Connect with us
Thomas Malthus Essay Mengenai Prinsip Pertumbuhan Penduduk Thomas Malthus Essay Mengenai Prinsip Pertumbuhan Penduduk

Journal

THOMAS MALTHUS: Essay Mengenai Prinsip Pertumbuhan Penduduk

mm

Published

on

; Essay on the Principle of Populatiion.

 

Suatu keasyikan penghibur hati yang amat digemari diakhir abad ke-XVIII ialah mengangan-angankan utopia-utopia. Idealisme yang sejalan dengan gerakan revolusioner di Amerika dan Perancis memberikan ilham kepada para pengasyik angan-angan itu untuk mengambil kesimpulan, bahwa fajar kesempurnaan manusia telah kelihatan ditepi langit dan bahwa terciptanya sebuah sorga dunia sudah dekat betul masanya.

Diantara pengasyik angan-angan ini, dua orang, William Godwin di Inggris dan Marquis de Condorcet di Perancis, mempunyai pengikut-pengikut yang paling khusuk yang telah menyampaikan kepada orang banyak harapan-harapan dan pandangan-pandangan dari suatu jaman baru. Pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh Godwin dalam bukunya Keadilan Politik (Political Justice) adalah sangat tipis bagi optimis-optimis yang gigih ini. Godwin percaya, bahwa akan datang masa dimana kita menjadi begitu padat oleh hidup sehingga kita tak memerlukan tidur, — begitu penuh oleh kehidupan sehingga kita tak perlu mati dan kebutuhan pada perkawinan akan didesak oleh kebutuhan untuk mengemukakan intelek. Pendeknya, manusia akan seperti malaikat layaknya, “Perbaikan-perbaikan lainnya,” demikian ia bersenandung, “dapat diharapkan terlaksana sejalan dengan perbaikan-perbaikan kesehatan dan kepanjangan hidup. Tidak akan ada lagi peperangan, tidak ada kejahatan dan tidak akan ada lagi apa yang orang sebutkan administrasi peradilan dan pemerintah. Disamping itu juga tidak akan ada lagi penyakit, ketakutan, kesenduan ataupun dendam. Setiap manusia akan mencari kebaikan bersama dengan semangat yang tak dapat dilukiskan.”

Untuk meniadakan rasa takut, bahwa jumlah manusia akan jadi terlalu banyak sedangkan makanan tidak akan mencukupi, Godwin menulis. “Bumi akan tetap menghasilkan cukup untuk menghidupi penghuninya, biarpun manusia berkembang selama berjuta tahun lagi.” Lagi pula, demikian ia berpikir, keberahian berkelamin mungkin akan berkurang, Condorcet mengusulkan, bahwa keberahian ini bisa dipenuhi dengan tidak mengakibatkan angka kelahiran yang tinggi.

Gelembung-gelembung yang indah ini seolah-olah meminta-minta untuk ditusuk. Dan jarum penusuknya telah disediakan oleh seorang rahib muda yang tak segan-segan, bernama Thomas Robert Malthus; seorang Fellow dari Jesus College, Cambridge, Inggris yang berumur tigapuluh dua tahun. Jawabannya kepada perfeksionis-perfeksionis sosial ini ialah, Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk. (An essay on the Principle of Population) yang diterbitkan dalam tahun 1798. Karangan ini kemudian dianggap orang sebagai salah sebuah karya klasik tentang ekonomi politik.

Malthus, anak kedua dari Daniel Malthus adalah kawan sejaman, biarpun usianya jauh lebih muda dari Adam Smith dan Thomas Paine, Ayahnya, seorang gentleman pedalaman yang hidup dalam keadaan berkecukupan, adalah seorang sahabat Rousseau dan pelaksanaan dari peninggalan-peninggalannya, dan dapat disebut seorang pengangum Godwin yang paling bersemangat. Baik ayah maupun anak gemar sekali berdebat. Thomas menyerang sedangkan ayahnya membela pendirian-pendirian utopia. Akhirnya, atas anjuran ayahnya, Thomas memutuskan untuk menyatakan pendapatnya dalam sebuah tulisan. Hasilnya ialah essay yang termasyur itu – sebuah essay yang telah berpengaruh besar atas pikiran dan kegiatan manusia selama seratus lima puluh enam tahun yang lewat, dan yang barangkali belum pernah begitu nyata seperti dalam kurun jaman sekarang ini. Apa yang telah dilakukan oleh Adam Smith duapuluh dua tahun sebelumnya dalam penyelidikannya mengenai fitri dan sebab dari kekayaan, telah dilengkapkan oleh Malthus dengan analisanya yang menyigi fitri dan sebab-sebab dari kemelaratan.

Sebuah essay tentang prinsip pertumbuhan penduduk sebagaimana ia mepengaruhi perbaikan masyarakat dimasa datang, dengan catatan-catatan tentang spekulasi-spekulasi tuan-tuan Godwin, Condorcet dan pengarang-pengarang lain, yang diterbitkan secara anonim, dalam versinya dari tahun 1798 lebih kurang adalah sebuah pamflet (50.000 kata) dan rupanya dicetak dalam jumlah yang kecil, karena kopy penerbitan itu susah sekali diperoleh sekarang. “Buku ini ditulis,” demikian laporan pengarangnya kemudian, “karena didorong oleh keadaan dan dengan mempergunakan sumber-sumber yang sangat terbatas yang dapat dapat saya peroleh dalam kehidupan dipedalaman.” Thema essay ini tidak baru, karena berbagai pengarang abad ke-XVIII, termasuk juga Benjamin Franklin, pernah membicarakan masalah pertumbuhan penduduk, tapi tidak seorangpun diantara mereka ini yang telah menyajikannya begitu tegas, begitu bersemangat atau dengan ketajaman yang begitu  jernih seperti yang telah dilakukan oleh Malthus.

Di awal karangannya Malthus telah mengemukakan dua pendirian dasar:

Pertama, bahwa makanan perlu untuk kehidupan manusia. Kedua, bahwa gairah yang terdapat diantara sex adalah perlu dan keadaannya boleh dikatakan akan tetap seperti keadaan sekarang.

Bahkan mereka yang mengangan-angankan utopia juga tidak mengemukakan pendirian, bahwa manusia bisa hidup tanpa makanan.

Tapi tuan Godwin mengira api kegairahan berkelamin suatu masa akan padam ……… Bukti-bukti yang paling tepat untuk menunjukkan bahwa manusia ini dapat disempurnakan dapat diambil dari sebuah renungan tentang kemajuan-kemajuan besar yang dicapai manusia semenjak mereka masih berada ditingkatan biadab ………….. Tapi dalam soal pemadaman api sex, sampai sekarang belum ada kemajuan diperoleh. Rupa-rupanya api ini berwujud dengan kekuatan yang sama seperti 2000 atau 4000 tahun yang lalu.

Karena ia sangat yakin, bahwa “postulata”-nya ini tidak dapat ditolak, maka Malthus meneruskan memaparkan prinsipnya yang termasyur:

……….. bahwa kekuatan pertumbuhan penduduk nyata sekali lebih besar dari kekuatan dunia untuk menghasilkan nafkah bagi manusia. Jumlah penduduk jika tidak dikendalikan akan berlipat-ganda menurut perbandingan geometri. Jika kita perhatikan angka-angka yang ada mengenai ini maka akan nyatalah, bahwa kekuatan yang pertama jauh lebih besar dari kekuatan yang kedua.

Dalam menjelaskan dalilnya selanjutnya. Malthus menguatkan persoalannya dengan cara berikut:

Melalui dunia hewan dan tetumbuhan, alam menyebarkan benih kehidupan keseantero dengan tangan royal dan pemurah. Jika dibandingkan dengan cara ini, maka ia – alam – lebih hemat dalam soal tempat dan makanan yang diperlukan untuk menumbuhkan benih-benih yang ………. Bangsa tanaman-tanaman dan bangsa hewan-hewan berkurang disebabkan hukum pembatas yang besar ini. Dan bangsa manusia tidak bisa dengan cara bagaimanapun juga mengelakkan diri dari padanya. Pada tanaman dan hewan akibatnya ialah penyia-nyiaan benih, penyakit dan mati muda. Pada manusia, penderitaan dan kejahatan.

Fakta-fakta yang keras tapi benar ini, menurut pengiraan Malthus, akan menimbulkan kesulitan-kesulitan yang tak dapat diatasi dalam usaha untuk menyempurnakan masyarakat. Tidak ada perobahan-perobahan yang dapat diadakan yang akan dapat meniadakan tekanan hukum-hukum alam yang merupakan halangan-halangan sehingga mustahillah “terwujudnya sebuah masyarakat yang anggota-anggotanya dapat hidup dengan mudah, berbahagia, dengan kesenangan yang patut dan yang tidak usah khawatir dalam soal mencari makan bagi mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka”.

Sebagai ilustrasi dari pelaksanaan pebandingan geometrinya, ia memilih pertumbuhan jumlah penduduk di Amerika Serika “dimana alat-alat untuk memenuhi kebutuhan hidup lebih banyak, kebiasaan orang lebih murni dan dengan demikian pembatasan terhadap kawin muda lebih kurang”. Malthus menemui, bahwa penduduk disini, tidak termasuk imigrasi, telah bertambah dua kali lipat dalam masa duapuluh lima tahun. Dari bukti ini ia menarik kesimpulan, bahwa dimana tidak ada pengawasan dan keseimbangan dan dimana tidak ada pembatasan diberikan kepada alam, kecepatan pertumbuhan disetiap negeri akan menggandakan jumlah penduduk setiap angkatan. Pembangkang-pembangkangnya seringkali menunjukkan cacat dalam dalil malthus dan mengatakan, bahwa keadaan yang terdapat di Ameria Serikat dimasa kurun jamann itu, adalah keadaan yang tidak dapat dikatakan typis jika dibandingkan dengan keadaan-keadaan dimasa lain dalam sejarah Amerika ataupun negara lain.

Dalam mencobakan kayu-pengukurnya buat pertumbuhan penduduk yang wajar di Inggris, yaitu suatu ukuran dari perlipat-gandaan dua kali yang potentiel dalam jangka waktu dua puluh lima tahun. Malthus mengarahkan perhatiannya kepada masalah kebutuhan. Kesimpulannya ialah, bahwa “dengan pertolongan cara-cara yang terbaik yang bisa dijalankan, misalnya dengan jalan membuka tanah lebih banyak dan dengan menganjurkan pertanian sebesar-besarnya, hasil kepulauan ini mungkin didua-kalikan dalam masa duapuluh lima tahun pertama”.

Tapi kesulitan akan mulai bertumpuk dengan datangnya angkatan berikutnya. Sedangkan jumlah penduduk sekali lagi bertambah dua kali, jadi empat kali dalam masa limapuluh tahun, dalam soal makanan “tidaklah mungkin diharapkan, bahwa makanan akan bertambah pula empat kali”. Tambahan paling tinggi yang dapat diharapkan, ialah pergandaan jumlah makanan sebanyak-banyaknya tiga kali jumlah asal. Jika diutarakan dengan angka-angka, rumus Malthus akan menunjukkan bagi pertumbuhan jumlah penduduk: 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64 dan seterusnya sedangkan buat persediaan makanan: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan seterusnya.

Suatu konsekuensi yang wajar dari jalan pikiran Malthus, ialah bahwa orang harus mengadakan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk yang dijalankan terus. Alat pengendali yang terkeras ialah kurangnya makanan. Disamping itu ia menyebut cara-cara “pengendalian langsung” yang ia golongkan kepada golongan-golongan “positif” seperti misalnya pekerjaan-pekerjaan yang tak sehat, kerja yang berat, kemelaratan yang teramat sangat, penyakit, perawatan anak-anak yang tak baik, kota-kota besar, pes, epidemi; dan suatu golongan “preventif”, yaitu pengekangan moral dan adanya cacat jasmani.

Dalam pandangan Malthus, beberapa kesimpulan praktis yang tak dapat dielakkan akan datang dengan sendirinya. Sekiranya manusia ingin menikmati kebahagiaan yang sebesar-besarnya, maka ia tidak boleh menerima kewajiban-kewajiban berkeluarga sekiranya ia tidak mampu untuk menanggungnya. Mereka yang tak mempunyai kesanggupan cukup untuk menghidupi sebuah keluarga harus tetap tinggal membujang. Selanjutnya, dalam politik umum, seperti misalnya undang-undang kemiskinan harus dirumuskan begitu rupa sehingga menghilangkan dorongan bagi klas buruh atau klas-klas lain untuk melahirkan kedunia anak-anak yang tidak dapat mereka penuhi kebutuhannya.

Seorang manusia yang lahir kesuatu dunia yang sudah dimiliki orang, sekiranya ia tak dapat memperoleh kebutuhannya dari kedua orang tuanya, sesuatu harapan yagn layak sekali, sekiranya masyarakat tidak menginginkan kerjanya, tidak punya hak baik atas bagian terkecil sekalipun dari makanan yang ada dan sebenarnya tidak perlu sama sekali berada di tempat itu.

Yang diatas ini ia tulis sebagai jawaban atas Hak-hak manusia karangan Paine (Rights of Man).

Bantuan baik bersifat partikelir maupun pemerintah, tidaklah diingini karena ini berarti memberikan uang kepada orang miskin dengan tiada menambah banyak makanan yang bisa diperoleh dan dengan begitu menaikkan harga dan menimbulkan kekurangan. Juga tidak dapat diterima rumah-rumah pertemuan karena ia menimbulkan pertumbuhan jumlah penduduk yang cepat. Gaji yang besar juga memberikan akibat buruk yang serupa. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari masalah yang sulit ini ialah dengan memperlambat perkawinan dan dengan “pengekangan moral” jadi dengan jalan “berpuasa”.

Sebetulnya, dalam mata Malthus setiap usaha kearah masyarakat yang lebih baik dan hilangnya kemiskinan sangat boleh jadi hanya akan berakhir dengan bertambahnya penyakit yang hendak diberantas. Rahib yang berpikir gigih dan yang kelihatannya bersikap anti-sosial ini menyebabkan kaum filantrop-filantrop yang idealistis memisahkan diri dari angkatannya dan angkatan yang berikutnya. Tapi sebaliknya doktrin Malthus ini diterima dengan penuh gembira oleh golongan-golongan yang kaya dan yang memegang kekuasaan dalam jamannya. Dengan itu mereka dapat menyalahkan kawin terlalu muda dan jumlah anak yang terlalu banyak sebagai sebab dari kemelaratan umum dan adanya keburukan-keburukan sosial lainnya.

Sikap Malthus terhadap rencana bantuan pemerintah dapat diperlihatkan dengan kutipan-kutipan dibawah ini:

Undang-undang kemelaratan Inggris yang bermaksud memperbaiki keadaan orang-orang miskin memberikan kecondongan kedua arah. Pertama, yaitu kecondongan dari pertambahan jumlah penduduk dengan tidak disertai pertambahan jumlah makanan untuk kebutuhan mereka. Seorang miskin mungkin kawin biarpun ia sedikit sekali bahkan tidak ada sama sekali memiliki kesanggupan untuk mengongkosi keluarganya dengan tidak bergantung pada orang lain. Karena itu dalam pengertian tertentu dapat dikatakan, bahwa orang telah berusaha menciptakan orang-orang miskin yang adanya tetap dipertahankan. Karena persediaan makanan negeri harus dibagikan kepada setiap orang dalam jumlah yang lebih sedikit, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah penduduk, maka nyatalah bahwa mereka yang tidak mendapat sokongan dari gereja hanya akan sanggup membeli persediaan yang lebih sedikit dari sebelumnya dan karena itu maka akan lebih banyaklah orang yang terpaksa meminta bantuan. Kedua, jumlah makanan yang dihabiskan dirumah-rumah miskin oleh sebagian dari masyarakat yang umumnya tidak dapat diangap sebagai bagian yang paling berharga, akan mengurangkan bagian yang sepatutnya diperoleh oleh anggota-anggota masyarakat yang lebih berharga; dan dengan demikian dengan cara yang sama telah dipaksa lebih banyak orang untuk bantuan.

Diakhir essaynya ini Malthus memberikan sebuah ringkasan dari pandangan-pandangannya.

Karena keadaan-keadaan yang lain serupa sifatnya, maka dapatlah dipastikan, bahwa pertumbuhan jumlah penduduk sebuah negara harus sesuai dengan jumlah makanan yang ia hasilkan atau ia peroleh. Penduduk ini akan berbahagia sesuai dengan berlimpahnya pembagian makanan, atau berapa banyak makanan yang dapat diperoleh dengan hasil kerja satu hari. Negara-negara gandum akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara padang rumput dan negara-negara beras akan lebih banyak penduduknya dari negara-negara gandum. Tetapi kebahagiaan mereka tidak akan tergantung pada rapat jarangnya penduduk, pada kemiskinan atau kekayaan mereka, kebeliaan atau kebayaan mereka, tapi pada perbandingan yang terdapat antara jumlah penduduk dan makanan yang cukup.

Munculnya essay Malthus ini telah menghembuskan suatu topan kritik, protes dan makian, terutama dari dua golongan; golongan agama konservatif dan golongan sosialis radikal. “Selama tigapuluh tahun”, demikian Bonar, penulis riwayat hidupnya yang terpenting, mengatakan, “telah jatuh hujan pembahasan”. Malthus adalah seorang penghasil teori yang paling banyak disalahgunakan dalam jamannya dan yang telah dinyatakan sebagai “seorang pembela penyakit cacar, perbudakan dan pembunuhan kanak-kanak, sebagai seorang yang mengutuki dapur umum, perkawinan cepat dan sumbangan gereja; seseorang yang tak malu untuk kawin setelah mengkhotbahkan bagaimana jahatnya hidup berkeluarga; yang mengira, bahwa dunia ini diperintah dengan cara yang begitu buruk sehingga apapun juga perbuatan baik yang dilakukan hasilnya hanyalah kerusakan yang lebih besar; seseorang yang singkatnya, telah melucuti hidup ini dari segala keindahannya”.

Beberapa pengeritik telah menolak thesis Malthus dengan begitu saja. Hazlitt misalnya “tidak dapat mengerti apa lagi yang harus ditemui setelah kita membaca surat-surat keturunan nabi Nuh dan mengetahui, bahwa bumi ini bundar”, Goleridge mengulas, “Apakah kita sekarang memerlukan sebuah quarto untuk mengajar kita, bahwa penderitaan besar dan kejahatan besar adalah anak dari kemiskinan, dan bahwa dimana terdapat lebih banyak perut dari pada makanan disana akan ditemui kemiskinan dalam bentuk yang paling berat dan bahwa lebih banyak jumlah kepala dari pada otak?”

Pengulas-pengulas yang lain memperdengarkan suara yang getir. Seperti William Thompson, pemimpin sosialisme Inggris yang mula-mula menulis:

Janganlah hinakan bagian terbesar manusia yang menderita dengan kepalsuan yang menyilaukan, bahwa dengan jalan membatasi jumlah penduduk atau dengan tiada memakan kentang, kebahagiaan mereka akan berada di tangan mereka, baik moril ataupun fisik, untuk hidup tanpa kentang dan peradaban yang jauh dari kesusahan, masih saja ada.

Ucapan lain yang tajam datang dari William Cobbett yang mengatakan: “Bagaimana Malthus dengan murid-muridnya yang edan dan menyusahkan orang – bagaimana mereka ini, yang ingin meniadakan kemiskinan, dengan jalan melarang orang miskin kawin; bagaimana golongan begini dungu dan pongah menghadapi para pekerja bermuka-muka, sedangkan mereka menyuruh pekerja-pekerja ini mengangkat senjata dan menghadangkan nyawa untuk membela negara”.

Cobbettlah yang secara kebetulan menemui pemeo “domine” bagi Malthus. Cobbett sedang berbicara kepada seorang petani muda:

“Nah”, kataku, “jadi berapa jumlah anak yang kau ingini?”

“Aku tak perduli berapa”, sahut orang itu, “Tuhan tak pernah mengirimkan perut tidak dengan pengisinya sekali.”

“Belum pernahkah kau mendengar”, kataku, “tentang seorang domine bernama Malthus?”

“Tidak tuan”.

“Kalau kedengaran olehnya ucapan kau itu, ia akan marah sekali, karena ia menginginkan undang-undang parlemen yang melarang orang kawin muda dan beroleh banyak anak.”

“Oh, iblis,” sembur isterinya, sedangkan suaminya tertawa, karena ia mengira, aku berolok-olok.

Suatu kritik yang seringkali dikemukakan dalam menentang doktrin Malthus waktu ia mula-mula terbit, ialah bahwa doktrin ini bertentangan dengan kemurahan Ilahi. Malthus dituduh telah menyiarkan sebuah buku yang bersifat anti-agama – suatu tuduhan yang sangat berat terhadap seorang pendeta sebuah gereja yang sudah berkedudukan. Karena adanya kritik ini, Malthus dalam penerbitan kedua dari essaynya menekankan “pengekangan moral” sebagai cara untuk membatasi jumlah penduduk sambil meniadakan derita dan kejahatan, dan disamping itu menghilangkan “segala tuduhan yang masih terasa terhadap kebaikan Yang Maha pemurah”.

Dalam sebuah program untuk memperingati seratus tahun kematian Malthus, dalam tahun 1935, Bonar mengadakan pembelaan terhadap orang-orang yang menurut sangkaan Bonar telah salah mengemukakan, salah membaca dan salah memahami Malthus. Menurut hematnya Malthus dalam mengemukakan masalahnya adalah tegas dan tidak negatif sama sekali. Bonar mengemukakan, bahwa dalam hakikatnya Malthus “menaruh keinginan hati untuk kebaikan ummat manusia” dalam mana tersimpul:

  1. Angka kematian yang rendah bagi semuanya
  2. Tingkat hidup dan pendapatan lebih tinggi bagi orang miskin
  3. Pengakhiran dari pemubajiran hidup manusia muda.

Malthus melihat dengan jelas, bahwa pembatasan terhadap kenaikan angka kelahiran yang cepat makin banyak dipergunakan oleh negara-negara dengan makin tingginya peradaban dan pendidikan mereka dan makin tingginya tingkat hidup yang mereka capai. Karena itu, pandangannya terhadap masa depan masyarakat manusia adalah suatu pandangan yang mengandung optimisme yang hati-hati. Di Inggris sendiri Malthus melihat, bahwa “pandangan yang biarpun hanya sekilas ke arah masyarakat akan meyakinkan kita, bahwa diseluruh golongan, pengawasan preventif terhadap kenaikan angka penduduk telah diadakan disemua tingkat penduduk”. Secara realistis ia telah memperlakukan berbagai kalangan-kalangan – kaum ningrat, saudagar dan petani, buruh dan pelayan rumah tangga – terpisah-pisah, karena perbedaan keadaan ekonomi mereka. Suatu keinginan untuk mempertahankan suatu kedudukan sosial, menurut hematnya akan menghindarkan kawin cepat.

Misalnya:

Seorang laki-laki yang berpendidikan liberal tapi dengan pendapatan yang nyaris cukup untuk memungkinkan ia menyamakan diri dengan tingkatan ningrat, akan merasa yakin, bahwa jika ia kawin dan mempunyai keluarga, dan jika ia bergaul ditengah masyarakat, ia akan terpaksa menggolongkan dirinya dalam golongan petani menengah atau golongan tukang-tukang. Kejatuhan dua atau tiga tingkat dalam masyarakat pada golongan ini, dimana pendidikan terakhir dan ketidak-tahuan mulai, dalam anggapan rakyat umumnya bukanlah bencana yang hanya ada dalam angan-angan saja, tapi adalah suatu bencana yang hakiki dan nyata.

Seperti dapat dibaca dari pengutipan-pengutipan yang dilakukan orang dari karangannya. Malthus tidak dapat dikatakan tak diperdulikan orang dalam masa hidupnya. Akibat langsung dari terbitnya cetakan pertama essay tersebut ialah diadakannya sensus penduduk oleh pemerintah Inggris dalam tahun 1801, satu-satunya tindakan yang mempunyai arti besar semenjak datangnya Armada Spanyol. Usul-usul untuk mengadakan sensus yang dimajukan sebelum itu telah ditolak sebagai sesuatu yang tak bersifat Inggris dan anti skriptual. Hasil lain dari essay itu ialah perobahan undang-undang orang miskin untuk mengelakkan beberapa kesalahan yang ditunjukkan oleh Malthus.

Pengaruh pikiran-pikiran Malthus atas ilmu pengetahuan alam boleh dikatakan sama dengan pengaruhnya atas ilmu-ilmu pengetahuan sosial.Baik Charles Darwin maupun Alfred Russel Wallace mengakui dengan terus terang, bahwa dalam mengembangkan teori “evolusi dengan seleksi alam” mereka harus berterima kasih kepada Malthus. Darwin menulis:

Dalam bulan Oktober tahun 1938, yaitu limabelas bulan setelah aku mulai dengan penyelidikan yang sistematis, kebetulan aku, semata untuk hiburan, membaca Pertumbuhan Penduduk karangan Malthus. Dan karena diriku telah sedia untuk menerima perjuangan untuk hidup (suatu ucapan yang dipergunakan oleh Malthus) yang berdasarkan suatu pengamatan yang lama dan terus menerus dari hewan dan tanaman yang berlaku dimana-mana, maka karangan ini dengan segera meyakinkan aku, bahwa dalam keadaan seperti ini jenis-jenis (variasi) yang serasi akan selamat sedangkan jenis yang tak serasi akan hancur. Hasil dari pada ini ialah suatu spesi baru. Dengan ini akhirnya aku peroleh juga sebuah teori yang dapat kupakai untuk bekerja.

Dalam nada yang sama Wallace menulis:

Buku ini adalah buku pertama yang pernah kubaca yang mempersoalkan masalah-masalah filsafat ilmu hayat. Dan prinsip-prinsip utamanya kusimpan dalam diriku sebagai milik yang tetap, yang duapuluh tahun kemudian memberikan kepadaku kunci, perangsang yang efektif dalam evolusi spesi-spesi organik yang begitu lama dicari.

Proses-proses yang berisi kemarahan yang dilancarkan oleh golongan gereja dan pemberontakan-pemberontakan sosial sebagai sambutan atas edisi tahun 1798 dari Essay itu, tidak dihiraukan oleh Malthus; ia malahan begitu asyik dengan persoalan tersebut sehingga ia bermaksud untuk menyelidikinya selanjutnya. Untuk memperkuat alasan-alasnanya ia menjelajah Eropa tahun 1799 untuk mencari bahan “melewati Swedia, Norwegia, Finlandia dan sebagian dari Rusia, karena inilah negeri-negeri yang kala itu terbuka bagi musafir-musfir Inggris”. Kemudian semasa perdamaian pendek dalam tahun 1802 ia melakukan perjalanan lagi ke Perancis dan Swis. Dalam masa ini ia menyiarkan sebuah pamflet yang berkepala. Sebuah penyelidikan mengenai sebab dari kenaikan harga makanan saat ini; dalam pamflet ini ia berpendirian, bahwa harga-harga dan keuntungan-keuntungan ditentukan terutama oleh apa yang ia sebutkan “permintaan effektif”.

Lima tahun setelah edisi pertama Essay terbit, maka diterbitkanlah versi kedua yang telah ditambah – sebuah volume quarto setebal 610 halaman. Edisi ini kehilangan kekasaran-kekasarannya, gayanya yang lincah, kepastian kebeliaan yang ditemui dalam karya yang asli dan telah mengambil bentuk sebuah pembicaraan masalah ekonomi menurut cara kesarjanaan, penuh dengan dokumentasi-dokumentasi dan catatan-catatan bawah, biarpun prinsip pangkal tidak berubah sama sekali kecuali mengenai perkembangan ide “pengekangan moral”. Selama hidup pengarangnya telah diterbitkan empat edisi lagi. Pada edisi kelima Essay ini telah menjadi tiga jilid yang kesemuanya memenuhi seribu halaman. Ia begitu asyik dengan merubah Essay ini berturut-turut sehingga satu-satunya karya besar yang lain yang dihasilkan oleh Malthus ialah Prinsip-prinsip ekonomi politik dilihat dari sudut kemungkinan pelaksanaannya, diterbitkan dalam tahun 1820.

Riwayat hidup Malthus boleh dikatakan tenang dan penuh kedamaian. Ia bebas melakukan telaah-telaah dan penulisan-penulisan ekonominya dengan tak diganggu-ganggu oleh tanggung jawab lain, sampai tahun 1804 tatkala mana ia menikah, sewaktu ia berumur tigapuluh delapan tahun. Tahun berikutnya ia diangkat menjadi guru besar sejarah modern dan ekonomi politik di East India Company’s Collage yang baru saja didirikan di Haileybury, sebuah lembaga pendidikan dimana diberikan pendidikan umum pada pegawai-pegawai kompeni India Timur. Pengangkatan ini adalah pengangkatan kursi guru besar ekonomi politik yang pertama yang menetap di Haileybury selama tigapuluh tahun, sampai ia meninggal dalam tahun 1834. Ia mempunyai tiga orang anak; dua diantaranya, seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi besar sampai meningkat kemasa dewasa.

Api yang ditimbulkan oleh Malthus tidak pernah mati seluruhnya. Pertentangan-pertentangan pro dan kontra masih saja berlaga dengan hebatnya. Penerbitan-penerbitan baru yang menyokong thesis Malthus seperti Tantangan masa depan manusia. Jalan kepenyelamatan. Batas-batas dunia dan Bumi kita yang digarong telah memancing reaksi-reaksi yang tajam seperti yang terdapat dalam karangan-karangan yang berkepala “Si penakut Malthusian”, “Makanlah dengan puas”, “Kejahatan Melthusian” dan “Manusia tak perlu mati”. Pandangan yang manakah yang dapat disebut pandangan yang sama berat mengenai teori Malthus dalam jaman kita ini?

Suatu faktor besar dalam pertumbuhan jumlah penduduk semenjak pertengahan abad ke-XIX ialah bertambah umumnya diterima teknik kontrasepsi yang telah memungkinkan diadakannya batas keluarga yang berencana, kecuali diantara kalangan yang tidak mengetahui dan kalangan yang merasa dihalangi oleh perasaan keagamaan. Gerakan ini beroleh nama bermacam-macam. Neo-Malthusianisme, pembatasan kelahiran, keluarga berencana dan dapat disebut “suatu gerakan demografik yang terpenting dalam dunia modern”. Malthus terutama menolak dan mengutuki kontrasepsi, dan praktek ini dalam jamannya dianggap orang sebagai suatu “kegiatan, asing dan bertentangan dengan alam”.

Sungguhpun begitu kenyataan ini telah menjadi salah sebuah cara untuk mengendalikan jumlah penduduk dalam masyarakat modern dan dengan demikian menambah faktor keempat kepada trio Malthus “kejahatan, derita dan pengekangan moral”.

Dalam tahun 1800, waktu Malthus menulis bukunya, jumlah penduduk dunia ditaksir sebanyak satu billiun. Dalam masa seratus limapuluh tahun jumlah ini telah berkembang menjadi duasetengah billiun. Perkembangan dalam bandingan yang begitu besar ini tidaklah disebabkan oleh naiknya angka kelahiran yang luar biasa, tapi karena bertambah panjangnya umur manusia. Di negeri-negeri yang telah maju didunia ini tak terhitung jumlah nyawa yang diselamatkan berkat perubahan dalam praktek-praktek pengobatan, kebersihan dan praktek-praktek sosial. Revolusi Industri telah menghasilkan bagi Inggris kenaikan jumlah produksi barang-barang buatan yang tak tepermanai dan hasil ini ditukarkan dengan makanan dan bahan mentah negeri-negeri yang belum berindustri. Segala macam bentuk alat pengangkutan diperbaiki sehingga dengan demikian makin bertambahlah mobilitet. Penduduk yang berlebih dialirkan dengan jalan imigrasi kebenua-benua yang baru dibuka. Ramalan yang mengerikan yang diberikan oleh Malthus dengan cara begini setidak-tidaknya telah diperlambat terjadinya, bahkan bukan mustahil bahwa ia telah dapat dijauhkan untuk selama-lamanya – setidak-tidaknya untuk dunia Barat.

Tapi masih ada sisa bagian-bagian dunia ini yang dapat dipakai sebagai contoh yang baik dari teori-teori Malthus. Timur Tengah, sebagian besar dari Asia dan kebanyakan negara-negara Amerika Tengah dan Amerika Selatan ditandai oleh kesuburan pertumbuhan penduduk yang besar, tapi bersamaan dengan itu terdapat tingkat kematian yang tinggi. Dibagian-bagian itu nyawa yang diselamatkan oleh obat dan kebersihan rupa-rupanya tak berarti jadinya karena adanya kemiskinan dan epidemi.

Sebagai kebalikan dari situasi ini, beberapa dari negara yang paling maju peradabannya dan kebudayaannya, terutama Perancis, Swedia, Pulau Es, Ustria, Inggris, Wales dan Irlandia telah memasuki masa stabilisasi atau penurunan jumlah penduduknya. Stabilisasi ini terjadi karena rendahnya martabat kesuburan, penurunan jumlah orang-orang yang berusia muda dan bertambah panjangnya umur.

Semenjak jaman Malthus produksi bahan makanan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan para ahli sependapat bahwa kita dapat mencapai lebih banyak lagi kemajuan-kemajuan pokok dengan jalan menyempurnakan metodos produksi sehingga menjadi lebih effisien, dengan jalan mengadakan perbaikan irigasi, dengan jalan mempergunakan tanah-tanah baru, penggantian makanan berasal dari tumbuh-tumbuhan dengan makanan berasal dari hewan dan dengan jalan penjagaan lebih baik terhadap serangan-serangan penyakit. Kelebihan hasil tanaman di Kanada dan Amerika Serikat dapat ditunjukkan sebagai suatu bukti dari kekhilafan yang terdapat dalam prinsip Malthus. Tapi biar bagaimana cepatnyapun produksi makanan di Amerika beroleh kemajuan, masih saja beratus-ratus juta manusia di Timur dan ditempat lain yang hidup dipinggir jurang kelaparan atau atas dasar kebutuhan yang sangat minimum. Jadi gambaran yang diperlihatkan oleh barangkali duapertiga penduduk dunia yang menderita kekurangan makan, epidemi penyakit, taraf kesehatan yang rendah dan mengidapkan pelbagai penyakit, memberikan kepada kita kesan seolah-olah masalah yang dimajukan oleh Malthus satu-setengah abad yang lalu sama nyata dan mendesaknya sekarang seperti pada masa itu.

Bahkan para pengeritik yang merasa puas dengan lumpuhnya thesis Malthus dalam segi-segi tertentu yang diakibatkan oleh perkembangan yang tidak atau tidak mungkin dilihat oleh Malthus, mengakui bahwa konsekuensi-konsekuensi besar telah lahir dari buah pikirannya itu. Sebagai dinyatakan oleh Hobbouse, “Teori Malthus adalah salah satu sebab dari lumpuhnya ramalannya sendiri. Karena kepercayaan kepada kebenaran dari pertumbuhan penduduk yang terlalu cepatlah maka orang mulai mengadakan pengendalian.

Diantara begitu banyak pembahas yang telah menulis tentang Essay mengenai prinsip pertumbuhan penduduk karangan Malthus, barangkali tidak ada yang telah mebmerikan pujian yang lebih patut dan lebih tajam dari pada yang telah diberikan oleh John Maynard Keynes, yang percaya, bahwa:

Buku ini berhak untuk beroleh tempat diantara buku-buku yang berpengaruh, besar atas kemajuan berpikir. Ia ditulis menurut tradisi yang asli dalam soal-soal ilmu kemanusiaan – menurut tradisi pemikiran Inggris dan Skot, dimana menurut hematku, terdapat suatu kelanjutan yang luar biasa dari perasaan, jika ia boleh kusebutkan begitu, mulai dari abad ke-XVIII sampai masa kini – suatu tradisi yang disarankan oleh nama-nama seperti Locke. Hume, Adam Smith, Paley, Bentham, Darwin dan Mill. Suatu tradisi yang ditandai oleh suatu kecintaan kepada kebenaran dan kejernihan yang mulia, oleh hygiene yang prosais, bebas dari sentimen atau metafisika, oleh suatu kebebasan dari kepentingan-diri-sendiri yang kuat dan oleh semangat kepentingan bersama. Dalam penulisan seperti ini terdapat suatu kelanjutan, bukan saja dalam soal perasaan tapi juga dalam hal-hal yang nyata. Kedalam kumpulan inilah Malthus bisa digolongkan. (Copyright @ Galeri Buku Jakarta)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Journal

Albert Camus: Cinta dan Peradaban

mm

Published

on

Albert Camus Cinta dan Peradaban

DALAM DRAMA, novel, dan esei-eseinya, Albert Camus telah berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan intelektual – sebagai ujung dari nihilisme – yang sedang dihadapi generasi saat ini. Berulang-ulang ia bertanya: dengan nilai apa kita bisa bertahan di dalam era kekeringan spiritual? Dengan menyinkap ilusi-ilusi dan mempertanyakan semua kemutlakan, atas nama kemanusiaan, Camus menulis tentang cinta sebagai sebuah nilai yang tidak diberikan, tapi tumbuh di dalam sebuah situasi yang hidup.

Dalam The Myth of Sysyphus, Camus pertama kali menggali implikasi dari bunuh diri – untuk hidup atau tidak hidup. Sementara dalam The Rebel, buku yang menjadi rujukan tulisan berikut ini, Camus membahas topic tentang pembunuhan – untuk mempertahankan diri atau untuk tidak mempertahankannya. Sejumlah doktrin pemberontakan yang digagas Camus, memberikan kemungkinan untuk berharap, juga kemungkinan untuk memiliki rasa percaya diri bagi manusia dan masa depannya. “Camus percaya bahwa pemberontakan adalah salah satu ‘dimensi esensial’ dari umat manusia,” demikian tulis Sir Herbert Read pada pengantar buku itu. “Tidak ada gunanya menolak realitas sejarah – alih-alih menolak, dalam realitas itu, justru kita harus mencari sebuah prinsip keberaaan. Namun, cara-cara memberontak telah berubah secara radikal pada masa kita. Pemberontakan tidak lagi antara budak dengan tuannya, bukan pula antara si kaya dengan si miskin. Pemberontakan kini menjadi semacam revolusi metafisik, antara manusia dengan situasi hidupnya sendiri, manusia melawan penciptaannya sendiri. Setidaknya, inilah yang menjadi panduan intelektual Camus.”

Albert Camus adalah salah seorang penulis terbaik Prancis, dan pemenang Nobel Sastera. Novelnya antara lain The Stranger, The Plague dan The Fall. (Cetak ulang dari The Rebel, karya Albert Camus, edisi Vintage Books. Diterjemahkan oleh Anthony Bower. Hak cipta 1956 oleh Alfred A. Knopf, Inc. Perjanjian khusus dengan Alfred A. Knopf, Inc.)

 

Siapakah pemberontak itu? Seseorang yang berkata tidak, tapi penolakan itu tidak sepenuh hati. Ia juga seseorang yang berkata “iya”, tapi sejak pertama kali ia telah bergerak untuk memberontak. Seorang pemberontak adalah budak yang telah melakukan perintah tuannya seumur hidupnya, namun tiba-tiba menolak melakukan perintah yang baru. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud budak itu dengan mengatakan “tidak”?

Maksudnya, antara lain tergambar pada kalimat, “Ini sudah berlangsung terlalu lama”, “Sampai saat ini baiklah, tapi lebih dari ini, tidak.” “Kau sudah terlalu jauh,” atau, lagi-lagi, “Kesabaranku ada batasnya.” Dengan kata lain, kata “tidak” dari si pemberontak menegaskan batas kesabarannya. Konsep yang sama terdapat dalam perasaan si pemberontak, bahwa pihak lain yang ia berontaki “sudah keterlaluan,” bahwa pihak lain itu telah menggunakan kekuasaannya semena-mena dan mulai melanggar hak orang lain. Karena itulah gerakan pemberontakan biasanya sejalan dengan gangguan yang dialami pihak tertentu yang berpikir bahwa itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Itu sebabnya si pemberontak mulai berpikir bahwa, “Ia punya hak untuk…” Pemberontakan tidak akan muncul  tanpa perasaan bahwa si pemberontak pasti benar. Dengan cara inilah budah pemberontak berkata iya atau tidak. Ia menekankan bahwa ada batas-atas, ia mencurigai – dan ingin memelihara — keberadaan hal-hal dalam batasan-batasan itu. Ia mencontohkan, dengan keras kepala, bahwa ada sesuatu dalam dirinya “yang berharga…” dan harus diperhitungkan. Dalam cara tertentu, ia menentang keteraturan dari hal-hal yang menindasnya dengan sebuah keteguhan bahwa hak-haknya tidak boleh dilanggar.

Dalam setiap aksi pemberontakan, si pemberontak muak atas pelanggaran hak-haknya dan merasa dirinya harus diperjuangkan. Karena itu ia membawa nilai-nilai yang mengandung rasa tidak puas dan siap untuk memperjuangkannya, apapun resikonya. Sebelum perasaan itu muncul ia telah lama diam dalam keputusasaan, ia menerima sebuah keadaan, meski ia tahu itu tidak adil. Diam memberikan kesan bahwa seseorang tidak punya opini, dan tidak mengingkan apa-apa. Keputusasaan – memiliki segala hasrat secara umum, sekaligus tidak memiliki hasrat secara khusus. Diam memperlihatkan hal ini.

Namun, pada detik-detik ketika sang pemberontak menemukan suaranya – walaupun hanya berkata “tidak” – ia mulai menginginkan dan mulai menilai. Ia melakukan hal yang berkebalikan dari dirinya sendiri. Ia yang biasanya bekerja karena cambukan tuannya tiba-tiba berbalik dan melawan, untuk mendapatkan pilihan. Tidak semua nilai diikuti oleh pemberontakan, tapi setiap pemberontakan selalu membawa nilai. Atu apakah ini benar-benar pertanyaan tentang nilai?

Kesadaran, betapapun ia membingungkan, berkembang dari setiap aksi pemberontakan yang secara tiba-tiba mengguncangkan persepsi bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang dapat mengidentifikasi dirinya, walaupun hanya sesaaat. Sampai saat ini diidentifikasi itu belum benar-benar dialami. Sebelum memberontak, seorang budak menerima semua perintah yang diberikan kepadanya. Sangat sering ia melaksanakan perintah, tanpa reaksi perlawanan, walaupun perintah itu lebih patut untuk dilawan daripada dilaksanakan. Ia menerima perintah dengan sabar, walaupun hatinya menolak, ia tetap diam karena ia lebih berpikir tentang kebutuhannya, ketimbang hak-haknya. Tapi dengan memudarnya kesabaran, sebuah reaksi – yang berlawanan dengan apa yang ia lakukan selama ini – bisa muncul. Si budak mulai menolak perintah memalukan dari tuannya, dan secara perlahan-lahan ia menolak perbudakan. Aksi itu bisa berkembang lebih jauh dari sekedar penolakan. Ia juga menolak hirarki yang membatasinya dengan majikan, dan meminta diperlakukan sebagai orang yang setara.

Apa yang pada awalnya hanya perlawanan satu orang, lalu berubah menjadi perlawanan semua orang, meningkatkan gairah perlawanan. Bagian dari dirinya yang ingin dihormati diposisikan di tempat yang paling tinggi dari segalanya, dan menganggapnya lebih penting dari segalanya, bahkan dari hidupnya sendiri. Baginya, bagian itu merupakan kebaikan yang paling mutlak. Lalu, ketika diperlukan sebuah kompromi, si budak tiba-tiba memutuskan (“karena inilah yang harus terjadi…”) untuk mengatakan semua atau tidak sama sekali. Maka, dengan pemberontakan, kesadaran dilahirkan.

Tapi, kita bisa melihat bahwa pengetahuan yang diperoleh dari “semua” masih belum jelas ketimbang “tidak sama sekali”, menegaskah bahwa si pemberontak akan berkorban untuk “semua” yang belum jelas itu. Si pemberontak ingin menjadi “semau” – untuk mengidentifikasi dirinya dengan kebaikan yang baru saja ia sadaridan ia mengingkan orang lain mengetahuinya – atau “tidak sama sekali”. Dengan kata lain, ia rela dihancurkan oleh kekuatan yang menguasainya. Ia mau menerima kekalahan terakhir, yaitu kematian, daripada hidup tanpa identitas – misalnya  tanpa kebebasan. Lebih baik mati di atas kaki sendiri daripada hidup di bawah kaki orang lain.

Nilai-nilai, menurut para ahli, “sebagian besar sering mewakili sebuah transisi dari fakta-fakta mejanjadi hak-hak, dari apa yang diinginkan menjadi apa yang bisa diraih (biasanya melalui perantara dari apa yang lumrah dianggap dapat diraih).” Transisi dari fakta-fakta menjadi hak-hak termanisfestasikan – sebagaimana telah kita bahas – dalam pemberontakan. Begitu pula transisi dari “seharusnya ini memang terjadi” menjadi “bagaimana sesuatu harus terjadi.” Terlebih lagi, ide tentang sublimasi bagi seseorang dalam pemberontakan bisa menjadi kebajikan universal. Konsep “semua atau tidak sama sekali” yang muncul tiba-tiba, menunjukkan bahwa pemberontakan, berlawanan dengan opini saat ini, dan walaupun ia muncul karena aksi yang paling individualistik, sesungguhnya ia mempertanyakan tentang arti dari individual.

Jika seorang individu menerima kematian sebagai konsekuensi dari tindakan pemberontakannya, maka dengan tindakan ia mencotohkan bahwa ia bersedia mati demi kebaikan banyak orang – yang dipercainya lebih penting daripada takdir sendiri. Jika ia memilih mati daripada mengabaikan hak-hak yang ia bela, itu karena ia menganggap hak-hak itu lebih penting daripada dirinya sendiri. Itu sebabnya ia bertindak atas dasar nilai-nilai yang belum pasti – tapi dipercayinya ada di dalam dirinya dan diri setiap orang. Kita melihat bahwa ada semaca afirmasi tersembunyi atas sebuah aksi pemberontakan yang meluas hingga melampaui sekedar aksi individual hingga ia menjauh dari lelaku keseorangan dan menjauh pula dari aksi yang didasarkan pada sebuah alasan.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep dari nilai-nilai yang belum terbukti itu bertentangan dengan kemurnian filsafat sejarah – di mana nilai-nilai baru diperoleh (jika memang pernah diperoleh) setelah aksi dilakukan. Analisis terhadap pemberontakan membawa kita pada sebuah kecurigaan yang berbeda dengan pemikiran kontemporer, bahwa pemberontakan adalah tabiat alamiah manusia seperti yang dipercaya oleh orang-orang Yunani. Kenapa harus memberontak jika tidak ada sesuatu yang permanen yang bisa dipelihara dalam diri seseorang? Adalah untuk kebaikan semua orang di dunia bahwa seorang budak menegaskan dirinya setelah ia sampai pada kesimpulan bahwa sebuah perintah telah memenjarakan sesuatu di dalam dirinya, yang bukan miliknya, tapi milik semua manusia – bahkan manusia  yang menghina dan menekannya.

Dua observasi akan mendukung argument ini. Pertama, kita dapat melihat bahwa aksi pemberontakan bukan – secara esensial – sebuah laku egois. Tentunya, ia bisa memiliki motif yang egoistik, tapi orang dapat memberontak sama baiknya dengan perlawanan terhadap penjajahan. Lebih-lebih pemberontak yang tidak memiliki apapun tapi mempertaruhkan segalanya. Ia ingin kehormatan untuk dirinya sendiri, tentunya bila ia mengidentifikasi dirinya untuk memperjuangkan sebuah kelompok masyarakat. Kedua, kita memperhatikan bahwa pemberontakan tidak semata-mata muncul di antara kaum tertekan, tapi dapat pula muncul karena orang lain diperlakukan sebagai kaum yang tertekan. Dalam kasus seperti ini ada perasaan yang sama dengan orang lain. Dan harus ditegaskan bahwa ini bukan identifikasi psikologis – perasaan pura-pura bahwa si pemberontak mengidentifikasi penyiksaan orang lain sebagai penghinaan terhadap dirinya. Sebaliknya, ini sering terjadi karena kita tidak bisa menerima penyiksaan terhadap orang lain yang seringkali dilakukan kepada kita – tapi kita tidak memberontak.

Sejumlah aksi bunuh diri yang dilakukan teroria Rusia di Siberia sebagai protes atas kamerad-kameradnya yang dicambuk dapat menjadi contoh. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perasaan yang menyangkut kepentingan sebuah komunitas. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang-orang yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya dapat menjadi senjata untuk  melawan kita sendiri.  Maka, seorang indivvidu – di dalam dirinya sendiri – tidak memiliki nilai-nilai yang ingin ia bela. Setidaknya dibutuhkan sebuah tata kemanusiaan, untuk melakukannya. Saat memberontak, seseorang mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, dan karena itu ia melampui dirinya sendiri. Dari titik ini, pandangan tentang solidaritas manusia menjadi metafisik. Tapi, untuk saat ini, kita hanya membicarakan solidaritas yang timbul karena pengekangan.

Akan sangat mungkin bagi kita untuk mendefinisikan aspek-aspek positif dalam setiap aksi pemberontakan dengan menbandingkannya dengan konsep-konsep yang negatif seperti dendam sebagaimana dikemukakan Scheler. Pemberontakan, dalam kenyatannya, lebih kepada usaha pencapaian suatu klaim, dalam arti yang paling kuat dari kata itu. Dendam didefinisikan dengan sangat bagus oleh Scheler sebagi autointoksikasi (peracunan diri sendiri)—kejahatan terselubung, di dalam peti yang tersegel, dari ketidakmampuan yang diperpanjang terus-menerus. Sebaliknya, pemberontakan menghancurkan segel itu dan mengizinkan seluruh kemampuan ikut berperan. Ia membebaskan air yang tenang dan mengubahnya menjadi amukan badai. Scheler sendiri menekankan aspek pasif dari dendam dan mencontohkan tempat di mana dendam bersemayam dalam psikologi perempuan, yang terdedikasi untuk menginginkan dan memiliki.

Hulu dari sungai pemberontakan, sebaliknya, adalah prinsip kelebihan aktivitas dan energi. Scheler benar bahwa dendam seringkali diwarnai oleh dengki. Bila dendam adalah kedengkian atas sesuatu yang dimiliki, maka pemberontakan adalah pembelaan terhadap sesuatu yang dimiliki itu. Ia tidak mengklaim barang-barang yang tidak dan ingin ia miliki. Tujuannya yang hanya untuk mendapatkan pengakuan atas sesuatu dimiliki itu—di hampir semua kasus—lebih penting daripada apapun yang bisa ia dengkikan. Pemberontakan tidaklah realistis. Menurut Scheler, dendam aka berakhir dengan ambisi tak terwujud, atau kepahitan, baik dendam orang lemah ataupun orang kuat sekalipun. Dalam kasus apapun, dendam adalah sebentuk keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemberontak, sejak dari langkah pertamanya, menolak orang lain untuk mengubah dirinya. Ia bertarung demi integritas sebuah bagian dari keberadaannya. Tujuan utamanya bukan untuk menguasai, tapi untuk diakui.

Yang terakhir, di sini dendam terlihat mendapatkan kepuasan dengan rasa sakit yang dialami oleh objeknya Nietzsche dan Scheler benar dalam melihat contoh tentang hal ini, di mana seorang Tertulian menginformasikan kepada pembacanya bahwa salahsatu sumber kebahagiaan dari orang yang diberkati adalah dengan melihat orang-orang dari kerajaan Roma dibakar oleh api neraka. Kebahagiaan semacam ini juga dirasakan orang-orang biasa yang pergi melihat eksekusi terpidana mati. Pemberontak, sebaliknya—atas dasar prinsip—bahkan rela mengalami rasa sakit asal integritasnya dihormati.

Karena itu, sulit dimengerti mengapa Scheler menyamakan pemberontakan dengan dendam. Kritiknya terhadap dendam yang dapat ditemukan dalam humanitarianisme—yang ia perlakukan sebagai bentuk non-Kristen dari cinta terhadap umat manusia—mungkin dapat ditempatkan ke dalam bentuk-bentuk tak nyata dari idealism humanitarian, atau pada teknik-teknik teror. Tapi, dendam itu membentuk hubungan palsu antara pemberontakan seorang manusia terhadap keadaannya—semacam kekuatan yang menggerakan seseorang dalam pemelaan terhadap harga diri yang sama bagi semua manusia. Schler ingin mencontohkan bahwa perasaan-perasaan humanitarian selalu disertai oleh kebencian terhadap dunia. Kemanusiaan dicintai secara umum untuk dapat menghindar dari mencintai seseorang secara khusus. Dalam beberapa kasus, ini benar. Dan, lebih mudah untuk mengerti Scheler ketika kita menyadari bahwa gagasan itu muncul dari humanitariansme yang diwakili oleh Betham dan Rousseau.

Tapi cinta manusia terhadap manusia lainnya juga bisa lahir dari hal-hal lain selain dari kalukulasi matematis, atau kesadaran teoritis yang alamiah dari manusia. Sebagai contoh, di wajah utilitarianisme, dan pemikiran Emile ada sejenis logika—sebagaimana yang diperlihatkan oleh Dostovesky dalam karakter Ivan Karamazov—yang berkembang dari tabiat pemberontakan menjadi sebuah kudeta. Scheler menyadari gejala ini dan merancang sebuah konsep yang tergambarkan dengan kalimat: “Tidak ada cinta terhadap sesuatu yang cukup memadai di dunia ini selain cinta terhadap kemanusiaan.” Walaupun pernyataan itu benar, keputusasaan yang dihadirkan oleh Scheler akan berujung menjadi ketiadaan, dan akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap karakter pemberontakan Ivan Karamazov. Drama Ivan, sebaliknya, timbul dari kenyataan bahwa terlalu banyak cinta tanpa objek. Cinta seperti ini bahkan bisa menolak Tuhan dan menghasilkan apapun. Karena itulah diputuskan untuk menjatuhkan cinta kepada umat manusia sebagai laku dermawan yang penuh pujian.

Terlebih lagi, laku pemberontak yang telah kita bahas, tidak muncul atas dasar pencapaian keinginan murni. Sementara kita bersikeras bahwa bagian dari diri manusia yang tidak bisa dikurangi menjadi ide-ide yang harus dipertimbangkan—sisi keinginan alamiah yang menggerakkan sebuah aksi yang hidup. Apakah ini berarti tidak ada pemberontakan yang dimotivasi oleh dendam? Tidak, dan kita sudah mengetahui hal ini sejak awal perasaan benci itu muncul. Namun, kita harus memikirkan bahwa ide pemberontakan, dalam arti luas, mengandung rasa sakit jika kita mengkhiantinya. Dengan demikian, pemberontakan jauh melebihi dendam.

Ketika Heathcliff—dalam Wuthering Heights—mengatakan bahwa cintanya melebihi cinta pada Tuhan dan rela pergi ke neraka untuk menyatu dengan perempuan yang dicintainya. Ia tidak didorong cinta masa muda atau rasa malunya, tapi oleh pengalaman seumur hidupnya. Emosi yang sama menyebabkan Eckhart—dalam sebuah perilaku kemurtadan, bahwa baginya lebih baik pergi ke neraka bersama Yesus daripada pergi ke surge tanpa-Nya. Ini esensi utama dari cinta. Bertola belakang dengan Scheler yang menegaskan tidak mungkin untuk terlalu menekankan tujuan penuh hasrat yang mendasari sebuah pemberontakan dan membedakannya dari dendam. Pemberontakan, meskipun terlihat negative, karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena ia mempertahankan sebuah bagian di dalam diri manusia.

Di Luar Nihilisme

Karena itulah, cara bertindak dari cara berfikikir—yang memperlihatkan bagaimana manusia mengada—dimungkinkan naik ke level yang lebih moderat dari sekedar yang dimilikinya. Setiap perilaku yang lebih ambisius dari ini terbukti bertentangan. Kemutlakan tidak menjadi tujuan dan tidak diciptakan oleh sejarah. Politik bukanlah agama, atau jika iya, itu tidak lebih dari sekadar inkuisisi. Bagaimanakah masyarakat mendefinisikan kemutlakan? Mungkin setiap orang yang mencari kemutlakan itu karena ia di atas segalanya. Tapi masyarakat dan politik hanya bertanggung jawab dalam mengatur setiap urusan, sehingga masing-masing individu bisa memperoleh kenikmatan dan kebebasan. Sejarah, karena itu, tidak dapat lagi dianggap sebagai objek pemujaan. Ia hanyalah sebuah kesempatan yang harus dibuat menjadi berarti oleh sebuah pemberontakan yang hati-hati.

“Obsesi terhadap hasil dan ketidaktertarikan mengulang sejarah,” tulis Rene Char, “adalah dua kutub ekstrim yang ssaya hormati.” Jika durasi sejarah tidak menghasilkan apapun, maka sejarah, akibatnya, tidak lebih dari seubah bayangan yang cepat dan kejam di mana manusia tidak ambil bagian. Orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengulang sejarah sama dengan mededikasikan diri kepada kekosongan, dan karenanya ia tidak menjadi apapun. Tapi orang yang mendedikasikan dirinya untuk masa hidupnya, untuk rumah yang ia bangun, untuk kehormatan umat manusia, sama dengan mendedikasikan diri pada bumi dan karenanya, akan mendapatkan panen dari benih yang ia tanam. Akhirnya, orang yang ingi tahu bagaiman cara memberontak, pada saat yang tepat, melawan masa lalu yang melampaui kepentingannya. Melawan sejarah dapat menimbulkan kesedihan dan tekanan berat sebagaimana telah dibicarakan pula oleh Rene Char. Tapi hidup yang sesungguhnya hadir dalam jantung dikotomi ini. Bahkan hidup adalah dikotomi ini sendiri. Pikiran yang menyeruak dari gunung merapi cahaya, kegilaan pada keadilan dan tuntutan terhadap perubahan.

Kearifan masa kini, dalam bentuk apapun, tidak dapat mengklaim lebih. Pemberontakan yang tanpa lelah melawan kejahatan, dapat melahirkan sebuah perubahan. Manusia dapat menguasai dirinya sendiri dan mengendalikan semua yang dapat dikuasainya. Ia harus menyempurnakan semua yang dapat disempurnakan. Setelah itu, anak-anak tetap akan mati secara tidak adil, bahkan dalam tatanan masyarakat yang sudah sempurna. Meski dengan usaha yang paling keras, manusia hanya dapat mengurangi penderitaan-penderitaan di dunia ini secara aritmatik. Ketidakadilan dan penderitaan akan tetap ada, dan bagaimanapun itu dibatasi, tetap akan menjadi sasaran amuk. Dimitri Karamazov berteriak, “Kenapa?” dan teriakannya akan terus terdengar. Seni dan pemberontakan akan mati hanya dengan matinya manusia terakhir di dunia ini.

Ada sebuah kejahatan—tidak diragukan lagi—yang terakumulasi karena keinginan manusia untuk bersatu. Tapi, ada kejahatan lain yang berakar di dalam gerakan yang tidak dapat ditebak. Berhadapan dengan kejahatan, kematian, manusia—dari hatinya yang paling dalam—akan berteriak untuk keadilan. Sejarah Kristen hanya akan menjawab protes terhadap kejahatan itu dengan janji akhirat dan kehidupan abadi—yang membutuhkan keimanan. Namun, penderitaan memupuskan harapan dan iman, lalu membiarkan manusia sendirian, sehingga penderitaan itu menjadi tidak terjelaskan. Umat yang bekerja keras dan tanpa henti, lelah oleh penderitaan dan kematian, adalah umat tanpa Tuhan. Karena itulah kita harus bersama mereka.

Sejarah Kristen menunda sebuah fase yang berkaitan dengan sejarah kejahatan dan pembunuhan. Materialism kontemporer juga memercayi bahwa para penganutnya bia menjawab segala macam pertanyaan. Tapi sebagaii budak sejarah, ia menambah jumlah pembunuhan, dan pada saat yang sama meninggalkannya tanpa penjelasan, kecuali untuk masa depan—yang lagi-lagi tergantung pada iman. Dalam kedua kasus di atas, orang-orang mesti menunggu, dan selama menunggu itu manusia-manusia tak bersalah terus meneruh mati. Selama 20 abad jumlah total kejahatan di dunia tidak berkurang. Tidak ada surga, baik dari Tuhan ataupun yang secara revolusioner bisa kita wujudkan. Sebuah ketidakadilan tetap terikat pada semua penderitaan, bahkan penderitaan yang paling pantas dijatuhkan sekalipun. Sikap diam Prometheus yang berkepanjangan terhadap kekuatan-kekuatan yang melampauinya terus bergema dalam protes. Tapi Prometheus, sementara itu, telah melihat manusia berlomba dan melindasnya. Ia terjepit di antara kejahatan manusia dan takdirnya, di antara terror dan ketidakpastian, yang memberikan kekuatan kepadanya untuk memberontak, menyelamatkan mereka dari pembunuhan, tanpa menyerah pada arogansi kemurtadan.

Lalu kita mengerti bahwa pemberontakan tidak mungkin ada tanpa cinta—dalam bentuknya yang asing itu. Mereka yang tidak menemukan ketenangan dengan penghambaan pada Tuhan atau tidak menemukan ketenangan dalam sejarah, lalu hidup bagi orang lain—yang seperti mereka—malah tidak bisa hidup, karena mereka hanya hidup untuk orang-orang yang dipermalukan. Karena itu, bentuk paling murni dari gerakan pemberontakan digambarkan oleh teriakan keras Karamazov: jika semua orang tidak terselamatkan, apa gunanya menyelamatkan diri sendiri? Maka, para tahanan Katolik—di dalam rumah tahanan di Spanyol—menolak misa karena para pendeta telah memutuskan misa itu sebagai kewajiban di beberapa penjara. Para saksi yang kesepian yang menyaksikan penyaliban orang-orang tak berdosa juga menolak penyelamatan jika itu harus dibayar dengan ketidakadilan dan penindasan.

Kedermawanan gila ini adalah kedermawanan pemberontakan, yang tanpa ragu-ragu memberikan kekuatan pada cinta dan tanpa sedikitpun penundaan untuk melawan ketidakadilan. Kebajikannya terlihat dengan ketiadaan perhitungan, rela menyerahkan apa saja yang dimiliki demi kehidupan semua orang. Ini adalah berkah yang diturunkan untuk umat di masa depan. Kedermawanan yang nyata di masa depan akan terlihat pada pemberian secara total terhadap masa kini.

Pemberontakan, dengan cara ini, membuktikan bahwa ia adalah sebuah geliat kehidupan dan ia tidak bisa ditolak, kecuali dengan menolak kehidupan itu sendiri. Sebuah pemberontakan menggiring manusia menuju eksistensinya. Pemberontakan adalah cinta, kemajuan, atau bukan apa-apa sama sekali. Revolusi tanpa kehormatan—revolusi yang dikalkulasikan dengan memilih antara konsep abstrak manusia atau tubuh nyata manusia—adalah sebuah gerakan yang menolak eksistensi manusia selama mungkin, dan menaruh dendam sebagai pengganti peran cinta. Pemberontakan yang tergesa, melupakan kedermawanan sebagai watak aslinya, membiarkan dirinya dinodai oeh dendam. Ia menolak kehidupan, melesat menuju kehancuran dan hanya melahirkan kelompok pemberontak yang tidak tangguh. Mereka semua adalah embrio budak, yang akan berakhir dengan menawarkan diri mereka untuk dijual di semua pasar di Eropa, untuk pelayanan dalam bentuk apapun.

Ini tidak lagi menjadi revolusi atau pemberontakan, tapi akan menjadi kebencian, kejahatan dan tirani. Ketika revolusi—atas nama kekuatan dan atas nama sejarah—berubah menjadi tindakan pembunuhan dan menolak perubahan, barulah pemberontakan muncul atas nama perubahan dan atas nama kehidupan. Saat ini kita sedang berada di antara kedua kutub itu. Di ujung terowongan itu kita bisa melihat secercah cahaya yang sudah kita percayai dan harus kita perjuangkan. Di antara reruntuhan, kita sedang mempersiapkan sebuah pencerahan di luar batas-batas nihilisme. Tapi hanya sedikit di antara kita yang mengetahuinya.

Dalam kenyataannya, pemberontakan—tanpa klaim—dapat memecahkan segala masalah, setidaknya berusaha menghadapi masalah itu. Sejak saat ini terik cahaya siang tidak lagi dapat menerangi arus deras sejarah. Dalam gejolak api yng membakar, bayangan-bayangan tentang perang tiba-tiba menyiksa manusia, lalu tiba-tiba menghilang, dan orang buta, dengan jari-jari menjepit kelopak mata mereka, meneriakkannya pada sejarah.

Orang-orang Eropa, telah ditinggalkan oleh bayangan-bayangan itu, kepala mereka telah berpaling dari titik bercahaya itu, juga berpaling dari masa kini. Masa kini dilupakan demi masa depan, nasib kemanusiaan ijual demi ilusi kekuasaan, kesedihan di kekumuhan demi kemegahan kota-kota abadi, keadilan demi sebidang tanah yang dijanjikan. Mereka juga melupakan keputusasaan mereka terhadap kebebasan pribadi dan mimpi tentang kebebasan yang asing dari sebuah spesies; menolak keterasingan dalam kematian dan memberi nama keabadian sebagai kesedihan kolektif. Mereka tidak lagi percaya pada hal-hal yang hidup di dunia, juga pada kehidupan manusia. Rahasia Eropa adalah ia tidak lagi mencintai hidup.

Orang-orang buta di kalangan mereka mempercayai bahwa untuk mencintai satu hari kehidupan cukup dengan menjustifikasi keseluruhan abad penindasan. Karena itulah mereka ingin menghilangkan kebahagiaan dari dunia dan menundanya hingga beberapa saat kemudian. Ketidaksabaran pada batas-batas, penolakan terhadap sisi ganda dari hidup mereka, dan keputusasaan  menjadi manusia, telah mebuat mereka berlebih-lebihan dan tidak manusiawi. Untuk menolak kenikmatan hidup yang sebenarnya, mereka harus mempertaruhkan semua kebaikan mereka. Untuk melakukan hal yang lebih baik, mereka mendewakan diri sendiri, dan ketidakberuntungan mereka pun dimulai; dewa-dewa itu telah membutakan mata mereka. Sebaliknya, Kaliyev, dan saudara-saudaranya di seluruh dunia, menolak untuk didewakan dan menolak kekuasaan tak terbatas untuk melawan kematian. Mereka memilih, dan memberikan contoh kepada kita perihal bagaimana kehidupan hari ini mesti dijalani, yakni untuk belajar hidup dan belajar mati, dan untuk menjadi manusia, menolak menjadi dewa.

Sampai di titik ini, si pemberontak menolak kedewaan demi membagi perjuangannya dengan takdir seluruh umat manusia. Kita akan memilih Ithaca, tanah keianan, dengan mempertaruhkan semuanya, dengan pemikiran yang mengejutkan, aksi nyata, dan kedermawanan dari orang-orang yang mengerti. Saudara-saudara kita bernapa di bawah langit yang sama dengan kita. Keadilan adalah hidup itu sendiri. Kini, telah lahir kegirangan baru yang dapat membantu seseorang, hidup dan mati, dan tidak akan kita pernah lagi menundanya hingga waktu yang akan dating. Di atas bumi yang sedih ada duri-duri yang tak pernah beristirahat, cairan pahit, angina laut yang kasar, fajar lama dan baru. Dengan kegembiraan ini, melalui perjuangan panjang, kita akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan mengenyampingkan apapun. Tidak pula Nietzsche si hantu—yang setelah 20 tahun sejak kejatuhannya—tetap mempengaruhi Barat dengan pengetahuannya yang mengagumkan, juga nihilismenya. Tidak juga nabi keadilan tanpa belas kasih yang hadir—karena kesalahan, dalam rencana orang-orang tak beriman—dipemakaman Highgate. Tidak juga mumi yang didewakan. Tidak juga bagian manapun dari kecerdasan dan energy Eropa yang telah menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya tak pantas dibanggakan. Semuanya dapat hidup kembali secara berdampingan dengan martir pada 1905, dengan syarat mereka saling membenarkan satu sama lain, dan itulah sebuah batas, di bawah matahari, yang mengendalikan semuanya. Satu sama lain saling mengatakan bahwa ia bukan Tuhan. Inilah akhir dari romantisisme. Kini, kita harus menarik busur guna melesatkan anak panah menuju sasaran baru, untuk menguasai kembali—baik di dalam maupun karena sejarah—apa yang sesungguhnya sudah kita miliki, cinta yang singkat di bumi ini, di zaman ini. Busur dikekang; kayu menegang. Pada ketegangan tinggi, akan melesatkan sebuah anak panah yang kokoh dan bebas. (*)

Continue Reading

Trending