Connect with us

Art & Culture

T.S. Eliot : Tradisi Dan Bakat Individu

mm

Published

on

            I

            Dalam tulisan khas Inggris kita tidak begitu banyak bicara tentang tradisi, meski sesekali kita memakai kata ini demi mengisi ketidakhadirannya. Kita tidak bisa mengatakan “ini tradisi” atau “suatu tradisi”; Tapi kita lebih banyak menggunakan kata sifat dalam mengatakan puisi si anu “tradisionil” atau bahkan “terlalu tradisionil”. Jarang barangkali kata ini muncul, kecuali dalam suatu ungkapan mencela. Kalaupun kata ini dipakai, kata ini juga membingungkan dan susah diterima dengan baik, dengan implikasi, sebagaimana kata ini harus disetujui, dengan rekonstruksi arkeologis yang bagus. Anda bakal susah membuat suatu kata bisa diterima oleh telinga orang Inggris tanpa acuan ilmu pengetahuan arkeologis yang meyakinkan.

Tentunya kata ini tidak bakal hilang dalam apresiasi kehidupan atau penulis kita terdahulu. Setiap bangsa, ras, tidak hanya punya perubahan pikiran yang kreatif tapi juga kritis; bahkan kelemahan dan batasan kebiasaan kritisnya tidak begitu diperhatikan dibanding bakat kreatifnya. Kita tahu, atau kita mengira kita tahu, dari begitu banyaknya tulisan metode kritis atau kebiasaan kritis dalam bahasa Perancis; kita lalu menyimpulkan ( alangkah tidak sadarnya kita) bahwa orang Perancis “lebih kritis” dibanding kita, dan kadang kita pun berkilah dengan mengatakan sebaliknya bahwa orang perancis kurang spontan. Barangkali memang begitu, tapi harus diingat bahwa kritik adalah kemestian, layaknya bernafas, dan kita jangan sampai tidak bisa mengartikulasikan ide dalam pikiran kita di saat membaca sebuah buku dan merasakan emosi yang diakibatkannya, karena dengan mempertanyakan pikiran kita sendiri kita bisa bisa melakukan kritik atas karya mereka. Satu fakta yang perlu diperjelas dalam proses ini adalah kecenderungan kita dalam menekankan aspek-aspek karya seseorang, misalkan saat kita sedang memuji sebuah puisi, bahwa karyanya tidak begitu mirip dengan karya si anu. Dalam aspek dan bagian karya orang ini, kita lalu berusaha menemukan apa yang khas secara individu, yang esensial manusia. Kita lalu tenggelam dalam kepuasan meihat perbedaan penyair ini dengan pendahulunya, khususnya siapa saja yang mempengaruhi karyanya; kita berusaha sedemikian rupa menemukan sesuatu yang bisa dijauhkan untuk kita nikmati sendiri. Sedangkan kalau kita mendekati seorang penyair tanpa prasangka ini, kita akan sering menemukan tidak hanya karya terbaiknya tapi juga bagian-bagian paling individual yang barangkali terdapat dalam karya penyair yang telah meninggal, para penyair awal, yang abadi. Yang saya maksud bukan periode awal era impressionis tapi periodenya yang sudah matang.

Sekiranya keberlangsungan bentuk tradisi hanya dengan cara langsung bulat-bulat mengikuti kesuksesan generasi sebelumnya, maka “tadisi” seharusnya tidak usah dilanjutkan. Kita banyak melihat contoh-contohnya yang hilang begitu saja; karena kebaruan lebih baik dibanding pengulangan. Tradisi mencakup masalah lebih luas lagi. Tradisi tidak bisa diwarisi, tapi kalau anda ingin, anda harus meraihnya dengan usaha yang luar biasa. Yang utama di sini adalah kepekaan akan sejarah (the sense of history), yang harus dimiliki setiap orang yang tetap ingin menjadi penyair setelah berumur dua puluh lima; dan kepekaan akan sejarah melibatkan suatu persepsi, bukan hanya tentang kemasa-laluan apa yang sudah terjadi, tapi juga ke-kini-an; kepekaan akan sejarah tidak hanya membuat seseorang menulis tentang generasinya sekarang semata, tapi dengan kesadaran bahwa dari kesusastraan Eropa sampai Homer dan keseluruhan sastra dimana ia berada, hadir terus menerus dan membentuk keteraturan yang berkesinambungan. Kepekaan akan sejarah adalah kepekaan akan yang abadi sekaligus yang sementara dan yang abadi dan yang sementara bersamaan. Inilah yang membuat seorang penulis “tradisionil”. Dan pada saat yang sama, ini juga yang membuatnya sangat menyadari akan ikatan tempat dan waktu, dimana ia berada.

Tak seorang penyair, atau seniman manapun, yang bisa punya arti lengkap tersendiri. Arti pentingnya, apresiasinya adalah apresiasi dari hubungannya dengan penyair yang terdahulu dan yang sekarang. Anda tidak bisa menilainya semata-mata ia sendiri; anda harus menempatkannya dalam perbedaan dan perbandingan dengan penyair yang terdahulu. Yang saya maksud adalah prinsip estetika, tidak hanya sejarah atau kritik. Perlunya bahwa ia cocok, atau sesuai adalah masalah satu sisi; apa yang terjadi ketika suatu karya seni tercipta adalah sesuatu yang terjadi berkelanjutan pada semua karya seni sebelumnya. Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu. Dan seorang penyair yang punya kesadaran akan hal ini sadar akan kesulitan pelik dan tanggung jawabnya.

Dalam hal tertentu, seorang penyair sadar bahwa ia bisa saja dinilai dengan standart nilai masa lalu. Saya tekankan di sini, “dinilai”, bukan “dibantai” , oleh nilai-nilai tersebut, tidak dinilai sama bagusnya dengan, atau lebih jelek atau lebih baik dari penyair terdahulu; dan juga bukan dinilai oleh kritikus master/sokoguru sastra  yang pernah ada. Yang saya maksud adalah suatu penilaian, perbandingan, dimana dua hal diukur oleh satu sama lainnya. Menyetujui semua hal yang baru bukan berarti menerima semuanya; tentunya tidak baru lagi kalau diterima semua, dengan demikian, tidak menjadi suatu karya sastra lagi. Kita tidak bermaksud mengatakan bahwa hal yang baru lebih bernilai karena kecocokannya, tapi kecocokan ini adalah tes nilai – suatu tes, yang memang benar, yang hanya bisa dipakai dengan perlahan dan hati-hati, karena tidak satu pun dari kita dengan penilaian mutlak terhadap konformitas. Kita katakanlah: kelihatannya konformitas, tapi bisa juga individual, atau kelihatannya individual, tapi bisa jadi konformitas; namun kita susah juga menetukan apakah konformitas atau individual.

Untuk menghasilkan penjabaran yang cerdas tentang hubungan penyair dan masa lalu: seorang penyair tidak bisa menganggap masa lalu sebagai benjolan yang mengganggu, suatu obat sembarangan, ia tidak bisa saja fanatik pada satu atau dua orang yang dikaguminya, atau pada satu periode tertentu. Keadaan pertama tentu tidak bisa diterima, yang kedua tentu berhubungan dengan pengalaman masa muda penting penyair, dan yang ketiga adalah suplemen menyenangkan yang diingininya. Seorang penyair harus selalu mengikuti perkembangan zaman, yang tentu saja tidak mengalir secara tetap selama reputasinya sedang menanjak. Ia mesti selalu sadar akan fakta bahwa seni tidak pernah berubah, tapi bahan seni lah yang tidak pernah sama. Ia mesti sadar bahwa alam pikir Eropa – alam pikir negerinya sendiri – suatu alam pikir yang ia pelajari selama hidup yang jauh lebih penting daripada alam pikirnya sendiri, selalu berubah, dan bahwasanya perubahan ini adalah perkembangan yang tidak membuang apapun selama perubahan itu terus berlangsung (en route), yang tetap menghidupkan apakah itu karya Shakespeare, Homer, atau juga lukisan bebatuan pelukis era Magdalenian. Dari sudut pandang seniman, perkembangan atau perbaikan ini, yang memang rumit,  barangkali bukanlah suatu kemajuan, dari sudut pandang psikologis mungkin juga begitu, atau dari apa yang kita bayangkan sekalipun; mungkin hanya dari sisi ekonomi dan permesinan saja adanya kemajuan. Tapi yang jelas, perbedaan antara masa sekarang dan masa lalu adalah bahwa kesadaran ke-kini-an adalah kesadaran akan masa lalu dalam suatu cara dan pada pengertian dimana kesadaran kemasa-laluan itu sendiri tidak akan bisa muncul.

Seseorang pernah berkata: “Penulis yang telah meninggal jaraknya jauh dari kita karena kita tahu jauh lebih banyak daripada apa yang mereka tahu” Pendeknya, mereka adalah apa yang kita tahu.

Saya menaruh perhatian pada keberatan umum dari apa yang jelas-jelas merupakan bagian dari keahlian saya dalam kekhasan (metier) puisi. Keberatan ini adalah bahwa doktrin tentang puisi yang membutuhkan pengetahuan yang melimpah, yang terlihat menyombongkan (pedantry), suatu klaim yang bisa ditolak dengan pertimbangan kehidupan para penyair yang tinggal dalam kuil-kuil panteon. Bahkan diperkukuh bahwa kebanyakan belajar akan mematikan atau menyimpangkan sensibilitas puisi. Namun sebaliknya, kita tetap meyakini bahwa seorang penyair harus mengetahui sebanyak tidak menggerogoti daya penerimaan dan kemalasannya berkarya, kita tidak menginginkan pengungkungan pengetahuan ke dalam berbagai bentuk ujian yang berguna, ruang gambar, atau bentuk publisitas ketenangan yang mewah. Beberapa penulis bisa menyerap pengetahuan, dimana semakin tekun ia semakin bagus hasil karyanya. Shakespeare lebih banyak memperoleh pengetahuan sejarah penting dari buku Plutarch dibanding keseluruhan Museum British. Apa yang perlu ditekankan disini adalah bahwa penyair harus mengembangkan atau mendapatkan kesadaran masa lalu dan ia harus terus melanjutkan kesadaran ini sepanjang karirnya.

Apa yang terjadi adalah penyerahan diri secara berkelanjutan sebagaimana ia berada pada momen yang lebih berharga. Kemajuan seorang penyair adalah pengorbanan diri terus menerus, suatu penghilangan personalitas tiada henti.

Disinilah bagaimana harus mendefenisikan proses penghilangan diri (depersonalization) dan hubungannya dengan kepekaan tradisi. Dalam proses penghilangan diri inilah seni dikatakan memasuki ranah sains. Untuk itu saya mengajak Anda untuk menyadari hal ini, sebagai usulan analogi, tindakan yang yang berlangsung ketika serpihan platinum sepuh tak berharga dimasukkan ke dalam bilik berisi oksigen dan sulfur dioksida.                           

 

II

 

Kritik yang jujur dan apresiasi yang mengena bukan ditujukan pada si penyairnya, tapi karyanya. Kalau kita mengikuti ulasan kritik sastra yang marak dan berulang-ulang di koran, kita akan menemukan sederet nama penyair. Kalau kita hanya mencari kesenangan puisi semata tanpa pengetahuan mendalam, dan kita meminta sebuah puisi, ini jarang ditemukan. Saya sudah menjelaskan pentingnya hubungan puisi dengan puisi dari penyair lainnya, dan mengusulkan konsep puisi sebagai suatu kehidupan yang menyeluruh dari semua puisi yang pernah ditulis. Aspek lain dari teori impersonal (Impersonal Theory) puisi adalah hubungan sajak puisi dengan penyairnya. Dan disini saya mengisyaratkan dengan sebuah analogi, bahwa perbedaan pikiran penyair yang matang dengan yang tidak matang tidak semata-mata terdapat dalam evaluasi “personalitas”, bukan hanya apakah puisi tersebut lebih menarik atau tidak, atau apakah puisi tersebut mempunyai isi “yang lebih banyak yang bisa dikatakan”, tetapi perbedaan ini lebih pada penyempurnaan puisi sebagai medium  dimana perasaan spesial, atau yang beragam, bebas memasuki suatu kombinasi baru.

Analoginya sama dengan katalis. Ketika oksigen dan sulfur dioksida dicampur dalam kawat platinum halus, mereka membentuk asam sulfur. Kombinasi ini hanya terjadi jika platinumnya ada; dengan begitu, asam yang baru terbentuk tidak meninggalkan bekas platinum, dan platinum itu sendiri tidak terpengaruhi: platinumnya tetap ada, bersifat netral, dan tak berubah. Alam pikir penyair seperti serpihan platinum. Secara terpisah dan eksklusif bekerja terhadap pengalaman manusia itu sendiri; tapi, semakin sempurna penyair, semakin lengkap keterpisahan dalam dirinya sebagai manusia yang menderita dan pikiran yang mencipta, semakin sempurna pula lah pikirannya mencerna dan mengubah semangat (passions) sebagai materinya.

Pengalaman, seperti yang Anda nanti bisa lihat sendiri, adalah elemen yang memasuki kehadiran katalis yang mengalami perubahan. Ada dua macam pengalaman, emosi dan perasaan. Pengaruh karya seni terhadap seseorang yang menikmatinya adalah  suatu pengalaman yang berbeda dengan pengalaman seseorang terhadap yang bukan karya seni. Pengalaman ini bisa terbentuk dari suatu emosi, atau bisa juga kombinasi beberapa hal; dan berbagai bentuk perasaan, dan apa saja yang melekat pada puisi itu sendiri seperti kata-kata khusus, frase atau gambaran (images), yang ditambahkan oleh bentukan hasil akhir. Atau bisa juga sebuah puisi yang bagus dibuat tanpa adanya emosi langsung apapun: puisi yang ditulis semata-mata dari perasaan. Canto XV Inferno (Brunetto Latini) sebagai contoh, adalah puisi yang ditulis dengan adanya bukti situasi emosi; tapi pengaruhnya, meski hanya satu seperti karya puisi lainnya, bisa diperoleh dengan kompleksitas hal-hal terperinci. Kuatrain berikut ini menghasilkan suatu gambaran, suatu perasaan yang melekat pada satu gambaran, yang “datang”, yang tidak berkembang dengan begitu saja dari yang sebelumnya, tapi yang mungkin berada dalam penangguhan (suspension) alam pikir penyair sampai akhirnya kombinasi yang pantas muncul bertambah.

Terjemahan Dorothy L. Sayers:

Then he turned round,

And seemed like one of those who over the flat

And open course in the fields beside Verona

Run for the green cloth; and he seemed, at that,

Not like a loser, but the winning runner.

 

Alam pikir penyair adalah wadah untuk menggunakan dan menyimpan perasaan yang tak terhitung banyaknya, frase, gambaran, yang menggenang di sana sampai akhirnya semua partikel yang bisa menyatu membentuk gabungan baru hadir bersamaan.

Kalau Anda bandingkan beberapa puisi representatif yang pernah ada, Anda akan lihat begitu hebatnya keragaman jenis kombinasi dan kelengkapan kriteria semi-etis “keindahan (sublimity)” di dalamnya. Karena itu, masalahnya bukan “kehebatan (greatness)”, intensitas, tekanan, emosi, komponen, tetapi adanya intensitas proses artistik, dengan cara lain bisa dikatakan suatu tekanan di bawah percampuran yang berlangsung, inilah yang penting. Episode puisi Paolo Francesca menggunakan emosi yang terbatas, tapi intensitas puisinya menjadi sesuatu yang berbeda dari intensitas pengalaman kesan apapun terhadapnya. Dalam Canto XXVI, perjalanan Ulysses, juga tidak terlepas dari ketergantungan langsung terhadap emosi. Kehebatan keragaman bisa saja hadir dalam proses transmutasi emosi: contohnya pembunuhan Agamemnon, atau penderitaan Othello, puisi-puisi ini memberikan efek artistik jelas yang lebih dekat  dan orisinil dibanding karya Dante. Dalam Agamemnon, emosi artistik hampir sama dengan emosi penontonny, tapi dalam karya Othello emosinya lebih hadir dalam sang tokoh protagonis sendiri. Tapi di sini ada perbedaan antara seni dan kejadian yang absolut; kombinasi yang ada dalam pembunuhan Agamemnon mungkin sama kompleksnya  dengan yang ada dalam perjalanan Ulysses. Dalam satu kasus, tentu terjadi penggabungan (fusion) elemen. Puisi syair pujian (ode) karya Keats memiliki beberapa perasaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan burung bul-bul, tapi barangkali karena nama burung yang unik itu sendiri, dan tentu saja karena reputasi nama Keats sendiri.

Sudut pandang yang saya tidak setujui barangkali berhubungan dengan teori metafisikal kesatuan substansi jiwa (substantial unity of the soul): karena yang saya maksud adalah, bahwa penyair punya medium khusus untuk diekspresikan, tapi bukannya ekspresi “personalitas”. Suatu medium yang berfungsi betul-betul sebagai medium, dan bukan suatu personalitas, dimana kesan dan pengalaman menyatu dalam suatu cara khusus dantak terduga. Kesan dan pengalaman yang sangat penting buat manusia bisa saja tidak harus didapatkan melalui puisi, dan bagi siapa yang menjadikan puisi penting mungkin akan memainkan personalitasnya tidak begitu diperhatikan lagi.

Saya kutip di sini puisi Cyril Tourneur, The Revenger’s Tragedy (1607), puisi yang tidak biasa dilihat dari perhatiannya terhadap cahaya, atau kegelapan:

 

And how methinks I could e’en chide myself

For doating on her beaty, though hetr death

Shall be revenged after no common action.

Does the silkworm expend her yellow labours

For thee? For thee does she undo herself?

Are lordships sold to maintain ladyships

For the poor benefit of a bewildering minute?

Why does yon fellow falsify highways,

And put his life between the judge’s lips,

To refine such a thing- keeps horse and men

To beat their valours for her?

Dalam bait puisi ini (sebagai bukti puisi ini dikutip berdasarkan konteks), ada suatiu kombinasi emosi positif dan negatif: suatu ketertarikan kuat yang intens terhadap kecantikan dan sekaligus keterpesonaan yang intens terhadap kejelekan yang dikontraskan dan yang menghancurkannya. Keseimbangan emosi yang bertolak belakang ini berada dalam situasi dramatis dengan cara ujar yang saling terpaut, tapi situasi itu sendiri sebenarnya tidak memadai. Contoh ini, secara emosi struktural ditemukan dalam drama. Namun efek keseluruhan, suara (tone) dominannya ini disebabkan oleh adanya perasaan yang mengambang, karena daya tarik emosi ini tidak berarti bukti yang superfisial, karena telah bergabung dengannya sehingga memberikan pada kita suatu emosi seni yang baru.

 

Emosi ini bukan bersifat personal, emosi yang diprovokasi oleh peristiwa khusus dalam hidupnya. Seorang penyair dalam beberapa hal sangat tertarik pada emosi khusus yang kelihatan sederhana, kasar atau datar-datar saja. Emosi dalam karyanya menjadi sangat kompleks, tapi bukan dengan kompleksitas emosi masyarakat umum. Yang khas dalam puisi adalah mencari emosi-emosi manusia yang baru untuk diekspresikan; pencarian kebaruan ditempat yang salah akan menjadi keganjilan. Tugas penyair bukan mencari emosi-emosi yang baru, tapi menggunakan emosi yang biasa-biasa dan mengaduknya dalam puisi, mengekspresikan perasaan yang bukan emosi. Emosi yang belum pernah ia alami akan mengubahnya menjadi seperti sudah dialaminya. Dengan begitu, keyakinan kita bahwa “emosi yang terkumpul dalam ketenangan” adalah formula yang tidak pasti. ( Puisi adalah aliran perasaan spontan yang sangat hebat: istilah emotion recollected tranquility diambil dari Wordsworth, dalam buku Lyrical Ballads -1800 ). Karena yang sebenarnya bukan emosi, atau kumpulan emosi, atau apapun, yang nantinya pasti akan mengalami distorsi arti, ketenangan adalah suatu konsentrasi, dan hal baru yang dihasilkan dari konsentrasi, segala macam pengalaman yang bagi seseorang yang praktis dan aktif tidak dianggap sebagai pengalaman tentunya; yang dimaksud adalah konsentrasi yang tidak terjadi secara sadar atau sukarela. Pengalaman ini bukan “pengumpulan ulang” yang pada akhirnya menyatu dalam suatu atmosfir yang “tenang”, yang hanya dengan begitu lah pengalaman memasuki kejadian. Tentu masalahnya bukan ini saja, banyak hal yang mencakup dalam penulisan puisi, yang harus disadari dan disenangi. Perlu diketahui, penyair yang tidak baik selalu tidak menyadari dimana ia seharusnya sadar dan sadar dimana ia seharusnya tidak sadar. Kedua kesalahan ini akan menggiring karyanya menjadi “personal”. Puisi bukanlah pelepasan emosi, tapi suatu pelarian dari emosi, puisi bukan suatu ekspresi personalitas, tapi suatu pelarian dari personalitas. Jadi, tentunya bagi yang punya emosi dan personalitas tahu apa arti dari keinginannya melarikan diri dari hal ni.

…Sedangkan intelek adalah tanpa keraguan sesuatu yang lebih ilahi dan tidak selalu diam ( Aristoteles, dalam karyanya De Anima )

Esei ini bertujuan untuk berhenti di ujung luar metafisika atau mistis supaya memberi batasan demi mencapai kesimpulan praktis yang bisa diaplikasikan oleh orang yang tertarik dengan puisi. Mengalihkan ketertarikan dari satu penyair ke penyair lainnya akan berujung pada tujuan pemujian: karena ini akan mengubah estimasi puisi yang lebih proporsional dalam menilai sebuah puisi baik atau buruk. Banyak orang yang mengapresiasi ekspresi emosi sebuah sajak, tapi hanya sedikit yang bisa mengapresiasi kejenusan puisi ecara teknis. Dan lebih sedikit lagi orang yang tahu kapan suatu ekspresi menandai emosi, emosi yang hidup dalam puisi, bukan emosi yang terdapat dalam sejarah pengalaman hidup si penyair. Seni tentang emosi adalah hal impersonal. Seorang penyair tidak akan bisa mencapai personalitas ini tanpa menyerahkan dirinya sepenuhnya pada karya yang dikerjakannya. Seorang penyair dikatakan tidak tahu apa yang seharusnya ia ketahui kecuali jika ia yakin pada apa yang semata-mata masa sekarang, momen ke-kini-an tentang tentang masa lalu, dan kecuali jika ia sadar bukan pada yang telah mati tapi yang hidup.

*Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur.

Continue Reading

Essay

Relasi Perempuan dan Laki-Laki dalam Film Posesif

mm

Published

on

Adipati Dolken dan Putri Marino terbilang apik dalam memerankan karakter dalam film Posesif. Keduanya dipasangkan sebagai kekasih yang menjalani roman percintaan pada masa putih abu-abu. Adipati didapuk menjadi tokoh Yudhis Ibrahim, sedangkan Putri bermain sebagai Lala Anindita. Cinta yang terbangun antara Yudhis dan Lala bukan semata-mata cinta monyet anak SMA. Bumbu-bumbu relasi gender terbingkai dalam cerita yang berlatar di kota metropolitan, Jakarta. Setting waktu yang diambil menggambarkan zaman sekarang. Bisa dikatakan film ini adalah cerminan kejadian pada era kids zaman now.

Lala dikisahkan baru saja memenangkan penghargaan dalam Pekan Olahraga Nasional mewakili provinsi DKI Jakarta. Ia merupakan atlet lompat indah yang membanggakan. Yudhis sendiri merupakan murid baru di sekolah Lala. Pertemuan Lala dan Yudhis dimulai di lorong sekolah. Alur cerita di babak awal masih mudah ditebak. Lala dan Yudhis terjebak dalam hubungan pacaran anak remaja. Fase ini adalah pengalaman pacaran pertama kali bagi Lala.

Rupanya, film ini tidak mengumbar cinta menye-menye yang penuh drama kegalauan layaknya tren dalam ftv. Cinta yang dialami tokoh utama dalam film ini menemukan liku yang menantang. Penulis naskah piawai membawa penonton untuk merasa dekat dengan problem yang dihadapi Lala dan Yudhis. Isu yang diangkat sarat dengan fenomena yang memang lumrah dijumpai di masyarakat, yakni ketimpangan gender.

Yudhis pelan-pelan mulai menampakkan tabiat aslinya. Ia adalah sosok cowok yang sangat khawatir terhadap pasangannya. Kekhawatirannya tersebut sudah dalam tahap berlebihan. Statusnya yang masih dalam tahap pacar, sudah berani melarang-larang Lala untuk menghentikan aktivitas latihan lompat indah. Padahal, menekuni lompat indah merupakan cita-cita yang didamba dan dielu-elukan di keluarga Lala. Lala menuruti permintaan Yudhis, karena ia terpanggil menjadi atlet bukan dari kehendak hati.

Ketika Lala sudah meninggalkan atribut atletnya demi menemani Yudhis, perangai Yudhis justru semakin memburuk. Temperamen Yudhis yang kasar semakin membuat jalinan asmara yang dijalaninya bersama Lala menjadi tidak sehat. Yudhis hanya menginginkan Lala selalu berada di sampingnya. Ia tidak memperbolehkan Lala intens berinteraksi dengan teman-temannya. Rasa cemburu tingkat tinggi menguasai pikiran Yudhis setiap kali ada teman yang perhatian ke Lala. Hari-hari Lala kian tidak karuan. Ia mulai terkekang dan sulit melepaskan diri. Sebab Yudhis pandai mengombang-ambingkan perasaan Lala. Seusai bertengkar dan menyakiti Lala dengan tindak kekerasan seperti mencekik dan menjambak, Yudhis selalu memasang tampang memelas dan merengek minta maaf. Penonton lalu digiring pada suguhan relasi perempuan dan laki-laki yang dipengaruhi tekanan batin yang menimpa kedua tokoh sentral tersebut.

Gender, Cinta, dan Ketakutan

Komunikasi yang tercipta di antara Yudhis dan Lala menandakan adanya cinta yang tumbuh. Keduanya akan rela dan berani melakukan apapun demi pasangannya. Apa yang dilakoni Lala dan Yudhis juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan Knapp, Ellis, dan Williams (1980). Penelitian tersebut mengungkap, kebaikan pasangan akan lebih besar bobotnya, sementara kesalahan yang dibuat pasangan tidak akan dianggap oleh mereka yang tengah dimabuk cinta.

Panggilan sayang yang dilontarkan Lala dan Yudhis semakin mempertegas hubungan special di antara keduanya. Mereka juga menciptakan dan menggunakan idiom personal, kata-kata, frasa, dan gestur yang membawa makna hanya untuk hubungan tertentu.  Unsur-unsur tersebut mengantarkan penonton kepada pemahaman bahwa keduanya memiliki bahasa spesial yang menandakan ikatan mereka (Hopper, Knapp dan Scott 1981).

Relasi interpersonal yang dibangun Lala dan Yudhis menerapkan teori pertukaran sosial. Ketika pasangan memasuki relasi interpersonal yang menggunakan model pertukaran sosial, maka konflik yang timbul berasal dari ketidakseimbangan antara input dan outputyang didapat. Maksudnya di sini adalah apabila seseorang mencurahkan seluruh hidupnya kepada pasangan namun pasangan hanya bersikap cuek tanpa ada balasan yang setimpal hal ini rawan berujung konflik.

Yudhis tergolong dalam tipe cinta mania. Ia begitu tergila-gila dengan pasangannya. Tergila-gila dikarakteristikan dengan ketinggian ekstrem dan kerendahan ekstrem. Pecinta yang tergila-gila mencintai berlebihan dan pada waktu yang sama sangat khawatir kehilangan cintanya. Ketakutan ini sering mencegah pencinta yang tergila-gila mengalami penurunan rasa suka yang mungkin timbul dalam suatu hubungan. Dengan sedikit provokasi, pencinta yang tergila-gila kemungkinan berpengalaman untuk cemburu secara berlebihan. Yudhis bahkan meneror Lala dengan pesan pendek, telepon, hingga menanyakan keberadaan Lala ke temannya. Padahal Lala sudah izin bermain dengan teman-temannya. Yudhis berlebihan dalam menanggapi Lala yang tidak ada kabar.

Pencintayang tergila-gila itu obsesif (tergila-gila); pencinta yang tergila-gila harus menguasai/memiliki pasangannya seutuhnya secara sempurna. Sebaliknya, pencinta yang tergila-gila berharap untuk dimiliki, dicintai secara berlebihan. Pencinta yang tergila-gila adalah bayangan pribadi yang kasihan, melihat kemampuan berkembang hanya dari cinta; harga diri datang dari dicintai daripada perasaan puas yang timbul dari dalam diri. Karena cinta itu sangat penting, tanda bahaya di sebuah hubungan seringkali diabaikan; pencinta yang tergila-gila percaya bahwa jika ada cinta, kemudian lainnya itu bukan masalah.

Yudhis juga mengombinasikan tipe cinta mania dengan eros. Para penganut cinta eros ini sangat memperhatikan daya tarik fisik orang yang dicintai. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap orang yang dicintainya tersebut. Rasa cinta yang dimilikinya itu berdasarkan daya tarik fisik pada saat pertama jumpa. Cinta eros ini menggebu dan berani mengambil risiko. Saat sudah menjalin hubungan asmara, mereka menganggap penting ciuman dan pelukan.

Pernyataan-pernyataan yang disebutkan sebelumnya terwakili oleh kenekatan Yudhis melaser saingan Lala dalam lompat indah. Yudhis juga sama sekali tidak takut ketika sengaja menyerempet motor yang dikendarai teman cowok, sahabat Lala. Semua itu dengan dalih demi memperjuangkan cintanya ke Lala. Dia takut Lala direbut orang lain. Yudhis juga sangat mendewakan sentuhan dalam hubungannya dengan Lala. Adegan itu tergambar ketika ia lancang menyelinap masuk kamar Lala dengan kunci curian. Ia menciumi Lala.

Rupanya, ada faktor keluarga yang menyebabkan Yudhis bertingkah psikopat dalam merajut hubungan dengan Lala. Yudhis menjadi korban atas ketidakharmonisan hubungan sang ayah dan sang ibu. Sang ayah meninggalkan Yudhis dan ibunya sejak kecil. Ibunya menyimpan trauma. Ibunya memiliki emosi yang meledak-ledak dan selalu memaksakan kehendaknya ke Yudhis. Yudhis tidak punya kuasa untuk melawan sebab sang ibu adalah tipe yang ringan tangan, suka memukulinya. Meskipun setelah itu, sang ibu meminta maaf dan menyesal. Begitu terus dan berulang. Menurut ibunya, tidak ada orang yang memahami Yudhis selain ibunya. Rupanya sikap buruk itu turun ke Yudhis.

Lala yang terlalu tunduk pada Yudhis adalah akibat dari tekanan yang selama ini ia peroleh dari sang ayah. Ayahnya menaruh harapan besar kepada Lala untuk dapat meneruskan prestasi sang ibu yang telah meninggal, sebagai atlet lompat indah kenamaan. Lala juga berniat membantu Yudhis melepaskan diri dari jerat siksaan sang mama. Lala percaya, cinta bisa mengatasi semua masalah. Lala ingin Yudhis berubah, sebab ia tahu, Yudhis aslinya baik.

Apa yang menimpa Lala dan Yudhis bisa dijelaskan melalui feminism psikoanalitis. Pandangan ini berpatokan bahwa pengalaman seksualitas masa kanak-kanak hingga dewa mempengaruhi cara berpikir seseorang. Itulah mula lahirnya ketidaksetaraan gender. Laki-laki memandang dirinya sebagai maskulin, perempuan menganggap ia sebagai feminim. Masyarakat puun menilai demikian. Maskulinitas menduduki posisi superior, sedangkan feminism diletakkan sebagai inferior (Tong, 2006:190). Itulah yang membuat Lala mendengarkan perkataan Ega, sahabatnya. Ega melarang Lala putus dari Yudhis karena melepaskan Yudhis membuat rugi Lala. Mencari pacar setampan Yudhis tidak mudah.

Feminisme psikoanalitis turut menyoal tahapan oedipal yang dilalui anak-anak. Anak laki-laki mengerti bahwa ia dan ibunya tidak sama secara fisik. Perbedaan itu melatari timbulnya masalah. Anak laki-laki lalu terdorong mencari kekuasaan lewat identifikasi dirinya dengan laki-laki yakni ayahnya. Anak laki-laki tahu bahwa ia harus bebas dari ketergantungan terhadap ibunya. Sedangkan Yudhis mungkin tidak mendapati itu, sebab sang ayah pergi dan menelantarkannya.

Tahapan oedipal yang dijalani anak perempuan merumuskan hasil bahwa simboisis ibu dengan anak perempuan akan berkurang kekuatannya. Hasrat itu dialihkan kepada otonomi dan kemandirian yang dilambangkan lewat sang ayah. Lala tercurahi kemandirian yang terlalu besar sebab sang ibu telah meninggal. Ayahnyalah yang bertugas mengawal perkembangan Lala. Sang ayah bertindak sebagai orang tua tunggal yang harus bisa menjadi ayah sekaligus ibu.

Lala dan Yudhis sama-sama korban atas pincangnya kasih sayang dari orang tua. Keluarga mereka sama-sama penganut prinsip protektif. Tipe ini umumnya condong dalam konformitas yang tinggi namun minim percakapan. Ada banyak peraturan yang harus ditaati anak namun tanpa adanya komunikasi. Orang tua merasa tidak ada gunanya berdiskusi apapun dengan anak. Anak dianggap tidak perlu tahu apa yang orang tua putuskan.

Film ini menampar penonton dengan cara meramu cinta, gender, cita-cita, dan ketakutan dalam satu paduan. Ada pelajaran yang bisa dipetik yakni cinta tidak mesti harus membahas untung rugi. Boleh berkorban untuk cinta asal tetap rasional. Selamat menertawakan diri atau pasangan yang posesif! (*)

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

 

 

 

Continue Reading

Essay

Setelah Edward Said

mm

Published

on

Nono Anwar Makarim *)

EDWARD Said meninggl pada 25 September 2003. Kanker darah yang menyiksa badannya sejak tahun 1991 akhirnya menang. Umurnya baru 67. Kofi Annan mengeluarkan pernyataan belasungkawa. Dia bilang bahwa Said berbuat banyak sekali dalam menjelaskan dunia Islam kepada dunia Barat, dan sebaliknya. Sekretaris Jenderal PBB itu tidak selalu setuju dengan pendapatnya, tetapi senantiasa suka berbincang dengan Said. Annan suka pada humor Said, dan kagum pada semangatnya memperjuangkan perdamaian antara Israel dan Palestina.

The New York, Beirut, menulis editorial yang menyebut Said sebagai orang besar yang, seperti figur-figur besar lain di dunia, kurang dihargai semasa hidupnya. Pada suatu ketika si pembela gigih nasib orang Palestina ini bahkan diusir Yasser Arafat dari Tepi Barat. Ediward Said terlalu keras mengecam korupsi di kalangan pemimpin Palestina. Arafat, si pengusir Said, sekarang berkata bahwa kematiannya membuat dunia kehilangan seorang jenius besar, seorang penyumbang kultur, intelek, dan daya-cipta universal.

N o s t a l g i  d i  E l a i n e ‘ s

Elaine’s, suatu restoran kecil di 2nd/88-89th Street, Manhattan adalah tempat pengarang, editor, profesor, seniman, dan intelektual berkumpul. Makanannya bernuansa Italia, harganya tidak semahal Daniel. Musim panas 1997. Kami berempat menanti kedatangan Edward Said untuk makan bersama. “Belum tentu dia bisa datang. Tapi, kalau serangan-serangan penyakitnya mereda, dia pasti datang!” kata temannya. Restoran kecil milik Elaine Kaufman cepat memenuh dengan orang dan suara orang diskusi sambil makan.

Tiba-tiba pintu dibuka dan Edward Said masuk. Seorang perempuan setengah baya dan tampak menarik bangun dari mejanya, menghampiri tamu yang terlambat datang, dan memeluknya erat-erat. “Itu Elaine, yang punya restoran ini!” bisik teman saya. Mereka berpelukan datang ke meja kami. Baru duduk, seorang perempuan lain bangun dari kursinya sambil berseru “Edward!” Sekali lagi teman saya berbisik, “Itu Joan Didion!” Sekali lagi Edward Said dipeluk dan dicium mesra.

Dua jam kami duduk, makan dan minum. Said hampir sepenuhnya bicara dengan seorang saja di antara kami, anak diplomat senior Inggris, kawan lama keluarga. Mereka berbicang tentang masa lalu. Memang begitu perangai orang yang sudah lama tak jumpa. Saya berupaya memutus dialog Inggris-Palestina yang terus berlangsung di meja kami. “Banyak orang di Indonesia mengira bahwa perjuangan Palestina itu adalah antara orang Islam dan orang Yahudi! Saya tahu itu tidak benar, akan tetapi, mengapa yang muncul di permukaan media hanya Hizbullah, Hamas, dan Fatah? Di mana Habbash sekarang?” Jawaban Said tidak memuaskan: “George (nama depan Habbash) sudah rusak! Tak ada yang bisa diharapkan lagi dari dia.” Said tidak menjelaskan mengapa hanya yang beragama Islam yang mengemuka di kalangan pejuang Palestina. Saya agak kesal menyaksikan konsentrasi perhatian Edward Said pada kenangan persahabatan di masa lalu. Tapi masa lalunya memang lebih menyenangkan daripada masa kininya. Anak orang kaya, hidup mewah, masuk sekolah terbaik di Palestina, Mesir, dan Amerika. Raja Hussein dan Omar Sharif adalah teman sekelasnya di Kairo. Bandingkan dengan masa kininya: Masuk dalam daftar orang yang harus dibunuh dari Liga Pembela Yahudi. Teror setiap hari melalui pos, telepon, faks yang ditujukan pada dirinya dan anggota keluarganya. Kemudian penyakit kronis yang enggan pergi, dan terus-menerus menciptakan penyakit sampingan: leukemia. Ia ditanya apakah ancaman akan dibunuh dan kanker darah tidak mengganggu semangat hidupnya. Said menjawab bahwa bahaya kelumpuhan semangat jauh lebih besar daripada leukemia dan ancaman pembunuhan. Karena itu ia berupaya tidak terlalu memikirkan nasib yang buruk itu. Tampang keren, otak cemerlang, latar belakang berduit, pekerjaan mengajar di universitas terkemuka di Amerika terjamin kesinambungannya sampai mati. Ketika saya tanyakan mengapa ia memilih tinggal di New York, metropolis yang begitu didominasi oleh orang yang mengancam akan membunuhnya, ia menjawab: “Apa ada kota lain?”

Konon, sebagai pribadi, Edward Said adalah orang yang sangat egosentris, memikirkan diri melulu, kurang pertimbangan akan orang-orang dekat yang mencitainya pun. Orang berbisik, “Tidak mudah hidup dengan jenius!” Lalu apa makna inti yang diwariskan almarhum pada kita? Di sini saya melihat dua unsur.

E s e n s i  E d w a r d  S a i d

Pada gelombang pasang nafsu perang di AS, jauh sebelum debakel Afganistan dan Irak yang kini sedang dialami negara adikuasa itu, saya bertanya kepada seorang cendekiawan Amerika: Kaum liberal Amerika kok tidak bersuara? Mengapa begitu sedikit orang menganut pandangan Chomsky dan Said? Jawabnya mengambang: Chomsky ekstrem. Orang tidak lagi mendengarkan suara dia. Edward Said sudah menggadaikan kecemerlangannya pada politik. Ia sudah menjadi partisan Palestina. Ia hanya mengkritik Israel dan Amerika. Ia berdiam ketika orang Palestina yang melakukan teror. Saya termenung mendengar jawaban itu. Kemudian mengingat kembali jauh ke masa lalu. Pada saat gelombang pasang suatu kampanye politik melanda masyarakat, intelektualnya kebanyakan cenderung menyesuaikan diri, atau berdiam. Mereka cemas akan tercampak keluar dari lingkungan masyarakatnya, terasing dari bangsanya. Ada juga pikiran: “Kalau begitu banyak orang setuju, jangan-jangan mereka benar: jangan-jangan pandangan saya keliru.” Periuk nasi sudah tentu paling keras membujuk agar mereka berpihak pada gelombang pasang, atau netral. Noam Chomsky dan Edward Said tegak berdiri di tengah badai kampanye perang George Bush. Mereka tidak menyesuaikan diri, mereka tidak berdiam. Mereka buka suara. Dan suaranya keras kedengarannya di seantero dunia.

Yang kedua ditinggalkan oleh almarhum adalah suatu penjernihan pikiran kita bahwa suatu teori besar yang diciptakan pemikir cemerlang tidak patut diuji pada setiap pernik keadaan konkret, buka mata. Teori orientalisme Edward Said digempur habis-habisan. Terlalu main pukul rata, terlalu gegabah, terlalu ekstrem. Akan tetapi suatu teori memang menyangkut garis besar, umum, abstrak, dan rrgeneralisasi. Yang perlu ditanyakan adalah apakah ia membuka mata.

Edward Said sudah pulang ke bukit-bukit hijau Palestina yang diimpikannya seumur hidup. Singkirkan karakternya yang egosentris; kesampingkan sulitnya orang hidup di sampingnya; maafkan sifat tak pedulinya pada perasaan orang lain, sebab dia bukan manusia biasa. Edward Said adalah orang luar biasa, orang abnormal. Lalu ambil sifat “intifadah” intelektualnya dan kecemerlangan bintangnya di langit pemikiran. Saya kehilangan seorang teladan lagi. (*)

*) Nono Anwar Makarim lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, 25 September 1939. Pada 1960-an hingga 70-an ia dikenal sebagai wartawan dan pemimpin redaksi harian KAMI. Setelah keluar masuk Fakultas Hukum UI, ia memperdalam hukum hingga memperoleh gelar doctor of juridical science dari Harvard Law School, AS. Disertasinya berjudul Compainies and Business in Indonesia. Pendiri Kantor Konsultan Makarim & Taira ini hingga kini juga dikenal sebagai penulis kolom yang tajam.

Sumber: TEMPO, Edisi 29 September – 5 Oktober 2003, halaman 124-125.

Continue Reading

Essay

Ingatan, Sejarah, dan Mitos

mm

Published

on

Taufik Abdullah*)

Mengapakah demikian mudah suara saya menaik dan bergetar menahan marah, ketika beberapa orang mahasiswa dengan nada yang sinis menanyakan fungsi perayaan 50 tahun Kemerdekaan? Mula-mula memang saya bisa menjawab dengan tenang tentang makna simbolik dari perayaan ini. Bergaya sebagai seorang guru yang baik, saya menerangkan bahwa dalam usaha melangkah ke depan – ke masa yang tanpa peta itu – kita perlu juga sekali-sekali merenung dan mengingat lagi hasrat dan tekad yang pernah dipatrikan serta langkah-langkah yang telah diayunkan. Akan tetapi ketika seorang mahasiswa, lagi-lagi dengan suara sinis, malahan cenderung sarkastik, dengan gaya seorang oposan, berkomentar, “oh, sekedar merenung saja!” hampir saja kesabaran saya hilang. Suara saya menaik. Akan tetapi untunglah, kenakalan asli saya segera tampil dan saya pun bisa menjadikan jawabannya yang diiringi humor. Maka, semakin sadarlah saya bahwa saya bukan seorang pendidikan. Begitu mudah saya terkena provokasi.

Belum lama peristiwa itu terjadi. Baru beberapa hari berselang. Kalau saya pikir-pikir kembali peristiwa itu saya rasa tak pantas suara saya menaik dan bergetar menahan marah. Apa salahnya kalau hal yang dianggap “hebat” itu sekali-kali dihadapkan pada kesangsian akan keabsahannya? Bukankah dinamika dunia ilmu praktis ditentukan oleh letupan-letupan kesangsian terhadap apa yang telah diangap benar? Para mahasiswa itu memang memperlakukan saya sebagai seorang ilmuwan yang diharapkan dapat menjawab masalah keilmuan. Kebetulan saja masalah keilmuan itu, kali ini berkisar di sekitar perayaan Proklamasi Kemerdekaan. Akan tetapi, apa salahnya?

Masalah sesungguhnya bukan terletak pada pertanyaan mahasiswa yang sinis itu, tetapi pada diri saya. Saya pikir hal ini juga dirasakan sebagian mereka yang sebaya dengan saya dan yang lebih tua daripada saya. Seperti yang dialami mereka juga Proklamasi Kemerdekaan dan Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Nasional adalah bagian dari otobiografi saya. Tak mungkin bagi saya untuk mengingat pertumbuhan kedirian saya di luar konteks itu. Revolusi Naional bagi saya bukanlah sesuatu “yang ada di sana,” yang dengan mudah bisa dilihat secara objektif, tanpa melibatkan perasaan. Saya tak mengatakan bahwa saya ikut ke medan perang menyambung nyawa demi tanah air dan saya pun tak bisa berbicara bahwa saya, dengan berbagai cara, ikut membantu perjuangan kita. Sama sekali tidak. Akan tetapi bagaimanakah saya bisa melupakan kesedihan yang saya rasakan karena tak bisa ikut melompat-lompat dan bersorak-sorak, seperti anak-anak lain ketika ulang tahun pertama proklamasi dirayakan di kota kecil saya? Baru beberapa hari sebelumnya saya dikhitan. Babagaimana pula saya tak akan ingat akan kegembiraan saya ikut berlari-lari di belakang para pemuda yang membawa Sutan Sjahrir di atas bahu mereka, ketika mantan Perdana Menteri itu berkunjung ke kota saya? Atau, melupakan perasaan yang mencekam ketika melihat mayat seorang pejuang yang tewas, setelah sebelumnya patroli tentara Belanda menembaki sekolah saya. Berbagai slide kenangan kadang-kadang tampil bergantian, jika saja gugatan terhadap masa lalu itu datang. Memang Revolusi Nasional bagi saya bukanlah “something out there” tetapi adalah sesuatu yang berbeda dalam diri saya. Tak bisa saya mengelak kehadirannya. Betapa pun mungkin saya ingin melupakannya, atau bisa juga, mengubah bentuknya yang sesuai dengan hasrat saya sekarang. Ia adalah kenangan saya. Ia adalah ingatan saya. Ia adalah bagian dari subjektivisme saya, betapa pun mungkin saya ingin menyembunyikannya. Saya pun tak bisa pula bersembunyi dari ingatan ini. Entah kalau amnesia telah menghidapi diri saya.

Jadi, suara saya yang menaik dan bergetar menahan marah semoga bisa juga dimaafkan. Mungkin para mahasiswa itu hanya bermaksud bertanya tentang sejarah yang konon objektif – “ sesuatu yang ada di sana,” di kelampauan – tetapi saya rasakan sebagai gugatan terhadap ingatan saya yang subjektif dan yang merupakan bagian dari kehadiran saya. Atau, barangkali pula mereka hanya menyangsikan keabsahan sebuah initos yang dirasakan semakin bercorak hegemonik. Bisa jadi demikian halnya, tetapi, mana mereka tahu bahwa yang langsung terkena adalah ingatan saya yang pribadi, bebas, dan otentik. Mereka mahasiswa itu, tak bisa mempertanyakan, apalagi menggugat, ingatan saya, yang riil pada diri dan kesendirian saya ini.

Harus saya akui, bahwa dalam suasana peringatan dan perayaan yang ketiganya – ingatan, yang pribadi sejarah, yang dihasilkan oleh pencarian akademis yang kritis, dan mitos, yang tumbuh dari sebuah corak keprihatinan atau kepentingan (entah kultural, kekuasaan, atau ideologi) – bisa saja bercampur baur menjadi satu lagi, di manakah sesungguhnya batas ketiganya? Bukankah sejarah bisa juga dianggap sebagai “rekaman ingatan kolektif” dan ingatan atau kenangan mungkin juga diperlukan sebagai “sejarah yang dialami sendiri”.

Dan mitos? Mitos boleh juga dianggap sebagai peristiwa “sejarah” yang harus selalu diingat dan diingatkan, sebagai pelajaran dan alat pemersatu.

Hanya saja, pencampuradukan dari ketiga kategori ini dengan mudah dapat menyebabkan kita kehilangan makna yang sesungguhnya dari peringatan peristiwa dramatis yang telah mengubah corak kehadiran kita sebagai bangsa itu. Sejarah tidaklah ada dengan sendirinya.  Sejarah adalah hasil dari sebuah usaha untuk merekam, melukiskan, dan menerangkan peristiwa di masa lalu. Bisa jadi sejarah adalah sebuah hasil yang sejujur mungkin ingin merekam dan “merekonstruksi” ingatan, baik yang kolektif maupun yang pribadi, tetapi mungkin juga sejarah bermaksud “menemukan kembali” peristiwa (apa, siapa, di mana, dan bila) yang telah terkibur impitan zaman. Sejarah adalah hasil yang didapatkan dengan sengaja ketika berbagai pertanyaan tentang masa lalu telah dirumuskan. Kalau demikian, bukankah “sejarah” sesungguhnya sangat ditentukan oleh jenis pertanyaan yang telah dirumuskan? Memang, demikian halnya dan inilah unsur yang paling subjektif dalam sejarah. Maka, dapat jugalah dibayangkan bahwa pertanyaan itu bukan saja beranjak dari rasa ingin tahu belaka, tetapi dapat pula dirangsang oleh kepentingan tertentu, apa pun mungkin coraknya.

Betapapun kejujuran adalah landasannya yang paling esensial, sejarah mau tak mau bersifat selektif. Tak semua kebenaran atau kenyataan historis bisa dan perlu dikatakan. Hanyalah yang penting dan yang relevan saja yang perlu dilukiskan. Kalau demikian, herankah kita karena yang sifatnya selektif ini, sejarah bisa juga memantulkan kisah atau pesan yang mempunyai tingkat penting dan relevan yang berbeda-beda? Bukan itu saja, tingkat penting dan relevan itu bisa pula ditentukan oleh golongan sosial yang berbeda-beda pula. Fungsi sosial sejarah malah ditentukan oleh pemahaman terhadap kisah dan pesan itu. Mungkin karena itulah, saya kira, pernah ada yang berkata,

“Sejarah tak memberikan pelajaran apa-apa, kitalah yang belajar dariapdanya”. Jadi kitalah – kita yang menghadapkan diri pada kisah sejarah – yang merupakan unsur yang aktif.

Begitulah, kadang-kadang kisah dan pesan tertentu kita perbesar-besar karena memberikan sesuatu yang bersifat integratif, inspiratif, atau apa saja yang dianggap berfaedah. Kadang-kadang kisah tertentu kita ulang-ulang, malah kita peringati dan kita rayakan, dengan berbagai macam corak ritual dan seremoni. Dari kisah tersebut kita mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Tetapi, pemilihan kisah atau pesan itu terjadi dalam proses kompetisi. Ketika pilihan akhirnya ditentukan, maka hal itu adalah akibat dari proses hegemonisasi yang telah dimenangkan. Dalam sistem kenegaraan yang sangat ideologis, seperti negara kita ini, sudah bisa dipahami bahwa kekuasaan mempunyai kecenderungan yang sangat tinggi melakukan hegemoni makna terhadap sejarah dan simbol. Dengan berbagai sistem rujukan dan informasi, serta pemakaian sistem kekuasaan, maka semakin membesarlah bentukan hasil pilihan itu dan semakin jauhlah ia dari sejarah yang pernah menghasilkannya. Analisis akademis mengatakan bahwa pilihan itu telah berubah menjadi sebuah mitos. Kalau ini telah terjadi, sejarah hampir tak berdaya untuk menuntutnya kembali ke pangkuannya – ke pangkuan dunia yang kritis dan “obyektif”. Mitos pun telah menjadi “realitas – sejarah”. Hanya saja ia bukan sesuatu yang “out there”, yang dingin dan yang telah berlalu, tetapi sesuatu yang ada “di sini”, hangat dan bagian dari kehidupan sosial. Kredibilitas mitos pun semakin menaik jika ia mendapat dukungan, apalagi kalau berawal dari ingatan, kolektif ataupun individual. Didukung oleh kecenderungan teologis, yang menjadikan situasi hari kini sebagai pembenaran dari keabsahan gambaran hari lalu, mitos pun semakin kokoh berdiri. Dengan begini, maka sistem hegemoni pun telah membentuk masa lalu berdasarkan skenario kepentingan hari kini.

Semua ikatan sosial memerlukan mitos, karena ia mengajukan jawaban bagi kemungkinan terdapatnya ketimpangan antara realitas dengan logika, memberi suasana kredibilitas bagi keberlakuan tata yang berlaku dan bisa pula merupakan unsur integratif yang diperlukan. Kalau saya tak salah, adalah Ernest Renan, yang mengatakan bahwa kehadiran “bangsa”, yang bermula dari “keinginan untuk hidup bersama”, bisa berlanjut jika komunitas itu bersedia “mengingat banyak hal” dan “melupakan hal”. Mengingat dan melupakan yang selektif inilah yang melahirkan mitos. Hanya saja seleksi yang hegemonik tidaklah sekedar berusaha menjauhkan kita dari sejarah yang dingin dan kritis, tetapi juga mengingkari keabsahan ingatan sendiri yang pribadi dan otentik.

Peristiwa besar, seperti Revolusi Nasional dan Perang Kemerdekaan kita, adalah lahan pengalaman yang dengan tajam menancapkan kehadirannya dalam ingatan, pribadi dan kolektif. Peristiwa ini adalah pula “sesuatu yang ada di sana”, yang bisa memberikan kisah tentang pergumulan sebuah bangsa mempertahankan kehadiranna dan kegelisahan manusia menghadapi hari-hari tanpa kepastian, selain harapan yang tak kunjung padam. Kekinian kita yang dihasilkannya – sebuah bangsa yang dulu berjuang kini telah mempunyai negara yang berdaulat – menjadikannya pula sebuah sumber inspirasi bagi tumbuhnya mitos.

Mitos bermain dalam wilayah publik. Ia adalah bagian dari kehidupan sosial. Kehadirannya membayangkan suasana integratif. Perayaan dan peringatan bisa pula dilihat sebagai peneguhan dari keberlakuan mitos. Dalam suasana perayaan – sebuah karnaval – siapa pun akan terlarut di dalamnya. Akan tetapi, sebuah pertanyaan kadang-kadang tertanyakan juga. “Siapakah yang menentukan corak mitos itu?” Kini, saya sadar, jangan-jangan pertanyaan sarkastis dan sinis dari mahasiswa yang saya ceritakan itu adalah pantulan dari penolakan mereka terhadap mitos integratif yang mereka anggap sebagai sesuatu yang hegemonik. Mungkin, demikianlah halnya tetapi andaipun bukan, mitos yang memperlihatkan wajahnya dalam wilayah publik, tidak saja mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperteguh keakraban sosial dan sejarah, melainkan juga, dapat menjauhkan kita dari ingatan kita yang pribadi, murni, dan otentik. Yang tampil adalah wajah publik, bukan diri kita dalam kesendirian dan kepolosan yang tak bisa ditutupi.

Karena itulah saya kira pada saat kita mensyukuri kemerdekaan tanah air kita, semestinyalah kita menggali lagi ingatan yang pribadi dan otentik itu. Pengalaman apakah yang pernah dipatrikan ketika perjuangan dimasuki dan di saat antusiasme kemerdekaan dirasakan? Ingatan adalah penghadapan kita dengan kesendirian kita. Ia tak membiarkan kita untuk bertopeng dalam segala macam kepura-puraan. Dalam ingatan yang murni pribadi ini kita pun bisa mengingat dan mengenang kembali tangisan ibu yang meratapi kepergian abadi anak tercinta atau derai air mata sang istri melepas suami ke medan perang. Untuk apa? Kita mungkin bisa membohongi publik, tetapi tak bisa menghindar dari ingatan sendiri.

Kita rayakan hari kemerdekaan dengan penuh kegembiraan dan rasa syukur, tetapi kita gali lagi ingatan dan kenangan dengan segala kepolosan yang hanya mungkin tampil dalam kesendirian kita masing-masing. Dalam kesendirian kita dengan ingatan ini, langkah yang telah diayunkan bisa dinilai lagi dan niat yang pernah dipatrikan dalam diri tinjauan kembali. Masihkah idealisme dan pengorbanan yang dipancarkan Proklamasi dan Revolusi Nasional menyinari kehidupan kita bernegara? Ataukah sesuatu yang lain – yang dulu tak terimpikan, malah dinista sebagai penyimpangan – telah menyelinap dalam kehidupan kita? Hanya ingatan kita dalam kesendirian kita masing-masing yang bisa menjawab. (*)

____________________________________

*)Taufik Abdullah lahir: Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Januari 1936, adalah ahli peneliti utama pada LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Ia lulus dari Jurusan sejarah Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (drs., 1961) dan Cornell University (M.A., 1967; Ph.D., 1970). Sejak  April 2000 ia menjadi ketua LIPI. Tulisan-tulisannya diterbitkan di dalam dan luar negeri; di antaranya “Adat dan Islam; An Examination of Conflicty in Minangkabau Indonesia” (1966); “Modernization in the Minangkabau World West Sumatra” dalam Claire Holt, et.al., (eds.); Culture and Politics in Indonesia (1972); Sejarah Lokal di Indonesia (1979, 1985); Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia (1987) ; “Islam and the Formation of Tradition in Indonesia A Comparative Perspective”, Itinerario (1989). Prof. Dr. Taufik Abdullah menjadi editor serta konsultan majalah Prisma, anggota dewan redaksi jurnal Sejarah, editor Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedi Indonesia. Pengalaman akademiknya dimulai dengan menjadi asisten pengajar Sejarah barat (1959-61) di Universitas Gadjah Mada, Fulbright Visiting Professor di University Wisconsin (1975), Post-Doctoral Fellow di University of Chicago (1977), Visiting Professor di Cornell University (1985), University of Kyoto (1989-90), Australian National University 91990), Mc Gill University, Montreal (1991-92) dan Thammasat University (1997). Aktivitas profesionalnya antara lain menjadi Member of Council for the Study of Malay Culture UNESCO (1971), Presiden International Association of Historians of Asia (IAHA) (1996-98); Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Pusat (dari 1995), Ketua Himpunan Indonesia Untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (1974-1978), anggota KITLV (1968-1978). Dari lembaga yang disebut terakhir ia juga memperoleh penghargaan sebagai anggota kehormatan.

Sumber: Taufik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, Satya Historika, Bandung, 2001.

***

Continue Reading

Classic Prose

Trending