Connect with us
Umbu Landu Umbu Landu

Interview

Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata

mm

Published

on

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi. Banyak yang salah kaprah pada puisi. Puisi, tutur Umbu, bukan cuma milik para penyair. Ia harus hidup di hati, kepala, dan lidah semua orang, termasuk para politisi. Bahkan, tambahnya mengutip Mochtar Pabottingi, rekan sejawatnya, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, melainkan membuat diri terhindar dari sakit jiwa. Kesalahan terbesar ”delegasi Senayan” (maksudnya: wakil rakyat), kata Umbu, tidak ada yang paham ”Gurindam 12” Raja Ali Haji. ”Sebab itulah dasar-dasar kecintaan, kejujuran, dan segala hal yang berhubungan dengan pengabdian,” kata Umbu.

Di tengah angin yang menderas, tiba-tiba muncul penyair Warih Wisatsana dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana. ”Wah, saya sudah tunggu-tunggu, saya sudah siapkan ini…,” sambut Umbu sambil mengulurkan sepucuk surat kepada Supadma Rudana. Keduanya, baru bertemu untuk pertama kali meski masing-masing sudah saling mengenal nama.

Pada masa 1960-an, Umbu dikenal dengan julukan ”Presiden Malioboro”. Ia tidak saja mengasuh rubrik budaya di mingguan Pelopor Yogyakarta, tetapi juga memelopori apresiasi sastra di emperan toko Jalan Malioboro Yogyakarta. ”Akademi” jalanan Malioboro ini kemudian melahirkan nama-nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sebutlah ”murid-murid” yang menonjol, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Ardhi Nugraha. Di situ juga ada nama-nama Agus Dermawan T dan Ebiet G Ade.

Anda dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan sastra, sampai-sampai jarang yang mengenal karya Anda. Kapan bikin buku?

Ah itu biarkan saja orang lain. Tugas saya sejak di Yogya sampai Bali selalu bikin taman. Taman kreativitas untuk menemukan orang-orang yang mencintai hidup.

Anda tidak risau dalam masa kepenyairan 50 tahun lebih belum juga memiliki sebuah antologi?

Sudah saya katakan, itu tugas orang lain. Tugas saya ya begini saja, jalani kehidupan sebagai pencinta sunyi. Gede Prama pernah menulis, sepi yang mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan yang luar biasa, sepi bukan berarti kosong, tetapi justru penuh geriap energi dalamnya.

Menurut Umbu, keberangkatannya pada usia relatif muda dari Sumba Timur ke Yogyakarta pada tahun 1960 untuk belajar di SMA Taman Siswa. ”Kata taman itu menancap di kepala saya. Sayang saya terlambat sehingga akhirnya sekolah di SMA Bopkri Kotabaru. Tetapi, malah di situ ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru yang tidak menggurui,” katanya.

Saat-saat mantan menteri peranan wanita pertama RI itu mengajar Bahasa Inggris, Umbu selalu menulis puisi. Ulah ”si pendiam” yang nakal itu membuat teman-temannya protes. ”Ibu tolong minta saja Umbu baca puisinya ke depan kelas. Dan Ibu Lasiyah selalu bilang, nanti saja kalau puisinya sudah dimuat di koran kita kritik ramai-ramai,” tutur Umbu mengulang kejadian di masa-masa awal kepenyairannya.

Mengapa Anda tidak seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, atau Rendra saja dalam menekuni dunia kepenyairan?

Saya cuma menjalankan apa yang sudah dituliskan langit.

Maksudnya?

Semua punya peran masing-masing. Kalau semua seperti Chairil atau Sutardji, mungkin dunia kepenyairan dan kebahasaan kita tumbuh lamban. Berbahasa Indonesia bukan sesuatu yang mudah bagi sekalangan orang Jawa dan Bali dan orang-orang yang bukan Melayu. Karena itulah, Sumpah Pemuda itu puisi mantra. Ia ibarat amarah suci sebuah angkatan… 17 tahun kemudian terbukti terjadi proklamasi.

Anda tadi menyinggung soal ”delegasi Senayan” apa yang terjadi di situ dalam kacamata Anda?

Kita sudah berjarak dengan bahasa sehingga semua menganggap rakyat itu bodoh. Ada ungkapan penting: kediamdirian rakyat adalah pelajaran bagi seorang raja. Kalau raja ingin tahu apa yang terjadi, dia harus turun kepada rakyat. Penyair Hartoyo Andangjaya bilang, kita adalah rakyat, darah di tubuh rakyat, debar sepanjang masa. Nah, mereka ini jenis yang tak tahu debar, tak tahu sejarah disusun dari darah.

Apa yang membuat Anda begitu mencintai puisi?

Lho… alfabet itu cuma terdiri atas 26 huruf saja. Tetapi, kata-kata adalah diksi dari nyawa. Makanya, kita percaya kepada Tuhan karena kata. Soebagio Sastrowardoyo (penyair) pernah menulis: Ini kata-kata, maka dari itu aku bersembunyi dalam kata dan menenggelamkan diri di dalam kata. Coba bayangkan kalau semua pejabat kita paham bahasa. Tantangan ke depan harus tampil apa adanya, jangan sibuk soal-soal pencitraan….

Totalitas Umbu

Umbu relatif tidak dicatat sebagai penyair dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak banyak dikenal karena memang ia jarang memublikasikannya. Tetapi, anehnya, semua seniman, setidaknya generasi 1960-an sampai 2000-an, mengaku pernah bersentuhan dengannya. Bahkan, penyair senior sekelas Taufik Ismail pun pernah menulis sajak berjudul Beri Daku Sumba. Ia menulis begini: //Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu…// Penyair-penyair kenamaan, seperti Rendra, Sutardji, Sapardi, apalagi Emha, Linus, dan Korrie, seperti ”haram” hukumnya kalau ke Bali dan tidak bertemu Umbu.

Emha Ainun Nadjib, sebagai ”murid kesayangan” bahkan berbilang tahun menunggu untuk memperkenalkan istrinya, Novia Kolopaking, kepada Umbu. Ketika suatu hari sekitar pertengahan tahun 1990-an akhirnya bertemu, Emha dan Novia ”sungkem” karena menganggap Umbu sebagai orangtua yang pantas dimintai restu atas pernikahan mereka.

Begitu banyak orang merasa ”harus” bertemu dengan Anda. Biasanya kalau sudah bertemu apa yang dipercakapkan?

Ya begitulah. Paling bercerita seputar kondisi kesehatan masing-masing kalau sudah tua begini, ha-ha-ha….

Tidak bicara sastra?

Terkadang saja ada yang bawa segepok puisi.

Kalau toh ada, apa sih tugas penyair atau puisi itu?

Puisi itu seperti memijat mata. Kalau sudah lihat puisi saya bisa tidur. Begitulah ha-ha-ha…. Tugas semua seni itu menunjukkan kelemahan kita. Soebagio bilang, apakah cita-cita, tak ada lagi cita-cita, tetapi ada barangkali, beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus sehingga aku terlontar…. Dan itulah bahasa. Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita. Kalau daun sudah menguning akan jatuh dengan sendirinya. Tidak bisa kita katakan, jangan jatuh dulu, hijau lagi. Itu namanya keikhlasan semesta. Jadi, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, sering kali lebai, tugas puisi mengingatkan.

Maaf saya harus tanyakan. Anda dicap sebagai sosok misterius, selain sulit ditemui, sampai kini pun tak jelas memiliki alamat rumah?

Lho kan sudah jelas, penyair itu berumah pada kata-kata, apalagi…? Saya berjalan ke semua kabupaten di Bali karena saya menemukan kata-kata tak pernah ingkar janji. Saya suka bermain pada wilayah kemustahilan….

Maksudnya?

Ya jalani saja hidup dengan seluruh simpanan totalitasmu.

Sejak bermukim di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia ”mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang dididiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.

Umbu praktis menjadi tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Hampir semua penyair ingin ”uji nyali” mengirimkan karya kepadanya. Sejatinya adalah salah satu sutradara penting pergerakan kesusastraan nasional. Tokoh-tokoh penting, seperti Rendra, Putu Wijaya, Sapardi, dan belakangan dari Emha, Linus, sampai Joko Pinurbo, pernah bersentuhan secara kreatif dengan Umbu.

Cuaca Pantai Sindu makin dingin. Samar-samar Pulau Nusa Penida tampak di seberang laut. Umbu mengeratkan lilitan syal di lehernya. ”Rupanya sudah waktunya permisi. Air laut makin naik…,” katanya.

Kami bergegas meninggalkan Sanur. Sebelum mencapai jalan raya, seekor kunang-kunang memotong jalanan….(Harian Kompas, Putu Fajar Arcana)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Simone de Beauvoir: “Mengapa Saya Seorang Feminis”

mm

Published

on

Di dalam Novel Simone de Beauvoir pada tahun 1945 berjudul The Blood of Others, si narator, Jean Blomart, bercerita tentang reaksi teman masa kecilnya Marcel ketika mendengar kata “Revolusi”:

Itu tidak masuk akal, mencoba untuk mengubah segalanya di dunia atau pun di dalam hidup; banyak hal yang cukup buruk sekali pun tidak dicampur. Segala sesuatu yang hati dan pikirannya telah mengutuk atas apapun yang telah ia pertahankan—ayahnya, pernikahan, kapitalisme. Karena salah satu letak kesalahannya tidak hanya dari sebuah institusi, tetapi dari dalam diri kita sendiri (mengada). Kita harus merenung di sebuah sudut dan membuat diri kita sekecil mungkin. Lebih baik untuk menerima segala sesuatu daripada membuat sebuah usaha tapi gagal, bahwa kita telah ditakdirkan dari awal untuk menghadapi kegagalan.

Fatalisme ketakutan dari Marcel merepresentasikan segala sesuatu yang De Beauvoir kutuk di dalam tulisannya, terutama dalam studi dasarnya pada tahun 1949, The Second Sex, yang sering digunakan sebagai teks dasar feminisme di gelombang kedua. De Beauvoir menolak gagasan bahwa perempuan ditundukkan secara alami di dalam sejarah—“di kedalaman diri kita”. Sebaliknya, Analisa De Beauvoir menyalahkan lembaga institusi yang dibela oleh Marcell: Patriarki, pernikahan, eksplioitasi kapitalisme.

Simone de Beauvoir, tampak menulis di dekat jendela kamarnya di paris, 1952. Image by: gisele-freund.

Dalam wawancara dengan jurnalis Perancis Jean-Louis Servan-Schreiber di tahun 1975—Mengapa aku feminis—De Beauvoir mengambil ide-ide dari The Second Sex, dimana Servan-Schreiber menyebut pentingnya sebuah “referensi ideologis” untuk kaum feminis. Seperti halnya “Capital” Marx untuk kaum komunis. Dia bertanya kepada De Beauvior tentang salah satu kutipan yang sering dikutip: “One is not born a woman, one becomes one.” Jawabannya menunjukkan seberapa jauh seorang Simone de Beauvoir sebagai seorang Pasca Anti Esensialisme modern, dan kemudian seberapa jauh seorang pemikir feminis berhutang atas gagasannya sendiri.

“Ya, formula tersebut merupakan dasar dari semua teori… itu artinya sangat sederhana, bahwa menjadi seorang perempuan bukan sebagai takdir yang alami. Hal tersebut merupakan hasil dari perjalanan sejarah. Tidak ada tujuan, baik secara biologi dan psikologi yang menjelaskan bahwa perempuan sebagai…bayi perempuan yang diproduksi untuk menjadi seorang perempuan.”

Tidak bisa dipungkiri jika memang ada perbedaan biologis, namun De Beauvoir menolak gagasan tentang perbedaan seks yang dinilai sudah cukup membenarkan hirarki berbasis status gender dan kekuatan sosial. Status kelas nomor dua bagi perempuan, dia berargumen, adalah hasil dari proses sejarah yang panjang; bahkan jika lembaga tidak lagi sengaja menghilangkan kekuasaan perempuan, mereka masih berniat untuk mempertahankan kekuasaan laki-laki secara historis.

Hampir 40 tahun setelah wawancara ini—setelah  lebih dari 60 tahun sejak diterbitkannya The Second Sex – perdebatan De Beauvoir mendorong kita untuk mulai merasakan kegusaran, yang akan terus berlangsung dan tidak akan terselesaikan dalam waktu dekat. Meskipun Servan-Schreiber menyebut feminisme sebagai “rising force” atau diartikan sebagai meningkatnya kekuatan yang menjanjikan adanya perubahan besar, namun orang-orang bertanya apakah De Beauvoir, yang meninggal dunia pada 1986, akan cemas dengan nasib perempuan di berbagai belahan dunia saat ini. Tapi sekali lagi, tidak seperti karakter Marcel, De Beauvoir adalah seorang pejuang, ia bukanlah seorang “penakut yang berdiri di pojok ruangan” dan menyerah.

Servan-Shreiber mengatakan bahwa De Beauvoir “selalu menolak, hingga tahun ini, untuk muncul di TV”, tapi ia keliru. Pada tahun 1967, De Beauvoir muncul dengan pasangannya Jean Paul Sartre pada sebuah program Televisi Perancis-Kanada bernama Dossiers. Anda tentu mengerti arti peristiwa ini? (*)

—————————-

Diterjemahkan oleh Gui Susan dari Simone de Beauvoir Explains “Why I’m a Feminist” in a Rare TV Interview (1975). Dieditori oleh Sabiq Carebesth.

Continue Reading

Editor's Choice

Satu-satunya Rekaman Virginia Woolf yang Bertahan

mm

Published

on

kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya.—Virginia Woolf

“Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris pada dasarnya penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang, berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menuliskannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.”

Begitulah rekaman dengan Virginia Woolf dimulai, pertama kali disiarkan oleh BBC pada 29 April 1937 sebagai bagian dari sebuah seri yang berjudul Words Fail Me. Hanya delapan menit dari rekaman aslinya yang tersisa dan ini diyakini sebagai satu-satunya rekaman yang bertahan dari penulis Inggris ini.

Untuk menandai ulangtahun kematian Woolf yang ke-75, BBC Culture dan BBC Britain telah mempersiapkan sebuah animasi untuk rekamannya, yang mana juga dijadikan sebuah esai dengan judul Craftmanship dan dipublikasikan sebagai bagian dari koleksi The Death of the Moth, and Other Essays. Pelukis animasi Phoebe Halstead terinspirasi oleh Woodcuts yang ditulis oleh saudari dari Woolf, Vanessa Bell untuk Hogarth Press.

Kami telah mengedit rekamannya hingga menjadi dua menit saja; transkrip utuhnya disertakan dibawah ini. Rekaman ini adalah sebuah petunjuk tentang bagaimana Woolf melihat kegiatan kepenulisan sekaligus sebuah kesempatan yang unik untuk mendengar suaranya.

“Kata-kata,” dia menyimpulkan, “menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Transkrip rekaman Virginia Woolf yang dipublikasikan BBC pada 1937:

Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris secara alami penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menulisakannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.

Sebagai contoh kata “incarnadine” yang sangat indah – siapa yang dapat menggunakannya tanpa harus mengingat “multitudinous seas?” Pada zaman dulu tentu saja ketika bahasa Inggris merupakan bahasa yang baru, penulis dapat menemukan kata-kata baru dan menggunakannya.

Pada masa sekarang cukup mudah untuk menemukan kata-kata baru-mereka bermekaran di bibir bilamana kita melihat sesuatu yang baru atau merasakan sebuah sensasi yang baru—tapi kita tidak dapat menggunakannya karena bahasa adalah hal yang begitu kuno. Anda tidak bisa menggunakan sebuah kata baru dalam bahasa yang kuno karena sesuatu yang sangat jelas namun juga sebuah fakta misterius bahwa:

Sebuah kata bukanlah entitas tunggal dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari kata-kata lain. Kata tidak akan benar-benar menjadi sebuah kata sampai ia menjadi bagian dari sebuah kalimat.

Kata-kata saling meliliki satu sama lain, meskipun tentu saja hanya seorang penulis besar yang tahu bahwa kata “incarnadine” dimiliki oleh “multitudinous sea”. Menggabungkan kata-kata baru dengan kata-kata lama adalah kesalahan fatal dalam konstitusi kalimatnya. Untuk dapat menggunakan kata-kata baru secara tepat kau harus menemukan sebuah bahasa baru; dan meski tiada keraguan bahwa kita akan sampai kesana, hal itu bukan merupakan tugas kita saat ini. Tugas kita adalah untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan bahasa Inggris sebagaimana adanya. Bagaimana kita bisa menggabungkan kata-kata lama di dalam aturan-aturan baru sehingga mereka bertahan, agar mereka menciptakan keindahan, agar mereka menceritakan kebenaran? Itulah pertanyaannya.

Dan orang yang dapat menjawab pertanyaan itu layak mendapatkan segala simbol keagungan yang bisa ditawarkan dunia ini. Pikirkan seberapa pentingnya jika Anda dapat mengajar, jika seorang dapat mempelajari hal ini; seni penulisan.

Virginia Woolf bersama ayahnya Sir Leslie Stephen/ Getty Image

Mengapa, tiap-tiap buku, tiap-tiap surat kabar akan memberitahukan kebenaran, meciptakan keindahan. Akan tetapi akan tampak bahwa ada rintangan di perjalanan, beberapa gangguan dalam pengajaran kata-kata. Meskipun pada saat ini setidaknya 100 profesor sedang mengajar literatur dari masa lampau, setidaknya seribu kritikus meninjau literatur masa kini, dan beratus-ratus pemuda dan pemudi melewati ujian literatur bahasa Inggris dengan nilai yang sangat baik, tetap saja ada pertanyaan mendasar: apakah kita menulis dengan lebih baik, apakah kita membaca dengan lebih baik ketimbang saat kita membaca dan menulis 400 tahun yang lalu ketika kita tidak menerima kuliah, tidak dikritik, tidak dididik? Apakah literatur Georgia kita merupakan tambalan bagi literatur zaman Elizabeth?

Lalu dimana kita harus menempatkan kesalahan itu? Bukan pada professor kita; bukan pada peninjau kita; bukan pada penulis-penulis kita; tetapi kata-kata. Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar. Tentu saja Anda bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus.

Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. JIka seorang inigin membuktikannya, coba bayangkan seberapa sering pada saat-saat emosional ketika kita sangat membutuhkan kata-kata kita tak menemukan apapun. Meskipun begitu, kamus itu ada; ada dalam benak kita setengah juta kata-kata, semua dalam urutan alpabet.

Akan tetapi dapatkah kita menggunakannya? Tidak, karena kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. Perhatikan kembali pada kamus. Disana tanpa keraguan terhampar pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih indah dari pertunjukkan Antony dan Cleopatra; puisi-puisi yang lebih memikat dari Ode to a Nightingale; novel-novel dimana selain Pride and Prejudice atau David Copperfield adalah kecerobohan yang parah dari para amatir. Ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang menemukan kata-kata yang tepat dan menempatkannya pada urutan yang tepat. Tetapi kita tidak dapat melakukannya karena mereka tidak hidup di dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Dan bagaimana mereka hidup di dalam pikiran? Dengan aneh dan beraneka ragam, selayaknya hidup manusia, dengan bertolak ke segala arah, dengan jatuh cinta, dan menyatu bersama. Benar adanya bahwa mereka lebih sedikit terikat dengan perayaan dan konvensi sebagaimana kita manusia. Kata-kata agung kerajaan menyatukan diri dengan kata-kata orang biasa. Kata-kata dalam bahasa Inggris kawin dengan kata-kata dalam bahasa Prancis, kata-kata dalam bahasa Jerman, kata-kata dalam bahasa India, kata-kata dalam bahasa Negro, jika mereka mempunyai sebuah ketertarikan. Tentu saja, semakin jarang kita menyelami masa lalu dari bahasa Ibu, bahasa Inggris kesayangan kita, itu akan lebih baik bagi reputasinya. Karena dia telah jauh mengembara.

Untuk itu menetapkan hukum apapun bagi pengembaraan yang tak tergantikan itu adalah hal yang lebih buruk dari kesia-siaan. Beberapa aturan tatabahasa dan ejaan yang tak penting adalah satu-satunya batasan yang bisa kita kenakan padanya. Satu-satunya yang bisa kita katakan tentangnya, selagi kita memandangnya dengan tajam melalui tepian gua besar yang dalam, gelap dan hanya sesekali diterangi tempat dimana mereka tinggal—di pikiran—apa yang bisa kita katakan tentangnya adalah bahwa tampaknya mereka menginginkan manusia untuk berpikir, dan merasa sebelum menggunakannya, bukan berpikir dan merasa tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lain.

Virginia Woolf, London_1939/ getty image

Mereka sangat sensitif, mudah sekali dibuat sadar akan dirinya. Mereka tidak suka kemurnian dan ketidakmurniannya didiskusikan. Jika Anda memulai sebuah perkumpulan untuk Bahasa Inggris Murni, mereka akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan memulai yang lain untuk bahasa Inggris tidak murni—sebab itu kekerasan yang tidak alamiah dari ungkapan yang lebih modern; itu adalah sebuah protes melawan puritan. Mereka juga sangat demokratis; mereka percaya bahwa satu kata sama baiknya dengan yang lain; kata-kata yang tak terdidik sama baiknya dengan kata-kata yang terdidik, kata-kata yang tak terolah selayaknya kata-kata yang terolah, tidak ada peringkat atau pangkat dalam perkumpulan mereka.

Tak juga mereka senang dinaikkan dalam tulisan dan diperiksa secara terpisah. Mereka melekat bersama, dalam kalimat-kalimat, dalam paragraf-paragraf, terkadang untuk seluruh halaman dalam satu waktu. Mereka benci menjadi berguna; mereka benci menghasilkan uang; mereka benci dikuliahi di muka umum. Singkatnya mereka membenci segala hal yang melekatkan mereka pada satu makna atau membatasi mereka dengan sikap tertentu, karena merupakan sifat dasar mereka untuk berubah.

Mungkin itu adalah keanenah mereka yang paling mencolok—kebutuhan mereka akan perubahan. Ini dikarenakan kebenaran yang ingin mereka tangkap mempunyai banyak sisi, dan mereka menyampaikannya dengan menjadikan diri mereka sendiri mempunyai banyak sisi, bergerak ke arah sini, lalu ke sana. Apa yang bermakna satu hal bagi seseorang, memiliki makna yang berbeda bagi orang lain; mereka tak terjelaskan dalam satu generasi, sederhana seperti ujung tombak bagi generasi berikutnya. Dan karena kompleksitas inilah mereka bertahan.

Mungkin salah satu alasan mengapa saat ini kita tidak memiliki seorang penulis puisi yang, novelis atau kritikus tulisan yang besar adalah karena kita menolak kebebasan dari kata-kata. Kita menempelkan mereka pada satu makna, makna yang membuat kita mengejar kereta, makna yang membuat kita lulus ujian. Dan ketika kata-kata ditempelkan ke suatu tempat, mereka melipat sayapnya dan mati.

Terakhir dan dengan sangat berempati, kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya;

tapi mereka juga ingin  kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…. Bahwa jeda diberikan, bahwa selubung kegelapan diturunkan, untuk menggoda kata-kata agar menyatu dalam salah satu perkawinan yang singkat itu, yang mana merupakan gambaran sempurna dan menghasilkan keindahan yang abadi. Tapi tidak- tak satu pun hal itu akan terjadi malam ini. Anak-anak malang itu sedang kehilangan kendali; tidak ingin menolong orang lain; tak patuh; tolol. Apa yang sedang mereka gumamkan itu? “Waktu sudah habis! Diam!”

————————————

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari BBC Culture—The Only Surviving Recording of Virginia Woolf— By Fiona Macdonald. Dieditori oleh Sabiq Carebesth. Hak Cipta Terjemahan pada Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Editor's Choice

Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez percaya bahwa pertemuan yang paling singkat sekali pun mempunyai daya untuk mengubah kita. Hidup di Paris pada akhir 1950an, dia mendapati Ernest Hemingway Boule Miche dan tanpa berpikir panjang dia berseru “Emming-way!”. Orang Amerika itu tidak menoleh, hanya mengangkat tangannya. Akan tetapi penulis muda Kolombia itu menginterpretasikan gestur tesebut sebagai sebuah berkat, sebuah persetujuan untuk melangkah terus dan pada akhirnya memberikan kita novel-novel paling berjaya di abad lalu.

Salah satu tema karya Marquez adalah cinta pada pandangan pertama: “Cinta adalah subjek yang paling penting dalam sejarah manusia. Sebagian mengatakan kematian. Aku kira bukan itu, karena semuanya terhubung dengan cinta.” Meskipun terhadap kisah romantisnya sendiri dia memilih membisu. Dia mengatakan kepada penulis biografinya Gerald Martin “dengan ekspresi bagaikan seseorang yang dengan seriusnya menutup rapat peti mati dia mengatakan “setiap orang mempunyai tiga kehdupan: kehidupan publik, kehidupan pribadi, dan kehidupan rahasia.” Saat Martin bertanya apakah Marquez akan memberinya akses pada dua kehidupan lainnya, dia menjawab: “Tidak, tak akan pernah.” Bilamana kehidupan rahasianya dapat ditemukan, dia mengisyaratkan, mereka berada di dalam buku-bukunya.

Inilah mengapa pertemuan singkat yang tergambar dalam koleksinya Strange Pilgrims layak ditilik kembali. Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” tentang sebuah pertemuan di Paris antara sang penulis dengan seorang perempuan Amerika Latin yang pada penghujung hari menjelma menjadi inspirasinya. Dimulai dengan deskripsi tak terlupakan berikut:

“Dia seorang yang cantik dan luwes dengan kulit indah sewarna roti dan bermata hijau serupa almon, dan dia memiliki rambut hitam lurus hingga mencapai bahu, dan sebuah aura antik yang mungkin saja berasal dari Indonesia atau dari Andean. Dia berpakaian dengan gaya yang halus: sebuah jaket lynx, blus sutra kasar dengan bunga-bunga indah, celana linen alami, dan sepatu dengan segaris berwarna bogenvil. Aku berpikir, ‘Ini adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui, ’ketika aku melihatnya berlalu dengan langkah hati-hati serupa seekor singa betina selagi kumenunggu di antrian check-in bandara Charles de Gaulle di Paris untuk penerbangan ke New York.”

Saya ingat membaca paragraf ini di tahun 1992 ketika bukunya diterbitkan dan saya diterpa pikiran yang mungkin sama dengan banyak orang lainnya, bahwa saya pun tak akan keberatan bertemu dengan kessempurnaan ini. Diluar dari yang lainnya, dia adalah penjelmaan dari setiap pahlawan wanita Marquez, tipe yang independen, tajam, namun sebenarnya perempuan tak berdosa yang kita temukan menyelinap dalam setiap karya fiksinya, bahkan dalam lembar-lembar novel terakhirnya Memories of My Melancholy Whores.

Lalu, pada musim panas tak lama setelah kematian Marquez, saya menerima sebuah surel dari seorang wanita yang tinggal di London. Dia tahu bahwa saya penggemar Marquez- dia telah membaca catatan pembuka yang saya tulis untuk Love in the Time of Cholera. Dia ingin menceritakan kepada saya tentang satu hari yang dia habiskan bersama sang pengarang dari Kolombia itu pada tahun 1990 di bandara Charles de Gaulle: Pengalaman yang dia percaya telah mengilhami kisahnya “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”.

Pada musim semi tahun 1990, Marquez yang berusia 63 tahun kembali ke Paris setelah lama menghilang. Dia telah mengerjakan kumpulan cerita pendek yang berlatar di Eropa sejak tahun 1976 tentang hal-hal aneh yang menimpa orang-orang Amerika Latin disana-yang menjadi satu-satunya buku karangannya yang tidak berlatar Amerika Latin.

Ide ini bermula dari sebuah mimpi yang ia dapatkan di Barcelona pada tahun 1970an dimana dia menghadiri pemakamannya sendiri.

Itu adalah kesempatan yang indah, dia menghabiskan waktu dengan teman-teman yang tidak pernah dia temui selama 15 tahun, tetapi saat semuanya hendak beranjak pergi, dia diberitahu bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang tidak boleh pergi.

Kisah ini mengeksplorasi tema penting lain dari karya-karya fiksi Marquez-yang liyan dalam diri kita sendiri- dan dia bermaksud menjadikannya bagian ketiga dari Strange Pilgrims. Dalam setiap kesempatan, dia tak pernah menulisnya, dan tempatnya akan digantikan dengan “Putri Tidur dan Pesawat Terbang.”

Marquez menorehkan mimpi di Barcelona dan beberapa ide lainnya dalam buku catatan anak-anaknya selama masa 1976 sampai dengan tahun 1982, saat dia berjanji untuk tidak menerbitkan apapun sebelum Pinochet jatuh dari kekuasaan, dan kini setelah sekian lama bermain-main dan menderita karena “keraguan selama sebelas tahun…Aku ingin memverifikasi ketepatan dari ingatanku setelah 20 tahun dan aku melakukan perjalanan singkat untuk membiasakan lagi diriku dengan Barcelona, Jenewa, Roma, dan Paris.”

Pada penghujung perjalanan itu di awal Oktober 1990, dia sedang menunggu di bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke New York ketika seorang perempuan Brazil yang menggairahkan berusia 26 tahun duduk di sebelahnya.

Silvana de Faria photographed at home in London/ Rick Pushinsky/ Newsweek

Bertemu Sang Putri Tidur

Perempuan yang datang terlambat hari ini di sebuah kafe di gerbang Notting Hale adalah seorang nenek berusia 50 tahun yang tinggal di London. Dari dalam tas tangannya Silvana de Faria mengeluarkan sebuah paspor dan gambar-gambar dirinya di majalah-majalah Prancis, sepenuhnya menyanjungkan deskripsi kecantikan dirinya. Dia mengatakan “Pada saat itu aku seorang aktris”, “Aku adalah ratu kejanggalan, dan salah satunya saat bersama dia.”

De Faria saat itu hidup tak bahagia di dekat Paris dengan seorang sutradara film Prancis, Gilles Behat yang dengannya dia mempunya seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Behat ternyata menyadari bahwa De Faria sangat tidak bahagia sehingga dia membiayai kedua orangtuanya untuk datang berkunjung dari Belem.  Pukul 9 pagi perempuan itu tiba di bandara untuk menunggu penerbangan dari Brazil.

Saat itu bulan terasa dingin pada pagi di bulan Oktober dan perempuan itu telah kehilangan berat badan paska kehamilannya. “Aku sangat kurus saat itu- 126 pon-dan aku khawatir dengan caraku berpakaian. Ibuku selalu mengkritikku karena bergaya terlalu provokatif… Itulah mengapa aku mengingat apa yang aku kenakan hari itu. Aku mengenakan sebuah jaket kulit, sebuah blus Kenzo berbunga-bunga, celana linen yang pucat, dan sepatu Kenzo berwarna merah dengan hak tipis-beberapa waktu kemudian aku memberikan semuanya ke lembaga amal Oxfam.

Tidak seperti biasanya, saat itu De Faria datang tepat waktu.  Dia berkata, “Aku berlari dan pergi menuju loket Air France untuk menanyakan penerbangannya.” Sebagaimana di dalam cerita, penerbangannya mengalami penundaan disebabkan cuaca buruk.

“Sekarang aku bisa santai. Baru kemudian aku sadar bandara itu penuh dengan manusia. Banyak yang tidur di atas lantai. Tidak ada tempat duduk dimana-mana- hanya ada satu dan aku duduk di atasnya. Aku bersyukur, aku menemukan satu-satunya tempat duduk di bandara!”.

Saat itulah perempuan itu menyadari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya, berusia sekitar 60 tahun, penampilannya menarik, elegan dalam balutan jaket wol, dengan rambut dan kumis yang tersisir rapi.

“Laki-laki itu berkata, ‘Hallo’. Dia memiliki senyum yang sangat indah. Aku terobsesi dengan gigi. Hal pertama yang aku lihat adalah giginya. Giginya putih dan sempurna. Aku dapat mencium nafasnya yang segar karena tempat duduk kami berdekatan.”

“’Hai,’ Aku menjawab.

“Dia melihat ke arahku, mempesona, malu-malu, dan menggoda. ‘Apa kau menunggu untuk perjalanan?’ dia bertanya dalam bahasa Prancis.

“‘Tidak, aku sedang menunggu orangtuaku.’

“‘Darimana kau berasal?’

“‘Acre di Brazil.

“‘Apakah itu dekat dengan Andes?’

“‘Tidak, itu di Amazon.’

“Dia sangat tersentuh bertemu dengan seorang asli Amerika Latin di Paris, yang lahir di hutan Amazon. Aku mengatakan: ‘Jika kau lahir di hutan, kau dapat bertahan dimanapun. Hidup di kota modern hanyalah jenis lain dari hutan.’ Lalu aku berkata: ‘Dan kau, apakah kau akan melakukan perjalanan atau kau sedang menunggu seseorang?’

“Dia tidak menjawab dan aku menghargai itu. Aku berpikir: Dia orang yang privat.

Bagaimanapun, perempuan itu memintanya untuk menjaga tasnya sementara dia membeli air mineral. “Saat aku kembali, aku menenggak sebuah pil, dan aku berkelakar bahwa aku seperti Elvis Presley dan aku menunjukkan pil-pilku, berkata betapa indah dan berwarnanya mereka adalah….. Pil untuk tidur, pil untuk terjaga, pil penghilang berat badan, pil untuk menaikkan berat badan, pil untuk bercinta, pil agar buang air besar, pil agar tidak buang air besar.

Dia tersenyum, “‘Mengapa begitu banyak?’

“Aku menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan mobil dimana aku hampir terbunuh, dan bagaimana dokterku memberikan obat-obatan untuk ‘menenangkanku’ dan bagaimana aku menjadi kecanduan, tapi aku hendak berhenti meminum pil-pilku karena orangtuaku datang untuk tinggal bersamaku. Lalu dia bertanya kenapa aku tinggal di Paris. Aku menjawab, ‘Kami orang Amerika Latin hanya bisa tinggal di Prancis ketika kami jatuh cinta.’

“‘Jatuh cinta pada Prancis?’

“Bukan, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya itulah satu-satunya cinta yang ada.’ Inilah yang dia tulis di dalam cerita! Dia menghisap kata-kataku. [Di dalam cerita Marquez bertanya kepada petugas check-in “apakah dia percaya pada cinta pada pandangan pertama.”] Saat aku membacanya, aku bergidik. ‘Kau tidak orisinil. Kau sama saja dengan semua penulis. Kau adalah seorang vampir!’

“Dia menanyakan apa pekerjaanku. Aku sadar bahwa dia memandangi rambutku, wajahku, tangan-tangan, dan tubuhku. Kukira dia akan mencoba membawaku makan malam dan ke tempat tidur. Aku sangat mencurigai laki-laki. Kau minum kopi bersama, lalu mereka berkata bahwa dia jatuh cinta padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku jika kita hanya sebatas meminum kopi?

“Aku katakan padanya: Kau pikir hanya karena aku seorang Brazil, aku adalah seorang pelacur di Bois de Bologne’- Aku paranoid tentang hal semacam ini karena pada waktu itu seseorang dari Brazil yang tinggal di Paris tidak mungkin seorang pelajar.

“‘Aku tidak mengatakan begitu!’

“Tapi kau memikirkannya. Aku bisa membaca pikiranmu.’“

Perempuan itu mengatakan padanya bahwa dia seorang aktris dan penyanyi, dan dia merasa dilema karena tidak menginginkan keduanya. “Aku ingin menjadi pelajar, tapi aku menemukan diriku di tengah-tengan bisnis pertunjukkan. Sesungguhnya aku tidak bisa bernyanyi, tapi orang-orang mengatakan aku bisa. Mereka berpikir aku aktris yang baik. Tapi aku bukan.”

Dia bertanya apakah perempuan itu mengenal Ruy Guerra, seorang sutradara Brazil.

Perempuan itu menjawab: “Aku baru saja menonton filmnya yang diambil dari cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. “Judulnya The Beautiful Pigeon Fancier, salah satu dari tiga film dari karya Marquez. “Aku satu-satunya orang di ruangan bioskop saat itu, sangat mengejutkan, di dalam sebuah ruangan di Champs Elysees pukul 2 sore dan aku membencinya.’

“Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan terlihat sedikit tidak nyaman, dan aku tak tahu mengapa. Aku berkata: ‘Lihatlah, filmnya dibuat di Paraty, sebuah tempat yang aku kenal. Lagipula, tidak mungkin untuk mengadaptasi karya Gabriel Garicia Marquez ke dalam sebuah film. Itu akan membutuhkan kejeniusan lain. Maaf jika kau tidak setuju denganku.’ “

Ketertarikannya pada De Faria meningkat dengan cepat. Perempuan itu berkata: “Awalnya aku mengira dia berpikir bahwa aku gila. Lalu dia ingin tahu darimana aku berasal, tentang keluargaku, dan aku menceritakan semua omong kosong yang ingin dia dengar.”

Silvana yang Sesungguhnya

Di dalam cerita Marquez tidak ada percakapan antara dirinya dan perempuan muda berciri khas Andean kuno itu, yang berpakaian bergaya Jepang dan tentang obat-obatan yang dia minum untuk membuatnya tertidur, dan yang ternyata akan menduduki kursi disebelahnya dalam delapan jam penerbangan sebelum perempuan itu menghilang di belantara New York.

Namun, dalam dimensi lain Marquez tahu semuanya tentang perempuan itu karena sebelum penerbangannya dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore mereka berbicara tanpa henti, “tetap menjaga kontak mata”, perempuan itu mengatakan, “yang mana penting bagiku.” Dan apa yang Silvana de Faria ungkapkan padanya selama itu, tanpa menyadari identitas sang pengarang hingga saat-saat terakhir adalah sebuah jaring yang memaksanya menulis tentang perempuan itu.

“Kupikir alasan mengapa dia dan aku menjadi banyak berbicara dan menjadi ‘dekat’ hari itu karena aku memberikan semua yang dia inginkan. Aku menjawab semua pertanyaan. Tanpa batasan.’

Perempuan itu lahir di Rio Branco, Acre, dia anak bungsu dari 10 bersaudara. Keluarga dari kedua orangtuanya berprofesi sebagai penanam karet. “Mereka menjadi kaya, kaya hingga mati. Pakaian mereka dicuci di Eropa karena sungainya terlalu gelap.”

Impiannya sejak berusia 7 tahun adalah pergi ke Paris. “Aku sadar satu-satunya jalan menuju Paris adalah melalui udara. Aku belajar tentang hukum di Belem dan kemudian mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di Varig, sebuah kantor penerbangan. Di penghujung tahun aku dapat membeli tiket seharga 10 persen dari harga aslinya. Lalu suatu hari aku mendapat telepon, ‘Aku adalah sekretarisnya John Boorman.’

“Siapa dia?”

“‘Dia seorang sutradara film yang sangat terkenal. Asistennya datang untuk membeli tiket padamu. Dia sedang mencari perempuan dengan wajah sepertimu.’ Dia sedang melakukan pengambilan gambar The Emerald Forest. Tapi pada hari terakhir dia berubah pikiran dan mengambil gadis lain, dan aku membenci gadis ini hingga akhir hidupku, hingga aku mempunyai oksigen. Aku tidak ingin menjadi aktris. Aku mengiginkan uang. Aku menangis.

“John Boorman mengatakan: Kenapa kau menginginkan peran ini?’ ‘Karena aku ingin pergi ke Paris.’ ‘Mengapa?’ ‘Untuk belajar.’ ‘Baiklah, aku akan memberikanmu peran kecil di film ini.’ Aku berada di dalam film itu selama sekejap saja, seorang ibu tulen dengan bayinya. Pada 11 Juli 1984 filmnya selesai. Pada 14 Juli 1984 hari dimana revolusi Prancis terjadi aku menginjakkan kakiku di Paris, Vive la revolution!”

Mendapatkan kursi di Sorborne untuk belajar sejarah De Faria menjadi model untuk membiayai hidupnya. Suatu hari dia ditemukan oleh pencari bakat untuk Yves Saint Laurent-dia mempunyai tampilan yang pas untuk penjualan ke Jepang. Apakah dia bisa bernyanyi? “Seperti panci penekan,” perempuan itu menjawab. Dia diundang untuk mengikuti audisi dengan ratusan orang lainnya. “Aku berhasil! Tapi aku bukan seorang penyanyi! Aku melakukan rekaman untuk Coeur Bongo. Kau bisa menontonnya di Youtube.” Direkam pada tahun 1988, Couer Bongo menampilkan De Faria sebagai singa betina kecil dalam cerita Marquez. Dia menandatangani kontrak untuk membuat lima album pop, dilatih untuk berakting, dan berhenti kuliah.

“Aku tidak pernah lulus dari Sorbornne. Itu adalah hal yang menyakitkan dalam hidupku.”

Ditambah dia bertemu Giles Behat. Sutradara film itu mendatangi mobil manajernya dimana dia duduk untuk mendengarkan sebuah soundtrack. “Kami memandang satu sama lain dan kami jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama!”

Hubungan mereka dipenuhi dengan kekerasan dan gairah. “Kami bertengkar parah karena cemburu.” Setelah dua tahun mereka pindah ke rumah yang lebih besar di Richarville sekitar 25 mil dari Paris dengan 12 anjing dan seekor burung beo karena De Faria merindukan Amazon. “Dia memberiku seekor burung beo dan menamainya-Antoine. Teman-temanku mengatakan: ‘Burung beo bukanlah Amazon, beo itu adalah kau. Kau tinggal di dalam sangkar.’ Itulah saat aku mulai bermain dengan obat-obatan.”

Perempuan itu menceritakan semua hal ini kepada Marquez.

Cinta pada Pandangan Pertama

“Setelah satu atau dua jam terasa seperti kami berada di sekolah dasar bersama, mencampurkan Portugis dengan Prancis dan Spanyol. Kami bercengkrama, membuat lelucon, tertawa. Saat itu aku tidak melihat seorang laki-laki tua.”

Bagi Marquez ini terlihat dalam tulisannya kemudian-“dalam delapan bulan yang menggetarkan…untuk menyelesaikan satu volume cerita yang paling mendekati dengan apa yang paling ingin kutulis”-dia melihat, seperti yang ditulisnya, “perempuan tercantik yang pernah kutemui’.

De Faria mengatakan, “Aku terkejut dan aku masih terus terkejut bahwa aku dapat mengingat percakapan kami.”

Cinta pada pandangan pertama, gairah, dan kebetulan-kebetulan, bioskop, nilai-nilai keluarga, Paris, bahkan zodiak-dalam tujuh jam, itu menjangkau seluruhnya. “Aku katakan padanya aku berbintang Leo dengan pengaruh Taurus. Itulah mengapa aku cukup kuat untuk berjuang hidup di Paris. Dia mengatakan terkadang dia berharap bahwa dia berbintang Taurus. Dan dia mengatakan itu di dalam ceritanya!” [“Sial,” Aku katakan pada diriku sendiri dengan penuh kehinaan. “Kenapa aku tak terlahir Taurus?”] Dia sendiri berbintang Pisces. “Aku mengatakan Pisces selalu bermimpi, selalu dalam suasana imaginasi, selalu berenang-dan aku membuat mulut menyerupai ikan yang membuatnya tertawa.”

Saat itu pukul 4 sore, “Aku merasa khawatir dengan penerbangan orangtuaku. Bagaimana jika pesawatnya menghilang? Kami mulai berbicara tentang kematian, tentang orang-orang yang sudah mati.

“Dia bertanya: ‘Apa yang kau pikirkan akan terjadi ketika kau mati?’

“‘Aku akan menjadi hantu, bebas, dan aku akan datang dan menakutimu. Tapi kenapa sejak awal kau hanya bertanya tentangku?’

“Dia mengatakan: ‘Apa yang kau pikirkan tentangku, dan kenapa aku bepergian?’

“‘Setahuku kau tengah berjalan-jalan ditubuhku, tapi aku tidak tahu dimana kau akan berhenti.’ Dia tertawa: ‘Aku terkejut dengan ketulusan yang datang dari mulutmu!’

Aku mengatakan, “Setidaknya aku tidak takut pada kata-kata’

“‘Aku seorang jurnalis.’

“‘Surat kabar yang mana?’

“‘Aku tidak bekerja untuk surat kabar.’“

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: ‘Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?’

“’Bagaimana gambarnya?’

“’ Laki-laki! Kalian semua sama. Semuanya adalah kesombongan.’

“Aku merasa malu dan sedih dan terkhianati. Aku sadar itulah mengapa dia tidak ingin berbicara tentang dirinya-karena dia tidak mengatakan satu patah kata pun, bahkan ketika kami berbicara tentang Ruy Guerra dan filmnya. Dia tidak mengatakan, ‘Aku menulis cerita dan naskahnya.’ Aku merasa bingung dan ingin pergi.

Pesawatnya telah mendarat, orangtuaku tiba. ‘Aku harus pergi.’ Tetapi dia menangkap lenganku dengan kuat dan menghentikanku. Dia meminta Filofax ku dan menulis di dalamnya.

“’Untukmu, aku Gabo. Ini alamat dan telepon, dan fax ku.’”

Perempuan itu memancing sebuah lembaran dari dalam tasnya dan disana dalam tinta merah: GABO. MEX. Fax 5686043 Tel 5682947. Ap Postal 20736. Mexico, 01000

“Dia mengatakan: “Kirimi aku surat,’ sambil melihat langsung kemataku.

“’Aku harus pergi!’

“Kau akan mengirimkannya kan?” Kemudian berkata: ‘Aku bahkan tak tahu siapa namamu!’

“’Apakah kau memberi tahu namamu? Kita menghabiskan sepanjang waktu ini bersama, kita kenal satu sama lain-dan kita tidak tahu nama masing-masing.’ Dan aku pergi.”

Setelah itu, De Faria mengatakan, dia langsung melupakannya. “Aku kehilangan kepercayaan dalam cara tertentu. Aku tidak pernah membaca bukunya lagi. Aku tidak pernah berhasrat untuk menelponnya atau menyuratinya.

“Lalu ketika dia meninggal, Aku menemukan cerita tentang bandara ini.”

“Dan saat kau membacanya?”, aku bertanya.

“Aku merasakan intonasi dan suaranya. Aku mempunyai perasaan bahwa dia melihat ke arahku, menatap. Aku merasakannya untuk beberapa menit, dia memberiku sebuah pesan.” (*)


Diterjemahkan oleh Marlina Sopiana, dieditori Sabiq Carebesth dari “Gabriel García Márquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself” By Nicholas Shakespeare. Pertama kali tayang di laman newseek.

 

Continue Reading

Trending