Connect with us

Art & Culture

T.S. Eliot: Fungsi Kritik

mm

Published

on

I

Setelah menulis kajian hubungan seni lama dan baru beberapa tahun yang lalu, di sana saya membentuk suatu pandangan yang masih saya ikuti. Berikut ini saya kutip kalimat dalam tulisan tersebut, karena tulisan saya yang sekarang ini merupakan aplikasi prinsip yang ada di sana:

Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu.

Yang saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang seniman dan kepekaan akan tradisi, yang menurut saya, seorang seniman harus miliki; masalah umum lainnya adalah tentang keteraturan; dan fungsi kritik juga termasuk secara esensial ke dalam masalah keteraturan. Pemikiran saya tentang sastra, sampai sekarang, bahwa sastra dunia, sastra Eropa, sastra suatu negeri, bukanlah suatu koleksi tulisan individu-individu, tapi merupakan “keseluruhan bagian (organic wholes)”, sebagai sistem-sistem dalam hubungan, dan hanya dalam hubungannya dengan karya seni sastra individu, dan dalam karya seniman individu lah mereka punya arti penting. Karenanya, seorang seniman terikat dan mengabdi pada semua yang ada diluar dirinya, ia harus menyerahkan dan mengorbankan dirinya supaya mendapatkan dan meraih keunikan posisinya. Warisan dan sebab umum menyatukan seniman secara sadar dan tak sadar: harus disadari bahwa penyatuan itu biasanya secara tidak sadar. Seniman dimana dan kapan pun, saya percaya, adalah komunitas tak berkesadaran. Dan, insting untuk hidup teratur menyuruh kita untuk tidak meninggalkan bahayanya ketidaksadaran dari apa saja yang kita usahakan dengan sadar, dengan begitu, kita pun mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang terjadi secara tidak sadar membuahkan hasil, dan membentuk suatu tujuan, jikasaja kita membuatnya dengan suatu usaha yang sadar. Namun, seniman yang tidak bermutu tentu tidak mampu menyerahkan dirinya pada tindakan apapun; karena tugas utamanya adalah kesenangannya pada hal remeh yang menjadi pembedanya; hanya orang yang berani memberi begitu banyak yang bisa melupakan dirinya sendiri tenggelam dalam karyanya lah yang bisa bekerja sama, saling bagi, dan memberikan kontribusi.

Apapun pandangan orang tentang seni, tentunya akan mengikuti suatu pandangan tertentu. Meski demikian, pasti ada kesamaan pandangan dalam hal kritik. Yang saya maksud kritik disini adalah komentar dan jabaran karya seni dalam bentuk kata-kata tertulis; karena penggunaan secara umum kata kritik selalu mengacu pada tulisan, seperti yang Matthew Arnold gunakan dalam eseinya (The Function of Criticism at the Present Time, 1864), untuk itu, saya membuat beberapa kualifikasi tentang kritik.

 

Saya pikir, tidak ada eksponen kritikus (dalam artian terbatas) yang pernah membuat asumsi yang tidak masuk akal bahwa kritik adalah kegiatan yang didalamnya ada akhir atau tujuan (aututelic). Saya tidak menyangkal bahwa seni dimaksudkan untuk mencapai suatu akhir yang jauh melampauinya; tapi seni tidak harus menyadari akan akhir ini, walaupun seni melayani fungsinya entah sebagai apa saja, yang menurut teori tentang nilai, bahwa seni lebih baik mengabaikan akhir atau tujuan ini. Kritik, di sisi lainnya, harus selalu menyatakan suatu akhir dalam pandangan, yang dengan kata lain bisa dikatakan, bahwa kritik kelihatan seperti uraian, penjelasan suatu karya seni dan pembetulan suatu selera. Maka, tugas kritikus kelihatan lebih jelas, dan relatif mudah memutuskan apakah ia menghasilkan kritik yang baik atau tidak. Kalau dipelajari lebih dalam lagi, kritik adalah kegiatan bermamfaat yang tidak sederhana dan teratur, tidak seperti amatiran yang bisa dengan mudah didepak, yang tidak lebih baik daripada ahli pidato di taman tiap hari Minggu, yang belum sampai pada tahap seseorang yang punya perbedaan. Kritik, bisa dikatakan, suatu tempat sepi yang didalamnya terdapat usaha kooperatif. Kritikus, kalau orang itu ingin menampilkan keberadaannya, seharusnya selalu berusaha mendisiplinkan prasangka dan keanehannya (sifat yang biasanya dilekatkan pada kritikus) dan mengubah perbedaannya sebanyaknya sesama koleganya, dalam mencapai penilaian benar yang sama. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, kita mulai mencurigai bahwa suatu kritik dipengaruhi oleh latar kehidupannya menjadi sikap kekerasan dan ekstrim terhadap lawan kritik lainnya, atau pada sikap aneh tak bermamfaat yang ia punyai, yang ia rancang dan pertahankan, dan ia tidak menghiraukan pendapat lainnya. Kita pun tergoda untuk membuang semua yang tidak sesuai dengan pendapat kita.

Setelah membuang semua itu, atau setelah rasa marah hilang, kita lalu mulai menyadari bahwa ternyata ada banyak buku, esei-esei tertentu, kalimat, orang-orang yang memang ahlinya, dan semua ini “berguna” buat kita. Langkah selanjutnya adalah kita mulai mengklasifikasi, mencari tahu, prinsip apa yang akan dipegang dalam menentukan buku acuan, apa tujuannya dan metode kritik mana yang akan diikuti.

II

Pandangan tentang hubungan karya seni dengan seni, karya sastra dengan sastra, kritik dengan kritik, yang saya jelaskan sebelumnya, bagi saya kelihatannya bersifat alami dan jelas. Saya berterimakasih pada Mr. Middleton Murry (1889-1957, kritikus sastra dan pada masa hidupnya menjadi editor Adelphi yang ia dirikan) atas persepsi permasalahan yang sering menjadi pertengkaran ini, atau tentang pandangan saya bahwa adanya penyelesaian akhir masalah ini. Rasa terima kasih saya buat Mr. Murry tak terkira. Kebanyakan kritikus terjebak dalam suasana yang tidak mendukung: baik itu dalam usaha saling akur, saling hasut, menjatuhkan, menekan, menyombongkan, saling menenangkan, berpura-pura bahwa mereka orang yang santun dan yang lainnya sangat diragukan reputasinya. Tapi tidak demikian dengan Mr. Murry. Ia sadar bahwa ada posisi yang jelas yang harus diambil, dan sesekali seseorang harus berani menolak dan memilih. Ia penulis yang sangat dikenal dalam tulisan sastranya beberapa tahunlalu yang menyatakan bahwa era Romantis dan Klasik hampir sama, dan era Klasik Perancis yang sebenarnya adalah era yang menghasilkan katedral-katedral Gothic, Jeanne d’Arc misalnya. Yang saya tidak setuju tentang pernyataan Mr. Murry tentang era Klasik dan Romantis adalah bahwa, perbedaan yang tampak bagi saya adalah perbedaan antara yang lengkap dan yang terpecah, yang telah dewasa dan yang tidak matang, yang teratur dan yang kacau. Meski demikian, sebenarnya Mr. Murry ingin menunjukkan bahwa paling kurang terdapat dua sikap terhadap sastra dan apapun juga, dan Anda tidak bisa pegang dua-duanya. Dan sikap yang ia ambil menyiratkan bahwa yang satu tidak bisa dipakai di Inggris. Alasannya adalah karena ini isu nasional, isu rasial.

 

Mr Murry menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Ia mengatakan, “Katolik” adalah prinsip otoritas spiritual yang tidak dipertanyakan diluar individu; prinsip sastra era Klasik juga begitu”. Dalam lingkaran diskusi tentang pernyataan Mr. Murry, defenisi ini kelihatannya tak disangsikan lagi, meski tidak semuanya begitu yang bisa dikatakan tentang Katolik maupun era Klasik. Kita ada yang setuju dengan pernyataan Mr. Murry, bahwa era Klasik percaya manusia tidak bisa melanjutkan hidup tanpa kepatuhan pada sesuatu di luar diri mereka. Saya menyadari bahwa istilah “luar” dan  “dalam” mengundang pertanyaan yang tak terbatas, dan pakar psikologi tidak akan mentolerir diskusi seperti ini; tapi saya pikir saya dan Mr. Murry bisa menyutujui bahwa pertentangan ini memadai, dan memaklumi ketidaksetujuan teman psikolog kami. Jadi, kalau Anda membayangkan sesuatu ada diluar sana, maka diluar lah ia. Kalau seseorang tertarik pada politik, saya pikir ia tentunya mengakui kepatuhannya pada prinsip-prinsip politik, atau pada bentuk pemerintahan, pada suatu monarki; dan kalau seseorang tertarik pada agama, maka punya agama lah ia, atau gereja; dan kalau ia tertarik pada sastra, ia tentu mengakui prinsip kepatuhan yang telah saya jelaskan sebelumnya. Namun, ada pilihannya, seperti yang dikatakan Mr. Murry. Menjadi “penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris, tidak mewarisi tradisi dari para pendahulunya, karena yang mereka wariskan hanyalah: suatu rasa, kepekaan bahwa pada usaha akhirnya, mereka harus bergantung pada suara dari dalam (the inner voice).” Pernyataan ini kelihatannya memang menyelesaikan beberapa permasalahan; pernyataan ini membanjiri Mr. Lloyd George dengan cahaya. Tapi kenapa “pada usaha akhir (in the last resort)?  Apakah ini berarti menghindari perintah suara terdalam keluar pada suatu kondisi ekstrim terakhir? Yang saya yakini adalah bahwa bagi siapa yang punya suara dari dalam ini cukup siap untuk mendengarkannya, dan tak akan mendengarkan yang lainnya lagi. Sebenarnya, suara dari dalam kedengarannya sangat sama dengan prinsip lama yang diformulasikan oleh kritikus senior (Matthew Arnold, 1869, dalam karyanya Culture and Anarchy) dalam satu frase yang akrab sekarang “melakukan sesuatu sebagaimana yang seseorang sukai”. Para pemilik suara dari dalam ini suka menonton pertandingan sepak bola di Swansea, sambil mendengarkan suara dari dalam, menghirup pesan abadi kesia-sian, ketakutan dan nafsu.

Mr. Murry akan mengatakan, dengan menunjukkan suatu pembenaran, bahwa ini merupakan kesalahan penasiran yang parah. Ia mengatakan: “kalau mereka itu (penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris) menggali lagi lebih dalam dalam usaha mereka memperoleh pengetahuan diri (self-knowledge) –  semacam penggalian diri yang tidak hanya dengan intelek, tapi juga dengan keseluruhan manusia – mereka akan sampai pada suatu diri yang universal” –  tentunya berupa latihan yang jauh melebihi kekuatan dalam antusias menonton pertandingan sepak bola. Tapi menurut saya, ini adalah latihan yang cukup menarik untuk ditulis dalam beberapa buku panduan praktik Katolik. Namun saya yakin juga, bahwa praktisi Katolik, dengan kemungkinan pengecualian beberapa pelaku bid’ah, tidak meragukan Narcissi; karena dalam Katolik tidak mempercayai Tuhan dan dirinya identik. Mr. Murry menambahkan, “manusia yang betul-betul mempertanyakan dirinya pada akhirnya akan mendengarkan suara Tuhan”, Dalam teorinya, hal ini akan berujung pada suatu bentuk pantheisme (menyatunya Tuhan dengan ciptaanNya) yang saya tahu bukan khas Eropa – sama halnya dengan Mr. Murry yang mendukung bahwa aliran “Klasik” bukanlah Inggris. Demi hasil yang praktis, orang bisa saja mengacu pada sajak Hudibras (sajak panjang Samuel Butler, 1612-80, yang menyindir sekte sesat puritan).

Saya rupanya tidak menyadari bahwa Mr. Murry adalah pengikut suatu sekte berpengaruh, sampai saya membaca kolom editorial harian besar yang mengatakan, “pakar jenius luar biasa dan representatif telah muncul di Inggris, mereka tidak hanya semata-mata ekspresi karakter Inggris, yang tetap berdiamdi dasar sana dengan teguh “humoris” dan “non-konformis”. Penulis ini setengah-setengah dala menggunakan sifat “semata-mata”, dan dengan jujur tanpa aling menyifatkan “kehumorisan” pada “unsur Teutonik dalam diri kita yang tak bisa diraih”. Ini mengejutkan saya karena Mr. Murry dan suara dari dalam lainnya, tidak satupun yang terlalu teguh atau terlalu toleran. Pertanyaannnya adalah, yang pertama, tidak akan alamiah atau biasa buat kita, jadi, apa itu yang benar? Tak satu pun dari keduanya yang lebih baik dari yang lainnya, atau kalau bukan begitu ini tidak penting. Tapi bagaimana bisa suatu pilihan tidak penting lagi? Pastinya ini adalah masalah asal usul ras, atau pernyataan yang tak lebih seperti Perancis begini, dan Inggris sebaliknya, ini tidak akan menjawab pertanyaan: pandangan antithesis mana yang benar? Dan saya tidak bisa memahami kenapa oposisi antara Klasik dan Romantisme seharusnya sudah cukup saja di negeri Latin (begitulah yang dikatakan Mr. Murry) dan yang sama sekali tidak penting buat kita. Karena, kalaupun Perancis secara alamiah bersifat klasikal, kenapa harus ada “oposisi” di Perancis sendiri, yang lebih banyak lagi di sini? Dan kalau Klasik tidak alamiah buat mereka, tapi sesuatu yang harus diraih, kenapa tidak diraih saja di sini? Apakah Perancis pada tahun 1600 bersifat klasikal, dan Inggris pada tahun yang sama bersifat romantis? Perbedaan yanglebih penting menurut saya yaitu Perancis pada tahun 1600 telah menulis prosa yang lebih matang.

III

Diskusi ini kelihatannya sudah menyeret kita keluar dari jalur subjek tulisan ini. Tapi cukup beralasan untuk melihat perbandingan Mr. Murry tentang Otoritas Luar (Outside Authority) dengan Suara Dari Dalam (Inner Voice). Karena, bagi orang yang mematuhi (obey) suara dari dalam ini (barangkali, kata mematuhi/ obey tidak terlalu pas di sini), saya tida bisa bilang apa-apa lagi tentang kritik dan semuanya tidak akan bernilai lagi. Karena mereka tidak akan tertarik dengan usaha mencari prinsip yang sama untuk tujuan kritik. Buat apa prinsip, kalau sudah punya suara dari dalam? Kalau saya suka sesuatu, itu lah yang saya ingini; dan kalau Anda sudah merasa cukup, teriakkan bersama, sukailah itu, itulah yang Anda (yang tidak menyukainya) harus ingini. Mr. Clutton Brock (kritikus asal Inggris) bilang, bahwa hukum tentang seni semuanya adalah kasus hukum. Kita tidak hanya suka apapun yang kita ingin sukai tapi kita bisa menyukainya karena adanya alasan yang kita pilih. Kenyataannya, kita tidak menaruh perhatian pada kesempurnaan sastra sama sekali – karena pencarian kesempurnaan adalah pertanda kepicikan, karena ini menunjukkan bahwa penulis mengakui otoritas spiritual diluar dirinya yang tak terbantah, yang padanya ia selalu berusaha untuk berdamai (conform). Kita tidak tertarik pada seni sama sekali. Kita tidak akan menyembah tuhan Baal. “Prinsip kepemimpinan klasikal adalah bahwa penyembahan ditujukan untuk perkantoran, atau tradisi, tapi tidak untuk manusia”. Yang kita inginkan adalah manusia, bukan prinsip.

Demikianlah sang suara dari dalam berbicara. Ini adalah suara, yang demi kenyamanan, kita beri nama saja, saran saya adalah, Whiggery (catatan penerjemah: Whiggery berasal dari kata Whig, pada abad 16-an Inggris, partai politik yang menentang Raja James, Duke of York yang Katolik sewaktu menaiki takhta. Partai ini mendorong pembatasan Monarki, mendorong reformasi sosial, Industrialisai, dan liberalisme)

IV

Sekarang kita tinggalkan mereka yang punya kepastian panggilan dan pilihan hidup (kalimat ini adalah alusi ironis doktrin penyelamatan Calvinis) dan kembali pada mereka yang dengan memalukan bergantung pada tradisi dan kumpulan kebijaksanaan kuno, dan  membatasi tulisan ini pada mereka yang saling bersimpati dalam diskusi yang rentan ini, ada baiknya kita mengomentari istilah “kritikal” dan “kreatif” oleh seorang yang tempatnya, secara keseluruhan, bersama perkumpulan persaudaraannya yang rentan, Matthew Arnold. Kelihatannya, ia terlau jauh membedakan kedua istilah ini: ia meninjau dengan luas pokok-pokok penting kritik dalam kegiatan kreasi itu sendiri. Barangkali memang, kegiatan yang lebih menyita pikiran penulis dalam menghasilkan karyanya adalah kegiatan mengkritisi itu, penyelidikan lebih dalam, penggabungan, usaha membangun ide, membuang ide yang tidak perlu, koreksi, dan pengujian: inilah seabrek kegiatan kritik dan kreatifitas. Saya tetap berpendapat bahwa kritik paling vital dan tertingi seharusnya dilakukan oleh penulis yang terlatih dan punya keahlian dalam pekerjaannya, dan (seperti yang sudah saya katakan sebelumnya) ada penulis kreatif yang lebih superior dibanding lainnya karena daya kritisnya memang superior. Ada kecenderungan, saya pikir ini kecenderungan Whiggery, untuk mencela usaha luar biasa seniman ini; dengan mengemukakan tesis, bahwa seniman hebat adalah seniman yang tidak berkesadaran, yang secara tidak sadar memberi label diri mereka dengan Terobosan Kekacauan (Muddle Through). Tapi diantara  kita yang tidak punya suara dari dalam (Inner Deaf Mutes), kadang terimbangi oleh suatu kesadaran sederhana, yang, meski tanpa kehebatan kata-kata agung, tetap menganjurkan kita untuk berbuat yang terbaik, mengingatkan kita bahwa karya kita harus sebisanya bebas dari cacat apapun. (untuk menebus kekurangan inspirasi mereka), pendek kata, hanya membuang-buang waktu saja. Kita sadar juga, bahwa diskriminasi kritis yang ditujukan pada kita hanya ada pada orang yang cepat sekali beruntung dalam suatu kreasi yang angat hebat; kita tidak berasumsi bahwa hanya karena suatu karya sudah ditulis tanpa adanya kritikan yang jelas, bukan berarti tidak ada usaha kritis yang telah dilakukan. Kita tidak tahu usaha sebelumnya yang telah dipersiapkan, atau yang sedang berlangsung, dalam cara kritis, sepanjang waktu dalam pikiran para pencipta ini.

Tapi afirmasi ini membuat kita kecut juga. Jika begitu besar bagian dari suatu penciptaan yang juga masuk dalam kegiatan kritik, tidakkah bagian besar itu dinamakan “tulisan kreatif” betul-betul kreatif? Jika demikian, tidak adakah kritik yang kreatif dalam artian biasa? Kelihatannya tidak ada jawaban untuk ini. Saya mengajukan suatu aksiomatis bahwa suatu kreasi, karya seni, adalah bersifat autotelic, adanya tujuan jelas dalam dirinya, dan kritik, dilihat dari defenisinya, adalah tentang sesuatu yang lain darinya. Dengan begitu, anda tidak bisa menyatukan penciptaan dengan kritik sebagaimana Anda menggabungkan kritik dengan penciptaan. Aktifitas kritikal sampai pada pencapaian tertingginya, dalam suatu penyatuan penciptaan apa yang dilakukan seorang seniman.

Namun begitu, tak seorang penulis pun yang bisa sepenuhnya bekerja sendiri, dan banyak penulis kreatif punya kegiatan kritis yang tidak sepenuhnya tertumpah pada karyanya sendiri. Ada yang menjaga daya kritis mereka dengan melakukan latihan tanpa aturan jelas; ada yang menyelesaikan karya mereka, ada yang terus melanjutkan kegiatan kritik mereka dengan selalu mengomentarinya. Tidak ada aturan umumnya. Karena setiap orang bisa belajar dari orang lain, dan mereka saling mengambil dan memberi. Bahkan ada yang sangat berguna bagi orang yang bukan penulis.

Pada suatu waktu saya tergerak untuk mengambil suatu sikap bahwa kritik yang pantas untuk dibaca hanya kritik yang dipraktikan dengan baik, dengan selera seni yang mereka punya. Tapi perlu saya perjelas lagi, sebagaimana usaha saya dalam mencari suatu rumus yang mencakup semua yang ingin saya nyatakan, meski ini melebihi dari apa yang saya inginkan. Kualifikasi paling penting yang bisa saya temukan, menyangkut pentingnya kritik bagi para praktisinya, adalah bahwa suatu kritik harus punya kepekaan akan fakta yang dikembangkan dengan sangat tinggi. Ini tidak sepele dan semata masalah bakat. Ini bukan tentang seseorang yang dengan mudahnya mendapatkan pujian orang banyak. Kepekaan akan fakta (the sense of fact) adalah sesuatu yang sangat lambat berkembang, dan perkembangannya yang lengkap mungkin berarti puncak peradaban. Begitu banyak fakta lapangan yang harus dikuasai, dan fakta lapangan terluar kita, pengetahuan, kontrol, terikat dengan kesenangan yang mencandu dalam bidang yang jauh lebih luas lagi. Buat anggota Browning Study Circle, diskusi para penyair tentang puisi kelihatannya membosankan, teknikal, dan terbatas. Diskusi ini hanya berkisar pada praktisi yang mengklarifikasi dan mengurangi fakta yang membuat segalanya jadi kabur; karena teknik tak memadai yang dipakai, dan bagi yang telah menguasainya, inilah yamg membuat anggota diskusi senang, hanya yang ringkas, terlacak dan bisa dikendalikan. Itulah yang menjadi satu alasan nilai kritik dari para praktisinya – ia berurusan dengan fakta darinya, ia bisa membantu kita untuk mengerjakan hal yang sama.

Pada tiap tingkatan kritik, saya menemukan kesamaan yang selalu hadir. Ada bagian besar tulisan kritikal yang merupakan “penafsiran” si penulis, suatu karya. Ini tidak berada dalam tingkatan Kegiatan Diskusi (Study Circle); ini kadang terjadi saat seseorang bisa mengerti yang lainnya, atau penulis kreatif, yang bisa ia berkomunikasi dengannya meski setengah-setengah, dan kita merasa ia benar dan memberikan pemahaman. Sulit menyatakan “penafsiran” dengan bukti luar. Bagi orang yang punya kemampuan pada tingkatan ini tentu akan menjadi bukti sendiri. Tapi siapa yang akan membuktikan keahliannya sendiri? Dan setiap kesuksesan untuk jenis tulisan ini, selalu ada ribuan banyaknya amatiran. Bukannya mendapatkan suatu pemahaman, tapi malah fiksi yang didapatkan. Jalan keluarnya adalah dengan cara aplikasi terus menerus, dengan cara pandang orisinil yang akan menuntun Anda. Namun begitu, tak ada seorangpun yang akan menjamin kompetensi Anda, inilah dilemanya.

 

Kita harus memutuskan apa yang berguna dan yang tidak, meski kita tidak begitu ada kemampuan untuk melakukannya. Tapi cukup meyakinkan bahwa “penafsiran” (di sini saya tidak bermaksud menyentuh elemen jumlah baris dalam karya sastra) akan diakui kalau ia bukan penafsiran sama sekali, tapi hanya dengan meletakkan posisi pembaca sebagai pemilik fakta yang kalau tidak begitu ia akan kehilangan. Dari pengalaman saya di perkuliahan Ekstensi (kelas dewasa yang diadakan pada malam hari di perguruan tinggi), saya temukan ada dua cara bagaimana membimbing siswa untuk menyukai sesuatu dengan kesukaan yan benar: pertama dengan memperkenalkan pada mereka seleksi bacaan dengan fakta yang lebih sederhana – bisa itu kondisinya, setting, dan asal usul, kedua dengan memupuk mereka dengan bacaan bermutu sehingga mereka tidak akan berprasangka menentangnya. Banyak cara bagaimana membantu mereka dalam hal drama periode Elizabeth: seperti pembacaan dengan keras puisi T.E. Hulme yang berfungsi memberikan efek langsung puisi tersebut.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan yang juga dijelaskan oleh Remy de Gourmont sebelum saya (seorang pakar tentang fakta, yang kadang-kadang saya khawatirkan, ia bergerak ke luar dari bidang sastra, seorang pakar ilusi fakta), perbandingan dan analisis adalah alat utama kritik. Memang, sebagai alat, yang mesti dirawat, dan tidak digunakan dalam penyelidikan novel Inggris. Perbandingan dan analisis tidak digunakan dengan kesuksesan yang menyolok oleh penulis kontemporer. Anda harus tahu apa yang dibanding, dan apa yang analisa. Mendiang Profesor (W.P) Ker adalah seorang yang ahli dalam cara ini. Perbandingan dan analisi hanya butuh bangkai mati di atas meja; tapi penafsiran selalu menghasilkan bagian-bagian tubuh dari kantongnya, dan membenarkannya kembali. Buku apa saja, esei, catatan dalam Notes and Queries, yang menghasilkan fakta bahkan dari bagian terendah sekalipun dari suatu karya seni yang malah lebih baik dibanding sembilan persepuluh jurnal kritik paling berpengaruh, atau dalam buku. Kita mengira bahwa kita adalah tuan, bukan budaknya fakta, dan kita tahu bahwa penemuan kertas tagihan cucian Shakespeare tidak akan berguna banyak buat kita; tapi kita harus selalu mempertahankan penilaian akhir seperti halnya kesia-sian penilitian yang telah menemukan kertas tagihan tersebut, dalam suatu kemungkinan bahwa ada orang jenius yang akan muncul dan tahu gunanya untuk menaruh kertas itu kembali. Titel, sesederhana apapun, ada haknya untuk itu, dan kita menganggap kita tahu bagaimana cara menggunakannya dan membuangnya. Proses perbanyakan buku kritik dan esei bisa saja menciptakan, dan saya sudah lihat hal ini terjadi, selera bacaan yang tidak sehat, dimana bacaan karya seni lebih diutamakan daipada membaca karya itu sendiri, hal ini bisa menjadi sekedar penyaluran pendapat daripada mendidik selera bacaan. Namun, fakta tidak bisa mengalahkan selera; pada tingkat paling parah, hal ini membuat selera pembaca tidak berkembang – seperti bacaan sejarah tentang yang antik-antik, biografi, – semua dibawah ilusi bahwa ini akan membantu yang lainnya. Orang yang paling parah dan korup di sini adalah orang yang kerjanya menyalurkan opini atau sekedar kesenangan; dan Goethe dan Coleridge juga termasuk – lihat saja karya Coleridge, Hamlet: jujurkah penyelidikannya sejauh data yang digunakannya, atau apakah ini hanya semacam usaha Coleridge untuk tampil dalam kostum yang centil menarik?

Kita belum juga menemukan semacam tes yang bisa diaplikasikan orang lain; kita sudah membuka jalan selebar-lebarnya untuk melahirkan buku-buku yang tak terhitung banyaknya dan yang juga tidak bermutu; tapi saya pikir, kita sudah menemukan suatu tes, yang bagi siapa saja yang mampu menggunakannya, akan membuang bagian-bagiannya yang ada cacatnya. Dengan tes ini kita bisa kembali pada pernyataan awal tentang kebijakan sastra dan kritiknya. Untuk jenis karya kritik yang kita akui, ada kemungkinan kegiatan saling kerja sama, dengan kemungkinan lebih jauh lagi untuk sampai pada sesuatu di luar diri kita sendiri, yang untuk sementara waktu kita sebut kebenaran. Tapi kalau ada orang yang tidask puas karena saya belum memberikan defenisi kebenaran, atau fakta, atau realitas, saya hamya bisa mengatakan rasa maaf karena bukan itu tujuan saya, karena saya hanya mencari suatu skema yang di dalamnya, apapun itu adanya, mereka pantas untuk itu, jika memang mereka ada. (*)

*Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Iwan Simatupang: Mencari Tokoh bagi Roman

mm

Published

on

Tokoh yang bagaimana saja bisa tampil dalam roman. Terserah teknik pengarang, mana didulukan. Tokoh dulu, baru menyusul cerita bersama persoalan gaya. Atau, sebaliknya.

Seorang Giraudoux memilih yang sebaliknya. Cari dulu gayanya, idenya menyusul kemudian, kata dia. Dengan ide antara lain maksudnya tokohnya, tokoh-tokohnya. Sedangkan Proust bertahun-tahun mencari tokohnya dulu. Sekali ketemu, tokohnya itu (walau ini dirinya sendiri) tak mudah lagi meninggalkannya. Hasilnya A la Recherche du Temps Perdu, berjilid-jilid. Dan berapa banyak pengarang atau calon pengarang lainnya, yang keburu mati tanpa kunjung menemu tokohnya, gayanya?

Siapa yang berkata soal tokoh gaya ini, dalam hubungan tata letak (volgorde) dan hirarkinya adalah soal remeh saja, soal formal saja, pada hakikatnya mengatakan sesuatu yang revolusioner dan menjanjikan suatu persoalan prinsipil baru dalam kesusastraan. Tapi apakah revolusi itu? Mana novel, atau sebutlah roman, yang telah tercipta tanpa mengalami urgensi persoalan tadi?

Tokoh-tokoh yang ditampilkan dalam roman-roman terakhir Prancis, belum meyakinkan kita bahwa revolusi itu telah mulai. Memang, tokoh-tokoh itu harus kita tarik garis-garis sosok tubuhnya sesuai kita membaca dan mencamkan roman-roman itu. Selama pembacaan, tokoh-tokoh tersebut cerai-berai, dicairkan dan disebarkan dalam sekian pelukisan suasana dan sekitar. Tapi menjelang halaman terakhir, sosok tubuh itu melangkah maju ke arah kita dari balik kaki langit keremangannya. Titik terakhir pada halaman terakhir, adalah saat ia turun dari kereta apa langsung ke dalam pelukan kita yang datang menyambutnya. Ia kita ciumi, kita hujani pelukan kata-kata selamat datang yang harus menyatakan ketuanrumahan kita yang tulus dan gembira sekali – walau dalam perjalanan dari setasiun ke rumah, kita sebenarnya mencoba mengingat-ingat kembali halaman-halaman buku itu, dari mana harus kita tentukan identitas tamu kita itu.

Dengan kata lain, aktualitas persoalan tokoh dan gaya itu, masih saja terus hingga ke masa kita kini. Untuk kesekian kali kita mengalami, betapa sesuatu tokoh tertentu telah membawa bersama dirinya gaya pelukisannya sendiri. Demikian pula, betapa sesuatu gaya tertentu telah membawa bersama dirinya tokoh – atau tokoh-tokoh – yang akan dilukiskannya. Sehingga dengan demikian close-up dari persoalan tokoh dalam seni roman dewasa ini berarti tuntutan membawa persoalan itu dalam bentuk lain ke bidang lain. Sebutlah bidang etis, atau bidang historis, suatu bidang yang lincah dan bergerak selalu.

            Kesusasteraan hendaknya mencerminkan masanya, kata segolongan orang staf bijaksana. Lalu mereka mengajukan acara, agar struktur dan napas dari kebenaran dan kenyataan aktual nyata pada tokoh-tokoh romannya. Suatu tuntutan yang sebenarnya tak terlalu banyak punya salah, dan dapat dimaafkan.

Bahkan, bila ia dikaji hingga ke akar-akarnya, tuntutan itu hanyalah merupakan ulangan yang kesekian saja dari apa hakikat kesusastraan yang sebenarnya. Tuntutan itu seolah membawa kondisi tabula rasa bagi tokoh-tokoh yang tampil dalam romannya, dalam arti bahwa apa dan bagaimana saja pun corak, bentuk, isi dan semangat dari tokoh (atau tokoh-tokoh) itu, ia adalah benar, dapat dibenarkan. Mengapa? Karena itulah prakondisinya, sifat dan watak purbanya.

Dengan ini tibahlah kita ke tingkat berikut sesudah tabula rasa. Yakni tingkat dari mana kita sudah tak berhak lagi punya pendapat. Tepatnya, penilaian atas sesuatu tokoh. Kita ada di suatu lapisan perudaraan, di mana segala sesuatu memang punya hubungan tertentu dengan diri kita, tapi juga di mana segala sesuatu itu tegak jenseits von Gut und Bose terhadap kita. Tiap mereka itu telah mendukung dalihnya masing-masing bagi keadaannya.

Tapi, justru di sinilah letak dari sekian kesukaran itu.

Apa yang dianggap sebagai persoalan klasik itu, ternyata merupakan persoalan sulit, untuk tak mengatakan tak mungkin, untuk dipahamkan, apalagi untuk diwujudkan. Sebab, apakah sebenarnya yang diminta dari seorang pengarang yang mesti menampilkan tokoh “yang mencerminkan mas”-nya? Yakni, mempersonifikasi waktu dalam diri seseorang. Dan ini terang tak mungkin, mengingat sifat totalitas waktu, demikian juga totalitas tokoh itu sebagai salah satu variant dari genus manusia. Akan tetapi, seperti kata-kata bersayap lainnya, maka semboyan “kesusastraan cermin masa” ini pun mempesona banyak pengarang. Pesona, yang membuat mereka kabur melihat konstelasi metafisis tadi, dan menyusur mereka melompatinya saja. Lalu mereka sampai kepada fragmen dan aspek.

Tokoh, demikian surat kepercayaan mereka yang baru, adalah fragmen atau aspek tertentu saja dari tokoh sebenarnya. Dia tak perlu mengambil aanloop hingga ke Adam dan Siti Hawa. Bahkan ia tdak perlu turun hingga ke tanggal 1 Januari 1960. Satu sekon saja sudah cukup untuk dialami sebagai waktu, dan oleh sebab itu cukup untuk dihayati, tegasnya didramatiskan, bagi sesuatu roman.

Adalah “tokoh fragmentaris, dalam waktu fragmentaris” ini, yang harus tampil dalam roman modern, roman fragmentaris ….

Fragmentarisme ini secara mengesankan sekali dilukiskan oleh Dostoyevski dalam novelnya yang kecil, Manusia Bawah Tanah. Novel? Adakah ini (masih) dapat disebut Novel?

Satu-satunya yang masih utuh dalam buku ini hanyalah disiplin dan kecermatan psikologis sang Penulis, dengan mana ia menyuruh kita menerima keceraiberaian tokoh utamanya (juga, satu dua tokoh sampingan lain) sebagai ramuan satu satuan juga, setidaknya sebagai satu kumpulan.

Tapi, sesudah novel Dostoyevski tersebut, framentarisme terang-terangan dijadikan oleh sekelompok pengarang menjadi programa. Dan ketika selama dan sesudah Perang Dunia Kedua, waktu benar-benar dialami. Yakni secara empiris. Sebagai fragmen-fragmen, roman-roman fragmentaris itu beterbitan bagai cendawan. Publik, yakni menusia-manusia fragmentaris yang berhasil keluar sebagai makhluk-makhluk yang masih hidup dari perang tersebut, dengan lahapnya memamah roman-roman itu. Sartre, Camus, Moravia, Boll, adalah antara lain nama-nama yang teramat disukai. Bukan saja oleh kaum snob, tapi juga oleh menteri-menteri kebudayaan, uskup-uskup dan mufti-mufti besar.

Ya! Keluh beberapa simpatisan yang segera kecewa, fragmentarisme ini telah berubah kini menjadi suatu gaya penulisan, dimana banyak, banyak sekali! Kata-kata dicurahkan untuk melukiskan sesuatu kejadian yang – tak terjadi, sesuatu peristiwa yang – bukan peristiwa. Bahkan, kadang-kadang ada roman di mana tokoh sama sekali tak ada. Yang ada hanya kata-kata, banjir kata-kata ….

Samuel Beckett, seorang penyair dan pengarang roman turunan Irlandia yang kemudian menetap di Paris dan menjadi salah seorang terkemuka dalam barisan tokoh pembaru teater akhir-akhir ini, pernah menyimpulkan hal di atas sebagai berikut:

Tokoh tak diperlukan lagi. Yang penting adalah situasi. Tanpa tokoh, tanpa manusia, situasi semakin padat dirasakan. Situasi adalah yang membuat kita a priori solider dengan tiap jenis derita, tanpa ada manusia yang berkaok-kaok meminta perhatian kita. Situasi ini adalah drama, tragedi, komik, segalanya. Ia telah mengusir tokoh-tokoh dari dalam sastra dan teater modern.

            Dan apabila Beckett dalam lakon sandiwaranya En attendant Godot, masih menampilkan manusia-manusia, maka kita disuruhnya menanggalkan kacamata kita. Ia berseru, “Gosok kaca mata Anda baik-baik, kemudian lihatlah lagi. Adakah yang Anda lihat dalam lakon saya itu, benar-benar masih manusia?”

Memang, tokoh-tokohnya itu bukan manusia-manusia lagi. Tapi kerangka-kerangka manusia saja. Beckett telah memutarbalikan dalil seni drama, di mana manusia, (sejauh ia masih ada) sudah menjadi requisit saja lagi dalam lakon. Manusia-manusia itu secara terang-terangan dijadikannya benda-benda dari situasi saja, tak lebih, tak kurang. Dan kita dihenyakkannya dengan banjir kata-kata. Kata, kata, kata, tak habis-habis. Pada akhir lakon kita ikut kehabisan napas. Dengan perasaan yang histeris, kita pulang ke rumah dan bermimpin tentang kiamat, dimana kata-kata telah mengenggelamkan seluruh jagat ini, bersama kita.

Dan bila kita bertemu tuan Beckett esoknya, dan kita ceritakan padanya bahwa lakonnya telah membuat kita bermimpi buruk, semalaman, bahwa kita namun sesudah itu semuanya tak mengerti isi, atau ‘pesan’ lakon sandiwaranya itu, bahwa kita kini oleh sebab itu ingin pergi ke seorang psikiater … maka dia akan tertawa riang, menepuk-nepuk bahu kita, berkata, “Aha! Jadi sandiwara saya itu berisi, pementasannya berhasil. Terima kasih!”

Kita tak hendak mengatakan bahwa hakikat dari sastra modern umumnya, roman modern khususnya, adalah ataupun seharusnyalah bybris atau bahkan histeri. Pendapat serupa ini baik kita serahkan mengucapkannya oleh seorang yang cukup punya eksentrisitas. Hal-hal di atas itu kita singgung di sini, oleh sebab ia menurut pendapat kita ikut mengandung ciri-ciri dan disebabkan itu juga ikut mengandung kemungkinan-kemungkinan penyelesaiannya, dari persoalan “krisis roman” saat ini. Althans, sejauh krisis itu ada.

Krisis roman kini antara lain disebabkan sulitnya tokoh. Atau tokoh-tokoh. Bagi roman yang bakal ditulis itu, mereka membiarkan diri ter-“tangkap” oleh kita. Demikianlah pendapat beberapa kalangan. Disebabkan fragmentarisme, dari kesemuanya: ruang, waktu, semuanya. Seorang yang pada dirinya (yakin pengarang) telah cerai-berai, berantakan, taklah mungkin me-“nangkap” ataupun menyimpulkan benda-benda di sekitarnya, yang pada dirinya masing-masing adalah juga cerai-berai.

            Oleh sebab itu – demikian ramalan mereka – kesusastrraan masa datang, adalah kesusastraan-minus-roman

Atau roman akan lenyap! Sambung mereka, atau akan lahir suatu seni roman yang baru sama sekali, yang berlainan dari seni roman hingga sekarang. Apa dan bagaimana seni roman yang baru itu, itu sebaiknya kita nantikan saja. Itu adalah justru faktor x, the imponderable, yang masih harus kita sambut lagi.

Apabila suara-suara seperti ini harus kita simak, maka memang sebaiknyalah kita menyampul pena kita dan menyimpangnya dalam peti pusaka. Kita tukar ia dengan pacul, atau senapan, sebab dengan itu kita bisa lebih efektif menghabisi tahun-tahun terakhir hidup kita. Tapi, menurut hemat kita, masih terlalu pagi kini untuk menyerahkan diri bulat-bulat kepada defaitisme. Bila bumi mau kiamat, silakan! Tapi, menurut hemat kita, masih terlalu pagi kini untuk menyerahkan diri bulat-bulat kepada defaitisme. Bila bumi mau kiamat, silakan! Tapi mari kita hidup terus hingga saat terakhir yang mungkin bagi kita. Tiap saat itu akan kita hirup sepuasnya, dengan segala intensitas yang diberikan oleh status kita kepada diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita akan mencari terus. Mencari garis-garis bagi sosok tubuh tokoh-tokoh kita dalam roman-roman yang bakal, bahkan yang mesti, kita tulis.

Kita mencari dengan program yang diberikan oleh esensi dari eksistensi kita. Yang diberikan oleh impulse kita pada sat ini, tanpa perlu sorotan mata yang waspada kepada kitab undang-undang yang terlalu tebal dan tiang-tiang gereja yang terlalu kelu. Dan dalam melakukan ini, kita tak berpegang pada hanya satu semboyan semata. Kita akan melukiskan tokoh-tokoh yang mencerminkan masanya, bila identitas atau analogi serupa itu merupakan tuntutan satu-satunya dari pena kita pada saat itu. Bila sesudah saat itu identitas ini aneh bagi kita, janggal, bahkan merupakan pengkhianatan terhadp kedirian kita pada saat itu, ia kita robek lagi dan lemparkan ke dalam keranjang sampah. Sudah tentu disaat berikut robekan-robekan itu boleh kita ambil kembali dari keranjang sampah, kita lurus-luruskan kembali, kita salin kembali ….

Lingkaran-lingkaran serupa ini taklah boleh dianggap sebagai impotensi. Pergulatan serupa ini harus semakin intensnya dirasakan si pengarang, dengan tekad bahwa ia pada akhirnya harus mampu menembus lingkaran-lingkaran itu. Hasilnya, terserah kritikus, dan publik pembaca, yang tak selalu membeli buku lewat pertolongan resensi atau kritik.

Kita ingin menggoreskan tokoh-tokoh roman kita, seperti itu kita kehendaki sendiri. Kehendak, yang dengan sendirinya telah mengalami capaian fantasi dan pengalaman kita: campuran tulen dari Wahrheit und Dichtung, dari totalitas dengan nuansa; dari pengkhianatan dengan patriotisme; dari kecabulan dengan kesyahduan; dari kekejaman dengan peri kemanusiaan.

Apabila Oedipus hendak melarang kita meniduri ibu sendiri, adalah satu naluri yang mungkin, oleh sebab itu fitri. Besarnya marah kita terhadap ucapan ini, adalah justru tanda bahwa ia/itu mungkin, bahwa ia/itu benar. Adakah kita harus menuliskan roman yang tak boleh benar? Adakah kebenaran suatu indeks bagi pengarang? Adakah kebenaran tak benar bagi roman?

Oleh sebab itulah kita mengajak para pengarang mengarang roman tentang revolusi, tentang kepahlawanan, tentang cinta tanah air, agar jangan membiarkan diri mereka layu, bila revolusi dan perang telah lama lalu.

Diri mereka secara tertentu sangkut pada waktu. Oleh sebab itu mereka jangan lalu menampik dialektika yang dibawa serta oleh kelanjutan waktu. Apabila dialektika itu membawa semacam imperatif bagi mereka untuk menulis roman tentang anti-revolusi, tentang anti-kepahlawanan, tentang untung bahagianya kepahlawanan, tentang untung bahagia yang dibawa oleh kekecutan dan kebusukan hati, mereka hendaknya jangan mengubah menjadi kiai-kiai cengeng yang hendak menyembunyikan impotensi dan sterilitas mereka. Bahkan, berdiam diri adalah pengkhianatan terhadap hakikat dirinya, selaku pengarang.

Selama jantung kepengarangan seperti ini masih berdetak, maka segala ramalan tentang nasib kesusastraan umumnya, nasib roman pada khususnya, kita biarkan sebagai ramalan belaka – dan kita bekerja terus.

Mencari terus garis-garis bagi sosok tubuh tokoh-tokoh roman kita yang akan datang.

Mencari terus, di dalam bayang-bayang suram dari keterbatasan umur kita …. (*)

 

Siasat Baru, XIV (668), 30 Maret 1960, hlm. 20-23.

 _________________________________

Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970. Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian ini dikenal dengan novel-novelnya yang mengusung semangat eksitensialisme: Merahnya Merah (1968); Kering (1972). Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit (1982). Kumpulan puisinya adalah Ziarah Malam (1993).

Sumber: Satyagraha Hoerip (ed.), Sejumlah Masalah Sastra, Sinar Harapan, Jakarta 1982.

Continue Reading

Editor's Choice

Ketjelakaan Sedjarah Sastra

mm

Published

on

Oleh Joss Wibisono*

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak bersikap munafik. Maka keputusan tidak mengikutkan karjanja bukan semata dapat dimengerti, tetapi patut pula diatjungi djempol.

Tak terbajangkan langkah Ghosh ini terdjadi di Indonesia. Berbeda dengan Inggris jang mewariskan bahasanja kepada pelbagai bekas djadjahan —bahkan tidak sedikit negara memberlakukan Inggris sebagai bahasa nasional— Belanda tidak mewariskan bahasanja kepada Indonesia. Memang generasi bapak (dan ibu) bangsa kita dulu masih fasih berbahasa Belanda, tetapi anak2 mereka sudah tidak lagi, kita sudah sepenuhnja berbahasa Indonesia. Tidaklah mengherankan djika tak ada lagi penulis Indonesia zaman sekarang jang berkarja dalam bahasa (bekas) pendjadjah itu.

Walau begitu tidaklah berarti kita lajak membatasi sastra Indonesia hanja se-mata2 karja jang ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Sebagaimana India tidak bisa membatasi sastra India hanja pada karja2 jang ditulis dalam pelbagai bahasa negeri itu —karena tidak sedikit sastrawan India jang menulis dalam bahasa Inggris, bekas pendjadjah— maka tidaklah arif pula djika kita berani membatasi sastra Indonesia hanja pada karja2 jang ditulis dalam bahasa2 jang ada di bumi Nusantara. Alasannja berkaitan dengan sedjarah, tapi sebelum itu berikut ini perlu terlebih dahulu diuraikan mengapa bahasa Belanda tidak berakar di Nusantara, padahal Hindia Belanda adalah djadjahan terbesarnja.

Banjak orang menganggap bahasa Belanda tersingkir tatkala para pemuda anti kemapanan pada achir 1928 bersumpah untuk, selain bertanah air dan berbangsa satu, masih pula berbahasa satu jaitu bahasa Indonesia. Walau begitu tetap patut ditindjau politik bahasa pendjadjah Belanda, karena tidak berarti bahwa menjusul Soempah Pemoeda, maka semua orang Indonesia langsung tidak lagi berbahasa atau menulis dalam bahasa pendjadjah. Bahkan sampai 1950an, ketika Belanda sudah mengakui kemerdekaan kita, masih ada sadja buku jang terbit dalam bahasa Belanda.

Berawal dengan perusahaan dagang, VOC menguasai Hindia Timur (begitulah mereka mendjuluki Indonesia) dengan prinsip menekan biaja serendah mungkin. Itulah prinsip dunia usaha, kapanpun dan di manapun ongkos harus selalu ditekan serendah mungkin, bukan hanja untuk menghindari rugi, tapi terutama djuga untuk meningkatkan laba.

Bahasa Belanda tidak mereka sebarkan, itu makan biaja besar. Lebih murah mewadjibkan pegawai VOC untuk beladjar bahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia. Akibatnja Hindia Timur merupakan satu2nja koloni di dunia jang diperintah bukan dalam bahasa Eropa. Sekali lagi, ini karena Hindia pada awal mulanja didjadjah oleh perusahaan dagang, bukan oleh negara. Ketika VOC bangkrut pada achir abad 18, baru Belanda sebagai negara mengambil alih Hindia, tapi ini dilakukan Den Haag (pusat pemerintahan Belanda) hanja dengan enak melandjutkan politik bahasa VOC. Sekali lagi itu adalah politik bahasa jang murah. Lebih murah mengadjarkan bahasa Melajoe kepada orang Belanda, ketimbang sebaliknja: mengadjarkan bahasa Belanda kepada penduduk koloni.

Alhasil tjalon amtenar kolonial wadjib beladjar bahasa Melajoe, sedangkan bahasa Djawa (bahasa kedua jang paling banjak penggunanja di wilajah djadjahan) merupakan pilihan. Ketika masih berupa pendidikan kedjuruan pada abad 19 kedua bahasa diadjarkan di Delft, dan ketika sudah berubah mendjadi pendidikan akademis kedua bahasa (termasuk hukum adat dan pelbagai pengetahuan lain tentang wilajah koloni) diadjarkan di universitas Leiden, pada fakultas jang bernama Indologie, bisa disebut sebagai tjikal bakal kadjian Indonesia zaman sekarang.

Sebagai pendjadjah extraktif jang artinja terus2an menguras, Belanda tidak pernah mewadjibkan Hindia menggunakan bahasanja. Dalihnja kita sudah punja lingua franca jaitu bahasa pengantar dan itu adalah bahasa Melajoe. Padahal, Prantjis tetap mewadjibkan Maroko, Aldjazair dan Tunisia —dikenal sebagai Maghreb— jang sudah memiliki lingua franca bahasa Arab, untuk djuga menggunakan bahasa pendjadjah itu.

Wilajah djadjahan harus berbudaja seperti negeri induk, demikian makna politik pendjadjahan Paris jang mereka sebut l’œuvre civiliçatrice atau mission civiliçatrice alias karja atau missi pembudajaan jang berarti penjelenggaraan pendidikan termasuk penjebaran bahasanja. Paris mulai meluntjurkan politik ini pada 1874. Bahasa Prantjis djuga harus dipergunakan di wilajah koloni. Karena itu sampai sekarang bahasa Prantjis tetap merupakan bahasa kedua di Maghreb, sesudah bahasa Arab. Itulah bahasa penghubung Maghreb dengan dunia internasional.

Hal serupa djuga dilakukan Inggris, Spanjol dan Portugal pada djadjahan2 mereka di manapun djuga di bumi ini. Bahkan bahasa2 Spanjol dan Portugis mendjadi bahasa nasional di negara2 Amerika Latin. Di Asia Tenggara ada Indochine (Vietnam, Laos dan Kambodja) jang berbahasa Prantjis, Filipina jang berbahasa Spanjol (tapi pada 1898 berubah mendjadi djadjahan Amerika sehingga sampai sekarang berbahasa Amerika), Semenandjung Malaja (mentjakup Singapura) jang berbahasa Inggris serta Timor Portugis jang sudah tentu berbahasa Portugis.

Belanda jang tak henti2nja mengeruk Hindia, antara lain melalui Tanam Paksa pada abad 19, baru pada awal abad 20 sadar perlunja menjebarkan bahasa, tatkala kolonialisme mereka bertjorak Politik Etis. Saat itulah mereka melihat bahwa bahasa2 Prantjis, Inggris, Spanjol sudah mendjadi bahasa pengantar di banjak wilajah dan benua. Den Haag tergugah dan bertanja2 mengapa wilajah koloni terbesar mereka tidak berbahasa Belanda? Djelas mereka tidak mau ketinggalan! Maka bahasa Belanda mulai diadjarkan di HIS (Hollandsch Inlandsche School) sekolah dasar untuk bumi putra jang dibuka tahun 1914 menjusul dibukanja HCS (Hollandsch Chinese School), sekolah dasar untuk kalangan Tionghoa pada 1908. Djelas ini langkah jang terlambat, lagipula ternjata upaja penjebaran itu tjuma setengah hati.

Buku karangan Kartini (1879-1904), Door duisternis tot licht. Selama ini diterdjemahkan mendjadi Habis gelap terbitlah terang, seperti dilakukan oleh Armijn Pane. Djudul bahasa Belanda itu sebenarnya lebih mengisjaratkan upaja mati2an jang harus ditempuh sebelum gelap itu bisa berlalu dan terang lahir. Mungkin djudulnja lebih tepat diterdjemahkan Mengarungi gelap demi mentjapai terang.

Bahasa Belanda hanja diadjarkan kepada kalangan elit, itupun tjuma sebagai bahasa kedua, bukan bahasa pengantar di sekolah. Di lain pihak ELS (Europeesche Lagere School), sekolah dasar untuk anak2 keturunan Eropa jang sudah dibuka pada 1817 sepenuhnja berlangsung dalam bahasa Belanda. Harus ditjatat, kadang2 memang ada perketjualian, ELS menerima murid pribumi jang sepenuhnja dididik dalam bahasa Belanda. Tentu sadja dia bukan pribumi djelata, melainkan anak bangsawan terpandang dan punja koneksi dengan pedjabat kolonial. Salah satunja adalah Kartini jang berkat didikan ELS mendjadi begitu mahir berbahasa Belanda, seperti terbukti dalam surat2 jang dikirimja kepada sahabat pena di Belanda. Djelas Kartini merupakan perketjualian, djuga karena dia begitu berbakat dan tidak mengalami kesulitan untuk beladjar bahasa asing. Di luar Kartini dan adik2nja, bahasa Belanda tetap merupakan bahasa elit di hadapan massa inlanders, bumiputra Hindia.

Maka terlihat bahwa sampai proklamasi kemerdekaan 1945, bahasa Belanda paling banter baru diadjarkan selama 30 tahun kepada bumiputra Nusantara. Karena itu bahasa pendjadjah tidak pernah mengakar di Indonesia. Setjuil lapisan elit jang fasih bertutur kata dalam bahasa Belanda berlalu ditelan zaman, mereka djuga tidak menurunkan bahasa pendjadjah ini kepada generasi berikut. Presiden Sukarno pernah menegaskan tidak mengadjari anak2nja bahasa Belanda, karena itu Megawati djuga tidak lagi berbahasa jang digunakan ajahnja se-hari2. Bahkan bermimpipun Sukarno mengaku dalam bahasa Belanda! Begitu merdeka, dunia pendidikan Indonesia tidak lagi mengenal bahasa Belanda. Betapa berbeda dengan dunia pendidikan tinggi Maroko, misalnja, jang sampai sekarang masih tetap berlangsung dalam dua bahasa, jaitu bahasa2 Arab dan Prantjis.

Menariknja, di djadjahan lain jang lebih ketjil, jaitu Suriname di Amerika Latin, Belanda malah menjebarkan bahasanja. Dalihnja lantaran berbeda dengan Hindia Timur, Hindia Barat (begitu sebutan Suriname dan Antila) tidak memiliki lingua franca. Itu bisa sadja benar, tapi seandainja penduduk Hindia Barat sama banjaknja dengan Hindia Timur, sangat patut dipertanjakan Belanda akan bermurah hati untuk tetap menjebarkan bahasanja. Bisa2 wilajah ini malah didorong untuk berbahasa Spanjol sadja, seperti negara2 Amerika Latin lain.

Jang djelas politik bahasa tanpa visi masa depan ini telah gagal mendjadikan bahasa Belanda sebagai bahasa internasional. Hanja digunakan di Belanda, Vlaanderen (wllajah Belgia) dan Suriname, pengguna bahasa Belanda sekarang tidak sampai 25 djuta orang. Bajangkan kalau Indonesia djuga menggunakan bahasa Belanda (seperti Maroko, Aldjazir dan Tunisia jang tetap berbahasa Prantjis) maka pengguna bahasa ini bisa mentjapai 300 djuta orang, djumlah jang tidak ketjil bahkan orang Belanda bisa berbangga memiliki bahasa internasional. Kesempatan untuk itu pernah ada, tapi sajang mentalitas VOC tidak menjebabkan orang2 Belanda punja wawasan djangka pandjang atau masa depan.

Merdeka dari pendjadjah pelit seperti itu kita patut bersjukur tidak perlu menggunakan bahasa Belanda. Karja sastra Indonesia selalu tampil dalam bahasa Indonesia, atau bahasa daerah, berbeda misalnja dengan sastrawan Maroko Bensalem Himmich jang menulis roman setjara ber-ganti2 dalam bahasa2 Prantjis dan Arab; berbeda pula dengan sastrawan India Amitav Ghosh jang berkarja dalam bahasa Inggris. Berani taruhan tidak ada seorangpun pengarang Indonesia zaman sekarang jang berkarja dalam bahasa Belanda, atau, seperti sastrawan Maroko di atas, menulis buku selang seling bahasa Indonesia kemudian bahasa Belanda.

Kalau begitu patutkah kita memproklamasikan sastra Indonesia sebagai melulu karja sastra jang ditulis dalam bahasa Indonesia serta bahasa daerah jang digunakan di negeri ini? Bukankah tidak ada penulis kita jang, seperti Amitav Ghosh, menulis dalam bahasa bekas pendjadjah?

Buku karya Han Resink (1911-1997) jang menulis beberapa kumpulan puisi, antara lain Transcultureel (Lintas budaja) dan Op de breuklijn (pada garis batas). Han Resink jang namanja disebut oleh Pramoedya Ananta Toer pada halaman awal Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah penulis berdarah Indo, tjampuran Indonesia Belanda dan memilih warga negara Indonesia

Di sini kita dituntut untuk beladjar sedjarah dan lebih dari itu, djika sudah paham dan chatam, djuga sadar sedjarah. Maklum, paling sedikit ada empat penulis kita jang berkarja dalam bahasa Belanda, dan salah satunja adalah seorang pahlawan nasional. Tadi sudah disebut nama Kartini (1879-1904), dia terkenal berkat kumpulan suratnja jang dihimpun (oleh seorang pedjabat kolonial) dalam buku berdjudul Door duisternis tot licht. Tidak terlalu tepat kalau djudul itu diterdjemahkan mendjadi Habis gelap terbitlah terang, seperti dilakukan oleh Armijn Pané dan akibatnja dikenal banjak orang. Kalau itu digunakan maka kesannja adalah perubahan terdjadi setjara otomatis dan pasti. Padahal djudul bahasa Belanda itu mengisjaratkan upaja mati2an jang harus ditempuh sebelum gelap itu bisa berlalu dan terang lahir. Mungkin djudulnja lebih tepat Mengarungi gelap demi mentjapai terang.

Sebagai pelopor bumiputra jang menulis dalam bahasa Belanda, djedjak2 Kartini diikuti oleh Noto Soeroto (1888-1951). Putra Mangkunegaran jang sekakek dengan Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara) ini berangkat ke Belanda pada tahun 1906 ketika berusia 18 tahun untuk beladjar di negeri pendjadjah. Tapi achirnja dia menetap di Den Haag selama sekitar 25 tahun dan berkembang mendjadi penulis jang menghasilkan tudjuh kumpulan puisi berbahasa Belanda, antara lain De geur van moeders haarwrong (harum kondé ibunda) dan Melatiknoppen alias kuntum2 melati. Lalu masih ada Soewarsih Djojopoespito (1912-1977), seorang guru jang menulis novel Buiten het gareel, artinja di luar batas jang terbit tahun 1940, 12 tahun sesudah Soempah Pemoeda. Kemudian djuga Han Resink (1911-1997) jang menulis beberapa kumpulan puisi, antara lain Transcultureel (Lintas budaja) dan Op de breuklijn (pada garis batas). Han Resink jang namanja disebut oleh Pramoedya Ananta Toer pada halaman awal Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah penulis berdarah Indo, tjampuran Indonesia Belanda dan memilih warga negara Indonesia. Dunia sastra Belanda menjebut Kartini, Soewarsih, Soeroto dan Resink sebagai sastrawan Indonesia jang berkarja dalam bahasa Belanda.

Buku karya Soewarsih Djojopoespito (1912-1977)

Siapa berani membantah bahwa karja mereka bukan sastra Indonesia, walaupun tidak ditulis dalam bahasa Indonesia? Kalaupun ada jang berani melakukannja pasti bantahan seperti itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa menjangkal bahwa Buiten het gareel bukan karja sastra Indonesia, sementara dalam novel itu Soewarsih jang naskahnja ditolak oleh Balai Poestaka, berkisah tentang perdjuangan Indonesia merdeka dengan mendidik murid2 supaja berpikiran lepas, bebas, dan merdeka?

Buku De geur van moeders haarwrong (harum kondé ibunda) karya Noto Soeroto (1888-1951). Putra Mangkunegaran jang sekakek dengan Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara). Selain buku ini ia menulis 6 karangan antologi puisi lainnya.

Di lain pihak djuga tidak mungkin menganggap keempat pengarang itu sebagai perketjualian dan selandjutnja karja sastra Indonesia harus selalu dalam bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Empat penulis itu (pasti djuga lebih) adalah ketjelakaan sedjarah, dan konsekuensinja tidaklah ketjil. Artinja penulis2 zaman sekarang djuga bebas berkarja dalam bahasa apapun, tanpa perlu dihinggapi kechawatiran karja mereka akan tidak diakui atau diasingkan dari sastra Indonesia.

Tak pelak lagi, kita memang harus bisa berlapang dada. Artinja kita harus bisa merangkul, harus inklusif dan tidak exklusif. Karja2 penulis kita jang ditulis dalam bahasa apapun tetap merupakan karja sastra Indonesia, apalagi kalau karja itu berkisah tentang negeri ini. (*)

| Amsterdam, kampung de Jordaan, musim semi 2017

________________________

Joss Wibisono: penulis dan peneliti lepas, menetap di Amsterdam. Tulisan2nja terbit pada pelbagai media tanah air, seperti Tempo, Koran Tempo, Historia dan Suara Merdeka (Semarang). Buku2nja adalah: Saling Silang Indonesia Eropa (non-fiksi 2012), Rumah tusuk sate di Amterdam selatan (kumpulan tjerpen, 2017) dan Nai Kai: sketsa biografis (novel pendek, 2017).

 

Continue Reading

Editor's Choice

Batik, Riwayat Identitas Yang Mencari Generasi

mm

Published

on

“Sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya?”

| Oleh: Gui Susan*

Tiga orang perempuan sedang tekun dengan kain putih di hadapannya. Tangan mereka sesekali turun ke bawah, dan canting pun memulai sihirnya yang mengesankan.

Bau khas malam langsung tercium seketika kaki kita menginjakkan langkah pertama di depan pintu. Ruangan ini dipenuhi dengan kain-kain yang akan dibatik, banyak diantaranya sudah di berikan gambar motif, seperti motif Bokong Semar, Ayam Jago, Ikan Etong, Kereta Kencana, atau pun Pentil Kuista.

Ruangan ini tidak besar, seperti industri rumahan batik pada umumnya, hanya berukuran 4×3 dan diisi oleh empat orang perempuan “seniman” batik. Mata saya melirik ke sana ke mari, jeli dan kagum melihat warna-warni di atas kain, melihat ketekunan 3 orang seniman pembatik tengah bekerja. Melihat pemandangan itu saya langsung merasa beruntung bisa berada di sini. Lebih-lebih satu dari perempuan lantas bergegah ramah menyambut saya sebagai tamu. Keberuntungan saya datang lantaran ia mengiyakan untuk ngobrol-ngobrol lebih dalam. Ibu Esih namanya, dialah pemimpin produksi sekaligus empunya usaha batik industri “Paoman” yang saya singgahi malam itu (7/4) di Indramayu.

Aktifitas perempuan buruh pembatik sendiri disebut Ngobeng, mereka duduk di atas dingklik dan sesekali mereka berbagi cerita tentang politik, gosip artis dan tentu saja harga beras.

Sambil terus mengobrol saya mengamati dengan antusias sekeliling ruangan; di samping ruangan membatik terdapat ruangan kecil berukuran 3×2, jendelanya berukuran kecil dan berada di bagian atas. Ruangan itu digunakan sebagai tempat mewarnai kain batik, terdapat dua meja besar dengan kotak besar dan pewarna batik. Bau menyengat tercium, biasanya ada dua orang yang mengerjakan pewarnaan. Namun sudah beberapa bulan terakhir, ibu Esih, pemilik home industry Batik tulis di Indramayu, menuturkan ia kesulitan mendapatkan orang baru untuk membantu mewarnai batik.

Home Industry Batik itu diberi nama Batik Silva. Penamaan batik Silva diambil dari anak pertama ibu Esih, ia percaya pemberian nama anaknya akan memanggil rezeki baik untuk keluarganya.

Corak Pesisir

Batik Silva berada di keluarahan Paoman, Indramayu, Jawa Barat. Paoman merupakan daerah pesisir Pantai Utara, tidak heran jika motif dari batik Paoman didominasi dengan corak pesisiran. Sama halnya seperti Cirebon yang terkenal dengan batik Trusmi, Indramayu pun dikenal dengan batik Paoman.

Batik Paoman juga dikenal dengan nama batik Dermayon, banyak juga yang mengenalnya dengan batik pesisir.  Perempuan-perempuan di Paoman biasanya membatik ketika nelayan tidak bisa melaut karena cuaca buruk. Hal inilah yang menjadi kendala dari pemasaran batik Paoman, masalah kontinuitas dan promosi menjadi tantangan bagi para industri rumahan yang ingin mengembangkan batik Paoman.

Batik Paoman pun beradaptasi dengan perkembangan zaman, tidak sedikit industri rumahan yang mengembangkan batik cap dan batik print. Proses panjang membuat batik tulis menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang masih memilih cara konvensional.

Setidaknya ada 4 tahapan yang harus dilalui oleh batik tulis. Diawali dengan Nyoret atau menggambar pola batik di atas kain mori. Sebagian orang yang mendengar kata mori mungkin sedikit bertanya-tanya, apakah yang dimaksud adalah kain mori yang sering digunakan untuk membungkus mayat. Terdapat banyak jenis kain mori, dalam membatik biasanya jenis kain mori yang digunakan adalah Prima dan Primis. Pola dasar dari batik dibuat di atas kain mori dengan menggunakan pinsil.

Pada tahapan kedua, perempuan-perempuan mulai Nglowongi yaitu melukis pola batik menggunakan malam/lilin. Tahapan ini merupakan tahapan yang paling panjang, biasanya akan memakan waktu kurang lebih 1  minggu untuk satu kain. Jika satu kain ingin punya lebih dari satu warna dasar, seperti warna merah dan biru maka satu bagian harus ditutupi oleh malam terlebih dulu. Para pembatik menyebut proses ini dengan istilah nembok yaitu memberikan blok pada bagian tertentu untuk kemudian lanjut pada proses pewarnaan.

Tahapan ketiga adalah mewarnai kain batik. Terdapat dua teknik mewarnai, yaitu Teknik Soga dimana kain batik akan dicelup di dalam bak besar berbentuk kotak yang telah diberi pewarna. Teknik mewarnai lainnya adalah Teknik Colet, yaitu dengan cara kain batik dibentangkan dan dicolet pewarna menggunakan kuas atau alat lainnya. Adapun pewarnaan kain batik dengan teknik Colet banyak dilakukan oleh pengrajin yang ingin kain batiknya dirancang dengan banyak warna.

Terakhir, pengrajin harus melewati proses Ngelorod malam yang ada di kain batik. Malam tidak tahan dengan panas, untuk itu kain batik direndam di kuali besar berisi air yang mendidih. Malam di atas kain batik akan luntur ke bawah, dan untuk itulah disebut Melorot/Melorod.

Lintas Batas Muasal Batik

Pada tanggal 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).

Penemuan seni pewarnaan kain dengan menggunakan malam berasal dari Mesir Kuno/Sumeria pada abad ke-4 SM, yaitu dengan ditemukannya kain pembungkus mumi yang dilapisi oleh malam dan membentuk pola tertentu. Sedangkan di Asia, perkembangan yang serupa dengan batik ditemukan di Tiongok, yaitu semasa Dinasi T’ang (618-907) dan di India serta Jepang semasa Periode Nara (645-794).

Batik di Indonesia erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan sejarah, batik dikembangkan pada zaman kesultanan Mataram dan berlanjut pada zaman Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Namun, seorang arkeolog Belanda bernama J.L.A.Brandes dan F.S Sutjipto seorang sejarawan Indonesia percaya bahwa tradisi batik adalah asli berasal dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Daerah-daerah tersebut merupakan wilayah yang tidak dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki traidisi kuno membuat batik.

Batik tulis terus berkembang hingga pada abad ke-20. Sedangkan batik cap baru mulai diperkenalkan setelah perang dunia 1 berakhir atau sekitar tahun 1920. Di Indonesia, kegiatan membatik merupakan aktifitas yang terbatas dalam lingkup keraton saja.

Batik yang dibuat pun digunakan sebagai pakaian raja dan keluarga raja, pemerintahan dan keluarganya. Seiiring dengan perkembangan zaman, banyaknya pembesar dan pejabat pemerintahan yang tinggal di luar keraton maka aktifitas batik pun dibawa keluar dari keraton. Semenjak saat itu, kesenian membatik mulai dilakukan di rumah masing-masing dan mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Perempuan Membatik

Dalam industri rumahan Batik Silva, rata-rata pengrajin adalah perempuan. Ibu Esih sendiri memiliki lebih dari 3 orang pengrajin perempuan yang datang ke rumahnya setiap hari. Perempuan menjadi dekat dengan aktifitas membatik, karena perempuan memiliki ketekunan dan ketelitian yang tinggi.

Para Pembatik di rumah batik “Silva” Indramayu. (foto by; Gui Susan)

Di Paoman, akfititas membuat batik merupakan pekerjaan sampingan perempuan nelayan selagi menunggu suami pulang dari melaut. Pada saat bersamaan, membatik merupakan salah satu upaya meneruskan tradisi yang telah dijalankan oleh warga Paoman dari turun temurun.

Namun, batik pesisir memiliki ciri khas tersendiri. Berdasarkan beberapa catatan bahwa di daerah pesisir, laki-laki pun membatik. Hal tersebut dapat dilihat dari garis maskulin dan tegas yang terdapat di corak “Mega Mendung”, artinya pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum laki-laki di daerah pesisir.

Di masa lampau, perempuan-perempuan Jawa menjadikan membatik sebagai keterampilan sekaligus mata pencaharian. Hal inilah yang membuat membatik menjadi pekerjaan ekslusif perempuan. Hingga akhirnya ‘Batik Cap’ mulai ditemukan pada tahun 1920 dan membuka peluang bagi laki-laki masuk ke dalam bidang ini. Tidak ada catatan yang mengungkap sejak kapan pekerjaan membatik menjadi pekerjaan untuk perempuan.

Riwayatmu Kini

Munculnya batik cap sejak tahun 1920 perlahan merubah tradisi dari batik tulis. Batik cap yang dinilai lebih cepat diproduksi dengan harga yang murah menyebabkan batik tulis mulai terkikis perlahan-lahan.

Untuk memproduksi satu kain batik, para pengrajin membutuhkan waktu kurang lebih 1 bulan agar warna dan hasilnya memuaskan. Panjangnya proses yang dilewati membuat harga batik tulis lebih mahal. Di Paoman harga satu lembar kain batik tulis berkisar Rp 300.000 sampai dengan Rp 350.000 dengan menggunakan kain dari Mori Primis dan Rp 200.000 sampai dengan Rp 300.000 untuk kain Mori Prima.

Sedangkan untuk batik cap, harga satu lembar kain berkisar Rp 50.000 sampai dengan Rp 100.000. Perbedaan harga yang cukup tinggi membuat banyak konsumen lebih memilih membeli batik cap.

“Orang yang membeli batik tulis biasanya mereka yang mengerti bahwa batik tulis itu adalah bentuk karya seni tinggi dan biasanya yang membeli itu sudah masuk dalam kolektor.” Tutur Ibu Esih.

Hari ini batik tulis menghadapi masalah besar, regenerasi merupakan masalah utama yang dihadapi oleh industri batik tulis. Para Pengrajin di desa Paoman rata-rata adalah perempuan di atas 35 tahun. Pun jika ada yang muda, jumlahnya bisa terhitung dengan jari.

Di Paoman sendiri, anak-anak muda banyak yang memilih bekerja sebagai buruh di luar daerah. Pengembangan sentra batik dirasa masih terkendala dengan modal dan pemasaran yang kreatif. Batik Paoman dianggap masih belum mengimbangi Batik Trusmi di Cirebon, untuk itulah Ibu Esih mengharapkan semua pihak mau bersama-sama mengembangkan batik Paoman.

Batik merupakan identitas masyarakat Indonesia. Hampir semua wilayah negeri ini memiliki ciri khas batiknya, sebagai pengejewantahan nilai masyarakat dan sejarah yang dikandung dan telah melahirkan peradaban masyarakat itu sendiri. Maka sudah semestinya kecintaan terhadap batik mulai ditumbuhkan sedari dini, bukan hanya sekedar sebagai laku fashion and style, atau suatu komoditas ekonomis, tapi sebagai dokumen sejarah dan pakain identitas kebudayaan. Apa jadinya bangsa besar yang mengabaikan identitas budaya dan sejarahnya bahkan malah tak mengenalnya? (*)

———————–

*Susan Gui, Pecinta Batik.

Continue Reading

Trending