Connect with us

Kajian

Subyektifitas dan Intersubyektifitas Dari teks “Introduction” to the Second Sex Simone de Beauvoir

mm

Published

on

Simone de Beauvoir (1908-1986) merupakan pemikir perempuan yang terkenal pada masanya dan karyanya menjadi penting di dalam gerakan feminis di seluruh dunia hingga pada saat sekarang. Pemikirannya dipengaruhi oleh Hegel dan Heidegger dan teman hidupnya, Sartre. Beberapa pemikirannya juga mempunyai kesamaan dengan Merleau-Ponty tetapi tidak begitu diketahui oleh banyak orang karena Beauvoir sendiri lebih memilih diam, sebuah sikap yang disebut oleh Monika Langer sebagai komitmen pribadinya terhadap Sartre.

 

Di dalam bukunya Introduction to The Second Sex, Beauvoir menjelaskan tentang situasi yang tidak setara antara perempuan dan laki-laki. Hubungan yang menindas ini berasal dari dua sisi kehidupan perempuan; peran penengah dari struktur politik dan institusi sosial di dalam pembuatan subjektivitas, dan pengalaman hidup dari kebertubuhan perempuan. Beauvoir memulai dengan pertanyaan: “Apakah itu perempuan?”. Dia juga meragukan apakah perempuan masih ada. Ini tentunya adalah pertanyaan metafisika yang ditanyakan dengan ironi tertentu. Di dalam pandangan Beauvoir, tidak ada catatan positif filsafat tentang “Perempuan”; “Perempuan” dikonstruksikan oleh “yang lain” yaitu laki-laki, yang beroperasi untuk menolak nilai positif terhadap kehidupan perempuan. Dengan memahami situasi perempuan kita akan melihat ketidakadilan seksual (dan faktanya ketidakadilan sosial) yang meliputi masyarakat yang hanya bisa diarahkan dengan reorganisasi total dari struktur politik masyarakat. Subjektifitas perempuan berbeda dari laki-laki karena di dalam situasinya saja mereka sudah berbeda.

 

Perempuan hanya diartikan di dalam hubungannya dengan laki-laki. Laki-laki mendapatkan status metafisisnya sebagai “the One” (Yang satu) dan perempuan adalah nothing (tidak ada). Beauvoir mengklaim bahwa struktur dyadic diri-yang lain (self-other) tidak berasal dari spesifik jenis kelamin tertentu, tapi lebih kepada struktur umum eksistensi. Hal ini didapat dari analisa Hegel, kategori “yang lain” menjadi dasar kategori “diri”: diri yang dibentuk dan subjektifitas didapat melalui hubungan dengan “yang lain”. Hal ini mengarahkan Beauvoir kepada pertanyaan: mengapa situasi perempuan yang subjektifitasnya terberi bersifat sebagai inferior terhadap laki-laki? Ada dua cabang pemikiran Beauvoir dalam merespon pertanyaan ini. Pertama, melibatkan penjelasan keadaan alamiah kebebasan dan keadaan alamiah situasi. Kedua, berhubungan dengan relasi antara situasi perempuan dan kebertubuhan perempuan.

 

  1. Keadaan alamiah kebebasan dan keadaan alamiah situasi

 

Di dalam The Ethics of Ambition, Beauvoir berpendapat bahwa eksistensi manusia tidak hanya dualitas bagi dirinya (for-itself) dan dalam dirinya (in-itself), tetapi simultanitas ambiguitasnya. Eksistensi manusia adalah kapasitas subjektifitas untuk mentransendesikan kondisi terberinya dan beban dunia kausal objektif yang berfungsi dengan pengabaian sempurna terhadap rencana seseorang.[1] Ambiguitas juga ada di dalam hubungan kita dengan orang lain. Orang lain yang bagi saya merupakan subjek dan objek, dan hanya saya yang merupakan subjek dan objek bagi diri saya sendiri, jadi saya juga adalah subjek dan objek bagi yang lainnya. Situasi seseorang distrukturkan dengan hubungan resiprositas dengan dunia material, dunia sosial dan tubuh diri seseorang. Kebebasan dan subjektifitasnya terkubur di dalam hubungan interpersonal dan institusi sosial yang membentuk bagian dari situasi seseorang.

 

Penindasan adalah kekerasan spesifik yang diarahkan kepada kelompok tertentu, yang tujuannya secara sistematik untuk merubah situasi di dalam kelompok tersebut, untuk menghalangi mereka dari kebebasan yang dilihat sebagai kompetisi terhadap kebebasan si penindas. Hal inilah yang dilihat Beauvoir sebagai situasi terberi terhadap perempuan. Beberapa situasi tidak bisa ditransendesikan karena mereka telah terstruktur dan tercermin di dalam tindakan dan keinginan seseorang.

 

Di dalam The Second Sex Beauvoir menjelaskan berbagai macam proses yang dialami oleh perempuan yang berdampak terhadap subjektifitasnya sebagai “Yang Lain” terhadap laki-laki. Institusi sosial, khususnya perkawinan, menentukan bahwa laki-laki dan perempuan berlawanan satu sama lain dan tidak setara. Bahkan dalam situasi terbaik sekalipun, seperti: perempuan yang menjalani kehidupan mandiri harus terus menerus berkonflik antara kebebasan di dalam dirinya dan takdir keperempuannya yang secara sosial telah terkonstruksikan.

 

  1. Situasi Perempuan dan Kebertubuhan Perempuan

 

Beauvoir menjelaskan bagaimana situasi perempuan yang terberi sebagai yang inferior. Permasalahan ketidaksetaraan perempuan ini merupakan masalah ontologis dan penjelasan yang diberikan oleh Beauvoir didasarkan kepada ambiguitas tubuh perempuan.

 

Menurut Beauvoir, moralitas dibutuhkan hanya oleh makhluk hidup karena keabadian tidak didorong untuk menjadi segala sesuatu. Kebebasan merupakan ide temporal yang mengandaikan masa depan dan generasi penerus. Beauvoir memperhatikan kebebasan temporalitas sebagai keinginan ontologis pengabdian para spesies. Dia berfikir bahwa membangun kebebasan manusia sebagai “menjadi” adalah kemungkinan spesies untuk mereproduksi diri. Sehingga ambiguitas eksistensi manusia adalah: transendensi ke arah hal yang bersifat biologis. Ini memberi eksistensi bagi perempuan dan situasi karakter spesifiknya. Tubuh perempuan merupakan “elemen penting di dalam situasinya di dunia” karena memungkinkan dia menghabiskan waktu dan energi berdasarkan fungsi alamiahnya terkait dengan kapasitas reproduksi seperti: menstruasi, kehamilan, menyusui dan lain sebagainya.

Perempuan mengalami konflik yang tidak dialami oleh laki-laki, yang disebut dengan konflik antara spesies dan individual. Perempuan berada diantara kebebasan yang mereka inginkan dan yang mereka dapatkan, pengabdian terhadap kebebasan tersebut juga mengikat perempuan. Kebertubuhan perempuan telah membuat mereka berada di dalam ”takdir fisiologis.” Dengan adanya alasan tersebut telah menguntungkan laki-laki untuk dapat mengeksploitasi perempuan, dengan cara membuat perempuan terkubur di dalam ruang domestik, sementara di lain pihak laki-laki bebas mengejar autentisitasnya, aktifitas mengafirmasi diri.

Beauvoir mengkritisi dengan memainkan nilai jenis kebebasan yang dimungkinkan melalui motherhood. Feminis lainnya seperti Luce Irigaray menuduh Beauvoir telah terjebak dengan memberi penghargaan terhadap perbedaan seksual. Hal ini mungkin karena hasil pandangan Beauvoir mengenai transendensi, dimana para ahli lainnya berargumentasi bahwa konsep gender yang mengandaikan konsepsi diri yang bergantung kepada bentuk kehidupan sosial dan konsep tindakan yang berharga didasarkan atas penahanan perempuan di dalam area domestik.

“Introduction” to the Second Sex

 

  1. Pokok Bahasan

Di dalam bab ini Beauvoir ingin mengemukakan keraguannya tentang perempuan. Beauvoir memulai dengan pertanyaan, apakah perempuan benar-benar ada? Jika mereka benar-benar akan selalu ada, baik itu diinginkan atau tidak, tempat seperti apa bagi mereka di dunia ini. Apa yang menjadikan perempuan?

Dimulai dengan pertanyaan: siapakah perempuan? ‘Tota mulier in utero’ yang berarti ‘perempuan adalah kandungan’. Semua orang setuju bahwa perempuan ada di dalam spesies manusia, dan pada saat sekarang kita mengatakan bahwa femininitas berada di dalam bahaya; perempuan terdesak sebagai perempuan, tetap perempuan, dan menjadi perempuan. Kemudian setiap manusia perempuan muda (female) tidak perlu menjadi perempuan dewasa (woman);   untuk dapat dipertimbangkan, dia harus membagi dirinya ke dalam realitas yang mengancam yang disebut dengan femininitas. Beauvoir mempertanyakan, apakah feminitas merupakan suatu atribut yang disembunyikan di dalam ovarium? Atau di dalam esensi Platonik, suatu produk imajinasi filosofis? Walaupun beberapa perempuan berusaha mencari esensinya, tapi sangat sulit untuk mendapat jawaban yang jelas.

Konseptualisme telah kehilangan dasarnya. Pengetahuan biologi dan sosial tidak dapat mengakui keberadaan yang menentukan karakter diri manusia, seperti yang diberikan kepada  perempuan, orang Yahudi atau Negro. Ilmu pengetahuan melihat karakteristik sebagai reaksi ketergantungan di dalam bagian situasi. Pertanyaan selanjutnya yang diajukan Beauvoir adalah, apakah kata perempuan kemudian mempunyai makna yang spesifik? Hal ini diafirmasi oleh orang yang percaya kepada filsafat pencerahan, rasionalisme, nominalisme. Perempuan bagi mereka adalah manusia yang secara arbitrer didesain untuk penggunaan kata perempuan. Di dalam karya, Modern Woman: The Lost Sex, Dorothy Parker[2] menulis: “I cannot be just to books which treat of woman as woman…My idea is that all of us, men as well as women, should be regarded as human beings.” Beauvoir menganggap hal ini sebagai sesuatu yang menjengkelkan. Tentunya perempuan, seperti laki-laki adalah manusia, tapi hal ini adalah sesuatu yang abstrak. Fakta bahwa setiap manusia selalu bersifat singular, individu yang terpisah. Untuk menolak penerimaan ide feminitas, Yahudi, orang kulit hitam adalah tidak menolak bahwa Yahudi, Negro, dan perempuan masih ada sampai saat sekarang – penolakan ini tidak mewakili kebebasan bagi yang memperhatikan – tetapi lebih kepada lari dari realitas. Beauvoir juga mengejek Trotskyte muda yang menolak kelemahan feminitasnya. Tindakan menentang dari perempuan Amerika telah membuktikan bahwa mereka dihantui oleh rasa feminitasnya. Ketika kita berjalan di luar dengan mata terbuka, sudah cukup jelas terlihat bahwa kemanusiaan terbagi ke dalam dua kelas individu. Bisa jadi perbedaan ini palsu, dan mungkin mereka ditakdirkan untuk menghilang. Tetapi apa yang terjadi adalah perbedaan ini tetap ada.

Pertanyaan siapakah perempuan? Bagi Beauvoir adalah suatu analisa yang panjang. Dia pertama akan menjawab, bahwa “Saya adalah perempuan”. Laki-laki tidak pernah menampilkan dirinya sebagai individu dengan preferensi jenis kelamin tertentu. Terms maskulin dan feminin digunakan secara simetris hanya sebagai bentuk, di dalam dokumen hukum. Pada kenyataaannya, hubungan antara dua jenis kelamin tidak seperti dua kutub elektrik; laki-laki mewakili hal positif dan netral, sementara perempuan direpresentasikan sebagai yang negatif, yang dijelaskan dengan kriteria terbatas, tanpa adanya resiprositas. Perempuan mempunyai ovarium, uterus: keanehan ini terpenjara di dalam subjektifitasnya, mempunyai batas berdasarkan keadaan alamiahnya. Bahkan Aristoteles pun mempunyai pandangan negatif terhadap perempuan: “The female is a female by virtue of a certain lack of qualities”. St.Thomas juga mengatakan perempuan sebagai “laki-laki yang tidak sempurna”, dan “incidentalbeing.  

Menurut Beauvoir kemanusiaan adalah bagaimana laki-laki memberikan arti kepada perempuan, bukan sebagai dirinya tetapi sebagai yang relatif bagi laki-laki tersebut; perempuan tidak dilihat sebagai manusia yang otonom. Penyebutan “the sex” merujuk bahwa laki-laki menganggap perempuan sebagai makhluk yang berjenis kelamin. Bagi laki-laki, perempuan adalah jenis kelamin yang absolut. Maka laki-laki adalah subjek dan Absolut sementara perempuan adalah yang lain (Other).[3]

Kategori Other sama tuanya dengan kesadaran itu sendiri. Di dalam masyarakat yang primitif, seseorang dapat menemukan ekspresi dualitas ini – Diri dan yang lain (Other). Dualitas ini tidak terikat dengan pembagian jenis kelamin; dan juga tidak bergantung dengan fakta empiris. Yang lain menjadi kategori fundamental di dalam pemikiran manusia.

Maka tidak ada kelompok yang menggambarkan dirinya tanpa menciptakan yang lain sebagai lawan terhadap dirinya. Seperti: penduduk asli yang melihat pendatang sebagai “yang asing”; Yahudi “berbeda” dengan anti-Semit, Negro “inferior” terhadap para rasis Amerika dan lain sebagainya.

Levi-Strauss di dalam berbagai karyanya tentang masyarakat primitif telah sampai kepada kesimpulan: “Passage from state of Nature to the state of Culture is marked by man’s ability to view biological relations as a series of contrasts; duality, alternation, opposition, and symmetry, whether under definite or vague forms, constitute not so much phenomena to be explained as fundamental and immediately given data of social reality.”[4] Fenomena ini menjadi tidak dapat dipahami jika pada faktanya masyarakat merupakan Mitsein atau persahabatan berdasarkan solidaritas. Jika kita mengikuti Hegel, kesadaran adalah musuh fundamental dari setiap kesadaran yang lain: subjek bisa diletakkan hanya di dalam berlawanan – yang menjadikan dirinya sebagai yang esensial, sebagai yang berlawanan dengan yang lain, tidak penting dan obyek.

Kesadaran yang lain membuat klaim sebaliknya. Penduduk asli suatu negara yang jalan-jalan ke luar negeri terkejut karena menemukan dirinya sebagai “yang asing” oleh penduduk asli negara lain. Maka, terjadilah perang, festival, perdagangan, perjanjian dan kontes diantara penduduk asli, negara dan kelas yang berusaha mencabut konsep “yang lain” dalam makna absolut untuk memanifestasikan relativitasnya; maka mau tidak mau, individu dan kelompok dipaksa untuk sadar akan resiprositas dari hubungan mereka. Yang lain diletakkan sebagaimana mestinya oleh yang satu (the One) dalam menjelaskan dirinya sebagai yang satu (The One). Tapi yang lain tidak mendapatkan status dalam menjadi yang satu (the One), dia harus mematuhi dan menerima pandangan yang lain. Bagaimana apabila kasus ini terjadi kepada perempuan?

Dalam berbagai kasus, yang terjadi adalah mayoritas mendominasi dengan memaksakan aturannya kepada minoritas. Tetapi di dalam halnya perempuan, perempuan bukanlah minoritas, jumlah perempuan dan laki-laki hampir sama di seluruh dunia. Dua kelompok tersebut harusnya bersifat independen, atau mengakui otonominya masing-masing. Tetapi peristiwa sejarah telah memperlihatkan penaklukan yang lemah oleh yang kuat. Mereka ada di dalam kejadian masa lalu, tradisi, dan terkadang di agama dan budaya.

Beauvoir juga melihat hubungan perempuan dan proletariat sebagai sesuatu yang bersifat valid karena mereka dibentuk sebagai minoritas atau unit koletif terpisah dari manusia. Satu peristiwa sejarah dalam dua kelompok tersebut dapat menjelaskan status mereka sebagai kelas dan keanggotaan dari individu partikular di dalam kelas tersebut. Tetapi proletariat tidak selalu ada, berbeda dengan perempuan. Perempuan mempunyai keutamaan di dalam anatomi dan fisiologinya. Di dalam sejarah, mereka selalu disubordinasi oleh laki-laki sehingga ketergantungan mereka bukanlah hasil dari peristiwa sejarah atau perubahan sosial. Alasan mengapa yang lain menjadi absolut di dalam bagiannya adalah kurangnya kontingensi atau kebetulan alami dari fakta sejarah. Kondisi alamiah ini mengatasi kemungkinan perubahan. Keadaan alamiah adalah sesuatu yang terberi, satu untuk semua dan menjadi realitas historis. Jika perempuan tidak pernah menjadi penting, maka hal ini terjadi karena mereka gagal membuat perubahan. Perempuan mendapatkan apa yang  (dirancang) diinginkan oleh laki-laki, sementara perempuan sendiri tidak mendapatkan apa-apa, mereka hanya menerima.

Hal ini terjadi karena perempuan kekurangan arti konkrit untuk mengorganisir dirinya menjadi unit yang dapat berhadapan dengan unit yang lainnya. Perempuan tidak seperti proletariat, perempuan tidak punya masa lalu, sejarah ataupun agama, mereka tidak punya solidaritas kerja dan kepentingan. Perempuan tersebar diantara laki-laki, berada di dalam rumah, pekerjaan rumah, kondisi ekonomi dan bahkan lebih jelas daripada perempuan terhadap perempuan lainnya. Jika mereka borjuis, mereka merasakan solidaritas dengan laki-laki di dalam kelas itu, bukan dengan perempuan proletariat. Proletariat bisa melakukan perlawanan kepada kelas penguasa, tetapi perempuan tidak bisa, bahkan untuk dapat bermimpi memusnahkan laki-lakipun tidak bisa. Ikatan yang menyatukan perempuan dengan penekannya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Pemisahan jenis kelamin adalah fakta biologis, bukan kejadian di dalam sejarah manusia. Perempuan adalah yang lain di dalam totalitas dimana dua komponen dimungkinkan terhadap satu dengan yang lainnya.

Beauvoir melihat pembebasan yang dilakukan oleh kelas pekerja telah melambat. Budak dan tuan yang disatukan dengan kebutuhan resiprokal tidak dapat membebaskan kaum budak. Di dalam hubungan tuan dan budak, sang tuan tidak membuat kebutuhan yang dia punyai untuk yang lain: dia punya kekuasaan untuk meraih kepuasan melalui tindakannya sendiri; sementara budak, di dalam kondisi ketergantungannya, sadar akan kebutuhannya terhadap tuannya.

Perempuan juga selalu menjadi tergantung kepada laki-laki, dua jenis kelamin ini tidak pernah membagi dunia di dalam kesetaraan. Hal ini terlihat di dalam berbagai segi kehidupan: ekonomi, politik dan industri. Ketika perempuan berusaha mengambil bagian di dalam dunia, tetap ini adalah dunia yang dimiliki oleh laki-laki. Laki-laki dengan kekuasaannya akan memberi perempuan perlindungan material dan akan mengambil justifikasi moral dari keberadaan perempuan.  Bersamaan dengan kepentingan etis individu untuk menerima keberadaan subjektif laki-laki, juga ada usaha untuk mendahulukan kebebasan. Ketika laki-laki membuat perempuan menjadi yang lain, dia kemudian mengharapkan manifestasi kompleksitas. Sedangkan, perempuan bisa gagal meletakkan klaimnya terhadap status subjek karena kurangnya sumberdaya tertentu, karena dia merasa ikatan yang kuat terhadap laki-laki dan karena dia juga diuntungkan dengan perannya sebagai yang Lain.

Dualitas menimbulkan konflik. Yang menang akan muncul dengan status absolutnya, tetapi kenapa laki-laki harus sudah menang semenjak awalnya? Apakah perubahan ini mengarah kepada hal yang baik? Akankan membawa kesetaraan terhadap laki-laki dan perempuan? Pertanyaan ini tidaklah baru. Tapi fakta bahwa perempuan cenderung curiga terhadap segala justifikasi yang dipunyai oleh laki-laki tidak mampu disediakan. Seperti yang diungkapkan oleh feminis abad ke-17, Poulain de la Barre: “All that has been written about women by men should be suspect, for the men are at once judge and party to the lawsuit.” Laki-laki hanya dapat menikmati hak istimewanya pada sesuatu yang absolut dan abadi, sehingga mereka membuat hukum yang menguntungkan jenis kelaminnya, dan para pembuat hukum kemudian menjadikan hukum sebagai prinsip.

Para legislator, pendeta, filsuf, penulis dan ilmuwan telah berusaha memperlihatkan bahwa posisi subordinat perempuan diinginkan di surga dan diuntungkan di dunia. Agama yang ditemukan oleh para lelaki merefleksikan keinginan ini sebagai dominasi. Kita dapat menemukannya di dalam legenda Hawa dan Pandora dimana laki-laki melindungi perempuan. Semenjak jaman dahulu para moralis memperlihatkan kelemahan perempuan. Terkadang bisa terlihat dengan jelas, seperti hukum romawi yang membatasi hak perempuan dengan alasan ”kesintingan dan ketidakstabilan jenis kelamin” hanya karena kelemahan di dalam keluarga terlihat sebagai ancaman terhadap kepentingan laki-laki. Dan di dalam usaha menjaga perempuan yang menikah, maka St.Agustinus pada abad ke-16 mengatakan bahwa “Perempuan adalah makhluk yang tidak bersifat yang menentukan dan konstan”, pada saat perempuan single mampu mengelola hartanya. Montaigne paham betul dengan kondisi perempuan yang seperti ini, seperti yang diungkapkannya: “Perempuan tidak pernah salah ketika mereka menolak menerima aturan bagi mereka, karena laki-laki telah membuat aturan ini tanpa berkonsultasi dengan mereka. Tidak heran banyak intrik dan perselisihan.” Tapi Montaigne tidak berusaha sejauh apa yang dia bicarakan.

Pada abad ke-18, Diderot[5] mengatakan bahwa perempuan, sama dengan laki-laki adalah manusia. Kemudian muncul John Stuart Mill dengan argumentasinya. Pada Abad ke-19, perkelahian para feminis beranjak kepada perkelahian antar pendukung. Salah satu konsekwensi dari revolusi industrial adalah masuknya perempuan menjadi buruh produktif, dan disinilah klaim feminis timbul dari teori menjadi dasar ekonomis, sementara itu penentang mereka menjadi lebih agresif. Walaupun pemilik tanah kehilangan kekuasaannya, borjuis yang melekat kepada moralitas lama menemukan jaminan di dalam kepemilikan pribadi di dalam keluarga. Perempuan disuruh untuk kembali ke rumah karena emansipasinya telah menjadi suatu ancaman. Bahkan dengan kelas pekerja laki-laki berusaha untuk membatasi kebebasan perempuan.

Dalam membuktikan inferioritas perempuan, anti-feminis berusaha tidak hanya menggambarkan di dalam agama, filsafat dan teologi, sebagaimana sebelumnya, tetapi juga terhadap pengetahuan-biologi, psikologi eksperimental dan lain sebagainya. Kebanyakan jatuh pada “kesetaraan di dalam perbedaan” terhadap jenis kelamin lain. Hal ini sama dengan formula “sama tapi terpisah” dari hukum Jim Crow yang ditujukan kepada Negro di Amerika Utara. Perempuan pada masa sekarang adalah inferior terhadap laki-laki, tapi apakah keadaan ini harus tetap berlanjut?

Banyak laki-laki yang berharap bahwa keadaan ini terus berlanjut. Borjuis konservatif masih melihat emansipasi perempuan sebagai ancaman terhadap moralitas dan kepentingan mereka. Siswa laki-laki baru-baru ini menulis: “setiap siswa perempuan yang belajar kedokteran dan hukum mengambil jatah pekerjaan kita.” Dan kepentingan ekonomi tidak hanya menjadi hal utama yang diperhatikan.

Laki-laki yang paling mediocre merasa dirinya setengah dewa jika dibandingkan dengan perempuan. Lebih mudah bagi M.de Montherland[6] berfikir dirinya sebagai pahlawan ketika berhadapan dengan perempuan dibandingkan dengan dia yang bertindak sebagai laki-laki diantara para laki-laki.

Berbagai contoh telah diperlihatkan oleh Beauvoir mengenai sikap maskulin, tetapi laki-laki terus diuntungkan di dalam bentuk yang hampir tidak kentara dari yang lain. Dan parahnya, laki-laki telah menderita inferiority complex, tidak ada yang lebih arogan kepada perempuan, lebih agresif dan menghina, selain daripada laki-laki yang cemas akan kejantanannya. Mereka tidak bisa disalahkan karena tidak bahagia terlepas dari segala keuntungan yang berasal dari mitos, sementara mereka gagal untuk menyadari apa yang mereka dapatkan dari perempuan di masa yang akan datang. Penolakan untuk meletakkan diri sebagai subjek yang unik dan absolut membutuhkan penolakan diri yang besar. Mayoritas laki-laki tidak membuat klaim tersebut secara eksplisit. Mereka tidak mempostulatkan perempuan sebagai yang inferior, sekarang mereka terilhami dengan demokrasi ideal untuk tidak mengenali seluruh manusia sebagai sesuatu yang setara.

  1. Kesimpulan dan Kritik

Di dalam bab Introduction of Second Sex ini, Beauvoir masih berada di tahap awal penjelasan akar ketidaksetaraan perempuan dan laki-laki. Dimulai dari pertanyaan siapakah perempuan, dan jawaban dari berbagai filsuf dimulai dari Plato, kemudian St.Agustinus dan beberapa pemikir Perancis seperti Diderot dan Montherland tidak dapat menjelaskan siapa perempuan sebenarnya. Pertanyaan tentang siapa perempuan? terus menerus diragukan di dalam seluruh bab ini. Perempuan dilihat sebagai objek hasil kontruksi oleh laki-laki. Sejarah dan sistem sosial juga adalah hasil konstruksi laki-laki. Perempuan terberi di dalam kondisi ini. Sementara itu, dominasi laki-laki dan perempuan ini berbeda dengan jenis dominasi lainnya seperti dominasi kelas (borjuis dan proletar), yahudi dan kulit hitam. Jenis lain dari dominasi ini dimungkinkan untuk dapat terjadi pembebasan dan perlawanan, tetapi tidak dengan dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Seperti kebanyakan kritik terhadap feminisme, pola pikir feminisme mendasarkan kepada oposisi biner, yang menempatkan laki-laki sebagai lawan terhadap perempuan. Pandangan ini menurut saya tidak bisa melihat apa yang terjadi dengan perempuan di abad-21 dimana banyak perempuan bisa terus berkarya dan menjadi pemimpin yang setara dengan laki-laki. Tanpa harus merasa ditindas. Hal ini dimungkinkan dengan perubahan sudut pandang masyarakat, pengaruh sistem adat dan sistem di dalam keluarga. Gerakan feminis juga mempunyai banyak aliran dimana pandangan yang satu secara substansial berbeda dengan yang lainnya. Hal ini tentunya menjadi sulit dalam perjuangan demi mencapai kesetaraan gender. Alih-alih menciptakan dunia yang setara, membereskan pandangan di dalam satu aliran pemikiran saja belum selesai di dudukkan. (*)

* Rika Febriani, Mahasiswa Paska Sarjana STF. Driyarkara

[1] Kim Atkins, Commentary on De Beavoir,di dalam buku Self and Subjectivity, Blackwell Publishing, 2005, hal. 238.

[2] Dorothy Parker adalah seorang penulis puisi, cerpen, kritik dan satir yang memperhatikan kekurangan masyarakat urban di Abad ke-20.

[3] Kata The Other yang digunakan oleh Beauvoir berasal dari Emanuel Levinas dalam karyanya Temps et l’Autre. Beauvoir menganggap feminitas berlawanan dengan makna absolut, makhluk yang berlawanan ini telah mempengaruhi hubungan diantara keduanya dan dianggap sebagai absolut terhadap yang lain. Otherness mencapai pemaknaannya di dalam femininitas, term yang digunakan dalam tataran yang sama sebagai kesadaran tetapi dengan makna yang berlawanan.

[4] Levi-Strauss, Les Structures elementaires de la parente, Paris, 1948.

[5] Diderot adalah filsuf Perancis yang terkenal dengan idenya tentang kehendak bebas. Di dalam lingkaran abad pencerahan karya Diderot yang terkenal Lettre sur les aveugles (London, 1749), yang mensuport teori pengetahuan Locke. Diderot juga terkenal dengan serangannya terhadap moralitas konvensional.

[6] M.de Montherland adalah seorang anti-feminis dan mempunyai pandangan misoginis. Beauvoir di dalam seluruh bab The Second Sex ini mendiskusikan dan mengutip berbagai pandangan M.de Montherland.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian

Buku Terbaik Ditulis Althusser Adalah Autobiografinya

mm

Published

on

Louise Althusser lahir di Aljazair pada tahun 1918 dan meninggal dalam penjara di kota Paris pada tahun 1990 atas tuduhan telah membunuh isterinya. Pada tahun 1939 ia diterima sebagai calon agregation dalam bidang filsafat di Ecole Normale Superieure (reu d’Ulm). Akan tetapi, sementara itu datanglah Perang Dunia II dan Althusser ditawan oleh tentara Jerman sehingga ia tidak bisa menyelesaikan agregation-nya sampai tahun 1948. Segera setelah itu, ia diangkat menjadi caiman di rue d’Ulm, jabatan yang memberinya kesempatan untuk mempersiapkan para calon peserta agregation. Selama hampir empat puluh tahun para tokoh lingkungan kehidupan akademik dan intelektual Paris, seperti Michel Foucault dan Derrida, dipersiapkan melalui sentuhan tangan tokoh ini. Sebelum tahun 1960-an, saat artikel-artikelnya mulai diterbitkan dalam For Marx, pengaruh Althusser hanya ada dalam lingkungan Ecole saja, dan sejak saat itu ia dikenal sebagai seorang teoretisi Marxis dengan kecondongan strukturalis. Althusser menjadi salah seorang tokoh filsafat Prancis yang paling sering disebut-sebut dalam lingkungan agregation.[1]

Althusser terkenal karena sikap “anti-humanisme”-nya. Melalui anti-humanisme, para pembaca Das Kapital berupaya memberikan semangat baru pada Marxisme yang ter-Kristen-kan melalui pengaruh Teilhard de Chardin,[2] dihumanisasikan oleh Mazhab (Sekolah) Frankfurt, dan dihumanisasikan sekaligus dihistoriskan oleh Sartre dan Gramsci.[3] Althusser menentang gagasan bahwa individu itu ada sebelum munculnya kondisi-kondisi sosial. Kemudian dengan menggambarkan masyarkat sebagai suatu kesatuan struktural yang tersusun dari tingkatan-tingkatan otomi (hukum, kultural, politis, dan sebagainya) yang cara artikulasinya, atau “efektivitasnya”, pada akhirnya ditentukan oleh ekonomi, Althusser mengejutkan banyak orang, baik yang berbeda di dalam lingkungan Marxisme maupun yang berada di luarnya. Adanya perbedaan antara berbagai tingkatan tersebut, dan bukan kesatuannya, di mana setiap unsur akan mencerminkan ciri keseluruhannya, menjadi sesuatu yang penting. Sekarang sudah tidak ada lagi para pelaku individu yang dengan sadar membentuk hubungan sosial seperti disarankan oleh struktur, yang ada adalah bahwa setiap subjek menjadi pelaku sistem tersebut.

Dalam karyanya yang terkenal, Reading Capital, Althusser tidak hanya “membaca” Marx, tetapi menjelaskan perbedaan antara bacaan “permukaan” yang hanya memikirkan kata-kata yang benar-benar ada dalam naskah dengan bacaan simptomatis yang berusaha mempersatukan problematika yang mengungkapkan atau membentuk makna naskah yang sebenarnya. Upaya pemusatan perhatian pada wacana memberi Althusser kesempatan untuk mengalihkan perhatian  baik dari ekonomis – yang melihat Marx sebagai pewaris dari kerangka kerja ekonomi politik klasik (Smith dan Ricardo) – maupun dari humanisme dan historisisme yang mengandalkan otoritas karya-karya awal Marx: The Economic and Philosophic Manuscripts dan Theses on Feuerbach. Althusser berpendapat bahwa bila Marx hanya dilihat sebagai pewaris ekonomi-politik klasik, maka pengertian ekonomi menurut Marx adalah sangat sempit, tidak masuk akal, dan menghasilkan suatu determinisme ekonomi, karena, seperti juga dengan Hegel, hal ini mengandaikan bahwa masyarakat merupakan suatu totalitas sosial yang secara langsung menampilkan hubungan-hubungan ekonomi yang berlangsung di dalam masyarakat.

Meskipun dalam karya besar Marx, Das Kapital, terdapat bahasa-bahasa Hegelian, atau “ekonomi-politik”, ini belum merupakan bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa Marx bisa didudukkan di dalam problematika yang sama dengan Hegel atau ekonomi-politik klasik. Demikian juga, saat muncul komentar dari para ahli yang merujuk pada klaim Marx tentang dibalikkannya dialektika Hegel – membuatnya “berdiri di atas kepalanya” – sehingga yang utama adalah landasan material, bukan lingkup hegelian dari Ide Absolut, Althusser berpendapat bahwa pembalikan semacam itu tidak selalu berarti berlakunya sebuah problematika lain, atau bahwa seseorang bisa saja melepaskan diri dari pengaruh problematika Hegelian. Oleh karena sebuah problematika menunjukkan suatu cakrawala pemikiran maka: ia merupakan “wadah tempat diletakkannya semua masalah”; ia membatasi bahasa dan konsep terhadap pemikiran dalam perjalanan sejarah tertentu. Akhirnya, problematika ini membentuk situasi kemungkinan yang mutlak dan pasti dari struktur teoretis tertentu. Akibatnya, hal-hal baru yang bersifat radikal dalam Marx tidak akan bisa terungkap dalam tulisan-tulisannya karena ia terpaksa mempergunakan konsep dan bahasa yang sudah ada sebelumnya. Pencekatan Marx yang berpandangan negatif pada ekonomi-politik klasik, dan dengan demikian berarti sebagai yang mendukung para pekerja untuk melawan para ekonom politik yang mendukung kaum kapitalis, sedikit berbeda dengan pendekatan Feuerbach pada Hegel. Mempertentangkan humanisme Feuerbach dengan idealisme Hegelian berarti terus terperangkap di dalam problematika Hegelian yang sama, yang memerlukan – agar tetap manjur – aspek-aspek negatif (yang ditolaknya) seperti juga aspek-aspek positifnya.

Oleh sebab itu, strategi Althusser adalah memperkenalkan suatu praktek membaca yang bisa mengenali bagaimana Marx mengawali suatu revolus teoretis yang didasarkan pada objek yang sepenuhnya baru, yaitu cara produksi. Menurut Marx, ini menjadi suatu struktur tak kelihatan pada artikulasi unsur-unsur yang ada pada keseluruhan sistem sosial; hal ini tidak lagi berada dalam problematika yang membentuk filsafat dan ekonomi-politik klasik dari Hegel. Dalam strategi ini terdapat juga sebuah epistemologi yang memisahkan teori pengetahuan Marxis dari yang lainnya, dan secara khusus dari segala bentuk empirisisme. Sebagai akibatnya, dalam mencari konsep cara produksi, Marx harus melepaskan diri dari bentuk-bentuk pengetahuan yang, agar bisa absah, mengadalkan “kejelasan” pengalaman langsung. Cara produksi ini (struktur masyarakat) memang tidak tampak dalam pengalaman langsung. Menurutnya ia juga tidak muncul dalam bentuk-bentuk pengetahuan yang mengklaim diri sebagai bagian dari objek Nyata. Setiap epistemologi yang mempersatukan pengetahuan dengan objek nyata tidak akan mampu menghasilkan kosnep tentang objek tersebut. Menurut Althusser ini berlaku, baik saat kita berhadapan dengan idealisme Hegelian (yang nyata = pemikiran) maupun dengan empirisisme klasik (yang nyata adalah yang tidak terpisahkan dari pengalaman inderawi). Karena para pendahulunya (termasuk yang datang sesudahnya) tidak mampu menghindari empirisisme – tidak mampu melepaskan kaitan antara pengetahuan dengan objek nyata – maka mereka juga tidak mampu untuk “melihat” (memberikan pengetahuan tentang) cara produksi seperti yang dilakukan Marx, dan pada gilirannya Marx sendiri pun tidak mampu menjelaskan lebih lanjut konsep cara produksi karena ia masih bersandar pad bahasa empirisisme. Dengan demikian, hanya dalam naskah tertentu saja (dalam Pendahuluan yang dibuat tahun 1857, The Critique of Goethe Programme, dan Marginal Notes on Wagner) pendapat Marx benar-benar asli dari dirinya. Oleh sebab itu, sekarang ini para pembaca Marx harus melakukan suatu pembacaan simptomatik untuk melihat dengan jelas temuan Marx ini. Ini berarti memberikan konsep bagi revolusi teoretis yang dipelopori Marx.

Jika problematika penganut empirisisme bisa diatasi, maka pengetahuan dan dunia objektif menjadi terpisah sepenuhnya. Dari sini tampak bahwa keabsahan suatu teori itu tidak bergantung pada apakah yang disebutkannya sesuai dengan kenyataan atau tidak, tetapi pada apakah premis-premisnya itu konsisten atau tidak. Dengan cara yagn sama suatu kebenaran ilmiah tidak diturunkan secara aposteriori, tetapi sepenuhnya apriori; teori relativitas itu sepenuhnya benar (atau salah) sebelum diuji dalam kenyataan. Berdasarkan hal ini maka Althusser berani mengatakan bahwa Spinoza adalah pendahulu langsung dari Marx karena Spinoza mengatakan bahwa ilmu itu benar karena ia berhasil; bukan sebaliknya, ia berhasil karena ia benar. Ini adalah karakteristik mendasar dari suatu ilmu yang menurut Althusser membedakannya dengan ideologi. Dengan demikian, ciri menonjol ideologi adalah pengandaiannya bahwa pengetahuan atau gagasan diturunkan dari bagaimana benda-benda berperilaku baik “benda-benda” ini merupakan karya Tuhan, seperti dalam agama, maupun merupakan karya manusia seperti dalam filsafat Zaman Pencerahan. Singkatnya, ideologi menerima kejelasan (yang salah) dari benda-benda; ia tidak menerima pertanyaan, dan menghindari upaya penyusunan objek pengetahuan.

Berdasarkan hal ini, apa yang Marx temukan? Di sini muncul dua kemungkinan jawaban yang mewakili dua tingkatan analisis yang berbeda. Yang pertama adalah bahwa Marx menemukan konsep cara produksi di dalam sejarah, dan secara khusus cara produksi kapitalis (nilai lebih, nilai tukar, komoditas); jawaban kedua, menurut Althusser adalah bahwa Marx menemukan ilmu sejarah atau materialisme historis seperti juga materialisme dialektik – di sini kerangka kerja filosofis penganut non-empirisme menghasilkan konsep tentang penemuan ini. Sebaliknya, historisisme lupa bahwa Marxisme itu juga adalah sebuah filsafat, sedangkan humanisme lupa bahwa Marx memelopori sebuah ilmu baru, ilmu sejarah, di mana sejarah harus dipahami sebagai sejarah cara produksi. Althusser tidak jemu-jemunya menegaskan kembali bahwa cara produksi merupakan objek unik materialisme historis, suatu objek yang berbeda dengan objek ekonomi-politik klasik serta teori sejarah dan masyarakat dalam era Pencerahan. Menurut Marx sekarang ini tidak ada “masyarakat”, yang ada hanya cara produksi yang ber-evolusi dalam sejarah. Cara produksi ini selalu imanen dalam berbagai tingkatan yang relatif otonom dari keseluruhan struktur sosial.

Jika akhirnya cara produksi itu juga setara dengan determinisme ekonomi, bagaimana mungkin ekonomi itu muncul dalam bentukan sosial yang membangkitkannya? Selain itu, jika di dalam ekonomi berlangsung perubahan, apakah ini akan tampak dalam seluruh masyarakat? Paling tidak sampai tahun 1930-an, Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah bahwa perubahan dalam ekonomi (atau dalam infrastruktur) akan tercermin di dalam msyarakat dan kultur (super-struktur). Oleh sebab itu, jika kapitalisme setara dengan eksploitasi pekerja melalui pengurasan nilai lebih, atau keuntungan, maka hubungan antagonistik antara kaum kapitali dengan pekerja ini juga mendapatkan ungkapan ideologisnya dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, para pekerja dan kaum kapitalis akan menyadari antagonisme ini dan memeranginya. Oleh sebab itu, ekonomi akan langsung menentukan kehidupan sosial dan kultural.

Sedikit perenungan akan menunjukkan bahwa jika penjelasan determinis ini absah, maka untuk memahaminya kita tidak perlu berpaling ke Marx. Sudah sangat memadai kalau kita meninjaunya berdasarkan antropologi Feuerbachian (yang meletakkan “Manusia” di pusat alam semesta), atau mengikuti Hegel jika ingin lebih memadai. Bagi Alhusser, konsep Marx tentang cara produksi tidak bisa dipelajari dari tingkatan kesadaran atau ideologi. Sebaliknya, sebagai suatu gejala struktural ia hanya bisa ada secara “teroverdeterminasi” pada seluruh bentuk realitas seluruh bentukan sosial yang terkait dengannya. “Overdeterminasi” adalah istilah yang Althusser pinjam dari Freud (yang menggunakannya dalam The Interpretation of Dreams untuk menunjukkan bagaimana “pikiran mimpi” atau “gagasan mimpi” muncul dalam bentuk yang sudah berubah dalam mimpi itu), dalam menjelaskan bahwa realitas tataran ekonomis atau cara produksi tidak langsung terungkap dalam ideologi atau kesadaran, tetapi muncul dalam bentuk yang sudah berubah melalui bentuk realitas sosial yang terkait dengan cara produksi tersebut. Dalam hal ini berbagai kontradiksi dalam sistem menjadi teroverdeterminasi. Mereka tidak segera tampak, akan tetapi harus dianalisis dan dimunculkan melalui ilmu.

Althusser bukanlah yang pertama dari para pemikir Marxis yang menentang sikap terlalu menyederhanakan yang terdapat pada pencirian kaum determinis terhadap ekonomi. Ini karena setelah ditemukannya karya Marx, Economic and Philosophic Manuscript, pada tahun 1932, kaum Marxis humanis menentang tidak hanya determinisme ekonomi, tetapi juga semua interprestasi terhadap kehidupan sosial yang menyangkal bahwa manusia tidak bisa berinisiatif untuk mengubah kondisi sosial. Pada tahun 1960-an, kesadaran dan ideologi (politik) menjadi semboyan dari banyak teori radikal tentang masyarakat. Dengan demikian Althusser menentang gagasan bahwa Marxisme hanyalah sebuah humanisme, seperti juga ia menentang gagasan yang menyatakan bahwa Marxisme adalah sebuah determinisme ekonomis. Itulah sebabnya, khususnya pada tahun 1960-an, ia begitu giat dan tak henti-hentinya menulis tentang adanya “perpisahan epistemologis” antara Marx awal dan Marx akhir.[4] Althusser berpendapat bahwa Marx awal itu lebih bersifat humanis dan Feuerbachian; namun, Alhussser mengatakan bahwa ini bukan Marx yang memisahkan diri dari problematika Hegelian-Feuerbachian yang mengatur determinisme ekonomi maupun humanisme. Ada sebuah perpisahan epistemologis antara Marx awal yang ideologis dengan Marx akhir yang ilmiah.

Meskipun demikian, jika ilmu dari Marx ini terlepas dari problematika yang mengutamakan ideologi dalam upaya memberikan penjelasan sosial, apakah ini berarti bahwa ideologi adalah suatu ilusi murni, atau semacam mitos yang tidak memiliki landasan apa pun dalam kehidupan sosial? Seolah berupaya menjawab pertanyaan ini, pada tahun 1967 dalam rangka mengembalikan kekuatan penjelas pada ideologi yang ada dalam versinya tentang Marxisme, pada bagian Prakata For Marx (dalam versi bahasa Inggris). Althusser menuliskan: “Saya tidak mengutuk ideologi sebagai suatu realitas sosial. Sudah dikatakan Marx bahwa didalam ideologi, manusia ‘menjadi sadar’ akan pertentangan kelas yang mereka alami dan berjuang untuk menghapuskannya.”[5] Tiga tahun kemudian Althusser bergerak lebih lanjut dalam menganalisis ideologi, dan dalam sebuah esainya yang berjudul “Ideologi dan aparat pemerintahan ideologis”,[6] ia menawarkan teori ideologi yang bersifat Marxis. Negara – yang dalam pandangan kaum Leninis diangap ikut campur dalam pertarungan para borjuis melawan kaum proletar – terdiri atas beberapa aparat ideologis (gereja, sekolah, sistem hukum, keluarga, komunikasi, partai-partai politik, dan sebagainya) serta aparat-aparat represif (polisi, penjara, tentara, dan sebagainya). Althusser berusaha menggunakan teorinya tentang ideologi untuk menutupi kesenjangan yang selalu ada dalam teori Marxis; penjelasan tentang bagaimana sebenarnya hubungan-hubungan produksi yang ada direproduksi. Ideologi adalah sebuah mekanisme yang dipakai kaum borjuis untuk mereproduksi dominasi kelasnya. Melalui ideologi, berbagai generasi terus-menerus menyesuaikan diri dengan status quo. Seperti yang dikatakan Althusser, “Dalam keadaannya yang terdistorsi, ideologi tidak mewakili hubungan-hubungan produksi yang ada (dan hubungan-hubungan lain yang diturunkan darinya), tetapi mewakili semua hubungan (imajiner) para individu pada hubungan-hubungan produksi serta semua hubungan yang diturunkan darinya.”[7]

Ideologi memberikan kerangka kerja yang di dalamnya manusia menjalani hubungannya dengan realitas sosial tempat mereka berada. Ideologi membentuk subjek-subjek dan, dalam pembentukan ini, meletakkan mereka di dalam sistem hubungan yang diperlukan agar hubungan kelas yang ada bisa bertahan. Ideologi “mencela” dan atau “memuji” para individu sebagai subjek dari sistem: ia memberinya identitas yang perlu demi berfungsinya situasi yang sedang berjalan. Dalam banyak praktek, identitas ini tersusun secara material dan konkret yaitu praktek-praktek ritual seperti berjabatan tangan dan berdoa. “Kejelasan” – yang dianggap sebagai yang sudah ada dengan sendirinya – adalah satu ciri khas dari praktek-praktek ideologis; ini jelas karena semua praktek ini tidak terpisahkan dari cara manusia menjalani aspek-aspek “eksistensi” yang spontan dan dekat dengan mereka. Bila dilihat dari pengertian ini maka tidak ada seorangpun yang tidak dipengaruhi ideologi. Tidak satupun masyarakat yang tidak memiliki tataran yang spontan dan praktis ini. Setiap orang berada di bawah pengaruh ideologi, dan setiap orang menjadi subjek praktek-praktek material ini.

Keterkenalan Althusser sebagai seorang Marxis menurun bersamaan dengan memudarnya teori Marxis pada akhir tahun 1970-an. Mungkin intervensi Althusserian ini belum pernah mendapatkan landasan operasional yang mantap, sehingga akhirnya doktrin sosial yang dikembangkannya mengalami kesulitan dalam mengguncangkan pandangan dunia abad kesembilan belas yang diilhami oleh industrialisme yang juga ikut membidani kelahiran doktrin sosial tersebut. Di pihak lain, bila “nyanyian” seorang peziarah Marxis diabaikan, dan jika disiplin ketat pada organisasi dan penyusunan tulisannya diamati dengan cermat, maka karya Althusser ini sangat pantas untuk disimak terus. Lebih lanjut, tidak bisa disangkal bahwa strategi membaca ala Althusser ini membawa kegiatan yagn sudah lazim dilakukan ini ke luar dari katagori kejelasan semu menyangkut pengalaman yang bersifat langnsung. Sekarang ini tidak banyak teoretisi yang terus maju dengan empirisisme naif yang sudah menjadi kebiasaan sebelum datangnya Althusser.

Bila kita lihat secara lebih kritis lagi, teori-teori yang dikembangkan Althusser sebenarnya berwawasan sangat sempit, karena terlalu bersandar pada pokok-pokok pemikiran Marxis. Sebagai akibatnya, meskipun pemikiran Althusser langsung terkait dengan ilmu, dan meskipun ia mengklaim bahwa Marx adalah pelopor ilmu sejarah, namun apa yang sebenarnya dimaksudkannya dengan ilmu itu hampir tidak mungkin ditentukan di luar fakta bahwa ilmu itu tidak memiliki subjek, dan ini merupakan suatu hal yang bertentangan dengan kenyataan. Selain itu, bila dalam karya Althusser tentang ideologi terdapat aspek-aspeknya yang terbaik, kaitan yang nyata antara ideologi, reproduksi, dan upaya mempertanyakannya tidak tampil dengan cukup nyata. Jika ideologi (yang menjadi hubungan langsung antara manusia dengan dunia) selalu ada, namun, di bawah cara produksi kapitalis, merupakan suatu cara agar eksploitas tetap dipertahankan, lalu bagaimana kaitan antara ideologi yang bersifat umum dan cara khas historis, bahwa invidu didudukkan sebagai subjek dalam kapitalisme? Segera kita lihat bahwa dengan semua penekanan pada temuan ilmiah Marx tentang cara produksi – temuan yang meninggalkan ideologi – maka sifat ideologi sebagai kedekatan hubungan yang semu antara manusia dan dunia menjadi diabaikan. Yang dibutuhkan tampaknya bukan hanya ilmu tentang cara produksi, melainkan juga ilmu tentang sifat ideologi. Demikian juga, meskipun pada umumnya Althusser memberikan sumbangan yang penting kepada ideologi, hal ini bertentangan dengan apa yang hendak dikatakannya sebagai seorang filsuf Marxis yang berkutat dengan masalah eksploitasi. Apa sebenarnya yang bisa dikatakan oleh seorang ahli teori ideologi Marxis tentang eksploitasi? Hampir tak satu pun, jika kita ingin mengikuti jejak Althusser, meskipun ideologi itu terkait erat dengan reproduksi sistem. Secara lambat laun mulai disasari bahwa mungkin buku terbaik yang pernah ditulis Althusser adalah autobiografinya.[8]

[1] Jean Lacroix, disebutkan oleh Didier Eribon dalam karyanya Michel Foucault, Paris, Flammarion, 1989, hlm. 183.

[2] Ibid., hlm. 189.

[3] Lihat komentar Althussser tentang Gramsci dalam Reading Capital, terjemahan Ben Brewster, London, New Left Books (dicetak dalam sampul tipis), hlm. 130; ‘Jelas bahwa Gramsci cenderung menganggap teori sejarah dan materialisme dialektis berada dalam materialisme historis saja, meskipun mereka membentuk dua disiplin yang berbeda’.

[4] Louis Althusser, For Marx, terjemahan Ben Brewster, Harmondworth, Penguin Books, 1960, hlm. 33.

[5] Ibid., hlm. 11.

[6] Terdapat dalam karya Louis Althusser, Lenin and Philosophy and Other Essays, terjemahan Ben Brewster, London, New Left Books, 1971, hlm. 121-173. (Di dalamnya terdapat esai ‘ideologi dan aparat negara ideologis’).

[7] Ibid., hlm. 155.

[8] Louis Althusser, L’Avenir due longtemps suivi de les faits, naskah yang dibuat oleh Olivier Corpet et Yann Moulier Boutang, paris, Stock/IMEC, 1992. Dalam bahasa Inggris diterbitkan sebagai The Future lasts a Long Time, terjemahan Richard Veasey, London. Chatto & Windus, 1993.

Continue Reading

Kajian

W.F. Wertheim “Persepsi Elit dan Massa Rakyat”

mm

Published

on

The potato eaters Karya Pelukis Vincent Willem van Gogh / Google

Oleh: Prof. Sediono M.P. Tjondronegoro.

Penerbitan buku W.F. Wertheim dalam bahasa Indonesia di tahun pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat R.I. dan Presiden R.I. 2009 kala itu dapat dikatakan tepat karena boleh dikatakan bangsa Indonesia memilih elite politiknya menjelang dasawarsa kedua abad ke-21.

Dengan alasan dan analisa Prof. Wertheim sebagai ahli/pakar sosiologi yang selama hidup beliau (18 Nov. 1907 – 3 Nov. 1998) mempunyai ikaktan batin erat dengan penduduk Indonesia, mudah-mudahan banyak cendekiawan Indonesia dapat juga menghayati pemikiran kaum elit tentang massa rakyat setelah merdeka 64 tahun dan berusaha mengembangkan tatanan demokrasi yang sesuai dengan budaya bangsa.

Namun sebelum pembaca menekuni analisa cerdik dalam buku ini ada baiknya mengetahui siapa sebenarnya Prof. Wertheim itu dan perhatian khusus beliau mengenai Indonesia beserta penduduknya juga sejak zaman penjajahan Belanda sampai menjadi Negara berdaulat R.I. melalui suatu Revolusi Nasional.

Karena itu prolog ini diawali dengan menyajikan biografi singkat pengarang buku sehingga lebih dapat difahami alur pikirannya.

Lahir dari seorang tua warga Belanda yang tinggal di St. Petersburg, Russia di tahun 1907 sebelum pecahnya revolusi dan terbentuknya Uni Soviet, dapat dimengerti mengapa perhatiannya juga mencakup pemikiran tentang revolusi (1917). Ini juga terbukti dari bukunya berjudul “Evolution and Revolution; The Rising Waves of Emancipation” (1974).

Tidak lama setelah revolusi 1917 di Russia dan kota kelahirannya berubah nama menjadi Leningrad keluarga Wertheim kembali ke negeri Belanda.

Pendidikan dasar dan menengah sampai di Fakultas Hukum di Universiteit Leiden diperolehnya di negeri Belanda dan mencapai gelar Doktor di tahun 1930 yang juga menjadi tahun pernikahannya.

Setahun kemudian pasangan muda ini pindah ke Hindia Belanda (1931) dimana Wertheim mulai bekerja di dinas kehakiman pemerintah Hindia Belanda.

Setelah Fakultas Hukum didirikan beliau menjadi Guru besar “Konflik Hukum” di Batavia dan itu jelas mencakup analisa Sosiologi.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945) beliau dipenjarakan di Glodok, Batavia. Sedangkan mula-mula istri dan tiga puteranya dititipkan disuatu perkebunan karet di Tjipoenegara, Kabupaten Cianjur Selatan. Akan tetapi setelah tentara Jepang menguasai daerah itu juga keluarga Wertheim dipindahkan ke penjara perempuan di Tangerang.

Setelah pendudukan Jepang berakhir segenap keluarga Wertheim dapat bersatu lagi dan dipulangkan ke negeri Belanda dimana mereka tinggal di Amsterdam.

Perhatian Prof. Wertheim karena pengalaman hidupnya semakin tertarik untuk mempelajari nasionalisme Asia dan sosialisme yang meluas sebagai reaksi terhadap kolonialisme.

W.F. Wertheim dikenal sebagai seorang ilmuwan yang telah lama bergelut dengan pedesaan, perubahan sosial dan revolusi Indonesia. Ia juga dikenal sebagai orang yang mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mengekspos rezim Suharto sebagai suatu rezim penindas yang tak berperikemanusiaan. Lewat buku “Elite Vs Massa” ini, Wertheim menguak proses bagimana elite baik yang datang dari kalngan ilmuwan, pejabat, peneliti maupun pemimpin informal di Indonesia dengan sadar atau tak sadar mengabaikan dan menyingkirkan keberadaan massa rakyat.

Karena itu Prof. Wertheim setelah kembali di negeri Belanda antara 1947-1950 mulai menulis beberapa karangan dalam majalah “De Nieuwe Stem” yang menunjukkan pengertian beliau tentang Asia yang bagaikan “Fajar Menyingsing” (Herryzend Azie) tampil sebagai kekuatan baru karena mengakhiri abad kolonalisme. Jadi bukan saja diperlukan suatu pengertian baru tentang “Timur Jauh”, tetapi akan terjadi pula pergeseran dalam struktur lapisan masyarakat di Indonesia bersama dengan kebangkitan  budaya Indonesia, mirip dengan “Renaissance” di Eropa dulu.

Pengangkatan beliau sebagai Guru Besar Sosiologi dan Sejarah Modern Indonesia di Universitas Amsterdam karena itu mudah difahami bahkan kemudian beliau berhasil mendirikan suatu lembaga penelitian dibawah nama “Sociologisch Historisch Seminarium voor Zuid Oost Azie” (Lembaga Penelitian untuk Sosiologi dan Sejarah Modern Asia Tenggara).

Sejak didirikannya lembaga tersebut banyak mahasiswa Indonesia yang diangkat dalam lembaga tersebut sebagai Assisten misalnya Drs. Soekmono Martokusumo (ekonom), Drs. The Siauw Giap (Sosiolog kemudian menjadi menantunya); Drs. Basuki Gunawan dan penulis sendiri antara 1957-1963.

Diantara assisten-assisten Belanda pun banyak yang dibimbing dan menulis disertasi mereka berdasarkan penelitian di Philipina dan India. Ini sedikit banyak akibat hubungan RI-Belanda di ranah diplomatic kurang baik karena soal Irian barat.

Tidak lama setelah kembali di negeri Belanda Prof. Wertheim sudah dihubungi oleh Sekretaris jenderal Institute of Pacific Relations (1950) yang menyarankan agar Prof. Wertheim membukukan tulisan beliau mengenai dampak peradaban barat pada masyarakat di Indonesia. Inilah yang menghasilkan buku “Indonesian Society in Transition (1956). Setelah itu diterbitkan pula “East –West Parallels; Sociological Approaches to Modern Asia” (1964).

Lebih dari itu Prof. Wertheim merangsang banyak rekan-rekannya menerbitkan tulisan mereka tentang Indonesia sehingga pasang surut pertumbuhan R.I. terekam baik dan dapat dipelajari generasi muda Indonesia.

Dalam tahun 1957 Prof. Wertheim dan Ibu kembali ke Indonesia sebagai Gurubesar tamu di Bagian Sosiologi Pedesaan, Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UI di Bogor. Sebelumya sebenarnya sudah ada Ir. H. Ten Dam lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen yang bekerja juga di Bagian Sosiologi tersebut yang dipimpin oleh Ir. Kampto Oetomo (sekarang Prof. Sajogyo).

Kehadiran Prof. Wertheim di Bogor sangat menguntungkan dua alumni Fakultas Pertanian yang sedang menyelesaikan disertasinya, yaitu Ir. Bachtiar Rifai (alm) dan Ir. Kampto Oetomo.

Akhirnya yang dapat diselesaikan dengan Prof. Wertheim sebagai promotor adalah disertasi Ir. Kampto Oetomo mengenai “Transmigrasi Spontan di Way Sekampung” dan meraih gelar Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia.

Dari Indonesia Prof. Wertheim tidak langsung pulang ke Amstedam tetapi mengunjungi Negara sosialis terbesar di dunia  waktu itu, ialah Republik Rakyat Tiongkok yang dikunjungi khusus juga daerah pedesaan RRT Selatan yang mirip dengan keadaan di Jawa. Penduduknya hidup dari pertanian dan masih banyak terdapat petani-petani berlahan sempit.

 Kunjungan selama tiga minggu dan melakukan survey di daerah tersebut meyakinkan beliau bahwa pembentukan Komuna Petani dalam rangka Reforma Agraria yang bersama menggarap tanah luas sangat meningkatkan hasil produksi per Ha dan memudahkan pemasaran produk pertanian ke kota-kota.

Penulis percaya bahwa keberhasilan Deng Xiao Ping dalam merangsang pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak 1978 tak dapat terwujud tanpa didahului oleh Reforma Agraria dibawah pimpinan Mao Tse Thung.

RRT sebagai negera terbebsar di dunia telah membuktikan bahwa perubahan social juga dapat dipelopori oleh para petani; berbeda dari teori Lenin yang berpendapat bahwa hanya buruh perkotaan/industry yang mampu meningkatkan peranan dan memperbaiki nasib lapisan masyarakat bawah.

Pada dasarnya perbedaan pandangan lapisan masyarakat atas dan bawah ini yang menjadi sorotan dalam “Persepsi Elit dan Massa Rakyat”. Sebenarnya lebih dari seperempat abad sebelum buku tersebut diterbitkan Prof. Wertheim sudah menganalisa pelapisan social Indonesia dalam “Indonesia in Transition”. Ketidak-tahuan (ignorance) lapisan atas elite mengenai lapisan mayoritas bawah.

Apakah gejala itu akibat dari masyarakat yang feodal atau semi-feodal sehingga kaum ningrat dan ketua adat buta mengenai massa “wong cilik” tidak jelas.

Tetapi sampai Republik Indonesia sudah berusia lebih dari 30 tahun elite di Jakarta belum terlalu memperhatikan lapisan bawah. Ini yang dalam ilmu Sosiologi disebut “Sosiologi keetidaktahuan” (Ignorant Sociology).

Analisa sosiologi yang tajam dan sangat menarik yang dilakukan dengan mengacu kepada teori-teori ilmuwan negara-negara Barat – dari K. Marx sampai G. Myrdal – sampailah penulis buku pada masalah Kesadaran Palsu para Sosiolog Indoensia (Bab II).

Dalam  bab I sudah diejalskan bagaimana lapisan elit mempunyai “False Consciousness” (kesadaran palsu) yang merupakan konsep dari teori K. Marx pada awalnya dan kemudian dikembangkan ketika sosiologi pengetahuan – yang memang mulai tumbuh di Jerman – merupakan ilmu kritis terhadap masyarakat borjuis yang tidak bersifat minta maaf (apologetic). Pemikiran borjuis memang mendukung tatanan dominasi yang dilestarikan sehingga status quo antar lapisan social juga tetap bertahan.

Gejala ini di Indonesia agaknya juga dicermati oleh ekonom Australia Dr. David Penny dan Ir. Pertanian H. Ten Dam dalam masing-masing studi mereka di Yogya dan Priangan.

Disertasi alm Prof. Selo Soemardjan tentang perubahan di Yogyakarta sebaliknya terkesan kurang memperhatikan kehidupan dan peran massa atau lapisan bawah.

Sejarah panjang sejak adanya “Negara bangsa” (nation state) memang menunjukkan bahwa terjadi lapisan social dalam perebutan tampuk pimpinan melalui revolusi, akan tetapi tidak sekaligus menghilangkan “Kesadaran Palsu”. Statusquo antara elite dan massa paling tidak tetap menjadi tugas para Sosiolog Indonesia untuk menghindari bahkan memerangi “Sosiolog Ketidaktahuan”. Lebih baik lagi bila para cendekiawan Indonesia pada umumnya juga menyadari hal tersebut dan bertindak sesuai tantangan.

Dengan berbagai perubahan sosial dan kemajuan di negara-negara baru Asia timbul pula tantangan baru. Dan sebagai pernah diulas oleh ahli Sosiologi Max Weber – mirip dengan perubahan sosial di Eropa abad ke 18 – perlu ditumbuhkan sikap dan pandangan hidup nasional mutakhir, suatu lapisan sosial baru, ialah warga perkotaan akan muncul dan berperan penting. Singkatnya perlu adanya pertumbuhan masyarakat yang lebih demokratis yang menggantikan pelapisan feodal.

Mudah-mudahan buku ini akan beredar luas dan dibaca para cendekiawan yang memasuki kancah politik dalam mengembangkan demokrasi yang artinya “pemerintahan rakyat” (demos dan cratein). Rakyat pun suatu pengertian yang  mencakup semua lapisan dalam masyarakat, tetapi dalam kebijaksanaan pemerintah perlu ditegaskan lapisan mana yang kesejahteraannya perlu ditingkatkan lebih dulu.

Di daerah pedesaan saja sudah ada perbedaan antara petani kaya yang bertanah, petani kecil dan buruh tani atau tunakisma (landless) yang sama sekali tidak memiliki tanah dan hanya dapat menjual tenaga mereka. Tiga lapisan terakhir itulah yang nasib hidupnya perlu diperbaiki apabila demokrasi dengan pemerataan akan diwujudkan.

Sejak zaman Aristoteles, ahli filsafat Yunani (384 SM) dikenal tiga kekuasaan dalam masyarakat Polis (city state) ialah: Monarchie, Aristocratie dan masyarakat. Di abad ke-18 sejak Revolusi Perancis (1789) dikenal Monarchie, Aristocratie dan Bourgeois (kelas ketiga yang kemudian setelah K. Marx dikenal sebagai kelas pedagang kapitalis). Sejak 1948 dikenal lapisan petani dan buruh yang merasa ditinggalkan kaum borjuis mulai menuntut haknya.

Demikianlah dalam perkembangan sejarah di abad ke-20 juga dibenua Asia terjadi revolusi yang kecuali menggusur kolonialisme juga menumbuhkan pelapisan social baru. Pesan jelas Prof. Wertheim melalui buku ini agar bukan saja para sosiolog tetapi juga para cendekiawan yang berperan di ranah politik praktis memerangi “Sosiologi Ketidaktahuan”. Elite, kecuali membuka mata untuk kebutuhan massa, penuhilah hak hidup dan perkembangan mereka. (*)

Bogor, 20 Mei 2009.

Prof. Dr. Sediono M.P Tjondronegoro, adalah Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB, dimatangkan melalui berbagai perjuangan, mulai dari pertempuran fisik bersenjata, bergerak di “bawah tanah”, studi di luar negeri, bertahan hidup di negeri orang, berdiplomasi, berdemonstrasi, sampai dengan perjuangan keilmuan seperti mengajar, meneliti, merumuskan kebijakan dan mendampingi masyarakat. Agaknya tepat menyebut sosok ini sebagai intelektual organik, yakni mereka yang menggulatkan diri pada problem-problem kerakyatan. Buku-Buku yang ditulisnya di antaranya adalah: Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa (Bersama Gunawan Wiradi). osiologi Agraria: Kumpulan Tulisan Terpilih. Politik dan Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian. Social Organization And Planned Development In Rural Java: A Study Of The Organizational Phenomenon In Kecamatan Cibadak, West Java, And Kecamatan Kendal, Central Java dan banyak artikel di media massa lainnya.

SUMBER ACUAN:

W.F. WERTHEIM (1984)

In Gesprek met Mijzelf (Dialog antara Ego dan Alterego)

Amsterdam, N.V. Querido.

W.F. WERTHEIM (1950)

            Herryzend Azie; Opstellen over de Oosterse Samenleving Arnhem,

Van Loghum Slaterus N.V.

W.F. WERTHEIM (1957)

            Indonesian Society in Transition; A Study of Social Change.

The Hague & Bandung, W. van Hoeve Ltd.

W.F. WERTHEIM (1974)

Evolution and Revolutin; The Rising Waves of Emancipation

……………………………..

W.F. WERTHEIM (t.t)

            “Landwirtschft in China – Zehn verlorene Jahre?”

Amsterdam (karangan)

W.F. WERTHEIM (1984)

Elite Perception and the Masses; The Indonesian Case.

Amsterdam, Anthropology  Sociology Centre.

W.F. WERTHEIM (1997)

Third World Whence and Whither?; Protective State versus Aggressive market.

Amsterdam, Het Spinhuis.

Continue Reading

Editor's Choice

Thomas Paine, Common Sense dan Puntung-Berapi Amerika

mm

Published

on

Tidak ada sesiapa yang cukup waras pikirannya yang akan mau meramalkan masa depan yang gemilang bagi Thomas Paine, tatkala ia sampai dalam usia tigapuluh tujuh tahun ke Amerika. Seluruh kehidupannya sampai saat ini semata-mata terdiri dari rentetan kekandasan dan kekecewaan. Apa saja usaha yang pernah ia jamah berakhir dengan menyedihkan.

Siapa yang mengira, bahwa dalam waktu beberapa tahun imigran yang baru saja datang ke Dunia Baru ini akan muncul sebagai salah seeorang penulis pamflet terbesar dalam bahasa Inggris, salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah Amerika, seorang agitator politik dan revolusioner yang namanya dikenal, ditakuti, dibenci atau dielu-elukan dan disanjung-sanjung diseluruh koloni Amerika-Inggris. Britania Raya dan Eropa Barat? Seolah-olah perjalanan laut yang ia lakukan belum lama sebelum itu telah menyebabkan suatu metamorfosis yang hebat dalam kepribadian dan wataknya; ia berobah hampir dalam waktu sekejap mata dari seorang biasa menjadi seorang cendekia yang gemilang.

Common Sense (Pikiran Sehat)

Tapi jika kita selidiki masa mudanya maka jelaslah bahwa tahun-tahun dari kehidupannya yang lampau bukanlah masa yang hilang, malahan masa ini adalah semacam masa persiapan untuk hidupnya yang baru. Ia dilahirkan di Thetford, distrik Norfolk, disebelah timur Inggris, dalam bulan Januari tanggal duapuluh sembilan, tahun 1737, sebagai anak laki-laki seorang ayah penganut mazhab Quaker dan ibu penganut Gereja Anglikan. Semenjak kecil ia telah mengalami kemelaratan yang teramat sangat, kekurangan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina. Sampai usia tigabelas tahun, ia belajar disekolah rakyat, dimana ia, menurut ucapannya sendiri telah beroleh “pendidikan akhlak yang sangat baik dan diberi sejemput pengetahuan yang berguna.” Nalurainya untuk ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru – untuk kepentingan praktis sebagai kebalikan dari kepentingan teritis – sudah kelihatan pada waktu itu. Naluri ini kelak akan tetap subur dalam seluruh kehidupannya yang sibuk itu.

Sehabis pendidikan formil yang singkat ini Paine mempelajari pekerjaan ayahnya – pekerjaan seorang pembuat korset. Pkerjaan ini ia jalankan selama tiga tahun. Kemudian kegiuran laut dan keisengang disebabkan pekerjaan yang membosankan ini menyebabkan ia lari dari rumah dan mencatatkan diri diatas kapal bajak Terrible, yang dipimpin oleh seroang nachoda yang mempunyai nama yang dahsyat, yaitu Death (Maut). Setelah dibawa puang kembali oleh ayahnya, ia melanjutkan pekerjaan membuat korset sampai ia berumur sembilanbelas tahun. Sesudah itu selama masa singkat ia mengesampingkan pekerjaan itu kembali, kalu berlayar sebagai lanun di kapal King of Prusia. Sesudah itu sembuhlah ia dari pengertiannya yang romantis tentang kehidupan pelaut, dan sekali lagi ia memulai pertukangannya kembali, tapi tidak lagi di Thetford, melainkan di London. Disana ia bekerja diekdai seorang pembuat korset dekat Ddrury Lane. Sedangkan waktu senggangnya ia pergunakan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran dalam ilmu falak.

Masa selanjutnya adalah masa yang penuh kesulitan dan pengelanaan tak tahu tujuan. Di Sandwich ia kawain dengan seorang gadis pelayan piatu. Gadis ini kemudian meninggal dalam masa setahun sesudah perkawinan itu. Ayahnya adalah seorang pegawai pabean. Karena pekerjaan dapat memberikan kepadanya waktu-waktu senggang yang ingin ia pergunakan untuk keperluan-keperluan lain, lalu Paine merasa tertarik. Paine diangkat sebagai seorang pejabat pabean. Jabatan ini adalah jabatan yang pelaing tepat sekali jika kita ingin menjauhkan kawan dan membuat orang menghindarkan diri. Sebab pekerjaan Paine ini, ialah pekerjaan mengangkap saudagar gelap, sehingga orang baik yagn kaya maupun yang miskin menjadi tak senang kepadanya. Disebabkan ketidak-telitian dalam menjalankan peraturan, maka ia dipecat dari jabatannya. Paine kembali megnerjakan pekerjaan membuat korset selama waktu singkat. Kemudian ia hidup melarat sebagai seorang guru yang bergaji f25/ setahun di Kensington.  Setelah kemudian ia dipulihkan kembali dalam jabatan pabena, ia kawin untuk kedua kalinyad alam tahun 1771 lalu menyertai istri dan mertuanya menjalankan sebuahtoko tembakau dan rempah-rempah, sebagai cara untuk menambah pendapatannya.

Selama tahun-tahun yang akhir ini, Paine sering sekali mengunjungi White Heart Tavern, tempat pertemuan sebuah perkumpulan sosial yang ia masuki sebagai anggota. Untuk kepentingan pendidikan anggota-anggota perkumpulan ini ia menulis sajak-sajak lucu dan lagu-lagu patriotik, disamping sekaling-sekali menulis karangan-karangan mengenai persoalan-persoalan yang lebih dalam sering kali ia terlibat dalam perdebatan menyebabkan kawan-kawan sejawatnya dijabatan pabean memilih dia sebagai juru-bicara mereka dalam suatu permintaan kenaikan gaji dan perbaikan keadaan pekerjaan. Selama berminggu-minggu Paine asyik menyiapkan sebuah karangan yang berkepala “masalah gaji pejabat-pejabat pabean dan pendapat-pendapat mengenai korupsi yang disebabkan oleh kemiskinan pejabat-pejabat pabean”. Dalam musim dingin tahun 1772-1773, ia pergi ke Londong untuk mengajukan permintaan itu kepada anggota parlemen dan pejabat-pejabat lain.

Tapi bukan saja petisi yang ia majukan atas nama pejabat-pejabat cukai itu ditolak, malahan ia diperhentikan akrena menyia-nyiakan pekerjaan. Kedai tembakaunya jatuh rugi, perabot rumah tanggan dan ahrta bendanya yang lain terpaksa dijual untuk menghindarkan dia dari hukuman penjara yang telah disap-siapkan oleh mereka yang berpiutang padanya; dan ia berpisah dari isterinya. Begitulah, tatkala umurnya sudah hampir separuh baya, ia tinggal seorang diri dengan tak ada uang sepeserpun juga.

Untunglah, waktu ia pergi ke London, Paine bertemu dengan Benjamin Franklin yang lagi berada disana sebagai komisaris daerah jajahan, dan Franklin, barangkali karena ia lihat, bahwa paine adalah seseorang yang berotak cerdas, menganjurkan kepada Paine untuk mencoba nasib di Amerika. Sepucuk surat pengantar dari Franklin yang dialamatkan kepada menantunya, Ricahrd Bache di Philadelphia melukiskan Paine “sebagai seorang anak muda yang patut dan cendekia”, dan ia menganjurkan supaya Paine dijadikan kerani, seorang guru bantu disekolah atau seorang pembantu pengawas. Surat ini adalah bekal Paine satu-satunya waktu it mendarat di Philadelphia dipermulaan bulan Desember tahun 1774.

Tapi, dalam dirinya Paine juga membawa bekal yang lain bentuknya dan yang tak ternilai harganya – dasar yang diiperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dimasa lampau. Ia telah melihat cara-cara yang lancang dan primitif yang dipergunakan orang dalam menjalankan keadilan di Inggris; ia telah mengenal kemelaratan yagn pahit; ia telah melihagt jurang yang lebar yagn memisahkan rakyat jelata yang jutaan jumlahnya dari segolongan kecil anggota keluarga raja dan kaum bangsawan di Inggris; dan ia tahu skema yang busuk yang dipergunakan kotapraja dalam pemilihan naggota-anggota House of Commons dan ia tahu kedunguan dan korupsi-korupsi yang dijalankan oleh keluarga-keluarga raja. Setelah merenungkan hal-hal ini sedalam-dalamnya, lalu Paine dirasuki oleh suatu semangat yang bergelora bagi peri-kemanusiaan, cinta yang besar pada demokrasi, dan suatu kemauan berjuang untuk mengadakan perobahan secara universil dalam soal kemasyarakatan dan politik.

Segera setelah ia sampai ke Philadelphia, Paine lalu dipekerja karier Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima yang baru diterbitkan. Disana Paine bekerja hampir selama delapanbelas bulan, yaitu seumur dengan majalah itu. Dengan menyiarkan sebuah essay yang mengutuk perbudakan bangsa Negro dan pembelaan yang gigih bagi kemajuan, maka mulailah karir Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima minggu kemudian maka di Philadelphia didirikanlah perhimpunan Amerika yang pertama untuk memberantas perbudakan. Kemudian Paine menulis karangan-karangan yang membela kesamaan hak bagi kaum wanita, usul-usul mengenai hukum hak cipta internasional, pengutukan pengajiayaan hewan, cemooh atas adat-kebiasaan untuk berperang-tanding dan usul untuk menolak  peperangan dan menegakkan perundingan antara bangsa-bangsa.

            Tepat pada saat ia menulis, sebuah peperangan internasional dalam mana Paine kelaknya akan memainkan peranan penting sedang tumbuh dengan cepat. Dalam musim semi tahun 1775 terjadilah pertempuran-pertempuran Concord. Lexington van Bunder Hill. Setelah terjadi “pembegelan di Lexington” dalam bulan April, Paine menulis keapda Benjamin Franklin. “Tidaklah enak rasanya mengalami negeri ini terbakar sejadi-jadinya tepat pada saat aku memasukinya”.

Dalam mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan sengeketa ini, pendirian-pendirian di daerah koloni ini sangat terpecah-pecah. Waktu itu dikeluarkan pendapat-pendapat yang extrim seperti oleh Samuel Adams dan John Hancock yang menyetujui perperangan dan pendapat-pendapat yang menghendaki kesetiaan kepada raja seperti yang didukung oleh kaum Tory, George Washingotn, Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson tergolong kepada pemimpin-pemimpin yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Inggris dan yang memandang pikiran-pikiran mengenai pemsiahan dan kemerdekaan dengan penuh curiga. Baik Kongres Kontinental yang pertama maupun yang kedua telah mengesahkan resolusi yang menegaskan hubungan tetap dengan mahkota Inggris, dengan hanya mengemukakan sedikit petisi mengenai permintaan bagi penyelesaian yang menyenangkan bagi rasa-rasa tidak-puas yang terdapat para penduduk koloni-koloni ini.

Ditengah-tengah pemikiran yang kacau-balau ini, diantara pendapat dan dorongan yang paling bertentangan,d itengah renggutan dan tarikan, seorang laki-laki telah dapat melihat dengan jernih arah dari jalannya kejadian dan akibat-akibat yang mungkin timbul dari padanya. Sejak semula. Thomas Paine beranggapan, bahwa pemisahan dengan Inggris adalah hal yang tak dapat dielakkan. Dan selama musim gugur tahun 1775 ia bekerja menuliskan buah-pikirannya. Sebelum hasil-kerja ini diterbitkan, maka terlebih dulu ia diperlihatkan oleh Paine kepada beberapa orang kawan, diantaranya Dr Benjamin rush yang mengusulkan supaya buku itu diberi nama Pikiran Sehat (Common Sense). Rush menolong Paine mencari seorang penerbit, Robert Bell, seorang pedagang buku dan pencetak berbangsa Scot di Philadelphia.

Pikiran Sehat, sebuah pamflet setelah 47 halaman yang “dituliss oleh seorang Inggris” telah diterbitkan pada tanggal 10 Januari 1776 dengan seharga dua shilling. Dalam waktu tiga bulan saja sudah terjual habis 120.000 jilid. Pengiriman penjualan seluruhnyayang mendekati jumlah setengah juta, adalah suatu jumlah yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada masa itu, sama bersarnya dengan penjualan sejumlah tigapuluh juta di Amerika Serikat masa sekarang. Pendeknya bolehlah dianggap bahwa setiap orang yang pandai membaca diketigabelas koloni itu telah membaca buku ini. Biarpun penjualan begitu luar-biasa besarnya, Paine tidak bersedia untuk menerima uang honorarium biar sesenpun juga.

Beberapa Sampul buku dari karya penting Thomas Paine

Tidak ada buku dalam sejarah kesusasteraan yang mempunyai pengaruh begitu cepat seperti buku Pikiran Sehat. Buku ini adalah seperti serunai sangkakala yang memanggil kolonis-kolonis Amerika untuk bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka – tanpa kompromi dan tiada sangsi-sangsi. Paine telah menjelaskan kepada mereka, bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persengketaan mereka dengan Inggris dan raja George III. “karena tidak ada cara lain yang mencapai tujuan kecuali ledakan-ledakan,” demikian Paine menjelaskan, “maka oleh sebab itu demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian-perjanjian itu – sekiranya hanya itu yang mau kita perjuangkan … alangkah dungunya k ita, jika kita memandang kejadian di Bunker Hill sebagai pembayaran untuk kepentingan hukum atau tanah …. Hal ini bukanlah masalah satu kota, satu daerah, satu propinsi ataupun satu kerajaan, tapi masalah ini adalah amsalah satu benua …. Hal ini bukan soal hari sehari, atau setahun ataupun sejaman, tapi keturunan kita terlibat dalam perjuangan ini …. Sekarang inilah waktunya untuk menabur benih bagi kesatuan sebenua, kesetiaan dan kehormatan …. Emban Benua telah ditarik terlalu longgar …. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mengikat dan mempersatukan kita.”

Sebuah bait yang agak lembut dan merapuhkan hati mengantarkan kita kedalam Pikiran Sehat:

Barangkali, gelora perasaan yang tertulis dihalaman-halaman buku ini belum lagi cukup luas dianut orang sehingga ia dapat memperoleh dukungan umum; suatu kebiasaan yang terlalu lama ada, yang tidak mau mengingat bahwa sesuatu adalah salah telah menimbulkan suatau gambaran dangkal yang memperlihatkan, bahwa sesuatu itu adalah benar adanya. Dan ia pertama-tama akan mengakibatkan suatu teriakan yang hendak mempertahankan kebiasaan. Tapi keramaian akan sergera surut. Waktu ternyata lebih banyak menyebabkan perubahan dari pada pikiran.

Bagian pertama pamflet ini membicarakan masalah asal dan sifat pemerintahan dengan Undang-undang Dasar Inggris sebagai contoh utama. Filsafat pemerintahan paine terkandung dalam kalimat-kalimat seperti berikut:

Pemerintahan, biarpun dalam keadaan yang sebaik-baiknya, sebetulnya adalah sebuah cacat yang keperluannya tak dapat dihindarkan. Dan dalam keadaannya yang paling buruk ia adalah sesuatu yang tak boleh dibiarkan … pemerintah seperti halnya dengan pakaian adalah sautu kesucian yang telah hilang. Istana raja-raja didirikan atas puing lindungan-lindungan surga … Makin sempurna peradaban, makin kurang perlunya pemerintahan.

Asal dan berkembangnya pemerintahan, demikian Paine mencoba meyakinkan pembacanya, “menjadi amat perlu, karena ketinggian moral tidak berkesanggupan untuk memerintah dunia ini; dalam hal inipun juga pola dan tujuan pemerintahan adalah: kebebasan dan keamanan”.

Ia memperlihatkan suatu perbedaan yang jelas antara masyarakat dan pemerintah. Manusia tertarik pada masyarakat, karena berkat bantuan kerjassama yang terjadi dalam masyarakat berbagai kebutuhan tertentu dapat dipenuhi. Dalam keadaan seperti ini manusia memiliki sejumlah hak-hak azasi, seperti kebebasan dan persamaan. Semestinya, manusia harus sanggup hidup dalam damai dan bahagia tanpa pemerintah, sekiranya “dorongan-dorongan hati sanubari manusia” adalah “bersih, serba serupa dan ditaati dengan tiada engkarnya”. Tapi karena manusia menurut sifatnya lemah dan karena dalam soal akhlak ia tidak sempurna, maka diperlukanlah daya-daya untuk mengendalikan. Dan daya-daya ini diberikan oleh pemerintah. Tapi, lebih lagi dari pada dari pemerintah, dan kesenangan rakyat. Adat-istiadat dan kebiasaan sosial, hubungan bersama dan kepentingan bersama manusia, umumnya lebih lagi berpengaruh dari pada lembaga-lembaga politik.

Paine kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan “menyajikan beberapa ulasan mengenai undang-undang dasar Inggris yang begitu dibanggakan orang”. Ia mengulas, “Bahwa undang-undang dasar ini adalah sangat agung jika dibandingkan dengan jaman gelap dan perbudakan, tatkala m ana ia dirumuskan, adalah sesuatu yang harus diakui. Waktu dunia dilanda oleh kelaliman, maka dari apdanya setidak-tidaknya telahd apat dipetik penyelamatan yang gemilang. Tapi bahwa ia tidak sempurna, mudah goncang dan tak sanggup memberikan apa yang elah ia janjikan, mudah sekali dibuktikan.” Apa yang ia anggap syarat ajasi bagi satu pemerintahan, yaitu tanggung jawab, menurut hematnya tidak ada sama s ekali dalam undang-undang dasar Inggris. Ia begitu ruwet sehingga mustahil untuk menentukan siapa yang harus bertanggung-jawab mengenai sesuatu. Satu-satunya bagian dari undang-undang ini yang ia puji, ialah bagian dimana undang-undang ini setidak-tidaknya secara teoritis, mengakui hak rakyat untuk memilih anggota House of Commons. Paine mengusulkan satu majelis legislatif tunggal yang anggotanya dipilih secara demokratis untuk pelbagai koloni, seorang presiden, kabunet, dengan cabang-cabang eksekutif yang bertanggung-jawab pada kongres.

Tapi kata-kata yang paling tajam dan hinaan yang paling pahit telah diberikan oleh Paine untuk bentuk kerajaan yang turun-temurun. Ia serang seluruh prinsip monarchi, terutama sebagaimana yang terdapat di Inggris.

Pemerintahan raja pertama-tama diperkenalkan kepada dunia oleh bangsa-bangsa biadab. Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh kturunan-keturunan Israel. Inilah suatu pendapatan yang paling subur yang pernah ditanamkan oleh iblis untuk menganjurkan pemujaan. Bangsa-bangsa biadab mempersatukan hormat dan puja mereka kepada raja-raja mereka yang sudah mangkat. Dunia Nasrani kemudian memajukan kebiasaan ini dengan melakukan perbuatan yang serupa terhadap raja-raja mereka yang masih hdiup …. Kemudian disamping keburukan sistim kerajaan ditambahkan orang pula keburukan dari hak turun-temurun. Jika yang pertama dapat dianggap sebagai penurunan-martabat dan perendahan bagi diri kita sendiri, maka yang kedua yang dinyatakan sebagai saoal hak,dapat dianggap sebagai penghidupan dan beban yang berat bagi keturunan kita …. Bukti yang wajar dari kegilaan hak turun-temurun itu, ialah perbuatan alam sendiri yang menunjukkan tidak setujunya jika sekiranya ia setuju, maka ia tidak akan begitu sering menjadikan hak ini menjadi sebuah olok-olok dengan memberikan kepada manusia. Keledai yang belagak Singa.

Menurut pandangan Paine, sahnya keturunan raja Inggris sebegitu jauh sampai kesemenjak jaman Penaklukkan, adalah kebenaran yang dapat disangsikan. Seperti ia katakan, “Seorang belasteran Perancis mendarat dengan sekumpulan garong bersenjata dan menobatkan dirinya sendiri menjadi raja Inggris, tanpa kehendak atau persetujuan rakyat pribumi sendiri; jika diukur dengan kata-kata biasa, maka asal-usul yang rendah dan jahat. – Tak pelak lagi, yang seperti ini tidak mungkin menaruh sifat kedewaan dalam dirinya”. Sekiranya monarchi dapat menjamin suatu pengumpulan dari contoh-contoh manusia yang baik dan cendekia, maka tidaklah ia menimbulkan keberatan benar. “Tetapi ia membuka pintu bagi kaum yang gila, licik dan tak cakap ….. Manusia yang memandang dirinya sendiri sebagai makhluk yang sengaja dilahirkan untuk memerintah, sedangkan manusia lain hanya untuk mematuhi perintah. Golongan ini dengan segera akan menjadi golongan yang tak tahu malu. Dan sebagai mahluk pilihan dan kemanusiaan seanteronya jiwa mereka mudah sekali diracuni oleh rasa diri penting …. dan tatkala maereka memasuki pemerintahan maka golongan pemerintah ini menjadi golongan orang-orang paling bodoh dan paling tidak cakap diseluruh dominion.” Dengan mengijinkan raja-raja yang masih dibawah umur atau terlalu tua menduduki singgasana, orang juga akan beroleh rentetan keburukan; disatu pihak pemerintahan langsung atas negara akan berada dalam tangan wali raja, sedangkan dipihak l ain negara akan tergantung dari tingkah seorang raja yang telah lusuh dan tua-bangka.

Sebagai sanggahan terhadap mereka yang berpendirian, bahwa pemerintahan turun-temurun dapat menghindarkan perang-saudara. Paine mengemukakan, bahwa semenjak jaman Penaklukan Inggris telah mengalami “tidak kurang dari delapan kali peperangan-saudara dan sembilanbelas kali pemberontakan”. Keseimpulannya ialah:

Di Inggris kerja seorang raja hanya mengumumkan perang dan menghadiahkan istana. Dengan kata-kata biasa, ini berarti membuat negara jadi miskin dan menimbulkan rasa pecah-belah dalam tubuh negara itu sendiri. Memang enak rasanya diberi uang sebanyak delapan ratus ribu sterling setahun dan disamping itu disembah lagi. Tapi dalam mata Tuhan, seseorang yang jujur terhadap masyarakat, jauh lebih mulia adanya, dari semua perampok-perampok yang berhiaskan mahkota yang pernah hidup diatas dunia ini.

Paine telah menunjukkan hormatnya kepada George III dalam berbagai bagian dari bukunya. Tetapi setelah penyembelihan di Lexington terjadi, Paine menulis, “Aku menolak Firaun Inggeris yang keras dan sempit hari ini untuk selama-lamanya; dan kutuk laknat ini, yang telah beroleh sebutan “Bapak Rakyat”, tapi yang telah mendengarkan penyembelihan rakyat dengan tiada terharu sedikitpun, dan yang tetap bisa tidur pula biarpun darah rakyat melumuri ruhnya.” Dalam bait yang ia tulis kemudian ia tambahkan; “Tapi dimana, demikian seseorang bertanya, raja Amerika bertahta? Dengarkanlah kawan, ia bertahta diatas, dan ia tidak merusakkan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan adikara bermahkota seperti yang terdapat di Inggris itu.

Setelah ia meruntuhkan pednapat-pendapat mengenai pemerintahan monarchi yang kebenarannnya diakui orang, lalu Paine melanjutkan pembicaraannya dengan mengemukakan “Beberapa pikiran tentang duduk persoalan Amerika sekarang ini”. Dibagian ini ia menitik beratkan pada alasan-alasan ekonomi dari pemisahan dengan Inggris. Sebagai sanggahan terhadap rasa-puas yang terdapat pada kaum Tory, yang berpendirian, bahwa Amerika maju berkat hubungannya dengan Inggris, Paine mengatakan:

Amerika akan sama kembangnya, bahkan mungkin lebih kembang lagi sekiranya tak ada suatu kekuasaan Eropa yang ikut mencampuri urusannya. Barang dagangan yang gtelah membuat ia kaya, adalah barang-barang yang diperlukan buat hidup dan selalu akanb eroleh pasaran, karena bersantap adalah salah satu istiadat Eropa …… Gandum kita akan diharagai disetiap pasar Eropa, sedangkan barang impor-impor dapat kita bayar dan kita beli dimana saja kita  mau.

Kenyataan, bahwa Britania telah memberikan perlindungan bagi koloni-koloni ini terhadap Spanyol, perancis dan bangsa Indian, diremehkan olehh Paine dengan komentar, bahwa, “Ia akan membela Turki dengan alasan-alasan yang sama, yaitu kepentingan dagang dan dominion”, dan lagi pula ongkos pertahanan ini “bukan mereka saja yang membayar, tapi ketapun ikut juga”.

Salah satu ikatan terkuat yang menyebabkan koloni-koloni ini enggan memisahkan diri, menurut Paine, ialah adanya suatu rasa sentimentil yang memandang negeri Inggris sebagai negeri ibu. Jika ini benar, “Maka Inggris sebetulnya harus merasa lebih malu lagi karena tingkah-laku yang telah ia perbuat. Karena, bahkan hewan tidak akan suka memakan anak-anaknya sedangkan orang biadab tidak pernah berperang dengan keluarganya sendiri ….. Sebutan Orang Tua atau ibu telah dipergunakan dengan cara Jezuitis oleh raja-raja dan parasit yang berada sekelilingnya dalam rangka semacam “bapak-isme” yang rendah untuk memperoleh suatu keuntungan yang tidak pada tempatnya atas jiwa mudah-percaya kita yang lemah. Eropalah, dan bukan Inggris yang boleh disebut negeri ibu Amerika”. Dunia Baru ini, demikian ia nyatakan, telah menjadi “pelindungan bagi pencinta-pencita kemerdekaan agama dan sipil yang telah diburu-buru, dari setiap pelosok Eropa … Tidak sampai sepertiga dari seluruh jumlah penduduk, bahkan dari propinsi inipun tidak, yang berasal dari keturunan Inggris. Karena itu saja tolak pendirian yang menganggap negeri Inggris sebagai negeri ibu atau negeri leluhur, sebagai suatu pendirian yang salah, sempit, egoistis dan jauh dari pada mulia”.

Ia tekah mendahului suatu peringatan yang kemudian akan diucapkan oleh George Washington dan yang berbunyi “membersihkan diri dari persekutuan-persekutuan abadi dengan bagian yang manapun juga dari dunia luar”, dan ucapan Thomas Jefferson “Berdamai, berdagang dan bersahabat dengan jujur dengan setiap negera – tidak mengikatkan diri dalam suatu persekutuan dengan negara yang manapun juga”, dengan menggambarkan bagaimana besarnya kerugian yang akan dialami jika hubungan dengan Inggris tetap dilanjutkan.

….. karena, setiap kepatuhan atau perserikatan dengan Britania Raya, akan menyebabkan terseretnya benua ini dengan langsung kedalam peperangan dan percekcokan Eropa; kita akan diadu dengan negara-negara yang sebenarnya mencari persahabatan kita dan terhadap siapa kita tidak pernah menaruk dendam ataupun keberatan-keberatan. Karena pasaran bagi perdagangan kita terdapat di Eropah, maka kita tidak boleh mengadakan hubungan sama-sepihak dengan salah satu dari bagian-bagiannya. Buah Amerika adalah penting sekali untuk menjauhkan diri dari pada sengketa-sengketa Eropa. Tapi sikap ini tidak akan dapat dilaksakan oleh Amerika, berhubung dengan ikatannya dengan Inggris, dalam ikatan mana ia menjadi batu-pemberat dalam timbangan politik Britania. Eropa begitu rapat ditumbuhi kerajaan-kerajaan sehingga tidaklah mungkin untuk mempertahankan perdamaian disana dalam jangka waktu yang lama. Dan setiap kali pecah peran antara Inggris dan suatu negara asing, maka perdagangan Amerika akan ikut hancur, semata-mata karena Amerika mempunyai ikatan dengan Inggris.

Bermacam-macam kenyataan yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh pemerintah Inggris, kemudian dipaparkan oleh Paine. Dan ia menyimpulkan, bahwa:

Inggris tidaklah mampu untuk memperlakukan benua ini dengan adil; pekerjaan segera akan menjadi begitu berat dan ruwet sehingga ia tidak akan dapat diselesaikan dengan memberikan kepuasan yang layak, oleh sesuatu negara yang jauh letaknya dari kita dan yang tidak mengerti sama sekali hal ikhwal kita. Telah ternyata, bahwa mereka tidak kuasa untuk menaklukkan kita, dan karena itu mereka juga tidak akan kuasa untuk memerintah kita. Kebiasaan untuk pergi pulang-balik sejauh tiga atau empat ribu  mil dengan sebuah lapuran atau petisi, k emudian menunggu jawaban selama tiga atau empat bulan dan kemudian ditambah lagi waktu lima atau enam bulan untuk memberikan penjelasan, tidak berapa lagi akan kita sadari sebagai suatu kebiasaan yang gila dan kekanak-kanakan …………. Suatu pendirian yang beranggapan, bahwa sebuah benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya adalah sebuah pendirian yang edan. Belum lagi pernah terjadi alam membuat satelit lebih besar dari planet ibunya.

Untuk mereka yang bimbang dan berhati lemah yang masih percaya pada kemungkinan perseuaian dan rujuk, Paine mengajukan suatu sanggahan yang bersemangat:

Dapatkah tuan-tuan menegakkan kembali jaman yang telah lalu? Sanggupkah tuan-tuan memberikan kepada seorang perempuan lacur kemurnian kedaraannya kembali? Demikianlah juga, tuan-tuan tidak akan dapat mempersatukan Inggris dan Amerika kembali. Tambatan terakhir telah putus, rakyat Inggris telah mengeluarkan ucapan-ucapan yang menentang kita. Banyak cedera-cedera yang tan gmungkin dimaafkan alam, karena alam sendiri akan berhenti jadi alam, jika cedera itu ia maafkan. Seperti seorang kasmaran tak akand apat memaafkan perkosaan atas kekasihnya, begitu juga sebuah benua tidak mungkin memaafkan pembegal-pembegal dari Britania.

Sedang seantero dunia diinjak-injak olehpenindasan-penindasan, Amerika harus membuka pintunya seluas-luasnya bagi kemerdekaan dan mempersiapkan tempat menyelamatkan diri bagi kemanusiaan yang diburu-buru.

Paine mengisi bab penutupnya dengan beberapa pandangan praktis tentang “kesanggupan Amerika  hari ini”, dimaksudkan sebagai pengukuh kepercayaan terhadap diri sendiri orang Amerika dan untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka mempunyai cukup tenaga manusia, pengalaman-pengalaman berusaha dan sumber-sumber alam, tidak saja cukup untuk memenangnkan suatu peperangan dengan Inggris,  tapi, jika perlu, bahkan untuk mengalahkan dunia yang bersikap bermusuhan. Koloni-koloni ini memiliki sejumlah besar perajurit-perajurit bersenjata dan berdisiplin baik. Sebuah armada yang dapat ditandingkan denan armada Inggris dapat dibangunkan dalam waktu singkat, karean ter-papan, besi dan tali-temali tersedia dengan cukup, sedangkan “Pembangunan kapal adalah kebangaan Amerika terbesar dan dalam usaha ini ia akan lebih majud ari seluruh dunia”. Pendeknya sebuah angkatan laut untuk kepentingan pertahanan dan perlindungan adalah perlu, sebab angkatan laut Inggris “tiga atau empatribu mil jauhnya dari kita tidak seberapa besar pertolongannya; dalam keadaan mendesak angkatan laut ini tidak bisa diharapkan sama sekali”.

Dalam suasana pertentangan keagamaan dalam mana ia sering terlibat, pandangan-pandangan keagaam Paine dalam masa hidupnya saat itu, adalah sangat menarik untuk diperhatikan:

Dalam soal agama, saya berpendapat bahwa pemerintah mempunyai kewajiban mutlak untuk melindungi semua penganut-penganut yang beriman dari setiap agama. Dalam soal ini pemerintah tidak boleh campur tangan sama sekali (Rupanya ucapan ini dikeluarkan terhadap gereja yang sudah kukuh kedudukannya dan untuk membela pemisahan gereja dan negara) ………….. Sedangkan mengenai diriku sendiri, dengan penuh dan sungguh-sunggu aku percaya, bahwa Yang Mahakuasa berkehendak supaya diantara kita terdapat beragam-ragam perndapat keagamaan dan dengan demikian memberikan kesempatan lebih luas bagi rasa cinta-kasih ke-Nasranian kita. Sekiranya serupalah cara kita semua berpikir, maka kecondongan-kecondongan keagamaan kita akan menginginkan hal-hal untuk diuji. Berdasarkan prinsip ini, aku memandang beragam mazhab yang terdapat antara kita sebagai anak-anak dari suatu keluarga, hanya berbeda dalam apa yang oran gsebutkan nama Nasraninya.

Sambil meringkaskan kembali sendi keyakinannya, bahwa “tidak ada cara yang dapat menyelesaikan persoalan kita begitu tepat kecuali dengan jalan mengumumkan kemerdekaan dengan terus terang dan tegas”. Paine mengakhiri Pikiran Sehat-nya dengan mengemukakan empat faktor: (1) selama Amerika masih dianggap jajahan Inggris, maka tidak ada negara lain yang akan mau mencoba menajdi pengantara dalam pertikaian kedua negeri ini; (2) dari Perancis atau Spanyol tidak bisa diharapkan bantuan untuk memulihkan dan mempersatukan Amerika dan Inggris kembali karena perbuatan ini akan bertentangan dengan kepentingan mereka; (3) Jika rakyat Amerika menyatakan, bahwa mereka berada dibawah kekuasaan Inggris, maka rakyat Amerika akan dianggap pemberontak oleh negeri-negeri asing dan dengan demikian tidak akan banyak beroleh simpati; (4) sebaiknya rakyat Amerika menyusun sebuah manifesto dan menjelaskan keberatan-keberatan mereka terhadap Inggris serta maksud untuk memutuskan segala ikatan dengannya. Naskah pernyataan ini dalam mana juga dijelaskan maksud-maksud damai serta keinginan untuk mengadakan hubungan dagang, dikirimkan keluar negeri. Dengan cara demikian hasil yang akan diperoleh tentu besar sekali.

Paine meakhiri pembicaraannya dengan menyatakan:

… sampai kemerdekaan dinyatakan, benua ini akan merasa dirinya seperti seseorang yang selalu mengundurkan saja suatu pekerjaan yang tak enak sedangkan ia tahu betul, bahwa pekerjaan itu tidak boleh tidak harus ia lakukan; ia segan memulainya, ia memimpikan bahwa pekerjaan ini telah selesai, dan ia tak kunjung-kunjungnya dimomoki oleh perasaan bahwa pekerjaan ini betul-betul tak bisa ia elakkan.

Karena itu, dari pada saling pandang-memandang dengan penuh kecurigaan dan ras ingin tahu yang berisi kebimbangan, marilah kita saling mengulurkan tangan yang tulus dan penuh rasa persahabatan dan bersatu membentuksuatu barisan sebagai lambang dari pemberian maaf dan dapat menghilangkan perselisihan yang selama ini ada. Marilah kita hilangkan nama-nama seperti “tory” dan “whig” dan janganlah hendaknya ada sebutan lain yang kedengaran kecuali sebutan warganegara yang baik; seorang sahabat yang lapang hati dan berpendidrian tegas; seorang penyokong yang jujur dari HAK-HAK MANUSIA dan suatu NEGERA AMEREKA SERIKAT YANG MERDEKA.

Inilah pesan revolusioner yang disampaikan oleh Pikiran Sehat kepada rakyat Amerika, pesan yang berisikan suatu lingkupan nada suara mulai dari alasan-alasan yang terhentak ektanah,  realistis, praktis, sampai keseru-seruan yang dibebani emosi, pejuang yang garang, ajakan-ajakan yang mendorong yang dikeluarkan seoran gagitator yang ulung.

Akibat langsung dan menggegerkan dari kitab Pikiran Sehat ini dapat diperlihatkan dengan jalan mengutuip ucapan-ucapan pemimpin yang ada kala itu. Kebimbangan George Washington hilang sama sekali tatkala ia menulis kepada Joseph Reed di Norfolk.

“Jika ditambahkan kepada ajaran-ajaran sehat dan alasan-alasan yang tak dapat diengkari seperti yang terdapat dalam pamflet Pikiran Sehat, beberapa lagi dari pendirian-pendirian yang bernyala-nyala seperti yang telah diperlihatkan di Falmounth dan Norfolk, maka tidak banyak lagi orang yang tidak sanggup memutuskan untuk berpihak kepada kebenaran dari pemisahan”; dan beberapa minggu kemudian ia menulis lagi, juga kepada Reed “Berdasarkan surat-surat pribadi yang baru-baru ini saya terima dari Virginia, saya melihat, bahwa disana Pikiran Sehat karangan Paine telah menimbulkan perobahan pikiran pada banyak orang”.  Dan John Adams menulis kepada isterinya. “Bersama ini saya kirimkan sebuah pamflet berkepala Pikiran Sehat yang ditulis sebagai pembelaan bagi kebenaran, bahwa pembendungan perbutan kelaliman dimasa datang dan penghancuran penindasan akan segera diyakini oleh rakyat banyak – berdasarkan alasan-alasan yang banyak harapan ini mungkin sekali terlaksana”. Agigail, setelah membacanya menjawab. “adalah sebagai sinar Pembaruan yang telah datang pada waktunya benar untuk menghilangkan kebimbangan kita dan menentukan pilihan kita”. Benjamin Rush berkata tentang tulisan Paine. “Mereka menyembur dari percetakan dengan suatu akibat yang sampai sekarang belum pernah dicapai oleh kertas dan mesin cetak di negeri manapun juga dan dalam masa kapanpun juga”; Jenderal Charles Lee menambahkan, “Kuakuilah, ia telah meyakinkan aku”; dan Franklin mencatat, “Akibatnya menakjubkan”; dan William Henry Drayton melaporkan, bahwa “Penyiaran ini jatuh sebagai ledakan guntur atas anggota-anggota Kongres Benua”.

Dalam kitabnya Sejarah Revolusi Amerika Sir George Trevelyan mengulas:

Tidaklah mudah untuk meyebutkan sebuah ciptaan manusia yang mempunyai akibat yang sekaligus begitu langsung, begitu luas dan begitu lama … Buku ini “digarong,” dari setiap negara dimana republik baru ini mempunyai penyokong-penyokong…. Menurut koran-koran kala itu Pikiran Sehat telah membalikkan beribu orang kepada kemerdekaan; orang-orang yang sebelumnya tak menyukai pikiran itu sama sekali. Akibatnya tak kurang dari akibat suatu keajaiban dan ia telah merubah kaum Tory menjadi Whiq.

Dalam masa beberapa bulan setelah Pikiran Sehat ini terbit kebanyakan negara-bagian telah memerintahkan wakil-wakil mereka untuk memberikan suara setuju pada kemerdekaan. Hanya Maryland yang masih sangsi dan New York menolak. Pada tanggal empat bulan Juli tahun 1776, kurang dari enam bulan setelah pamflet Paine yang termasyur ini keluar dari percetakan, Kongres Benua yang mengadakan pertemuan di State House Philadelphia memproklamirkan kemerdekaan negara Amerika Serikat. Sesungguhnya Paine tidak menulis permyataan kemerdekaan itu, ia bekerja rapat sekali dengan Thomas Jefferson waktu pernyataan itu disusun. Kecuali bagian yang menyatakan peniadaan perubdakan yang diperjuangkan oleh Paine, semua dasar-dasar yang ia kemukakan dalam Pikiran Sehat dimasukkan kedalam manifesto yang jaya ini.

Perjalanan hidup Paine selanjutnya menunjukkan hubungan yang tak langsung dengan riwayat Pikiran Sehat. Hal-hal yang pokok dengan secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Segera setelah Kemerdekaan diumumkan, ia masuk kedalam tentara revolusi. Sebagai seorang jurubicara yang bijak buat perjuangan Amerika ia telah memberikan sumbangan yang besar untuk kepentingan kesatuan dan semangat nasinal dengan serentetan paflet-pamflet yang setiapnya berkepala Krisis. Pamflet yang pertama mulai dengan kalimat yang begitu sering dikutip orang; “ada masa yang menguji jiwa manusia. Perajurit musim panas dan patriot-pagriot dalam sinar terang akan mengundurkan diri dari pengabdian kepada tanah airnya dalam krisis ini; tapi ia yang kini berdiri tegak dan bertahan berhak atas cinta dan terima kasih baik dari laki-laki maupun perempuan.” Beberapa bulan kemudian setelah melihat kesanggupan Paine sebagai seorang propagandis dan pembangunan semangat, Kongres menarik Paine dari tentara dan mengangkatknya sebagai Sekretaris Panitia Urusan Luar Negeri – pada hakekatnya Menteri Luar Negeri. Secretary of State, Amerika yang pertama. Pelbagai pertentangan faham memaksa ia untuk mengundurkan diri dari jabatan itu. Sesuah itu ia diangkat menjadi Pegawai Dewan Pennsylvania. Dalam tahun 1781 ia dikirim ke perancis bersama John Laurens untuk meminta bantuan keuangan bagi pemerintah Amerika yang lagi kekurangan uang. Dalam tahun itu juga ia kembali dengan uang dan pelbagai persediaan kebutuhan.

Setelah dalam tahun 1783 revolusi berakhir, paine memusatkan pikiran pada penemuan-penemuan mekanis. Ia menciptakan jembatan gantung dari besai yang pertama dan ia mengadakan percobaan-percobaan dengan tenaga uap. Berhubung dengan adanya beberapa masalah teknis, maka diputuskanlah untuk meminta pertolongan insinyur-insinyur Inggris dan Perancis dan dalam tahun 1787 Paine berangkat ke Eropa dimana ia bermukim selama limabelas tahun.

Segera setelah ia sampai, Revolunsi Perancis pecah dan Paine menyokong kejadian ini dengan penuh semangat sebagai pembelaan selanjutnya bagi pikiran-pikiran demokratisnya. Sebagai pembelaan bagi revolusi dan tangkisan atas serangan Edmund Burke ia menulis Hak-hak Manusia (The Rights of Man) yang termasyur. Untuk menghindarkan tangkapan atas tuduhan penghianatan – sebagai hasil dari koktrin-doktrik yang terdapat dalam buku ini – ia terpaksa dengan cepat meninggalkan Inggris dan melarikan diri ke Perancis, dimana ia dipilih untuk duduk dalam Konvensi sebagai anggota yang mewakili Calais. Dalam suatu percobaan untuk menyelamatkan raja Louis XVI dari tangan Roberspierre dan Marat. Sehingga, waktu tokoh-tokoh ini menduduki kursi pemerintah, Paien lalu; ditangkap, dilucuti dari kedudukannya sebagai warga negara kehormatan Perancis, dipenjarakan selama sepuluh bulan dan untung saja masih bisa diselamatkan dari guillotine. Setelah ia dibebaskan dengan perantaraan duta besar Amerika James Monroe, ia beristirahat dikediaman Monroe sampai sehat kembali.

Kerja besarnya dari jaman ini ialah Jaman Akal (The Age of Reason) yang kadang-kadang disebut juga “injil kaum atheis”. Sebetulnya Paine adalah seorang theis yang alim, yang percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Jaman Akal, biarpun bersikap sangat kritis terahadap Perjanjian Lama, sebetulnya ia tulis untuk membendung gelombang dari atheisme yang memukul di perancis selama jaman revolusi itu. Sungguhpun begitu para ahli agama dan golongan-golongan agama kuno keras mengutuk Paine sebagai seroang radikal yang berbahaya dan seorang murtad.

Waktu Paine kembali ke Amerika dalam tahun 1802, ia tidak disambut sebagai pahlawan revolusi, malahan pemimpin-pemimpin politik dan anggota-anggota gereja dengan sungguh-sungguh menutuk dia, karena ia telah mengarang Jaman Akal dan karena teori-teori politiknya yang radikal. Di New Rochelle, New York, dimana kemudian ia berdiam, ia tidak diberi ijin ikut pemilihan umum, dengan alasan, bahwa ia bukan warganegara Amerika lagi. Bahkan orang telah mencoba untuk membunuhnya. Setelah ia selama tujuh tahun yang pahit mengalami penghinaan, kebencian, ketak-pedulian, kemelaratan dan kesehatan yang buruk, ia meninggal dalam tahun 1809, sewaktu ia berumur tujuhpuluh dua tahun. Baginya tak diberikan ijin untuk berkubur diperkuburan kaum Quaker.

Tapi kepalsuan, kepahitan dan prasangka yang kuat dari tahun-tahun terakhir kehidupan Paine, masih saja berlarut-larut sampai jaman kini. Theodore Roosevelt menyebutnya “seorang atheis kecil yang busuk”, sungguhpun, seperti Kerajaan Suci Roma, yang bukan suci, bukan Roma dan bukan pula kerajaan, demikian juga Paine bukan seorang atheis, bukan seorang kecil dan bukan pula busuk. Sampai-sampai tahun 1933, sebuah acara radio mengenai Paine telah disingkirkan dari sebuah pemancar radio New York. Baru dalam tahun 1945, empatpuluh lima tahun setelah Ruang Kemasyuran dari Orang-orang Besar Amerika didirikan, ia terpilih untuk dimasukkan kedalamnya. Dalam tahun ini juga kota New Roschelle memulihkan hak kewarganegaraan pahlawan revolusi ini yang tidak ia miliki lagi semenjak tahun 1806.

Patung Thomas Paine diabadikan sebagai penghormatan atas kebesaran pemikirannya

Dialah orang, yang barangkali lebih lagi dari yang lain-lain berhak untuk beroleh gelaran “Penegak Kemerdekaan”, orang yang mula-mulai memakai ucapan “Negara Amerika Serikat’, yang meramalkan, bahwa “Amerika Serikat dalam sejarah sama besar kedengarannya seperti kerajaan Britania Raja”, dan yagn menyatakan, bahwa “Perjuangan Amerika ini, dalam ukuran besar, adalah perjuangan kemanusiaan”. Tidak ada kenyataan yang dapa menggambarkan watak paine lebih terang dari pada jawaban yang ia berikan pada ucapan Franklin yang berbunyi: “Dimana kemerdekaan berada disitulah negeriku”. Paine membalas; “dimana kemerdekaan tidak ada, disitulah negeriku.”

Tapi dalam jamannya sendiri lagu kebencian dan salah sangka terhadapnya tidaklah begitu merata mendalamnya. Andrew Jackson berani mengatakan. “Thomas Paine tidak memerlukan monumen yang diperbuat dengan tangan: ia telah mendirikan sebuah monumen dalam setiap ahti pencinta kemerdekaan”. (*)

Continue Reading

Classic Prose

Trending