Connect with us

Tabloids

Tentang Chekhov

mm

Published

on

Seseorang hanya perlu mengujarkan dua atau tiga kata, dan matanya akan menengadah melewati pince-nez dengan jalan yang benar dan cerdas. Begitulah Anton Chekhov…

Oleh: Ivan Bunin

1

Saya bertemu Chekhov di Moskow pada akhir tahun 1895. Saat itu kami hanya bertemu sejenak. Rasanya saya bahkan tidak akan membahas pertemuan itu kecuali karena ingatan pada obrolan ringan dan melompat-lompat tapi lalu terasa sangat penting.

“Apakah kau banyak menulis?” Ia bertanya kepada saya.

Saya menjawab bahwa saya menulis baru sedikit.

“Apa yang kau lakukan itu salah,” katanya, suara baritonnya yang dalam dan berat membersitkan udara yang hampir-hampir suram. “Kau harus bekerja, kau tahu—bekerja tanpa henti, pada sepanjang hidupmu.”

Chekhov terdiam. Kemudian, dengan tanpa hubungan yang jelas, obrolan yang acak, dia menambahkan: “Menurut saya, setelah seseorang menyelesaikan sebuah cerita, dia harus mencoret awal  dan akhirnya. Di sanalah kita, semua penulis, hampir selalu berbohong.”

Setelah pertukaran beberapa kata yang singkat itu, kami tidak bertemu lagi hingga musim semi 1899. Setelah datang ke Yalta untuk beberapa hari, saya pada suatu malam bertemu Chekhov, yang berjalan di sepanjang embankment, jalanan permanen di pinggiran laut.

“Mengapa kau tidak datang menemuiku?” katanya. “Kunjungi aku besok, jangan sampai tidak.”

“Jam berapakah?” tanya saya.

“Di pagi hari, sekitar pukul delapan.”

Melihat keterkejutan di wajah saya, dia menjelaskan, “aku bangun pagi-pagi.”

“Saya juga,” kata saya.

“Kalau begitu datanglah sesegera setelah kau bangun. Kita akan minum kopi. Apakah kau minum kopi? ”

“Setiap waktu.”

“Minumlah setiap hari. Itu adalah hal yang luar biasa. Setiap kali aku bekerja, aku hanya minum kopi dan bouillon (kaldu) sampai malam. Kopi di pagi hari, bouillon di tengah hari. Kalau tidak, aku tidak dapat bekerja sama sekali.”

Saya mengucapkan terima kasih atas undangan dan bagaimana ia mengajak. Kami berjalan di sepanjang embankment dalam keheningan; lalu kami duduk di sebuah bangku di sebuah square, taman publik yang tidak begitubesar.

“Apakah kau menyukai laut?” tanya saya.

“Ya,” jawabnya. “Tapi hanya ketika keadaan benar-benar sepi.”

“Saat itulah, memang yang sungguh baik,” saya setuju.

2

Anton Chekhov dan Ivan Bunin

“Dear Ivan (Bunin) Alekseyevich!” Chekhov menulis kepada saya pada tanggal 8 Januari 1904, ketika saya sedang berada di Nice. “Happy New Year! Every new happiness! Berikanlah salam dariku kepada matahari yang hangat dan lautan yang tenang. Hiduplah di dalam kesenangan yang sempurna, dan jalani penghiburan itu. Tidaklah perlu berpikiran mengenai ketidaksehatan, dan menulislah sedikit lebih sering bagi kawan-kawanmu. Tetap bahagialah dan tetap baik-baik sajalah, dan jangan kau lupakan kompatriot utara-mu, yang sedang bertemperamental dan menderita lantaran gangguan pencernaan dan depresi. Yours sincerely, Anton Chekhov.”

“Berikan rasa hormatku kepada matahari yang hangat, dan laut yang tenang.”

Saya ingat satu malam di awal musim semi. Malam itu sudah larut, tetapi mendadak saya dibuat menghampiri telepon. Saya mengambil gagang telepon dan mendengar suara berat Chekhov: “Manusia muda, dapatkan kereta kuda sewaan yang baik, datang dan jemput aku. Mari kita jalan-jalan ke suatu tempat.”

“Jalan-jalan? Malam hari begini?”kataku dengan terkejut. “Apa yang sedang terjadi, Anton Pavlovich?”

“Aku jatuh cinta.”

“Saya sangat senang mendengarnya, tetapi sudah lewat jam sepuluh. Dan Anda, Anton Pavlovich, mungkin saja, akan kedinginan. ”

“Manusia muda, berhentilah memberikan argumen!”

Saya kemudian sampai di Autka dalam hitungan sepuluh menit. Rumah, yang menjadi tempat Chekhov menghabiskan waktu musim dingin, hanya ditinggali bersama ibunya saja, dan seperti biasanya, dibekap oleh kesenyapan yang sangat senyap dan begitu gulita. Satu-satunya cahaya yang datang, berasal dari rekahan pintu kamar Yevgenia Yakovlevna, ibunya, juga dari dua lilin kecil yang menyala sayup di dalam ruang kerja Chekhov. Seperti biasanya, hatiku jadi berasa sakit kala melihat kamar kerjanya itu, yang sunyi, yang menjadi tempat bagi Chekhov untuk melewati banyak malam musim dingin yang lengang, yang mungkin dipenuhi dengan pikiran getir mengenai takdir, yang telah memberinya begitu banyak hal, tetapi yang juga mengejek kehidupannya.

3

Artikel Lengkap “Tentang Chekhov” bisa dibaca dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan terbit Agustus, 2019. Klik untuk Pre Order.

Chekhov tiba-tiba berpaling kepada saya dan berkata, “Apakah kau mengetahui, berapa lamakah orang-orang akan terus membaca karya-karya saya? Tujuh tahun, sewaktu itu saja.”

“Mengapa juga hanya tujuh tahun?” tanya saya.

“Baiklah, jika demikian, tujuh setengah tahun.”

“Tidak,” kata saya kepadanya. “Persajakan Anda, Anton Pavlovich, bakal hidup lama dari setelahnya, dan semakin lama dia hidup, semakin dia jadi jauh lebih kuat lagi.”

Chekhov tidak mengatakan apa-apa, tetapi ketika kami duduk di atas sebuah bangku dan sekali lagi memandang ke lautan yang bercahaya oleh sinar bulan,

“Hari ini Anda kelihatan sedih, Anton Pavlovich,” kata saya. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang baik, sederhana, megah, dan sedikit pucat lantaran terpaan sinar bulan.

Pada sepanjang waktu kami mengobrol, Chekhov memandang dengan mata yang merunduk dan dengan agak menekur meruyak kerikil-kerikil kecil dengan ujung ranting. Akan tetapi ketika saya mengatakan kepadanya bahwa dia kelihatan sedih, dia melemparkan pandangan kepada saya dan dengan berkelakar dia menjawab, “Kau yang bersedih, Ivan Alekseyevich, karena kau yang membuang uang untuk membayar tukang sais kereta kuda sewaan.”

Dia kemudian menambahkan dengan suara yang serius, “Tidak, orang-orang akan membaca karya-karya saya hanya selama kurun waktu tujuh tahun lagi, dan aku hanya memiliki waktu enam tahun saja untuk hidup. Akan tetapi tidak perlu juga mengatakan soal yang demikian ini kepada para juru berita di Odessa.”

Akan tetapi kali ini dia keliru: dia hidup lebih sedikit dari waktu yang dia perkirakan.

Chekhov wafat dengan tenang, tanpa penderitaan, di tengah-tengah keindahan dan kesenyapan fajar musim panas, waktu yang sangat dia cintai. Dan ketika dia wafat, ekspresi kebahagiaan muncul di wajahnya yang kelihatan jadi lebih muda. (*)

Jakarta, 6 April 2019

Ladinata, penerjemah ke dalam bahasa Indonesia

*) Selengkapnya dalam Buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta, 2019. Klik “Pre Order Buku Memikirkan Kata” untuk pemesanan buku. 

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Tabloids

Setelah Memikirkan Kata..

mm

Published

on

Editor’s Note:
Dan apa yang saya rasakan setelah buku “Memikirkan Kata” resmi rilis? Perasaan itu bercampur aduk, senang, bahagia, kecongkakan pada diri sendiri membumbung, dan pengalaman luar biasa yang diakibatkan semua proses terlewati— yang nyaris semua sisinya tidak mudah, lambat, sangat pelan, menjenuhkan dan menguras nyair semua!—Tetapi kadang juga bahwa hal itu berlangsung biasa saja, berjalan sebagaimana mestinya dan bisa dilalui tanpa beban psikis atau perasaan berlebihan—rasanya kerja semacam itu, terkadang, tak ubahnya seperti keharusan seorang untuk mandi pada ketika ia merasa rambutnya kaku, gatal dan badannya seperti lengket oleh debu.

Apa yang yang sebenernya saya rasakan? Saya tidak berusaha memikirkan atau merasakannya, biasa saja, tapi juga tidak sepenuhnya biasa, begitulah…

Hanya saja saya rasa, ini perasaan yang sama dalam keumumannya, seperti yang dirasakan semua yang pernah terlibat dan membangun sebuah dunia kreatif; menyelesaikan sebuah proyek penerbitan buku—berangkat dari dunia yang tidak ada, abstrak, lalu mewujudkannya untuk bisa disinggahi sejenak sebelum sepenuhnya dibakar atau ditinggalkan sebagai sarang atau menjadi milik bagi kehidupan siapa saja; mereka yang mau singgah, dan tak ada hak milik atas dunia semacam itu berikut hasil kerjanya, kecuali sedikit kenangan untuk diri sendiri; sebagai bekal melanjutkan perjalanan menuju gelap yang lain, dunia gersang di antara pohon pohon waktu yang angkuh, bebatuan dalam sungai jiwa yang suram, entah di mana akan duduk lagi untuk istirah sambil menipu diri sendiri bahwa pekerjaan semacam ini ada artinya, berguna atau katakanlah memiliki manfaat..

Terserah sajalah, saya tidak dalam tanggung jawab seperti selayaknya seorang kepala penerbitan, dan tidak juga dalam kapasitas sebagai editor atau penulis, saya harus kembali ke dunia saya, melanjutkan menapaki gersang dan sesekali istirah menulis sajak—sesekali saja karna saya juga bukan penyair beneran…

Hal semacam itu bagi saya sekedar untuk. Paling tidak memastikan saya tidak hanyut dalam kerumunan fatamorgana, dan saya berusaha meninggalkan sedikit jejak untuk anak-anak, sebagai bukti keadaban manusiawi—iya karena pekerjaan semacam itu yang bagi saya mungkin dan saya bisa lakukan, seorang bisa saja melakukan dalam ragam yang lain, seperti anda juga atau siapa pun saja; berbuat sesuatu untuk generasi indonesia dan keadaban kemanusian kita…

*

Dalam keintiman personal yang lain, dalam keumuman perasaan kreatif, saya rasa Woolf, Steinbeck mewakili keumuman yang saya maksudkan di atas; Woolf punya kronik umum atas hal itu dan anda telah banyak menngetahuinya, membaca bukunya, mendengar kisah juga menonton film tengan kehidupan kreatifnya yang diperankan apik aktris Kidman.. tapi saya ingin mengutipkan kerawanan dan ambiguitas itu di sini dari Steinbeck—lantaran jarang diketahui dan saya pun baru membacanya. Penulis Maria Popova menulis begini tentang cerita itu—yang jika bisa saya ringkas, singkatnya bagi Steinbeck, proses kreatif adalah upaya tak berkesudahan.. tiap kali usai, ambiguitas menyerbu, keraguan puncak antara baik dan sia-sia, kebermanfaatan dan juga cara curang di sisi lain—bahwa kita mengambil keuntungan tetapi kadang tidak bekerja dengan kemampuan pikiran dan perasaan terbaik yang bisa kita letakkan di atasnya.

Popova menggaris bawahi Steinbeck melalui catatan hariannya: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”, Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya (Steinbeck) tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak.

Popova mendapati Steinbeck dalam buku hariannya menulis begini: “Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.” Lalu.. “Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Dan lalu.. Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir. Dan di tempat lain Steinbeck menulis lagi : Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir. Tetapi lalu… “Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa: “Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja…. Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis: Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dan akhirnya, Yaaa… begitulah, saya rasa itu semua sudah cukup mewakili, lagi pula apa peduli anda pada saya dan proses ini, juga sebaliknya saya sendiri tidak terlampau peduli dengan anda juga—mungkin saja dan memang saya berpikir begitu, tapi itu hanya perangkat untuk saya memiliki hati kuat dan besar supaya bisa lanjut lagi, saya tidak sepenuhnya berkata begitu meski saya rasa itu banyak benarnya, tapi itu perasaan, bukan kebenaran hahaha selamat malam Jakarta…

Ah tapi saya harus mengatakan hal terpenting ini sekali lagi; saya sampaikan terimakasih kepada semua yang terlibat dalam penerbitan buku ini, para contributor (penerjemah, red): Affan Firmansyah, Ladinata, Susan Gui, Addi M Idham, Regina N. Helnaz, Agus Teguh, Fleur de Nufus, Virdika Rizky Utama, Marlina Sopiana—mereka orang-orang dengan bertumpuk-berlimpah pekerjaan pribadi dalam profesinya masing-masing; sebagai pengajar/ dosen, jurnalis, editor penerbitan dan pimpinan lembaga, begitu rupa kesibukan dan padatnya jadwal tapi dedikasinya untuk penerjemahan bagi buku ini dengan sigap mereka “singsingkan lengan baju !”—meski kita berjalan begitu lambat, tapi itu semua sepadan dengan hasilnya! Nama yang tidak bisa ditinggalkan adalah Aldia Putra, tanpa dia buku ini tidak bisa hadir dengan perwajahan yang telah dupayakan membuat anda menyukainya, untuk berkenan membawanya ke dalam kamar dan menempatkannya di tempat layak. Aldi untuk empat bulan lebih menemani saya duduk bekerja menggarap desain dan layout isi buku ini, sigap bekerjasama untuk ide yang kadang berubah saban jam bahkan menit, menggeser dan memindah, membuang dan menambahkan apa yang berkelebat dan terasa lebih bagus, itu selalu dengan gairah seorang berusia cukup lanjut dan tiap kali sesak nafas untuk melewati pukul sebelas malam. Kepada Genta dan Ndari, terimakasih untuk mengerjakan sampul buku ini degan sangat mendalam! Begitulah buku ini melibatkan orang-orang dedikatif, ceria dan tanpa batas dalam bekerja untuk hal yang mereka pikir baik dan akan bermanfaat. Tanpa mereka semua, buku ini dengan segala kekurangannya tidak akan di tangan anda saat ini. Hampir satu tahun lebih pengerjaan buku ini, semoga bermanfaat untuk  generasi indonesia dan terutama kemanusiaan kita. Dan harapan pribadi saya, untuk tidak sampai mengecewakan pada hasil akhir buku ini kepada semua rekan yang terilbat dalam pengerjaan “Memikirkan Kata”.

Buku “Memikirkan Kata” pada satu sisi juga jadi momen baik, suatu modal keberanian untuk saya meminta secara resmi kepada Afrizal Malna, Damhuri Muhammad, Hamdy Salad dan Iman Budi Santosa untuk menjadi semcam penasihat redaksi Galeri Buku Jakarta. Dan untuk berkenannya, saya tentu sangat bahagia dan berterimakasih.

Sementara itu, kepada para pembaca buku yang kerena telah membeli buku “Memikirkan Kata” saya sampaikan permohonan maaf atas beberapa kekurangan yang anda dapati dalam buku itu, baik dari segi typografi, tema dan bahasan yang ternyata bagi anda mungkin tidak istimewa, hal-hal yang seharusnya ada tetapi tidak ada, dan kekurangan lainnya, saya berharap pemakluman lantaran tenaga, keterburuan dan ketiadaan sabar untuk menunggu waktu lebih lama lagi guna penebritan buku tersebut, semantara saya dan anda sama-sama berharap buku ini terbit segera.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

 

Jakarta, 10 Agustus 2019
Sabiq Carebesth—editor buku dan pendiri Galeri Buku Jakarta.

 

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

John Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

by MARIA POPOVA | (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

 

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara. ”

Banyak penulis terkenal menjadian buku harian sabagi detak jantung kreatifnya, hal itu melebihi apa yang bisa kita duga. Tapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar – yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya. Dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, “The Grapes of Wrath” –sebuah judul yang politis dan radikal, Carol Steinbeck, muncul setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer bagi Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian, tetapi buah catatan pribadinya  yang tersimpan dalam buku harian, dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum) – catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya, di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa ( persis seperti Virginia Woolf) tetapi tetap maju ke depan, dengan semangat dan laju yang setara, ia terus didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dengan hadiah yang ia miliki, terlepas dari keterbatasannya. Jurnal hariannya menjadi praktik baik penebusan dan juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu: bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka.” Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

“Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, ‘Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.’ Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.”

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

John and Elaine Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang. (*)

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending