Connect with us

Art & Culture

T.S. Eliot: Fungsi Kritik

mm

Published

on

Setelah menulis kajian hubungan seni lama dan baru beberapa tahun yang lalu, di sana saya membentuk suatu pandangan yang masih saya ikuti. Berikut ini saya kutip kalimat dalam tulisan tersebut, karena tulisan saya yang sekarang ini merupakan aplikasi prinsip yang ada di sana:

Pencapaian sastra yang telah ada membentuk keteraturan yang ideal di antara mereka sendiri, yang diubah oleh munculnya suatu karya seni yang betul-betul baru di dalamnya. Keteraturan yang telah ada menjadi lengkap sebelum karya seni baru lainnya muncul lagi; karena keteraturan untuk mempertahankan setelah diikuti dengan lekat dengan kebaruan, keseluruhan keteraturan yang ada mesti berubah, sekecil apapun; dan begitu juga dengan pola hubungan, proporsi, nilai tiap karya seni secara keseluruhan, semua diatur kembali; dan, inilah yang dimaksud dengan konformitas antara yang lama dan yang baru. Siapapun yang menyetujui ide keteraturan, apakah itu dalam bentuk sastra Eropa ataupun Inggris akan mengetahui bahwa bisa saja masa lalu diubah oleh masa sekarang seperti halnya masa sekarang yang juga ditentukan oleh masa lalu.

Yang saya bahas dalam tulisan ini adalah tentang seniman dan kepekaan akan tradisi, yang menurut saya, seorang seniman harus miliki; masalah umum lainnya adalah tentang keteraturan; dan fungsi kritik juga termasuk secara esensial ke dalam masalah keteraturan.

Pemikiran saya tentang sastra, sampai sekarang, bahwa sastra dunia, sastra Eropa, sastra suatu negeri, bukanlah suatu koleksi tulisan individu-individu, tapi merupakan “keseluruhan bagian (organic wholes)”, sebagai sistem-sistem dalam hubungan, dan hanya dalam hubungannya dengan karya seni sastra individu, dan dalam karya seniman individu lah mereka punya arti penting. Karenanya, seorang seniman terikat dan mengabdi pada semua yang ada diluar dirinya, ia harus menyerahkan dan mengorbankan dirinya supaya mendapatkan dan meraih keunikan posisinya. Warisan dan sebab umum menyatukan seniman secara sadar dan tak sadar: harus disadari bahwa penyatuan itu biasanya secara tidak sadar.

Seniman dimana dan kapan pun, saya percaya, adalah komunitas tak berkesadaran. Dan, insting untuk hidup teratur menyuruh kita untuk tidak meninggalkan bahayanya ketidaksadaran dari apa saja yang kita usahakan dengan sadar, dengan begitu, kita pun mendapatkan kesimpulan bahwa apa yang terjadi secara tidak sadar membuahkan hasil, dan membentuk suatu tujuan, jikasaja kita membuatnya dengan suatu usaha yang sadar. Namun, seniman yang tidak bermutu tentu tidak mampu menyerahkan dirinya pada tindakan apapun; karena tugas utamanya adalah kesenangannya pada hal remeh yang menjadi pembedanya; hanya orang yang berani memberi begitu banyak yang bisa melupakan dirinya sendiri tenggelam dalam karyanya lah yang bisa bekerja sama, saling bagi, dan memberikan kontribusi.

Apapun pandangan orang tentang seni, tentunya akan mengikuti suatu pandangan tertentu. Meski demikian, pasti ada kesamaan pandangan dalam hal kritik. Yang saya maksud kritik disini adalah komentar dan jabaran karya seni dalam bentuk kata-kata tertulis; karena penggunaan secara umum kata kritik selalu mengacu pada tulisan, seperti yang Matthew Arnold gunakan dalam eseinya (The Function of Criticism at the Present Time, 1864), untuk itu, saya membuat beberapa kualifikasi tentang kritik.

Saya pikir, tidak ada eksponen kritikus (dalam artian terbatas) yang pernah membuat asumsi yang tidak masuk akal bahwa kritik adalah kegiatan yang didalamnya ada akhir atau tujuan (aututelic). Saya tidak menyangkal bahwa seni dimaksudkan untuk mencapai suatu akhir yang jauh melampauinya; tapi seni tidak harus menyadari akan akhir ini, walaupun seni melayani fungsinya entah sebagai apa saja, yang menurut teori tentang nilai, bahwa seni lebih baik mengabaikan akhir atau tujuan ini. Kritik, di sisi lainnya, harus selalu menyatakan suatu akhir dalam pandangan, yang dengan kata lain bisa dikatakan, bahwa kritik kelihatan seperti uraian, penjelasan suatu karya seni dan pembetulan suatu selera.

Maka, tugas kritikus kelihatan lebih jelas, dan relatif mudah memutuskan apakah ia menghasilkan kritik yang baik atau tidak. Kalau dipelajari lebih dalam lagi, kritik adalah kegiatan bermamfaat yang tidak sederhana dan teratur, tidak seperti amatiran yang bisa dengan mudah didepak, yang tidak lebih baik daripada ahli pidato di taman tiap hari Minggu, yang belum sampai pada tahap seseorang yang punya perbedaan.

Kritik, bisa dikatakan, suatu tempat sepi yang didalamnya terdapat usaha kooperatif. Kritikus, kalau orang itu ingin menampilkan keberadaannya, seharusnya selalu berusaha mendisiplinkan prasangka dan keanehannya (sifat yang biasanya dilekatkan pada kritikus) dan mengubah perbedaannya sebanyaknya sesama koleganya, dalam mencapai penilaian benar yang sama. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, kita mulai mencurigai bahwa suatu kritik dipengaruhi oleh latar kehidupannya menjadi sikap kekerasan dan ekstrim terhadap lawan kritik lainnya, atau pada sikap aneh tak bermamfaat yang ia punyai, yang ia rancang dan pertahankan, dan ia tidak menghiraukan pendapat lainnya. Kita pun tergoda untuk membuang semua yang tidak sesuai dengan pendapat kita.

Setelah membuang semua itu, atau setelah rasa marah hilang, kita lalu mulai menyadari bahwa ternyata ada banyak buku, esei-esei tertentu, kalimat, orang-orang yang memang ahlinya, dan semua ini “berguna” buat kita. Langkah selanjutnya adalah kita mulai mengklasifikasi, mencari tahu, prinsip apa yang akan dipegang dalam menentukan buku acuan, apa tujuannya dan metode kritik mana yang akan diikuti.

II

Pandangan tentang hubungan karya seni dengan seni, karya sastra dengan sastra, kritik dengan kritik, yang saya jelaskan sebelumnya, bagi saya kelihatannya bersifat alami dan jelas. Saya berterimakasih pada Mr. Middleton Murry (1889-1957, kritikus sastra dan pada masa hidupnya menjadi editor Adelphi yang ia dirikan) atas persepsi permasalahan yang sering menjadi pertengkaran ini, atau tentang pandangan saya bahwa adanya penyelesaian akhir masalah ini. Rasa terima kasih saya buat Mr. Murry tak terkira. Kebanyakan kritikus terjebak dalam suasana yang tidak mendukung: baik itu dalam usaha saling akur, saling hasut, menjatuhkan, menekan, menyombongkan, saling menenangkan, berpura-pura bahwa mereka orang yang santun dan yang lainnya sangat diragukan reputasinya. Tapi tidak demikian dengan Mr. Murry.

Ia sadar bahwa ada posisi yang jelas yang harus diambil, dan sesekali seseorang harus berani menolak dan memilih. Ia penulis yang sangat dikenal dalam tulisan sastranya beberapa tahunlalu yang menyatakan bahwa era Romantis dan Klasik hampir sama, dan era Klasik Perancis yang sebenarnya adalah era yang menghasilkan katedral-katedral Gothic, Jeanne d’Arc misalnya. Yang saya tidak setuju tentang pernyataan Mr. Murry tentang era Klasik dan Romantis adalah bahwa, perbedaan yang tampak bagi saya adalah perbedaan antara yang lengkap dan yang terpecah, yang telah dewasa dan yang tidak matang, yang teratur dan yang kacau. Meski demikian, sebenarnya Mr. Murry ingin menunjukkan bahwa paling kurang terdapat dua sikap terhadap sastra dan apapun juga, dan Anda tidak bisa pegang dua-duanya. Dan sikap yang ia ambil menyiratkan bahwa yang satu tidak bisa dipakai di Inggris. Alasannya adalah karena ini isu nasional, isu rasial.

Mr Murry menjelaskan masalah ini dengan sangat jelas. Ia mengatakan, “Katolik” adalah prinsip otoritas spiritual yang tidak dipertanyakan diluar individu; prinsip sastra era Klasik juga begitu”. Dalam lingkaran diskusi tentang pernyataan Mr. Murry, defenisi ini kelihatannya tak disangsikan lagi, meski tidak semuanya begitu yang bisa dikatakan tentang Katolik maupun era Klasik. Kita ada yang setuju dengan pernyataan Mr. Murry, bahwa era Klasik percaya manusia tidak bisa melanjutkan hidup tanpa kepatuhan pada sesuatu di luar diri mereka.

Saya menyadari bahwa istilah “luar” dan  “dalam” mengundang pertanyaan yang tak terbatas, dan pakar psikologi tidak akan mentolerir diskusi seperti ini; tapi saya pikir saya dan Mr. Murry bisa menyutujui bahwa pertentangan ini memadai, dan memaklumi ketidaksetujuan teman psikolog kami. Jadi, kalau Anda membayangkan sesuatu ada diluar sana, maka diluar lah ia. Kalau seseorang tertarik pada politik, saya pikir ia tentunya mengakui kepatuhannya pada prinsip-prinsip politik, atau pada bentuk pemerintahan, pada suatu monarki; dan kalau seseorang tertarik pada agama, maka punya agama lah ia, atau gereja; dan kalau ia tertarik pada sastra, ia tentu mengakui prinsip kepatuhan yang telah saya jelaskan sebelumnya. Namun, ada pilihannya, seperti yang dikatakan Mr. Murry. Menjadi “penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris, tidak mewarisi tradisi dari para pendahulunya, karena yang mereka wariskan hanyalah: suatu rasa, kepekaan bahwa pada usaha akhirnya, mereka harus bergantung pada suara dari dalam (the inner voice).” Pernyataan ini kelihatannya memang menyelesaikan beberapa permasalahan; pernyataan ini membanjiri Mr. Lloyd George dengan cahaya. Tapi kenapa “pada usaha akhir (in the last resort)?

Apakah ini berarti menghindari perintah suara terdalam keluar pada suatu kondisi ekstrim terakhir? Yang saya yakini adalah bahwa bagi siapa yang punya suara dari dalam ini cukup siap untuk mendengarkannya, dan tak akan mendengarkan yang lainnya lagi. Sebenarnya, suara dari dalam kedengarannya sangat sama dengan prinsip lama yang diformulasikan oleh kritikus senior (Matthew Arnold, 1869, dalam karyanya Culture and Anarchy) dalam satu frase yang akrab sekarang “melakukan sesuatu sebagaimana yang seseorang sukai”. Para pemilik suara dari dalam ini suka menonton pertandingan sepak bola di Swansea, sambil mendengarkan suara dari dalam, menghirup pesan abadi kesia-sian, ketakutan dan nafsu.

Mr. Murry akan mengatakan, dengan menunjukkan suatu pembenaran, bahwa ini merupakan kesalahan penasiran yang parah. Ia mengatakan: “kalau mereka itu (penulis Inggris, agamawan Inggris, negarawan Inggris) menggali lagi lebih dalam dalam usaha mereka memperoleh pengetahuan diri (self-knowledge) –  semacam penggalian diri yang tidak hanya dengan intelek, tapi juga dengan keseluruhan manusia – mereka akan sampai pada suatu diri yang universal” –  tentunya berupa latihan yang jauh melebihi kekuatan dalam antusias menonton pertandingan sepak bola. Tapi menurut saya, ini adalah latihan yang cukup menarik untuk ditulis dalam beberapa buku panduan praktik Katolik. Namun saya yakin juga, bahwa praktisi Katolik, dengan kemungkinan pengecualian beberapa pelaku bid’ah, tidak meragukan Narcissi; karena dalam Katolik tidak mempercayai Tuhan dan dirinya identik. Mr. Murry menambahkan, “manusia yang betul-betul mempertanyakan dirinya pada akhirnya akan mendengarkan suara Tuhan”, Dalam teorinya, hal ini akan berujung pada suatu bentuk pantheisme (menyatunya Tuhan dengan ciptaanNya) yang saya tahu bukan khas Eropa – sama halnya dengan Mr. Murry yang mendukung bahwa aliran “Klasik” bukanlah Inggris. Demi hasil yang praktis, orang bisa saja mengacu pada sajak Hudibras (sajak panjang Samuel Butler, 1612-80, yang menyindir sekte sesat puritan).

Saya rupanya tidak menyadari bahwa Mr. Murry adalah pengikut suatu sekte berpengaruh, sampai saya membaca kolom editorial harian besar yang mengatakan, “pakar jenius luar biasa dan representatif telah muncul di Inggris, mereka tidak hanya semata-mata ekspresi karakter Inggris, yang tetap berdiamdi dasar sana dengan teguh “humoris” dan “non-konformis”. Penulis ini setengah-setengah dala menggunakan sifat “semata-mata”, dan dengan jujur tanpa aling menyifatkan “kehumorisan” pada “unsur Teutonik dalam diri kita yang tak bisa diraih”. Ini mengejutkan saya karena Mr. Murry dan suara dari dalam lainnya, tidak satupun yang terlalu teguh atau terlalu toleran. Pertanyaannnya adalah, yang pertama, tidak akan alamiah atau biasa buat kita, jadi, apa itu yang benar? Tak satu pun dari keduanya yang lebih baik dari yang lainnya, atau kalau bukan begitu ini tidak penting. Tapi bagaimana bisa suatu pilihan tidak penting lagi? Pastinya ini adalah masalah asal usul ras, atau pernyataan yang tak lebih seperti Perancis begini, dan Inggris sebaliknya, ini tidak akan menjawab pertanyaan: pandangan antithesis mana yang benar? Dan saya tidak bisa memahami kenapa oposisi antara Klasik dan Romantisme seharusnya sudah cukup saja di negeri Latin (begitulah yang dikatakan Mr. Murry) dan yang sama sekali tidak penting buat kita. Karena, kalaupun Perancis secara alamiah bersifat klasikal, kenapa harus ada “oposisi” di Perancis sendiri, yang lebih banyak lagi di sini? Dan kalau Klasik tidak alamiah buat mereka, tapi sesuatu yang harus diraih, kenapa tidak diraih saja di sini? Apakah Perancis pada tahun 1600 bersifat klasikal, dan Inggris pada tahun yang sama bersifat romantis? Perbedaan yanglebih penting menurut saya yaitu Perancis pada tahun 1600 telah menulis prosa yang lebih matang.

III

Diskusi ini kelihatannya sudah menyeret kita keluar dari jalur subjek tulisan ini. Tapi cukup beralasan untuk melihat perbandingan Mr. Murry tentang Otoritas Luar (Outside Authority) dengan Suara Dari Dalam (Inner Voice). Karena, bagi orang yang mematuhi (obey) suara dari dalam ini (barangkali, kata mematuhi/ obey tidak terlalu pas di sini), saya tida bisa bilang apa-apa lagi tentang kritik dan semuanya tidak akan bernilai lagi. Karena mereka tidak akan tertarik dengan usaha mencari prinsip yang sama untuk tujuan kritik. Buat apa prinsip, kalau sudah punya suara dari dalam? Kalau saya suka sesuatu, itu lah yang saya ingini; dan kalau Anda sudah merasa cukup, teriakkan bersama, sukailah itu, itulah yang Anda (yang tidak menyukainya) harus ingini. Mr. Clutton Brock (kritikus asal Inggris) bilang, bahwa hukum tentang seni semuanya adalah kasus hukum. Kita tidak hanya suka apapun yang kita ingin sukai tapi kita bisa menyukainya karena adanya alasan yang kita pilih.

Kenyataannya, kita tidak menaruh perhatian pada kesempurnaan sastra sama sekali – karena pencarian kesempurnaan adalah pertanda kepicikan, karena ini menunjukkan bahwa penulis mengakui otoritas spiritual diluar dirinya yang tak terbantah, yang padanya ia selalu berusaha untuk berdamai (conform).

Kita tidak tertarik pada seni sama sekali. Kita tidak akan menyembah tuhan Baal. “Prinsip kepemimpinan klasikal adalah bahwa penyembahan ditujukan untuk perkantoran, atau tradisi, tapi tidak untuk manusia”. Yang kita inginkan adalah manusia, bukan prinsip.

Demikianlah sang suara dari dalam berbicara. Ini adalah suara, yang demi kenyamanan, kita beri nama saja, saran saya adalah, Whiggery (catatan penerjemah: Whiggery berasal dari kata Whig, pada abad 16-an Inggris, partai politik yang menentang Raja James, Duke of York yang Katolik sewaktu menaiki takhta. Partai ini mendorong pembatasan Monarki, mendorong reformasi sosial, Industrialisai, dan liberalisme)

IV

Sekarang kita tinggalkan mereka yang punya kepastian panggilan dan pilihan hidup (kalimat ini adalah alusi ironis doktrin penyelamatan Calvinis) dan kembali pada mereka yang dengan memalukan bergantung pada tradisi dan kumpulan kebijaksanaan kuno, dan  membatasi tulisan ini pada mereka yang saling bersimpati dalam diskusi yang rentan ini, ada baiknya kita mengomentari istilah “kritikal” dan “kreatif” oleh seorang yang tempatnya, secara keseluruhan, bersama perkumpulan persaudaraannya yang rentan, Matthew Arnold. Kelihatannya, ia terlau jauh membedakan kedua istilah ini: ia meninjau dengan luas pokok-pokok penting kritik dalam kegiatan kreasi itu sendiri. Barangkali memang, kegiatan yang lebih menyita pikiran penulis dalam menghasilkan karyanya adalah kegiatan mengkritisi itu, penyelidikan lebih dalam, penggabungan, usaha membangun ide, membuang ide yang tidak perlu, koreksi, dan pengujian: inilah seabrek kegiatan kritik dan kreatifitas. Saya tetap berpendapat bahwa kritik paling vital dan tertingi seharusnya dilakukan oleh penulis yang terlatih dan punya keahlian dalam pekerjaannya, dan (seperti yang sudah saya katakan sebelumnya) ada penulis kreatif yang lebih superior dibanding lainnya karena daya kritisnya memang superior. Ada kecenderungan, saya pikir ini kecenderungan Whiggery, untuk mencela usaha luar biasa seniman ini; dengan mengemukakan tesis, bahwa seniman hebat adalah seniman yang tidak berkesadaran, yang secara tidak sadar memberi label diri mereka dengan Terobosan Kekacauan (Muddle Through). Tapi diantara  kita yang tidak punya suara dari dalam (Inner Deaf Mutes), kadang terimbangi oleh suatu kesadaran sederhana, yang, meski tanpa kehebatan kata-kata agung, tetap menganjurkan kita untuk berbuat yang terbaik, mengingatkan kita bahwa karya kita harus sebisanya bebas dari cacat apapun. (untuk menebus kekurangan inspirasi mereka), pendek kata, hanya membuang-buang waktu saja. Kita sadar juga, bahwa diskriminasi kritis yang ditujukan pada kita hanya ada pada orang yang cepat sekali beruntung dalam suatu kreasi yang angat hebat; kita tidak berasumsi bahwa hanya karena suatu karya sudah ditulis tanpa adanya kritikan yang jelas, bukan berarti tidak ada usaha kritis yang telah dilakukan. Kita tidak tahu usaha sebelumnya yang telah dipersiapkan, atau yang sedang berlangsung, dalam cara kritis, sepanjang waktu dalam pikiran para pencipta ini.

Tapi afirmasi ini membuat kita kecut juga. Jika begitu besar bagian dari suatu penciptaan yang juga masuk dalam kegiatan kritik, tidakkah bagian besar itu dinamakan “tulisan kreatif” betul-betul kreatif? Jika demikian, tidak adakah kritik yang kreatif dalam artian biasa? Kelihatannya tidak ada jawaban untuk ini. Saya mengajukan suatu aksiomatis bahwa suatu kreasi, karya seni, adalah bersifat autotelic, adanya tujuan jelas dalam dirinya, dan kritik, dilihat dari defenisinya, adalah tentang sesuatu yang lain darinya. Dengan begitu, anda tidak bisa menyatukan penciptaan dengan kritik sebagaimana Anda menggabungkan kritik dengan penciptaan. Aktifitas kritikal sampai pada pencapaian tertingginya, dalam suatu penyatuan penciptaan apa yang dilakukan seorang seniman.

Namun begitu, tak seorang penulis pun yang bisa sepenuhnya bekerja sendiri, dan banyak penulis kreatif punya kegiatan kritis yang tidak sepenuhnya tertumpah pada karyanya sendiri. Ada yang menjaga daya kritis mereka dengan melakukan latihan tanpa aturan jelas; ada yang menyelesaikan karya mereka, ada yang terus melanjutkan kegiatan kritik mereka dengan selalu mengomentarinya.

Tidak ada aturan umumnya. Karena setiap orang bisa belajar dari orang lain, dan mereka saling mengambil dan memberi. Bahkan ada yang sangat berguna bagi orang yang bukan penulis.

Pada suatu waktu saya tergerak untuk mengambil suatu sikap bahwa kritik yang pantas untuk dibaca hanya kritik yang dipraktikan dengan baik, dengan selera seni yang mereka punya. Tapi perlu saya perjelas lagi, sebagaimana usaha saya dalam mencari suatu rumus yang mencakup semua yang ingin saya nyatakan, meski ini melebihi dari apa yang saya inginkan. Kualifikasi paling penting yang bisa saya temukan, menyangkut pentingnya kritik bagi para praktisinya, adalah bahwa suatu kritik harus punya kepekaan akan fakta yang dikembangkan dengan sangat tinggi. Ini tidak sepele dan semata masalah bakat. Ini bukan tentang seseorang yang dengan mudahnya mendapatkan pujian orang banyak. Kepekaan akan fakta (the sense of fact) adalah sesuatu yang sangat lambat berkembang, dan perkembangannya yang lengkap mungkin berarti puncak peradaban. Begitu banyak fakta lapangan yang harus dikuasai, dan fakta lapangan terluar kita, pengetahuan, kontrol, terikat dengan kesenangan yang mencandu dalam bidang yang jauh lebih luas lagi. Buat anggota Browning Study Circle, diskusi para penyair tentang puisi kelihatannya membosankan, teknikal, dan terbatas. Diskusi ini hanya berkisar pada praktisi yang mengklarifikasi dan mengurangi fakta yang membuat segalanya jadi kabur; karena teknik tak memadai yang dipakai, dan bagi yang telah menguasainya, inilah yamg membuat anggota diskusi senang, hanya yang ringkas, terlacak dan bisa dikendalikan. Itulah yang menjadi satu alasan nilai kritik dari para praktisinya – ia berurusan dengan fakta darinya, ia bisa membantu kita untuk mengerjakan hal yang sama.

Pada tiap tingkatan kritik, saya menemukan kesamaan yang selalu hadir. Ada bagian besar tulisan kritikal yang merupakan “penafsiran” si penulis, suatu karya. Ini tidak berada dalam tingkatan Kegiatan Diskusi (Study Circle); ini kadang terjadi saat seseorang bisa mengerti yang lainnya, atau penulis kreatif, yang bisa ia berkomunikasi dengannya meski setengah-setengah, dan kita merasa ia benar dan memberikan pemahaman. Sulit menyatakan “penafsiran” dengan bukti luar. Bagi orang yang punya kemampuan pada tingkatan ini tentu akan menjadi bukti sendiri. Tapi siapa yang akan membuktikan keahliannya sendiri? Dan setiap kesuksesan untuk jenis tulisan ini, selalu ada ribuan banyaknya amatiran. Bukannya mendapatkan suatu pemahaman, tapi malah fiksi yang didapatkan. Jalan keluarnya adalah dengan cara aplikasi terus menerus, dengan cara pandang orisinil yang akan menuntun Anda. Namun begitu, tak ada seorangpun yang akan menjamin kompetensi Anda, inilah dilemanya.

Kita harus memutuskan apa yang berguna dan yang tidak, meski kita tidak begitu ada kemampuan untuk melakukannya. Tapi cukup meyakinkan bahwa “penafsiran” (di sini saya tidak bermaksud menyentuh elemen jumlah baris dalam karya sastra) akan diakui kalau ia bukan penafsiran sama sekali, tapi hanya dengan meletakkan posisi pembaca sebagai pemilik fakta yang kalau tidak begitu ia akan kehilangan. Dari pengalaman saya di perkuliahan Ekstensi (kelas dewasa yang diadakan pada malam hari di perguruan tinggi), saya temukan ada dua cara bagaimana membimbing siswa untuk menyukai sesuatu dengan kesukaan yan benar: pertama dengan memperkenalkan pada mereka seleksi bacaan dengan fakta yang lebih sederhana – bisa itu kondisinya, setting, dan asal usul, kedua dengan memupuk mereka dengan bacaan bermutu sehingga mereka tidak akan berprasangka menentangnya. Banyak cara bagaimana membantu mereka dalam hal drama periode Elizabeth: seperti pembacaan dengan keras puisi T.E. Hulme yang berfungsi memberikan efek langsung puisi tersebut.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan yang juga dijelaskan oleh Remy de Gourmont sebelum saya (seorang pakar tentang fakta, yang kadang-kadang saya khawatirkan, ia bergerak ke luar dari bidang sastra, seorang pakar ilusi fakta), perbandingan dan analisis adalah alat utama kritik. Memang, sebagai alat, yang mesti dirawat, dan tidak digunakan dalam penyelidikan novel Inggris. Perbandingan dan analisis tidak digunakan dengan kesuksesan yang menyolok oleh penulis kontemporer. Anda harus tahu apa yang dibanding, dan apa yang analisa. Mendiang Profesor (W.P) Ker adalah seorang yang ahli dalam cara ini. Perbandingan dan analisi hanya butuh bangkai mati di atas meja; tapi penafsiran selalu menghasilkan bagian-bagian tubuh dari kantongnya, dan membenarkannya kembali. Buku apa saja, esei, catatan dalam Notes and Queries, yang menghasilkan fakta bahkan dari bagian terendah sekalipun dari suatu karya seni yang malah lebih baik dibanding sembilan persepuluh jurnal kritik paling berpengaruh, atau dalam buku. Kita mengira bahwa kita adalah tuan, bukan budaknya fakta, dan kita tahu bahwa penemuan kertas tagihan cucian Shakespeare tidak akan berguna banyak buat kita; tapi kita harus selalu mempertahankan penilaian akhir seperti halnya kesia-sian penilitian yang telah menemukan kertas tagihan tersebut, dalam suatu kemungkinan bahwa ada orang jenius yang akan muncul dan tahu gunanya untuk menaruh kertas itu kembali. Titel, sesederhana apapun, ada haknya untuk itu, dan kita menganggap kita tahu bagaimana cara menggunakannya dan membuangnya. Proses perbanyakan buku kritik dan esei bisa saja menciptakan, dan saya sudah lihat hal ini terjadi, selera bacaan yang tidak sehat, dimana bacaan karya seni lebih diutamakan daipada membaca karya itu sendiri, hal ini bisa menjadi sekedar penyaluran pendapat daripada mendidik selera bacaan. Namun, fakta tidak bisa mengalahkan selera; pada tingkat paling parah, hal ini membuat selera pembaca tidak berkembang – seperti bacaan sejarah tentang yang antik-antik, biografi, – semua dibawah ilusi bahwa ini akan membantu yang lainnya. Orang yang paling parah dan korup di sini adalah orang yang kerjanya menyalurkan opini atau sekedar kesenangan; dan Goethe dan Coleridge juga termasuk – lihat saja karya Coleridge, Hamlet: jujurkah penyelidikannya sejauh data yang digunakannya, atau apakah ini hanya semacam usaha Coleridge untuk tampil dalam kostum yang centil menarik?

Kita belum juga menemukan semacam tes yang bisa diaplikasikan orang lain; kita sudah membuka jalan selebar-lebarnya untuk melahirkan buku-buku yang tak terhitung banyaknya dan yang juga tidak bermutu; tapi saya pikir, kita sudah menemukan suatu tes, yang bagi siapa saja yang mampu menggunakannya, akan membuang bagian-bagiannya yang ada cacatnya. Dengan tes ini kita bisa kembali pada pernyataan awal tentang kebijakan sastra dan kritiknya. Untuk jenis karya kritik yang kita akui, ada kemungkinan kegiatan saling kerja sama, dengan kemungkinan lebih jauh lagi untuk sampai pada sesuatu di luar diri kita sendiri, yang untuk sementara waktu kita sebut kebenaran. Tapi kalau ada orang yang tidask puas karena saya belum memberikan defenisi kebenaran, atau fakta, atau realitas, saya hamya bisa mengatakan rasa maaf karena bukan itu tujuan saya, karena saya hanya mencari suatu skema yang di dalamnya, apapun itu adanya, mereka pantas untuk itu, jika memang mereka ada. (*)

*Thomas Stearns Eliot (1888-1965) adalah salah satu penyair terbesar dan kritikus sastra paling berpengaruh sepanjang masa. Lahir di St. Louis, Missouri, lulusan universitas Harvard dan Oxford, dan juga pernah belajar di Perancis dan Jerman. Pada 1914 ia menetap di Inggris dan menjadi warga negara Inggris pada 1927. Puisi awal pentingnya, The love of J. Alfred Prufrock muncul pada 1915. The Waste Land, puisi yang mengangkat namanya menjadi suara puitis generasinya, terbit pada 1922. Ia berteman dengan sang penyair jenius Ezra Pound dan juga menerbitkan esei dan ulasan sastra yang terkumpul dalam The Sacred Wood (1920). Pada 1922, Eliot mendirikan jurnal The Criterion, yang ia edit sampai 1939. Setelah bekerja beberapa tahun sebagai bankir, Eliot bergabung dengan penerbit Faber and Faber dan akhirnya menjabat sebagai direktur.

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Kajian

Jacques Derrida dan Dekonstruksi Anti Marxis?

mm

Published

on

Belum lama ini, Jacques Derrida memperluas lingkup karyanya saat buku karangannya tentang Marx terbit. Ia mengatakan bahwa filsafat dekonstruksinya tidak bisa secara sederhana dikatakan sebagai anti-Marxis. Maka, sekarang ini, ada yang menunggu-nunggu untuk melihat apakah ada unsur politik dalam gramatologi Derrida.

Derrida, seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure (re d’Ulm) di Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada akhir tahun 1965 saat ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris, Critique.[1] Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang mungkin paling terkenal, yiatu Of Grammatology.

Ada sejumlah kecenderungan penting yang mendasari pendekatan Derrida pada filsafat, dan lebih khusus lagi, pada tradisi pemikiran Barat. Yang pertama adalah pemkiran untuk bercermin pada tradisi pemikiran Barat dan mengurangi ketergantungan tradisi ini pada logika identitas. Logika identitas diturunkan dari karya Aristoteles, dan, seperti kata Bertrand Russell, terdiri atas unsur-unsur pokok berikut:

  1. Hukum identitas: “Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.”
  2. Hukum kontradiksi: “Sesuatu tidak bisa serentak menjadi ada dan tiada.”
  3. Hukum tidaknya yang berada di tengah: “Antara ada dan tiada tidak boleh ada apa pun juga.”[2]

“Hukum-hukum” pikiran ini tidak hanya mengandaikan adanya suatu koherensi logis, mereka juga mengarah ke sesuatu yang mendalam dan mencirikan tradisi yang terkait dengan suatu realitas pokok – asal usul – yang merujuk hukum-hukum ini. Untuk memelihara koherensi logisnya, asal usul ini haruslah “sederhana” (yaitu bebas dari kontradiksi), homogen (berupa substansi dan keteraturan yang sama), sesuai dengan dirinya sendiri (yaitu berada terpisah dan berbeda dari segala pengantaran, sadar akan dirinya sendiri tanpa ada kesenjangan antara asal usul dengan kesadaran). Jelas bahwa “hukum-hukum” ini menghendaki dikesampingkannya ciri-ciri tertentu seperti: kerumitan, pengantaran, dan perbedaan – singkatnya ciri-ciri yang memunculkan “ketidakmurnian”, atau kerumitan. Proses pengesampingan ini berlangsung dalam tataran umum, metafisis, di mana di dalamnya dilembagakan satu keseluruhan sistem konsep (yang terindra-yang terpikirkan; ideal-nyata; internal-eksternal; fiksi-kebenaran; alam-kultur; lisan-tulisan; keaktifan-kepasifan, dan sebagainya) yang mengendalikan proses pemikiran yang berlangsung di Barat.

Melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai “dekonstruksi”. Derrida memulai penelitian mendasar pada bentuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum-hukum identitas. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis – seperti yang ada dalam filsafat Rousseau berikut ini.

Suatu ketika Rousseau berpendapat bahwa kita harus mendengarkan suara alam. Alam ini identik dengan dirinya sendiri, suatu kumpulan yang tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akan tetapi, ia juga menunjuk pada kenyataan bahwa kadang-kadang dalam alam itu terdapat kekurangan – sebagaimana halnya seorang ibu tidak bisa memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Sekarang ini keadaan berkekurangan dilihat sebagai yang umum terdapat di alam, jika bukan sebagai karakteristiknya yang paling umum. Oleh sebab itu, Derrida menunjukkan bahwa alam yang menurut Rousseau itu “cukup-diri” ternyata juga berkekurangan.[3] Keadaan berkekurangan ini malah mengganggu kecukupan diri alam itu sendiri – yaitu identitasnya, atau seperti kata Derrida, kehadiran dirinya. Kecukupan diri alam hanya bisa dipenuhi bila kekurangan ini bisa ditutup. Walaupun begitu, agar logika identitas bisa dipertahankan, kalaupun alam memerlukan penambahan ia juga tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri (identik dengan dirinya). Ini karena kecukupan diri dan kekurangan adalah dua hal yang paling bertentangan: salah satu bisa menjadi landasan identitas, tetapi bukan kedua-duanya bila kontradiksi ingin dihindari. Ketidakmurnian identitas, atau dilemahkannya eksistensi diri ini tidak bisa dihindarkan karena, pada umumnya setiap asal usul yang tampaknya “sederhana” mungkin saja datang dari yang bukan asal usul. Manusia memerlukan pengantaran kesadaran, atau cermin bahasa, untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia; akan tetapi, pengantaran atau cermin (ketidakmurnian) ini harus disingkirkan dari proses perolehan pengetahuan. Kedua hal itu memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, tetapi tidak termasuk di dalam proses itu. Jika demikian halnya, seperti pada filsafat kaum fenomenologis, maka semua ini (kesadaran, subjektivitas, bahasa) menjadi setara dengan sejnis keberadaan yang identik dengan dirinya.

Proses “dekonstruksi” yang meninjau dasar-dasar pemikiran Barat modern tidak dilakukan dengan harapan agar paradoks atau kontradiksi ini juga tidak mengklaim bahwa ia bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mendasari tradisi ini dan membentuk suatu sistem yang berlandaskan pada pemahamannya sendiri. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa di sini terpaksa digunakan konsep-konsep yang sebenarnya tidak bisa dipertahankan dalam kerangka klaim yang dibuatnya untuk itu. Singkatnya, ia juga (paling tidak untuk sementara) harus mendukung klaim-klaim ini.

Secara filosofis, dorongan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hukum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi, kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru. Pengertian tentang perbedaan, atau differance, mungkin mengarah kepada kecenderungan kedua yang tampak dalam karya Derrida – yang terkait erat dengan keinginan untuk terus memelihara kreativitas dalam filsafat.

Differance adalah istilah yang diusulkan Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa sturkturalis. Bila Saussure bersusah payah dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa dalam bentuknya yang paling umum bahasa bisa dipahami sebagai suatu sistem perbedaan, “tanpa isitilah positif”, maka Derrida melihat bahwa implikasi penuh dari konsep ini tidak dipahami baik oleh kaum strukturalis kontemporer maupun Saussure sendiri. Perbedaan tanpa istilah positif menghendaki secara tak langsung bahwa dimensi bahasa ini harus tetap tidak bisa dikonsepkan. Pada Derrida, perbedaan menjadi prototipe dari hal-hal yang tetap berada di luar lingkup pemikiran metafisis Barat karena kondisi kemungkinan pemikiran ini. Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang berbicara tentang segala perbedaan. Sebagai contoh, kita katakan bahwa “x” (yang memiliki kualitas tertentu) berbeda dari “y” (yang memiliki kualtias lain), dan yang biasanya kita maksudkan adalah bahwa di sini dimungkinkan untuk mengungkapkan segala kualitas yang mengakibatkan segala perbedaan ini. Walaupun begitu, ini sebenarnya memberikan pemahaman positif terhadap perbedaan – yang menghendaki bahwa ia bisa berbentuk suatu gejala – sehingga hal ini bukanlah merupakan perbedaan yang dinyatakan Saussure, yaitu yang secara efektif tidak bisa dikonsepkan. Oleh sebab itu, menjadi jelaslah alasan pertama neologisme Derrida: ia ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; ia juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer) – dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (defferer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). Differance mengingatkan kita pada sekumpulan istilah yang berkembang dalam karya Derrida di mana strukturnya mutlak bersifat ganda: pharmakon (baik racun maupun obat); supplement (baik surplus maupun tambahan yang diperlukan); hymen (baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam).

Pembenaran lain untuk neologisme Derrida juga datang dari teori bahasa Saussure. Menurut Saussure, tulisan itu bersifat sekunder bila dibandingkan dengan wicara yang diucapkan oleh semua anggota komunitas bahasa. Bagi Saussure, tulisan itu bahkan merupakan suara bentuk bahasa yang “cacat bentuk” dalam pengertian bahwa (melalui tata bahasa) ia dianggap menjadi representasi sejati darinya, sedangkan Saussure menfklaimbahwa pada kenyataannya esensi bahasa terkandung didalam wicara yang dijalani, yang selalu berubah. Derrida mempertanyakan perbedaan ini, karena dalam perbedaan, ia melihat bahwa baik Saussure maupun kaum strukturalis (bdk. Levi-Strauss) meninjau bahasa tulisan dengan menggunakan pengertian tulisan seperti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu yang berusaha mengabaikan segala kerumitan. Oleh sebab itu, tulisan dianggap sebagai yang sepenuhnya bersifat grafis, yang mungkin bisa membantu ingatan, namun dibandingkan wicara ia tetap bersifat sekunder; secara mendasar ia dianggap fonetik, dan mewakili suara dari bahasa. Wicara itu sendiri dianggap lebih dekat dengan pikrian, yang berarti pada emosi, gagasan, dan kehendak si pembicara. Oleh sebab itu, sebagai primer dan yang lebih asli, wicara dipertentangkan dengan tulisan yang bersifat sekunder dan representatif. Sebagai seorang gramatologis (teoretisi tentang tulisan) Derrida berusaha menunjukkan bahwa pembedaan ini tidak bisa bertahan. Sebagai contoh, istilah differance itu sendiri memiliki unsur grafis yang tak tereduksi lagi, yang tidak bisa diamati pada tataran suara. Selain itu, klaim yang mengatakan bahwa tulisan fonetik itu seluruhnya bersifat fonetik, atau wicara itu seluruhnya terkait dengan pendengaran menjadi dipertanyakan saat tanda baca yang sepenuhnya bersifat rafis muncul, bersama dengan saat diam (spasi) dalam wicara yang tidak bisa terwakili.

Entah bagaimanapun, seluruh oeuvre Derrida merupakan suatu penjelajah bentuk tulisan dalam pengertiannya yang paling luas sebagai suatu differance. Sampai pada titik tulisan itu mencakup unsur-unsur piktografik, ideografik, dan fonetik, tulisan memang tidak identik dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tulisan itu selalu tidak murni, dan dengan demikian menantang pengertian tentang identitas, dan akhirnya pengertian tentang asal usul sebagai sesuatu yang “sederhana”. Hal ini bisa seluruhnya ada atau tidak ada, tetapi ini adalah jejak dari penghapusannya dalam upaya mengejar transparansi. Lebih dari itu, di satu sisi tulisan itu lebih “asli” daripada bentuk fenomenalnya. Tulisan sebagai jejak, tanda, grafen menjadi prasyarat bagi semua bentuk fenomental. Pengertian inilah yang secara implisit terdapat dalam salah satu bab Of grammatalogy yang berjudul “The end of the book and the beginning of writing”. Bab ini menunjukkan bahwa dalam pengertiannya yang ketat, tulisan itu bersifat semu, bukan fenomenal; ia bukan apa yang dihasilkannya, melainkan yang memungkinkan dihasilkannya sesuatu. Ia membangkitkan seluruh medan sibernetika, matematika teoretis, dan teori informasi.[4]

Dalam perenungan tentang tema-tema keksusastraan, seni dan psikoanalisis, seperti juga tema-tema fislafat sejarah, salah satu strategi Derrida adalah menampakkan “ketidakmurnian” tulisan (dan identitas apa pun). Derrida sering berupaya memberikan pembenaran secara filosofis dengan menerapkan strategi retoris, grafis, dan puitis (seperti pada Glas, atau The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond) sehingga menyadarkan para pembaca akan kaburnya perbatasan antara disiplin (seperti filsafat dan sastra), dan materi-subjek (seperti karya tulis/filsafat dan autobiografi). Dalam presentasi pertamanya di Sorbonne pada tahun 1968 yang membahas difference secara lebih luas dan mendalam, seorang hadirin yang kritis mengatakan, meskipun dengan penuh penyesalan, “Dalam karya Anda, ungkapan itu begitu penting sehingga perhatian pendengar terus-menerus terpecah dan terarah, di satu sisi kepada cara Anda berbicara, dan di sisi lain kepada hal yang ingin Anda katakan.”

Derrida kemudian menjawab hal ini dengan mengatakan, “Saya berusaha menempatkan diri saya pada satu titik di mana hal yang ditandakan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah dari penandanya.”[5]

Petunjuk yang mengatakan tentang tidak mungkinnya memisahkan secara ketat dimensi puitis-serta-retoris naskah (tataran penanda) dari “kandungan” pesan atau makna (tataran yang ditandakan) adalah gerakan yang paling penting dan kontroversial dalam seluruh eksplorasi yang dilakukan Derrida. Meskipun beberapa kritikus sastra Amerika cukup tertarik pada strategi ini, ada yang berpikir sampai sejauh mana sang filsuf mampu mengendalikan strategi ini (secara sadar). Jika perbatasan disiplin dan genre sebenarnya adalah konvensi dengan sejarah tertentu – yaitu, bila mereka dibangun berdasar semacam keyakinan – di sini ada kemungkinan besar untuk merusaknya. Maka yang kemudian dirusak sebenarnya adalah prinsip kerja yang relatif rapuh, bukan suatu prinsip pokok yang sangat mendasar. Dalam karya Laclau (yang diilhami oleh Derrida) tentang teori politik, kerapuhan identitas inilah yang tampaknya memberikan kesegaran baru pada politik. Karena identitas adalah hasil bentukan dan bukan yang paling dasar, mereka pasti rapuh, tetapi tidak kurang penting.

Dari sudut “Yang Lain”, karya Derrida membuka suatu kreativitas baru yang olehnya minat terhadap tulisan sebagai gramatologi memiliki dampak praktis. Di sini kita ingat Derrida pernah menunjukkan bahwa landasan prinsip-prinsip metafisis itu rapuh dan sangat mendua. Karena ia memiliki identitas yang tetap, maka apa yang benar dan “sesuai” (seperti kata benda nama diri), akhirnya akan memunculkan suatu dekonstruksi dari yang “sesuai” ini (misalnya, sebuah nama tidak hanya menunjuk ke suatu objek atau pribadi yang sederhana, “nyata”, atau fenomenal; karena ia juga memiliki dimensi retoris yang memungkinkan adanya permainan kata). Bila sebuah nama diri ditunjukkan sebagai yang “tidak” sesuai, muncullah “tulisan” dalam pengertian Derrida. Nama penyair Prancis, F. Ponge (yang dalam sebuah esai terkenal Derrida diubah menjadi eponge [spon]), menjadi sumber tulisan filosofis yang kreatif dan kritis. Dalam bahasa Inggris, agar muncul serangkaian asosiasi yang “tidak tepat” (improper), kita hanya perlu memikirkan Wordsworth dan “joy” (kegembiraan) dalam nama Jocye. Melalui permainan kata, anagram, etimologi, atau berbagai ciri diakritis (ingat “joy” pada Joyce), nama diri bisa dikaitkan dengan berbagai sistem konsep, gagasan, atau kata-kata (termasuk yang ada dalam bahasa lain). Selain itu Derrida sebenarnya mengaitkan nama diri dengan berbagai jenis citra (imaji) dan suara sehingga, dari satu sudut pandang, naskah rujukan tampak memiliki hubungan yang sangat sedikit dengan naskah yang diulas (lihat perlakuannya terhadap karya Jean Genet dalam Glas; atau esai Signeponge tentang karya Francis Ponge). Sebenarnya, bila kritik sastra tradisional cenderung mencari kebenaran (baik itu semantik, puitis, maupun ideologis) pada naskah sastra yang ditulis sesamanya, dan kemudian menerapkan peranan sekunder dan terhormat saat berhadapan dengan “keunggulan” naskah tersbut, Deriida malah mengubah naskah “primer” menjadi sumber ilham dan kreativitas baru. Sekarang ini para kritikus/pembaca tidak lagi hanya melakukan penafsiran (yang memang tidak pernah sepenuhnya demikian), tetapi bahkan menjadi “penulis”.

Selain itu, bila akal sehat cenderung mengandaikan bahwa keberulangan kurang lebih merupakan kualitas bahasa yang bersifat kebetulan, sehingga kata, frase, kalimat, dan sebagainya bisa diulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda, maka sebenarnya ini adalah kualitas yang menurut Derrida memisahkan tataran penanda dengan yang ditandakan. Oleh sebab itu, jika makna itu terkait dengan konteks, maka dalam kaitannya dengan struktur bahasa, tidak akan ada konteks yang tepat untuk memberikan bukti pada makna akhir. Seperti dikatakan Jonathan Culler, konteks itu tak terbatas. Perdebatan Derrida dengan filsuf Amerika, John R. Searl tentang teori “perfomatif” dari J.L. Austin adalah persis tentang hal ini. Bila Austin berupaya untuk membuat perfomasi yang sesuai (melakukan sesuatu dengan mengatakannya – seperti saat membuat janji) bergantung pada realisasinya dalam konteks yang tepat oleh pelaku yang tepat, maka perfomasi yang tidak sesuai – seperti saat sseseroang mengucapkan “saya mau” di luar upacara perkawinan, atau saat rapat dibuka oleh orang yang salah – tidak bisa dihapuskan dari bahasa. Derrida menegaskan, hal ini terjadi karena ketidaksesuaian terkandung di dalam struktur perfomatif itu sendiri: kualitas keberulangan berati bahwa bahasa – termasuk tanda tangan – bisa dipakai oleh siapa pun pada setiap saat. Oleh sebab itu, keberulangan mensyaratkan kemungkinan adanya tanda tangan yang dipalsukan.

Singkatnya, pencarian filosofis Derrida ini mengklaim untuk melakukan dekonstruksi terhadap semboyan-semboyan yang dipakai secara luas baik dalam dunia akademik maupun dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu tidak netral; di dalamnya terdapat berbagai pra-anggapan dan asumsi kultural dari keseluruhan tradisi. Pada saat yang sama, penataan ulang secara kritis pada landasan filsofis dari tradisi ini, mungkin secara tak terduga, menghasilkan suatu penekanan baru terhadap otonomi individu dan kreativitas peneliti/filsuf/pembaca. Mungkin unsur yang bersifat anti-populis tetapi juga anti-Platonis dalam gramatologi adalah sumbangan Derrida yang paling penting bagi pemikiran zaman sesudah perang. (*)

[1] Lihat Jacques Derrida, ‘De Ia grammatologie (I), Critique, 223 (Desember 1965), hlm. 1016-1042; dan ‘De la grammatologie (II)’, Critique, 224 (Januari 1966), hlm. 23-53.

[2] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, London, New York, Oxford University Press, dicetak ulang tahun 1973, hlm. 40.

[3] Jacques Derrida, Of Grammatology, diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, Baltimore dan london, Johns Hopkins University Press, 1976, hlm. 145.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] David Wood dan Robert Bernasconi (ed.), Derrida and Differance’, Evanston, Northwestern University Press, 1988, hlm. 88.

Continue Reading

Classic Prose

Trending