita mengikuti alur petualangan cinta si aku, mulai dari kisah asmaranya dengan Waning sampai pernikahannya dengan Ifing, hidup kita juga terasa lebih indah seindah kehidupan si aku dan Ifing. Hal itu terasa ketika kita menyaksikan di akhir cerita si aku berhasil meyakinkan diri bahwa tiada seorang pun yang bisa menentukan nasib/takdir seseorang kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan diri si aku itu –-sehingga ia berani memutuskan menikahi Ifing– tidak lain adalah suatu kemenangan, dan kemenangan si aku melawan mitos dan ramalan balian tentang “siapa pun gadis yang dinikahi si aku akan mati muda” adalah suatu keindahan, sementara keindahan hidup si aku bersama Ifing adalah keindahan hidup kita juga. Jadi, keyakinan dan kemenangan si aku menjadi cermin yang meyakinkan kita bahwa di dalam kehidupan ini kita diharapkan tidak berpaling ke yang lain kecuali pada Tuhan Yang Maha Esa.

Memang, kalau kita hanya membaca dan meresapi kisah kehidupan si aku di akhir cerita, pernikahan si aku dengan Ifing belum bisa menjadi cermin keindahan hidup sebuah keluarga. Sebab, pernikahan semacam itu hanyalah merupakan peristiwa biasa sebagaimana pernikahan pada umumnya. Barulah pernikahan itu menjadi tidak biasa, menjadi istimewa, dan terasa lebih indah, karena dibumbui oleh berbagai peristiwa sebelumnya. Kehidupan si aku dan Ifing tidaklah indah tanpa adanya kisah tentang ketidakmengertian si aku mengapa Waning, gadis yang pertama dicintainya, harus meninggal di mulut buaya. Pernikahan si aku dan Ifing juga tak akan terasa indah jika tidak diawali dengan peristiwa mengapa Rei harus mati terjatuh di air terjun yang menurut balian memang dikehendaki Dewa Air. Jadi, kalau kita cermati benang merahnya, peristiwa demi peristiwa yang terjadi sebelumnya menjadi semacam suspense dan foreshadowing sehingga bersatunya si aku dan Ifing ke dalam satu ikatan keluarga terasa melegakan dan membahagiakan; dengan begitu terasa lebih indah.

Ketiga, itu tadi di satu sisi tentang kisah kehidupan tokoh. Sekarang, mari kita lihat apa yang muncul di balik kata-kata (bahasa) ciptaan pengarang. Karena kata-kata (bahasa) adalah simbol, dan simbol adalah cara penyampaian sesuatu untuk maksud lain, tentu saja di balik novel ini juga ada maksud lain. Dan, setelah menikmati dan menghayati novel ini, satu hal yang segera kita tangkap adalah bahwa pengarang ingin membongkar mitos. Agaknya Korrie ingin membuka mata masyarakat, bahwa mitos (berbagai macam upacara yang dilakukan sejak manusia lahir, remaja, dewasa, menikah, sampai mati) itu tidak layak lagi untuk dijadikan pegangan hidup dan hanya merupakan pemborosan belaka. Jadi, yang layak dikerjakan demi hidup dan kehidupan hanyalah tindakan rasional dan akal sehat. Selain itu, Korrie juga ingin menunjukkan kepada masyarakat (pembaca) bahwa manusia itu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sehingga ia mau tak mau harus dan hanya boleh berpaling pada-Nya. Lebih dari itu, dalam novel ini Korrie secara implisit juga melakukan protes atas dampak modernisasi dan dehumanisasi. Hal ini ia lakukan karena saat itu banyak terjadi malapetaka akibat orang-orang Barat (pendatang) suka mempermainkan gadis-gadis Dayak di samping merusak (menggunduli) hutan.

Itulah, antara lain, sisi tertentu yang mencerdaskan (otak) kita dari karya sastra, tak terkecuali dari novel Upacara. Dan contoh ini hanya sebagian kecil saja, sebab sisi-sisi lain yang mencerdaskan otak kita masih banyak. Taruhlah misalnya pilihan kata-katanya yang diambil dari bahasa daerah (Dayak). Melalui kata-kata bahasa daerah itu (misalnya, anan la lumut ‘perjalanan ke sorga’, lamin ‘rumah panjang suku Dayak’, selolo ‘sobekan daun pisang’, burey ‘tepung beras’, dsb) kita akan memperoleh banyak pengetahuan tentang kebudayaan Dayak di Kalimantan. Karena itu, membaca novel ini berarti sekaligus belajar tentang etnologi budaya Dayak, seperti halnya kita belajar kebudayaan Jawa dari novel Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari atau Para Priyayi Umar Kayam; atau belajar kebudayaan Minang dari karya Wisran Hadi dan Darman Moenir; atau belajar kebudayaan Bali dari karya Oka Rusmini.

Demikianlah, ulasan sepintas (yang nikmat, indah, dan mencerdaskan) atas novel pertama karya Korrie Layun Rampan yang pernah memenangkan sayembara penulisan novel DKJ 1976. Kalau dilihat estetika strukturnya, memang novel ini tidak begitu istimewa, lebih-lebih dari segi alur dan sistem pengalurannya. Hanya saja, yang membuat novel ini menarik adalah aspek lokalitasnya yang pada awal 1970-an memang merupakan sesuatu yang baru dalam kancah sastra Indonesia. Selain itu, yang lebih menarik lagi, dalam novel ini Korrie mampu menghindar dari kecenderungan untuk menciptakan karya kitch.

Hal tersebut terlihat pada usahanya dalam mengakhiri cerita. Di akhir cerita, Korrie mampu menjaga keseimbangan untuk tidak secara frontal menolak mitos. Dan itu agaknya merupakan suatu kesengajaan agar tidak dianggap sebagai “pengkhianat” terhadap kepercayaan dan tradisi budaya daerah suku itu (Benuaq). Buktinya, di akhir cerita ia tidak mengemukakan apakah perkawinan si aku dan Ifing langgeng sampai tua atau tidak. Dan langgeng atau tidak perkawinan mereka, Korrie menyerahkan sepenuhnya pada tafsiran pembaca. Sebab, kalau mereka digambarkan langgeng sampai tua, misalnya, berarti niat Korrie membongkar mitos terlalu kentara (eksplisit); dan tentu saja ini tak bagus bagi sastra yang bermain di dunia simbol.*

*Tirto Suwondo: Peneliti Sastra Indonesia, Tinggal di Jogjakarta.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Ilustrasi: Imajinasi dan Ideologis

mm

Published

on

Buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin.

Bandung Mawardi *)

____

Angan dan pengejawantahan “kemadjoean” di tanah jajahan turut dipengaruhi penerbitan bacaan-bacaan bocah, sejak awal abad XX. Buku-buku diterbitkan menjadi penuntun bocah-bocah bumiputra menapaki jalan kemajuan. Sekian bocah malah sampai ke hasrat menempuhi “jalan ke Barat” gara-gara pikat buku-buku bacaan diajarkan di sekolah. Di buku, mereka membaca cerita dan menikmati ilustrasi merangsang imajinasi mengandung jalinan estetika-ideologis.

Peran penerbit, penulis, dan ilustrator menentukan corak bacaan bagi bocah-bocah dengan pelbagai bahasa: Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Penerbitan buku untuk bocah memang agak belakangan, belum terlalu menjadi misi besar. Penerbit milik pemerintah kolonial Belanda dan partikelir bersaing di pengadaan buku bacaan bocah. Commisie voor de Volkslectuur mengawali terbitan buku berjudul Serat Kantjil Tanpa Sekar (1909) garapan Wirapoestaka. Sekian buku berlanjut diterbitkan dalam sekian bahasa: Dongeng-Dongeng Soenda (1910) oleh M Saleh dan Ardiwinata, Hikajat Pelandoek Djenaka (1914), Boekoe Pangadjharan (1914), dan Doewa Toeri-Toerian (1917) oleh Arsenius Loemban Tobing (Chritantiowati, Bacaan Anak Indonesia: Tempo Doeloe: Kajian Penduluan Periode 1908-1945, 1996).

Buku-buku untuk bacaan bocah terus terbit, disebarkan ke pelbagai tempat di Taman Poestaka bentukan pemerintah kolonial. Buku-buku berbahasa Jawa dan Sunda mendapat perhatian besar di misi pengajaran dan keaksaraan awal abad XX. Christantiowati mencatat buku berbahasa Sunda digemari bocah-bocah di masa lalu: Genep Belas TjaritaSoeltan Abdoellah djeung HassanPetikaneunManoek Hiber koe DjangdjangnaTjarita Si Kate, dan lain-lain. Kita tak mendapat informasi mengenai sekian buku cuma berisi kata-kata atau digenapi ilustrasi-ilustrasi. Kita menduga buku-buku untuk bocah tentu memikat dengan adonan kata dan gambar.

Masa lalu diundang lagi oleh Hawe Setiawan di buku berjudul Bocah Sunda di Mata Belanda: Interpretasi atas Ilustrasi Buku Roesdi djeung Misnem (2019). Pilihan buku untuk kajian itu mengacu pengenalan bocah-bocah Sunda pernah bersekolah di taraf pendidikan masa awal abad XX. Buku berjudul Roesdi djeung Misnem digarap oleh AC Deenik dan R Djajadiredja digenapi gambar-gambar oleh WK de Bruin. Selama puluhan tahun, buku itu nostalgia dalam cerita dan rupa. Orang-orang masih membincangkan pikat buku lawas itu sampai abad XXI.

Hawe Setiawan menilai buku Roesdi djeung Misnem memiliki tautan antara Belanda dengan tanah jajahan bersumber kebijakan-kebijakan di pendidikan-pengajaran dasar bagi bumiputra. Pandangan-pandangan politik pihak Belanda teranggap diwakili di pembuatan buku dan penampilan ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin. Muatan ideologis tebaca berbarengan dengan pengisahan-pengisahan khas di Sunda. Buku 4 jilid dari masa lalu membentuk imajinasi menguak jalinan sastra, pendidikan-pengajaran, identitas, adab, dan kolonialisme.

WK de Bruin lahir di Den Haag, Belanda, 14 Desember 1871. Ia menjadi ilustrator untuk buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di Belanda dan tanah jajahan (Hindia Belanda). Dua buku memuat ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin memberi pikat ke bocah-bocah bumiputra adalah Kembang SetamanRoesdi djeung Misnem, dan Panggelar Boedi. Hawe Setiawan menghitung ada 158 gambar WK de Bruin di buku Roesdi djeung Misnem. Sekian gambar ingin mengisahkan situasi kehidupan bumiputra di keseharian. Hawe Setiawan belum berani memastikan dalam menggambar WK de Bruin pernah berkunjung ke Hindia Belanda atau mengandalkan foto-foto.

Kita mendapat informasi tambahan dalam tulisan Hermanu di Kitab Si Taloe: Gambar Watjan Botjah 1909-1961 (2008). Ilustrasi-ilustrasi WK de Bruin juga dimuat di buku berjudul Matahari Terbit. Judul itu tak tercantum di buku garapan Hawe Setiawan. Puluhan buku lawas memuat ilustrasi WK de Bruin dan para ilustrator Belanda diamati Hermanu dengan pemberian konklusi: “Kesan bahwa orang-orang pribumi hanya sebagai pembantu atau warga negara kelas dua sangat kental pada gambar di buku-buku yang dicetak untuk pelajaran bagi murid-murid bangsa Belanda, sedangkan bangsa Belanda digambarkan sangat superior.” Sejak mula, maksud menampilkan ilustrasi memang ideologis, selain capaian estetika.

Hawe Setiawan memberi perhatian besar untuk gambar Roesdi, bocah berusia tujuh tahun, saat tangan kanan memegang pisang dan tangan kiri memegang tongkat. Di mata selidik Hawe Setiawan, gambar itu dianggap representasi tatapan-diskriminasi bentukan nalar Eropa sebagai negara kolonial. Pisang berkesan “penistaan” ke bocah pribumi. Gambar itu mungkin mengukuhkan pendefinisian Eropa melihat bocah jajahan seperti kera. Pisang itu makanan kegemaran kera. Gambar di buku terasa bergelimang pamrih kolonial atau Eropa sentris.

Kekhasan Hindia Belanda tampak pula di gambar rumah dan suasana di desa. Gambar-gambar kadang memicu ragu mengenai maksud-maksud WK de Bruin. Di buku bacaan, kuasa Eropa masih ditonjolkan dalam mendefinisikan manusia, peristiwa, dan tempat di tanah jajahan. Hawe Setiawan menilai sekian gambar WK de Bruin cukup “turut memberikan informasi perihal beberapa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat Sunda dari masa ke masa.” WK de Bruin berjarak dari realitas kehidupan keseharian di Sunda. Kelemahan tentu ada dan “terlihat” di puluhan ilustrasi. Kelemahan akibat tiada pengamatan mendalam. WK de Bruin tentu berpikiran itu semain imajinasi di buku terbaca bocah, bukan ilustrasi untuk buku-buku ilmu atau riset dengan kaidah-kaidah ketat.

Ilustrasi garapan WK de Bruin tak sememikat atau semengena dengan hasil “pengamatan” Cornelis Jetses. Hermanu di buku berjudul Djalan ke Barat: Jawa di Mata C Jetses (2014) menilai: “Jetses berhasil menghadirkan suasana pedesaan, perkotaan, maupun dalam rumah tangga, sepertinya dia hadir di sana dan memindahkan objek secara detail ke dalam selembar kertas. Di samping itu, dia secara tepat dapat menggambarkan karekater masing-masing tokoh yang digambarkannya dengan sangat luar biasa.” Pujian itu berlebihan tapi mengingatkan kita di perbandingan kekuatan para ilustrator Belanda  dalam terbitan buku-buku pelajaran atau bacaan bocah di tanah jajahan. Hawe Setiawan cuma memberi sekali singgungan ke Jetses sebagai teman WK de Bruin dalam pengerjaan pelat gambar di sekolah rendah di Den Haag, Belanda, 1885. Pembandingan ke Jetses memang tak wajib tapi memungkinkan kita semakin mengerti mutu ilustrasi WK de Bruin dalam pesona dan kelemahan. Begitu. (BM)

 

Continue Reading

Buku

Puisi yang Mengolok Panduan Menulis Puisi

mm

Published

on

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban.

*) Ifan Afiansa

Membaca puisi-puisi Buku Latihan Tidur akan membawa pembacanya kepada ekspresi linguistik yang menyenangkan sekaligus menggemaskan. Atau setidaknya, kedua perasaan tersebut berkelindan hebat di benak saya, sebab puisi-puisi di dalamnya mengandung unsur olok-olok parodis yang dibalut dengan bait-bait lembut dan lucu, padahal olok-olok itu ditujukan kepada para fanatik beragama, bahasa Indonesia, dan kiat-kiat menulis puisi. Hal-hal tersebut mungkin terlampau jauh bagi siapa pun untuk menertawakannya.

Judul buku ini juga akan mengingatkan pada buku-buku panduan di rak sebuah toko buku. Buku-buku itu mungkin saja tidak membutuhkan nama besar penulis, sekiranya siapa pun bisa menulis buku panduan selama dia mempunyai keahlian tertentu. Begitu juga sebagai pembaca, mereka hanya memedulikan kegiatan praktis apa yang mereka butuhkan, tanpa memedulikan nama pengarangnya. Sebutlah Buku Latihan Microsoft Word (2013, Elex Media Komputindo), selama calon pembacanya membutuhkan panduan Microsoft Word, para pembaca akan senantiasa membelinya. Baik Buku Latihan Tidur maupun Buku Latihan Microsoft Word, keduanya mempunyai kesamaan pola, membuat saya berasumsi, “Apa iya, Joko Pinurbo tengah memparodikan buku panduan?”

Linda Hutcheon dalam bukunya A Theory of Parody pernah berkata bahwa parodi merupakan relasi struktural di antara dua teks. Relasi ini kerap ditujukan melalui bentuk penyimpangan bentuk teks (baru) terhadap teks lama. Kemudian memunculkan kembali pertanyaam, “(teks) buku mana yang memengaruhi (teks) buku lainnya?” Tentu untuk mengidentifikasi mana teks baru, dan mana teks lama bukanlah hal yang sulit, keduanya tampak terang-benderang. Jawabannya tentu Buku Latihan Tidur menggunakan sekaligus menyimpangi judul Buku Latihan Microsoft Word. Definisi parodi kembali ditegaskan Linda Hutcheon adalah sebagai bentuk imitas yang dicirikan oleh kecendrungan ikonik, selain itu parodi adalah pengulangan yang disertai ruang kritik yang berupaya mengungkap perbedaan, alih-alih persamaan. Kemudian sebuah pertanyaan kembali muncul, “Apa yang coba dibedakan dan dikritik oleh Buku Latihan Tidur atas Buku Latihan Microsoft Word?”

Jawabannya bisa jadi semudah menemukan gajah di kandang gajah, jika jawabannya objek yang menjadi “latihan” kedua buku, tentu bukan jawaban yang salah. Namun ada perbedaan yang mendasar di antara keduanya, yaitu Buku Latihan Microsoft Word akan memandu pembacanya agar bisa melakukan kerja praktik yang (akan) mengarah ke profit, ada sebuah kerja produktif yang ditawarkan buku panduan ini. “Bagaimana dengan Buku Latihan Tidur? Memandu untuk tidur?” Di sinilah yang dibedakan oleh Buku Latihan Tidur—sebagai karya sastra parodi, judul buku ini seakan memandmu tidur, padahal tidur merupakan kegiatan kontraproduktif. Terkadang saya kerap diomeli karena terlalu banyak tidur di rumah. Ironi sekali jika Buku Latihan Tidur diangkat sebagai judul buku sebab tidur merupakan kegiatan kontraproduktif, seolah-olah aktivitas tidur adalah aktivitas yang sama pentingnya dengan aktivitas produktif lainnya.

Apakah permainan parodi ini selesai di bagian judul saja?

Meskipun judul buku ini memparodikan buku panduan, tetapi hanya ada satu judul puisi yang turut memparodikan buku-buku panduan. Puisi itu berjudul “Langkah-langkah Menulis Puisi”, judul itu mungkin sedikit banyak mengingatkan pada pelbagai laman di internet yang mencoba memberikan tips menulis puisi, atau mungkin mengingatkan pada Seni Menulis Puisi karya Hasta Indriyana. Pada dasarnya buku dan tulisan tersebut mencoba memberikan langkah-langkah menulis puisi secar runut dan sistamatis, mulai dari mencari ide, mengembangkan gagasan, serta mengolah gaya bahasa, dengan ragam contoh pengaplikasian.

Namun langkah-langkah yang sistematis itu diparodikan Joko Pinurbo dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi”. Konsep-konsep yang dijabarkan Hasta Indriyana diparodikan dalam puisi tersebut hanya dengan satu langkah, yaitu duduk. Dalam tujuh langkah menulis puisi, ada enam langkah yang dimulai dangan duduk, yang kemudian dilanjutkan oleh sederet frasa-frasa tambahan, seperti dengan tenang, yang kelak akan jadi batu nisanmu dan sambil membaca Pramoedya: “Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat hanya tafsirannya. Dan diakhiri langkah ketujuh yang tidak menyertakan aktivitas apapun, melainkan hanya mantra sulap.

Dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” hanya terdapat dua verba, yaitu duduk dan membaca. Selebihnya adalah upaya-upaya kecil untuk kembali melihat diri sendiri semakin dalam saat menulis puisi. Kemudian puisi yang diakhiri dengan “Abrakadabra,” tentu ini menyiratkan sebuah keajaiban, atau lebih tepatnya menunggu keajaiban. Secara keseluruhan, puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi” berupaya memparodikan sekaligus mengkritik buku/tulisan panduan menulis kreatif yang jauh dari kegiatan praktis iru sendiri. Perihal mencari ide, mengembangkan gagasan, menentukan tema, pemilihan diksi dan gaya bahasa, serta sederet langkah lainnya, bukanlah hal yang penting dalam menulis puisi. Duduk dan membaca merupakan kunci penting dalam puisi ini, selebihnya perenungan ke dalam diri,d dan diakhiri dengan menunggu keajaiban.

Lantas, keajaiban apa yang dimaksud dalam puisi “Langkah-langkah Menulis Puisi?”

Ada perbedaan mendasar menjadi penyair dan menjadi pembaca. Perihal menulis puisi, bisa jadi bagi Joko Pinurbo puisi-puisi yang dia tulis biasa saja. Begitu pembacanya mulai memberikan hal-hal yang mereka sukai dari puisi-puisi Joko Pinurbo. Kalimat sebelum inilah keajaiban yang dimaksud. Tidak ada yang dinamakan langkah-langkah menulis puisi, jika estetika sebuah puisi ditentukan oleh pembacanya. Bagaimana sebuah puisi dapat memengaruhi pembacanya, adalah keaiaiban yang perlu ditunggu, sebab bagus tidaknya sebuah puisi itu hanya dalam sudut pandang pembacanya. (*)

*) Ifan Afiansa

Department Indonesia Literature
Faculty of Cultural Science, Universitas Gadjah Mada
Continue Reading

Buku

Menggali Makam bagi Bangkai Puisi

mm

Published

on

Di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya?

Damhuri Muhammad *)

Saya agak terlambat membaca Kuburan Imperium (2019) buku puisi terkini Binhad Nurrohmat. Khusus pada Binhad, perlu saya tegaskan bahwa keterlambatan itu saya sengaja. Karena hingga saat ini, saya masih sukar menerima kegemaran baru dalam jelajah tematik puisinya; Kuburan.  Saya mengenal Binhad bukan sebentar belaka.  Kekariban kami sebagai sesama pengarang yang mengadu peruntungan di Jakarta,  telah berlangsung sejak 13 tahun silam. Rentang 2005-2011 adalah masa paling intens saya berinteraksi dengan Binhad. Obrolan tak sudah-sudah perihal sastra, yang tentu kami lakukan dalam ikhtiar mengasah keterampilan menulis esai, menggarap sekian banyak peristiwa diskusi, workshop penulisan, hingga survei pembaca sastra, di Komunitas Bale Sastra Kecapi. Termasuk di sela-selanya, membincang gosip-gosip di seputar politik sastra, dan tak ketinggalan tentang pengalaman-pengalaman Binhad bersama seorang biduanita, selepas ia berkunjung ke sebuah Bar Dangdut, di bilangan Jakarta barat.

Sebagai pendatang baru di Jakarta, saya kerap berkhidmat sebagai teknisi komputer dadakan yang siap sedia bila sewaktu-waktu Personal Computer (PC) jadul milik Binhad bermasalah. Kadang-kadang dari situlah obrolan kami bermula. Lantaran saat mengotak-otik  file system komputer Binhad, saya menemukan banyak draft puisi, esai telaah, termasuk paper yang pernah dipaparkan dalam banyak peristiwa bedah buku. Lantaran tak terlalu berdisiplin dengan data back-up, saya berkali-kali mendengar Binhad berdoa, agar PC-nya sembuh seperti sediakala¾tentu setelah disentuh oleh tangan dingin saya¾lalu semua tulisannya terselamatkan.  Dalam banyak obrolan kami di masa itu, kadang-kadang bergabung pula penyair Chavchay Saifullah, cerpenis produktif Teguh Winarsho AS, dan esais Imam Muhtarom. Tapi dari semua teman pengarang yang rata-rata seusia itu, kawan yang paling riang gembira hidupnya, adalah Binhad. Masa itu Binhad sibuk menguliti imaji ketubuhan dalam puisi-puisinya, hingga lahirnya kumpulan Kuda Ranjang (2004)  yang sempat menggemparkan itu, dan disusul oleh Bau Betina (2007).

Saya tahu betul bagaimana proses kreatif Binhad berlangsung. Betapa gandrungnya ia menggunakan tubuh sebagai perkakas puitik.  Tubuh yang jorok, tubuh yang berlendir, tubuh yang mengundang hasrat, hingga tubuh yang melawan dengan cara bertelanjang, yang digarap Binhad, bagi saya adalah sebuah pertanda dari sidik jari kepenyairan yang hedon alias bermewah-mewah dengan realitas keduniawian. Sikap kefilsafatan Binhad waktu itu adalah imanensi, dan dalam menggarap puisi ia sama sekali tak menyentuh ihwal transendensi. Tapi kemudian Binhad menghilang dari Jakarta, lalu suaranya terdengar dari kejauhan. Ia pindah ke Jombang, dan menegaskan sebuah kegemaran baru: Bermain di kuburan.

Penulis : Binhad Nurrohmat Penerbit : DIVA Press Tahun terbit : 2019 ISBN : 978-602-391-767-9 Halaman : 120

Saya sulit menerima kenyataan itu, karena saya membaca sebuah isyarat bahwa Binhad mungkin akan menjadi penyair yang berusia pendek, seperti Chairil Anwar. Saya ingat, sebelum Chairil meninggal, ia telah meramalkan kematiannya dengan puisi bertajuk Yang Terampas dan Yang Putus  (1949), di mana terselip sebuah kalimat berbunyi;  Di Karet, Karet, Daerahku yang Akan Datang. Sampai juga deru angin. Semua orang tahu, “Karet” adalah nama pemakaman yang beberapa waktu kemudian menjadi pusara Chairil Anwar. Saya ingin Binhad berumur panjang!

Maka, saya membaca Kuburan Imperium, bukan sebagai ikhtiar Binhad menggali kuburan bagi jenazahnya sendiri, tapi bermaksud hendak memakamkan bangkai-bangkai puisi. Seolah-olah, makhluk bernama puisi itu akan lebih mati saja,  dipancangkan sebagai situs, lalu kelak para pembaca akan rutin menziarahinya. Itulah sebabnya, buku Kuburan Imperium itu tersusun dari sub-sub bab yang dinamai dengan situs. Tak tanggung-tanggung, Binhad menggenapi bukunya dengan 5 Situs,  yang mengingatkan saya pada 5 Sila Pancasila¾semoga belum menjadi bangkai¾dengan corak puisi yang berbeda-beda.

Binhad membangun semacam amsal yang tak lazim tentang masa depan puisi dengan waktu kematian  yang selama ini dianggap sebagai titik henti pusaran tarikh manusia. Bila bagi banyak orang, mati adalah waktu yang khatam, bagi Binhad, kematian jutru masa depan. Dengan begitu, sebuah tarikh baru saja bermula. Masa silam tak hanya berhenti di belakang/masa depan menyimpan yang belum terjadi, demikian kutipan puisi berjudul  “Masa Depan Semua Orang.” Dalam frasa “masa depan” itu  saya merasa “kematian” atau katakanlah fase berpindahnya jasad dari alam lapang ke alam kubur, terkandung di dalamnya. Manusia selalu menunggu/dan lupa di sepanjang usia/yang berguguran dan pucat/di sebujur mayat. Demikian pula kiranya puisi, begitu ia terkapar sebagai bangkai, atau setidaknya diperlakukan sebagai bangkai yang selekasnya harus dikuburkan, itu bukan titik akhir dari riwayatnya, melainkan titik awal dari kedatangannya di masa datang. Itu sebabnya puisi perlu dianiaya, disiksa sedemkian rupa,  terbujur mati, dikuburkan, menjadi situs, kemudian hidup dalam upacara-upacara ziarah.

Para almarhum boleh tak diziarahi, atau kuburannya ditimpa kuburan baru, hingga tak dapat dikenali lagi di titik mana jenazahnya dikebumikan, tapi tidak begitu dengan puisi. Semakin dikuburkan,  semakin mungkin dikenang, semakin mungkin di-situs-kan. Banyak orang mungkin lupa dengan ciri-ciri fisik kekasih yang mati muda, tapi bahasa cinta yang pernah diungkapkannya akan menjadi situs di kepala orang yang pernah mendengarnya. Ia tidak bisa musnah, meskipun sudah berkali-kali dikhianati atau didustai. Dengan begitu, kuburan puisi sejatinya bukanlah di liang lahat, sebagaimana kuburan para penyair melahirkannya, melainkan di dalam liang kesadaran para penikmatnya.

Lalu, di manakah situs yang paling mungkin untuk bahasa? Apakah di dalam kamus atau dalam lorong-lorong gelap tata bahasa? Ketika bahasa mengalami keletihan yang sempurna lantaran saban hari  menghela beban makna  di era imperium simulakra ini, dapatkah riwayat bahasa dikhatamkan oleh “polisi ejaan” yang  begitu jumawa kekuasaannya? Bahasa akan membusuk dalam pikiran yang mati,  kata Binhad dalam puisi “Kuburan Bahasa.” Sepanjang bahasa bermukim dalam pikiran yang hidup, ia tak bisa mati! Pikiran yang hidup itu, salah satunya dapat ditemukan di ruang kepenyairan.

Buku yang terhimpun dalam 5 Situs ini mengandung obsesi penyair yang hendak menguburkan karya-karyanya, hingga kelak beralih-rupa menjadi situs-situs yang diziarahi. Tentang sikap kepenyairan seperti, saya ingat kisah pendek dalam khazanah sastra klasik Tiongkok. Adalah Yu Gong, atau yang kerap dijuliki “Si Kakek Dungu,”  yang terobsesi hendak memindahkan dua gunung di hadapan tempat tinggalnya, lantaran kedua gunung itu menghalangi keluarganya dan juga penduduk kampungnya untuk bepergian ke kota. Saban hari, ia bersama anak-cucunya, menggali tanah di sekitar gunung itu, dan berharap kelak kedua gunung itu bisa diangkat bersama-sama, dipindahkan ke tempat lain. Tak terhitung banyaknya orang yang melecehkan kedunguan Yu Gong, tapi kegigihannya menggali, dan kepiawaiannya meyakinkan orang-orang kampung untuk terus menggali dan menggali, akhirnya membuat para dewa terharu. Dua dewa turun ke bumi, lalu memindahkan dua gunung itu dalam sekejap mata.

Demikian pula kiranya kesulitan menggali pusara guna memakamkan puisi. Umat pembaca puisi yang makin lama makin berkurang jumlahnya, tentu kepayahan menggali liat lahat bagi timbunan bangkai-bangkai puisi, tapi berkat kegigihan penyair, dan upaya kerasnya dalam merawat pembaca buku-buku puisi, saya kira juga akan membuat dewa-dewi di kahyangan bakal terharu. Kelak, akan diturunkan pula dua dewi dari langit ketujuh. Binhad tentu akan sangat berbahagia, karena saya membayangkan, dua dewi yang kecantikannya sedemikian menakjubkan itu adalah reinkarnasi dari dua biduanita, spesialis goyang ngebor, di Café Dangdut idola masa lalu kami. Mari bergoyang, sambil menggali makam bagi puisi…  (*)

*) Damhuri Muhammad: Cerpenis dan Esais, Board of Editors Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending