Connect with us
Tamu Albert Camus Tamu Albert Camus

Cerpen

Albert Camus: Tamu

mm

Published

on

oleh: Albert Camus

Si guru memperhatikan dua orang lelaki yang merambat naik ke arahnya. Seorang di punggung kuda, seorang berjalan kaki. Mereka belum mencapai tanjakan curam yang akan membawa mereka ke gedung sekolah yang dibangun di punggung bukit.

Perjalanan itu tampak sulit, mereka merambat pelan-pelan di dataran salju, di antara batu-batu, menyeberangi dataran luas dan gurun pasir di dataran tinggi. Sesekali kudanya tersandung-sandung. Meski tak terdengar dengusnya, ia bisa melihat hembusan nafas yang terengah-engah dari cuping hidung binatang tersebut. Salah seorang tampaknya kenal betul dengan daerah yang mereka lalui. Langkah mereka tidak melenceng dari jalan setapak kendati jalan itu tertutup putih salju sejak beberapa hari lalu. Menurut perkiraan si guru, mereka baru akan mencapai bukit dalam waktu setengah jam lagi. Udara begitu dingin, si guru kembali ke ruang kelas untuk mengambil sweaternya.

Ia melintasi ruangan yang kosong dan dingin. Di papan tulis mengalir sungai-sungai Perancis – digambar sejak tiga hari lalu dengan kapur tulis empat warna – menuju muara. Salju mendadak turun di pertengahan bulan Oktober setelah delapan bulan dipanggang musim kemarau, tanpa ada hujan yang menandai masa peralihan. Dua puluh siswanya, kurang lebih sejumlah itulah mereka, yang tinggal menyebar di desa-desa di dataran tinggi itu, tak datang ke sekolah. Mereka akan datang lagi ketika cuaca kembali cerah.

Daru menghangatkan kamar tidurnya. Kamar itu berhimpitan dengan ruang kelas dan keduanya dihubungkan oleh sebuah pintu. Seperti juga jendela-jendela kelas, jendela kamarnya pun menghadap ke selatan. Gedung sekolah ini terletak beberapa kilometer dari turunan pertama ke arah Selatan. Jika udara bagus, akan tampak jajaran gunung-gunung berwarna ungu dan jarak yang membentang di gurun pasir.

Sedikit hangat di kamarnya, Daru kembali ke jendela dimana ia mula-mula melihat dua orang yang mendaki. Mereka tak kelihatan lagi. Tentu sedang menyusuri tanjakan. Langit tidak terlalu gelap, sebab salju sudah berhenti turun sejak tadi malam. Pagi diawali dengan cahaya muram, yang jarang akan jadi cerah bahkan setelah gumpalan awan menyingkir. Pada pukul dua siang, hari seperti baru saja dimulai. Namun keadaan ini jauh lebih baik dibanding tiga hari lalu tatkala turun salju tebal di tengah cuaca gelap yang disertai hembusan angin yang menyebabkan daun pintu kelas berdecit-decit. Sepanjang hari Daru tinggal di kamarnya dan hanya meninggalkan kamar untuk ke gudang, memberi makan ayam-ayam, atau mengambil arang. Untunglah truk pengantar barang dari Tadjid, desa terdekat dari utara, datang dengan barang-barang kebutuhannya dua hari sebelum badai salju. Ia akan meninggalkan dataran ini lagi dalam 48 jam.

Tapi, selain kedatangan truk itu, ia sendiri sebenarnya telah memiliki cukup persediaan untuk menghadapi kepungan salju. Kamarnya yang kecil penuh dengan kantung-kantung terigu yang dikirimkan sebagai persediaan bagi para siswa yang keluarganya kekurangan pangan selama musim kemarau. Mereka benar-benar jadi korban karena kemiskinan mereka. Setiap hari Daru membagikan ransum kepada anak-anak. Ia tahu, mereka sangat membutuhkan itu selama berlangsungnya hari buruk. Mungkin bapak atau kakak mereka akan datang siang ini dan ia akan membagikan beras kepada mereka. Hanya itu yang bisa dilakukan selama menunggu datangnya panen berikut. Kini kapal-kapal pengangkut gandum datang dari Perancis dan situasi terburuk bisa diatasi. Namun, sungguh sulit melupakan kemiskinan. Ia bagai pasukan iblis yang berkeliaran di bawah terik matahari. Dataran tinggi ini terbakar selama berbulan-bulan, tanah menjadi keriput dan hangus sedikit demi sedikit. Batu-batu pecah menjadi debu di bawah telapak kaki. Kawanan ternak mati, ribuan jumlahnya. Manusia juga mati, di mana-mana, kadang tanpa seorang pun mengetahuinya.

Sebaliknya dari yang mereka alami, ia hidup nyaris seperti pendeta di sekolah yang terpencil, dan dengan apa yang ada padanya, bagaimanapun, kebutuhannya selalu tercukupi. Dengan segala kesulitan yang harus dijalani, dengan dipannya yang sempit, dengan rak yang tidak dicat, dengan sumurnya, dan dengan persediaan air dan makanan yang dipasok setiap minggunya, ia merasa dirinya seolah bangsawan yang dikelilingi tembok-tembok putih bersih. Lalu tiba-tiba turun salju, tanpa hujan sebelumnya. Begitulah daerah ini, terlalu menyiksa bagi kehidupan, bahkan kalaupun tanpa manusia – yang tak pernah bisa saling menolong dalam menghadapinya. Tapi Daru lahir di sini. Di tempat lain, di mana pun, ia merasa terasing.

Ia melangkah ke teras di depan bangunan sekolah. Kedua orang tadi kini berada di tengah lereng yang landai. Ia kenal si penunggang kuda yang tak lain adalah Balducci, polisi tua yang dikenalnya sejak lama. Balducci menggenggam ujung tali yang mengikat kedua pergelangan tangan si Arab. Si Arab berjalan di belakangnya dengan tangan terbelenggu dan kepala menunduk. Polisi tua itu bersalam dengan lambaian tangannya, Daru tidak membalas lambaiannya; seluruh fikirannya tertancap pada si Arab. Orang itu mengenakan pakaian jellaba yang sudah pudar warna birunya, memakai sandal namun membungkus kakinya dengan kaus kaki wool tebal, dan menutup kepalanya dengan kopiah kecil pendek. Mereka makin dekat. Balducci menahan laju kudanya agar tidak menyakiti si Arab. Keduanya merambat pelan sekali.

Bagai letusan senapan, Balducci berteriak: “Satu jam hanya untuk tiga kilometer dari El Ameur!” Daru tidak menyahut. Dibalut sweater tebal, sosoknya makin kelihatan pendek dan gempal. Matanya terus menatap kedua orang yang sedang mendaki ke arahnya. Tak satu kali pun si Arab mengangkat kepalanya.
“Hello,” sapa Daru ketika mereka akhirnya sampai di teras. “Masuklah dan hangatkan badan.”
Balducci turun dari kuda dengan rasa sakit dan penat, ujung tali pengikat si Arab terus digenggamnya. Kumis polisi tua itu bagai semak-semak kaku, ia tersenyum kepada Daru. Matanya kecil, tersembunyi dalam cekungan di bawah dahinya yang coklat, dan di sekitar mulutnya tampak kerut-kerut yang melahirkan kesan bahwa ia seorang yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Daru meraih tali kekang dan menbawa kuda ke gudang. Ketika ia kembali lagi, dua orang itu sudah menunggunya di ruang kelas. Daru membawa mereka ke kamarya.

“Saya akan memanaskan ruangan kelas dulu,” katanya. “Agar lebih nyaman.”

Ketika kembali ke kamarnya, ia melihat Balducci duduk di atas dipan kecilnya. Tangannya tetap menggenggam tali yang menghubungkan dirinya dengan si Arab yang kini berjongkok di tepi tungku pemanas. Tangan si Arab tetap terikat, kopiahnya terdorong ke belakang, matanya terbang ke jendela. Mula-mula Daru memperhatikan bibirnya yang tebal dan berlemak, menyerupai Negro, namun hidungnya mancung, matanya gelap dan penuh kemarahan. Kopiah yang dikenakannya menunjukkan sikap keras kepala di balik dahi lebar yang saat ini memucat oleh hawa dingin. Keseluruhan paras mukanya memancarkan pemberontakan yang membuat Daru terpaku ketika si Arab menoleh ke arahnya dan menatapnya langsung.

“Mari ke ruang kelas,” kata si guru, “saya akan bikinkan teh manis.”

“Terima kasih,” sahut Balducci. “Oh! Pekerjaan yang menyebalkan. Aku ingin segera pensiun sebetulnya.” Dan kepada si Arab tawanannya ia berteriak: “Kemari kau!” Si Arab bangun dan, pelan sekali, tetap dengan kedua pergelangan tangan terikat, maju di depan Balducci. Mereka kemudian beralih ke ruang kelas.

Sambil membawa teh, Daru mengangkat kursi. Namun Balducci ternyata sudah meletakkan pantatnya di bangku siswa yang paling dekat dengan pintu kelas dan si Arab berjongkok di depan mimbar guru, menghadapi tungku pemanas tak jauh dari jendela. Ketika menyodorkan segelas teh kepada si Arab, Daru termenung sejenak melihat tangan si Arab terbelenggu.

“Mungkin ikatan ini harus dilepas,” katanya.

“Tentu,” sahut Balducci. “Itu hanya berlaku selama dalam perjalanan.”

Polisi itu segera akan bergerak, tapi Daru lebih cepat. Ia meletakkan gelas di lantai dan kemudian berjongkok di samping si Arab. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si Arab menyaksikan Daru dengan tatap mata yang membara. Sekejap saja tangannya bebas. Lalu secara bergantian ia mengusap-usap bekas ikatan di kedua pergelangan tangannya. Ia menjangkau gelas teh di lantai, dan menyeruput teh panas itu berkali-kali sampai habis.

“Ke mana Anda akan pergi?” Tanya Daru.

Balducci menarik kumisnya yang menyentuh-nyentuh permukaan air teh di gelas. “Ya kesini, nak,” sahutnya.

“Aneh. Dan Anda akan bermalam?”

“Tidak. Aku akan segera kembali ke El Ameur. Dan kau harus membawa orang ini ke Tinguit. Ia ditunggu oleh polisi di sana.”

Balducci menatap Daru, bibirnya tersenyum manis sekali.

“Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Tidak, nak. Ini adalah tugas.”

“Tugas?” kupikir…” Daru terdiam beberapa saat, ia tak ingin menyakiti si tua dari Corsica itu. “Kurasa, ini bukan tugasku.”

“Begitukah menurutmu? Dalam masa perang, setiap orang mengerjakan apa pun tugas yang dipikulkan kepadanya.”

“Kalau begitu aku akan menunggu adanya pernyataan perang.”

Balducci mengangguk-angguk.

“Ok. Tapi tugas itu ada di depan mata dan meminta kesediaanmu pula. Segala hal terjadi, segala peristiwa bermunculan. Kita mendengar pidato-pidato perlawanan dan kemudian dimobilisasi. Begitulah.”

Daru kembali terdiam.

“Dengar, nak. Aku menyayangimu dan kau harus faham. Hanya ada selusin polisi di El Ameur yang berpatroli untuk wilayah yang luas di sana. Aku harus cepat-cepat kembali. Tugasku adalah membawa orang ini kepadamu dan kembali ke markas secepat mungkin. Ia tak bisa ditahan di sana. Orang-orang di desanya mulai bergerak, mereka akan membebaskannya kembali. Kau harus membawanya ke Tinguit besok. Hanya dua puluh kilometer dan itu tak akan jadi persoalan benar bagi lelaki tegap seperti kau. Setelah itu segalanya beres. Kau bisa kembali mengajar dan menjalani hidup yang menyenangkan.”

Di balik dinding kelas, terdengar kuda Balducci mendengus dan menggaruk-garuk tanah. Daru melihat hamparan salju di luar jendela. Udara bersih dan cahaya makin terang di atas dataran salju. Ketika salju mencair, matahari akan mengambil alih kekuasaan dan membakar dataran berbatu-batu ini. Lalu, selama berhari-hari, langit akan terus memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan gurun yang kosong dan sendirian, yang seolah sama sekali tak berhubungan dengan manusia.

