Connect with us

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Di Waktu Waktu Di Tempat Tempat

mm

Published

on

Di Waktu Waktu

Kepada K,

Lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut milikmu. Lampu lampu-lampu ini terlalu terang untuk petangku yang meluruh—entah dari mana angin membawakan aroma laut milikmu, dengan warna keheningan dan debur jiwa yang jauh, kabut dan mendung yang mengeja dirinya sendiri sebagai kemarin, tetapi sekali petang kita telah melihat ada jemari seperti jemariku atau mungkin jemarimu; menunggu untuk meraih nasibmu mungkin nasibku; ada mata yang tertunduk pada jiwanya sendiri untuk memberi segala dari kelembutan, lalu biar seperti buih yang membelai kaki mungilmu, angin digenggam seketika seakan benda beku; ia membawakan kerinduan abadi laut pada segala yang tak mungkin dipeluknya sendiri. Apa kau tahu kerinduan abadi milik lauatan?

Ia telah mengeja dan menunggu berabad senjanya, meski tak sekali saja memeluk; sebelum malam mengganti segala warna pipinya, rembulan tak pernah sama bagi mereka yang tak memahami seorang penyair tak menulis sajak tentang kekosongan, tidak tentang kebekuan, ia menulis baris kehilangan tiap manusia yang tak pernah memahami—terkadang cinta adalah waktu yang menunda perindu dari kematian batinnya.

Tetapi para perindu senantiasa menuju, kepada kabut dingin miliknya, yang menempel di pipi seorang gadis yang bocah; tengah menatap laut miliknya sendiri—di depan kerinduan abadinya pada cintanya yang telah jadi jauh. Tahukah kau apa rasanya menjadi laut?

Meski tiap waktu debur meski tiap waktu luas meski tiap hening cintanya membahana dan malam dan gelapnya tak sekali-kali membuatnya gentar, tapi kerinduannya abadi—seorang penyair menulis sajak tentang pipinya, jiwanya yang kanak-kanak dihadapan rindunya yang gelombang, jika saja ia bisa pergi melewati segala jauh dan ujung semua batas, ia hanya ingin sekali lagi menjulurkan jarinya, melihat senyum itu dan memberitahu jiwanya yang kini jelita, baru saja mengira—cinta mengajarinya keheningan, jiwa yang jiwa, petang yang melagut, malam yang doa, pagi yang kerap—seperti lelap aroma wangi rambut itu; melelapkan hasrat batinnya yang bocah.

Sekali malam akan digambarnya, segala rindu dan surat yang ditulis dengan tatap matanya, sebagai keluasan sebagai debur sebagai biru laut sebagai cahaya keemasan, sebagai jendela sebagai jalan-jalan dan kembang rekah atau apa saja untuk memberitahu jiwanya; sekali ini pada petang yang aneh, aku mendengar nyanyianmu yang biasanya, selalu seperti seorang ayah yang tak pernah mengira anak gadisnya sendiri akan menyukai senja yang dilukis penyair di pipi kekasihnya.

Di Tempat Tempat

Kepadamu yang menulis sajak di waktu-waktu, di manakah tempatmu? Aku kini di bawah lampu lampu kafe dengan cahaya aneh jika saja kau tahu, Lampu-lampu di kafe ini berwana seperti warna laut yang kau kira pipiku; aku kini menemu soreku yang kukira seperti warna asing atau terkadang itu seperti tatapan matamu padaku saat itu, kau tidak akan mengira bahwa aku telah menjadi sepertimu juga, menatap pada segala apa sebagai kebisuan yang ramah dan masih bertanya apa yang ingin dikenangkan padamu bila pada waktuku aku tak menemu jalan kembali.

Tapi tahukah kau bahwa saban waktu menjadi aneh, selalu kukenangkan cahaya matamu, tatapanmu selalu saja memuncak dan tak persis kupahami kecuali cintamu pada segala yang kau cari sebagai jiwa, segala yang duka dari segala yang rindu tetapi dukamu tak pernah suatu kehilangan abadi, aku tahu itu adalah cinta yang maha pada segala yang kau kira sejati. Tetapi apa yang sejati? Kita sama tak pernah memahami atau tidak akan, kita hanya tahu sekali waktu kita ingin memeluk diri kita sendiri, membebaskan dari segala meski tak pernah habis segala rindu pada segala yang hening dan pada larut di mana batin kita seperti menangis sementara malam menjelang seperti warna tanpa nama di atas kanvas yang pasir di gerimis yang sejanak meluruhkan lagi gambar yang kubuat tentangmu atau tentang pendar cahaya matamu yang subuh, ombak yang bedebur di lautan pipimu, selalu saja tak cukup padaku untuk sekali waktu kukenangkan pagimu yang mengantuk, malammu yang terlalu lelah mengeja dirimu sendiri, lalu kau menatapku dengan kebisuan yang tak pernah sungguh-sungguh kupahami kecuali jiwamu yang sekali-kali tak bisa kau atasi sendiri—tetapi seperti yang kau telah mengira, aku adalah pahat sukmamu, inilah jadinya aku sekarang, selelu merindumu dan jauh, selalu tak memahami kesejatian yang kau cari, tetapi sepertimu, aku tahu kan kupahat hidup dari hidupku, sebagai gugusan cahaya atau sebagai pagi dengan bantal tidur yang kukira kau menyebalah padaku meski kutahu saban petangku menjadi ingatn padamu, masih kukira kebun bunga itu memekarkan wangi aroma rambutmu, kebun bunga di punggung rapuhmu yang memahat batu-batu yang kau kira kabut mendung dan kau singkap kelambu kelamnya agar menjadi aku.

Kau tahu aku kini di bawah lampu lamu berwarna aneh dengan segalas kopi dan seorang asing yang mengira aku lukisan tanpa warna dengan matanya menatapku sebagai gadis kecil dengan pipi yang senja atau rambutku yang malam dengan keheningan serupa tiap kali aku mengeja rambutmu yang malam waktu itu. Kini biar kupahat bebatuan itu menjadi kali-kali dalam jiwaku sendiri, kau tahu ia akan mengalir sampai juga padamu.

Aku ingin sepanjang malam ini mengeja langit dan melihatmu menatapaku, tapi segelas kopi pesananku datang, dan aku masih gadis kecilmu yang dulu, hanya saja kau tahu, aku mungkin akan mengerti sekarang, kenapa kadang kau tertidur terlalu larut hanya untuk melihatku lelap dan diam diam terus merindukanku meski aku menyebalah di bantal tidurmu. (*)

SC | 14 November 2020

Continue Reading

COFFEESOPHIA

6 Rahasia Kebahagiaan Hidup

mm

Published

on

From 6 Secrets to a Happier Life by EMMA SEPPÄLÄ | The following story is excerpted from TIME’s special edition, The Science of Happiness.

by EMMA SEPPÄLÄ | penerjemah Mitha Pricilia

Meskipun kamu adalah seorang desainer web, guru, petugas kebakaran atau perwira tentara, kamu dianjurkan untuk tetap mencentang hal-hal yang perlu kamu kerjakan, mengumpulkan keberhasilanmu dan fokus akan usaha di masa depan. Akan selalu ada sesuatu yang membuat kamu lebih maju di dalam pekerjaan; sebuah pekerjaan tambahan atau tanggung jawab yang dapat kamu ambil, mengambil pembelajaran yang bisa kamu kerjakan untuk mendapatkan promosi atau mempunyai investasi yang bisa kamu gunakan sewaktu-waktu. Akan selalu ada kolega kantor yang membuat kamu bekerja lebih lama, menunjukan kalau kamu seharusnya bisa berkerja lebih banyak. Dan membuat kamu bekerja lebih lagi untuk mencapai tujuan mu, atau sekedar mengejar hal-hal yang perlu kamu kerjakan di dalam daftar ambisiusmu.

Kenapa? Karena kamu hidup dengan anggapan sebuah teori yang mengatakan bahwa jika kamu ingin sukses, kamu harus terus meneruskan pekerjaan hingga selesai dan segera beralih dan melanjutkan tujuan lain secepat mungkin. Pikiran kamu selalu berada dalam pekerjaan selanjutnya, pencapaian selanjutnya, dan siapa pribadi yang harus kamu ajak berbicara. Selama proses tersebut, kamu mengorbankan rasa hadir dalam keadaan sekarang, menahan rasa negatif yang dirasakan dan stres yang berlebihan, dimana kamu percaya bahwa semua ini akan terbayarkan. Akibatnya, kamu terjebak dalam kecanduan kerja yang membuatmu panik dan cemas. Kamu mungkin sekarang sedang bertanya pada diri kamu sendiri, “Apa yang sekarang saya lakukan untuk membantu meraih tujuan masa depan saya?” Jika sekarang kamu tidak bertanya hal tersebut pada dirimu, mungkin manajer, pasangan, atau teman kantor kamu sedang menanyakan hal tersbut. Dan jika jawabannya “tidak ada”, kamu akan merasa bersalah. Dan dengan demikian kamu tetap perlu melanjutkan sesuatu untuk memperbaiki diri kamu.


6 Secrets to a Happier Life by EMMA SEPPÄLÄ
 
In The Happiness Track, founder of Fulfillment Daily and science director of the Center for Compassion and Altruism Research and Education at Stanford University Emma Seppälä draws upon the latest scientific research on resilience, willpower, compassion, positive stress, creativity, and mindfulness to reveal the connection between happiness and success, and how to achieve both. Featuring practical strategies we can use in our daily lives, The Happiness Track will show you the fulfilling, rewarding, and anxiety-free life that is within your reach.

Kamu terjebak dalam keharusan untuk meneruskan pencapaian, selalu ….

Kamu belum sempat menyelesaikan satu pekerjaan sebelum pikiran kamu sudah berada pada pekerjaan selanjutnya. Kamu berkerja keras untuk membersihkan daftar tugas mu dan kemudian saat itu juga mengisi kembali daftar tersebut. Kamu mungkin sedang mengerjakan sebuah presentasi atau artikel, namun pikiran mu sudah berada dalam topik yang ingin kamu kerjaan selanjutnya. Walau sedang di rumah, ketika kamu sedang mencuci piring, namun pikiranmu sudah membuat daftar pekerjaan yang ingin kamu selesaikan.

Kecenderungan untuk fokus akan penyelesaian pekerjaan, betul, ini bukan masuk dalam kategori negatif – pencapaian adalah hal yang bagus! Namun ketika semua orang memeriahkan pandangan akan setiap menit itu adalah sebuah peluang untuk meraih sebuah pencapaian dan kemudian terus melanjutkannya, kamu terjebak akan sebuah prespektif tersebut dan tidak bisa berhenti untuk bertanya apakah hal ini baik untuk dirimu atau tidak. Dan bisa jadi kamu membanggakan dirimu akan kemauanmu sendiri.

Namun masalah datang ketika kita tetap menunda kebahagiaan kita yang menyerupai menyelesaikan banyak pekerjaan yang kemudian membuat kita bahagia kemudian – atau yang sebagaimana anggapan kita. Proses penundaan ini bisa berlangsung hingga selamanya, menjadi gila bekerja, dimana akan merusak kesuksesaan dan kebahagiaan yang selama ini kita cari.

Alasan dibalik kenapa kita sangat terikat dengan menyelesaikan pekerjaan adalah karena kita percaya bahwa ada sebuah hasil dari sebuah pencapaian – sebuah penghargaan atau tabungan yang lebih besar – pastinya akan membawa kepada hasil yang terbesar yaitu: kebahagiaan. Namun ternyata tidak. Kita memiliki ilusi terhadap sukses, ketenaran, uang – isi bagian kosong- yang kita kejar akan memberikan kita sebuah kepuasaan yang abadi. Kita sering berharap jika kita akan merasa bahagia ketika kita mendapatkan proyek ini dan itu. Sebagai contoh, kamu mungkin akan berpikir jika kamu bekerja seperti orang gila, kamu akan mendapatkan kenaikan pangkat yang kamu kehendaki dengan bayaran yang besar, dimana akan meredakan kegelisahan finansial di rumah., dan ketika kegelisahan itu hilang.. kamu akan bahagia. Namun ada masalah utama dengan selalu mencoba menyelesaikan sesuatu dan fokus akan hal selanjutnya: lakukan hal tersebut mencegah kamu untuk menjadi sukses seperti yang kamu inginkan dan mendatangkan malapetaka pada badan dan pikiran. Mungkin dari luar kita terlihat kita mempunyai semua itu, tapi dari dalam, kita sangat kelelahan, tidak menampilkan tingkat tertingi kita, dan merasa sengsara.

Secara paradoks, memperlambat dan mencoba fokus akan apa yang terjadi sekarang di depan mata kamu – hadir di saat itu juga daripada selalu memiliki pikiran untuk melakukan suatu hal selanjutnya akan membuat kamu lebih sukses. Ekspresi seperti “hidup saat ini” atau “carpe diem” terdengar klise, namun illmu pengatuan mendukung hal tersebut dengan baik. Penelitian menunjukan bahwa hadir pada saat ini – daripada fokus untuk terus melakukan apa selanjutnya – membuat kamu lebih produktif dan bahagia, bahkan, memberikan kamu sebuah kualitas yang dimiliki banyak orang-orang sukses miliki namun susah dipahami: kharisma.

Mengingat tuntutan jaman sekarang dan penyebaran teknologi, kamu pasti pernah satu kali merasakan pengalaman berbagai tuntutan pribadi dan profesional: kamu mungkin sedang di dalam pertemuan di kantor namun kamu juga sekaligus melihat pesan yang masuk dari tunanganmu, yang membutuhkan tumpangan untuk pulang ke rumah, atau kamu sedang menyelesaikan sebuah dokumen kerja sambil menanti-nantikan email dari klien secepat mungkin. Beberapa tempat kerja mengharapkan kamu untuk mengutamakan pesan masuk sepanjang hari. Walaupun ada kepentingan penting muncul, keterampilan mengerjakan pekerjaan ganda menjadi sebuah jalan dalam hidup. Kamu menjadi terbiasa mengecek telepon selagi bekerja, selagi menghabiskan waktu Bersama keluarga, dan bahkan ketika berada di gym dan selagi liburan.

Mengerjakan pekerjaan ganda bukannya membantu kita untuk mencapai banyak hal lebih cepat, sebenarnya membuat kita mengerjakan banyak hal dengan tidak baik. Ketika kamu mempertunjukan sebuah pekerjaan individu tanpa ada pembagian perhatian, kamu dapat mencapai sesuatu lebih efisien dan cepat sambil menikmati proses tersebut.

Ketika kita terjebak dalam mengerjakaan pekerjaan ganda atau disibukkan dengan hal selanjutnya yang kita harus garis di daftar tugas, bukan hanya membahayakan keterampilan kita, kita bisa membahayakan kesejahteraan diri. Ada satu penelitian menemukan, ketika banyak orang mulai terlibat dalam mediasi pekerjaan ganda (dari proses tulisan ke pesan elektronik), semakin kecendrungan tinggi tingkat kecemasan dan depresi. Jika kamu secara terus-menerus berada di dalam berbagai aturan, itu hanya membuat kamu secara natural merasa lebih stress dan kewalahan.

Di sisi lain, penelitian menunjukan, secara keseluruhan kita sangat menikmati aktifitas tersebut. Selain itu, untuk menjadi hadir sepenuhnya di waktu sekarang membuat kita untuk menyerap produktifitas yang sangat lengkap. Pikirkan waktu dimana kamu menghadapi sebuah proyek yang membuat kamu ketakutan. Kamu tahu itu membutuhkan banyak usaha; mungkin kamu tetap mengabaikannya. Begitu kamu mulai, meskipun – didorong oleh tenggat waktu- kamu menjadi sibuk dan pekerjaan proyek itu berjalan. Kamu menemukan suatu kenyataan bahwa kamu menikmati proses tersebut. Kamu menjadi sepenuhnya fokus dan produktif dengan tugas di tangan kamu. Daripada menjadi stress mengenai masa depan dan memiliki perhatian yang menarikmu dalam berbagai tujuan, kamu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, dan kamu bahagia.

EMMA SEPPÄLÄ, Ph.D. is the author of The Happiness Track: How to Apply the Science of Happiness to Accelerate Your Success and Science Director of Stanford University’s Center for Compassion and Altruism Research and Education. She also teaches at Yale University and consults with the Yale Center for Emotional Intelligence. She founded Fulfillment Daily and a frequent contributor to Harvard Business Review and Psychology Today.

Menurut sebuah penelitian dari 5.000 orang yang dibuat dari seorang psikolog Matthew Kilingsworth dan Daniel Gilbert dari Universitas Harvard, orang dewasa menghabiskan 50% dari waktunya untuk berada di situasi sekarang. Di sisi lain, secara mental, setengahnya kita berada di tempat lain. Selain itu, untuk mengukur pengembaraan pikiran seseorang, para ilmuwan mengumpulkan informasi mengenai tingkat kebahagian. Mereka menemukan bahwa ketika sedang berada di momen sekarang, kita berada dalam kebahagiaan, apapun yang sedang kita kerjakan. Di sisi lain, walaupun kita sedang terikat di aktifitas yang sering kita temukan tidak mengenakan, kamu dapat lebih bahagia ketika kamu 100% mengkonsumsi aktifitas tersebut dibandingkan ketika kamu berpikir mengenai hal ketika sedang mengerjakan hal tersebut.

Kenapa keadaan saat ini membuat kita bahagia? Karena kita penuh mengalami hal-hal yang sedang berlangsung di sekitar kita. Daripada terjebak dalam perlombaan untuk mencapai banyak hal dengan cepat, kita pelan-pelan dan benar-benar bersama orang-orang saat itu, tenggelam dalam ide-ide yang sedang didiskusikan dan sepenuhnya terikat di proyek tersebut.

Dengan berada di keadaan sekarang, kamu memasuki keadaan dimana alur akan menjadi lebih produktif dan menjadikan kamu lebih karismatik, membuat orang-orang disekelilingimu merasa dipahami, dan didukung. Kamu akan memiliki hubungan yang baik, dimana salah satu prediktor terbesar akan kesuksesan dan kebahagiaan.

1.    Bawa Pikiranmu Kedalam Waktu Sekarang

Membawa pikiranmu kembali pada waktu sekarang akan terlihat menakutkan. Namun harus dihadapi – itu tidak akan mudah untuk membatalkan kebiasaan yang kamu miliki selama bertahun-tahun. Langkah pertama adalah kesadaran.

Ketika kamu sadar bahwa pikiranmu akan menuju ke masa depan-orientasikan pikiranmu, kamu dapat memilih untuk tidak mengikuti kereta pikiranmu-sebagai gantinya, kamu dapat menyenggol pikiranmu untuk kembali ke waktu sekarang. Misalkan kamu sedang bekerja di mejamu, bermain bersama anakmu atau sedang makan malam dengan tunanganmu, kamu sadar pikiranmu sedang berada di tempat lain. Tentu saja, ini bukan hal pertama ketika pikiranmu mengembara dari waktu sekarang, namun ketika kamu secara sadar observasi pola ini, ini dapat menjadi sedikit menganggumu. Kamu mungkin dapat memiliki pikiran seperti, “wow, disini saya bersama orang yang ku sayangi dan aku tidak dapat fokus kepada mereka sama sekali.” Namun kesadaran adalah kunci pertama.

Coba untuk reorientasi perhatian penuhmu pada apa yang sedang terjadi di depanmu. Latihan ini tidak akan mudah pada pertama kali, seperti melatih otot, kamu dapat memperkuat kemampuanmu untuk tetap berada di waktu sekarang seperti mengulang terus latihan tersebut. Seperti mempelajari sebuah olahraga, butuh latihan. Jadi dengan mengikuti lima pelatihan, dan ketika melakukan itu secara bertahap, dapat membantu mu untuk berada di waktu sekarang lebih mudah.

2.    Merasakan Kecepatan Teknologi

Salah satu olahraga terhebat sekarang ini dan memberikan kebahagiaan ialah menghabiskan setengah hari atau satu hari penuh dengan teknologi tercepat, ideal di alam, tanpa jadwal. Dan yang berarti tanpa waktu layar. Sama sekali. Biarkan pikiranmu istirahat dan santai. Ambil berjalan tanpa tujuan. Merenungkan langit. Mungkin pada awalnya, kamu akan merasakan cemas dan gelisah karena kamu tidak biasa untuk tidak melakukan apa-apa. Ini hanya sebuah fase. Pikiran kita butuh waktu untuk menetap. Kamu dapat belajar untuk melemaskan pikiranmu. Kualitas hidupmu dan pekerjaan bergantung kepada itu.

Menjadi ambisius dan memiliki tujuan itu penting. Untuk dapat benar-benar mencapai tujuan dalam kemampuanmu yang terbaik, sebaiknya, kamu harus mencoba untuk berada di waktu sekarang. Berada di waktu sekarang membuat kamu menemukan rasa terpenuhi di situasi saat itu, sementara di sisi lain, daripada berada di masa depan yang jauh, setelah kamu sudah mencapai banyak hal dan mengerjakan semua tugas kamu yang berada di daftar.

Ketika kamu pelan-pelan dan 100% fokus pada tugas yang sedang kamu kerjakan atau sedang bersama orang, dan semua hal akan menjadi lebih cerita, bahkan ketika yang dikerjakan adalah hal yang tidak biasa. Kebahagiaan tersebut berubah dan mengarah dirimu pada kinerja yang lebih baik, menjadi lebih produktif, menjadi karismatik dan membangun hubungan yang lebih baik.  

3.    Cobalah sebaik mungkin untuk secara sadar berada pada waktu sekarang

Mulai dengan olahraga selama 10 menit. Contoh, jika kamu sedang menyelesaikan presentasi menggunakan Power Point atau sedang mengisi pembayaran pajak, kamu dapat memberikan pengelaman pada dirimu sendiri dengan memberikan perhatian penuh dan lihat hasilnya. Gunakan kegiatan ini untuk kesempatan kamu dalam melatih perhatianmu. Kamu mungkin akan menemukan bahwa, kamu mulai menyukai itu. Perhatikan bagaimana rasa gatal pada tanganmu ketika perhatianmu terganggu untuk ingin berlesancar di internet atau memeriksa telepon genggammu dan latih fokusmu.

