Connect with us
Tamu Albert Camus Tamu Albert Camus

Cerpen

Albert Camus: Tamu

mm

Published

on

oleh: Albert Camus

Si guru memperhatikan dua orang lelaki yang merambat naik ke arahnya. Seorang di punggung kuda, seorang berjalan kaki. Mereka belum mencapai tanjakan curam yang akan membawa mereka ke gedung sekolah yang dibangun di punggung bukit.

Perjalanan itu tampak sulit, mereka merambat pelan-pelan di dataran salju, di antara batu-batu, menyeberangi dataran luas dan gurun pasir di dataran tinggi. Sesekali kudanya tersandung-sandung. Meski tak terdengar dengusnya, ia bisa melihat hembusan nafas yang terengah-engah dari cuping hidung binatang tersebut. Salah seorang tampaknya kenal betul dengan daerah yang mereka lalui. Langkah mereka tidak melenceng dari jalan setapak kendati jalan itu tertutup putih salju sejak beberapa hari lalu. Menurut perkiraan si guru, mereka baru akan mencapai bukit dalam waktu setengah jam lagi. Udara begitu dingin, si guru kembali ke ruang kelas untuk mengambil sweaternya.

Ia melintasi ruangan yang kosong dan dingin. Di papan tulis mengalir sungai-sungai Perancis – digambar sejak tiga hari lalu dengan kapur tulis empat warna – menuju muara. Salju mendadak turun di pertengahan bulan Oktober setelah delapan bulan dipanggang musim kemarau, tanpa ada hujan yang menandai masa peralihan. Dua puluh siswanya, kurang lebih sejumlah itulah mereka, yang tinggal menyebar di desa-desa di dataran tinggi itu, tak datang ke sekolah. Mereka akan datang lagi ketika cuaca kembali cerah.

Daru menghangatkan kamar tidurnya. Kamar itu berhimpitan dengan ruang kelas dan keduanya dihubungkan oleh sebuah pintu. Seperti juga jendela-jendela kelas, jendela kamarnya pun menghadap ke selatan. Gedung sekolah ini terletak beberapa kilometer dari turunan pertama ke arah Selatan. Jika udara bagus, akan tampak jajaran gunung-gunung berwarna ungu dan jarak yang membentang di gurun pasir.

Sedikit hangat di kamarnya, Daru kembali ke jendela dimana ia mula-mula melihat dua orang yang mendaki. Mereka tak kelihatan lagi. Tentu sedang menyusuri tanjakan. Langit tidak terlalu gelap, sebab salju sudah berhenti turun sejak tadi malam. Pagi diawali dengan cahaya muram, yang jarang akan jadi cerah bahkan setelah gumpalan awan menyingkir. Pada pukul dua siang, hari seperti baru saja dimulai. Namun keadaan ini jauh lebih baik dibanding tiga hari lalu tatkala turun salju tebal di tengah cuaca gelap yang disertai hembusan angin yang menyebabkan daun pintu kelas berdecit-decit. Sepanjang hari Daru tinggal di kamarnya dan hanya meninggalkan kamar untuk ke gudang, memberi makan ayam-ayam, atau mengambil arang. Untunglah truk pengantar barang dari Tadjid, desa terdekat dari utara, datang dengan barang-barang kebutuhannya dua hari sebelum badai salju. Ia akan meninggalkan dataran ini lagi dalam 48 jam.

Tapi, selain kedatangan truk itu, ia sendiri sebenarnya telah memiliki cukup persediaan untuk menghadapi kepungan salju. Kamarnya yang kecil penuh dengan kantung-kantung terigu yang dikirimkan sebagai persediaan bagi para siswa yang keluarganya kekurangan pangan selama musim kemarau. Mereka benar-benar jadi korban karena kemiskinan mereka. Setiap hari Daru membagikan ransum kepada anak-anak. Ia tahu, mereka sangat membutuhkan itu selama berlangsungnya hari buruk. Mungkin bapak atau kakak mereka akan datang siang ini dan ia akan membagikan beras kepada mereka. Hanya itu yang bisa dilakukan selama menunggu datangnya panen berikut. Kini kapal-kapal pengangkut gandum datang dari Perancis dan situasi terburuk bisa diatasi. Namun, sungguh sulit melupakan kemiskinan. Ia bagai pasukan iblis yang berkeliaran di bawah terik matahari. Dataran tinggi ini terbakar selama berbulan-bulan, tanah menjadi keriput dan hangus sedikit demi sedikit. Batu-batu pecah menjadi debu di bawah telapak kaki. Kawanan ternak mati, ribuan jumlahnya. Manusia juga mati, di mana-mana, kadang tanpa seorang pun mengetahuinya.

Sebaliknya dari yang mereka alami, ia hidup nyaris seperti pendeta di sekolah yang terpencil, dan dengan apa yang ada padanya, bagaimanapun, kebutuhannya selalu tercukupi. Dengan segala kesulitan yang harus dijalani, dengan dipannya yang sempit, dengan rak yang tidak dicat, dengan sumurnya, dan dengan persediaan air dan makanan yang dipasok setiap minggunya, ia merasa dirinya seolah bangsawan yang dikelilingi tembok-tembok putih bersih. Lalu tiba-tiba turun salju, tanpa hujan sebelumnya. Begitulah daerah ini, terlalu menyiksa bagi kehidupan, bahkan kalaupun tanpa manusia – yang tak pernah bisa saling menolong dalam menghadapinya. Tapi Daru lahir di sini. Di tempat lain, di mana pun, ia merasa terasing.

Ia melangkah ke teras di depan bangunan sekolah. Kedua orang tadi kini berada di tengah lereng yang landai. Ia kenal si penunggang kuda yang tak lain adalah Balducci, polisi tua yang dikenalnya sejak lama. Balducci menggenggam ujung tali yang mengikat kedua pergelangan tangan si Arab. Si Arab berjalan di belakangnya dengan tangan terbelenggu dan kepala menunduk. Polisi tua itu bersalam dengan lambaian tangannya, Daru tidak membalas lambaiannya; seluruh fikirannya tertancap pada si Arab. Orang itu mengenakan pakaian jellaba yang sudah pudar warna birunya, memakai sandal namun membungkus kakinya dengan kaus kaki wool tebal, dan menutup kepalanya dengan kopiah kecil pendek. Mereka makin dekat. Balducci menahan laju kudanya agar tidak menyakiti si Arab. Keduanya merambat pelan sekali.