“Jadi, apa sesungguhnya yang telah ia lakukan?” Tanya Daru. Dan sebelum polisi tua itu membuka mulut, Daru menyusulkan pertanyaan lain: “Bisa ia berbahasa Perancis?”

“Tidak! Tak sepatah katapun. Kami telah mencarinya sebulan penuh, namun mereka menyembunyikannya. Ia telah membunuh sepupunya.”

“Apakah ia pemberontak?”

“Rasanya tidak. Tapi entahlah, tak ada yang bisa dipastikan.”

“Kenapa ia membunuh?”

“Pertengkaran keluarga kurasa. Mungkin salah seorang berutang beras pada yang lain. Entahlah, tak begitu jelas. Pokoknya ia membunuh sepupunya dengan celurit, seperti seekor domba, kreeezk!”

Balducci menirukan gerakan menggoreskan pisau di tenggorokannya sendiri dan si Arab menatapnya dengan sorot mata marah. Daru merasakan amarah yang menggelegak tiba-tiba. Ia benci kepada manusia, semua manusia, yang menyimpan dengki yang membusuk di hati; kebencian yang tak pernah sudah, dan nafsu menumpahkan darah.

Ketel di atas tungku berdenging. Daru mengisi lagi gelas Balducci dengan air teh. Juga gelas si Arab. Dan, untuk kedua kalinya, si Arab menyeruput habis teh di gelasnya dalam waktu cepat. Ketika tangannya mengangkat gelas, baju jellabanya merosot dan terbuka, Daru melihat dadanya yang kurus namun berotot.

“Terima kasih, nak,” kata Balducci. “Kini saya akan pergi.”

Ia bangkit mendekati si Arab dan segera mengeluarkan tali dari saku bajunya.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Tanya Daru dengan suara kering.

Balducci, dengan paras muka linglung, menunjukkan tali di tangannya.

“Tak usah repot-repot.”

Polisi tua itu makin bingung: “Baiklah, terserah kau. Omong-omong, kau punya senjata?”

“Aku punya pistol.”

“Mana?”

“Di kopor.”

“Mestinya kau taruh di dekat tempat tidurmu.”

“Buat apa? Tak ada yang perlu kutakutkan.”

“Kau gila, nak. Jika meletus keributan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu, dan kita di perahu yang sama.”

“Aku akan melindungi diriku sendiri. Aku akan punya waktu sebelum mereka tiba di tempat ini.”

Balducci terbahak-bahak, kumisnya menutupi deretan giginya.

“Kau punya waktu? Baiklah, ya…aku hanya bisa mengatakan ‘baiklah’. Kau memang sedikit gila rupanya. Dan tak banyak tahu. Tapi karena itulah aku menyukaimu. Anakku juga seperti kau itu.”

Pada saat yang sama ia mengeluarkan revolvernya dan meletakkan di meja.

“Ambillah; aku tak memerlukan dua pistol untuk menempuh perjalanan dari sini ke El Ameur.”

Revolver itu berkilat-kilat di atas meja yang di cat warna hitam. Ketika polisi tua itu berpaling ke arahnya, si guru mencium bau kulit dan daging kuda.

“Dengar, Balducci,” kata Daru tiba-tiba, “Segala sesuatunya membuatku muak, terutama ketika tiba-tiba kau tinggalkan seseorang di sini. Aku tidak akan mengantarkannya ke Tinguit. Kalau harus bertarung dengannya, aku akan lakukan, tapi tidak untuk mengantarkannya.”

Sang polisi tua berdiri termangu di hadapan Daru dan menatapnya lama sekali.

“Alangkah tololnya kau,” gumamnya. “Aku tidak suka mendengar kalimatmu. Kau tak mau mengikat dia karena mungkin itu memalukan buatmu – ya, mungkin memalukan. Tapi sama sekali tak masuk akal jika kau biarkan ia bebas menentukan langkahnya sendiri.”

“Aku tidak akan mengantarkannya.”

“Ini tugas, nak. Berapa kali harus kuulangi?”

“Baiklah. Kalau begitu kuulangi saja kepada mereka apa yang sudah kuucapkan kepadamu: aku tidak akan mengantarkannya.”

Balducci tertegun lama. Bergantilah ia memandang paras muka Daru dan si Arab. Akhirnya ia mengambil keputusan.

“Tidak! Aku tidak akan bercerita apa pun kepada mereka. Jika kau ingin melemahkan kami, lakukanlah. Aku tidak akan melaporkanmu. Aku sekadar menjalankan tugas mengantarkan tawanan ini dan itu sudah kulakukan. Sekarang kau hanya perlu menandatangani surat ini, untukku.”

“Itupun tidak ada perlunya. Aku toh tak menolak kau tinggalkan tawanan itu di tempatku.”

“Jangan membuatku jengkel. Aku tahu kau seorang yang jujur. Kau berasal dari sini dan kau seorang laki-laki. Tapi kau perlu membubuhkan tanda tangan di sini. Itu aturannya.”

Daru membuka lacinya, mengambil tinta dalam botol kotak kecil, dan mengeluarkan tangkai pena dari kayu berwarna merah dengan mata pena “sergeant-major” yang biasa ia gunakan untuk menulis indah. Ia menandatangani surat yang disodorkan kepadanya. Polisi tua melipat kembali suratnya dan menyimpannya di dalam saku. Setelah itu ia melangkah ke pintu.

“Aku akan mengantarmu keluar.”

“Tak usah berbasa-basi. Kau telah melukaiku.”

Polisi tua itu memandang si Arab beberapa saat, mendengus marah, dan kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. “Selamat tinggal, nak,” katanya. Pintu tertutup di belakangnya. Balducci tampak dalam bingkai jendela dan kemudian hilang sama sekali. Bunyi langkah kakinya ditelan hamparan salju. Di balik dinding, kuda bergerak, ayam-ayam ribut ketakutan.

Beberapa saat kemudian Balducci tampak lagi dalam bingkai jendela, menuntun kudanya pada tali kekang. Ia berjalan ke arah tanjakan kecil tanpa menoleh lagi sampai hilang dari pandangan. Kudanya membuntuti di belakangnya. Terdengar suara batu besar menggelinding. Daru berbaik ke arah si Arab yang nyaris tak bergerak dan nyaris tak pernah memandangnya.

“Tunggu di sini,” kata si guru dalam bahasa Arab, ia berjalan ke kamar tidurnya. Ketika melewati ambang pintu, ia berpikir beberapa saat, kemudian kembali lagi ke meja di mana Balducci meninggalkan revolvernya. Diambilnya revolver itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kemudian, tanpa menengok ke belakang, ia bergegas ke kamarnya.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.

Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Ketika ia bangkit, tak terdengar gerisik suara di ruang kelas. Ia merasakan sebuah kegembiraan tatkala tiba-tiba muncul pikiran bahwa si Arab mungkin sudah melarikan diri dan ia kembali sendirian seperti sediakala tanpa bersusah-susah mengambil keputusan. Namun tawanan itu tetap di tempatnya. Tubuhnya terbujur pasrah di antara tungku dan bangku. Matanya terbuka, ia menatap langit-langit ruangan.

Daru menatap lekat-lekat bibirnya yang tebal, yang tiba-tiba di matanya seperti sedang mencibir. “Kemarilah,” panggil Daru. Si Arab bangkit dan mengikutinya. Di kamar tidurnya, si guru mengarahkan telunjuknya pada kursi yang letaknya tak jauh dari meja di bawah jendela. Si Arab duduk di kursi tersebut tanpa melepaskan pandangannya ke Daru.

“Kau lapar?”

“Ya,” si Arab mengangguk.

Daru mengatur meja makan untuk dua orang. Ia mengambil tepung dan minyak, membikin kue, menyalakan kompor dengan tabung gas kecil, dan menggoreng kue bikinannya. Menunggu kuenya masak, ia keluar menuju gudang untuk mengambil keju, telur, kurma, dan susu kental. Setelah masak, kue-kue yang baru diangkat dari penggorengan dia angin-anginkan di ambang jendela. Lalu membuat dadar telur, menambahkan air pada susu kental dan memanaskannya. Ketika mengerjakan itu semua, satu saat tangannya menyenggol gagang revolver yang ia simpan di saku kanan. Semua beres. Ia menurunkan panci yang digunakan untuk merebus susu dan membawa hasil masakannya ke ruang kelas. Kemudian ia kembali ke kamarnya dan menyimpan revolver di laci mejanya. Ketika kembali lagi ke ruang kelas, malam telah jatuh. Ia menyalakan lampu dan mempersilakan si Arab.

“Makanlah,” katanya. Si Arab mengambil sepotong kue, mengangkatnya ke mulut, dan berhenti sejenak

“Kau sendiri?” ia bertanya.

“Aku makan setelah kau.”

Bibir tebal itu terbuka sedikit. Si Arab sedikit ragu-ragu, kemudian seperti terpaksa menggigit kuenya.

Ia menatap si guru setelah menyantap habis kue di tangannya.

“Kau akan mengadiliku?”

“Tidak, aku hanya akan menjagamu hingga besok pagi.”

“Mengapa kau makan semeja denganku?”

“Sebab aku lapar.”

Si Arab kemudian membisu. Daru bangkit dan melangkah keluar. Ia kembali dengan membawa kasur lipat yang diambilnya dari gudang, meletakkannya di antara tungku dan meja, tegak lurus dengan tempat tidurnya. Dari kopor besar yang ada di pojok, yang biasa ia gunakan untuk menyimpan kertas-kertas, ia mengeluarkan dua buah selimut dan menatanya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian dihentikannya pekerjaan itu, ia merasa tak ada gunanya, dan lalu duduk di atas kasur. Tak ada apa pun yang harus dikerjakan atau disiapkan. Ia harus melihat siapa yang ada dihadapannya. Dan melihat si Arab, ia membayangkan bagaimana paras muka lelaki itu saat dibakar amarah. Tak bisa ia melakukan apa-apa. Tak ia lihat apa pun pada si Arab kecuali ceruk mata yang gelap, tapi memancarkan cahaya, dan mulut seekor binatang.

“Mengapa kau membunuhnya?” dengan kasar tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, tekanan suaranya membuat si Arab tercengang.

“Ia lari. Aku mengejarnya.”

Ia mengangkat pandangannya ke arah Daru, kemudian mereka terlibat dalam tanya jawab yang getir.

“Sekarang, apa yang akan mereka perbuat kepadaku?” tanyanya.

“Kau takut?”

Si Arab mendengus, melemparkan pandangannya jauh-jauh.

“Kau menyesal?”

Si Arab menatapnya dengan mulut terbuka. Tak paham pada apa yang baru saja didengarnya. Daru menjadi gusar. Pada saat yang sama ia merasa risih dengan si Arab yang teronggok di antara dua tempat tidur.

“Berbaringlah di sana,” perintah Daru. “Itu tempat tidurmu.”

Si Arab tidak bergerak. Ia meminta: “Katakan padaku!”

Si Guru menatapnya.

“Apakah polisi tua itu akan datang lagi besok?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau akan bergabung dengan kami?”

“Aku tak tahu. Kenapa rupanya?”

Tawanan itu bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas selimut. Kakinya menjulur ke arah jendela. Cahaya bola lampu listrik jatuh di kedua matanya, ia memejamkan kedua matanya itu.

“Kenapa?” ulang Daru, kini ia tegak di samping tempat tidur.

Si Arab membuka matanya melawan cahaya yang menyilaukan, menatap Daru, dan mencoba tidak mengerjap.

“Bergabunglah dengan kami,” katanya.

Hingga tengah malam Daru tetap tak bisa tidur. Ia merebahkan diri di kasurnya setelah menanggalkan semua pakaian; ia biasa tidur telanjang. Tetapi tatkala sadar bahwa dengan keadaan itu kulitnya tak terlindung bahkan dari serangan yang paling sepele, rasa gelisahnya muncul. Ia merasa saat itu dirinya adalah sasaran empuk dan tiba-tiba mencul godaan untuk mengenakan lagi pakaiannya. Namun ia hanya mengangkat bahu, ia toh bukan kanak-kanak. Jika perlu ia sanggup berkelahi melawan si Arab. Dari tempat tidurnya ia bisa menawasi tawanan itu: telentang, tidak bergerak, matanya terkatub di bawah cahaya yang menyilaukan. Ketika Daru mematikan lampu, kegelapan seakan membekukan segala hal secara mendadak. Pelahan-lahan malam kembali datang di bingkai jendela, langit tanpa bintang berpendar lembut. Si guru menarik kakinya. Si arab tidak bergerak, namun matanya kelihatan terbuka. Angin berdesir mengitari gedung sekolah. Mungkin ia akan menyingkirkan awan di langit dan matahari bakal muncul lagi.

Makin malam, angin bertiup kuat. Ayam-ayam mengepak-ngepakkan sayap sesekali, kemudian sunyi. Si Arab menggeliat, kini memunggungi Daru yang tengah berpikir bahwa ia mendengar suara mengerang. Kemudian ia mendengar dengus nafas tamunya, makin berat dan makin teratur. Ia mendengar dengus nafas itu begitu dekat dengan dirinya. Rasa kantuk tak pernah datang pada pikiran yang tak tenang. Selama setahun ia tidur sendirian saja di kamar ini, dan kini kehadiran si Arab membuatnya bingung. Ia bingung karena kehadiran si Arab membebaninya dengan keakraban, sesuatu yang ia pahami betul. Namun, untuk saat ini ia ingin menolaknya. Orang-orang yang saling berbagi di ruangan yang sama, prajurit atau tawanan, membangun persekutuan aneh seolah-olah, setelah melepas baju zirah dan menggantinya dengan pakaian rumah, mereka adalah para sahabat yang bercengkerama setiap petang dengan impian dan keletihan bersama yang sangat tua usianya. Daru menggetarkan tubuhnya, ia tidak suka memikirkan hal-hal itu dan tampaknya yang lebih penting saat ini adalah tidur.

Sejenak kemudian si Arab menggerakkan tubuhnya, pelan sekali, dan si guru tetap belum tidur. Ketika tawanan itu membuat gerakan untuk kedua kalinya, Daru mendengus seolah memberikan peringatan. Si Arab mengangkat tubuhnya sangat pelan menyerupai gerakan orang tidur berjalan. Tegak di atas tempat tidurnya, ia menunggu tanpa gerakan, tanpa menoleh ke arah Daru, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Daru juga diam, ia hanya perlu meyakinkan bahwa revolvernya masih tersimpan di laci mejanya. Dan ia akan melakukan sesuatu yang tepat pada saatnya. Diawasinya terus si Arab yang, tetap dengan gerakan pelan, menurunkan kakinya ke lantai dan kemudian pelan-pelan berdiri. Daru ingin memanggilnya ketika si Arab mulai mengayunkan kakinya. Sangat alamiah, namun tanpa suara. Ia menuju ke pintu yang menghadap ke arah gudang. Diangkatnya palang pintu dengan hati-hati, didorongnya daun pintu, lalu melangkah keluar tanpa menutup kembali pintu tersebut.

Daru membeku di tempatnya. “Ia melarikan diri,” pikirnya. “Baguslah.” Namun ia memasang telinganya dengan serius.

Ayam-ayam tidak gaduh; tamunya niscaya masih di dataran tinggi ini. Ricik air sampai ke telinganya dan ia tidak paham dengan pendengarannya sampai kemudian si Arab muncul lagi di ambang pintu. Ia menutup kembali pintu itu dan segera kembali ke tempat tidurnya. Tanpa suara. Kemudian Daru memutar tubuh memunggungi tawanannya dan tidur.

Beberapa saat kemudian, di tengah-tengah nyenyak tidurnya, ia mendengar langkah berjingkat-jingkat di seputar bangunan sekolah. “Hanya mimpi! Hanya mimpi!” Ia meyakinkan dirinya berulang-ulang. Dan meneruskan tidurnya.

Ketika ia bangun, langit cerah; udara pagi yang dingin masuk lewat jendela yang terbuka. Si Arab masih tertidur, meringkuk di bawah selimut sekarang, mulutnya terbuka. Benar-benar tenang tampaknya. Ketika Daru mengguncangkan tubuhnya, paras mukanya menjadi tegang. Ia menatap Daru dengan sorot mata liar seolah-olah berhadapan dengan makhluk yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Cemas di paras mukanya membuat Daru surut ke belakang.

“Jangan takut. Ini aku. Kau harus makan.” Si Arab mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengatakan “ya”. Wajahnya kembali tenang, namun ekspresinya kosong dan tanpa gairah.

Kopi telah siap. Mereka duduk dan minum bersama di kasur lipat sembari mengunyah beberapa potong kue. Kemudian Daru membawa si Arab ke gudang dan menunjukkan keran dimana ia bisa mencuci muka. Ia sendiri kembali ke kamar, membereskan selimut dan tempat tidur, dan menata ruangan seperti sediakala. Setelah semua beres, ia menuju ke teras dan duduk di sana.

Matahari telah muncul di langit; dataran tinggi diguyur cahaya pagi yang lembut. Di punggung bukit, salju meleleh di beberapa tempat. Batu-batu bermunculan lagi. Dari tempatnya, di tebing dataran tinggi, si guru menyaksikan gurun yang terhampar sangat luas. Ia teringat Balducci. Ia telah melukai polisi tua itu karena menerima kedatangannya dan melepas kepulangannya tanpa mau bekerjasama. Kalimat yang diucapkan Balducci ketika pamitan masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan, entah kenapa, saat itu ia merasakan kekosongan yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya begitu ringkih dan begitu mudah diserang. Ketika itu, ia mendengar si Arab terbatuk-batuk. Ah, selama si Arab bersamanya, Daru lebih mendengarkan tamunya, nyaris tanpa mendengar dirinya sendiri. Dipenuhi rasa marah, ia melontarkan sebutir kerikil kuat-kuat. Terdengar desing di udara sebelum kerikil itu jatuh ke hamparan salju. Seseorang telah melakukan kejahatan yang bodoh dan ia tiba-tiba terkuasai olehnya. Namun, untuk menyerahkan seperti yang diminta Balducci, ia merasa tindakannya itu tidak ada harganya sama sekali. Terus-menerus diganggu oleh persoalan itu, tiba-tiba ia menjadi orang yang gampang membenci segala hal. Ia mengutuk semuanya: orang-orang dari golongannya sendiri yang telah mengirimkan si Arab kepadanya, dan si Arab yang berani melakukan pembunuhan namun tidak merancang cara melarikan diri. Daru bangkit, berjalan mondar-mandir di teras, dan kemudian kembali ke gedung sekolah.

Si Arab, satu tangannya bertelekan pada dinding gudang, sedang menggosok gigi dengan dua jarinya.

Daru memandang dan berseru: “Kemarilah.”

Si tawanan mengikuti Daru masuk ke dalam kamar. Dipakainya jaket berburu menutupi sweaternya, dikenakannya sepatu naik gunung. Si Arab memasang kopiah di kepala dan mengenakan sandalnya.

Mereka melangkah ke ruang kelas dan si guru menunjuk keluar: “Pergilah!” Tamunya tidak beranjak. “Aku bersamamu,” katanya lagi.

Si Arab keluar. Daru masuk lagi ke kamarnya, membungkus beberapa potong roti, kurma, dan gula. Di ruang kelas, sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan mejanya, kemudian bergegas ke pintu dan menguncinya.

“Itu jalannya,” katanya. Ia berjalan ke timur, diikuti oleh tawanannya. Namun, beberapa langkah dari gedung sekolah, ia merasa mendengar suara langkah kaki berjingkat-jingkat di sekitar mereka. Ia kembali dan memeriksa sekeliling bangunan sekolah. Tak dijumpainya seorang pun. Si Arab memandangnya tak faham. “Ayolah!” kata Daru

Mereka berjalan selama sejam dan beristirahat di samping batu kapur yang mendongak tajam. Salju mencair makin lama makin cepat dan matahari menghisap habis genangan air di kubangan dalam waktu sekejap. Dataran tinggi itu bersih dari salju, menjadi makin kering, lalu bergetar sebagaimana udara bergetar.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, tanah di bawah kaki mereka berdenyar. Sesekali seekor burung membelah udara dengan jeritan bahagia. Daru menarik nafas dalam-dalam di tengah cahaya segar pagi hari. Ia merasakan semacam pesona, sebelum nantinya kembali menghadapi hamparan tanah kosong yang begitu akrab baginya, yang sekarang hampir seluruhnya menguning di bawah kubah langit biru. Mereka berjalan satu jam lagi menuruni lereng ke arah utara. Mereka sampai pada hamparan batu-batu yang rapuh. Dari sana, jika mengambil jalan turun ke arah Timur, mereka akan tiba di lembah yang ditumbuhi beberapa batang pohon. Jika ke arah Selatan, akan sampai pada dataran luas dengan pemandangan yang berantakan oleh batu-batu yang nongol di sana-sini.

Daru mengikuti kedua jalan itu dengan matanya. Tak dia temukan apapun kecuali ufuk di mana langit dan tanah bertemu. Tak ada manusia. Ia berpaling ke si Arab yang menatapnya dengan mata kosong. Diulurkannya bungkusan yang dia bawa kepada si Arab.

“Ambillah,” katanya. “Ada roti, kurma, dan gula. Kau bisa bertahan selama dua hari dengannya. Aku juga ada seratus franc, ambillah.” Si Arab menerima bungkusan dan uang yang disodorkan Daru, merapatkan ke dada, dan tetap begitu terus seolah-olah tak tahu apa yang bisa dilakukannya dengan benda-benda di tangannya itu.

“Sekarang lihat,” kata si guru, tangannya menunjuk ke arah Tinguit. Kau harus berjalan selama dua jam. Di Tinguit, temuilah bagian administrasi dan polisi. Mereka mengharapkan kedatanganmu.”

Si Arab melemparkan pandangannya ke Timur, tetap dengan uang dan bungkusan di dada. Daru meraih sikunya dan memutarnya dengan sedikit kasar ke arah Selatan. Di kaki bukit di mana mereka berdiri, tanpa jalan setapak.

“Itu jalan setapak melintasi dataran. Sehari jalan kaki dari sini, kau akan menjumpai padang rumput dan kafilah para nomaden. Mereka akan menerima kedatanganmu sesuai hukum mereka.”

Si Arab kini berpaling ke Daru dengan wajah panik. “Dengarlah,” pintanya.

Daru menggelengkan kepala: “Tidak, tenanglah. Sekarang, aku akan meninggalkanmu.” Segera setelah itu ia membalikkan badan, mengambil langkah lebar-lebar ke arah gedung sekolah, ia menatap dengan ragu ke arah si Arab yang tetap tak bergerak, dan kembali meneruskan langkahnya. Untuk beberapa menit tak ia dengar apapun kecuali langkah kakinya sendiri yang bergema di atas tanah dingin. Tak pula ia putar kepalanya. Namun, akhirnya ia membalikkan badan juga. Si Arab tetap di tempatnya, di tepi bukit, tangannya sudah turun, dan ia memandang si guru. Daru merasa sesuatu merambat naik ke kerongkongannya. Namun ia menguatkan diri, melambai samar-samar, dan kembali meneruskan langkahnya. Beberapa saat kemudian ia berhenti lagi dan kembali menengok ke belakang. Sudah tak ada siapapun di bukit.

Daru tercenung. Matahari makin tinggi dan mulai menyengat kepalanya. Si guru mengikuti jalan yang sama dengan jalan yang ditempuhnya saat berangkat, mula-mula dengan ragu, tapi kemudian makin yakin. Ketika sampai di bukit kecil, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia mendaki secepat yang bisa ia lakukan, dan berhenti di puncak menenangkan nafasnya. Bebatuan yang terhampar si sisi Selatan tampak makin tajam di bawah biru langit. Tanah lapang di sebelah Timur bergetar oleh uap air yang naik ke langit. Dan dengan pandangan sedikit merendahkan, Daru melihat si Arab berjalan pelan sekali menyusuri jalan ke arah penjara.

Beberapa saat setelah itu, tegak di tepi jendela kelas, si guru melihat cahaya matahari yang kuat menyapu seluruh permukaan dataran tinggi. Namun sesungguhnya ia hampir tidak melihat apa pun. Di belakangnya, di papan tulis, diantara lekuk liku sungai-sungai Perancis, sebuah kalimat yang ditulis tidak rapi berbunyi:

“Kau telah menyerahkan saudara kami. Maka kau harus membayarnya.” Daru menatap langit, dataran tinggi, dan di luar itu, hamparan tanah yang tak tampak, yang membentangkan semua jalan menuju laut. Di hamparan tanah yang begitu ia cintai, ia merasa sendiri.

*Cerpen ini diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari “The Guest” dalam antologi Great French Short Stories, yang dipillih dan diedit serta diberi kata pengantar oleh Germaine Bree, terbitan Dell Publishing Co., Inc., New York, cetakan ke-10, tahun 1973)

Continue Reading

Cerpen

Cinta yang Sulit

mm

Published

on

Kawan pertamanya di semesta ganjil ini adalah seekor ayam jago muda. Dengan suaranya yang tipis dan belum matang benar, si ayam jago muda senantiasa menjadi yang pertama berkokok. Jago-jago yang lain, dengan malas-malasan, kemudian mengikutinya. Sesekali mereka mengeluh apalah gunanya berkokok di semesta yang seperti itu. Sia-sia belaka, tukas yang lain. Namun tak urung, mereka tetap saja berkokok. Jago-jago yang benar-benar labil. Ayam-ayam betina akan bangun dari tidur mereka dan berciap-ciap ribut. Lalu hari yang membosankan pun dimulai. Mereka berkeliaran. Kadang-kadang, mengikuti kebiasaan alami kaum ayam, mereka mematuk-matuk lantai semesta tersebut. Namun tak ada cacing atau remah tanah yang bisa diasin. Bahkan, tak ada partikel apa pun yang masuk melalui paruh-paruh mereka. Semesta ini bersih dan jembar dengan caranya sendiri yang sepertinya tak terdeskripsikan. Bukan hanya umat ayam penghuni semesta tersebut, tentu saja. Banyak. Aneka tetumbuhan seperti bayam dan kangkung, hingga binatang-binatang, mulai sapi hingga kelelawar dan tikus.

“Bagaimana bisa ada tikus dan kelelawar?” ia pernah bertanya seperti itu.

“Menado,” jawab si ayam jago muda. “Mereka masuk ke sini ketika ia berada di Menado.”

“Ia pernah ke Menado? Itu kan jauh,” katanya. “Kukira ia tidak cukup kaya untuk bisa pergi ke Menado.”

“Kau beruntung aku sudah berada di sini cukup lama. Lebih lama ketimbang kelelawar dan tikus itu. Jadi aku bisa tahu dengan pasti bagaimana ia bisa sampai ke Menado, lalu memasukkan kelelawar dan tikus itu ke sini. Jadi begini,” si ayam mendehem sebentar. Ia mengepakkan sayapnya tiga kali, membenahi posisi berdirinya, lalu meneruskan, “dia seorang penyair. Kau pasti tahu itu kan? Sekitar tiga tahun yang lalu, ia pernah dikirim oleh Dewan Kesenian Jawa Timur untuk menghadiri temu sastrawan di sana. Semua biaya ditanggung. Selain itu, ia juga mendapat uang saku yang cukup banyak. Ini akan ada hubungannya denganmu.”

“Ada hubungannya denganku? Apa maksudmu?”

“Dengan uang saku yang ia dapat, ia melamar perempuan itu.”

“Siti?”

“Siti.”

“Oh.”

“Kenapa?”

“Kukira mereka kawin lari.”

“Mereka memang kawin lari.”

“Apa maksudmu? Bukankah katamu ia melamar Siti. Lalu kenapa mereka kawin lari?”

“Lamarannya ditolak. Mereka beda agama. Masa kau tidak tahu itu? Dan karena ditolak itulah, mereka kawin lari. Uang yang sedianya untuk beli peningset itu yang mereka gunakan untuk lari dan mengontrak rumah di tepi kali itu.”

“Begitu?”

“Begitulah. Dan kau sudah tahu apa yang kemudian terjadi.”

Ia memang tahu apa yang kemudian terjadi. Sejak suatu sore tiga tahun yang lalu, hari kedua kepindahan pasangan muda tersebut, ia tahu hampir semua yang terjadi atas mereka. Ia sedang mengintai seekor kodok yang tengah bersantai di pinggir kali sewaktu Siti hendak membuang sampah. Setengah tubuhnya tersembunyi di balik gerumbul semak. Namun ekornya yang panjang menjulur tak terlindung. Jarak mereka tidak begitu jauh, sekitar dua puluh meter. Cahaya matahari sore menimpa sisik-sisik gelapnya. Takdir menumbukkan padangan mata Siti ke ekornya.

“Buaya… buaya…” Siti berteriak seraya menjatuhkan keranjang sampahnya dan berlari balik ke rumah petak kontrakannya. Ia terkejut mendengar teriakan itu dan melesat nyemplung ke dalam kali. Si kodok juga terkejut dan melompat entah ke mana. Tak lama kemudian, seorang laki-laki keluar dari rumah, dengan Siti yang mukanya sepucat mayat mengikuti dan mengintip dari balik bahu.

“Di mana buayanya?” lelaki itu bertanya.

“Di sana. Tadi aku melihat ekornya. Di sana. Mungkin sudah pergi. Tapi hati-hatilah.”

Si lelaki menggenggam sebilah parang. Dengan mantap, ia berjalan menuju semak-semak. Melempar batu ke sana. Lalu diam sebentar dalam jarak lima meter.

“Kalau memang ada buaya, pasti ia sudah keluar,” kata si lelaki.

“Mungkin batunya kurang besar.”

Si lelaki memungut batu yang lebih besar. Lalu melemparkannya ke gerumbul semak.

“Tidak ada,” kata si lelaki. Lalu ia berjalan semakin mendekati gerumbul itu. Dan dengan parangnya, ia tebasi gerumbul itu.

“Tidak ada apa-apa.”

“Tapi aku bersumpah.”

“Mungkin kau hanya salah lihat.”

Ia mengamati adegan itu dengan sepasang mata kecilnya dari bawah permukaan air yang coklat. Itulah saat ia merasa darahnya yang dingin berubah hangat. Ia lupa akan dirinya, akan bahaya yang mengancamnya. Ia berenang ke tepian yang baru saja ia tinggalkan. Seperti ada magnet yang menariknya. Dan ia tahu, perempuan itulah magnet tersebut. Si lelaki sudah membalikkan badan dan mulai melangkah menuju rumah kontraknya ketika ia sampai di tepian. Siti berjalan mengikuti lelaki itu, namun sebelum memasuki halaman rumah, Siti menoleh. Pandangan mereka bertemu. Siti kembali menjerit. Dan ia merasa tubuhnya kaku.

Si lelaki menoleh. Lantas tertawa kencang. “Itu biawak. Bukan buaya. Sama sekali tidak berbahaya,” kata si lelaki di sela-sela tawa.

Sejak itu, satu-satunya hal yang ia ingini adalah melihat si perempuan yang di kemudian hari, dari bagaimana si lelaki memanggil, ia ketahui bernama Siti. Semakin dekat semakin baik. Dan dalam rangka itulah ia kerap menyelinap di antara tumpukan sampah tak jauh dari rumah petak tersebut, kadangkala ia mendekam di antara potongan kayu dan tong-tong yang berada di samping rumah. Namun yang paling ia sukai adalah berada di kolong tempat tidur pasangan baru tersebut.

Beberapa kali Siti memergokinya. Ia gembira ketika tahu bahwa Siti mengetahui kehadirannya. Namun tidak dengan Siti. Perempuan itu selalu berteriak. Dan si lelaki akan segera datang untuk mengusirnya.

“Usir yang jauh supaya dia tidak kembali lagi,” begitu selalu yang dikatakan Siti.

“Jangan takut. Nanti aku akan menangkapnya. Daging biawak enak kalau dimasak rica-rica.”

“Ih… jangan begitu. Menjijikkan.”

Namun si lelaki tak pernah berhasil menangkapnya. Ia terlalu gesit. Sekali waktu, ia hampir tertangkap. Si lelaki bahkan berhasil menyabetkan parang yang merobek punggungnya. Namun ia segera berlari. Kesakitan yang ia rasakan memberi semacam kekuatan ekstra yang tak ia duga sebelumnya. Setelah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati.

Namun dua minggu yang lalu, ia memutuskan untuk menyerahkan dirinya. Dan untuk keputusan paling penting dalam keseluruhan takdirnya itu, ia berhutang kepada seekor kodok yang sedianya bakal menjadi menu makan siangnya. Seekor kodok petapa, pikirnya, dan karenanya, telah memperoleh pencerahan yang tidak didapat oleh kebanyakan makhluk. Kodok itu, tanpa ia tahu bagaimana, mengerti bahasanya.

“Aku lebih suka menjadi santapanmu ketimbang mati karena usia tua dan membusuk dalam tanah,” kata si kodok. “Dengan menjadi santapanmu, aku tidak benar-benar mati. Aku akan meneruskan hidupku, hanya saja dalam semesta tubuhmu, menjadi bagian dari dirimu.”

Itu adalah hari ketiga ia tersiksa dalam nelangsa yang tidak karuan besarnya. Itu adalah hari ketiga ia mengetahui bahwa Siti telah meninggalkan si lelaki setelah sebuah pertengkaran atas hal yang sama, namun telah mencapai puncaknya. Ia berada di kolong ranjang ketika pertengkaran tersebut terjadi. Dan karenanya, ia tahu detil-detilnya.

“Kita ini kualat. Karena itu rezeki kita seret. Aku lapar. Dan kita terancam jadi gelandangan kalau tidak bisa membayar kontrakan bulan depan,” rintih Siti terbata, di antara isak tangis yang sedemikian pilu.

“Sabarlah. Aku yakin sebentar lagi tulisanku akan ada yang terbit. Dan itu berarti kita akan dapat honor.”

“Seberapa besar honormu? Tidak. Kau tahu, bukan karena tulisanmu jelek sehingga jarang ada yang mau memuatnya. Tapi karena kualat. Kita sudah melawan orangtua kita. Kita ini durhaka. Ini hukuman.”

“Ada apa denganmu? Kau dulu tidak pernah berkata seperti ini.”

“Dulu aku belum tahu kalau kita akan kualat.”

Keesokan paginya, Siti meninggalkan rumah itu sebelum si lelaki bangun. Pergi untuk selama-lamanya. Dan ia tahu, ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Siti kalau ia tidak melakukan sesuatu. Ucapan si kodoklah yang membuatnya keluar dari persembunyiannya, menampakkan diri pada si lelaki, dan membiarkan lelaki lapar itu menebas kepalanya, lalu mengulitinya, memotong-motong dagingnya, memasaknya, lalu memangsanya.

Dan seperti yang dikatakan si kodok, ia ternyata tidak benar-benar mati. Ia hanya berpindah semesta. Meneruskan hidup dalam diri si lelaki. Dan bertemu serta berkenalan dengan banyak makhluk yang juga meneruskan hidup dalam diri si lelaki.

Ia berharap si lelaki akan menyusul Siti dan membujuknya, dan mereka akan kembali hidup bersama, lalu berbahagia selama-lamanya. Namun ucapan si ayam jago muda membuat semangatnya menyusut.

“Kau tahu apa yang membuat hubungan mereka tidak direstui?”

Ia menggeleng.

“Mereka beda agama. Dan secinta-cintanya mereka satu sama lain, keimanan mereka jauh lebih kuat. Mereka memang bukan orang saleh dan karenanya kau tak akan mendapatkan mereka tengah beribadah. Kekurang salehan mereka, selain cinta tentu saja, yang menyebabkan mereka memutuskan kawin lari. Namun toh, tetap saja, tak ada yang mau mengalah dengan berpindah agama. Mereka pikir itu bukan kendala yang berarti. Dan sekarang kau tahu, yang menjadi kendala adalah kelaparan. Uang. Dan aku yakin, bila ia menyusul Siti, orang tua Siti hanya akan memberi dua pilihan: berpisah atau ia pindah agama.”

“Kemungkinan mana yang lebih besar?”

“Berpisah.”

Tapi si lelaki, ternyata, tak pernah menyusul Siti. Tak pernah. Dan ia, yang merasa pengorbanannya sia-sia, hanya bisa merutuki si lelaki: lelaki terkutuk ini tidak pernah benar-benar mencintai Siti. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

Continue Reading

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending