Connect with us
Strukturalisme dan Implikasinya Strukturalisme dan Implikasinya

Kajian

Strukturalisme dan Implikasinya

mm

Published

on

Strukturalisme dan Implikasinya, dari Ferdinand de Saussure sampai Pierre Bourdieu

Strukturalisme merupakan suatu gerakan pemikiran filsafat yang mempunyai pokok pikiran bahwa semua masyarakat dan kebudayaan mempunyai suatu struktur yang sama dan tetap.

Ciri khas strukturalisme ialah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual obyek melalui penyelidikan, penyingkapan sifat-sifat instrinsiknya yang tidak terikat oleh waktu dan penetapan hubungan antara fakta atau unsur-unsur sistem tersebut melalui pendidikan. Strukturalisme menyingkapkan dan melukiskan struktur inti dari suatu obyek (hirarkinya, kaitan timbal balik antara unsur-unsur pada setiap tingkat) (Bagus, 1996: 1040)

Gagasan-gagasan strukturalisme juga mempunyai metodologi tertentu dalam memajukan studi interdisipliner tentang gejala-gejala budaya, dan dalam mendekatkan ilmu-ilmu kemanusiaan dengan ilmu-ilmu alam. Akan tetapi introduksi metode struktural dalam bermacam bidang pengetahuan menimbulkan upaya yang sia-sia untuk mengangkat strukturalisme pada status sistem filosofis. (Bagus, 1996: 1040)

 

Ferdinand de Saussure

Untuk mengenal lebih lanjut tentang strukturalisme maka ada baiknya untuk menyimak pemikiran Ferdinand de Saussure yang banyak disebut orang sebagai bapak strukturalisme, walaupun bukan orang pertama yang mengungkapkan strukturalisme.

Banyak hal yang menunjukkan Ferdinand de Saussure adalah bapak strukturalisme. Selain ia sebagai bapak strukturalisme ia juga sebagai bapak linguistik yang ditunjukkan dengan mengadakan perubahan besar-besaran di bidang lingustik. Ia yang pertama kali merumuskan secara sistematis cara menganalisa bahasa, yang juga dapat dipergunakan untuk menganalisa sistem tanda atau simbol dalam kehidupan masyarakat, dengan menggunakan analisis struktural. Ia mengatakan bahwa linguistik adalah ilmu yang mandiri, karena bahan penelitiannya, yaitu bahasa, juga bersifat otonom. Bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap. Menurutnya ada kemiskinan dalam sistem tanda lainnya, sehingga untuk masuk ke dalam analisis semiotik, sering digunakan pola ilmu bahasa. De Saussure mengatakan bahwa bahasa adalah sistem tanda yang mengungkapkan gagasan, dengan demikian dapat dibandingkan dengan tulisan, abjad orang-orang bisu tuli, upacara simbolik, bentuk sopan santun, tanda-tanda kemiliteran dan lain sebagainya. Bahasa hanyalah yang paling penting dari sistem-sistem ini. Jadi kita dapat menanamkan benih suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda di tengah-tengah kehidupan kemasyarakatan; ia akan menjadi bagian dari psikologi umum, yang nantinya dinamakan oleh de saussure sebagai semiologi. Ilmu ini akan mengajarkan kepada kita, terdiri dari apa saja tanda-tanda itu, kaidah mana yang mengaturnya. Karena ilmu ini belum ada, maka kita belum dapat mengatakan bagaimana ilmu ini, tetapi ia berhak hadir, tempatnya telah ditentukan lebih dahulu. Linguistik hanyalah sebahagian dari ilmu umum itu, kaidah-kaidah yang digunakan dalam semiologi akan dapat digunakan dalam linguistik dan dengan demikian linguistik akan terikat pada suatu bidang tertentu dalam keseluruhan fakta manusia.

Gagasan yang paling mendasar dari de Saussure adalah sebagai berikut:

 

  • Diakronis dan sinkronis: penelitian suatu bidang ilmu tidak hanya dapat dilakukan secara diakronis (menurut perkembangannya) melainkan juga secara sinkronis (penelitian dilakukan terhadap unsur-unsur struktur yang sezaman)
  • Langue dan parole: langue adalah penelitian bahasa yang mengandung kaidah-kaidah, telah menjadi milik masyarakat, dan telah menjadi konvensi. Sementara parole adalah penelitian terhadap ujaran yang dihasilkan secara individual.
  • Sintagmatik dan Paradikmatik (asosiatif): sintagmatik adalah hubungan antara unsur yang berurutan (struktur) dan paradikmatik adalah hubungan antara unsur yang hadir dan yang tidak hadir, dan dapat saling menggantikan, bersifat asosiatif (sistem).
  • Penanda dan Petanda: Saussure menampilkan tiga istilah dalam teoi ini, yaitu tanda bahasa (sign), penanda (signifier) dan petanda (signified). Menurutnya setiap tanda bahasa mempunyai dua sisi yang tidak terpisahkan yaitu penanda (imaji bunyi) dan petanda (konsep). Sebagai contoh kalau kita mendengan kata rumah langsung tergambar dalam pikiran kita konsep rumah.

Strukturalisme termasuk dalam teori kebudayaan yang idealistik karena strukturalisme mengkaji pikiran-pikiran yang terjadi dalam diri manusia. Strukturalisme menganalisa proses berfikir manusia dari mulai konsep hingga munculnya simbol-simbol atau tanda-tanda  (termasuk didalmnya upacara-upacara, tanda-tanda kemiliteran dan sebagainya) sehingga membentuk sistem bahasa. Bahasa yang diungkapkan dalam percakapan sehari-hari juga mengenai proses kehidupan yang ada dalam kehidupan manusia, dianalisa berdasarkan strukturnya melalui petanda dan penanda, langue dan parole, sintagmatik dan paradikmatik serta diakronis dan sinkronis. Semua relaitas sosial dapat dianalisa berdasarkan analisa struktural yang tidak terlepas dari kebahasaan.

Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. de Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalammemahami kebudayaan, yaitu:

 

  • Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar.
  • Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi atau kebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam.
  • Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar.

 

Gagasan kebudayaan, baik sebagai sistem kognitif maupun sebagai sistem struktural, bertolak dari anggapan bahwa kebudayaan adalah sistem mental yang mengandung semua hal yang harus diketahui individu agar dapat berperilaku dan bertindakj sedemikian rupa sehingga dapat diterima dan dianggap wajar oleh sesama warga masyarakatnya. 

 

Pierre Bourdieu

Bourdieu pada awalnya menghasilkan karya-karya yang memaparkan sejumlah pengaruh teoritis, termasuk fungsionalisme, strukturalisme dan eksistensialisme, terutama pengaruh Jean Paul Sartre dan Louis Althusser.

Pada tahun 60an ia mulai mengolah pandangan-pandangan tersebut dan membangun suatu teori tentang model masyarakat. Gabungan antara pendekatan teori obyektivis dan teori subyektivis sosial yang dituangkan dalam buku yang berjudul ”outline of a theory of practice” dimana didalamnya ia memiliki posisi yang unik karena  berusaha mensintesakan kedua pendekatan metodologi dan epistemologi tersebut.

Dalam karyanya ini ia menyerang pemahaman kaum strukturalis yang menciptakan obyektivisme yang menyimpang dengan memposisikan ilmuwan sosial sebagai pengamat. Menurutnya pemahaman ini mengabaikan peran pelaku dan tindakan-tindakan praktis dalam kehidupan sosial.

Kelebihan Bourdieu adalah menghasilkan cara pandang dan metode baru yang mengatasi berbegai pertentangan di antara penjelasan-penjelasan sebelumnya. Pemikirannya bukan hanya menjawab pertanyaan tentang asal usul dan seluk beluk masyarakat tetapi lebih pada menjawab persoalan-persoalan baru yang diturunkan dari pemikiran-pemikiran terdahulu.

Terdapat 3 konsep penting dalam pemikiran Bourdieu yaitu Habitus, Field dan Modal. Berikut ini akan dibahas ketiga konsep tersebut dan akan dijelaskan interaksi ketiga konsep ini dalam masyarakat. Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang digunakan aktor untuk menghadapi kehidupan sosial. Setiap aktor dibekali serangkaian skema atau pola yang diinternalisasikan yang mereka gunakan untuk merasakan, memahami, menyadari, dan menilai dunia sosial. Melalui pola-pola itulah aktor memproduksi tindakan mereka dan juga menilainya. Secara dialektis habitus adalah ”produk internalisasi struktur” dunia sosial. Atau dengan kata lain habitus dilihat sebagai ”struktur sosial yang diinternalisasikan yang diwujudkan”.

Habitus mencerminkan pembagian obyektif dalam struktur kelas seperti umur, jenis kelamin, kelompok dan kelas sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam kehidupan sosial diduduki. Habitus berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan sosial; tidak setiap orang sama kebiasaannya; orang yang menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial, cenderung mempunyai kebiasaan yang sama.

Habitus lebih didasarkan pada keputusan impulsif, dimana seorang individu bereaksi secara efisien dalam semua aspek kehidupan. Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh kehidupan sosial. Disatu pihak habitus adalah struktur yang menstruktur artinya habitus adalah sebuah struktur yang menstruktur kehidupan sosial. Dilain pihak habitus adalah struktur yang terstruktur, yaitu habitus adalah struktur yang distruktur oleh dunia sosial.

Habitus menjadi konsep penting baginya dalam mendamaikan ide tentang struktur dengan ide tentang praktek. Ia berusaha mengkonsepkan kebiasaan dalam berbagai cara, yaitu:

 

  • Sebagai kecenderungan-kecenderungan empiris untuk bertindak dalam cara-cara yang khusus (gaya hidup)
  • Sebagai motivasi, preferensi, cita rasa atau perasaan (emosi)
  • Sebagai perilaku yang mendarah daging
  • Sebagai suatu pandangan tentang dunia (kosmologi)
  • Sebagai keterampilan dan kemampuan sosial praktis
  • Sebagai aspirasi dan harapan berkaitan dengan perubahan hidup dan jenjang karier.

Habitus membekali seseorang dengan hasrta. Motivasi, pengetahuan, keterampilan, rutinitas dan strategi untuk memproduksi status yang lebih rendah. Bagi Bourdieu keluarga dan sekolah merupakan lembaga penting dalam membentuk kebiasaan yang berbeda.

Field bagi Bourdieu lebih bersifat relasional ketimbang struktural. Field adalah jaringan hubungan antar posisi obyektif di dalamnya. Keberadaan hubungan ini terlepas dari kesadaran dan kemauan individu. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukanlah intersubyektif antara individu. Penghubi posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghubi posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan.

Bourdieu melihat field sebagai sebuah arena pertarungan. Struktur Field lah yang menyiapkan dan membimbing strategi yang digunakan penghuni posisi tertentu yang mencoba melindungi atau meningkatkan posisi mereka untuk memaksakan prinsip penjenjangan sosial yang paling menguntungkan bagi produk mereka sendiri. Field adalah sejenis pasar kompetisi dimana berbagai jenis modal (ekonomi, kultur, sosial, simbolik) digunakan dan disebarkan. Lingkungan adalah lingkungan politik (kekuasaan) yang sangat penting; hirarki hubungan kekuasaan di dalam lingkungan politik membantu menata semua lingkungan yang lain.

Bourdieu menyusun 3 langkah proses untuk menganalisa lingkungan, pertama, menggambarkan keutamaan lingkungan kekuasaan (politik). Langkah kedua, menggambarkan struktur obyektif hubungan antar berbagai posisi di dalam lingkungan tertentu, ketiga, analis harus mencoba menetukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam lingkungan.

Dengan kata lain, Field adalah wilayah kehidupan sosial, seperti seni, industri, hukum, pengobatan, politik dan lain sebagainya, dimana para pelakunya berusaha untuk memperoleh kekuasaan dan status.

Bourdieu menganggap bahwa modal memainkan peranan yang penting, karena modallah yang memungkinkan orang untuk mengendalikan orang untuk mengendalikan nasibnya sendiri maupun nasib orang lain.

Ada 4 modal yang berperan dalam masyarakat yang menentukan kekuasaan sosial dan ketidaksetaraan sosial, pertama modal ekonomis yang menunjukkan sumber ekonomi. Kedua, modal sosial yang berupa hubungan-hubungan sosial yang memungkinkan seseorang bermobilisasi demi kepentingan sendiri. Ketiga, modal simbolik yang berasal dari kehormatan dan prestise seseorang. Dan keempat adalah modal budaya yang memiliki beberapa dimensi, yaitu:

 

  • Pengetahuan obyektif tentang seni dan budaya
  • Cita rasa budaya (cultural taste) dan preferensi
  • Kualifikasi-kualifikasi formal (seperti gelas-gelar universitas)
  • Kemampuan-kemampuan budayawi dan pengetahuan praktis.
  • Kemampuan untuk dibedakan dan untuk membuat oerbedaan antara yang baik dan buruk.

 

Modal kultural ini terbentuk selama bertahun-tahun hingga terbatinkan dalam diri seseorang. Setelah dibahas tentang ketiga konsep diatas maka akan dijelaskan hubungan ketiga konsep tersebut.

Habitus dan ranah merupakan perangkat konseptual utama yang krusial bagi karya Bourdieu yang ditopang oleh sejumlah ide lain seperti kekuasaan simbolik, strategi dan perbuatan beserta beragan jenis modal.

Seperti telah diungkapkan diatas bahwa habitus adalah struktur kognitif yang menghubungkan individu dan realitas sosial. Habitus merupakan struktur subyektif yang terbentuk dari pengalaman individu berhubungan dengan individu lain dalam jaringan struktur obyektif yang ada dalam ruang sosial. Habitus adalah produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu, dengan kata lain habitus adalah hasil pembelajaran lewat pengasuhan, aktivitas bermain, dan juga pendidikan masyarakat. Pembelajaran ini berjalan secara halus sehingga individu tidak menyadari hal ini terjadi pada dirinya, jadi habitus bukan pengetahuan bawaan.

Habitus mendasari field yang merupakan jaringan relasi antar posisi-posisi obyektif dalam suatu tatanan sosial yang hadir terpisah dari kesadaran individu. Field semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakatyang terbentuk secara spontan.

Habitus memungkinkan manusia hidup dalam keseharian mereka secara spontan dan melakukan hubungan dengan pihak-pihak diluar dirinya. Dalam proses interaksi dengan pihak luar tersebut terbentuklah Field.

Dalam suatu Field ada pertarungan kekuatan-kekuatan antara individu yang memiliki banyak modal dengan individu yang tidak memiliki modal. Diatas sudah di singgung bahwa modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan, suatu kekuatan spesifik yang beroperasi di dalam field dimana di dalam setiap field menuntut untuk setiap individu untuk memiliki modal gara dapat hidup secara baik dan bertahan di dalamnya.

Secara ringkas Bourdieu menyatakan rumusan generatif yang menerangkan praktis sosial dengan rumus setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi antara habitus dan ranah yang melibatkan modal.

 

Daftar Acuan

Bagus, Loren. 1996.”Kamus Filsafat”. Jakarta: Pustakan Gramedia

Harker, Richard, Cheelen Mahar, Chris Wilkes. 2005.”(Habitus x Modal) + Praktik: Pengantar Paling Komprehensif kepada Pemikiran Pierre Bourdieu”. Yogyakarta: Jalasutra

Lechte, John. 2001.”50 Filusuf Kontmporer: Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas”. Yogyakarta: Kanisius

Sutrisno, Mudji, Hendar Putranto. 2006.” Teori-teori Kebudayaan”. Yogyakarta: Kanisius

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kajian

W.F. Wertheim “Persepsi Elit dan Massa Rakyat”

mm

Published

on

The potato eaters Karya Pelukis Vincent Willem van Gogh / Google

Oleh: Prof. Sediono M.P. Tjondronegoro.

Penerbitan buku W.F. Wertheim dalam bahasa Indonesia di tahun pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat R.I. dan Presiden R.I. 2009 kala itu dapat dikatakan tepat karena boleh dikatakan bangsa Indonesia memilih elite politiknya menjelang dasawarsa kedua abad ke-21.

Dengan alasan dan analisa Prof. Wertheim sebagai ahli/pakar sosiologi yang selama hidup beliau (18 Nov. 1907 – 3 Nov. 1998) mempunyai ikaktan batin erat dengan penduduk Indonesia, mudah-mudahan banyak cendekiawan Indonesia dapat juga menghayati pemikiran kaum elit tentang massa rakyat setelah merdeka 64 tahun dan berusaha mengembangkan tatanan demokrasi yang sesuai dengan budaya bangsa.

Namun sebelum pembaca menekuni analisa cerdik dalam buku ini ada baiknya mengetahui siapa sebenarnya Prof. Wertheim itu dan perhatian khusus beliau mengenai Indonesia beserta penduduknya juga sejak zaman penjajahan Belanda sampai menjadi Negara berdaulat R.I. melalui suatu Revolusi Nasional.

Karena itu prolog ini diawali dengan menyajikan biografi singkat pengarang buku sehingga lebih dapat difahami alur pikirannya.

Lahir dari seorang tua warga Belanda yang tinggal di St. Petersburg, Russia di tahun 1907 sebelum pecahnya revolusi dan terbentuknya Uni Soviet, dapat dimengerti mengapa perhatiannya juga mencakup pemikiran tentang revolusi (1917). Ini juga terbukti dari bukunya berjudul “Evolution and Revolution; The Rising Waves of Emancipation” (1974).

Tidak lama setelah revolusi 1917 di Russia dan kota kelahirannya berubah nama menjadi Leningrad keluarga Wertheim kembali ke negeri Belanda.

Pendidikan dasar dan menengah sampai di Fakultas Hukum di Universiteit Leiden diperolehnya di negeri Belanda dan mencapai gelar Doktor di tahun 1930 yang juga menjadi tahun pernikahannya.

Setahun kemudian pasangan muda ini pindah ke Hindia Belanda (1931) dimana Wertheim mulai bekerja di dinas kehakiman pemerintah Hindia Belanda.

Setelah Fakultas Hukum didirikan beliau menjadi Guru besar “Konflik Hukum” di Batavia dan itu jelas mencakup analisa Sosiologi.

Selama pendudukan Jepang (1942-1945) beliau dipenjarakan di Glodok, Batavia. Sedangkan mula-mula istri dan tiga puteranya dititipkan disuatu perkebunan karet di Tjipoenegara, Kabupaten Cianjur Selatan. Akan tetapi setelah tentara Jepang menguasai daerah itu juga keluarga Wertheim dipindahkan ke penjara perempuan di Tangerang.

Setelah pendudukan Jepang berakhir segenap keluarga Wertheim dapat bersatu lagi dan dipulangkan ke negeri Belanda dimana mereka tinggal di Amsterdam.

Perhatian Prof. Wertheim karena pengalaman hidupnya semakin tertarik untuk mempelajari nasionalisme Asia dan sosialisme yang meluas sebagai reaksi terhadap kolonialisme.

W.F. Wertheim dikenal sebagai seorang ilmuwan yang telah lama bergelut dengan pedesaan, perubahan sosial dan revolusi Indonesia. Ia juga dikenal sebagai orang yang mencurahkan tenaga dan fikiran untuk mengekspos rezim Suharto sebagai suatu rezim penindas yang tak berperikemanusiaan. Lewat buku “Elite Vs Massa” ini, Wertheim menguak proses bagimana elite baik yang datang dari kalngan ilmuwan, pejabat, peneliti maupun pemimpin informal di Indonesia dengan sadar atau tak sadar mengabaikan dan menyingkirkan keberadaan massa rakyat.

Karena itu Prof. Wertheim setelah kembali di negeri Belanda antara 1947-1950 mulai menulis beberapa karangan dalam majalah “De Nieuwe Stem” yang menunjukkan pengertian beliau tentang Asia yang bagaikan “Fajar Menyingsing” (Herryzend Azie) tampil sebagai kekuatan baru karena mengakhiri abad kolonalisme. Jadi bukan saja diperlukan suatu pengertian baru tentang “Timur Jauh”, tetapi akan terjadi pula pergeseran dalam struktur lapisan masyarakat di Indonesia bersama dengan kebangkitan  budaya Indonesia, mirip dengan “Renaissance” di Eropa dulu.

Pengangkatan beliau sebagai Guru Besar Sosiologi dan Sejarah Modern Indonesia di Universitas Amsterdam karena itu mudah difahami bahkan kemudian beliau berhasil mendirikan suatu lembaga penelitian dibawah nama “Sociologisch Historisch Seminarium voor Zuid Oost Azie” (Lembaga Penelitian untuk Sosiologi dan Sejarah Modern Asia Tenggara).

Sejak didirikannya lembaga tersebut banyak mahasiswa Indonesia yang diangkat dalam lembaga tersebut sebagai Assisten misalnya Drs. Soekmono Martokusumo (ekonom), Drs. The Siauw Giap (Sosiolog kemudian menjadi menantunya); Drs. Basuki Gunawan dan penulis sendiri antara 1957-1963.

Diantara assisten-assisten Belanda pun banyak yang dibimbing dan menulis disertasi mereka berdasarkan penelitian di Philipina dan India. Ini sedikit banyak akibat hubungan RI-Belanda di ranah diplomatic kurang baik karena soal Irian barat.

Tidak lama setelah kembali di negeri Belanda Prof. Wertheim sudah dihubungi oleh Sekretaris jenderal Institute of Pacific Relations (1950) yang menyarankan agar Prof. Wertheim membukukan tulisan beliau mengenai dampak peradaban barat pada masyarakat di Indonesia. Inilah yang menghasilkan buku “Indonesian Society in Transition (1956). Setelah itu diterbitkan pula “East –West Parallels; Sociological Approaches to Modern Asia” (1964).

Lebih dari itu Prof. Wertheim merangsang banyak rekan-rekannya menerbitkan tulisan mereka tentang Indonesia sehingga pasang surut pertumbuhan R.I. terekam baik dan dapat dipelajari generasi muda Indonesia.

Dalam tahun 1957 Prof. Wertheim dan Ibu kembali ke Indonesia sebagai Gurubesar tamu di Bagian Sosiologi Pedesaan, Departemen Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian UI di Bogor. Sebelumya sebenarnya sudah ada Ir. H. Ten Dam lulusan Sekolah Tinggi Pertanian Wageningen yang bekerja juga di Bagian Sosiologi tersebut yang dipimpin oleh Ir. Kampto Oetomo (sekarang Prof. Sajogyo).

Kehadiran Prof. Wertheim di Bogor sangat menguntungkan dua alumni Fakultas Pertanian yang sedang menyelesaikan disertasinya, yaitu Ir. Bachtiar Rifai (alm) dan Ir. Kampto Oetomo.

Akhirnya yang dapat diselesaikan dengan Prof. Wertheim sebagai promotor adalah disertasi Ir. Kampto Oetomo mengenai “Transmigrasi Spontan di Way Sekampung” dan meraih gelar Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia.

Dari Indonesia Prof. Wertheim tidak langsung pulang ke Amstedam tetapi mengunjungi Negara sosialis terbesar di dunia  waktu itu, ialah Republik Rakyat Tiongkok yang dikunjungi khusus juga daerah pedesaan RRT Selatan yang mirip dengan keadaan di Jawa. Penduduknya hidup dari pertanian dan masih banyak terdapat petani-petani berlahan sempit.

 Kunjungan selama tiga minggu dan melakukan survey di daerah tersebut meyakinkan beliau bahwa pembentukan Komuna Petani dalam rangka Reforma Agraria yang bersama menggarap tanah luas sangat meningkatkan hasil produksi per Ha dan memudahkan pemasaran produk pertanian ke kota-kota.

Penulis percaya bahwa keberhasilan Deng Xiao Ping dalam merangsang pertumbuhan ekonomi yang mengesankan sejak 1978 tak dapat terwujud tanpa didahului oleh Reforma Agraria dibawah pimpinan Mao Tse Thung.

RRT sebagai negera terbebsar di dunia telah membuktikan bahwa perubahan social juga dapat dipelopori oleh para petani; berbeda dari teori Lenin yang berpendapat bahwa hanya buruh perkotaan/industry yang mampu meningkatkan peranan dan memperbaiki nasib lapisan masyarakat bawah.

Pada dasarnya perbedaan pandangan lapisan masyarakat atas dan bawah ini yang menjadi sorotan dalam “Persepsi Elit dan Massa Rakyat”. Sebenarnya lebih dari seperempat abad sebelum buku tersebut diterbitkan Prof. Wertheim sudah menganalisa pelapisan social Indonesia dalam “Indonesia in Transition”. Ketidak-tahuan (ignorance) lapisan atas elite mengenai lapisan mayoritas bawah.

Apakah gejala itu akibat dari masyarakat yang feodal atau semi-feodal sehingga kaum ningrat dan ketua adat buta mengenai massa “wong cilik” tidak jelas.

Tetapi sampai Republik Indonesia sudah berusia lebih dari 30 tahun elite di Jakarta belum terlalu memperhatikan lapisan bawah. Ini yang dalam ilmu Sosiologi disebut “Sosiologi keetidaktahuan” (Ignorant Sociology).

Analisa sosiologi yang tajam dan sangat menarik yang dilakukan dengan mengacu kepada teori-teori ilmuwan negara-negara Barat – dari K. Marx sampai G. Myrdal – sampailah penulis buku pada masalah Kesadaran Palsu para Sosiolog Indoensia (Bab II).

Dalam  bab I sudah diejalskan bagaimana lapisan elit mempunyai “False Consciousness” (kesadaran palsu) yang merupakan konsep dari teori K. Marx pada awalnya dan kemudian dikembangkan ketika sosiologi pengetahuan – yang memang mulai tumbuh di Jerman – merupakan ilmu kritis terhadap masyarakat borjuis yang tidak bersifat minta maaf (apologetic). Pemikiran borjuis memang mendukung tatanan dominasi yang dilestarikan sehingga status quo antar lapisan social juga tetap bertahan.

Gejala ini di Indonesia agaknya juga dicermati oleh ekonom Australia Dr. David Penny dan Ir. Pertanian H. Ten Dam dalam masing-masing studi mereka di Yogya dan Priangan.

Disertasi alm Prof. Selo Soemardjan tentang perubahan di Yogyakarta sebaliknya terkesan kurang memperhatikan kehidupan dan peran massa atau lapisan bawah.

Sejarah panjang sejak adanya “Negara bangsa” (nation state) memang menunjukkan bahwa terjadi lapisan social dalam perebutan tampuk pimpinan melalui revolusi, akan tetapi tidak sekaligus menghilangkan “Kesadaran Palsu”. Statusquo antara elite dan massa paling tidak tetap menjadi tugas para Sosiolog Indonesia untuk menghindari bahkan memerangi “Sosiolog Ketidaktahuan”. Lebih baik lagi bila para cendekiawan Indonesia pada umumnya juga menyadari hal tersebut dan bertindak sesuai tantangan.

Dengan berbagai perubahan sosial dan kemajuan di negara-negara baru Asia timbul pula tantangan baru. Dan sebagai pernah diulas oleh ahli Sosiologi Max Weber – mirip dengan perubahan sosial di Eropa abad ke 18 – perlu ditumbuhkan sikap dan pandangan hidup nasional mutakhir, suatu lapisan sosial baru, ialah warga perkotaan akan muncul dan berperan penting. Singkatnya perlu adanya pertumbuhan masyarakat yang lebih demokratis yang menggantikan pelapisan feodal.

Mudah-mudahan buku ini akan beredar luas dan dibaca para cendekiawan yang memasuki kancah politik dalam mengembangkan demokrasi yang artinya “pemerintahan rakyat” (demos dan cratein). Rakyat pun suatu pengertian yang  mencakup semua lapisan dalam masyarakat, tetapi dalam kebijaksanaan pemerintah perlu ditegaskan lapisan mana yang kesejahteraannya perlu ditingkatkan lebih dulu.

Di daerah pedesaan saja sudah ada perbedaan antara petani kaya yang bertanah, petani kecil dan buruh tani atau tunakisma (landless) yang sama sekali tidak memiliki tanah dan hanya dapat menjual tenaga mereka. Tiga lapisan terakhir itulah yang nasib hidupnya perlu diperbaiki apabila demokrasi dengan pemerataan akan diwujudkan.

Sejak zaman Aristoteles, ahli filsafat Yunani (384 SM) dikenal tiga kekuasaan dalam masyarakat Polis (city state) ialah: Monarchie, Aristocratie dan masyarakat. Di abad ke-18 sejak Revolusi Perancis (1789) dikenal Monarchie, Aristocratie dan Bourgeois (kelas ketiga yang kemudian setelah K. Marx dikenal sebagai kelas pedagang kapitalis). Sejak 1948 dikenal lapisan petani dan buruh yang merasa ditinggalkan kaum borjuis mulai menuntut haknya.

Demikianlah dalam perkembangan sejarah di abad ke-20 juga dibenua Asia terjadi revolusi yang kecuali menggusur kolonialisme juga menumbuhkan pelapisan social baru. Pesan jelas Prof. Wertheim melalui buku ini agar bukan saja para sosiolog tetapi juga para cendekiawan yang berperan di ranah politik praktis memerangi “Sosiologi Ketidaktahuan”. Elite, kecuali membuka mata untuk kebutuhan massa, penuhilah hak hidup dan perkembangan mereka. (*)

Bogor, 20 Mei 2009.

Prof. Dr. Sediono M.P Tjondronegoro, adalah Guru Besar Sosiologi Pedesaan IPB, dimatangkan melalui berbagai perjuangan, mulai dari pertempuran fisik bersenjata, bergerak di “bawah tanah”, studi di luar negeri, bertahan hidup di negeri orang, berdiplomasi, berdemonstrasi, sampai dengan perjuangan keilmuan seperti mengajar, meneliti, merumuskan kebijakan dan mendampingi masyarakat. Agaknya tepat menyebut sosok ini sebagai intelektual organik, yakni mereka yang menggulatkan diri pada problem-problem kerakyatan. Buku-Buku yang ditulisnya di antaranya adalah: Dua Abad Penguasaan Tanah: Pola Penguasaan Tanah Pertanian di Jawa dari Masa ke Masa (Bersama Gunawan Wiradi). osiologi Agraria: Kumpulan Tulisan Terpilih. Politik dan Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian. Social Organization And Planned Development In Rural Java: A Study Of The Organizational Phenomenon In Kecamatan Cibadak, West Java, And Kecamatan Kendal, Central Java dan banyak artikel di media massa lainnya.

SUMBER ACUAN:

W.F. WERTHEIM (1984)

In Gesprek met Mijzelf (Dialog antara Ego dan Alterego)

Amsterdam, N.V. Querido.

W.F. WERTHEIM (1950)

            Herryzend Azie; Opstellen over de Oosterse Samenleving Arnhem,

Van Loghum Slaterus N.V.

W.F. WERTHEIM (1957)

            Indonesian Society in Transition; A Study of Social Change.

The Hague & Bandung, W. van Hoeve Ltd.

W.F. WERTHEIM (1974)

Evolution and Revolutin; The Rising Waves of Emancipation

……………………………..

W.F. WERTHEIM (t.t)

            “Landwirtschft in China – Zehn verlorene Jahre?”

Amsterdam (karangan)

W.F. WERTHEIM (1984)

Elite Perception and the Masses; The Indonesian Case.

Amsterdam, Anthropology  Sociology Centre.

W.F. WERTHEIM (1997)

Third World Whence and Whither?; Protective State versus Aggressive market.

Amsterdam, Het Spinhuis.

Continue Reading

Editor's Choice

Thomas Paine, Common Sense dan Puntung-Berapi Amerika

mm

Published

on

Tidak ada sesiapa yang cukup waras pikirannya yang akan mau meramalkan masa depan yang gemilang bagi Thomas Paine, tatkala ia sampai dalam usia tigapuluh tujuh tahun ke Amerika. Seluruh kehidupannya sampai saat ini semata-mata terdiri dari rentetan kekandasan dan kekecewaan. Apa saja usaha yang pernah ia jamah berakhir dengan menyedihkan.

Siapa yang mengira, bahwa dalam waktu beberapa tahun imigran yang baru saja datang ke Dunia Baru ini akan muncul sebagai salah seeorang penulis pamflet terbesar dalam bahasa Inggris, salah seorang tokoh yang paling kontroversial dalam sejarah Amerika, seorang agitator politik dan revolusioner yang namanya dikenal, ditakuti, dibenci atau dielu-elukan dan disanjung-sanjung diseluruh koloni Amerika-Inggris. Britania Raya dan Eropa Barat? Seolah-olah perjalanan laut yang ia lakukan belum lama sebelum itu telah menyebabkan suatu metamorfosis yang hebat dalam kepribadian dan wataknya; ia berobah hampir dalam waktu sekejap mata dari seorang biasa menjadi seorang cendekia yang gemilang.

Common Sense (Pikiran Sehat)

Tapi jika kita selidiki masa mudanya maka jelaslah bahwa tahun-tahun dari kehidupannya yang lampau bukanlah masa yang hilang, malahan masa ini adalah semacam masa persiapan untuk hidupnya yang baru. Ia dilahirkan di Thetford, distrik Norfolk, disebelah timur Inggris, dalam bulan Januari tanggal duapuluh sembilan, tahun 1737, sebagai anak laki-laki seorang ayah penganut mazhab Quaker dan ibu penganut Gereja Anglikan. Semenjak kecil ia telah mengalami kemelaratan yang teramat sangat, kekurangan dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang hina. Sampai usia tigabelas tahun, ia belajar disekolah rakyat, dimana ia, menurut ucapannya sendiri telah beroleh “pendidikan akhlak yang sangat baik dan diberi sejemput pengetahuan yang berguna.” Nalurainya untuk ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan baru – untuk kepentingan praktis sebagai kebalikan dari kepentingan teritis – sudah kelihatan pada waktu itu. Naluri ini kelak akan tetap subur dalam seluruh kehidupannya yang sibuk itu.

Sehabis pendidikan formil yang singkat ini Paine mempelajari pekerjaan ayahnya – pekerjaan seorang pembuat korset. Pkerjaan ini ia jalankan selama tiga tahun. Kemudian kegiuran laut dan keisengang disebabkan pekerjaan yang membosankan ini menyebabkan ia lari dari rumah dan mencatatkan diri diatas kapal bajak Terrible, yang dipimpin oleh seroang nachoda yang mempunyai nama yang dahsyat, yaitu Death (Maut). Setelah dibawa puang kembali oleh ayahnya, ia melanjutkan pekerjaan membuat korset sampai ia berumur sembilanbelas tahun. Sesudah itu selama masa singkat ia mengesampingkan pekerjaan itu kembali, kalu berlayar sebagai lanun di kapal King of Prusia. Sesudah itu sembuhlah ia dari pengertiannya yang romantis tentang kehidupan pelaut, dan sekali lagi ia memulai pertukangannya kembali, tapi tidak lagi di Thetford, melainkan di London. Disana ia bekerja diekdai seorang pembuat korset dekat Ddrury Lane. Sedangkan waktu senggangnya ia pergunakan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran dalam ilmu falak.

Masa selanjutnya adalah masa yang penuh kesulitan dan pengelanaan tak tahu tujuan. Di Sandwich ia kawain dengan seorang gadis pelayan piatu. Gadis ini kemudian meninggal dalam masa setahun sesudah perkawinan itu. Ayahnya adalah seorang pegawai pabean. Karena pekerjaan dapat memberikan kepadanya waktu-waktu senggang yang ingin ia pergunakan untuk keperluan-keperluan lain, lalu Paine merasa tertarik. Paine diangkat sebagai seorang pejabat pabean. Jabatan ini adalah jabatan yang pelaing tepat sekali jika kita ingin menjauhkan kawan dan membuat orang menghindarkan diri. Sebab pekerjaan Paine ini, ialah pekerjaan mengangkap saudagar gelap, sehingga orang baik yagn kaya maupun yang miskin menjadi tak senang kepadanya. Disebabkan ketidak-telitian dalam menjalankan peraturan, maka ia dipecat dari jabatannya. Paine kembali megnerjakan pekerjaan membuat korset selama waktu singkat. Kemudian ia hidup melarat sebagai seorang guru yang bergaji f25/ setahun di Kensington.  Setelah kemudian ia dipulihkan kembali dalam jabatan pabena, ia kawin untuk kedua kalinyad alam tahun 1771 lalu menyertai istri dan mertuanya menjalankan sebuahtoko tembakau dan rempah-rempah, sebagai cara untuk menambah pendapatannya.

Selama tahun-tahun yang akhir ini, Paine sering sekali mengunjungi White Heart Tavern, tempat pertemuan sebuah perkumpulan sosial yang ia masuki sebagai anggota. Untuk kepentingan pendidikan anggota-anggota perkumpulan ini ia menulis sajak-sajak lucu dan lagu-lagu patriotik, disamping sekaling-sekali menulis karangan-karangan mengenai persoalan-persoalan yang lebih dalam sering kali ia terlibat dalam perdebatan menyebabkan kawan-kawan sejawatnya dijabatan pabean memilih dia sebagai juru-bicara mereka dalam suatu permintaan kenaikan gaji dan perbaikan keadaan pekerjaan. Selama berminggu-minggu Paine asyik menyiapkan sebuah karangan yang berkepala “masalah gaji pejabat-pejabat pabean dan pendapat-pendapat mengenai korupsi yang disebabkan oleh kemiskinan pejabat-pejabat pabean”. Dalam musim dingin tahun 1772-1773, ia pergi ke Londong untuk mengajukan permintaan itu kepada anggota parlemen dan pejabat-pejabat lain.

Tapi bukan saja petisi yang ia majukan atas nama pejabat-pejabat cukai itu ditolak, malahan ia diperhentikan akrena menyia-nyiakan pekerjaan. Kedai tembakaunya jatuh rugi, perabot rumah tanggan dan ahrta bendanya yang lain terpaksa dijual untuk menghindarkan dia dari hukuman penjara yang telah disap-siapkan oleh mereka yang berpiutang padanya; dan ia berpisah dari isterinya. Begitulah, tatkala umurnya sudah hampir separuh baya, ia tinggal seorang diri dengan tak ada uang sepeserpun juga.

Untunglah, waktu ia pergi ke London, Paine bertemu dengan Benjamin Franklin yang lagi berada disana sebagai komisaris daerah jajahan, dan Franklin, barangkali karena ia lihat, bahwa paine adalah seseorang yang berotak cerdas, menganjurkan kepada Paine untuk mencoba nasib di Amerika. Sepucuk surat pengantar dari Franklin yang dialamatkan kepada menantunya, Ricahrd Bache di Philadelphia melukiskan Paine “sebagai seorang anak muda yang patut dan cendekia”, dan ia menganjurkan supaya Paine dijadikan kerani, seorang guru bantu disekolah atau seorang pembantu pengawas. Surat ini adalah bekal Paine satu-satunya waktu it mendarat di Philadelphia dipermulaan bulan Desember tahun 1774.

