Connect with us

Tabloids

Terkadang Kata-Kata Melipat Sayapnya, Lalu Mati

Inquiries Journal / Getty Image
mm

Published

on

… Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar. Tentu saja kau bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus. Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Satu-satunya Rekaman Virginia Woolf yang Bertahan

“Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris pada dasarnya penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang, berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menuliskannya di masa sekarang—bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.”

Begitulah rekaman dengan Virginia Woolf dimulai, pertama kali disiarkan oleh BBC pada 29 April 1937 sebagai bagian dari sebuah seri yang berjudul Words Fail Me. Hanya delapan menit dari rekaman aslinya yang tersisa dan ini diyakini sebagai satu-satunya rekaman yang bertahan dari penulis Inggris ini.

Untuk menandai ulang tahun kematian Woolf yang ke-75, BBC Culture dan BBC Britain merangkum rekaman tersebut menjadi sebuah esai dengan judul Craftmanship dan dipublikasikan sebagai bagian dari koleksi The Death of the Moth, and Other Essays.

Rekaman tersebut adalah sebuah petunjuk tentang bagaimana Woolf melihat kegiatan kepenulisan.

“Kata-kata,” dia menyimpulkan, “menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Berikut adalah transkrip rekaman Virginia Woolf yang dipublikasikan BBC pada 1937:

Kata-kata, kata-kata dalam bahasa Inggris secara alami penuh dengan gema, dengan memori, dengan asosiasi-asosiasi. Mereka keluar dari bibir-bibir manusia, di rumah-rumah mereka, di jalan-jalan, di ladang-ladang berabad-abad lamanya. Dan itulah salah satu kesulitan terbesar dalam menulisakannya di masa sekarang-bahwa mereka dipenuhi oleh makna, oleh memori, dan mereka telah menghasilkan begitu banyak perkawinan yang terkenal.

Sebagai contoh kata “incarnadine” yang sangat indah—siapa yang dapat menggunakannya tanpa harus mengingat “multitudinous seas?” Pada zaman dulu tentu saja ketika bahasa Inggris merupakan bahasa yang baru, penulis dapat memenukan kata-kata baru dan menggunakannya. Di masa sekarang cukup mudah untuk menemukan kata-kata baru—mereka bermekaran di bibir bilamana kita melihat sesuatu yang baru atau merasakan sebuah sensasi yang baru—tapi kita tidak dapat menggunakannya karena bahasa adalah hal yang begitu kuno. Kau tidak bisa menggunakan sebuah kata baru dalam bahasa yang kuno karena sesuatu yang sangat jelas namun juga sebuah fakta misterius bahwa sebuah kata bukanlah entitas tunggal dan terpisah, akan tetapi merupakan bagian dari kata-kata lain. Kata tidak akan benar-benar menjadi sebuah kata sampai ia menjadi bagian dari sebuah kalimat.

Baca Juga:

Kata-kata saling meliliki satu sama lain, meskipun tentu saja hanya seorang penulis besar yang tahu bahwa kata “incarnadine” dimiliki oleh “multitudinous sea”. Menggabungkan kata-kata baru dengan kata-kata lama adalah kesalahan fatal dalam konstitusi kalimatnya.

Virginia Woolf, smoking at London 1939 / Getty Image

Untuk dapat menggunakan kata-kata baru secara tepat kau harus menemukan sebuah bahasa baru; dan meski tiada keraguan bahwa kita akan sampai kesana, hal itu bukan merupakan tugas kita saat ini. Tugas kita adalah untuk melihat apa yang dapat kita lakukan dengan bahasa Inggris sebagaimana adanya. Bagaimana kita bisa menggabungkan kata-kata lama di dalam aturan-aturan baru sehingga mereka bertahan, agar mereka menciptakan keindahan, agar mereka menceritakan kebenaran? Itulah pertanyaannya.

Dan orang yang dapat menjawab pertanyaan itu layak mendapatkan segala simbol keagungan yang dunia dapat tawarkan. Pikirkan seberapa pentingnya jika kau dapat mengajar, jika kau dapat mempelajari, seni penulisan. Mengapa, tiap-tiap buku, tiap-tiap surat kabar akan memberitahukan kebenaran, meciptakan keindahan. Akan tetapi akan tampak bahwa ada rintangan di perjalanan, beberapa gangguan dalam pengajaran kata-kata. Meskipun pada saat ini setidaknya 100 profesor sedang mengajar literatur dari masa lampau, setidaknya seribu kritikus meninjau literatur masa kini, dan beratus-ratus pemuda dan pemudi melewati ujian literatur bahasa Inggris dengan nilai yang sangat baik, tetap saja-apakah kita menulis dengan lebih baik, apakah kita membaca dengan lebih baik ketimbang saat kita membaca dan menulis 400 tahun yang lalu ketika kita tidak menerima kuliah, tidak dikritik, tidak dididik? Apakah literatur Georgia kita merupakan tambalan bagi literatur zaman Elizabeth?

Lalu dimana kita harus menempatkan kesalahan itu? Bukan pada profesor kita; bukan pada peninjau kita; bukan pada penulis-penulis kita; tetapi kata-kata. Kata-katalah yang harus disalahkan. Dari semua hal mereka adalah hal terliar, paling bebas, paling tidak bertanggungjawab, paling tidak dapat diajar.

Tentu saja kau bisa menangkapnya dan menyusun mereka dan menempatkannya dalam urutan alpabet di dalam kamus-kamus. Akan tetapi kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. JIka kau inigin membuktikannya, coba bayangkan seberapa sering pada saat-saat emosional ketika kita sangat membutuhkan kata-kata kita tak menemukan apapun. Meskipun begitu, kamus itu ada; ada dalam benak kita setengah juta kata-kata, semua dalam urutan alpabet.

Akan tetapi dapatkah kita menggunakannya? Tidak, karena kata-kata tidak hidup dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran. Perhatikan kembali pada kamus. Disana tanpa keraguan terhampar pertunjukkan-pertunjukkan yang lebih indah dari pertunjukkan Antony dan Cleopatra; puisi-puisi yang lebih memikat dari Ode to a Nightingale; novel-novel dimana selain Pride and Prejudice atau David Copperfield adalah kecerobohan yang parah dari para amatir. Ini hanyalah sebuah pertanyaan tentang menemukan kata-kata yang tepat dan menempatkannya pada urutan yang tepat. Tetapi kita tidak dapat melakukannya karena mereka tidak hidup di dalam kamus-kamus, mereka hidup di dalam pikiran.

Dan bagaimana mereka hidup di dalam pikiran? Dengan aneh dan beranekaragam, selayaknya hidup manusia, dengan bertolak ke segala arah, dengan jatuh cinta, dan menyatu bersama. Benar adanya bahwa mereka lebih sedikit terikat dengan perayaan dan konvensi sebagaimana kita manusia. Kata-kata agung kerajaan menyatukan diri dengan kata-kata orang biasa. Kata-kata dalam bahasa Inggris kawin dengan kata-kata dalam bahasa Prancis, kata-kata dalam bahasa Jerman, kata-kata dalam bahasa India, kata-kata dalam bahasa Negro, jika mereka mempunyai sebuah ketertarikan. Tentu saja, semakin jarang kita menyelami masa lalu dari bahasa Ibu, bahasa Inggris kesayangan kita, itu akan lebih baik bagi reputasinya. Karena dia telah jauh mengembara.

Untuk itu menetapkan hukum apapun bagi pengembaraan yang tak tergantikan itu adalah hal yang lebih buruk dari kesia-siaan. Beberapa aturan tata bahasa dan ejaan yang tak penting adalah satu-satunya batasan yang bisa kita kenakan padanya. Satu-satunya yang bisa kita katakan tentangnya, selagi kita memandangnya dengan tajam melalui tepian gua besar yang dalam, gelap dan hanya sesekali diterangi tempat dimana mereka tinggal—di pikiran—

apa yang bisa kita katakan tentangnya adalah bahwa tampaknya mereka menginginkan manusia untuk berpikir dan merasa sebelum menggunakannya, bukan berpikir dan merasa tentang mereka, tapi tentang sesuatu yang lain.

Mereka sangat sensitif, mudah sekali dibuat sadar akan dirinya. Mereka tidak suka kemurnian dan ketidakmurniannya didiskusikan. Jika kau memulai sebuah perkumpulan untuk Bahasa Inggris Murni, mereka akan menunjukkan ketidaksukaannya dengan memulai yang lain untuk bahasa Inggris tidak murni—sebab itu kekerasan yang tidak alamiah dari ungkapan yang lebih modern; itu adalah sebuah protes melawan puritan. Mereka juga sangat demokratis; mereka percaya bahwa satu kata sama baiknya dengan yang lain; kata-kata yang tak terdidik sama baiknya dengan kata-kata yang terdidik, kata-kata yang tak terolah selayaknya kata-kata yang terolah, tidak ada peringkat atau pangkat dalam perkumpulan mereka.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Tak juga mereka senang dinaikkan dalam tulisan dan diperiksa secara terpisah. Mereka melekat bersama, dalam kalimat-kalimat, dalam paragraf-paragraf, terkadang untuk seluruh halaman dalam satu waktu. Mereka benci menjadi berguna; mereka benci menghasilkan uang; mereka benci dikuliahi di muka umum. Singkatnya mereka membenci segala hal yang melekatkan mereka pada satu makna atau membatasi mereka dengan sikap tertentu, karena merupakan sifat dasar mereka untuk berubah.

Mungkin itu adalah keanehan mereka yang paling mencolok—kebutuhan mereka akan perubahan. Ini dikarenakan kebenaran yang ingin mereka tangkap mempunyai banyak sisi, dan mereka menyampaikannya dengan menjadikan diri mereka sendiri mempunyai banyak sisi, bergerak ke arah sini, lalu ke sana. Apa yang bermakna satu hal bagi seseorang, memiliki makna yang berbeda bagi orang lain; mereka tak terjelaskan dalam satu generasi, sederhana seperti ujung tombak bagi generasi berikutnya. Dan karena kompleksitas inilah mereka bertahan.

Mungkin salah satu alasan mengapa saat ini kita tidak memiliki seorang penulis puisi yang, novelis atau kritikus tulisan yang besar adalah karena kita menolak kebebasan dari kata-kata. Kita menempelkan mereka pada satu makna, makna yang membuat kita mengejar kereta, makna yang membuat kita lulus ujian. Dan ketika kata-kata ditempelkan ke suatu tempat, mereka melipat sayapnya dan mati.

Terakhir dan dengan sangat berempati, kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Tak diragukan mereka menginginkan kita untuk berpikir, mereka menginginkan kita untuk merasa, sebelum kita menggunakannya; tapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka.

Bahwa jeda diberikan, bahwa selubung kegelapan diturunkan, untuk menggoda kata-kata agar menyatu dalam salah satu perkawinan yang singkat itu, yang mana merupakan gambaran sempurna dan menghasilkan keindahan yang abadi. Tapi tidak—tak satu pun hal itu akan terjadi malam ini. Anak-anak malang itu sedang kehilangan kendali; tidak ingin menolong orang lain; tak patuh; tolol. Apa yang sedang mereka gumamkan itu? “Waktu sudah habis! Diam!” (*)

___

Marlina Sophiana & Sabiq Carebesth

Diterjemahkan dari BBC Culture—

The Only Surviving Recording of Virginia Woolf

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Kiat Menulis dari Emily Ruskovich, penulis Idaho

mm

Published

on

Kami tahu bahwa pembaca biasanya juga merupakan penulis, jadi kami menampilkan kiat-kiat menulis dari penulis kami. Siapa yang lebih baik menawarkan saran, wawasan, dan inspirasi daripada penulis yang anda kagumi? Mereka akan menjawab beberapa pertanyaan tentang kerja mereka, berbagi teknik andalan mereka dan banyak lagi. Sekarang, mulailah menulis!

Writing Tips from Emily Ruskovich, author of Idaho by The Perch

 _________________
(p) by Affan Firmansyah

Apa rekomendasi anda dalam menciptakan dan memahami karakter-karakter yang anda buat?

Marilynne Robinson pernah berkata di sebuah kelas yang saya hadiri bahwa “semua karakter hanyalah sebuah rasa dari karakter tersebut”. Hal ini sangat terasa dalam pengalaman saya menulis fiksi. Saya tidak secara aktif menciptakan karakter saya; sebagai gantinya, saya mendapatkan perasaan tentang mereka, jadi saya akan mengejar perasaan ini dan menepatkannya dalam sebuah adegan agar bisa mengenal dan menghabiskan waktu dengannya, dan berharap perasaan itu bermetamorfosis menjadi sesuatu yang dapat saya lihat dan pahami. Saya tidak membangun karakter dengan memikirkan fakta tentang karakter tersebut, seperti apa yang mereka inginkan, seperti apa rupa mereka, apa yang mereka minati. Detil itu datang setelahnya. Saya tahu bahwa membuat profil dari sebuah karakter adalah metode yang bekerja sangat baik untuk banyak penulis, tetapi ketika saya mencoba mengenal sebuah karakter, rasanya seperti saya mencoba mengenal bayangan yang dibuat oleh seseorang yang tidak bisa saya lihat, dan mungkin tidak akan pernah saya lihat, bahkan ketika cerita sudah selesai. Dan satu-satunya cara yang berhasil bagi saya — satu-satunya cara — adalah dengan membangun adegan di sekitar bayangan itu, hanya “rasa” saja. Bahkan ketika sebuah cerita atau novel selesai, saya tidak pernah benar-benar melihat wajah karakter saya. Ketika saya memikirkan mereka, perasaan yang saya dapatkan dari mereka berbeda dan sangat, sangat nyata, tetapi saya tidak membayangkan struktur wajah mereka, tangan mereka, pakaian mereka. Meskipun hal-hal itu penting namun agak tidak berarti bagi saya ketika saya menulis; saya merasa hal-hal itu seperti adalah satu-satunya hal yang serta merta saya “buat”. Bahkan, kadang-kadang saya lupa fakta dasar tentang karakter itu dan harus kembali dan memeriksa warna mata untuk memastikan konsisten, atau bahkan memeriksa usia karakter saya. Fakta-fakta semacam itu terasa sangat terpisah dari siapa sebenarnya karakter itu. Ada beberapa aspek tertentu yang bisa saya lihat. Sikap tubuh mereka sering sangat mudah dibedakan. Begitu juga penampilan sepatu mereka. Suara mereka, dan cara mereka berbicara. Dan terkadang warna rambut juga jelas bagi saya, tetapi tidak selalu. Seperti ketika saya mencoba memvisualisasikannya, mereka memalingkan wajah mereka. Mereka selalu bergerak. Baru-baru ini saya menyadari bahwa ini juga cara saya dalam membaca. Ketika saya membaca sebuah novel, saya tidak benar-benar “menggambarkan” orang-orang di kepala saya, bahkan jika wajah mereka digambarkan dengan sangat detil. Saya hanya merasakannya. Tidak ada yang bisa saya bandingkan dengan pengalaman ini, karena tidak ada pengalaman yang sama bagi saya seperti membaca kecuali menulis. Dan mungkin bermimpi, ketika Anda memiliki perasaan yang kuat di pagi hari tentang apa yang terjadi, dan itu benar-benar memengaruhi Anda, tetapi Anda tidak dapat mengingat detailnya. Wajah-wajah itu kabur. Saya tidak tahu apakah ini berguna atau tidak. Saya kira intinya adalah: Ketika Anda mencoba mengenal karakter, cobalah untuk tidak melihat mereka secara tepat. Percayalah pada insting Anda, betapapun cepat dan membingungkannya, dan cobalah untuk membangun adegan di sekitar perasaan anda, atau lebih tepatnya, biarkan perasaan itu membangun adegan itu untuk Anda. Ini satu-satunya cara karakter saya terasa nyata dan jujur. Saya harap ini tidak terlalu “abstrak” untuk menjadi saran yang bermanfaat. Tentu saja, ada banyak cara untuk mengenal karakter Anda, dan saya pikir penulis lain memiliki cara yang lebih mudah untuk mengenal mereka. Saya merasa sangat sulit menerjemahkan perasaan ke dalam bentuk manusia. Saya pikir itu sangat sulit.

Emily Ruskovich

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya suka menulis dengan hewan di sekitar saya. Kelinci saya memiliki kandang besar yang kami buat tepat di depan jendela saya, jadi saya selalu melihat, mengawasinya dan juga tupai-tupai yang mengunjunginya. Di pagi hari, sebelum saya mulai menulis, saya pergi ke sungai dan memanggil bebek peliharaan saya. Biasanya, mereka terbang langsung ke arah saya dan makan langsung dari tangan saya. Saya menetaskan mereka di inkubator, jadi mereka sangat jinak, meskipun mereka telah memilih untuk hidup di alam liar sekarang. Ketika mereka masih kecil, mereka akan tidur di pangkuan saya, atau di kaki saya, ketika saya bekerja dengan komputer saya. Ketika bebek-bebek saya memutuskan untuk tinggal di sungai, saya mengadopsi anak-anak kucing, sebagian alasannya agar saya memiliki sesuatu untuk dipanggil ke pangkuan saya ketika saya menulis. Bahkan hanya dengan memiliki pengumpan burung di luar jendela saya akan sangat membantu. Seringkali, saya mulai dengan membaca bagian-bagian indah dari penulis yang saya kagumi. Ruang kerja suami saya berada di sisi lain dari ruang saya, dan seringkali kita memulai hari kita dengan saling membacakan apa yang telah kita tulis sehari sebelumnya, untuk membuat kita bergerak, untuk meningkatkan kepercayaan diri kita. Sangat membantu memiliki seseorang yang mengejar hal yang sama dengan saya. Kami banyak saling membantu. Dia juga selalu punya kucing di pangkuannya.

Apakah Anda selalu ingin menulis? Bagaimana Anda memulai karir Anda sebagai seorang penulis?

Baca Juga:

Ya, saya sudah tertarik untuk menulis sejak saya masih sangat muda. Sebelum saya bisa menulis, saya sering mendikte cerita atau puisi kepada ibu dan ayah saya, dan mereka akan menuliskannya untuk saya. Saya ingat itu sepertinya merupakan hal yang paling ajaib bagi saya, bahwa hal-hal yang saya katakan dapat disimpan selamanya hanya dengan orang tua saya membuat goresan di selembar kertas. Saya sangat beruntung dibesarkan di sebuah rumah dimana menulis adalah bagian alami dari kehidupan. Ayah saya adalah penulis yang sangat produktif. Bahkan dengan semua yang harus dia kerjakan ketika saya tumbuh dewasa — mengajar, bertani, berkebun, merawat anak-anak, memotong kayu, membangun lumbung, mengelola masalah uang — dia masih punya waktu hampir setiap hari untuk menulis, bahkan ketika dia kelelahan. Dan itu adalah bagian yang sangat alami dari keberadaan saya. Saya memahami menulis sebagai sesuatu yang sewajarnya dilakukan orang-orang, bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Beberapa tahun lalu, ayah saya memberi saya satu koper penuh dengan puisi. Lima puluh pon puisi! Saya tahu persis beratnya lima puluh pon, karena kami tidak ingin membayar biaya tambahan di bandara ketika saya menerbangkan puisi-puisi ini dari Idaho ke Colorado, jadi kami menimbangnya dengan sangat hati-hati dan harus meninggalkan beberapa untuk menurunkan beranya. Mengangkut koper itu dari satu negara bagian ke negara bagian lain, setiap kali saya pindah, membuat saya merasa sangat sentimental, seperti saya diberi hadiah untuk benar-benar menyimpan beban imajinasinya. Sebagian besar puisi itu ditulis tangan. Banyak dari puisi itu adalah soneta. Banyak merupakan puisi yang sangat indah. Lima puluh pon puisi itu adalah harta favorit saya. Saya selalu ingin mengikuti jejaknya, jadi saya juga menulis sepanjang waktu. Dia mengajarkan saya sejak usia sangat dini. Jadi saya merasa karir saya tidak pernah memiliki titik awal. Dari awal menulis adalah sesuatu yang selalu dan akan saya lakukan, karena itu adalah apa yang ayah saya lakukan.

Klise atau kebiasaan buruk apa yang ingin Anda sampaikan kepada penulis pemula untuk dihindari?

*) Artikel lain dari topik ini bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Saya memiliki daftar klise yang saya berikan kepada siswa menulis kreatif tingkat intro saya. kami menyebutnya “The List.” Sebagai sebuah kelas, kami menyusunnya sepanjang semester. daftar ini sangat panjang, dan saya harap para siswa menganggapnya lucu sekaligus bermanfaat. daftar itu dibuat dengan humor. Berisi semua tema atau situasi yang saya temui berkali-kali dalam tulisan siswa. Beberapa item dalam daftar termasuk: “Tidak boleh ada kedai kopi; tidak ada bangun untuk memulai hari; tidak ada pesta anak kuliahan atau SMA; tidak ada Thanksgiving yang canggung; tidak ada badai yang mematikan listrik; tidak ada tempat tidur rumah sakit; tidak ada pembunuh bayaran; tidak ada anak yang menendang kaleng; tidak ada amnesia; tidak ada agen FBI; tidak ada eksekutif CEO yang tiba-tiba berhenti dari pekerjaan mereka dan menjadi makhluk bebas yang hidup di jalanan bermain musik; tidak ada pembunuh berantai; tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan jika pusat konfliknya adalah apakah mempertahankan bayi atau tidak; tidak ada cerita berkemah atau hiking jika pusat konfliknya hilang atau diserang oleh binatang buas; tidak ada cerita yang energinya sepenuhnya berasal dari suara getir atau sarkastik; tidak ada yang menyeringai. Seringai jauh lebih sederhana daripada senyuman.” Daftar ini terus berlanjut. Tak satu pun dari hal-hal ini mutlak, tentu saja. Semuanya ditulis dengan sangat baik. Tetapi ini adalah tantangan yang ingin saya sampaikan di kelas menulis saya. Saya pikir siswa menikmatinya. Saya berharap begitu. Tentu saja, saya terkadang melanggar aturan itu sendiri. Salah satu aturan yang saya langgar adalah, “Tidak ada cerita dari sudut pandang binatang.” Dan saya benar-benar melanggar aturan itu dalam novel saya. Juga, novel saya memiliki badai yang mematikan listrik di semua tempat. Dan juga berisi tempat tidur rumah sakit.

Apakah Anda pernah membuat karakter berdasarkan orang yang Anda kenal? Kenapa atau kenapa tidak?

Ya dan tidak. Karakter saya adalah diri mereka sendiri, berbeda dari siapa pun yang saya temui. Tetapi saya menemukan bahwa saya memberikan karakter saya banyak kualitas dari orang yang saya cintai. Dalam novel saya, karakter utamanya menyerupai anggota keluarga saya. Tidak dalam tindakan mereka, atau dalam cerita mereka, hanya perasaan yang saya dapatkan dari mereka. Bagian terbaik dari karakter saya Wade mengingatkan saya pada ayah saya. Ada adegan di bab pertama ketika Wade mengetukan buku jarinya di atas piano seolah-olah untuk menguji kualitas kayunya, dan itu adalah tepat ayah saya. Tentu saja, mereka juga sangat-sangat berbeda.

Demikian pula, saya melihat ibu saya dalam kedua karakter perempuan utama saya, Jenny dan Ann. Ini mungkin hal yang aneh untuk dikatakan, mengingat saya melihat ibu saya sebagai orang yang paling lembut di Bumi, namun saya memberikan beberapa sifatnya yang paling baik kepada Jenny, yang telah melakukan tindakan kekerasan yang mengerikan. Tapi meminjamkan Jenny beberapa sifat ibu saya adalah cara berempati dengan Jenny, cara membuatnya kompleks, cara mencintainya terlepas dari apa yang dia lakukan, yang menurut saya sangat penting. Dan saya memang mencintai Jenny. Saya perlu, untuk melanjutkan kisah yang cukup menyedihkan ini. May juga terinspirasi dari saudari saya Mary. Karakter itu adalah yang paling dekat yang saya tulis tentang seseorang secara langsung, meskipun itu sama sekali bukan niat saya. Mary menjadi hidup dalam diri Mei begitu cepat. Saya hampir tidak mengubah satu kata pun dari bab tentang Mei sejak naskah pertamanya, karena bab-bab itu hampir seperti ditulis untuk saya, oleh suara masa kecil Mary. Saya memiliki foto saudara perempuan saya ketika dia masih muda “berenang” di tempat sampah yang diisi dengan air yang telah dihangatkan di bawah sinar matahari. Ketika saya melihat foto itu, saya melihat Mary dan May, sama. Itu membuat menuliskan perspektif May sangat alami dan sangat menyakitkan. Saya merasakan perasaan May bahkan lebih dalam karena kemiripannya dengan saudara perempuan saya. Karena itulah menyakitkan bagi saya untuk kembali ke beberapa bagian dari novel itu. June juga banyak mengingatkan saya tentang diri saya sendiri ketika saya masih muda.

Apa tiga atau empat buku yang mempengaruhi tulisan Anda, atau memiliki pengaruh yang mendalam pada diri Anda?

The Progress of Love oleh Alice Munro, dan juga semua bukunya. Beloved oleh Toni Morrison. Never Let Me Go oleh Kazuo Ishiguro. Lila oleh Marilynne Robinson. Dan Watership Down oleh Richard Adams.

Continue Reading

Tabloids

Nasihat Bagi yang Ingin Menjadi Penulis Lepas

mm

Published

on

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Setelah mengajarkan materi menulis nonfiksi kepada mahasiswa selama lebih dari 10 tahun, saya menyadari sejumlah masalah yang kerap membuat banyak karya penulis pemula ditolak redaksi majalah. Bukan karena mereka pemula dan kemudian disepelekan, yang saya persoalkan. Yang jadi perhatian saya adalah banyak penulis pemula melupakan hal-hal mendasar, penentu nasib karya mereka.

Sejumlah poin dalam artikel saya ini didasarkan pada pembacaan ratusan naskah karya para mahasiswa usia 19 hingga 67 tahun. Banyak dari mereka sempat berpikir bekerja sebagai penulis lepas. Tetapi hanya sedikit yang merealisasikan niatnya. Berikut ini adalah daftar lima hal yang membuat—dan mungkin anda—gagal menjadi penulis nonfiksi dengan status freelancer sukses.

  1. Anda tidak bisa menulis nonfiksi hanya dengan berdiam diri di rumah

Pekerjaan tersulit saya di beberapa kelas adalah meyakinkan para mahasiswa bahwa mereka tidak bergantung pada pengalaman pribadi, keluarga dan teman untuk mendapat bahan tulisan nonfiksi.

Sebagian dari mereka ragu dan takut menghubungi orang asing untuk wawancara, alih-alih bersikap ramah dan akrab. Akibatnya, mereka menulis artikel hanya dengan mengandalkan wawancara dengan kolega dekatnya atau atas dasar pengalaman pribadi.

Tentu saja, pengalaman pribadi mungkin menarik perhatian para editor majalah. Dan memang belum tentu artikel berdasar pengalaman pribadi tidak bisa mendatangkan pendapatan dari menjual tulisan nonfiksi ke media massa.

Tetapi, yang sering tidak disadari oleh para penulis pemula ialah pengalaman pribadi hanya sesekali saja bisa menjadi sumber ide tulisan. Padahal, penulisan nonfiksi menuntut pencarian materi seluas mungkin. Begitu punya ide, penulis harus pergi ke mana pun fakta berada. Mungkin harus melakukan wawancara dengan selusin orang asing di banyak tempat yang berbeda.

“Cobalah wawancara,” begitu saya mendorong para mahasiswa. “Tidak sesulit yang kamu pikirkan. Begitu kamu memecahkan kebekuan dengan satu atau dua pertanyaan, sisanya sering berjalan dengan mudah.”

  1. Jangan menulis topik yang terlalu luas

Suatu kali, saya meminta mahasiswa saya datang ke kelas dengan membawa ide soal topik tulisan nonfiksi. Sebagian dari mereka mengusulkan topik soal “Lingkungan,” “Berkemah,” “Pengungsi Perang Vietnam,” “Krisis Pangan” dan “Berselancar.”

“Bagaimana dengan topik Lingkungan?” Saya bertanya ke salah satu mahasiswa. Dia mengangkat bahu dan mengakui tidak benar-benar memahami topik ini. Kesalahan dia adalah mengajukan topik dengan cakupan tertalu luas, tidak fokus. Ia contoh korban sindrom esai: ambil topik gagah dan buat tulisan panjang untuk sekedar memuaskan dosen mereka.

Baca Juga:

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Tabloids

Riset Untuk Penulisan Fiksi

mm

Published

on

Salah satu nasihat banyak penulis berpengalaman kepada para pemula, yang kerap disalahpahami, ialah: “Tulislah tentang apa yang kamu ketahui.”

Banyak pemula salah paham karena mengira harus mengarang cerita soal hal-hal yang dekat dengan kehidupannya, sehingga menjauhi tema-tema asing dengan konteks yang belum pernah mereka temui. Akibatnya, mereka pun percaya, harus menulis soal kisah-kisah di perkotaan saja, jika tempat bermukim selama hidupnya adalah di kota. Sebaliknya, jika mereka besar di perdesaan, cerita karangan mereka juga harus melulu memiliki latar belakang kehidupan di desa.

Tentu saja, banyak penulis profesional tak mengikuti saran seperti itu. Jika mereka mematuhi saran“sesat” itu, tak akan ada penulis novel sejarah dan fiksi ilmiah. Ini karena maksud sebenarnya dari nasihat di atas ialah: “Ketahuilah apa yang kamu tulis.”

Memang benar, pengarang harus mampu membubuhkan banyak detail yang memuat informasi akurat meski ceritanya fiksi. Pembaca bisa gampang mencela si pengarang jika saja di karangannya ada cerita soal penjahat yang menarik pistol jenis x, tapi ia tidak menulis kaliber pelurunya secara akurat.

Baca Juga:

Namun, apakah penulis perlu hidup lama di penjara untuk menulis cerita soal kehidupan para napi dan sipir? Tentu saja, pengarang hanya perlu bicara dengan satu atau dua sipir dan napi untuk menulis fiksi dengan latar kehidupan di bui.

Hanya saja, ada teknik tertentu untuk mengumpulkan bahan cerita seperti ini. Tanpa tahu teknik yang tepat, orang yang tinggal puluhan tahun di penjara pun bisa gagal menulis kisah yang bagus dan menarik dengan latar kehidupan di balik jeruji besi?

Saya dulu punya teman yang bekerja sebagai polisi selama 20 tahun dan setelah pensiun mencoba peruntungan dengan mengarang cerita fiksi. Cukup mudah dimengerti, dia memilih fiksi kriminal, karena berharap dengan latar belakang pengalamannya, bisa mengarang cerita fiksi yang terkesan otentik.

Dia lalu mengirim karya pertamanya soal cerita polisi dan perampok ke salah satu agen yang sengaja memburu karangan penulis pemula dengan alasan harganya murah.

Kecuali untuk surat-surat pribadi, teman saya tidak pernah menulis sepatah kata pun, termasuk saat ia masih duduk di bangku sekolah. Tak heran, si agen dengan mudah menemukan banyak kesalahan di karangan teman saya. Bahkan catatan si agen hampir sama panjangnya dengan fiksi karya teman saya itu.

Semula teman saya menerima dengan lapang saat membaca catatan kritis dari si agen. Akan tetapi, ketika dia tahu si agen meragukan latar belakangnya sebagai polisi, dia mulai emosi.

“Tunggu saja, aku akan menulis untuk si brengsek itu dan memberitahunya bahwa aku bekerja sebagai polisi selama dua puluh tahun,” katanya.

“Itu jelas kesan kamu pernah jadi polisi tidak muncul dalam ceritamu,” kataku padanya. Dan, faktanya ia tidak pernah membuktikan omangannya.

Sebenarnya, teman saya itu salah memahami maksud si agen. Tak ada yang meragukan pengetahuannya soal kisah polisi dan perampok. Si agen hanya mengkritik cara teman saya tadi dalam mengisahkan fiksi soal polisi dan perampok. Karena meski kaya detail, karangan teman saya kering dan terkesan dibuat-buat. Ini sebenarnya kesalahan umum di kalangan penulis pemula yang merasa sudah menulis fiksi berkualitas karena isinya terkait dengan hal yang sangat mereka ketahui.

Padahal, mereka perlu mengetahui teknik untuk membuat fiksi yang terkesan otentik dan menarik. Tanpa tahu tekniknya, si pengarang hanya seolah-olah menulis ensiklopedia, bukan cerita yang memikat pembaca.

Menaburi Cerita Dengan Detail Menarik

Ada teknik cukup mudah untuk menggambarkan latar dalam kisah secara menarik meski tidak sesederhana dalam praktiknya. Pada dasarnya, teknik ini soal cara memasukkan banyak detail yang tepat pada naskah cerita, sehingga keberadaannya tidak mengganggu alur kisah.

Agar detail-detail itu tidak mengganggu cerita, harus dimunculkan saat alur cerita memang membutuhkannya. Jika detail-detail itu terlalu berlebihan dalam menjelaskan latar cerita, pembaca akan mudah menemukan keanehan.

*) Artikel lengkapnya bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbirkan secara eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta (Maret, 2019) sepenuhnya guna mendukung laman galeribukujakarta.com

Continue Reading

Trending