Connect with us

Buku

Upacara Korrie Layun Rampan—Nikmat, Indah, dan Mencerdaskan

mm

Published

on

Kita harus percaya, sastra tidak hanya sekadar rentetan kata-kata kosong belaka, tetapi lebih dari itu, sastra mampu memberikan kenikmatan (batin), membangun keindahan (hidup), juga menambah kecerdasan (otak). Di tangan orang biasa, kata-kata (bahasa) boleh jadi hanya sekadar piranti komunikasi biasa, tapi tak demikian di tangan pengarang. Oleh pengarang, kata-kata (bahasa) telah dipilih, dikemas, dan diberi kekuatan yang luar biasa sehingga kata-kata (di dalam sastra) itu mencerminkan sesuatu yang memiliki empat sifat (angin, air, api, dan tanah) yang tak seorang pun pernah lepas darinya. Baiklah, barangkali itu hanya teori. Sekarang, mari kita coba buktikan. Dan untuk membuktikan, bacalah novel Upacara karya Korrie Layun Rampan yang nukilannya (bab lima, bagian terakhir) dikutip di depan. Kalau kita membaca novel itu secara utuh dan seksama, segera kita akan menangkap beberapa hal.

Pertama, cobalah kita telusuri lebih dahulu kisah perjalanan hidup tokohnya. Tokoh “aku” dalam novel ini digambarkan hidup di sebuah masyarakat (suku Benuaq, Dayak) di pedalaman Kalimantan; dan masyarakat itu masih menjunjung tinggi tradisi budaya setempat yang terwujud dalam bentuk upacara-upacara (kebaktian/religi). Setidaknya ada empat upacara besar yang dilukiskan dalam novel ini, yakni balian (upacara yang dilakukan oleh dukun dalam hubungannya dengan nasuq juus atau pencarian jiwa yang hilang); kewangkey (upacara penguburan tulang-tulang manusia); nalin taun (pesta tahunan yang berupa upacara persembahan kepada para dewa untuk menghindarkan kampung dari dosa dan malapetaka); dan pelulung (upacara perkawinan).

Selain itu, masih ada beberapa upacara kecil-kecil, di antaranya ompong (upacara adat atau gengsi), sentean (mencari sebab penyakit), ngejakat (saat bayi lahir), tempong pusong (saat pusar bayi tanggal); dan lain sebagainya. Dan setiap diselenggarakan upacara, pengarang melukiskan secara detail/meyakinkan, sehingga kita (pembaca) larut ke dalamnya dan sampai pada sebuah anggapan bahwa upacara merupakan bagian dari kehidupan nyata dari kebaktian yang tak dapat dihindarkan dari kehidupan masyarakat suku itu (Benuaq, Dayak). Dan dalam kaitan ini, karena si aku lahir dan besar di masyarakat tersebut, mau tidak mau, ia pun harus menerima sebagaimana adanya. Maka, ia pun tak kuasa menolak setiap diselenggarakan upacara baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keperluan (orang) lain.

Akan tetapi, ketika ia dewasa dan telah mengenal cinta, yang bukan suatu kebetulan dibarengi oleh perkembangan zaman, lebih-lebih ketika orang-orang luar (Barat) mulai berdatangan dengan membawa misi yang dilandasi pikiran modern dan rasional, dalam diri si aku pun berubah. Sehingga ia mulai bertanya, apa yang dinamakan kehidupan itu harus dilalui dengan upacara? Atau memang hidup itu upacara? Lalu apa tujuan hidup itu? Dan di tengah berbagai upacara itu, bagaimana sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa seperti yang sering dikatakan oleh orang Barat (Tuan Smith)?

Berangkat dari sekian banyak pertanyaan itulah pikiran si aku kemudian goyah, bingung, dan bahkan menyangsikan keberadaan/kebenaran upacara-upacara tersebut. Kesangsian itu pula yang membuat ia kemudian tak percaya pada balian (dukun) yang mengatakan bahwa gadis-gadis yang dicintai si aku dan hendak diperistri (Waning, Rei) akan selalu mati muda akibat terkena kutukan. Itulah sebabnya, di akhir cerita, si aku kemudian memiliki keyakinan penuh, bahwa tak seorang pun bisa meramalkan kematian seseorang (kecuali Tuhan Yang Maha Esa), sehingga ia berani menikahi Ifing (adik Waning). Si aku berpikir bahwa ia akan hidup bahagia sampai tua bersama Ifing istrinya dan tidak lagi takut pada ramalan balian.

Nah, dengan menelusuri sejarah hidup dan lukisan pengalaman batin si aku tatkala menyaksikan sekaligus menjalani berbagai upacara itu, diakui atau tidak, kita merasa mendapatkan kenikmatan tertentu. Kenikmatan itu timbul tidak hanya karena dalam batin kita juga muncul sekian banyak pertanyaan seperti yang ada di dalam pikiran si aku, tetapi juga seolah kita dibawa serta menghayati alam pikiran dan kehidupan orang Benuaq (Dayak), bahkan seakan kita sendiri merasa terjun ke dalam dunia gaib mereka, ke dalam kosmos dan kepercayaan mereka. Kita tak dapat membayangkan (ini akan menimbulkan kenikmatan tertentu), bagaimana seandainya kita adalah si aku dan bagaimana menghadapi upacara-upacara itu? Nah, lintasan dan bayangan itulah, yang, dalam tataran tertentu, membawa kita pada suatu suasana yang menikmatkan. Dan kenikmatan serupa juga akan kita rasakan tatkala kita mengandaikan diri sebagai si aku yang “dipermainkan” nasib dalam bertualang cinta.

Kedua, ketika kita mengikuti alur petualangan cinta si aku, mulai dari kisah asmaranya dengan Waning sampai pernikahannya dengan Ifing, hidup kita juga terasa lebih indah seindah kehidupan si aku dan Ifing. Hal itu terasa ketika kita menyaksikan di akhir cerita si aku berhasil meyakinkan diri bahwa tiada seorang pun yang bisa menentukan nasib/takdir seseorang kecuali Tuhan Yang Maha Esa. Keyakinan diri si aku itu –-sehingga ia berani memutuskan menikahi Ifing– tidak lain adalah suatu kemenangan, dan kemenangan si aku melawan mitos dan ramalan balian tentang “siapa pun gadis yang dinikahi si aku akan mati muda” adalah suatu keindahan, sementara keindahan hidup si aku bersama Ifing adalah keindahan hidup kita juga. Jadi, keyakinan dan kemenangan si aku menjadi cermin yang meyakinkan kita bahwa di dalam kehidupan ini kita diharapkan tidak berpaling ke yang lain kecuali pada Tuhan Yang Maha Esa.

Memang, kalau kita hanya membaca dan meresapi kisah kehidupan si aku di akhir cerita, pernikahan si aku dengan Ifing belum bisa menjadi cermin keindahan hidup sebuah keluarga. Sebab, pernikahan semacam itu hanyalah merupakan peristiwa biasa sebagaimana pernikahan pada umumnya. Barulah pernikahan itu menjadi tidak biasa, menjadi istimewa, dan terasa lebih indah, karena dibumbui oleh berbagai peristiwa sebelumnya. Kehidupan si aku dan Ifing tidaklah indah tanpa adanya kisah tentang ketidakmengertian si aku mengapa Waning, gadis yang pertama dicintainya, harus meninggal di mulut buaya. Pernikahan si aku dan Ifing juga tak akan terasa indah jika tidak diawali dengan peristiwa mengapa Rei harus mati terjatuh di air terjun yang menurut balian memang dikehendaki Dewa Air. Jadi, kalau kita cermati benang merahnya, peristiwa demi peristiwa yang terjadi sebelumnya menjadi semacam suspense dan foreshadowing sehingga bersatunya si aku dan Ifing ke dalam satu ikatan keluarga terasa melegakan dan membahagiakan; dengan begitu terasa lebih indah.

