Connect with us

Tips Menulis

Tentang Cerpen—dan Penulisannya

mm

Published

on

Oleh: Sabiq Carebesth *)

Saya baru saja membaca cerita pendek (cerpen) Kanzuburo Oe—Kekasih Himiko—mungkin untuk keempat kalinya atau lebih. Saya menyukai cerpen itu tidak hanya karena paragraph pembukanya yang penuh hasrat, tapi juga metafora yang kaya dalam membuat penggambaran menjadi begitu hidup. Singkatnya romansa aneh yang dibentangkan dalam keseluruhan rasa sakit yang diam-diam telah membius mata saya, perasaan saya, pikiran dan debar!

Sebenarnya tidak hanya karya Oe yang mengesankan saya sedemikian rupa, paling tidak ada empat cerpen lain yang bisa saya katakan sebagai cerita pendek paling mengesankan dan saya sukai dari cerpen karya penulis lain. Empat cerpen itu adalah: “Kisah Cinta” karya Chekov; Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo karya Marquez, Tegak Lurus Dengan Langit karya Iwan Simatupang, Sukab dan Sepatu milik Seno Gumira, dan—saya lupa judulnya, tentang pemabuk di kafe dan kesunyiannya, mungkin berjudul “Kafe yang bersih dan Nyaman” milik Hemingway.

Tentu saja ada beberapa judul lain yang mengesankan mata baca saya, seperti misalnya cerita tentang seorang yang berusaha mencintai kata-kata/ membuat sajak milik Budi Darma—saya benar-benar lupa judulnya, cerpennya ada dalam kumpulan cerpennya di buku “Orang-Orang Bloomington” dan penulis Jepang lainnya yang berkisah tentang penyair kecil yang tersihir kata-kata yang didapatnya sendiri untuk puisinya—ah saya lupa nama pengarangnya—tapi bagaimana pun, cerpen-cerpen yang terakhir saya sebut berada di tangga kedua daftar cerpen favorit saya untuk beberapa alasan yang tentu saja sangat subjektif dan personal.

Dari cerpen-cerpen yang saya sebutkan, tentu bisa ditengarai cita rasa selera saya atas sebuah cerpen; mengangkat tema dan kisahan absurd, tragis, dan disajikan dalam bahasa yang mengandung ironi, kaya metafora, langsung ke inti kehidupan yang indah tapi berakhir dalam ketiadaan pilihan berhadapan dengan realitas diluar segala kebahagiaan yang diinginkan para tokohnya.

Saya merasa itu semua mewakili sublim rasa dari semua rahasia yang bisa kita sembunyikan sebagai anak manusia—dan cerpen-cerpen yang saya sebut di atas mengeluarkannya dari persembunyian batin yang bisa kita upayakan!

*

 

Oleh karenanya catatan “tentang cerpen—cerpen menurut pengalaman membaca saya–ini, dan bagaimana sebaiknya cerpen ditulis dan disajikan untuk pembaca (yang seleranya seperti saya; berdasar prolog dan latar belakang di atas) sekali lagi bersifat subjektif ketimbang mengacu pada teknika penulisan cerpen yang lebih umum.

Jadi apakah cerpen itu? sekali lagi dalam bahasa, nuansa dan cita rasa selera pribadi saya? Dan mungkin berkesesuaian dengan anda, atau semoga mampu memberi pertimbangan buat anda yang ingin menulis cerpen?

Saya  akan menyusun point-pointnya dalam list, dan sambil lalu mengabaikan struktur relasi antar paragraph, koherensi dan konjungsinya—sebab saya hanya menyalinnya dari catatan dalam buku harian. Saya persilakan anda memungut sari patinya sendiri—jika memang ada:

  • Cerpen adalah berhenti mempercayai kehidupan normal—hidup itu tidak normal!
  • Cerpen adalah rasa “kecut”, masam, terlampau getir dari kuburan rahasia dan masa silam yang ingin dihilangkan jejaknya sama sekali oleh banyak manusia. Maka menulis cerpen seperti menggali kuburan rahasia dan mengeluarkan isinya dengan telanjang bulat!
  • Cerpen adalah keindahan yang meregang tragis untuk pada akhirnya harus diterima sebagai kenyataan—meski memuakkan tapi pada dasarnya wajar—kecuali kita hendak menepis realitasnya.
  • Cerpen adalah hasrat “binatangisme” yang terpendam; terjadilah dalam dunia rekaan—sambil berharap—jangan dalam kehidupan nyata.
  • Cerpen adalah kehidupan yang ingin kita pungkiri—tapi nafsu kita menghasrati salah satu sisinya.
  • Ia bergerak oleh metafora yang dipilih sebagai satu-satunya cara ungkap—sebab deskripsi gagal mengatakannya dengan lebih tepat dan berisi—kareannya metafora yang dipakai haruslah sangat terpilih dan tepat!
  • Cerpen adalah keberanian menerima hidup yang pahit agar sakit sosial kita memiliki penawar.
  • Kadang-kadang cerpen juga sebuah dunia “tanpa pengharapan” dan memang berakhir “nyaris” tanpa harapan.
  • Atau dunia yang tampak normal, nikmat, tetapi memendam ironi dan rasa tragis.
  • Ia menyengat, konstan dan menghentak sejak kalimat pembuka tapi tidak akan membuat “mati” pembaca sampai paragfar penutupnya.
  • Metafora—sekali lagi, memudahkan kerja penggambaran/ deksripsi—juga sekalian memberi rasa nikmat yang mengesankan lebih dari sekedar enak dibaca dari sebuah narasi.
  • Cerpen adalah tentang orang-orang yang “tidak berdaya” menghadapi kenyataan yang tidak ia inginkan terjadi—tapi nyatanya terus berlangsung, menimpa, dan tokohnya mencari jalan untuk mampu menjalani dan menerima; dengan sikap-sikap yang absurd, penuh frustasi—hal itulah yang menggerakkan cerita, plot; suatu konflik kesadaran tentang kenyataan dunia yang memuncak dan pada akhirya, menusia tetap kalah/ dikalahkan.
  • Terakhir, cerpen adalah bahasa batin, rahasia yang ingin dipendam—dan fiksi mewujudkannya sebagai “kenyataan cerita”.

Di atas semua itu saya bukan penulis cerpen, saya belum pernah sekali pun berhasil menulis satu cerpen pun, dan dengan menyusun catatan bebas ini saya mungkin akan mulai belajar menulis cerita pendek. Mulai tahun depan, hehe.

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor galeribukujakarta.com dan penulis lepas.

 

Tips Menulis

Mendekati (dan Menikmati) Puisi Sebagai Teks

mm

Published

on

Puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan. Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu?

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.
Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. |Oleh Hasan Aspahani
Penyair, penulis, jurnalis, dan aha kini juga vlogger.

WUJUD fisik puisi itu adalah teks. Menikmati dan mencintai puisi tak mesti harus memahami itu. Tapi, puisi bisa didekati lewat jalan itu, memasukinya sebagai sebagai sebuah medan teks.

Apakah teks? Dalam bahasa Inggris, kini teks juga berarti pesan lewat SMS. “Text me…” berarti kirimi saya SMS. Orang Inggris, karena memang dekat dengan sumber etimologi kata teks itu, menyebut SMS sebagai teks untuk membedakannya dengan pesan yang bisa disampaikan lewat lisan melalui gawai yang sama yaitu ponsel. “Call me…”, lawannya adalah “text me…”.

Konsep teks, text, textum (dari sini juga turun kata tekstil yang tersusun dari jaringan benang), jaringan, muncul menjadi perhatian manusia dalam konteks memahami bahasa. Benang jaringan teks bahasa itu adalah kata-kata.

Lalu pengertian teks itu meluas, menjadi apa saja yang bisa dibaca dan “dibaca”, rambu lalu lintas, iklan, bentuk bangunan, gambar, lukisan, hamparan alam, gaya berpakaian, gerak tubuh, batuknya Pak Harto, kerdip mata Sukarno, diamnya Bung Hatta, senyumnya Dian Sastro, jambulnya Syahrini, dll.

Apa yang menyamakan semua itu? Ada segugus tanda dan simbol, yang daripadanya bisa ditangkap suatu pesan. Itu!

Teks bahasa dimaknai lewat semantik, bagian dari linguistik, yang juga merupakan cabang dari semiotik, satu ilmu yang dikembangkan untuk “membaca” atau memaknai teks, termasuk yang bukan teks bahasa (tulis).

Kita berenang dalam lautan teks. Kita dikepung teks. Baliho, status FB, pesan WA, berita, tweet, email, blog, komentar, dan lain-lain. Tak pernah kita terlelap dalam samudera teks sedahsyat hari-hari ini. Duhai manusia, duhai homo signans, seberapa kuat kita mampu memaknai semua paparan teks semenderu ini? Apakah sebanyak itu teks harus hadir di ruang publik dan ruang privat kita manusia modern ini?

Ah, daripada mumet, mari kita nikmati teks puisi saja. Ya, puisi adalah teks. Yang bisa dinikmati. Nah, biar terasa sedikit ilmiah, saya ingin mengutip apa definisi teks. Benny H. Hood (Semiotik & Dinamika Sosial Budaya) memakai definisi ini: teks adalah satu satuan kebahasaan (verbal) yang mempunyai wujud dan isi, atau segi ekspresi dan segi isi.

Terbayang bukan bahwa puisi memang bisa didekati sebagai sebuah teks. Dalam puisi ada wujud fisik dan ruh. Ada bentuk dan isi. Ada cara ucap ada bahan yang hendak diucapkan.

Dari buku yang sama, kita dapat penjelasan bahwa untuk dapat disebut sebagai teks maka sebuah teks harus memenuhi unsur-unsur tekstualitas. Apa itu? Ada enam. Inilah dia:

1. Kohesi. Unsur-unsur pembentuknya mempunyai kaitan semantis, atau unsur pembangun makna. Penyair menjaga benar unsur ini, ketika ia menulis puisi. Antara lain dengan memilih diksi, membangun metafora, rima, ritme, pokoknya perangkat puitika itulah.

2. Koherensi. Segi isinya, sekali lagi isinya, dapat diterima karena memenuhi logika tekstual. Bukan hanya diterima. Tapi juga diterima dengan nikmat. Teks puisi harus menjanjikan kenikmatan tekstual. Dia harus istimewa dibanding teks bahasa biasa yang bukan puisi.

3. Intensionalitas. Ada intensi, ada tujuan. Ada udang-di-balik-batu-nya. Teks diproduksi dengan tujuan atau maksud tertentu. Puisi juga pasti mengandung itu. Penyair menulis puisi karena itu. Kalau tidak, dia tak akan menulis puisi. Meskipun tak selalu pembaca tahu dan tak perlu juga tahu apa tujuannya menulis puisi itu.

4. Keberterimaan. Teks berterima bagi masyarakat pembaca. Jika tidak, puisi sebagai teks, akan menjadi medan yang gelap, yang tertolak, yang tak diterima pembaca.

5. Intertekstualitas. Ada kaitan semantis dengan teks-teks yang lain. Nah, ini penting sekali dalam puisi. Goenawan Mohamad menyebutnya pasemon. Persemuan. Ada sesuatu yang dihadirkan, atau disusupkan ke dalam teks puisi, yang diam-diam membawa segugus teks dan makna lain. Ketika Chairil Anwar menulis “Ahasveros” dalam sajaknya, maka mitologi yang melibatkan nama itu, menjadi bagian dari makna puisi Chairil. Itu intertektualitas.

6. Informativitas. Ya, teks juga harus mengandung informasi dan pesan tertentu. Di dalam puisi, informasi itu tak terlalu penting lagi, tapi pesannya penting, dan bisa berganda-ganda, membangun atau terbangun dari ambiguitas dari unsur pembentuk teks puisi itu.

Nah, apakah penjelasan ini bikin puisi tampak menjadi semakin ribet? Maafkan, kalau begitu, dan lupakan saja. Kalau mau masih ada penjelasan yang lebih rumit. Puisi kok dilawan. Dekati dan terima puisi sebagai puisi saja. Kalau memang itu lebih nikmat untuk dilakukan.

Jakarta, 20 Februari 2020.

Continue Reading

Tips Menulis

Zadie Smith: 10 Saran untuk Penulis

mm

Published

on

Zadie Smith (lahir Oktober 1975) adalah seorang penulis cerita pendek, penyair, penulis esai dan novelis Inggris yang tumbuh di Willesden Green, sebuah daerah kelas pekerja di barat laut London. Pada 2013, ia telah menerbitkan lima novel, yang paling terakhir adalah kisah multifaset dari London, NW (2012), Fail Better (2006), On Beauty (2005), The Autograph Man (2002) dan novel debutnya White Teeth (2000) ), yang semuanya telah menerima pujian kritis nan substansial.

White Teeth adalah kisah yang brilian, ditulis dengan jelas, sangat lucu, ceroboh tentang dua keluarga multi-budaya yang eksentrik di London Barat Laut. Ini menyajikan karakter dari berbagai (dan kadang-kadang campuran) kelas, ras dan kelompok etnis semua berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki kebenaran dalam tahanan. Smith mengatakan dia melihat kesamaan dalam beberapa perilaku karakternya dibandingkan dengan karakternya, mengingat bahwa dia dilahirkan dalam keluarga antar-ras (ayahnya adalah orang Inggris dan ibunya adalah seorang imigran Jamaika).

Meskipun White Teeth jelas tentang multikulturalisme di Inggris, novel ini memenuhi harapan besar dan tidak hanya pembaca Inggris, tetapi juga pembaca Amerika. Smith hampir secara instan dinobatkan sebagai juara fiksi kontemporer dan masa depan sastra ketika dia merilis buku itu. Beberapa kritikus mengatakan dia telah menulis novel yang bahkan tidak dapat dilakukan oleh penulis berbakat pada usia 80 apalagi pada usia muda 22 tahun dan masih seorang mahasiswa di Cambridge.

Tidak pernah diberi tahu apa yang harus dipikirkan atau dilakukan, Smith terus bekerja pada perkembangannya tanpa terpengaruh oleh statusnya yang semakin meningkat di dunia sastra. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah menjadi kritikus intelektual dan budaya publik yang cerdik, menerbitkan esai tentang beragam topik seperti keadaan novel realis, pantasnya fiksi David Foster Wallace, nasib Willesden Green Library Center dan masalah dengan Facebook.

Dalam sebuah wawancara di episode Desert Island Disc BBC, Smith tanpa berbasa-basi mengutuk obsesi media ‘konyol’ dengan penampilannya dan saran tersirat serta ‘seram’ bahwa seorang wanita cantik tidak dapat mencapai kebesaran sastra. Dia mengutip Sylvia Plath sebagai contoh seorang penulis wanita cantik yang telah berhasil dalam pekerjaannya sebelum membahas apa yang dia anggap sikap seksis ‘jahat’:

  1. Ketika masih anak-anak, pastikan Anda membaca banyak buku. Luangkan lebih banyak waktu untuk melakukan ini daripada yang lainnya.
  2. Ketika seorang dewasa, cobalah membaca karya Anda sendiri seperti orang asing akan membacanya, atau bahkan lebih baik, seperti yang dilakukan musuh.
  3. Jangan meromantiskan “panggilan” Anda. Anda bisa menulis kalimat yang baik atau tidak. Tidak ada “gaya hidup penulis”. Yang penting adalah apa yang Anda tinggalkan di halaman.
  4. Hindari kelemahan Anda. Tetapi lakukan ini tanpa mengatakan pada diri sendiri bahwa hal-hal yang tidak dapat Anda lakukan tidak layak dilakukan. Jangan menutupi keraguan diri dengan penghinaan.
  5. Berikan waktu yang cukup untuk menulis dan mengeditnya.
  6. Hindari klik-klik, geng, kelompok. Kehadiran orang banyak tidak akan membuat tulisan Anda lebih baik dari itu.
  7. Bekerja pada komputer yang terputus dari internet.
  8. Lindungi waktu dan ruang di mana Anda menulis. Jauhkan semua orang darinya, bahkan orang-orang yang paling penting bagi Anda.
  9. Jangan mengacaukan penghargaan dengan prestasi.
  10. Katakan kebenaran melmeskipun pembatasan ada di mana-mana- tetap katakan itu. Mengundurkan diri dari kesedihan seumur hidup yang datang karena tidak pernah puas.

*) Dari “Zadie Smith’s White Teeth: 10 Golden Rules for Writers” | (p) Virdika R Utama (e) Sabiq Carebesth

Continue Reading

Tabloids

Ini yang Dituntut Para Editor Atas Cerpen Anda

mm

Published

on

Kriteria fiksi macam apa yang dianggap ‘menjual’? juga bagaimana cara penulis bersaing dengan satu sama lain demi menarik perhatian pembaca? Para editor fiksi dunia—Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE, Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES, Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD—membocorkan sedikit tips tentang cerita pendek macam apa yang menurut mereka pantas untuk diterbitkan. Selengkapnya:

  • Pentingnya Gramatikal dan Ejaan

“Pertama-tama, cek ejaan, tanda baca dan penggunaan kalimat dalam tulisanmu…dan kalau kau ingin menulis fiksi, kau juga harus banyak membaca fiksi. Kalau berniat menjadi penulis cerita pendek, maka kau harus membaca cerita pendek sebanyak mungkin. Setelah itu, baca hasil tulisanmu keras-keras. Kalau ada kalimat yang terdengar ‘aneh’—segera cabut dari tulisanmu. Dan jangan pernah mengirim draft pertama tulisanmu kepada editor, karena itu adalah tulisan yang belum selesai. Kenapa kau harus melakukan semua ini? Karena semua poin-poin yang saya sebutkan menyimpulkan bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan. Kalau kau ingin ceritamu dibaca banyak orang, maka kau harus bekerja keras. Semua cerita yang ingin kau kirimkan ke editor majalah atau buku harus terbaca rapi, bersih, padat dan jelas. Setiap kalimat yang ada dalam ceritamu harus menunjukkan bahwa kau telah bekerja keras menghasilkan tulisan tersebut. Sebuah karya bisa dikatakan bagus, tapi bagus saja tidak cukup. Untuk meraih pembaca seluas mungkin, diperlukan karya yang luar biasa. Kami menerima banyak sekali kiriman cerita pendek yang bagus, tapi kami hanya menerbitkan cerita-cerita yang menurut kami luar biasa. Cerita-cerita yang tidak terlupakan, yang menyentuh kami, yang sangat kami sukai. Standar ‘cerita bagus’ terlalu rendah untuk kami. Cerita yang luar biasa akan selalu teringat di kepala pembacanya.” ~ Anthony Varallo, Editor Fiksi, CRAZYHORSE

 

  • Baca Artikel serupa dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan klik gambar.

    Detail yang menguatkan Karakter

“Pembaca sangat peduli terhadap karakter dan bahkan setelah cerita selesai, mereka tetap memikirkan karakter yang mereka temui di dalam cerita tersebut. Cerita harus memiliki detail yang bisa dibayangkan jelas oleh pembaca, serta menjadi pegangan si pembaca. Dan bila ada dialog dalam cerita itu, maka dialog tersebut harus terdengar nyata, dan tidak dibuat-buat atau berlebihan. Selain itu, cerita yang kami cari harus bisa menawarkan pandangan hidup yang segar dan mendalam. Sesuatu yang punya arti serta nilai resonansi terhadap pembaca. Dan, di akhir cerita, pembaca merasa puas. Bukan berarti cerita itu harus berakhir bahagia, tapi ada perasaan bahwa sebagian dari perjalanan si karakter telah tiba di penghujung jalan.” ~ Susan Burmeister-Brown, Co-Editor, GLIMMER TRAIN STORIES

  • Mengejutkan Sejak Pembukaan

“Cerita yang kami inginkan adalah cerita yang bisa mengangkat dirinya di atas cerita-cerita lain—yang menarik perhatian kami dengan cepat, bahkan di kalimat pertama, serta membuat kami terbuai setelah membaca satu, dua paragraf. Cerita yang kami inginkan akan membuat kami terpaku pada setiap kata dan kalimat hingga cerita itu selesai, dan seluruh indera kami terpicu karena begitu senang menemukan cerita yang luar biasa. Cerita seperti ini adalah cerita yang bisa kami cerna, dan juga membuat kami terpukau dan terhubung pada manusia lain. Kami mencari cerita yang bisa menarik perhatian kami lewat ritme, penggunaan kalimat serta kepribadian karakter di dalamnya. Semua karakter harus terasa hidup. Selain itu, detail yang kuat akan membuat suara si penulis dan para karakternya lebih terdengar, hingga membawa pembaca ke bawah permukaan interior atau eksterior cerita. Namun, semua elemen ini juga tidak boleh bertabrakan dengan alur narasi cerita.” Susan Mase, Editor Fiksi, NIMROD.

___

Baca Artikel serupa tentang Tips dan Saran menulis lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” akan terbit Agustus, 2019. Info pemesanan Whatsapp 082 111 450 777. Info detail buku klik Order Buku Memikirkan Kata 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending