Connect with us

Cerpen

Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu

mm

Published

on

a

oleh: Leo Tolstoy

Di kota Vladimir hiduplah seorang saudagar muda yang bernama Ivan Dimitrich Aksionov. Ia memiliki sebuah rumah dan dua buah toko.

Aksionov adalah seorang pria tampan berambut pirang keriting, penuh canda dan gemar menyanyi. Ketika masih sangat muda ia suka minum-minum dan bikin ribut kalau mabuk. Tapi setelah menikah ia pun berhenti minum, kecuali sesekali saja.

Pada suatu musim panas Aksionov akan berangkat ke Pasar Malam Nizhny, dan ketika berpamitan dengan keluarganya, istri­nya berkata, “Ivan Dimitrich, jangan berangkat hari ini. Aku telah bermimpi buruk tentangmu.”

Aksionov tertawa dan menyahut, “Kau khawatir kalau sesampainya di sana nanti, aku akan berfoya-foya.”

Istrinya menjawab, “Aku tak tahu apa yang kukhawatirkan, yang kutahu hanyalah bahwa aku telah bermimpi buruk. Dalam mimpi itu kulihat setelah kau pulang dari kota dan membuka topi, seluruh rambutmu telah ubanan.”

Aksionov tertawa. “Itu pertanda baik,” ujarnya. “Lihat kalau sampai aku tidak menjual habis semua barang-barangku, dan membawakanmu oleh-oleh dari sana.”

Maka ia pun berpamitan kepada keluarganya dan berangkat dengan kereta kudanya.

Ketika baru setengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang saudagar kenalannya, dan mereka pun menginap di losmen yang sama malam itu. Mereka menikmati teh bersama dan setelah itu menuju ke tempat tidur di ruang yang bersebelahan.

Bukanlah kebiasaan Aksionov untuk tidur sampai larut, dan karena ingin berangkat ketika hari masih dingin, ia membangunkan kusirnya sebelum fajar dan menyuruhnya menyiapkan kuda. Kemudian ia pergi ke tempat pemilik losmen yang tinggal di sebuah pondok di belakang, membayar sewanya dan melanjutkan perjalanan.

Setelah berjalan kira-kira sejauh dua puluh lima mil, ia menyuruh berhenti untuk memberi makan kuda. Aksionov beristirahat sejenak di gang losmen, lalu ia beranjak ke serambi depan dan sambil menyuruh untuk memanaskan samovar, ia pun mengeluarkan gitarnya dan mulai memainkannya.

Tiba-tiba sebuah troika mendekat dengan bunyi lonceng yang bergemerincing, seorang perwira turun diikuti oleh dua orang prajurit. Ia mendatangi Aksionov dan mulai menanyainya, tentang siapa dia dan kapan dia datang. Aksionov menjawab semua pertanyaannya, dan berkata,”Bersediakah Anda minum teh bersama saya?” Tapi sang perwira tetap meneruskan menanyainya.

“Di mana Anda menginap tadi malam? Apakah Anda sendirian ataukah bersama seorang saudagar yang lain? Apakah Anda berjumpa dengan seorang saudagar yang lain pagi ini? Kenapa Anda tinggalkan losmen itu sebelum fajar?”

Aksionov heran kenapa ia ditanyai dengan semua pertanyaan itu, namun ia pun menceritakan juga semua yang telah dialaminya, lalu menambahkan, “Kenapa Anda menanyai saya berulang-ulang begitu seakan-akan saya ini seorang pencuri atau perampok saja? Saya sedang dalam perjalanan bisnis, dan tidak perlu menginterogasi seperti itu.”

Kemudian sang perwira sambil memanggil para prajurit berkata, “Saya adalah perwira polisi di distrik ini, dan saya menanyai Anda karena saudagar yang menginap bersama Anda semalam telah ditemukan dalam keadaan tewas dengan leher tergorok. Kami harus memeriksa barang-barang Anda.”

Mereka pun memasuki rumah. Para prajurit dan perwira polisi tadi membuka kopor-kopor Aksionov dan menggeledahnya. Tiba-tiba sang perwira menarik sebilah pisau dari sebuah tas sambil berseru, “Pisau siapa ini?” Aksionov yang melihat sebilah pisau bernoda darah ditarik dari tasnya menjadi takut.

“Bagaimana ada darah di pisau ini?”

Aksionov berusaha menjawab namun dengan susah payah hanya mampu berucap dengan terbata-bata:

“Aku ti..dak ta..hu. Bu..kan mi..likku.”

Kemudian sang perwira polisi berkata, “Pagi ini saudagar itu ditemukan di atas ranjang dengan leher tergorok. Andalah satu-satunya orang yang dapat melakukannya. Rumah itu dikunci dari dalam dan tak ada orang lain di sana. Pisau bernoda darah ini berada di dalam tas Anda, lagi pula sudah jelas kelihatan dari wajah dan sikap Anda! Katakan bagaimana Anda membunuhnya, dan berapa banyak uang yang Anda curi?”

Aksionov bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan hal itu. Dia tidak berjumpa lagi dengan saudagar itu sejak mereka usai minum teh bersama, dia tidak punya uang selain delapan ribu rubel miliknya sendiri, dan bahwa pisau itu bukan milik­nya. Tapi suaranya pecah, wajahnya pucat, dan dia pun gemetar ketakutan seakan-akan memang bersalah.

