Connect with us

Kolom

Tradisi Lisan dalam Industri Kreatif

mm

Published

on

Industri kreatif merupakan istilah yang akhir-akhir ini menjadi wacana yang mengemuka dan menjadi pembicaraan yang aktual. Hawkins (2001) menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari untuk pertama kali pada tahun 1966 bahwa karya hak cipta di Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar dolar yang jauh melampaui ekspor sektor lainnya, seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Selain tiga sektor tersebut, ia mengusulkan lima belas kategori industri yang termasuk dalam ekonomi kreatif, yaitu iklan, arsitektur, seni rupa, kerajinan/kriya, desain, film, musik, seni pertunjukan, penerbitan, riset/pengembangan, peranti lunak, permainan, media elektronik, dan permainan video. Setelah Amerika Serikat Inggris menyusul mengembangan industri kreatif dengan mengembangan tiga belas industri kreatif.
Sementara itu, Indonesia melalui Kementerian Perdagangan turut pula mengembangkan industri kreatif. Kementerian Perdagangan berhasil memetakan empat belas  sektor industri kreatif, yaitu (1) periklanan, (2) arsitektur, (3) pasar seni dan barang antik, (4) kerajinan, (5) desain, (6) fesyen, (7) video/film/fotografi, (8) permainan, (9) musik, (10) seni pertunjukan, (11) penerbitan, (12) layanan komputer, (13) televisi/radio, serta (14) riset dan pengembangan.  Hadirnya industri kreatif tersebut sangat signifikan terhadap situasi ekonomi sehingga pertumbuhan ekonomi kreatif pada tahun 2006 mencapai 7,3% melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,6%. Di samping itu, ekonomi kreatif juga mampu menyerap 3,7 juta tenaga kerja setara dengan 4,7% total penyerapan tenaga kerja baru.
Hal tersebut mengisyaratkan adanya dua istilah yang digunakan, yaitu  industri kreatif dan ekonomi kreatif. Ekonomi  kreatif adalah kelompok luas profesional atau mereka yang berada dalam kegiatan industri kreatif yang memberikan sumbangan terhadap garis depan inovasi. Cendekiawan kreatif tersebut adalah seniman, artis, pendidik, sarjana, dan penulis. Mereka merupakan sekolompok orang yang mempunyai kemampuan berpikir menyebar dan berpola yang menghasilkan gagasan baru. Oleh karena itu, ekonomi kreatif dapat dikatakan sebagai sistem transaksi penawaran dan permintaan yang bersumber pada kegiatan ekonomi dan industri kreatif.
Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berfokus pada kreasi dan eksploitasi karya kepemilikan intelektual. Sejalan dengan itu, Damono (2008) mengatakan bahwa industri kreatif adalah industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, dan  bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Tradisi Lisan dalam Industri Kreatif

Bangsa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman dan kekhasan budaya setiap suku bangsa merupakan aset yang  tidak terhitung jumlahnya. Warisan budaya yang merupakan bagian dari keberagaman dan kekhasan yang dimiliki suku bangsa Indonesia tersebut dapat ditafsirkan pula sebagai bagian inti dari jati diri. Dengan kata lain, martabat suatu bangsa ditentukan oleh kebudayaannya yang mencakup unsur yang ada di dalamnya. Warisan budaya yang kita miliki itu sangat bernilai sosial dan ekonomi. Kita tidak pernah memikirkan bahwa sebetulnya khazanah budaya, baik yang berbentuk artefak kebendaan maupun yang nonkebendaan, sesungguhnya menyimpan patensi luar biasa untuk dikembangkan (Sedyawati, 2003:xi—xiii). Pengembangan warisan budaya yang di dalamnya tercakup sastra lisan dapat terwujud, antara lain dalam kerangka budaya industri kreatif. Hal itu sejalan dengan pendapat para ahli yang mengatakan bahwa peran budaya dapat mengubah banyak hal, termasuk perekonomian suatu bangsa. Mereka bertolak dari kenyataan bahwa pembangunan ekonomi selama ini terbukti tidak dapat memperbaiki kualitas hidup manusia secara ideal. Di samping itu, perubahan dari budaya agraris ke budaya industri dan budaya pascaindustri menyebabkan perubahan dalam tata kehidupan masyarakat. Secara sistematis dan terstruktur, pendekatan ekonomi yang sangat sentralistik (khususnya di Indonesia) telah meniadakan potensi lokal untuk memperlihatkan kekuatan dan sekaligus keunggulan komparatifnya (Pudentia, 2008).
Perubahan paradigma dari budaya agraris ke budaya industri yang ditandai dengan hadirnya industri atau ekonomi kreatif itu dipandang sebagai fenomena peradaban manusia fase keempat. Pemerintah RI meluncurkan cetak biru ekonomi kreatif Indonesia (Paeni, 2008). Cetak biru ekonomi kreatif merupakan konsep ekonomi yang berorientasi pada kreativitas, budaya, warisan budaya, dan lingkungan. Cetak biru tersebut memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia sampai dengan tahun 2030. Landasan utama industri kreatif adalah sumber daya manusia Indonesia, yang akan dikembangkan sehingga mempunyai peran sentral dibandingkan dengan faktor produksi lainnya. Penggerak industri kreatif dikenal sebagai sistem triple helix, yakni cendekiawan (intellectual), dunia usaha (business), dan pemerintah (government).  Dalam cetak biru ekonomi kreatif Indonesia tersebut tercatat empat belas cakupan bidang ekonomi kreatif, sebagaimana yang telah dikemukakan.
Sementara itu, sebagian tradisi lisan terancam punah sehingga perlu direvitalisasi dan dikembangkan lebih lanjut, antara lain melalui sektor pariwisata dan industri kreatif. Oleh karena itu, tradisi lisan sebagai warisan budaya, suka atau tidak suka, masuk dalam bisnis industri media. Pertunjukan tradisi lisan yang masuk industri media tidak lagi muncul ketika penutur bertemu dengan penonton dalam ruang waktu dan tempat yang sama, tetapi muncul dalam kemasan video atau kaset yang dapat dihadirkan kapan pun. Saat ini di banyak daerah di Indonesia memproduksi tradisi lisan dalam bentuk DVD. Kita dengan mudah menemukan genre tradisi lisan kita dalam bentuk rekaman DVD yang dijualbelikan (Suryadi, 2011). Situasi yang demikian menurut Pudentia (2008) menuntut penikmat atau peneliti tidak harus mempersoalkan mana versi tradisi asli atau yang lengkap. Kehadiran tradisi lisan sebaiknya diterima apa adanya sesuai dengan konsep, prinsip, dan alasan peneliti untuk dipertanggungjawabkan secara akademis. Yang menarik adalah melihat kelenturan yang menjadi penanda tradisi lisan dalam pementasannya. Fleksibilitas tradisi lisan merupakan keniscayaan sejauh para penutur dan komunitas pemiliknya menghendaki atau menerimanya.
Beberapa tradisi lisan Sunda yang sudah berkembang menjadi industri kreatif, antara lain, adalah sintren, beluk, topeng Cirebon, dan permainan adu ketangkasan domba. Masyarakat pesisiran selalu memiliki tradisi yang kuat dan mengakar. Salah satu tradisi rakyat pesisiran pantai utara (pantura) Jawa Barat adalah sintren. Tradisi itu sekarang menjadi sebuah pertunjukan langka, bahkan di daerah kelahiran sintren sendiri. Dalam perkembangannya, kini sintren sedikitnya hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali dalam upacara kelautan, nadran, dan hajatan. Meskipun demikian, sebagai aktualisasi dalam kegiatan industri kreatif, sintren dijadikan merek dagang sebuah rokok dan kertas tembakau. Gadis yang sedang menari sebagai khas sintren menghiasi bungkus rokok dan kertas tembakau tersebut. Sintren juga menginspirasi Dianing Widya Yudhistira untuk menulis sebuah novel Indonesia modern dalam judul yang sama dengan aslinya, yaitu Sintren. Novel tersebut diterbitkan pada tahun 2007 oleh Grasindo dengan tebal 296 halaman.
Sebagai tradisi lisan, sintren juga memasuki industri musik modern. Musik latar yang mengiringi sintren diangkat dalam pertunjukan musik modern sehingga menghasilkan irama musik baru. Penari sintren yang berkacamata hitam dan sebuah kurung yang digunakan untuk mengurung sintren dalam pertunjukan sintren tetap dihadirkan  sebagai properti pertunjukan musik modern. Selain itu, salah satu tradisi lisan yang menjadi ikon Cianjur, yaitu cianjuran atau disebut dengan mamaos teraktualisasikan melalui kartu telkomsel. Dalam kartu itu,  tampak foto penembang, pemetik kecapi, dan peniup suling tradisi cianjuran.
Tradisi lisan Sunda lain yang memasuki industri kreatif adalah tradisi beluk dan tarawangsa. Beluk adalah tradisi yang berdasarkan sastra tulis yang dalam istilah sastra Sunda disebut wawacan. Tradisi itu tumbuh dan berkembang di lingkungan agraris yang didendangkan pada saat membajak sawah. Seiring modernisasi saat manusia menggunakan traktor, kerbau menjadi tidak berperan hingga beluk pun hilang dari peredaran. Maestro beluk dan juga tarawangsa, Mang Ayi, memilih berkolaborasi dengan genre musik modern. Dengan demikian, terjadi pemanfaatan beluk dan tarawangsa dalam musik modern yang memasuki dunia industri kreatif. Dalam musik hibrida yang di dalamnya mengandung beluk atau tarawangsa dan genre musik modern, peran beluk yang memiliki kekuatan vokal berperan sebagai musik latar.
Tradisi lisan Cirebon yang cukup terkenal yang juga memasuki dunia industri kreatif adalah topeng Cirebon. Topeng yang merupakan aksesoris penari topeng saat menari sangat diperlukan untuk pertunjukan. Para perajin yang kreatif membaca situasi tersebut dapat menguntungkan secara ekonomi. Salah seorang perajin topeng Cirebon, yaitu Hasan Nawi memproduksi topeng Cirebon, baik untuk keperluan aksesoris penari topeng maupun untuk cenderamata berupa gantungan kunci dan hiasan berbentuk topeng kecil. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tradisi lisan berupa tari topeng Cirebon secara langsung ataupun tidak langsung menyemarakkan industri kreatif dan industri pariwisata Cirebon. Hasan Nawi dan seluruh anggota keluarganya saat ini memiliki sanggar antik yang digunakan sebagai tempat menjual topeng dan cenderamata topeng serta tempat berlatih tari topeng.

Penutup

Tradisi lisan dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dapat dikembangkan untuk industri kreatif. Suatu tradisi lisan dapat memasuki industri kreatif yang dapat menunjang perekonomian pelakunya jika tradisi lisan yang bersangkutan dimanfaatkan atau dikembangkan secara lintas sektoral atau melalui media lain, seperti tradisi lisan yang dikemas dalam bentuk DVD, diproduksi secara masal sebagai industri kreatif. Tradisi lisan yang sudah bertransformasi menjadi bentuk lain tersebut tentu saja tidak sepenuhnya muncul, tetapi hanya mewakili sebagian atau salah satu unsur tradisi. Namun, salah satu unsur tradisi lisan yang muncul dalam industri kreatif tersebut dapat dipandang sebagai salah satu bentuk perevitalisasian dan pemertahanan tradisi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hanya tradisi lisan yang bertransformasi dalam bentuk lain, seperti tradisi lisan dalam industri media massa yang berhibridisasi dan beraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang bertahan dalam era globalisasi.
Jadi, tradisi lisan, industri pariwisata, dan industri kreatif menggambarkan relevansi yang saling menguntungkan. Tradisi lisan mendukung berkembangnya industri kreatif dan industri pariwisata. Industri kreatif yang memanfaatkan tradisi lisan turut mempertahankan kelangsungan tradisi lisan. (*)

* Yeni Mulyani Supriatin (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan)

 

Daftar Pustaka

Damono, Sapardi Djoko. 2008. “Industri Kreatif, Budaya Urban,
dan Globalisasi: Catatan untuk FIB UI”. Makalah Dies
Natalis FIB UI 2008, Jakarta.

Hawkins. 2012. “Perkembangan Industri Kreatif”. Bandung:
Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.

Paeni, Mukhlis. 2008. “Tradisi Lisan Deposit Ekonomi Kreatif”.
Makalah Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan
di Wakatobi, 1—3 Desember 2008, Sulawesi Tenggara.

Pudentia (Ed.). 2008. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta:
Asosiasi Tradisi Lisan.

Sedyawati, Edi (Ed.). 2003. Warisan Budaya Takbenda: Masalahnya
Kini di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Budaya Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Jakarta.

Sedyawati, Edi. 2008. “Klasifikasi Industri Budaya” merupakan
makalah Kongres Kebudayaan Indonesia, 10—12 Desember 2008, Bogor.

Suryadi. 2011. “Tradisi Lisan dalam Perspektif Kajian Agama”. Denpasar:
Institut Hindu Dharma Negeri.

Continue Reading

Kolom

Sastra dan Rekor

mm

Published

on

Kita sudah biasa menjumpai sastra dalam teks, diskusi, dan yang paling mutakhir: berperistiwa di media sosial. Padahal, sudah cukup lama sastra Indonesia berurusan juga dengan rekor. Kita sering mendengar buku-buku sastra paling laris, paling diakui dunia, paling banyak diberi penghargaan, dan sebagainya. Semua itu dapat kita anggap rekor-rekor dalam sastra Indonesia. Kita memang hanya bisa menganggap. Sebab, yang paling memiliki legitimasi untuk menyebut rekor ini-itu tentu Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Pendiri sekaligus Ketua Umum MURI, Jaya Suprana, menyatakan, “Museum Rekor-Dunia Indonesia berusaha mengabdikan diri dalam mendukung pembangunan mental dan spiritual bangsa Indonesia melalui jalur anugerah perhatian dan penghargaan terhadap karsa dan karya superlatif para insan warga bangsa Indonesia.”

Pernyataan yang bertitimangsa Januari 2012 itu dapat kita temukan dalam sekapur sirih buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) susunan Aylawati Sarwono. Rekor bukan cuma soal perhatian dan penghargaan, melainkan juga pencatatan. Kita mafhum, di luar negeri sana rekor-rekor membuku dalam Guinness Book of World Records. Kata book (buku) menandai pencatatan sebagai pengesah rekor. Kita lantas sedih, pencatatan rekor di Indonesia rupanya terlambat sekian tahun. Pencatatan tentu dilakukan pada hari saat rekor tercipta. Namun, buku sebagai hasil pencatatan rekor itu terlambat disampaikan ke publik. Rekor-rekor MURI sepanjang tahun 2008-2009 baru kita ketahui melalui buku yang terbit pertama kali di tahun 2012. Aduh!

Demi menjaga mentalitas dan spiritualitas bangsa, sebagaimana diharapkan Jaya Suprana, maka kita tak pantas mengeluh. Kita memaklumi saja keterlambatan itu, yang penting pencatatan rekor sempat hadir dalam wujud buku. Rekor-rekor di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009) dibagi dalam puluhan kategori. Salah satu kategori perlu kita perhatikan, yakni karya tulis. Saat membaca urutan-urutan awal, kita menjumpai rekor “profesor kedokteran pertama di Indonesia yang menulis buku tentang teknik jazz”. Kita pantas bingung, mengapa ada rekor seperti ini di Indonesia? Profesor kedokteran yang punya pengetahuan mumpuni di bidang terkait semestinya dianugerahi rekor “penemu teknik pengobatan…”, “dokter pertama yang…”, dan lain-lain, bukan malah dianugerahi rekor untuk penulisan buku di luar bidang yang ditekuni.

Rekor lainnya yang boleh kita persoalkan adalah “penerbit buku dengan komentar tokoh Indonesia terbanyak”. Dalam bahasa termutakhir, komentar yang mendampingi penerbitan sebuah buku lazim kita sebut endorsement. Perannya adalah menggoda calon pembaca agar tertarik membeli buku itu. Maka, seringkali komentar tokoh ditaruh pada sampul belakang, bahkan tak jarang di sampul depan, supaya langsung terbaca meski buku masih bersegel plastik. Satu-dua komentar tokoh kondang sebetulnya sudah cukup mengangkat daya jual sebuah buku, tidak perlu sampai puluhan. Ada pula yang bahkan tak membutuhkan komentar tokoh, dan menyerahkan tanggung jawab apresiatif kepada penulis kata pengantar, entah dari pihak penerbit atau tokoh yang ditunjuk. Komentar tentang buku tak lebih penting dari buku itu sendiri.

Kita lantas menengok rekor-rekor sastra yang tercatat di buku Rekor-Rekor MURI (2008-2009). Nadya Nadine mencatatkan diri sebagai “penulis puisi tunggal terbanyak” di buku itu. Dalam keterangan, tertulis, “Nadya Nadine berhasil menulis 900 judul puisi dalam waktu 3 bulan, ditambah 101 puisi karya terdahulunya sehingga total puisi yang kemudian dibukukan ada 1.001 judul.” Buku kumpulan puisi Nadya Nadine diterbitkan berjudul Bunga Batu: 1001 Puisi Nadya Nadine (2012).

Buku kumpulan puisi Nadya Nadine mengalahkan 630 puisi Sitor Situmorang di buku Sitor Situmorang: Kumpulan Sajak 1948-2008 (2016) secara ketebalan maupun harga. Namun, jika kita menimbang kualitas dan terutama etosnya, kepenyairan Sitor Situmorang tentu lebih baik ketimbang Nadya Nadine.

Membandingkan Nadya Nadine dengan penyair ampuh sekelas Sitor Situmorang sekilas terasa tidak adil. Namun, kita sebetulnya dapat mengabaikan keagungan nama Sitor Situmorang dengan berfokus pada proses kreatifnya. Kita sedang membandingkan antara 900 puisi yang ditulis dalam kurun 3 bulan (101 puisi Nadya Nadine yang lain kita abaikan dulu, karena tidak ada keterangan waktu penulisannya) dengan 630 puisi yang ditulis sepanjang 60 tahun. Puisi yang ngebut kita bandingkan dengan puisi yang menangkap setiap peristiwa sepanjang hidup seseorang. Seandainya penulis puisi bukan Sitor Situmorang pun, proses penulisan yang alamiah itu jelas akan menghasilkan puisi-puisi yang lebih baik ketimbang yang dikejar tenggat waktu demi rekor.

Karya dan kepenyairan Nadya Nadine pun berpeluang berumur pendek dibanding penyair lainnya. Ia lebih memilih menumpahkan semua daya kreatifnya demi mengejar rekor MURI dalam sebuah buku kumpulan puisi amat tebal, alih-alih secara konsisten hadir menyapa pembaca pada rubrik sastra surat kabar edisi akhir pekan atau di laman-laman daring yang menyediakan ruang untuk puisi. Para penyair yang rajin menyapa pembaca, lantas rajin menerbitkan buku kumpulan puisi secara rutin, umur karya dan kepenyairannya bakal jauh lebih panjang. Tentu saja, kita berhak berambisi dalam kerja sastra. Namun, kita mesti paham bahwa kerja sastra adalah kerja budaya, alih-alih kerja mekanis yang bisa begitu saja terkekang target dan tenggat waktu. []

*) Udji Kayang Aditya Supriyanto; Pembaca buku dan pengelola Bukulah!

Continue Reading

Kolom

Ambilkan Buku, Bu!

mm

Published

on

Oleh: Setyaningsih *)

Suatu siang yang mendung di salah satu toko buku terbesar di Solo, adegan anak, ibu, dan buku terjadi. Tepatnya di deretan rak novel terjemahan yang menampilkan kemolekan buku-buku Jane Austen, kegembrotan The Belly of Paris dan Germinal Emile Zola, sederet novel garapan Jostein Gaarder. Si anak perempuan masih berseragam SD, mungkin kelas 5 atau 6. Si ibu tampak cukup modis kekinian bergamis bunga-bunga. Mata anak bersemangat dan tangan menyusuri deretan buku Gaarder. Ia akhirnya mengambil Dunia Sophie dan diberikan ke ibu. Mata dan tubuh lentur si anak yang seolah ingin melompat-lompat menginginkan buku itu! Ibu bertindak membuka-buku sejenak, mempertimbangkan, dan beberapa kali menampilkan tatapan meragukan. Bukan karena harga atau tebal buku nyaris sebantal. Saya yakin si ibu belum pernah membaca buku itu. Ibu merasa buku itu belum pas dibaca anaknya. Anak belum beruntung memasuki Dunia Sophie, semoga ada pintu ke buku lain!

Adegan kecil di toko buku ini tentu bukan adegan yang terjadi secara kolosal di sekitar kita. Kita mungkin sedikit merasa betapa sulit minta izin dibelikan buku yang nyaris sama sulit diizinkan membolos. Setiap ibu kita yang terdidik sekalipun, belum tentu menjadi ibu buku yang menuntun, membukakan jalan, atau memberikan pertimbangan buku apa yang pantas masuk dalam setiap perkecambahan diri anak. Peristiwa di toko buku berhasil membentuk negasi dari peristiwa di tahun ajaran baru, ketika para ibu dan bapak begitu mencintai anaknya dengan membelikan setumpuk buku pelajaran dan buku tulis. Seorang ibu berani menjadi pembelanja buku bagi anak-anaknya.

Membeli buku baru ataupun bekas, masih tampak sebagai hak eksklusif. Persepsi kita akan sulit menempatkan jajaran buku seolah sekeranjang sayur, susu, camilan, atau nasi. Seperti tubuh yang membutuhkan asupan biologis nan bergizi, tubuh juga perlu asupan imajinatif cukup lewat buku. Di saat ibu di pelbagai tempat dengan gagah melakukan apapun demi kebutuhan anak, buku bagi (sedikit) ibu juga sempat diperjuangankan dengan berani.

Di The Book Club yang digarap Mary Alice Monroe (2014), kita mendapati kisah lima perempuan dan tiga di antaranya telah menjadi ibu di Amerika. Klub membaca buku menjadi bagian lumrah yang menegaskan bahwa perempuan memiliki hak atas buku. Buku (ilmu) tidak dikodratkan hanya bagi kaum laki-laki. Di buku ini, ada satu adegan ketuntasan ibu membacakan buku bagi anak yang cukup emosional, “Doris duduk melipat kaki di lantai perpustakaan rumahnya dan meraba buku anak karya Dr. Seuss yang sudah tua dan sering dibaca. Dirasakannya gelombang melankolia setelah mengucapkan selamat jalan pada putra sulungnya, Bobby Jr., yang pergi untuk melanjutkan kuliah […] Sambil membuka buku, hati Doris dipenuhi kenangan saat ia sering membacakan buku ini untuk Sarah dan Bobby di perpustakaan ini juga. Mereka dulu sangat menyukai dunia fantasi ciptaan Dr. Seuss—ibu dan anak semua menyukainya.”

Kehadiran buku di rumah merayakan waktu anak dan ibu. Meski secara intelektual dan sosial biasanya bapak lebih terlibat dalam riwayat intelektual anak, seorang ibu adalah pertama yang mengantarkan ke sana. Dan kehadiran klub membaca, serupa kesombongan di tengah kesibukan mengurus anak, berkarir, atau menjadi pengurus segala keperluan rumah tangga.

Mereka perempuan yang menikmati belantara Gustav Flaubert, Charles Dickens, Jack London, Jane Austen, Lewis Carroll, sembari mengurus cucian, piring kotor, dapur, atau dokumen kantor. Nyaris tidak ada pamrih intelektual apalagi finansial. Para ibu itu berani terbahak, berdebat, berbicara dengan percaya diri, atau “mengutuk” para tokoh di buku sembari membandingkan dengan nasib diri di kenyataan sehari-hari. Di klub membaca, para ibu dan perempuan menemukan diri saat dunia modern masih mendiskriminasi mereka “hanya ibu rumah tangga” atau “cuma perempuan” yang lama tidak bersentuhan dengan kehidupan luar.

Banjir Perkumpulan

Di The Read-Aloud Handbook (2017), Jim Trelease mengakui bahwa ibu lebih berpihak sebagai pembaca buku ke anak daripada bapak. Jim bahkan menyajikan pernyataan khusus peran bapak dalam pengasuhan buku karena bapak cenderung lebih menentukan kecintaan anak atas olahraga. Kisah membuku dialami keluarga Hasset. Anak dan ibu saling menjalin dengan buku. Diceritakan, “Pada usia 16 tahun, mereka telah membaca 652 novel bersama-sama. Dan bukannya menjadi kutu buku, Erin adalah pribadi yang suka berenang, softball, dan menyanyi. Sebelum Erin memulai kuliah di Oklohoma City University, pilihan buku terakhir keluarga Hasset adalah The Adventures of Tom Sawyer, buku nomor 694 sejak pertama kali mereka membaca buku buku dengan bab saat Erin berusia 4 tahun. Jumlah itu tidak menghalangi dia meraih beasiswa National Merit di SMA atau nilai sempurna 800 Verbal di SAT.”

Banyak cerita pencapaian akademis mapan lewat membacakan anak buku-buku. Bukan masalah nilai menjadi berapa atau kelak anak menjadi apa. Prosesi membaca-dibacakan buku secara tidak sengaja menyumbang kebahagiaan-kecerdasan anak bertumbuh. Namun, kita sepertinya butuh usaha kerasa untuk membuat lebih banyak ibu-ibu di Indonesia percaya atas hal ini.

Di Indonesia, begitu banyak perkumpulan ibu-ibu dari ibu muda sampai tidak muda lagi. Sungguh banjir perkumpulan; arisan, PKK, pengajian, perkumpulan penggemar tas berkelas, pengumpul sepatu, sampai perkumpulan istri pejabat atau pegawai. Namun, kita seperti tidak mendapat kepastian bahwa perkumpulan berbau keibuaan juga memberi dampak bagi anak, terutama tentang buku dan membaca. Perkumpulan semacam ini ternyata tidak juga mengajarkan seni membaca, membacakan, meminjam, dan memiliki buku. Jika alasan finansial, para ibu pembaca di Amerika atau Eropa pun tidak semuanya harus kaya untuk mengasuh dengan buku. Banyak di antara mereka juga memanfaatkan perpustakaan kota atau sejenisnya.

Kita selalu dibuat mendengar dan merekam bahwa guru pertama bagi anak adalah ibu. Sang guru tentu tidak hanya sampai pada mengajarkan angka, cara menggores huruf, membelikan tas, membuatkan susu. Sang guru juga menjadi panutan membuku sampai seorang anak dengan terbiasa tanpa diminta berujar, “Ambilkan buku, Bu!” Buku memang tidak bersinar di langit. Ia tergeletak di lantai atau bertumpuk di meja. Ibu tidak marah meski berantakan dan anak banyak bertanya dan minta dibacakan. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Kolom

Kota-kota yang Ditelan Cahaya

mm

Published

on

Tatkala Tuhan menciptakan matahari sebagai sumber cahaya bagi bumi, lantas menyalurkan ke rembulan untuk meremangi malam, manusia ingin mengaburkan batas gelap-terang dengan menciptakan lampu. Manusia ingin cahaya yang nyaris abadi, dikendalikan, diciptakan, dan selalu hingar bingar. Tuhan pun tidak punya kuasa mematikan lampu yang menyala di setiap sudut bumi. Berita di Media Indonesia (9 Desember 2017) berkabar bumi semakin benderang oleh polusi cahaya di malam hari. Lampu LED yang dianggap menghemat, menjadi biang utama polusi cahaya. Semakin banyak lampu dinyalakan, semakin jam biologis manusia dan migrasi burung serta penyu laut terganggung. Ongkos ekonomi dan ekologi terlalu banyak dihabiskan jika lampu terus dipijar. Jurnal Science Advances melaporkan bahwa cahaya buatan di dunia meningkat 2% setiap tahun.

Di Indonesia, jejak cahaya lampu disahkan oleh kolonialisme. Penjajah membawa terang benderang bagi Hindia Belanda yang memiliki malam sebagai waktu yang religius dan kultural. Wilayah kelelapan malam dihentak dan dibangunkan dengan kedigdayaan seolah siang. Orang tidak lagi menakuti malam, melupakan batas-batas transendental. Tidak perlu lagi ada ketakutan pada hantu-hantu atau roh yang mungkin akan merasa silau juga bila berdekatan dengan malam.

Pada tahun 1931 di Paris, wajah kolonialisme di teras pameran kolonial se-dunia ditentukan oleh kilat lampu. Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas, Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942 (2007) mengatakan bahwa festival raya para penjajah itu menahbiskan Belanda sebagai pihak yang unik dan berbeda. Ramuan pelbagai kultur, etnis, dan agama yang berkecambah di Hindia Belanda, dipakai Belanda membangun kesatuan politik. Anjuangan Belanda di Paris menunjukkan bumi jajahan yang jauh dari derita dan kegelapan.

Namun, hanya kilatan cahaya lampu sebagai perangkat magis mampu memesona para pengunjung berkeliling dunia dalam sehari. Malam dikaburkan dalam pola-pola bayangan. Lampu mengemas nuansa misterius di antara kekaburan dan ketidakkaburan.

Modern

Kota atau negara yang ingin dianggap beradab dan modern harus memiliki lampu di setiap celah ruang dan peristiwa. Namun, kebenderangan yang membawa kekaguman juga menuai kegamangan. Leila Aboulela di cerita pendek Coloured Lights (2012) menuliskan perasaan yang antusias dan gamang saat berhadapan dengan lampu-lampu di London. Cerita ini bisa menjadi semacam memoar biografis Leila sebagai perempuan yang berpindah dari India ke Inggris. Leila bercerita, “Setiap jendela toko memamerkan pajangan yang sangat menarik dan ada lampu-lampu hias yang terpasang di dekat lampu-lampu jalan. lampu-lampu kecil dibelitkan pada pepohonan di trotoar, dipasang sepanjang kawat yang melintas di atas jalan. Lampu-lampu bulan Desember yang meriah. Biru, merah, hijau, lebih ramai daripada bohlam-bohlam sederhana yang kami gunakan di Khartoum untuk menghiasi rumah diselenggarakannya perkawinan.”

Lampu adalah kemewahan di tempat kelahiran sang aku, yang hanya akan dipakai untuk momentum khusus dan penting. Kekaguman pada lampu di kota dengan sederhana membandingkan pedesaan Khartoum yang gelap dan Kota London ditelan oleh banyak cahaya. Listrik di negara dunia ketiga tetaplah kemewahan seperti halnya makanan atau pendidikan, bahkan untuk menghidupkan sebuah lampu. Cerita Leila semakin ironis karena lampu (listrik) justru merenggut nyawa Taha, kakak si aku. Taha tersengat listrik saat memasang lampu-lampu untuk hari pernikahan. Lampu yang membawa cahaya justru mengantarkan ke kegelapan.

Paris sepertinya telah diagungkan sebagai kota cahaya. Andrew Hussey (2014) mengatakan bahwa sejak 1800, Paris mulai menapaki riwayat sebagai kota terindah dan terpenting di dunia. Proyek ambisius dijalankan untuk merancang kembali kota yang masih diwabahi kebanyakan masalah urban.

Di masa Louis-Napoleon, restorasi kota dijalankan oleh Georges-Eugene Haussmann menuju Paris yang modern setara dengan Roma. Haussmann meski amat kontroversial dikatakan, “Ia meninggalkan kota dengan sistem sanitasi yang baik (meminum air di Paris kini tak lagi memiliki risiko terjangkit penyakit kolera), dengan sistem lampu jalan yang terorganisasi dan kemampuan untuk menghadapi tuntutan teknologi abad itu.” Jika kita mendapati kota-kota masa kini yang gencar membangun taman, air mancur, lampu warna-warni, atau jalur pedestrian nan santai, semua itu memang gagasan membangun kota modern, bercermin pada cahaya di Kota Paris.

Kita sempat mengalami terminologi sinar atau cahaya sempat merujuk pada pertalian transendental atau kodrat alam. Seperti yang sering digunakan oleh para penyair sufistik, cahaya adalah Ilahi atau Tuhan. Cahaya yang memancar lampu perlahan menghilangkan yang puitis dalam biografi religiositas kita. Cahaya lebih mengingatkan pada lampu, tarif listrik, kabel, hemat, boros, polusi, atau perusahaan lampu berjargon “terang terus.” Lampu dan cahaya menjadi semacam obsesi menerangi.

Avianti Armand lewat puisi “Di Trotoar” (Buku Tentang Ruang, 2016) menyampaikan sebentuk kelupaan ganjil yang tentu nyaris mustahil diingat oleh orang-orang. Kita cerap, Menjelang malam, ia berangkat/ namun lupa mematikan lampu jalan./ Cahayanya membanjiri trotoar./ Aku melemparkan kail ke genangan yang tersisa,/ berharap ia kembali memakan umpan./ Matanya tercelup sedalam kaki./ Aku tak bisa melangkah./ Aku tak akan pergi. Kita yang selalu melewati jalan tidak akan pernah sempat berpikir mematikan lampu jalan. Lampu jalan sudah dianggap kemujaraban sebuat kota hidup dan masih ada. Tanpa lampu, kota-kota akan mati. Toh, manusia tidak merasa mati meski terus-terusan diserang polusi cahaya atau banjir lampu.

Agenda di dunia kita tidak bisa berjauhan dari lampu; perayaan diskon mahabesar, wisata akhir tahun, tahun baru, dan bahwa bahkan hari raya apa pun. Bumi harus selalu menyipitkan mata ketika ditelah cahaya. Cahaya hotel, cahaya lampu jalan, cahaya-ledakan kembang api, cahaya toko, cahaya mobil, cahaya kota, polusi cahaya naik 2% itu memang tampak kecil, tapi juga tampak besar untuk bisa diturunkan. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Classic Prose

Trending