Ketiga, itu tadi di satu sisi tentang kisah kehidupan tokoh. Sekarang, mari kita lihat apa yang muncul di balik kata-kata (bahasa) ciptaan pengarang. Karena kata-kata (bahasa) adalah simbol, dan simbol adalah cara penyampaian sesuatu untuk maksud lain, tentu saja di balik novel ini juga ada maksud lain. Dan, setelah menikmati dan menghayati novel ini, satu hal yang segera kita tangkap adalah bahwa pengarang ingin membongkar mitos. Agaknya Korrie ingin membuka mata masyarakat, bahwa mitos (berbagai macam upacara yang dilakukan sejak manusia lahir, remaja, dewasa, menikah, sampai mati) itu tidak layak lagi untuk dijadikan pegangan hidup dan hanya merupakan pemborosan belaka. Jadi, yang layak dikerjakan demi hidup dan kehidupan hanyalah tindakan rasional dan akal sehat. Selain itu, Korrie juga ingin menunjukkan kepada masyarakat (pembaca) bahwa manusia itu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sehingga ia mau tak mau harus dan hanya boleh berpaling pada-Nya. Lebih dari itu, dalam novel ini Korrie secara implisit juga melakukan protes atas dampak modernisasi dan dehumanisasi. Hal ini ia lakukan karena saat itu banyak terjadi malapetaka akibat orang-orang Barat (pendatang) suka mempermainkan gadis-gadis Dayak di samping merusak (menggunduli) hutan.

Itulah, antara lain, sisi tertentu yang mencerdaskan (otak) kita dari karya sastra, tak terkecuali dari novel Upacara. Dan contoh ini hanya sebagian kecil saja, sebab sisi-sisi lain yang mencerdaskan otak kita masih banyak. Taruhlah misalnya pilihan kata-katanya yang diambil dari bahasa daerah (Dayak). Melalui kata-kata bahasa daerah itu (misalnya, anan la lumut ‘perjalanan ke sorga’, lamin ‘rumah panjang suku Dayak’, selolo ‘sobekan daun pisang’, burey ‘tepung beras’, dsb) kita akan memperoleh banyak pengetahuan tentang kebudayaan Dayak di Kalimantan. Karena itu, membaca novel ini berarti sekaligus belajar tentang etnologi budaya Dayak, seperti halnya kita belajar kebudayaan Jawa dari novel Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari atau Para Priyayi Umar Kayam; atau belajar kebudayaan Minang dari karya Wisran Hadi dan Darman Moenir; atau belajar kebudayaan Bali dari karya Oka Rusmini.

Demikianlah, ulasan sepintas (yang nikmat, indah, dan mencerdaskan) atas novel pertama karya Korrie Layun Rampan yang pernah memenangkan sayembara penulisan novel DKJ 1976. Kalau dilihat estetika strukturnya, memang novel ini tidak begitu istimewa, lebih-lebih dari segi alur dan sistem pengalurannya. Hanya saja, yang membuat novel ini menarik adalah aspek lokalitasnya yang pada awal 1970-an memang merupakan sesuatu yang baru dalam kancah sastra Indonesia. Selain itu, yang lebih menarik lagi, dalam novel ini Korrie mampu menghindar dari kecenderungan untuk menciptakan karya kitch.

Hal tersebut terlihat pada usahanya dalam mengakhiri cerita. Di akhir cerita, Korrie mampu menjaga keseimbangan untuk tidak secara frontal menolak mitos. Dan itu agaknya merupakan suatu kesengajaan agar tidak dianggap sebagai “pengkhianat” terhadap kepercayaan dan tradisi budaya daerah suku itu (Benuaq). Buktinya, di akhir cerita ia tidak mengemukakan apakah perkawinan si aku dan Ifing langgeng sampai tua atau tidak. Dan langgeng atau tidak perkawinan mereka, Korrie menyerahkan sepenuhnya pada tafsiran pembaca. Sebab, kalau mereka digambarkan langgeng sampai tua, misalnya, berarti niat Korrie membongkar mitos terlalu kentara (eksplisit); dan tentu saja ini tak bagus bagi sastra yang bermain di dunia simbol.*

*Tirto Suwondo: Peneliti Sastra Indonesia, Tinggal di Jogjakarta.

Continue Reading
Advertisement

Buku

Paradigma Platon Perihal Pedagogi

mm

Published

on

Bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)”

Oleh Ahmad Jauhari

Tren masa kini, jumlah orang bersekolah tinggi kian melonjak. Fakta ini cukup menggembirakan. Namun, seiring dengannya, kejahatan para insan akademik malah juga menanjak. Bukan niat mengeneralisasi, melainkan sepatutnya insan akademik, mendayagunakan kecerdasannya demi kebaikan. Apalah dikata, justru panggang jauh dari api.

Inilah cermin buruk rupa dunia pendidikan. Apa penyebabnya? Buku karya A. Setyo Wibowo ini memberikan jawaban, bahwa “kegagalan membentuk disposisi prarasional (aspek nafsu dan emosi) akan menciptakan orang-orang rasional yang bengkok: rasionya bekerja baik, cerdas, tetapi alih-alih untuk membela kebaikan, rasio tersebut malah bekerja menjadi budak nafsu uang dan budak emosi pencarian harga diri dan kehormatan” (hlm. 65). Inilah fakta, yang terang-benderang menyekap bangsa ini. Gaduhnya dunia politik, menipisnya kepedulian, kesenjangan sosial, menguatnya kecurigaan, dan seterusnya, dapat ditengarai oleh sebab kesemerawutan dunia pendidikan.

JUDUL BUKU : PAIDEIA: Filsafat Pendidikan-Politik Platon PENULIS : A. Setyo Wibowo PENERBIT : P.T. Kanisius, Yogyakarta TAHUN TERBIT : September, 2017 TEBAL : 308 halaman

Belum lagi, gempuran perangkat teknologi masa kini. Bukan berarti menolak teknologi yang kian hari makin canggih. Namun, mewaspadai efeknya, juga selayaknya jadi bahan pertimbangan. Sebab, bila “manusia (…) tenggelam dalam arus mencari yang lebih cepat, lebih canggih, dan lebih banyak, melarutkan dirinya dalam keragaman tanpa fokus. Bukannnya makin menemukan dirinya, arus yang serba cepat membuat manusia tersesat di antara banyak hal yang melingkupinya. Dalam hasratnya merangkul segala sesuatu, ia malah tidak menjadi sesuatu dan kehilangan jati dirinya sendiri” (hlm. 20-21). Kehilangan jati diri, memungkinkan orang terjerembab masuk arah banalitas hidup. Hingga ia terjerumus pada jurang kecemasan dan palung kegalauan tiada ujung. Generasi anak bangsa zaman kini, diterpa gempuran teknologi maha dahsyat. Bila dunia pendidikan tak cepat merespon dengan cerdas, malapetaka masa depan anak negeri kian kabur tak terperi.

Disinilah, urgensinya pendidikan sensibilitas dilakukan semenjak usia dini. Bila “… dimensi prarasional terbentuk baik, anak-anak akan mengembangkan karakter sedemikian rupa sehingga cenderung menyingkiri apa-apa yang kelihatan berlebih-lebihan, tidak lurus, dan tidak harmonis. Dengan menajamkan kesukaan mereka pada hal-hal yang indah dan baik, mereka akan siap berkembang menjadi kaloskagathos (elok dan baik)” (hlm. 85). Pendidikan sensibilitas, bagi Platon, dapat diolah lewat musik dan gimnastik. Bila hasratnya sudah terbentuk, dimungkinkan anak didik kala dewasa, dapat menemukan harmoni saat mengambil keputusan.

Pembentukan Jiwa

Harmonisitas jiwa manusia berjalan indah nan elok, bila aspek sensibilitasnya terbentuk dengan matang. Keugaharian jiwa memungkinkan manusia bersikap tepat mengurai persoalan hidupnya. Karenanya, “pembentukan sensibilitas (…) menjadikan (…) sikap-sikap ugahari (tahu batas dan tidak serakah), sikap berani (bukan sikap gagah-gagahan atau pengecut yang serba menjijikkan), sikap bijaksana (bukan sikap culas serba mengakali orang lain), dan sikap adil (bukannya sikap yang tidak jujur, penuh kebohongan, tipu-tipu demi keuntungan sendiri)” (hlm. 88-89). Sehingga, mengolah dimensi sensibilitas sejak usia dini memungkinkan hasratnya terbentuk. Harapannya, pada pendidikan tingkat lanjut, peserta didik telah siap diberikan kurikulum lanjutan berupa seni berdiskusi.

Di dalam kemampuan seni berdiskusi, perlunya dibedakan antara dialektika, yang akan mengarah pada idea (definisi), dengan mitos yang akan mengarah kepada logos (wacana). Definisi menawarkan cetak-biru (bentuk) pemikiran. Sedangkan wacana menyuguhkan cakrawala pemikiran. Bagi Platon, “(..), dialektika adalah proses progress of thought, kemajuan berpikir, lewat dialog di mana para mitra wicara maju pelan-pelan dari bayang-bayang sampai ke kontemplasi idea” (hlm. 131). Kemampuan berdialektika memungkinkan orang berpikir dan bertindak mandiri.

Dalam buku ini, A. Setyo Wibowo menuturkan bahwa, bagi Platon, menularkan jiwa seni, khususnya seni imitatif, merupakan juga hal yang urgen dilakukan oleh lembaga pendidikan. Begitu pentingnya seni imitatif, sampai Platon mengatakan, “bukankah kalian mengamati bahwa imitasi yang dilakukan sejak muda sampai dewasa, akan menempel menjadi kebiasaan (habit) dan menjadi kodrat sekunder orang tersebut sebagaimana tampak dalam gerak-gerik tubuhnya, cara berbicara, dan berpikirnya” (hlm. 79). Di sinilah, pembentukan jiwa, bagi Platon merupakan nyawa dari pendidikan. Jiwa bukanlah sesuatu, sebab jawaban tentang ‘sesuatu’ berangkat dari pertanyaan ‘apa’. Jiwa bisa dikenali lewat kemiripan. Dan, realitas kemiripan bisa ditunjuk dengan metafor.

Di samping seni imitatif, ternyata bagi Platon pemilihan jenis musik juga akan berpengaruh kepada pembentukan jiwa. Karena musik itu soal “lagu (melos) terdiri dari tiga hal, kata-kata (logos), intonasi (harmonia), dan ritme (ruthmos)” (hlm. 81). Ketiga hal tersebut, juga memungkinkan jiwa manusia menjumpai keharmonisan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya, bahwa karakter itu memungkinkan dibentuk dengan model imitatif. Ritme yang baik, yang itu berpengaruh kepada pembentukan jiwa adalah yang sederhana dan punya sifat keteraturan. Sebaliknya, ritme yang buruk cenderung ngawur dan sembarangan. Maka, hidup butuh keteraturan, sebab kesehatan dan keseimbangan hidup dibentuk oleh jiwa yang harmonis.

Maka, bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)” (hlm. 89). Sebab, mencintai musik memungkinkan jiwa manusia tergetar terus-menerus kepada wajah keindahan yang ranum dan senantiasa mengairahkan untuk ditatap sekaligus enigmatik bagi nalar. Rasa keinginan akan pengetahuan, yang merupakan watak khas nalar, terdorong terus-menerus oleh sebab tergetar dalam menyingkap cakrawala akan cinta pada keindahan.

Di samping musik, Platon juga memandang pentingnya pendidikan matematika. Sebab, matematika merupakan wilayah episteme, yakni “beroperasi dengan esensi-esensi konseptual yang diabstrakkan dari hal-hal inderawi” (hlm. 126). Bagi Platon, “(..) titik pusat pendidikan Matematika adalah mengajak orang menaruh perhatian pada yang abstrak yang tidak visible” (hlm. 127). Di sinilah, urgensinya pendidikan matematika. Bukan untuk matematika itu sendiri, melainkan visi yang ditawarkannya, yakni ketahanan seseorang menatap yang abstrak, yang tidak visible. Sebab keterjerumusan insan terdidik di negeri ini, terletak salah satunya, kepada kurangnya menaruh perhatian pada visi dari pendidikan matematika.

Sehingga, nalar seseorang terarah untuk mencintai kepada hal-hal yang tidak visible. Di samping, juga tentunya permenungan terhadap yang visible sebagaimana apa adanya. Sebab, kesadaran dalam rupa-rupa penampakan, memungkinkan ‘penemuan terhadap apanya’ realitas yang luput dari permenungan. Pertautan antara yang visible dan yang non-visible memungkinkan manusia menjumpai jiwa yang harmonis.

Serupa jagat raya ini, keugaharian jiwa memungkinkan tindakan mengarah pada yang baik, benar, dan indah, sekaligus, bonusnya, akan senantiasa berbahagia. Pemimpin adalah pengendali dari seluruh kesejahteraan suatu kelompok atau bangsa. Disebut pengendali sebab darinyalah, suatu bangsa menuju kesejahteraan atau mengarah pada kenestapaan. Buku ini mengulas dengan ranum, detail, dan tajam perihal tersebut.

Buku ini menawarkan gagasan revolusioner bagi arah baru paradigma pendidikan, terlebih lagi berguna bagi Indonesia. Di tengah gencarnya jargon revolusi mental era pemerintahan Jokowi, maka terbitnya buku ini, pada momentum yang tepat, di tengah benang kusut pendidikan yang rumit dan bernada suram. Buku ini, patut menjadi bahan pertimbangan, baik pemerhati juga pelaku dunia pendidikan maupun pemegang kebijakan.(AJ)

*) Ahmad Jauhari, Penulis Buku Homo Turbulen: Diskursus Perihal Religiositas,

Individualitas, dan Sosialitas (2019);

Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Books Review: Youth and Struggle to Control Power

mm

Published

on

the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Youth always has its own place in the journey of Indonesia as a nation state. This time, in the 2019 general election event, the number of young or millennial voters is estimated at 40 percent of the national vote. Therefore, many political parties offer programs that are more than “young people”.

It seemed good for young people, because political parties that had been filled with old people with abstract ideas, began to accommodate the needs of young people. However, what actually happens is that young people are only taken by political parties to get their votes in elections. In fact, there are political parties that claim to be a party of young people, but cannot show differentiation of ideology with other parties.

Pity? Of course! Because in the course of history, young people always play a major role in various fields. Young people are subjects, not objects. Meanwhile, if necessary, young people are willing to be supported by the status quo or ruler, because they maintain the values ​​of the struggle they believe in. Romanticism impressed and not in accordance with the spirit of the times? Every age does have its own children and enthusiasm, but more substance must be maintained and continue to be practiced.

Maybe the message the publisher of the Komunitas Bambu wanted to send when the book Students, Nationalism and Prison was published by John Ingleson’s. A book that reveals the struggle of the organization of the Dutch East Indies students in the Netherlands called the Association of Indonesia (PI) 1923-1928. Like many written in history books, PI is the first organization to formally use the name Indonesia.

The presence of a group of young people studying abroad is not a fate or something given by God for free. They can get education both at mother land and abroad, is an ethical political policy that was put in place 1901. At present politicians, Van Deventer in the Netherlands revealed practices that were not carried out by humane cultivation carried out by the colonial government. Therefore, the colonial government must return the favor by running an education, management and emigration program.

According to Ernest Henri, Philippe Baudet and Izaak, Johannes Brugmans (1987), the education program is actually intended to create indigenous workers who can be bought at low wages. With the presence of a group that feels Education, Robert Van Niel (2009) calls them the modern elite in Indonesia. Because before, said Van Niel, the outline of the development of the Indonesian elite was from the traditional, cosmologically oriented, and based on the modern elite which was oriented to the state of prosperity, based on education.

Modern elites who were destined to become laborers, turned out to get the awareness to be able to liberate themselves or at least demand equality of position between the citizens of the Dutch East Indies and the Netherlands. This awareness and equality is obtained directly by the Indonesian Association in the Netherlands, one thing they have never felt in their own country (page 3). Not surprisingly, the Indonesian Association places national unity, solidarity, non-cooperation, and self-reliance as the four main ideologies or the basis of struggle (page 15).

This ideology can be regarded as a statement of the attitude of rebellion by the Indonesian youth elite in opposing more moderate ideas from the national parties in Dutch Hinidia such as Budi Utomo and Sarekat Islam. Because, moderates will only fill the House of Representatives or the Volkskraad who have never been able to realize their struggle and alignments with the citizens of the Netherlands East Indies. In addition, the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45). However, the Indonesian Association did not fully agree with the PKI. There were differences in principles in determining how to achieve Indonesian independence between the PI and the PKI. All at once, the PKI leadership at that time declared the need for an organization to prepare a revolution with violence. Meanwhile, Hatta believed that the most important thing was to gradually educate the people and prepare them to become an independent nation. However, Hatta and Semaun signed a private convention, namely Semaun, agreeing that PI would lead the nationalist movement, promising cooperation and offering PKI printing tools for use by PI (page 62).

When the PKI resistance occurred in 1926, the convention documents were discovered by the Dutch and were used as evidence to arrest Hatta and other PI leaders because they were considered to be involved in the resistance of the PKI in 1926. However, the colonial government was defeated by Hatta. Post-trial, Hatta convinced the nationalist movement not to give up on fighting for Indonesian independence, even making his arrest a driver of struggle (page 98). The cause is that young people and especially educated people have moral and social responsibility to ordinary people. So, a diametrical position without compromise with power is a necessity to control power which always has the potential to be corrupt. As Soedjatmoko stated, youth and intellectuals must remain outside the government, apart from direct involvement in politics, to enable it to provide intellectual institutions and voluntary associations needed to ensure a balanced balance between the state and society. (*)

_______________

*) Virdika Rizky Utama: Researcher at Narasi. TV

Continue Reading

Buku

Books Review: Pemuda dan Perjuangan Mengontrol Kekuasaan

mm

Published

on

www.westernsydney.edu.au

Tak dapat dikesampingkan, Perhimpunan Indonesia merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Pemuda selalu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa. Kali ini, pada perhelatan pemlihan umum 2019, jumlah pemilih muda atau milenial diperkirakan 40 persen dari suara nasional. Oleh sebab itu, banyak partai politik yang menawarkan programnya yang lebih “anak muda”.

Hal itu terkesan baik bagi anak muda, sebab partai politik yang selama ini diisi oleh orang-orang tua dengan ide-ide abstrak, mulai mengakomodasi kebetuhan anak muda. Akan tetapi, yang terjadi sebenarnya adalah anak-anak muda hanya dijadikan objek oleh partai politik untuk mendapatkan suaranya dalam pemilu. Bahkan, ada sebuah partai politik yang mengklaim dirinya adalah partai anak muda, tapi tak bisa menunjukkan diferensiasi ideologi dengan partai lainnya.

Miris? Tentu saja! Sebab dalam perjalanan sejarah, anak muda selalu memainkan peran utama dalam berbagai bidang. Anak muda adalah subjek, bukan objek. Bahkan bila perlu anak muda rela dibui oleh status quo atau penguasa, karena mempertahankan nilai-nilai perjuangan yang mereka yakini. Terkesan romantisme dan tak sesuai dengan semangat zaman? Setiap zaman memang memiliki anak dan semangatnya sendiri, tapi setidaknya subtansi harus tetap dijaga dan terus dipraktikkan.

Mungkin pesan itu yang ingin disampaikan oleh penerbit Komunitas Bambu kala menerbitkan kembali buku Mahasiswa, Nasionalisme, dan Penjara karya John Ingleson. Sebuah buku yang mengungkap perjuangan sebuah organisasi anak rantau Hindia Belanda di Belanda bernama Perhimpunan Indonesia (PI) 1923—1928. Seperti banyak yang ditulis dalam buku sejarah, PI merupakan organisasi pertama yang menggunakan nama Indonesia secara formal.

Adanya sekolompok pemuda yang berkuliah di luar negeri bukan sebuah suratan takdir atau sesuatu yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma. Mereka dapat mengeyam Pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan akibat diberlakukannya politik etis 1901. Saat itu politisi Van Deventer di Belanda mengungkapkan praktik tidak manusiawi tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Oleh sebab itu, pemerintah kolonial harus membalas budi dengan menjalankan program edukasi, irigasi, dan emigrasi.

Menurut  Ernest Henri Philippe Baudet dan Izaak Johannes Brugmans (1987), program edukasi sebenarnya diperuntukkan untuk menciptakan buruh-buruh pribumi yang dapat dibayar dengan upah murah. Dengan adanya kelompok yang merasakan Pendidikan, Robert Van Niel (2009) menyebut mereka adalah elite modern di Indonesia.

Sebab sebelumnya, kata Van Niel, garis besar perkembangan elite Indonesia adalah dari yang bersifat tradisional, yang berorientasi kosmologis, dan berdasarkan keturunan kepada elite modern yang berorientasi kepada negara kemakmuran, berdasarkan pendidikan.

Elite modern yang diperuntukkan menjadi buruh, ternyata mendapatkan kesadaran untuk dapat memerdekakan diri atau paling tidak menuntut kesetaraan posisi antara warga Hindia Belanda dan Belanda. Kesadaran dan kesetaraan itu didapat langsung oleh Pehimpunan Indonesia di Belanda, satu hal yang tak pernah mereka rasakan di negeri sendiri (halaman 3). Tak mengherankan, apabila Perhimpunan Indonesia menempatkan kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi, dan swadaya sebagai empat ideologi utama atau dasar perjuangan (halaman 15).

Ideologi ini dapat dikatakan sebagai suatu pernyataan sikap pemberontakan oleh kelompok elite pemuda Indonesia dalam melawan ide-ide yang lebih moderat dari partai-partai nasional di Hinidia Belanda seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Sebab, kaum moderat hanya akan mengisi Dewan Perwakilan Rakyat atau Volkskraad yang tak pernah dapat merealisasikan perjuangan dan kebepihakannya kepada warga Hindia Belanda.

Selain itu, empat dasar perjuangan Perhimpunan Indonesia tersebut tak dapat dikesampingkan merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia tak sepenuhnya sepakat dengan PKI. Terdapat perbedaan prinsip dalam menentukan cara meraih kemerdekaan Indonesia antara PI dan PKI. Semaun, Pimpinan PKI saat itu menyatakan perlunya organisasi untuk menyiapkan sebuah revolusi dengan kekerasan. Sedangkan, Hatta meyakini bahwa hal terpenting adalah secara bertahap mendidik rakyat dan mempersiapkannya untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Namun, Hatta dan Semaun menandantangani konvensi  pribadi yakni Semaun setuju PI memimpin gerakan nasionalis, menjanjikan kerja sama dan menawarkan alat-alat percetakan PKI untuk dipakai PI (halaman 62).

Ketika terjadi perlawanan PKI 1926, dokumen konvensi itu ditemukan oleh Belanda dan dijadikan alat bukti untuk menangkap Hatta dan pimpinan PI lainnya karena dianggap terlibat perlawanan PKI 1926. Namun, pemerintah colonial kalah dipersidangan oleh Hatta. Pasca-persidangan, Hatta meyakinkan gerakan nasionalis untk tidak kapok memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bahkan menjadikan penangkapannya sebagai pendorong perjuangan (halaman 98).

Musababnya, pemuda dan terlebih orang terpelajar memiliki tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat biasa. Maka, berposisi diametral tanpa kompromi dengan kekuasaan merupakan sebuah keharusan untuk mengontrol kekuasaan yang selalu memiliki potensi untuk korup. Seperti yang diungkapkan Soedjatmoko, kaum (pemuda) dan intelektual harus tetap berada di luar pemerintahan, terlepas dari keterlibatan secara langsung dalam politik, untuk memungkinkannya memberikan asupan kepada lembaga-lembaga intelektual dan perhimpunan sukarela yang dibutuhkan guna menjamin neraca seimbang antara negara dan masyarakat.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading

Trending