Tapi, dalam dirinya Paine juga membawa bekal yang lain bentuknya dan yang tak ternilai harganya – dasar yang diiperolehnya dari pengalaman-pengalamannya dimasa lampau. Ia telah melihat cara-cara yang lancang dan primitif yang dipergunakan orang dalam menjalankan keadilan di Inggris; ia telah mengenal kemelaratan yagn pahit; ia telah melihagt jurang yang lebar yagn memisahkan rakyat jelata yang jutaan jumlahnya dari segolongan kecil anggota keluarga raja dan kaum bangsawan di Inggris; dan ia tahu skema yang busuk yang dipergunakan kotapraja dalam pemilihan naggota-anggota House of Commons dan ia tahu kedunguan dan korupsi-korupsi yang dijalankan oleh keluarga-keluarga raja. Setelah merenungkan hal-hal ini sedalam-dalamnya, lalu Paine dirasuki oleh suatu semangat yang bergelora bagi peri-kemanusiaan, cinta yang besar pada demokrasi, dan suatu kemauan berjuang untuk mengadakan perobahan secara universil dalam soal kemasyarakatan dan politik.

Segera setelah ia sampai ke Philadelphia, Paine lalu dipekerja karier Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima yang baru diterbitkan. Disana Paine bekerja hampir selama delapanbelas bulan, yaitu seumur dengan majalah itu. Dengan menyiarkan sebuah essay yang mengutuk perbudakan bangsa Negro dan pembelaan yang gigih bagi kemajuan, maka mulailah karir Paine yang panjang sebagai seorang pejuang. Lima minggu kemudian maka di Philadelphia didirikanlah perhimpunan Amerika yang pertama untuk memberantas perbudakan. Kemudian Paine menulis karangan-karangan yang membela kesamaan hak bagi kaum wanita, usul-usul mengenai hukum hak cipta internasional, pengutukan pengajiayaan hewan, cemooh atas adat-kebiasaan untuk berperang-tanding dan usul untuk menolak  peperangan dan menegakkan perundingan antara bangsa-bangsa.

            Tepat pada saat ia menulis, sebuah peperangan internasional dalam mana Paine kelaknya akan memainkan peranan penting sedang tumbuh dengan cepat. Dalam musim semi tahun 1775 terjadilah pertempuran-pertempuran Concord. Lexington van Bunder Hill. Setelah terjadi “pembegelan di Lexington” dalam bulan April, Paine menulis keapda Benjamin Franklin. “Tidaklah enak rasanya mengalami negeri ini terbakar sejadi-jadinya tepat pada saat aku memasukinya”.

Dalam mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan sengeketa ini, pendirian-pendirian di daerah koloni ini sangat terpecah-pecah. Waktu itu dikeluarkan pendapat-pendapat yang extrim seperti oleh Samuel Adams dan John Hancock yang menyetujui perperangan dan pendapat-pendapat yang menghendaki kesetiaan kepada raja seperti yang didukung oleh kaum Tory, George Washingotn, Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson tergolong kepada pemimpin-pemimpin yang menyatakan kesetiaan mereka kepada Inggris dan yang memandang pikiran-pikiran mengenai pemsiahan dan kemerdekaan dengan penuh curiga. Baik Kongres Kontinental yang pertama maupun yang kedua telah mengesahkan resolusi yang menegaskan hubungan tetap dengan mahkota Inggris, dengan hanya mengemukakan sedikit petisi mengenai permintaan bagi penyelesaian yang menyenangkan bagi rasa-rasa tidak-puas yang terdapat para penduduk koloni-koloni ini.

Ditengah-tengah pemikiran yang kacau-balau ini, diantara pendapat dan dorongan yang paling bertentangan,d itengah renggutan dan tarikan, seorang laki-laki telah dapat melihat dengan jernih arah dari jalannya kejadian dan akibat-akibat yang mungkin timbul dari padanya. Sejak semula. Thomas Paine beranggapan, bahwa pemisahan dengan Inggris adalah hal yang tak dapat dielakkan. Dan selama musim gugur tahun 1775 ia bekerja menuliskan buah-pikirannya. Sebelum hasil-kerja ini diterbitkan, maka terlebih dulu ia diperlihatkan oleh Paine kepada beberapa orang kawan, diantaranya Dr Benjamin rush yang mengusulkan supaya buku itu diberi nama Pikiran Sehat (Common Sense). Rush menolong Paine mencari seorang penerbit, Robert Bell, seorang pedagang buku dan pencetak berbangsa Scot di Philadelphia.

Pikiran Sehat, sebuah pamflet setelah 47 halaman yang “dituliss oleh seorang Inggris” telah diterbitkan pada tanggal 10 Januari 1776 dengan seharga dua shilling. Dalam waktu tiga bulan saja sudah terjual habis 120.000 jilid. Pengiriman penjualan seluruhnyayang mendekati jumlah setengah juta, adalah suatu jumlah yang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk yang ada masa itu, sama bersarnya dengan penjualan sejumlah tigapuluh juta di Amerika Serikat masa sekarang. Pendeknya bolehlah dianggap bahwa setiap orang yang pandai membaca diketigabelas koloni itu telah membaca buku ini. Biarpun penjualan begitu luar-biasa besarnya, Paine tidak bersedia untuk menerima uang honorarium biar sesenpun juga.

Beberapa Sampul buku dari karya penting Thomas Paine

Tidak ada buku dalam sejarah kesusasteraan yang mempunyai pengaruh begitu cepat seperti buku Pikiran Sehat. Buku ini adalah seperti serunai sangkakala yang memanggil kolonis-kolonis Amerika untuk bangkit memperjuangkan kemerdekaan mereka – tanpa kompromi dan tiada sangsi-sangsi. Paine telah menjelaskan kepada mereka, bahwa revolusi adalah satu-satunya jalan untuk menyelesaikan persengketaan mereka dengan Inggris dan raja George III. “karena tidak ada cara lain yang mencapai tujuan kecuali ledakan-ledakan,” demikian Paine menjelaskan, “maka oleh sebab itu demi Tuhan, marilah kita maju kepemisahan yang lengkap. Mahal, bahkan mahal sekali bayaran yang telah kita berikan untuk penarikan perjanjian-perjanjian itu – sekiranya hanya itu yang mau kita perjuangkan … alangkah dungunya k ita, jika kita memandang kejadian di Bunker Hill sebagai pembayaran untuk kepentingan hukum atau tanah …. Hal ini bukanlah masalah satu kota, satu daerah, satu propinsi ataupun satu kerajaan, tapi masalah ini adalah amsalah satu benua …. Hal ini bukan soal hari sehari, atau setahun ataupun sejaman, tapi keturunan kita terlibat dalam perjuangan ini …. Sekarang inilah waktunya untuk menabur benih bagi kesatuan sebenua, kesetiaan dan kehormatan …. Emban Benua telah ditarik terlalu longgar …. hanya kemerdekaan satu-satunya ikatan yang dapat mengikat dan mempersatukan kita.”

Sebuah bait yang agak lembut dan merapuhkan hati mengantarkan kita kedalam Pikiran Sehat:

Barangkali, gelora perasaan yang tertulis dihalaman-halaman buku ini belum lagi cukup luas dianut orang sehingga ia dapat memperoleh dukungan umum; suatu kebiasaan yang terlalu lama ada, yang tidak mau mengingat bahwa sesuatu adalah salah telah menimbulkan suatau gambaran dangkal yang memperlihatkan, bahwa sesuatu itu adalah benar adanya. Dan ia pertama-tama akan mengakibatkan suatu teriakan yang hendak mempertahankan kebiasaan. Tapi keramaian akan sergera surut. Waktu ternyata lebih banyak menyebabkan perubahan dari pada pikiran.

Bagian pertama pamflet ini membicarakan masalah asal dan sifat pemerintahan dengan Undang-undang Dasar Inggris sebagai contoh utama. Filsafat pemerintahan paine terkandung dalam kalimat-kalimat seperti berikut:

Pemerintahan, biarpun dalam keadaan yang sebaik-baiknya, sebetulnya adalah sebuah cacat yang keperluannya tak dapat dihindarkan. Dan dalam keadaannya yang paling buruk ia adalah sesuatu yang tak boleh dibiarkan … pemerintah seperti halnya dengan pakaian adalah sautu kesucian yang telah hilang. Istana raja-raja didirikan atas puing lindungan-lindungan surga … Makin sempurna peradaban, makin kurang perlunya pemerintahan.

Asal dan berkembangnya pemerintahan, demikian Paine mencoba meyakinkan pembacanya, “menjadi amat perlu, karena ketinggian moral tidak berkesanggupan untuk memerintah dunia ini; dalam hal inipun juga pola dan tujuan pemerintahan adalah: kebebasan dan keamanan”.

Ia memperlihatkan suatu perbedaan yang jelas antara masyarakat dan pemerintah. Manusia tertarik pada masyarakat, karena berkat bantuan kerjassama yang terjadi dalam masyarakat berbagai kebutuhan tertentu dapat dipenuhi. Dalam keadaan seperti ini manusia memiliki sejumlah hak-hak azasi, seperti kebebasan dan persamaan. Semestinya, manusia harus sanggup hidup dalam damai dan bahagia tanpa pemerintah, sekiranya “dorongan-dorongan hati sanubari manusia” adalah “bersih, serba serupa dan ditaati dengan tiada engkarnya”. Tapi karena manusia menurut sifatnya lemah dan karena dalam soal akhlak ia tidak sempurna, maka diperlukanlah daya-daya untuk mengendalikan. Dan daya-daya ini diberikan oleh pemerintah. Tapi, lebih lagi dari pada dari pemerintah, dan kesenangan rakyat. Adat-istiadat dan kebiasaan sosial, hubungan bersama dan kepentingan bersama manusia, umumnya lebih lagi berpengaruh dari pada lembaga-lembaga politik.

Paine kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan “menyajikan beberapa ulasan mengenai undang-undang dasar Inggris yang begitu dibanggakan orang”. Ia mengulas, “Bahwa undang-undang dasar ini adalah sangat agung jika dibandingkan dengan jaman gelap dan perbudakan, tatkala m ana ia dirumuskan, adalah sesuatu yang harus diakui. Waktu dunia dilanda oleh kelaliman, maka dari apdanya setidak-tidaknya telahd apat dipetik penyelamatan yang gemilang. Tapi bahwa ia tidak sempurna, mudah goncang dan tak sanggup memberikan apa yang elah ia janjikan, mudah sekali dibuktikan.” Apa yang ia anggap syarat ajasi bagi satu pemerintahan, yaitu tanggung jawab, menurut hematnya tidak ada sama s ekali dalam undang-undang dasar Inggris. Ia begitu ruwet sehingga mustahil untuk menentukan siapa yang harus bertanggung-jawab mengenai sesuatu. Satu-satunya bagian dari undang-undang ini yang ia puji, ialah bagian dimana undang-undang ini setidak-tidaknya secara teoritis, mengakui hak rakyat untuk memilih anggota House of Commons. Paine mengusulkan satu majelis legislatif tunggal yang anggotanya dipilih secara demokratis untuk pelbagai koloni, seorang presiden, kabunet, dengan cabang-cabang eksekutif yang bertanggung-jawab pada kongres.

Tapi kata-kata yang paling tajam dan hinaan yang paling pahit telah diberikan oleh Paine untuk bentuk kerajaan yang turun-temurun. Ia serang seluruh prinsip monarchi, terutama sebagaimana yang terdapat di Inggris.

Pemerintahan raja pertama-tama diperkenalkan kepada dunia oleh bangsa-bangsa biadab. Kebiasaan ini kemudian ditiru oleh kturunan-keturunan Israel. Inilah suatu pendapatan yang paling subur yang pernah ditanamkan oleh iblis untuk menganjurkan pemujaan. Bangsa-bangsa biadab mempersatukan hormat dan puja mereka kepada raja-raja mereka yang sudah mangkat. Dunia Nasrani kemudian memajukan kebiasaan ini dengan melakukan perbuatan yang serupa terhadap raja-raja mereka yang masih hdiup …. Kemudian disamping keburukan sistim kerajaan ditambahkan orang pula keburukan dari hak turun-temurun. Jika yang pertama dapat dianggap sebagai penurunan-martabat dan perendahan bagi diri kita sendiri, maka yang kedua yang dinyatakan sebagai saoal hak,dapat dianggap sebagai penghidupan dan beban yang berat bagi keturunan kita …. Bukti yang wajar dari kegilaan hak turun-temurun itu, ialah perbuatan alam sendiri yang menunjukkan tidak setujunya jika sekiranya ia setuju, maka ia tidak akan begitu sering menjadikan hak ini menjadi sebuah olok-olok dengan memberikan kepada manusia. Keledai yang belagak Singa.

Menurut pandangan Paine, sahnya keturunan raja Inggris sebegitu jauh sampai kesemenjak jaman Penaklukkan, adalah kebenaran yang dapat disangsikan. Seperti ia katakan, “Seorang belasteran Perancis mendarat dengan sekumpulan garong bersenjata dan menobatkan dirinya sendiri menjadi raja Inggris, tanpa kehendak atau persetujuan rakyat pribumi sendiri; jika diukur dengan kata-kata biasa, maka asal-usul yang rendah dan jahat. – Tak pelak lagi, yang seperti ini tidak mungkin menaruh sifat kedewaan dalam dirinya”. Sekiranya monarchi dapat menjamin suatu pengumpulan dari contoh-contoh manusia yang baik dan cendekia, maka tidaklah ia menimbulkan keberatan benar. “Tetapi ia membuka pintu bagi kaum yang gila, licik dan tak cakap ….. Manusia yang memandang dirinya sendiri sebagai makhluk yang sengaja dilahirkan untuk memerintah, sedangkan manusia lain hanya untuk mematuhi perintah. Golongan ini dengan segera akan menjadi golongan yang tak tahu malu. Dan sebagai mahluk pilihan dan kemanusiaan seanteronya jiwa mereka mudah sekali diracuni oleh rasa diri penting …. dan tatkala maereka memasuki pemerintahan maka golongan pemerintah ini menjadi golongan orang-orang paling bodoh dan paling tidak cakap diseluruh dominion.” Dengan mengijinkan raja-raja yang masih dibawah umur atau terlalu tua menduduki singgasana, orang juga akan beroleh rentetan keburukan; disatu pihak pemerintahan langsung atas negara akan berada dalam tangan wali raja, sedangkan dipihak l ain negara akan tergantung dari tingkah seorang raja yang telah lusuh dan tua-bangka.

Sebagai sanggahan terhadap mereka yang berpendirian, bahwa pemerintahan turun-temurun dapat menghindarkan perang-saudara. Paine mengemukakan, bahwa semenjak jaman Penaklukan Inggris telah mengalami “tidak kurang dari delapan kali peperangan-saudara dan sembilanbelas kali pemberontakan”. Keseimpulannya ialah:

Di Inggris kerja seorang raja hanya mengumumkan perang dan menghadiahkan istana. Dengan kata-kata biasa, ini berarti membuat negara jadi miskin dan menimbulkan rasa pecah-belah dalam tubuh negara itu sendiri. Memang enak rasanya diberi uang sebanyak delapan ratus ribu sterling setahun dan disamping itu disembah lagi. Tapi dalam mata Tuhan, seseorang yang jujur terhadap masyarakat, jauh lebih mulia adanya, dari semua perampok-perampok yang berhiaskan mahkota yang pernah hidup diatas dunia ini.

Paine telah menunjukkan hormatnya kepada George III dalam berbagai bagian dari bukunya. Tetapi setelah penyembelihan di Lexington terjadi, Paine menulis, “Aku menolak Firaun Inggeris yang keras dan sempit hari ini untuk selama-lamanya; dan kutuk laknat ini, yang telah beroleh sebutan “Bapak Rakyat”, tapi yang telah mendengarkan penyembelihan rakyat dengan tiada terharu sedikitpun, dan yang tetap bisa tidur pula biarpun darah rakyat melumuri ruhnya.” Dalam bait yang ia tulis kemudian ia tambahkan; “Tapi dimana, demikian seseorang bertanya, raja Amerika bertahta? Dengarkanlah kawan, ia bertahta diatas, dan ia tidak merusakkan kemanusiaan seperti yang telah dilakukan adikara bermahkota seperti yang terdapat di Inggris itu.

Setelah ia meruntuhkan pednapat-pendapat mengenai pemerintahan monarchi yang kebenarannnya diakui orang, lalu Paine melanjutkan pembicaraannya dengan mengemukakan “Beberapa pikiran tentang duduk persoalan Amerika sekarang ini”. Dibagian ini ia menitik beratkan pada alasan-alasan ekonomi dari pemisahan dengan Inggris. Sebagai sanggahan terhadap rasa-puas yang terdapat pada kaum Tory, yang berpendirian, bahwa Amerika maju berkat hubungannya dengan Inggris, Paine mengatakan:

Amerika akan sama kembangnya, bahkan mungkin lebih kembang lagi sekiranya tak ada suatu kekuasaan Eropa yang ikut mencampuri urusannya. Barang dagangan yang gtelah membuat ia kaya, adalah barang-barang yang diperlukan buat hidup dan selalu akanb eroleh pasaran, karena bersantap adalah salah satu istiadat Eropa …… Gandum kita akan diharagai disetiap pasar Eropa, sedangkan barang impor-impor dapat kita bayar dan kita beli dimana saja kita  mau.

Kenyataan, bahwa Britania telah memberikan perlindungan bagi koloni-koloni ini terhadap Spanyol, perancis dan bangsa Indian, diremehkan olehh Paine dengan komentar, bahwa, “Ia akan membela Turki dengan alasan-alasan yang sama, yaitu kepentingan dagang dan dominion”, dan lagi pula ongkos pertahanan ini “bukan mereka saja yang membayar, tapi ketapun ikut juga”.

Salah satu ikatan terkuat yang menyebabkan koloni-koloni ini enggan memisahkan diri, menurut Paine, ialah adanya suatu rasa sentimentil yang memandang negeri Inggris sebagai negeri ibu. Jika ini benar, “Maka Inggris sebetulnya harus merasa lebih malu lagi karena tingkah-laku yang telah ia perbuat. Karena, bahkan hewan tidak akan suka memakan anak-anaknya sedangkan orang biadab tidak pernah berperang dengan keluarganya sendiri ….. Sebutan Orang Tua atau ibu telah dipergunakan dengan cara Jezuitis oleh raja-raja dan parasit yang berada sekelilingnya dalam rangka semacam “bapak-isme” yang rendah untuk memperoleh suatu keuntungan yang tidak pada tempatnya atas jiwa mudah-percaya kita yang lemah. Eropalah, dan bukan Inggris yang boleh disebut negeri ibu Amerika”. Dunia Baru ini, demikian ia nyatakan, telah menjadi “pelindungan bagi pencinta-pencita kemerdekaan agama dan sipil yang telah diburu-buru, dari setiap pelosok Eropa … Tidak sampai sepertiga dari seluruh jumlah penduduk, bahkan dari propinsi inipun tidak, yang berasal dari keturunan Inggris. Karena itu saja tolak pendirian yang menganggap negeri Inggris sebagai negeri ibu atau negeri leluhur, sebagai suatu pendirian yang salah, sempit, egoistis dan jauh dari pada mulia”.

Ia tekah mendahului suatu peringatan yang kemudian akan diucapkan oleh George Washington dan yang berbunyi “membersihkan diri dari persekutuan-persekutuan abadi dengan bagian yang manapun juga dari dunia luar”, dan ucapan Thomas Jefferson “Berdamai, berdagang dan bersahabat dengan jujur dengan setiap negera – tidak mengikatkan diri dalam suatu persekutuan dengan negara yang manapun juga”, dengan menggambarkan bagaimana besarnya kerugian yang akan dialami jika hubungan dengan Inggris tetap dilanjutkan.

….. karena, setiap kepatuhan atau perserikatan dengan Britania Raya, akan menyebabkan terseretnya benua ini dengan langsung kedalam peperangan dan percekcokan Eropa; kita akan diadu dengan negara-negara yang sebenarnya mencari persahabatan kita dan terhadap siapa kita tidak pernah menaruk dendam ataupun keberatan-keberatan. Karena pasaran bagi perdagangan kita terdapat di Eropah, maka kita tidak boleh mengadakan hubungan sama-sepihak dengan salah satu dari bagian-bagiannya. Buah Amerika adalah penting sekali untuk menjauhkan diri dari pada sengketa-sengketa Eropa. Tapi sikap ini tidak akan dapat dilaksakan oleh Amerika, berhubung dengan ikatannya dengan Inggris, dalam ikatan mana ia menjadi batu-pemberat dalam timbangan politik Britania. Eropa begitu rapat ditumbuhi kerajaan-kerajaan sehingga tidaklah mungkin untuk mempertahankan perdamaian disana dalam jangka waktu yang lama. Dan setiap kali pecah peran antara Inggris dan suatu negara asing, maka perdagangan Amerika akan ikut hancur, semata-mata karena Amerika mempunyai ikatan dengan Inggris.

Bermacam-macam kenyataan yang tidak menyenangkan yang disebabkan oleh pemerintah Inggris, kemudian dipaparkan oleh Paine. Dan ia menyimpulkan, bahwa:

Inggris tidaklah mampu untuk memperlakukan benua ini dengan adil; pekerjaan segera akan menjadi begitu berat dan ruwet sehingga ia tidak akan dapat diselesaikan dengan memberikan kepuasan yang layak, oleh sesuatu negara yang jauh letaknya dari kita dan yang tidak mengerti sama sekali hal ikhwal kita. Telah ternyata, bahwa mereka tidak kuasa untuk menaklukkan kita, dan karena itu mereka juga tidak akan kuasa untuk memerintah kita. Kebiasaan untuk pergi pulang-balik sejauh tiga atau empat ribu  mil dengan sebuah lapuran atau petisi, k emudian menunggu jawaban selama tiga atau empat bulan dan kemudian ditambah lagi waktu lima atau enam bulan untuk memberikan penjelasan, tidak berapa lagi akan kita sadari sebagai suatu kebiasaan yang gila dan kekanak-kanakan …………. Suatu pendirian yang beranggapan, bahwa sebuah benua harus diperintah oleh sebuah pulau untuk selama-lamanya adalah sebuah pendirian yang edan. Belum lagi pernah terjadi alam membuat satelit lebih besar dari planet ibunya.

Untuk mereka yang bimbang dan berhati lemah yang masih percaya pada kemungkinan perseuaian dan rujuk, Paine mengajukan suatu sanggahan yang bersemangat:

Dapatkah tuan-tuan menegakkan kembali jaman yang telah lalu? Sanggupkah tuan-tuan memberikan kepada seorang perempuan lacur kemurnian kedaraannya kembali? Demikianlah juga, tuan-tuan tidak akan dapat mempersatukan Inggris dan Amerika kembali. Tambatan terakhir telah putus, rakyat Inggris telah mengeluarkan ucapan-ucapan yang menentang kita. Banyak cedera-cedera yang tan gmungkin dimaafkan alam, karena alam sendiri akan berhenti jadi alam, jika cedera itu ia maafkan. Seperti seorang kasmaran tak akand apat memaafkan perkosaan atas kekasihnya, begitu juga sebuah benua tidak mungkin memaafkan pembegal-pembegal dari Britania.

Sedang seantero dunia diinjak-injak olehpenindasan-penindasan, Amerika harus membuka pintunya seluas-luasnya bagi kemerdekaan dan mempersiapkan tempat menyelamatkan diri bagi kemanusiaan yang diburu-buru.

Paine mengisi bab penutupnya dengan beberapa pandangan praktis tentang “kesanggupan Amerika  hari ini”, dimaksudkan sebagai pengukuh kepercayaan terhadap diri sendiri orang Amerika dan untuk meyakinkan mereka, bahwa mereka mempunyai cukup tenaga manusia, pengalaman-pengalaman berusaha dan sumber-sumber alam, tidak saja cukup untuk memenangnkan suatu peperangan dengan Inggris,  tapi, jika perlu, bahkan untuk mengalahkan dunia yang bersikap bermusuhan. Koloni-koloni ini memiliki sejumlah besar perajurit-perajurit bersenjata dan berdisiplin baik. Sebuah armada yang dapat ditandingkan denan armada Inggris dapat dibangunkan dalam waktu singkat, karean ter-papan, besi dan tali-temali tersedia dengan cukup, sedangkan “Pembangunan kapal adalah kebangaan Amerika terbesar dan dalam usaha ini ia akan lebih majud ari seluruh dunia”. Pendeknya sebuah angkatan laut untuk kepentingan pertahanan dan perlindungan adalah perlu, sebab angkatan laut Inggris “tiga atau empatribu mil jauhnya dari kita tidak seberapa besar pertolongannya; dalam keadaan mendesak angkatan laut ini tidak bisa diharapkan sama sekali”.

Dalam suasana pertentangan keagamaan dalam mana ia sering terlibat, pandangan-pandangan keagaam Paine dalam masa hidupnya saat itu, adalah sangat menarik untuk diperhatikan:

Dalam soal agama, saya berpendapat bahwa pemerintah mempunyai kewajiban mutlak untuk melindungi semua penganut-penganut yang beriman dari setiap agama. Dalam soal ini pemerintah tidak boleh campur tangan sama sekali (Rupanya ucapan ini dikeluarkan terhadap gereja yang sudah kukuh kedudukannya dan untuk membela pemisahan gereja dan negara) ………….. Sedangkan mengenai diriku sendiri, dengan penuh dan sungguh-sunggu aku percaya, bahwa Yang Mahakuasa berkehendak supaya diantara kita terdapat beragam-ragam perndapat keagamaan dan dengan demikian memberikan kesempatan lebih luas bagi rasa cinta-kasih ke-Nasranian kita. Sekiranya serupalah cara kita semua berpikir, maka kecondongan-kecondongan keagamaan kita akan menginginkan hal-hal untuk diuji. Berdasarkan prinsip ini, aku memandang beragam mazhab yang terdapat antara kita sebagai anak-anak dari suatu keluarga, hanya berbeda dalam apa yang oran gsebutkan nama Nasraninya.

Sambil meringkaskan kembali sendi keyakinannya, bahwa “tidak ada cara yang dapat menyelesaikan persoalan kita begitu tepat kecuali dengan jalan mengumumkan kemerdekaan dengan terus terang dan tegas”. Paine mengakhiri Pikiran Sehat-nya dengan mengemukakan empat faktor: (1) selama Amerika masih dianggap jajahan Inggris, maka tidak ada negara lain yang akan mau mencoba menajdi pengantara dalam pertikaian kedua negeri ini; (2) dari Perancis atau Spanyol tidak bisa diharapkan bantuan untuk memulihkan dan mempersatukan Amerika dan Inggris kembali karena perbuatan ini akan bertentangan dengan kepentingan mereka; (3) Jika rakyat Amerika menyatakan, bahwa mereka berada dibawah kekuasaan Inggris, maka rakyat Amerika akan dianggap pemberontak oleh negeri-negeri asing dan dengan demikian tidak akan banyak beroleh simpati; (4) sebaiknya rakyat Amerika menyusun sebuah manifesto dan menjelaskan keberatan-keberatan mereka terhadap Inggris serta maksud untuk memutuskan segala ikatan dengannya. Naskah pernyataan ini dalam mana juga dijelaskan maksud-maksud damai serta keinginan untuk mengadakan hubungan dagang, dikirimkan keluar negeri. Dengan cara demikian hasil yang akan diperoleh tentu besar sekali.

Paine meakhiri pembicaraannya dengan menyatakan:

… sampai kemerdekaan dinyatakan, benua ini akan merasa dirinya seperti seseorang yang selalu mengundurkan saja suatu pekerjaan yang tak enak sedangkan ia tahu betul, bahwa pekerjaan itu tidak boleh tidak harus ia lakukan; ia segan memulainya, ia memimpikan bahwa pekerjaan ini telah selesai, dan ia tak kunjung-kunjungnya dimomoki oleh perasaan bahwa pekerjaan ini betul-betul tak bisa ia elakkan.

Karena itu, dari pada saling pandang-memandang dengan penuh kecurigaan dan ras ingin tahu yang berisi kebimbangan, marilah kita saling mengulurkan tangan yang tulus dan penuh rasa persahabatan dan bersatu membentuksuatu barisan sebagai lambang dari pemberian maaf dan dapat menghilangkan perselisihan yang selama ini ada. Marilah kita hilangkan nama-nama seperti “tory” dan “whig” dan janganlah hendaknya ada sebutan lain yang kedengaran kecuali sebutan warganegara yang baik; seorang sahabat yang lapang hati dan berpendidrian tegas; seorang penyokong yang jujur dari HAK-HAK MANUSIA dan suatu NEGERA AMEREKA SERIKAT YANG MERDEKA.

Inilah pesan revolusioner yang disampaikan oleh Pikiran Sehat kepada rakyat Amerika, pesan yang berisikan suatu lingkupan nada suara mulai dari alasan-alasan yang terhentak ektanah,  realistis, praktis, sampai keseru-seruan yang dibebani emosi, pejuang yang garang, ajakan-ajakan yang mendorong yang dikeluarkan seoran gagitator yang ulung.

Akibat langsung dan menggegerkan dari kitab Pikiran Sehat ini dapat diperlihatkan dengan jalan mengutuip ucapan-ucapan pemimpin yang ada kala itu. Kebimbangan George Washington hilang sama sekali tatkala ia menulis kepada Joseph Reed di Norfolk.

“Jika ditambahkan kepada ajaran-ajaran sehat dan alasan-alasan yang tak dapat diengkari seperti yang terdapat dalam pamflet Pikiran Sehat, beberapa lagi dari pendirian-pendirian yang bernyala-nyala seperti yang telah diperlihatkan di Falmounth dan Norfolk, maka tidak banyak lagi orang yang tidak sanggup memutuskan untuk berpihak kepada kebenaran dari pemisahan”; dan beberapa minggu kemudian ia menulis lagi, juga kepada Reed “Berdasarkan surat-surat pribadi yang baru-baru ini saya terima dari Virginia, saya melihat, bahwa disana Pikiran Sehat karangan Paine telah menimbulkan perobahan pikiran pada banyak orang”.  Dan John Adams menulis kepada isterinya. “Bersama ini saya kirimkan sebuah pamflet berkepala Pikiran Sehat yang ditulis sebagai pembelaan bagi kebenaran, bahwa pembendungan perbutan kelaliman dimasa datang dan penghancuran penindasan akan segera diyakini oleh rakyat banyak – berdasarkan alasan-alasan yang banyak harapan ini mungkin sekali terlaksana”. Agigail, setelah membacanya menjawab. “adalah sebagai sinar Pembaruan yang telah datang pada waktunya benar untuk menghilangkan kebimbangan kita dan menentukan pilihan kita”. Benjamin Rush berkata tentang tulisan Paine. “Mereka menyembur dari percetakan dengan suatu akibat yang sampai sekarang belum pernah dicapai oleh kertas dan mesin cetak di negeri manapun juga dan dalam masa kapanpun juga”; Jenderal Charles Lee menambahkan, “Kuakuilah, ia telah meyakinkan aku”; dan Franklin mencatat, “Akibatnya menakjubkan”; dan William Henry Drayton melaporkan, bahwa “Penyiaran ini jatuh sebagai ledakan guntur atas anggota-anggota Kongres Benua”.

Dalam kitabnya Sejarah Revolusi Amerika Sir George Trevelyan mengulas:

Tidaklah mudah untuk meyebutkan sebuah ciptaan manusia yang mempunyai akibat yang sekaligus begitu langsung, begitu luas dan begitu lama … Buku ini “digarong,” dari setiap negara dimana republik baru ini mempunyai penyokong-penyokong…. Menurut koran-koran kala itu Pikiran Sehat telah membalikkan beribu orang kepada kemerdekaan; orang-orang yang sebelumnya tak menyukai pikiran itu sama sekali. Akibatnya tak kurang dari akibat suatu keajaiban dan ia telah merubah kaum Tory menjadi Whiq.

Dalam masa beberapa bulan setelah Pikiran Sehat ini terbit kebanyakan negara-bagian telah memerintahkan wakil-wakil mereka untuk memberikan suara setuju pada kemerdekaan. Hanya Maryland yang masih sangsi dan New York menolak. Pada tanggal empat bulan Juli tahun 1776, kurang dari enam bulan setelah pamflet Paine yang termasyur ini keluar dari percetakan, Kongres Benua yang mengadakan pertemuan di State House Philadelphia memproklamirkan kemerdekaan negara Amerika Serikat. Sesungguhnya Paine tidak menulis permyataan kemerdekaan itu, ia bekerja rapat sekali dengan Thomas Jefferson waktu pernyataan itu disusun. Kecuali bagian yang menyatakan peniadaan perubdakan yang diperjuangkan oleh Paine, semua dasar-dasar yang ia kemukakan dalam Pikiran Sehat dimasukkan kedalam manifesto yang jaya ini.

Perjalanan hidup Paine selanjutnya menunjukkan hubungan yang tak langsung dengan riwayat Pikiran Sehat. Hal-hal yang pokok dengan secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut. Segera setelah Kemerdekaan diumumkan, ia masuk kedalam tentara revolusi. Sebagai seorang jurubicara yang bijak buat perjuangan Amerika ia telah memberikan sumbangan yang besar untuk kepentingan kesatuan dan semangat nasinal dengan serentetan paflet-pamflet yang setiapnya berkepala Krisis. Pamflet yang pertama mulai dengan kalimat yang begitu sering dikutip orang; “ada masa yang menguji jiwa manusia. Perajurit musim panas dan patriot-pagriot dalam sinar terang akan mengundurkan diri dari pengabdian kepada tanah airnya dalam krisis ini; tapi ia yang kini berdiri tegak dan bertahan berhak atas cinta dan terima kasih baik dari laki-laki maupun perempuan.” Beberapa bulan kemudian setelah melihat kesanggupan Paine sebagai seorang propagandis dan pembangunan semangat, Kongres menarik Paine dari tentara dan mengangkatknya sebagai Sekretaris Panitia Urusan Luar Negeri – pada hakekatnya Menteri Luar Negeri. Secretary of State, Amerika yang pertama. Pelbagai pertentangan faham memaksa ia untuk mengundurkan diri dari jabatan itu. Sesuah itu ia diangkat menjadi Pegawai Dewan Pennsylvania. Dalam tahun 1781 ia dikirim ke perancis bersama John Laurens untuk meminta bantuan keuangan bagi pemerintah Amerika yang lagi kekurangan uang. Dalam tahun itu juga ia kembali dengan uang dan pelbagai persediaan kebutuhan.

Setelah dalam tahun 1783 revolusi berakhir, paine memusatkan pikiran pada penemuan-penemuan mekanis. Ia menciptakan jembatan gantung dari besai yang pertama dan ia mengadakan percobaan-percobaan dengan tenaga uap. Berhubung dengan adanya beberapa masalah teknis, maka diputuskanlah untuk meminta pertolongan insinyur-insinyur Inggris dan Perancis dan dalam tahun 1787 Paine berangkat ke Eropa dimana ia bermukim selama limabelas tahun.

Segera setelah ia sampai, Revolunsi Perancis pecah dan Paine menyokong kejadian ini dengan penuh semangat sebagai pembelaan selanjutnya bagi pikiran-pikiran demokratisnya. Sebagai pembelaan bagi revolusi dan tangkisan atas serangan Edmund Burke ia menulis Hak-hak Manusia (The Rights of Man) yang termasyur. Untuk menghindarkan tangkapan atas tuduhan penghianatan – sebagai hasil dari koktrin-doktrik yang terdapat dalam buku ini – ia terpaksa dengan cepat meninggalkan Inggris dan melarikan diri ke Perancis, dimana ia dipilih untuk duduk dalam Konvensi sebagai anggota yang mewakili Calais. Dalam suatu percobaan untuk menyelamatkan raja Louis XVI dari tangan Roberspierre dan Marat. Sehingga, waktu tokoh-tokoh ini menduduki kursi pemerintah, Paien lalu; ditangkap, dilucuti dari kedudukannya sebagai warga negara kehormatan Perancis, dipenjarakan selama sepuluh bulan dan untung saja masih bisa diselamatkan dari guillotine. Setelah ia dibebaskan dengan perantaraan duta besar Amerika James Monroe, ia beristirahat dikediaman Monroe sampai sehat kembali.

Kerja besarnya dari jaman ini ialah Jaman Akal (The Age of Reason) yang kadang-kadang disebut juga “injil kaum atheis”. Sebetulnya Paine adalah seorang theis yang alim, yang percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Jaman Akal, biarpun bersikap sangat kritis terahadap Perjanjian Lama, sebetulnya ia tulis untuk membendung gelombang dari atheisme yang memukul di perancis selama jaman revolusi itu. Sungguhpun begitu para ahli agama dan golongan-golongan agama kuno keras mengutuk Paine sebagai seroang radikal yang berbahaya dan seorang murtad.

Waktu Paine kembali ke Amerika dalam tahun 1802, ia tidak disambut sebagai pahlawan revolusi, malahan pemimpin-pemimpin politik dan anggota-anggota gereja dengan sungguh-sungguh menutuk dia, karena ia telah mengarang Jaman Akal dan karena teori-teori politiknya yang radikal. Di New Rochelle, New York, dimana kemudian ia berdiam, ia tidak diberi ijin ikut pemilihan umum, dengan alasan, bahwa ia bukan warganegara Amerika lagi. Bahkan orang telah mencoba untuk membunuhnya. Setelah ia selama tujuh tahun yang pahit mengalami penghinaan, kebencian, ketak-pedulian, kemelaratan dan kesehatan yang buruk, ia meninggal dalam tahun 1809, sewaktu ia berumur tujuhpuluh dua tahun. Baginya tak diberikan ijin untuk berkubur diperkuburan kaum Quaker.

Tapi kepalsuan, kepahitan dan prasangka yang kuat dari tahun-tahun terakhir kehidupan Paine, masih saja berlarut-larut sampai jaman kini. Theodore Roosevelt menyebutnya “seorang atheis kecil yang busuk”, sungguhpun, seperti Kerajaan Suci Roma, yang bukan suci, bukan Roma dan bukan pula kerajaan, demikian juga Paine bukan seorang atheis, bukan seorang kecil dan bukan pula busuk. Sampai-sampai tahun 1933, sebuah acara radio mengenai Paine telah disingkirkan dari sebuah pemancar radio New York. Baru dalam tahun 1945, empatpuluh lima tahun setelah Ruang Kemasyuran dari Orang-orang Besar Amerika didirikan, ia terpilih untuk dimasukkan kedalamnya. Dalam tahun ini juga kota New Roschelle memulihkan hak kewarganegaraan pahlawan revolusi ini yang tidak ia miliki lagi semenjak tahun 1806.

Patung Thomas Paine diabadikan sebagai penghormatan atas kebesaran pemikirannya

Dialah orang, yang barangkali lebih lagi dari yang lain-lain berhak untuk beroleh gelaran “Penegak Kemerdekaan”, orang yang mula-mulai memakai ucapan “Negara Amerika Serikat’, yang meramalkan, bahwa “Amerika Serikat dalam sejarah sama besar kedengarannya seperti kerajaan Britania Raja”, dan yagn menyatakan, bahwa “Perjuangan Amerika ini, dalam ukuran besar, adalah perjuangan kemanusiaan”. Tidak ada kenyataan yang dapa menggambarkan watak paine lebih terang dari pada jawaban yang ia berikan pada ucapan Franklin yang berbunyi: “Dimana kemerdekaan berada disitulah negeriku”. Paine membalas; “dimana kemerdekaan tidak ada, disitulah negeriku.”

Tapi dalam jamannya sendiri lagu kebencian dan salah sangka terhadapnya tidaklah begitu merata mendalamnya. Andrew Jackson berani mengatakan. “Thomas Paine tidak memerlukan monumen yang diperbuat dengan tangan: ia telah mendirikan sebuah monumen dalam setiap ahti pencinta kemerdekaan”. (*)

Continue Reading

Editor's Choice

Pemikiran Filsafat Claude Levi-Strauss

mm

Published

on

Claude Levi-Strauss lahir dalam sebuah keluarga Yahudi-Belgia pada tahun 1908. Kedua orang tuanya adalah seniman sehingga saat ia belajar membaca dan menulis di tangannya selalu terdapat kuas atau krayon.

Meskipun ia mendapatkan agregation dalam bidang filsafat di Sorbonne pada awal tahun 1930-an, keinginan untuk melepaskan diri dari ortodoksi filosofis yang saat itu sedang populer di Paris (neo-Kantianisme, Bergsonisme, fenomenologi, dan kemudian eksistensialisme) mendorong Levi-Strauss untuk menerima jabatan profesor antropologi di Universitas Sao Paulo, Brasil. Kemudian, setelah mengikuti tugas kemiliteran di Prancis, untuk menghindari pengejaran, Levi-Strauss melarikan diri ke Amerika Serikat. Sejak tahun 1941 sampai tahun 1945, ia mengajar di New School for Social Research, New York. Pada tahun 1941 ia bertemu dengan Roman Jakobson yang berpengaruh besar dalam membentuk pandangan linguistik dan strukturalis yang ada pada pemikiran antropologi Levi-Strauss pada zaman sesudah perang.

Levi-Strauss tidak hanya mengambil jarak terhadap filsafat Prancis pada masanya, ia juga mengambil jarak terhadap interpretasi ortodoks tentang Durkheim, yang membentuk aspek-aspek positivistik dan evolusionistik pemikirannya. Walaupun begitu, faktor yang memainkan peranan penting dalam membentuk alur pergulatan intelektualitas Levi-Strauss adalah penafsiran ulang terhadap karya dan pemikiran Mauss, yang adalah hasil didikan Dukheim.

Dalam karya klasik tentang kaitan antara kekerabaan dan pertukaran – The Elemtary Structures of Kinship (1949) – Levi-Structures menguraikan kebiasaan seperti berikut. Dalam sebuah restoran sederhana di Prancis bagian Selatan, khususnya di daerah pertanian anggur, satu hidangan makan biasanya disertai dengan satu botol kecil anggur. Jumlah dan kualitas untuk setiap hidangan selalu sama: satu gelas kecil anggur dengan kualitas terendah. Pemilik anggur ini tidak menuangkan anggur ke dalam gelasnya, tetapi ke gelas temannya. Jika terjadi sebaliknya (balas menjamu), maka jumlah yang diberikan selalu sama.[1] Pertukaran anggur menjadi cara untuk membentuk hubungan sosial. Selain itu, dalam mikrokosmos ini, kaitan antara pertukaran dan “fakta sosial total” dibukakan, karena yang penting itu bukanlah yang dipertukarkan, melainkan fakta adanya pertukaran itu sendiri, yaitu kenyataan yang tidak bisa dipisahkan dari tatanan kehidupan sosial.

Di sini akan diperkenalkan dua aspek penting antropologi Levi-Strauss. Yang pertama adalah prinsip yang mengatakan bahwa kehidupan sosial dan kultural tidak bisa dijelaskan secara unik oleh satu versi fungsionalisme; kehidupan kultural tidak bisa diterangkan dalam kerangka sifat-sifat intrinsik gejala yang terkait dengan kehidupan itu. Ia juga tidak bisa dijelaskan secara empiris dengan menggunakan fakta yang diharapkan bisa berbicara sendiri. Singkatnya, meskipun penelitian empiris merupakan bagian penting dari karyanya, Levi-Strauss bukanlah seorang empirisis. Namun demikian, ia selalu berpandangan bahwa ia adalah seorang ahli antropologi struktural. Sebagai yang diilhami oleh Saussure, secara umum antropologi struktural menitikberatkan perhatian pada bagaimana unsur-unsur dari suatu sistem bergabung bersama-sama, bukannya pada nilai-nilai intrinsik mereka. Pengertian penting di sini adalah “perbedaan” dan “hubungan”. Selain itu gabungan unsur-unsur ini akan membangkitkan pertentangan dan kontradiksi yang membangkitkan dinamisme kehidupan sosial.

            “Lingkup” adalah aspek penting lain dalam pendekatan Levi-Strauss. Bila banyak peneliti sosial lain membatasi penafsiran tentang kehidupan sosial pada masyarakat tertentu yang mereka teliti, maka Levi-Strauss menggunakan pendekatan universalis. Ia berteori  berdasarkan data yang diperolehnya sendiri dan yang diperoleh dari peneliti lain.

Dari semua kritik yang pernah dilayangkan kepada Levi-Strauss, kritik yang mengatakan bahwa teori yang disusunnya itu dibuat berdasarkan pengamatan lapangan yang kurang memadai kebanyak datang dari negara-negara yang berbahasa Inggris. Negara-negara ini memang memiliki tradisi empiris yang sangat kuat.

Yang dipertaruhkan oleh karya Levi-Strauss itu secara umum cukup besar. Mereka terkait dengan upaya untuk menunjukkan bahwa jika data sudah ada di tangan, mereka tidak bisa dijadikan landasan untuk membentuk suatu hierarki masyarakat, baik itu dalam kerangka kemajuan ilmiah maupun dalam kerangka evolusi kultural. Akan tetapi, setiap masyarakat atau kultur menampilkan ciri-ciri yang juga terdapat, banyak atau sedikit, dalam masyarakat atau kultural lainnya. Levi-Strauss berpendapat demikian karena ia yakin bahwa yang membentuk manusia itu adalah dimensi kultural (yang didominasi bahasa), bukan alam atau yang “alami”. Struktur simbolik kekerabatan, bahasa, dan pertukaran barang menjadi kunci pemahaman tentang kehidupan sosial, bukan biologi. Memang sistem kekerabatan membuat alam berada pada posisi defensif; sistem kekerabatan adalah gejala kultural yang didasarkan atas larangan terhadap hubungan incest, dan hubungan ini bukanlah suatu gejala alami. Hal-hal ini memungkinkan masuknya yang alami ke dalam kultur, yaitu ke dalam lingkungan yang sepenuhnya  manusiawai. Untuk memahami hal ini, lebih lanjut akan kita tinjau pengertian struktur menurut Levi-Strauss.

            Bagi Levi-Strauss, “struktur” itu tidak identik dengan struktur empiris (apakah itu berbentuk kerangka atau arsitektur) suatu masyarakat tertentu seperti yang ada dalam karya Radeliffe Brown. Dengan demikian, struktur itu tidak ada dalam realitas yang tampak tetapi merupakan hasil dari paling sedikit tiga unsur, dan tiga unsur inilah yang memberinya dinamika.

Selain itu, kita harus akui bahwa dalam oeuvre Levi-Strauss terdapat kemenduaan antara jenis strukturalisme yang melihat struktur sebagai suatu model abstrak yang dihasilkan dari analisis terhadap suatu fenomena. Fenomena yang dimaksudkan disini adalah yang terlihat sebagai sistem perbedaan yang bersifat statis – yang mengutamakan dimensi sinkronis – dengan pengertian tentang struktur sebagai yang bersifat terner, yaitu yang secara inheren mengandung aspek dinamis. Unsur ketiga dalam struktur terner ini selalu kosong, dan bisa mengambil makna apa pun juga. Ini bisa berupa suatu unsur diakronis, yaitu unsur sejarah dan kekontingenan, aspek-aspek yang bertanggungjawab demi berlangsungya gejala-gejala kultural dan sosial. Kendatipun penjelasan Levi-Strauss tentang yang “struktural” dalam analisis struktural[2] cenderung menitikberatkan perhatian pada dimensi-dimensi sinkronis, ternyata karyanya jelas-jelas cenderung melihat struktur sebagai yang bersifat terner dan dinamis. Hal ini bisa kita lihat dalam tulisan-tulisan pokok Levi-Strauss tentang kekerabatan, mitos, dan seni.

Karya Levi-Strauss, Introduction to the Work of Marcel Mauss,[3] yang diterbitkan setelah munculnya The Elementary Structures of Kinship menunjukkan bawah walaupun pertukaran yang ada dalam karya Mauss, Essay on Gift, setara dengan “fakta sosial total”, Mauss lupa menyadari bahwa pertukaran itu juga merupakan kunci untuk memahami gejala mana. Meskipun Mauss melihat bahwa pertukaran itu merupakan suatu konsep yang dibangun oleh para antropolog dan tidak memiliki kandungan instrinstik, ia memperlakukan mana secara berbeda. Seperti Durkheim. Mauss memberinya makna seperti yang ada dalam masyarakat asli, makna yang melihat mana sebagai yang memiliki kandungan instrinsik dan suci.

Di sisi lain, Levi-Strauss berpendapat bahwa  keanekaragaman kandungan yang dianggap ada dalam mana berarti ia haruslah dilihat sebagai simbol kosong, seperti simbol aljabar,[4] dan bisa memiliki banyak makna – seperti kata “thing” dalam bahasa Inggris. Singkatnya, mana adalah suatu penanda yang “mengambang” atau murni dengan nilai simbolk pada dirinya sendiri berharga nol. Selain itu, ia ada secara umum (setiap kultur memiliki contoh-contoh penanda yang mengambang) karena banyak terdapat penanda yang dalam kaitannya dengan yang ditandakan, juga karena bahasa harus dipikirkan sebagai yang muncul secara serentak (ia adalah suatu sistem perbedaan dan dengan demikian secara mendasar bersifat relasional), sedangkan pengetahuan (yang ditandakan) hanya muncul secara perlahan-lahan.

Di sini, aspek struktural pendekatan Levi-Strauss lebih bersifat implisit daripada eksplisit. Pertama, ia menunjukkan bahwa penekanan tidak diberikan pada kandungan (hipotesis) mana, tetapi pada potensinya dalam membentuk berbagai macam makna. Ini adalah suatu penanda kosong, seperti juga bagi Lacan, falus itu tidak memiliki makna intrinsik, tetapi merupakan suatu penanda. Kedua – dan mungkin lebih penting – dalam penafsiran Levi-Strauss, mana adalah sebuah unsur ketiga yang melakukan intervensi pada penanda dan yang ditandakan, dan unsur ini memberi kesinambungan dan dinamika pada bahasa. Jika ada “kecocokan” sempurna antara tingkatan penanda dengan tingkatan  yang ditandakan, maka tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, dan bahasa akan selesai. Oleh sebab itu, secara umum penanda yang mengambang adalah ciri struktural bahasa, unsur yang membawanya ke aspek tak simetris, dan generatif; aspek kekontingenan, waktu, dan – dalam istilah Saussure – aspek parole.

Meskipun dari judulnya terbaca adanya pengaruh linguistik Saussurian, namun tidak terdapat satu pun referensi eksplisit terhadap linguistik Saussurian dalam The Elementary Structures of Kiinship. Alasannya jelas, yaitu bahwa karya pokok pertama dalam antropologi struktural ini ditulis di New York dalam tahun 1940-an, yang berarti sebelum kembalinya minat terhadap karya-karya Saussure di Eropa – juga di,  Amerika. Dalam The Elementary Structures of Kinship, perkawinan (hasil dari pelarangan universal terhadap hubungan incest) dalam kultur-kultur non-industri direduksikan menjadi dua bentuk pertukaran dasar: pertukaran terbatas dan pertukaran yang disamaratakan (generalised exchange). Yang pertama bisa ditunjukkan dalam Gambar I berikut’

Gambar I Pertukaran terbatas

X à Y    Y à X

Di sini hubungan timbal balik  (resiprok) mensyaratkan bahwa jika seorang laki-laki X mengawini seorang wanita Y, harus mengawini seorang wanita X. Dengan cara yang sama pertukaran yang disamaratakan bisa ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 2 Pertukaran yang dirampatkan

(generalised exchange)

A        B

C        D

Sumber: Levi-Strauss, The Elementary Structures of Kinship, hlm. 178.

Jadi, jika seorang pria A mengawini seorang wanita B, maka seorang pria B mengawini seorang wanita C; sedangkan jika seorang pria C mengawini seorang wanita D, maka seorang pria D mengawini wantia A. Hampir dari semua yang muncul dalam The Elementary Structures of Kinship merupakan perkembangan pada varian dari bentuk-bentuk pertukaran hubungan perkawinan ini.

Bagi pengamat yang tak terlatih sekalipun akan segera melihat bahwa yang menarik dalam dua bentuk pertukaran ini adalah bahwa hubungan timbal balik tampak mensyaratkan adanya suatu struktur simetris (satu-satunya perbedaan antara pertukaran terbatas dan pertukaran yang disamaratakan adalah bahwa yang kedua ini memiliki unsur dua kali lebih banyak, yang berarti tetap simetris seluruhnya). Sebagaimana kemudian disadari oleh Levi-Strauss, masalahnya adalah apakah suatu struktur simetris bisa ada secara permanen; karena kelompok-kelompok X dan Y yang ada dalam pertukaran terbatas melalui perkawinan akan bergabung membentuk suatu kelompok tunggal. Demikian juga, bahkan dalam pertukaran yang disamaratakan – karena bentuk strukturnya yang simetris – akhirnya muncullah suatu kelompok tunggal. Dengan  kata lain, pertukaran yang digerakkan oleh hubungan terlarang atau incest akan menjumpai batas yang tidak bisa diatasinya, batas yang membahayakan kesinambungan hubungan-hubungan sosial.

Agar pertukaran ini tetap bisa bertahan sebagai suatu lembaga, kehadiran unsur ketiga yakni unsur heterogenitas selalu dibutuhkan. Ini memang menjadi tema dua artikel penting – yang pertama terbit pada tahun 1945,[5] dan yang kedua pada tahun 1956,[6] – yang menjelaskan tentang hal ini. Dalam artikel pertama, Levi-Strauss menunjukkan bahwa anak-anak adalah suatu unsur dinamis dan asimetris dalam struktur kekerabatan:

Kita harus pahami bahwa anak-anak itu adalah unsur yang tidak bisa dihilangkan dalam mengabsahkan sifat dinamis dan teleologis pada langkah-langkah awal yang memapankan hubungan kekerabatan dalam dan melalui perkawinan. Kekerabatan itu bukanlah hubungan yang statis; ia hanya dalam upaya pengkalan diri. Yang kita pikir di sini bukan keinginan untuk mengekalkan ras manusia, melainkan pada fakta bahwa dalam sebagian besar hubungan kekerabatan, ketidakseimbangan awal antara kelompok yang memberikan sang wanita dan kelompok yang menerimanya hanya bisa distabilkan oleh langkah sebaliknya yang berlangsung di masa depan.[7]

Dalam artikelnya tentang organisasi ganda, Levi-Strauss menegaskan bahwa setiap pembagian kelompok menjadi dua, sebenarnya secara tidak langsung menghendaki adanya tiga unsur karena persyaratan pengekangan diri. Setiap struktur ganda (yaitu simetris) mengakibatkan hancurnya kelompok-kelompok yang ada. Oleh sebab itu, di sini harus ada unsur ketiga – baik nyata maupun khayalan – yang memasukkan ketidaksimetrisan dan dinamika ke dalam situasi ini. Sebagai akibatnya, lembaga yang memiliki nilai nol merupakan unsur yang harus ada dalam masyarakat manapun. Seperti mana, lembaga-lembaga ini “tidak memiliki sifat intrinsik selain dari pemenuhan prasyarat yang diperlukan demi eksistensi sistem sosial di mana mereka berada; keberadaan mereka – yang dalam dirinya sendiri tidak terdapat makna – memungkinkan keberadaan sistem sosial sebagai satu kesatuan”.[8]

Telaah tentang mitos membawa Levi-Strauss pada upaya memperbaiki pendekatan strukturalisnya. Pengungkapan prinsip bahwa unsur-unsur mitos mendapatkan maknanya dari cara mereka bersatu dan bukan dari nilai-nilai intrinsiknya, membawa Levi-Strauss pada pemikiran bahwa mitos merupakan representasi dari pikiran yang membentuknya, bukan beberapa realtias eksternal. Mitos menentang sejarah mitos itu abadi. Bahkan, berbagai versi berbeda dari suatu mitos tidak boleh dipikirkan sebagai pengeliruan dari satu versi yang autentik, melainkan menjadi suatu aspek esensial dari struktur mitos itu sendiri. Sebaliknya, versi-versi berbeda yang menjadi bagian dari suatu mitos adalah karena mitos itu tidak bisa direduksikan ke suatu isi yang seragam, karena mitos itu sebenarnya memiliki suatu struktur yang dinamis. Dengan demikian, semua versi (aspek-aspek diakronis) dari suatu mitos harus dipertimbangkan agar stukturnya bisa menjadi jelas. Dari Perspektif lain, mitos selalu merupakan hasil dari kontradiksi – sebagai contoh “keyakinan bahwa kemanusiaan itu autochthonous”, “sedangkan manusia dibentuk dari persatuan antara pria dan wanita”.[9] Sebagai akibatnya, kontradiksi, sebagai aspek masyarakat manusia yang tidak bisa diasimilasikan, membangkitkan mitos. Mitos datang dari ketidaksimetrisan antara keyakinan dan realitas, antara yang satu dan banyak, antara kebebasan dan keniscayaan, antara identitas dan perbedaan, dan sebagainya. Menurut Levi-Strauss, bila dilihat dari kerangka bahasa, mitos adalah “bahasa yang berfungsi dalam tataran khusus yang sangat tinggi”.[10] Selain itu, jika langue – unsur sikronis dari bahasa – disamakan dengan waktu yang dapat balik, sedangkan parole dengan aspek diakronis, kontingen, atau historis, maka mitos membentuk tingkatan bahasa yang ketiga.[11] Mitos adalah sintesis (tak mungkin) antara aspek-aspek sinkronis dan diakronis dari bahasa. Ia adalah upaya tak berkesudahan untuk menyatukan hal-hal yang tidak bisa dipersatukan:

Karena tujuan mitos adalah memberikan suatu model logis yang mampu mengatasi kontradiksi (suatu capaian yang tak mungkin jika kontradiksi ini memang nyata), akan muncul berbagai versi teoretis dengan jumlah tak berhingga dan masing-masing berbeda satu sama lain.[12]

Oleh sebab itu, mitos menjadi dimensi ketiga bahasa: di dalamnya berlangsung upaya kontinyu untuk menyatukan kedua dimensi bahasa lainnya (langue dan parole). Karena penyatuan lengkap itu tidak mungkin maka “mitos berkembang secara spiral sampai dorongan intelektual yang membangkitkannya hilang”.[13] Jadi , mitos itu tumbuh karena secara struktural kontradiksi (ketidaksimetrisan) yang menghidupkannya tidak bisa diatasi.

Seperti mitos, lukisan wajah pada suku Indian Caduveo dari Amerika Selatan yang ditinjau dalam karya autobiografis Levi-Strauss, Tristes Tropiques,[14] memberikan gambaran lain tentang struktur sebagai gejala terner yang dinamis. Di sini rancangan lukis wajah merupakan suatu pola rumit yang tidaksimetris – suatu struktur terner yang diatur untuk membentuk rancangan lebih lanjut. Suatu rancangan yang sepenuhnya simetris, di samping sulit untuk pas dengan wajah seseorang, juga tidak bisa memenuhi tugas yang dibebaskan kepadanya. Tujuan seperti ini (yang simetris) terdapat pada gambar-gambar kartu bridge. Setiap gambar yang ada pada kartu ini harus memenuhi suatu fungsi konteingen, yakni unsur yang ada dalam permainan khusus di antara para pemain kartu tersebut, dan tempat ini selalu tetap. Lukis wajah pada suku Caduveo berusaha menangkap simetri fungsi (status di dalam kelompok), dan ketidaksimetrisan peranan yang dimainkan (kekontingenan),

Dengan cara membentuk suatu komposisi yang simetris tetapi mengacu pada sumbu yang miring, sehingga menghindari perumusan yang sepenuhnya tidak simetris, yang bisa memenuhi tuntutan peranan tetapi berlawanan dengan fungsinya, serta pada perumusan yang berlawanan dan sepenuhnya simetris, yang memberikan akibat yang berlawanan.[15]

Kerumitan lukis wajah (lukisan pada wajah) memberi pemahaman yang semakin tajam pada dua konsep tentang struktur. Levi-Strauss menulis seolah karyanya lebih dititikberatkan pada pengertian tentang struktur yang statis, simetris, dan bersifat ganda, sedangkan analisisnya yang sebenarnya mengenai gejala sosial dan struktural mengungkapkan bahwa pandangan tentang struktur kedua yang bersifat terner-lah yang memiliki kekuatan penjelas dan makna metodologis yang lebih besar.

Kemenduaan yang terkait dengan landasan kerangka teoretisnya ini sering membawa kesalahpahaman. Secara khusus, para kritikus mengklaim bahwa sejarah diabaikan dalam antropologi struktural karena Levi-Strauss tidak menyukai Eksistensialisme Sartre, yaitu doktrin yang melihat bahwa setiap langkah itu bersifat historis (yaitu kontingen).[16] Selain itu, pandangan Levi-Strauss yang terus bersikeras tentang status ilmiah dari ilmu antropologi (jelas untuk membela kemungkinan terlepasnya ilmu sosial dari perdebatan politik pada suatu saat) menjadi janggal bila dikaitkan dengan pandangannya bahwa sains tidak bisa sepenuhnya bebas dari sifat mitis, dan berbagai kultur itu secara hermetsi tidak terpisah satu sama lain, tetapi membentuk sejumlah transformasi yang tak berhinngga jumlahnya. Dengan demikian, jika ilmu berpikir tentang yang konkret, maka pemikiran alamiah justru berpikir dengan yang konkret. Selain itu, saat Levi-Strauss menulis “Overture” dalam The Raw and the Cooked[17] bahwa buku tentang mitos itu adalah juga mitos itu sendiri, maka kemungkinan kemandirian ilmu yang sudah lazim dalam pengertian Barat, menjadi dipertanyakan. Walaupun begitu, Levi-Strauss sering tidak suka memikirkan hal ini.

Tidak seperti Julia Kristeva, atau tokoh-tokoh lain yang mendapatkan ilhamnya dari wacana Lacan tentang Freud, dalam oeuvre Levi-Strauss, subjektivitas tidak terlalu banyak ditemui. Ini seolah-olah menunjukkan keyakinannya bahwa perjuangan Durkheim untuk memisahkan psikologi dari antropologi memang harus dimenangkan, dan konsesi apa pun pada teori tentang subjektivitas berarti menyerahkan kekuatan penjelas psikologi kepada antropologi. Akan tetapi, pertarungan ini masih harus dimenangkan, dan karya para ahli antropologi masih mengalami masalah karena tidak pernah ada usaha memasukkan teori tentang subjek ke dalamnya.

Walaupun begitu, seperti yang disebutkan di atas, pentingnya teori antropologi Levi-Strauss tidak bisa dibatasi pada kandungan analitisnya karena masih banyak yang harus dipertaruhkan. Ini karena Levi-Strauss menunjukkan kerumitan kultur-kultur non-industri yang bagi pihak Barat – sering melalui para ahli antropologinya (seperti Levi-Bruhl dan Malinowsky) – dianggap setara dengan masa kanak-kanak kemanusiaan, dan dari sini dianggap memiliki pemikiran yang lebih primitif dan lebih sederhana daripada pemikiran Barat (masyarakat primitif memiliki mitos, masyarakat Barat memiliki ilmu dan filsafat, dan sebagainya). Oleh sebab itu, di sini universalisme Levi-Strauss harus dipahami dalam pengertian bahwa transformasi dari satu mitos yang sama (seperti dalam mitos oedipus) ke dan di seluruh dunia menujukkan bahwa umat manusia menjadi milik suatu kemanusiaan yang tunggal; akan tetapi, keberadaan orang lain sangat penting agar kita bisa memahami perbedaan kita.

 

***

 

 

[1] Claude Levi-Strauss, The Elementary Structures of Kinship, terjemahan James Bell dan John van Sturmer, Boston, Beacon press, edisi revisi, 1969, hlm. 58-60.

[2] Sebagai contoh lihat karya Claude Levi-Strauss ‘Structural analysis in linguistics and anthropoloby’ dalam Structural Anthropology, terjemahan Clair Jacobson dan Brooke Grundfest Schoepf, Harmondsworth, Penguin Books, 1972, hlm. 31-54 khususnya hlm. 33.

[3] Claude levi-Strauss, Introduction to the Work of Marcel Mauss, terjemahan Felicity Baker, Routledge & Kegan Paul, 1987.

[4] Ibid., hlm. 55. Untuk melihat pembahasan tentang mana sebagai suatu penanda ‘mengambang’ lihat hlm. 31-54.

[5] Levi-Strauss, ‘Structural analysis in linguistics and anthropology’, hlm. 31-54.

[6] Levi-Strauss, ‘Do dual organisation exist?’, dalam Structural Anthropology, hlm. 132-163.

[7] Levi-Strauss, ‘Structural analysis in linguistics and anthropology’ hlm. 47.

[8] Levi-Strauss, ‘Do dual organisation exist?’, hlm. 159.

[9] Levi-Strauss, ‘The structural study of myth’ dalam Structural Anthropology, hlm. 216.

[10] Ibid., hlm. 210.

[11] Ibid., hlm. 209.

[12] Ibid., hlm. 229.

[13] Ibid.

[14] Claude Levi-Strauss, Tristes Tropiques, terjemahan John dan Doreen Weightman, Atheneum, New York, 1974, hlm. 178-179.

[15] Ibid., hlm. 194.

[16] David Pace, Claude Levi-Strauss, The Bearer of Ashes, Boston, Routledge & Kegan Paul, 1983, hlm. 183-184 dan Bab 6.

[17] Claude Levi-Strauss, Introduction to a Science of Mythology, Volume I: The Raw and the Cooked, terjemahan John dan Doreen Weightman, New York dan Evanston, Harper Torch-books, 1970, hlm. 7

Continue Reading

Trending