Connect with us

COLUMN & IDEAS

Terbang dan Hinggap

mm

Published

on

Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Hanna Heath, tokoh dalam novel berjudul People of the Book (2015) gubahan Geraldine Brooks. Pakar buku kuno atau ia memilih sebutan konservator untuk buku-buku berusia ratusan tahun bakal bergulat dengan seribu penasaran saat mengurusi naskah. Sekian hal perlahan terjawab tapi ada sisa-sisa sulit terjawab. Mustahil. Kerja di bentangan waktu tanpa ada tanda-tanda jelas untuk selesai atau sampai. Sekian hal dipelajari dan dipahami. Sekian hal harus diajukan ke orang-orang memiliki kepakaran. Di hadapan buku kuno, ia bukan pelamun tapi pencari jawaban-jawaban secuil, setengah, utuh, atau berantakan.

Ia pun wajib mengerti binatang dan geografi. Pada kitab-kitab kuno, binatang adalah unsur, tak cuma kulit-penjilidan. Keberadaan naskah atau kitab terbaca dan tersimpan memungkinkan disinggahi binatang-binatang kecil: tampak atau sulit terlihat mata. Hal-hal mengejutkan lazim mengiringi kesejarahan naskah kuno, melintasi waktu dan berpindah tempat. Benda itu disentuh, dipegang, dibuka sekian orang memiliki beragam misi. Cara membaca kitab dan posisi raga pembaca di suatu tempat turut menentukan “keterlibatan” atau “kehadiran” sekian binatang. Hanna Heath memastikan ada sekian binatang. Kutu buku itu tentu.

Pada suatu penasaran, Hanna Heath menemui Amalie Sutter. Tokoh tekun melakukan studi biologi evolusioner. Kedatangan Hanna Heath untuk “pemastian” sisa atau jejak binatang terdapat di naskah kuno. Mereka berada di laboratorium dan bercakap. Imajinasi menggenapi temuan-temuan melalui tata cara ilmiah. Keseriusan mengarah ke kupu-kupu meski “sejenak” diragukan. Laci ditarik Amalie Sutter dipandangi bersama Hanna Heath. Di situ, tatanan rapi kupu-kupu “dikekalkan”. Geraldine Brooks membahasakan: “Kupu-kupu itu cantik dalam cara yang halus dan lirih.” Dua orang memandangi kupu-kupu di raihan jawaban, melampaui takjub dan pengetahuan sudah termiliki.

Amalie berkata: “Bukan kupu-kupu paling semarak di dunia, dari segi apa pun. Tapi digandrungi kolektor. Mungkin, karena mendapatkannya harus mendaki gunung dulu.” Kupu-kupu itu hidup di pegunungan tinggi, di tempat terjal berbatu. Hanna Heath belum pasti menerima itu jawaban untuk jejak binatang di naskah kuno. Arah ke pembuktian terdengar dari omongan Amalie: “Naskahmu itu, Hanna, apakah pernah menempuh perjalanan ke Pegunungan Alpen?” Jawaban tak mudah. Kitab atau naskah kuno biasa bergerak ke pelbagai tempat di hitungan waktu ratusan tahun dan peristiwa-peristiwa sebagai album sejarah. Kita tak mengikuti ikhtiar mereka menjawab dan membuktikan. Kita menandai saja ada ingatan buku dan kupu-kupu di Eropa. Novel itu rumit. Kita membaca perlahan tanpa memiliki jeda lama untuk berimajinasi dan “memandangi” kupu-kupu. Edisi memberi pujian “tertutupi” oleh sekian persekongkolan berpusat pada naskah kuno.

Kita tinggalkan kupu-kupu di novel gubahan peraih Pulitzer Prize. Kita ingin bersahaja dengan menikmati kupu-kupu di Indonesia. Menikmati dalam puisi. Kupu-kupu itu berada di buku berjudul Batu Ibu (2019) garapan Warih Wisatsana. Di puisi berjudul “Tarianmu”, kita di alur imajinasi kupu-kupu: Bayangkan/ panggung ini sebuah taman/ seekor ulat pucat/ menjelma kupu-kupu/ menjelma dirimu/ melayang anggun seringan angin. Kupu-kupu itu metafora. Pembaca memasuki cerita tubuh dan tari. Pengimajinasian ke babak-babak perubahan, menempatkan kupu-kupu pada “kemenjadian” dan “ibarat”.

Pada dua bait menjelang akhir puisi, terbaca: Kelak semusim semi lagi/ kupu-kupu akan menghampiri/ setelah letih merenungi/ wangi diri yang pergi// Kupu-kupu melepas sayapnya/ seolah ruh pasrah/ berpisah dari tubuh/ melayang bening di udara/ menyentuh luluh mula cahaya/ menyempurnakan yang mahatiada. Puisi ingin bermisteri, menuntun pembaca ke lakon manusia dan tari dalam kesakralan dan penafsiran raga. Puisi bersahaja, mengisahkan kupu-kupu di “tarian”. Kupu-kupu bukan terpokok tapi menetapkan petunjuk. Kita tentu tak cukup dengan sebuah puisi bila ingin mengerti kupu-kupu.

Pada masa lalu, Nusantara menjadi tempat pilihan bagi orang-orang asing mencari dan menulis kupu-kupu. Wallace datang dari negara jauh. Pengembaraan ke hutan-hutan, menemu tetumbuhan dan binatang. Ia terpukau kupu-kupu. Ia melihat sebagai “ilmuwan”, bukan pujangga. Wallace memiliki pengalaman membaca sastra, termasuk novel berjudul Max Havelaar. Kedatangan ke Nusantara tak bermaksud menggubah puisi atau novel tapi mengerti “asal” dan album “sejarah” terbaca dari flora-fauna. Ia memilih menulis surat-surat dikirimkan ke Eropa. Ia pun mengirim surat ke Darwin. Wallace menulis buku “pengetahuan” dalam bentuk laporan berselera sastra. Kita “ahli waris” diperkenankan menengok Nusantara masa lalu dengan membaca halaman-halaman tentang kupu-kupu. Binatang tercatat dan terjelaskan dalam buku berjudul Kepulauan Nusantara: Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam (Komunoitas Bambu, 2019) susunan Alfred Russel Wallace.

Pada pengembaraan di Sumatra, 1861-1862, ia bahagia bertemu kupu-kupu. Di Lobo Raman, ia salah jadwal kunjungan tapi ditebus dengan pencarian dan pencatatan kupu-kupu. Wallace menulis: “Saya banyak menemukan kupu-kupu yang langka dan indah.” Lekaslah ia mencatat rinci, bukan menata kata menjadi puisi! Kallima paralekta, jenis kupu-kupu diinginkan tapi sulit ditangkap. Ia telah mendapat sekian kupu-kupu tapi ada kegagalan mendapat kupu-kupu “dikagumi”. Pengakuan Wallace: “Saya sering mengendap-endap ke tempat persembunyiannya, tetapi ia kemudian akan terbang dan menghilang di tempat yang sama. Beberapa kali saya hanya cukup beruntung bisa melihat dengan saksama di tempat kupu-kupu itu hinggap.” Ia mungkin sebal dan gemas. Memandang kupu-kupu, peristiwa masih mungkin membahagiakan. Kita tak hidup di masa lalu. Wallace mengajak kita turut di “pengalaman” memasuki hutan-hutan memiliki khazanah kupu-kupu mustahil semua tercatat dan dikoleksi untuk dipamerkan ke mata Eropa. Di Sulawesi, Wallace juga sibuk berurusan dengan kupu-kupu. Kita mengandaikan Wallace adalah novelis. Kita bakal mendapat warisan novel “menggetarkan”, bercerita kupu-kupu seabad lalu.

Kini, kita menantikan saja ada para pengarang Indonesia menekuni buku garapan Wallace dan melakukan kunjungan-kunjungan ke pelbagai tempat. Mereka melacak dan melakukan pembuktian mengacu data-data Wallace. Pengalaman dan pengembaraan bertema kupu-kupu mungkin menjadi seratusan puisi dan novel-novel penting. Gubahan sastra itu “bekal” melakukan penginsafan atas perdagangan kupu-kupu. Di lagu, kupu-kupu itu masih merdu untuk mengasuh bocah: “Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang…” Kini, kita masih kekurangan puisi, cerita pendek, dan novel untuk bercerita nasib kupu-kupu di Indonesia, dari masa ke masa.

Kita membaca National Geographic-Indonesia edisi September 2018, memiliki judul utama: “Penangkapan Kupu-kupu: Keruhnya Perdagangan si Sayap Elok Nusantara.” Matthew Teague menulis laporan kemolekan kupu-kupu di Sulawesi dan nasib sial ditanggung kupu-kupu akibat perdagangan demi nafkah. Ia mengingatkan: “Peraturan Indonesia yang mengatur penangkapan, penjualan, dan ekspor kupu-kupu, rumit dan penuh pengecualian. Hal ini memungkinkan spesies yang terancam punah dibiakkan untuk kepentingan komersial, untuk dibeli dan dijual dalam keadaan tertentu.” Kupu-kupu itu incaran para kolektor di pelbagai negara. Para pengarang di Indonesia belum merasa perlu menjadikan kupu-kupu adalah puisi atau cerita. Mereka belum mau menjadi “kolektor” menghidupkan, tandingan dari pamrih komersial.

Sejak ratusan tahun lalu, orang-orang Eropa bersaing memiliki predikat sebagai kolektor kupu-kupu. Orang-orang Jepang juga memiliki perhatian serius mengoleksi kupu-kupu. Pasar kupu-kupu terus membesar dan bergerak menjauh dari “pesona-pesona” masa lalu saat kupu-kupu itu “mengindahkan” Nusantara. Kita juga diingatkan dengan ketekunan Vladimir Nabokov dalam “berburu” kupu-kupu meski tak menghasilkan novel memukau terbaca oleh umat sastra di dunia. Kita menunggu saja kemunculan pengarang Indonesia serius bercerita kupu-kupu.  Begitu.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Panduan Menjadi Absurdis

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth

Camus tidak dalam rangka melakukan pengadilan pengatahuan mau pun metode perolehan pengetahuan untuk membangun filsafatnya. Lain dari umumnya karakter filsafat (barat) modern yang terus bertumpu pada kritik dan dialektika, katakan seperti istilah dipakai penulis Argentina Jorge Luis Borges, bahwa setiap pengarang memiliki pendahulunya sendiri—Albert Camus menempatkan kritik dan uji materi pengetahuan para pendahulunya hanya pada batas ia menemukan contoh sekaligus penyangkalan yang mungkin baginya untuk menerangkan ihwal absurditas.

Hal itu dimulai dari keyakinan tentang abusrditas itu sendiri—bahwa Camus sama ambigunya dalam menempatkan posisi dirinya; di satu sisi ia adalah penggagas dan pengujar genuine gagasan absurd, di satu sisi ia mengambil jarak dari kerangka absurditas yang dibangunnya untuk memastikan ia keluar sebagai pemenang tunggal; sebagai abusurdis sesungguhnya—keyakinannya itu bertumpu pada dua fakta pokok tentang absurditas yaitu: ambiguitas-paradoks dan keseimbangan untuk berdiri-di antara.

Ambiguitas yang sekilugus inheren dalam paradoksalnya itu adalah pandangannya bahwa absurditas tidak terletak pada salah satu faktor antara manusia dengan rasionalitasnya atau dunia dengan bobot kemustahilannya yang sukar diterima oleh penalaran logis rasionalitas manusia.

Abusrditas berada pada batas keduanya dan bukan pada salah satunya. Sehingga tidak tepat untuk misalnya bertanya “yang absurd manusianya; atau dunia?” dalam pengandaian itu Camus telah menempatkan waktu sebagai yang kini dan di sini, waktu yang hadir dan siap dihadapi sebagai yang semata-mata konkrit, tidak ada kemungkinan nanti dan apa saja yang menarik ke dalam ketidaktahuan untuk dipahami nalar rasional sebagaimana hal itu telah berganti wilayah ke dalam waktu yang mistis dan transenden. Tak soal apakah orang menyebut hal itu agama, Tuhan, harapan, atau semacam itu. Ia hanya menyadari kemungkinan untuk melibati waktu yang kini dan di sini; yang datang untuk memintanya merangkul keseluruhannya termasuk bahwa ketidakmungkinan untuk memahami semuanya adalah realitas itu sendiri dan manusia tidak sebaiknya menyerah pada batas semacam itu, sebaliknya ia mesti memberontak—dengan apa caranya dan batas pengertiannya akan saya bahas lebih pada artikel lain—tetapi sementara untuk dikatakan bahwa pemberontakan itu adalah satu-satunya kemungkinan yang menempatkan eksistensi manusia pada dirinya sendiri dan dirinya sendiri itulah dengan segala kemungkinan tindakan yang bisa membuatnya terlibat di antara rasionalitasnya dan dunia yang mengutuknya, sebagai satu-satunya realitas. Dan demikianlah ia menerimanya sebagai suatu bentuk pemberontakan. Pemberontakan dengan mengatakan “ya” pada segala yang datang kini di sini dan untuk sekarang merupakan satu-satunya cara mengada yang mungkin dan bisa dibenarkan dalam nalar absurditas yang dibangun oleh Camus.

Nalar absurditas Camus ditegakkan dengan keseimbangan manusia untuk tidak perlu terburu-buru atau malah tidak perlu sama sekali mengambil kesimpulan, penegasan, nafsu menerangkan dan ihwal pemuncakan semacam itu sebagaimana hasrat pada penganut Hegelian untuk menemukan keutuhan atas semua seolah lompatan-lompatan kemungkinan realitas bisa ditakar secara anonim. Bahwa jika suatu menemukan faktor pendorongnya ia otomatis melompat ke sesuatu yang berbeda dengan pada saat sama mengugurkan kemungkinan sebelumnya dan kebaruan akan sampai pada puncak realitas utuh yang bentuknya—hanya menunggu dipenuhi oleh penemuan faktor-faktor penggeraknya.

Keseimbangan untuk tetap berada di dalam paradoks dan karenanya memunculkan realitas diri yang ambigu yang dijadikan pondasi membangun kerangka absurditas ala Camus, olehnya dimaknai sebagai hukuman—terkadang—tetapi pada saat bersamaan juga seperti berkah. Dinamika absurdis ditandai oleh kemampuan konsistensinya untuk menerima ambiguitas semacam itu, bahwa memang demikianlah dunia tetapi tidak demikian, soliter sekaligus solider, dan lagi pula, apa yang didapat dari upaya terburu-buru untuk menyimpulkan atau untuk memahamkan diri tentang realitas jika ternyata; realitas itu tak memiliki kesimpulan untuk dimaknai dan dicarikan alternatifnya kecuali di sini, sekarang dan sebagaimana ia melingkupi manusia dalam penalaran rasional seklaigus kemustahilannya.

Pada kerangka upaya pemaknaan filsafati Kierkegerad dan Leon Chestov kita akan menemukan bagaimana Camus menguji kerangka absurditasnya. Tetapi sebagaimana dikatakannya sendiri, itu hanya pada tahapan untuk mengatakan dan menemukan tentang prinsip-prinsip paradoksal dan keseimbangan yang dituntut dari absurdis sejati, dan baik Kierkegerad mau pun Leon Chestov menunjukkan kegagalannya—terutama karena nafsu keduanya untuk membuat kesimpulan akhir sebagai upaya penjelas pemikiran akan makna kehidupan.

Pada Kierkegerad kegagalan ditunjukkan Camus oleh kepastian akhir Kierkegerad untuk justeru di titik ia mendapati dunia ini absurd dan penalaran atasnya runtuh, ia justeru menemukan dan membebankan pada salah satu faktornya yaitu kehidupan itu sendiri. Sehingga kepasrahan harus dihadirkan karena ketidaksampain nalar memahami kekosongan makna kehidupan. Dan penyerahan pada kekosongan menempatkannya pada bentuk final transendensi iman Kristiani yang dianutnya.

Sementara pada Chestov Camus menunjukkan betapa filsuf Rusia itu hampir saja menjadi absurdis sejati, tetapi ia terjebak justeru di titik di mana seperti kata Camus sendiri “Ketika Chestov mencurahkan seluruh nafsunya untuk membuyarkan rasionalisme Spinoza dan betapa kesal ia pada Hegel, ia Justeru menarik kesimpulan mengenai kesia-siaan segala nalar. Ia melakukan pembalikan yang wajar tetapi tidak sah, ia kembali ke keunggulan hal irasional—dan katakanlah ia menjadi amat bersemangat menyanggah rasionalisme Aristotelian.”

Born November 7th, 1913 in Algeria son of French ‘pied-noir’ settlers Camus grew up in poverty in the proletarian neighbourhood of Belcourt in Algiers. His natural talent was spotted by teacher Louis Germain who helped the young Camus win a high school scholarship. Camus would later dedicate his 1957 Nobel Prize acceptance speech to Germain. While at school Camus developed a love of football and played well in goal. He wanted to play professionally but tuberculosis, a disease that would plague him for life, ended these dreams.

Maka demikianlah bahwa Leon Chestov yang hampir saja, dengan keyakinan pada awal pemikirannya bahwa “nalar tidak ada gunanya, tetapi ada sesuatu nun di luar nalar. Bagi jiwa absurd, nalar adalah sia-sia, dan di luar nalar tidak ada sesuatu apa pun.” Bagi Camus persepsi semacam itu bisa dibenarkan dalam membangun logika absurd, sedikit lagi adalah hakikat absurd. Bahwa bagi Camus sendiri “absurditas hanya mempunyai nilai dalam suatu keseimbangan, absurditas terutama berada dalam perbandingan dan sama sekali bukan dalam masing-masing dari unsur perbandingan itu”.

Namun Chestov justeru meletakkan seluruh bobot absurditas pada salah satu unsurnya dan menghancurkan keseimbangannya. Kehauasan untuk mengerti, kerinduan pada yang mutlak, hasrat membuat segalanya menjadi jelas—padahal kita telah tahu hal semacam itu mustahil; nalar selalu efektif tapi pada saat sama irasionalitas senantiasa muncul kembali. Dan hasrat besar untuk menjelaskan dengan mutlak yang dilakukan Chestov maunpun Kierkegerad telah menempatkan keduanya dalam kacamata seorang juri yaitu Camus sendiri dengan buku pedoman “menjadi absurdis sejati” di tangannya—dan keduanya gagal menjadi seorang absurdis sejati.

Tetapi sementara ini penting untuk menutup artikel ini dengan kutipan dari Camus sendiri tentang buku pedoman yang dipegangnya: “Dapat saja dikira bahwa di sini saya mengabaikan masalahnya yang hakiki, yakni masalah iman. Tetapi saya tidak menelaah filsafat Kierkegerad, Chestov, atau lebih jauh lagi Husserl; saya hanya  meminjam sebuah tema dari mereka, dan saya menelaah apakah akibat-akibatnya sesuai dengan kaidah-kaidah yang sudah ditentukan di depan (bunuh diri filosofis). Masalahnya hanyalah bertahan pada satu persoalan.

Apa persoalan terpenting dalam filsafat makna dalam gagasan Camus? Anda tentu sudah mendengarnya. (*)

Jakarta, 18 Mei 2020

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Jas, Dasi, dan Tangan Kasar Dokter Hewan

mm

Published

on

FB Moh Indro Cahyono

Apakah karena saya dokter hewan sehingga saya nggak boleh menerapkan ilmu Fisiologi dan Petogenesis yang saya pelajari? Apakah karena saya tak punya gelar  sehingga tak pantas belajar atau berpikir? Apakah karena dandanan saya yang terlalu gembel sehingga nggak pantas bersanding dengan jas kalian? Apakah karena muka ndeso saya yang nggak enak kalian lihat? Apakah karena kalian baca text book virus sehingga saya yang sudah 15 tahun meneliti virus langsung nggak boleh ngomong?

Damhuri Muhammad , Kolumnis dan Editor tamu Galeri Buku Jakarta

Cuplikan kekesalan di atas saya copy-paste dari linimasa akun facebook pribadi atas nama Moh Indro Cahyono, 2 April 2020. Hingga kolom ringan ini saya turunkan, konten unggahan itu telah memperoleh 3.5K Like, 660 Comment, dan 203 Share, yang rata-rata berasal dari akun-akun organik alias bukan akun robot. Begitu juga dengan “Pakde Indro” (demikian netizen menyebutnya), pemilik akun dengan 47.075 orang pengikut itu. Adalah akun asli dengan nama terang dan profesi sebagai dokter hewan, juga praktisi pencegahan wabah virus unggas. Dilengkapi dengan sebuah link URL blog pribadi dengan alamat www.mediaunggas.blogspot.co.id.

Sejak kegemparan akibat wabah Covid-19 bermula di Indonesia pada awal Maret lalu, rekaman video “Pakde Indro” yang berasal dari kanal Youtube telah berseliweran di platform kelompok percakapan daring. Dengan tampilan jaket cokelat, kumis-jenggot tipis yang tak rapi, rambut yang terkesan aut-autan, dan dialek ndeso, Indro menjelaskan duduk perkara virus Corona dalam ungkapan sederhana, ditambah ilustrasi gambar tangan di atas whiteboard. Bahwa virus, apapun jenisnya, membutuhkan inang untuk bertahan hidup. Sebagaimana benalu yang membutuhkan pohon lain sebagai tempat hidupnya, begitu juga virus. Adapun inang yang dibutuhkan oleh Covid-19 adalah droplet alias cairan atau lendir yang berasal dari sistem pernapasan. Maka, penularan virus Corona yang sangat cepat itu, juga terjadi melalui media droplet itu.  Jika Anda batuk atau bersin, lalu droplet-nya jatuh di tubuh orang lain, ada peluang penularan dalam peristiwa itu.

Saya tidak ingin masuk ke ruang perbincangan tentang sifat virus dan cara penularannya yang kini belum dapat teratasi itu, karena saya bukan ahli, dan tak ingin menambah daftar ahli dadakan di musim genting ini. Saya hanya berminat pada pola komunikasi yang digunakan Indro. Logis, mudah dicerna, dan mengandung itikad kuat untuk melawan arus ketakutan, akibat “teror” angka-angka dan statistika tentang korban Covid-19, baik di luar, lebih-lebih dalam negeri. Sebagai praktisi pencegahan wabah, dan peneliti virus dengan jam terbang 15 tahun, Indro berkali-kali menegaskan bahwa status positif Covid-19 bukan situasi yang tetap, melainkan dinamis. Di hari pertama pasien boleh jadi positif Covid-19, tapi pada hari kesekian sel-sel memori dalam tubuh, akan merekam virus yang masuk, untuk kemudian membangun antibodi guna melawan keganasan virus itu. Pada hari selanjutnya, sesuai hitungan para pakar,  virus akan mati. Di titik itu, status positif akan berubah negatif. Pakde Indro sering mencontohkan kasus pasien 1, 2, 3 (asal Depok) yang sembuh setelah menjalani masa isolasi.

Tak bermaksud mengurangi empati pada tim medik dalam kerja pelayanan yang bagai menyabung nyawa, dan upaya keras para pemangku kepentingan dalam percepatan pencegahan penularan Covid-19, cara yang ditempuh seorang dokter hewan seperti Indro, cukup menenangkan warga yang dari hari ke hari dikepung kecemasan, bahkan ketakutan.  Dari respons para netizen yang tercatat di kolom-kolom komentar pada setiap konten yang diunggah Pakde Indro, terang benderang betapa mereka lebih tenang dan merasa lebih aman ketimbang menyimak laporan angka-angka dan statistika yang saban hari dimaklumatkan oleh juru bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Penularan Covid-19.

Aktifitas Moh Indro Cahyono dan Tim Kerjanya

Kurva peningkatan jumlah kasus yang tak kunjung landai, hujatan atas kelalaian pemerintah yang tak sudah-sudah, APD medik dan masker yang langka, termasuk aktivitas ekonomi yang nyaris lumpuh, dan rupa-rupa kabar yang kian memperluas tumpukan kecemasan, seolah-olah mendapatkan oase yang sedikit menyejukkan bila sepintas lalu muncul konten pendek berisi narasi-narasi saintifik Indro Cahyono. Bahwa penularan itu telah mengalir sampai jauh iya, bahwa virus ini telah merenggut nyawa saudara-saudara kita juga iya, bahwa keputusan-keputusan untuk merumahkan karyawan di masa physical distancing juga terjadi di mana-mana, bahwa ada jutaan orang masih bertarung di jalan guna menghidupi keluarga juga tak terbantahkan, bahwa kita sedang berada dalam pusaran ketakpastian yang entah kapan berakhirnya, benar adanya. Tapi bukan berarti peluang untuk membangun harapan baru, tertutup sama sekali.

Dengan gaya bicara katrok-nya itu, di berbagai kesempatan, Pakde Indro seperti tidak sedang melawan keganasan Corona, tapi sedang membendung arus deras ketakutan, bahwa esok atau lusa akan tiba juga giliran kita. Positif Covid-19, dikucilkan dari lingkungan, digelandang ke ruang isolasi, menghembuskan napas penghabisan, lalu dimakamkan tanpa iring-iringan karib-kerabat dan doa sanak-saudara. Tidak begitu, Saudara! Yang terdiagnosa positif Covid-19, baik melalui metode PCR (Polymerase Chain Reaction) maupun Rapid Test, bukanlah akhir dari riwayat kita. Kita akan selamat dan segera keluar dari krisis ini!  Demikian kira-kira substansi ajakan dari Pakde Indro.

Dalam jangkar simulakra dan semesta hiper-reality di ranah pasca-fakta, tempat berhimpunnya sekian banyak suara, apa yang dilakukan Indro bukanlah tanpa risiko. Untuk mencegah penyakit yang sedang menyerang manusia, banyak orang malah mempercayai teori dari kitab usang seorang dokter binatang. Begitu kira-kira sinisme yang juga berseliweran di linimasa. Bukan hanya dari khalayak awam, cemoohan kasar itu tak jarang pula datang dari seorang dokter spesialis bertitel Ph.D. Saya tidak perlu menyebut nama-nama mereka.

Pada level yang lebih ekstrem, sejumlah haters menyebut lulusan fakultas kedokteran hewan Universitas Gajah Mada itu sebagai pendukung strategi Herd Immunity (Kekebalan Kawanan). Istilah yang belakangan kerap diembuskan oleh banyak pakar virus di luar negeri. Prinsipnya tidak lagi mencegah penularan, tapi justru mengundang virus hingga angka pasien terinfeksi mencapai 60-70% populasi di sebuah negara. Di titik itulah kemudian antibodi bersama akan terbentuk, dan penularan berhenti dengan sendirinya. Pendek kata,  dalam kasus Indonesia, dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 10% saja, maka metode pencegahan akan mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia, terutama kelompok usia 60 tahun ke atas. Bila tuduhan itu benar, maka timbunan jenazah yang diangkut ke pemakaman massal bukan lagi korban infeksi Covid-19, tapi korban genosida paling santun di dunia.

Bagi saya, Pakde Indro jauh dari klaim sepihak dan mengada-ada itu. Ukurannya sederhana saja. Meski disebut-sebut sebagai ahli virus, dan telah berhasil membuktikan Flu Burung tidak menular pada manusia, Indro tidak sedang bekerja “menangkap” virus guna mempelajarinya di laboratorium, tapi sedang habis-habisan bertarung melawan ketakutan yang sedang memasung segenap rakyat Indonesia. Maka, saya tidak akan ikut-kutan menelusuri jejak keilmuannya, karya-karyanya, apalagi membanding-bandingkan reputasinya dengan ahli-ahli virus atau epidemiologis lain, yang sedang bekerja keras menghadapi keganasan Covid-19.

Dalam situasi normal saja, kita biasa menabung harapan dan optimisme untuk bangkit, pada orang-orang yang kita percayai dapat menyuguhkan kesejukan. Katakanlah para tokoh agama, orang-orang terpelajar yang dalam ilmunya, para guru, dan para arif-bijaksana. Bahkan tak jarang pula, banyak yang menggantungkan harapan akan perubahan nasib di masa datang pada seorang ratu di Istana Ubur-ubur, Kanjeng Prabu di Kraton Agung Sejagat, atau mengadukan nasib dan peruntungan yang tak kunjung berubah pada seorang pejabat teras Sunda Empire.Kini, para ustadz, mubaligh, ulama hanya dapat bersuara di kanal-kanal maya tanpa tatap muka, karena masjid dan musholla sedang dikunci, forum-forum majelis taklim sedang berhenti, kuliah subuh ditiadakan, karena tak seorang pun yang diperkenankan membuat kerumunan. Maka, kedahagaan akan harapan untuk selamat dari kegentingan ini  secara tak sengaja terkanalisasi pada sosok Pakde Indro. Dokter hewan berpenampilan juru parkir, yang sekali waktu dipuja dan dihormati, tapi kali lain dicerca dan dihina, sedina-dinanya.

Tak ada yang dapat menghentikan upaya  Indro Cahyono dengan caranya yang unik dan ndeso itu. Tak ada yang memaksa untuk mempercayai teorinya. Di kanal-kanal pribadinya, tak ada simbol larangan mem-bully. Silahkan saja! Tapi ketenangan dan kesejukan yang dihembuskannya, sebagaimana penularan virus Corona, juga telah mengalir sampai jauh,  telah menenangkan jiwa-jiwa yang  menderita. Tak ada jaminan kumuntlakan dari pendekatan saintifik yang digunakannya, begitu pula dengan temuan ilmiah pakar-pakar lainnya. Selalu ada ceruk bagi kealpaan, bahkan potensi kesalahan. 

Yang pasti, dalam sejarah keilmuan,  kebenaran tak butuh dukungan banyak orang. Ia tegak dengan tubuhnya sendiri. Tanpa dukungan para pemandu sorak berbayar sekalipun, wajah kebenaran tak akan terdistorsi. Siapa tahu, penyakit yang kini sedang menggerogoti manusia, memang harus dibereskan dengan tangan kasar seorang dokter binatang. Jangan-jangan manusia masa kini, yang berada dalam balutan jas dan dasi, tapi senantiasa merawat nafsu hewaniah, telah  tertular  banyak penyakit, yang hanya bisa disembuhkan oleh seorang dokter hewan…

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Continue Reading

Trending