Connect with us

Tabloids

Top Places where Celebrities hide from The Public

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet.

mm

Published

on

a

Follow breaking news as they occur around the world; always keep yourself posted with important global and local events

[eltdf_dropcaps type=”normal” color=”” background_color=””]A[/eltdf_dropcaps]liquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. magna.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui.Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum.Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.

Happiness is determined by how much information and affection flows through us covertly every day and year, our minds are intertwined with other people and activities.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo.

a
a

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Aenean commodo ligula eget dolor. Aenean massa. Cum sociis Theme natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante.

And that is how it all started…

Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus. Phasellus viverra nulla ut metus varius laoreet. Quisque rutrum. Aenean imperdiet. Etiam ultricies nisi vel augue. Curabitur ullamcorper ultricies nisi. Nam eget dui. Etiam rhoncus. Maecenas tempus, tellus eget condimentum rhoncus, sem quam semper libero, sit amet adipiscing sem neque sed ipsum. Nam quam nunc, blandit vel, luctus pulvinar, hendrerit id, lorem. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus. Donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus. Nullam quis ante. Etiam sit amet orci eget eros faucibus tincidunt. Duis leo. Aliquam lorem ante, dapibus in, viverra quis, feugiat a, tellus.

Donec quam felis, ultricies nec, pellentesque eu, pretium quis, sem. Nulla consequat massa quis enim. Donec pede justo, fringilla vel, aliquet nec, vulputate eget, arcu. In enim justo, rhoncus ut, imperdiet a, venenatis vitae, justo. Nullam dictum felis eu pede mollis pretium. Integer tincidunt.

Tabloids

Pengarang Boleh Mati tapi Biarkan Rohnya Gentayangan

mm

Published

on

Pembaca harus memisahkan karya sastra dari penciptanya untuk membebaskan teks dari tirani interpretatif. Setiap bagian tulisan berisi banyak lapisan dan makna. Dalam sebuah kutipan yang terkenal, Barthes menggambar sebuah analogi antara teks dan tekstil, yang menyatakan bahwa “teks adalah sebuah jaringan (atau kain) dari kutipan”, diambil dari “pusat budaya yang tak terhitung banyaknya”, bukan dari satu pengalaman individu. Haruskah demikian? 

Oleh Hasan Aspahani | Penulis dan Penyair

“SAYA sudah menuliskan puisi saya. Silakan pembaca membacanya dan memaknainya. Buat apa saya harus membacakan dan menjelaskannya lagi?” Saya mendengar, kira-kira begitu, adalah penyair kita Sapardi Djoko Damono yang bicara seperti itu. Banyak yang mengait-ngaitkan kalimat itu dengan gagasan dan judul esai Rolland Barthes (1915-1980) yang terkenal itu “Kematian Sang Pengarang” (Bahasa Prancis: “La Mort de l’Auteur”).

Esai itu ditulis tahun 1967. Barthes dalam esainya tersebut menentang praktik kritik sastra tradisional yang memasukkan maksud dan konteks biografi seorang penulis dalam sebuah interpretasi teks, dan sebaliknya berpendapat bahwa menulis dan pencipta tidak terkait dalam pemaknaan karyanya. Barthes mencoba menawarkan cara lain, sembari menghantam tradisionalisme yang kala itu mungkin bersimaharahalela. Dari judul esai tersebut saja tampak kesebelan Barthes. Ia meminjam judul “Le Morte d’Arthur”, sebuah kompilasi cerita legenda Arthurian versi Abad ke-15 karya Sir Thomas Malory.

Esai Barthes dalam bahasa Inggris pertama kali muncul di Amerika dalam jurnal “Aspen”, No. 5-6 di tahun yang sama. Di Prancis sendiri esai tersebut muncul majalah “Manteia”, No. 5, tahun 1968. Esai tersebut menjadi bagian dari antologi esai Barthes, “Image-Music-Text” (1977).

Apa sebenarnya maksud dari gagasan Barthes? Bagaimana pengarang menyikapinya? Bagaimana pembaca memanfaatkannya?

Dalam esai tersebut, Barthes menentang metode membaca dan kritik yang bergantung pada aspek identitas pengarang – pandangan politik, konteks historis, agama, etnisitas, psikologi, atau atribut biografi atau pribadi – untuk menyuling makna dari karya penulis. Dalam jenis kritik ini, pengalaman dan bias penulis berfungsi sebagai “penjelasan” pasti teks tersebut. Bagi Barthes, metode pembacaan ini mungkin tampak beres dan nyaman namun sebenarnya ceroboh dan cacat: “Memberikan teks kembali kepada seorang penulis” dan memberikan sebuah interpretasi tunggal yang sesuai dengannya “adalah memaksakan batas pada teks itu”.

Pembaca harus memisahkan karya sastra dari penciptanya untuk membebaskan teks dari tirani interpretatif. Setiap bagian tulisan berisi banyak lapisan dan makna. Dalam sebuah kutipan yang terkenal, Barthes menggambar sebuah analogi antara teks dan tekstil, yang menyatakan bahwa “teks adalah sebuah jaringan (atau kain) dari kutipan”, diambil dari “pusat budaya yang tak terhitung banyaknya”, bukan dari satu pengalaman individu. Arti penting sebuah karya bergantung pada kesan pembaca, bukan “hasrat” atau “selera” penulis; “Persatuan teks tidak terletak pada asal-usulnya”, atau penciptanya, “tapi di tempat tujuannya”, atau para pembaca dan atau penontonnya.

Tidak lagi fokus pada pengaruh kreatif, penulis hanyalah seorang “skriptor” (sebuah kata yang digunakan Barthes secara tegas untuk mengganggu kesinambungan kekuasaan tradisional antara istilah “author” dan “authority”). Skriptor ada untuk menghasilkan tapi tidak menjelaskan pekerjaan dan “dilahirkan bersamaan dengan teks, sama sekali tidak dilengkapi dengan huruf sebelum atau melebihi penulisan, (dan) bukan subjek dengan buku sebagai predikat”. Setiap karya “selalu ditulis di sini dan sekarang”, dengan setiap pembacaan ulang, karena “asal mula” makna itu terletak secara eksklusif dalam “bahasa itu sendiri” dan kesannya terhadap pembaca.

Barthes mencatat bahwa pendekatan kritis tradisional terhadap literatur menimbulkan masalah yang berduri: bagaimana kita bisa mendeteksi dengan tepat apa yang penulis maksudkan? Jawabannya adalah kita tidak bisa.

Dia memperkenalkan gagasan ini di dalam epigraf di paragraf awal esainya yang diambil dari kisah Honoré de Balzac “Sarrasine” (1830) di mana seorang protagonis laki-laki menyalahkan seorang castrato (penyanyi opera laki-laki yang bersuara wanita) yang memerankan seorang wanita dan membuat si protagonis jatuh cinta padanya. Ketika, dalam bagian ini, karakter yang meniru kepribadian wanita mengungkapkan perasaannya, Barthes menantang pembacanya sendiri untuk menentukan siapa yang berbicara, dan tentang apa.

“Apakah Balzac penulisnya menganut ide ‘sastra’ tentang feminitas? Apakah ini kebijaksanaan universal? Psikologi romantis? … Kita tidak pernah tahu.” Menulis, “penghancuran semua suara,” menentang kepatuhan terhadap satu interpretasi atau perspektif.

Barthes mengakui bahwa gagasannya ini (atau variasi dari itu) dalam karya para penulis sebelumnya. Barthes mengutip dalam esainya penyair Stéphane Mallarmé, yang mengatakan bahwa “bahasa itulah yang berbicara”. Dia juga mengakui Marcel Proust sebagai “prihatin dengan tugas pengabaian yang tak terelakkan … hubungan antara penulis dan karakternya”; Gerakan Surealis untuk menggunakan praktik “penulisan otomatis” untuk mengungkapkan “apa yang kepalanya sendiri tidak sadar”; Dan bidang linguistik sebagai sebuah disiplin untuk “menunjukkan bahwa keseluruhan ucapan adalah sebuah proses yang kosong”.

Roland Barthes

Gagasan yang disajikan dalam “Kematian Sang Pengarang” diantisipasi sampai batas tertentu oleh New Criticism, sebuah aliran kritik sastra yang penting di Amerika Serikat dari tahun 1940-an sampai 1970-an. New Criticism berbeda dengan teori Barthes tentang pembacaan kritis karena mencoba untuk sampai pada interpretasi teks yang lebih otoritatif.

Meskipun demikian, ajaran  New Criticism yang penting dari “kekeliruan yang disengaja” menyatakan bahwa sebuah puisi bukan milik pengarangnya;  Sebaliknya, “ini terlepas dari penulis saat lahir dan membahas dunia di luar kemampuannya untuk berniat mengenainya atau mengendalikannya. Puisi itu milik publik.”

Barthes sendiri menyatakan bahwa perbedaan antara teorinya dan New Criticism hadir dalam praktik “keterasingan”.

Karya Barthes memiliki banyak kesamaan dengan gagasan “Aliran Yale”, kritik dekonstruksionis, beberapa di antara pendukungnya Paul de Man dan Barbara Johnson di tahun 1970-an, meskipun mereka tidak cenderung melihat makna sebagai produksi pembaca. Barthes, seperti para dekonstruksionis, menekankan sifat teks yang terputus-putus, celah makna dan ketidakcocokan, interupsi, dan jeda mereka.

Barthes menutup esainya dengan kalimat: Pembaca tidak pernah menjadi perhatian kritik klasik, karena itu, tidak ada orang lain dalam sastra tapi siapa yang menulis. Kita sekarang mulai menjadi duplikat antiphrase yang tidak lagi antiphrase, dimana masyarakat kita dengan bangga memperjuangkan dengan tepat apa yang ditolak, diabaikan, disalahkan atau dihancurkan; Kita tahu bahwa untuk mengembalikan penulisan ke masa depannya, kita harus membalikkan mitosnya: kelahiran pembaca harus ditebus oleh kematian sang pengarang.

Nah, yang dibela Barthes adalah soal penulisan, soal kemungkinan yang lebih sehatu untuk kehidupan sastra. Gagasannya ingin memperjuangkan apa yang ia sebut masa depan penulisan. Gagasan Barthes adalah soal membebaskan teks dari apapun yang membuat sebuah karya sastra menjadi terkurung, sempit, dan selesai dimaknai. Dulu, itu terjadi karena pembacaan sangat berpegang pada latar belakang bahkan otoritas pengarang, dan pembaca ikut saja dengan “kebenaran” tunggal itu.

Kini, jika ternyata menautkan latar belakang pengarang justru bisa memperkaya pemaknaan atas teks itu, setelah tentu saja pemaknaan itu terutama berangkat dari kekuatan teks tersebut, maka sebaiknya memang kita harus membiarkan pengarang terus hidup. Jika pun dia dianggap mati lebih dahulu, maka harus kita terima roh pengarang gentayangan membayang-bayangi pembaca, membantu si pembaca menikmati teks karyanya. (*)

Continue Reading

Milenia

‘Memikirkan Kata’ Panduan Berpikir atau Menulis?

mm

Published

on

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini

Editor’s Note

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Pemesanan Buku “Memikirkan Kata” bisa hubungi kontak Whatsapp: 082111450777

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

This slideshow requires JavaScript.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

____

“Memikirkan Kata” bisa anda dapatkan dengan harga Rp. 235.000,- |  Kajian atas buku ini klik artikel ‘Memikirkan Kata’ deciphers one of the greatest writing conundrums: Producing words | Pemesanan buku sila hubungi melaui whatsapp 082 111 450 777.

 

Continue Reading

Milenia

Penyair, Identitas, dan Hal-hal yang Membuatnya Kembali Diperbincangkan

mm

Published

on

Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi.

___

JESSE LICHTENSTEIN | Diterjemahkan dari “How Poetry Came to Matter Again”, SEPTEMBER 2018 ISSUE | (p)  Gabriel (ed) Sabiq Carebesth

______

DUNIA PUISI agaknya bukan tempat ‘adu warna kulit’, atau ‘race row’ menurut koran The Guardian pada 2011, yang isinya lebih ke debat kusir mengenai klaim sastrawi. Seorang kritikus tersohor (dan berkulit putih), Helen Vendler, mencibir seorang penyair terkenal (dan berkulit gelap), Rita Dove, atas karya yang ia seleksi ke dalam seri terbaru Penguin Anthology of Twentieth Century American Poetry. Rita, kata Vendler, lebih mengutamakan “inklusifitas multikultur’ daripada kualitas. Dia disebut “mengubah haluan” dengan menampilkan terlalu banyak penyair dari latar belakang minoritas, dan meminggirkan penulis yang lebih baik (dan lebih dikenal). Puisi dalam antologi tersebut “umumnya pendek” dan “cenderung ditulis dengan perbendaharaan kata yang terbatas,” dakwa Vendler, si kritikus pengawal kanon sastra abad ke-20 ini.  Sementara itu di Boston Review, Marjorie Perloff, kritikus (yang juga berkulit putih) sekaligus ahli poetika avant-garde Amerika, juga tertarik beropini. Marjorie menyesalkan bahwa penyair baru terpaku pada suatu formula lirik yang pada tahun 1960 dan 70an saja sudah dianggap jadul – biasanya berupa memori pribadi yang “dipuitiskan,” yang memuncak pada “rasa mendalam atau semacam kabut kesadaran.” Dia mengambil contoh sebuah puisi dari penyair terkenal (dan berkulit hitam), Natasha Trethewey, yang menggambarkan rutinitas pelurusan rambut yang terpaksa dilakukan ibunya .

Di sisi lain, Rita menepis persoalan pola yang dikemukakan para kritikus terkenal yang berkulit putih itu. Apakah mereka, tanya dia, sedang mati-matian menyetop gerombolan penyair masa kini yang punya warna kulit dan kesipitan mata berbeda? Apakah kami – kaum Afro-Amerika, suku asli Amerika, Latino-Amerika, Asia-Amerika – harus menghadap para kritikus yang berjaga di depan pintu, yang memeriksa CV kami sebelum mereka mempersilakan kami masuk satu per satu?

Hal ini dimulai sejak dulu, dan sejak itu pula pintu depan itu berusaha dijebol lepas dari engselnya. Coba telusuri daftar isi jurnal sastra ternama, termasuk majalah puisi se-trendi Poetry, dan juga majalah mingguan yang topiknya lebih umum dan beroplah besar macam The New Yorker dan The New York Times Magazine. Lalu, tengoklah penerima berbagai hibah, penghargaan dan undangan mengajar, yang prestisius nan bernominal besar, yang diberikan setiap tahun kepada para penyair muda potensial di Amerika Serikat. Mereka adalah para imigran dan pengungsi dari Tiongkok, El Salvador, Haiti, Iran, Jamaika, Korea, Vietnam. Dari mereka ini ada para lelaki berkulit hitam dan wanita dari Oglala Sioux. Mereka terdiri dari para gay eksentrik, atau kita sebut queer, sekaligus para heteroseksual, dan keduanya bersikap sungguh-sungguh dalam memilih bagaimana mereka harus dipanggil. Wajah kepuisian di Amerika Serikat terlihat sangat berbeda saat ini ketimbang 10 tahun lalu, dan lebih mencerminkan demografi generasi millennial Amerika. Gampangnya, bakat-bakat penyair muda saat ini bakal menjadi wajah Amerika muda 30 tahun kelak.

Para pendatang ini, sejak awal karir mereka, sudah berada di dalam – dan mereka tidak semata tinggal di dalam kompleks pertapaan puisi yang mendengar namanya diberi hukuman mati setiap bulan April, ketika Bulan Puisi Nasional tiba. Di festival sastra, banyak dari para penyair ini menjadi magnet penonton dalam jumlah besar, seperti yang saya lihat November lalu ketika ratusan orang antri di bawah guyuran hujan untuk mendengar Danez Smith dan Morgan Parker berdiskusi tentang topik “New Black Poetry” di Portland Art.

Musim semi lalu, ketika saya ketemu dengan Danez, yang bersikeras dipanggil dengan kata sebut orang-ketiga jamak, ‘mereka’ (maksud saya, Danez) baru saja kembali dari Inggris untuk tur kumpulan puisi Don’t Call Us Dead, yang merupakan finalis National Book Award. Penerbit di Inggris terkesima pada karya puisi yang mendapat apresiasi kritis di The New Yorker dan ditonton 300.000 kali di Youtube. “Ada banyak cerita yang kami telah ceritakan, yang kini mulai diceritakan secara lebih terbuka di publik,” kata Danez, tanda ia menyadari energi kolektif generasi masa kini, juga para penyair dengan warna kulit gelap atau queer, secara lebih luas. Tiap buku baru dan apresiasi atasnya memantik kompetisi yang sehat untuk berkarya dengan lebih berani. “Aku nggak mau jadi satu-satunya bahan perbincangan,” lanjut Danez. “Kemenangan seseorang itu sebenarnya juga kemenangan untuk puisi, untuk para pembaca dan untuk orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama.”

Tidak sedikit dari garda depan generasi ini yang pertama kali menemukan puisi melalui pentas pertunjukan, atau yang tumbuh dalam komunitas di mana “bahasa lisan” dan “puisi” adalah dua sejoli. Beberapa penyair telah menunjukkan bakat dalam membangun basis penonton lewat cara-cara yang lebih subtil. Sebelum Kaveh Akbar menerbitkan koleksi debutnya pada tahun 2017, Calling a Wolf a Wolf, dia sudah dikenal lewat seri wawancara di situs web Divedapper, di mana ia menawarkan perkenalan secara dekat dan mendalam tentang para penyair Amerika mutakhir. Dia juga tak kenal lelah dalam berbagi bahan bacaannya ke 28,000 pengikut Twitter-nya. Dia rutin mengunggah tangkapan layar dari halaman buku yang membuat dia terkesan.

Penyair baru dari generasi digital ini siap mengupayakan agar karya dan nama mereka dikenal luas. Mereka memiliki agensi dan juru bicara (dalam sejarahnya, ini bahkan tidak lazim!). Beberapa orang berkarya lintas-genre, melawan keterasingan puisi. Saced Jones (Prelude to Bruise, 2014) sudah dikenal luas sebagai host dari acara BuzzFeed News. Fatimah Asghar (If They Come for Us, 2018). Ia juga menulis dan turut memproduksi web series berjudul Brown Girls, yang sedang diadaptasi ke HBO. Ada pula Eve L Ewing (Electric Arches, 2017), seorang sosiolog dan komentator isu tentang ras yang sangat dikenal di media sosial.

Para penyair yang lebih uzur mungkin akan menggerutu soal membangun jejaring dan menampilkan diri, namun, para junior mereka tanpa ragu menggamit aktivitas ini. Mereka yakin bahwa puisi, lewat kanal yang tepat, mampu “masuk ke arus utama dalam wacana nasional terkini,” seperti kata Saced. Mereka sadar satu hal: sebuah survey terkini dari National Endowment for the Arts mengungkapkan bahwa jumlah pembaca puisi meningkat 2x lipat di antara masyarakat usia 18-34 tahun selama lima tahun terakhir.

Energi yang terlihat ini lebih dari sekadar marketing jitu atau kehebohan sesaat. “Menurut pandanganku,” kata Jeff Shoots, editor utama Graywolf Press yang menyunting tiga dari 10 antologi yang berhasil masuk ke long list National Book Award 2017 bidang puisi, ”ini tanda munculnya suatu renaisans.” Dan yang paling mencolok dari para pelopor kebaruan ini adalah kembalinya puisi liris orang-pertama – suatu hal yang pada era 1970an dianggap ketinggalan jaman oleh para “pujangga bahasa”. Dakwaan-dakwaan tajam – puisi yang terlalu pribadi, terlalu sentimentil, terlalu gampang dipahami, tak cukup ‘cerdas’ untuk menstimulasi budaya postmodern yang tersaturasi media – ditujukan ke generasi avant-garde yang menanggalkan “si Aku” demi poetika yang buram dan hanya dipahami grup kecil pembaca yang lebih eksklusif lagi. Namun, generasi baru ini – sambil menggandeng teknik avant-garde (lewat penggunaan kolase dan inkoherensi radikal beserta gado-gado acuan budaya “tinggi” dan “rendah” sekaligus) – tidak serta-merta mengusung pesan yang sama. Muncul di tengah suburnya politik identitas, para penyair terkemuka, yang karakternya berlainan, saat ini tengah mengklaim lagi “Aku-yang-demokratis”, seturut ungkapan penyair Edward Hirsch

Si “Aku” ini, yang diasuh dalam berbagai bahasa dan dialek, tak bisa dikatakan terdera perbendaharaan kata yang terbatas, kata Helen Vendler. Puisi liris, bagi generasi ini, tak perlu selalu pendek. Muncul pertama kali lewat kehadiran karya laris Claudia Rankine, Citizen: An American Lyric (2014), para penyair dengan berani mematahkan tren kebanyakan buku, lewat nuansa historis dan bentuk hibrida, sejak awal mula. Si “Aku”, menyadari betapa tersisihkannya “kita” di mana ia berada, menautkan sisi personal ke sisi yang kelewat politis. Kemunculannya memantik pertanyaan puitis yang menggairahkan mengenai identitas.

Para penyair muda yang berhasil mengemuka, telah turut menjadikan ras, seksualitas dan gender sebagai episentrum kepuisian saat ini, dan mereka memperlebar sebanyak mungkin batas-batas. Mereka sungguh-sungguh dalam mengubah gagasan soal kedirian dan keberadaan seseorang dalam sebuah kelompok. Belajar dari berbagai jenis tradisi, mereka menggali kompleksitas laten dari sisi lirik “Aku”. Pada dasarnya, hal terakhir yang diinginkan si “Aku” adalah pada pengejawantahan dirinya secara utuh.

UPAYA KERAS untuk melepas engsel pintu seleksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak puluhan dekade lalu. Ketika para pujangga bahasa sedang memperluas batas kepenyairan Amerika di akhir abad ke-20 – upaya pembalikan konstelasi kuasa dengan mengangkangi adat kesusastraan- penyair-penyair kecil juga sedang mencoba menghubungkan dunia sastra dan kanon sastra, sembari terus mengedepankan cara-cara baru dalam berekspresi. The Black Arts Movement di era 1960an dan ‘70an, dan sejumlah organisasi yang dipantiknya, memperjuangkan kanal penerbitan tersendiri bagi seniman kaum kulit hitam, Asia-Amerika, dan Latino. Namun, mulai era ‘80an, dorongan telah merambah ke permintaan akan jatah kursi yang lebih banyak bagi kaum tersebut.

Itu tidak mudah terjadi di dalam budaya kepuisian yang lebih merepresentasikan kulit putih, baik sekarang maupun di masa lalu, dan yang tak terlalu niat untuk mempertanyakan fakta tersebut. Di tahun 1988, setelah lelah menjadi sebatas pemandangan ganjil di berbagai workshop penulisan puisi, dua mahasiswa Harvard dan seorang komposer membentuk The Dark Room Collective di sebuah gedung bergaya Victoria di kota Cambridge, yang kelak menjadi ruang untuk memajukan karya penyair-penyair muda kulit hitam. Selama 10 tahun berikutnya, sejumlah bakat menemukan rumahnya di sana, mulai dari Natasha Trethewey dan Tracy K. Smith (keduanya kelak menjadi poet laureate Amerika Serikat), Kevin Young, Carl Phillips dan Major Jackson. Ambisi meluap berbarengan dengan dorongan kuat untuk bisa diterima, tapi untuk membentuk suatu arus baru. “Bahkan jika kami semua sudah pernah memuat karya di The New Yorker, apakah itu menjadi tujuannya?” Kevin, saat itu masih menjadi mahasiswa semester akhir di Harvard, berkata pada koran The Harvard Crimson  di tahun 1992. “Anda tak menangkap maksud kami jika Anda menyangka kami sekadar sopir baru yang mengendarai truk yang lama.”

Dalam beberapa tahun kemudian, wajah-wajah baru ini bila bukan menjadi orang berpengaruh, telah lebih dikenal dan diterima di dunia puisi. DI tahun 1993, Rita Dove menjadi poet laureate Amerika Serikat. Di tahun yang sama, dalam pembukaan antologi The Open Boat, karya yang berisi kumpulan puisi Asia-Amerika pertama yang disunting oleh seorang keturunan Asia-Amerika, Garrett Hongo mengarahkan perhatian pada penerimaan dari arus utama: “Saat ini, beberapa dari kami berkarya di sejumlah yayasan dan panel Hibah Seni Nasional, menjadi juri penghargaan tingkat nasional, mengajar dan membimbing program penulisan kreatif, dan menyunting majalah sastra.”

Di lanskap kepuisian yang saat itu didominasi program M.F.A (Master of Fine Arts, magister seni), sebuah jaringan dari berbagai institusi kemudian menawarkan workshop dan pelatihan gratis bagi para penyair muda dari kelompok terpinggirkan. Cave Canem, yang dibentuk pada 1996 untuk mendukung penyair kulit hitam, kemudian diikuti oleh Kundiman (bagi penulis Asia-Amerika) dan CantoMundo (bagi penyair Latino). Yayasan Sastra Lamda sampai sekarang menyediakan dukungan serupa bagi penyair LGBTQ. Penjaga tradisi dunia puisi – jurnal ternama, penerbit tersohor (baik besar maupun kecil), komite penghargaan – kini tahu ke mana mereka bisa menemukan spektrum yang lebih kaya, yang berisikan karya-karya yang telah menjalani suatu proses saringan sebelumnya.

Namun, peralihan ke arus utama jarang terjadi tanpa adanya turbulensi. Alumni The Dark Room mendapat kritikan tajam setelah mereka duduk kursi mengitari meja yang telah diperluas, hanya saja, masih di ruangan yang didirikan oleh era sebelumnya. Inklusi ke dalam makna dominan dari “kita” memunculkan tekanan untuk mencipta dan mendukung karya yang lebih mudah diakses dan telah di-depolitisasi. Antologi The Open Boat segera didapuk untuk mewakili kepenyairan Asia-Amerika melalui lensa narasi imigrasi dan asimilasi yang tidak asing di telinga. Kemunculan Kevin Young sebagai penyunting puisi di The New Yorker di usianya yang ke-47 memunculkan pertanyaan: bakal sebaru apa truk yang mereka kendarai ini?

Suasana tegang mulai mengusik bahkan di tempat paling nyaman, paling terbuka di antara berbagai zona minoritas, dimulai dari The Dark Room dan kemudian: mereka menggandeng sapaan “kita” yang telah dipakai dunia luar, beserta narasinya, sambil menyertakan sejumlah tekanan. Para penyair telah merasa kesal, dan berhasil melampaui, seluruh tekanan itu. Tentu saja: Bagaimana lagi agitasi puitik akan terjadi? Belakangan Carl Phillips menulis tentang perasaan bahwa ia telah benar-benar diasingkan dari The Dark Room karena ia “tidak menulis puisi ‘kulit hitam’ sejati.” Di esai berjudul “A Politics of Mere Being,” dia bertanya-tanya mengenai dampak dari keharusan untuk benar secara politik, namun juga “tekanan untuk politis secara benar” – yaitu dengan berkarya mengenai “isu identitas, pengasingan, ketidakadilan.” Tidakkah seharusnya, kata dia, “penyair yang terlempar ke luar, dalam konteks apapun,” menolak pandangan bahwa sekadar “resistensi” saja bisa mendefinisikan apa hal-hal yang politis?

Penyair Iran-Amerika, Solmaz Sharif, dua-puluh lima tahun lebih muda dari Phillips – yang buku puisi pertamanya, Look (2016) menjadi finalis National Book Award – juga melihat nilai dari suara “yang terus-menerus berada di luar, mempertanyakan dan menanggapi apapun yang dimaksudkan dari kata ‘di sini’ atau ‘kita’ atau ‘sekarang’.” Idealisme puitisnya adalah semacam “keadaan nomaden, atau pikiran yang terus-menerus terpacu dan mencegah momen politis ini membatu.” Sebagai upaya untuk merangkum si “Aku” yang terus berubah dan mengundang tanya, sangatlah susah untuk berbuat sesuatu yang lebih baik. Upaya untuk mewadahi seluruh keberagaman – untuk meneliti berbagai wajah kedirian (protean self) dan masyarakat yang membentuk dan mengubahnya – dalam suatu bentuk liris yang koheren masihlah sebuah eksperimen yang radikal. (*)

________

Selengkapnya dalam Majalah “Book Review and More”

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending