Connect with us

Milenia

Tulisan Bermutu Tinggi; Modal Yang Perlu Dimiliki Seorang Penulis

mm

Published

on

Oleh: Maria Rita Roewiastoeti[1]

Menulis itu sama mudah sekaligus rumitnya dengan memasak.  Ada tulisan yang bermutu baik, sama halnya masakan, ada pula yang sama sekali tidak layak disebut baik.  Sebagaimana seorang juru masak perlu memiliki pengetahuan yang lengkap  tentang sifat bahan-bahan makanan, jenis dan khasiat bumbu-bumbu, penguasaan teknik memasak yang benar, cita rasa (taste) yang bagus dan pengalaman memasak yang luas lagi panjang (termasuk mengalami kegagalan dan memetik pelajaran dari padanya), seorang penulis juga perlu memiliki sejumlah modal agar bisa menghasilkan tulisan yang bermutu tinggi.  Sebuah tulisan disebut buruk bilamana pesan penulis gagal terkomunikasikan, gagasannya tidak tertangkap, alur pikiran logisnya kacau sehingga membingungkan pembaca serta penguasaan media komunikasinya – yaitu bahasa  tulis – tidak sempurna.

Arti menulis

Menulis adalah mengkomunikasikan sejumlah informasi, fakta, gagasan baru, ulasan, pendapat, kritik ataupun kecaman, kepada sejumlah besar orang (yakni calon pembaca) dengan memanfaatkan bahasa tulis.  Supaya komunikasi dapat dibangun dengan baik maka pertama-tama media komunikasi yang dipilih – yaitu  bahasa tulis – harus  dimengerti dengan baik oleh sang penulis maupun calon pembacanya.  Kedua, gagasan, ulasan, pendapat maupun kritiknya tertangkap jelas oleh pembaca bahkan mampu mempengaruhi kesadaran kritis mereka. Dua faktor tersebut terakhir merupakan persyaratan objektif. Selain itu untuk menghasilkan tulisan yang bermutu tinggi sang penulis perlu memiliki sejumlah modal yaitu: berpengetahuan luas,  berkemampuan pikir logis, sistematis lagi kritis, serta berkemampuan tinggi dalam berbahasa tulis.  Ketiga kecakapan khusus yang disebut terakhir ini merupakan persyaratan subjektif.   Maka tidak  berlebihan jika dikatakan bahwa menulis bukanlah aktivitas orang kebanyakan yang berkemampuan rata-rata.[2]

Dengan menulis orang mengungkapkan dirinya;[3] oleh sebab itu dari karya tulisnya akan terungkap siapa, apa gagasan dan bagaimana cara sang penulis berpikir dan memandang kehidupan.[4] Aktivitas menulis merupakan sarana untuk memproduksi pengetahuan bahkan memunculkan gagasan-gagasan baru. Ketika menulis seseorang sebenarnya sedang melatih dirinya mengorganisasikan dan menjernihkan konsep-konsep, menyerap dan memproses informasi-informasi, belajar berpikir aktif serta mengembangkan kecakapan berbahasa tulis.[5] Penjelasan berikut ini merupakan argumentasi mengapa tiga persyaratan subjektif tersebut diatas perlu dipenuhi oleh seseorang yang bercita-cita menjadi penulis bermutu tinggi.

Seorang penulis perlu memiliki pengetahuan yang luas

Mengapa pengetahuan sang penulis penting dalam menghasilkan tulisan yang baik?  Pengetahuan seseorang sangat menentukan mutu gagasan (atau buah pemikiran) yang akan dihasilkannya; semakin luas dan bervariasi pengetahuan yang dimiliki oleh orang itu maka akan semakin komprehensif gagasan-gagasan yang dilahirkannya.  Pengetahuan bisa bersumber pada bacaan (yakni tulisan orang lain yang memuat pengetahuan hasil penelitian atau pengalaman), tetapi bisa juga berasal dari pengalamannya sendiri sejauh telah direfleksikan dan diambil inti sarinya.  Selain itu pengetahuan juga bisa diperoleh dari  penelitian terhadap pengalaman hidup sekelompok orang lain sejauh hal itu dicatat mengikuti sistem tertentu, sebagaimana lazim dilakukan oleh para peneliti anthropologi terhadap kehidupan suku-suku bangsa pribumi yang hidup dalam peradaban zaman batu.