Sang perwira polisi memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Aksionov dan memasukkannya ke dalam kereta. Ketika mereka mengikat kedua kakinya jadi satu dan menghempaskannya ke dalam kereta, Aksionov berdoa dengan membuat isyarat tanda salib dengan tangannya dan menangis. Uang dan barang-barangnya disita, ia dikirim ke kota terdekat dan ditahan di sana. Penyelidikan tentang diri­nya dilakukan di Vladimir. Para saudagar dan penduduk lain di kota itu mengatakan bahwa dulunya ia memang suka minum-minum dan membuang-buang waktu percuma, namun dia adalah orang baik. Kemudian sidang pengadilan pun digelar: ia dituduh telah membunuh seorang saudagar dari Ryazan dan merampoknya sebanyak dua puluh ribu rubel.

Istrinya putus asa dan tidak tahu apa berita ini yang harus dipercaya. Anak-anaknya masih kecil, yang seorang malah masih menyusu. Sambil membawa mereka semua, ia berangkat ke kota di mana suaminya ditahan. Mulanya ia tidak diijinkan menjumpai suaminya, namun setelah memohon dengan amat sangat, iapun mendapatkan ijin dari para pejabat dan diantar menemui suaminya. Ketika melihat suaminya memakai seragam tahanan dan dirantai, dikurung bersama para pencuri dan penjahat —wanitu itu pun jatuh pingsan dan tidak sadar-sadar sampai beberapa lama. Setelah siuman ia menarik anak-anaknya ke dirinya dan duduk di samping suaminya. Diceritakannya tentang keadaan di rumah, dan menanyakan apa yang menimpa suaminya. Pria itu pun menceritakan semuanya.

Lalu sang istri bertanya, “Apa yang dapat kita perbuat sekarang?”

“Kita harus mengajukan permohonan kepada Tsar agar tidak membiarkan orang yang tidak bersalah binasa.”

Istrinya mengatakan bahwa ia telah mengajukan permohonan itu kepada Tsar, tapi tidak dikabulkan. Aksionov tidak menjawab namun hanya tampak putus asa.

Kemudian istrinya berkata, “Ternyata bukan tak ada artinya aku dulu bermimpi rambutmu ubanan. Masih ingatkah? Seharusnya kau tidak berangkat pada hari itu”. Dan sambil membelai rambut suaminya iapun berkata, “Vanya, sayang, katakanlah yang sejujurnya kepada istrimu ini. Apakah memang bukan kau yang melakukannya?”

“Jadi kaupun mencurigaiku!” sahut Aksionov, dan sambil membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan, ia pun menangis. Lalu datanglah seorang prajurit yang mengatakan bahwa sang istri dan anak-anaknya harus pergi. Aksionov pun mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya untuk yang terakhir kali.

Ketika mereka telah pergi, Aksionov mengingat-ingat percakapan tadi, dan ketika terkenang bahwa istrinya pun ikut mencurigainya, ia berkata pada dirinya, “Tampaknya hanya Tuhan saja yang tahu kebenaran ini, hanya kepada-Nya kita berdoa dan minta ampun.”

Dan Aksionov pun tidak lagi mengajukan petisi dan berharap banyak, ia hanya berdoa kepada Tuhan.

Aksionov dijatuhi hukuman cambuk dan dikirim ke pertambangan. Ia pun dicambuk dengan cemeti, dan setelah luka-luka cambukan itu sembuh, ia dibawa ke Siberia bersama para pekerja paksa lainnya.

Selama dua puluh enam tahun Aksionov hidup sebagai seorang pekerja paksa di Siberia. Rambutnya berubah menjadi seputih salju, janggutnya pun tumbuh panjang, tipis, berwarna abu-abu. Semua keceriaannya punah, ia selalu menunduk, berjalan perlahan, sedikit bicara, dan tak pernah tertawa, namun sering berdoa.

Di dalam penjara Aksionov belajar membuat sepatu boot, dan memperoleh sedikit uang yang dibelikannya buku Kehidupan Orang-Orang Saleh. Ia membaca buku itu ketika terdapat cukup cahaya di dalam penjara. Dan setiap hari Ahad di dalam gereja penjara ia membaca pelajaran-pelajaran serta ikut menyanyi dalam paduan suara karena suaranya masih bagus.

Para pejabat penjara menyukai Aksionov karena kepatuhannya, dan teman-teman sesama napi pun menghormatinya. Mereka menjulukinya dengan sebutan “Kakek” dan “Orang Saleh”. Kalau mereka ingin mengajukan permohonan kepada para pejabat penjara tentang hal apa saja, mereka selalu mengangkat Aksionov sebagai juru bicaranya. Dan manakala terjadi keributan di antara sesama napi, mereka datang kepadanya untuk memutuskan perkara yang benar.

Tak ada berita yang sampai kepada Aksionov dari rumahnya, bahkan ia pun tak tahu apakah istri dan anak-anaknya masih hidup.

Suatu hari sekelompok tahanan kerja paksa baru didatangkan ke penjara. Sorenya, para napi lama mengerumuni rekan-rekannya yang baru itu dan menanyai mereka: dari kota atau desa mana saja mereka berasal dan dihukum karena perbuatan apa. Di tengah-tengah istirahat, Aksionov duduk di dekat para pendatang baru itu dan ikut mendengarkan dengan roman muka putus asa atas apa yang diucapkan.

Salah seorang di antara pekerja paksa baru itu adalah seorang pria berumur enam puluh tahunan berperawakan tinggi kekar dan berjenggot lebat terpangkas rapi, ia sedang bercerita kepada yang lainnya kenapa dirinya ditahan.

“Baiklah, teman-teman,” ujarnya, “aku hanya mengambil seekor kuda yang sedang diikat di pengeretan. Lalu aku ditahan dan dituduh atas pencurian. Telah kukatakan bahwa aku mengambilnya supaya bisa cepat pulang ke rumah, kemudian melepasnya pergi. Lagi pula, pengendaranya adalah temanku sendiri. Dengan demikian aku bilang, ‘Itu tidak apa-apa’. Tapi mereka mengatakan, ‘Tidak. Kau telah mencurinya’. Tapi bagaimana dan kapan aku mencurinya mereka tak dapat menunjukkannya. Dulu, pernah sekali aku memang sungguh-sungguh berbuat salah, dan seharusnya berdasar hukum sudah berada di sini sejak lama, tapi ketika itu aku tidak tertangkap. Kini aku dikirim kemari tanpa alasan sama sekali…. Eh, tapi itu cuma bohong yang kuceritakan kepada kalian. Aku pernah ke Siberia sebelumnya namun tidak tinggal lama.”

“Dari mana asalmu?” tanya seseorang.

“Dari Vladimir. Keluargaku berasal dari kota itu. Namaku Makar, dan mereka juga memanggilku Semyonich.”

Aksionov mengangkat kepalanya dan berkata, “Katakan padaku, Semyonich, apakah kau tahu sesuatu tentang keluarga saudagar Aksionov dari Vladimir? Apakah mereka masih hidup?”

“Tahu tentang mereka? Tentu saja. Keluarga Aksionov kaya, meskipun ayah mereka berada di Siberia, tampaknya seorang pendosa juga seperti kita! Lalu bagaimana dengan Anda sendiri, Kek? Bagaimana Anda bisa sampai di tempat ini?”

Aksionov tidak ingin menceritakan kemalangannya. Ia hanya mendesah dan berkata, “Karena dosa-dosaku maka aku berada di dalam penjara selama dua puluh enam tahun ini.”

“Dosa-dosa apa?” tanya Makar Semyonich.

Namun Aksionov hanya berkata, “Yah… aku memang layak mendapatkannya!”

Ia tak ingin berkata lebih banyak, namun teman-temannya memberitahukan kepada para pendatang baru itu bagaimana Aksionov bisa sampai ke Siberia. Bagaimana seseorang telah membunuh seorang saudagar, lalu menyelipkan pisaunya ke dalam barang-barang Aksionov, dan Aksionov pun secara tidak adil telah dijatuhi hukuman.

Ketika Makar Semyonich mendengar semua ini, ia memandangi Aksionov, dan berseru sambil menepuk-nepuk lututnya sendiri, “Wow, sungguh luar biasa! Sangat luar biasa! Tapi betapa cepatnya kau menjadi tua, Kek!”

Yang lainnya pun menanyainya kenapa ia begitu terkejut, dan di manakah ia pernah melihat Aksionov sebelumnya, namun Makar Semyonich tidak memberikan jawaban. Ia hanya berkata, “Ini luar biasa bahwa kita akan bertemu di sini, hai budak-budak!”

Kata-kata ini membuat Aksionov bertanya-tanya apakah pria ini tahu siapa sesungguhnya yang dulu membunuh sang saudagar, maka ia pun berkata, “Semyonich, barangkali kau pernah mendengar kejadian itu, atau mungkin kau pernah melihatku sebelum ini?”

“Apakah aku pernah mendengarnya? Dunia ini penuh dengan desas-desus. Tapi peristiwa itu sudah lama sekali dulu, dan aku telah lupa apa yang kudengar.”

“Barangkali kau pernah mendengar siapa yang membunuh saudagar itu?” tanya Aksionov.

Makar Semyonich tertawa dan menjawab, “Dia itu pastilah orang yang di dalam tasnya ditemukan pisau tersebut! Kalaulah  ada orang lain yang meletakkannya di sana, maka ada ungkapan: ‘Dia bukan pencuri sampai tertangkap’, bagaimana ada orang yang bisa meletakkan sebilah pisau di dalam tasmu yang berada di bawah kepalamu? Pastilah akan membuatmu terbangun.”

Ketika Aksionov mendengar kata-kata ini, ia merasa yakin bahwa orang inilah yang telah membunuh saudagar itu. Ia pun bangkit dan pergi. Sepanjang malam itu Aksionov terbaring dalam keadaan jaga. Dia merasa sangat sedih, dan berbagai bayangan muncul di benaknya. Ada bayangan istrinya saat ia meninggalkannya untuk pergi ke pasar malam. Dia melihat wanita itu seakan-akan hadir: wajah dan matanya muncul di hadapannya, ia mendengar bicara dan tawanya. Lalu ia melihat anak-anaknya, masih kecil-kecil ketika itu, yang seorang mengenakan mantel mungil sedangkan yang satunya lagi masih menyusu di dada ibunya.

Lalu ia pun mengenang dirinya sendiri kala itu: muda dan ceria. Ia ingat ketika duduk bermain gitar di beranda losmen itu, di mana dirinya ditangkap. Betapa dulu ia tak pernah merasa susah.

Di benaknya ia melihat tempat di mana dirinya dicambuk, sang algojo, orang-orang yang berdiri di sekelilingnya, ran­tai-rantai itu, para pekerja paksa, semua dua puluh enam tahun kehidupannya di penjara, dan usia tuanya yang prematur. Mengenang semua itu membuatnya sangat sedih hingga ingin rasanya bunuh diri.

“Dan semua ini karena perbuatan bajingan itu!” batinnya. Dan kemarahannya sangat besar kepada Makar Semyonich sehingga ia ingin sekali melakukan balas dendam, walaupun dirinya sendiri harus hancur karenanya. Ia terus mengulang-ulang doa sepanjang malam itu, namum tetap tidak bisa merasa tentram. Selama siang harinya ia tidak mau berada di dekat Makar Semyonich, atau pun melihat ke arahnya.

Dua pekan berlalu seperti itu. Aksionov tak dapat tidur tiap malamnya, dan begitu menderita sehingga tak tahu apa yang harus dikerjakan.

Suatu malam ketika sedang berjalan-jalan di sekitar penjara ia melihat seonggok tanah terlempar keluar dari bawah salah satu dipan bersusun tempat tidur para napi. Ia pun berhenti untuk mengamati apakah itu gerangan. Tiba-tiba Makar Semyonich merangkak keluar dari bawah dipan tadi dan memandang ke atas kepada Aksionov dengan ketakutan. Aksionov berusaha berlalu tanpa memandang ke arahnya, tapi Makar Semyonich mencengkeram lengannya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah menggali sebuah lubang di bawah dinding, membuang tanahnya dengan cara memasukkannya ke dalam sepatu bootnya yang tinggi, lalu membuangnya setiap hari ke jalan ketika para napi sedang digiring untuk bekerja.

“Pokoknya kau diam saja, Pak Tua. Dan kau pun akan ikut keluar juga. Kalau kau sampai berkicau maka mereka akan mencambukku sampai mati, tapi sebelum itu aku akan membunuhmu lebih dulu.”

Aksionov bergetar marah ketika memandang musuhnya. Ia merenggutkan tangannya seraya berkata, “Aku tak ingin meloloskan diri. Dan kau pun tak perlu membunuhku, kau telah membunuhku sejak lama! Tentang melaporkan perbuatanmu ini, aku boleh melakukannya atau tidak, Tuhanlah yang memberi petunjuk.”

Pada hari berikutnya ketika para napi digiring ke pekerjaan mereka, patroli tentara melihat salah seorang napi sedang membuang tanah dari sepatu bootnya. Penjara tersebut digeledah dan terowongan itu pun ditemukan. Sang gubernur datang dan menanyai semua napi untuk mencari tahu siapa yang telah menggali lubang itu. Mereka semua menyangkal mengetahui hal tersebut. Orang-orang yang tahu pun tidak mau mengkhianati Makar Semyonich, karena tahu bahwa ia akan dicambuk sampai hampir mati.

Akhirnya sang gubernur berpaling kepada Aksionov yang diketahuinya sebagai seorang yang jujur, dan berkata, “Kau adalah seorang tua yang bisa dipercaya, katakan padaku, di depan Tuhan, siapa yang telah menggali lubang itu?”

Makar Semyonich berdiri dengan lagak seakan-akan tidak begitu peduli, dia memandang kepada sang gubernur dan hanya melihat sekilas ke arah Aksionov. Bibir dan tangan Aksionov bergetar, dan untuk beberapa lama ia tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Ia membatin, “Mengapa aku harus melindungi orang yang telah menghancurkan hidupku? Biar dia membayar apa yang telah kuderita ini. Tapi bila aku bicara, mereka mungkin akan mencambuknya sampai mati, dan barangkali kecurigaanku ini bisa saja salah. Lagipula, apa untungnya bagiku?”

“Baiklah, Pak Tua,” ulang sang gubernur, “katakan padaku yang sejujurnya: siapa yang telah menggali di bawah tembok itu?”

Aksionov melihat sekilas ke arah Makar Semyonich, dan berkata, “Aku tak dapat mengatakannya, Tuan. Bukanlah kehendak Tuhan agar aku mengatakannya! Lakukan saja apa yang Anda inginkan atas diriku ini, aku berada di tangan Anda.”

Bagaimanapun sang gubernur telah berusaha, Aksionov tidak mau berkata lebih banyak lagi, dan perkara itupun akhirnya dianggap selesai.

Malamnya ketika Aksionov berbaring di dipannya dan mulai terlelap, seseorang mendatanginya secara diam-diam dan duduk di atas dipannya. Ia pun memandang dengan tajam menembus kegelapan dan mengenali Makar Semyonich.

“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Aksionov. “Kenapa kamu datang ke sini?”

Makar Semyonich diam.

Maka Aksionov pun duduk dan berkata, “Apa maumu? Pergilah, atau akan aku panggilkan penjaga!” Makar Semyonich membungkuk ke dekat Aksionov lalu berbi­sik, “Ivan Dimitrich, maafkan aku….”

“Untuk apa?” tanya Aksionov.

“Akulah sebenarnya yang dulu membunuh saudagar itu dan menyembunyikan pisaunya di dalam barang-barangmu. Aku sebetulnya bermaksud membunuhmu juga, namun kudengar ada ribut-ribut di luar, maka kusembunyikan pisau itu ke dalam tasmu dan melarikan diri lewat jendela.”

Aksionov terdiam, dan tak tahu apa yang harus dikatakannya. Makar Semyonich beringsut dari dipan itu dan berlutut di atas tanah.

“Ivan Dimitrich,” katanya memohon, “maafkanlah aku. Demi kasih Tuhan, maafkanlah aku. Aku akan mengaku bahwa akulah yang telah membunuh saudagar itu, dan kaupun akan dibebaskan dan bisa pulang ke rumahmu.”

“Mudah saja bagimu bicara begitu,” ujar Aksionov, “tapi aku telah menderita karena ulahmu selama dua puluh enam tahun ini. Ke mana lagi aku hendak pergi sekarang? Istriku sudah meninggal, dan anak-anakku pun sudah tak ingat lagi kepadaku. Aku tak bisa pergi ke mana-mana lagi…”

Makar Semyonich tidak bangkit, tapi justru membentur-benturkan kepalanya ke lantai. “Ivan Dimitrich, maafkan aku!” tangisnya. “Ketika mereka mencambukku dengan cemeti dulu, tidaklah seberapa berat menanggungnya dibandingkan melihatmu seperti saat ini. Bahkan kaupun telah mengasihaniku, dengan tidak mengatakannya kepada mereka siang tadi. Demi Kristus, ampuni aku, aku memang brengsek!” Dan ia pun terisak-isak. Ketika Aksionov mendengarnya menangis terisak-isak begitu, ia pun ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu,” katanya. “Mungkin aku seratus kali lebih buruk daripadamu.”

Dan dengan kata-kata ini hatinyapun terasa ringan dan terang, kerinduan kepada rumah pun hilang. Ia tak ada keinginan lagi meninggalkan penjara itu, namun hanya mengharap agar saat-saat terakhirnya segera tiba.

Terlepas dari apa yang telah dikatakan Aksionov, Makar Semyonich tetap mengakui kesalahannya. Tapi ketika perintah pembebasan atas dirinya dikeluarkan, Aksionov baru saja wafat. (*)

LEO TOLSTOY (1828-1910) ketika mudanya pernah bergabung di dalam dinas militer Tsar, namun setelah menikah ia menetap dan mengurusi para petani penggarap tanah milik keluarga Yasnaya Polyana. Di sanalah lahir anak-anaknya, juga novel-novel terbaiknya: Perang dan Damai dan Anna Karenina.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Cerpen

Panggilan Masuk Untuk Orang Mati

mm

Published

on

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang.

Oleh: Inas Pramoda *)

Bapak mati. Tak perlu aku memperhalus kata. Meninggal, wafat, berpulang, jasadnya sama-sama terkubur satu depa di bawah tanah. Seribu hari lagi juga bakalan menyusul jadi tanah. Dan kalau pusaranya ditanami rumput teki, bakalan tumbuh subur, sebab tanahnya peroleh nutrisi dari daging bapak hingga jadi humus. Dua kali ibu menelepon dari rumah selepas bapak mati. Pertama buat mengabari kalau bapak mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati. Kali keduanya panggilan masuk dari ibu, untuk sebuah pertanyaan singkat, “Marian, kamu ingat pin ATM Bapak?”

Untung saja aku ingat. Tak lain tanggal lahir Ras, adik bontotku. Sementara pin ATM ibu juga aku hafal betul, yang merupakan tanggal lahirku. Mengapa juga mereka berdua senang sekali bikin pin pakai tanggal lahir anaknya? Padahal seumur-umur aku buat pin, dan Ras juga sepertinya, tak pernah kepikiran pakai tanggal lahir mereka.

Bapak mati tanggal 14 bulan 5. Mungkin satu hari nanti ini bisa kugunakan jadi pin, atau kode gembok koper. Hari itu, aku tak bisa mengantar keranda bapak sampai ke San Diego Hills. Dan stok baju setelan hitamku tertinggal di rumah semua. Jadi saat hari berkabung, aku tetap mengenakan jaket hodie hijauku. Foto terakhir bapak saat masih terbaring di ICU tampak kurus, pipinya agak cekung, dan garis tulang rahangnya terlihat tegas. Yang di pikiranku adalah, itu bakal mengurangi beban bagi para penggotong kerandanya, juga orang-orang yang ikut menurunkan badan kaku bapak ke lantai tanah.

Om Hendra, adik bapak, ia yang meluruskan mayat bapak dan melepas ikatan kafannya mulai kepala. Sebelum lahadnya bakal ditutupi papan kayu yang hanya berjarak sekilan dari badannya yang lambat-lambat membusuk. Om Hendra jadi kerabat bapak paling dekat hari itu, sebab om-om yang lain sudah lebih dulu mati. Sementara Ras, putra kandung bapak, tak ada di rumah. Mungkin juga nanti kalau aku mati, dan suamiku sedang dinas keluar kota, maka Ras yang bakal turun merebahkan jasadku ke lubang kubur.

Berita bapak mati bisa jadi kabar buruk, tapi ada juga baiknya. Sewaktu bapak masih dirawat, aku masygul untuk ikut wisuda. Sebab khawatir kalau nunggu sampai wisuda keburu bapak mangkat. Kalau terlanjur begini, sudah barang tentu toga yang masih anteng di lemari itu bakalan kupakai. Setidaknya setelah bapak mati, ada beberapa hal yang jadi terang, ada beberapa keputusan yang bisa segera diputuskan. Hanya ada satu yang sempat kepikiran, bagaimana sebetulnya prosesi salat gaib yang layak?

Aku cukup rajin salat lima waktu, kubilang cukup karena ada yang terpotong libur bulanan. Namun salat gaib, kukira ini yang perdana. Aku mesti cari tahu dulu keterangannya di internet, dan karena dulu bapak pernah berpesan jangan percaya bulat-bulat apa yang terpampang di situ, aku meminjam buku yasin tahlil milik teman. Dan dari temanku itu, berita kematian bapak merembes dari kuping ke kuping. Hingga akhirnya banyak temanku merasa iba. Sebagian lagi kikuk bagaimana menghadapi orang yang sedang berduka. Kebanyakan adalah orang-orang golongan kedua ini.

Gambar kuburan bapak yang masih basah lalu beredar di media sosial, sambil beberapa menandai nama bapak, juga menyebut namaku dan Ras. Kebanyakan diunggah oleh sepupu dan tante yang datang melayat. Satu yang kusadari ketika orang yang kamu sayangi mati adalah, teleponmu akan lebih ramai dari hari-hari yang lain. Seperti euforia yang sesaat. Sebelum kemudian ingatan orang-orang disibukkan dengan perkara kecil lain yang tak boleh mereka luputkan. Dan perkara kecil itu tak termasuk kematian bapak.

Bagiku setelah bapak mati, itu hanya akan menambah alasan untuk melawat San Diego Hills. Aku bisa sekalian gelar tikar dan mengadakan piknik kecil-kecilan di sana. Pemakaman swasta itu memang dipermak sedemikian rupa hingga para peziarah tak perlu merasa takut, walau harus datang menjelang malam, atau malam sekali pun. Kalau saja tak ada tanda pengenal orang mati, tempat itu serupa taman kota, atau alun-alun. Sepertinya memang bagus kalau pemakaman jadi tempat yang menyenangkan. Meski di bawah tanah tetap dingin, dan cacing berkelindan dengan belulang. Dan bapak mungkin berbagi daging dengan cacing-cacing yang menggemburkan tanah di peraduan Om Rupawan. Toh nisan mereka bersebelahan.

Ternyata sepetak tanah itu sudah dibeli bapak jauh-jauh hari. Sejak kanker mulai menggerayangi tubuh kecilnya yang kian musim kian ceking. Bahkan orang mati masih ingin dikumpulkan bersama orang-orang terdekatnya, aku membatin. Dan sempat terpikir di tempurung kepalaku, apa perlunya begitu? Walau kubur berdempetan juga, kalau sudah jadi mayat tak mungkin kelayapan. Namun ibu potong, “Biar yang ziarah bisa sekalian ngunjungin kerabat.” Itu alasan yang bagus, dan tak perlu ditampik-tampik lagi. Aku harus belajar untuk mengarang alasan semacam itu, agar tak melulu diteror dengan pesan masuk berpuluh-puluh dari seorang lelaki yang menyangka kita pernah demikian dekatnya, dulu.

Ibu baru saja mendarat tadi sore. Hanya menenteng satu koper kecil yang isinya kastangel dan putri salju, juga rok batik yang ia pesan untuk kukenakan saat wisuda besok. Namun sial betul, hingga menjelang tengah malam, hujan tak kelar. Yang berarti esok bakal becek-becekan. Itu masih mending kalau bukan hujan lagi. Kampus pintar sekali menjadwalkan wisuda saat minggu basah begini, dan lebih pintar lagi karena menyiapkan tempat di lapangan. Serampungnya cari makan malam tadi, ibu langsung lemas terlelap. Kalau ada bapak, semestinya ia ikut terlelap di samping ibu sekarang. Karena bapak sudah mangkat, ia hanya datang lewat cerita-cerita ibu seharian tadi. Meski tanpa air mata, cerita ibu malah terdengar lebih menyayat lagi. Bisa kudengar getir kesepiannya saat mulai bercerita Kartu Keluarga yang baru telah dicetak, dan ibu kini jadi kepala keluarganya.

“Sekarang anak-anak gak boleh pulang malem-malem lagi, nanti ibu kunci dari dalem. Tidur di luar.”

Aku susah sekali tidur, padahal tujuh menit ke depan sudah bakal jam tiga. Dan nanti sebelum genap jam delapan kudu berkumpul di kampus. Mataku bergantian melirik layar hpku, lalu layar hp bapak. Itu dibawa ibu dari rumah, dan dibiarkan menyala. Sengaja kata ibu hp bapak tak dimatikan, bukan karena alasan sentimental misalnya banyak tertimbun foto mereka berdua di sana, tapi karena banyaknya langganan dan tagihan yang memakai akun bapak, nomor bapak. Jadi nomor hp bapak dibiarkan aktif, meski itu berarti pesan-pesan masuk ke nomor tadi terus berdatangan, dan terus mengganggu.

Ibu menepuk-nepuk pahaku, tak sampai menyakiti tapi cukup untuk membangunkan. Kelopak mataku rasanya berat, seperti ada kepompong yang memaksa bergelantungan di sana dan enggan jatuh, jadi aku hanya bisa membukanya perlahan, demikian pelannya. “Marian, kamu mau terus tidur apa wisuda?” begitu saja tanya ibu.

Wisuda itu aku membopong sepatu cantikku alih-alih mengenakannya seperti tuan putri. Dan terlihat jelas sendi-sendi jemari kakiku yang bulat-bulat. Sandal jepitku anggun sekali diapit dua jari yang biasa kugunakan untuk menyubit paha temanku saat bermain-main itu. Hari ini tepat 40 hari bapak mati. Kalau langit hujan karena menangisi bapak, akan lebih baik kalau ia diam saja, dan aku tak perlu menenteng-nenteng sepatu sambil menunggu rangkaian acara wisuda kelar. Belum lagi pakai jas hujan tembus pandang yang disiapkan kampus, agar toganya masih kelihatan. Sempurna.

Seharian yang melelahkan, dan menyenangkan, melihat orang-orang di sekitarku merayakan hari ini. Bagiku, dua perayaan. Perayaan kelulusan, dan 40 hari bapak mati. Dipikir-pikir, dengan matinya bapak, itu juga mengurangi biaya tiket pulang-pergi. Mungkin yang satu itu harus disyukuri. Namun tetap saja, semua jadi sepi. Ibu mengumpulkan aku dan Ras untuk membaca doa selepas isya. Bukan artinya kami hanya berdoa sekali waktu itu, tapi ini sedikit istimewa saja. Aku lelah. Ibu dan Ras juga mungkin lelah, tapi Ras habis dapat sepatu baru, dan ibu beli termos tenteng baru. Kedua-duanya itu, sepatu dan termos, bisa dibeli di rumah, kenapa mesti jauh-jauh ke China, protesku.

“Yang di rumah juga made in China Mar, sama aja toh,” tungkas ibu.

Malam itu aku habiskan dengan merapikan ponsel bapak. Aku meninggalkan obrolan-obrolan grup tak penting biar tak bikin ribut. Mungkin menurut bapak itu penting, tapi menurutku tidak, dan tak ada sangkut-pautnya dengan tagihan, jadi aku keluarkan. Aku membuka email-email masuk yang belum sempat dibaca, membalasnya bila perlu dibalas, dan memastikan tak ada sisa dari kotak masuk yang belum terjamah. Aku rasanya berperan menjadi bapak, sedikit. Ibu sudah jadi kepala keluarga baru. Ras? Anak yatim. Kalau dipikir seperti ini, makin yakin aku bapak betul-betul telah mati.

Lalu sesaat saja setelah aku menggeletakkan ponsel bapak di samping lampu meja, ia berdering. Panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal. Padahal lampu sudah kumatikan, dan tinggal aku yang terjaga.

“Halo, malam.”

“Malam.” Suara wanita.

“Ini dengan siapa ya?”

“Betul ini nomornya Pak Nugros?”

“Iya, betul, dengan siapa ya?”

“Baik kalau begitu, Bapak ada?”

“Ini dengan siapa ya?”

“Bilang saja, ini dengan istrinya.”

Aku melihat ibu agak menggigil di sebelah. Kunaikkan sedikit selimut hingga ke tengkuknya. Lalu kumeraba-raba meja di samping kasur buat menggapai remot ac, dan menaikkan suhu di kamar. Selama jeda itu panggilan belum terputus. Untunglah.

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang. “Dan mohon, setelah ini, jangan menghubungi nomor Bapak lagi. Bapak sudah mati.” Baru kemudian aku yang menutup panggilan duluan. Aku mengelus kepala ibu, dengan alasan yang sentimental. Ibu sudah jadi kepala keluarga, Ras anak yatim, dan aku baru saja menerima panggilan atas nama bapak. Jadi benar, bapak sungguh-sungguh telah mati. (*)

Rabat, 8 Juli 2019

_______

*) Inas Pramoda lahir di Jakarta, 11 Agustus 1996. Merantau ke Singosari—bekas kerajaan yang menyisakan candi-candi—selepas sd. Bergabung dengan teater Sajadah Senja sewaktu sma, memilih jurusan bahasa dan sastra. Kuliah di Maroko sejak 2014, terhitung sampai 2019 ini sedang menempuh master perbandingan agama di Univ. Hassan II Casablanca. Inas Pramoda—meminjam istilah Seno—seorang Homo Jakartensis. Penulis antologi puisi “Purnama Merah” dan “Kasus Rindu”. Bisa disapa di ig: @inaspramoda

 

Continue Reading

Cerpen

Christin, dan Senja yang Hilang

mm

Published

on

Senja selalu memungut hal-hal yang berbeda tentang orang-orang yang berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda. Senja kali ini mengisah sekaligus mencatat kisah tentang umat Tuhan di sebuah kampung. Dia, nama kampung itu. Silvano sedang duduk dengar kisah om Anselmus, Om Lazarus, om Bone, om Matius, dan om Don di sebuah Compang (Mesbah) di tengah kampung Dia. Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan…

by Melki Deni *) 

Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan dalam agama, umat kampung Dia sangat antusias terhadap kegiatan-kegiatan gereja. Entah bagaimana sampai umat kampung Dia berikan sebidang tanah untuk bangun tempat ibadat. Itu kurang terlalu penting. Sekitar tahun 1970-an mereka mendirikan kapela kecil, rumah Tuhan di dekat jalan raya dan kali besar, sumber batu dan pasir. Ekskavator dan truk belum tampak. Apalagi gerobak. Umat harus pikul batu dan pasir dari kali menuju tempat dirikan kapela kecil. Umat abaikan kesibukan di kebun masing-masing demi Tuhan dan kemudahan bagi pelayan Tuhan melayani umat Tuhan di satu tempat saja. Tak terhitung jumlah babi, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain mati karena tak terurus baik selama berminggu-minggu. Ibu-ibu dan nenek-nenek hanya mengurusi anak-anak yang terbaring lemah karena gizi buruk, penyakit kulit dan serangan dukun santet di rumah bergubuk bambu reyot.

Malam selalu tuli bisu. Terang pelita bermerah tua dan tidak meluas. Kakus belum terbayang-bayang. Jika mau buang air malam-malam, bawa obor bersumbu besar dan ditemani dua atau lebih orang. Sebab, setan-setan berkeliaran menari-nari di bawah kolong dan di sekeliling rumah. Malam-malam terdengar suara bayi-bayi setan menangis di atas atap rumah, setan tua menghantui lewat jendela, dan seringkali mencekik manusia dalam mimpi. Iya, malam memang telanjur mati rasa.

Subuh pun seringkali gagap kata. Tak jarang subuh memberitakan orang-orang kerasukan setan yang tinggal di hulu air. Sebab waktu itu semua warga di kampung Dia harus timba air, mandi, dan cuci di satu pancuran. Itulah alasan mereka membutuhkan dan mencari Tuhan di dalam agama. “Manusia sekarang memang tidak percaya akan adanya setan dan kekuatan destruktifnya. Sekarang setan hadir berupa rupa-rupa teknologi.” Lanjut om Lazarus. Memang sebelumnya mereka bertuhan dalam agama Islam. Namun entah mengapa sejak sekitar tahun 1990-an mereka beriman kepada Yesus Kristus dalam agama Katolik. Om Anselmus bertutur bahwa sebelum nenek moyang mereka beragama Islam, mereka beragama Katolik. “Pokoknya mereka selalu pindah masuk agama.” katanya. “Tapi ‘kan Tuhan tetap satu?” tanya om Bone sambil membuang asap rokok.

Dua tahun kemudian.

Senja membalikkan kisah damai yang menteramkan relasi mesrah antara Tuhan dan umat kampung Dia. Senja itu seorang anak kecil menangis di sudut tempat tidur. Namanya Chirstin. Ia tak mau makan seusai pulang sekolah, tidak belajar dan tidak bantu orangtuanya. Ibu mulai pikir yang tidak-tidak menimpa anak yang manis itu.  Sedangkan sang ayah sedang berpikir tentang anggaran dana syukuran atas Penerimaan Komuni Pertama anaknya. Biasanya bulan Oktober itu masih musim panen jambu mete. Namun kali ini jambu mete tidak berbuah banyak seperti setahun lalu. Malam terus berlarut mereka bertanya mengapa anaknya menangis sejak pulang sekolah. Dia menangis karena dengar berita pastor paroki sudah keluarkan surat sanksi pastoral terhadap umat kampung Dia bahwa tidak akan ada pelayanan pastoral, tentu termasuk Sakramen sakramentali. Padahal mereka sudah siapkan semuanya, termasuk penagakuan dosa sudah dijalankan sehari sebelumnya. Mereka tentu mau seperti umat yang sudah terima Komuni Suci, bisa masuk seminari setelah tamat SD, jadi frater, pastor, bruder, suster, dan bisa mendapat status beragama.

Apa masalahnya sampai keluarkan surat sanksi pastoral seperti itu?

Kapela dan tanah di sekitarnya!

Ada apa dengan tanah itu?

Saya dengar samar-samar saja, masalahnya kita umat kampung Dia sudah bongkar kapela dan rebut kembali tanah di sekitar kapela.”

Memangnya kamu lihat kapela sudah dibongkar?

Tidak!”

Christin ketiduran seusai ceritakan masalah itu, sedangkan orangtuanya sibuk memikirkan masalah itu. Mereka juga bingung mengapa diadakan sanksi tanpa ada permasalahan.

Tuhan kita sedang lumpuh?

Christin mengigau. Orangtaunya sadarkan dia.

Kata siapa? Kau jangan omong seperti itu! Cukup kali ini berkata begitu. Itu penistaan agama.

Kata seorang kakek di dalam mimpi tadi. Kakek itu tinggal di sebuah gua kumal yang saya tidak pernah kenal sebelumnya di dunia nyata.”

Mustahil Tuhan lumpuh, nak! Itu takkan pernah terjadi. Jika itu benar, cakrawala dan bumi lenyap serentak. Dan kita pun tentu musnah sebelum cakrwala dan bumi runtuh total.”

Itu tidak berlebihan, ma pa.”

Sekali lagi, jangan katakan itu, nak. Awas orang-orang dengar dan viralkan itu melalui media. Lalu engkau akan melanjutkan sekolahmu di dalam penjara.”

Terserah. Lebih baik tinggal di penjara daripada hidup di luar, pa. Tapi di manakah Tuhan lumpuh ketika masalah ini sedang terjadi ? Saya mau mengobati Tuhan di mana saja. Tuhan tidak adil betul.

Tuhan tidak lumpuh. Hanya pikiran, sikap iman dan penghyatan iman kita yang lumpuh, nak!” sahut ibunya.

Oh iya. Kakek itu bilang Tuhan dilumpuhkan di mimbar-mimbar, ma. Tuhan dilumpuhkan demi kepentingan-kepentingan para pengkhotbah, ma.”

Tidak nak. Tuhan menghindar saat mau dilumpuhkan.”

Terus, di mana Tuhan sekarang, ma?

Ibunya mulai menjelaskan dengan peunuh kesabaran. Mengkin saja Tuhan sedang pesiar di Roma, Israel, Jerman atau Rusia. Tidak mustahil Tuhan sedang mendengar pengakuan dosa para perampok, koruptor, penculik, pemerkosa, investor kapitalis, cendikiawan idealis dan para pengobral murah gadis-gadis di pasar-pasar. Dapat terjadi Tuhan sedang mendengar baca mazmur para nabi sekuler materialis. Boleh saja jadi Tuhan sedang menangisi para imam feodalis yang sedang meraup tanah-tanah para petani miskin lagi melarat di kampung. Atau Tuhan sedang hitung jumlah oknum-oknum mati karena bunuh diri, obesitas, keracunan, stunting, kelaparan, perubahan iklim, dan penyakitan di dunia yang bisu. Barangkali Tuhan sedang jalan-jalan ke rumah-rumah para wakil rakyat, mencatat jumlah perut yang terlampau buncit akibat menelan mentah-mentah uang pajak tanah rakyat yang tak mampu dikelola. Tidak menutup kemungkinan Tuhan sedang melawati umat yang menderita sakit, miskin papa, tersingkirkan, terbuang, pengemis, gelandangan, tawanan, dan kaum buruh kasar.

Tapi, kok selalu mungkin, ma. Tuhan tinggal dalam kemungkinan begitu, ma?

Sudahlah. Itu kurang penting. Yang terpenting, nanti kita kerja sama dengan semua umat,  tanyakan ke pihak keuskupan tentang masalah apa saja yang dapat diberikan sanksi pastoral terhadap umat. Lalu kita coba laporkan masalah ini ke pihak pemerintah, karena ini termasuk pencemaran nama baik umat.

Sudah satu tahun masalah pelik nan sedih ini tidak kunjung usai. Pihak paroki (baca: pihak keuskupan) tidak bertanggung jawab terhadap sensus fidelium umatnya. Pemerintah setempat juga memalingkan diri dari antusias religiositas masyarakat. Setahun umat Tuhan tak bertemu Tuhan dalam Misa Kudus, Ibabat, Pengakuan Dosa, anak-anak tidak menerima Permandian Suci, tidak diberi kesempatan menerima Komuni Pertama, dan  pernikahan umat tidak direstui secara gereja. Dosa-dosa umat menumpuk dan mau tumpah di atas tanah yang gersang. Tuhan, Engkau di mana? Semoga Tuhan tidak dipasungkan di dalam gulungan uang merah. Semoga Tuhan tidak dilumpuhkan di dalam khotbah- khotbah panjang para nabi modern yang kapitalis-materlis. Tuhan. (*)

Catatan: Mohon maaf bila ada persamaan nama dan kisah.

___
*) Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, berasall dari Reo-Manggarai. Ia bergabung dalam kelompok sastra ALTHEIA, KMK-L, dan penyair lepas pada beberapa media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending