Connect with us

Cerpen

Truman Capote: Miriam

mm

Published

on

Miriam by Truman Capote | Diterjemahkan oleh: Regina N. Helnaz

Selama beberapa tahun, Bu H. T. Miller tinggal sendirian di sebuah apartemen yang nyaman (dua kamar dengan dapur kecil) di sebuah gedung berbahan batu bata yang sudah direnovasi di dekat East River. Ia adalah seorang janda: Pak H. T. Miller meninggalkan sejumlah asuransi yang layak. Hanya sedikit hal yang menarik minatnya, ia tidak memiliki teman untuk diajak bicara dan jarang berjalan-jalan lebih jauh daripada ke toko kelontong. Para penghuni lain di gedung itu sepertinya tidak pernah memperhatikannya: pakaiannya bernuansa kelabu, rambutnya abu-abu, dijepit dan bergelombang; ia tidak menggunakan kosmetik, wajahnya polos dan tidak mencolok, dan pada hari ulang tahunnya yang terakhir, ia berusia enam puluh satu tahun. Aktivitasnya jarang spontan: ia menjaga kedua kamar itu tak bernoda, merokok sesekali, menyiapkan makanannya sendiri dan merawat burung kenari.

Lalu ia bertemu Miriam. Malam itu turun salju. Bu Miller telah selesai mengeringkan piring-piring usai makan malam dan membolak-balik koran sore saat ia melihat sebuah iklan berisi poster film yang diputar di bioskop setempat. Judulnya terdengar seru, jadi ia berjuang memakai mantel berbulunya, mengikat tali sepatu karetnya, dan meninggalkan apartemen, membiarkan satu cahaya menyala di selasar: tidak ada yang lebih mengganggu daripada sensasi kegelapan.

Salju turun dengan lembut, belum menghiasi trotoar. Angin yang berhembus dari sungai terbelah di persimpangan jalan. Bu Miller bergegas, kepalanya menunduk, tak sadar seperti tikus yang menyusuri jalan dalam kegelapan. Ia berhenti di apotek dan membeli sebungkus pepermin.

Antrean panjang membentang di depan box office; ia mengantre paling belakang. Harus menunggu sebentar (suara kelelahan mengerang) untuk semua kursi. Bu Miller mengaduk-aduk tas kulitnya sampai ia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk tiket masuk. Antrean itu tampak mamakan waktu, dan, ketika sedang melihat sekeliling untuk distraksi, ia tiba-tiba sadar ada seorang gadis kecil berdiri di bawah tenda.

Bu Miller tidak pernah melihat rambut sepanjang dan seaneh itu: benar-benar putih perak, seperti rambut albino. Rambut itu menjulur sepanjang pinggang dengan garis-garis halus dan lentur. Dia kurus dan terlihat rapuh. Ada keanggunan yang sederhana dan spesial dalam cara dia berdiri dengan jempolnya di saku mantel beludru prem yang dibuat penjahit.

Bu Miller merasa sangat senang, dan saat gadis kecil itu melirik ke arahnya, ia tersenyum hangat. Gadis kecil itu berjalan mendekat dan berkata, “Maukah Anda membantuku?”

“Aku akan senang melakukannya,” kata Bu Miller.

“Oh, cukup mudah kok. Aku cuma ingin Anda membelikanku tiket; kalau tidak, mereka tidak akan membiarkanku masuk. Ini, aku ada uangnya.” Dan dia menyerahkan dua koin 10 sen dan 1 koin 5 sen.

Mereka pergi ke bioskop bersama-sama. Petugas mengarahkan mereka ke sebuahruang duduk; dalam dua puluh menit filmnya akan berakhir.

“Aku merasa seperti penjahat sejati,” kata Bu Miller riang, saat ia duduk. “Maksudku, hal semacam itu melanggar hukum, bukan? Aku berharap aku tidak melakukan hal yang salah. Ibumu tahu kamu di mana, sayang? Maksudku, dia tahu, kan?”

Gadis kecil itu diam saja. Dia membuka kancing mantelnya dan melipatnya di pangkuannya. Gaunnya rapih, berwarna biru tua. Rantai emas menggantung di lehernya, dan jari-jarinya, terlihat sensitif dan seperti jari pemusik, memainkan rantai itu. Memeriksanya saksama, Bu Miller memutuskan bahwa ciri khasnya sebenarnya bukan rambutnya, tapi matanya; mata coklat kekuningan, mantap, tidak seperti mata anak kecil dan, karena ukurannya, seperti mengonsumsi wajah kecilnya.

Bu Miller manawari pepermin. “Siapa namamu, sayang?”

“Miriam,” katanya, seakan, dengan anehnya, nama itu informasi yang sudah familiar.

“Mengapa, lucu sekali- namaku juga Miriam. Dan nama itu bukan nama yang pasaran. Jangan bilang nama belakangmu pun Miller!”

“Cuma Miriam.”

“Tapi, tidakkah itu lucu?”

“Biasa saja,” balas Miriam, dan memainkan pepermin di lidahnya.

Bu Miller merona dan bergerak tak nyaman. “Kosakatamu luas sekali untuk anak perempuan seusiamu.”

“Iya kah?”

“Hm, ya,” kata Bu Miller, dengan tergesa-gesa mengubah topik: “Kamu suka filmnya?”

“Aku tak tahu,” jawab Miriam. “Aku belum pernah menontonnya.”

Para perempuan mulai memenuhi ruangan; gemuruh cuplikan berita meledak di kejauhan. Bu Miller berdiri, menyempilkan dompetnya ke bawah lengan. “Kurasa aku sebaiknya lari sekarang kalau ingin dapat tempat duduk,” katanya. “Senang bertemu denganmu.”

Miriam mengangguk sedikit.

Selama seminggu salju turun.  Roda dan langkah kaki bergerak tanpa suara di jalan, seolah urusan hidup berlangsung diam-diam di balik tirai yang pucat namun tak tertembus. Di tempat yang sunyi sepi tidak ada langit atau bumi, hanya salju yang terangkat angin, membekukan kaca jendela, mendinginkan ruangan, mematikan dan mendiamkan kota. Penting untuk membiarkan lampu menyala di sepanjang jam, dan Bu Miller kehilangan jejak hari-hari: Jumat tidak ada bedanya dengan hari Sabtu, dan di hari Minggu, dia pergi belanja, tentu saja tutup.

Malam itu ia memasak telur dadar dan menyiapkan semangkuk sup tomat. Lalu, setelah mengenakan jubah flanel dan mengoleskan krim dingin di wajahnya, ia menyandarkan tubuhnya ke tempat tidur dengan sebotol air panas di bawah kaki. Ia sedang membaca Times saat bel pintu berdering. Mula-mula ia mengira itu pasti sebuah kesalahan dan siapa pun itu akan pergi nantinya. Tapi, bel terus berdering dan berdering dan semakin menuntut. Ia melihat jam: pukul sebelas lewat sedikit; sepertinya tidak mungkin, ia selalu sudah tertidur pukul sepuluh.

Beranjak dari kasur, ia berderap tanpa alas kaki melintasi ruang tamu. “Aku ke sana, mohon bersabar.” Grendel pintu itu tersangkut; ia mengutak-atiknya begini dan begitu dan bel tidak berhenti barang sebentar saja. “Berhenti,” teriaknya. Bautnya membuka jalan dan ia membuka pintu selebar satu inci. “Siapa gerangan di sana?”

“Halo,” sapa Miriam.

“Oh … kenapa, halo,” jawab Bu Miller, ragu-ragu melangkah ke aula. “Kamu gadis kecil kemarin.”

“Kukira Anda tidak akan menjawab, tapi aku terus memencet bel; aku tahu Anda di rumah. Bukankah Anda senang melihatku?”

Bu Miller kehilangan kata-kata. Miriam, ia lihat, mengenakan mantel beludru prem yang sama dan sekarang dia memakai topi baret melengkapi mantelnya; rambut putihnya dikepang dua lapis dan dililitkan di ujungnya dengan pita putih yang sangat besar.

“Karena aku sudah lama menunggu, Anda setidaknya bisa membiarkanku masuk,” katanya.

“Tapi ini sudah malam sekali …”

Miriam menatapnya kosong. “Apa bedanya? Biarkan aku masuk. Di sini dingin dan aku memakai gaun sutra.” Kemudian, dengan gerakan lembut, dia mendesak Bu Miller ke samping dan masuk ke apartemen.

Dia menjatuhkan mantel dan baretnya di kursi. Dia memang mengenakan gaun sutra. Sutra putih di bulan Februari. Rok itu memiliki lipit yang indah dan panjang; membuat gemersik samar saat dia melangkah memasuki ruangan. “Aku suka tempat Anda,” katanya. “Aku suka permadaninya, warna biru favoritku.” Dia menyentuh sebuah mawar kertas di vas bunga di atas meja kopi. “Imitasi,” komentarnya lemah. “Betapa menyedihkan. Bukankah imitasi itu menyedihkan?” Dia duduk di sofa, dengan lembut melebarkan roknya.

“Apa maumu?” tanya Bu Miller.

“Duduk,” kata Miriam. “Melihat orang berdiri membuatku gugup.”

Bu Miller tenggelam di sebuah kursi kecil. “Apa yang kamu inginkan?” ia mengulangi.

“Kurasa Anda tidak senang aku datang.”

Untuk kedua kalinya Bu Miller tidak menjawab; tangannya bergerak samar. Miriam terkikik dan kembali menekanan dirinya ke tumpukan bantal katun berbunga. Bu Miller memperhatikan bahwa gadis itu tidak sepucat yang ia ingat; pipinya memerah.

“Bagaimana kau tahu tempat tinggalku?”

Miriam mengernyit. “Itu bukan pertanyaan. Siapa namamu? Siapa namaku?”

“Tapi aku tidak terdaftar di buku telepon.”

“Oh, ayo kita bicarakan hal lain.”

Bu Miller berkata, “Ibumu pasti sudah gila karena membiarkan anak sepertimu berkeliaran di malam hari – dan dengan pakaian yang tidak masuk akal. Pasti dia sudah gila.”

Miriam berdiri dan pindah ke ujung ruangan di mana ada sangkar burung yang tertutup kain tergantung dari rantai langit-langit. Dia mengintip ke balik kain. “Burung kenari,” katanya. “Anda keberatan kalau kubangunkan dia? Aku ingin dengar dia bernyanyi.”

“Tinggalkan Tommy sendiri,” jawab Bu Miller, cemas. “Awas kalau kau bangunkan dia.”

“Tentu saja,” kata Miriam. “Tapi aku tak mengerti kenapa aku tidak boleh mendengarnya bernyanyi.” Dan juga, “Anda punya sesuatu yang bisa kumakan? Aku kelaparan! Bahkan susu dan roti lapis selai juga tak apa.”

“Dengar,” kata Bu Miller, bangkit dari bantal, “Dengar – kalau kubuatkan kau roti lapis, maukah kau jadi anak baik dan lari ke rumah? Sudah lewat tengah malam, aku yakin.”

“Di luar bersalju,” bujuk Miriam. “Juga dingin dan gelap.”

“Yah, dari awal kau harusnya tidak ke sini,” balas Bu Miller, berjuang mengontrol suaranya. “Aku kan tidak bisa mengatur cuaca. Kalau mau makanan, kau harus berjanji akan pulang.”

Miriam menyapukan kepangan ke pipinya. Matanya berpikir, seolah menimbang proposisi itu. Dia berbalik ke arah sangkar burung. “Baiklah,” dia berkata. “Aku janji.”

Berapa usianya? Sepuluh? Sebelas? Bu Miller, di dapur, membuka sekaleng stroberi fermentasi dan mengiris empat potongan roti. Dia menuangkan segelas susu dan berhenti sejenak untuk menyalakan rokok. Dan kenapa dia datang? Tangannya terkejut saat memegang korek, tercengang, hingga membakar jarinya. Burung kenari bernyanyi; bernyanyi seperti saat pagi hari dan tidak di waktu lainnya. “Miriam,” panggilnya, “Miriam, sudah kubilang jangan ganggu Tommy.” Tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi; yang terdengar hanya suara kenari. Ia menghisap rokok dan menyadari ia membakar ujung gabus penutup anggur dan – oh, sungguh, harusnya ia tidak kehilangan emosi.

Ia menaruh makanan di nampan dan mengaturnya di meja kopi. Yang pertama dilihatnya ialah sangkar burung masih mengenakan kain penutupnya. Dan Tommy sedang bernyayi. Hal itu memberikan sensasi aneh. Dan tidak ada seorang pun di ruangan. Bu Miller melewati sebuah ceruk yang menuju ke kamarnya; di pintu, ia menahan napas.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Miriam.

Miriam melirik ke atas dan matanya memancarkan pandangan yang tidak biasa. Dia sedang berdiri di samping meja tulis, sebuah kotak perhiasan terbuka di depannya. Sejenak dia mengamati Bu Miller, memaksa mata mereka bertemu, dan dia tersenyum. “Tidak ada yang bagus di sini,” katanya. “Tapi aku suka ini,” tangannya memegang bros ukiran. “Menarik sekali.”

“Seandainya-mungkin kau sebaiknya mengembalikannya,” kata Bu Miller, tiba-tiba merasa perlu mendapat dukungan. Ia bersandar pada kusen pintu; kepalanya terasa berat tak tertahankan; sebuah tekanan memberatkan irama detak jantungnya. Cahaya lampu seakan bergetar seperti lampu rusak. “Kumohon, Nak … hadiah dari suamiku.”

“Tapi itu cantik dan aku mau itu,” kata Miriam. “Berikan padaku.”

Selagi ia berdiri, berjuang keras untuk membentuk kalimat yang akan menyelamatkan bros itu, Bu Miller tersadar tidak ada seorang pun yang bisa ia andalkan; ia sendirian; suatu kenyataan yang sudah lama tidak ada di pikirannya. Penegasan itu sungguh menakjubkan. Tapi di sini, di kamarnya sendiri, di kota penuh pertunjukan yang sunyi itu, adalah bukti yang tidak bisa ia abaikan, atau, ia tahu dengan kejelasan yang mencengangkan, tolak.

Miriam makan dengan rakus, dan saat roti lapis dan susunya hilang, jari-jarinya menyisir di atas piring, mengumpulkan remah-remah. Bros itu berkilau pada blusnya, sosok pirang itu seperti bayangan belaka pada pemakainya. “Enak sekali,” dia menghela napas, “Meskipun kue almon atau ceri pasti terasa enak juga. Makanan manis itu menyenangkan, bukan?”

Bu Miller bertengger di atas meja makan, mengisap sebatang rokok. Ikat rambutnya terlepas sebelah dan helai-helai longgar melintang di wajahnya. Tatapannya kosong dan pipinya berbintik-bintik merah, seolah tamparan sengit telah meninggalkan bekas permanen.

“Ada permen – kue?”

Bu Miller menepuk debu di karpet. Kepalanya terayun sedikit saat ia mencoba memusatkan perhatian ke matanya. “Kau berjanji akan pulang kalau kubuatkan roti lapis,” katanya.

“Ya ampun aku ini, masa sih?”

“Kau berjanji dan aku capek dan aku merasa kurang sehat.”

“Jangan jengkel,” kata Miriam. “Aku kan cuma bercanda.”

Dia mengambil jaketnya, menggantungkannya di tangan, dan mengatur topi baretnya di depan kaca. Sekarang dia menunduk mendekat ke Bu Miller dan berbisik, “Berikan aku ciuman perpisahan.”

“Oh – aku tidak mau,” kata Bu Miller.

Miriam mengangkat bahu, melengkungkan alis. “Terserah dirimu,” katanya, dan langsung pergi ke meja kopi, mengambil vas berisi kertas mawar, membawanya ke tempat yang permukaan lantainya keras dan telanjang, dan melemparkannya ke bawah. Kaca tersebar ke segala arah dan dia menancapkan kakinya di atas buket bunga.

Lalu perlahan dia berjalan ke pintu, tapi sebelum menutupnya, dia kembali menatap Bu Miller dengan rasa penasaran yang nampak polos namun licik.

Bu Miller menghabiskan hari berikutnya di tempat tidur, bangun sekali untuk memberi makan burung kenari dan minum secangkir teh; ia mengukur suhu tubuh dan tidak demam, namun mimpinya menggelisahkan; suasana mimpi yang tidak mengenakkan itu tetap bertahan meski ia terbaring menatap lebar ke langit-langit. Satu mimpi beriringan melalui yang lain seperti tema misterius dalam simfoni yang rumit, dan adegan yang ditunjukkan digambarkan dengan tajam, seolah digambar oleh tangan dengan intensitas berbakat: seorang gadis kecil, mengenakan gaun pengantin dan karangan bunga, memimpin sebuah prosesi kelabu ke jalan setapak, dan di antara mereka ada keheningan yang tidak biasa sampai seorang wanita di belakang bertanya, “Ke mana dia membawa kita?” “Tidak ada yang tahu,” kata seorang pria tua yang berbaris di depan. “Tapi, bukankah dia cantik?” balas suara ketiga. “Bukankah dia seperti bunga yang beku … sangat bersinar dan putih?”

Selasa pagi, ia terbangun dengan perasaan lebih baik; sinar matahari yang terang, menembus miring melalui tirai Venesia, melepaskan cahaya yang mengganggu pada mimpi buruknya. Ia membuka jendela dan melihat hari yang mencair dan ringan seperti musim semi; sapuan awan baru yang bersih menggumpal di langit yang sangat biru, langit yang tidak pada musimnya; dan di seberang deretan atap rendah, ia bisa melihat sungai dan asap melengkung dari tumpukan kapal tugboat yang berbaris di antara angin yang hangat. Sebuah truk perak besar menaiki jalan bersalju, suara mesinnya berdengung di udara.

Setelah merapikan apartemen, ia pergi ke toko kelontong, menguangkan cek dan melanjutkan ke Schrafft’s, tempat ia sarapan dan mengobrol gembira dengan pelayannya. Oh, ini adalah hari yang indah, lebih seperti liburan dan bodoh sekali kalau pulang ke rumah.

Ia menaiki bis Lexington Avenue dan pergi ke Eighty-sixth Street; di sinilah ia memutuskan untuk sedikit belanja.

Ia tidak tahu apa yang ia inginkan atau butuhkan, tapi ia terus berjalan, memperhatikan orang yang lewat, bergegas dan sibuk dengan pikirannya sendiri, yang memberinya rasa keterpisahan yang mengganggu.

Saat sedang menunggu di sudut Third Avenue, ia melihat pria itu: seorang pria tua, dengan kaki yang pengkar dan membungkuk ke bawah bungkusan yang menggembung; dia mengenakan mantel cokelat lusuh dan topi kotak-kotak. Tiba-tiba, ia menyadari mereka bertukar senyuman: tidak ada yang ramah tentang senyuman ini, hanya dua emosi dingin. Tapi, ia yakin ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

Ia berdiri di samping pilar El, dan saat ia menyeberang jalan, dia berbalik dan mengikuti. Dia terus mendekat; dari sudut matanya, ia melihat bayangan pria itu bergelombang di jendela toko.

Lalu di tengah blok ia berhenti dan menghadap le pria itu. Dia juga berhenti dan memiringkan kepalanya, menyeringai. Tapi apa yang bisa ia katakan? Lakukan? Di sini, di siang bolong, di Eighty-sixth Street? Tidak ada gunanya, dan, membenci ketidakberdayaannya sendiri, ia mempercepat langkahnya.

Sekarang Second Avenue adalah jalan yang suram, terbuat dari sisa-sisa bahan bangunan dan jalan buntu; sebagian jalanan setapak dari batu, sebagian aspal, sebagian semen; dan atmosfer desersinya bersifat permanen. Bu Miller berjalan sejauh lima blok tanpa menemui siapa pun, dan sementara itu, jejak langkah kaki pria tadi di salju tetap dekat. Dan saat ia datang ke toko bunga, suara itu masih bersamanya. Ia bergegas masuk dan melihat melalui pintu kaca saat pria tua itu lewat; dia terus menatap lurus ke depan dan tidak memperlambat langkahnya, tapi dia melakukan hal aneh: dia memiringkan topinya.

“Enam bunga putih, kan?” tanya si penjual bunga. “Ya,” Bu Miller berkata pada pria penjual bunga, “Mawar putih.” Dari sana, ia pergi ke toko barang pecah belah dan memilih vas bunga, mungkin pengganti yang sudah Miriam rusak, meski harganya tidak dapat ditolerir dan vas itu sendiri (menurutnya) tidak istimewa. Tapi, serangkaian pembelian yang tidak masuk akal telah dimulai, seolah-olah dengan rencana yang sudah diatur sebelumnya: rencana yang tidak ia ketahui atau kontrol sedikit pun.

Ia membeli sekantong ceri, dan di tempat yang disebut Knickerbocker Bakery, ia membayar empat puluh sen untuk enam kue almon.

Dalam satu jam terakhir, cuaca berubah menjadi dingin lagi; seperti lensa yang kabur, awan musim dingin menyinari bayangan matahari, dan kerangka senja dini mewarnai langit; kabut lembap bercampur angin dan suara beberapa anak yang berlarian di atas tumpukan salju terasa sepi dan tak ceria. Tak lama, serpihan pertama jatuh, dan saat Bu Miller sampai di gedung berbatu bata, salju turun dengan cepat dan jejak kaki yang tercetak jadi lenyap.

Mawar putih diatur secara dekoratif di dalam vas bunga. Ceri bersinar di piring keramik. Kue almon, ditaburi gula, menunggu dijamah. Burung kenari bergerak-gerak di ayunannya dan mengambil sebatang biji buah.

Tepat pukul lima, bel berbunyi. Miller tahu siapa orang itu. Ujung mantel rumahannya mengikuti langkahnya saat ia melintasi ruangan. “Apakah kau di dalam?” Dia memanggil.

“Sewajarnya,” kata Miriam, kata itu menggema keras dari aula. “Buka pintunya.”

“Pergi sana,” kata Bu Miller.

“Cepatlah … aku bawa bungkusan berat.”

“Sana pergi,” kata Bu Miller. Ia kembali ke ruang tamu, menyalakan rokok, duduk, dan dengan santai mendengarkan bel; terus-terusan. “Kau harusnya pergi saja. Aku tak berniat membiarkanmu masuk.”

Tak lama, bel berhenti berbunyi. Sekitar sepuluh menit Bu Miller tidak bergerak. Lalu, mendengar tidak ada suara, ia mengira Miriam sudah pulang. Ia berjingkat ke pintu dan membuka pintu sedikit; Miriam setengah berbaring di atas kotak kardus dengan boneka Prancis yang indah di pelukannya.

“Sungguh, kukira Anda tidak akan buka pintunya,” katanya, kesal. “Ini, bantu aku membawanya ke dalam, berat sekali.”

Bukan suatu paksaan serupa mantra yang Bu Miller rasakan, namun lebih seperti kepasifan yang aneh; ia membawa masuk kotak itu, Miriam si boneka. Miriam meringkuk di sofa, tidak repot-repot melepas mantel atau baretnya, dan mengawasi dengan tidak acuh ketika Bu Miller menjatuhkan kotak itu dan berdiri gemetar, berusaha menarik napas.

“Terima kasih,” katanya. Di siang hari dia tampak kurus dan letih, rambutnya kurang bercahaya. Boneka Prancis yang dia cintai itu mengenakan wig indah dan mata kacanya yang konyol nampak mencari hiburan di mata Miriam. “Aku punya kejutan,” lanjutnya. “Lihatlah ke dalam kotakku.”

Berlutut, Bu Miller membuka tutupnya dan mengangkat boneka lain; kemudian gaun biru yang ia ingat pernah dikenakan Miriam pada malam pertama di teater; dan ia berkata, “Semuanya pakaian. Kenapa?”

“Karena aku datang untuk tinggal bersama Anda,” kata Miriam, memutar batang ceri. “Bukankah Anda baik sekali sudah membelikanku ceri …?”

“Tapi kau tidak boleh tinggal di sini! Demi Tuhan, pergilah – pergi dan tinggalkan aku sendiri!”

“… dan mawar dan kue almon? Benar-benar luar biasa murah hati. Anda tahu, ceri ini lezat. Tempat terakhir yang kutinggali adalah rumah seorang lelaki tua; dia sangat miskin dan kami tidak pernah makan enak. Tapi aku pikir aku akan senang di sini.” Dia berhenti sejenak untuk merengkuh bonekanya. “Sekarang, kalau Anda tunjukkan di mana aku bisa menaruh barang-barangku …”

Wajah Bu Miller berubah serupa topeng dengan guratan-guratan merah yang jelek; ia mulai menangis, semacam tangisan yang tidak alami, seolah-olah lama tidak menangis dan ia lupa bagaimana caranya. Dengan hati-hati, ia mundur ke belakang sampai menyentuh pintu.

Ia meraba-raba lorong dan menuruni tangga ke bawah. Ia memukul dengan panik pintu apartemen pertama yang ia datangi; seorang pria pendek berambut merah menjawab dan ia mendorong melewatinya. “Apa-apaan ini?” kata pria itu. “Ada yang salah, sayangku?” tanya seorang wanita muda yang muncul dari dapur, mengeringkan tangannya. Dan Bu Miller menghadap wanita itu.

“Dengar,” serunya, “Saya malu berperilaku seperti ini tapi — yah, saya Bu H. T. Miller dan saya tinggal di lantai atas dan …” Ia menekankan tangannya ke wajahnya. “Kedengarannya sangat tidak masuk akal …”

Wanita itu membimbingnya ke kursi, sementara pria itu dengan penuh semangat memainkan uang receh di kantongnya. “Ya?”

“Saya tinggal di lantai atas dan ada seorang gadis kecil yang mengunjungi saya, dan saya kira saya takut padanya. Dia tidak kunjung pergi dan saya tidak bisa membuatnya pergi dan — dia akan melakukan sesuatu yang mengerikan. Dia sudah mencuri bros ukiran milik saya, tetapi dia akan melakukan sesuatu yang lebih buruk — lebih buruk.”

Pria itu bertanya, “Dia kerabatmu?”

Bu Miller menggelengkan kepalanya. “Saya tidak tahu siapa dia. Namanya Miriam, tapi saya tidak tahu pasti dia siapa.”

“Tenanglah, sayang,” kata wanita itu, sambil mengelus lengan Bu Miller. “Harry lah yang akan mengamankan anak itu. Ayo, sayangku.” Dan Bu Miller berkata, “Pintunya sudah terbuka — 5A.”

Setelah pria itu pergi, wanita itu membawa handuk dan mengelap wajah Bu Miller. “Anda baik sekali,” kata Bu Miller. “Maaf saya berperilaku seperti orang bodoh, hanya saja anak jahat ini …”

“Tentu, sayang,” menghibur wanita itu. “Sekarang, lebih baik santai saja.”

Bu Miller mengistirahatkan kepalanya di lekuk lengannya; dia cukup tenang untuk tidur. Wanita itu memutar radio; piano dan suara serak mengisi keheningan dan wanita itu mengetukkan kakinya, memberi jeda waktu yang sangat baik. “Mungkin kita harus naik juga,” katanya.

“Saya tidak ingin melihatnya lagi. Saya tidak ingin berada di dekatnya.”

“Uh-huh, tapi yang seharusnya Anda lakukan, Anda seharusnya memanggil polisi.”

Saat ini mereka mendengar pria tadi di tangga. Dia melangkah ke ruangan sambil mengerutkan dahi dan menggaruk bagian belakang lehernya. “Tidak ada orang di sana,” katanya, dengan jujur merasa malu. “Dia pasti menghabisi anak itu.”

“Harry, kamu keterlaluan,” kata wanita itu. “Kita duduk di sini sepanjang waktu dan kita pasti sudah melihat kalau …” Dia berhenti tiba-tiba, karena pandangan pria itu tajam.

“Saya mencari ke semua tempat,” katanya, “Dan tidak ada orang di sana. Tidak ada orang, mengerti?”

“Katakan pada saya,” kata Bu Miller, sambil berdiri, “Katakan pada saya, apakah Anda melihat kotak besar? Atau boneka?”

“Tidak, Bu, saya tidak lihat.”

Dan wanita itu, seolah memberikan vonis, berkata, “Yah, setelah menangis tersedu-sedu begitu …”

Bu Miller masuk ke apartemennya dengan lembut; ia berjalan ke tengah ruangan dan berdiri diam. Tidak, dalam arti tidak ada yang berubah: mawar, kue, dan ceri berada di tempat masing-masing. Tapi, ini ruang kosong, lebih kosong daripada ketika perabotan belum ada di sini, tak bernyawa dan membatu layaknya pemakaman. Sofa membayang di hadapannya dengan keanehan baru: kekosongannya memiliki makna yang kurang tajam dan mengerikan seandainya saja Miriam pernah meringkuk di atasnya. Ia menatap lekat-lekat ruangan di mana ia ingat pernah mengatur boks, dan, untuk sesaat, bantal kakinya berputar putus asa. Dan ia melihat melalui jendela; tentu saja sungai itu nyata, tentu saja salju turun — tetapi kemudian, seseorang tidak bisa menjadi saksi tertentu untuk hal apa pun: Miriam, begitu jelas di sana — namun, di mana dia? Di mana? Di mana?

Seolah bergerak dalam mimpi, ia tenggelam di kursi. Ruangan itu kehilangan bentuk; hari sudah gelap dan semakin gelap dan tidak ada yang bisa dilakukan tentang hal itu; ia tidak bisa mengangkat tangannya untuk menyalakan lampu.

Tiba-tiba, menutup matanya, ia merasakan lonjakan ke atas, seperti penyelam yang muncul dari kedalaman yang sangat dalam dan hijau. Pada masa penuh kesulitan atau teror, ada saat-saat ketika pikiran menunggu, seolah-olah untuk mendapatkan sebuah wahyu, sementara gumpalan ketenangan ditenun dari pikiran; seperti tidur, atau hipnotis supernatural; dan di masa ini kita menyadari kekuatan penalaran yang tenang: bagaimana jika ia tidak pernah benar-benar mengenal seorang gadis bernama Miriam? Bahwa ia dengan bodohnya ketakutan di jalan? Pada akhirnya, seperti yang lainnya, itu tidak penting. Satu-satunya hal yang hilang dari dirinya untuk Miriam adalah identitasnya, tetapi sekarang ia tahu ia telah menemukan lagi orang yang tinggal di ruangan ini, yang memasak makanannya sendiri, yang memiliki burung kenari, yang merupakan seseorang yang dapat dipercayainya: Bu H. T. Miller.

Sambil mendengarkan dengan perasaan senang, ia sadar ada suara ganda: laci meja terbuka dan tertutup; ia sepertinya mendengarnya lama setelah laci itu selesai — terbuka dan tertutup. Kemudian secara bertahap, suara lantang itu digantikan oleh desiran gaun sutra dan, sesuatu ini, yang gerakannya halus dan lemah, bergerak lebih dekat dan semakin intens hingga dinding gemetar hebat dan ruangan itu runtuh di bawah gelombang bisikan. Bu Miller menegang dan membuka mata dan berpandangan langsung dengan tatapan membosankan itu.

“Halo,” kata Miriam.

(*)

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending