Connect with us

Tabloids

Terkadang Kata-Kata Melipat Sayapnya, Lalu Mati

Inquiries Journal / Getty Image
mm

Published

on

… Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar. Tentu saja kau bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus. Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Satu-satunya Rekaman Virginia Woolf yang Bertahan

“Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris pada dasarnya penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang, berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menuliskannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.”

Begitulah rekaman dengan Virginia Woolf dimulai, pertama kali disiarkan oleh BBC pada 29 April 1937 sebagai bagian dari sebuah seri yang berjudul Words Fail Me. Hanya delapan menit dari rekaman aslinya yang tersisa dan ini diyakini sebagai satu-satunya rekaman yang bertahan dari penulis Inggris ini.

Untuk menandai ulang tahun kematian Woolf yang ke-75, BBC Culture dan BBC Britain merangkum rekaman tersebut menjadi sebuah esai dengan judul Craftmanship dan dipublikasikan sebagai bagian dari koleksi The Death of the Moth, and Other Essays.

Rekaman tersebut adalah sebuah petunjuk tentang bagaimana Woolf melihat kegiatan kepenulisan.

“Kata-kata,” dia menyimpulkan, “menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Berikut adalah transkrip rekaman Virginia Woolf yang dipublikasikan BBC pada 1937:

Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris secara alami penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menulisakannya di masa sekarang-bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.

Sebagai contoh kata “incarnadine” yang sangat indah—siapa yang dapat menggunakannya tanpa harus mengingat “multitudinous seas?” Pada zaman dulu tentu saja ketika bahasa Inggris merupakan bahasa yang baru, penulis dapat memenukan kata-kata baru dan menggunakannya. Di masa sekarang cukup mudah untuk menemukan kata-kata baru—mereka bermekaran di bibir bilamana kita melihat sesuatu yang baru atau merasakan sebuah sensasi yang baru—tapi kita tidak dapat menggunakannya karena bahasa adalah hal yang begitu kuno. Kau tidak bisa menggunakan sebuah kata baru dalam bahasa yang kuno karena sesuatu yang sangat jelas namun juga sebuah fakta misterius bahwa sebuah kata bukanlah entitas tunggal dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari kata-kata lain. Kata tidak akan benar-benar menjadi sebuah kata sampai ia menjadi bagian dari sebuah kalimat.

Baca Juga:

Kata-kata saling meliliki satu sama lain, meskipun tentu saja hanya seorang penulis besar yang tahu bahwa kata “incarnadine” dimiliki oleh “multitudinous sea”. Menggabungkan kata-kata baru dengan kata-kata lama adalah kesalahan fatal dalam konstitusi kalimatnya.

Virginia Woolf, smoking at London 1939 / Getty Image

Untuk dapat menggunakan kata-kata baru secara tepat kau harus menemukan sebuah bahasa baru; dan meski tiada keraguan bahwa kita akan sampai kesana, hal itu bukan merupakan tugas kita saat ini. Tugas kita adalah untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan bahasa Inggris sebagaimana adanya. Bagaimana kita bisa menggabungkan kata-kata lama di dalam aturan-aturan baru sehingga mereka bertahan, agar mereka menciptakan keindahan, agar mereka menceritakan kebenaran? Itulah pertanyaannya.

Dan orang yang dapat menjawab pertanyaan itu layak mendapatkan segala simbol keagungan yang dunia dapat tawarkan. Pikirkan seberapa pentingnya jika kau dapat mengajar, jika kau dapat mempelajari, seni penulisan. Mengapa, tiap-tiap buku, tiap-tiap surat kabar akan memberitahukan kebenaran, meciptakan keindahan. Akan tetapi akan tampak bahwa ada rintangan di perjalanan, beberapa gangguan dalam pengajaran kata-kata. Meskipun pada saat ini setidaknya 100 profesor sedang mengajar literatur dari masa lampau, setidaknya seribu kritikus meninjau literatur masa kini, dan beratus-ratus pemuda dan pemudi melewati ujian literatur bahasa Inggris dengan nilai yang sangat baik, tetap saja-apakah kita menulis dengan lebih baik, apakah kita membaca dengan lebih baik ketimbang saat kita membaca dan menulis 400 tahun yang lalu ketika kita tidak menerima kuliah, tidak dikritik, tidak dididik? Apakah literatur Georgia kita merupakan tambalan bagi literatur zaman Elizabeth?

Lalu dimana kita harus menempatkan kesalahan itu? Bukan pada profesor kita; bukan pada peninjau kita; bukan pada penulis-penulis kita; tetapi kata-kata. Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar.

Tentu saja kau bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus. Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. JIka kau inigin membuktikannya, coba bayangkan seberapa sering pada saat-saat emosional ketika kita sangat membutuhkan kata-kata kita tak menemukan apapun. Meskipun begitu, kamus itu ada; ada dalam benak kita setengah juta kata-kata, semua dalam urutan alpabet.

Akan tetapi dapatkah kita menggunakannya? Tidak, karena kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. Perhatikan kembali pada kamus. Disana tanpa keraguan terhampar pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih indah dari pertunjukkan Antony dan Cleopatra; puisi-puisi yang lebih memikat dari Ode to a Nightingale; novel-novel dimana selain Pride and Prejudice atau David Copperfield adalah kecerobohan yang parah dari para amatir. Ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang menemukan kata-kata yang tepat dan menempatkannya pada urutan yang tepat. Tetapi kita tidak dapat melakukannya karena mereka tidak hidup di dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Dan bagaimana mereka hidup di dalam pikiran? Dengan aneh dan beranekaragam, selayaknya hidup manusia, dengan bertolak ke segala arah, dengan jatuh cinta, dan menyatu bersama. Benar adanya bahwa mereka lebih sedikit terikat dengan perayaan dan konvensi sebagaimana kita manusia. Kata-kata agung kerajaan menyatukan diri dengan kata-kata orang biasa. Kata-kata dalam bahasa Inggris kawin dengan kata-kata dalam bahasa Prancis, kata-kata dalam bahasa Jerman, kata-kata dalam bahasa India, kata-kata dalam bahasa Negro, jika mereka mempunyai sebuah ketertarikan. Tentu saja, semakin jarang kita menyelami masa lalu dari bahasa Ibu, bahasa Inggris kesayangan kita, itu akan lebih baik bagi reputasinya. Karena dia telah jauh mengembara.

Untuk itu menetapkan hukum apapun bagi pengembaraan yang tak tergantikan itu adalah hal yang lebih buruk dari kesia-siaan. Beberapa aturan tata bahasa dan ejaan yang tak penting adalah satu-satunya batasan yang bisa kita kenakan padanya. Satu-satunya yang bisa kita katakan tentangnya, selagi kita memandangnya dengan tajam melalui tepian gua besar yang dalam, gelap dan hanya sesekali diterangi tempat dimana mereka tinggal—di pikiran—

apa yang bisa kita katakan tentangnya adalah bahwa tampaknya mereka menginginkan manusia untuk berpikir dan merasa sebelum menggunakannya, bukan berpikir dan merasa tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lain.

Mereka sangat sensitif, mudah sekali dibuat sadar akan dirinya. Mereka tidak suka kemurnian dan ketidakmurniannya didiskusikan. Jika kau memulai sebuah perkumpulan untuk Bahasa Inggris Murni, mereka akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan memulai yang lain untuk bahasa Inggris tidak murni—sebab itu kekerasan yang tidak alamiah dari ungkapan yang lebih modern; itu adalah sebuah protes melawan puritan. Mereka juga sangat demokratis; mereka percaya bahwa satu kata sama baiknya dengan yang lain; kata-kata yang tak terdidik sama baiknya dengan kata-kata yang terdidik, kata-kata yang tak terolah selayaknya kata-kata yang terolah, tidak ada peringkat atau pangkat dalam perkumpulan mereka.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Tak juga mereka senang dinaikkan dalam tulisan dan diperiksa secara terpisah. Mereka melekat bersama, dalam kalimat-kalimat, dalam paragraf-paragraf, terkadang untuk seluruh halaman dalam satu waktu. Mereka benci menjadi berguna; mereka benci menghasilkan uang; mereka benci dikuliahi di muka umum. Singkatnya mereka membenci segala hal yang melekatkan mereka pada satu makna atau membatasi mereka dengan sikap tertentu, karena merupakan sifat dasar mereka untuk berubah.

Mungkin itu adalah keanehan mereka yang paling mencolok—kebutuhan mereka akan perubahan. Ini dikarenakan kebenaran yang ingin mereka tangkap mempunyai banyak sisi, dan mereka menyampaikannya dengan menjadikan diri mereka sendiri mempunyai banyak sisi, bergerak ke arah sini, lalu ke sana. Apa yang bermakna satu hal bagi seseorang, memiliki makna yang berbeda bagi orang lain; mereka tak terjelaskan dalam satu generasi, sederhana seperti ujung tombak bagi generasi berikutnya. Dan karena kompleksitas inilah mereka bertahan.

Mungkin salah satu alasan mengapa saat ini kita tidak memiliki seorang penulis puisi yang, novelis atau kritikus tulisan yang besar adalah karena kita menolak kebebasan dari kata-kata. Kita menempelkan mereka pada satu makna, makna yang membuat kita mengejar kereta, makna yang membuat kita lulus ujian. Dan ketika kata-kata ditempelkan ke suatu tempat, mereka melipat sayapnya dan mati.

Terakhir dan dengan sangat berempati, kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya; tapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka.

Bahwa jeda diberikan, bahwa selubung kegelapan diturunkan, untuk menggoda kata-kata agar menyatu dalam salah satu perkawinan yang singkat itu, yang mana merupakan gambaran sempurna dan menghasilkan keindahan yang abadi. Tapi tidak—tak satu pun hal itu akan terjadi malam ini. Anak-anak malang itu sedang kehilangan kendali; tidak ingin menolong orang lain; tak patuh; tolol. Apa yang sedang mereka gumamkan itu? “Waktu sudah habis! Diam!” (*)

___

Marlina Sophiana & Sabiq Carebesth

Diterjemahkan dari BBC Culture—

The Only Surviving Recording of Virginia Woolf

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Sublim Imajinasi Perempuan

mm

Published

on

Letter From The Editor

Akan tetapi memahami karakter seseorang merupakan tugas yang rumit—sebab saat kita mencoba untuk memahami seseorang seutuhnya, kita berisiko memampatkan orang itu ke dalam bayangan kita tentang orang itu, daripada melihat dia sebagaimana dirinya sendiri.

__

Perempuan harus memiliki sisi maskulinnya, lelaki juga sebaliknya. Hanya dengan kemampuan menyelami identitas pada masing-masing yang digaris berbeda itu, empati mungkin ditumbuhkan. Sekaligus pengetahuan dimungkinkan tercipta. Bahwa berbeda mestinya bukan penghalang untuk membangun jembatan hubung tanpa harus memaksakan saling mengatasi dan mengalahkan. Wacana semacam itu datang dari pemikiran dan permenungan Virginia Woolf.

“Kesalahan yang fatal untuk menjadi laki-laki atau perempuan yang utuh dan sederhana, seseorang haruslah perempuan yang kelaki-lakian atau laki-laki yang keperempuan-perempuanan…Perkawinan antar yang bertolak belakang itu harus terjadi” (A Room of One’s Own).

“.. [m]engadu jenis kelamin satu dengan lainnya, kualitas melawan kualitas; segala hal yang mengklaim superioritas dan menuduhkan inferioritas, [peran-peran tersebut yang] berasal dari panggung pendidikan privat dalam eksistensi manusia di mana terdapat ‘pihak-pihak,’ dan sangatlah penting bagi pihak yang satu untuk mengalahkan pihak yang lain, dan betapa pentingnya untuk berjalan menuju panggung dan menerima pot ornamental yang bernilai itu langsung dari tangan sang kepala sekolah.” Tulis Woolf Dalam risalah anti-perangnya Three Guineas.

Pertanyaan kecil lalu melesat: kenapa pengetahuan penting dan mendasar semacam itu tidak datang dari pemikiran laki-laki? Alih-alih bahwa hal besar selama ini diklaim hanya mungkin dilahirkan dari batok kepala laki-laki?

Saya rasa itu pula halnya, imajinasi yang menyublim dari perempuan menembus ke dalam wilayah-wilayah mendalam yang kerap enggan diselami pemikir laki-laki. Arenanya di dalam, mungkin tenggelam dan selain melelahkan, menyelam juga menjauhkan dari euforia daratan yang ramai dan gegap.

Pada imajinasi semacam itu—dan bukan sebuah klaim pembenar, dapat ditemukan dan dihadirkan bagaimana imajinasi perempuan menyublim dalam—dan kecuali karena suatu konvensi sosial yang entah sejak kapan menjadi dominatif, imajinasi kaum perempuan melesat jauh kedalam, sisi-sisi gelap manusia baik laki-laki mau pun perempuan, dan melalui karya-karyanya mereka, tidak sedikit bahkan menjadi pondasi kokoh bagi banyak aras pengetahuan menyangkut ihwal publik yang tidak hanya untuk kepentingan identias salah satunya baik laki-laki atau perempuan, tetapi pada hal lebih mendasar: manusia dan kemanusiaan.

Tidak dalam upaya membandingkan atau mencari celah persamaan. Bahwa sulit untuk mengugkapkan kejelasan atas gagasan semacam itu. Tetapi saya ingin mengutipkan frasa terakhir penyair perempuan Oka Rusmini dalam prolog untuk kumpulan sajaknya “Warna Kita” (2007): “bukankah kembang sepatu masih berbeda dengan kamboja, sekalipun mereka sama bernama bunga?”. Selengkapnya catat Oka begini:

“Kalau sajak-sajak saya banyak menyuarakan perempuan, itu bukan karena soal “gender” semata-mata. Bagi saya, bahasa laki-laki dan perempuan tetap beda. Masing-masing wilayahnya tak mungkin bisa dimasuki dengan mudah. Bukankah kembang sepatu masih berbeda dengan kamboja, sekali pun sama bernama bunga?”

Dan kiranya jembatan untuk memasuki wilayah keduanya adalah suatu empati. Yang oleh Woolf dikatakan sebagai:  dorongan untuk memahami “karakter” seseorang, dorongan itu merupakan gapaian ke arah kehidupan batin orang lain yang memungkinkan adanya relasi.

“Tidaklah mungkin untuk hidup setahun tanpa bencana kecuali kita berlatih membaca karakter dan punya sedikit kemampuan dalam seni itu. Relasi pernikahan kita, relasi persahabatan kita bergantung padanya, relasi bisnis kita terutama bergantung pada kemampuan itu; setiap hari muncul pertanyaan yang hanya bisa diselesaikan dengan bantuannya” (“Mr. Bennett and Mrs. Brown”).

Akan tetapi memahami karakter seseorang merupakan tugas yang rumit—sebab saat kita mencoba untuk memahami seseorang seutuhnya, kita berisiko memampatkan orang itu ke dalam bayangan kita tentang orang itu, daripada melihat dia sebagaimana dirinya sendiri.

Begitulah kiranya edisi ini memilih “Sublim” sebagai edisi pembuka dan perdana hadirnya majalah ini. Sublim tidak hanya kedalaman, kemurnian, tetapi juga keluasan. Sebagaimana “Imajinasi Perempuan”.

___

Sabiq Carebesth–Pemimpin Redaksi 

*) Edisi Perdana Majalah “Book Review and More” akan rilis perdana pada Akhir Desember atau awal Januari 2020.

Continue Reading

Tabloids

Joker dan Review Yang Sama Ambigunya—dan tidak lucu!

mm

Published

on

getty image | https://durangoherald.com

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan selera humornya untuk diterima masyarakatnya! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan! —Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

__

Bayangkan, anda duduk di Kereta KRL khas peradaban urban abad 21. Dalam perjalanan petang menuju pulang yang rentan karena buruknya keadaan. Terpinggirkan oleh sistem dan miskin. Dilecehkan karena sakit mental yang nyaris tak bisa dipahami. Sementara anda harus menerima kenyataan bahwa ibu yang pesakitan di rumah bergantung dengan jerih payah anda di luar, sebagai badut kota (Kota Gotham, red).

Sementara baru saja, anda menjadi korban dari buruknya moral warga kota. Kekerasan, nir empati, dan sejarah menempatkan anda terus, seperti selalu, secara terhubung dan acak: sebagai korban kerasnya kehidupan kota.

Dalam kecamuk beban personal yang tampak tak bisa lagi diakrabi, malah seperti musuh dalam selimut yang menjadikan waham dan implus seperti menyerbu pikiran nyaris tanpa jeda, tanpa kategori dan mengeroyok akal sehat anda yang memang telah sakit.

Lalu di depan anda, dalam gerbong sebuah kereta dalam perjalanan petang yang melelahkan: tiga orang pekerja mapan membuat keributan, menyatroni dengan tindakan sexis pada perempuan yang duduk manis sendiri di dalam kereta sambil membaca buku—batin anda terguncang, muak pada tatanan, hasrat membuat kategori “watak sebagian mewakili keseluruhan” membuncah: beginikah adab orang kaya? Kenapa orang-orang tak peduli? Kosong empati bahkan pada orang yang sakit secara mental seperti anda, yang tak bisa menahan tawa sendiri meski anda menginginkan untuk membisu!

Image via Warner Bros.Maka dor dor dor.. Joker si lemah yang sakit dan terguncang bereaksi di luar kendali sadarnya sendiri. Kesadaran hanya waham dan implus yang tak pernah terang dalam rasionalitas yang tersisa dalam benaknya. Petang itu ia telah jadi pembunuh, sengaja atau tidak, sadar atau alpa!

Apa yang telah dimulai lalu hanya punya satu hasrat, dituntaskan. Dendam pribadi berganti rupa dalam wujud ambigu sebagai dendam (kelas) sosial. Dor dor dor! Tiga lelaki kelas menengah mapan yang bekerja di kantor bursa saham Wall Street mati terkapar—tuntas dan impas terasa! Semua berlangsung dengan cara brutal dan mengerikan. Sisi lain dari kenekatan manusia pun tergambar dengan konstan!

*

Selanjutnya waktu seperti berjalan tanpa jeda, tak pernah ada lagi rasa lega. Memupuk pikiran dengan begitu banyak kegelisahan dan kecewa. Implus implus kekecewaan, dikebiri, berkecamuk bersama rasa takut sekaligus frustasi, memupuk sakit yang kian dalam. Tak ada jeda tidur atau makan dengan pelan dan penuh perhatian, percintaan atau rumitnya asmara. Waktu habis dalam protes mersepsi ketidakadilan, keterkucilan dan “nasib sial”.

Dendam kian tak tertahan—meski bimbang. Resepsi berjalan lambat tapi pasti segera menjadi perlawanan, “rebellion” pada hidup yang tidak hanya absurd tapi sial.—sementara dendam kian meminta dituntaskan sejak keberanian yang berujud kenekatan kesadaran mengendap seperti morfin. Membuatnya kecanduan pada kehendak bebas untuk bertindak dengan pembenaran moral subjektif. Berharap bahwa memang sudah bagiannya menjadi martir. Menuntaskan tugas yang datang dari ketiadaan kebahagiaan sepanjang hayat!

*

Sementara di luar sana terus berlangsung, normal dan tampak tanpa beban; orang-orang kaya mengambil ruang publik untuk memoles kemunafikan menjadi hal wajar (sebagaimana Brett Cullen—diperankan Thomas Wayne yang kaya, rajin sedekah, tapi tak pernah mau rugi dan selalu tampak jijik dengan segala yang kumal dari kemiskinan jalanan).

Orang-orang sepertinya menampilkan pesona juru selamat sementara tak ada hal nyata yang dibuat untuk membantu sesama. Mereka menghancurkan semesta sosial dengan cara yang ditutupi oleh aristokrasi, fashion, kesopanan dan hal-hal mulia yang disepakati dunia modern yang kapitalistik. Dunia di luar telah mengambil hak begitu banyak orang yang dengan hayalannya, Joker jadikan mereka “kawan” sependeritaan meski tanpa persetujuan. Orang-orang yang terdampak deregulasi, pencabutan subsidi, pajak tinggi dan hal lain dari kongsi aneh kapitalisme dan birokrasi rente dan korup—yang dalam kasusnya telah menghilangkan kesempatannya untuk melakukan terapi psikiatri yang selama ini sedikit meredam penyakitnya yang membuncah! Tapi “sory”, setelah ini tidak ada lagi !

Apa yang bisa ia katakan kepada sistem yang tidak memihak? Pada modal dan regulasi  yang tidak ada wujudnya tetapi terus eksploitatif tanpa bisa dikendalikan? Pada dimensi yang sama, ia mendapati kegagalannya sendiri yang makin akut. Dipecat dari pekerjaan. Menyadari dirinya hanya Anak tanpa bapak yang mau mengakui meski telah ia perjuangkan. Sakit mental yang kian menakutkan dan membebani. Ia benar-benar tak lebih dari komedian yang gagal membuat satu lelucon pun!

Sementara ia berharap orang tertawa pada leluconnya, yang ia dapat hanya; ia ditertawakan dengan menjijikkan karena kegagalan dari selera humornya untuk diterima masyarakat sekitar! Orang-orang berkata: Itu tidak lucu—tapi menyedihkan!

Ia segera melampaui kemanusiannya sendiri. Terasing dari diri sendiri, dari manusia lain dan juga kemanusiaan. Dan bisa diduga, pilihannya bertahan di kolong langit yang ia gambar sendiri sebagai kelam kelabu hanya mungkin ia tinggali jika ia memutuskan untuk terjerembab lebih dalam ke dalam standar moral dari hayalannya sendiri tentang nilai-nilai. Meski ia menentang, tapi ia tak sanggup berhadapan dengan kecamuk yang dibuat otaknya sendiri. Betapa berbahayanya otak!

Frances Conroy sebagai Penny Fleck, ibu Arthur

Pembunuhan demi pembunuhan pun berlangsung dengan kian tidak terimanya ia pada keadaan. Dendam telah dimulai dilangsungkan dan akan terus meminta korban! Ia lalu membunuh ibunya (Penny Fleck, diperankan dengan kaku dan menjengkelkan oleh Frances Conroy—karena memang sebaiknya ia berperan demikian) yang tidak hanya telah merepotkannya tapi kemudian juga ia ketahui menelantarkan masa kecilnya. Dan penelantaran adalah kejahatan yang layak mendapat pelunasan dendam. Ia membekap ibunya yang terbaring di rumah sakit, mati!

Terapis yang disangkanya hanya menjalankan formalitas kerja tapi tak pernah benar benar mendengarkannya sebagai pasien kecuali mengatakan hal-hal sama setiap kalinya dan monoton—adalah penipu yang juga layak mendapat penuntasan dendam. Tuntas! Murray Franklin (diperankan sangat lambat dan apik oleh Robert de Niro) tak ubahnya, ia telah bernasib buruk dengan keyakinan pada kebaikannya sendiri terhadap seorang yang tampak polos dan penuh harap juga rasa kagum seperti Arthur padanya—tapi ia lupa, ia melanggar hak personal Arthur sang Joker, sebab menayangkan lelucon dan pengebiran terhadapnya tanpa izin. Dan ia juga layak…

Nihilistik

Nihil, semua nihil. Joker menjadi moralis bebas yang tak memerlukan konfirmasi masyarakatnya tentang tindakannya benar atau salah. Baik atau buruk—semua ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebagai manusia bebas kehendak. Ingat Nietzsche tentang Übermensch? Manusia super yang digambarkan bebas kehendak, tak memerlukan konfirmasi moral selain dirinya sendiri.

Image via Warner Bros.

Todd Phillips—sutradara, produser, sekaligus penulis naskah film ini—3000 % berhasil membuat Arthur Fleck (Joaquin Phoenix) memainkan adegan merokok dengan sangat elegan dan luwes! Nyaris sepanjang film berlangsung! (merokok tampak sangat nikmat untuk mereka yang menghirupnya bagai menghirup penderitaan dan aroma hidup yang kian payah). Lebih dari itu film ini memberi gambaran ambigu lain bagi narasi tentang pahlawan dan manusia super!

Psikososial Karl Jung mendeklarasikan gagasanya dengan intim dalam film ini, kegelisahan kolektif atau akumulasi dari sakit sosial individual untuk melampaui gagasan Freud tentang neurosis. Film ini menempatkan Karl Jung dengan teori psikososial dan neurosis dalam proses individuasi dengan lebih tinggi ketimbang Freud. Anda harus membaca kedua pemikiran tersebut untuk menikmati kepulan asap kegelisahan yang dibakar film ini.

Demikianlah Joker—lelucon yang tak pernah sekali pun lucu! Komedi hidup yang selalu lahir dari kegetiran yang memuncak menjadi frustasi sosial. Tanpa nilai—nihilis—tetapi sebagaimana banyak nihilis, ia tak sempat memeriksa kembali nilai nilai sebagaimana dimandatkan Nietzsche. Mereka hampir semuanya, baru pada tahap meruntuhkan nilai-nilai tanpa pernah meniliknya kembali untuk melahirkan nilai nilai baru yang diharapkan menjadikan kehidupan ini sembuh dari sakit sosialnya.

Ambiguitas Moral

Lalu mari ajukan pertanyaan untuk menilai apakah Joker dan personifikasi atas penokohannya baik atau buruk? Dia salah, atau sistem sosial yang sakit telah melahirkan pribadi seperti Joker? Pertanyaan itu kita pinjam dari tesis pokok pemikiran Erich Fromm: mana yang anda pilih—masyarakat (sistem) yang sakit atau individu yang sakit? Yang membuat peradaban kita dalam sakit?

Dalam istilah masyarakat Prancis awal abad 19 yang juga dipinjam Formm sendiri;  la maladie du siècle—masyarakat yang sakit. Tirani oleh negara kapitalis atau tirani anarkisme oleh kaum tertindas? Serentetan pertanyaan (masalah) khas abad 21 atau bahkan persis sejak setelah renaisance mendeklarisakan diri dan pencerahannya melahirkan kapitalisme sebagai anak haram yang enggan diakui bapak humanisme di muka bumi ini.

Dan kita sekarang pun rasanya belum bisa menjawab pertanyaan semacam. Bahkan keadaanya jauh lebih rumit dan sulit. Meski dari kerumitannya terus menghasilkan kegemilangan dalam filsafat, kemajuan teknologi, seni dan psikologi—tak terkecuali film Joker sendiri. Adalah buah dari masalah masalah abad kita!

Film ini memberi kita gambaran, bahwa kesadaran, perlawanan, rupanya memiliki banyak wajah dan motif, tak terkecuaki ekspresi yang lahir dari ketertekanan, rasa cemas, takut dikebiri dan takut terasing dari manusia dan kemanusiaan itu sendiri. Dan Joker menunjukkan salah satunya—dengan eksperesi memuncak; dendam harus dituntaskan, tak seperti rindu, dendam melahirkan anarki, menjadikan sejarah buta sehingga bisa memakan korban siapa saja tak peduli ia baik atau buruk. Kaya tau miskin.

Dendam membuat sejarah tak pernah memiliki tujuan pasti sehingga membuat kita sebagai mahluk sejarah seperti terus terkutuk dalam ambiguitas, kebingungan! dan keterlambatan mereka para bijak bestari untuk menyedikan jawaban (sementara) bagi kebingungan umatnya bisa berakibat fatal pada segala rupa praktik ekspolitasi, kolonialisme, diskriminasi, yang darinya setiap kali akan melahirkan penderitaan dan kegetiran baru, Joker-Joker baru,—yang tak pernah bisa menertawakan dirinya sendiri apalagi menghibur orang lain.

Dunia yang kita tinggali mungkin memang dunia yang sakit. Dan kebahagiaannya hanya ilusi yang bergantung pada kemampuan imajinasi. Kenyataan tak pernah benar-benar membahagiakan terutama bagi mereka yang papa dan dipinggirkan oleh kita yang sesekali merasa sanggup berbahagia.

Maka solidaritas dan empati sosial harus dibangun, hukum yang adil, kekuasaan yang bermoral pada landasan kemanusiaan harus tegak sebagai kapal di tengah dunia kita yang tak ubahnya laut bergelombang Tsunami—dan lebih mengerikannya; kita tak pernah benar-benar persis tahu ke mana kapal sejarah ini hendak menuju.

Seperti film Joker yang konstan, menerkam kita sejak mulai sampai akhir, nyaris tanpa jeda dan acuan, tulisan ini dibuat naratif dengan pola alur yang sama. Lantaran saya sendiri memiliki ketakutan dan beban psikis yang sama tak lucunya.

*

Lalu apa moral film ini? Tidak ada. Sebagaiamana nihilisme Nietzsche, ia hanya bertugas mengguncang, meledakan dinamit, merangsek dengan kegelisahan sampai nilai nilai kemapanan runtuh. Kita diharapkan “menilai kembali nilai nilai—semua nilai tanpa kecuali.” Untuk menghadirkan wajah dunia yang lebih baik dan humanis, jika saja itu mungkin. Sungguh tugas berat yang tak pernah dikerjakan para nihillis dan memang demikian adanya.

Kesimpulan? Saya kutipkan saja langsung dari pemeran dan rumah produksi film ini—yang dilontarkan paska heboh di negara asalnya, mengingat film ini sampai memaksa Departemen keamanan nasional AS, Department of Homeland Security, Kepolisian Los Angels dan bahkan FBI, menerbitkan memo khusus peringatan keamaan kota akibat protes yang berlangsung setelah rilis film ini karena khwatir kekerasan akan ditiru di dunia nyata. Atau yang sebenarnya film ini meniru dunia nyata? Entahlah.

Sang sutrada mengatakan bahwa kekhawatiran semacam itu berlebihan, mengingat ini hanya fiksi. “It’s just a movie about a character that’s going through a transformation. To me, it just feels like, I don’t know how to put it into words, it’s just not a big deal.”

Sementara pemeran utama film ini, Joaquin Phoenix, mengajukan pembelaan senada: “I think it’s really good … when movies make us uncomfortable or challenge us or make us think differently.”

Saya kira dia tidak akan mendapatkan Piala Oscar meski layak—tetapi seperti Nietzsche yang melahirkan hologan supernya sendiri, Phoenix akan memiliki pengagumnya—yang mungkin berbuat lebih jauh dari yang bisa ia kira sebagaimana Nietzsche memiliki pengagum seperti Hitler. Jadi wajar saja sebagian penduduk di US khawatir. Semoga saja tidak..

WarnerMedia selaku rumah produksi film ini menyatakan dalam rilis medianya, sebagaimana dikutip CNN, “the movie does not aim to hold this character up as a hero.”

Dia bukan pahlawan tentu saja—mengingat kita telah biasa memahami pahlawan sebagai “Super” dan mentalnya ditampilkan tidak sakit. Ya meski pahlawan sesempurna itu barangkali memang hanya ada di dunia fiksi?

Jadi sudahkan Anda hari ini berhasil menghibur diri sendiri dengan lelucon yang nyaris sama sekali tidak lucu? Saya sendiri tampaknya hari ini berhasil—dengan menulis ulasan yang sama sekali tidak lucu ini!

It’s not a Joke (R)

*) Sabiq Carebesth—Penulis lepas, editor Galeri Buku Jakarta–yang baru kali pertama nonton film seri Joker—dan belum pernah nonton film Batman di Bioskop. Lantaran lebih menyukai genre film cowboy—

Continue Reading

Tabloids

Ruang Untuk Kata Kata, Ruang Untuk Kita

mm

Published

on

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

Inilah dunia yang kita inginkan—mungkin juga anda, ruang yang kita rindukan di tengah begitu rupa urusan saling silang kepentingan atas nama politik, kekuasaan, atau modal dalam kompetisi primitif perebutan kuasa kapital—yang di dalam bangsa kita sendiri mau pun dunia secara global tengah berkembang dalam pusaran konflik entah untuk bentuk peradaban yang mana lagi.

Dalam ruang bincang buku, mendialogkan kehidupan bagi pikiran dan batin seperti ini—tampak nyata dunia dalam ekosistem yang akrab (untuk kembali menebalkan kepercayaan) bahwa sastra dan buku buku, dunia kreatif, hadir sebagai penerimaan kepada sesama dan sesiapa saja untuk suatu usaha memahami dan menerima bahkan hal hal yang individualitas kita memang berangkat dan dasariahnya berbeda.

Ruang di mana buku dan sastra dibincangkan, nyata menciptakan sebuah dunia yang diletakkan dalam tautan untuk memahami kehendak diri dan penemuan atas “individuasi” tiap tiap individu, ruang semacam itu telah memberi bekal dan pondasi kokoh untuk eksosistem yang lebih luas, di mana kita mungkin berkontribusi bagi kehidupan baik sebagai pribadi bebas mau pun solider.

Apa yang kerap tidak kita pahami dari dauni buku dan sastra adalah kemampuannya untuk mengejewantahkan empati kemanusiaan dengan cara yang metaforik, tampak bahwa ia seperti omong kosong menghabiskan waktu, tetapi di sana berangsung keseluruhan upaya yang mungkin bagi penebalan rasa kemanusiaan, pencerahan bagi nalar kritis, sebab di sana berlangsung suatu kerja mengingat, mendedah dan akhirnya upaya memahami rupa rupa hidup dalam perbedaanya yang khas.

Dunia buku, dunia menulis dan sastra khususnya, memang tidak dihadirkan sebagai perangkat dan perkakas langsung untuk suatu hal yang secara konstan tampak hasil dan agenda perubahan yang revolutif. Tetapi siapa bisa memungkiri tautan empatik, spirit, kematangan dan suatu persuasi kepada kejujuran kemanusiaan yang bisa diberikan buku dan sastra? Suatu ambang kejujuran dalam kemanusiaan kita yang mulai kering di sana sini. Dunia secama itu, nyata telah mendorong orang orang dalam penciptaan kemajuan secara lebih nyata dalam banyak rupa dari zaman dan kemanuisaan yang kita butuhkan dalam kondisi politik apa pun.

Kemajuan teknologi membutuhkan ruang imajiner dalam logika yang dikembangkan, peradaban politik lahir tak lepas dari fase memuncak bagaimana kehalusan dan kejujuran sublim sastra telah memberikan inspirasi bagi kondisi-kondisi memprihatinkan abad kita dari krisis iklim, konflik etnik, krisis pangan, atau ketimpangan dalam keadilan gender—wacana politik kerap kaku dan terlalu keras dalam upayanya memahamkan kepada kita, tetapi sastra dan buku-buku ia berhasil menkonversinya menjadi suatu analogi dan metafora intim tentang krisis kepada nalar dan logika kemanusiaan kita yang dari sana orang-orang terdorong untuk bergerak dan menemukan bentuk-bentuk nyata kebaikan.

This slideshow requires JavaScript.

Buku buku dan sastra memberi kita tidak hanya imajinasi yang membuat nalar dan logika tidak membebaskan diri secara otonom dari intuisi dan individuasi yang bagamana pun—apalagi di zaman milenial sekarang dimana determinisme atas totalitas apa pan menjadi menakutkan; tak terkecuali pada fanatisme atas sekterianisme dan nilai nilai pengetahuan ideologis abad modern ini. Ambisi totalitias dengan pananda fanatisme selama abad modern semacam itu, tercatat telah melahirkan banyak tragedi dan korban dan sekarang abad kita tengah bergerak mencari bentuk bentuk baru sebagai alternative, disadari pun tidak—meski juga terasa prosesnya gelap kelabu—dan sastra, buku buku, sangat mungkin melepangkan kesempitan dan kemuraman demikian.

Ruang dan pertautan, kehendak merasa dan memahami kondisi zaman dan kehidupan hari ini, di mana kita berharap tumbuh harapan di atas tumpukan kerumitan dan kejumudan kita pada masalah masalah abad kita, berlangsung dalam ruang diskusi dan dialog, seperti berlangsung (21/11) dalam momen peluncuran buku “Memikirkan Kata”. Ruang semacam itu, sekali lagi, sedikit atau banyak menebalkan kembali kepercayaan kita dan mungkin juga anda, kalian yang hadir sore itu, tentang bahasa bahasa universal dari kemampuan manusia untuk saling bersolidaritas, suatu upaya saling memahami dunia dan proses penemuan, suatu jejak individuasi yang puspa ragam pada tiap individu, memberi dorongan kepada diri sendiri dan energi yang membuncah darinya telah menciptakan kesadaran kolektif pada banyak kemungkinan penciptaan dan alternatif bagi kerumitan dan krisis zaman kita—kita lalu merasa, meski mungkin hanya untuk sejenak, mampu merobohkan ambang egoisme, sekterianisme, narsisme, kemayaan, kepalsuan dunia internet dan hal semacam itu yang kita keluhkan diam diam dari dunia kita hari ini meski dan sebab kita satu dimensi di dalamnya—dan mengambil dari momen sejenak itu kepercayaan dasar akan kemanusiaan dan kemampuan kreatif manusia untuk menjadi pendorong dan pencipta keindahan bumi ini. Untuk suatu persahabatan universal dan kreatifitas di mana kerja termasuk kerja kreatif adalah eksistensial dan material dalam proses dari gerak menyejarah.

Kami percaya, semakin banyak ruang semacam ini dicipta, semakin kecil pula peluang bagi sakit sosial abad kita untuk berkembang dan mengendemikkan diri—memungkinkan hal semcam itu ditekan dan dinetralisir, dan dengan begitu sebuah upaya kecil merawat abad kita, zaman dan manusia manusia konkrit di dalamnya yang adalah kita dan generasi yang kita lahirkan kelak dari proses hari ini, petang tadi telah dilangsungkan.

Maka kami akan mencatat acara petang itu, paling tidak bagi Galeri Buku Jakarta sendiri dan semua yang ada di dalamnya, sebagai sebuah moment istimewa, historis dalam banyak sisi dan harapannya.

Terimakasih kami sampaikan untuk semua, selamat untuk tim kerja dan sukses selalu untuk kita semua. Sekali lagi selamat memikirkan kata—kata kata yang dipikirkan, tautan ambigu dunia di dalam diri kata-kata sendiri dan dunia penciptaan yang kita ciptakan dari bahan baku kata kata, sangat mungkin dan terbukti telah merubah begitu rupa dunia dulu dan nanti. Percaya atau tidak, itu kenyataanya.

Jadi kenapa kita memikirkan kata? Atau kenapa kita tidak memikirkan kata sebelum kita menggunakannya? Alih-alih hanya menjadikan kata kata sebagai bahan baku tanpa memahami gelap terang dalam pribadi kata-kata sendiri? (*)

___

Jakarta, 21 September 2019

Sabiq Carebesth—editor “Memikirkan Kata”

Dan pendiri Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Trending