Connect with us

Politik

Tantangan Kebangsaan Kita

mm

Published

on

Kebangsaan Indonesia paling tidak memiliki dua keunggulan utama sebagaimana disebut Franz Magnis-Suseno dalam opininya “Merayakan 70 Tahun Pancasila” (Kompas, 5/6).

Keunggulan tersebut adalah: (1) Kebangsaan indonesia merupakan kebangsaan etis. Artinya ia tumbuh berdasarkan “cita-cita” etis luhur yang dimiliki. Cita-cita tersebut berangkat dari perasaan saling solidaritas untuk bebas dari pengalaman terjajah-tertindas baik oleh sistem kolonial-kapitalistik mau pun feodalisme yang memfasilitasi praksis imperialisme dan penghinaan harkat manusia merdeka di masa lalu. (2) Yang adalah kekhasan dari kebangsaan Indonesia. Kesadaran kebangsaan indonesia merupakan artikulasi rakyat sendiri sejak sebelum merdeka, mengental dan memuncak dalam Sumpah Pemuda 1928. Artinya rasa kebangsaan indonesia tak dipompa dari atas oleh elit politiknya paska kemerdekaan—yang tujuannya tak jarang justeru ingin menancapkan dominasi dan hegemoni kepentingan politiknya.

Tantangan kebangsaan hari ini, masih menurut Franz Magnis –Suseno, dan kita bisa melihatnya bersama, juga dari dua soal: (1) Berkembangnya intoleransi di ruang agama, (2) Hedonisme konsumeris yang mendesak ke dalam bangunan solidaritas dalam mewujudkan “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Yang disebut pertama mengancam “Persatuan Indonesia”, yang kedua merobohkan bangunan “keadilan sosial” yang kita cita-citakan untuk seluruh rakyat Indonesia.

Gotong royong dan Politik

Tidak bermaksud meromantisir zaman lalu, kita perlu mengingat kembali wacana dan ide Sukarno—tidak dalam rangka pengkultusan tapi usaha menilik sublim ide Pancasila dari Sukarno sebagai salah satu Founding Fathers bangsa Indonesia. Ide Sukarno dalam terminologi “gotong royong” dan pentingnya “politik”dalam membangun kebangsaan Indonesia penting direfleksikan dalam membicarakan Pancasila dan tantangannya hari ini.

Gotong royong dalam pemikiran Sukarno adalah pengejewantahan dan ajakan berkomitmen untuk menerima hidup di indonesia dalam perbedaan. Perbedaan latar belakang etnik, keyakinan, paham ideologi—semua harus bersatu, bergotong royong di dalam merespon tantangan kebangsaan pada setiap zamannya. Tak perlu phobia pada perbedaan. Sebab itulah “Persatuan Indonesia” ditekankan benar oleh Sukarno, “Persatuan.. Persatuan.. sekali lagi Persatuan…”.

Politik di dalam ruang kebangsaan yang demokratis harus berdiri di atas pondasi gotong royong dari banyak latar dan entitas yang berbeda-beda tersebut. Kesadaran akan perbedaan dan kesediaan berbangsa dalam perbedaan itulah yang lantas melahirkan persepsi dan konsepsi Sukarno atas “politik”. Bukan dalam artian politik sebagai panglima yang vis a vis dengan ekonomi, atau seakan pemaknaanya politik harus di dahulukan melampaui ekonomi, melainkan kesadaran akan berbedaan itu menuntut suatu kondisi di mana macam-macam tantangan kebangsaan harus dibahas, didialogkan, dan dijawab dalam suatu konsesnsus dan disensus di ruang politik.

Artinya semangat dari “politik” itu sendiri adalah meniadakan dominasi, hegemoni serampangan, dan pandangan serta tafsir tunggal atas suatu persoalan berbangsa. Sebaliknya suatu soal dari tantangan berkebangsaan indonesia harus disepakati atau tidak disepakati, dijawab melalui medan politik (demokratis) dengan semangat gotong royong dari realitas kebangsaan kita yang berbeda-beda latar dan entitas tersebut.

Sodalitas dan Spritualitas

Tantangan kebangsaan zaman kita hari ini memang tidak lagi sebatas di ranah konseptual, juga walau Franz Magnis-Suseno menyebut kebangsaan “etis” tetapi tantangannya hari ini telah melampaui dimensi etis.

Dalam hidup berbangsa sekarang ini kita kian kehilangan apa yang oleh sosiolog Prof. Tjondronegoro disebut sebagai “sodalitas”. Budaya sodalis adalah budaya saling hutang tenaga, budi, dan hasil jerih payah dengan kerelaan di dalam praktek gotong royong sebagaimana terdapat di desa-desa lama di indonesia. Ketika tetangga sedang punya hajat menikahkan anak atau membangun rumah, tetangga lainnya urun tenaga atau hasil bumi, mereka merelakan waktu pribadinya seperti untuk menggarap ladangnya dan urusan pribadi lainnya demi untuk membantu tetangganya tersebut.

Budaya sodalitas semacam itu memupuk dan merupakan “nutrisi” bagi berseminya solidaritas dan gotong royong di masyarakat. Tradisi sodalitas juga merupakan penciptaan ruang berdemokrasi ala rakyat. Sayangnya kini budaya konsumeris-hedonis menggeser sodalitas menjadi kalkulasi kapitalistik sarat gengsi, kehidupan sehari-hari telah menjadi sarana pentas bagi ketimpangan kelas-kelas sosial.

Tiadanya sodalitas dan solidaritas adalah tanda hilangnya spritualitas dalam hidup berbangsa. Eksistensi manusia-manusia yang dipraktikan sebagai cenderung rasis, nir dari tanggung jawab. Demi menjaga gengsi dan gaya hidup hedon korupsi pun jadi. Suap sana sini asal izin usaha dengan kalkulasi tetap untung pun tak jadi soal. Akibat dari itu semua spiritualitas dalam kehidupan berbangsa kita hari-hari ini pun kian mengabaikan dimensi spiritual di mana Pancasila menekankan “Ketuhanan” yang maha, sebagai piranti—yang semestinya menempel di dalam laku berbangsa.

Lepas dari itu tantangan kebangsaan kita di ranah ekonomi politik juga tak bisa diabaikan. Rusaknya sistem ekonomi politik desa dengan segala corak dan cara produksi agrarisnya turut menyumbang mekarnya dimensi konflik sosial dalam ruang kebangsaan kita. Persoalan tanah yang timpang penguasaannya, pangan yang dikuasi rezim korporasi, dan di satu sisi lemahnya peran dan perlindungan negara pada rakyatnya, adalah problem kerakyatan yang nyata berkontribusi pada problem demokrasi dan akhirnya problem kebangsaan di mana Pancasila harusnya menjadi spiritulitas tak hanya dalam idea-idea etis tetapi juga di ranah praksis.

Politik harus dikembalikan pada pertanyaan dasar dari fundamental berdirinya negara-bangsa seperti pertanyaan paling awal Aristoteles dan Plato dalam dialog di kitab “Politea”: Apa itu keadilan?. Bukan semata pertanyaan bagaimana berkuasa dan menjalankan kekuasaan dengan kalkulasi matematika kepentingan.

Tujuan berdirinya negara-bangsa Indonesia adalah masyarakat “Adil-Makmur”. Di mana penekanannya, sebagaimana ditafsirkan salah satunya oleh Dawam Rahardjo, adil dahulu, baru makmur. Yang artinya jalan menuju kemakmuran harus ditempuh melewati jalan penciptaan keadilan. Dalam penegakkkan keadilan itulah politik-demokrasi hari ini harus kembali kepada Pancasila sebagai landasan etis, acuan praksis, dan akar spritualitas politik.

Karenanya politik harus menjadi agenda kultural, proyek kebudayaan demi terwujudnya “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”, sebagai raison d’être dan juga—meminjam istilah Hannah Arendt, merupakan “human condition” yang dibutuhkan untuk melangsungkan agenda politik, demokrasi dan kemakmuran rakyat. (*)

________________________________________________

*Sabiq Carebesth, Freelance Writer. Author of  “Memoar Kehilangan” (2011). Chief  Editor Galeri Buku Jakarta. | Kolom ini pernah dimuat di Majalah SINDOWeekly Edisi Kamis 25 Juni 2015.

Continue Reading
Advertisement

Politik

Para Aktivis dan Demokrasi 2019

mm

Published

on

Oleh: Dominggus Elcid Li

Tulisan ini tidak membahas tentang Pilpres. Tulisan ini tentang kawan-kawan, para sahabat yang memilih berjuang untuk masuk dalam partai politik dan berusaha untuk terpilih dalam Pemilu 2019.

Meskipun kadang saya merasa diteror dengan foto-foto para caleg yang menyesaki ruang public sampai dapur domestik kita, tapi kono kita perlu berusaha untuk optimis, dan tetap memberikan penghargaan kepada mereka yang maju. Dalam semangat yang lebih optimis, tulisan ini dibuat, dan semoga nada sarkastik tidak muncul di sini.

Setelah sekitar duapuluh tahun bekerja sebagai aktivis LSM, aktivis perempuan, jurnalis, staf ahli, tukang tulis pidato, tukang bawa map politisi senior, hingga pemadam kebakaran untuk apa pun yang dikerjakan para senior partai, sebagian kawan kini ada di posisi yang sangat memungkinkan mereka terpilih. Sekian bulan ini mereka sebagai calon legislatif bekerja keras, mulai dari berkunjung ke konstituen, calon konstituen, dan mempersiapkan diri sebagai calon pejabat publik. Itu semua berlangsung di era iklim ‘apa-apa serba duit’. Tentu semua itu bukan hal mudah dan murah.

Dulu saya pernah merasakan keringat dingin karena maag, dan rakyat bawah yang ingin kami ajak untuk bergabung selama dua jam menyandera dan bertanya apakah sudah siap ‘uang sekian ratus ribu’ untuk per kepala dikala uang sepeser tidak ada di kantong ketika mengerjakan demokrasi partisipatoris. Mimpi tentang demokrasi ideal, model pertukaran ide dan pembelaan terhadap mereka yang paling lemah tenggelam dalam kenyataan bahwa anda juga disandera oleh orang-orang miskin ini.

Untuk scene ini perasaan yang paling tepat dikisahkan lewat para ronin (samurai tak bertuan) dalam Seven Samurai-nya Kurosawa, yang berjuang untuk mempertahankan desa, dari serangan rampok. Dan para penduduk desa yang senantiasa mencurigai para ronin menyembunyikan makanan. Keinginan para samurai untuk mengadu nyawa untuk mempertahankan kepentingan orang banyak, tidak selamanya dipercayai orang kecil yang sekian abad ditipu, ditipu, dan ditipu.

“Suuudah Pak, jangan omong banyak, bayar putus ko abis!” Ini kejujuran yang pahit yang bisa ditemui di lapangan. Selanjutnya, setiap SMS dan telfon cenderung ditanggapi seperti Putu Wijaya yang menunggu Telegram. Permintaan uang, mungkin bisa bikin orang parno. Itu bisa saja kabar kematian. Ya, kematian harapan-harapan yang gugur.

Ironi semacam ini membuat fantasi tentang rakyat kadang hilang timbul dimakan kemarahan. Jika sebagian yang sudah kebal, mereka punya trik mematikan. Bagi mereka yang baru pertama, biasanya pasti shock. Sebagian lain langsung trauma sebelum mencoba.

Mencari celah untuk tetap bisa idealis dan bernafas dalam sistem tidak mudah. Jika setiap hari menelan pil pahit, apakah mungkin orang mampu untuk bertahan dengan kaki-kaki idealnya? Ataukah ruang-ruang aneh itu juga mengubah orang menjadi profil seseorang yang dulu ia hindari dan ia kutuk dalam orasi di atas aspal-aspal panas itu?

Pengalaman bekerja di dalam sistem demokrasi transaksional membuat orang seharusnya tidak gegabah untuk memvonis hitam-putih. Ketika memilih bekerja dalam sistem, lidah anda sebagian sudah digembok. Ada sekian aturan struktur partai yang harus ditaati. Ada sekian idealisme yang harus tidak diucapkan. Ada sebagian diri yang harus hilang. Yang paling pahit, ada sebagian perkawanan yang harus hilang. Harga dari langkah menuju kekuasaan adalah Homo Homini Lupus. Manusia adalah serigala untuk sesamanya.

Di belantara per-caleg-an semacam ini, orang berhadapan dengan sekian plot cerita. Ujungnya selalu terbuka. Happy Ending, tidak selalu terjadi. Tetapi, bukankah keberanian untuk mencoba, dan mengalahkan sindrom manusia parno itu juga merupakan sebuah prestasi? Anda berani untuk maju. Anda berusaha siap untuk menang. Anda mungkin sudah siap untuk kalah. Anda sudah habis-habisan, dan ini seperti main judi.

Jika punya modal finansial, gaya penjudi lebih cocok. Dengan gaya profesional, sumbangan bisa diarahkan dengan tepat kepada konstituen. Dengan gaya orang partai, seluruh mesin harus bisa berjalan. Dengan gaya orang suci, anda dilumat hingga sumsum.

Ya, fantasi demokrasi transaksional, jelas bukan seperti demokrasi deliberatif seperti yang diceritakan Habermas. Di Indonesia, situasinya jauh lebih rumit. Modal sosial menjadi pertaruhan. Segregasi yang telah tercipta sekian lama, dengan mudah berubah menjadi luka dalam kontestasi. Bukan cuma rakyat jelata, maupun emak jelita, tapi para aktivis sendiri tiba-tiba menjadi manusia narsis melankonlis. Saya menjadi lebih besar, dan merasa paling menderita di atas sekian fenomena sosial yang menolak untuk dibaca tuntas.

Orang kadang menyindir Mr. P yang mengucapkan ‘Saya lebih aktivis daripada aktivis’. Namun, kenyataannya, kesimpulan hitam-putih semacam ini lah yang dominan di layar media sosial. Ada banyak kemarahan, ada banyak kekecewaan, ada banyak permusuhan yang tidak perlu. Ada banyak argumentasi yang juga tidak perlu untuk diungkapkan. Bukan soal benar atau salah.

Tetapi, ada perasaan orang tidak mau mendengarkan orang lain bicara. Monolog dalam keramaian semacam ini semakin membuat demokrasi transaksional tidak mendapatkan pembahasan yang memadai. Yang sibuk dibicarakan adalah luka-luka yang seolah orang lain tak mampu mengerti. Dan hanya saya seorang yang mengerti.

Satu sisi para aktivis begitu tersedot momentum pilpres, di sisi lain urusan legislatif yang teramat penting ini dilewatkan. Para anggota dewan ini bukan pemain figuran, mereka ini lah nadi kebijakan publik. Yang begerak dari level kecamatan hingga ibukota negara. Perjuangan para caleg di ruang-ruang kecil menentukan apakah Indonesia dijual atau tidak. Jadi bukan hanya soal presiden. Skenario film hitam putih yang menempatkan eksekutif sebagai satu-satunya penentu adalah kegagalan analisis.

Pukulan yang diterima di kepala kawan-kawan mahasiswa di Aceh, atau pun sengketa tambang garam di Kabupaten Malaka (NTT) yang merontokan sekian hektar lahan mangrove di wilayah hutan adat tentu bukan soal siapa presidennya. Tetapi mengapa di era “yang katanya demokrasi” ini para anggota DPR yang seharusnya membela kepentingan orang banyak, malah hanya diam, dan membiarkan para mahasiswa dan tetua adat dirampok oleh nalar investasi tanpa belas kasihan. Kenapa mereka yang membela “R” (Rakyat), berubah menjadi “r” (rampok)?

Dari Aceh hingga Papua perampokan ini terjadi, dan tidak mungkin level pertaruhan oligarki hanya ditempatkan di level kepala negara. Level pertarungan harus ditempatkan mulai dari level kecamatan.

Bergerak di level Indonesia pun, tidak bisa bermain parokial. Orang Bali urus orang Bali, orang Aceh urus orang Aceh. Orang Papua urus orang Papua. Orang Minang urus Orang Minang. Itu tahun sebelum 1928. Dalam wilayah Indonesia sesulit apa pun elemen kritis harus mampu menemukan pengertian sehingga tidak saling bunuh dalam pasar demokrasi terkini. Orang Indonesia 2019, sibuka meletakkan luka di wilayah parokial. Luka orang Aceh, luka orang Minang, luka orang Papua, luka orang Bali, luka orang Timor, dan luka orang Indonesia malah tidak ada.

Marah dan takut adalah reaksi awal. Jika anda tergolong orang yang mengerti persoalan maka marah atau takut tidak menjadi bagian dari laku hidup sehari-hari. Maksud saya marah yang sifatnya personal. Kalau marah untuk para garong, itu harus. Aneh jika tidak marah. Tetapi marah karena tidak dimengerti oleh sesama aktivis lain ini lah yang paling soal.

Soal identitas agama, yang dianggap menjadi sumbu kemarahan. Itu lebih soal ketakutan. Semua orang takut terhadap dunia yang berubah. Soal dapur yang tidak berasap. Soal ‘si dia yang asing’ yang menguasai rumah sendiri. Soal para pembaca huruf yang lupa membaca realitas dengan mata terbuka, hanya dengan kemarahan, apalagi menari di atas luka-luka kawan sendiri. Sudah lah, anda bukan aktivis, kalau hanya mengerti luka sendiri. Jika kawan sendiri tidak dimengerti, apalagi konsep rakyat. Jika budi saja tidak ada, tidak ada guna bicara soal siapa yang lebih suci.

Selamat berjuang dan jangan lupa siapa yang mesti Anda bela. (*)

*) Tulisan ini saya persembahkan untuk para sahabat yang menjadi caleg. Selamat berjuang Sahabat!

 

Continue Reading

Politik

G30S dan Generasi Milenial

mm

Published

on

Peristiwa 1965 dan Anak Muda

BAGI SAYA, selama di buku paket sejarahmu masih tertulis G30S/PKI, maka kita harus mengatur nafas dan semangat untuk terus membicarakannya. Seberapa bosan dan letihnya.

Bukan karena ingin membela Tiga Huruf tersebut, melainkan untuk mendudukan cerita sejarah di masa lampau pada kursinya. Di titik ini penyebutan ‘G30S’ tanpa embel-embel apapun menjadi kontekstual dan politis.

Perlu dipahami, berdasarkan sejumlah penelitian akademis bahwa peristiwa di ujung bulan September dan awal Oktober itu tidaklah disebabkan faktor yang tunggal sebagaimana Rezim Orba yang menyebut PKI sebagai dalang satu-satunya.

Memang sejak Orba tumbang Mei 1998, semangat publik untuk membuka dan menelaah peristiwa kelam—yang memiliki istilah beragam dari Gerakan 30 September (G30S), Gerakan September Kelabu (Gestapu), hingga Gerakan 1 Oktober (Gestok)—itu kembali meningkat. Gelombang demokratisasi. Dari penghentian tayang film Penghianatan G30S/PKI garapan Arifin C Noer, wacana penghapusan TAP MPRS Nomor XXV Tahun 1966 pada masa Pemerintahan Gus Dur, hingga penghapusan ‘PKI’ di belakang nama ‘G30S’ pada Kurikulum 2004.

Namun yang perlu dipahami, apa yang disebutkan di atas bukanlah alasan untuk mengatakan bahwa ‘PKI Bangkit!’. Sebab sejak tahun 1967 Partai Komunis Indonesia sebagai sebuah organisasi sudah dibubarkan, dan ratusan ribu anggotanya tewas terbunuh akibat peristiwa berdarah tersebut. Jadi jika ada pihak yang ingin membicarakan kembali Peristiwa 1965 bukanlah berarti ingin ‘membangkitkan PKI’—sebagaimana yang ditakuti oleh para Jenderal Angkatan Derat. Lagian Jenderal, sama PKI kok takut, kata Gus Dur di tahun 2005.

 

5 ‘versi’ Dalang Peristiwa G30S

Menurut penelitian akademis yang saya telusuri, setidaknya ada 5 versi dalang Peristiwa 1965. Pertama, PKI sebagai dalang peristiwa. Ini versi Rezim Orba. Orang pertama yang membahas mengenai hal tersebut ialah sejarawan Angkatan Darat Nugroho Notosusanto dalam bukunya berjudul Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia yang terbit tahun 1968. Dalam bukunya Nugroho ingin mengatakan bahwa sudah lama “PKI ingin mengkomuniskan Indonesia”. Nugroho mengaitkan dengan beberapa peristiwa di palagan sejarah Indonesia yang melibatkan PKI sebagai aktor utama: dari Pemberontakan 1926 di Prambanan dan Sumatera Barat saat masa kolonial Belanda hingga Peristiwa PKI Madiun di bawah pimpinan Musso. Yang perlu digarisbawahi ialah buku inilah yang dijadikan rujukan utama Arifin C Noer menggarap filmnya pada tahun 1981—film yang diwajibkan untuk ditonton sejak periode awal tahun 1990-an di sekolah-sekolah hingga instansi pemerintahan bahkan disiarkan secara nasional melalui stasiun televise, TVRI.

Selain buku karya Nugroho tersebut, Sekretariat Negara mengeluarkan Buku Putih dan Sejarah Nasional Indonesia—suntingan Nugroho Notosusanto pula dengan ketua penulisan sejarawan UGM Prof. Sartono Kartodirjo—yang dianjurkan untuk menjadi bahan ajar utama yang disampaikan di sekolah-sekolah. Melalui tiga buku inilah, dan peran sentral sosok Nugroho Notosusanto, penyebutan peristiwa tersebut menjadi ‘G30S/PKI’ sebagai propaganda Rezim Orba untuk menegaskan bahwa PKI adalah dalang satu-satunya peristiwa berdarah tersebut.

Terkait hal tersebut, sejarawan John Roosa dalam karyanya berjudul Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto mengemukakan bahwa  kesimpulan PKI sebagai dalang peristiwa tersebut diambil dengan serampangan. Karena menurut penelitiannya, PKI sama sekali tidak terlibat secara kelembagaan. Karena sebagaimana semestinya sebuah keputusan resmi partai harusnya semua pengurus mengetahui hal tersebut. Sedangkan yang terjadi keputusan pembentukan Gerakan 30 September yang dikomandoi Letkol Untung hanya diketahui segelintir orang. Struktur kepengurusan partai mulai dari Comite Central (CC—struktur tertinggi dalam PKI setelah Ketua Partai) sampai dengan Comite Daerah (CD) tidak mengetahui keputusan/kebijakan tersebut.

Kedua, ialah konflik di internal Angkatan Darat sebagai penyebab terjadinya peristiwa G30S. Dua buku utama yang berkesimpulan bahwa Peristiwa G30S merupakan puncak konflik internal Angkatan Darat ialah A Premilinary Analysis of The October 1 1965, Coup in Indonesia atau dikenal dengan Cornell Paper (1971) karya sejarawan asal Amerika Serikat Bennedict ROG Anderson dan Ruth McVey serta buku berjudul Army and Politics in Indonesia (1978) karya Harold Crouch.

Kedua penelitian tersebut menjelaskan bahwa menjelaskan bahwa menjelang 1965, Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) pecah menjadi dua faksi. Kedua faksi tersebut anti-PKI, tetapi berbeda sikap taktis-politis terhadap Presiden Sukarno—sejak tahun 1960-an secara kebijakan politik cenderung ‘kiri’. Kelompok pertama “faksi tengah” yang loyal terhadap Presiden Sukarno, dipimpin Letjen Ahmad Yani—hanya menentang kebijkan Sukarno terkait Persatuan Nasional, NASAKOM, karena PKI termasuk di dalamnya. Sedangkan kelompok kedua ialah “faksi kanan” bersikap menentang kebijakan Ahmad Yani yang dekat dengan gagasan Soekarnoisme—terkait dengan gagasan Persatuan Nasional tersebut. Dalam faksi ini bergabung Jenderal A.H Nasution dan Mayjen Soeharto. Peristiwa G30S yang berdalih menyelamatkan Sukarno dari kudeta Dewan Jenderal—isu politik yang berhembus sejak awal tahun 1965, sebenarnya ditujukan bagi perwira-perwira utama “faksi tengah” untuk melapangkan jalan bagi perebutan kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan Angkatan Darat. Dalam situasi demikianlah manuver PKI terjadi—dengan melakukan infiltrasi ke perwira tingkat rendah untuk mengklarifikasi isu Dewan Jenderal tersebut, dibentuklah Gerakan Tigapuluh September dibawah pimpinan Letkol Untung, ketua Tjakrabirawa—sebuah pasukan khusus pengaman Presiden Sukarno.

Ketiga, ialah Sukarno terlibat dalam Peristiwa G30S. Ada tiga buku yang menuding Presiden Sukarno terlibat dalam peristiwa G30S:  Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965 (2004) karya Victor M. Fic; The Sukarno File, 1965-67: Chronology of a Defeat (2006) karya Antonie C.A. Dake; dan buku karya Lambert Giebels yang berjudul Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Menurut sejarawan senior Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) Asvi Warman Adam ketiga buku tersebut berusaha mengarahkan kepada de-Sukarnoisasi yaitu menjadikan presiden RI pertama itu sebagai dalang peristiwa Gerakan 30 September dan bertanggung jawab atas segala dampak kudeta berdarah itu. De-Sukarnoisasi ialah upaya untuk mendeskreditkan dan memudarkan sosok serta peran Sukarno dalam palagan perjuangan bangsa Indonesia. Meskipun analisis keterlibatan Sukarno dalam Peristiwa G30S dari ketiga buku tersebut cenderung lemah. Bahkan untuk menyanggah hal tersebut, pada tahun 2006 Yayasan Bung Karno menerbitkan berjudul  Bung Karno Difitnah. Yang menarik dari buku tersebut ialah pada cetakan kedua memuat bantahan dari Kolonel CPM Maulwi Saelan, wakil komandan Resimen Tjakrabirawa.

Keempat, Soeharto sebagai tokoh sentral dalam Peristiwa G30S. Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V, Kolonel Abdul Latief dalam Pledoi Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999) mengungkapkan bahwa dia melaporkan akan adanya G30S kepada Soeharto di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Jakarta pada 28 September 1965, dua hari sebelum operasi dijalankan. Masih menurut Abdul Latief, empat jam sebelum G30S dilaksanakan, pada malam hari 30 September 1965, Latief kembali melaporkan kepada Soeharto bahwa operasi menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal akan dilakukan pada dini hari 1 Oktober 1965. Menurut Latief, Soeharto tidak melarang atau mencegah operasi tersebut.

Hal ini kemudian diinterpretasikan bahwa Soeharto sedari awal mengetahui rencana penculikkan sejumlah jenderal AD oleh Pasukan yang dipimpin Letkol Untung. Oleh karena itu mucnul anggapan bahwa Soeharto melakukan “Kudeta Merangkak”—yakni pengambil-alihan kekuasaan melalui cara-cara intrik politik dan institusional.

Ada beberapa varian kudeta merangkak, antara lain disampaikan oleh Saskia Wierenga, Peter Dale Scott, dan paling akhir Soebandrio, mantan kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) dan menteri luar negeri. Dalam buku Kesaksianku tentang G30S (2000) Soebandrio mengungkapkan rangkaian peristiwa dari 1 Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 sebagai kudeta merangkak yang dilakukan melalui empat tahap: menyingkirkan para jenderal pesaing Soeharto melalui pembunuhan pada 1 Oktober 1965; membubarkan PKI, partai yang memiliki anggota jutaan dan pendukung Sukarno; menangkap 15 menteri yang loyal kepada Presiden Sukarno; dan mengambilalih kekuasaan dari Sukarno.

Kelima, Peristiwa G30S bagian dari strategi proxy-war Amerika Serikat dalam situasi dan kondisi Perang Dingin menghadapi komunisme-Uni Sovyet, yakni keterlibatannya agen intelejen, CIA. Artinya Peristiwa G30S 1965 adalah konsekuensi Perang Dingin tahun 1960-an, Amerika Serikat dan negara-negara Barat seperti Australia, Inggris, dan Jepang berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis. Amerika Serikat menyiapkan beberapa opsi terkait situasi politik di Indonesia.

Menurut David T. Johnson dalam Indonesia 1965: The Role of the US Embassy yang banyak menggunakan data-data dan catatan intelijen CIA, opsi yang tersedia ialah (1) membiarkan saja, (2) membujuk Sukarno beralih kebijakan, (3) menyingkirkan Sukarno, (4) mendorong Angkatan Darat merebut pemerintahan, (5) merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus menjatuhkan Sukarno. Opsi nomor 5 yang dipilih.

Dari 5 versi yang sudah dipaparkan di atas, maka ini menjadi tantangan guru sejarah di sekolah untuk kemudian menyampaikannya. Lebih dari itu, hemat saya, tidaklah cukup hanya keterlibatan personal seorang guru yang berinisiatif menyajikan 5 versi tersebut—tanpa ada kebijakan jelas dari Negara (dalam hal ini kurikulum sekolah, konkretnya ialah materi yang tertuang di buku paket siswa). Di titik ini, sebagaimana kalimat awal tulisan: membicarakan Peristiwa 1965 di sekolah adalah politis!

 

G30S dan Generasi Milenial

Persoalan menjadi tidak sesederhana, kan. Sebab sbagaimana Althuser, sekolah adalah aparatus ideologis yang paling massif dan sistemik. Artinya keberadaan (kepentingan dan ideology) negara dalam lingkungan pendidikan hadir secara nyata. Karena dua hal: 1. Negara sebagai penyelengara pendidikan, 2. Negara memiliki kepentingan ideologis ingin dan mau dibentuk seperti apa warga negaranya. Meski saya tidak menegasikan peran indvidu (guru) untuk menolak patuh terhadap hal tersebut Artinya kesempatan Wars-Within (bertarung di dalam institusi) tidak bisa dilakukan. Setidaknya bagi saya. Maksudnya memperkenalkan 5 versi Peristiwa G30S di ruang kelas adalah selemah-lemahnya iman.

Kemudian Peristiwa 1965 dihadapkan dengan Generasi Milenial adalah hal menarik lainnya. Sebelumnya saya mendefiniskan ‘Generasi Milenial’ sesederhana “kelompok manusia yang sejak dalam kandungan dan masa kanak-kanak bersentuhan dengan gawai dan internet”. Artinya persentuhan sebuah generasi dengan internet menjadi tolak ukur utama, alih-alih batasan-batasan tahun kelahiran. Ini yang saya garis bahwahi. Sebab hal ini menjadi poin utama antara pra-generasi milenial (terdapat pembagian beberapa generasi yang cukup saya sebutkan sepintas di sini, yakni Generasi X) dengan generasi milenial. (Kuota) Internet adalah kunci!

Dalam konteks Indonesia, internet hadir pada tahun 1990. Baru pada 1994 INDONET hadir sebagai Penyelenggara Jasa Internet Komersial perdana di Indonesia. Olehnya mari kita anggap Generasi Milenial di Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai 2000-an. Jika Generasi Milenial pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, artinya orang yang paling tua dari generasi ini sudah berumur 23 tahun: mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, dan mencari atau sudah punya kerjaan, dan hal-hal lain yang bisa mempengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Kau bisa hitung sendiri bagaimana dengan Generasi Milenial yang lahir di tahun 2000an. Artinya internet adalah bagian yang tak terpisah dengan kehidupannya. Dari sanalah informasi dan pola pikir generasi milenial dibentuk. Internet adalah sosio-sejarah Generasi Milenial. Meskipun kau tahu, internet sebagaimana empang—jika kau gunakan internet untuk buang hajat-taek-mu, maka jadilah empang itu sebagai kakus alias jamban, namun bila kau jadikan empang ternak lele, maka jadilah empangmu sebagai lading penghasilan. Begitulah internet.

Omong-omong internet, saya punya cerita; Di tempat saya mengajar ada kebijakan literasi–siswa wajib membaca sebuah buku dan kemudian menceritakan ulang kepada guru. Salah seorang siswa, sebutkan saja @georgiusbenny (bukan nama sebenarnya) membaca buku Tan Malaka Seri Tempo dan membawa kemana-mana buku tersebut. Lalu saat usai membaca, ia ingin menceritakan kepada guru.

“Kenapa kamu baca buku ini (Tan Malaka)?”

“Memang enggak boleh ya, Bu?”

“Dia kan komunis…”

“Lalu?”

“Komunis itu… (bla… bla… bla…)” guru tersebut mengulang-ulang kata-kata gurunya semasa Rezim Orba. Si @georgiusbenny hanya terdiam, dan bersuntuk-suntuk saat menceritakan ulang kepada saya kejadian tersebut.

Apa yang bisa dipetik?

Bagi saya tiga hal. Pertama, ada benturan antara generasi tua (yang terdoktrin dengan Orba) dengan generasi milenial (tanpa doktrin). Benturan ini menjadi penting dan krusial. Kedua, berangkat dari benturan tersebht, maka membicarakan 1965 menjadi penting di ruang-ruang sekolah—sekali lagi, wars-within. Ketiga, mengingat karakteristik generasi milenial yang hadir dengan banjir informasi, peristiwa 1965 perlu diulas agar tidak terjadi silangsengkarut pemahaman.

Demikianlah, 1965 menjadi penting. Juga di sekolah. Juga untuk Generasi Milenial. Karena, kuota itu mahal, Jenderal! (*)

 

*) Tyo Prakoso: Twitter @cheprakoso, pembaca dan penulis.

Esai ini disampaikan untuk ngopi bersama dan cuap-cuaps pada 30 September 2018

Continue Reading

Politik

Pancasila Jalan Tengah Keindonesiaan

mm

Published

on

Pancasila sejatinya adalah jalan tengah bagi indonesia di tengah pergulatan dunia yang terbelah dalam kutub-kutub kepentingan dan ideologi. Sebagai jalan tengah pancasila merupakan kesadaran (ideologis) keindonesiaan kontemporer—yang akar sejarahnya justeru telah menancap lama, membumi dalam benak tiap founding father bangsa indonesia tak terkecuali segenap komponen rakyat pada tahun-tahun menentukan 1926-1945.

Mengalami kembali “jalan tengah” keindonesiaan kita—setelah pergulatan setengah abad lebih merdeka, mungkin bisa memberi jalan lapang untuk bangsa ini dalam menempuh kembali jalan benar lagi sesuai dengan karakter indonesia sebagai suatu bangsa dan kesatuan organisme negara kesatuan.

“Jalan tengah” yang dimaksud penulis dalam hal ini adalah karakter “monodualis” dalam menjalankan indonesia sebagai suatu organisme negara. Karakter “monodualis” berarti bahwa negara indonesia tidak menganut fanatisme paham ideologis baik sumbernya dari yang “kanan” mau pun yang “kiri”. Maka konsekuensinya jelas dan tegas: fundamentalisme, radikalisme dan anasir totalitarianisme tidak akan pernah cocok apalagi menolong bangsa dan negara ini dalam menempuh takdir sejarahnya sebagaimana tercatat dalam Pancasila.

Dengan demikian Pancasila sebagai bentuk genuine dari persatuan dan gotong royong semua entitas pendiri negara indonesia, telah setuju menjadikan bangsa dan negara bernama Indonesia sebagai bangsa merdeka tidak hanya secara kedaulatan (wilayah), tetapi juga dalam ihwal ideologi atau cara pandang. Ideologi indonesia merdeka adalah pancasila. Sebagai ideologi maka ia berfungsi sebagai mata-baca dan rujukan “model” bagi pemerintah dan entitas rakyat dalam menghadapi tantangan perubahan tiap zamannya.

Versi Pendek Kolom ini sebelumnya telah ditayangkan harian Kompas di halaman Surat Pembaca (31/5)

Dalam pancasila dan UUD 1945 itulah terdapat sikap dan pilihan “monodualis”, suatu jalan tengah di mana secara praksis terwujud misalnya dalam cara pandang indonesia yang “bebas aktif”, non-blok dalam hubungan internasional. Sementara dalam penataan urusan ekonomi politik dalam negeri, seperti tercermin misalnya dalam UUPA 1960 bahwa sistem agraria indonesia tidak menganut kapitalisme (dengan adanya batas maksimum pemilikan), tidak juga menganut sosialisme-komunisme (dengan tetap diakuinya hak milik pribadi). Sementara dalam soal sosio kultural (religiusitas) agama dan adat dalam posisi menerima pemerintah yang sah dan hukum nasional yang berlaku di negara indonesia. Hubungan di antaranya adalah berdasar hukum dan demokrasi yang terwujud dalam pancasila dan UUD 1945 itu sendiri.

“Jalan Tengah” Sebagai Paradigma

Jalan tengah dengan demikian adalah paradigma, suatu model guna mendekati perkembangan dan tantangan zaman bagi negara dan komunitas masyarakat indonesia. Sebagai “paradigma” bagi kehidupan sosial kemasyarakatan, kemajuan modelnya tidak ditentukan oleh kemampuan mengganti paradigma indonesia (pancasila) melainkan bagaimana terjadi pencapain yang terus membaik dalam bentuk dan isi dari mana indonesia memulainya dahulu. Kemajuannya ditentukan dari seberapa terus meningkat kesejahteraan masyarakatnya, membaiknya rasa keadilan sosial, terawatnya kebhinekaan, dan terus terpelihararanya gotong royong dan persatuan nasional.

Setiap kemunduran dan pelemahan atas hal itu berarti merupakan bentuk ujian bagi kemajuan pancasila dengan “jalan tengah”nya sebagai suatu model atau paradigma berbangsa dan bernegara serta pendekatan penyelenggaraan keduanya.

Dengan kesadaran demikian, wacana mengganti pancasila atau menuntut kemajuan dengan ukuran adanya bentuk baru model selain pancasila adalah tidak relevan.  Sebab ukuran kemajuannya yang tepat adalah the pursuit of excellence berupa taraf pencapain lebih maksimal yang diterima oleh komunitas masyarakat indonesia yang bhineka baik secara horizontal mau pun bhineka dalam konteks vertikal (tingkat ekonomi-kesejahteraan).

Tahun politik yang mulai menjelang sekarang ini sampai 2019 nanti, tidak selayaknya dan tidak pantas berjalan diluar jalan tengah keindonesiaan. Kemajuan politik hanya berarti meningkatnya kecerdasan politik masyarakat yang terekspresikan dengan makin berbudayanya masyarakat dalam politik.

Politik yang mendegradasi makna kebudayaan manusia hanya akan menghasilkan masyarakat politik yang dekaden, absurd dan pada dasarnya tidak memiliki cita-cita politik (kebudayaan) yang merupakan ukuran harkat dan kesejahteraan paling genuine. Karenanya penting bagi kita semua untuk  tidak melupakan pembangunan kebudayaan di tengah gencarnya pembangunan infrastruktur. (*)

*) Sabiq Carebesth: Penyair. Founder of Galeri Buku Jakarta (GBJ)

**) Tulisan versi lebih pendek dengan judul “Jalan Tengah Keindonesiaan” telah ditayangkan di halaman Surat Pembaca Harian Kompas edisi 31 Juni 2018.  Ditayangkan kembali dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila, 1 Juni.

Continue Reading

Trending