Bisa dipastikan bahwa seorang penulis adalah juga orang yang gemar (bahkan rakus) membaca.  Disinilah ketrampilan membaca dan kekayaan hasil bacaan sangat berpengaruh dalam membentuk seseorang untuk menjadi penulis. Bacaan seseorang akan membuat pemikirannya lebih berbobot dan selalu diperkaya. Melalui bacaan seseorang bisa mendapatkan sejumlah “tenaga dalam”  yang dibutuhkannya dalam menulis, hal mana tidak akan diperolehnya melalui cara lain.  Oleh sebab itu membaca merupakan sarana utama guna meningkatkan ketrampilan menulis.[6]  Selain itu bacaan juga bisa berfungsi meneguhkan, menegaskan atau menggarisbawahi pengetahuan yang diperoleh seseorang dari pengalaman hidupnya.  Seorang penulis yang kaya dan pintar merefleksikan pengalamannya sering sengaja berburu dan memilih bacaan sejauh mampu memuaskan pertanyaan kritis dan mencerahkan pemahamannya akan makna khusus dari pengalaman hidupnya.  Penulis jenis ini sangat beruntung karena dengan cara demikian dia terus menerus memadukan hasil bacaannya dengan pengalaman hidupnya (maupun pengalaman orang lain yang dipelajarinya) lalu  memproduksi pengetahuan baru bahkan melahirkan gagasan-gagasan baru.  Mereka itulah para pemikir produktif dan penulis sejati.

Walaupun boleh dikatakan bahwa bacaan merupakan sarana penting yang memungkinkan seseorang menulis, itu tidak berarti bahwa setiap orang yang gemar membaca serta merta akan menjadi penulis yang baik.  Masih ada dua hal lain yang perlu dia miliki, yaitu: kemampuan berpikir logis, sistematis lagi kritis, dan penguasaan teknik berbahasa tulis yang cukup.

Seorang penulis perlu memiliki kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis

Seorang teman saya adalah perempuan pejuang gerakan feminisme yang sangat populer dan disegani sehingga sering diundang berbicara di berbagai pertemuan.  Pada suatu kali para pengagumnya bermaksud memberikan apresiasi padanya dengan cara membukukan ceramah-ceramahnya yang tersebar dari waktu ke waktu.  Namun setelah buku yang dinanti-nantikan itu terbit, para pengagumnya kecewa karena kehebatan yang selama ini membuat mereka terkesan ternyata tidak muncul sedikitpun dalam buku itu.  Yang terjadi adalah kekayaan hasil bacaan maupun pengalaman hidup sang feminist tidak tertampilkan dalam alur pikiran logis dan sistematis sehingga gagal membangun komunikasi dengan pembaca – jangankan mempengaruhi kesadaran kritis – yang sudah sangat ingin memetik pelajaran darinya.

Kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis merupakan kekuatan penulis untuk mempengaruhi pikiran orang lain. Kemampuan inilah yang akan menentukan apakah seorang penulis berhasil atau gagal membangun komunikasi dengan pembacanya. Tanpa kemampuan ini tulisannya barangkali hanya akan menjadi bahan olok-olokan atau lebih buruk lagi menambah isi keranjang sampah. Sebaliknya tulisan yang dibuat oleh orang dengan kemampuan ini akan sangat bermanfaat sebagai media belajar  pembacanya.  Tulisan semacam itu bukan hanya  berfungsi mentransfer pengetahuan melainkan juga cara berpikir sang penulis sedemikian rupa sehingga mengubah kesadaran pembacanya.   Seorang penulis yang canggih bahkan mampu mentransfer ideologi yang dianutnya kepada para pembacanya.

Kemampuan berpikir logis, sistematis dn kritislah yang memungkinkan seorang penulis memproduksi gagasan-gagasan baru dengan cara meramu bahan-bahan dasar yang diperolehnya dari pengetahuan (entah itu berasal dari bacaan ataupun dari pengalaman hidup yang telah ditata dan direfleksikannya). Tanpa kemampuan berpikir logis, sistematis dan kritis, hasil bacaan selengkap apapun tidak akan dapat ditampilkan sebagai pengetahuan baru bagi pembaca, apalagi mempengaruhi kesadarannya. Hasil bacaan yang hanya dijumlahkan begitu saja dalam arti fisik tidak akan berfungsi lebih dari setumpuk informasi yang tidak saling terhubung yang ikut memenuhi gudang ingatan pembacanya.  Lebih-lebih kalau informasi yang diterima berupa potongan-potongan (fragmen) pengetahuan yang tidak utuh yang hanya akan memperpanjang deretan pernyataan yang kelak menambah bahan hafalan pembaca belaka. Oleh sebab itu tanpa kemampuan khusus ini seorang maniak membaca sekalipun belum tentu tampil sebagai penulis yang baik. Tanpa kemampuan berpikir logis dan sistematis orang yang kaya pengetahuan hasil bacaan serta rajin mengutip pernyataan penulis-penulis lain sebelumnya paling jauh hanya akan tumbuh menjadi seorang penulis mozaik[7] yang tulisannya – meskipun sepintas lalu tampak keren – pasti membingungkan karena tidak ada alur pikiran logis yang tertangkap oleh para pembacanya.

Seorang penulis perlu memiliki kemampuan berbahasa tulis

Dengan sendirinya seorang penulis harus fasih menggunakan bahasa tulis.  Berbeda dengan komunikasi lesan yang memungkinkan pendengarnya bertanya atau minta penjelasan lebih lanjut, penggunaan bahasa tulis mensyaratkan adanya sikap disiplin dan teliti (correct) dalam gramatika sebagaimana telah menjadi kesepakatan dalam berbahasa.  Penulis yang baik selayaknya mampu membayangkan apa akibat dari caranya menyusun kalimat dan memilih kosa kata bagi calon pembaca. Penulis yang baik tahu menempatkan dirinya pada situasi calon pembacanya sehingga mampu memasuki alam pikiran mereka. Beberapa penulis yang buruk adalah orang-orang bermental tiran yang mengandaikan pembacanya adalah hamba sahaya yang harus “tahu sendiri” apa yang dikehendakinya (bahkan ketika kosa kata yang digunakannya sesungguhnya tidak dipahami oleh pembacanya).  Oleh sebab itu proses penulisan yang ideal menuntut kerendahan hati sang penulis serta kerelaannya mengevaluasi tiap-tiap pernyataan, kalimat, bahkan kosa kata yang dipilihnya demi menyempurnakan komunikasi dengan calon pembacanya.

Dengan menulis orang mengubah dunia

Di atas telah saya katakan bahwa tulisan yang baik bukan hanya berfungsi mentransfer pengetahuan melainkan juga cara berpikir sang penulis sedemikian rupa sehingga mampu mengubah kesadaran pembaca. Konon penulis yang canggih bahkan mampu mentransfer ideologi yang dianutnya kepada para pembaca. Kalau orang percaya bahwa perubahan kehidupan sangat dipengaruhi oleh perubahan tindakan akibat berubahnya cara pandang manusia terhadap dunia – salah satunya melalui suatu ideologi yang disampaikan dalam tulisan bermutu tinggi – maka tidak heran jika dengan menulis sesungguhnya orang mengubah dunia. (*)

 

[1] Sehari-hari bekerja di bidang hukum sebagai  land tenure specialist, penulis dan  kritikus politik hukum & kapitalisme agraria. Belajar menulis seraya mengalaminya sebagai penulis sejak awal masa remaja;  tulisan pertamanya dimuat di majalah anak-anak SD “Si Kuntjung” Jakarta  ketika umurnya baru 10 tahun dan setelah itu selalu memecahkan record juara mengarang di sekolah hingga  tammat dari jurusan ilmu pasti & pengetahuan alam SMA  Negeri III Surakarta tahun 1970.

[2] Fassher Walwood dlm: “How to be a fluent writer” (1985) memberi suatu gambaran kontras mengenai dunia tulis menulis.  Hasil penelitiannya terhadap 56 responden memperlihatkan bahwa 49 diantaranya menderita graphophobia (takut menulis) dan hanya 1 responden menderita graphomaniac (kranjingan menulis). Dari situ Walwood berkeyakinan bahwa menulis memang bukan kerja orang berkemampuan rata-rata (mediocre).  See John de Santo dlm: “To Write is To Live Twice”,  bulletin EDUCARE, terbitan Komisi Pendidikan Konferensi Waligereja Indonesia, November 2009, hl 29

[3] Dari segi ini aktivitas menulis dapat dimanfaatkan sebagai sarana terapi jiwa maupun membantu orang-orang  tertindas menyadari situasi ketertindasan yang dialaminya.

[4] SeeYakub Dere Beoang: “Budaya menulis dan meneliti; dari mana harus dimulai?” dlm: buletin EDUCARE  terbitan Komisi Pendidikan Konferensi Waliereja Indonesia, Nov 2009, hl 25.

[5] Ibid.

[6] See Ismail Marahimin dlm: “Menulis secara populer” terbitan Pustaka Jaya, Jakarta 1994,  hl 17

[7] Suatu penamaan yang tepat dan kreatif sbgm diperkenalkan oleh Katarina Retno dlm: “Si akar serabut itu adalah budaya menulis”, buletin EDUCARE, op.cit. hl 36

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Milenia

Ini bagian paling memilukan “Bumi Manusia”

mm

Published

on

“Mama,” sela Annelies, “ingatkah Mama pada cerita Mama dulu..?”

“Ya, Ann, cerita apa maksudmu?” balas Nyai Ontosoroh.

“Mama meninggalkan rumah untuk selama-lamanya.. ?”

Ya, Ann, mengapa?”

“Mama bawa kopor tua coklat dari seng?”

“Ya, Ann.”

“Di mana kopor itu sekarang, Ma?”

“Tersimpan dalam kamar sepen, Ann.”

“Aku ingn melihatnya.”

Mama pergi untuk mengambilnya.

“Waktunya sudah semakin dekat, Juffrouw,” Perempuan Eropa itu menyela.

Baik Annelies mau pun aku tak menanggapi. Dan Mama datang membawa kopor seng kecil, coklat,  berkarat, peot, cekung dan cembung di sana-sini. Anelies segera menyambutnya.

“Dengan kopor ini aku akan pergi, Mama, Mamaku.”

“Terlampau kecil dan buruk, tidak pantas, Ann.”

“Mama, dengan kopor ini dulu mama pergi dan bertekad takkan kembali lagi, kopor ini terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku takkan bawa apa-apa kecuali batikan Bunda, pakaian pengantinku, Ma. Masukkan sini, sembah-sungkemku pada B… Aku akan pergi, Ma, jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat biarlah berlalu, Mamaku, Mamaku sayang.”

“Kereta sudah lama menunggu di luar, Juffrouw,” pendatang Eropa itu menengahi lagi.

“Apa maksudmu, Ann?”

“Seperti mama dulu, Ma, juga aku takkan balik lagi ke rumah ini.’

“Ann, Annelies, anakku sayang,” seru Mama dan dipeluknya istriku.” “Bukan Mama kurang berusaha, Ann, bukan aku kurang membela kau, Nak…”

Mama tenggelam dalam sedu-sedan penyesalan. Juga Aku.

“Kami berdua sudah lakukan semua, Ann,” tambahku.

“Jangan, jangan menangis. Ma, Mas, aku masih ada permintaan, Ma, jangan menangis.”

“Katakan, Ann, katakana,” Mama mulai menggerung.

“Ma, beri aku seorang adik, adik perempuan, yang akan selalu manis padamu…”

Mama semakin menggerung.

“… begitu manis. Ma, tidak menyusahkan seperti anakmu ini…, sampai…”

“Sampai apa, Ann?”

“… sampai Mama takkan lagi merasa tanpa Annelies ini.”

“Ann, Ann, anakku, betapa tega kau bicara begitu. Ampuni kami tak mampu membela kau, ampuni, ampuni, ampuni.”

“Mas, kan kita pernah bahagia bersama?”

“Tentu, Ann.”

“Kenangkan kebahagian itu saja, ya Mas, jangan yang lain.”

“Ayoh!” seru seorang lelaki Indo dari pintu. “Sudah dua menit terlembat berangkat.”

“Mari, sayang, Juffrouw,” perempuan Eropa itu menuntun Annelies.

Sekaligus Annelies tenggelam dalam  pembisuan dan ketidakpedulian. Kehormatannya yang sebentar tiba-tiba lenyap. Ia berjalan lambat-lambat meninggalkan kamar, menuruni tangga dalam tuntunan perempuan Eropa itu. Badannya nampak sangat rapuh dan terlalu lemah.

Aku dan Mama lari memapahnya menggantikan perempuan itu. Tetapi lelaki indo dan perempuan Eropa itu menolak kami.

Di bawah tangga telah berkerumun Maresose.

Dan kami dihalau tak boleh mendekat! Maka kami hanya dapat melihat mahluk tersayang itu dituntun seperti seekor sapi, dan berjalan lambat-lambat, anak tangga demi anaktangga.

Mungkin begini juga perasaan ibu Mama diperlakukan oleh Mama dulu karena tak mampu membelanya dari kekuasaan Tuan Mallema. Tapi bagaimana perasaan Annelies? Benarkah dia telah melepaskan segalanya, juga perasaanya sendiri?

Aku sudah tak tahu sesuatu. Tiba-tiba kudengar suara tangisku sendiri, Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminal, biar pun tak mampu membela istri sendiri, menantumu. Sebegini lemah Pribumi di hadapan Eropa? Eropa! Kau, guruku, begini macam perbuatanmu? Sampai-sampai istriku yang takt ahu banyak tentangmu kini kehilangan kepercayaan pada dunianya yang kecil—dunia tanpa keamanan dan jaminan bagi dirinya seorang. Hanya seorang.

Aku panggil-panggil dia. Annelies tidak menjawab. Menoleh pun tidak.

“Aku akan segera menyusul, Ann,” pekikku.

Tanpa jawab tanpa toleh.

“Juga aku Ann, besarkan hatimu!” seru Mama, suaranya parau, hampir-hampir tak keluar dari kerongkongan.

Juga tanpa jawab tanpa toleh.

Pintu depan dipersada sana dibuka. Sebuah kereta gubermen telah menunggu dalam apitan Maresose berkuda. Mama dan aku tak diperkenankan melewati pintu itu.

Sekilas masih dapat kami lilhat Annelies dibantu menaiki kereta. Ia tetap tak menengok, tak bersuara.

Pintu ditutup dari luar.

Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menunundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

______________

“Bumi Manusia”: Buru, 1975. | Pramoedya Ananta Toer

Continue Reading

Classic Prose

Trending