Bagai letusan senapan, Balducci berteriak: “Satu jam hanya untuk tiga kilometer dari El Ameur!” Daru tidak menyahut. Dibalut sweater tebal, sosoknya makin kelihatan pendek dan gempal. Matanya terus menatap kedua orang yang sedang mendaki ke arahnya. Tak satu kali pun si Arab mengangkat kepalanya.
“Hello,” sapa Daru ketika mereka akhirnya sampai di teras. “Masuklah dan hangatkan badan.”
Balducci turun dari kuda dengan rasa sakit dan penat, ujung tali pengikat si Arab terus digenggamnya. Kumis polisi tua itu bagai semak-semak kaku, ia tersenyum kepada Daru. Matanya kecil, tersembunyi dalam cekungan di bawah dahinya yang coklat, dan di sekitar mulutnya tampak kerut-kerut yang melahirkan kesan bahwa ia seorang yang sungguh-sungguh dan penuh perhatian. Daru meraih tali kekang dan menbawa kuda ke gudang. Ketika ia kembali lagi, dua orang itu sudah menunggunya di ruang kelas. Daru membawa mereka ke kamarya.

“Saya akan memanaskan ruangan kelas dulu,” katanya. “Agar lebih nyaman.”

Ketika kembali ke kamarnya, ia melihat Balducci duduk di atas dipan kecilnya. Tangannya tetap menggenggam tali yang menghubungkan dirinya dengan si Arab yang kini berjongkok di tepi tungku pemanas. Tangan si Arab tetap terikat, kopiahnya terdorong ke belakang, matanya terbang ke jendela. Mula-mula Daru memperhatikan bibirnya yang tebal dan berlemak, menyerupai Negro, namun hidungnya mancung, matanya gelap dan penuh kemarahan. Kopiah yang dikenakannya menunjukkan sikap keras kepala di balik dahi lebar yang saat ini memucat oleh hawa dingin. Keseluruhan paras mukanya memancarkan pemberontakan yang membuat Daru terpaku ketika si Arab menoleh ke arahnya dan menatapnya langsung.

“Mari ke ruang kelas,” kata si guru, “saya akan bikinkan teh manis.”

“Terima kasih,” sahut Balducci. “Oh! Pekerjaan yang menyebalkan. Aku ingin segera pensiun sebetulnya.” Dan kepada si Arab tawanannya ia berteriak: “Kemari kau!” Si Arab bangun dan, pelan sekali, tetap dengan kedua pergelangan tangan terikat, maju di depan Balducci. Mereka kemudian beralih ke ruang kelas.

Sambil membawa teh, Daru mengangkat kursi. Namun Balducci ternyata sudah meletakkan pantatnya di bangku siswa yang paling dekat dengan pintu kelas dan si Arab berjongkok di depan mimbar guru, menghadapi tungku pemanas tak jauh dari jendela. Ketika menyodorkan segelas teh kepada si Arab, Daru termenung sejenak melihat tangan si Arab terbelenggu.

“Mungkin ikatan ini harus dilepas,” katanya.

“Tentu,” sahut Balducci. “Itu hanya berlaku selama dalam perjalanan.”

Polisi itu segera akan bergerak, tapi Daru lebih cepat. Ia meletakkan gelas di lantai dan kemudian berjongkok di samping si Arab. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, si Arab menyaksikan Daru dengan tatap mata yang membara. Sekejap saja tangannya bebas. Lalu secara bergantian ia mengusap-usap bekas ikatan di kedua pergelangan tangannya. Ia menjangkau gelas teh di lantai, dan menyeruput teh panas itu berkali-kali sampai habis.

“Ke mana Anda akan pergi?” Tanya Daru.

Balducci menarik kumisnya yang menyentuh-nyentuh permukaan air teh di gelas. “Ya kesini, nak,” sahutnya.

“Aneh. Dan Anda akan bermalam?”

“Tidak. Aku akan segera kembali ke El Ameur. Dan kau harus membawa orang ini ke Tinguit. Ia ditunggu oleh polisi di sana.”

Balducci menatap Daru, bibirnya tersenyum manis sekali.

“Apa maksudnya ini? Kau tidak sedang bercanda, kan?”

“Tidak, nak. Ini adalah tugas.”

“Tugas?” kupikir…” Daru terdiam beberapa saat, ia tak ingin menyakiti si tua dari Corsica itu. “Kurasa, ini bukan tugasku.”

“Begitukah menurutmu? Dalam masa perang, setiap orang mengerjakan apa pun tugas yang dipikulkan kepadanya.”

“Kalau begitu aku akan menunggu adanya pernyataan perang.”

Balducci mengangguk-angguk.

“Ok. Tapi tugas itu ada di depan mata dan meminta kesediaanmu pula. Segala hal terjadi, segala peristiwa bermunculan. Kita mendengar pidato-pidato perlawanan dan kemudian dimobilisasi. Begitulah.”

Daru kembali terdiam.

“Dengar, nak. Aku menyayangimu dan kau harus faham. Hanya ada selusin polisi di El Ameur yang berpatroli untuk wilayah yang luas di sana. Aku harus cepat-cepat kembali. Tugasku adalah membawa orang ini kepadamu dan kembali ke markas secepat mungkin. Ia tak bisa ditahan di sana. Orang-orang di desanya mulai bergerak, mereka akan membebaskannya kembali. Kau harus membawanya ke Tinguit besok. Hanya dua puluh kilometer dan itu tak akan jadi persoalan benar bagi lelaki tegap seperti kau. Setelah itu segalanya beres. Kau bisa kembali mengajar dan menjalani hidup yang menyenangkan.”

Di balik dinding kelas, terdengar kuda Balducci mendengus dan menggaruk-garuk tanah. Daru melihat hamparan salju di luar jendela. Udara bersih dan cahaya makin terang di atas dataran salju. Ketika salju mencair, matahari akan mengambil alih kekuasaan dan membakar dataran berbatu-batu ini. Lalu, selama berhari-hari, langit akan terus memancarkan cahayanya ke seluruh permukaan gurun yang kosong dan sendirian, yang seolah sama sekali tak berhubungan dengan manusia.

“Jadi, apa sesungguhnya yang telah ia lakukan?” Tanya Daru. Dan sebelum polisi tua itu membuka mulut, Daru menyusulkan pertanyaan lain: “Bisa ia berbahasa Perancis?”

“Tidak! Tak sepatah katapun. Kami telah mencarinya sebulan penuh, namun mereka menyembunyikannya. Ia telah membunuh sepupunya.”

“Apakah ia pemberontak?”

“Rasanya tidak. Tapi entahlah, tak ada yang bisa dipastikan.”

“Kenapa ia membunuh?”

“Pertengkaran keluarga kurasa. Mungkin salah seorang berutang beras pada yang lain. Entahlah, tak begitu jelas. Pokoknya ia membunuh sepupunya dengan celurit, seperti seekor domba, kreeezk!”

Balducci menirukan gerakan menggoreskan pisau di tenggorokannya sendiri dan si Arab menatapnya dengan sorot mata marah. Daru merasakan amarah yang menggelegak tiba-tiba. Ia benci kepada manusia, semua manusia, yang menyimpan dengki yang membusuk di hati; kebencian yang tak pernah sudah, dan nafsu menumpahkan darah.

Ketel di atas tungku berdenging. Daru mengisi lagi gelas Balducci dengan air teh. Juga gelas si Arab. Dan, untuk kedua kalinya, si Arab menyeruput habis teh di gelasnya dalam waktu cepat. Ketika tangannya mengangkat gelas, baju jellabanya merosot dan terbuka, Daru melihat dadanya yang kurus namun berotot.

“Terima kasih, nak,” kata Balducci. “Kini saya akan pergi.”

Ia bangkit mendekati si Arab dan segera mengeluarkan tali dari saku bajunya.

“Apa yang hendak kau lakukan?” Tanya Daru dengan suara kering.

Balducci, dengan paras muka linglung, menunjukkan tali di tangannya.

“Tak usah repot-repot.”

Polisi tua itu makin bingung: “Baiklah, terserah kau. Omong-omong, kau punya senjata?”

“Aku punya pistol.”

“Mana?”

“Di kopor.”

“Mestinya kau taruh di dekat tempat tidurmu.”

“Buat apa? Tak ada yang perlu kutakutkan.”

“Kau gila, nak. Jika meletus keributan, tidak ada yang bisa menjamin keselamatanmu, dan kita di perahu yang sama.”

“Aku akan melindungi diriku sendiri. Aku akan punya waktu sebelum mereka tiba di tempat ini.”

Balducci terbahak-bahak, kumisnya menutupi deretan giginya.

“Kau punya waktu? Baiklah, ya…aku hanya bisa mengatakan ‘baiklah’. Kau memang sedikit gila rupanya. Dan tak banyak tahu. Tapi karena itulah aku menyukaimu. Anakku juga seperti kau itu.”

Pada saat yang sama ia mengeluarkan revolvernya dan meletakkan di meja.

“Ambillah; aku tak memerlukan dua pistol untuk menempuh perjalanan dari sini ke El Ameur.”

Revolver itu berkilat-kilat di atas meja yang di cat warna hitam. Ketika polisi tua itu berpaling ke arahnya, si guru mencium bau kulit dan daging kuda.

“Dengar, Balducci,” kata Daru tiba-tiba, “Segala sesuatunya membuatku muak, terutama ketika tiba-tiba kau tinggalkan seseorang di sini. Aku tidak akan mengantarkannya ke Tinguit. Kalau harus bertarung dengannya, aku akan lakukan, tapi tidak untuk mengantarkannya.”

Sang polisi tua berdiri termangu di hadapan Daru dan menatapnya lama sekali.

“Alangkah tololnya kau,” gumamnya. “Aku tidak suka mendengar kalimatmu. Kau tak mau mengikat dia karena mungkin itu memalukan buatmu – ya, mungkin memalukan. Tapi sama sekali tak masuk akal jika kau biarkan ia bebas menentukan langkahnya sendiri.”

“Aku tidak akan mengantarkannya.”

“Ini tugas, nak. Berapa kali harus kuulangi?”

“Baiklah. Kalau begitu kuulangi saja kepada mereka apa yang sudah kuucapkan kepadamu: aku tidak akan mengantarkannya.”

Balducci tertegun lama. Bergantilah ia memandang paras muka Daru dan si Arab. Akhirnya ia mengambil keputusan.

“Tidak! Aku tidak akan bercerita apa pun kepada mereka. Jika kau ingin melemahkan kami, lakukanlah. Aku tidak akan melaporkanmu. Aku sekadar menjalankan tugas mengantarkan tawanan ini dan itu sudah kulakukan. Sekarang kau hanya perlu menandatangani surat ini, untukku.”

“Itupun tidak ada perlunya. Aku toh tak menolak kau tinggalkan tawanan itu di tempatku.”

“Jangan membuatku jengkel. Aku tahu kau seorang yang jujur. Kau berasal dari sini dan kau seorang laki-laki. Tapi kau perlu membubuhkan tanda tangan di sini. Itu aturannya.”

Daru membuka lacinya, mengambil tinta dalam botol kotak kecil, dan mengeluarkan tangkai pena dari kayu berwarna merah dengan mata pena “sergeant-major” yang biasa ia gunakan untuk menulis indah. Ia menandatangani surat yang disodorkan kepadanya. Polisi tua melipat kembali suratnya dan menyimpannya di dalam saku. Setelah itu ia melangkah ke pintu.

“Aku akan mengantarmu keluar.”

“Tak usah berbasa-basi. Kau telah melukaiku.”

Polisi tua itu memandang si Arab beberapa saat, mendengus marah, dan kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. “Selamat tinggal, nak,” katanya. Pintu tertutup di belakangnya. Balducci tampak dalam bingkai jendela dan kemudian hilang sama sekali. Bunyi langkah kakinya ditelan hamparan salju. Di balik dinding, kuda bergerak, ayam-ayam ribut ketakutan.

Beberapa saat kemudian Balducci tampak lagi dalam bingkai jendela, menuntun kudanya pada tali kekang. Ia berjalan ke arah tanjakan kecil tanpa menoleh lagi sampai hilang dari pandangan. Kudanya membuntuti di belakangnya. Terdengar suara batu besar menggelinding. Daru berbaik ke arah si Arab yang nyaris tak bergerak dan nyaris tak pernah memandangnya.

“Tunggu di sini,” kata si guru dalam bahasa Arab, ia berjalan ke kamar tidurnya. Ketika melewati ambang pintu, ia berpikir beberapa saat, kemudian kembali lagi ke meja di mana Balducci meninggalkan revolvernya. Diambilnya revolver itu dan dimasukkan ke dalam sakunya. Kemudian, tanpa menengok ke belakang, ia bergegas ke kamarnya.

Beberapa saat ia merebahkan diri di dipannya, memandang langit yang makin gelap, mendengarkan kesunyian. Kesunyian yang menyiksanya sejak hari pertama ia tinggal di tempat ini, setelah perang. Ia mohon agar ditempatlkan di kota kecil di kaki bukit, yang terletak di antara dataran tinggi dan gurun. Di sana, dinding-dinding batu, hijau kehitaman di sebelah utara, jambon dan lembayung muda di sisi selatan, menandai tapal batas musim panas yang kekal. Tapi justru di dataran tinggi ini ia ditempatkan. Pada mulanya, terasa berat baginya menghadapi kesunyian dan kesendirian di hamparan tanah kosong yang dihuni hanya oleh batu-batu. Sesekali tampak bekas galur-galur pada tanah cadas bekas digaru. Tapi tak ada yang bisa diperbuat pada lapisan tipis tanah yang menutup batu-batu, yang hanya cocok untuk bahan bangunan. Jadi satu-satunya yang bisa dihasilkan di daerah ini adalah memanen batu. Di beberapa tempat, orang lain menggarap lapisan tipis tanah yang memenuhi cekungan dan menanaminya dengan tetumbuhan seadanya yang bisa tumbuh di sana.

Begitulah keadaannya. Hamparan batu menutupi tiga per empat bagian wilayah ini. Kota-kota tumbuh, berkembang, dan kemudian hilang; orang-orang datang, saling mencintai atau saling membenci, dan kemudian mati. Tak seorang pun di gurun ini, baik dirinya sendiri atau si Arab tamunya, punya arti. Dan, sebaliknya, di luar gurun, Daru tahu itu, tak ada seorang pun yang benar-benar hidup.

Ketika ia bangkit, tak terdengar gerisik suara di ruang kelas. Ia merasakan sebuah kegembiraan tatkala tiba-tiba muncul pikiran bahwa si Arab mungkin sudah melarikan diri dan ia kembali sendirian seperti sediakala tanpa bersusah-susah mengambil keputusan. Namun tawanan itu tetap di tempatnya. Tubuhnya terbujur pasrah di antara tungku dan bangku. Matanya terbuka, ia menatap langit-langit ruangan.

Daru menatap lekat-lekat bibirnya yang tebal, yang tiba-tiba di matanya seperti sedang mencibir. “Kemarilah,” panggil Daru. Si Arab bangkit dan mengikutinya. Di kamar tidurnya, si guru mengarahkan telunjuknya pada kursi yang letaknya tak jauh dari meja di bawah jendela. Si Arab duduk di kursi tersebut tanpa melepaskan pandangannya ke Daru.

“Kau lapar?”

“Ya,” si Arab mengangguk.

Daru mengatur meja makan untuk dua orang. Ia mengambil tepung dan minyak, membikin kue, menyalakan kompor dengan tabung gas kecil, dan menggoreng kue bikinannya. Menunggu kuenya masak, ia keluar menuju gudang untuk mengambil keju, telur, kurma, dan susu kental. Setelah masak, kue-kue yang baru diangkat dari penggorengan dia angin-anginkan di ambang jendela. Lalu membuat dadar telur, menambahkan air pada susu kental dan memanaskannya. Ketika mengerjakan itu semua, satu saat tangannya menyenggol gagang revolver yang ia simpan di saku kanan. Semua beres. Ia menurunkan panci yang digunakan untuk merebus susu dan membawa hasil masakannya ke ruang kelas. Kemudian ia kembali ke kamarnya dan menyimpan revolver di laci mejanya. Ketika kembali lagi ke ruang kelas, malam telah jatuh. Ia menyalakan lampu dan mempersilakan si Arab.

“Makanlah,” katanya. Si Arab mengambil sepotong kue, mengangkatnya ke mulut, dan berhenti sejenak

“Kau sendiri?” ia bertanya.

“Aku makan setelah kau.”

Bibir tebal itu terbuka sedikit. Si Arab sedikit ragu-ragu, kemudian seperti terpaksa menggigit kuenya.

Ia menatap si guru setelah menyantap habis kue di tangannya.

“Kau akan mengadiliku?”

“Tidak, aku hanya akan menjagamu hingga besok pagi.”

“Mengapa kau makan semeja denganku?”

“Sebab aku lapar.”

Si Arab kemudian membisu. Daru bangkit dan melangkah keluar. Ia kembali dengan membawa kasur lipat yang diambilnya dari gudang, meletakkannya di antara tungku dan meja, tegak lurus dengan tempat tidurnya. Dari kopor besar yang ada di pojok, yang biasa ia gunakan untuk menyimpan kertas-kertas, ia mengeluarkan dua buah selimut dan menatanya di atas tempat tidur. Beberapa saat kemudian dihentikannya pekerjaan itu, ia merasa tak ada gunanya, dan lalu duduk di atas kasur. Tak ada apa pun yang harus dikerjakan atau disiapkan. Ia harus melihat siapa yang ada dihadapannya. Dan melihat si Arab, ia membayangkan bagaimana paras muka lelaki itu saat dibakar amarah. Tak bisa ia melakukan apa-apa. Tak ia lihat apa pun pada si Arab kecuali ceruk mata yang gelap, tapi memancarkan cahaya, dan mulut seekor binatang.

“Mengapa kau membunuhnya?” dengan kasar tiba-tiba ia mengajukan pertanyaan, tekanan suaranya membuat si Arab tercengang.

“Ia lari. Aku mengejarnya.”

Ia mengangkat pandangannya ke arah Daru, kemudian mereka terlibat dalam tanya jawab yang getir.

“Sekarang, apa yang akan mereka perbuat kepadaku?” tanyanya.

“Kau takut?”

Si Arab mendengus, melemparkan pandangannya jauh-jauh.

“Kau menyesal?”

Si Arab menatapnya dengan mulut terbuka. Tak paham pada apa yang baru saja didengarnya. Daru menjadi gusar. Pada saat yang sama ia merasa risih dengan si Arab yang teronggok di antara dua tempat tidur.

“Berbaringlah di sana,” perintah Daru. “Itu tempat tidurmu.”

Si Arab tidak bergerak. Ia meminta: “Katakan padaku!”

Si Guru menatapnya.

“Apakah polisi tua itu akan datang lagi besok?”

“Aku tak tahu.”

“Apakah kau akan bergabung dengan kami?”

“Aku tak tahu. Kenapa rupanya?”

Tawanan itu bangkit dan merebahkan tubuhnya di atas selimut. Kakinya menjulur ke arah jendela. Cahaya bola lampu listrik jatuh di kedua matanya, ia memejamkan kedua matanya itu.

“Kenapa?” ulang Daru, kini ia tegak di samping tempat tidur.

Si Arab membuka matanya melawan cahaya yang menyilaukan, menatap Daru, dan mencoba tidak mengerjap.

“Bergabunglah dengan kami,” katanya.

Hingga tengah malam Daru tetap tak bisa tidur. Ia merebahkan diri di kasurnya setelah menanggalkan semua pakaian; ia biasa tidur telanjang. Tetapi tatkala sadar bahwa dengan keadaan itu kulitnya tak terlindung bahkan dari serangan yang paling sepele, rasa gelisahnya muncul. Ia merasa saat itu dirinya adalah sasaran empuk dan tiba-tiba mencul godaan untuk mengenakan lagi pakaiannya. Namun ia hanya mengangkat bahu, ia toh bukan kanak-kanak. Jika perlu ia sanggup berkelahi melawan si Arab. Dari tempat tidurnya ia bisa menawasi tawanan itu: telentang, tidak bergerak, matanya terkatub di bawah cahaya yang menyilaukan. Ketika Daru mematikan lampu, kegelapan seakan membekukan segala hal secara mendadak. Pelahan-lahan malam kembali datang di bingkai jendela, langit tanpa bintang berpendar lembut. Si guru menarik kakinya. Si arab tidak bergerak, namun matanya kelihatan terbuka. Angin berdesir mengitari gedung sekolah. Mungkin ia akan menyingkirkan awan di langit dan matahari bakal muncul lagi.

Makin malam, angin bertiup kuat. Ayam-ayam mengepak-ngepakkan sayap sesekali, kemudian sunyi. Si Arab menggeliat, kini memunggungi Daru yang tengah berpikir bahwa ia mendengar suara mengerang. Kemudian ia mendengar dengus nafas tamunya, makin berat dan makin teratur. Ia mendengar dengus nafas itu begitu dekat dengan dirinya. Rasa kantuk tak pernah datang pada pikiran yang tak tenang. Selama setahun ia tidur sendirian saja di kamar ini, dan kini kehadiran si Arab membuatnya bingung. Ia bingung karena kehadiran si Arab membebaninya dengan keakraban, sesuatu yang ia pahami betul. Namun, untuk saat ini ia ingin menolaknya. Orang-orang yang saling berbagi di ruangan yang sama, prajurit atau tawanan, membangun persekutuan aneh seolah-olah, setelah melepas baju zirah dan menggantinya dengan pakaian rumah, mereka adalah para sahabat yang bercengkerama setiap petang dengan impian dan keletihan bersama yang sangat tua usianya. Daru menggetarkan tubuhnya, ia tidak suka memikirkan hal-hal itu dan tampaknya yang lebih penting saat ini adalah tidur.

Sejenak kemudian si Arab menggerakkan tubuhnya, pelan sekali, dan si guru tetap belum tidur. Ketika tawanan itu membuat gerakan untuk kedua kalinya, Daru mendengus seolah memberikan peringatan. Si Arab mengangkat tubuhnya sangat pelan menyerupai gerakan orang tidur berjalan. Tegak di atas tempat tidurnya, ia menunggu tanpa gerakan, tanpa menoleh ke arah Daru, seolah-olah sedang mendengarkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Daru juga diam, ia hanya perlu meyakinkan bahwa revolvernya masih tersimpan di laci mejanya. Dan ia akan melakukan sesuatu yang tepat pada saatnya. Diawasinya terus si Arab yang, tetap dengan gerakan pelan, menurunkan kakinya ke lantai dan kemudian pelan-pelan berdiri. Daru ingin memanggilnya ketika si Arab mulai mengayunkan kakinya. Sangat alamiah, namun tanpa suara. Ia menuju ke pintu yang menghadap ke arah gudang. Diangkatnya palang pintu dengan hati-hati, didorongnya daun pintu, lalu melangkah keluar tanpa menutup kembali pintu tersebut.

Daru membeku di tempatnya. “Ia melarikan diri,” pikirnya. “Baguslah.” Namun ia memasang telinganya dengan serius.

Ayam-ayam tidak gaduh; tamunya niscaya masih di dataran tinggi ini. Ricik air sampai ke telinganya dan ia tidak paham dengan pendengarannya sampai kemudian si Arab muncul lagi di ambang pintu. Ia menutup kembali pintu itu dan segera kembali ke tempat tidurnya. Tanpa suara. Kemudian Daru memutar tubuh memunggungi tawanannya dan tidur.

Beberapa saat kemudian, di tengah-tengah nyenyak tidurnya, ia mendengar langkah berjingkat-jingkat di seputar bangunan sekolah. “Hanya mimpi! Hanya mimpi!” Ia meyakinkan dirinya berulang-ulang. Dan meneruskan tidurnya.

Ketika ia bangun, langit cerah; udara pagi yang dingin masuk lewat jendela yang terbuka. Si Arab masih tertidur, meringkuk di bawah selimut sekarang, mulutnya terbuka. Benar-benar tenang tampaknya. Ketika Daru mengguncangkan tubuhnya, paras mukanya menjadi tegang. Ia menatap Daru dengan sorot mata liar seolah-olah berhadapan dengan makhluk yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Cemas di paras mukanya membuat Daru surut ke belakang.

“Jangan takut. Ini aku. Kau harus makan.” Si Arab mengangguk-anggukkan kepalanya dan mengatakan “ya”. Wajahnya kembali tenang, namun ekspresinya kosong dan tanpa gairah.

Kopi telah siap. Mereka duduk dan minum bersama di kasur lipat sembari mengunyah beberapa potong kue. Kemudian Daru membawa si Arab ke gudang dan menunjukkan keran dimana ia bisa mencuci muka. Ia sendiri kembali ke kamar, membereskan selimut dan tempat tidur, dan menata ruangan seperti sediakala. Setelah semua beres, ia menuju ke teras dan duduk di sana.

Matahari telah muncul di langit; dataran tinggi diguyur cahaya pagi yang lembut. Di punggung bukit, salju meleleh di beberapa tempat. Batu-batu bermunculan lagi. Dari tempatnya, di tebing dataran tinggi, si guru menyaksikan gurun yang terhampar sangat luas. Ia teringat Balducci. Ia telah melukai polisi tua itu karena menerima kedatangannya dan melepas kepulangannya tanpa mau bekerjasama. Kalimat yang diucapkan Balducci ketika pamitan masih terngiang-ngiang di telinganya. Dan, entah kenapa, saat itu ia merasakan kekosongan yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya begitu ringkih dan begitu mudah diserang. Ketika itu, ia mendengar si Arab terbatuk-batuk. Ah, selama si Arab bersamanya, Daru lebih mendengarkan tamunya, nyaris tanpa mendengar dirinya sendiri. Dipenuhi rasa marah, ia melontarkan sebutir kerikil kuat-kuat. Terdengar desing di udara sebelum kerikil itu jatuh ke hamparan salju. Seseorang telah melakukan kejahatan yang bodoh dan ia tiba-tiba terkuasai olehnya. Namun, untuk menyerahkan seperti yang diminta Balducci, ia merasa tindakannya itu tidak ada harganya sama sekali. Terus-menerus diganggu oleh persoalan itu, tiba-tiba ia menjadi orang yang gampang membenci segala hal. Ia mengutuk semuanya: orang-orang dari golongannya sendiri yang telah mengirimkan si Arab kepadanya, dan si Arab yang berani melakukan pembunuhan namun tidak merancang cara melarikan diri. Daru bangkit, berjalan mondar-mandir di teras, dan kemudian kembali ke gedung sekolah.

Si Arab, satu tangannya bertelekan pada dinding gudang, sedang menggosok gigi dengan dua jarinya.

Daru memandang dan berseru: “Kemarilah.”

Si tawanan mengikuti Daru masuk ke dalam kamar. Dipakainya jaket berburu menutupi sweaternya, dikenakannya sepatu naik gunung. Si Arab memasang kopiah di kepala dan mengenakan sandalnya.

Mereka melangkah ke ruang kelas dan si guru menunjuk keluar: “Pergilah!” Tamunya tidak beranjak. “Aku bersamamu,” katanya lagi.

Si Arab keluar. Daru masuk lagi ke kamarnya, membungkus beberapa potong roti, kurma, dan gula. Di ruang kelas, sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak di depan mejanya, kemudian bergegas ke pintu dan menguncinya.

“Itu jalannya,” katanya. Ia berjalan ke timur, diikuti oleh tawanannya. Namun, beberapa langkah dari gedung sekolah, ia merasa mendengar suara langkah kaki berjingkat-jingkat di sekitar mereka. Ia kembali dan memeriksa sekeliling bangunan sekolah. Tak dijumpainya seorang pun. Si Arab memandangnya tak faham. “Ayolah!” kata Daru

Mereka berjalan selama sejam dan beristirahat di samping batu kapur yang mendongak tajam. Salju mencair makin lama makin cepat dan matahari menghisap habis genangan air di kubangan dalam waktu sekejap. Dataran tinggi itu bersih dari salju, menjadi makin kering, lalu bergetar sebagaimana udara bergetar.

Ketika mereka melanjutkan perjalanan, tanah di bawah kaki mereka berdenyar. Sesekali seekor burung membelah udara dengan jeritan bahagia. Daru menarik nafas dalam-dalam di tengah cahaya segar pagi hari. Ia merasakan semacam pesona, sebelum nantinya kembali menghadapi hamparan tanah kosong yang begitu akrab baginya, yang sekarang hampir seluruhnya menguning di bawah kubah langit biru. Mereka berjalan satu jam lagi menuruni lereng ke arah utara. Mereka sampai pada hamparan batu-batu yang rapuh. Dari sana, jika mengambil jalan turun ke arah Timur, mereka akan tiba di lembah yang ditumbuhi beberapa batang pohon. Jika ke arah Selatan, akan sampai pada dataran luas dengan pemandangan yang berantakan oleh batu-batu yang nongol di sana-sini.

Daru mengikuti kedua jalan itu dengan matanya. Tak dia temukan apapun kecuali ufuk di mana langit dan tanah bertemu. Tak ada manusia. Ia berpaling ke si Arab yang menatapnya dengan mata kosong. Diulurkannya bungkusan yang dia bawa kepada si Arab.

“Ambillah,” katanya. “Ada roti, kurma, dan gula. Kau bisa bertahan selama dua hari dengannya. Aku juga ada seratus franc, ambillah.” Si Arab menerima bungkusan dan uang yang disodorkan Daru, merapatkan ke dada, dan tetap begitu terus seolah-olah tak tahu apa yang bisa dilakukannya dengan benda-benda di tangannya itu.

“Sekarang lihat,” kata si guru, tangannya menunjuk ke arah Tinguit. Kau harus berjalan selama dua jam. Di Tinguit, temuilah bagian administrasi dan polisi. Mereka mengharapkan kedatanganmu.”

Si Arab melemparkan pandangannya ke Timur, tetap dengan uang dan bungkusan di dada. Daru meraih sikunya dan memutarnya dengan sedikit kasar ke arah Selatan. Di kaki bukit di mana mereka berdiri, tanpa jalan setapak.

“Itu jalan setapak melintasi dataran. Sehari jalan kaki dari sini, kau akan menjumpai padang rumput dan kafilah para nomaden. Mereka akan menerima kedatanganmu sesuai hukum mereka.”

Si Arab kini berpaling ke Daru dengan wajah panik. “Dengarlah,” pintanya.

Daru menggelengkan kepala: “Tidak, tenanglah. Sekarang, aku akan meninggalkanmu.” Segera setelah itu ia membalikkan badan, mengambil langkah lebar-lebar ke arah gedung sekolah, ia menatap dengan ragu ke arah si Arab yang tetap tak bergerak, dan kembali meneruskan langkahnya. Untuk beberapa menit tak ia dengar apapun kecuali langkah kakinya sendiri yang bergema di atas tanah dingin. Tak pula ia putar kepalanya. Namun, akhirnya ia membalikkan badan juga. Si Arab tetap di tempatnya, di tepi bukit, tangannya sudah turun, dan ia memandang si guru. Daru merasa sesuatu merambat naik ke kerongkongannya. Namun ia menguatkan diri, melambai samar-samar, dan kembali meneruskan langkahnya. Beberapa saat kemudian ia berhenti lagi dan kembali menengok ke belakang. Sudah tak ada siapapun di bukit.

Daru tercenung. Matahari makin tinggi dan mulai menyengat kepalanya. Si guru mengikuti jalan yang sama dengan jalan yang ditempuhnya saat berangkat, mula-mula dengan ragu, tapi kemudian makin yakin. Ketika sampai di bukit kecil, tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Ia mendaki secepat yang bisa ia lakukan, dan berhenti di puncak menenangkan nafasnya. Bebatuan yang terhampar si sisi Selatan tampak makin tajam di bawah biru langit. Tanah lapang di sebelah Timur bergetar oleh uap air yang naik ke langit. Dan dengan pandangan sedikit merendahkan, Daru melihat si Arab berjalan pelan sekali menyusuri jalan ke arah penjara.

Beberapa saat setelah itu, tegak di tepi jendela kelas, si guru melihat cahaya matahari yang kuat menyapu seluruh permukaan dataran tinggi. Namun sesungguhnya ia hampir tidak melihat apa pun. Di belakangnya, di papan tulis, diantara lekuk liku sungai-sungai Perancis, sebuah kalimat yang ditulis tidak rapi berbunyi:

“Kau telah menyerahkan saudara kami. Maka kau harus membayarnya.” Daru menatap langit, dataran tinggi, dan di luar itu, hamparan tanah yang tak tampak, yang membentangkan semua jalan menuju laut. Di hamparan tanah yang begitu ia cintai, ia merasa sendiri.

*Cerpen ini diterjemahkan oleh A.S. Laksana dari “The Guest” dalam antologi Great French Short Stories, yang dipillih dan diedit serta diberi kata pengantar oleh Germaine Bree, terbitan Dell Publishing Co., Inc., New York, cetakan ke-10, tahun 1973)

Continue Reading

Cerpen

Cinta Ayu

mm

Published

on

Dengan langkah kaki cepat, Ayu bergegas menuju gedung Diponegoro untuk mengikuti seminar. Seminar yang mengambil tema “Menyoal Cinta dan Feminisme” bukan hanya memikat hati Ayu, melainkan kebanyakan hati perempuan. Sebab, pembicara dalam seminar ialah seorang feminis laki-laki, sekaligus aktivis “kemanusiaan” yang menjadi diskursusnya. Kendati ia masih berstatus mahasiswa. Namun, ia bagaikan matahari yang menjadi pusat perhatian di kampusnya. Pagi itu, bukan tanpa perjuangan bagi seorang gadis yang hidupnya normal. Ayu memutuskan alpa sarapan pagi beserta Abah dan Umminya. Satu keputusan radikal yang sepanjang usianya belum sekalipun dilakukannya. “Semoga acaranya belum dimulai,” gumamnya dalam hati.

Setelah setengah berlari menaiki tangga sepanjang lima lantai, Ayu mengatur nafasnya sambil sesekali mengipasi wajahnya yang merah setelah mengambil tempat duduk. “Ayu, sini, kamu lama sekali,” kata April sahabat karibnya. “Ia, maaf saya ketiduran sehabis salat Subuh,” jawabnya pelan.

“Raka sudah berbicara?”

“Belum, Ayu.”

Setelah satu jam berlalu, kini giliran pembicara terakhir yang sudah dinanti-nantikan tampil di podium. “Selamat pagi Puan dan Tuan. Baik untuk menghemat narasi saya langsung masuk pada bagian subtansi…”

“Kenapa tidak mengucapkan Assalamualaikum.”

“Entahlah.”

“Apa dia non-Muslim?”

Ayu tak menjawab. Hanya mengangkat kedua bahunya.

Setelah hampir setengah jam Raka menyampaikan pandangannya, kini waktunya berdiskusi: tanya-jawab. Empat orang penanya sudah mendapatkan jawabannya. Dan Ayu memberanikan diri mengangkat tangannya. “Baik, silakan perkenalkan diri Anda sebelum bertanya,” kata moderator. “Nama saya Ayu Arunika. Saya ingin bertanya pada Mas Raka. Sepanjang penjelasan Anda tentang feminisme. Saya merasa bahwa Anda terlalu liberal. Sebab, Islam justru memuliakan perempuan. Perkara peradaban menghendaki perempuan selalu di bawah laki-laki, karena seorang suami adalah pemimpin dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Sebagai hamba tentu harus taat pada perintah Allah SWT. Itu yang pertama. Yang kedua, atas dasar apa Anda mengajukan argumen bahwa doktrin teologis adalah penyumbang kerusakan alam? Bahkan berperan dalam mendorong rusaknya lingkungan alam akibat doktrin antoposentrisnya. Terima kasih.”

Pertanyaan yang mengagetkan semua orang yang sedang asyik-masyuk mendengar penjelasan Raka, mahasiswa filsafat yang menjadi bintang di acara itu. Dengan tenang Raka menjawab, “Ayu Arunika. Sebagai fakta nama itu indah untuk dikecupkan. Saya tahu arah pertanyaanmu. Benar-benar pertanyaan teologis. Tadi dikecupkan kata “hamba”. Maka, dengan sendirinya ada hierarki dalam kalimat yang Anda susun: Tuhan dan hamba. Saya mengajukan argumen yang basisnya adalah reasoning. Dan Anda mengajukan pertanyaan yang dibungkus dokumen dari langit. Tidak mungkin saya debat dengan argumen. Itu yang pertama. Yang kedua perihal ekofeminisme…”

“Tunggu sebentar. Apa keyakinan Anda?” Ayu memotong.

Setelah diam sesaat, Raka menjawab. “Anda tahu bahwa diskusi ini mengangkat tema feminisme. Artinya tidak membahas tema teologis. Pertanyaan Anda tidak ethics, kendati dibungkus dengan kesantunan bahasa. Karena Anda bertanya sesuatu yang bersifat privat. Tidak mungkin saya jawab di ruang publik. Tapi tidak jadi soal. Pukul setengah empat nanti saya ada perlu di perpustakaan. Jika Anda masih penasaran dan menuntut jawaban dari saya, silakan temui saya.” Selanjutnya diskusi berjalan lancar. Namun pertanyaan dari Ayu membuat orang-orang mulai berpikir ulang tentang sosok sang pembicara.

***

Pukul empat sore Ayu datang ke perpustakaan. Di ruang kecil, tempat diskusi, seorang pemuda sedang duduk dengan tenang. Di tangannya terlihat Ivan Illich: Deshooling Society. Setelah menarik nafas panjang Ayu memberanikan diri menghampirinya. “Assalamulaikum, maaf saya terlambat datang.”

“Tak apa. Artinya dikau masih orang Indonesia. Silakan duduk.”

Jawaban yang membuat wajah Ayu merah sebab malu. “Maaf, tadi saya habis salat Ashar terlebih dahulu.” Jawabnya pelan. “Mas Raka sudah Salat?”

Setelah meletakan Ivan Illich, Raka menatap mata Ayu dengan tatapan tajam. “Puan, apa dikau tahu siapa nama orangtuaku? Pekerjaannya apa? Apa dikau juga tahu sosio-historisku?”

Ayu menggelengkan kepala.

“Pertanyaan teologismu itu menghukum psikologiku. Semacam hukuman bahwa saya telah divonis dalam perkara privat: agama tertentu. Dan seringkali pertanyaan itu dianggap hal yang wajar hingga berkumandang di telinga setiap orang. “Kamu sudah salat? Apa agamamu? Pertanyaan itu buat saya semacam arogansi karena disponsori suara mayoritasisme. Bahkan hal semacam itu, terjadi di wilayah akademis. Seharusnya seorang akademis bisa lepas dari hal semacam itu. Di ruang akademis yang ada hanya pikiran. Universitas dalam definisi bebas ialah wilayah di mana sikap kritis itu tumbuh. Artinya tidak dikekang oleh doktrin teologis. Yang ada hanya dialektika rasionalisme. Sebab universitas adalah tempat lalu lintasnya pikiran. No road to heaven. Dan sebagai warga negara, kita hanya diikat oleh etika publik. Status agama itu hak. Artinya seseorang boleh tidak menggunakan haknya. Paham Ayu?”

Mendengar jawaban Raka, airmuka Ayu merah padam. Baru kali ini ia diceramahi pelajaran di luar nalar pikirannya. Wajahnya menunduk, seakan-akan tak sanggup melihat matanya yang tajam bagai mata pedang. Barulah ia sadar bahwa pemuda yang sedang menceramahinya adalah pemuda yang setiap hari diperbincangkan teman-temannya sesama mahasiswi: Raka adalah pemuda cerdas. Menyukai sastra, filsafat, sosiologi, psikologi, politik, hukum dan pelbagai ilmu pengetahuan lainnya. Ada juga yang mengatakan bahwa Raka penggila filsuf Immanuel Kant, Sartre, Heidegger hingga Ivan Illich. Juga ada pula yang mengatakan bahwa sudah banyak perempuan yang patah hati. Bukan lantaran disakiti, melainkan karena alasan yang abnormal: Raka tidak ingin menikah. Pikiran yang benar-benar gila bagi anak muda seusianya.

“Saya minta maaf bila pertanyaanku membuat Mas Raka tersinggung,” kata Ayu sebelum meninggalkan Raka. Akan tetapi, sebelum Ayu menghilang ditelan pintu perpustakaan, Raka menyahut, “Ayu, saya yang minta maaf. Senang berkenalan denganmu. Di luar ada cafe yang nyaman untuk menikmati segelas kopi dan sepotong kenangan.” Ayu terseyum mendengarnya. Senyuman yang menawan. Demikianlah perempuan gemar membunuh seorang lelaki dengan senyumannya.

***

Waktu bergulir dengan cepat. Bergantinya nama bulan seperti bergantinya siang dan malam. Demikianlah bagi hati anak muda yang hari-harinya diliputi bahagia bertabur bunga. Begitulah hari-hari Ayu dan Raka. Keduanya semakin akrab, bukan hanya sebagai teman, melainkan sepasang kekasih yang sedang mengepakan sayapnya. Selepas pertemuan itu, Ayu terpesona oleh Raka yang dinilainya berbeda.

Kendati kasak-kusuk berita negatif tentang Raka tersebar luas di lingkungan kampus. Namun, hal itu tidak membuat Ayu membatalkan cintanya. Tidak pula mempengaruhi Ayu untuk memadamkan api cinta yang menyala di hatinya. Masih menggema lonceng cinta di pikiran batinnya, baginya Raka serupa sang pengusik sepi yang membunyikan loncengnya. “Janganlah dikau padamkan matahari cinta yang terbit dari hati seorang pujangga,” kata-kata itu bagai anak panah yang dilepaskan dari busurnya tepat mengenai jantung hati gadis pujaannya. Ujar Raka pada Ayu suatu senja di bukit Mandalawangi.

Dalam cinta selalu ada kegilaan. Orang gila yang rasional adalah orang yang sedang dimabuk cinta. Hari-hari berikutnya, di mana kaki Raka melangkah, di situ jejak Ayu tertinggal. Terlebih Raka selalu membimbing langkah kaki Ayu pada tempat yang tak terduga: gunung, hutan, dan sekolah rakyat yang didirikannya bersama para sahabatnya. Deschooling Society adalah kitab sucinya Raka.

Namun, ada yang ganjil dalam pikiran Ayu yang setiap malam selalu menghantuinya. Sebab, selama menjadi kekasih Raka, sekalipun Ayu tak pernah mendengar kata dari kamus agama diucapkan olehnya. Juga tidak sekalipun Ayu mempergoki sisa-sisa jejak ritual keagamaan yang dilakukan Raka. Baik jejak kakinya di Gereja, Masjid, maupun rumah ibadah lainnya yang tertinggal.

Keganjilan itu membuat Ayu memberanikan diri untuk mencari tahu. Entah sudah berapa banyak teman-teman Raka yang diinterogasi. Namun, semuanya menjawab seragam seperti orang mengucapkan kata “Aamiin”, yakni “tidak tahu”. Hingga pada suatu hari Ayu menanyakan langsung kepada Raka. Sebagaimana kebiasaannya, Raka yang suka merenung di tempat sunyi seorang diri di hutan, tiba-tiba dikagetkan oleh kehadiran Ayu yang sudah mengetahui tempat pelariannya. Lama keduanya bertukar pandangan.

Ayu mulai mencium keganjilan kekasihnya itu. Karena tak tahan sambil bercucuran air mata Ayu bertanya, “Apa agamamu Mas? Banyak orang yang membicarakanmu perihal itu. Apakah Mas percaya akan adanya Tuhan?”

Raka tak menjawab. Lama ia terdiam.

“Sekali lagi saya tanya, apa Mas percaya akan adanya Tuhan?”

“Ayu, dikau menyusulku ke sini hanya untuk menanyakan sesuatu yang menjadi antitesis kemanusiaan.” Kemudian Raka menjemput tangan Ayu sambil berujar, “Kamu mencintaiku?” Ayu mengangguk diiringi tangisan.

“Jika dikau percaya Sartre adalah seorang atheis, dan Simon de Beauvoir tidak mempermasalahkannya, maka kamu harus percaya bahwa kekasihmu adalah orang yang percaya sebagaimana kepercayaan Sartre.”

Mendengar jawaban itu, tangisan Ayu semakin dera. Segera saja Ayu melepaskan tangannya dari genggaman Raka. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-MU,” ucap Ayu sebelum pergi.

“Jatuh cinta adalah cara paling manis untuk menyakiti diri sendiri. Sebab, cinta sedari dulu kala selalu saja drama. Cinta adalah kesunyian yang panjang, kendati keramaian selalu mengintainya. Namun cinta selalu memilih untuk sendiri,” kata Raka pada dirinya sendiri. (*)

*) Arian Pangestu, aktif di sekolah feminisme. Artikelnya berupa cerpen, esai, dan puisi dimuat di koran Minggu Pagi, Pikiran Rakyat, Padang Ekspres, Bangka Pos, Radar Surabaya, Harian Analisa. Saat ini aktif sebagai mahasiswa sastra.

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Classic Prose

Trending