Connect with us
Tamu Albert Camus Tamu Albert Camus

Cerpen

Albert Camus: Tamu

mm

Published

on

oleh: Albert Camus

Si guru memperhatikan dua orang lelaki yang merambat naik ke arahnya. Seorang di punggung kuda, seorang berjalan kaki. Mereka belum mencapai tanjakan curam yang akan membawa mereka ke gedung sekolah yang dibangun di punggung bukit.

Perjalanan itu tampak sulit, mereka merambat pelan-pelan di dataran salju, di antara batu-batu, menyeberangi dataran luas dan gurun pasir di dataran tinggi. Sesekali kudanya tersandung-sandung. Meski tak terdengar dengusnya, ia bisa melihat hembusan nafas yang terengah-engah dari cuping hidung binatang tersebut. Salah seorang tampaknya kenal betul dengan daerah yang mereka lalui. Langkah mereka tidak melenceng dari jalan setapak kendati jalan itu tertutup putih salju sejak beberapa hari lalu. Menurut perkiraan si guru, mereka baru akan mencapai bukit dalam waktu setengah jam lagi. Udara begitu dingin, si guru kembali ke ruang kelas untuk mengambil sweaternya.

Ia melintasi ruangan yang kosong dan dingin. Di papan tulis mengalir sungai-sungai Perancis – digambar sejak tiga hari lalu dengan kapur tulis empat warna – menuju muara. Salju mendadak turun di pertengahan bulan Oktober setelah delapan bulan dipanggang musim kemarau, tanpa ada hujan yang menandai masa peralihan. Dua puluh siswanya, kurang lebih sejumlah itulah mereka, yang tinggal menyebar di desa-desa di dataran tinggi itu, tak datang ke sekolah. Mereka akan datang lagi ketika cuaca kembali cerah.

Daru menghangatkan kamar tidurnya. Kamar itu berhimpitan dengan ruang kelas dan keduanya dihubungkan oleh sebuah pintu. Seperti juga jendela-jendela kelas, jendela kamarnya pun menghadap ke selatan. Gedung sekolah ini terletak beberapa kilometer dari turunan pertama ke arah Selatan. Jika udara bagus, akan tampak jajaran gunung-gunung berwarna ungu dan jarak yang membentang di gurun pasir.

Sedikit hangat di kamarnya, Daru kembali ke jendela dimana ia mula-mula melihat dua orang yang mendaki. Mereka tak kelihatan lagi. Tentu sedang menyusuri tanjakan. Langit tidak terlalu gelap, sebab salju sudah berhenti turun sejak tadi malam. Pagi diawali dengan cahaya muram, yang jarang akan jadi cerah bahkan setelah gumpalan awan menyingkir. Pada pukul dua siang, hari seperti baru saja dimulai. Namun keadaan ini jauh lebih baik dibanding tiga hari lalu tatkala turun salju tebal di tengah cuaca gelap yang disertai hembusan angin yang menyebabkan daun pintu kelas berdecit-decit. Sepanjang hari Daru tinggal di kamarnya dan hanya meninggalkan kamar untuk ke gudang, memberi makan ayam-ayam, atau mengambil arang. Untunglah truk pengantar barang dari Tadjid, desa terdekat dari utara, datang dengan barang-barang kebutuhannya dua hari sebelum badai salju. Ia akan meninggalkan dataran ini lagi dalam 48 jam.

Tapi, selain kedatangan truk itu, ia sendiri sebenarnya telah memiliki cukup persediaan untuk menghadapi kepungan salju. Kamarnya yang kecil penuh dengan kantung-kantung terigu yang dikirimkan sebagai persediaan bagi para siswa yang keluarganya kekurangan pangan selama musim kemarau. Mereka benar-benar jadi korban karena kemiskinan mereka. Setiap hari Daru membagikan ransum kepada anak-anak. Ia tahu, mereka sangat membutuhkan itu selama berlangsungnya hari buruk. Mungkin bapak atau kakak mereka akan datang siang ini dan ia akan membagikan beras kepada mereka. Hanya itu yang bisa dilakukan selama menunggu datangnya panen berikut. Kini kapal-kapal pengangkut gandum datang dari Perancis dan situasi terburuk bisa diatasi. Namun, sungguh sulit melupakan kemiskinan. Ia bagai pasukan iblis yang berkeliaran di bawah terik matahari. Dataran tinggi ini terbakar selama berbulan-bulan, tanah menjadi keriput dan hangus sedikit demi sedikit. Batu-batu pecah menjadi debu di bawah telapak kaki. Kawanan ternak mati, ribuan jumlahnya. Manusia juga mati, di mana-mana, kadang tanpa seorang pun mengetahuinya.

Sebaliknya dari yang mereka alami, ia hidup nyaris seperti pendeta di sekolah yang terpencil, dan dengan apa yang ada padanya, bagaimanapun, kebutuhannya selalu tercukupi. Dengan segala kesulitan yang harus dijalani, dengan dipannya yang sempit, dengan rak yang tidak dicat, dengan sumurnya, dan dengan persediaan air dan makanan yang dipasok setiap minggunya, ia merasa dirinya seolah bangsawan yang dikelilingi tembok-tembok putih bersih. Lalu tiba-tiba turun salju, tanpa hujan sebelumnya. Begitulah daerah ini, terlalu menyiksa bagi kehidupan, bahkan kalaupun tanpa manusia – yang tak pernah bisa saling menolong dalam menghadapinya. Tapi Daru lahir di sini. Di tempat lain, di mana pun, ia merasa terasing.

Ia melangkah ke teras di depan bangunan sekolah. Kedua orang tadi kini berada di tengah lereng yang landai. Ia kenal si penunggang kuda yang tak lain adalah Balducci, polisi tua yang dikenalnya sejak lama. Balducci menggenggam ujung tali yang mengikat kedua pergelangan tangan si Arab. Si Arab berjalan di belakangnya dengan tangan terbelenggu dan kepala menunduk. Polisi tua itu bersalam dengan lambaian tangannya, Daru tidak membalas lambaiannya; seluruh fikirannya tertancap pada si Arab. Orang itu mengenakan pakaian jellaba yang sudah pudar warna birunya, memakai sandal namun membungkus kakinya dengan kaus kaki wool tebal, dan menutup kepalanya dengan kopiah kecil pendek. Mereka makin dekat. Balducci menahan laju kudanya agar tidak menyakiti si Arab. Keduanya merambat pelan sekali.

Bagai letusan senapan, Balducci berteriak: “Satu jam hanya untuk tiga kilometer dari El Ameur!” Daru tidak menyahut. Dibalut sweater tebal, sosoknya makin kelihatan pendek dan gempal. Matanya terus menatap kedua orang yang sedang mendaki ke arahnya. Tak satu kali pun si Arab mengangkat kepalanya.
“Hello,” sapa Daru ketika mereka akhirnya sampai di teras. “Masuklah dan hangatkan badan.”
Balducci turun dari kuda dengan rasa sakit dan penat, ujung tali pengikat si Arab terus digenggamnya. Kumis polisi tua itu bagai semak-semak kaku, ia tersenyum kepada Daru. Matanya kecil, tersembunyi dalam cekungan di bawah dahinya yang coklat, dan di sekitar mulutnya tampak kerut-kerut yang melahirkan kesan bahwa ia seorang yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Daru meraih tali kekang dan menbawa kuda ke gudang. Ketika ia kembali lagi, dua orang itu sudah menunggunya di ruang kelas. Daru membawa mereka ke kamarya.

“Saya akan memanaskan ruangan kelas dulu,” katanya. “Agar lebih nyaman.”

Ketika kembali ke kamarnya, ia melihat Balducci duduk di atas dipan kecilnya. Tangannya tetap menggenggam tali yang menghubungkan dirinya dengan si Arab yang kini berjongkok di tepi tungku pemanas. Tangan si Arab tetap terikat, kopiahnya terdorong ke belakang, matanya terbang ke jendela. Mula-mula Daru memperhatikan bibirnya yang tebal dan berlemak, menyerupai Negro, namun hidungnya mancung, matanya gelap dan penuh kemarahan. Kopiah yang dikenakannya menunjukkan sikap keras kepala di balik dahi lebar yang saat ini memucat oleh hawa dingin. Keseluruhan paras mukanya memancarkan pemberontakan yang membuat Daru terpaku ketika si Arab menoleh ke arahnya dan menatapnya langsung.

“Mari ke ruang kelas,” kata si guru, “saya akan bikinkan teh manis.”

“Terima kasih,” sahut Balducci. “Oh! Pekerjaan yang menyebalkan. Aku ingin segera pensiun sebetulnya.” Dan kepada si Arab tawanannya ia berteriak: “Kemari kau!” Si Arab bangun dan, pelan sekali, tetap dengan kedua pergelangan tangan terikat, maju di depan Balducci. Mereka kemudian beralih ke ruang kelas.

Sambil membawa teh, Daru mengangkat kursi. Namun Balducci ternyata sudah meletakkan pantatnya di bangku siswa yang paling dekat dengan pintu kelas dan si Arab berjongkok di depan mimbar guru, menghadapi tungku pemanas tak jauh dari jendela. Ketika menyodorkan segelas teh kepada si Arab, Daru termenung sejenak melihat tangan si Arab terbelenggu.

“Mungkin ikatan ini harus dilepas,” katanya.

“Tentu,” sahut Balducci. “Itu hanya berlaku selama dalam perjalanan.”

Polisi itu segera akan bergerak, tapi Daru lebih cepat. Ia meletakkan gelas di lantai dan kemudian berjongkok di samping si Arab. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si Arab menyaksikan Daru dengan tatap mata yang membara. Sekejap saja tangannya bebas. Lalu secara bergantian ia mengusap-usap bekas ikatan di kedua pergelangan tangannya. Ia menjangkau gelas teh di lantai, dan menyeruput teh panas itu berkali-kali sampai habis.

“Ke mana Anda akan pergi?” Tanya Daru.

Balducci menarik kumisnya yang menyentuh-nyentuh permukaan air teh di gelas. “Ya kesini, nak,” sahutnya.

“Aneh. Dan Anda akan bermalam?”

“Tidak. Aku akan segera kembali ke El Ameur. Dan kau harus membawa orang ini ke Tinguit. Ia ditunggu oleh polisi di sana.”

Balducci menatap Daru, bibirnya tersenyum manis sekali.

“Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Tidak, nak. Ini adalah tugas.”

“Tugas?” kupikir…” Daru terdiam beberapa saat, ia tak ingin menyakiti si tua dari Corsica itu. “Kurasa, ini bukan tugasku.”

“Begitukah menurutmu? Dalam masa perang, setiap orang mengerjakan apa pun tugas yang dipikulkan kepadanya.”

“Kalau begitu aku akan menunggu adanya pernyataan perang.”

Balducci mengangguk-angguk.

“Ok. Tapi tugas itu ada di depan mata dan meminta kesediaanmu pula. Segala hal terjadi, segala peristiwa bermunculan. Kita mendengar pidato-pidato perlawanan dan kemudian dimobilisasi. Begitulah.”

Daru kembali terdiam.

“Dengar, nak. Aku menyayangimu dan kau harus faham. Hanya ada selusin polisi di El Ameur yang berpatroli untuk wilayah yang luas di sana. Aku harus cepat-cepat kembali. Tugasku adalah membawa orang ini kepadamu dan kembali ke markas secepat mungkin. Ia tak bisa ditahan di sana. Orang-orang di desanya mulai bergerak, mereka akan membebaskannya kembali. Kau harus membawanya ke Tinguit besok. Hanya dua puluh kilometer dan itu tak akan jadi persoalan benar bagi lelaki tegap seperti kau. Setelah itu segalanya beres. Kau bisa kembali mengajar dan menjalani hidup yang menyenangkan.”

Di balik dinding kelas, terdengar kuda Balducci mendengus dan menggaruk-garuk tanah. Daru melihat hamparan salju di luar jendela. Udara bersih dan cahaya makin terang di atas dataran salju. Ketika salju mencair, matahari akan mengambil alih kekuasaan dan membakar dataran berbatu-batu ini. Lalu, selama berhari-hari, langit akan terus memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan gurun yang kosong dan sendirian, yang seolah sama sekali tak berhubungan dengan manusia.

“Jadi, apa sesungguhnya yang telah ia lakukan?” Tanya Daru. Dan sebelum polisi tua itu membuka mulut, Daru menyusulkan pertanyaan lain: “Bisa ia berbahasa Perancis?”

“Tidak! Tak sepatah katapun. Kami telah mencarinya sebulan penuh, namun mereka menyembunyikannya. Ia telah membunuh sepupunya.”

“Apakah ia pemberontak?”

“Rasanya tidak. Tapi entahlah, tak ada yang bisa dipastikan.”

“Kenapa ia membunuh?”

“Pertengkaran keluarga kurasa. Mungkin salah seorang berutang beras pada yang lain. Entahlah, tak begitu jelas. Pokoknya ia membunuh sepupunya dengan celurit, seperti seekor domba, kreeezk!”

Balducci menirukan gerakan menggoreskan pisau di tenggorokannya sendiri dan si Arab menatapnya dengan sorot mata marah. Daru merasakan amarah yang menggelegak tiba-tiba. Ia benci kepada manusia, semua manusia, yang menyimpan dengki yang membusuk di hati; kebencian yang tak pernah sudah, dan nafsu menumpahkan darah.

Ketel di atas tungku berdenging. Daru mengisi lagi gelas Balducci dengan air teh. Juga gelas si Arab. Dan, untuk kedua kalinya, si Arab menyeruput habis teh di gelasnya dalam waktu cepat. Ketika tangannya mengangkat gelas, baju jellabanya merosot dan terbuka, Daru melihat dadanya yang kurus namun berotot.

“Terima kasih, nak,” kata Balducci. “Kini saya akan pergi.”

Ia bangkit mendekati si Arab dan segera mengeluarkan tali dari saku bajunya.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Tanya Daru dengan suara kering.

Balducci, dengan paras muka linglung, menunjukkan tali di tangannya.

“Tak usah repot-repot.”

Polisi tua itu makin bingung: “Baiklah, terserah kau. Omong-omong, kau punya senjata?”

“Aku punya pistol.”

“Mana?”

“Di kopor.”

“Mestinya kau taruh di dekat tempat tidurmu.”

“Buat apa? Tak ada yang perlu kutakutkan.”

“Kau gila, nak. Jika meletus keributan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu, dan kita di perahu yang sama.”

“Aku akan melindungi diriku sendiri. Aku akan punya waktu sebelum mereka tiba di tempat ini.”

Balducci terbahak-bahak, kumisnya menutupi deretan giginya.

“Kau punya waktu? Baiklah, ya…aku hanya bisa mengatakan ‘baiklah’. Kau memang sedikit gila rupanya. Dan tak banyak tahu. Tapi karena itulah aku menyukaimu. Anakku juga seperti kau itu.”

Pada saat yang sama ia mengeluarkan revolvernya dan meletakkan di meja.

“Ambillah; aku tak memerlukan dua pistol untuk menempuh perjalanan dari sini ke El Ameur.”

Revolver itu berkilat-kilat di atas meja yang di cat warna hitam. Ketika polisi tua itu berpaling ke arahnya, si guru mencium bau kulit dan daging kuda.

“Dengar, Balducci,” kata Daru tiba-tiba, “Segala sesuatunya membuatku muak, terutama ketika tiba-tiba kau tinggalkan seseorang di sini. Aku tidak akan mengantarkannya ke Tinguit. Kalau harus bertarung dengannya, aku akan lakukan, tapi tidak untuk mengantarkannya.”

Sang polisi tua berdiri termangu di hadapan Daru dan menatapnya lama sekali.

“Alangkah tololnya kau,” gumamnya. “Aku tidak suka mendengar kalimatmu. Kau tak mau mengikat dia karena mungkin itu memalukan buatmu – ya, mungkin memalukan. Tapi sama sekali tak masuk akal jika kau biarkan ia bebas menentukan langkahnya sendiri.”

“Aku tidak akan mengantarkannya.”

“Ini tugas, nak. Berapa kali harus kuulangi?”

“Baiklah. Kalau begitu kuulangi saja kepada mereka apa yang sudah kuucapkan kepadamu: aku tidak akan mengantarkannya.”

Balducci tertegun lama. Bergantilah ia memandang paras muka Daru dan si Arab. Akhirnya ia mengambil keputusan.

“Tidak! Aku tidak akan bercerita apa pun kepada mereka. Jika kau ingin melemahkan kami, lakukanlah. Aku tidak akan melaporkanmu. Aku sekadar menjalankan tugas mengantarkan tawanan ini dan itu sudah kulakukan. Sekarang kau hanya perlu menandatangani surat ini, untukku.”

“Itupun tidak ada perlunya. Aku toh tak menolak kau tinggalkan tawanan itu di tempatku.”

“Jangan membuatku jengkel. Aku tahu kau seorang yang jujur. Kau berasal dari sini dan kau seorang laki-laki. Tapi kau perlu membubuhkan tanda tangan di sini. Itu aturannya.”

Daru membuka lacinya, mengambil tinta dalam botol kotak kecil, dan mengeluarkan tangkai pena dari kayu berwarna merah dengan mata pena “sergeant-major” yang biasa ia gunakan untuk menulis indah. Ia menandatangani surat yang disodorkan kepadanya. Polisi tua melipat kembali suratnya dan menyimpannya di dalam saku. Setelah itu ia melangkah ke pintu.

“Aku akan mengantarmu keluar.”

“Tak usah berbasa-basi. Kau telah melukaiku.”

Polisi tua itu memandang si Arab beberapa saat, mendengus marah, dan kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. “Selamat tinggal, nak,” katanya. Pintu tertutup di belakangnya. Balducci tampak dalam bingkai jendela dan kemudian hilang sama sekali. Bunyi langkah kakinya ditelan hamparan salju. Di balik dinding, kuda bergerak, ayam-ayam ribut ketakutan.

Beberapa saat kemudian Balducci tampak lagi dalam bingkai jendela, menuntun kudanya pada tali kekang. Ia berjalan ke arah tanjakan kecil tanpa menoleh lagi sampai hilang dari pandangan. Kudanya membuntuti di belakangnya. Terdengar suara batu besar menggelinding. Daru berbaik ke arah si Arab yang nyaris tak bergerak dan nyaris tak pernah memandangnya.

“Tunggu di sini,” kata si guru dalam bahasa Arab, ia berjalan ke kamar tidurnya. Ketika melewati ambang pintu, ia berpikir beberapa saat, kemudian kembali lagi ke meja di mana Balducci meninggalkan revolvernya. Diambilnya revolver itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kemudian, tanpa menengok ke belakang, ia bergegas ke kamarnya.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.

Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Ketika ia bangkit, tak terdengar gerisik suara di ruang kelas. Ia merasakan sebuah kegembiraan tatkala tiba-tiba muncul pikiran bahwa si Arab mungkin sudah melarikan diri dan ia kembali sendirian seperti sediakala tanpa bersusah-susah mengambil keputusan. Namun tawanan itu tetap di tempatnya. Tubuhnya terbujur pasrah di antara tungku dan bangku. Matanya terbuka, ia menatap langit-langit ruangan.

Daru menatap lekat-lekat bibirnya yang tebal, yang tiba-tiba di matanya seperti sedang mencibir. “Kemarilah,” panggil Daru. Si Arab bangkit dan mengikutinya. Di kamar tidurnya, si guru mengarahkan telunjuknya pada kursi yang letaknya tak jauh dari meja di bawah jendela. Si Arab duduk di kursi tersebut tanpa melepaskan pandangannya ke Daru.

“Kau lapar?”

“Ya,” si Arab mengangguk.

Daru mengatur meja makan untuk dua orang. Ia mengambil tepung dan minyak, membikin kue, menyalakan kompor dengan tabung gas kecil, dan menggoreng kue bikinannya. Menunggu kuenya masak, ia keluar menuju gudang untuk mengambil keju, telur, kurma, dan susu kental. Setelah masak, kue-kue yang baru diangkat dari penggorengan dia angin-anginkan di ambang jendela. Lalu membuat dadar telur, menambahkan air pada susu kental dan memanaskannya. Ketika mengerjakan itu semua, satu saat tangannya menyenggol gagang revolver yang ia simpan di saku kanan. Semua beres. Ia menurunkan panci yang digunakan untuk merebus susu dan membawa hasil masakannya ke ruang kelas. Kemudian ia kembali ke kamarnya dan menyimpan revolver di laci mejanya. Ketika kembali lagi ke ruang kelas, malam telah jatuh. Ia menyalakan lampu dan mempersilakan si Arab.

“Makanlah,” katanya. Si Arab mengambil sepotong kue, mengangkatnya ke mulut, dan berhenti sejenak

“Kau sendiri?” ia bertanya.

“Aku makan setelah kau.”

Bibir tebal itu terbuka sedikit. Si Arab sedikit ragu-ragu, kemudian seperti terpaksa menggigit kuenya.

Ia menatap si guru setelah menyantap habis kue di tangannya.

“Kau akan mengadiliku?”

“Tidak, aku hanya akan menjagamu hingga besok pagi.”

“Mengapa kau makan semeja denganku?”

“Sebab aku lapar.”

Si Arab kemudian membisu. Daru bangkit dan melangkah keluar. Ia kembali dengan membawa kasur lipat yang diambilnya dari gudang, meletakkannya di antara tungku dan meja, tegak lurus dengan tempat tidurnya. Dari kopor besar yang ada di pojok, yang biasa ia gunakan untuk menyimpan kertas-kertas, ia mengeluarkan dua buah selimut dan menatanya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian dihentikannya pekerjaan itu, ia merasa tak ada gunanya, dan lalu duduk di atas kasur. Tak ada apa pun yang harus dikerjakan atau disiapkan. Ia harus melihat siapa yang ada dihadapannya. Dan melihat si Arab, ia membayangkan bagaimana paras muka lelaki itu saat dibakar amarah. Tak bisa ia melakukan apa-apa. Tak ia lihat apa pun pada si Arab kecuali ceruk mata yang gelap, tapi memancarkan cahaya, dan mulut seekor binatang.

“Mengapa kau membunuhnya?” dengan kasar tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, tekanan suaranya membuat si Arab tercengang.

“Ia lari. Aku mengejarnya.”

Ia mengangkat pandangannya ke arah Daru, kemudian mereka terlibat dalam tanya jawab yang getir.

“Sekarang, apa yang akan mereka perbuat kepadaku?” tanyanya.

“Kau takut?”

Si Arab mendengus, melemparkan pandangannya jauh-jauh.

“Kau menyesal?”

Si Arab menatapnya dengan mulut terbuka. Tak paham pada apa yang baru saja didengarnya. Daru menjadi gusar. Pada saat yang sama ia merasa risih dengan si Arab yang teronggok di antara dua tempat tidur.

“Berbaringlah di sana,” perintah Daru. “Itu tempat tidurmu.”

Si Arab tidak bergerak. Ia meminta: “Katakan padaku!”

Si Guru menatapnya.

“Apakah polisi tua itu akan datang lagi besok?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau akan bergabung dengan kami?”

“Aku tak tahu. Kenapa rupanya?”

Tawanan itu bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas selimut. Kakinya menjulur ke arah jendela. Cahaya bola lampu listrik jatuh di kedua matanya, ia memejamkan kedua matanya itu.

“Kenapa?” ulang Daru, kini ia tegak di samping tempat tidur.

Si Arab membuka matanya melawan cahaya yang menyilaukan, menatap Daru, dan mencoba tidak mengerjap.

“Bergabunglah dengan kami,” katanya.

Hingga tengah malam Daru tetap tak bisa tidur. Ia merebahkan diri di kasurnya setelah menanggalkan semua pakaian; ia biasa tidur telanjang. Tetapi tatkala sadar bahwa dengan keadaan itu kulitnya tak terlindung bahkan dari serangan yang paling sepele, rasa gelisahnya muncul. Ia merasa saat itu dirinya adalah sasaran empuk dan tiba-tiba mencul godaan untuk mengenakan lagi pakaiannya. Namun ia hanya mengangkat bahu, ia toh bukan kanak-kanak. Jika perlu ia sanggup berkelahi melawan si Arab. Dari tempat tidurnya ia bisa menawasi tawanan itu: telentang, tidak bergerak, matanya terkatub di bawah cahaya yang menyilaukan. Ketika Daru mematikan lampu, kegelapan seakan membekukan segala hal secara mendadak. Pelahan-lahan malam kembali datang di bingkai jendela, langit tanpa bintang berpendar lembut. Si guru menarik kakinya. Si arab tidak bergerak, namun matanya kelihatan terbuka. Angin berdesir mengitari gedung sekolah. Mungkin ia akan menyingkirkan awan di langit dan matahari bakal muncul lagi.

Makin malam, angin bertiup kuat. Ayam-ayam mengepak-ngepakkan sayap sesekali, kemudian sunyi. Si Arab menggeliat, kini memunggungi Daru yang tengah berpikir bahwa ia mendengar suara mengerang. Kemudian ia mendengar dengus nafas tamunya, makin berat dan makin teratur. Ia mendengar dengus nafas itu begitu dekat dengan dirinya. Rasa kantuk tak pernah datang pada pikiran yang tak tenang. Selama setahun ia tidur sendirian saja di kamar ini, dan kini kehadiran si Arab membuatnya bingung. Ia bingung karena kehadiran si Arab membebaninya dengan keakraban, sesuatu yang ia pahami betul. Namun, untuk saat ini ia ingin menolaknya. Orang-orang yang saling berbagi di ruangan yang sama, prajurit atau tawanan, membangun persekutuan aneh seolah-olah, setelah melepas baju zirah dan menggantinya dengan pakaian rumah, mereka adalah para sahabat yang bercengkerama setiap petang dengan impian dan keletihan bersama yang sangat tua usianya. Daru menggetarkan tubuhnya, ia tidak suka memikirkan hal-hal itu dan tampaknya yang lebih penting saat ini adalah tidur.

Sejenak kemudian si Arab menggerakkan tubuhnya, pelan sekali, dan si guru tetap belum tidur. Ketika tawanan itu membuat gerakan untuk kedua kalinya, Daru mendengus seolah memberikan peringatan. Si Arab mengangkat tubuhnya sangat pelan menyerupai gerakan orang tidur berjalan. Tegak di atas tempat tidurnya, ia menunggu tanpa gerakan, tanpa menoleh ke arah Daru, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Daru juga diam, ia hanya perlu meyakinkan bahwa revolvernya masih tersimpan di laci mejanya. Dan ia akan melakukan sesuatu yang tepat pada saatnya. Diawasinya terus si Arab yang, tetap dengan gerakan pelan, menurunkan kakinya ke lantai dan kemudian pelan-pelan berdiri. Daru ingin memanggilnya ketika si Arab mulai mengayunkan kakinya. Sangat alamiah, namun tanpa suara. Ia menuju ke pintu yang menghadap ke arah gudang. Diangkatnya palang pintu dengan hati-hati, didorongnya daun pintu, lalu melangkah keluar tanpa menutup kembali pintu tersebut.

Daru membeku di tempatnya. “Ia melarikan diri,” pikirnya. “Baguslah.” Namun ia memasang telinganya dengan serius.

Ayam-ayam tidak gaduh; tamunya niscaya masih di dataran tinggi ini. Ricik air sampai ke telinganya dan ia tidak paham dengan pendengarannya sampai kemudian si Arab muncul lagi di ambang pintu. Ia menutup kembali pintu itu dan segera kembali ke tempat tidurnya. Tanpa suara. Kemudian Daru memutar tubuh memunggungi tawanannya dan tidur.

Beberapa saat kemudian, di tengah-tengah nyenyak tidurnya, ia mendengar langkah berjingkat-jingkat di seputar bangunan sekolah. “Hanya mimpi! Hanya mimpi!” Ia meyakinkan dirinya berulang-ulang. Dan meneruskan tidurnya.

Ketika ia bangun, langit cerah; udara pagi yang dingin masuk lewat jendela yang terbuka. Si Arab masih tertidur, meringkuk di bawah selimut sekarang, mulutnya terbuka. Benar-benar tenang tampaknya. Ketika Daru mengguncangkan tubuhnya, paras mukanya menjadi tegang. Ia menatap Daru dengan sorot mata liar seolah-olah berhadapan dengan makhluk yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Cemas di paras mukanya membuat Daru surut ke belakang.

“Jangan takut. Ini aku. Kau harus makan.” Si Arab mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengatakan “ya”. Wajahnya kembali tenang, namun ekspresinya kosong dan tanpa gairah.

Kopi telah siap. Mereka duduk dan minum bersama di kasur lipat sembari mengunyah beberapa potong kue. Kemudian Daru membawa si Arab ke gudang dan menunjukkan keran dimana ia bisa mencuci muka. Ia sendiri kembali ke kamar, membereskan selimut dan tempat tidur, dan menata ruangan seperti sediakala. Setelah semua beres, ia menuju ke teras dan duduk di sana.

Matahari telah muncul di langit; dataran tinggi diguyur cahaya pagi yang lembut. Di punggung bukit, salju meleleh di beberapa tempat. Batu-batu bermunculan lagi. Dari tempatnya, di tebing dataran tinggi, si guru menyaksikan gurun yang terhampar sangat luas. Ia teringat Balducci. Ia telah melukai polisi tua itu karena menerima kedatangannya dan melepas kepulangannya tanpa mau bekerjasama. Kalimat yang diucapkan Balducci ketika pamitan masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan, entah kenapa, saat itu ia merasakan kekosongan yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya begitu ringkih dan begitu mudah diserang. Ketika itu, ia mendengar si Arab terbatuk-batuk. Ah, selama si Arab bersamanya, Daru lebih mendengarkan tamunya, nyaris tanpa mendengar dirinya sendiri. Dipenuhi rasa marah, ia melontarkan sebutir kerikil kuat-kuat. Terdengar desing di udara sebelum kerikil itu jatuh ke hamparan salju. Seseorang telah melakukan kejahatan yang bodoh dan ia tiba-tiba terkuasai olehnya. Namun, untuk menyerahkan seperti yang diminta Balducci, ia merasa tindakannya itu tidak ada harganya sama sekali. Terus-menerus diganggu oleh persoalan itu, tiba-tiba ia menjadi orang yang gampang membenci segala hal. Ia mengutuk semuanya: orang-orang dari golongannya sendiri yang telah mengirimkan si Arab kepadanya, dan si Arab yang berani melakukan pembunuhan namun tidak merancang cara melarikan diri. Daru bangkit, berjalan mondar-mandir di teras, dan kemudian kembali ke gedung sekolah.

Si Arab, satu tangannya bertelekan pada dinding gudang, sedang menggosok gigi dengan dua jarinya.

Daru memandang dan berseru: “Kemarilah.”

Si tawanan mengikuti Daru masuk ke dalam kamar. Dipakainya jaket berburu menutupi sweaternya, dikenakannya sepatu naik gunung. Si Arab memasang kopiah di kepala dan mengenakan sandalnya.

Mereka melangkah ke ruang kelas dan si guru menunjuk keluar: “Pergilah!” Tamunya tidak beranjak. “Aku bersamamu,” katanya lagi.

Si Arab keluar. Daru masuk lagi ke kamarnya, membungkus beberapa potong roti, kurma, dan gula. Di ruang kelas, sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan mejanya, kemudian bergegas ke pintu dan menguncinya.

“Itu jalannya,” katanya. Ia berjalan ke timur, diikuti oleh tawanannya. Namun, beberapa langkah dari gedung sekolah, ia merasa mendengar suara langkah kaki berjingkat-jingkat di sekitar mereka. Ia kembali dan memeriksa sekeliling bangunan sekolah. Tak dijumpainya seorang pun. Si Arab memandangnya tak faham. “Ayolah!” kata Daru

Mereka berjalan selama sejam dan beristirahat di samping batu kapur yang mendongak tajam. Salju mencair makin lama makin cepat dan matahari menghisap habis genangan air di kubangan dalam waktu sekejap. Dataran tinggi itu bersih dari salju, menjadi makin kering, lalu bergetar sebagaimana udara bergetar.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, tanah di bawah kaki mereka berdenyar. Sesekali seekor burung membelah udara dengan jeritan bahagia. Daru menarik nafas dalam-dalam di tengah cahaya segar pagi hari. Ia merasakan semacam pesona, sebelum nantinya kembali menghadapi hamparan tanah kosong yang begitu akrab baginya, yang sekarang hampir seluruhnya menguning di bawah kubah langit biru. Mereka berjalan satu jam lagi menuruni lereng ke arah utara. Mereka sampai pada hamparan batu-batu yang rapuh. Dari sana, jika mengambil jalan turun ke arah Timur, mereka akan tiba di lembah yang ditumbuhi beberapa batang pohon. Jika ke arah Selatan, akan sampai pada dataran luas dengan pemandangan yang berantakan oleh batu-batu yang nongol di sana-sini.

Daru mengikuti kedua jalan itu dengan matanya. Tak dia temukan apapun kecuali ufuk di mana langit dan tanah bertemu. Tak ada manusia. Ia berpaling ke si Arab yang menatapnya dengan mata kosong. Diulurkannya bungkusan yang dia bawa kepada si Arab.

“Ambillah,” katanya. “Ada roti, kurma, dan gula. Kau bisa bertahan selama dua hari dengannya. Aku juga ada seratus franc, ambillah.” Si Arab menerima bungkusan dan uang yang disodorkan Daru, merapatkan ke dada, dan tetap begitu terus seolah-olah tak tahu apa yang bisa dilakukannya dengan benda-benda di tangannya itu.

“Sekarang lihat,” kata si guru, tangannya menunjuk ke arah Tinguit. Kau harus berjalan selama dua jam. Di Tinguit, temuilah bagian administrasi dan polisi. Mereka mengharapkan kedatanganmu.”

Si Arab melemparkan pandangannya ke Timur, tetap dengan uang dan bungkusan di dada. Daru meraih sikunya dan memutarnya dengan sedikit kasar ke arah Selatan. Di kaki bukit di mana mereka berdiri, tanpa jalan setapak.

“Itu jalan setapak melintasi dataran. Sehari jalan kaki dari sini, kau akan menjumpai padang rumput dan kafilah para nomaden. Mereka akan menerima kedatanganmu sesuai hukum mereka.”

Si Arab kini berpaling ke Daru dengan wajah panik. “Dengarlah,” pintanya.

Daru menggelengkan kepala: “Tidak, tenanglah. Sekarang, aku akan meninggalkanmu.” Segera setelah itu ia membalikkan badan, mengambil langkah lebar-lebar ke arah gedung sekolah, ia menatap dengan ragu ke arah si Arab yang tetap tak bergerak, dan kembali meneruskan langkahnya. Untuk beberapa menit tak ia dengar apapun kecuali langkah kakinya sendiri yang bergema di atas tanah dingin. Tak pula ia putar kepalanya. Namun, akhirnya ia membalikkan badan juga. Si Arab tetap di tempatnya, di tepi bukit, tangannya sudah turun, dan ia memandang si guru. Daru merasa sesuatu merambat naik ke kerongkongannya. Namun ia menguatkan diri, melambai samar-samar, dan kembali meneruskan langkahnya. Beberapa saat kemudian ia berhenti lagi dan kembali menengok ke belakang. Sudah tak ada siapapun di bukit.

Daru tercenung. Matahari makin tinggi dan mulai menyengat kepalanya. Si guru mengikuti jalan yang sama dengan jalan yang ditempuhnya saat berangkat, mula-mula dengan ragu, tapi kemudian makin yakin. Ketika sampai di bukit kecil, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia mendaki secepat yang bisa ia lakukan, dan berhenti di puncak menenangkan nafasnya. Bebatuan yang terhampar si sisi Selatan tampak makin tajam di bawah biru langit. Tanah lapang di sebelah Timur bergetar oleh uap air yang naik ke langit. Dan dengan pandangan sedikit merendahkan, Daru melihat si Arab berjalan pelan sekali menyusuri jalan ke arah penjara.

Beberapa saat setelah itu, tegak di tepi jendela kelas, si guru melihat cahaya matahari yang kuat menyapu seluruh permukaan dataran tinggi. Namun sesungguhnya ia hampir tidak melihat apa pun. Di belakangnya, di papan tulis, diantara lekuk liku sungai-sungai Perancis, sebuah kalimat yang ditulis tidak rapi berbunyi:

“Kau telah menyerahkan saudara kami. Maka kau harus membayarnya.” Daru menatap langit, dataran tinggi, dan di luar itu, hamparan tanah yang tak tampak, yang membentangkan semua jalan menuju laut. Di hamparan tanah yang begitu ia cintai, ia merasa sendiri.

*Cerpen ini diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari “The Guest” dalam antologi Great French Short Stories, yang dipillih dan diedit serta diberi kata pengantar oleh Germaine Bree, terbitan Dell Publishing Co., Inc., New York, cetakan ke-10, tahun 1973)

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Teater Bolshoi

mm

Published

on

Teater Bolshoi

oleh: Yury Nagibin

Berakhirlah pelajaran terakhir dari hari terakhir kehidupan sekolah kami. Di depan masih ada ujian-ujian panjang dan sukar, tetapi pelajaran-pelajaran tidak akan pernah kami miliki lagi. Kuliah, seminar, kolokium – seluruh kata-kata yang mengandung kedewasaan tersebut – akan datang kepada kami, auditorium perguruan tinggi dan laboratorium pun akan datang, tetapi baik kelas maupun bangku-bangku sekolah tidak akan pernah datang lagi. Sepuluh tahun masa sekolah dirampungkan dengan bunyi lonceng keparau-parauan yang dikenal, yang muncul di bawah, di dalam ruangan para guru, yang lebih dulu dialiri oleh bunyi tersebut dan bunyi itu naik dengan sedikit terlambat ke arah kami di tingkat enam, yang di dalamnya tersebar kelas-kelas sepuluh. Kami semua, yang tengah tersentuh, terharu, bahagia dan menyesalkan sesuatu, yang merasa bimbang dan tersipu dengan perubahan sekejap mata sendiri dari anak sekolah menjadi orang dewasa, manusia, yang menikah saja pun bahkan boleh, berkeliaran di sepanjang kelas dan koridor, seperti ketakutan keluar dari tembok sekolah menuju dunia, yang menjadi tanpa batas. Dan ada perasaan yang demikian, seakan-akan ada sesuatu yang tidak terkatakan, tidak sampai, tidak terselesaikan selama sepuluh tahun yang telah lalu itu, dan seolah saja hari ini telah menemukan kami dengan tanpa diduga.

Di jendela-jendela yang terbuka lebar warna biru langit yang pekat tampak melimpah, burung-burung merpati mendekut lantaran ingin kawin dengan suara yang kasar di bendul jendela, terasa ada bau yang kuat dari pohon-pohon yang sedang berkembang dan aspal yang meleleh.

Zhenya Rumyantseva masuk ke kelas kami.

“Seryozha[2], bolehkah barang sebentar?” Aku keluar ke koridor. Pada hari yang tidak biasa ini, Zhenya menunjukkan kepadaku mengenai dirinya yang sama sekali tidak biasa. Dia berpakaian, seperti keselaluannya, tanpa cita rasa: pakaian pendek, yang memang sudah kekecilan untuknya di tahun yang lalu dan lebih tinggi dari lututnya, koftochka[3] dari wol, yang tidak bertemu rapat di bagian dada, dan di balik koftochka, dengan warna jadi agak kebiru-biruan karena seringnya dicuci, terlekat bluzka[4]putih, serta sepatu anak-anak yang tidak lancip tanpa hak. Kelihatannya, Zhenya mengenakan pakaian adik perempuannya. Rambut Zhenya yang menggunduk  dan berdebu secara serampangan disatukan dengan jepitan rambut, harspel,[5]dan grebenka,[6]yang menyekitari wajah kecilnya dan tetap saja rambutnya itu menutupi bagian dahi serta lehernya, sedang satu untaian rambutnya selalu jatuh ke hidungnya yang agak pesek dan dia dengan rasa jengkel menepis-nepisnya. Sesuatu yang baru yang ada padanya adalah warna merah yang tipis merata, yang meronai wajahnya, dan sinar mata kelabunya yang besar, tampak dekat dan hidup, kadang serius-penuh kesibukan, kadang lengah-seperti tak melihat.

“Seryozha, saya ingin mengatakan kepadamu: marilah kita bertemu selang sepuluh tahun lagi.”

Percandaan sama sekali bukanlah ciri yang mendasar bagi Zhenya dan secara serius aku bertanya:

“Untuk apa?”

“Saya tertarik, akan jadi apa kamu nanti,” Zhenya mengibaskan untaian rambutnya yang menjengkelkan. “Pada tahun-tahun sekolah ini, kamu begitu membuat saya tertarik.”

Aku berpikiran, bahwa Zhenya Rumyantseva tidak mengenal baik kata-kata itu, maupun perasaan seperti itu. Seluruh hidupnya mengalir di dalam dua lingkungan: pada pekerjaan gugus generasi muda yang intens – dia merupakan pemimpin regu kami – dan pada cita-citanya tentang dunia bintang. Aku tidak pernah mendengar, pada waktu luang dari kesibukan kerjanya Zhenya mengatakan mengenai sesuatu yang lain, kecuali mengenai bintang-bintang, planet, orbit, suar matahari, dan penerbangan ke luar angkasa. Tidak banyak dari kami yang secara tegas dapat menentukan jalan kehidupan sendiri yang selanjutnya, tetapi Zhenya sejak kelas enam telah mengetahui, bahwa dia akan menjadi astronom dan bukan yang lain. Di antara kami tidak pernah ada kedekatan pertemanan, kami belajar di kelas berparalel dan kami bertemu hanya karena pekerjaan di gugus generasi muda. Beberapa tahun lalu akibat sebuah kesalahan aku agak hampir dikeluarkan dari gugus kepanduan. Para kawanku berdiri dengan teguh di belakangku dan aku akhirnya tetap menjadi bagian dari kepanduan. Hanya Zhenya seorang, anak baru di sekolah kami, yang sampai akhir menuntut pengecualian itu. Dan hal yang demikian memberi bekas di dalam relasiku terhadapnya. Tetapi kemudian aku mengerti, bahwa karakter tanpa iba Zhenya terjadi karena usaha untuk mempertinggi ketelitian bagi diri sendiri dan orang lain, sama sekali bukan karena hati yang jelek. Manusia itu sampai ke dasarnya haruslah jernih, berhati teguh, serta dapat dipercaya, dan dia ingin semua yang ada di sekelilingnya jadi seperti itu. Aku bukan seorang kesatria yang tanpa rasa takut dan tanpa cela [7] dan sekarang pengakuannya yang tanpa disangka, membuat aku bingung dan heran.

Di dalam pencarian dengan perdugaan, secara berpikir-pikir aku berlari ke masa lampau, tetapi tidak ada apa pun yang kujumpai, kecuali sebuah pertemuan di Chistye Prudy.[8]

Suatu hari, ketika liburan, kami berkemas ke telaga[9] Khimkinskoye[10] untuk bersenang-senang naik perahu. Dalam perbincangan yang sengit, Chistye Prudy akhirnya ditetapkan jadi lokasi berjumpa. Akan tetapi sedari pagi hujan rintik turun dan ke pusat temu tersebut yang datang hanya aku dengan Pavlik[11]Arshansky, Nina Barysheva dan Zhenya Rumyantseva. Nina datang karena di hari libur dia tak ingin tinggal di rumah, aku datang karena Nina, Pavlik – karena aku, sedangkan mengapa Zhenya datang, bagi kami tampaknya ketika itu tidak jelas. Zhenya tidak pernah hadir di dalam pesta perjamuan kami yang sederhana, tidak pernah pergi bersama kami ke gedung bioskop, ke Park Kultury,[12] dan ke Hermitage.[13] Tidak ada seorang pun yang dapat menduga-duga sikap diam Zhenya, hanya dia memang tidak punya cukup waktu: dia mengerjakan suatu aktivitas pada kelompok astronomi di bawah Universitas NegeriMoskow[14] dan masih melakukan sesuatu di planetarium. Kami menghormati arah dari tujuan tertentu Zhenya tersebut dan tidak ingin mengganggunya. Kami pun akhirnya berkumpul di sebuah tempat besar yang tembus air, di bawah payung raksasa yang terbuat dari kayu di tengah jalan besar. Hujan kadang besar dan berisik, mendera tanah, kadang jadi mengecil ke hampir rintik-benang yang tidak terlihat dan tidak terdengar, tetapi tidak berhenti barang sebentar juga. Awan kelabu yang tak putus-putus tanpa celah cahaya menuju ke atap-atap rumah. Tidak ada pikiran lagi mengenai Khimki.[15] Akan tetapi Zhenya  dengan keras hati membujuk kami untuk pergi. Inilah untuk pertama kalinya dia membiarkan dirinya melakukan penyimpangan kecil terhadap aturan biasanya yang keras dan bagaimana pun itu perlu, bisa-bisa kami dapat sangat beruntung!. Pada kancing jaket beludrunya bergantung bungkusan roti dan lauk-pauknya. Tampak, bahwa sesuatu yang ada di dalam bungkusan itu sangat menyentuh hati. Bagi benak Zhenya, agaknya, tidak pernah sampai, bahwa dapat saja makan pagi di zakusochnaya,[16] di kafe atau bahkan di restoran, seperti yang kami lakukan pada saat perjalanan. Lantaran rasa iba terhadap bungkusannya itu aku pun menawarkan:

“Mari kita bersenang-senang di kolam.” Aku menunjuk ke arah perahu[17]yang tua dan meretak, yang memiliki haluan menjulang dari bekas kayu penyangga gerbong pengangkut barang.[18] “Dan kita akan berimajinasi, bahwa kita sedang ada di Khimki.”

“Atau di laut Mediterranea,”[19] sela Pavlik.

“Atau di samudera Hindia!”[20] sambung Zhenya dengan penuh semangat. “Atau di pantai Greenland!”[21] katanya lagi.

“Kita tidak akan tenggelam?” tanya Nina. “Dan ini patut disesali: aku sebenarnya diajak ke pertunjukan pertama[22] di Moscow Arts Theatre,”[23] kata Nina lagi.

Dayung tidak ada. Kami pun mengambil dua buah papan di pinggiran, mengeluarkan air dari perahu dan kami memulai perjalanan berlayar keliling dunia. Sedikit kemungkinannya, bahwa seseorang dari kami, kecuali Zhenya, yang merasakan kesenangan akan hal itu. Ketika aku dan Pavlik dengan tanpa semangat mengayuhkan kayu di atas air, Zhenya mereka-reka jalur perjalanan. Begitulah kami melewati selat Bosporus,[24] melalui terusan Suez[25] kami masuk ke laut Merah,[26] dari sana ke laut Arab,[27] kemudian bertolak ke kepulauan Sunda Besar,[28] ke Philipina dan masuk ke lautan Pasifik.[29] Karakter kekanak-kanakkan Zhenya yang kasip tampak manis dan mengharukan, tetapi di dalam dirinya ada sesuatu yang ketika itu menyusahkan hatinya:

“Lihatlah!” kata Zhenya sambil menunjuk ke suatu arah, yang memperlihatkan, bahwa di balik ranting-ranting pohon yang berkilau lantaran hujan, pilar-pilar gedung bioskop Kolizei[30] yang basah tampak menghitam penuh kemuraman. “Itu pohon kelapa, pohon sulur-suluran,[31] dan gajah-gajah: kita terbawa ke pantai India!”

Kami jadi saling berpandangan. Hal itu biasa terjadi pada usia tujuh belas tahun, kita mempertahankan kehidupan pribadi sendiri, yang rapuh, yang mudah dilukai oleh lempeng baja ejekan yang disengaja, sinisme yang halus, dan kita tidak mengerti, bagaimana kita dapat begitu naif memperlihatkan diri sendiri.

“Kita mendekati kepulauan Solomon[32] yang mengerikan!” Zhenya mengumumkan dengan suara yang mendatangkan ketidakberuntungan.

“Benar!” Pavlik, orang yang paling baik di antara kami, mengulangi. “Dan itu orang-orang setempat-pemakan manusia,” tunjuknya ke arah sekelompok anak-anak Chistye Prudy, yang berhenti di sekitar pagar keliling telaga untuk merokok. Pelayaran kami yang menjenuhkan, yang menembus hujan, pun berlanjut. Zhenya dengan tanpa lelah memberikan perintah: “Kemudi ke kanan!”, “kemudi ke kiri!”, “naikkan layar!”, “turunkan layar!”, dan dia menemukan jalan berdasarkan letak bintang. Kompas kami rusak saat badai. Dan itu memberinya kesempatan untuk menjamu kami dengan kuliah astronomi, yang aku hanya ingat, bahwa di ekuator langit berbintang seolah-olah terbalik. Kemudian kami harus menanggung malapetaka, Zhenya memberi kami kue keringnya yang terakhir: roti dan lauk-pauknya yang jadi basah. Dengan murung kami mengunyahnya dan Zhenya berkata, bahwa dia sangat tertarik dengan kehidupan Robinson Crusoe.[33] Aku lelah, basah karena air, dan tangan yang memegang bilah papan-pendayung pun aku angkat. Itu membuatku jadi orang yang tak kenal rasa iba dan aku berkata, aku tidak tahu, jika ada buku yang lebih picik dibandingkan Robinson Crusoe.

“Seluruh isi buku penuh oleh kesibukan sempit terhadap makanan, pakaian dan perkakas. Itu tabel harga makanan dan barang rongsokan yang tidak ada habis-habisnya! Itu himne bagi kehidupan rumah tangga yang khusuk!”

“Dan saya tidak tahu apa pun yang lebih menggelorakan dibandingkan hal itu, hal yang kau bilang sebagai tabel harga!” kata Zhenya dengan butiran air di matanya. “Betapa banyak kebebasan di buku itu, sajak-sajak dan mimpi…..”

Perdebatan kami dihentikan oleh Nina Barysheva. Dia tiba-tiba berkata:

“Hore! Di depan ada pantai!”

“Mana? Di mana?” kata Zhenya dengan terkejut.

“Itu, di dekat gerbong pengangkut barang,” kata Nina dengan suara yang sama dan sangat menjemukan. “Sudah, kita telah sampai! Kawan-kawan,[34] aku bisa mati kedinginan, tanpa segelas konyak[35] aku tidak akan mampu mengatasi.”

“Mari kita ke Pokrovka,[36] ke kafe musim panas,”[37] aku mengajak.

Zhenya memandang kami dengan tertegun, pipinya jadi berwarna merah jambu. “Ada apa?” katanya dengan begitu gagah. “Kalau pergi minum[38] ya pergi!”

Kami memasukkan perahu di bawah kayu penyangga gerbong pengangkut barang, kemudian keluar ke arah pantai dan seketika itu juga kami langsung berhadapan dengan Lyalik,[39] kenalan lamaku yang bukan teman. Selama tahun-tahun belakangan ini manusia muda yang berandalan tersebut ada di penjara. Dia sangat kuat, pundaknya lebar, memandang dengan mengernyit dan mengesankan dirinya sebagai penjahat kawakan. Setelah bersejajar dengan kami, Lyalik membenturkan pundaknya yang satu kepadaku, yang lainnya kepada Pavlik dan memaki-maki dengan kasar. Sekarang, di dalam lingkaran cahaya kejayaan perbuatan kriminalnya, dia tahu, bahwa dia tidak memiliki resiko apa pun. Rasa takut kami bukan dimunculkan oleh dirinya, melainkan oleh reputasinya. Dia menindas kami dengan keagungan yang muram dari takdirnya. Kami merasa diri sendiri seperti manusia rewel yang hina, seperti anak bunda yang manja. Bagaimana juga kami mampu bertanding kekuatan dengan manusia yang telah kehilangan akal seperti Lyalik.

“Jangan kau berani memaki-maki, bajingan!” teriak Zhenya. Dia tidak tahu siapa Lyalik, yang dengan diam-diam berputar dan melangkah menuju kami. Akan tetapi Zhenya memotongnya di pertengahan jalan. Dia menarik ke bawah penutup kepala Lyalik yang usang dengan ujungnya  yang sudah patah ke arah hidung sang bajingan, dan dengan sekuat tenaga mendorong dada Lyalik. Sang bajingan pun melayang ke arah kawat pagar dan melewati kawat pagar dia berjungkir balik ke atas rumput, dan jelaslah seketika itu juga, bahwa Lyalik hanyalah seorang bocah, seperti halnya aku dan Pavlik. Dan seluruh tampangnya yang menyeramkan sama sekali tak ada harganya lagi.

“Mengapa kamu mendorongku?” gumam Lyalik dengan lirih, seraya berusaha menarik penutup kepala, yang ada tepat di kedua matanya. Kemudian kami duduk di kafe musim panas di bawah tenda payung dengan motif lajur-lajur yang basah, meminum kopi hitam dengan konyak dan makan gelato.[40] Zhenya, seraya mengernyit, meminum segelas kecil konyak dan tidak tahu bagaimana kejadiannya, jepitan rambut dan harspel-nya secara bersamaan jatuh dari rambutnya yang menggunduk dan lebat, wajahnya jadi memerah dan dia mulai menamai dirinya sebagai peminum berat dan seorang yang kehilangan jiwa. Kami jadi sedikit malu karena dia, kami khawatir, bahwa pekerja kafe tidak akan memberikan konyak lagi kepada kami, lantaran Zhenya masih belum menyerupai seorang gadis yang umurnya lebih tua dari yang seharusnya, seperti halnya di kafe tersebut, dengan rambut kusut dan pakaiannya yang di sepanjang waktu melampaui kedua lututnya. Dan Zhenya berkata, bahwa dia ingin mati di dalam penerbangan luar angkasanya yang pertama, karena tidak boleh sama sekali menguasai ruang angkasa tanpa pengorbanan dan kematian itu lebih baik baginya, lebih patut dihormati, dibandingkan hal yang lain. Kami mengetahui, bahwa dia berkata penuh keikhlasan dan dengan tidak bersyak wasangka terhadap keunggulan jiwa sendiri, hal yang demikian membuat kami jadi merasa rendah. Kami tidaklah seperti itu, bahkan meskipun di bawah pengaruh konyak dan kami memerlukan, meski entah bagaimana,  kesempatan untuk bertahan.

Selebihnya Zhenya tidak lagi bersama kami. Bukan hanya sekali kami mengundangnya untuk hadir ke pertemuan kami, tetapi dia  menampiknya lantaran tidak ada waktu, bisa jadi, dia memang sungguh-sungguh tidak punya cukup waktu, begitu banyak keberhasilan yang dia perlukan! Lantas bagaimana, jika pada hari satu-satunya itu dia datang karena aku dan karena aku juga dia pergi, setelah berkata dengan kejujuran yang berbesar hati: “Tidak berhasil…”

“Mengapa dulu kamu diam saja, Zhenya?” tanyaku.

“Untuk apa mengatakannya kepadamu? Nina Barysheva begitu tertarik kepadamu!”

Dengan perasaan kehilangan yang kecewa dan sedih, aku berkata:

“Di manakah dan kapan kita akan berjumpa?”

“Selang sepuluh tahun, tanggal dua puluh lima Mei, pada jam delapan malam, di bentangan tengah[41] di antara pilar-pilar teater Bolshoi.”

“Dan jika di sana jumlah pilarnya gasal?”

“Di sana ada delapan pilar, Seryozha…Pada waktu itu saya akan menjadi astronom ternama,” tambahnya dengan penuh keinginan, impian dan keyakinan yang teguh. “Sekiranya saya begitu berubah, kau dapat mengenaliku lewat potret-potret.”

“Baiklah, pada saat itu aku juga akan menjadi terkenal,” kataku dan aku berhenti barang sebentar: aku masih benar-benar belum membayangkan, di dalam bidang apa, aku ditakdirkan akan menjadi tersohor dan aku bahkan masih belum mengambil keputusan, ke fakultas mana aku mesti menyerahkan semua dokumen:[42] “Bagaimanapun juga, aku akan datang dengan mobil sendiri…” Itu benar-benar bodoh, tetapi aku tidak menemukan apa pun untuk dikatakan.

“Baguslah kalau begitu,” Zhenya tertawa, “kau akan mengajakku berkeliling kota…”

Tahun-tahun berlalu. Zhenya belajar di Leningrad[43], aku tidak mendengar apa-apa mengenai dirinya. Pada musim dingin tahun 1941, dengan keinginan yang besar aku berusaha mencari berita mengenai takdir kawan-kawanku, aku mengetahui, bahwa Zhenya pada hari pertama perang[44] meninggalkan institut dan masuk ke sekolah penerbang. Pada musim panas tahun 1944 aku terbaring di rumah sakit dan mendengar lewat radio keputusan tentang penganugrahan gelar pahlawan kepada mayor penerbang Rumyantseva. Ketika akukembali dari perang, aku baru mengetahui, bahwa gelar pahlawan itu diberikan kepada Zhenya karena dia telah gugur secara heroik di medan perang.

Hidup terus berjalan lebih jauh. Kadang dengan tiba-tiba aku mengenang perjanjian kami dan untuk beberapa hari sebelum batas waktu aku merasakan kegelisahan yang begitu pedih, begitu menyakitkan, seolah seluruh tahun yang telah lalu hanya aku persiapkan bagi pertemuan tersebut.

Aku tidak menjadi orang ternama, sebagaimana yang aku janjikan pada Zhenya, tetapi di dalam satu hal aku tidak menipunya: aku memiliki opel tua, yang aku beli dengan harga jatuhan di tempat pembuangan mobil rampasan. Aku mengenakan pakaian baru dan pergi ke teater Bolshoi. Sekiranya saja aku di sana bertemu Zhenya, aku akan mengatakan kepadanya, bahwa setelah semua pengelanaan akhirnya aku menemukan jalan sendiri: aku menerbitkan buku cerita, sekarang aku sedang menulis yang kedua. Itu bukanlah buku-buku, yang sebenarnya ingin aku tulis, tetapi aku percaya, bahwa aku akan menuliskan buku-buku tersebut sampai selesai.

Aku memarkir mobil di dekat taman umum, membeli bunga bakung di seorang perempuan penjual bunga dan menuju ke tengah-tengah rentangan di antara pilar-pilar teater Bolshoi. Dan jumlahnya memang benar delapan. Aku tidak lama berdiri di sana, kemudian aku berikan bunga bakung tersebut kepada seorang perempuan kurus bermata kelabu dan pulang ke rumah.

Aku ingin sekejap saja menghentikan waktu, menoleh pada diri sendiri, pada  tahun-tahun yang telah terlewati, mengenang seorang gadis yang mengenakan pakaian pendek dan koftochka yang kesempitan, mengenang perahu yang berat, tetapi bergerak dengan cekatan,  mengenang hujan kecil, yang menaburi permukaan kolam yang berwarna kekuning-kuningan dengan sulur berduri,  mengenang teriakan yang mengharukan: “Kita terbawa ke India!”, mengenang kebutaan jiwa masa muda sendiri dan jiwa masa muda tersebut dengan begitu mudah melalui sesuatu, yang bisa saja menjadi takdir. (*)

Sumber                                    : Zelenaya Ptitsa s Krasnoy Golovoy (Burung Hijau dengan Kepala

Berwarna Merah)

Judul dalam bahasa Rusia       : Zhenya Rumyantseva

Penerbit                                   : Moskovsky Rabochy, 1966

Pengarang                               : Yury Nagibin

Biografi Pengarang                 : Yury  Markovich Nagibin (1920-1994)  merupakan  sastrawan- penulis prosa, jurnalis  dan seorang penulis skenario. Ayah asli Yury Markovich Nagibin adalah Kirill Alexandrovich Nagibin, yang   ditembak   mati   pada tahun   1920,  karena   menjadi anggota  white  guard.   Ketika  itu    Kirill  Alexandrovich meninggalkan   seorang    istri, Kseniya Alekseyevna, yang  sedang mengandung dan meminta kawannya, seorang advokat  bernama Mark Levental,  yang  namanya  kemudian dilekatkan menjadi  patronymic (nama ayah)  pada sang sastrawan,  untukmelindungi    keluarganya.Karya-karya Yury Markovich Nagibin   antara   lain:  The  Double  Mistake,   The  Man From the   Front,  The   Core   of   Life,  The   Commanding   Height,  Difficult Happiness, In Early Spring, Far and Near.

Penerjemah                              : Ladinata, Staf Pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unpad Bandung

Sumber gambar                       : http://nnm.me/blogs/spiridonn/yuriy-markovich-nagibin-dnyu-rozhdeniya-posvyashaetsya/ / http://iknigi.net/avtor-yuriy-nagibin/80523-chistye-prudy-sbornik-yuriy-nagibin.html

Catatan kaki: 

[1] Terjemahan dalam bahasa Indonesia diberi judul Teater Bolshoi. Teater ini terletak di kota Moskow dan didirikan atas perkenan Prince Peter Urusov pada tanggal 17 Maret 1776. Awalnya hanya 13 aktor dan 9 artis, 4 penari perempuan dan 3 penari laki-laki dengan seorang koreografer dan 13 pemain musik yang melakukan unjuk seni di sini. Bolshoi dibaca Balshoi: karena tekanan ada pada huruf o kedua, sehingga huruf o pertama dilafalkan jadi a dan artinya besar

[2] Nama diminutif Sergey

[3] Sejenis mantel

[4] Bahasa Rusia untuk kata blouse

[5] Sejenis tusuk rambut, misalnya yang dipakai oleh wanita berkonde

[6] Sejenis penyatu rambut yang bentuknya seperti sisir

[7] Ungkapan khusus yang menyatakan: manusia dengan martabat moral yang tinggi

[8] Artinya kurang lebih Kolam Jernih, merupakan nama stasiun subway yang diinsinyuri oleh Nikolai Koli di Moskow. Sebelum tahun 1703 namanya Poganey Prud. Selain nama stasiun subway, nama Chistye Prudy merujuk (secara lebih dulu) ke area kolam modern, yang memiliki area 1,2 hektar dengan kedalaman rata-rata 1,2 meter

[9] Di sini maksudnya telaga buatan. Telaga buatan Khimkinskoye memiliki volume air 29 juta m3, area seluas 4 km2, lebar 0,8 km, panjang sekitar 9 km dan kedalaman sampai 17 meter. Tempat ini merupakan tempat tamasya

[10] Bentuk kata sifat untuk kata benda Khimki

[11] Nama kesayangan dari Pavel

[12] Artinya kurang lebih Taman Budaya, merupakan nama stasiun subway, yang dibangun pada tanggal 15 Mei 1935. Lokasi subway dekat dengan Gorky Park of Culture and Leisure, yang terletak di sepanjang pinggiran sungai Moskow

[13] Merupakan museum besar di Saint Petersburg, tetapi di sini mengacu ke nama restoran yang sangat terkenal di Moskow. Sekarang gedungnya menjadi the Moscow School of Modern Drama Theatre

[14] Universitas ini dinamakan dengan nama seorang sastrawan dan akademikus Rusia abad 18: Mikhail Lomonosov, yang merupakan pendirinya di tahun 1755. Dulunya universitas ini terletak di tengah kota Moskow di jalan Mohovaya. Sampai sekarang beberapa departemen masih ada di sana. Bangunan induk kira-kira ada 60 gedung dan tower sentral, yang seperti wedding cake berlokasi di Sparrow Hills. Jumlah tampungan mahasiswa kira-kira 50.000 orang

[15] Nama kota yang berasal dari nama sungai Khimka, sejak tahun 1939 masuk menjadi bagian dari kota Moskow

[16] Snack bar, semacam tempat untuk makan makanan kecil

[17] Maksudnya ploskodonka, perahu yang dasarnya datar

[18] Maksudnya teplushka, gerbong pengangkut barang

[19] Nama lainnya Laut (-an) Tengah, merupakan laut yang berhubungan dengan Lautan Atlantik dan dikelililingi oleh Mediterranean region. Di bagian utara Lautan ini dibatasi oleh Anatolia dan Eropa, di selatan oleh Afrika Utara dan di timur oleh Levant

[20] Samudera terbesar ketiga terbesar di dunia, yang menutupi kira-kira 20% permukaan bumi. Samudera Hindia dibatasi di utara oleh anak benua India, di barat oleh Afrika Timur, di timur oleh Indochina, Kepulauan Sunda dan Australia, dan di selatan oleh Samudera Selatan (atau tergantung pada penamaan, oleh Antartika)

[21] Merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki lapisan es terbesar kedua di dunia. Terletak di antara Artika dan Atlantik Utara

[22] Maksudnya première

[23] Maksudnya Moskovsky Khudozhestvenney Akademichesky Teatr, yang didirikan pada tahun 1898 oleh Konstantin Stanilavsky dan penulis drama-sutradara Vladimir Nemirovich-Danchenko. Moscow Arts Theatre merupakan tempat bagi teater naturalistik, yang kontras dengan teater-teater Rusia yang ketika itu didominasi oleh melodrama

[24] Dikenal juga dengan nama selat Istambul, merupakan selat yang membatasi Eropa dan Asia

[25] Merupakan terusan atau jalan air laut buatan di Mesir yang menghubungkan Laut Mediterranea dan Laut Merah. Dibuka pada bulan November 1869

[26] Merupakan teluk air laut  kecil dari samudera  Hindia, yang dibatasi di timur oleh India, di utara oleh Pakistan dan Iran, di barat oleh semenanjung Arab, di selatan, kira-kira, oleh garis di antara Guardafui di Somalia Timur Laut dan Kanyakumari di India

[27] Bagian dari samudera Hindia dan dibatasi oleh semenanjung Arab di sebelah barat dan semenanjung Hindustan di bagian timur Laut

[28] Merupakan gugusan pulau di Indonesia bagian barat, yang meliputi: Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Sumatra

[29] Nama lainnya lautan Teduh, merupakan bagian lautan bumi yang terbesar. Terbentang dari Artika di utara sampai ke lautan Selatan di selatan, dibatasi oleh Asia dan Australia di barat, dan Amerika di timur

[30] Terletak di bagian bernomor ganjil di Chistoprudney Boulevard. Gedung Kolizei (Coliseum) yang bernomor 19a ini dibangun kira-kira pada tahun 1904 dan diarsiteki oleh R. I. Klein. Sekarang menjadi teater Sovremennik

[31] Maksudnya liana, sejenis tumbuhan tropis yang merambat pada pohon lain

[32] Merupakan negara berdaulat di Oceania. Ibukotanya Honiara, yang terletak di pulau Guadalcanal dan merupakan anggota Commonwealth of Nations

[33] Merupakan novel karya Daniel Defoe yang dipublikasikan pertama kali pada tahun 1719. novel ini merupakan otobiografi  fiksi dari Robinson Crusoe, yang terdampar selama 28 tahun di sebuah pulau tropis dekat Venezuela

[34] Maksudnya malchiki, para kawan laki-laki

[35] Maksudnya cognac, minuman brendi berkualitas tinggi, yang biasanya disuling dengan baik di Cognac di Perancis sebelah barat

[36] Nama jalan di Administrasi Distrik Pusat Moskow, yang didasarkan pada nama tserkov’ Pokrova Bozh’yey Materi atau dalam bahasa Inggris disebut dsengan Church of the Intercession of the Mother of God. Tahun 1940-1992 nama jalan sempat diubah menjadi Chernyshevsky Street, untuk menghormati Nikolay Gavrilovich Chernyshevsky (12 Juli 1828 – 17 Oktober 1889): seorang revolusioner demokrat, kritikus, sosialis dan pemikir materialis

[37] Maksudnya kafe outdoor, kafe di luar ruang

[38] Maksudnya minum alkohol dalam kadar yang banyak

[39] Nama diminutif Alexey

[40] Maksudnya ice cream atau es krim

[41] Maksudnya bay, istilah arsitektur untuk menamai bagian gedung yang ditandai oleh elemen-elemen vertikal, dalam soal ini pilar teater

[42] Maksudnya ijasah dan hal-hal yang bertalian

[43] Penamaan untuk kota Saint Petersburg pada tahun 1924-1991

[44] Perang melawan Jerman tahun 1941-1944

Continue Reading

Trending