Connect with us

Puisi

(Terj) Puisi-Pusi David Lehman

David Lehman--The book consists of daily poems he combined into one bigger poem, and he said it is inspired by songs he heard on the radio. (Courtesy of David Lehman)/ Getty Image Via dailybruin
mm

Published

on

Puisi-Puisi David Lehman | Diterjemahkan oleh A. Nabil Wibisana *)

 

Seksisme

Momen terindah dalam hidup seorang perempuan

Adalah ketika ia mendengar suara suaminya

Memutar kunci pintu, sementara ia pura-pura terlelap

Saat lelaki itu memasuki ruangan—diam-diam

Tapi ceroboh, sehingga menabrak barang-barang—

Ia bisa mencium bau alkohol dari napas si lelaki

Tapi ia memaafkannya karena senang lelaki itu kembali

Dan ia tidak harus tidur sendiri.

 

Momen terindah dalam hidup seorang lelaki

Adalah ketika ia bangkit dari ranjang

Seorang perempuan—setelah satu jam tidur bersama,

Sehabis bercinta begitu rupa—dan memakai

Celana panjangnya, kemudian berjalan keluar

Dan kencing di semak-semak, sambil melihat

Langit bulan Agustus yang penuh bintang

Lalu masuk ke mobilnya dan beranjak pulang.

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Ketika Perempuan Mencintai Lelaki

Ketika perempuan itu berkata margarita, yang ia maksud ialah daiquiri.

Ketika ia bilang majenun, yang ia maksud ialah temperamen.

Dan ketika ia berujar, “Aku tak akan pernah bicara denganmu lagi,”

yang ia maksud sebenarnya, “Peluk aku dari belakang

saat aku berdiri merana di depan jendela.”

 

Lelaki itu seharusnya paham.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia di New York dan perempuan itu di Virginia

atau ia membaca di Boston dan si perempuan menulis di New York,

atau perempuan itu memakai sweter dan kacamata hitam di Taman Balboa

sedangkan ia sibuk menyapu daun-daun di Ithaca

atau ia menyetir mobil ke East Hampton dan perempuan itu berdiri getir

di depan jendela yang menghadap ke arah teluk,

di mana perahu layar warna-warni meluncur dengan tenang

sementara ia terjebak kemacetan di jalur cepat Long Island.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, pada pukul satu dini hari

ia terlelap dan lelaki itu menatap skor bola di televisi

makan setumpuk pretzel dan minum segelas limun

dan dua jam kemudian si lelaki bangkit dan terhuyung-huyung ke ranjang,

di mana ia masih terbaring pulas dengan tubuh sehangat wol.

 

Ketika perempuan itu berkata besok, yang ia maksud ialah tiga atau empat minggu.

Ketika ia berujar, “Kita sedang membahas diriku sekarang,”

lelaki itu berhenti mengoceh. Sahabatnya berkunjung dan bertanya,

“Apa ada seseorang yang mati?”

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, mereka pergi

berenang telanjang di satu sungai kecil

pada suatu hari cemerlang di bulan Juli

bahana air terjun bagaikan gelak

air deras di batu-batu halus,

dan tak ada apa pun yang asing dalam semesta itu.

 

Apel masak jatuh di sekitar mereka.

Apa lagi yang bisa dilakukan selain memakannya?

 

Ketika lelaki itu bersaksi, “Era kita adalah masa peralihan.”

“Pikiranmu memang tak bisa ditebak,” sahut si perempuan,

kering seperti martini yang ia sesap.

 

Mereka bertengkar sepanjang waktu

Cekcok yang kocak

Memang aku berutang apa?

Mulailah dengan permintaan maaf

Baiklah, maafkan aku, berengsek.

Sebuah tanda terangkat, mempertontonkan “Tawa.”

Sebuah gambar bisu.

“Aku begitu kacau tanpa ciuman,” kata si perempuan,

“dan kau boleh percaya seratus persen,”

yang terdengar keren dalam aksen orang Inggris.

 

Dalam setahun mereka putus tujuh kali

dan mengancam akan berpisah sembilan kali lagi.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia meminta lelaki itu menjemputnya

di satu bandara di negara asing, mengendarai jip pula.

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia benar-benar berada di sana.

Ia tak mengeluh meski perempuan itu terlambat dua jam

dan tak ada makanan sedikit pun di lemari es.

 

Ketika perempuan mencintai lelaki, ia ingin tetap terjaga

sepanjang malam, menangis layaknya bocah kecil

karena ia sungguh-sungguh tak ingin hari itu berakhir.

 

Ketika lelaki mencintai perempuan, ia mengawasi perempuan itu tidur,

seraya berpikir: tengah malam bagi bulan adalah tidur bagi kekasih.

Seribu kunang-kunang berkedip padanya.

Suara kawanan katak bagaikan kuartet gesek

dalam sebuah geladi orkestra.

Bintang-bintang berjuntai serupa anting-anting anggur.

*) Dari Columbia: Journal of Literature and Art (1996), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

 

Perintah Kesepuluh

Perempuan itu berkata ya, ia mau pergi ke Australia bersamanya

Kecuali si lelaki salah dengar dan perempuan itu berkata Argentina

Di mana mereka bisa belajar Tango dan memburu janda-janda

Penjahat perang Nazi yang tidak sudi bertobat sampai akhir.

Tapi tidak, perempuan itu meyebut Australia. Ia lahir di Selandia Baru.

Perbedaan antara dua wilayah itu sama dengan perbedaan antara

Setangkup hamburger dan segelas malt cokelat, ujarnya.

Di toko permen di seberang gedung sekolah dasar,

Mereka merencanakan kencan. Perempuan itu melafalkan Australia,

Yang artinya ia bersedia diajak bercinta, dan semua peristiwa itu terjadi

Sebelum suaminya kena serangan jantung koroner, pada masa ketika

Seorang perempuan tak akan melepas celana dalamnya

kecuali untuk orang yang ia sukai. Perempuan itu berkata

Australia, lantas si lelaki melihat koleksi kerang musim panas

Tahun lalu dalam sebuah kantong plastik di ruangan kotor

Yang dipenuhi lumpur pasir. Siklus tawanan seksual

Dimulai dari romansa dan berakhir dengan perzinahan

Apakah era kiwari merupakan fase paruh akhir, cara Amerika

Meluncur dari barbarisme ke amnesia tanpa diselingi

Periode keruntuhan moral dahsyat, yang mestinya bermakna

Sesuatu, tapi apa? Rakit di tengah jeram? Pemain biola

Di depan gerbang? Oh, absolutisme adalah hukum biologi.

Untuk seminar pornografi, busana apa yang mesti perempuan itu pakai?

*) Dari Valentine Place (Scribner, 1996), dipublikasikan ulang di laman American Poems.

 

Dua Puluh Pertanyaan

Mengapa ngengat terbang menuju nyala api? Apa sama dengan alasan

Mengapa Achilles mati muda? Siapa yang memperoleh lebih banyak kenikmatan

Dari seks, lelaki atau perempuan? (Jelaskan bagaimana kau bisa tahu pasti.)

Mana yang lebih nyata bagimu, surga atau neraka?

 

Mengapa para pendosa hidup sejahtera? Apa penyebab kematian cinta—

Atau cinta akan kematian? Apa Adam dan Eva punya pilihan?

Apa Perawan Maria punya pilihan? Apa yang kita takutkan sebenarnya?

Bahkan kaum agnostik punya hak untuk berkata terima kasih tuhan, bukan?

 

Menatap atom-atom itu menari, mestikah aku bersaksi aku melihat cincin

Cahaya murni yang tak berujung? Atau aku hanya memimpikan semuanya?

Siapa yang harus kupanggil? Apa kau akan ikut jika orang itu adalah istrimu?

Apa kau bersedia pindah? Apa kau menyukai hidupmu?

 

Apa yang membedakan malam ini dengan malam-malam lain?

Apa kau akan berkata bahwa memang sudah nasibmu untuk selalu,

Tanpa kecuali, terlambat lima menit? Jika kau tiba

Pada pukul 9:10, acara ternyata dimulai pukul 9:05

 

Padahal jelas-jelas dijadwalkan pukul 9:15? Saat kau melintasi

Lorong, dan orang-orang memaku perhatian mereka padamu,

Apa kau bertanya pada diri sendiri apa yang akan kaulakukan,

Seolah-olah semua itu penting, seolah-olah kau memang paham?

*) Dari An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986), dipublikasikan kembali di laman Poetry Foundation.

 

Film Prancis

Aku hanyut dalam sebuah film Prancis

dan hanya punya sembilan jam sisa hidup

dan aku tahu benar

bukan karena aku berencana mencabut nyawaku

atau menelan racun mematikan yang bekerja lambat,

jenis ramuan yang biasa ditujukan untuk para juri

dalam persidangan pembunuhan oleh mafia,

aku pun tak berharap akan dihabisi

seperti pakar kimia yang keliru

ditarget sebagai seorang penting di Milan

atau jurnalis Yahudi yang diculik di Pakistan;

tidak, tidak satu pun; tak ada dasar untuk

curiga, tak ada plot pembunuhan

atas diriku, dengan pesan telepon rahasia

dan petunjuk semacam syal atau lipstik

yang tertinggal di kursi depan sebuah mobil;

tapi aku tahu aku akan mati

di ujung hari itu

aku tahu, dengan kepastian paripurna,

sewaktu aku melintas di jalan itu

dan mata kami bersirobok

saat perempuan itu melangkah ke arahku,

aku tahu belaka bahwa ia pun tahu,

dan meski kami belum pernah bertemu sebelumnya,

aku tahu ia akan menghabiskan sisa hari itu

bersamaku, sembilan jam berjalan bersisian,

bertualang, pergi ke toko buku di Roma,

merokok Gitane, berjalan dan

terus berjalan di London, naik kereta

ke Oxford dari Paddington atau ke Cambridge

dari Liverpool, lantas berjalan

di sepanjang tepi sungai dan melewati jembatan,

berjalan dan berbincang, sampai jatah sembilan jam

habis dan film hitam-putih itu

berakhir dengan satu kata TAMAT,

dalam huruf kapital putih di layar hitam pekat.

*) Dari Yeshiva Boys (Scribner, 2009), dipublikasikan ulang di laman Academy of American Poets.

 

_____________________

TENTANG PENYAIR

David Lehman adalah penyair, editor, dan kritikus sastra terpandang. Lahir di New York tahun 1948, ia meraih PhD dari Universitas Columbia. Menulis sejumlah buku puisi, di antaranya New and Selected Poems (Scribner, 2013), Yeshiva Boys (Scribner, 2009), When a Woman Loves a Man (Scribner, 2005), The Daily Mirror: A Journal in Poetry (Scribner, 2000), Valentine Place (Scribner, 1996), dan An Alternative to Speech (Princeton University Press, 1986). Editor buku antologi penting The Oxford Book of American Poetry (Oxford University Press, 2006) dan editor seri antologi tahunan The Best American Poetry sejak 1988 sampai sekarang. Ia menerima berbagai penghargaan dari beberapa lembaga terkemuka, di antaranya National Endowment for the Arts, Guggenheim Foundation, Academy of Arts and Letters, dan Lila Wallace-Reader’s Digest Writer’s Award.

TENTANG PENERJEMAH

Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Kupang – NTT. Menulis puisi dan esai yang telah dipublikasikan di berbagai media massa. Penerjemah lepas, dengan minat khusus pada penerjemahan prosa dan puisi Amerika kontemporer.

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Ozi Marzuki

mm

Published

on

Kotamu Ingin Bunuh Diri

 

Ular naga panjang –Kata nyanyian kita waktu kecil

Menuju ke kotamu

Tapi tidak dengan kotaku

Mengangkut pikiran yang ingin pulang

Tapi raga memutuskan untuk tetap tinggal

Ada apa dengan kotaku dan kotamu?

keduanya penuh dengan persetujuan yang tidak disetujui

 

Kotaku tidak habis pikir pada dirinya

Terlalu banyak kesamaan dalam rupanya

Kata kotaku, kotamu juga demikian

Dia punya noda yang terlalu banyak

Hingga kotamu dianggap tidak suci

Meski sudah mencoba wudhu berkali-kali

 

Kabar terbaru; kotamu ingin bunuh diri

Tapi kotaku bilang lebih baik mengasingkan diri

Karena sendiri untuk sementara layak dicoba

Dibanding sendiri untuk selamanya

 

Satu kesempatan kota kita berbincang

Tentang Ibu yang dalam waktu dekat akan hilang

Memang selama ini Ibu merepotkan

Tapi pelukannya yang menghangatkan juga dirindukan

 

Ayah bilang Ibu pergi karena sayang

Tapi mana ada sayang tanpa kasih

Keduanya saling membutuhkan

Seperti kotamu butuh kotaku.

 

Tiga Pagi

 

Dari dengkur yang tersungkur di telinga

Kau telah berdua menindih aku yang ke-tiga

Kesendirianmu menemukan kesendirian lain;

Bukan kesendirianku

 

Bukan maksud ingin punya kesunyianmu

Tapi aku benci

Sunyimu berisik bukan dengan sunyiku.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Zulfikar A.S

mm

Published

on

MENGERANGNYA SEORANG PEMABUK

Hujan merayu bumi

merayu manja dalam sunyi.

Terdengar sayup-sayup rembulan,

ketakutan.

Cahaya-cahaya lampu merajam kematian,

seperti sedang berlari

meraba-raba, apakah ini?

kematian?

jiwa yang hilang?

atau ketakutan akan kesadaran?

Kegelapan melumat habis pikiran.

Dalam lorong yang panjang

di antara mereka ada yang sedang melawan kematian.

Tidak tahu pasti

mereka benar-benar terpejam

atau sedang terbenam.

Melonglong seperti serigala di malam hari

barangkali menakuti mereka yang terpejam bersama mimpi.

Ah….

Sepertinya aku sedang mabuk

ditelan ilusi.

 

KATA YANG HILANG DARI KOSAKATA

hari-hari berbicara kepadaku

angin-angin mengabarkan berita penuh haru

langit sudah enggan membuka matanya di pagi hari

burung-burung tidak lagi bernyanyi dengan syair-syair selamat pagi

ia berkidung

dalam aroma busuk yang menyengat hidung

apakah kaki-kaki sudah tak bergerak

dan, barangkali tangan-tangan pun sudah terikat

mulut dijadikannya peluru

pikiran dijadikannya meriam

jiwa-jiwa yang terbunuh

berpuluh-puluh dalam peluh

hati sudah berhati-hati memberi kasih

benar dan salah hilang dalam kamus bahasa

yang ada hanya

benar dan benar

salah dan salah

benar dibungkam

salah kalah

tanpa mengalah

 

PELARIAN

Baru saja waktu merampas diriku

dari hingar bingar lekukan tubuh wanita itu.

Aku menemukan angka satu sembilan

di balik sebuah lukisan.

 

Ada yang terjatuh,

ada yang melihat.

Manusia menjadi hadiah

dalam sekantong perayaan.

 

Di dalam ruang dan waktu

di antara sudut dinding berlumut

tubuh-tubuh yang bernyala api,

terbakar─

 

hingga kalian bersembunyi

juga mereka yang melarikan diri.

 

*) Zulfikar A.S., lahir dan tinggal di Bogor

 

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Rofqil Junior

mm

Published

on

Hampir Gelap

goyang anggrek hitam dan akar bakau

menjuntai melengkapi sepi hingga larut

burung-burung malam bersayap angin

membidik petang dari barat ke timur

 

matahari yang mengubur dirinya

dalam-dalam

sedalam ketakutan masa silam

kupastikan esok bangkit dengan pakaian

serba baru dan dari jalan biasa

 

sedang yang kukutuk sebagai kenangan

adalah bekas pijakan anak-anak

seusia jagung di sekat pembatas

bibir pasir dan lidah ombak.

 

temaram tandang, gugusan bintang

tenggara sempurna menyatu

dengan gelap. berjalan bersama-sama

 

lalu burung-burung lain

berekor lilin, memperpanjang kicau.

Gapura, 2019

Sebuah Pagi 

sementara pendar fajar kedua tersangkut

di ujung pohon kelapa sekitar halaman berumput

pagi mencair seperti patung lilin,

kujemput diam-diam. di luar hening mengalir

terulang kembali

 

jalak putih gegas melintas

di persimpangan langit lurus di atas kepala

mencari bahan untuk menenun sarang

atau sekadar membidik penawar lapar

anak-anaknya

 

gigil semakin nyaring berkepanjangan

tiada matinya

menyatu dengan embun, menyapa

daun ranggas sebelum akhirnya luruh

 

betapa mungkin angin lebih semilir

dari yang kau dan aku rasakan

 

takut-takut mekar kembang api

tak tertunaikan dan mati dihajar terik

lantas putri malu semakin kuncup saja

 

Gapura, 2019

 

Desa Terbakar 

aku melayat desa mati dibakar terik matahari

tinggal desau kepodang di pohon kedongdong

yang condong dan hampir roboh

suaranya ringkih sekali

 

langit biru bercermin pada selokan pematang

sengau lumbung kian lesat tajamnya

akar-akar tembakau meminta lepas satu-perastu.

berjalan  menyibak padi kuning setengah runduk

ujungnya mencucuk dasar kaki

 

bunga angin yang kupetik tiap kedatangan ke sini

tempat puisi-puisi itu lahir lalu mengeram

dan menetas sendirinya

adalah teduh yang rutin kuburu, hingga

tak satu pun tersisa gerah di kepala

 

betapa luka akan sangat basah

kalau tiba-tiba jarum jam tak gegas

lebih gila

 

sedang desa kita

hanya kutaburi kembang berupa-rupa

sekadar penenang kenang yang kian semarak.

Gapura, 2019

Koran Pagi

sedang secawan kopi yang tetap mengepul

di rongga meja

menyulut lara berderai yang sudah menahun

bapak memulai ritual bersepi-sepi dengan kursi

 

abjad di dasar koran, penghantar kabar asing

dan sekian banyak tepi dan ruang

di perut bumi

 

mula-mula ia membetulkan duduk kacamatanya

lantas, menyibak lapis-lapis halaman

hingga sampai pada kabar kematian.

 

dibayangkan kematiannya sendiri

dengan upacara yang tak begitu sepi

 

dan mungkin muncul di lembar pertama

koran besok pagi

 

sekali-kali ia akan berseru, jika pandangannya

tertuju pada lembar terakhir

sementara kopi sudah tinggal ampas

seperti pagi yang kehilangan dingin

dan aku yang memburu ingin

Gapura, 2019

 

Pohon Hayat  

ranting setengah gigil dan sudah menua

bentuknya

ada sulur sulur baru yang tidak pernah

menolak untuk jatuh

 

segalanya tergantung pada angin,

derap musim yang bebas melintas

 

lalu kau tidak perlu bertanya

siapa di antara kita yang jatuh

lebih dulu. dan mati sebelum waktu

 

sebab nasib kerap terbalik

 

akar yang kokoh enggan menolak roboh

bila sampai pada waktunya,

betapa kematian begitu menyakitkan

 

demi masa dan ranting ranggas

dimakan usia

kau dan aku daun

menanti kabar untuk tanggal

sambil menikmati jalan terpenggal

 

Gapura, 2019

*) Rofqil Junior adalah nama pena dari Moh. Rofqil Bazikh. Lahir di pulau Giliyang kec. Dungkek kab. Sumenep Madura pada 19 Mei 2002. Aktif di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Hidayah Bancamara Giliyang. Tempatnya memulai berproses menulis. Esssainya mendapat juara 1 dalam lomba Creative Student Day 2018. Puisinya mendapat juara 1 dalam lomba yang diadakan oleh PT. Mandiri Jaya Surabaya sekaligus terangkum dalam antologi Surat Berdarah di Antara Gelas Retak (2019). Puisinya juga termaktub dalam antologi Dari Negeri Poci 9; Pesisiran (KKK;2019), BuluWaktu (Sastra Reboan;2018), Banjarbaru Festival Literary (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019).Saat ini sudah menulis puisi di berbagai media cetak dan online antara lain Bangka Post, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Malang Post,Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, Rakyat Sumbar,Radar Pagi, Kabar Madura, Takanta.id, Riau Pos, NusantaraNews, SerikatNews, dll.

Continue Reading

Trending