© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Thomas Paine, Common Sense dan Puntung-Berapi Amerika

Tidak ada sesiapa yang cukup waras pikirannya yang akan mau meramalkan masa depan yang gemilang bagi Thomas Paine, tatkala ia sampai dalam usia tigapuluh tujuh tahun ke Amerika. Seluruh kehidupannya sampai saat ini semata-mata terdiri dari rentetan kekandasan dan kekecewaan. Apa saja usaha yang pernah ia jamah berakhir dengan menyedihkan.

Siapa yang mengira, bahwa dalam waktu beberapa tahun imigran yang baru saja datang ke Dunia Baru ini akan muncul sebagai salah seeorang penulis pamflet terbesar dalam bahasa Inggris, salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah Amerika, seorang agitator politik dan revolusioner yang namanya dikenal, ditakuti, dibenci atau dielu-elukan dan disanjung-sanjung diseluruh koloni Amerika-Inggris. Britania Raya dan Eropa Barat? Seolah-olah perjalanan laut yang ia lakukan belum lama sebelum itu telah menyebabkan suatu metamorfosis yang hebat dalam kepribadian dan wataknya; ia berobah hampir dalam waktu sekejap mata dari seorang biasa menjadi seorang cendekia yang gemilang.

Common Sense (Pikiran Sehat)

Tapi jika kita selidiki masa mudanya maka jelaslah bahwa tahun-tahun dari kehidupannya yang lampau bukanlah masa yang hilang, malahan masa ini adalah semacam masa persiapan untuk hidupnya yang baru. Ia dilahirkan di Thetford, distrik Norfolk, disebelah timur Inggris, dalam bulan Januari tanggal duapuluh sembilan, tahun 1737, sebagai anak laki-laki seorang ayah penganut mazhab Quaker dan ibu penganut Gereja Anglikan. Semenjak kecil ia telah mengalami kemelaratan yang teramat sangat, kekurangan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina. Sampai usia tigabelas tahun, ia belajar disekolah rakyat, dimana ia, menurut ucapannya sendiri telah beroleh “pendidikan akhlak yang sangat baik dan diberi sejemput pengetahuan yang berguna.” Nalurainya untuk ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru – untuk kepentingan praktis sebagai kebalikan dari kepentingan teritis – sudah kelihatan pada waktu itu. Naluri ini kelak akan tetap subur dalam seluruh kehidupannya yang sibuk itu.

Sehabis pendidikan formil yang singkat ini Paine mempelajari pekerjaan ayahnya – pekerjaan seorang pembuat korset. Pkerjaan ini ia jalankan selama tiga tahun. Kemudian kegiuran laut dan keisengang disebabkan pekerjaan yang membosankan ini menyebabkan ia lari dari rumah dan mencatatkan diri diatas kapal bajak Terrible, yang dipimpin oleh seroang nachoda yang mempunyai nama yang dahsyat, yaitu Death (Maut). Setelah dibawa puang kembali oleh ayahnya, ia melanjutkan pekerjaan membuat korset sampai ia berumur sembilanbelas tahun. Sesudah itu selama masa singkat ia mengesampingkan pekerjaan itu kembali, kalu berlayar sebagai lanun di kapal King of Prusia. Sesudah itu sembuhlah ia dari pengertiannya yang romantis tentang kehidupan pelaut, dan sekali lagi ia memulai pertukangannya kembali, tapi tidak lagi di Thetford, melainkan di London. Disana ia bekerja diekdai seorang pembuat korset dekat Ddrury Lane. Sedangkan waktu senggangnya ia pergunakan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran dalam ilmu falak.

Masa selanjutnya adalah masa yang penuh kesulitan dan pengelanaan tak tahu tujuan. Di Sandwich ia kawain dengan seorang gadis pelayan piatu. Gadis ini kemudian meninggal dalam masa setahun sesudah perkawinan itu. Ayahnya adalah seorang pegawai pabean. Karena pekerjaan dapat memberikan kepadanya waktu-waktu senggang yang ingin ia pergunakan untuk keperluan-keperluan lain, lalu Paine merasa tertarik. Paine diangkat sebagai seorang pejabat pabean. Jabatan ini adalah jabatan yang pelaing tepat sekali jika kita ingin menjauhkan kawan dan membuat orang menghindarkan diri. Sebab pekerjaan Paine ini, ialah pekerjaan mengangkap saudagar gelap, sehingga orang baik yagn kaya maupun yang miskin menjadi tak senang kepadanya. Disebabkan ketidak-telitian dalam menjalankan peraturan, maka ia dipecat dari jabatannya. Paine kembali megnerjakan pekerjaan membuat korset selama waktu singkat. Kemudian ia hidup melarat sebagai seorang guru yang bergaji f25/ setahun di Kensington.  Setelah kemudian ia dipulihkan kembali dalam jabatan pabena, ia kawin untuk kedua kalinyad alam tahun 1771 lalu menyertai istri dan mertuanya menjalankan sebuahtoko tembakau dan rempah-rempah, sebagai cara untuk menambah pendapatannya.

Selama tahun-tahun yang akhir ini, Paine sering sekali mengunjungi White Heart Tavern, tempat pertemuan sebuah perkumpulan sosial yang ia masuki sebagai anggota. Untuk kepentingan pendidikan anggota-anggota perkumpulan ini ia menulis sajak-sajak lucu dan lagu-lagu patriotik, disamping sekaling-sekali menulis karangan-karangan mengenai persoalan-persoalan yang lebih dalam sering kali ia terlibat dalam perdebatan menyebabkan kawan-kawan sejawatnya dijabatan pabean memilih dia sebagai juru-bicara mereka dalam suatu permintaan kenaikan gaji dan perbaikan keadaan pekerjaan. Selama berminggu-minggu Paine asyik menyiapkan sebuah karangan yang berkepala “masalah gaji pejabat-pejabat pabean dan pendapat-pendapat mengenai korupsi yang disebabkan oleh kemiskinan pejabat-pejabat pabean”. Dalam musim dingin tahun 1772-1773, ia pergi ke Londong untuk mengajukan permintaan itu kepada anggota parlemen dan pejabat-pejabat lain.

Tapi bukan saja petisi yang ia majukan atas nama pejabat-pejabat cukai itu ditolak, malahan ia diperhentikan akrena menyia-nyiakan pekerjaan. Kedai tembakaunya jatuh rugi, perabot rumah tanggan dan ahrta bendanya yang lain terpaksa dijual untuk menghindarkan dia dari hukuman penjara yang telah disap-siapkan oleh mereka yang berpiutang padanya; dan ia berpisah dari isterinya. Begitulah, tatkala umurnya sudah hampir separuh baya, ia tinggal seorang diri dengan tak ada uang sepeserpun juga.

Untunglah, waktu ia pergi ke London, Paine bertemu dengan Benjamin Franklin yang lagi berada disana sebagai komisaris daerah jajahan, dan Franklin, barangkali karena ia lihat, bahwa paine adalah seseorang yang berotak cerdas, menganjurkan kepada Paine untuk mencoba nasib di Amerika. Sepucuk surat pengantar dari Franklin yang dialamatkan kepada menantunya, Ricahrd Bache di Philadelphia melukiskan Paine “sebagai seorang anak muda yang patut dan cendekia”, dan ia menganjurkan supaya Paine dijadikan kerani, seorang guru bantu disekolah atau seorang pembantu pengawas. Surat ini adalah bekal Paine satu-satunya waktu it mendarat di Philadelphia dipermulaan bulan Desember tahun 1774.

Tapi, dalam dirinya Paine juga membawa bekal yang lain bentuknya dan yang tak ternilai harganya – dasar yang diiperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dimasa lampau. Ia telah melihat cara-cara yang lancang dan primitif yang dipergunakan orang dalam menjalankan keadilan di Inggris; ia telah mengenal kemelaratan yagn pahit; ia telah melihagt jurang yang lebar yagn memisahkan rakyat jelata yang jutaan jumlahnya dari segolongan kecil anggota keluarga raja dan kaum bangsawan di Inggris; dan ia tahu skema yang busuk yang dipergunakan kotapraja dalam pemilihan naggota-anggota House of Commons dan ia tahu kedunguan dan korupsi-korupsi yang dijalankan oleh keluarga-keluarga raja. Setelah merenungkan hal-hal ini sedalam-dalamnya, lalu Paine dirasuki oleh suatu semangat yang bergelora bagi peri-kemanusiaan, cinta yang besar pada demokrasi, dan suatu kemauan berjuang untuk mengadakan perobahan secara universil dalam soal kemasyarakatan dan politik.

Segera setelah ia sampai ke Philadelphia, Paine lalu dipekerja karier Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima yang baru diterbitkan. Disana Paine bekerja hampir selama delapanbelas bulan, yaitu seumur dengan majalah itu. Dengan menyiarkan sebuah essay yang mengutuk perbudakan bangsa Negro dan pembelaan yang gigih bagi kemajuan, maka mulailah karir Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima minggu kemudian maka di Philadelphia didirikanlah perhimpunan Amerika yang pertama untuk memberantas perbudakan. Kemudian Paine menulis karangan-karangan yang membela kesamaan hak bagi kaum wanita, usul-usul mengenai hukum hak cipta internasional, pengutukan pengajiayaan hewan, cemooh atas adat-kebiasaan untuk berperang-tanding dan usul untuk menolak  peperangan dan menegakkan perundingan antara bangsa-bangsa.

            Tepat pada saat ia menulis, sebuah peperangan internasional dalam mana Paine kelaknya akan memainkan peranan penting sedang tumbuh dengan cepat. Dalam musim semi tahun 1775 terjadilah pertempuran-pertempuran Concord. Lexington van Bunder Hill. Setelah terjadi “pembegelan di Lexington” dalam bulan April, Paine menulis keapda Benjamin Franklin. “Tidaklah enak rasanya mengalami negeri ini terbakar sejadi-jadinya tepat pada saat aku memasukinya”.

Dalam mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan sengeketa ini, pendirian-pendirian di daerah koloni ini sangat terpecah-pecah. Waktu itu dikeluarkan pendapat-pendapat yang extrim seperti oleh Samuel Adams dan John Hancock yang menyetujui perperangan dan pendapat-pendapat yang menghendaki kesetiaan kepada raja seperti yang didukung oleh kaum Tory, George Washingotn, Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson tergolong kepada pemimpin-pemimpin yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Inggris dan yang memandang pikiran-pikiran mengenai pemsiahan dan kemerdekaan dengan penuh curiga. Baik Kongres Kontinental yang pertama maupun yang kedua telah mengesahkan resolusi yang menegaskan hubungan tetap dengan mahkota Inggris, dengan hanya mengemukakan sedikit petisi mengenai permintaan bagi penyelesaian yang menyenangkan bagi rasa-rasa tidak-puas yang terdapat para penduduk koloni-koloni ini.

Ditengah-tengah pemikiran yang kacau-balau ini, diantara pendapat dan dorongan yang paling bertentangan,d itengah renggutan dan tarikan, seorang laki-laki telah dapat melihat dengan jernih arah dari jalannya kejadian dan akibat-akibat yang mungkin timbul dari padanya. Sejak semula. Thomas Paine beranggapan, bahwa pemisahan dengan Inggris adalah hal yang tak dapat dielakkan. Dan selama musim gugur tahun 1775 ia bekerja menuliskan buah-pikirannya. Sebelum hasil-kerja ini diterbitkan, maka terlebih dulu ia diperlihatkan oleh Paine kepada beberapa orang kawan, diantaranya Dr Benjamin rush yang mengusulkan supaya buku itu diberi nama Pikiran Sehat (Common Sense). Rush menolong Paine mencari seorang penerbit, Robert Bell, seorang pedagang buku dan pencetak berbangsa Scot di Philadelphia.

Pikiran Sehat, sebuah pamflet setelah 47 halaman yang “dituliss oleh seorang Inggris” telah diterbitkan pada tanggal 10 Januari 1776 dengan seharga dua shilling. Dalam waktu tiga bulan saja sudah terjual habis 120.000 jilid. Pengiriman penjualan seluruhnyayang mendekati jumlah setengah juta, adalah suatu jumlah yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada masa itu, sama bersarnya dengan penjualan sejumlah tigapuluh juta di Amerika Serikat masa sekarang. Pendeknya bolehlah dianggap bahwa setiap orang yang pandai membaca diketigabelas koloni itu telah membaca buku ini. Biarpun penjualan begitu luar-biasa besarnya, Paine tidak bersedia untuk menerima uang honorarium biar sesenpun juga.

Beberapa Sampul buku dari karya penting Thomas Paine

Tidak ada buku dalam sejarah kesusasteraan yang mempunyai pengaruh begitu cepat seperti buku Pikiran Sehat. Buku ini adalah seperti serunai sangkakala yang memanggil kolonis-kolonis Amerika untuk bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka – tanpa kompromi dan tiada sangsi-sangsi. Paine telah menjelaskan kepada mereka, bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persengketaan mereka dengan Inggris dan raja George III. “karena tidak ada cara lain yang mencapai tujuan kecuali ledakan-ledakan,” demikian Paine menjelaskan, “maka oleh sebab itu demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian-perjanjian itu – sekiranya hanya itu yang mau kita perjuangkan … alangkah dungunya k ita, jika kita memandang kejadian di Bunker Hill sebagai pembayaran untuk kepentingan hukum atau tanah …. Hal ini bukanlah masalah satu kota, satu daerah, satu propinsi ataupun satu kerajaan, tapi masalah ini adalah amsalah satu benua …. Hal ini bukan soal hari sehari, atau setahun ataupun sejaman, tapi keturunan kita terlibat dalam perjuangan ini …. Sekarang inilah waktunya untuk menabur benih bagi kesatuan sebenua, kesetiaan dan kehormatan …. Emban Benua telah ditarik terlalu longgar …. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mengikat dan mempersatukan kita.”

Sebuah bait yang agak lembut dan merapuhkan hati mengantarkan kita kedalam Pikiran Sehat:

Barangkali, gelora perasaan yang tertulis dihalaman-halaman buku ini belum lagi cukup luas dianut orang sehingga ia dapat memperoleh dukungan umum; suatu kebiasaan yang terlalu lama ada, yang tidak mau mengingat bahwa sesuatu adalah salah telah menimbulkan suatau gambaran dangkal yang memperlihatkan, bahwa sesuatu itu adalah benar adanya. Dan ia pertama-tama akan mengakibatkan suatu teriakan yang hendak mempertahankan kebiasaan. Tapi keramaian akan sergera surut. Waktu ternyata lebih banyak menyebabkan perubahan dari pada pikiran.

Bagian pertama pamflet ini membicarakan masalah asal dan sifat pemerintahan dengan Undang-undang Dasar Inggris sebagai contoh utama. Filsafat pemerintahan paine terkandung dalam kalimat-kalimat seperti berikut:

Pemerintahan, biarpun dalam keadaan yang sebaik-baiknya, sebetulnya adalah sebuah cacat yang keperluannya tak dapat dihindarkan. Dan dalam keadaannya yang paling buruk ia adalah sesuatu yang tak boleh dibiarkan … pemerintah seperti halnya dengan pakaian adalah sautu kesucian yang telah hilang. Istana raja-raja didirikan atas puing lindungan-lindungan surga … Makin sempurna peradaban, makin kurang perlunya pemerintahan.

Asal dan berkembangnya pemerintahan, demikian Paine mencoba meyakinkan pembacanya, “menjadi amat perlu, karena ketinggian moral tidak berkesanggupan untuk memerintah dunia ini; dalam hal inipun juga pola dan tujuan pemerintahan adalah: kebebasan dan keamanan”.

Ia memperlihatkan suatu perbedaan yang jelas antara masyarakat dan pemerintah. Manusia tertarik pada masyarakat, karena berkat bantuan kerjassama yang terjadi dalam masyarakat berbagai kebutuhan tertentu dapat dipenuhi. Dalam keadaan seperti ini manusia memiliki sejumlah hak-hak azasi, seperti kebebasan dan persamaan. Semestinya, manusia harus sanggup hidup dalam damai dan bahagia tanpa pemerintah, sekiranya “dorongan-dorongan hati sanubari manusia” adalah “bersih, serba serupa dan ditaati dengan tiada engkarnya”. Tapi karena manusia menurut sifatnya lemah dan karena dalam soal akhlak ia tidak sempurna, maka diperlukanlah daya-daya untuk mengendalikan. Dan daya-daya ini diberikan oleh pemerintah. Tapi, lebih lagi dari pada dari pemerintah, dan kesenangan rakyat. Adat-istiadat dan kebiasaan sosial, hubungan bersama dan kepentingan bersama manusia, umumnya lebih lagi berpengaruh dari pada lembaga-lembaga politik.

Paine kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan “menyajikan beberapa ulasan mengenai undang-undang dasar Inggris yang begitu dibanggakan orang”. Ia mengulas, “Bahwa undang-undang dasar ini adalah sangat agung jika dibandingkan dengan jaman gelap dan perbudakan, tatkala m ana ia dirumuskan, adalah sesuatu yang harus diakui. Waktu dunia dilanda oleh kelaliman, maka dari apdanya setidak-tidaknya telahd apat dipetik penyelamatan yang gemilang. Tapi bahwa ia tidak sempurna, mudah goncang dan tak sanggup memberikan apa yang elah ia janjikan, mudah sekali dibuktikan.” Apa yang ia anggap syarat ajasi bagi satu pemerintahan, yaitu tanggung jawab, menurut hematnya tidak ada sama s ekali dalam undang-undang dasar Inggris. Ia begitu ruwet sehingga mustahil untuk menentukan siapa yang harus bertanggung-jawab mengenai sesuatu. Satu-satunya bagian dari undang-undang ini yang ia puji, ialah bagian dimana undang-undang ini setidak-tidaknya secara teoritis, mengakui hak rakyat untuk memilih anggota House of Commons. Paine mengusulkan satu majelis legislatif tunggal yang anggotanya dipilih secara demokratis untuk pelbagai koloni, seorang presiden, kabunet, dengan cabang-cabang eksekutif yang bertanggung-jawab pada kongres.

Tapi kata-kata yang paling tajam dan hinaan yang paling pahit telah diberikan oleh Paine untuk bentuk kerajaan yang turun-temurun. Ia serang seluruh prinsip monarchi, terutama sebagaimana yang terdapat di Inggris.

Pemerintahan raja pertama-tama diperkenalkan kepada dunia oleh bangsa-bangsa biadab. Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh kturunan-keturunan Israel. Inilah suatu pendapatan yang paling subur yang pernah ditanamkan oleh iblis untuk menganjurkan pemujaan. Bangsa-bangsa biadab mempersatukan hormat dan puja mereka kepada raja-raja mereka yang sudah mangkat. Dunia Nasrani kemudian memajukan kebiasaan ini dengan melakukan perbuatan yang serupa terhadap raja-raja mereka yang masih hdiup …. Kemudian disamping keburukan sistim kerajaan ditambahkan orang pula keburukan dari hak turun-temurun. Jika yang pertama dapat dianggap sebagai penurunan-martabat dan perendahan bagi diri kita sendiri, maka yang kedua yang dinyatakan sebagai saoal hak,dapat dianggap sebagai penghidupan dan beban yang berat bagi keturunan kita …. Bukti yang wajar dari kegilaan hak turun-temurun itu, ialah perbuatan alam sendiri yang menunjukkan tidak setujunya jika sekiranya ia setuju, maka ia tidak akan begitu sering menjadikan hak ini menjadi sebuah olok-olok dengan memberikan kepada manusia. Keledai yang belagak Singa.

Menurut pandangan Paine, sahnya keturunan raja Inggris sebegitu jauh sampai kesemenjak jaman Penaklukkan, adalah kebenaran yang dapat disangsikan. Seperti ia katakan, “Seorang belasteran Perancis mendarat dengan sekumpulan garong bersenjata dan menobatkan dirinya sendiri menjadi raja Inggris, tanpa kehendak atau persetujuan rakyat pribumi sendiri; jika diukur dengan kata-kata biasa, maka asal-usul yang rendah dan jahat. – Tak pelak lagi, yang seperti ini tidak mungkin menaruh sifat kedewaan dalam dirinya”. Sekiranya monarchi dapat menjamin suatu pengumpulan dari contoh-contoh manusia yang baik dan cendekia, maka tidaklah ia menimbulkan keberatan benar. “Tetapi ia membuka pintu bagi kaum yang gila, licik dan tak cakap ….. Manusia yang memandang dirinya sendiri sebagai makhluk yang sengaja dilahirkan untuk memerintah, sedangkan manusia lain hanya untuk mematuhi perintah. Golongan ini dengan segera akan menjadi golongan yang tak tahu malu. Dan sebagai mahluk pilihan dan kemanusiaan seanteronya jiwa mereka mudah sekali diracuni oleh rasa diri penting …. dan tatkala maereka memasuki pemerintahan maka golongan pemerintah ini menjadi golongan orang-orang paling bodoh dan paling tidak cakap diseluruh dominion.” Dengan mengijinkan raja-raja yang masih dibawah umur atau terlalu tua menduduki singgasana, orang juga akan beroleh rentetan keburukan; disatu pihak pemerintahan langsung atas negara akan berada dalam tangan wali raja, sedangkan dipihak l ain negara akan tergantung dari tingkah seorang raja yang telah lusuh dan tua-bangka.

Sebagai sanggahan terhadap mereka yang berpendirian, bahwa pemerintahan turun-temurun dapat menghindarkan perang-saudara. Paine mengemukakan, bahwa semenjak jaman Penaklukan Inggris telah mengalami “tidak kurang dari delapan kali peperangan-saudara dan sembilanbelas kali pemberontakan”. Keseimpulannya ialah:

Di Inggris kerja seorang raja hanya mengumumkan perang dan menghadiahkan istana. Dengan kata-kata biasa, ini berarti membuat negara jadi miskin dan menimbulkan rasa pecah-belah dalam tubuh negara itu sendiri. Memang enak rasanya diberi uang sebanyak delapan ratus ribu sterling setahun dan disamping itu disembah lagi. Tapi dalam mata Tuhan, seseorang yang jujur terhadap masyarakat, jauh lebih mulia adanya, dari semua perampok-perampok yang berhiaskan mahkota yang pernah hidup diatas dunia ini.

Paine telah menunjukkan hormatnya kepada George III dalam berbagai bagian dari bukunya. Tetapi setelah penyembelihan di Lexington terjadi, Paine menulis, “Aku menolak Firaun Inggeris yang keras dan sempit hari ini untuk selama-lamanya; dan kutuk laknat ini, yang telah beroleh sebutan “Bapak Rakyat”, tapi yang telah mendengarkan penyembelihan rakyat dengan tiada terharu sedikitpun, dan yang tetap bisa tidur pula biarpun darah rakyat melumuri ruhnya.” Dalam bait yang ia tulis kemudian ia tambahkan; “Tapi dimana, demikian seseorang bertanya, raja Amerika bertahta? Dengarkanlah kawan, ia bertahta diatas, dan ia tidak merusakkan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan adikara bermahkota seperti yang terdapat di Inggris itu.

Setelah ia meruntuhkan pednapat-pendapat mengenai pemerintahan monarchi yang kebenarannnya diakui orang, lalu Paine melanjutkan pembicaraannya dengan mengemukakan “Beberapa pikiran tentang duduk persoalan Amerika sekarang ini”. Dibagian ini ia menitik beratkan pada alasan-alasan ekonomi dari pemisahan dengan Inggris. Sebagai sanggahan terhadap rasa-puas yang terdapat pada kaum Tory, yang berpendirian, bahwa Amerika maju berkat hubungannya dengan Inggris, Paine mengatakan:

Amerika akan sama kembangnya, bahkan mungkin lebih kembang lagi sekiranya tak ada suatu kekuasaan Eropa yang ikut mencampuri urusannya. Barang dagangan yang gtelah membuat ia kaya, adalah barang-barang yang diperlukan buat hidup dan selalu akanb eroleh pasaran, karena bersantap adalah salah satu istiadat Eropa …… Gandum kita akan diharagai disetiap pasar Eropa, sedangkan barang impor-impor dapat kita bayar dan kita beli dimana saja kita  mau.

Kenyataan, bahwa Britania telah memberikan perlindungan bagi koloni-koloni ini terhadap Spanyol, perancis dan bangsa Indian, diremehkan olehh Paine dengan komentar, bahwa, “Ia akan membela Turki dengan alasan-alasan yang sama, yaitu kepentingan dagang dan dominion”, dan lagi pula ongkos pertahanan ini “bukan mereka saja yang membayar, tapi ketapun ikut juga”.

Salah satu ikatan terkuat yang menyebabkan koloni-koloni ini enggan memisahkan diri, menurut Paine, ialah adanya suatu rasa sentimentil yang memandang negeri Inggris sebagai negeri ibu. Jika ini benar, “Maka Inggris sebetulnya harus merasa lebih malu lagi karena tingkah-laku yang telah ia perbuat. Karena, bahkan hewan tidak akan suka memakan anak-anaknya sedangkan orang biadab tidak pernah berperang dengan keluarganya sendiri ….. Sebutan Orang Tua atau ibu telah dipergunakan dengan cara Jezuitis oleh raja-raja dan parasit yang berada sekelilingnya dalam rangka semacam “bapak-isme” yang rendah untuk memperoleh suatu keuntungan yang tidak pada tempatnya atas jiwa mudah-percaya kita yang lemah. Eropalah, dan bukan Inggris yang boleh disebut negeri ibu Amerika”. Dunia Baru ini, demikian ia nyatakan, telah menjadi “pelindungan bagi pencinta-pencita kemerdekaan agama dan sipil yang telah diburu-buru, dari setiap pelosok Eropa … Tidak sampai sepertiga dari seluruh jumlah penduduk, bahkan dari propinsi inipun tidak, yang berasal dari keturunan Inggris. Karena itu saja tolak pendirian yang menganggap negeri Inggris sebagai negeri ibu atau negeri leluhur, sebagai suatu pendirian yang salah, sempit, egoistis dan jauh dari pada mulia”.

Ia tekah mendahului suatu peringatan yang kemudian akan diucapkan oleh George Washington dan yang berbunyi “membersihkan diri dari persekutuan-persekutuan abadi dengan bagian yang manapun juga dari dunia luar”, dan ucapan Thomas Jefferson “Berdamai, berdagang dan bersahabat dengan jujur dengan setiap negera – tidak mengikatkan diri dalam suatu persekutuan dengan negara yang manapun juga”, dengan menggambarkan bagaimana besarnya kerugian yang akan dialami jika hubungan dengan Inggris tetap dilanjutkan.

….. karena, setiap kepatuhan atau perserikatan dengan Britania Raya, akan menyebabkan terseretnya benua ini dengan langsung kedalam peperangan dan percekcokan Eropa; kita akan diadu dengan negara-negara yang sebenarnya mencari persahabatan kita dan terhadap siapa kita tidak pernah menaruk dendam ataupun keberatan-keberatan. Karena pasaran bagi perdagangan kita terdapat di Eropah, maka kita tidak boleh mengadakan hubungan sama-sepihak dengan salah satu dari bagian-bagiannya. Buah Amerika adalah penting sekali untuk menjauhkan diri dari pada sengketa-sengketa Eropa. Tapi sikap ini tidak akan dapat dilaksakan oleh Amerika, berhubung dengan ikatannya dengan Inggris, dalam ikatan mana ia menjadi batu-pemberat dalam timbangan politik Britania. Eropa begitu rapat ditumbuhi kerajaan-kerajaan sehingga tidaklah mungkin untuk mempertahankan perdamaian disana dalam jangka waktu yang lama. Dan setiap kali pecah peran antara Inggris dan suatu negara asing, maka perdagangan Amerika akan ikut hancur, semata-mata karena Amerika mempunyai ikatan dengan Inggris.

Bermacam-macam kenyataan yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh pemerintah Inggris, kemudian dipaparkan oleh Paine. Dan ia menyimpulkan, bahwa:

Inggris tidaklah mampu untuk memperlakukan benua ini dengan adil; pekerjaan segera akan menjadi begitu berat dan ruwet sehingga ia tidak akan dapat diselesaikan dengan memberikan kepuasan yang layak, oleh sesuatu negara yang jauh letaknya dari kita dan yang tidak mengerti sama sekali hal ikhwal kita. Telah ternyata, bahwa mereka tidak kuasa untuk menaklukkan kita, dan karena itu mereka juga tidak akan kuasa untuk memerintah kita. Kebiasaan untuk pergi pulang-balik sejauh tiga atau empat ribu  mil dengan sebuah lapuran atau petisi, k emudian menunggu jawaban selama tiga atau empat bulan dan kemudian ditambah lagi waktu lima atau enam bulan untuk memberikan penjelasan, tidak berapa lagi akan kita sadari sebagai suatu kebiasaan yang gila dan kekanak-kanakan …………. Suatu pendirian yang beranggapan, bahwa sebuah benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya adalah sebuah pendirian yang edan. Belum lagi pernah terjadi alam membuat satelit lebih besar dari planet ibunya.

Untuk mereka yang bimbang dan berhati lemah yang masih percaya pada kemungkinan perseuaian dan rujuk, Paine mengajukan suatu sanggahan yang bersemangat:

Dapatkah tuan-tuan menegakkan kembali jaman yang telah lalu? Sanggupkah tuan-tuan memberikan kepada seorang perempuan lacur kemurnian kedaraannya kembali? Demikianlah juga, tuan-tuan tidak akan dapat mempersatukan Inggris dan Amerika kembali. Tambatan terakhir telah putus, rakyat Inggris telah mengeluarkan ucapan-ucapan yang menentang kita. Banyak cedera-cedera yang tan gmungkin dimaafkan alam, karena alam sendiri akan berhenti jadi alam, jika cedera itu ia maafkan. Seperti seorang kasmaran tak akand apat memaafkan perkosaan atas kekasihnya, begitu juga sebuah benua tidak mungkin memaafkan pembegal-pembegal dari Britania.

Sedang seantero dunia diinjak-injak olehpenindasan-penindasan, Amerika harus membuka pintunya seluas-luasnya bagi kemerdekaan dan mempersiapkan tempat menyelamatkan diri bagi kemanusiaan yang diburu-buru.

Paine mengisi bab penutupnya dengan beberapa pandangan praktis tentang “kesanggupan Amerika  hari ini”, dimaksudkan sebagai pengukuh kepercayaan terhadap diri sendiri orang Amerika dan untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka mempunyai cukup tenaga manusia, pengalaman-pengalaman berusaha dan sumber-sumber alam, tidak saja cukup untuk memenangnkan suatu peperangan dengan Inggris,  tapi, jika perlu, bahkan untuk mengalahkan dunia yang bersikap bermusuhan. Koloni-koloni ini memiliki sejumlah besar perajurit-perajurit bersenjata dan berdisiplin baik. Sebuah armada yang dapat ditandingkan denan armada Inggris dapat dibangunkan dalam waktu singkat, karean ter-papan, besi dan tali-temali tersedia dengan cukup, sedangkan “Pembangunan kapal adalah kebangaan Amerika terbesar dan dalam usaha ini ia akan lebih majud ari seluruh dunia”. Pendeknya sebuah angkatan laut untuk kepentingan pertahanan dan perlindungan adalah perlu, sebab angkatan laut Inggris “tiga atau empatribu mil jauhnya dari kita tidak seberapa besar pertolongannya; dalam keadaan mendesak angkatan laut ini tidak bisa diharapkan sama sekali”.

Dalam suasana pertentangan keagamaan dalam mana ia sering terlibat, pandangan-pandangan keagaam Paine dalam masa hidupnya saat itu, adalah sangat menarik untuk diperhatikan:

Dalam soal agama, saya berpendapat bahwa pemerintah mempunyai kewajiban mutlak untuk melindungi semua penganut-penganut yang beriman dari setiap agama. Dalam soal ini pemerintah tidak boleh campur tangan sama sekali (Rupanya ucapan ini dikeluarkan terhadap gereja yang sudah kukuh kedudukannya dan untuk membela pemisahan gereja dan negara) ………….. Sedangkan mengenai diriku sendiri, dengan penuh dan sungguh-sunggu aku percaya, bahwa Yang Mahakuasa berkehendak supaya diantara kita terdapat beragam-ragam perndapat keagamaan dan dengan demikian memberikan kesempatan lebih luas bagi rasa cinta-kasih ke-Nasranian kita. Sekiranya serupalah cara kita semua berpikir, maka kecondongan-kecondongan keagamaan kita akan menginginkan hal-hal untuk diuji. Berdasarkan prinsip ini, aku memandang beragam mazhab yang terdapat antara kita sebagai anak-anak dari suatu keluarga, hanya berbeda dalam apa yang oran gsebutkan nama Nasraninya.

Sambil meringkaskan kembali sendi keyakinannya, bahwa “tidak ada cara yang dapat menyelesaikan persoalan kita begitu tepat kecuali dengan jalan mengumumkan kemerdekaan dengan terus terang dan tegas”. Paine mengakhiri Pikiran Sehat-nya dengan mengemukakan empat faktor: (1) selama Amerika masih dianggap jajahan Inggris, maka tidak ada negara lain yang akan mau mencoba menajdi pengantara dalam pertikaian kedua negeri ini; (2) dari Perancis atau Spanyol tidak bisa diharapkan bantuan untuk memulihkan dan mempersatukan Amerika dan Inggris kembali karena perbuatan ini akan bertentangan dengan kepentingan mereka; (3) Jika rakyat Amerika menyatakan, bahwa mereka berada dibawah kekuasaan Inggris, maka rakyat Amerika akan dianggap pemberontak oleh negeri-negeri asing dan dengan demikian tidak akan banyak beroleh simpati; (4) sebaiknya rakyat Amerika menyusun sebuah manifesto dan menjelaskan keberatan-keberatan mereka terhadap Inggris serta maksud untuk memutuskan segala ikatan dengannya. Naskah pernyataan ini dalam mana juga dijelaskan maksud-maksud damai serta keinginan untuk mengadakan hubungan dagang, dikirimkan keluar negeri. Dengan cara demikian hasil yang akan diperoleh tentu besar sekali.

Paine meakhiri pembicaraannya dengan menyatakan:

… sampai kemerdekaan dinyatakan, benua ini akan merasa dirinya seperti seseorang yang selalu mengundurkan saja suatu pekerjaan yang tak enak sedangkan ia tahu betul, bahwa pekerjaan itu tidak boleh tidak harus ia lakukan; ia segan memulainya, ia memimpikan bahwa pekerjaan ini telah selesai, dan ia tak kunjung-kunjungnya dimomoki oleh perasaan bahwa pekerjaan ini betul-betul tak bisa ia elakkan.

Karena itu, dari pada saling pandang-memandang dengan penuh kecurigaan dan ras ingin tahu yang berisi kebimbangan, marilah kita saling mengulurkan tangan yang tulus dan penuh rasa persahabatan dan bersatu membentuksuatu barisan sebagai lambang dari pemberian maaf dan dapat menghilangkan perselisihan yang selama ini ada. Marilah kita hilangkan nama-nama seperti “tory” dan “whig” dan janganlah hendaknya ada sebutan lain yang kedengaran kecuali sebutan warganegara yang baik; seorang sahabat yang lapang hati dan berpendidrian tegas; seorang penyokong yang jujur dari HAK-HAK MANUSIA dan suatu NEGERA AMEREKA SERIKAT YANG MERDEKA.

Inilah pesan revolusioner yang disampaikan oleh Pikiran Sehat kepada rakyat Amerika, pesan yang berisikan suatu lingkupan nada suara mulai dari alasan-alasan yang terhentak ektanah,  realistis, praktis, sampai keseru-seruan yang dibebani emosi, pejuang yang garang, ajakan-ajakan yang mendorong yang dikeluarkan seoran gagitator yang ulung.

Akibat langsung dan menggegerkan dari kitab Pikiran Sehat ini dapat diperlihatkan dengan jalan mengutuip ucapan-ucapan pemimpin yang ada kala itu. Kebimbangan George Washington hilang sama sekali tatkala ia menulis kepada Joseph Reed di Norfolk.

“Jika ditambahkan kepada ajaran-ajaran sehat dan alasan-alasan yang tak dapat diengkari seperti yang terdapat dalam pamflet Pikiran Sehat, beberapa lagi dari pendirian-pendirian yang bernyala-nyala seperti yang telah diperlihatkan di Falmounth dan Norfolk, maka tidak banyak lagi orang yang tidak sanggup memutuskan untuk berpihak kepada kebenaran dari pemisahan”; dan beberapa minggu kemudian ia menulis lagi, juga kepada Reed “Berdasarkan surat-surat pribadi yang baru-baru ini saya terima dari Virginia, saya melihat, bahwa disana Pikiran Sehat karangan Paine telah menimbulkan perobahan pikiran pada banyak orang”.  Dan John Adams menulis kepada isterinya. “Bersama ini saya kirimkan sebuah pamflet berkepala Pikiran Sehat yang ditulis sebagai pembelaan bagi kebenaran, bahwa pembendungan perbutan kelaliman dimasa datang dan penghancuran penindasan akan segera diyakini oleh rakyat banyak – berdasarkan alasan-alasan yang banyak harapan ini mungkin sekali terlaksana”. Agigail, setelah membacanya menjawab. “adalah sebagai sinar Pembaruan yang telah datang pada waktunya benar untuk menghilangkan kebimbangan kita dan menentukan pilihan kita”. Benjamin Rush berkata tentang tulisan Paine. “Mereka menyembur dari percetakan dengan suatu akibat yang sampai sekarang belum pernah dicapai oleh kertas dan mesin cetak di negeri manapun juga dan dalam masa kapanpun juga”; Jenderal Charles Lee menambahkan, “Kuakuilah, ia telah meyakinkan aku”; dan Franklin mencatat, “Akibatnya menakjubkan”; dan William Henry Drayton melaporkan, bahwa “Penyiaran ini jatuh sebagai ledakan guntur atas anggota-anggota Kongres Benua”.

Dalam kitabnya Sejarah Revolusi Amerika Sir George Trevelyan mengulas:

Tidaklah mudah untuk meyebutkan sebuah ciptaan manusia yang mempunyai akibat yang sekaligus begitu langsung, begitu luas dan begitu lama … Buku ini “digarong,” dari setiap negara dimana republik baru ini mempunyai penyokong-penyokong…. Menurut koran-koran kala itu Pikiran Sehat telah membalikkan beribu orang kepada kemerdekaan; orang-orang yang sebelumnya tak menyukai pikiran itu sama sekali. Akibatnya tak kurang dari akibat suatu keajaiban dan ia telah merubah kaum Tory menjadi Whiq.

Dalam masa beberapa bulan setelah Pikiran Sehat ini terbit kebanyakan negara-bagian telah memerintahkan wakil-wakil mereka untuk memberikan suara setuju pada kemerdekaan. Hanya Maryland yang masih sangsi dan New York menolak. Pada tanggal empat bulan Juli tahun 1776, kurang dari enam bulan setelah pamflet Paine yang termasyur ini keluar dari percetakan, Kongres Benua yang mengadakan pertemuan di State House Philadelphia memproklamirkan kemerdekaan negara Amerika Serikat. Sesungguhnya Paine tidak menulis permyataan kemerdekaan itu, ia bekerja rapat sekali dengan Thomas Jefferson waktu pernyataan itu disusun. Kecuali bagian yang menyatakan peniadaan perubdakan yang diperjuangkan oleh Paine, semua dasar-dasar yang ia kemukakan dalam Pikiran Sehat dimasukkan kedalam manifesto yang jaya ini.

Perjalanan hidup Paine selanjutnya menunjukkan hubungan yang tak langsung dengan riwayat Pikiran Sehat. Hal-hal yang pokok dengan secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Segera setelah Kemerdekaan diumumkan, ia masuk kedalam tentara revolusi. Sebagai seorang jurubicara yang bijak buat perjuangan Amerika ia telah memberikan sumbangan yang besar untuk kepentingan kesatuan dan semangat nasinal dengan serentetan paflet-pamflet yang setiapnya berkepala Krisis. Pamflet yang pertama mulai dengan kalimat yang begitu sering dikutip orang; “ada masa yang menguji jiwa manusia. Perajurit musim panas dan patriot-pagriot dalam sinar terang akan mengundurkan diri dari pengabdian kepada tanah airnya dalam krisis ini; tapi ia yang kini berdiri tegak dan bertahan berhak atas cinta dan terima kasih baik dari laki-laki maupun perempuan.” Beberapa bulan kemudian setelah melihat kesanggupan Paine sebagai seorang propagandis dan pembangunan semangat, Kongres menarik Paine dari tentara dan mengangkatknya sebagai Sekretaris Panitia Urusan Luar Negeri – pada hakekatnya Menteri Luar Negeri. Secretary of State, Amerika yang pertama. Pelbagai pertentangan faham memaksa ia untuk mengundurkan diri dari jabatan itu. Sesuah itu ia diangkat menjadi Pegawai Dewan Pennsylvania. Dalam tahun 1781 ia dikirim ke perancis bersama John Laurens untuk meminta bantuan keuangan bagi pemerintah Amerika yang lagi kekurangan uang. Dalam tahun itu juga ia kembali dengan uang dan pelbagai persediaan kebutuhan.

Setelah dalam tahun 1783 revolusi berakhir, paine memusatkan pikiran pada penemuan-penemuan mekanis. Ia menciptakan jembatan gantung dari besai yang pertama dan ia mengadakan percobaan-percobaan dengan tenaga uap. Berhubung dengan adanya beberapa masalah teknis, maka diputuskanlah untuk meminta pertolongan insinyur-insinyur Inggris dan Perancis dan dalam tahun 1787 Paine berangkat ke Eropa dimana ia bermukim selama limabelas tahun.

Segera setelah ia sampai, Revolunsi Perancis pecah dan Paine menyokong kejadian ini dengan penuh semangat sebagai pembelaan selanjutnya bagi pikiran-pikiran demokratisnya. Sebagai pembelaan bagi revolusi dan tangkisan atas serangan Edmund Burke ia menulis Hak-hak Manusia (The Rights of Man) yang termasyur. Untuk menghindarkan tangkapan atas tuduhan penghianatan – sebagai hasil dari koktrin-doktrik yang terdapat dalam buku ini – ia terpaksa dengan cepat meninggalkan Inggris dan melarikan diri ke Perancis, dimana ia dipilih untuk duduk dalam Konvensi sebagai anggota yang mewakili Calais. Dalam suatu percobaan untuk menyelamatkan raja Louis XVI dari tangan Roberspierre dan Marat. Sehingga, waktu tokoh-tokoh ini menduduki kursi pemerintah, Paien lalu; ditangkap, dilucuti dari kedudukannya sebagai warga negara kehormatan Perancis, dipenjarakan selama sepuluh bulan dan untung saja masih bisa diselamatkan dari guillotine. Setelah ia dibebaskan dengan perantaraan duta besar Amerika James Monroe, ia beristirahat dikediaman Monroe sampai sehat kembali.

Kerja besarnya dari jaman ini ialah Jaman Akal (The Age of Reason) yang kadang-kadang disebut juga “injil kaum atheis”. Sebetulnya Paine adalah seorang theis yang alim, yang percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Jaman Akal, biarpun bersikap sangat kritis terahadap Perjanjian Lama, sebetulnya ia tulis untuk membendung gelombang dari atheisme yang memukul di perancis selama jaman revolusi itu. Sungguhpun begitu para ahli agama dan golongan-golongan agama kuno keras mengutuk Paine sebagai seroang radikal yang berbahaya dan seorang murtad.

Waktu Paine kembali ke Amerika dalam tahun 1802, ia tidak disambut sebagai pahlawan revolusi, malahan pemimpin-pemimpin politik dan anggota-anggota gereja dengan sungguh-sungguh menutuk dia, karena ia telah mengarang Jaman Akal dan karena teori-teori politiknya yang radikal. Di New Rochelle, New York, dimana kemudian ia berdiam, ia tidak diberi ijin ikut pemilihan umum, dengan alasan, bahwa ia bukan warganegara Amerika lagi. Bahkan orang telah mencoba untuk membunuhnya. Setelah ia selama tujuh tahun yang pahit mengalami penghinaan, kebencian, ketak-pedulian, kemelaratan dan kesehatan yang buruk, ia meninggal dalam tahun 1809, sewaktu ia berumur tujuhpuluh dua tahun. Baginya tak diberikan ijin untuk berkubur diperkuburan kaum Quaker.

Tapi kepalsuan, kepahitan dan prasangka yang kuat dari tahun-tahun terakhir kehidupan Paine, masih saja berlarut-larut sampai jaman kini. Theodore Roosevelt menyebutnya “seorang atheis kecil yang busuk”, sungguhpun, seperti Kerajaan Suci Roma, yang bukan suci, bukan Roma dan bukan pula kerajaan, demikian juga Paine bukan seorang atheis, bukan seorang kecil dan bukan pula busuk. Sampai-sampai tahun 1933, sebuah acara radio mengenai Paine telah disingkirkan dari sebuah pemancar radio New York. Baru dalam tahun 1945, empatpuluh lima tahun setelah Ruang Kemasyuran dari Orang-orang Besar Amerika didirikan, ia terpilih untuk dimasukkan kedalamnya. Dalam tahun ini juga kota New Roschelle memulihkan hak kewarganegaraan pahlawan revolusi ini yang tidak ia miliki lagi semenjak tahun 1806.

Patung Thomas Paine diabadikan sebagai penghormatan atas kebesaran pemikirannya

Dialah orang, yang barangkali lebih lagi dari yang lain-lain berhak untuk beroleh gelaran “Penegak Kemerdekaan”, orang yang mula-mulai memakai ucapan “Negara Amerika Serikat’, yang meramalkan, bahwa “Amerika Serikat dalam sejarah sama besar kedengarannya seperti kerajaan Britania Raja”, dan yagn menyatakan, bahwa “Perjuangan Amerika ini, dalam ukuran besar, adalah perjuangan kemanusiaan”. Tidak ada kenyataan yang dapa menggambarkan watak paine lebih terang dari pada jawaban yang ia berikan pada ucapan Franklin yang berbunyi: “Dimana kemerdekaan berada disitulah negeriku”. Paine membalas; “dimana kemerdekaan tidak ada, disitulah negeriku.”

Tapi dalam jamannya sendiri lagu kebencian dan salah sangka terhadapnya tidaklah begitu merata mendalamnya. Andrew Jackson berani mengatakan. “Thomas Paine tidak memerlukan monumen yang diperbuat dengan tangan: ia telah mendirikan sebuah monumen dalam setiap ahti pencinta kemerdekaan”. (*)

Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT