Connect with us

COFFEESOPHIA

Tak Ada Sajak di Kafe-Kafe

mm

Published

on

I

Samsara Duka
(Aug, 2020)
by Sabiq Carebesth

ISBN 978-623-93949-0-5
____
Puisi Sabiq Carebesth dalam buku ini menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi.Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat—Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi—dan lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan.
-Afrizal Malna, Penyair.
__
Buku ini bisa dipesan via kontak whatsapp 082111450777 atau tokopedia bookcoffeeandmore
Rp. 100.000

Aku tak menulis sajak untuk pembaca

Mereka mudah murka dan kecewa

Sajak-sajakku bukan pelipur lara

Aku menulis sajak untuk angin

Mereka hening dan luas.

Di sana

Sajak-sajakku bisa rebah istirah

Sebab kerap

Ia lelah menempuh jalan panjang

Melewati tiap hampa dan sia-sia;

Ia rapuh dan lambat

Tapi senantiasa mencari puncak;

Di sana hanya hening

Di sana hanya kekosongan;

Selalu hanya sejenak

Tapi sajakku memahami

Terjalnya jalan kembali ke mula

Ingatan dari mana ia lahir

Merepih jalan memuncak.

II

Aku pernah mengira sajakku terbuat dari waktu

Mengira tersusun dari sore yang menderita

Dengan bunyi senja yang beringsut pada gelap

Dangan tatakan dari kayu di mana jiwa dibelah;

Sementara kuncup bunga tetap mekar tak iba—

pada sajakku.

Tapi sajakku tak dibuat untuk pembaca

Sajakku memang bukan sajak

Ia hanya sajak—memenuhi takdirnya

Untuk memapah jiwa-jiwa

Keluar dari sekam hampa

Agar senantiasa berdetak

Meski dengan suara jauh

Meski dengan kebisuan serigala

Serupa kepak rajawali di pucuk langit

Atau suara kesunyian tempat ibadah

Yang ditinggalkan hasrat para penyembah

Karena kematian yang tak memberi aba

III

Sajakku

Sajak-sajak rapuh

Yang tak sanggup bertahan

Untuk sampai pada pembacanya

Ia lahir lalu mendaki

Kembali pada sepi sebelum sempat

Duduk di antara pengunjung kafe

Yang tak pernah sempat menuntaskan

Menulis sajak tentang sajak-sajak

Tapi kini tak ada sajak di kafe-kafe

Sebab di luar hujan membadai

Orang-orang berlindung dalam kaca

Senantiasa sia-sia dan mengulanginya

Mereka membayar gairah

Dengan cinta yang ditambatkan sejenak

dan terburu;

Tak sempat bercumbu

Sibuk mengulur waktu

Seolah waktu segera habis

Dan kebisuan pun tak sempat memakna

IV

Aku menulis sajakku di kafe

Tapi sajakku bukan sajak

Sajakku tidak ditulis

Untuk dibaca para pembaca

Aku menulis sajak di kafe

Tapi tak ada sajak di kafe-kafe

Dan kau menunggu akhir sajakku?

Aku tidak menulis sajak untukmu

Aku telah menghapus dendam sukmaku

Sebelum sempat menjadi sajak

Maka sajakku tak punya kekuatan

Untuk meledak dan menulis sejarah

Waktu selalu lekas

Tapi sajak-sajak tidak

Sebab ia kedinginan

Seperti rumah yang ditinggalkan

Seperti pendaki di ujung petang

Ia hanya ingin istirah

Atau pohon-pohon kepurbaan akan menelannya

Hilang dalam gerbang sepi

Membeku bersama dingin

yang tak mungkin dipahaminya.

V

Kenapa sajak-sajak harus ditulis untuk pembaca?

Sajakku tak kutulis untuk pembaca!

Aku tak ingin sajakku dibaca

Sajakku bukan sajak

Aku ingin sajakku dibentangkan

Dalam sukma sehingga jiwamu membahana

Atau biarkan sajakku

Menjadi lumut pepohonan

Yang mewarnai jiwa

Menjadi selimut bagi tubuh waktu

Dan ketika para serigala menjadi sepi

Sajakku menjulang mengabarkan nyanyian

Agar sang rajawali kembali

Menemui kekasihnya yang tersesat

Di antara belantara kesepian

Di antara pepohonan purba

Dan para pendaki masih mencari

Nyanyian bagi jiwanya yang duka

Maka kutulis sajakku

Untuk menjadi kabut

Selimut bagi jiwa yang beku

Agar penantiannya menumbuhkan dedaunan rindu

Yang berguguran di hutan-hutan waktu

Menjadi api bagi peziarah puncak

Dengannya kehangatan menyerta

Peziarah tiba di puncaknya

Dan sajakku merayakan kenangannya

Sendirian..

VI

Sementara di kafe aku memesan kopi

Sambil melihat matahari berwarna putih

Aku tak juga mendapati sajak-sajak

Tak mendapati dedaunan dan peziarah

Tidak serigala kedinginan

Tidak juga rajawali yang kesepian

Kekasihku pun tak ada

Aku mencari sajak-sajakku

Tak ada yang membacakannya

Di kafe hanya pendusta

Yang membual tentang mimpi

Menebus hasrat dengan cinta

Yang sebentar dan tak berbalas

Masing-masing menjauh dari jiwanya

Kehilangan sajak-sajak milik jiwanya

Dan sajakku tak kunjung berhenti

Bernyayi ria dalam tarian kalbuku

Ia ingin berkisah tapi aku mulai lelah

VII

Aku harus pulang

Membawakan sisa sajakku

Anak gadisku telah menunggu

Di ranjang dengan ribuan malaikat

Menantiku membacakan sajak-sajakku

Di rumah kubacakan sajakku

Untuknya entah ratusan malaikat:

“Tak ada sajak di kafe-kafe

Pergilah pada jauh

Mendakilah pada hasrat

Sebab cinta membawa para ksatria

Pergi berperang sebagai martir

Untuk menaklukkan kesepiannya sendiri

Maka jadikan tanganmu perisai

Dan hatimu martir.”

___

Sabiq Carebesth, 2019

Continue Reading
Advertisement

COFFEESOPHIA

Free “Book Coffee and More” Literature Magazine ( Content Overview )

mm

Published

on

Book Coffee and More—Literature Magazine adalah majalah yang dikelola oleh tim editorial galeribukujakarta.com

“Sublim Imajinasi Perempuan” adalah edisi perdananya. Mengulas dan menyajikan perspektif dalam relasi laki laki dan perempuan dalam kaitan dengan proses kreatif mau pun lingkar sosiologis-historis yang mengandaikan terbentuknya pola-pola mapan dalam kanon sastra mau pun sosial politik. Setelah membaca edisi ini pembaca diharapkan memiliki keberanian untuk menyediakan jawaban atau untuk memiliki pertanyaan dengan kebebasan lebih sublim bagi nalar kritisnya sendiri–baik untuk laki-laki mau pun perempuan. Virginia Woolf, Isabel Allende, Adania Shibli, Alice Munro, Haruki Murakami hingga Nietszche dibahas dalam edisi kali ini, memberi pembaca perspektif baik proses kreatif mau pun cara hidup lebih baik dan bahagia.

Tetapi kebebasan ini hanyalah permulaan–ruangan itu milik Anda sendiri, tetapi masih kosong. Ruangan itu harus dilengkapi; harus dihias; harus dibagi dengan yang lain. Bagaimana Anda akan melengkapinya, bagaimana Anda akan menghiasnya? Untuk pertama kalinya dalam sejarah Anda dapat memutuskan sendiri apa jawabannya.–Virginia Woolf, A Room of One’s Own

Mengadu jenis kelamin satu dengan lainnya, kualitas melawan kualitas; segala hal yang mengklaim superioritas dan menuduhkan inferioritas, [peran-peran tersebut yang] berasal dari panggung pendidikan privat dalam eksistensi manusia di mana terdapat ‘pihak-pihak,’ dan sangatlah penting bagi pihak yang satu untuk mengalahkan pihak yang lain, dan betapa pentingnya untuk berjalan menuju panggung dan menerima plot ornamental yang bernilai itu langsung dari tangan sang kepala sekolah. –Virginia Woolf, Three Guineas.

Terbit dalam edisi khusus 80 halaman full warna, kerja cinta yang membutuhkan dukungan anda untuk membelinya–kesemuanya untuk mendukung keberlangsungan Galeri Buku Jakarta. Anda bisa memiliki edisi cetaknya seharga Rp. 55.000 melalaui Tokopedia Bookcoffeandmore atau menghubungi whatsapp 082111450777. Klik tautan berikut untuk mengunduh gratis edisi perdana Book Coffee and More “Sublim Imajinasi Perempuan” (Content Overview).

___

Tentang Galeri Buku Jakarta

Para penulis dan kontributor yang dicintai pembacanya. Kisah-kisah itu penting dan membawa para pembaca pada kedalaman nun filosofis.

Galeri Buku Jakarta mengetengahkan tulisan penting dan mendalam juga kolom dan komentar ahli tentang berita dan politik, bisnis dan sains, serta budaya pop dan seni, bersama dengan dosis dari publikasi puisi dan cerita pendek juga kajian bukunya yang khas. Selain edisi dari majalah cetak yang rilis pada Agustus 2020 secara ekslusif dan artistik yang indah, mencakup juga konten cetak, digital, audio dan video, dan acara langsung—pengaruh budaya dan jangkaunnya perlahan menjadikan Galeri Buku Jakarta menjadi kerja kolektif yang patut dipertahankan.

GALERI BUKU JAKARTA selalu memiliki misi ganda: untuk mempromosikan penulis yang paling menarik dan untuk mendukung pembaca yang ambisius dan ingin tahu. Mengembangkan penalaran dan menghadirkan kedalaman dalam pengertiannya yang filosofis untuk merebut kesadaran warga khususnya kelompok milenial dengan jalan sastra-kebudayaan dari keterasingan dan banalitas sosial yang kerap tak terhindarkan dari perebutan akses ekonomi, pasar, hegemoni mau pun politik. Seiring berlalunya waktu, Galeri Buku Jakarta telah mendapatkan pembaca dan menemukan tempat-tempat baru untuk pertukaran itu. Semua pekerjaan ini berkembang dengan dukungan dari komunitas kami.

Setiap minggu selama lebih dari 6 tahun, Kami telah mencurahkan waktu, pikiran, cinta, dan sumber daya yang luar biasa ke Galeri Buku Jakarta yang tetap bebas (dan bebas iklan) dan dimungkinkan oleh patronase. Kami membutuhkan ratusan jam sebulan untuk meneliti dan menulis, dan ratusan juta untuk bertahan. Jika Anda menemukan kegembiraan dan penghiburan dalam kerja cinta ini, silakan pertimbangkan untuk menjadi Pelindung, Pendukung dengan menjadi donatur atau mensponsori kerja-kerja kami dengan membeli buku mau pun majalah yang kami terbitkan. Di antara petang dan kopi yang anda nikmati, dukungan anda akan sangat berarti. (SC)

Salam Hormat Kami

Sabiq Carebesth/ Editor

Continue Reading

Buku

Afrizal Malna: Puisi Sabiq, tik-tok dinamika dualisme dari identitas yang tak pernah lengkap dan tuntas

mm

Published

on

Oleh Afrizal Malna

Buku kumpulan puisi Sabiq Carebesth ini dilengkapi dengan epilog yang ditulis Sabiq. Di dalamnya dijembrengkan pantulan utama kenapa buku puisi ini ditulis dan berapa lama waktu yang digunakan untuk menulisnya.

SAMSARA DUKA
By Sabiq Carebesth
ISBN 978-623-93949-0-5


Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Eksprsionisme semcam itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisi “Samsara Duka”. Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. Pada dunia senirupa hal semacam itu tampak misalnya pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.
Afrizal Malna—Penyair

__
Berisi 32 sajak dalam desain buku full colour 82 halaman. Buku ini akan dirilis pada pekan pertama September 2020

Dalam platform supermarket di sekitar kita (di kota-kota besar), ada kebiasaan ruang kasir tidak hanya berfungsi sebagai tempat membayar barang yang kita beli. Beberapa produk masih ikut didisplay di sekitar meja kasir. Salah satu di antaranya adalah buku catatan berwarna merah. Sabiq mengambil buku ini, warna dan baunya alih-alih menjadi pemicu utama untuknya mengambil keputusan pasti untuk menulis buku puisi ini, dan Sabiq menyelesaikannya dalam waktu satu minggu dengan judul buku: Samsara Duka. Bagaimana “warna” dan “bau” memberi aura spesifik dan membawanya untuk menulis.

Epilog itu merupakan catatan penting untuk mengerti bahwa asal-usul sebuah karya bisa sangat tidak terduga. Mengingatkan novelis Haruki Murakami yang tiba-tiba mendadak memutuskan bahwa dirinya akan menjadi seorang novelis setelah menonton sebuah pertandingan baseball. Tidak ada hubungan langsung antara baseball dengan novel, atau bau kertas dengan puisi. Peristiwa ini adalah sebuah saat di suatu tempat di mana sesuatu, apa pun itu, tiba-tiba membuat kita tercerahkan. Atau membuat kita “menemukan sesuatu yang hilang”, walau kita tidak tahu apa “yang hilang” itu.

Beberapa orang di antara kita, atau banyak orang, merasa tumbuh sebagai “identitas yang tidak lengkap”. Kemudian ada konsep pasangan “perempuan dan lelaki” atau konsep “persahabatan”. Kita merasa lengkap bersama seseorang yang kita cintai atau bersama seorang sahabat. Ketika salah satu di antaranya putus, kerangka “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu terkesan definitif, kerja metafornya berhenti.

Dalam kumpulan puisi Sabiq ini, proposisi “identitas yang tidak lengkap” dari “yang hilang” itu diposisikan dalam beberapa kategori: perempuan dan lelaki, tubuh dan jiwa, rumah dan jalan, cahaya dan bayangan, kopi dan gelasnya, buku dan pedagang buku yang semuanya berelasi untuk saling melengkapi, bahkan “malam yang tidak punya maghrib dan subuh”:

Perjalanan tanpa maksud

Tanpa timur dan barat

Magrib dan subuhnya

Adalah dunia asing bagi malam

Sebutir debu tak jadi sejarah

Hingga ia menjadi badai

Sabiq menghubungkan beberapa konsep yang berjauhan dan tidak berada dalam satu rumah tangga leksikal, menjadi jalinan struktur yang padat dan meledak. Dalam kutipan di atas, tema yang diluncurkan Sabiq berada dalam spektrum “badai di antara debu dan sejarah”. Kerja metafor dalam kutipan puisi ini tampak tuntas, tidak menyisakan pertanyaan yang tak perlu.

Selamat jalan

Bungkuskan segelas kopiku

Yang penghabisan—

Konsep “yang hilang” juga dituntaskan sebagai “perpisahan”. Momen kreatif kadang mengungkapkan sebuah drama di mana seseorang berada dalam momen “menemukan”, “tercerahkan” kemudian kembali “berlalu”. Lingkaran ini tepat berada dalam doktrin “samsara” dari korpus filsafat India di sekitar Hindu, Budha maupun Jainisme sebagai pusaran spiritual yang kompleks dialami manusia. Dalam konsep ini berlangsung siklus reinkarnasi, karma, pelepasan dan pembebasan ke konsep immaterial. Tetapi apakah kumpulan puisi ini tentang sebuah kisah patah hati dalam hubungan percintaan? Tunggu dulu. Sebentar.

Sabiq menyelesaikan karyanya dalam waktu sepekan. Sebuah durasi yang bisa menjadi perbincangan antara “kerja panjang” atau “kerja singkat” dalam berkarya. Kerja panjang mengandaikan proses produksi dengan ketelitian pada setiap matarantainya dari A hingga Z. Mungkin juga berlangsung proses evaluasi atas sebuah karya sebelum diluncurkan ke publik, mempertimbangkannya berdasarkan beberapa tantangan baru yang dihadapkan ke karya, bahkan mengintervensinya secara brutal untuk menguji puisi yang kita buat.

Kerja singkat, seperti yang dilakukan Sabiq, umumnya mengandaikan keserentakan antara padat, spontan dan intens. Seingat saya, Putu Wijaya juga berada dalam metode kerja seperti ini. Bahkan mungkin editing tidak perlu. Editing membuat nafas karya menjadi tidak lagi organik, terasa artifisial, lebih tepat menjadi kerja studio atau pabrik dengan berbagai prosedur produksi yang harus dilalui. Bahkan salah ketik bisa dilihat sebagai tubuh-organik puisi.

SABIQ CAREBESTH
Lahir Pada 10 Agustus 1985. Pernah Sebentar Merupakan Penulis Lepas/ Kolumnis Untuk Beberapa Koran Dan Media Nasional. Merupakan Pendiri Dan Editor Utama Untuk Laman Galeribukujakarta. Com. Buku Kumpulan Sajaknya Terdahulu “Memoar Kehilangan” (2012) Dan “Seperti Para Penyair” (2017). Saat Ini Tinggal Di Antara Kota-Kota Itu, Duduk Mengeja Waktu Di Kafe Kafe Itu.

Dalam kerja singkat, ketiganya (padat, spontan dan intens) masih dijadikan metode maupun konsep penulisan yang tetap digunakan hingga kini dan terbuka untuk dikembangkan para penulis. Ketiganya juga bisa dikaitkan dengan denyut nafas maupun jantung yang bekerja konstan dan intens dalam tubuh kita, bahwa menulis mengikuti mekanisme biologis tubuh kita. Dan seperti meditasi, pusat mekanisme biologis ini sering dilihat pada gerak nafas yang konstan. Dalam kerja sastra, biasanya terkait langsung dengan genre Haiku dalam tradisi puisi Jepang: puisi sebagai satu tarikan nafas.

Pacu kuda jiwa sejauh jalan

Sabiq tentu tidak memaksudkan puisinya sebagai Haiku. Puisinya bagian dari kegelisahan manusia modern yang traumatik atas bahasa, dan karena itu menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Api, gunung, jiwa, tuak, mabuk, badai, tali ikatan, pilihan kata-kata ini dapat kita temukan dalam salah satu bait puisi Sabiq Carebesth:

Api unggun di gunung jiwa padamkan

Tenggak tuak hidup hingga mabuk

Biar kepayang biar badai menerjang

Kita bertahan atau lepas tali ikatan

Baris itu merupakan konstruksi utama bagaimana Sabiq membangun tubuh-puisi dalam kumpulan puisinya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat. Umumnya disebut sebagai ekspresionisme. Konspirasi arbitrer antara bahasa dan kenyataan dialihkan atau dibelokkan ke arah “pengujar”, seolah-olah bahasa bisa dilihat, digenggam atau dipeluk melalui semacam internalisasi atas “jiwa bahasa” yang dilakukan penyair. Ujaran (produk narasi dalam puisi) mendapatkan bentuknya melalui bagaimana pengujar menempatkan hubungan-hubungan dalam puisinya.

Puisi-puisi karya Charles Baudelaire, naskah teater atau cerpen August Streindberg maupun para penyair sufi, sering digunakan sebagai rujukan untuk ekspresionisme. Penyair seolah-olah menjelajahi bahasa melalui jiwa, bukan melalui tubuh. Dalam senirupa misalnya tampak pada karya-karya S. Sudjojono, Affandi, Van Gogh atau lukisan Screm karya Edvard Munch yang terkenal itu.

Sabiq menggunakan tubuh dan jiwa sebagai “tik-tok” dinamika dualisme dalam berbagai penurunan paradoks-paradoksnya. “Tik-Tok” merupakan platform internet yang muncul dalam media sosial berbasis video. Platform ini seperti pantun yang bekerja dalam prinsip-prinsip visual medium video. Pelaku masuk ke dalam dinding templete yang sudah tersedia dalam aplikasi yang digunakan. Para tiktokker (sebutan untuk kalangan pemakai Tik-Tok) bekerja baik melalui instagram, FB maupun youtube. Tradisi ini pada puisi bisa kita temukan dalam praktik pantun maupun rima di mana puisi diproduksi melalui dinamika persamaan bunyi pada kata, terutama melalui elemen bunyi huruf vokal.

Sekujur tubuhku telah

Membebani sukmaku yang lara

Nafas ini menenggelamkan

Rinduku yang lagut, sungguh

Aku ingin pulang ke rumah

Di mana rumahku, Mas?

Sudah dikubur—begitu jauh

Kenapa aku harus di sini

Di atas ranjang aneh

Birahiku telah mati—untukmu

Bagaimana kau akan

Bercumbu dengan kematian?

Kebutuhan atas rujukan leksikal agar puisi tetap terhubung dengan wilayah aposteriori yang bisa dialami, membawa Sabiq melakukan personifikasi tik-tok melalui representasi “perempuan dan lelaki, rumah dan kubur”. Pointnya berada pada kebutuhan menggemakan hubungan aktif antara kehidupan dan kematian, atau membuat hubungan indeksikal antara kehidupan dan kematian. Pada sebagian besar puisinya, kerja personifikasi ini menjadi bagian dari konstruksi gender pada umumnya: perempuan dan elemen-elemen performativitas di sekitar lipstik, celana dalam, punggung dan telanjang.

Kematian, kehidupan, cinta, birahi, dendam, maupun duka merupakan lingkaran utama yang berkelindan dalam puisi-puisinya:

Berkilat luka-luka masa lalu

Bagai belati dari timur

Dikubur pasir gurun

Terik tanpa musim

Berabad luka berabad duka

Berabad-abad dusta

Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar untuk melihat apakah kumpulan ini memang berbicara tentang putusnya hubungan cinta perempuan dan lelaki. Samsara dan duka di sini menjadi tidak terpisahkan antara “yang-menggerakkan” dan “yang-digerakan”. Duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi.

Dalam gelap kulihat bayang dukamu

Sekali itu kutahu

Dukamu bukan lagi tentangku

Gelap tetap digunakan sebagai setting agar duka seolah-olah bisa dilihat bahkan hanya sebagai bayangan. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan: Sejak itu dukamu— Bukan lagi sajak-sajakku. Dan melepasnya kembali: Kita menua dan tak sengaja menderita.

Bukan kesimpulan. Melainkan kilas balik: Sabiq melihat buku catatan dengan kertas berwarna merah dengan bau khas dijual di meja kasir sebuah supermarket. Buku dengan kertas kosong itu memang memprovokasi untuk menuliskan sesuatu di atasnya. Kertas itu memprovokasi “identitas yang tidak lengkap” sebelum menuliskan sesuatu di dalamnya.

Dalam kumpulan puisi Sabiq itu, tetap tertinggal sebuah pertanyaan: di manakah tersisa warna merah dan bau khas dari kertas itu? Dan saya menutup pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban ini, terutama dalam konteks dinamika identitas yang tidak lengkap dan tidak pernah tuntas dengan kutipan puisi Sabiq ini:

Yang tak kau tahu kekasihku

Bahwa aku tak tahu siapa aku

Meski saban waktu

Kutimang jiwaku

Surabaya, 11 Mei 2020

POSTER: SAMSARA DUKA–Printed on acid-free book paper with full colour, in a limited edition, available exclusively from Galeri Buku Jakarta, with all proceeds going to support the galeribukujakarta.com
Continue Reading

Trending