Connect with us
Übermensch Suatu Pengantar Übermensch Suatu Pengantar

Philoshopia

Übermensch, Suatu Pengantar

mm

Published

on

Hidup, Karya dan Kematian Nietzsche

Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir pada tanggal 15 Oktober 1844 di Röcken. Beliau dinamakan Friedrich Wilhelm karena hari kelahirannya sama dengan hari kelahiran Friedrich Wilhelm seorang raja Prusia yang sangat dihormati pada masanya, karenanya merupakan kebanggaan bagi Nietzsche kecil karena hari kelahirannya selalu dirayakan banyak orang.

Ia dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang soleh. Kakeknya, Friedrich August Ludwig (1756-1862) adalah pejabat tinggi dalam gereja Lutheran yang dapat disejajarkan dengan seorang uskup dalam gereja Katholik. Ayahnya, Karl Ludwig Nietzsche (1813-1849), adalah seorang pendeta di desa Röcken dekat Lützen, sedangkan ibunya, Franziska Oehler (1826-1897) juga seorang Lutheran dan verasal dari keluarga pendeta. Sehingga tidak mengherankan apabila keluarga Nietzsche sangat terkenal dengan ketaatannya.

Kehidupan keluarga Nietzsche sangat bahagia namun kebahagiaan ini tidak berjalan lama terutama setelah kematian ayahnya pada tahun 1849, dikala Nietzsche berusia 4 tahun dan pada tahun 1850, adik laki-laki Nietzsche, Joseph, meninggal juga. Setelah kejadian tersebut keluarga Nietzsche pindah ke Naumburg yang merupakan kota asal nenek moyang Nietzsche. Dalam keluarga, Nietzsche merupakan laki-laki satu-satunya, anggota keluarga lainnya yaitu ibu, kakak perempuan, kedua tante dan nenek.

Pada usia menjelang 6 tahun ia masuk sekolah gymnasium, ia termasuk murid yang pintar dan pandai bergaul, lalu ia mulai berkenalan dengan karya-karya Goethe dan Wagner melalui teman-temannya ini. Pada usia 14 tahun Nietzsche pindah sekolah yang bernama Pforta, yang merpakan sekolah asrama yang menerapkan peraturan sangat ketat tak ubahnya bagai hidup di penjara. Disinilah ia belajar bahasa Yunani, Latin dan Hibrani, dan dengan berbekal pengetahuan inilah Ia akan menjadi ahli Filologi yang brilian. Karena kekagumannya terhadap karya-karya klasik Yunani maka Nietzsche dan teman-temannya, Wilhelm Pinder dan Gustav Krug membentuk kelompok studi sastra yang diberi nama Germania. Pada tahun 1864 Nietzsche melanjutkan studi di Universitas Bonn untuk memperdalam ilmu Filologi dan Teologi, dalam bidanf filologi ia diajar oleh Fiedrich Ritschl dan banyak membantu kemahiran Nietzsche dalam bidang filologi. Pada tahun 1865 Nietzsche memutuskan untuk tidak belajar Teologi, keputusan ini sangat erat hubungannya dengan keraguannya akan keimanannya dan tentunya mendapat tantangan dari ibunya, namun Ia pernah menulis surat bahwa “Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, maka percayalah, jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, maka carilah…” dan pemikiran ini yang mendasari Nietzsche untuk menjadi freetihinker. Di Bonn ia hanya tahan selama 2 semester kemudian pindah ke Leipzig untuk belajar Filologi selama 4 semester, disini ia banyak mendapatkan penghargaan dibidang filologi dari universitas.

Tokoh yang mempengaruhi dari segi intelektualnya adalah Schopenhauer (1788-1860) dengan karyanya The World as Will and Ideas, 1819 yang dibelinya di toko buku bekas. Dan tokoh lainnya adalah Friedrich Albert Lange (1828-1875) dengan karyanya Sejarah Materialisme dan Kritik Maknanya pada Jaman Sekarang, 1866. Dari kedua karya ini sebenarnya satu sama lain bertentangan, buku yang ditulis oleh Schopenhauer mengungkapkan manusia secara utuh dan dengan perasaan, sedangkan yang ditulis Lange lebih menekankan pada sisi intelek saja dan pendekatannya lebih filosofis.

Pada tahun 1867-1868 Nietzsche mengikuti wajib militer untuk melawan Prancis, dan disana ia mendapatkan banyak pengalaman yang tak terduga dan masa dinasnya berakhir karena ia mengalami kecelakaan jatuh dari kuda. Setelah berakhirnya masa dinas militer, Nietzsche merasa studi filologi itu hambar dan mati, namun pendapat ini berubah setelah ia berkenalan secara pribadi dengan musisi Richard Wagner, dan dari sinilah Nietzsche memperoleh optimismenya kembali bahwa kebebasan dan karya yang jenius masih dapat dicapai asalkan diresapi oleh semangat Wagner.

Pada tahun 1869 ia mengajar di Universita Basel, Swiss dan mengajar disana selama 10 tahun kemudian berhenti karena kesehatannya memburuk. Ia mengajarkan Filologi dan bahasa Yunani. Sejak keluar dari Basel kondisi kesehatannya menurun, pada tahun 1870 ia mengalami sakit desentri dan difteri. Sakit mata dan kepala makin parah sejak tahun 1875, dan serangan yang paling parah pada tahun 1879 sehingga ia harus berhenti sebagai dosen.

Namuna selama masa istirahatnya Nietzsche malah semakin produktif dalam menulis karya-karyanya, pada tahun 1872 ia menulis The Birth of Tragedy out of the spirit of Music, tahun 1873-1876 ia menulis Untimely Meditations yang terdiri dari 4 bagian. Pada tahun 1878 diterbitkan buku Human, All-Too-Human, dan pada tahun 1879 ia mengeluarkan 2 karya yaitu Mixed Opions and Maxims dan The Wander and His Shadow. Pada tahun 1879 inilah kondisi Nietzsche sangat menurun sehingga ia harus mundur dari profesi dosen. Namun ia terus berkarya dimana pada tahun 1881 ia berhasil menerbitkan buku yang berjudul Fajar, Gagasan-gagasan tentang Praanggapan Moral, pada tahun 1882 diterbitkan Die Fröhliche Wissenschaft dan dalam buku ini ia memproklamasikan Tuhan telah mati (Gott ist tot). Pada tahun 1885 ia menulis Thus Spoke Zarathustra disini ia mengungkapkan gagasan Übermensch. Pada tahun 1886 ia menulis Jenseits von Gut und Böse, lalu ditahun berikutnya ia menulis buku yang berisi Kritik akan modernitas, ilmu pengetahuan modern, seni modern dan disusul oleh buku yang berjudul Zur Genealogie der Moral, Eine Streitschrift. Dan masih banyak lagi karya-karya Nietzsche yang belum diterbitkan seperti Pudarnya Para Dewa (1889), Antikristus (1895), Ecce Homo (1908).

Nietzsche mengakhiri hidupnya dengan kesendirian setelah keinginannya untuk menikahi Lou Salome tidak disetujui oleh kakak perempuannya, Elizabeth, karena rencana pernikahan yang melibatkan Paul Ree dimana mereka terlibat cinta segitiga. Akhirnya pada tanggal 25 Agustus 1900 Nietzsche menghembuskan nafas terakhirnya di Weimar, yang sangat tragis ia tidak mengetahui bahwa ibunya telah meninggal dan juga ia mengetahui bahwa dirinya mulai termasyur.

Gagasannya tentang Übermensch

Gagasan utama dari Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa (Will to Power), dimana salah satu cara untuk menunjukkah kehendak untuk berkuasa ini diungkapkan melalui gagasannya tentang Übermensch (Overman taua Superman). Übermensch merupakan suatu tujuan hidup manusai didunia ini agar mereka kerasan dan gagasan tentang Übermensch ini banyak diungkapkan dalam bukunya Also Sprach Zarathustra dimana didalam buku tersebut diungkapkan :

Lihatlah, aku mengajarkan Übermensch kepadamu. Übermensch adalah makna dunia ini. Biarkanlah kehendakmu berseru. Hendaknya Übermensch menjadi makna dunia ini.

(Also Sprach Zarathustra)

Melihat dari segi bahasa Über pada Übermensch mempunyai peran yang menentukan dalam membentuk seluruh makna Übermensch, dimana kehendak untuk berkuasa sebagai semangat untuk mengatasi atau motif-motif untuk mengatasi diri (ST. Sunardi,1999,93). Sehingga akan lebih tepat apabila Übermensch diartikan sebagai manusia unggul atau manusia atas.

Übermensch adalah cara manusia memberikan nilai pada dirinya sendiri tanpa berpaling dari dunia dan menengok ke seberang dunia, sehingga Nietzsche tidak lagi percaya akan bentuk nilai adikodrati dari manusia dan dunia, dan pemberian makna hanya dapat dicapai melalui Übermensch. Übermensch merupakan suatu bentuk manusia yang yang menganggap dirinya sebagai sumber nilai. Manusia yang telah mencapai Übermensch ini adalah manusia yang selalu mengatakan “ya” pada segala hal dan siap menghadapi tantangan, yang mempunyai sikap selalu mengafirmasikan hidupnya dan tanpa itu Übermensch tidak mungkin akan tercipta. Jadi Übermensch tidak pernah menyangkal ataupun gentar dalam menghadapi berbagai dorongan hidupnya yang dasyat.

Nietzsche juga percaya bahwa dengan berhadapan dengan konflik, maka manusia akan tertantang dan segala kemampuan yang dimilikinya dapat keluar dengan sendirinya secara maksimal, maka tidak mengherankan apabila Nietzsche sangat gemar seakali dengan kata-kata peperangan, konflik dan sebagainya yang dapat membangkitkan semangat manusia untuk mempunyai kehendak berkuasa. Nietzsche percaya bahwa jalan manusia menuju Übermensch dan langkah meninggalkan status kebinatangannya selalu dalam keadaan bahaya dan manusia adalah mahluk yang tidak ada henti-hentinya menyeberang atau transisisonal.(Nietzsche mengatakan bahwa manusia kedudukannya beraada ditengah-tengah status kebinatangan dan Übermensch).

Dalam Übermensch yang dibutuhkan adalah kebebasan dan aku ingin berkuasa dan yang menjadi ukuran keberhasilan adalah perasaan akan bertambahnya kekuasaan. Namun demikian tetap saja Übermensch hanya dapat dicapai dengan menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki manusia secara individual, dan rumusan Übermensch yang dirasakan tepat adalah yang diungkapkan oleh Curt Friedlin yaitu, kemungkinan paling optimal bagi seseorang diwaktu sekarang, dan bukanlah tingkat perkembangan yang berada jauh di depan yang hanya ditentukan secara rasional.(ST Sunardi,1999,102) Sehingga dapat disimpulkan bahwa kebesaran manusia ini hanya dapat dialami oleh orang yang mengarahkan dirinya pada Übermensch, yaitu suatu kemungkinan optimal seseorang berdasarkan potensialitas kemanusiannya atau dorongan hidupnya. (ST.Sunardi,1999,103). Übermensch hanya dapat dicapai melalui kehendak untuk berkuasa sehingga manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan mengatasi masalahnya tanpa harus bergantung pada moral dan agama (agama merupakan faktor penghambat) dan Übermensch tidak mungkin dapat ditunjuk dengan jari. (Di sini terlihat ada pengaruhnya dengan Zen Buddhisme).

Dalam membahas Übermensch tidak mungkin tidak, kita harus mengungkapkan juga 2 moral dasar yang ada di dalam manusia yaitu moral budak dan moral tuan, dan manusia yang ingin mencapai Übermensch harus mengarahkan moralnya pada moral tuan.

Übermensch dari Sudut Pandang Eksistensialisme

Sebelum kita melangkah jauh membahas tentang gagasan Nietzsche tentang Übermensch, maka ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu tentang Eksistensialisme. Eksistensi adalah cara manusia berada di dalam dunia dan keberadaannya bersama dengan ada ada yang lainnya dan ada-ada yang lainnya itu menjadi berarti karena adanya manusia. Oleh karena itu dapat dikatakan pula bahwa eksistensi adalah manusia sadar akan dirinya, manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya.

Ada beberapa ciri umum Filsafat Eksistensialisme yang merupakan perumusan dari beberapa filusuf eksistensialis, yaitu :

  • Motif pokok adalah apa yang disebut eksistensi, yaitu cara manusia berada. Hanya manusialah yang bereksistensi. Eksistensi adalah cara khas manusia berada. Pusat perhatian ini ada pada manusia. Oleh karena itu bersifat humanistik.
  • Bereksistensi harus diartikan secara dinamis. Bereksistensi berarti menciptakan dirinya secara aktif, bereksistensi berarti berbuat, menjadi, merencanakan. Setiap saat manusia menjadi lebih atau kurang dari keadaannya.
  • Di dalam filsafat eksistensialisme manusia dipandang sebagai terbuka. Manusia adalah realitas yang belum selesai, yang masih harus dibentuk. Pada hakekatnya manusia terikat kepada dunia sekitarnya, terlebih kepada sesamanya.
  • Filsafat eksistensialisme memberi tekanan pada pengalaman yang konkrit, pengalaman yang eksistensial. Hanya arti pengalaman ini berbeda-beda. (Harun Hadiwijono,1998,149)

Seperti telah diungkapkan diatas bahwa Übermensch merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dimana manusia itu dapat mengatasi kumpulan manusia dalam massa dengan menggunakan kekuatannya. Yang menjadi tujuan utama adalah menjelmakan manusia yang lebih kuat, lebih cerdas dan lebih berani, dan yang terpenting adalah bagaimana mengangkat dirinya dari kehanyutan dalam massa. Yang dimaksud kehanyutan dalam massa disini adalah manusia yang ingin mencapai Übermensch haruslah mempunyai jati diri yang khas, yang sesuai dengan dirinya, yang ditentukan oleh dirinya, tidak mengikuti orang lain atau norma dan nilai yang berlaku dalam masyarakat atau massa pada umumnya. Manusia harus berani menghadapi tantangan yang ada didepan mereka dengan menggunakan keuatannya sendiri. Nietzsche pada kesempatan lain ingin mengusulkan untuk dibentuk suatu seleksi untuk membentuk manusia atas atau manusia unggul dengan cara eugenika. Dia mengatakan bahwa manusia unggul baru dapat dicapai apabila ada perpaduan yang harmonis antara kekuatan, kecerdasan dan kebanggaan.

Dalam kesempatan lain Nietzsche mengungkapkan bahwa persamaan hak atau atau persamaan antara bangasa serta asas demokrasi merupakan suatu gejala bahwa masyarakat telah menjadi busuk. Tidak akan pernah ada persamaan hak karena manusia mempunyai ciri0ciri yang unik yang individual, dan manusia yang unggul ataupun bangsa yang unggul harus menguasai manusia atau bangsa yang lemah, sehigga Nietzsche mendukung peperangan dan mengutuk perdamaian. Perdamaian boleh terjadi tetapi untuk waktu yang tidak lama seperti yang diungkapkannya dalam Also Sprach Zarathustra, yaitu :

“Kau harus cinta perdamaian sebagai alat untuk peperangan-peperangan baru dan masa damai yang singkat lebih baik ketimbang yang panjang. Kepadamu tidak kuanjurkan kerja, melainkan perjaungan, Kepadamu tidak kuanjurkan perdamaian, melainkan kemenangan. Jadikanlah karyamu sebagai perjuangan. Jadikanlah perdamaian sebagai kemenanganmu. Orang bisa tidak bersuara dan duduk diam saja kalau ia memiliki busur dan panah, kalau tidak mereka niscaya membual dan cekcok saja”.

Dari uraian disinilah terlihat bahwa Nietzsche sangat mengagungkan konflik dan peperangan. Jadi Manusia atau bangsa harus dipimpin oleh bangsa atau manusia yang unggul atau manusia atas, dan tidak akan pernah ada kesamaan hak, karena doktrin kesamaan hak itu merupakan perlindungan bagi golongan yang lemah agar tidak diserang atau dijajah oleh bangsa yang unggul seperti semboyan yang terus diterikkan adalah laissezfaire pada masyarakat demokratis dimana mereka merindukan kesamaan hak adalah sebenarnya orang-orang pengecut belaka. Doktrin bangsa yang unggul adalah yang dipakai oleh Adolf Hitler dalam Nazisme. Untuk mempertegasnya maka perlu diungkapkan apa yang telah diaktakan Nietzsche dalam Also Sprach Zarathustra yaitu

 

“Sebab bagiku beginilah bunnyi keadilan : ’Manusia tidaklah sama.’ Tidak pula merak akan menjadi sama”.

Nietzsche mengatakan dalam Also Sprach Zarathustra, yaitu Jadilah manusia atas, ibarat samudera luas yang tidak akan luntur karena harus menampung arus sungai yang keruh. Manusia harus terus menerus malampaui dirinya sendiri, terus menerus mencipta. Dan dilanjutkan dalam bagian lain dalam buku yang sama yaitu :

 

“Sudah tiba waktunya bagi manusia untuk menentukan tujuan baginya sendiri. Sudah tiba saatnya bagi manusia untuk menanam bibit harapannya yang seunggul-unggulnya…”

Dari ujaran Zarathustra diatas dapat diungkapkan bahwa Nietzsche percaya bahwa manusia unggul selalu aktif dan kreatif yang tidak akan pernah terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya, manusia selalu mempunyai ciri khas tersendiri mempunyai nilai dan norma sendiri karena manusialah yang menciptakan nilai dan norma tersebut. Manusia unggul harus meninggalkan apa yang menjadi kepercayaan orang kebanyakan. Dan seperti telah diungkapkan diatas bahwa manusia unggul baru akan terjadi apabila manusia itu dalam keadaan menderita, karena untuk mejadi kreator diperlukan penderitaan dan banyak perubahan.

Nietzsche mengatakan bahwa hidup adalah kenikmatan yang harus dihayati sedalam-dalamnya. Dalam Zarathustra sudah dikatakan juga bahwa manusia adalah unggul, asalkan ia mau terus menerus menjulangkan gairahnya setinggi-tingginya. Untuk itu, manusia harus bebas dari segala kekhawatiran dan rasa dosa. Ia harus cinta akan kehidupan karena cinta kehidupan berarti sanggup menanggung kenyataan bahwa manusia bukanlah sesuatu yang sudah selesai.” Dari uraian diatas maka jelas merupakan ungkapan eksistensialis yang mengungkapkan pentingnya manusia yang terus berkarya, dan manusia selalu dinais dan suatu ada yang belum selesai.

Nietzsche terus mengungkapkan pentingnya keberanian yang harus dimilki oleh manusia atas atau manusia unggul. Manusia unggul harus berani menghadapi segala tantangan yang ada didepan, dan manusia harus berani menderita guna mencapai tujuan hidupnya yaitu mencapai Übermensch, bahkan keberanian itu harus ditunjukkan dalam menghadapi maut dengan diungkapkannya semboyan “Matilah pada Waktunya” (Fuad Hassan,1992,58) Kematian itu datangnya harus disambut seperti kita menyambut kelahiran datau kebahagiaan.

Bagaimanapun manusai terus berusaha untuk menjadi unggul manusia juga harus terus menyadari bahwa manusai tidak akan mampu melampaui batas-batas kemampuannya sendiri. Dalam Zarathustra juga diungkapkan suatu ajaran Yunani Kuno yang berbunyi “Kenalilah dirimu”, dimana manusia harus mampu menjadi saksi bagi dirinya sendiri dan atas dasar itu ia akan mampu pula mendudukkan dirinya pada tempat yang sesuai. Dan dalam Zarathsutra Nietzsche mengungkapkan

“ Jangan menghendaki sesuatu yang melebihi kemampuanmu, melakukan sesuatu yang melebihi kemampuan sendiri mengandung ciri kepalsuan yang menjijikkan”

Ungkapan Nietzsche yang bisa menjadi renungan kita adalah setiap orang mempunyai tempat sendiri dalam kehidupan ini, yaitu sesuai dengan kemampuannya masing-masing (terlihat ada pengaruh dari Zen Buddhisme tentang konsep Kekosongan atau ke-sunya-an).

Untuk menjadi Übermensch manusia haruslah menyadari siapa dirinya dan karenanya manusia juga harus mengetahuai bahwa manusia sebelumnya adalah “kau” dan ketika manusia telah sadar akan kemampuannya maka ia telah menjadi “aku”. “Aku” lahir sebelum “Kau”. Dan sejah “aku” lahir maa manusia menjadi tak pasti, ia terus menerus membantuk dirinya seolah-olah menuju kepastian dan kemantapan akan tetapi hal ini mustahil karena ketidak pastian dan ketidakmantapan itulah. Namun karena dalam keadaan khaos yang dihayati itulah, manusia menjadi kreatif serta bisa bercita-cita setinggi-tingginya, dan oleh karena itu ia harus cinta akan kehidupan.

Jika manusia tidak mempunyai cita-cita atau keinginan untuk menjadi unggul maka Nietzsche sangat jengkel pada mereka yang selalu mgnharapkan belas kasihan orang lain karena mereka tidak mempunyai rasa malu dan Nietzsche mengatakan bahwa menjengkelkan untuk memberi mereka sesuatu tetapi menjengkelkan juga untuk tidak memberi mereka apa-apa.

Dan seperti telah diugkapkan diatas bahwa manusia yangunggul adalah manusia yang mempunyai keberanian untuk memusnahkan nilai-nilai lama, seperti yang diungkapkan oleh Nietzsche dibawah ini :

“… Siapa pun yang hendak menjadi kreator dalam kebaikan dan keburukan, sesungguhnya, ia lebih dahulu harus menjadi pemusnah dan pendobrak segala nilai.”

Jadi jelaslah bahwa seorang kreator harus berani menyatakan apa yang menurutnya benar. Adakalanya kebenaran sungguh pahit untuk dinyatakan. Akan tetapi, kebenaran harus diungkapkan sebab kebenaran tidak bisa dipendam dan disembunyikan tanpa berbalik menjadi racun yang membinasakan. Orang yang bijaksana niscaya tidak akan ingkar terhadap kebenaran serta sanggup mengungkapkannya, sebab “ Diam adalah lebih buruk, semua kebenaran yang disembunyikan akan menjadi racun.”(Fuad Hassan,1992,67)

Diakhir cerita Also Sprach Zarathustra diungkapkan bahwa Nietzsche tidak menginginkan penganut-penganutnya untuk terus mengikutinya, Ia menginginkan manusia mencari jalannya sendiri, mencari jalan hidupnya sendiri. Bahkan Nietzsche menginginkan untuk terus ditentang dan dilawan oleh para pengikutnya. Hal ini diungkapkan dalam bukunya tersebut :

“ Sekarang aku pergi sendiri, hai penganut-penganutku. Kalian pun pergilah sekarang, sendiri. Demikianlah kehendakku. Jauhilah aku dan lawanlah Zarathustra”

Dan ungkapan ini terus dipertegas dengan ungkapan lain yang juga terdapat dalam bukunya yaitu :

“ Tak sempurnalah seseorang membalas jasa gurunya, bilamana ia terus menerus bertahan sebagai muridnya saja.”

Dari uraian diatas terlihat lagi ada pengaruh dari Zen Buddhisme yang mengungkapkan pelajaran itu baru dikatakan telah merasuk dalam diri apabila telah melakukan kekosongan dan telah mengkosongkan pikirannya. Jika masih ada pelajaran yang tercantum dalam pikiran maka pelajaran itu tidak atau belum merasuk dalam diri. Demikian Nietzsche menerapkan setelah menerima ujaran Zarathustra maka hilangkan ajaran itu dalam pikiranmu dan carilah jalanmu sendiri, dan tempuhlah sehingga kita dapat membentuk jati diri sendiri.

Nietzsche bisa disebut sebagai seorang nihilis karena ia lebih dahulu menihilkan segala nilai lama dan mempermasalahkan segala nilai yang telah mantap. Dan inilah yang dinamakan berfilsafat dengan palu, karena dihancurkan semua yang telah lama dianut oleh masyarakat kemudian membentuk nilai baru yang dipercaya oleh individu.

Kesimpulan

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa ajaran utama Nietzsche adalah Kehendak untuk berkuasa (Will to Power) yang dapat ditempuh dengan mencapai suatu cita-cita manusia unggul atau Übermensch.

Cara mencapai manusia unggul adalah dengan tiga komponen dasar, yaitu harus mempunyai keberanian, kecerdasan dan kebanggaan. Mereka harus berani karena mereka harus berani menghadapi kehidupan ini baik kebahagiaan maupun penderitaan. Nietzsche menegaskan bahwa dengan penderitaan manusia akan mencapai potensi yang maksimal, karena dengan dihadapkan dengan konflik manusia akan dapat dengan beik mengeluarkan segala potensi dan kemampuannya dan ini akan membantu manusia untuk menjadi Übermensch.

Konsep Übermensch inilah yang dapat dilihat sebagai suatu gagasan yang bernilai eksistensial bagi keberadaan manusia yang berada di dunia ini.

Namun sayangnya Nietzsche tidak sempat merasakan kemasyurannya ini terutama disaat-saat akhir hidupnya.

Pustaka

1.     Dagun Save. M, Filsafat Eksistensialisme, cet.1, Rineka Cipta, Jakarta, 1990 2.     Feibleman, James K., Understanding Philosophy : A Popular History of Ideas, Ed. 2, Billing & Sons Ltd, New York, 1986 3.     Hadiwijono, Harun, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, Cet.14, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1998 4.     Hassan, Fuad, Berkenalan dengan Eksistensialisme,cet.5, Pustaka Jaya, Jakarta, 1992 5.     Sunardi, ST, Nietzsche, Cet. 2, LkiS, Yogyakarta, 1999

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Art & Culture

Georges Canguilhem, Pembimbing Michel Foucault, dan Filsafat Tentang Konsep

mm

Published

on

Menurut Michel Foucault,[1] dunia filsafat Prancis pasca perang, selain dibedakan menjadi Marxis atau non-Marxis, fenomenologis atau non-fenomenologis, juga bisa dibagi menjadi dua aliran yang berbeda: yang pertama adalah filsafat tentang pengalaman indriawi dan subjek, dan yang kedua adalah “sebuah filsafat tentang pengetahuan, rasionalitas, dan tentang konsep” – filsafat dengan landasan epistemologis yang lebih kental. Sementara Sartre merupakan tokoh yang dominan dalam aliran pertama, Foucault berpendapat bahwa Georges Canguilhem, pembimbing tesis doktoralnya tentang kegilaan, merupakan pelopor utama dalam aliran kedua. Memang, Canguilhem yang rendah hati dan bersikap low profile, yang memiliki pengaruh besar pada pendekatan struktural terhadap sejarah, Marxisme, dan psikoanalisis, jauh dari anggapan dan pengetahuan publik tentang siapa tokoh utama dalam geliat dunia intelektual dan akademis. Sebenarnya Canguilhem melapangkan jalan bagi Lacan pada tahun 1956, ketika ia memberikan kuliah di College Pilosophique. Saat itu ia mengkritik dosen psikologi klinis, yaitu Daniel Lagache, melalui sebuah tulisan. Tulisan yang berisi kritikan tersebut diterbitkan lagi sepuluh tahun kemudian dalam Les cahiers pour I’analyse, jurnal yang dihidupkan pada tahun 1960-an di Ecole Normale Superieure (rue d’Ulm) oleh menantu Jacques Lacan, yaitu Jacques-Alain Miller. Dalam tulisan ini terdapat kata-kata terkenal Canguilhem yang melihat wajah positivis dari psikologi sebagai disiplin ilmu yang setara dengan filsafat yang kurang ketat, sebagai etika yang kurang memiliki tuntutan, dan sebagai ilmu pengobatan tanpa pengujian.[2]

Georges Canguilhem lahir pada tahun 1904 di Castelnaudary, Prancis barat daya. Pada tahun 1924, di bawah bimbingan Alain, bersama-sama dengan Sartre, Nizan, dan Aron, Canguilhem lulus agregation dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure. Setelah menyelesaikan studinya dalam bidang filsafat, Canguilhem belajar kedokteran yang kemudian memungkinkannya mengajar dan melakukan penelitian dalam bidang sejarah dan filsafat ilmu. Setelah selesai mengajar pada sebuah lycee di Toulouse, Canguilhem mengajar di Universitas Strasbourg selama masa perang, dan kuliahnya tentang Norma-norma dan yang Normal mendasari tesis doktornya dalam bidang kedokteran yang dipertahankannya pada tahun 1943. Pada tahun 1955 setelah beberapa waktu menjadi inspektur jenderal di departemen pendidikan, ia menggantikan kedudukan Gaston Bachelard sebagai dekan fakultas filsafat di Sorbonne. Pada tahun 1961, di depan juri yang menguji tesis Michel Foucault tentang sejarah kegilaan, Canguilhem mengakui bahwa muridnya itu memiliki bakat seorang penyair dalam berbicara tentang kegilaan.

Sebagai seorang pembela Foucault yang gigih terdapat serangan Sartre dan para pendukungnya, Canguilhem merancang suatu tatanan sejarah yang sangat berbeda dengan evolusionisme yang tak terelakkan, atau dari pengertian tentang pengetahuan sebagai suatu kemajuan. Ia mengkondisikan satu generasi pemikir pada gagasan tentang sejarah tingkatan ilmu, yaitu sejarah yang berusaha mengkaji kesinambungan dan ketidaksinambungan yang ada di dalam sejarah kegiatan ilmiah. Tidak terlalu banyak yang bisa setajam Michel Foucault dalam menunjukkan arah umum usaha Canguilhem dari sudut pandang seorang Strukturalis. Pokok-pokok pandangan Foucault adalah sebagai berikut.

Sebelum Canguilhem, pendekatan yang dominan terhadap sejarah ilmu adalah upaya melihat masa lalu sebagai yang bersifat koheren, dan merupakan pendahuluan masa kini dalam rangkaian kesinambungan. Dalam pendekatan ini secara implisit terkandung pemikiran bahwa sekali ilmu dan objek-objeknya sudah mapan, sejak itu pula ilmu akan menjadi penjamin kebenaran. Oleh sebab itu, disiplin ilmiah yang dimapankan dalam abad ketujuh belas dan kedelapan belas akan menjadi landasan dari ilmu yang berkembang pada abad kesembilan belas dan kedua puluh. Masalah yang muncul dengan pendekatan semacam ini yakni pendasarannya atas ilusi retrospektif. Pendekatan ini mengandaikan bahwa masa lalu itu menghasilkan masa kini; lebih dari itu, pendekatan ini mengandaikan bahwa masa kini bersifat statis dan tidak pernah berubah, sehingga sejarah ilmu yang dituliskan pada masa kini juga akan tetap absah dimasa depan. Akan tetapi, bagi Canguilhem, yang mencirikan ilmu itu bukanlah ketertutupan dan kesinambungan, melainkan keterbukaan dan ketidaksinambungan. Yang mungkin tampak sebagai suatu masalah kecil dan sampingan didalam sejarah ilmu bisa tiba-tiba memegang peranan penting dalam mengkaji masalah baru. Maka menurut Foucault, “ditemukannya fermentasi non-seluler” – gejala sampingan dalam masa kejayaan pasteur dengan mikrobiologinya – menampilkan suatu terobosan penting hanya saat fisiologi encim mulai berkembang.[3] Karena ilmu itu pasti berubah – karena bagi Canguilhem, ilmu itu pada dasarnya  merupakan suatu “ sistem terbuka” sehingga dipengaruhi oleh lingkungannya – “secara spontan ia terus membangun sejarahnya setiap saat”.[4]

Pemahaman tentang ilmu yang menyusun sejarahnya sendiri itu menjadi jauh lebih penting dalam disiplin-disiplin yang belum mencapai tingkat formalisasi matematis yang tinggi. Oleh sebab itu, dalam telaahnya, Canguilhem hampir mencurahkan seluruh perhatiannya pada biologi dan kedokteran: ilmu tentang kehidupan. Ia menurunkan sejarah ilmu dari “ketinggian” menuju “wilayah tengah” di mana pengetahuan sangat dipengaruhi oleh lingkungan luar.

Hasilnya adalah, seperti kata Nietzsche, bahwa hal besar dan salah merupakan hal-hal yang dilihat dari satu sudut tertentu. Oleh sebab itu, yang tampak penting dan menarik dalam sejarah ilmu adalah yang tampak demikian dari perspektif masa kini. Hal ini diperjelas dalam pernyataan Canguilhem yaitu, “Dalam masa kinilah semua masalah membangkitkan perenungan.”[5] Karena alasan inilah maka tidak ada sejarah ilmu yang sepenuhnya netral. Oleh sebab itu, perlu diakui bahwa pertama, satu versi tentang hal yang benar dan salah bisa saja salah, dan kedua, bagaimanapun juga, adanya kesalahan atau kekeliruan justru bisa mengungkapkan sejarah ilmu sebagai “kebenaran”. Dengan demikian, tujuan Canguilhem bukanlah menemukan pencarian kebenaran itu sendiri, melainkan mencari suatu cara untuk mendapatkan pemahaman bagaimana hal benar dan salah dibentuk dalam sejarah ilmu pada suatu masa. Pada tataran ini satu cara untuk membuat dikotomi benar-salah bisa, dan sering, tidak sambung-sinambung dengan cara lainnya. Singkatnya, ketidaksinambungan memaksa kita untuk melihat sejarah ilmu sebagai sederetan koreksi diri yang dilakukan oleh ilmu itu sendiri.

Meskipun dalam karya-karyanya yang terakhir Canguilhem menulis tentang Darwin dan hubungan Darwin dengan para pendahulu dan perintisnya, namun karyanya yang paling terkenal dan paling dekat dengan gambaran tentang pendekatannya terhadap sejarah ilmu pengobatan/kedokteran adalah On the Normal and the Pathological. Karya ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1943, dan kemudian diterbitkan lagi dengan beberapa tambahan pada tahun 1966. Karya ini dibuat untuk memberikan sumbangan dalam upaya menjelaskan perbedaan antara yang normal dan yang berpenyakit (patologis) dengan meninjau bagaimana konsep-konsep ini berkembang di dalam fisiologi dan biologi dalam abad kesembilan belas dan kedua puluh. Pertanyaan yang berkembang dalam telaah ini adalah: bagaimana yang normal itu ditetapkan di dalam biologi dan kedokteran? Yang dimaksud dengan yang normal mungkin bisa berupa keadaan sehat, yang dipertentangkan dengan penyakit atau yang dianggap sebagai yang patologis. Di sisi lain, jika kehidupan dianggap sebagai satu kesatuan, maka dari satu pihak penyakit atau yang patologis bisa dimasukkan ke dalam konsep tentang “yang normal”.

Selama abad kesembilan belas, kedokteran dianggap sebagai ilmu tentang penyakit, sedangkan ilmu fisiologi dianggap sebagai ilmu tentang kehidupan. Walaupun begitu, akan muncul satu pertanyaan yang menggoyangkan dikotomi ini, yaitu: apakah penyakit itu bukan bagian dari kehidupan itu sendiri? Atau, dengan perkataan lain: apakah suatu ilmu fisiologi yang padat itu bisa dibentuk tanpa meninjau penyakit? Bukankah melalui penyakit, tubuh itu menjadi objek pengetahuan? Bagi kaum Yunani Klasik, yang normal disamakan dengan harmoni dan keseimbangan, sedangkan penyakit disamakan dengan ketidakseimbangan, “disharmoni”, atau “ketidaknormalan” (=abnormalitas). Awalan “dis” dan “a” mengandung makna adanya ketikdasinambungan antara yang sehat dengan yang berpenyakit. Sebagian besar melalui karya Claude Bernard dalam bidang fisiologi eksperimental, ilmu kedokteran abad kesembilan belas mengembangkan pandangan kuantitatif (lebih banyak terkait dengan tingkat-tingkat eksitasi) tentang perbedaan antara yang normal (keadaan sehat) dan abnormal (berpenyakit). Penyakit menjadi suatu keadaan “hiper-normal” atau “hipo-normal”. Dengan kata lain, bagi Bernard, ada hubungan kesinambungan antara tubuh yang sehat dan yang sakit. Maka, memahami filosofi tubuh normal berhubungan dengan tubuh yang sakit juga. Singkatnya, melalui paradigma kuantitatif, kesehatan yang terjaga (normal) menjadi jalan menuju pengetahuan tentang yang sakit.

Dalam abad kedua puluh, karya Rene Leriche mengguncangkan perspektif kuantitatif pendekatan positivis. Bagi Leriche sehat itu setara dengan “diamnya tubuh di dalam organ-organnya”. Sekarang keadaan sehat (yang normal) menjadi yang sepenuhnya diterima sebagaimana adanya; kesehatan badan tidak diketahui atau dialami begitu saja; sekarang suatu pengetahuan tentang tubuh hanya menjadi mungkin dengan bertolak dari perspektif patologis (dari perspektif kedokteran), bukan dari aspek fisiologi.

Walaupun begitu, ciri dari yang patologis masih harus ditentukan. Jelas bahwa pertanyaan ini bisa didekati baik dari sudut pandang orang yang merasa sakit, maupun dari sudut ilmu kedokteran itu sendiri. Kondisi patologis seseorang bisa ditentukan dengan menggunakan kriteria kedokteran yang ketat sebelum ia secara sadar memiliki pengetahuan tentang penyakitnya sendiri. Kendatipun  teknologi yang paling mutakhir bisa melenyapkan rasa sakit dari seorang pasien. Canguilhem, dalam menyimpulkan renungan yang digoreskan dalam bukunya, mengingatkan bahwa para dokter cenderung lupa bahwa pada akhirnya “pasienlah yang memanggilnya”. Peringatan tentang hal yang sudah jelas ini memungkinkan Canguilhem memberikan penegasan, bahwa perbedaan antara fisiologi dan patologi hanya bisa “bermakna secara klinis”. Inilah penegasan yang menentukan. Berlawanan dengan yang disebutnya sebagai pendekatan positivis terhadap ilmu, di mana seseorang harus tahu lebih dulu sebelum bertindak, Canguilhem mengutarakan pikiran tentang pentingnya “teknik”. Artinya, hanya dengan merujuk pada lingkungan, atau kondisi-kondisi eksistensi (dan bukan dengan mencoba membentuk perbedaan secara teoretis dan apriori), di mana keadaan sehat dan sakit ada bersama-sama, perbedaan antara filosofi dan patologi bisa dipertahankan. Menunjuk pada kondisi berarti bahwa perbedaan antara yang normal dan sakit harus tetap bersifat sementara dan terus terbuka terhadap perubahan. Dengan penutup jalur pengembangan para pelaku manusia, maka pendekatan Canguilhem di sini akan tampak berupa peningkatan kualitas mereka.

Tema penting lain yang terus ada didalam karya Canguilhem terkait dengan definisi resmi tentang yang disebut normal. Satu cara yang dipakai untuk mendefinisikan yang normal adalah dengan menggunakan norma-norma statik. Bagi Canguilhem, penelitian yang berlangsung di abad kedua puluh mampu menunjukkan bahwa suatu makhluk hidup bisa normal secara sempurna meskipun kurang terkait dengan rata-rata statistik. Memang bahwa seekor monster (suatu anomali) bisa tetap normal dalam pengertian bahwa ia membentuk norma-normanya sehubungan dengan lingkungan tempat ia berada. “Secara terpisah, makhluk hidup dan lingkungannya tidak normal: hubungan merekalah yang membuat mereka begini”. [6] Dalam pengertian ini suatu anomali bisa jarang terdapat dan bisa masih tetap normal.

Dalam pembahasan rinci tentang perbedaan antara penyakit dan keadaan sehat, Canguilhem menunjukkan bahwa meskipun batasan antara yang normal dan yang sakit itu kabur, ini tidak berarti bahwa di antara mereka ada kesinambungan. Meskipun demikian, jika kehidupan itu dipahami sebagai sebentuk totalitas, maka secara mutlak penyakit tidak bisa dianggap abnormal. Sebenarnya, bila seseroang tidak pernah sakit, hal ini bisa memberikan hasil yang merugikan, karena bila makhluk hidup pada dasarnya adalah suatu sistem yang terbuka, ia memerlukan cara untuk mengawali kondisi-kondisi baru dengan cara mengatasi berbagai kendala yang ditimbulkan penyakit. Oleh sebab itu, “Orang sehat tidak lari dari masalah yang timbul karena adanya gangguan terhadap kebiasaannya, demikian juga secara fisiologis; ia mengukur kesehatannya dalam kaitan dengan kemampuannya dalam mengatasi krisis organik untuk membentuk suatu tatanan baru.”[7]

Dalam ilmu kedokteran abad kedua puluh, kita tahu bahwa kesehatan itu bukanlah ketiadaan penyakit secara total, melainkan kemampuan untuk mengembalikan situasi yang dialami seseorang ke keadaan awal melalui upaya yang bisa mengubah landasan struktural orang itu. Perubahan dalam landasan struktural ini, yang setara dengan interaksi makhluk hidup dengan kondisi eksistensinya, berpengaruh bukan dalam proses perubahan norma dari kondisi-kondisi abnormal, melainkan dalam suatu proses perubahan norma yang terus berlangsung. Canguilhem berpendapat bahwa dalam pengertian ini manusia adalah makhluk-makhluk “normatif”, bukan karena mereka bisa menyesuaikan diri terhadap norma-norma, melainkan karena mereka merupakan makhluk-makhluk yang bisa menciptakan norma, atau sistem terbuka yang bergantung pada lingkungannya. Seperti yang  diakui pengarang kita ini: “Di dalam suatu sistem, norma bersifat relatif satu sama lain.”[8] Penyakit – hambatan – merupakan rangsangan yang niscaya demi  pembentukan norma yang perlu bagi kesehatan.

Berdasarkan pada anggapan Canguilhem tentang pentingnya yang patologis, ia tidak sependapat dengan pengertian tentang norma yang bersifat psikososial. Contoh di sini adalah karya Talcott parsons. Disebutkan bahwa norma apirori suatu masyarakat yang berjalan dengan baik dan teratur dianggap sudah ada dengan sendirinya, dan, jika melewati ambang batas tertentu, perlawanan terhadap norma tersebut dianggap sebagai penyakit dan berbahaya bagi masyarakat itu sendiri. Teori sosial semacam ini melihat masyarakat sebagai suatu sistem yang relatif tertutup di mana “kesehatan” dipelihara dengan mengacu pada norma, bukannya menciptakan bentuk-bentuk normalitas baru.

Secara umum, bagi Canguilhem, sejarah ilmu merupakan suatu sistem yang terbuka – seperti yang ditekankan oleh Foucault. Ilmu “setiap saat membentuk dan membentuk ulang sejarahnya sendiri”; ia menemukan norma untuk bisa memperbaiki dan mengubahnya. Karena alasan ini, maka ia cenderung menjadi suatu proses ketidaksinambungan; karena sudah menjadi sifatnya, pluralitas norma mensyaratkan adanya ketidaksinambungan norma. Seperti pengertian tentang subjek transendental sebagai suatu sejarah kesinambungan, maka sejarah merupakan suatu sistem tertutup dan tidak mampu berubah secara mendasar. Oleh sebab itu, sejarah yang terputus-putus (tidak sinambung) adalah sejarah yang selalu mempertanyakan dirinya, seperti yang dilakukan Kant tentang Zaman pencerahan. Mungkin prinsip untuk selalu bertanya ini mempersatukan Foucault dan Canguilhem lebih daripada hal-hal lain, seperti halnya Canguilhem tergabung dengan perkembangan terpenting ilmu abad keduapuluh. (John Lechte, dalam 50 Filsuf Kontemporer, Kanisius Yogyakarta)

[1] Michel Foucault, ‘Pendahuluan’ dalam Georges Canguilhem, On the Normal And the Pathological, terjemahan Carolyn R. Fawcett, Dordrecht, Holland, Reidel Publishing Company, 1978, hlm. ix-xx.

[2] Elisabeth Roudinesco, Jacques Lacan and Company,  A History of Psychoanalysis in France, 1925-1985, terjemahan Jeffrey Mehlman, Chicago, university of Chicago press, 1990, hlm. 221.

[3] Foucault, ‘Pendahuluan’ dalam Canguilhem, On the Normal and the Pathological, hlm. xiv.

[4] Ibid.

[5] Canguillhem, On the Normal and the Pathological, hlm. 27.

[6] Ibid, hlm. 78.

[7] Ibid, hlm. 117.

[8] Ibid, hlm. 153.

Continue Reading

Art & Culture

Strukturalisme Awal Gaston Bachelard

mm

Published

on

Gaston Bachelard – seorang ahli epistemologi, ahli filsafat ilmu, dan teoretis tentang imajinasi – mempengaruhi banyak tokoh kunci dari generasi strukturalis dan pos-strukturalis masa sesudah perang. Melalui Jean Cavailles, dan secara khusus diterangi dan dipandu oleh karya-karya Georges Conguilhem, dan melalui Michel Foucault, ia memperoleh orientasi khasnya dalam meneliti sejarah pengetahuan. Selain itu, bersama Louis Althusser yang mendapat ilham dari konsep Bachelard tentang “diskontinuitas” – yang kemudian diterjemahkannya sebagai “keterlepasan epistemologis” – satu generasi filsuf aliran Marxis terdorong untuk memikirkan ulang segala pengertian tentang waktu, subjektivitas, dan ilmu.

Gaston Bachelard lahir pada tahun 1884, di daerah pedesaan Prancis, tepatnya di Bar-sur-Aube, dan meningngal di Paris pada tahun 1962. Setelah bekerja di Jawatan Pos (1903-1913), ia menjadi seorang guru besar fisika di College de Bar-sur-Aube dari tahun 1919 sampai tahun 1930. Dalam umur 35 tahun, ia berkesempatan untuk belajar lebih lanjut – kali ini dalam bidang filsafat, dan agregation diperolehnya pada tahun 1922. Kemudian, pada tahun 1928 ia menerbitkan tesis doktoralnya yang dipertahankan pada tahun 1927, berjudul Essai sur la connaisance approchee (Esai Tentang Pengetahuan Pendekatan) dan tesis pelengkapnya yang berjudul Etude sur I’evolution d’un probleme physique, La propagation thermique dans le solides (Telaah Evolusi Suatu Masalah dalam Fisika: Hantaran Panas dalam Benda Padat). Berkat karyanya ini, pada tahun 1940 Bachelard diminta menduduki jabatan yang bertugas menangani masalah sejarah dan filsafat ilmu di Sorbonne, jabatan yang dipegangnya sampai tahun 1954.

Tiga unsur pokok pemikiran Bachelard membuatnya menjadi seorang filsuf dan pemikir yang unik serta membuat karya-karyanya sangat berpengaruh bagi generasi kaum strukturalis di zaman sesudah perang. Yang pertama berkaitan dengan pentingnya kedudukan epistemologi di dalam ilmu. Dalam kaitan ini, jika para ilmuwan kurang memiliki pemahaman yang mendalam tentang bidang tugas mereka, maka penerapan karya mereka akan benar-benar terhambat. Epistemologi adalah wilayah kajian yang meninjau pentingnya segala praktek ilmiah. Seperti yang dituliskan Bachelard di dalam The Philosophy of No!, “Ruang yang diamati seseorang, yang diperiksa oleh seseorang, secara filosofis sangat berbeda dengan ruang yang dilihatnya.”[1] Ini karena ruang yang dilihat seseorang selalu merupakan ruang yang direpresentasikan, bukan ruang yang nyata. Hanya dengan upaya kembali ke filsafat, hal ini bisa dipikirkan. Memang, Bachelard terus berusaha mengusulkan suatu “telaah sistematis tentang representasi, bentuk pengantaran yang paling alamiah dalam menentukan hubungan antara noumenon dan fenomenon” .[2] Berkaitan erat dengan interaksi antara realitas dengan representasinya, Bachelard tak pernah lelah mendukung hubungan dialektis antara rasionalisme dengan realisme – atau empirisisme (sebagaimana biasa disebut). Oleh sebab itu, dalam bukunya yang paling berpengaruh, The New Scientific Spirit, “penyair” epistemologi tulen ini berpendapat tentang adanya dua landasan  metafisis mendasar, yaitu rasionalisme dan realisme. Rasionalisme – yang di dalamnya tercakup filsafat dan teori – adalah wilayah interprestasi dan penalaran; di pihak lain, realisme memberikan bahan-bahan bagi rasionalisme untuk melakukan interprestasinya. Jika dalam upaya menangkap fakta-fakta baru kita tetap berada di tingkatan yang naif dan intuitif – tingkatan eksperimental – itu berarti menjerumuskan pemahaman ilmiah ke dalam stagnasi, karena kenaifan dan instuisi itu tidak bisa menyadari apa yang dilakukannya. Demikian juga, bila kita membesar-besarkan pentingnya aspek rasionalitas – bahkan mungkin pada akhirnya mengklaim bahwa ilmu itu tidak lebih daripada sekadar ilmu itu tidak lebih daripada sekadar perenungan tentang sistem filosofis yang mendasarinya – maka muncullah idealisme yang mandul. Oleh sebab itu, bagi Bachelard bersikap ilmiah tidak berarti mengistimewakan rasionalitas atau realitas, melainkan mengenali adanya kaitan tak terputuskan antara mereka. Di dalam ungkapannya yang terkenal berikut ini, Bachelard menangkap satu hal yang penting: “Eksperimen harus memberi kesempatan untuk munculnya argumen, dan argumen harus dikembalikan ke eksperimen.”[3] Semua tulisan Bachelard tentang sifat-sifat ilmu didorong oleh prinsip ini. Terdidik sebagai ilmuwan dan filsuf, semua tulisan Bachelard memang memperlihatkan kedua posisi itu. Seperti yang bisa diharapkan, buku seperti Le Rationalisme applique (Rasionalisme terapan), ditujukan untuk menunjukkan landasan teoretis pada berbagai eksperimentasi berbeda. Oleh sebab itu, rasionalisme yang mendalam selalu merupakan rasionalisme terapan yang dipelajari dari realitas. Walaupun begitu, ini belum semuanya, karena Bachelard juga sependapat bahwa kaum empiris bisa mempelajari realitas dari kaum teoretisi bila – seperti halnya Einstein – suatu teori dikembangkan sebelum eksperimen yang berkaitan denganya dilakukan. Di sini, teori memerlukan keterkaitan eksperimental untuk bisa mendapatkan keabsahannya. Dengan penekanannya terhadap epistemologi, Bachelard menyatukan filsafat dengan ilmu secara sangat baru. Di sinilah manusia dan ilmu-ilmu alam menemukan titik temu dan pengantarannya, yakni dalam diri seorang lelaki yang akhinya berhasil menuliskan ‘puisi’ tentang ilmu.

Aspek pokok kedua, dalam karya Bachelard yang sangat berpengaruh pada strukkkturalisme adalah penteorian (theorisation) yang dilakukannya pada sejarah ilmu. Pada pokoknya, Bachelard mengusulkan suatu penjelasan non-evolusioner tentang perkembangan ilmu, di mana perkembangan yang terjadi sebelumnya tidak selalu menjelaskan keadaan ilmu di masa kini. Sebagai contoh, menurut Bachelard kita tidak mungkin bisa memberikan penjelasan tentang teori realtivitas Einstein sebagai pengembangan dari teori fisika Newton. Menurut Bachelard, doktrin-doktrin baru tidak berkembang dari yang lama, tetapi “yang baru merangkum yang lama”. Kemudian diteruskannya: “Generasi kaum intelektual tercakup satu di dalam yang lain. Saat kita berpindah dari fisika non-Newtonian ke fisika Newtonian, kita tidak menemukan kontradiksi, akan tetapi kita mengalami kontradiksi.”[4] Berdasarkan hal ini, konsep yang menghubungkan satu penemuan yang akan datang dengan penemuan-penemuan sebelumnya bukanlah suatu kontinuitas, melainkan suatu diskontinuitas antara geometri non-Euclidean dengan geometri Euclidean, dan teori tentang kedudukan, ruang, dan waktu yang dikemukakan oleh Heisenberg dan Einstein. Di sini juga Bachelard menunjukkan bahwa di masa lalu, massa didefinisikan dalam kaitannya dengan sejumlah kuantitas materi, sehingga semakin besar massanya semakin besar pula gaya yang diperlukan untuk mendorongnya: kecepatan dianggap sebagai fungsi dari massa. Melalui Einstein kita sekarang tahu bahwa massa adalah fungsi dari kecepatan, bukan sebaliknya. Hal penting yang mau dikemukakan di sini bukanlah bahwa teori-teori yang dibangun di masa lalu itu tidak lengkap dan perlu ditentang, melainkan bahwa teori-teori baru cenderung mentransendensikan sepenuhnya – atau memiliki diskontinuitas dengan – teori-teori dan penjelasan tentang gejala-gejala yang sebelumnya sudah ada. Seperti yang dijelaskan Bachelard:

Jelas bahwa ada beberapa jenis pengetahuan yang tidak pernah berubah. Maka, ada orang yang berpikir bahwa kestabilan isi berasal dari kestabilan wadahnya, atau dengan kata lain, bahwa bentuk-bentuk rasionalitas bersifat permanen dan tidak ada bentuk baru pemikiran rasional yang mungkin. Akan tetapi, struktur tidak datang dari akumulasi saja, setumpuk pengetahuan yang tidak pernah berubah tidak memiliki kepentingan fungsional sebesar yang kadang-kadang kita perkirakan.[5]

Bachelard berpendapat bahwa sebenarnya perubahan makna suatu konsep atau ciri suatu bidang penelitianlah – kadang-kadang berlangsung secara radikal – yang mencirikan bentuk upaya-upaya ilmiah dengan sangat baik. Oleh sebab itu, yang baru di dalam ilmu selalu bersifat revolusioner.

