Connect with us
Umbu Landu Umbu Landu

Interview

Umbu Landu Paranggi Berumah dalam Kata-kata

mm

Published

on

Penyair selalu menempuh jalan sunyi dengan misi suci. Sunyilah yang menginspirasi untuk melahirkan buah berkah bagi kedalaman kemanusiaan. Percik permenungan yang dituliskannya adalah sari-sari dari kejujuran untuk membangun moralitas.

Umbu Wulang Landu Paranggi (69) masih seperti dulu. Cuma dalam dua pertemuan akhir Oktober 2012 di Denpasar, ia tampak lebih kurus. Tetapi, jelas, riak-riak kreativitas dan simpanan energi di dalam dirinya seperti empasan ombak Pantai Sindu, Sanur, tempat kami bertemu.

Umbu memilih Pantai Sanur bukan tanpa alasan. Cuaca malam hari di Sanur selalu penuh misteri. Gerak pepohonan, lorong-lorong desa, derit rumpun bambu, kunang-kunang di belukar liar, serta kerlap-kerlip bintang di kejauhan seakan berpadu dengan gemuruh ombak sepanjang pantai. ”Sanur masih saja mistis…,” kata penyair yang sudah lebih dari 50 tahun mengabdikan dirinya pada puisi. Banyak yang salah kaprah pada puisi. Puisi, tutur Umbu, bukan cuma milik para penyair. Ia harus hidup di hati, kepala, dan lidah semua orang, termasuk para politisi. Bahkan, tambahnya mengutip Mochtar Pabottingi, rekan sejawatnya, menulis puisi bukan untuk menjadi penyair, melainkan membuat diri terhindar dari sakit jiwa. Kesalahan terbesar ”delegasi Senayan” (maksudnya: wakil rakyat), kata Umbu, tidak ada yang paham ”Gurindam 12” Raja Ali Haji. ”Sebab itulah dasar-dasar kecintaan, kejujuran, dan segala hal yang berhubungan dengan pengabdian,” kata Umbu.

Di tengah angin yang menderas, tiba-tiba muncul penyair Warih Wisatsana dan Ketua Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana. ”Wah, saya sudah tunggu-tunggu, saya sudah siapkan ini…,” sambut Umbu sambil mengulurkan sepucuk surat kepada Supadma Rudana. Keduanya, baru bertemu untuk pertama kali meski masing-masing sudah saling mengenal nama.

Pada masa 1960-an, Umbu dikenal dengan julukan ”Presiden Malioboro”. Ia tidak saja mengasuh rubrik budaya di mingguan Pelopor Yogyakarta, tetapi juga memelopori apresiasi sastra di emperan toko Jalan Malioboro Yogyakarta. ”Akademi” jalanan Malioboro ini kemudian melahirkan nama-nama besar dalam sejarah sastra Indonesia. Sebutlah ”murid-murid” yang menonjol, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG, Korrie Layun Rampan, dan Yudistira Ardhi Nugraha. Di situ juga ada nama-nama Agus Dermawan T dan Ebiet G Ade.

Anda dikenal sebagai pelopor dalam perkembangan sastra, sampai-sampai jarang yang mengenal karya Anda. Kapan bikin buku?

Ah itu biarkan saja orang lain. Tugas saya sejak di Yogya sampai Bali selalu bikin taman. Taman kreativitas untuk menemukan orang-orang yang mencintai hidup.

Anda tidak risau dalam masa kepenyairan 50 tahun lebih belum juga memiliki sebuah antologi?

Sudah saya katakan, itu tugas orang lain. Tugas saya ya begini saja, jalani kehidupan sebagai pencinta sunyi. Gede Prama pernah menulis, sepi yang mengilhami, ketika dia membahas soal Nyepi di Bali. Itu rumusan yang luar biasa, sepi bukan berarti kosong, tetapi justru penuh geriap energi dalamnya.

Menurut Umbu, keberangkatannya pada usia relatif muda dari Sumba Timur ke Yogyakarta pada tahun 1960 untuk belajar di SMA Taman Siswa. ”Kata taman itu menancap di kepala saya. Sayang saya terlambat sehingga akhirnya sekolah di SMA Bopkri Kotabaru. Tetapi, malah di situ ketemu Ibu Lasiyah Soetanto, guru yang tidak menggurui,” katanya.

Saat-saat mantan menteri peranan wanita pertama RI itu mengajar Bahasa Inggris, Umbu selalu menulis puisi. Ulah ”si pendiam” yang nakal itu membuat teman-temannya protes. ”Ibu tolong minta saja Umbu baca puisinya ke depan kelas. Dan Ibu Lasiyah selalu bilang, nanti saja kalau puisinya sudah dimuat di koran kita kritik ramai-ramai,” tutur Umbu mengulang kejadian di masa-masa awal kepenyairannya.

Mengapa Anda tidak seperti Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, atau Rendra saja dalam menekuni dunia kepenyairan?

Saya cuma menjalankan apa yang sudah dituliskan langit.

Maksudnya?

Semua punya peran masing-masing. Kalau semua seperti Chairil atau Sutardji, mungkin dunia kepenyairan dan kebahasaan kita tumbuh lamban. Berbahasa Indonesia bukan sesuatu yang mudah bagi sekalangan orang Jawa dan Bali dan orang-orang yang bukan Melayu. Karena itulah, Sumpah Pemuda itu puisi mantra. Ia ibarat amarah suci sebuah angkatan… 17 tahun kemudian terbukti terjadi proklamasi.

Anda tadi menyinggung soal ”delegasi Senayan” apa yang terjadi di situ dalam kacamata Anda?

Kita sudah berjarak dengan bahasa sehingga semua menganggap rakyat itu bodoh. Ada ungkapan penting: kediamdirian rakyat adalah pelajaran bagi seorang raja. Kalau raja ingin tahu apa yang terjadi, dia harus turun kepada rakyat. Penyair Hartoyo Andangjaya bilang, kita adalah rakyat, darah di tubuh rakyat, debar sepanjang masa. Nah, mereka ini jenis yang tak tahu debar, tak tahu sejarah disusun dari darah.

Apa yang membuat Anda begitu mencintai puisi?

Lho… alfabet itu cuma terdiri atas 26 huruf saja. Tetapi, kata-kata adalah diksi dari nyawa. Makanya, kita percaya kepada Tuhan karena kata. Soebagio Sastrowardoyo (penyair) pernah menulis: Ini kata-kata, maka dari itu aku bersembunyi dalam kata dan menenggelamkan diri di dalam kata. Coba bayangkan kalau semua pejabat kita paham bahasa. Tantangan ke depan harus tampil apa adanya, jangan sibuk soal-soal pencitraan….

Totalitas Umbu

Umbu relatif tidak dicatat sebagai penyair dalam sejarah sastra Indonesia. Karya-karyanya tidak banyak dikenal karena memang ia jarang memublikasikannya. Tetapi, anehnya, semua seniman, setidaknya generasi 1960-an sampai 2000-an, mengaku pernah bersentuhan dengannya. Bahkan, penyair senior sekelas Taufik Ismail pun pernah menulis sajak berjudul Beri Daku Sumba. Ia menulis begini: //Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu/Aneh, aku jadi ingat pada Umbu…// Penyair-penyair kenamaan, seperti Rendra, Sutardji, Sapardi, apalagi Emha, Linus, dan Korrie, seperti ”haram” hukumnya kalau ke Bali dan tidak bertemu Umbu.

Emha Ainun Nadjib, sebagai ”murid kesayangan” bahkan berbilang tahun menunggu untuk memperkenalkan istrinya, Novia Kolopaking, kepada Umbu. Ketika suatu hari sekitar pertengahan tahun 1990-an akhirnya bertemu, Emha dan Novia ”sungkem” karena menganggap Umbu sebagai orangtua yang pantas dimintai restu atas pernikahan mereka.

Begitu banyak orang merasa ”harus” bertemu dengan Anda. Biasanya kalau sudah bertemu apa yang dipercakapkan?

Ya begitulah. Paling bercerita seputar kondisi kesehatan masing-masing kalau sudah tua begini, ha-ha-ha….

Tidak bicara sastra?

Terkadang saja ada yang bawa segepok puisi.

Kalau toh ada, apa sih tugas penyair atau puisi itu?

Puisi itu seperti memijat mata. Kalau sudah lihat puisi saya bisa tidur. Begitulah ha-ha-ha…. Tugas semua seni itu menunjukkan kelemahan kita. Soebagio bilang, apakah cita-cita, tak ada lagi cita-cita, tetapi ada barangkali, beri aku satu kata puisi daripada seribu rumus sehingga aku terlontar…. Dan itulah bahasa. Seni itu sangkan paraning dumadi, mempertanyakan kembali kedirian kita. Kalau daun sudah menguning akan jatuh dengan sendirinya. Tidak bisa kita katakan, jangan jatuh dulu, hijau lagi. Itu namanya keikhlasan semesta. Jadi, seni juga mengajarkan rendah hati, tetapi matang dalam pertimbangan. Bangsa kita bangsa pelupa, lalai, sering kali lebai, tugas puisi mengingatkan.

Maaf saya harus tanyakan. Anda dicap sebagai sosok misterius, selain sulit ditemui, sampai kini pun tak jelas memiliki alamat rumah?

Lho kan sudah jelas, penyair itu berumah pada kata-kata, apalagi…? Saya berjalan ke semua kabupaten di Bali karena saya menemukan kata-kata tak pernah ingkar janji. Saya suka bermain pada wilayah kemustahilan….

Maksudnya?

Ya jalani saja hidup dengan seluruh simpanan totalitasmu.

Sejak bermukim di Yogyakarta, lalu pindah ke Bali, Umbu menjadi satu-satu pengabdi puisi paling setia. Ia ”mengorbankan” semua kesenangan hidup pribadinya dengan menjalani hidup seorang diri, jauh dari sanak keluarga, jauh dari komunitas yang dididiknya. Tetapi, dalam kesendirian itu, ia tak sungkan mengunjungi para penyair muda atau seorang seniman yang sedang sakit.

Umbu praktis menjadi tokoh penting yang berada di balik layar kemunculan para sastrawan Indonesia sejak generasi 1960-an sampai 2000-an. Hampir semua penyair ingin ”uji nyali” mengirimkan karya kepadanya. Sejatinya adalah salah satu sutradara penting pergerakan kesusastraan nasional. Tokoh-tokoh penting, seperti Rendra, Putu Wijaya, Sapardi, dan belakangan dari Emha, Linus, sampai Joko Pinurbo, pernah bersentuhan secara kreatif dengan Umbu.

Cuaca Pantai Sindu makin dingin. Samar-samar Pulau Nusa Penida tampak di seberang laut. Umbu mengeratkan lilitan syal di lehernya. ”Rupanya sudah waktunya permisi. Air laut makin naik…,” katanya.

Kami bergegas meninggalkan Sanur. Sebelum mencapai jalan raya, seekor kunang-kunang memotong jalanan….(Harian Kompas, Putu Fajar Arcana)

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Italo Calvino: Sebuah Memoar

mm

Published

on

featured image by https://www.telegraph.co.uk

Aku dan Italo Calvino berbagi lanskap: daerah pesisir Italia dari Genoa hingga Menton, di perbatasan Prancis. Kami berbagi bebatuan yang jatuh dengan curam menuju laut, bukit-bukit yang diselimuti oleh cemara dan pohon-pohon zaitun, rumpun tanaman berbunga kuning di musim dingin, buah-buah pertama dari truk perkebunan dan bunga-bunga dari biji yang bermekaran, kepiting-kepiting, kue paskah-dan kemudian, tepat di belakang pohon-pohon zaitun, petak-petak tanah liat yang tandus dan deretan pegunungan Appenini yang misterius. Dan segera setelah kami melewati gerbang-gerbang kota, di situlah gunung Fasce, petak-petak kecil di bukit-bukit berbatu yang gersang dimana para petani (pensiunan kapten kapal, para pelaut, para mandor kapal yang sudah tua tetapi juga pengacara-pengacara yang dipulangkan dari Argentina) membuat bangunan kecil, dengan dinding-dinding batu yang kering, mengambil air dari yang tak diketahui entah darimana sumbernya, dan kemudian, sebagai hobi, menanam sedikit tomat, buncis dan labu. Semuanya dalam jumlah kecil, terbatas, diambil dari sumber yang minim, melalui kecerdasan yang diasah oleh kekurangan sumber daya.

Aku dan Calvino sama-sama memiliki beberapa bidang tanah itu-miliknya, kukira lebih besar-dan berkali-kali ketika kami masih muda, kami berbincang tentang satu sudut di Liguria itu dengan kecintaan yang dimiliki seseorang untuk rumahnya. Tidaklah mungkin untuk memahami Calvino tanpa membayangkan lanskap ini, kecintaan untuk hal-hal kecil ini. Itu adalah kekayaan sesungguhnya yang dia miliki. Secara bertahap, setelah tahun-tahun berlalu, dia semakin menyukai cerpen, sajak prosa, perumpaan moral, kisah metafisik, caprice, miniatur, exvoto. Mungkin “bentuk-bentuk kecil” itu-dari Petrarch hingga Operette Morali karya Leopardi-telah mengkonstitusi esensi dari kecerdasan luar biasa orang Italia ini: digambarkan dengan tajam, terkonsentrasi, abstrak, terealisasikan dengan penghematan paling canggih dari sumber-sumber yang ada dan berlimpah gaung makna. Seperti penyair besar Persia, yang mengkonstruksi syair-syair luar biasa dengan memasangkan bersama kisah-kisah kecil yang tak terlihat, Calvino telah mempelajari seni menjalin plot cerita dan refleksinya; “bentuk-bentuk kecil” itu menerangi satu sama lain, menawarkan kiasan-kiasan dan perspektif dan tidak tetap, rancangan-rancangan bangunan yang tak terhingga. Aku tidak tahu apa yang mungkin akan dia tulis di masa depan yang sirna itu, tapi aku selalu membayangkan bahwa dengan kelenturan dan kecerdasan tangannya, menggunakan batu-batuan kecil berwarna miliknya, dia mungkin saja menggubah kisah-kisah kosmogoni dan kosmologi.

*

Ketika aku bertemu dengannya dia berusia dua puluh empat tahun, dan kapanpun aku berpikir tentangnya sebagaimana dia waktu itu, aku tersenyum. Dia menawan. Dia berjalan menelusuri jalan-jalan Turin yang kelabu, berpakaian seperti seorang imigran dari Haiti atau Santo Domingo dengan sandal dan sweter-sweter berwarna di pertengahan musim gugur atau pada awal musim dingin. Dia pemalu, seperti seorang bocah laki-laki dari daerah yang baru saja pindah ke kota besar. Dia memiliki kecenderungan inferioritas yang didorong oleh kehidupan keluarga yang eksentrik; dari waktu ke waktu kejengkelannya, sebuah perubahan retoris nada dalam suaranya seperti mengejek, gerakan tangannya mengingatkan pada sebuah fakta bahwa dia bukan termasuk orang Liguria asli Eugeno Montale tetapi merupakan bagian dari orang-orang Liguria yang penggila mitologi, periang, tukang gosip dan ahli kebatinan di bagian pesisir yang lain.  Apa yang membuatku terpesona dari segala hal adalah kecepatan dan keringanannya. Dia memiliki tatapan yang segar dan luar biasa tajam, pikiran yang tangkas, kecintaan pada garis lurus, sebuah kemampuan yang elegan sebagai seorang pengarah gaya. Tinggal di Turin, yang menggambarkan dirinya sendiri stoic dan geometris, dia telah membuatkan dirinya sendiri sebuah baju zirah stoic, dan dari balik lapisan baja ini, yang digosok hingga bersinar, dia mengamati pertunjukkan besar di bumi, selalu dari suatu kemiringan, atau dari ketinggian burung yang bersenandung dan hutan lebat yang suatu kali pernah menyelimuti Eropa.

Italo Calvino

Dia sangat lucu. Banyak kesempatan aku tertawa dengannya. Banyak pula kesempatan dimana aku dengan perasaan kasih menertawakannya. Dia seringkali jatuh cinta, atau berpikir bahwa dia jatuh cinta, atau berpura-pura untuk jatuh cinta. Hampir selalu, mengikutsertakan diri mereka sendiri, putri-putri Bogus yang mengajarinya tentang tatakrama yang baik (meskipun tatakramanya sudah lebih baik dari mereka), memaksanya untuk pergi ke restoran-restoran mahal dan meminum Veuve Cloquot meskipun dia miskin dan kikir. Dia mengagumi mereka dan menderita setiap kali mendengar tentang kemewahan, kebenaran-kebenaran yang berputar turun dari atas. Hingga suatu hari dia mengerti bahwa dia telah menyia-nyiakan hatinya dan waktunya dan secara tiba-tiba dia melarikan diri. Dia tiba di Roma dengan aura yang ketakutan di matanya, menginap di hotel-hotel yang tidak dikenal, tidak memberikan nomor teleponnya kepada siapa pun….sementara para putri dari Bogus mengejarnya ke penjuru Italia dengan sebuah pistol di tas tangannya, membacakan keras-keras kepada rekan-rekannya dalam nada mendengkur seperti seekor merpati yang tertohok tiga ribu surat cinta yang dituliskan untuknya.

 Aku selalu penasaran apakah Calvino memiliki perasaan. Sudah pasti dia adalah salah satu lelaki paling setia yang kukenal-setia pada teman-temannya dan pada penerbit yang terkadang tidak pantas menerima kesetiannya. Dia tidak pernah senang membicarakan psikologi. Karakter-karakter orang dan penggambaran tidak menarik baginya.

Penilaiannya pada orang lain ksar dan singkat saja: mereka pintar atau bodoh, menulis buku-buku bagus atau buku-buku jelek; segalanya hal di dalam novel yang menjadikannya penting atau konflik psikologis tidak menarik minatnya. Dia tidak mempercayai emosi; dalam kekacaubalauan hati manusia selalu ada sesuatu yang mungkin mengenai dan melukainya. Aku yakin bahwa terkadang dia berpikir untuk menukar jantung-organ yang kasar itu-dengan hal lain yang akan dia temukan melalui investigasi-investigasi cerdiknya, sebuah organ yang tak kalah bergairah dan murni, tetapi terbuat dari bahan kristal, seumpama sebuah kebenaran matematika.

Aku juga penasaran apakah dibalik kernyit dalam yang bergalur-galur di antara alisnya dia memiliki sebuah ego. Aku tidak pernah mengenal orang lain yang begitu tidak agresif dalam kesehariannya. Dia selalu mencoba untuk membenarkan, untuk memahami, untuk menetralkan sindiran-sindiran. Selama masa-masa pendewasaan dengan penuh kebijaksanaan, elegan dan meremehkan dia seperti menghilang dari dunia seolah “Aku” telah mengusirnya. Dalam buku terakhirnya dia mengungkapkan sebuah kepanikan yang hampir obsesif tentang keberadaan; sementara dia mencoba melipatgandakan dirinya bagaikan tokoh dalam dongeng, dia melarikan diri dari dirinya sendiri. Bilamana, sesekali dia terlihat seperti mempertahankan ke”Aku”annya, itu   arena dia telah mengambil risiko kehilangan dirinya sendiri dalam labirin cermin-cermin. Pada akhirnya, sebagaimana yang terjadi pada banyak penulis-penulis besar, dia menjadi mahluk kolektif-jenis yang menerima apapun; tak pasti, kebingungan, gelisah, rentan terhadap pengaruh sekecil apapun dari sekelilingnya, dibuat bingung oleh dinding-dinding rumahnya, dan bermacam refleksi: penguasa dari kerajaan yang hanya terdiri dari bayangan-bayangan.

Saat pertama kali aku bertemu Calvino, dia mengenal sedikit buku. Pada masa itu orang-orang mulai membaca Robert Musil, Nabokov, Dylan Thomas, Carlo Emilio Gadda, Boris Pasternak: bunga terakhir dari perkembangan literature Barat. Calvino tidak menyukai Musil, Nabokov, Gadda, tidak juga Dr. Zhivago atau pun Under Milk Wood. Seperti Jendral Stumm von Bordwehr, dia merasakan keberadaan musuh dimana pun: bahaya dari kekosongan, labirin itu, lautan objektivitas;

dia mempelajari banyak garis pertempuran, manuver-manuver pertahanan dan pengepungan, menggali parit-parit, memasang pagar kawat berduri, menyebarkan prajurit-prajuritnya yang lemah dalam seragam dan topi kecil berwarna. Aku menjadi terganggu dengannya. Tetapi aku keliru. Calvino bukan seorang kritikus. Dia tidak dalam kewajiban apa pun untuk menjadi objektif tentang siapapun. Tugas utamanya hanya untuk mempertahankan dunianya yang sangat menyenangkan yang terbuat dari kertas tisu dan cahaya-cahaya lembut.

Apa yang terjadi setelahnya aku tak yakin bagaimana cara untuk menceritakannya kembali. Dalam beberapa tahun penulis kecil menawan yang telah membayangkan “Our Anchestors” menjadi pembawa narasi utama Italia di abad dua puluh yang akan datang. Ini merupakan metamorfosis yang panjang yang berjalan hampir tak disadari, dalam lobaratorium khayalan dari literatur eksperimental. Bacaannya menjadi semakin dewasa. Sekarang dia membaca Musil dan Paul Valery-tepatnya buku-buku yang sewaktu muda dia benci-dan Petrarch, Kafka, Proust, Eugenio Montale, yang pada suatu masa, dengan terdistraksi dan tak mau ambil pusing, dia lewati. Semua yang dia baca, bahkan hal-hal yang paling tidak berhubungan, memasuki aliran darahnya. Pada saat ini dia semata-mata literatur; seorang sastrawan sebagaimana layaknya seorang yag beriman atau seorang pebisnis, dan meskipun begitu dengan kewajaran yang sama layaknya pohon-pohon cemara yang tinggi di halaman rumahnya menghisap nutrisi dari tanah dan menyebarkannya kesuluruh cabang yang ada pada dirinya.

Lanskapnya berubah. Jika saat dia tinggal di Paris dia seperti seorang alien, atau di Roma seperti tamu, saat ini rumah sesungguhnya baginya adalah rumpun cemara di Roccamare, dekat Castiglione della Pecasia, yang dalam cara pandang tertentu merupakan pengulangan dari lanskap alam Liguria di masa mudanya. Disini pun, semuanya serba terbatas; sebidang pasir terserak diantara dua daratan yang menjorok ke laut, serumpun cemara, sebuah taman kecil dimana semuanya terlihat seperti dibuat dalam skala lebih kecil. Dia menulis di tempat yang tinggi di rumahnya, sebuah ruang kerja yang kecil yang dapat dicapai dengan sebuah tangga kecil yang sangat berbahaya, bagaikan dalam sebuah aerial kandang ayam atau sarang merpati. Dibawah kakinya, istrinya berbincang dengan teman-temannya atau para pembantu rumah tangga. Tukang antar barang datang dan pergi, teman-teman tiba; dia terus saja menulis, terbenam dalam kebisingan kehidupan, menjaga rumah itu seperti seekor bangau. Meskipun dia tak pernah mengatakan tidak untuk hal apapun, pada saat ini dia sudah sangat dalam menjauhkan dirinya dari realitas, terbungkus dalam dunianya yang terbuat dari bayangan-bayangan lemah. Di antara dirinya dan orang lain, dia menempatkan isitinya; istrinya dharapkan dapat memberitahunya tentang semua hal; seperti apa wajah-wajah orang lain, apa yang terjadi di rumpun-rumpun cemara, bayangan-bayangan yang dihasilkan pepohonan, wewangian apa yang menyebrangi padang rumput, apa rasa dari makanan-makanan itu, bunyi-bunyian musik. Di atas sana seperti seekor lebah dia menerima madu yang dikumpulkan oleh istrinya dan menyimpannya di dalam sarang halus di pikirannya.

 Pikirannya menjadi yang paling kompleks, membungkus, pikiran paling berliku-liku yang pernah dimiliki oleh penulis Italia manapun. Menulis, bagi Calvino, berarti menggerakkan ide-ide-karena, seperti Proust mengatakan, mengutip Leonardo, literatur adalah sebuah persoalan mental.

Akan tetapi jatuh pada sebuah ide terasa seperti mencelupkan diri ke dalam sebuah jurang yang amat dalam, sebuah kekuatan merusak yang tak terhingga. Setiap kali dia lari dari bahaya perasaan kewalahan. Tak ada apapun yang pasti-hanya sebuah hipotesis dalam pencarian makna: sebuah hipotesis yang berkembang menjadi dugaan-dugaan baru, kemungkinan lebih jauh yang seringkali berakhir pada ketidakmungkinan. Jika pada suatu masa dia menyukai kekeraskepalaan pikiran yang tertutup yang dimiliki garis lurus, sekarang dia memilih jalinan-jalinan-berbelit-belit, garis-garis bercabang. Dulu ritmenya padat dan penuh petualangan; sekarang menjadi lambat, berhati-hati, begitu cermat, dihapus, ditambahkan, diubah sedikit-sedikit, berlawanan. Setiap tema bercabang dalam keanekaragaman yang berlimpah mengikuti gaung-gaung yang tak pernah berakhir.

Betapa sederhana motivasi intelektual masa mudanya, ketika dia percaya dalam permainan kejam pertentangan-pertentangan, harus muncul dihadapannya! Sekarang dia terobsesi dengan ketidakterbatasan ganda, yang kecil tak berhingga dan yang besar tak berhingga yang merusak semua pemikiran… jalinan tak terelakkan dari setiap persetujuan dengan setiap sanggahan; relasi yang tak terpisahkan antara segala hal dan hubungan-hubungan antara relasi-relasi itu-refleksi yang panjang atas gema yang kompleks hingga semua kata-kata dan tindakan dibangkitkan. Calvino merasa dia berada di tepi khayalan, dalam vertigo, ketidakmungkinan untuk menulis dan berbicara. Dia tidak pernah menjadi penulis yang tragis, dan sekarang dia menemukan bahwa tagedi sesungguhnya dalam literatur bukan terletak pada gairahnya, melainkan pada ekploitasi pikiran. Sangat tragis mungkin, kematian Anna Karenina di stasiun kereta di Obiralovka, itu tidak ada bandingannya dengan tragedi ketidakterbatasan yang ganda. Seperti semua seniman yang ahli dia selalu merasa bangga untuk mengetahu motif-motif dan tahapan-tahapan literaturnya. Tapi tepatnya saat ini, sebagaimana dia menuliskan “hal-hal mental,” ide-ide membawanya ke tempat-tempat yang baru baginya, dan pada masa-masa itu memenuhinya dengan kengerian.

Lalu, dengan begitu cepat, tahun-tahun terakhir tiba di hutan cemara. Memalingkan dirinya dari semua ide-ide umum, Calvino merasa puas untuk merenungi segulung ombak, setumpuk rumput di taman, seekor burung yang bernyanyi; perenungan atas hal-hal sederhana ini membangkitkan dalam dirinya sebuah kebingungan yang begitu radikal hingga mencegahnya merasakan emosi, membagikan sebuah ide, memahami bentuk dari sebuah objek, untuk hanya dapat mengatakan: “Benda ini adalah,” atau “Aku ada.”

Mungkinkah-aku menanyakan diriku sendiri-sudah tidak ada lagi apapun; dia telah secara diam-diam lenyap tanpa kita menyadarinya.

Musim panas terakhirnya begitu berat. Dia sedang menuliskan kuliah-kuliahnya tentang Amerika (yang kemudian dikumpulkan dalam The Uses of Literature), sebuah buku yang paling indah, warisan dalam seni puisi di akhir abad ini, dimana literarur kuno dan modern saling merefleksikan masing-masing dalam sebuah cermin jernih. Dia tidak dalam suasana hati yang baik. Dia berpikir bahwa dia menyia-nyiakan waktunya. Dia seorang penulis, dia harus memberi bentuk pada lusinan cerita yang bergumul di dalam kepalanya, bukan merefleksikan literatur. Dia tak lagi keluar dari rumah. Tersembunyi dalam sarang burungnya yang tinggi, dia tak pernah lagi berenang di laut.

Hari pertama di bulan Desember tahun 1985, kuliah-kuliahnya hampir selesai dikerjakan, meskipun baginya hal itu sudah menjadi milik waktu yang telah lampau. Selama hari-hari terakhir itu aku menemuinya dua kali. Dia lembut, penuh kasih saying, menghibur, nyaris bahagia. Dia bahkan mencium pipi istriku-betapa jarangnya bibir Ligurian yang abstrak dan penyendiri itu membengkok untuk menyentuh pipi seorang teman! Aku pergi tidur dengan penuh kegembiraan.

Tak ada alasan untuk ketakutan atas apa yang akan terjadi. Mr. Palomar merupakan sebuah kisah seperti semua yang bagi mereka literatur adalah sebuah persoalan mental. Calvino berpikir bawa setiap bukunya haruslah sebuah proyek baru yang akan memaksakan pada dunia sebuah bentuk yang tak terduga. Dia pernah menghidupi proyek ahli astronom khayalannya begitu dalam. Dia telah menanggalkannya, dan sekarang seraya dia kembali kerumah pada malam hari tak diragukan dia sedang berpikir tentang bentuk-bentuk khayalan lain yang akan dia hidupi untuk beberapa waktu.

Salah satu karya terbaik Italo Calvino, Invisible Cities pernah diterjemahkan dalam “Kota-Kota Imajiner” dan diterbitkan ke dalam bahasa indonesia oleh Fresh Book (Jakarta: 2006) pimpinan Savic Ali.

Tapi kemudian tidak ada apa-apa lagi…hanya kejatuhannya ke tanah, ambulan yang berpacu ke Siena, rumah sakit yang mengerikan dimana aku sudah menyaksikan kematian-kematian yang lain, wajah-wajah cemas para dokter, operasi yang tak berguna, pemeriksaan yang sia-sia, penantian, kepala yang diperban, kuburan kecil di atas lautan di Castiglione. Sautu pagi untuk menenangkan kami, para dokter mengatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik-sakit Italo merupakan sebuah cacat otak bawaan; dia seharusnya sudah mati di usia dua puluh lima atau paling lama tiga puluh tahun. Pikirkan tentang waktu yang telah dia peroleh. Pikirkan tentang buku-buku yang telah dia tulis dengan kegesitan petani-pelayarnya, ditempa di sepanjang petak-petak tanah liat yang gersang.

Betapa bijaksana dia telah mencuri waktu-satu-satunya kekayaan yang berharga- dari dewa-dewa yang bermain-main dengan kita. Aku katakan pada diriku sendiri, mungkin sekali dia pun tak tahu bahwa dia rapuh. Dia telah menghindari kerapuhannya dengan kesabaran, karya, kebijaksanaan, dan bantuan si penyihir yang mentransformasi kerapuhan menjadi kekuatan, dan kekuatan menjadi kerapuhan: literatur.

Aku tidak pernah bermimpi. Dua tahun kemudian Italo datang padaku di dalam mimpi. Dahinya masih diperban, tetapi senyumnya merupakan senyum yang bercahaya di malam terakhir. Dia mengatakan, “Kau tahu itu semua adalah kesalahan. Para dokter tidak mengerti. Aku tidak mati.” Dan dia terkesan ingin mengungkapkan sebuah rahasia padaku-sebah rahasia kecil yang tak berarti yang mestinya kukomunikasikan dengan beberapa teman. Arti dari mimpi itu sangat jelas: Aku tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia sudah mati. Tetapi mimpi itu memberitahukan hal lain; hal itu adalah-bagaimana aku bisa keliru? -sebuah pesan dari ladang-ladang Elysian. Dikatakan bahwa yang tragis itu bukanlah bentuk esensial dari dunia, dan bahwa tak pernah ada tragedi yang sebenar-benarnya. Dibalik itu ada selubung lain, lalu selubung lainnya, dan kemudian selubung lainnya lagi, dan permainan bentuk-bentuk yang menipu ini dimana banyak cahaya-cahaya dan bayangan-bayangan berjalinan adalah satu-satunya hal yang kita tahu.

___________________

*) Diterjemahkan dari naskah Bahasa Inggris oleh Pietro Citati. Naskah asli berbahasa Italia ditulis oleh Raymond Rosental. | terjemahan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia oleh Marlina Sophiana. Editor Sabiq Carebesth

 

 

Continue Reading

Interview

Haruki Murakami: Saya Kurang Suka Pada Gaya Kepenulisan Realis

mm

Published

on

Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan.

Karyanya menginspirasi banyak pembaca, tak terkecuali mereka yang telah lama menjadi penulis cerita. Jadi tak ada salahnya kita menilik ‘dapur’ kepenulisan Haruki Murakami, mencuri darinya inspirasi.

Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. Simak dunia dapur menulis Murakami selengkapnya dalam wawancara imajinatif berikut yang disarikan Galeri Buku Jakarta dari dokumen interview Murakami bersama The Paris Review dan The New York Times.

_________________________

Apa gaya menulis yang paling dekat dengan proses kreatif Anda selama ini?

 Gaya kepenulisan yang natural bagi saya sangat dekat dengan novel saya yang berjudul Hard-Boiled Wonderland. Terus terang, saya kurang suka pada gaya kepenulisan realis. Saya lebih cenderung memilih gaya kepenulisan surealis. Tapi di novel Norwegian Wood saya memutuskan untuk menulis karya yang seratus persen realis. Saya butuh pengalaman itu. Saya bisa jadi penulis cult jika saya hanya menulis novel-novel surealis. Tapi saya punya keinginan untuk masuk ke dalam genre popular, maka saya mendorong diri saya untuk menulis buku realis. Itu sebabnya saya menulis Norwegian Wood yang kemudian jadi buku best-seller di Jepang. Saya sudah memprediksi hal tersebut. Sebagai perbandingan dengan novel-novel saya yang lain, Norwegian Wood sangat mudah dibaca dan mudah dimengerti. Banyak orang yang suka dengan buku itu. Dengan begitu saya harap mereka akan tertarik membaca buku-buku saya yang lain.

Aapakah Anda terbiasa menulis dengan memiliki kerangka cerita lebih dulu sebelum mulai mengerjakan proyek menulis?

Ketika saya mulai menulis, saya tak pernah menyusun kerangka khusus. Saya cukup menunggu saja sampai cerita itu terbentuk di kepala saya. Saya tidak pernah memilih jenis cerita yang ingin saya tulis atau bagaimana akhirnya. Saya hanya menunggu. Untuk kasus Norwegian Wood tentunya berbeda, karena saya sengaja memutuskan untuk menulis dengan gaya realis. Tapi secara garis besar—saya tidak pernah memilih cerita apa yang ingin saya sampaikan. Biasanya saya mendapat beberapa bayangan, lantas saya menggabungkan bayangan itu menjadi garis cerita. Lalu saya jelaskan garis cerita itu kepada pembaca. Saat menjelaskan sesuatu kepada pembaca, saya harus pelan-pelan dan menggunakan kata-kata yang tidak sulit dicerna, metafora yang masuk akal, alegori yang baik. Itu pekerjaan saya. Saya harus menyampaikan cerita dengan hati-hati dan bahasa yang jelas.

Mana yang lebih penting menurut Anda, paragraf pembuka atau ending cerita?

Saya punya kecenderungan mengakhiri novel atau cerita saya dengan ending ambigu. Tapi itu natural bagi saya. Coba saja baca karya-karya Raymond Chandler. Bukunya juga tidak pernah memberikan ending yang konklusif. Dia mungkin menunjukkan bahwa Si A adalah pembunuh yang dicari-cari, tapi sebagai pembaca saya tidak peduli siapa tokoh pembunuhnya. Ada satu episode yang menarik ketika Howard Hawks [sutradara] mengadaptasi buku Raymond Chandler yang berjudul The Big Sleep untuk jadi film layar lebar. Howard tidak mengerti siapa yang membunuh karakter supir dalam buku The Big Sleep, maka ia menghubungi Raymond untuk menanyakan hal tersebut. Jawaban Raymond, “Itu tidak penting!” Hal yang sama juga saya rasakan sebagai pembaca. Ending konklusif itu tak ada artinya. Saya tidak peduli siapa tokoh pembunuh dalam buku The Brothers Karamazov [karya Fyodor Dostoyevsky]. Saat menulis, saya juga tak pernah mau tahu siapa pelaku kejahatan dalam cerita saya. Saya menempatkan diri di level yang sama dengan pembaca. Di awal cerita, saya tidak tahu bagaimana cerita itu akan berakhir atau apa yang akan terjadi di halaman-halaman berikutnya. Bila saya membuka cerita dengan kasus pembunuhan, saya tidak langsung tahu siapa pembunuhnya. Saya justru menuliskan cerita tersebut untuk mengetahui siapa pembunuhnya. Kalau saya sudah tahu sejak awal siapa pembunuhnya, maka tak ada gunanya lagi cerita itu ditulis.

Sebagai penulis Anda memiliki jadwal kerja khusus dan teratur?

Menulis buku sama seperti bermimpi dalam keadaan terjaga. Kalau kita bermimpi dalam tidur, kita tidak akan bisa mengendalikan mimpi itu. Saat menulis buku, kita terjaga; kita bisa memilih waktu, kondisi, semuanya. Setiap pagi saya menulis selama empat, lima, enam jam; lalu saya berhenti. Saya akan melanjutkan tulisan saya keesokan harinya. Saat saya menulis novel, saya selalu bangun pukul empat pagi dan bekerja selama lima sampai enam jam. Di sore hari, saya jogging sejauh sepuluh kilometer atau berenang sejauh 1500 meter (atau melakukan keduanya). Lantas saya menghabiskan waktu membaca atau mendengarkan musik. Saya tidur pukul sembilan malam. Setiap hari saya melakukan hal ini secara rutin. Pola ini adalah hal yang penting bagi saya. Karena dengan rutinitas seperti ini saya bisa mengkodisikan pikiran saya untuk selalu fokus. Jangan kira ini hal mudah. Menetapkan rutinitas yang sama—tanpa jeda—selama enam bulan berturut-turut atau setahun penuh butuh kekuatan mental dan fisik. Oleh sebab itu, menulis sama seperti latihan daya tahan. Kekuatan fisik sama pentingnya dengan sensitivitas artistik.

Sebagaian besar penulis cerita akan menulis bebas pada awalnya sebelum merevisi tulisannya sampai merasa benar-benar telah jadi. Anda demikian juga?

Saya pekerja keras. Saya selalu berkonsentrasi dalam mengerjakan tulisan saya. Setiap karya yang saya tulis biasanya harus dipoles dan direvisi sebanyak empat, lima kali. Lumrahnya saya butuh enam bulan untuk menulis draf pertama setiap novel, lalu tujuh atau delapan bulan setelahnya saya habiskan merevisi. Draf pertama selalu berantakan. Saya harus merivisi lagi dan lagi.

Beri kami rahasia psikologi yang melatari tokoh-tokoh utama dalam cerita Anda?

Protaginis saya cenderung terperangkap dalam dunia spiritual dan dunia nyata. Di dunia spiritual, tokoh wanita—atau pria—yang saya tulis cenderung pendiam, cerdas dan rendah hati. Di dunia realistis, tokoh wanita saya cenderung aktif, komikal dan positif. Mereka punya selera humor. Pikiran protagonis saya juga cenderung terbelah antara dua dunia dan mereka selalu bingung saat harus memilih. Saya rasa itu pola yang terus muncul dalam karya-karya saya. Terlebih di novel Hard-Boiled Wonderland di mana pikiran si protagonis benar-benar terbelah dua. Di novel Norwegian Wood juga begitu—ada dua gadis dan si protagonis tidak bisa memilih salah satu dari mereka. Begitu terus dari awal sampai akhir.

Baik untuk yang terakhir, apa hal paling penting dalam sebuah karya cerita?

Narasi. Narasi sangat penting dalam praktik menulis buku. Saya tidak peduli soal teori. Saya tidak peduli soal kosa kata. Bagi saya yang terpenting adalah apakah narasinya bagus atau tidak.

_________________________

Akhirnya tidak ada yang sempurna tak terkecuali dalam dunia menulis. Yang ada adalah disiplin dan kerja keras. Anda akan berhenti atau kembali duduk dan mulai menyelesaikan karya Anda? Seperti kata Murakami, sama halnya dengan keputus asaan, taka da yang sempurna, “There’s no such thing as perfect writing, just like there’s no such thing as perfect despair.” (GBJ/ SC).

Continue Reading

Classic Prose

Trending