Diluar dari pekerjaan, ambil waktu untuk melihat matahari terbenam, menyisir peliharaanmu atau berbelanja tanpa mengetik pesan, berbicara di telepon atau menyibukkan diri kamu dengan rencana lain di waktu yang sama. Semakin kamu berlatih untuk berada di waktu sekarang dengan aktifitas kamu, semakin kamu membuat diri kamu terbiasa dengan hadir di waktu sekarang. Ini bukan tentang, seberapa cepat kamu memotong sayuran atau seberapa cepat kamu dapat menyiapkan makan malah di waktu bersamaan. Ini mengenai memotong itu sendiri: temukan kenikmatan dalam memotong sayuran secara rata, sebagai contoh. Perhatikan setiap detailnya. (*)

Artikel Lengkapnya akan rilis dalam edisi kedua Book Coffee and More Magazine Vol II “Melawan Upaya Upaya Penyederhanaan”

___

From the book The Happiness Track: How to Apply the Science of Happiness to Accelerate Your Success, by Emma Seppälä, Ph.D. Copyright © 2016 by Emma Seppälä. Published by arrangement with HarperOne, an imprint of HarperCollins Publishers. | SEPPÄLÄ | The following story is excerpted from TIME’s special edition, The Science of Happiness.

Continue Reading

COFFEESOPHIA

Genius and Ink oleh Virginia Woolf – sebuah esai dalam ‘how to read’

mm

Published

on

Bagaimana Virginia Woolf sebagai kritikus muda menjadi novelis ternama? Buku ini menjawab pertanyaan tersebut.

Oleh Aida Edemariam | Diterjemahkan Oleh Safira

___

Pada usia 23 tahun, Virginia Woolf, yang baru menjadi yatim-piatu dan masih berjarak sepuluh tahun dari menerbitkan debut novelnya, ditugaskan untuk menulis ulasan untuk  TLS tahun 1905. Ia memulai, sebagaimana ditegaskan oleh Francesca Wade dalam kata pengantarnya, ia seperti pemula kebanyakan–dengan mengulas apapun yang diberikan oleh redaktur TLS kepadanya: buku panduan, buku resep, puisi, novel debut. Ia seringkali menyerahkan satu karya dalam seminggu, membaca buku pada hari Minggu, menulis–dalam TLS, media anonim, otoriter, dengan kata pengganti plural “kami”–hingga 1,500 kata di hari Senin, lalu turun percetakan pada hari Jumat. Ulasan tersebut membuahkan nama untuknya, setelah itu mereka menjadikannya seorang penulis.

Melalui karya-karya ini, ia “mempelajari kreasinya”, ia mengenangnya sebagai; “bagaimana cara memeras [ide]; bagaimana cara menyemarakkan”, bagaimana cara “membaca dengan pulpen dan catatan, dengan tekun”. Ia tentu saja tidak dapat melakukannya tanpa kebiasaan membaca sejak kecil (“waktu terbaik untuk membaca adalah di antara usia 18 sampai 24”, sebagaimana ia tuliskan dengan candaan, dalam “Hours in a Library”). Juga yang tak kalah penting adalah modal budaya yang ia dapatkan sebagai putri dari penulis tersohor, Leslie Stephen (dan yang ia sadari mempengaruhi karya Fanny Burney: “semua stimulus berasal dari keluar-masuk ruangan di mana orang dewasa membicarakan buku dan musik.” Ia memperoleh kepiawaian dari para jurnalis dan novelis (dari 107 pesta makan malam yang dihadiri Henry James dalam satu musim, misalnya, tanpa perasaan sungkan kepada mereka), dan kesantunan, paling tidak pada awalnya, untuk pintar-pintar mendapatkan perhatian dari “orang kantoran yang mengerjar kereta pagi hari” dan “orang penat yang baru pulang pada sore hari.”

Ia pun berlatih untuk menjadi seorang kritikus. Ia mempercayai bahwa, “kritikus yang hebat”—seperti seorang “Colerdige, terutama”- “adalah suatu kelangkaan” ; terlebih lagi, ia menuliskan drama dan sajak. Kritik bagi karya fiksi “berada pada tahap awal”, ia menyebutkan. Hal ini adalah kesempatan, sekaligus sebuah tantangan–di mana, sebagai anak muda, dan seorang otodidak, terdapat pertanyaan: apakah ia pantas? Kata pengganti “kami” yang bias terkadang terasa seperti jubah yang melingkupi dan melindunginya dengan pembenaran gaya congkak khas maskulin.

Sesuatu yang ia selalu banggakan adalah gayanya: kewenangan untuk membicarakan “apa yang ia sukai karena ia suka” dan “tak perlu berpura-pura suka atas apa yang tak disukainya”. Pendekatan ini dapat membuat seseorang menjadi bebal–tentang Ulysses, yang terkenal (“kekacauan yang terkenang– sangat menantang, bencana yang hebat”), dan lebih rumit saat menyentuh permukaan isu kelas (secara bergantian menyembah dan mengacuhkan kepada penulis “kota kecil” Thomas Hardy). Tapi hal tersebut juga merupakan asal dari seluruh wawasan terbaik datang, karena salah satu hal yang ia gemari adalah kegiatan yang penuh konsentrasi. Dan kesenangan dari koleksi seperti ini adalah menyaksikannya memburu kegiaan itu, yang menurut kita, seperti real-time: ini bukan keturunan Woolf, tapi seorang perempuan muda bekerja sesuai keyakinannya. Hal ini ternyata mendukung gambaran yang integral, alih-alih sekadar gambaran dekoratif; perasaan yang tulus berhadapan dengan perasaan manipulatif; dan sudut pandang yang jelas, antara  yang gamang dan yang lekat seperti halnya musim semi.

Perasaannya sebagai pembaca dan penulis ada dalam raganya–usianya, penyakitnya atau kesehatannya, konteks sosial dan geografinya, memori pribadi dan pengalamannya, terkhusus perkembangan emosionalnya–menghimpun keunggulan yang sangat berharga. Terlebih pada tanggapannya mengenai efek dari gender yang dimilikinya. Maka, ada pernyataan George Eliot, “the grave lady in her low chair”, dicibir oleh banyak kritikus lelaki karena tak menawan – “sebuah kualitas yang diidamkan perempuan”.  (kegagalan Eliot, bagi Woolf, terletak pada superioritas Woolf sebagai seorang heroine1, yang ia anggap memiliki kecerdasan lebih dibandingkan dengan orang udik lainnya.) atau Charlotte Brontë, yang ia anggap memiliki novel dengan “keganasan yang hebat”. Atau Aurora Leigh, dihinggapi oleh pencipta feminimnya. Menamai puisi Elizabeth Barrett Browning dengan “mahakarya dalam embrio” bukan omong kosong belaka.

Lalu terdapat deskripsi bahwa Eliot menggapai “yang dunia tawarkan bagi pikiran yang bebas dan selalu mempertanyakan”, hal itu, tentu saja, apa yang Woolf juga lakukan. Ulasannya penuh dengan hubungan dan gaung–antara dirinya dan subjeknya, namun juga antara bahasanya dan subjeknya. Maka ritme deskripsi dari buku terbaik Joseph Conrad menggemakan isinya–kalimat yang bergeming, hingga keanggunannya terlihat di atas geladak malam Conradian, menjelaskan capaian “sangat luhur dan elok” yang “melayang dalam kenangan seraya, di malam musim panas yang hangat ini, dengan cara yang agung, bintang pertama keluar diikuti yang lainnya”.

Dan keberaniannya, mengolok-olok hampir seluruh drama Shakespeare di era Elizabeth, dalam penyampaian yang mencitrakan kejadian riuh yang bertumpuk. Apa yang seharusnya pada akhir drama bukan karakteristik muram dan alur cerita yang menghibur, namun kurangnya keterpencilan dan juga kesunyian–dia benar-benar menggemakan tangisan hati sang novelis. (itu pada 1925, pada tahun Mrs Dalloway muncul). (*)

1 Heroine : tokoh utama perempuan yang dikagumi keberaniannya

Continue Reading

Trending