Sebagai tambahan terhadap konsepsi Bachelard tentang perkembangan ilmiah, perlu diketahui bahwa semua pikiran ilmiah pada dasarnya merupakan suatu proses objektifikasi – hal yang diyakini sepenuhnya oleh Pierre Bourdieu (seorang bekas murid Bachelard). Selain itu, dalam membahas pemikiran ilmiah dari zaman modern, Bachelard menunjukkan bahwa pada dasarnya ia bertujuan untuk melihat segala fenomena secara relasional, dan tidak secara subtantif, atau sebagai yang memiliki kualitas mendasar. Pengamatan ini jelas menunjukkan satu ciri yang ada di dalam pemikiran strukturalis kontemporer. Oleh sebab itu, Bachelard mengakui bahwa “objek yang ada dalam sistem Hilbert sepenuhnya bersifat relasional dan sedikit pun tidak bersifat substansial.”[6]

Ketika ia mengemukakan bahwa “upaya asimilasi terhadap hal yang tak rasional melalui penalaran tidak pernah gagal membangkitkan reorganisasi timbal balik dalam wilayah rasionalitas”[7], pada intinya Bachelard mau menegaskan ciri dialektis dari pendekatannya – yang dalam konteks dan tujuan yang berbeda dicuatkan kembali oleh Julia Kristeva dengan konsepnya tentang “semiotik” dan “simbolik”. Pemikiran selalu “berada dalam proses objektifikasi”;[8] ia tidak pernah lengkap dan pasti – tidak pernah tertutup dalam dirinya sendiri, seperti yang sering dipikirkan oleh para ilmuwan.

Dikaitkan dengan konsep pemikiran seperti itu, tampaklah sikap Bachelard yang anti Cartesian. Jika Descartes berpendapat bahwa untuk mencapai kemajuan, pemikiran harus beranjak dari gagasan yang jelas dan sederhana, maka Bachelard justru berpendapat sebaliknya. Gagasan yang sederhana itu tidak ada, kata Bachelard yang ada hanya kerumitan, dan ini terbukti khususnya saat gagasan itu diterapkan. Penerapan adalah perumitan begitu kata Bachelard. Selain itu, bila teori terbaik tampaknya menjadi teori yang bisa menjelaskan realitas dengan cara yang paling sederhana. Bachelard berpendapat bahwa realitas itu tidak pernah sederhana, dan di dalam sejarah ilmu, upaya untuk mencapai kesederhanaan (misalnya struktur atom hidrogen) segera menunjukkan adanya penyederhanaan yang terlalu besar saat kerumitan realitas itu akhirnya diakui. Sebagai suatu pengertian yang datang dari Descartes, kesederhanaan tidak bisa dengan begitu saja mengurai fakta karena setiap gejala adalah jalinan dari keterkaitan, bukan hanya subtansi saja. Dengan demikian, segala gejala hanya bisa dicerna melalui sebentuk sintesis yang senada dengan yang disebutkan oleh Bachelard pada tahun 1936 sebagai surrasionalisme.[9] Surrasionalisme merupakan suatu pengayaan dan revitalisasi rasionalisme dengan merujuk pada dunia material, seperti halnya surealisme yang bertujuan melakukan revitalisasi realisme dari arah yang lain, yakni melalui mimpi.

Dimensi lain dari pemikiran Bachelard yang cukup berpengaruh adalah karyanya yang mengalisis bentuk-bentuk imajinasi, khususnya imaji-imaji yang terkait dengan tema materi, gerakan, gaya, dan impian, seperti juga yang berhubungan seperti api, air, udara, dan tanah. Dalam karyanya seperti La Terre et les reveries de la volonte (Bumi dan Khayalan Kehendak) Bachelard beberapa kali merujuk ke puisi dan sastra dari tradisi kultural Barat yang digunakan untuk menggambarkan karya imajinasi. Karya imajinasi harus dibedakan dengan pencerapan atau persepsi tentang dunia luar yang diterjemahkan kedalam imaji atau citra. Seperti yang sudah dikatakan Bachelard, karya imajinasi itu lebih mendasar daripada pencerapan imaji; oleh sebab itu, hal ini merupakan suatu masalah pengakuan terhadap “karakter imajinasi kreatif yang mendasar secara psikis”.[10] Di sini imajinasi bukanlah bayangan sederhana dari imajinasi eksternal, melainkan kegiatan  yang dipengaruhi oleh atau tunduk pada kehendak  individu. Bachelard lalu mulai  mengamati hasil-hasil kehendak kreatif ini – produk-produk yang tidak bisa diramalkan berdasarkan pengetahuan tentang realitas. Oleh sebab itu, dalam pengertian tertentu, ilmu tidak bisa meramalkan arah suatu imajinasi karena imajinasi  ini memiliki bentuk otonomi tertentu. Tunduk pada kehendak berarti bahwa imajinasi ini – sebagaimana halnya pada beberapa orang surealis – berkaitan dengan khayalan setengah sadar (reverie), bukannya dengan proses-proses tak sadar (kondensasi, perpindahan, dan sebagainya) yang ada dalam mimpi. Dengan demikian, bersama dengan minatnya terhadap arketipe, faktor inilah yang membuat Bachelard jauh lebih dekat dengan Jung daripada dengan Freud. Yang juga mengingatkan kita akan Jung adalah penekanan yang diberikan Bachelard, dalam analisisnya tentang imajinasi, atas empat unsur primer yaitu api, air, udara, dan tanah, yang terus ada selamanya di dalam suatu alkimia puitis. Di sini tampaklah adanya suatu unsur mistis (bdk. karya Jung, Psychology and Alchemy). Lebih jauh lagi, keteguhan sikap Bachelard pada keunggulan hubungan subjek-objek yang bersifat asli yang, walaupun tidak selalu dengan sukarela, diambilnya dari fenomenologi, menunjukkan bahwa jikalaupun imajinasi menghasilkan citra atau imaji (paling sering berupa sublimasi arketipe), karya kreativitas sendiri tidak dilihat sebagai yang menghasilkan hubungan subjek-objek. Oleh karena itu, yang menjadi subjek di sini adalah Yang Mulia ego, seperti yang juga sudah dikatakan Freud; karena adanya anggapan tentang otonomi yang mencoba bersikap mutlak. Suatu unsur penutupan tampaknya tidak ada didalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan dengan demikian unsur tersebut mulai memasuki karya-karya Bachelard tentang imajinasi.

Imajinasi adalah medan dari citri (imaji), dan hal ini harus dibedakan dengan penerjemahan dunia eksternal kedalam konsep. Imajinasi menghasilkan imaji dan menjadi imajinya, sedangkan pikiran melahirkan konsep. Tanpa suatu surealisme yang muncul untuk membangkitkan imaji ini, dunia imaji akan layu dan mati, sehingga gilirannya ia akan tertutup bagi dirinya sendiri. Sama juga, jika tidak ada suatu surrasionalisme tertentu, pemikiran dan konsep-konsepnya juga akan layu – akibat kelengkapan dan kesederhanaannya sendiri. Sebenarnya, “keterbukaan” dan “kompleksitas” merangkum sikap Bachelard. Dalam menjelaskan unsur-unsurnya – sedikit bergaya Jungian – konsep menjadi berciri maskulin, sedangkan imaji atau citra menjadi berciri feminin. Demikian juga, konsep setara dengan citra siang hari (karena setara dengan ‘melihat’), sedangkan citra (imaji) setara dengan bayangan malam hari. Dominique Lecourt, dalam sebuah buku kecilnya yang dengan begitu tajam mengulas Bachelard, memberikan komentar yang sangat tepat terhadap gambaran pemikiran sang pemikir tersebut. “Singkatnya, dalam mengungkapkan kembali pemikiran Bachelard, perbedaan antara buku-buku ilmiahnya dan buku-bukunya tentang imajinasi itu tampak seperti halnya perbedaan antara Siang dengan Malam”.[11] Pada umumnya Bachelard tidak terlalu yakin tentang apakah kedua unsur itu bisa muncul bersama-sama, yaitu apakah imaji bisa muncul di dalam ilmu, dan ilmu di dalam lingkungan imaji. Meskipun demikian, tulisan-tulisan Bachelard akhirnya bisa dilihat sebagai sumber inspirasi bagi orang-orang yang ingin meruntuhkan batas antara konsep dan imaji, sehingga imaji-imaji baru bisa menjadi landasan dari konsep-konsep ilmiah yang baru, sedangkan konsep baru bisa merangsang lahirnya imaji-imaji yang baru.

Secara khusus, karya Bachelard menunjukkan bahwa baik konsep maupun imaji atau citra itu tidak transparan, dan ketidaktransparan ini menunjukkan bahwa unsur subjektivitas selalu bermain dalam semua kegiatan manusia. Ini berarti bahwa manusia diperbincangkan selama mereka berbicara dalam kerangka ilmu serta sistem simbolik yang mencirikan kehidupan mereka. Seperti yang juga dikatakan Lecourt: “tidak ada yang bisa membaca wacana yang divergen ini tanpa merasakan adanya kesatuan yang harus dicari di bawah kontradiksi yang ada”.[12] “Kesatuan”? Atau “sintesis”? Jawabannya bukan tidak penting. Hal ini karena jika kesatuan berkonotasi homogenitas dan berisiko menjadi suatu kesatuan yang sederhana, maka menurut Bachelard sintesis ini berhubungan dengan keterkaitan. Yang terakhir ini bisa muncul di antara unsur-unsur yang berbeda (asal perbedaannya tidak terlalu radikal), dan mengandaikan adanya sedikit perbedaan. Di sisi lain, kesatuan cenderung menghapuskan segala hubungan. Akhirnya, oeuvre Bachelard cenderung menampilkan pengertian tentang sintesis yang telah dikemukakan di dalam tulisan-tulisan awalnya. Meskipun demikian, karena sebab-sebab tertentu, sintesis tersebut tidak bisa dilihatnya; suatu kebutuhan yang niscaya karena posisi yang diambilnya saat ia menulis (dalam kerangka eksistensial). Dalam hal ini, Malam bisa dilihat berlangsung sebelum datangnya Siang dalam oeuvre yang sangat istimewa ini. (John Lechte, dalam 50 Filsuf Kontemporer, Kanisius Yogyakarta)

[1] Gaston Bachelard, The Philosophy of No: A Philosophy of the New Scientific Mind, terjemahan oleh G.C. Waterston, New York, Orion Press, 1968, hlm. 63.

[2] Ibid., hlm. 64

[3] Gaston Bachelard, The New Scientific Spirit, terjemahan oleh Arthur Goldhammer, Boston, Beacon press 1985, hlm. 4; penekanan dari Bachelard.

[4] Ibid., hlm. 60.

[5] Ibid., hlm. 54.

[6] Ibid., hlm. 30-31.

[7] Ibid., hlm. 137.

[8] Ibid., hlm. 176. Penekanan ditambahkan kemudian.

[9] Gaston Bachelard. ‘Le Surrationalisme’ Inquisitions, I (1936).

[10] Gaston Bachekard, La Terre et les reveries de la volonte: essai sur I’imagination des forces, Paris, Corti, 1948, hlm. 3.

[11] Dominique Lecourt, Bachelard ou le jour et laruit (un essai de mat’erialisme dialectique), Paris, Maspero, 1974, hlm. 32.

[12] Ibid. Penekanan dari Lecourt.

Continue Reading

Art & Culture

Genetika Myriad dalam Analisa Revolusi Pengetahuan Kuhn

mm

Published

on

Asososiasi Patologi Molekular bersama dengan berbagai asosiasi medis lainnya, dokter dan pasien menggugat US Patent dan Trademark Office (USPTO) dan Myriad Genetics terkait dengan paten genetik manusia. Paten menyangkut gen BRCA1 dan BRCA2 dan beberapa jenis mutasi gen yang mengindikasikan resiko kanker payudara. Gugatan juga mempermasalahkan beberapa metode yang digunakan untuk mendiagnosa screening gen tersebut. Myriad berargumentasi bahwa sekalinya gen diisolasi, dan kemudian dapat dibedakan dari jenis gen lannya, maka dengan begitu bisa dipatenkan. Dengan mematenkan gen tersebut, Myriad mempunyai kontrol ekslusif terhadap diagnosa test dan riset ilmu pengetahuan lebih lanjut terhadap gen BRCA.

Beberapa ilmuwan, masyarakat yang menandatangani petisi tersebut berargumentasi bahwa mematenkan gen tersebut telah melanggar §101 Undang-Undang Paten di Amerika Serikat karena gen adalah produk alamiah. Maka persoalan apakah gen dapat dipatenkan atau tidak kemudian berkembang menjadi permasalahan filosofis, ilmu pengetahuan dan masalah kebijakan, tidak hanya semata pertanyaan hukum. Di sisi lain, permasalahan paten adalah siapa yang berhak memprivatisasi kesehatan, menjadi hak yang hanya bisa dinikmati oleh orang kaya. Dampak pertanyaan ini berlanjut kepada masyarakat yang adil dan fungsi ekonomi yang baik, bagaimana ketidakadilan membentuk sistem politik, hukum dan kesehatan di dalam masyarakat kita.

Namun, di dalam paper ini hanya akan membahas bagaimana kasus Myriad dapat menghambat berkembangnya revolusi pengetahuan di dalam masyarakat. Di satu sisi, penemuan gen oleh Myriad ini adalah suatu pencapaian dari pengetahuan modern, tetapi ketika hal tersebut dipatenkan, tentunya akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Keuntungan social yang seharusnya dapat dinikmati oleh masyarakat dengan adanya penemuan tersebut harus dihalangi demi keuntungan perusahaan.

Paper ini akan menggunakan teori dari Thomas Kuhn tentang “Revolutionary of Scientific Revolution.” Pembahasan tidak akan meluas kepada permasalahan metodologi riset penemuan gen (screening terhadap gen dan diagnosa metodologi) dan masalah hukum apakah Undang-Undang membolehkan mematenkan gen manusia? Oleh karena itu saya hanya menggunakan analisa mengenai Kuhn dibatasi bagaimana revolusi ilmu pengetahuan dapat dimungkinkan dan rezim paten telah menghalangi hal tersebut.

Thomas Kuhn dan Revolusi Pengetahuan

Kuhn di dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution (1962) menjelaskan tentang karakter ilmu pengetahuan yang baik terdiri dari lima kriteria:

  1. Teori haruslah akurat: di dalam domainnya, dan menimbulkan teori hasil dari eksperimen sebelumnya dan observasi.
  2. Teori haruslah konsisten, tidak hanya di dalam dirinya sendiri, tapi juga berhubungan dengan teori lainnya yang diterima dan diaplikasikan yang berhubungan dengan aspek alamiah.
  3. Mempunyai cakupan yang luas, konsekuensi teori haruslah meluas mengatasi observasi partikular, hukum, atau subteori yang dirancang untuk dapat menjelaskan.
  4. Teori haruslah sederhana, menjembatani susunan terhadap fenomena dimana di dalamnya absen.
  5. Teori haruslah terbuka terhadap riset selanjutnya. Dia harus menyingkap fenomena baru atau menghubungkan antar fenomena yang sudah diketahui namun sebelumnya belum terungkap.

Kelima standar kriteria ini adalah untuk mengevaluasi kelayakan suatu teori. Standar ini memainkan peranan yang penting bagi para ilmuwan, ketika mereka harus memilih antara teori yang sudah ada dan kompetitor selanjutnya. Bersama dengan yang lainnya mereka menyediakan dasar teori pilihan yang dapat dibagi.

Kuhn mengklaim bahwa prosedur ilmuwan digunakan untuk mengembangkan pengetahuan bukanlah aturan umum yang tepat untuk mengkritik teori. Teori adalah rangkaian prosedur dan asumsi yang saling berhubungan yang sangat komplek dan tajam. Teori hanya bisa dipelajari melalui pemahaman contoh partikular pencapaian scientific dan melakukan riset ilmu pengetahuan dimana kita mengaplikasikan apa yang kita pelajari berdasarkan contoh-contoh.             Jika kita berusaha mengartikulasikan apa yang membimbing riset sebagai aturan umum yang tepat, kita akan menghasilkan hukum yang sederhana dimana tidak akan mengarah kepada pengetahuan lebih lanjut. Asumsi dan prosedur yang mendasari ilmuwan mempelajarinya tidak mencukupi untuk mempertahankan dasar yang dibagi dan standar fundamental. Mereka membentuk penalaran dan persepsi di dalam disiplin ilmu, sehingga tidak ada fundamental yang muncul. [1]

Kuhn juga berargumentasi bahwa progress revolusi pengetahuan tidak bisa muncul berdasarkan standar yang sama. Aspek fundamental dari teori lama harus ditinggalkan, yang berarti teori lama tidak bisa secara benar dikatakan benar. Gambaran metafisika yang mendasari teori baru secara keseluruhan berbeda dengan teori lama.

Di dalam pandangan Kuhn, pengetahuan dibangun melalui beberapa tahap: pertama adalah tahap pra-paradigma dimana ada perbedaan mendasar antara teori dan penemuan atas fakta acak yang tidak diikuti oleh berbagai macam prosedur yang ada. Pada beberapa poin, ada yang berubah dan ada persetujuan yang menjadi contoh dan beberapa diantaranya harus diikuti. Asumsi dasar yang mendasari bahwa pekerjaan secara luas dapat diterima; dan lebih penting, cara mengerjakan riset secara luas ditiru. Pada era ini, Kuhn mengatakan bahwa paradigma tertentu mendominasi era ilmu pengetahuan. Sementara paradigma mendominasi, asumsi dasar pada jantung paradigma dipertanyakan. Kegiatan tersebut dinamakan sebagai normal science. Hal yang penting yang terjadi ketika pekerjaan membentuk normal science yang terdiri dari berbagai macam masalah dipecahkan melalui contoh tindakan. Hal lainnya juga muncul. Pengetahuan faktual terakumulasi dan menjadi semakin tajam. Inovasi teknologi dihasilkan. Sesudah itu, berbagai masalah yang tidak terselesaikan muncul, banyak diantaranya, di dalam asumsi komunitas ilmuwan itu sendiri. Kuhn menyebut kegagalan untuk memecahkan masalah sebagai anomaly. Ketika anomaly berlipat ganda, dan beberapa diantaranya dilihat sebagai sesuatu yang penting, pengetahuan di era tersebut memasuki periode krisis. Krisis dapat dipecahkan ketika paradigma baru menggantikan paradigm lama. Kebanyakan hasil kerja para ilmuwan muncul selama periode pengetahuan normal.

Sebelum masa itu, ada banyak perselisihan terhadap hal fundamental, dan juga terhadap hal-hal acak dan pengumpulan informasi tanpa arah. Sebagai hasilnya, banyak pekerjaan yang dihasilkan di dalam fase pra-paradigma menjadi tidak berguna dalam menyelesaikan masalah penting atau bahkan di dalam akumulasi fakta baru. Di dalam periode normal science yang mengikutinya, banyak masalah yang diselesaikan berdasarkan akurasi keluasan. Sebagai contoh, dengan melihat apa yang terjadi sesudah revolusi mekanik Newton. Newton telah menghasilkan teori fisika dasar yang diaplikasikan ke dalam rangkaian persoalan. Sekarang banyak teori yang membutuhkan detail teori tersebut yang diaplikasikan kedalam berbagai macam persoalan. Persamaannya tidak jelas dan butuh untuk diinterpretasikan dalam aplikasi persoalan lebih lanjut. Misalnya: prediksi atas garis edar planet. Planet baru ditemukan dengan memperhatikan anomali di dalam garis edar planet yang sudah diketahui.

Banyak dari laporan ini kelihatannya bisa sesuai dengan gambaran perkembangan pengetahuan sebelumnya, jika laporan yang lama dimodifikasi. Tetapi Kuhn berfikir hal tersebut tidak akan sesuai jika kita mengerti secara keseluruhan apa yang terlibat di dalam paradigma dan mempelajari apa yang terjadi di dalam revolusi ilmu pengetahuan. Maka langkah-langkah yang harus diperhatikan di dalam revolusi pengetahuan adalah:

Pertama, di dalam revolusi pengetahuan, ilmuwan terkemuka yang bekerja di dalam paradigma lama dan baru tidak akan mampu meraih persetujuan secara rasional atas kesuperioran paradigma baru. Kelompok tradisional ilmuwan yang ingin tetap pada paradigma baru akan membangun, kelompok lama yang secara tipikal terbiasa dengan paradigma lama dalam waktu cukup lama. Mereka akan mampu memberi alasan yang benar atas keputusan mereka, sebaik alasan yang dipahami dibawah paradigma lama. Juga ada kelompok ilmuwan pemberontak, secara tipikal mereka terdiri dari anggota yang lebih muda yang pemikirannya tidak dibatasi oleh paradigma lama, yang mampu memberikan alasan yang baik untuk perubahan terhadap paradigma baru. Alasan tersebut akan  berhubungan dengan fakta yang banyak diketahui bahwa padigma lama mempunyai masalah yang serius, dan mereka akan menggunakan kriteria paradigma baru untuk mengkritik teori yang dibangun dibawah paradigma lama sebagai yang tidak sempurna. Menurut Kuhn, konflik tersebut secara rasional tidak bisa diselesaikan. Dia hanya akan bisa diselesaikan secara non-rasional melalui  pengunduran diri atau kematian dari anggota lama  dan kegagalannya dalam menarik penganut baru dari paradigma lama.

Kedua adalah teori yang diformulasikan dibawah paradigma baru seringkali cukup berbeda dari teori lama. Teori lama tidak secara masuk akal diajarkan menjadi perkiraan dari teori baru. Alasan mengapa mereka secara radikal berbeda bahwa asumsi ontologis yang mendasari teori baru cukup berbeda dari apa yang mendasari teori lama. Kuhn menyebutnya sebagai yang tidak terbandingkan (incommensurable). Ini berarti bahwa ketika perubahan paradigma muncul, kita tidak bisa secara legitimate berbicara mengenai pertumbuhan pengetahuan. Dalam hal ini, Kuhn memberikan contoh mengenai hubungan antara teori mekanika Newton dan teori relativitas Einstein. Keduanya muncul dalam penggunaaan konsep yang sama seperti: massa, kecepatan dan waktu.  Prediksi yang dihasilkan oleh dua teori tersebut adalah sama ketika teori diaplikasikan kepada objek benda yang bergerak pada kecepatan rendah. Hanya ketika mereka diaplikasikan kepada objek yang berkecepatan tinggilah prediksi dari dua teori ini  berbeda secara signifikan. Menurut Kuhn, mekanika Newton memiliki ontologi implisit yang secara radikal berbeda dari teori Einstein, jadi ini merujuk kepada dua hal yang berbeda.  Setiap penjelasan di dalam dua teori tersebut adalah sesuatu yang berbeda. Perbedaan tersebut berarti jika teori Einstein benar, maka teori mekanika Newton tidak secara kira-kira benar karena ontologi teori Einstein keluar dari eksistensi dari hal yang diisyaratkan di dalam mekanika Newton. Jika teori Einstein benar, mekanika Newton telah gagal dirujuk, jadi tidak bisa kira-kira secara benar. Secara sama, jika term mekanika Newton diambil untuk merujuk kepada sesuatu, maka itu tidak bisa dirujuk kepada entitas dari teori Einstein.[2]

Walaupun pandangan Kuhn mengenai pembangunan pengetahuan berbeda dari gambaran sebelumnya, dia tidak bermaksud melawan relativisme-pandangan yang melihat bahwa manfaat dari teori ilmu alam bergantung semata-mata terhadap kriteria dimana paradigma internal dari apa yang dikritisi. Akan ada persamaan dan keberlanjutan antara pardigma dan akan ada beberapa kriteria untuk mengkritisi teori yang dibagi bersama. Paradigma baru tidak berasal dari ruang hampa udara dan  pengikut dari masing-masing paradigma mempunyai kehidupan luar dimana mereka menggunakan asumsi dan kebiasaan lain. Kuhn mengatakan bahwa pengikut dari kedua paradigma tidak akan mampu menyelesaikan perselisihannya dengan menggunakan kriteria penggunaan pemilihan teori yang lebih sederhana dibandingkan yang rumit. Karena mereka membuat ranking dan menginterpretasikan berbagai kriteria dari yang terbaik secara berbeda. Hal ini berarti jika Kuhn tidak terikat terhadap relativisme, dia terikat kepada klaim bahwa tidak ada pertumbuhan pengetahuan yang muncul selama revolusi pengetahuan. Tapi, dia tidak menolak kemajuan ilmu pengetahuan, bahkan ketika disiplin telah melewati beberapa revolusi pengetahuan. Pengetahuan tidak menggantikan teori dengan teori lain yang mendekati kebenaran; tapi kemajuan karena, paradigma telah sukses terhadap yang lainnya, para ilmuwan memecahkan lebih banyak masalah, menghasilkan prediksi yang lebih sukses dan merubah akurasi prediksi mereka. Orang yang mengamati dari luar paradigma bisa memberi alasan bahwa ada perkembangan karena kebanyakan masalah yang berusaha dipecahkan oleh para ilmuwan merupakan “secara langsung ditampilkan oleh alam, dan semua yang mempengaruhi alam secara tidak langsung” (Kuhn, 1970c: 263-4).

Ada dua hal yang ditegaskan oleh Kuhn di dalam revolusi pengetahuan: [3]

  1. Ini adalah dua pandangan yang sangat berbeda terhadap ide tradisional dari pertumbuhan pengetahuan kumulatif, karena perubahan paradigma atau revolusi pengetahuan membutuhkan perubahan di dalam teori pengetahuan secara keseluruhan.
  2. Revolusi dapat terjadi ketika paradigma baru sudah tersedia, dan juga terjadi ketika ilmuwan mampu mengartikulasikan gambaran baru kepada koleganya.

 

Paten dan Terhambatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Riset menunjukkan[4] bagaimana paten terhadap gen sebenarnya dapat mengurangi produksi atas pengetahuan baru, karena hal yang terpenting bagi terciptanya pengetahuan baru adalah pengetahuan sebelumnya, dan paten telah menghalangi akses terhadap hal tersebut. Pengetahuan bukanlah ditujukan untuk mencapai keuntungan, seperti yang diinginkan oleh perusahaan besar, tapi adalah pencapaian terhadap transformasi pengetahuan itu sendiri.

Amerika dan berbagai Negara Maju lainnya menekan rezim hak kekayaan intelektual di seluruh dunia. Rezim tersebut membatasi akses Negara miskin dan berkembang terhadap pengetahuan yang mereka butuhkan untuk pembangunan. Tidak hanya Negara yang membatasi patennya, tetapi juga berbagai organisasi multilateral seperti World Trade Organization (WTO) mempunyai system yang disebut dengan Trade Related Intelectual Property Rights (TRIPS). Ketidakseimbangan di dalam rezim hak kekayaan intelektual menghaslkan inefisiensi-termasuk monopoli keuntungan dan telah gagal memaksimalkan penggunaan pengetahuan yang menghalangi inovasi.

Paten telah mengakibatkan harga untuk mendiagnosa menjadi sangat tinggi. Test gen biasanya dapat dibayar dengan biaya rendah. Seseorang dapat melakukan test 20.000 gennya dengan harga sekitar $1,000, bahkan bisa lebih murah untuk spesifikasi patologi tertentu. Sementara itu, Myriad akan mengenakan sekitar $4,000 terhadap dua gen kanker tersebut.[5] Kalangan ilmuwan menyatakan bahwa tidak ada hal khusus tentang metode yang dipakai oleh Myriad, dia hanya test gen sederhana yang dipunyai oleh perusahaan, dan dilakukan berdasarkan data yang tidak tersedia untuk umum diakibatkan oleh paten.

Sementara itu, jika gen tersebut tidak dipatenkan maka akan tercipta kompetisi yang terbangun dengan baik dan tentunya test gen yang lebih murah. Kita dapat mempunyai pasar yang kompetitif yang memungkinkan terciptanya inovasi. Semua pengetahuan berdasarkan pengetahuan sebelumnya, dan dengan tidak adanya pengetahuan sebelumnya, maka inovasi tidak akan mungkin terjadi. Penemuan yang diklaim oleh Myriad menggunakan teknologi dan ide yang berasal dan dibangun oleh yang lain. Maka dengan tidak adanya pengetahuan yang tidak tersedia untuk umum, sebenarnya Myriad tidak bisa menemukan gen tersebut.

Motivasi penemuan di dalam ilmu pengetahuan tidak pernah untuk mengejar laba. Penemuan besar seperti: laser, komputer, internet dan lain sebagainya berasal dari keingintahuan dan kebutuhan akan  pengetahuan atau mungkin dengan tujuan lain seperti: memudahkan kehidupan manusia. Memang ada penelitian yang dibiayai oleh pemerintah, foundation, donor dan sebagainya, tetapi kemudian penelitian tersebut digunakan dan diberikan bebas kepada masyarakat. Sistem paten tidak bekerja di dalam kerangka tersebut. Sistem paten melalui rezim hak kekayaan intelektual hanya akan menghentikan terjadinya revolusi ilmu pengetahuan. (*)

 

*Rika Febriani, Mahasiswa Paska Sarjana STF Driyarkara

 

 

 

Daftar Pustaka

Couvalis, George, The Philosophy of Science;  Science & Objectivity, Sage Publications, London, 1997

Ladyman, James, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002

Kuhn, Thomas, The Structure of Scientific Revolution, 1962

Referensi Internet

http://www.project-syndicate.org/commentary/the-myriad-problems-of-intellectual-property-by-joseph-e–stiglitz

http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/07/14/how-intellectual-property-reinforces-inequality/?smid=tw-share&_r=0

[1] George Couvalis, The Philosophy of Science;  Science & Objectivity, Sage Publications, London, 1997, Hal.89

[2] Ibid, hal.89

[3] James Ladyman, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002.  hal.103

[4] http://www.project-syndicate.org/commentary/the-myriad-problems-of-intellectual-property-by-joseph-e–stiglitz

diakses pada 2 Januari 2014

[5] http://opinionator.blogs.nytimes.com/2013/07/14/how-intellectual-property-reinforces-inequality/?smid=tw-share&_r=0

 

Continue Reading

Trending